Anda di halaman 1dari 34

PENYAKIT BATU EMPEDU: PEMBAHASAN DAN

ASUHAN KEPERAWATAN
Untuk pemenuhan tugas akhir matakuliah Keperawatan Medikal Bedah I yang
dibimbing oleh Ibu Ns. Maria Diah C. T. S., S.Kep., M.Kep., Sp.MB

Oleh
Kelompok 1
1. Fajrian Dwi Anggraeni
2. Nanda Priatna
3. Roisatul Husniyah
4. Awaludin Jamal
5. Rosyada Nirmala
6. Rosa Yuniartha
7. Rizky Nur Evinda
8. Anggraini Eka Putri
9. Agung Hadi Prabowo
10. Iqlima Alvein Nafiisah
11. Septyani Nevi Mega N
12. Dara Aza Smarayudizta
13. Alkhalifa Amin

(1401460001)
(1401460003)
(1401460017)
(1401460019)
(1401460021)
(1401460026)
(1401460032)
(1401460039)
(1401460041)
(1401460042)
(1401460052)
(1401460054)
(1301460058)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG


JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI D-IV KEPERAWATAN MALANG
NOVEMBER 2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat, taufik, dan karuniaNya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah

Keperawatan Medikal Bedah I yang berjudul Penyakit Batu Empedu: Pembahasan


dan Asuhan Keperawatan ini dengan baik.
Dalam penyelesaian makalah ini, kami banyak mengalami kesulitan. Namun,
berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat
terselesaikan dengan tepat waktu. Karena itu, sudah sepantasnya kami mengucapkan
terima kasih kepada:
1.

Bapak Rudi Hamarno S,kep Ns. M, Kep selaku kepala Program Studi DIV
Keperawatan Malang Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang yang telah
memberikan fasilitas dalam pembuatan makalah ini.

2.

Ibu Maria Diah C.T.S, S.Kep., M.Kep., Sp.MB selaku dosen pembimbing dan
pengajar mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah I Politeknik Kesehatan Kemenkes
Malang Prodi DIV Keperawatan Malang yang telah memberikan arahan dan
bimbingan kepada kami.

3.

Seluruh teman-teman prodi DIV Keperawatan Malang tingkat 1 yang telah


mendukung kami.
Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat dalam rangka menambah

pengetahuan kita mengenai masalah-masalah penyakit yang terjadi di masyarakat. Kami


menyadari sepenuhnya bahwa didalam makalah ini terdapat kekurangan-kekurangan,
untuk itu kritik dan saran kami harapkan demi menyempurnakan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya. Kami mohon
maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan makalah ini.

Tim Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini, berbagai penyakit dapat menyerang tubuh manusia. Hal tersebut
disebabkan karena pola hidup atau lingkungan yang mempengaruhi kondisi dari
seseorang tersebut. Tidak jarang, seorang manusia mengalami berbagai metode operasi
untuk menghilangkan atau mengangkat penyakit yang dimilikinya. Penyakit-penyakit
yang sering menyerang seseorang biasanya disebabkan karena kurangnya kebersihan
dalam pola hidup yang dapat menyebabkan infeksi suatu organ. Salah satu penyakit
yang dapat membuat seseorang mengalami kegagalan fungsi organ adalah batu empedu
atau disebut koleolithiasis.
Penyakit batu empedu merupakan penyakit gastrosintestinal atau sistem pencernaan
yang paling sering ditemui. Menurut data Perhimpunan Penelitian Hati Indonesia
(PPHI), kira-kira sebanyak 700.000 operasi bedah kolesistektomi atau pengangkatan
kandung empedu disebabkan oleh batu empedu. Setiap tahunnya, komplikasi batu
empedu menyebabkan 3000 kematian (0,12% dari seluruh angka kematian). Rasio
penderita batu empedu pada wanita terhadap pria adalah 3 : 1 pada usia dewasa
reproduktif dan berkurang menjadi 2 : 1 setelah usia 70 tahun (PPHI, 2013). Penyakit
Batu empedu atau cholelithiasis adalah timbunan kristal di dalam kandung empedu atau
di dalam saluran empedu atau kedua-duanya. Batu kandung empedu merupakan
gabungan beberapa unsur dari cairan empedu yang mengendap dan membentuk suatu
material mirip batu di dalam kandung empedu atau saluran empedu. Batu empedu
biasanya terbentuk karena timbunan pigmen atau timbunan kolesterol atau bahkan
keduanya.
Setelah didapatkan angka yang cukup besar mengenai kasus batu empedu, dapat
disimpulkan bahwa penyait batu empedu merupakan penyakit yang sangat sering
ditemui di lingkungan masyarakat. Dari angka diatas menunjukkan bahwa penyakit batu
empedu perlu mendapat perhatian khusus dari tenaga medis agar angka kejadian
semakin berkurang setiap tahunnya. Oleh karena itu, penulis mengangkat sebuah tema

mengenai penyakit batu empedu dan asuhan keperawatannya agar dapat menurunkan
resiko terjadinya penyakit batu empedu.
1.2 Tujuan
Memberitahukan

kepada

masyarakat

mengenai

definisi,

penyebab,

patofisiologis, tanda dan gejala, pemeriksaan penunjang, hingga penatalaksanaan

medisnya.
Memberikan petunjuk untuk penyusunan asuhan keperawatan kepada tim medis

khususnya perawat.
Mensosialisasikan bahayanya penyakit batu empedu kepada masyarakat

1.3 Manfaat
Mahasiswa dapat mengetahui definisi, penyebab, patofisiologis, tanda dan
gejala, pemeriksaan penunjang, hingga penatalaksanaan medis dari penyakit batu

empedu.
Mahasiswa dapat mengetahui susunan dalam pembentukan asuhan keperawatan
Masyarakat dapat mengetahui bahayanya penyakit batu empedu.

BAB II
PEMBAHASAN PENYAKIT

2.1 Definisi
Batu empedu atau cholelithiasis adalah timbunan kristal di dalam kandung empedu
atau di dalam saluran empedu atau kedua-duanya. Batu kandung empedu merupakan
gabungan beberapa unsur dari cairan empedu yang mengendap dan membentuk suatu
material mirip batu di dalam kandung empedu atau saluran empedu. Komponen utama
dari cairan empedu adalah bilirubin, garam empedu, fosfolipid dan kolesterol. Batu
yang ditemukan di dalam kandung empedu bisa berupa batu kolesterol, batu pigmen
yaitu coklat atau pigmen hitam, atau batu campuran.
Lokasi batu empedu bisa bermacam-macam yakni di kandung empedu, duktus
sistikus, duktus koledokus, ampula vateri, di dalam hati. Kandung empedu merupakan
kantong berbentuk seperti buah alpukat yang terletak tepat dibawah lobus kanan hati.
Empedu yang disekresi secara terus menerus oleh hati masuk kesaluran empedu yang
kecil di dalam hati. Saluran empedu yang kecil-kecil tersebut bersatu membentuk dua
saluran yang lebih besar yang keluar dari permukaan bawah hati sebagai duktus
hepatikus kanan dan kiri yang akan bersatu membentuk duktus hepatikus komunis.
Duktus hepatikus komunis bergabung dengan duktus sistikus membentuk duktus
koledokus. Pada banyak orang,duktus koledokus bersatu dengan duktus pankreatikus
membentuk ampula vateri sebelum bermuara ke usus halus.Bagian terminal dari kedua
saluran dan ampula dikelilingi oleh serabut otot sirkular,dikenal sebagai sfingter oddi.
2.2 Tanda dan Gejala
Serangan kolesistitis akut berawal dari nyeri epigastrium atau kuadran kanan atas
yang bersidat progresif, sering disertai demam ringan, anreksia, takikardia, berkeringat,
mual dan muntah. Abdomen atas nyeri tekan, tetapi kandung empedu yang melebar
biasanya

tidak

hiperbilirubinemia

jelas

diraba.

Sebagian

mengisyaratkan

besar

obstruksi

pasien

duktus

tidak

biliaris

ikterik;

adanya

komunis.

Terjadi

leukositosis ringan sampai sedang mungkin disertai oleh peningkatan ringan kadar
alkali fosfatase serum.
Serangan kolesistitis kronik tidak memiliki gambaran klinis menciolok seperti pada
bentuk akut. Kolesistitis kronik ini biasanya ditandai oleh serangan berulang nyeri

epigastrium atau kuadran kanan atas yang menetap atau seperti kolik. Keluhan ini
sering disertai mual, muntah,dan intoleransi terhadap makanan berbetuk lemak.
2.3 Penyebab
Tidak banyak penyebab dari terjadinya batu empedu, dan penyakit ini banyak sekali
terjadi bahkan tanpa gejala apa-apa sebelumnya.
Beberapa penyebab terjadinya batu empedu antara lain:
Konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol tinggi
Faktor resiko terjadinya batu empedu :
1.

Faktor Kehamilan

2.

Faktor usia

3.

Kegemukan

4.

Efek samping penggunaan alat kontrasepsi pil KB dan pil hormon

5.

Pola diet yang mengakibatkan penurunan berat badan sangat drastis

6.

Sering

mengkonsumsi

antibiotik

untuk

meningkatkan kemungkinan timbulnya batu empedu.

suatu

enyakit

tertentu,

dapat

2.3 Patofisiologi

2.4 Pemeriksaan Diagnostik


Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan foto Rontgen biasanya tidak direkomendasikan untuk penderita batu
empedu meski keberadaan batu memang ditemukan secara tidak sengaja melalui jenis
pemeriksaan ini ketika penderita melakukan pemeriksaan penyakit lain. Hal ini
dikarenakan ontgen yang dilakukan hanya dapat menangkap citra dari batu berukuran
besar dengan kepadatan kalsium yang tinggi, tetapi tidak mampu mendeteksi batu
pigmen yang lebih lunak.

USG
Pemeriksaan

batu

empedu

yang

biasa

dilakukan

adalah

dengan

USG

(ultrasonografi). Pemeriksaan standar ini berguna untuk melihat lokasi keberadaan batu
empedu pada hati dan kandung empedu. Selain itu, metode ini akan membantu dokter
melihat apakah juga terjadi penyumbatan, infeksi atau ruptur pada kandung empedu.
Keakuratan pemeriksaan ini mencapai 95 persen.
Keunggulan metode ini adalah tidak terdapat efek samping, biaya terjangkau.
Sedangkan kelemahan menggunakan metode ini adalah kesulitan untuk melihat batu
jika letaknya berada di saluran dan muara saluran empedu.

ERCP (Endoscopic Retrograde Cholangio-Pancreatography)


Metode ERCP digunakan untuk memastikan keberadaan batu, terutama pada duktus
koledokus. Prosedurnya dilakukan dengan memasukan pipa lentur melalui mulut
menuju lambung dan usus dua belas jari. Setelah mencapai usus dua belas jari, pipa
kecil (kanula) dimasukkan menuju duktus koledokus setelah sebelumnya, zat kontras
iodium disemprotkan ketika pipa berada di pintu masuk duktus koledokus. Bila
keberadaan batu ditemukan dalam duktus koledokus, batu akan langsung dikeluarkan
saat itu juga. Karena itu, selain bersifat diagnostik, ERCP juga bersifat terapi. Inilah
keunggulan utamanya.

Magnetic Resonance Cholangio-Pancreatography/MRCP


Magnetic Resonance Cholangio-Pancreatography (MRCP) merupakan pemeriksaan
pencitraan yang menggunakan resonansi gelombang elektromagnetik. Pemeriksaan ini
bisa mendeteksi batu di kandung empedu dan saluran empedu dengan sangat baik,
bahkan apabila ada kanker pada saluran empedu. Tingkat keakuratan metode

pemeriksaan ini mencapai 90% dan relatif aman. Sayangnya, biaya pemeriksaan ini
terbilang cukup mahal.

Pemeriksaan CT Scan
Pemeriksaan CT Scan yang dilakukan akan memperlihatkan lebih detail lagi
mengenai keberadaan batu, ada atau tidaknya sumbatan, dan pelebaran saluran empedu
serta berbagai komplikasi yang terjadi seperti peradangan maupun kandung empedu
yang pecah (ruptur). Sayangnya, metode pemeriksaan ini lebih mahal dibandingkan
metode pemeriksaan dengan USG.

Pemeriksaan Laboratorium

Foto polos abdomen

Kolesistografi oral
2.5 Penatalaksanaan
Pengobatan batu empedu bisa dilakukan dengan berbagai cara, bergantung kondisi
yang dialami pasien. Untuk keberadaan batu empedu yang tidak menimbulkan gejala,
seperti yang secara tidak sengaja terdeteksi melalui pemeriksaan penyakit lain, biasanya
tidak diperlukan pengobatan sehingga cukup melakukan perubahan pola makan.
Sedangkan, untuk kasus dimana keberadaan batu empedu ditemukan dalam ukuran
yang kecil, yakni di bawah 1,5 cm, dan menimbulkan gejala dan keluhan yang
signifikan, biasanya dokter akan meresepkan obat-obatan untuk melarutkan dan
mendorong pengeluaran batu melalui feses. Hal ini dikarenakan apabila batu empedu
yang ditemukan tergolong sebagai hasil penumpukan kolesterol, bukan batu empedu
pigmen. Dalam kasus dimana batu empedu adalah batu empedu pigmen dan jika obatobatan yang diberikan sebelumnya tidak bekerja, sekalipun penggunaannya sudah
dilakukan dalam jangka panjang, dokter seringkali akan merekomendasikan beberapa
alternatif pengobatan batu empedu berikut.
Asam Kenodioksikolat
Dasar teori untuk Asam Kenodioksikolat sangat lemah. Akan tetapi selama enam
tahun terakhir ini, terapi menggunakan kenodioksikolat (keno terapi) terhadap batu
empedu sudah berulang kali diterakkan, dan hasinya naik turun. Pada beberapa
penderita, dosis yang besarnya adalah 5mg/kg/24 jam ternyata cukup ntuk menjadikan
empedu tidak litogenik. Akan tetapi pada umumnya terbukti bahwa untuk

mengharapkan efek wajar, dosis yang diperlukan adalah 15 mg/kg/24 jam. Denngan
dosis ini, beberapa penderita mengalami diare yang latar belakangnya ialah kelambatan
penyerapan garam dan air dalam kolon yang dibiangkeladi oleh asam dihidroksiempedu.
Kadang-kadang penderita yang memperoleh kenoterapi juga memperlihatkan enzim
transaminase yang meningkat. Tampaknya, latarbelakangnya adalah kerusakan hati yang
disebabkan oleh asam litokolat yang jumlahnya lebih banyak dari biasa asam litokolat
yang banyak ini berasal dari asam kenodioksikolat yang mengalami proses bakteri.
Kedua efek samping tadi tampaknya dapat di atasi dengan cara mengganti asam
kenodioksikolat dengan ursodioksikolat dalam dosis yang sama atau mungkin malahan
dosis yang lebih rendah. Ursodioksilat juga mampu mengurangi keluarmya kolesterol
seperti kenodioksikolat, akan tetapi diare dan kerusakan hati terjadi dalam peningkatan
rendah. Kenoterapi mencatat kesuksesan yang besarnya sekitar 50%, tetapi disertai
kemungkinan terjadinya residif yang besarnya 100%, yakni setelah pengobatan
dihentikan, ini merupakan kenyataan yang kurang menyongkong titik lemah yang
terdapat pada kenoterapimasa kini khususnya terletak pada ketidakmampuannya untuk
mencegah timbulnya residif.
Selama kenoterapi tidak mampu untuk mengembangkan diri menjadi terapi yang
dapa mencegah terjadinya residif secara efektif, maka ia hanya diindikasikan bagi
penderita batu empedu yng bergejala menyandang risiko yang membahayakan bila
tindak bedah diterapkan.apabila ada keharusan untuk memberikan kenoterapi, maka
beberapa persyaratan harus dipenuhi oleh penderita dan batunya. Batu haruslah batu
yang diperkirakan tidak larut dalam epedu yang tidak litogenik. Tepatnya batu yang bisa
dihadapi adalah batu kolesterol yang cukup murni, yang tidak mengandung kapur dan
radiolusen. Perbandingan antara permukaan dan volume batu harus menguntungkan.
Yang lebih mudah untuk dilarutkan ialah batu-batu kecil ganda daripada batu besar
tunggal. Kenyataan mebuktikan batu dengan penampang yang besar dari 15mm tidak
akan dapat larut. Juga mengenai bahan pelarutnya, yakni empedu ia haruslah empedu
yang secara teratur diganti-ganti, artinya kandung empedu haruslah kandung yang
mampu berkontraksi secara teratur. Persyaratan akhir ialah spesismen empedu yang
diperoleh dengan sonde duodenum haruslah spesies yang dapat dipastikan bahwa ia
adalah empedu yang litogen, tidak berkaitan

dengan batu kolesterol. Apabila

persyaratan terrsebut telah terpenuhi, maka yang harus dicoba adalah mengolah empedu
menjadi empedu yang tidak litogenik, yakni dengan dosis asam kenodioksikolat yang
dapat ditoleransi oleh penderita
Komplikasi kenoterapi yang dapat timbul ialah batu yang sudah dikecilkan oleh
obat dapat menimbulkan kolik, yang pada umumnya tidak membutuhkan terapi bedah.
Kenoterapi tampaknya dikontraindikasikan pada kehamilan oleh karena masih menjadi
pertanyaan, kapankah hati janin sudah cukup mampu mengolah asam kenodioksikolat
yang tersaji baginya. Ikterus obstruksi yang permanen ataupun yang intermiten oleh
karena koledokolelitiasis selalu merupakan indikasi untuk terapi bedah. Tampaknya
kegagalan kenoterapi pada sebagian besar dari kasus disebabkan oleh kenyatan bahwa
obat yang di berikan tidak digunakan secara baik.
Pengangkatan Kandung Empedu (Kolesistektomi)
Jika tidak ada perkembangan positif dari konsumsi obat-obatan pelarut batu
empedu, dokter akan merekomendasikan operasi pengangkatan batu empedu atau yang
dikenal dengan istilah kolesistektomi. Sejauh ini, ada dua macam teknik bedah
kolesistektomi yang ada, yakni bedah kolesistektomi terbuka/tradisional dengan sayatan
6-14 cm dan bedah minimal invasif-kolesistektomi dengan hanya melakukan sayatan
sebesar 0,5-1 cm, dengan keunggulan resiko perdarahan yang diminimalkan dan
mempercepat proses pemulihan luka.
Meski memang efektif dalam hal menghilangkan gejala dan keluhan akibat batu
empedu, cara ini sebenarnya tidak menyelesaikan masalah karena setelah prosedur
kolesistektomi ini dijalani, tubuh tidak lagi memiliki tempat untuk menampung cairan
empedu yang sebenarnya dihasilkan oleh hati, bukan kandung empedu. Lalu, kemana
cairan empedu yang diproduksi tubuh akan mengalir? Setelah kandung empedu
diangkat, cairan empedu akan langsung mengalir dari hati menuju usus kecil.
Selama proses adaptasi yang sifatnya sementara, efek samping yang mungkin
dialami sebagai akibat kolesistektomi antara lain berupa rasa kembung, mual, maupun
diare.
Lamanya proses adaptasi tersebut tidak akan sama antara satu individu dengan
individu lainnya. Bahkan setelah itu, pasca kolesistektomi dilakukan, penderita
diwajibkan untuk melakukan perubahan yang drastis dalam pola hidup, termasuk dalam
hal makanan. Hal ini dikarenakan pasca kolesistektomi, pasien akan memiliki resiko

yang lebih tinggi terhadap penyakit-penyakit yang berhubungan dengan sistem


metabolisme tubuh sebagai dampak jangka panjang akibat ketiadaan kandung empedu
yang seharusnya menjalankan peranan pentingnya dalam berbagai proses pencernaan,
seperti diabetes, penyakit jantung, gangguan sistem saraf, dan lainnya. Untuk mencegah
berbagai dampak serius tersebut, pasien diwajibkan membatasi asupan makanan yang
sarat lemak jenuh dan kolesterol. Selain itu, jumlah makanan yang dikonsumsi pun
wajib dibatasi.
Akibatnya, untuk memenuhi nutrisi tubuh, seringkali pasien harus bergantung
dengan berbagai macam suplemen vitamin dan mineral. Mengingat berbagai dampak
yang disebutkan di atas, pertimbangkan baik-baik jika dokter menyarankan untuk
menjalani metode pengobatan batu empedu ini. Kolesistektomi hanya pilihan terakhir
yang dapat dipertimbangkan jika memang berdasarkan penjelasan dokter, penyakit batu
empedu yang dialami benar-benar serius dan mengancam jiwa. Kolesistektomi ada dua
makam cara yaitu dengan kolesistektomi laparoskopik dan kolesistektomi terbuka.
Yang dimana kolesistektomi laparoskopik yaitu tidakakn pengangkatan empedu
dengan sedikit operasi yang dimana sayatan pada operasi kolesistektomi laparoskopi
sangat kecil sehingga dapat di sebut dengan operasi lubang kunci karena sayatan yang
dibuat hanya 1cm. Operasi ini dilakukan dengan penerapan bius total, jadi pasien akan
tertidur selama prosedur berlangsung sehingga tidak akan merasa sakit. Masa pemulihan
yang dibutuhkan pasien biasanya sekitar 1-2 minggu indikasi dari kolesistektomi
laparoskopi yaitu Penderita dengan simtomatik batu empedu yang telah dibuktikan
secara imaging diagnostic terutama melalui USG abdomen, Penderita kolesterolosis
simtomatik yang telah dibuktikan melalui USG abdomen, Adenomyomatosis kantung
empedu simtomatik. Terdapat juga kontraindikasi pada tindakan kolesistektomi
laparoskopi yaitu Peritonitis, obstruksi usus, koagulopati yang tidak terkontrol, hernia
diafragmatik yang besar, penyakit Paru obstruktif berat dan penyakit jantung kongestif
berat.
Teknik Operasi pada Kolesistektomi Laparoskopi
1. Penderita dalam posisi supine dan dalam narkose
2. Desinfeksi pada dada bagian bawah dan seluruh abdomen.
3. Dilakukan insisi lengkung di bawah umbilikus sepanjang 20 mm, insisi diperdalam
secara tajam dan tumpul sampai tampak linea alba.

4. Linea alba dipegang dengan klem dan diangkat, dibuat incisi vertikal sepanjang 10 mm.
5. Dengan trokar peritoneum ditembus dan dimasukkan port lalu dimasukkan CO2 ke
dalam kavum abdomen untuk menimbulkan pneumoperitoneum sehingga abdomen
cembung.
6. Melalui port umbilikal dimasukkan videoscope ke dalam cavum abdomen.
7. Tiga buah trocart dimasukkan dengan memperhatikan secara langsung tempat penetrasi
intra abdomen.
Trocart I dimasukkan di epigastrium 5 cm di bawah procesus xyphoideus dengan
penetrasi intraabdomen di sebelah kanan ligamentum falciforme
Trocart II dimasukkan pada kwadaran kanan atas abdomen beberapa cm di bawah
costa terbawah pada linea midclavicula.
Trocart III dimasukkan pada kuadran kanan atas setinggi umbilikus di sebelah lateral
dari trocart kedua. (gambar).
8. Posisi pasien diubah menjadi Anti Trendelenburg ringan (10-15) dan sedikit miring ke
kiri.
9. Gall bladder dipegang dengan grasper/forcep dari port lateral (4), kemudian didorong ke
arah superior dan dipertahankan pada posisi ini.

Gambar Tempat Port Laparoskopik

10. Infundibulum dipegang dengan grasper dari port medial (3) dan ditraksi ke arah
caudal. Disecting forceps dimasukkan dari port epigastrium (2) dan jaringan di
sekitar duktus sistikus dan arteri sistika disisihkan sampai kedua struktur tersebut
tampak jelas.
11. A. Sistika dijepit dengan metal clip di bagian distal dan dua buah metal klip di
bagian proksimal kemudian dipotong.
12. Duktus sistikus yang telah terlihat jelas dijepit dengan metal clip sedekat mungkin
dengan kandung empedu. Duktus sistikus bagian proksimal dijepit dengan dua
buah metal clip dan dipotong. (hati-hati jangan menarik infundibulum keras, dapat
menjepit duktus koledokus)
13. Videoscope dikeluarkan dari port umbilikus dan dipindah ke port epigastric.
14. Kantong empedu dibebaskan dengan menarik dengan grasping forceps dari porte
umbilikalis.
Kolesistektomi tebuka yaitu suatu tindakan pembedahan dengan cara mengangkat
kandung empedu dan salurannya dengan cara membuka dinding perut. Sebagian besar
penderita batu kandung empedu tidak memberikan gejala klinis. Sebagian kecil
mengalami kolik bilier, kolesistitis, empyema, dan obstruksi ikterus.i indikasi
dilakukannya operasi adalah penderita dengan simtomatik batu empedu yang telah
dibuktikan secara imaging diagnostic terutama melalui USG abdomen, penderita
kolesterolosis

simtomatik

yang

telah

dibuktikan

melalui

USG

abdomen,

adenomyomatosis kantung empedu simtomatik. Dan kontraindikasi pada tindakan


kolesistektomi terbuka adalah koagulopati yang tidak terkontrol, penyakit liver
stadium akhir, penyakit paru obstruktif berat dan penyakit jantung kongestif berat.
Pemeriksaan penunjang sebelum dilakukannya koleksistektomi terbuka adalah
Laboratoris : DL, Fungsi hepar, USG, MRCD komplikasi dari tindakan kolesistektomi
terbuka adalah cedera ductus koledokus, cidera duodenum atau colon transversum,
fistel biliaris, abses subdiafragma, batu residual duktus biliaris
Teknik Operasi
1. Insisi dinding anterior abdomen subcostal kanan, dapat juga insisi paramedian kanan.
2. Eksplorasi untuk melihat adanya kelainan lain.
3. Klem fundus kantong dan didorong keatas Hartmann-klem pouch dan ditarik ke bawah.

4. Identifikasi dan isolasi arteri sistika dan duktus sistikus.


5. Setelah dibebaskan dari jaringan sekitarnya diikat dengan sutera 00 dan dipotong.
6. Kantong empedu dibebaskan dari hepar secara tajam dengan gunting dengan merawat
perdarahan secara cermat.
7. Evaluasi duktus koledokus tak ada kelainan.
8. Luka laparotomi ditutup
Dapat juga dilakukan kolesistektomi secara retrograde, dimulai dari fundus ke arah
segitiga Calot. Perdarahan biasanya lebih banyak.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 PENGKAJIAN
1. Aktivitas/istirahat:
- Gejala: kelemahan
- Tanda: gelisah
2. Sirkulasi:
- Tanda: takikardia, berkeringat
3. Eliminasi:
- Gejala: perubahan warna urine dan feses
- Tanda: distensi abdomen, teraba massa pada kuadran kanan atas, urine gelap,
pekat, feses warna tanah liat, steatorea
4. Makanan/cairan:
- Gejala: anoreksia, mual/muntah, tidak toleran terhadap lemak dan makanan
pembentuk gas; regurgitasi berulang, nyeri tekan epigastrium, tidak dapat
makan, flatus, dispepsia
Tanda: kegemukan, adanya penurunan berat badan
5. Nyeri/kenyamanan:
- Gejala: nyeri abdomen atas berat, dapat menyebar ke punggung atau bahu
-

kanan, kolik epigastrium tengah sehubungan dengan makan, nyeri mulai tiba-

tiba dan biasanya memuncak dalam 30 menit


Tanda: nyeri lepas, otot tegang atau kaku bila kuadran kanan atas ditekan;

tanda Murphy positif


6. Pernapasan:
- Tanda: peningkatan frekuensi pernapasan, pernapasan tertekan ditandai oleh
napas pendek, dangkal
7. Keamanan:
- Tanda: demam, menggigil, ikterik dengan kulit berkeringat dan gatal
(pruritus), kecenderungan perdarahan (kekurangan vitamin K)
8. Penyuluhan/pembelajaran:
- Gejala: adanya kehamilan/ melahirkan; riwayat DM, penyakit inflamasi usus,
-

diskrasias darah
Pertimbangan: DRG menunjukkan rerata lama dirawat: 3-4 hari
Rencana pemulangan: memerlukan dukungan dalam perubahan diet/penurunan
berat badan

(Ester dan Yasmin, 2000)


9. Pemeriksaan Fisik

Jika ditemukan kelainan, biasanya berhubungan dengan komplikasi, seperti


kolesistisis akut dengan peritonitis local atau umum, hidrops kandung empedu,
empiema kandung empedu, atau pankreatitis. Pada pemeriksaan ditemukan nyeri
tekan dengan punktum maksimum di daerah letak anatomi kandung empedu.
Tanda Murphy positif apabila nyeri tekan bertambah sewaktu penderita menarik
napas panjang karena kandung empedu yang meradang tersentuh ujung jari
tangan pemeriksa dan pasien berhenti menarik napas. (Sjamsuhidayat, 2012)

3.2 DIAGNOSA DAN RENCANA TINDAKAN (Doenges dkk, 1999: 521-533)


KOLESISTITIS AKIBAT KOLELITIASIS
Diagnosa
Keperawatan
Nyeri Akut

Tujuan dan Kriteria


Hasil
Tujuan:
tindakan

ditandai dengan:

selama

kolik

nyeri

terjadinya

nadi)
- Fokus pada diri
fokus

menyempit.

atau

hilang.
Kriteria Hasil:
1. Melaporkan

nyeri

hilang/terkontrol.
2. Menunjukkan
penggunaan
ketrampilan relaksasi
dan aktivitas hiburan
sesuai indikasi untuk
situasi individual.

yang

berhubungan:
Agen

cedera

biologis:

(menetap,

proses

inflamasi, iskemia
jaringan/nekrosis.

kompliksi,

dan

hilang

timbul,

kolik).
2. Catat

keefektifan intervensi.
2. Nyeri berat yang tidak hilang

respon

dengan tindakan rutin dapat

terhadap obat dan

menunjukkan

laporkan

pada

komplikasi/kebutuhan terhadap

dokter bila nyeri

intervensi lebih lanjut.


3. Tirah baring pada posisi fowler

hilang.
3. Tingkatkan
baring,

terjadinya

tirah

rendah menurunkan tekanan

biarkan

intraabdomen; namun pasien

pasien melakukan

akan

posisi

menghilangkan nyeri secara

yang

nyaman.
4. Gunakan

halus/katun; cairan
kelamin;
Keri);

minyak
kompres

dingin/lembab
sesuai indikasi.
5. Kontrol
suhu
lingkungan.
6. Dorong
menggunakan
tehnik

melakukanposisi

yang

alamiah.
sprei 4. Menurunkan iritasi/kulitkering

mandi(Alpha

obstruksi/spasme
duktus,

dan

bilier dapat

( perubahan TD,

Faktor

nyeri

kemajuan/perbaikan penyakit,

berkurang

beratnya

penyebab

10) dan karakter

berhati-hati
- Respon otonomik

jam,

lokasi,

nyeri, diharapkan nyeri klien

perilaku

...x24

catat

membedakan

memberikan informasi tentang

nyeri)
- Wajah menahan

sendiri,

keperawatan

dan 1. Membantu
(skala0-

(gelombang

nyeri,

Mandiri

dilakukan 1. Observasi

Kemungkinan

Rasional

Mandiri

Setelah

- Laporan

Intervensi

relaksasi,

contoh bimbingan

dan sensasi gatal.


5. Dingin pada sekitar ruangan
membantu

meminimalkan

ketidaknyamanan kulit.
6. Meningkatkan
istirahat,
memusatkan

kembali

perhatian, dapat meningkatkan


koping.
7. Membantu
menghilangkan

dalam
cemas

dan

memusatkan kembali perhatian


yang
nyeri.

dapat

menghilangkan

imajinasi,
visualisasi, latihan
nafas

dalam. Pemberian resep obat merupakan

Berikan

aktivitas wewenang dari dokter

senggang.
7. Sediakan
untuk

Kolaborasi

1. Menghilangkan
waktu

mendengar

dan
mempertahankan
kontak

dengan

pasien sering.

reflek

spasme/kontraksi
dan

otot

halus

membantu

dalam

manajemen nyeri.
2. Meningkatkan istirahat
merilekskan

otot

dan
halus,

menghilangkan nyeri.
3. Memberikan penurunan nyeri
hebat.

Morfin

digunakan

dengan waspada karena dapat


meningkatkan spasme sfingter
oddi

walaupun

dapat

nitrogliserin

diberikan

menurunkan

spasme

untuk
karena

morfin.
Kolaborasi
Berikan obat sesuai
indikasi:
1. Antikolinergik,
contoh:

atropine,

propantelin, (Proban-Thine).
2. Sedatif,
contoh:
fenobarbital.
3. Narkotik, contoh:
meperidin
hidroklorida(Deme
Risiko

Tujuan:

Kekurangan

Setelah

Volume Cairan

tindakan

rol); morfin sulfat.


Mandiri
dilakukan 1. Pertahankan
keperawatan

masukan

Mandiri
1. Memberikan informasi tentang

dan

status cairan/volume sirkulasi

selama
Faktor

...x24

yang diharapkan

berhubungan:
- Kehilangan

cairan

jam,

kebutuhan

pasien

terpenuhi

dapat
dan

melalui

kekurangan

penghisapan

cairan

gaster

kepada pasien.

volume

tidak

terjadi

distensi,

pemasukan
secara medik
- Gangguan proses
pembekuan

keseimbangan cairan
adekuat

dibuktikan

oleh tanda vital stabil,


membran

mukosa

lembab, turgor kulit


baik,

pengisian

kapiler baik, secara

dari

kurang
masukan,

peningkatan berat
jenisurin.

Kaji

mengeluarkan

dan

pengisisan kapiler.
2. Awasi tanda/ gejala

aspirasi gaster, dan pembatasan


pemasukan

oral

dapat

menimbulkan defisit natrium,


kalium, dan klorida.
3. Menurunkan rangsangan pada

urin

cukup, dan tidak ada

kekeringan

membran

mukosa,

menurunkan risiko perdarahan


oral.

peningkatan/berlan
jutnya
mual/muntah,kram
abdomen,
kelemahan, kejang,
kejang

ringan,

kecepatan jantung

individu

muntah.

haluaran

perifer,

dan 1. Menunjukkan

gaster
- Pembatasan

perhatikan

dan kebutuhan penggantian


2. Muntah
berkepanjangan,

pusat muntah.
mukosa/kulit, nadi 4. Menurunkan

Kriteria Hasil:

hipermotilitas

akurat,

membran

berlebihan,
muntah,

haluaran

tak

teratur,

parestesia,
hipoaktif, atau tak
adanya

bising

usus,

depresi

pernapasan.
3. Hindarkan

dari

lingkungan

yang

berbau
4. Lakukan
kebersihan

oral

dengan

pencuci

mulut;

berikan

minyak.
Kolaborasi
1. Berikan

Kolaborasi
1. Menurunkan

mual

mencegah muntah.

dan

antiemetik, contoh
proklorperazin
Risiko

Tujuan:

Ketidakseimban

Setelah

gan

(Compazine).
Mandiri
dilakukan 1. Kaji

Nutrisi tindakan

Kurang

keperawatan

dari selama

...x24

Kebutuhan

diharapkan

Tubuh

nutrisi

jam,

kebutuhan

pasien

dapat

terpenuhi
Faktor

yang kekurangan nutrisi tidak

berhubungan:
Memaksa

dan

terjadi kepada pasien.

diri

atau pembatasan Kriteria Hasil:


berat badan sesuai - Melaporkan
aturan,

mual

muntah,
dispepsia, nyeri.

mual/muntah hilang
- Menunjukkan kemajuan
mencapai berat badan
atau mempertahankan
berat badan individu
yang tepat.

Mandiri

distensi 1. Tanda

non

verbal

abdomen,

sering

ketidaknyamanan berhubungan

bertahak,

berhati-

dengan gangguan pencernaan,

hati,

menolak

bergerak.
2. Perkirakan/hitung
masukan
Jaga

kalori.

nyeri gas
2. Mengidentifikasi
kekurangan/kebutuhan nutrisi.
Berfokus

pada

masalah

komentar

membuat suasana negatif dan

tentang

napsu

makan

sampai

mempengaruhi masukan
3. Mengawasi
ketidakefektifan

minimal
3. Timbang
indikasi
4. Konsul

sesuai

rencana diet
4. Melibatkan
perencanaan,

pasien

dalam

memampukan

tentang

pasien memiliki rasa kontrol

kesukaan/ketidaksu

dan mendorong untuk makan


5. Untuk meningkatkan napsu

kaan

pasien,

makanan

yang

makan/ menurunkan mual


6. Mulut
yang
bersih

menyebabkan

meningkatkan napsu makan


distres, dan jadwal 7. Dapat mengurangi mual dan
makan yang disukai
5. Berikan
suasana
menyenangkan
hilangkan
rangsangan berbau
6. Berikan kebersihan
oral sebelum makan
7. Tawarkan minuman
saat

makan, bila toleran


8. Ambulasi
dan
tingkatkan aktivitas

gas.

Kontraindikasi mungkin bila


menyebabkan

pada saat makan,

seduhan

menghilangkan

pembentukan

gas/ketidaknyamanan gaster
8. Membantu
mengeluarkan
flatus,
abdomen.

penurunan

distensi

Mempengaruhi

penyembuhan dan rasa sehat


dan menurunkan kemungkinan
masalah sekunder berhubungan
dengan

imobilisasi

(contoh

pneumonia, tromboflebitis)

sesuai toleransi
Kolaborasi
1. Berguna
kebutuhan

dalam

membuat

nutrisi

individual

melalui rute yang paling tepat


2. Pembatasan lemak menurunkan
rangsangan

pada

kandung

empedu dan nyeri sehubungan


dengan tidak semua

lemak

dicerna dan berguna dalam


mencegah kekambuhan
3. Memenuhi kebutuhan nutrisi
dan meminimalkan rangsangan
pada kandung empedu
4. Meningkatkan pencernaan dan

Kolaborasi
1. Konsul dengan ahli

absorbsi lemak, vitamin larut

gizi sesuai indikasi


2. Mulai diet cair

lemak,

setelah selang NGT


dilepas
3. Tambahkan

mengenai

rendah

tergantung

informasi

kekurang

keefektifan terapi
diet 6. Makan
pilihan

toleransi,

biasanya

Berguna

pada kondisi kronis


lemak 5. Memberikan

rendah

sesuai

kolesterol.

nutrisi/

diperlukan

pada

derajat

ketidakmampuan/kerusakan

lemak, tinggi serat,

kandung

batasi

kebutuhan istirahat gaster yang

makanan

penghasil
(contoh:
kol,

gas
bawang,

jagung)

dan

makanan/minuman
tinggi
(contoh:

lemak
mentega,

gorengan, kacang)
4. Berikan
garam
empedu

(contoh:

Biliron,

Zanchol,

lama.

empedu

dan

Asam
dehidrokolik/Decho
lin) sesuai indikasi
5. Awasi pemeriksaan
laboratorium
(contoh:

BUN,

albumin/protein
serum,

kadar

transverin)
6. Berikan dukungan
nutrisi total sesuai
Defisiensi

Tujuan:

pengetahuan

Setelah

kebutuhan
Mandiri
dilakukan 1. Berikan

tentang kondisi, tindakan


prognosis,

dan selama

pengobatan

keperawatan
...x24

jam,

diharapkan pengetahuan
pasien tentang kondisi,

Kemungkinan

prognosis,

ditandai dengan:

pengobatan

dan
penyakit

- Pertanyaan (minta dapat meningkat.


informasi)
- Pernyataan salah

Mandiri
1. Informasi menurunkan cemas

penjelasan/alasan
tes

dan

persiapannya
2. Kaji ulang proses

dimana pasien dapat membuat


pilihan berdasarkan informasi.

penyakit/prognosis.

Komunikasi

Diskusikan

dapat menurunkan cemas dan

perawatan

dan

pengobatan.
Kriteria Hasil:

dan rangsangan simpatis


2. Memberikan dasar pengetahuan

Dorong pertanyaan,

dan

dukungan

tingkatkan penyembuhan
3. Batu empedu sering berulang,
perlu terapi jangka panjang.

Terjadinya diare/kram selama


konsepsi
ekspresi masalah.
- Pasien
menyatakan
- Tidak
akurat
3. Kaji ulang program
terapi
senodiol
dapat
pemahaman
proses
mengikuti
obat, kemungkinan
dihubungkan
dengan
penyakit, pengobatan,
intruksi
efek samping.
dosis/dapat diperbaiki. Catatan:
- Terjadi
prognosis
4. Diskusikan
wanita yang melahirkan harus
- Pasien
melakukan
komplikasi yang
program penurunan
dikonsultasikan tentang KB
perubahan pola hidup
dapat dicegah
berat badan bila
untuk mencegah kehamilan dan
dan
berpartisipasi
diindikasikan
risiko kerusakan hepatik fetal.
dalam
program 5. Anjurkan
pasien
Faktor
yang
4. Kegemukan adalah faktor risiko
pengobatan
untuk menghindari
berhubungan:
yang dihubungkan dengan
makanan/minuman
- Kurang
kolesistitis, dan penurunan
tinggi
lemak
pengetahuan/me
berat badan menguntungkan
(contoh: susu segar,

ngingat
- Salah interpretasi
informasi
- Tidak mengenal
sumber
informasi

es krim, mentega,
gorengan,

kacang

polong,

bawang,

karbonat); zat iritan


gaster

(contoh:

makanan

pedas,

kafein, sitrun)
6. Kaji
ulang
tanda/gejala

yang

memerlukan
intervensi
(contoh:

mual

muntah

menetap,

atau nyeri; ikterik


kulit

atau

mata, gatal, urine


gelap; feses warna
seperti tanah liat,
darah pada urine
dan/atau

feses;

muntah; perdarahan
membran

mukosa.
7. Anjurkan

istirahat

dengan posisi semi


fowler

setelah

makan
8. Anjurkan

pasien

membatasi
mengunyah
dan/atau menghisap
permen karet dan
merokok

medik

terhadap kondisi kronis


5. Mencegah/membatasi
empedu.
6. Menunjukkan kemajuan proses
penyakit/terjadinya komplikasi
yang

memerlukan

intervensi

lanjut
7. Meningkatkan aliran empedu
dan relaksasi umum selama

pencernaan awal
medik 8. Meningkatkan
pembentukan
demam

berulang,

dari

manajemen

terjadinya serangan kandung

minuman

pada

dalam

gas, yang dapat meningkatkan


distensi/ketidaknyamanan
gaster
9. Menurunkan risiko perdarahan
sehubungan dengan perubahan
waktu

koagulasi,

mukosa, dan trauma.

iritasi

9. Diskusikan
penghindaran
produk

yang

mengandung
aspirin,

meniup

lewat hidung keraskeras,

gerakan

tegang pada usus,


olahraga

kontak.

Anjurkan

pasien

menggunakan sikat
gigi

halus

dan

pencukur elektrik

KOLESISTEKTOMI
Diagnosa

Tujuan dan Kriteria

Keperawatan
Ketidakefektifan

Hasil
Tujuan:

Pola Napas

Setelah
tindakan

keperawatan

ditandai dengan:

diharapkan pola napas

pernafasan,
penurunan
kapasitas vital
- Menahan nafas,

Mandiri

dilakukan 1. Observasi

selama

kedalaman

Rasional

Mandiri

Kemungkinan
- Takipnea
- Perubahan

Intervensi

...x24

jam,

pasien menjadi normal.


Kriteria Hasil:
- Pola napas pasien normal
- Tak ada tanda gangguan/
komplikasi pernafasan

1. Nafas

frekuensi/kedalama
n pernafasan.
2. Auskultasi
bunyi
nafas.
3. Bantu pasien untuk
membalik,

batuk,

dan

dalam

nafas

secara

dangkal,

distres

pernafasan, menaan nafas dapat


mengakibatkan
hipoventilasi/atelektasis.
2. Area yang menurun/tak ada
bunyi nafas diduga atelektasis,
sedangkan bunyi adventisius
(mengi, ronki) menunjukkan

periodik.

Tunjukkan

kongesti.
pada 3. Meningkatkan ventilasi semua

pasien

cara

segmen paru dan memobilisasi

insisi.

serta mengeluarka sekret.


4. Memudahkan
ekspansi.

menolak untuk

menekan

batuk

Anjurkan

melakukan
Faktor

yang

teknik

batuk efektif.
4. Tinggikan kepala

berhubungan:

tempat

- Nyeri
- Kerusakan otot
- Penurunan energi

tidur,

pertahankan posisi
fowler

kelemahan

rendah.

Dukung

Penekanan

memberikan

sokongan

pada

insisi/menurunkan
otot

untuk

kerjasama

tegangan

meningktakan
dalam

program

pengobataan.

abdomen

saat

batuk,

ambulasi.

Kolaborasi
1. Memaksimalkan ekspansi paru
untuk mencegah/memperbaiki
atelektasis.
2. Memudahkan
efektif,

batuk

nafas

lebih

dalam,

dan

aktivitas.

Kolaborasi
1. Bantu

pengobatan

pernafasan, contoh
spirometri insentif.
2. Berikan analgesik
sebelum
pengobatan
pernafasan/aktivitas
Resiko

Tujuan:

Kekurangan

Setelah

Volume Cairan

tindakan

terapi.
Mandiri

dilakukan 1. Awasi masukan dan 1. Memberikan informasi tentang


keperawatan

selama
Faktor
- Kehilangan
aspirasi

cairan

haluaran, termasuk

penggantian

jam,

drainase dari NG,

fungsi organ. Awalnya, 200-500

kebutuhan

selang-T, dan luka.

mL

Timbang

pasien

diharapkan penurunan karena

secara periodik.
2. Awasi tanda vital.

lebih banyak masuk ke usus.

...x24

yang diharapkan

berhubungan:

Mandiri

pasien

dari terpenuhi
NG, kekurangan

dapat
dan
volume

Kaji

membran

kebutuhan

drainase

dan

empedu

Jumlah yang banyak terus-

muntah
- Secara

cairan
medik

tidak

terjadi

kepada pasien.

dibatasi
pemasukannya.
- Gangguan
koagulasi,
contoh
penurunan
protrombin,
waktu
Koagulasi
memanjang.

mukosa,

turgor

menerus dari drainase empedu

kulit,

perfr,

dapat

nadi

dan
Kriteria Hasil:

kapiler.
3. Observasi

- Menunjukkan
keseimbangan
adekuat:
tanda
vital
membran
lembab,

cairan
stabil,
mukosa
turgor

dan

perdarahan, contoh

haluaran

urine individu adekuat.

melena,

petekie,

sirkulasi/perfusi.
3. Protrombin menurun dan waktu
koagulasi
aliran

ekimosis.
4. Gunakan

jarum

kecil untuk injeksi,


dan

obstruksi atau kadang-kadang

fistula bilier.
tanda 2. Indikator keadekuatan volume

hematemesis,

kulit/pengisian kapiler
baik,

pengisisan

mengindikasikan

lakukan

penekanan

lebih

lama dari biasanya

memanjang

empedu

bila

terhambat,

peningkatan

risiko

perdarahan/hemoragi.
4. Menurunkan trauma,
perdarahan/hematoma.
5. Menghindari
trauma

risiko
dan

perdarahan pada gusi.

pada bekas suntkan.


5. Anjurkan
pasien
memiliki pembersih
atau katup/spn dan
pembersih

mulut

untuk sikat gigi.

Kolaborasi
1. Memberikan informasi tentang
volume

sirkulasi,

keseimbangan elektrolit, dan


keadekuatan faktor pembekuan.
2. Mempertahankan
volume
sirkulasi

adekuat

dan

membantu dalam penggantian


faktor pembekuan.
- Memperbaiki
Kolaborasi

ketidakseimbangan akibat

1. Awasi pemeriksaan

kehilangan dari gaster/luka

laboratorium,
contoh
elektrolit.

Hb/Ht,
Kadar

protrombin/waktu
pembekuan.
2. Berikan cairan IV,
produk

darah

sesuasi indikasi:

berlebihan.
Memberikan penggantian
faktor

yang

diperlukan

untuk proses pembekuan.

Kerusakan

Tujuan:

Integritas

Setelah

Jaringan

- Elektrolit
- Vitamin K
Mandiri
dilakukan 1. Periksa

dan tindakan

Kulit

keperawatan

selama

...x24

diharapkan

jam,

Integritas

Kemungkinan

jaringan dan kulit pasien

ditandai dengan:

kembali normal.

Gangguan

yang

berhubungan:
- Substansi

kimia

(empedu)
- Menetapnya

nutrisi

invasi
tubuh.

metabolik
pada

waktu

komplikasi.
- Menunjukan

luka
tanpa
perilaku

meningkatkan

penyembuhan/
mencegah
kulit.

(kegemukan)/sta
tus

tepat

untuk

secret
- Gangguan status

yakinkan

7-10 hari untuk membuang

aliran

bebas
2. Pertahankan

batu tertahan. Drein sisi insisi


digunakan untuk membuang
pada

kerusakan

dan

cairan yang terkumpul dan


empedu. Memperbaiki posisi

tertutup.
3. Observasi

penyembuhan

dimasukan

pada duktus koledukus selama

penampungan

Kriteria Hasil:

dapat

dan drein insisi :

system

- Meningkatnya
Faktor

selang-T 1. Selang-T

selang-T

kulit/

jaringan subkutan

Mandiri

mencegah aliran balik empedu


warna

karakter

drainase. Gunakan
kantong

ke area operasi.
2. Mencegah iritasi kulit dan
memudahkan

pengukuran

haluaran. Menurunkan risiko

ostomi

kontaminasi.
sekali pakai untuk 3. Pada
awalmya,
menampung

drein

luka.
4. Menanamkan
selang
biarkan

selang

bebas bergerak dan


hindari lipatan dan
terpelintir.
5. Observasi
cegukan,

adanya
distensi

abdomen atau tanda


pancreatitis.
6. Ganti
balutan
bila
Bersihkan

dengan

air,

secara

normal

berubah

menjadi

coklat

kehijauan

(warna

empedu)

setelah

jam-jam

pertama.

Kantong

ostomi

digunakan untuk menampung


drainase

besar

pengukuran
tentang

untuk

lebih

akurat

haluaran

dan

melindungi kulit.
4. Menghindari terlepas

peritonitis,

sesering

mengandung darah campuran


darah

drainase,

drainase

mungkin
perlu.
kulit

dengan sabun dan


air. Gunakan kasa

hambatan lumen
5. Perubahan posisi

dan

selang-T

dapat mengakibatkan iritasi


diafragma
lebih

atau

serius

komplikasi

bila

empedu

mengalir ke dalam abdomen

berminyak

steril,

seng oksida atau


bedak

karaya

sekitar insisi.
7. Gunakan pengikat

atau

duktus

pancreas

terhambat.
6. Mempertahankan kulit sekitar
insisi bersih dan memberikan
pertahanan untuk melindungi

Montgomery
kulit dari ekskoriasi
8. Observasi
kulit, 7. Memudahkan
mengganti
sclera,

urine

terhadap perubahan
warna
9. Catat warna

dan

balutan

yang

sering

dan

meminimalkan trauma kulit.


8. Terjadinya
ikterik
mengindikasikan

adanya

konsistensi feses
obstruksi aliran empedu
10. Selidiki
laporan 9. Feses warna tanah liat terjadi
peningkatan/tidak
hilangnya
pada
kanan

nyeri
kuadran
atas;

terjadinya demam,
takikardia;

usus.
10. Tanda dugaan adanya abses
atau pembentukan fistula yang
memerlukan intervensi medic.
Kolaborasi

kebocoran
drainase

bila empedu tidak ada dalam

1. Perlu

untuk

pengobatan

empedu

abses/infeksi
sekitar selang/dari 2. Mengetes kepatenan

duktus

luka.

selang

koledokus

sebelum

dilepas.
3. I&D
atau
diperlukan

untuk

abses/fistula
4. Leukositosis
proses

fistulektomi
mengobati

menunjukkan

inflamasi

pembentukkan

abses

terjadinya
peritonitis/pankreatitis

contoh
atau

Kolaborasi
1. Berikan antibiotic
sesuai indikasi
2. Klem selang T per
jadwal
3. Siapakan

untuk

intervensi

bedah

sesuai indikasi
4. Awasi
pemeriksaan
laboratorium,
contoh

darah

lengkap
Defisiensi

Tujuan:

pengetahuan

Setelah

Mandiri

dilakukan 1. Kaji ulang proses 1. Memberikan

tentang kondisi, tindakan


prognosis,

dan selama

Mandiri

keperawatan
...x24

jam,

kebutuhan

diharapkan pengetahuan

pengobatan

pasien tentang kondisi,


prognosis,

dan

Kemungkinan

pengobatan

penyakit

ditandai dengan:

dapat meningkat.

- Pertanyaan (minta
informasi)
Kriteria Hasil:
- Pernyataan salah
- Pasien
menyatakan

penyakit, prosedur
bedah/prognosis
2. Tunjukan
perawatan
insisi/balutan dan
drein
3. Anjurkan
membuang
tampungan
drainase selang T

dasar

pengetahuan

dimana

psien

dapat

membuat pilihan berdasarkan


informasi.
2. Meningkatkan
dalam

kemandirian

perawatan

dan

menurunkan risiko komplikasi


(contoh

infeksi,

bilier)
3. Menurukan

resiko

obstruksi
refluks,

regangana selang/penggunaan

konsepsi
- Tidak
akurat
mengikuti

pemahaman
penyakit,

proses

pengobatan,

prognosis
- Melakukan dengan benar

intruksi

prosedur

yang

perlu

dan menjelaskan alasan


Faktor

yang

berhubungan:
- Kurang
pengetahuan/me
ngingat
- Salah interpretasi
informasi
- Tidak mengenal
sumber
informasi

tindakan.
- Melakukan
pola

perubahan

hidup

berpartisipasi

dan
dalam

program pengobatan.

dan catat Haluaran


4. Tekankan
pentingnya

lapisan.

Memberikan

informasi tentang perbaikan


edema

duktus/kembalinya

mempertahankan

fungsi duktus.
diet rendah lemak, 4. Selama 6 bulan

pertama

makan sedikit dan

setelah

pembedahn,

sering, pengenalan

rendah

lemak

makanan/minuman

kebutuhan terhadap empedu

yang mengandung

dan

lemak

ketidaknyamanan sehubungan

secara

bertahap lebih dari


4-6 bulan.
5. Diskusikan

oral

florantiron
(sancho) atau asam
(decholin)
6. Hindari minuman

pasien bahwa feses


encer dapat terjadi
beberapa

adekuatnya

diperlukan

untuk

memudahkan absorpsi lemak.


6. Meminimalkan
risiko

untuk

waktu

menyesuaikan

pada

pengeluaran

kontinu empedu
8. Meskipun perubahan diet tidak
selalu
tertentu

perlu,

pembatasan

dapat

membantu,

contoh lemak dalam jumlah

bulan
8. Anjurkan

pasien
mencatat

menghindari

makanan

yang

tampaknya

kecil biasanya di toleransi.


Setelah

periode

perbaikan

pasien biasanya tidak akan


mengalami masalah dengan
kebanyakan jenis makanan.
9. Indicator obstruksi aliran

meningkatkan

empedu/gangguan pencernaan,

diare.
9. Identifikasi

memerlukan evaluasi lanjut

tanda/gejala yang
memerlukan
pelaporan

tidak

rangsangan

beralkohol
7. Informasikan

dan

menurunkan

kerusakan pancreas.
7. Usus
memerlukan

dehidrokolik

untuk

membatasi

pencernaan lemak.
5. Penggantian garam empedu

pengginaan

selama

dengan

diet

ke

dan intervensi.
10. Memulai kembali

aktivitas

biasa secara normal dapat

dokter,

contoh

urine gelap, warna


ikterik

pada

mata/kulit,

feses

warna tanah liat,


feses banyak, atau
sakit

ulu

hati

berulang, bertahak.
10. Kaji
ulang
pembatasan
aktivitas
tergantung

pada

situasi individu.

diselesaikan
minggu.

dalam

4-6

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Penyakit batu empedu atau yang sering disebut koleolithiasis merupakan penyakit
pencernaan yang dapat menyerang manusia di berbagai usia. Batu yang ditemukan di dalam
kandung empedu bisa berupa batu kolesterol, batu pigmen yaitu coklat atau pigmen hitam,
atau batu campuran. Lokasi batu empedu bisa bermacam-macam yakni di kandung empedu,
duktus sistikus, duktus koledokus, ampula vateri, di dalam hati. Serangan kolesistitis akut
berawal dari nyeri epigastrium atau kuadran kanan atas yang bersidat progresif, sering
disertai demam ringan, anreksia, takikardia, berkeringat, mual dan muntah. Abdomen atas
nyeri tekan, tetapi kandung empedu yang melebar biasanya tidak jelas diraba. Sebagian besar
pasien tidak ikterik; aanya hiperbilirubinemia mengisyaratkan obstruksi duktus biliaris
komunis. Oleh karena itu, sebagai seorang yang sehat haruslah bisa menjaga kesehatannya
dengan baik agar terhindar dari berbagai penyakit.
4.2 Saran
Saran yang diberikan oleh penulis adalah sebagai seorang tenaga medis, haruslah bisa
membantu seseorang dengan penyakit batu empedu, setidaknya membantu mengurangi rasa
nyeri yang dapat dirasakan oleh kloen.

DAFTAR PUSTAKA
Ester, Monica & Asih, Yasmin (Ed). 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC
Sjamsuhidajat, dkk. 2012. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC
Doenges, dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.
Kumar,dkk. 2009. Dasar Patologis Penyakit Edisi 7. Jakarta:EGC
Nurarif, A. dkk. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan
Nanda Nic-Noc. Yogyakarta: Mediaction.
Dr. gips.CH. dkk, 1989. Penyakit hati dan empedu. Jakarta: KDT
Ayudhitya,Diana. 2012. Anda Dokter Keluarga. Jakarta: ISBN
http://penyakitbatuempedu.compenyebab-dan-gejala-penyakit-batu-empedu diakses pada 14
Nopember 2015 pukul 12.27
Indonesia

kedokteran.

2007

Kolelitiasis

Pada

Anak,

(http://indonesia.digitaljournals.org/index.php/idnmed/article/viewFile/543/661),
diakses pada 12 November 2015.
Dr.

Yarnadi. 2015. Pengangkatan Batu Empedu. (http://familiamedika.net/referensitindakan-medis/operasi-pengangkatan-kantung-empedu-kolesistektomi.html),

diakses

pada 12 November 2015.


PPHI.2013.Artikel Umum: Batu Empedu, (http://pphi-online.org/alpha/?p=709, diakses pada
15 November 2015)