Anda di halaman 1dari 32

`

LAPORAN KASUS INDIVIDU

ENDOFTALMITIS

Oleh:
Diah Intan Firdaus

(201520401011133)

Pembimbing:
dr. Kartini Hidayati, Sp. M

SMF ILMU PENYAKIT MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH LAMONGAN
2016
BAB I
PENDAHULUAN

Uveitis adalah peradangan atau inflamasi yang terjadi pada lapisan traktus
uvealis yang meliputi peradangan pada iris, korpus siliaris dan koroid yang
disebabkan oleh infeksi, trauma, neoplasia, atau proses autoimun.
Endoftalmitis adalah peradangan berat yang terjadi pada seluruh jaringan
intraocular, yang mengenai dua dinding bola mata, yaitu retina dan koroid tanpa
melibatkan sklera dan kapsula tenon, yang biasanya terjadi akibat adanya infeksi
Endoftalmitis merupakan kejadian yang jarang namun merupakan komplikasi
yang membahayakan. Endoftalmitis sering terjadi setelah trauma pada mata termasuk
setelah dilakukannya operasi mata yang merupakan faktor risiko masuknya
mikroorganisme ke dalam mata. Mikroorganisme ini menyebabkan infeksi
intraokuler yang disebut endoftalmitis.
Angka kejadian endoftalmitis, setelah operasi terbuka bola mata di Amerika
adalah 5-14% dari semua kasus endoftalmitis.Sedangkan endoftalmitis yang
disebabkan oleh trauma sekitar 10-30%, dan endoftalmitis yang disebabkan oleh
reaksi antibody terhadap pemasangan lensa yang dianggap sebagai benda asing oleh
tubuh adalah 7-31%
Diagnosis endoftalmitis selalu berdasarkan kondisi klinis. Ini biasanya
ditandai dengan edema palpebra, kongesti konjungtiva, dan hipopion atau eksudat
pada COA. Visus menurun bahkan dapat menjadi hilang. Prognosis penglihatan
menjadi jelek pada pasien-pasien dengan endoftalmitis.
Karena hasil pengobatan akhir sangat tergantung pada diagnosis awal, maka
penting untuk melakukan diagnosis sedini mungkin. Penelitian tentang endoftalmitis
pada beberapa tahun terakhir telah menunjukkan beberapa cara sebagai profilaksis
yang terjadinya endoftalmitis.

BAB II
LAPORAN KASUS
2.1 Identitas
Nama
Pekerjaan
Agama
2.2 Anamnesis

: Ny.S
:: Islam

-Umur
: 72 tahun
-Alamat
: Lamongan
-Tanggal pemeriksaan : 27 - 6 2016

Keluhan Utama : Mata Nyeri


RPS: Pasien datang dengan keluhan mata kanan nyeri sejak 2-3 bulan yang lalu
akibat terkena cipratan minyak ketika menggoreng ikan. Pasien mengeluhkan
matanya merah, nyeri, tidak bisa meihat, dan terasa cekot-cekot pada kepala bagian
kanan. Keluhan disertai keluar kotoran/belek. Pasien sebelumnya sudah ke dokter dan
diberikan obat namun keluhan tidak membaik.
RPD: pasien tidak pernah sakit mata sebelumnya, Riwayat HT (+) minum obat dari
puskemas, DM disangkal.
RPK: Riwayat sakit mata atau kacamata disangkal
RPSos : Riwayat Pengobatan : obat tetes mata
2.3 Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum

: cukup

Kesadaran: Komposmentis

Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Nadi: 83 kali/menit

Nafas

: 20 kali/menit

Suhu: 36,6 Celcius

K/L : aicd -/-/-/Tho: sim, ret -/P: ves/ves, rh -/-, wh -/C: S1S2 tunggal, murmur -, gallop
Abd: flat, BU + N, supel, nyeri tekan -, H/L ttb, timpani
Ext: akral HKM, aie -/-/Status Ophtamologi

,GCS: 456

Pemeriksaan

OD

OS

Visus

LP +

3/20, ph 3/8,8

TIO

SEGMEN ANTERIOR
Posisi bola mata

Ortoforia

Pergerakan bola mata

Normal

Palpebra
(Superior & Inferior)

Edema (-), hiperemi (-), benjolan (-),


ptosis (-), entropion (-), ektropion
(-),pseudoptosis (-), trikiasis (-),
xantelasma (-)

Lebar rima okuli

Simetris

Silia

Normal

Konjungtiva

Perdarahan (-), injeksi konjungtiva


(+), injeksi siliar (+), sekret (+)

Perdarahan (-), injeksi konjungtiva


(-), injeksi siliar (-), sekret (-)

Kornea

keruh, edema (-), abrasi (-), sikatrik


(-),ulkus (+), arkus senilis (-),
pericorneal vascular injeksi (+)

jernih,edema (-), abrasi (-), sikatrik


(-),ulkus (-), arkus senilis (-),
pericorneal vascular injeksi (-)

COA

Kedalaman (N),, hifema (-), hipopion


(-), flare (-)

Kedalaman (N), hifema (-), hipopion


(-), flare (-)

Iris

Warna putih, kripte-

Warna kecoklatan, kripte baik

Pupil

Tidak terlihat

Bulat, diameter 3 mm, tepireguler

Lensa

keruh, dislokasi lensa (-), afakia (-), jernih, dislokasi lensa (-), afakia (-),
pseudoafakia (-)
pseudoafakia (-)

Segmen posterior

Tidak dilakukan

Sidle tes

(+) OD

Edema (-), hiperemi (-), benjolan (-),


ptosis (-), entropion (-), ektropion
(-),pseudoptosis (-), trikiasis (-),
xantelasma (-)

Foto Klinis

2.4 Clue And Cue


- OD pandangan kabur
- Cekot-cekot pada daerah mata bagian kanan
- OD Lensa keruh
- OD Kornea keruh
- OD keluar secret purulent
- OD konjungtiva bulbi merah
2.5 PROBLEM LIST
OD pandangan kabur dan mata nyeri
2.6 Initial Diagnosis
OD endoftalmitis et causa trauma
2.7 Planning Diagnosis
- Funduscopy
- USG mata
- Kultur Secret
2.8 Planning Therapy
- Levofloxacin 500mg 1x1 tab
- Rencana Operasi
2.9 Planning Monitoring
- Vital sign
- Perbaikan dan perburukan keluhan pasien
- visus, segmen anterior

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Anatomi Uvea
Uvea atau traktus uvealis merupakan lapisan vaskular di dalam bola mata
yang terdiri atas iris, badan siliar, dan koroid.

1. Iris
Iris merupakan suatu membran datar sebagai lanjutan dari badan siliar ke depan
(anterior). Di bagian tengah iris terdapat lubang yang disebut pupil yang berfungsi
untuk mengatur besarnya sinar yang masuk mata. Permukaan iris warnanya sangat
bervariasi dan mempunyai lekukan-lekukan kecil terutama sekitar pupil yang disebut
kripte. Pada iris terdapat 2 macam otot yang mengatur besarnya pupil, yaitu :
Musculus dilatator pupil yang berfungsi untuk melebarkan pupil dan Musculus
sfingter pupil yang berfungsi untuk mengecilkan pupil. Kedua otot tersebut
memelihara ketegangan iris sehingga tetap tergelar datar. Dalam keadaan normal,
pupil kanan dan kiri kira-kira sama besarnya, keadaan ini disebut isokoria. Apabila
ukuran pupil kanan dan kiri tidak sama besar, keadaan ini disebut anisokoria. Iris
menipis di dekat perlekatannya dengan badan siliar dan menebal di dekat pupil.
Pembuluh darah di sekeliling pupil disebut sirkulus minor dan yang berada dekat
badan siliar disebut sirkulus mayor. Iris dipersarafi oleh nervus nasoiliar cabang dari
saraf cranial III yang bersifat simpatik untuk midriasis dan parasimpatik untuk miosis
2. Corpus Siliar
Korpus siliaris merupakan susunan otot melingkar dan mempunyai sistem eksresi
dibelakang limbus. Badan siliar dimulai dari pangkal iris ke belakang sampai koroid
7

terdiri atas otot-otot siliar dan prosesus siliaris. Otot-otot siliar berfungsi untuk
akomodasi.
Badan siliar berbentuk cincin yang terdapat di sebelah dalam dari tempat tepi
kornea melekat di sklera. Badan siliar merupakan bagian uvea yang terletak antara
iris dan koroid. Badan siliar menghasilkan humor akuos. Humor akuos ini sangat
menentukan tekanan bola mata (tekanan intraokular = TIO). Humor akuos mengalir
melalui kamera okuli posterior ke kamera okuli anterior melalui pupil, kemudian ke
angulus iridokornealis, kemudian melewait trabekulum meshwork menuju canalis
Schlemm, selanjutnya menuju kanalis kolektor masuk ke dalam vena episklera untuk
kembali ke jantung.

3. Koroid
Koroid merupakan bagian uvea yang paling luar, terletak antara retina (di sebelah
dalam) dan sklera (di sebelah luar). Koroid berbentuk mangkuk yang tepi depannya
berada di cincin badan siliar. Koroid adalah jaringan vascular yang terdiri atas
anyaman pembuluh darah. Retina tidak menempati (overlapping) seluruh koroid,
tetapi berhenti beberapa millimeter sebelum badan siliar. Bagian koroid yang tidak
terselubungi retina disebut pars plana.

Vaskularisasi uvea berasal dari arteri siliaris anterior dan posterior yang
berasal dari mayoris iris yang terletak di badan siliaris yang merupakan anastomosis
arteri siliaris anterior dan arteri siliaris posterior longus. Vaskularisasi koroid berasal
dari arteri siliaris posterior longus dan brevis.arteri oftalmika. Vaskularisasi iris dan
badan siliaris berasal dari sirkulus arteri
Fungsi dari uvea antara lain : Regulasi sinar ke retina,Imunologi (bagian yang
berperan dalam hal ini adalah khoroid), Produksi akuos humor oleh korpus siliaris,
dan sebagai nutrisi.
3.2 Uveitis
3.2.1 Definisi
Uveitis adalah peradangan atau inflamasi yang terjadi pada lapisan
traktus uvealis yang meliputi peradangan pada iris, korpus siliaris dan koroid
3.2.2

yang disebabkan oleh infeksi, trauma, neoplasia, atau proses autoimun.


Klasifikasi
Uveitis adalah peradangan atau inflamasi yang terjadi pada lapisan
traktus uvealis yang meliputi peradangan pada iris, korpus siliaris dan koroid.
Klasifikasi uveitis dibedakan menjadi empat kelompok utama, yaitu
klasifikasi secara anatomis, klinis, etiologis, dan patologis. Penyakit
peradangan traktus uvealis umumnya unilateral, biasanya terjadi pada oreng
dewasa dan usia pertengahan. Pada kebanyakan kasus penyebabnya tidak
diketahui
1. Klasifikasi berdasarkan Anatomis
a) Uveitis anterior
Merupakan inflamasi yang terjadi terutama pada iris dan korpus siliaris
b)

atau disebut juga dengan iridosiklitis.


Uveitis intermediet
Merupakan inflamasi dominan pada pars plana dan retina perifer yang

disertai dengan peradangan vitreous.


Uveitis posterior
Merupakan inflamasi yang mengenai retina atau koroid.
d) Panuveitis
c)

Merupakan inflamasi yang mengenai seluruh lapisan uvea

2.
a)

Klasifikasi berdasarkan Klinis


Uveitis akut
Uveitis yang berlangsung selama < 6 minggu, onsetnya cepat dan bersifat

simptomatik.
b) Uveitis kronik
Uveitis yang berlangsung selama > 6 minggu bahkan sampai berbulanbulan atau bertahun-tahun, seringkali onset tidak jelas dan bersifat
3.
a)

b)
4.
a)

b)

asimtomatik.
Klasifikasi berdasarkan Etiologis
Uveitis infeksius
Uveitis yang disebabkan oleh infeksi virus, parasit, dan bakteri
Uveitis non-infeksius
Uveitis yang disebabkan oleh kelainan imunologi atau autoimun.
Klasifikasi berdasarkan patologis
Uveitis non-granulomatosa
Infiltrat dominan limfosit pada koroid.
Uveitis granulomatosa
Infiltrat dominan sel epiteloid dan sel-sel raksasa multinukleus

Perbedaan uveitis Granulomatosa dan non- Granulomatosa


Onset

Non- Granulomatosa
Akut

Granulomatosa
Tersembunyi

Nyeri

Nyata

Tidak ada atau ringan

Fotofobia

Nyata

Ringan

Penglihatan Kabur

Sedang

Nyata

Merah Sirkumneal

Nyata

Ringan

Keratic precipitates

Putih halus

Kelabu
10

besar

Pupil

Kecil dan tak teratur

(mutton fat)

Sinekia posterior

Kadang-kadang

Kecil dan tak teratur

Noduli iris

Tidak ada

Kadang-kadang

Lokasi

Uvea anterior

Kadang-kadang
Uvea

anterior,

posterior,difus
Perjalanan penyakit

Akut

Kronik

Kekambuhan

Sering

Kadang-kadang

3.2.3 Uveitis Anterior


3.2.3.1 Definisi
Uveitis anterior merupakan peradangan iris dan bagian depan badan
siliar (pars plicata), kadang-kadang menyertai peradangan bagian belakang
bola mata, kornea dan sklera. Peradangan pada uvea dapat mengenai hanya
pada iris yang disebut iritis atau mengenai badan siliar yang di sebut siklitis.
Biasanya iritis akan disertai dengan siklitis yang disebut iridosiklitis atau
uveitis anterior.
3.2.3.2 Etiologi
Penyebab eksogen seperti trauma uvea atau invasi mikroorganisme
atau agen lain dari luar. Secara endogen dapat disebabkan idiopatik, autoimun,
keganasan, mikroorganisme atau agen lain dari dalam tubuh pasien misalnya
infeksi tuberkulosis, herper simpleks. Etiologi uveitis dibagi dalam :
Berdasarkan spesifitas penyebab :
1. Penyebab spesifik (infeksi) Disebabkan oleh virus, bakteri, fungi, ataupun
parasit yang spesifik.
2. Penyebab non spesifik (non infeksi) atau reaksi hipersensitivitas
Disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas terhadap mikroorganisme atau
antigen yang masuk kedalam tubuh dan merangsang reaksi antigen antibodi
dengan predileksi pada traktus uvea.
Berdasarkan asalnya:

11

1. Eksogen : Pada umumnya disebabkan oleh karena trauma, operasi


intraokuler, ataupun iatrogenik.
2. Endogen : disebabkan idiopatik, autoimun, keganasan, mikroorganisme
atau agen lain dari dalam tubuh pasien misalnya infeksi tuberkulosis, herpes
simpleks.
3.2.3.3 Patofisiologi
Peradangan uvea biasanya unilateral, dapat disebabkan oleh efek
langsung suatu infeksi atau merupakan fenomena alergi. Infeksi piogenik
biasanya mengikuti suatu trauma tembus okuli, walaupun kadang-kadang
dapat juga terjadi sebagai reaksi terhadap zat toksik yang diproduksi oleh
mikroba yang menginfeksi jaringan tubuh diluar mata.
Uveitis yang berhubungan dengan mekanisme alergi merupakan reaksi
hipersensitivitas terhadap antigen dari luar (antigen eksogen) atau antigen dari
dalam (antigen endogen). Dalam banyak hal antigen luar berasal dari mikroba
yang infeksius. Sehubungan dengan hal ini peradangan uvea terjadi lama
setelah

proses

infeksinya

yaitu

setelah

munculnya

mekanisme

hipersensitivitas. Radang iris dan badan siliar menyebabkan rusaknya Blood


Aqueous Barrier sehingga terjadi peningkatan protein, fibrin, dan sel-sel
radang dalam humor akuos. Pada pemeriksaan biomikroskop (slit lamp) hal
ini tampak sebagai flare, yaitu partikel-partikel kecil dengan gerak Brown
(efek tyndall).
Pada proses peradangan yang lebih akut, dapat dijumpai penumpukan selsel radang berupa pus di dalam COA yang disebut hipopion, ataupun migrasi
eritrosit ke dalam COA, dikenal dengan hifema. Apabila proses radang
berlangsung lama (kronis) dan berulang, maka sel-sel radang dapat melekat
pada endotel kornea, disebut sebagai keratic precipitate (KP). Ada dua jenis
keratic precipitate, yaitu :
1.

Mutton fat KP : besar, kelabu, terdiri atas makrofag dan pigmenpigmen

yang

difagositirnya,

granulomatosa.
12

biasanya

dijumpai

pada

jenis

2.

Punctate KP : kecil, putih, terdiri atas sel limfosit dan sel plasma,
terdapat pada jenis non granulomatosa.

Apabila tidak mendapatkan terapi yang adekuat, proses peradangan akan


berjalan terus dan menimbulkan berbagai komplikasi. Sel-sel radang, fibrin,
dan fibroblas dapat menimbulkan perlekatan antara iris dengan kapsul lensa
bagian anterior yang disebut sinekia posterior, ataupun dengan endotel kornea
yang disebut sinekia anterior. Dapat pula terjadi perlekatan pada bagian tepi
pupil, yang disebut seklusio pupil, atau seluruh pupil tertutup oleh sel-sel
radang, disebut oklusio pupil.
Perlekatan-perlekatan tersebut, ditambah dengan tertutupnya trabekular
oleh sel-sel radang, akan menghambat aliran akuos humor dari bilik mata
belakang ke bilik mata depan sehingga akuos humor tertumpuk di bilik mata
belakang dan akan mendorong iris ke depan yang tampak sebagai iris
bombans (iris bombe). Selanjutnya tekanan dalam bola mata semakin
meningkat dan akhirnya terjadi glaukoma sekunder.
Pada uveitis anterior juga terjadi gangguan metabolisme lensa yang
menyebabkan lensa menjadi keruh Apabila peradangan menyebar luas, dapat
timbul endoftalmitis (peradangan supuratif berat dalam rongga mata dan
struktur di dalamnya dengan abses di dalam badan kaca) ataupun
panoftalmitis (peradangan seluruh bola mata termasuk sklera dan kapsul tenon
sehingga bola mata merupakan rongga abses).dan terjadi katarak komplikata.
Bila uveitis anterior monokuler dengan segala komplikasinya tidak segera
ditangani, dapat pula terjadi symphatetic ophtalmia pada mata sebelahnya
yang semula sehat. Komplikasi ini sering didapatkan pada uveitis anterior
yang terjadi akibat trauma tembus, terutama yang mengenai badan silier
3.2.3.4 Manifestasi Klinis
Keluhan pasien dengan uveitis anterior adalah mata sakit, mata merah,
fotofobia, penglihatan turun ringan dengan mata berair. Keluhan sukar melihat
dekat pada pasien uveitis dapat terjadi akibat ikut meradangnya otot-otot

13

akomodasi. Dari pemeriksaan mata dapat ditemukan tanda antara lain :


Hiperemia perikorneal, yaitu dilatasi pembuluh darah siliar sekitar limbus, dan
keratic precipitate. Pada pemeriksaan slit lamp dapat terlihat flare di bilik
mata depan dan bila terjadi inflamasi berat dapat terlihat hifema atau
hipopion. Iris edema dan warna menjadi pucat, terkadang didapatkan iris
bombans. Dapat pula dijumpai sinekia posterior ataupun sinekia anterior.
Pupil kecil akibat peradangan otot sfingter pupil dan terdapatnya edema iris.
Lensa keruh terutama bila telah terjadi katarak komplikata. Tekanan intra
okuler meningkat, bila telah terjadi glaukoma sekunder. Pada proses akut
dapat terjadi miopisi akibat rangsangan badan siliar dan edema lensa. Pada
uveitis non-granulomatosa dapat terlihat presipitat halus pada dataran
belakang kornea. Pada uveitis granulomatosa dapat terlihat presipitat besar
atau mutton fat noduli Koeppe (penimbunan sel pada tepi pupil) atau noduli
3.2.4

Busacca (penimbunan sel pada permukaan iris).


Uveitis Intermediate
Uveitis intermediate disebut juga uveitis perifer atau pars planitis
adalah peradangan intraokular terbanyak kedua. Tanda uveitis intermediet
yang terpenting yaitu adanya peradangan vitreus. Uveitis intermediet biasanya
bilateral dan cenderung mengenai pasien remaja akhir atau dewasa muda. Pria
lebih banyak yang terkena dibandingkan wanita. Gejala- gejala yang khas
meliputi floaters dan penglihatan kabur. Nyeri, fotofobia dan mata merah
biasanya tidak ada atau hanya sedikit. Temuan pemeriksaan yang menyolok
adalah vitritis seringkali disertai dengan kondensat vitreus yang melayang
bebas seperti bola salju (snowballs) atau menyelimuti pars plana dan corpus
ciliare seperti gundukan salju (snow-banking). Peradangan bilik mata depan
minimal tetapi jika sangat jelas peradangan ini lebih tepat disebut panuveitis.
Penyebab uveitis intermediate tidak diketahui pada sebagian besar pasien,
tetapi sarkoidosis dan multipel sklerosis berperan pada 10-20% kasus.
Komplikasi uveitis intermediate yang tersering adalah edema makula kistoid,

3.2.5

vaskulitis retina dan neovaskularisasi pada diskus optikus.


Uveitis Posterior
14

Uveitis posterior adalah peradangan yang mengenai uvea bagian


posterior yang meliputi retinitis, koroiditis, vaskulitis retina dan papilitis yang
bisa terjadi sendiri-sendiri atau secara bersamaan. Gejala yang timbul adalah
floaters, kehilangan lapang pandang atau scotoma, penurunan tajam
penglihatan.

Sedangkan

pada

koroiditis

aktif

pada

makula

atau

papillomacular bundle menyebabkan kehilangan penglihatan sentral dan dapat


3.2.6

terjadi ablasio retina.


Penatalaksanaan
Tujuan utama dari pengobatan uveitis adalah untuk mengembalikan atau
memperbaiki fungsi penglihatan mata. Apabila sudah terlambat dan fungsi
penglihatan tidak dapat lagi dipulihkan seperti semula, pengobatan tetap perlu
diberikan untuk mencegah memburuknya penyakit dan terjadinya komplikasi
yang tidak diharapkan. Adapun terapi uveitis dapat dikelompokkan menjadi :
Terapi non spesifik :
1. Penggunaan kacamata hitam
Kacamata hitam bertujuan untuk mengurangi fotofobi, terutama akibat
pemberian midriatikum.
2. Kompres hangat
Dengan kompres hangat, diharapkan rasa nyeri akan berkurang, sekaligus
untuk meningkatkan aliran darah sehingga resorbsi sel-sel radang dapat
lebih cepat.
3. Midritikum/ sikloplegik
Tujuan pemberian midriatikum adalah agar otot-otot iris dan badan silier
relaks, sehingga dapat mengurangi nyeri dan mempercepat penyembuhan.
Selain itu, midriatikum sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya
sinekia, ataupun melepaskan sinekia yang telah ada.
Midriatikum yang biasanya digunakan adalah:
a. Sulfas atropin 1% sehari 3 kali tetes
b. Homatropin 2% sehari 3 kali tetes
c. Scopolamin 0,2% sehari 3 kali tetes

15

4.

Anti inflamasi
Anti inflamasi yang biasanya digunakan adalah kortikosteroid, dengan
dosis sebagai berikut:
Dewasa : Topikal dengan dexamethasone 0,1 % atau prednisolone 1 %.
Bila radang sangat hebat dapat diberikan subkonjungtiva atau periokuler : :
a. Dexamethasone phosphate 4 mg (1 ml)
b. Prednisolone succinate 25 mg (1 ml)
c. Triamcinolone acetonide 4 mg (1 ml)
d. Methylprednisolone acetate 20 mg
Bila belum berhasil dapat diberikan sistemik Prednisone oral mulai 80 mg
per hari sampai tanda radang berkurang, lalu diturunkan 5 mg tiap hari.
Anak : prednison 0,5 mg/kgbb sehari 3 kali.
Pada pemberian kortikosteroid, perlu diwaspadai komplikasi-komplikasi
yang mungkin terjadi, yaitu glaukoma sekunder pada penggunaan lokal
selama lebih dari dua minggu, dan komplikasi lain pada penggunaan
sistemik.
Terapi spesifik
Terapi yang spesifik dapat diberikan apabila penyebab pasti dari
uveitis anterior telah diketahui. Karena penyebab yang tersering adalah
bakteri, maka obat yang sering diberikan berupa antibiotik, yaitu :
Dewasa : Lokal berupa tetes mata kadang dikombinasi dengan steroid.
Anak : Chloramphenicol 25 mg/kgbb sehari 3-4 kali.
Walaupun diberikan terapi spesifik, tetapi terapi non spesifik seperti
disebutkan diatas harus tetap diberikan, sebab proses radang yang terjadi
adalah sama tanpa memandang penyebabnya.
Terapi terhadap komplikasi
1. Sinekia posterior dan anterior
16

Untuk mencegah maupun mengobati sinekia posterior dan sinekia


anterior, perlu diberikan midriatikum, seperti yang telah diterangkan
sebelumnya.
2. Glaukoma sekunder
Glaukoma sekunder adalah komplikasi yang paling sering terjadi pada
uveitis

anterior.

Terapi

yang

harus

diberikan

antara

lain:

Terapi konservatif :
Timolol 0,25 % - 0,5 % 1 tetes tiap 12 jam
Acetazolamide 250 mg tiap 6 jam
Terapi bedah:
Dilakukan bila tanda-tanda radang telah hilang, tetapi TIO masih tetap
tinggi.
a. Sudut tertutup : iridektomi perifer atau laser iridektomi, bila telah
terjadi perlekatan iris dengan trabekula (Peripheral Anterior
Synechia atau PAS) dilakukan bedah filtrasi.
b. Sudut terbuka : bedah filtrasi.
3. Katarak komplikata
Komplikasi ini sering dijumpai pada uveitis anterior kronis. Terapi
yang diperlukan adalah pembedahan, yang disesuaikan dengan keadaan
3.2.7

dan jenis katarak serta kemampuan ahli bedah.


Komplikasi
Komplikasi dari uveitis dapat berupa :
a. Glaucoma, peninggian tekanan bola mata
Pada

uveitis

anterior

dapat

terjadi

sinekia

posterior

sehingga

mengakibatkan hambatan aliran aquos humor dari bilik posterior ke bilik


anterior. Penumpukan cairan ini bersama-sama dengan sel radang
mengakibatkan tertutupnya jalur dari out flow aquos humor sehigga
terjadi glaucoma. Untuk mencegahnya dapat diberikan midriatika.
b. Katarak

17

Kelainan polus anterior mata seperti iridosiklitis yang menahun dan


penggunaan terapi kortikosteroid pada terapi uveitis dapat mengakibatkan
gangguan metabolism lensa sehingga menimbulkan katarak. Operasi
katarak pada mata yang uveitis lebih komplek lebih sering menimbulkan
komplikasi post operasi jika tidak dikelola dengan baik. Sehingga
dibutuhkan perhatian jangka panjang terhadap pre dan post operasi.
Operasi dapat dilakukan setelah 3 bulan bebas inflamasi. Penelitian
menunjukan bahwa fakoemulsifikasi dengan penanaman IOL pada bilik
posterior dapat memperbaiki visualisasi dan memiliki toleransi yang baik
pada banyak mata dengan uveitis.
c. Sinekia posterior perlekatan antara iris dengan kapsul lensa bagian
anterior akibat sel-sel radang, fibrin, dan fibroblas.
d. Sinekia anterior perlekatan iris dengan endotel kornea akibat sel-sel
radang, fibrin, dan fibroblas.
e. Seklusio pupil perlekatan pada bagian tepi pupil
f. Oklusio pupil seluruh pupil tertutup oleh sel-sel radang
g. Endoftalmitis peradangan supuratif berat dalam rongga mata dan
struktur di dalamnya dengan abses di dalam badan kaca akibat dari
peradangan yang meluas.
h. Panoftalmitis peradangan pada seluruh bola mata termasuk sklera dan
kapsul tenon sehingga bola mata merupakan rongga abses.
i. Ablatio retina
3.3 Endoftalmitis
Endoftalmitis merupakan radang purulen pada seluruh jaringan intraokuler,
disertai dengan terbentuknya abses di dalam badan kaca. Bila terjadi peradangan
lanjut yang mengenai ketiga dinding bola mata, maka keadaan ini disebut
panoftalmitis.
3.3.1 Epidemiologi
18

Endophthalmitis endogen jarang terjadi, hanya terjadi pada 2-15% dari semua
kasus endophthalmitis. Kejadian rata-rata tahunan adalah sekitar 5 per 10.000 pasien
yang dirawat.
Sebagian besar kasus endophthalmitis eksogen (sekitar 60%) terjadi setelah
operasi intraokular. Ketika operasi merupakan penyebab timbulnya infeksi,
endophthalmitis biasanya dimulai dalam waktu 1 minggu setelah operasi. Di Amerika
Serikat, endophthalmitis postcataract merupakan bentuk yang paling umum, dengan
sekitar,1-0,3% dari operasi menimbulkan komplikasi ini, yang telah meningkat
selama beberapa tahun terakhir. Walaupun ini adalah persentase kecil, sejumlah besar
operasi katarak yang dilakukan setiap tahun memungkinkan untuk terjadinya infeksi
ini lebih tinggi.
Post traumatic Endophthalmitis terjadi pada 4-13% dari semua cedera penetrasi
okular. Insiden endophthalmitis dengan cedera yang menyebabkan perforasi pada
bola mata di pedesaan lebih tinggi bila dibandingkan dengan daerah perkotaan.
Keterlambatan dalam perbaikan luka tembus pada bola mata berkorelasi dengan
peningkatan resiko berkembangnya endophthalmitis. Kejadian endophthalmitis yang
disebabkan oleh benda asing intraokular adalah 7-31%.

3.3.2 Etiologi
Penyebab endoftalmitis dapat dibagi menjadi dua, yaitu endoftalmitis yang
disebabkan oleh infeksi dan endoftalmitis yang disebabkan oleh imunologis atau auto
imun (non infeksi).
a. Endogen
Endoftalmitis endogen terjadi akibat penyebaran bakteri, jamur ataupun
parasit dari fokus infeksi di dalam tubuh, yang menyebar secara hematogen ataupun
akibat penyakit sistemik lainnya, misalnya endocarditis.
b. Eksogen

19

Endoftalmitis eksogen dapat terjadi akibat trauma tembus atau infeksi


sekunder / komplikasi yang terjadi pada tindakan pembedahan yang membuka bola
mata, reaksi terhadap benda asing dan trauma tembus bola mata. Bakteri gram
positive menyebabkan 56-90% dari seluruh kasus endoftalmitis. Beberapa kuman
penyebabnya dalah staphylococcus epidermidis, staphylococcus aureus, dan spesies
streptococcus. Bakteri gram negatif seperti pseudomonas, escherichia coli dan
enterococcus dapat ditemukan dari trauma tembus bola mata.
Endoftalmitis fakoanafilaktik merupakan endoftalmitis unilateral ataupun
bilateral yang merupakan reaksi uvea granulomaosa terhadap lensa yang mengalami
ruptur. Endoftalmitis fakoanafilaktik merupakan suatu penyakit autoimun terhadap
jaringan tubuh (lensa) sendiri, akibat jaringan tubuh tidak mengenali jaringan lensa
yang tidak terletak di dalam kapsul. Pada tubuh terbentuk antibodi terhadap lensa
sehingga terjadi reaksi antigen antibodi yang akan menimbulkan gejala endoftalmitis
fakoanafilaktik
3.3.3 Patofisiologi Endoftalmitis
Dalam keadaan normal, sawar darah-mata (blood-ocular barrier) memberikan
ketahanan alami terhadap serangan dari mikroorganisme. Dalam endophthalmitis
endogen, mikroorganisme yang melalui darah menembus sawar darah-mata baik oleh
invasi langsung (misalnya, emboli septik) atau oleh perubahan dalam endotelium
vaskular yang disebabkan oleh substrat yang dilepaskan selama infeksi. Kerusakan
jaringan intraokular dapat juga disebabkan oleh invasi langsung oleh mikroorganisme
dan atau dari mediator inflamasi dari respon kekebalan.
Endophthalmitis dapat terlihat nodul putih yang halus pada kapsul lensa, iris,
retina, atau koroid. Hal ini juga dapat timbul pada peradangan semua jaringan okular,
mengarah kepada eksudat purulen yang memenuhi bola mata. Selain itu, peradangan
dapat menyebar ke jaringan lunak orbital. Setiap prosedur operasi yang mengganggu
integritas bola mata dapat menyebabkan endophthalmitis eksogen

20

3.3.4 Gejala dan Tanda Endoftalmitis


3.3.4.1 Gejala

Severe ocular pain

Mata merah

Lakrimasi

Penurunan visus

Fotofobia

3.3.4.2 Tanda

Kelopak mata bengkak dan eritema

Konjungtiva tampak chemosis

Kornea edema, keruh, tampak infiltrate

Hypopion (lapisan sel-sel inflamasi dan eksudat di ruang anterior)

Iris odem dan keruh

Pupil tampak yellow reflek

Eksudat pada vitreus

TIO meningkat atau menurun

3.3.5 Jenis-jenis Endoftalmitis


3.3.5.1 Endoftalmitis akut pasca bedah katarak
Merupakan bentuk yang paling sering dari endoftalmitis, dan hampir
selalu disebabkan oleh infeksi bakteri. Tanda-tanda infeksi dapat muncul dalam
waktu satu sampai dengan enam minggu dari operasi. Namun, dalam 75-80% kasus
muncul di minggu pertama pasca operasi. Sekitar 56-90% dari bakteri yang
menyebabkan endoftalmitis akut adalah gram positif, dimana yang paling sering
adalah Staphylococcus epidermis, Staphylococcus aureus dan Streptococcus. Pada
pasien dengan endoftalmitis akut pasca operasi biasa ditemui Injeksi silier, hilangnya
reflek fundus, hipopion, pembengkakan kelopak mata, fotofobia, penurunan visus dan
kekeruhan vitreus

21

Gambar Endoftalmitis Akut Pasca Bedah Katarak


3.3.5.2 Endoftalmitis Pseudofaki Kronik
Endoftalmitis pseudofaki kronik biasanya berkembang empat minggu
hingga enam minggu. Biasanya, keluhan pasien ringan dengan tanda-tanda mata
merah, penurunan ketajaman visus dan adanya fotofobia. Sedangkan tanda-tanda
yang dapat ditemui yaitu adanya eksudat serosa dan fibrinous dari berbagai derajat
dapat diamati, dihubungkan dengan adanya hipopion dan tanda-tanda moderat dari
kekeruhan dan opacity dalam vitreous body.
Salah satu yang khas dari endoftalmitis pseudofaki kronik adalah adanya plak
kapsul putih dan secara proporsional tingkat kekeruhan badan vitreous yang lebih
rendah dibandingkan dengan endophthalmitis akut. Hal ini dianggap bahwa penyebab
endoftalmitis pseudofaki kronik adalah adanya beberapa bakteri yang memiliki
virulensi rendah, dengan tanda-tanda inflammation yang berjalan lambat. Frekuensi
paling sering yang menjadi penyebab dari chronic endiphthalmitis adalah
Propionibacterium acnes dan Corynebacterium species.

22

Gambar Endoftalmitis Pseudofaki Kronik

3.3.5.3 Endoftalmitis Pasca Operasi Filtrasi Antiglaukoma


Diantara semua kasus endoftalmitis pasca operasi, komplikasi ini terjadi pasca
operasi filtrasi antiglaukoma yang terjadi sebanyak 10% dari kasus. Dari total jumlah
kasus dengan operasi filtrasi antiglaukoma, endoftalmitis terjadi dalam persentase
yang sama seperti di Katarak (0,1%). Trabeculectomy dan trepanotrabeculectomy,
sebagai metode yang tersering, membentuk filtrasi fistula yang mengarahkan cairan
ke ruang bawah konjungtiva. Akumulasi cairan ini memungkinkan menjadi tempat
peradangan yang dapat disebabkan oleh inokulasi bakteri selama operasi, atau bisa
terjadi selama periode pasca operasi.
Tanda-tanda endoftalmitis muncul empat minggu setelah operasi pada 19%
pasien, atau bahkan kemudian dalam sebagian besar kasus. Infeksi juga dapat terjadi
satu tahun berikutnya setelah operasi. Manfestasi klinis yang terjadi sangat mirip
dengan salah satu endoftalmitis akut dengan tanda-tanda kumpulan pus di tempat
akumulasi cairan dan kerusakan nekrotik dari sclera sebagai konsekuensi dari efek
toksik.

Bakteri

penyebab

paling

umum

adalah

jenis

Streptococcus

dan

Staphylococcus aureus, disamping itu Haemophilus influenza juga menjadi salah satu
penyebabnya
3.3.5.4 Endoftalmitis pasca trauma
Setelah terjadinya cedera mata, endoftalmitis terjadi dalam persentase
tinggi (20%), terutama jika cedera ini terkait dengan adanya benda asing intraokular.
Dengan temuan klinis berupa luka perforasi, infeksi berkembang sangat cepat. Tandatanda infeksi biasanya berkembang segera setelah cedera, tapi biasanya diikuti oleh
reaksi post-traumatic jaringan mata yang rusak. Informasi yang sangat penting dalam
anamnesis adalah apakah pasien berasal dari lingkungan pedesaan atau perkotaan,
cedera di lingkungan pedesaan lebih sering diikuti oleh endoftalmitis (30%)
dibandingkan dengan pasien dari lingkungan perkotaan. (11%).

23

Secara klinis, Endoftalmitis pasca-trauma ditandai dengan rasa sakit, hiperemi


ciliary, gambaran hipopion dan kekeruhan pada vitreous body. Dalam kasus
endoftalmitis pasca-trauma, agen causative paling umum adalah bakteri dari
kelompok Bacillus dan Staphylococcus. Dalam Endoftalmitis post-traumatik,
khususnya dengan masuknya benda asing, sangat penting untuk dilakukan vitrekomi
sesegera mungkin, dengan membuang benda asing intraokular dan aplikasi terapi
antibiotik yang tepat
3.3.5.5 Endoftalmitis Endogen
Pada bentuk endoftalmitis ini tidak ada riwayat operasi mata ataupun trauma
mata. Biasanya ada beberapa penyakit sistemik yang mempengaruhi, baik melalui
penurunan mekanisme pertahanan host atau adanya fokus sebagai tempat potensial
terjadinya infeksi. Dalam kelompok ini penyebab tersering adalah; adanya
septicaemia, pasien dengan imunitas lemah, penggunaan catethers dan Kanula
intravena kronis. Agen bakteri yang biasanya menyebabkan endoftalmitis endogen
adalah Staphylococcus aureus, Escherichia coli dan spesies Streptococcus. Namun,
agen yang paling sering menyebabkan Endoftalmitis endogen adalah jamur (62%),
gram positive bakteri (33%), dan gram negatif bakteri dalam 5% dari kasus

Gambar Endoftalmitis Endogen

3.3.5.6 Fungal Endoftalmitis

24

Fungal endoftalmitis dapat berkembang melalui mekanisme endogen


setelah beberapa trauma atau prosedur bedah dengan inokulasi langsung ke ruang
anterior atau vitreous body, atau transmisi secara hematogen dalam bentuk
candidemia. Tidak seperti fungal chorioretinitis yang disebabkan oleh kandidiasis,
yang disertai dengan tanda peradangan minimal pada vitreous body, fungal
endoftalmitis

merupakan

penyakit

serius

dengan

karakteristik

tanda-tanda

endoftalmitis akut
3.3.6 Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium

Endoftalmitis eksogen: sampel vitreous (vitreous tap) diambil untuk diteliti


mikroorganisme penyebab dari endoftalmitis.

Endoftalmitis endogen: darah lengkap dan kimia darah mengetahui sumber


infeksi

Studi Imaging

B-scan (USG): tentukan apakah ada keterlibatan peradangan vitreous. Hal ini
juga penting untuk mengetahui dari ablasi retina dan Choroidal, yang nantinya
penting dalam pengelolaan dan prognosis.

Chest x-ray - Mengevaluasi untuk sumber infeksi

USG Jantung - Mengevaluasi untuk endokarditis sebagai sumber infeksi

Prosedur Diagnosa (evaluasi ophtalmologi)

Periksa visus

Slit lamp

25

Tekanan intraokular

Funduscopy

ultrasonografi

3.3.7 Pengobatan
Pengobatan tergantung pada penyebab yang mendasari endophthalmitis. Hasil
akhir ini sangat tergantung pada penegakan diagnosis dan pengobatan tepat waktu.
Tujuan dari terapi endophthalmitis adalah untuk mensterilkan mata, mengurangi
kerusakan jaringan dari produk bakteri dan peradangan, dan mempertahankan
penglihatan. Dalam kebanyakan kasus terapi yang diberikan adalah antimikroba
intravitreal, periokular, dan topikal. sedangkan dalam kasus yang parah, dilakukan
vitrectomy.
3.3.7.1 Non Farmakologi
1. Menjelaskan bahwa penyakit yang diderita memiliki prognosa yang buruk yang
mengancam bola mata dan nyawa apabila tidak tertangani.
2. Menjelaskan bahwa penyakit tersebut dapat mengenai mata satunya, sehingga
perlu dilakukan pengawasan yang ketat tentang adanya tanda-tanda inflamasi pada
mata seperti mata merah, bengkak, turunnya tajam penglihatan, kotoran pada mata
untuk segera untuk diperiksakan ke dokter mata.
3. Menjelaskan bahwa penderita menderita diabetes yang memerlukan pengontrolan
yang ketat baik secara diet maupun medikamentosa. Hal ini disebabkan oleh
karena kondisi hiperglikemia akan meningkatkan resiko terjadinya bakteriemi
yang dapat menyerang mata satunya, atau bahkan dapat berakibat fatal jika
menyebar ke otak.
4. Perlunya menjaga kebersihan gigi mulut, sistem saluran kencing yang
memungkinkan menjadi fokal infeksi dari endoftalmitis endogen
3.3.7.2 Farmakologi
1. Antibiotik

26

Terapi antimikroba empiris harus komprehensif dan harus mencakup semua


kemungkinan patogen dalam konteks pengaturan klinis.
Intravitreal antibiotik
Pilihan pertama : Vancomicin 1 mg dalam 0.1 ml + ceftazidine 2.25 mg dalam 0.1ml
Pilihan kedua : Vancomicin 1 mg dalam 0.1ml + amikacin 0.4 mg dalam 0.1 ml
Pilihan ketiga : Vancomicin 1 mg dalam 0.1ml + gentamicin 0.2 mg dalam 0.1 ml
Antibiotik topikal

Vancomicin (50 mg/ml) atau cefazolin (50 mg/ml), dan

Amikacin (20 mg/ml) atau tobramycin (15mg%)

Antibiotik sistemik (jarang).

Ciprofloxacin intravena 200 mg BD selama 2-3hari, diikuti


500 mg oral BD selama 6-7 hari, atau

Vancomicin 1gm IV BD dan ceftazidim 2g IV setiap 8 jam

2. Terapi steroid
Dexamethasone intravitreal 0.4 mg dalam 0.1 ml
Dexamethasone 4 mg (1 ml) OD selama 5 7 hari

Steroid sistemik. Terapi harian dengan prednisolone 60 mg diikuti dengan 50


mg, 40

mg, 30 mg, 20 mg, dan 10 mg selama 2 hari.

3. Terapi suportif

Siklopegik. Disarankan tetes mata atropin 1% atau bisa juga hematropine 2% 2


3 hari sekali.

Obat-obat antiglaucoma disarankan untuk pasien dengan peningkatan tekanan


intraokular. Acetazolamide (3 x 250 mg) atau Timolol (0.5 %) 2 kali sehari

3.3.7.3 Operatif

27

Vitrectomy adalah tindakan bedah dalam terapi endophthalmitis. Bedah


debridemen rongga vitreous terinfeksi menghilangkan bakteri, sel-sel inflamasi,
dan zat beracun lainnya untuk memfasilitasi difusi vitreal, untuk menghapus
membran vitreous yang dapat menyebabkan ablasio retina, dan membantu
pemulihan penglihatan. Endophthalmitis vitrectomy Study (EVS) menunjukkan
bahwa di mata dengan akut endophthalmitis operasi postcataract dan lebih baik
dari visi persepsi cahaya. Vitrectomy juga

memainkan peran penting dalam

pengelolaan endoftalmitis yang tidak responsif terhadap terapi medikamentosa.


3.3.8 Pencegahan
1. Identifikasi keadaan pasien yang memiliki faktor resiko sebelum operasi
(blepharitis, kelainan drainase lakrimal, adanya infeksi yg aktif)
2. Persiapan operasi, termasuk :

Pov. Iodine 5-10%

Sarung tangan steril

Profilaksis topikal / perikoular antibiotik

Profilaksis intravitreal (pada kasus kasus trauma)


3.3.9 Prognosis
Prognosis dari endoftalmitis sendiri bergantung Durasi dari endoftalmitis, jangka
waktu infeksi sampai penatalaksanaan, Virulensi bakteri dan Keparahan dari trauma.
Diagnosa yang tepat dalam waktu cepat dengan tatalaksana yang tepat mampu
meningkatkan angka kesembuhan endoftalmi.

28

BAB IV
PEMBAHASAN
Ny. S datang dengan keluhan mata kanan nyeri sejak 2-3 bulan yang lalu
akibat terkena cipratan minyak ketika menggoreng ikan. Pasien mengeluhkan
matanya merah, nyeri, tidak bisa melihat, dan terasa cekot-cekot pada kepala bagian
kanan. Keluhan disertai keluar kotoran/belek. Pasien sebelumnya sudah ke dokter dan
diberikan obat namun keluhan tidak membaik. Keluhan pada mata kiri tidak
ada.Riwayat sakit mata sebelumnya tidak ada, riwayat hipertensi rutin control dan
minum obat, DM disangkal.
Dari pemeriksaan fisik terutama pada status oftalmologis OD didapatkan visus
LP (+), konjungtiva bulbi hiperemis, kornea keruh, pupil tidak terlihat (keruh), lensa
keruh. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik mengarah pada suatu diagnosis yaitu
Endoftalmitis et causa trauma. Pada pemeriksaan slidle tes (+) sehingga mendukung
adanya Endoftalmitis yang merupakan tanda adanya kebocoran pada mata.
Pandangan kabur pada mata kanan pasien kemungkinan terjadi akibat
kerusakan kornea karena adanya ulkus kornea yang ditandai dengan sidle tes +..
Nyeri dan konjungtiva bulbi berwarna merah dan secret purulent terjadi akibat adanya
infeksi pada mata akibat trauma pada mata kanan yang di tandai dengan adanya
tanda-tanda infeksi seperti adanya pus.

29

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, kemungkinan penyebab


timbulnya Endoftalmitis pada pasien ini adalah akibat adanya trauma terkena cipratan
minyak goreng yang masih panas kemudian akibat penanganan yang kurang tepat
menyebabkan ulkus kornea dan mengalami peradangan sehingga timbul uvetis,
peradangan semakin meluas maka menimbulkan endoftalmitis. Planning diagnosis
lainnya pada pasien lainnya adalah segmen posterior untuk melihat adanya kelainan
lain dan perubahan fundus , USG mata untuk melihat kondisi mata pasien, dan kultur
secret untuk mengetahui bakteri spesifik penyebab infeksi.
Tujuan dari

terapi endophthalmitis adalah untuk mensterilkan

mata,

mengurangi kerusakan jaringan dari produk bakteri dan peradangan, dan


mempertahankan penglihatan.
Terapi medikamentosa pada pasien ini adalah levofloxacin 500 mg 1x1 tab, dan
di rencanakan dilakukan operasi.
Yang harus dimonitor pada pasien adalah visus, segmen anterior. Visus untuk
mengevaluasi

keparahan

Endoftalmitis,segmen

anterior

untuk

mengevaluasi

perbaikan klinis pasien.


Prognosis pada pasien ini baik jika ditangani dengan cepat dan tepat.

30

BAB V
KESIMPULAN

Ny. S datang dengan keluhan mata kanan nyeri sejak 2-3 bulan yang
lalu akibat terkena cipratan minyak ketika menggoreng ikan. Pasien mengeluhkan
matanya merah, nyeri, tidak bisa melihat, dan terasa cekot-cekot pada kepala bagian
kanan. Keluhan disertai keluar kotoran/belek. Pasien sebelumnya sudah ke dokter dan
diberikan obat namun keluhan tidak membaik. Keluhan pada mata kiri tidak ada.
Riwayat sakit mata sebelumnya tidak ada, riwayat hipertensi rutin control dan minum
obat, DM disangkal.
Dari pemeriksaan fisik terutama pada status oftalmologis OD didapatkan visus
LP (+), konjungtiva bulbi hiperemis, kornea keruh, pupil tidak terlihat (keruh), lensa
keruh. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik mengarah pada suatu diagnosis yaitu
Endoftalmitis et causa trauma. Pada pemeriksaan sidle tes (+) sehingga mendukung
adanya Endoftalmitis yang merupakan tanda adanya kebocoran pada mata..
Terapi medikamentosa pada pasien ini adalah pemberian antibiotic untuk
menangani infeksi pada mata, dan direncanakan dilakukan operasi.

31

DAFTAR PUSTAKA

Ilyas, Sidarta. 2004. Masalah Kesehatan Mata Anda Dalam PertanyaanPertanyaan.Edisi 2. Jakarta : FKUI
Ilyas, Sidarta. 2009. Dasar-dasar pemeriksaan dalam ilmu penyakit mata. Edisi 3.
Jakarta:Balai Pustaka.
Ilyas,Sidarta. 2015. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia
James, Chew, Bron. 2005. Oftalmologi. Edisi 9. Jakarta: Penerbit Erlangga
Maguire JI. Postoperative endophthalmitis: optimal management and the role and
timing of vitrectomy surgery. Eye 2008;22(10):1290-300.
Nurwasis. 2006. Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag/SMF Ilmu Penyakit Mata.
Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo Surabaya.
Vaughan & Asbury. 2007 Oftalmologi Umum. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran
EGC

32