Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

DIABETES MELITUS TIPE 2


Oleh Yulfa Intan Lukita

1. Kasus (masalah utama dan diagnosa medis)


a. Masalah utama
Sering merasa haus
b. Diagnosa medis
Diabetes Melitus tipe 2
2. Proses terjadinya masalah
a. Pengertian
Menurut Greenspan et.al dalam Meydani (2011), Diabetes Melitus (DM)
adalah

suatu

sindrom

gangguan

metabolisme

dan

ditandai

dengan

hiperglikemia yang disebabkan oleh defisisensi absout atau relatif dari sekresi
insulin dan atau gangguan kerja insulin. Menurut kriteria diagnostik
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKINI) tahun 2006, seseorang
didiagnosis menderita DM jika mempunyai kadar glukosa darah sewaktu > 200
mg/dl dan kadar glukosa darah puasa >126 mg/dl. Pada tahun 1997, Expert
Comitte on the Diagnosis and Clasification of Diabetes Mellitus of the
American Diabetes Association menerbitkan klasifikasi baru diabetes mellitus,
yaitu DM tipe I dan DM tipe II. DM tipe II atau non insulin dependent diabetes
mellitus (NIDDM) adalah pankreas menghasilkan insulin dalam jumlah yang
normal, tetapi insulinnya tidak efektif (Baradero, 2009). Hal ini dapat diebut
insulin relatif atau resisten insulin. Menurut Meydani (2011), penyakit DM
adalah penyakit seumur hidup yang tidak bisa disembuhkan namun kadar gula
darah dapat dikendalikan sedemikian rupa sehingga selalu sama dengan kadar
glukosa orang normal atau dalam batas normal.
b. Penyebab
Menurut Ndraha (2014), pada penderita DM tipe II atau Insulin NonDependent Diabetes Mellitus (NIDDM) terjadi hiperinsulinemia tetapi insulin

tidak bisa membawa glukosa masuk ke dalam jaringan karena terjadi resistensi
insulin yang merupakan turunnya kemampuan insulin untuk merangsang
pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi
glukosa oleh hati. Oleh karena terjadi resistensi insulin (reseptor insulin sudah
tidak aktif karena dianggap kadarnya masih tinggi dalam darah) akan
mengakibatkan defisiensi relatif imun. Menurut Depkes dalam Fitriyani (2012),
DM tipe 2 bukan disebabkan oleh kurangnya sekeresi insulin, namun karena
sel-sel sasaran insulin gagal atau tak mampu merespon insulin secara normal.
Keadaan ini lazim disebut sebagai resistensi insulin. Resistensi insulin
banyak terjadi akibat dari obesitas, kurang aktifitas fisik, dan penuaan.
c. Patofisiologi
Diabetes mellitus tipe II atau dikenal dengan diabetes mellitus non
dependen-insulin (NIDDM), ditandai oleh resistensi insulin dan gangguan
sekresi insulin. Diabetes tipe 2 merupakan bentuk yang palineg sering dari
penderita DM. Penyakit ini biasanya timbul setelahusia 40 tahun dan tidak
berkaitan dengan hilangnya seluruh kemampuan mensekresi insulin. Sebagian
besar penderitanya mengalami kegemukan dan toleransi glukosanya membaik
apabila mereka menurunkan berat badan. Diabetes melitus tipe-2 adalah
kelompok DM akibat kurangnya sensitifitas jaringan sasaran (otot, jaringan
adiposa dan hepar) berespon terhadap insulin. Penurunan sensitifitas respon
jaringan otot, jaringan adiposa dan hepar terhadap insulin ini, selanjutnya
dikenal dengan resistensi insulin dengan atau tanpa hiperinsulinemia. Faktor
yang diduga menyebabkan terjadinya resistensi insulin dan hiperinsulinemia ini
adalah adanya kombinasi antara kelainan genetik, obesitas, inaktifitas, Faktor
lingkungan dan makanan (Ganong, 2003). Secara patofisiologi, DM tipe 2 ini
bisa disebabkan karena dua hal yaitu (1) penurunan respon jaringan perifer
terhadap insulin. Peristiwa tersebut dinamakan resistensi insulin, dan (2)
Penurunan kemampuan sel pankreas untuk mensekresi insulin sebagai respon
terhadap beban glukosa. Sebagian besar DM tipe 2 diawali dengan kegemukan.
Sebagai kompensasi, sel pankreas merespon dengan mensekresi insulin lebih

banyak sehingga kadar insulin meningkat (hiperinsulinemia). Konsentrasi


insulin yang tinggi mengakibatkan reseptor insulin berupaya melakukan
pengaturan sendiri ( self regulation ) dengan menurunkan jumlah reseptor atau
down regulation. Hal ini membawa dampak pada penurunan respon
reseptornya dan lebih lanjut mengakibatkan terjadinya resistensi insulin. Di
lain pihak, kondisi hiperinsulinemia juga dapat mengakibatkan desensitisasi
reseptor insulin pada tahap postreseptor, yaitu penurunan aktivasi kinase
reseptor, translokasi pengangkut glukosa dan aktivasi glikogen sintase.
Kejadian ini mengakibatkan terjadinya resistensi insulin. Dua kejadian tersebut
terjadi pada permulaan proses terjadinya DM tipe 2. Hal tersebut
mengindikasikan telah terjadi defek pada reseptor maupun postreseptor insulin.
Pada resistensi insulin, terjadi peningkatan produksi glukosa dan penurunan
penggunaan glukosa sehingga mengakibatkan peningkatan kadar gula darah
(hiperglikemik) (Nugroho,2006). Diabetes mellitus tipe 2 terjadi karena
lemahnya

kemampuan

dikombinasikan

dengan

pankreas
lemahnya

dalam

mensekresikan

aksi

insulin,sehingga

insulin

yang

menyebabkan

penurunan sensitivitas insulin. Penurunan sensitivitas insulin terjadi pada


permukaan sel tubuh yang dinamakan reseptor insulin, reseptor insulin akan
memberikan sinyal pada pengangkut glukosa untuk memungkinkan lewatnya
glukosa yang dibawa oleh hormon insulin masuk ke dalam sel. Di dalam
mitokondria, glukosa tersebut akan digunakan untuk menghasilkan energi yang
diperlukan dalam pelaksanaan fungsi setiap sel tubuh (Hartono dalam
Fachreza, 2009). Insulin yang diproduksi pada sel pankreas akan menempati
reseptornya, yang kemudian memberikan sinyal transduksi pada pengangkut
glukosa untuk dapat melakukan penyerapan glukosa, sehingga glukosa yang
beredar dalam darah akan masuk ke dalam sel. penurunan sensitivitas insulin
pada penderita DM tipe 2 dapat disebabkan oleh kerusakan sinyal transduksi.
Sinyal transduksi atau disebut juga sinyal sel (sell signalling ) merupakan suatu
proses komunikasi yang meliputi konsep tentang tanggapan sel terhadap
rangsangan dari sekelilingnya yang disusul dengan timbulnya reaksi didalam

sel. Kerusakan sinyal transduksi pada DM tipe 2 dapat dimulai dari insulin
abnormal sampai kerusakan pada reseptor insulin pengangkut glukosa.
d. Tanda dan gejala
Menurut Baughman (2000), tanda gejala DM tipe 2 adalah :
1) Progerssife lambat (selama setahun)
2) Gejala seringkali ringan dan dapat mencakup keletihan, mudah
tersinggung, poliuria, polidipsi, luka pada kulit yang sembuhnya lambat,
pengelihatan kabur (jika kadar glukosa sangat tinggi)
3) Komplikasi jangka panjang jika diabetes tidak terdeksi dalam waktu
selama beberapa tahun (mis., penyakit mata, neuropati perifer, penyakit
vaskular perifer), yang mungkin telah terjadi sebelum diagnosa aktual
ditetapkan.
e. Penanganan
1) Penatalaksanaan umum
Menurut Baughman (2000), tujuan utama dari pengobatan adalah mencoba
menormalisasi aktivitas insulin dan kadar gula darah untuk menurunkan
perkembangan komplikasi neuropati dan vaskular. Tujuan teraupetik pada
masing-masing tipe diabetes adalah utnuk mencapai kadar glukosa darah
(euglikemia) tanpa mengalami hipoglikemia dan tanpa mengganggu
aktivitas sehari-hari pasien dengan serius. Terdapat lima komponen
pelaksanaan untuk diabetes, yaitu latihan (olahraga), pemantauan, obatobatan,diit, dan penyuluhan.
(1) Pengobatan utama dari diabetes tipe II adalah penurunan berat badan
(2) Olahraga penting dalam peningkatan keefektifan insulin
(3) Gunakan agen hipoglikemia oral jika diit dan olahraga tidak berhasil
mengontrol kadar glukosa darah.
(4) Karena pengobatan akan berfariasi sepanjang perjalanan penyakit
akibat perubahan dalam gaya hidup, status fisik dan emosional, juga
kemajuan terapi, secara konstan dikaji dan modifikasi rencana
pengobatan juga penyesuaian sehari-hari dalam pengobatan.
Penyuluhan baik bagi pasien maupun keluarga juga penting.

2) Penatalaksanaan diit
(1) Kelompokkan semua unsur makanan yang penting
(2) Pencapaian dan pemeliharaan berat badan yang ideal, pemenuhan
kebutuhan energi.
(3) Pencegahan fluktuasi kadar gula darah sehari-hari yang luas,
pertahankan gulla darah
normal.
Faktor
resiko
(4) Kurangi kadar lemak darah jika terjadi peningkatan kadar gula
(5) Untuk
pasien obesitas
diabetes
tipe II) penurunan
Kelainan
genetik
obesitas(terutama
Kurang
aktifitas
Penuaan berat
badan merupakan kunci keberhasilan pengobatan dan faktor
pencegahan utama untuk perkembangan diabetes.
Penurunan sensitifitas
Kerusakan sel
(6) Tetapka kebutuhan kalori berdasarkan
pertimbangan
usia, jenis
respon jaringan
terhadap
kelamin,
berat badan, dan tingkat aktivitas. insulin
Sekresi insulin
(7) Penurunan berat badan jangka panjang dapat dicapai dengan diit
Resistensi insulin
kalori
antara
1000 dan 1200 kalori, rekomendasi yang lebih realistis
Kadar
insulin
mungkin berkisar 1200 sampai 1500
Glukosa
hiperinsulinemia
Penggunaan
glukosaAssociation
(8) The American Diabetes and American
Dietetic
menganjurkan bahwa untuk semua tingkat masukan kalori, 50 %
Self regulation
Gula dalam darah
sampai 60 % kalori didapat dari karbohidrat, 20% sampai 30 % dari
tidak mampu diabawa
lemak, dan 12 % sampai 20 % dari protein.
masuk ke dalam sel
Menurunkan jmlh.
3) Farmakoterapi
untuk pasien diabtes mellitus tipe II
reseptor
(1) Metrofirmin, mengakibatkan penurunanhiperglikemia
glukosa hepatik
Down regulation
(2) Triglitazon,
mengakibatkan

pemakaian glukosa oleh otot


Melebihi ambang
meningkat.
batas ginjal
Anabolisme protein
(3) Sulfanylureas mengakibatkan sekresi insulin meningkat dan
menurun
produksi glukosa hepatik menurun
Glukosauria
antibosi
(4)Kerusakan
Acarbose mengakibatkan
inhibisi alfa-glukosidase serta pencernaan
dan absorbsi karbohidrat menurun.
Kekebalan tubuh
Neuropati sensori
3. a. Pohon
masalah
perifer
Mati rasa
Kerusakan
integritas
jaringan

Resiko
infeksi
Nerosis luka
Gangren

Dieresis osmotik
poliuri
Dehidrasi
Resiko syok

Kehilangan

Viskositas

kalori

darah

Sel kekurangan bahan


untuk metabolisme

meningkat

Syok hiperglikemi

Koma diabetik

Aliran darah
lambat

Prtotein dan
lemak dibakar

Iskemik jaringan

secare berlebih
Ketidakefektifan
BB menurun
Energi
vatigue

Merangsang
hipotalamaus
Pusat lapar dan
haus
Polidipsi
polifagia

perfusi jaringan
Kebutuhan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh
Intoleransi
Gangguan citra
aktifitas
tubuh

c. Masalah keperawatan

1) Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Berhubungan dengan gangguan


2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)

metabolisme
Vatigue berhubungan dengan penurunan energi
Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelelahan
Ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan iskemik jaringan
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka gangren
Resiko infeksi berhubungan dengan kekebalan tubuh menurun
Resiko syok berhubungan dengan dehidrasi a
Gangguan citra tubuh berhubungan luka gangren

d. Data yang Perlu dikaji


Menurut Brunner & Suddath (2007), masalah yang perlu dikaji pada pasien
DM yaitu,
1) Fokuskan pada tanda dan gejala-gejaa hiperglikemia yang berkepanjangan
dan faktor-faktor fisik, sosial, dan emosional yang mempengaruhi
kemampuan untuk belajar serta melakukan aktivitasperawatn diri
sehubungan dengan diabetes
2) Minta pasien untuk mendeskripsikan gejala-gejala yang mendahului
diagnosa, mis. Poliuri, polidipsi, polifagi, kulit kering, pengelihatan kabur,
penurunan berat badan, gatal pada vagina, dan luka tidak sembuh-sembuh
3) Keji terhadap tanda-tanda DKA termasuk ketonuria, pernapasan kussmaul,
hipotensi ortostatik, dan latergi.
4) Ajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai gejala-gejala DKA meliputi mual,
muntah, nyeri abdoemn
5) Pantau hasil pemeriksaan laboratorium terhadap tanda-tanda asidosis
metaboik (penurunan pH, penururnan bikarbonat) dan terhdap tanda-tanda
ketidakseimbangan elektrolit.
6) Kaji adanya diabetes tipe II terhadap tanda-tanda HHNK : hipotensi,
perubahan sensorium, kejang, penurunan turgor kulit, hiperosmolaritas, dan
ketidakseimbangan elektrolit.
7) Kaji faktor-faltor fisik yang merusak kemampuan untuk

belajar atau

melakukan keterampialn perawatan diri, mis. Kelainan pengelihatan,


kelaiann koordinasi motorik, kelaianan neurologis
8) Evalusi situasi sosial pasien terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi
pengobatan diabetik dan pendidikan pasien seperti kurang kemampuan
membaca, keterbatasan sumber finansial, kurangnya asuransi kesehatan,
ada / tidaknya dukungan keluarga,jadwal sehari-hari, mis. Bekerja, makan,
olahraga.

9) Kaji status emosional melalui pengamatan cara bertindak yang umum.


10) Kaji kemampuan koping dengan cara menanyakan bagaimanya pasien
menanganisituasi sulit pada masa lalu.

4. Rencana asuhan keperawatan (5 diagnosa prioritas)


No

Diagnosa

1.

Nutrisi kurang dari


kebutuhan

Kriteria Hasil

tubuh

Berhubungan dengan
gangguan
metabolisme

Intervensi

a. Nutritional status : food Nutririon management


and fluid intake
b. Nutrtiona

a. Kaji apakah ada alergi makanan

status

nutrient intake

jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan

c. Wieght control

c. Ajarkan pasien membuat catatan maknaan harian

Kriteria hasil :

untu pasien DM

a. Adanya
berat

peningkatan Nutrittion monitoring


badan

sesuai

tujuan
b. Berat

b. Kolaborasi dengan tim gizi untuk menentukan

a. BB pasien dalam batas normal


b. Monitor adanya penurunan berat badan

badan

ideal

sesuai dengan tinggi


badan
c. Tidak ada tanda-tanda
malnutrisi
d. Tidak

adanya

penurunan berat bdan


yang berarti

c. Menganjurkan makanan sedikit tapi sering

2.

Vatigue berhubungan

a. Endurance

dengan

b. concentration

a. kaji adanya faktor yang menyebabkan kelelahan

c. Energy conservation

b. monitor nutrisi dan sumber energy yang adekuat

d. Nutritional

c. bantu aktivitas sehari-hari sesuai dengan kebutuhan

penurunan

energi

Energy management

status

energy

d. tingkatkan tirah baring, pembatasan aktivitas

Kriteria hasil :

e. konsultasikan dengan ahli gizi untuk konsultasi

a. Memverbalisasikan

makanan berenergi tinggi

peningkatan energy dan


merasa lebih baik
b. glukosa

darah

terkontrol
c. mempertahankan
kemampuan
3.

Intoleransi

aktifitas

untuk

konsentrasi
a. Energy conservation

berhubungan dengan

b. Activity tolerance

kelelahan

c. Self care : ADL

a. Kolaborasi dengan tim rehabilitasi medik untuk


merencanakan program terai yang tepat

Kriteria Hasil :
a. Berpartisipasi

Activity therapy

b. Observasi TTV sebelum dan sesudah melakukan


dalam

aktivitas

aktivitas

fisik

diikuti

tanpa
dengan

peningkatan

nadi,

tekanan darah, RR
b. Mampu

c.

Bantu klien untuk mengidentifikasi aktifitas yang


mampu dilakukan

d. Bantu klien membuat jadwal latihan di waktu luang


Bantu untuk mendapatkan alat bantu aktiivitas seperti

melakukan

aktivitas sehari-hari :

kursi roda
e.

ADL
c. Tanda-tanda

vital

normal
d. Mampu

berpindah

dengan atau tanpa alat


bantuan
4.

Ketidakefektifan
perfusi

e. Sirkulasi status baik


a. Circulation status

jaringan Kriteria hasill :

berhubungan dengan
iskemik jaringan

a. Monitor adanya daerah tertentu yang mengalami

a. Mendemonstasikan
kemampuan

Periphera sensation management

status

mati rasa
b. Observasi apakah ada luka pada kulit

sirkulasi yang ditandai

c. Berikan

dengan tekanan sistol

sirkulasi

terapi

aktifitas

untuk

meningkatkan

dan

diastole

dalam

rentan yang diharapkan


1) Tidak

ada

ortostatik

hipertensi
2) Tidak ada tanda-tanda
peningkatan

tekanan

intrakrania
b. Mendemonstrasikan
kemmapuan

kognitif

ditandai dengan
1) Berkomunikasi
dengan jelas
2) Menunjukkan
perhatian,
konsentrasi
orientasi

dan

d. Observasi TTv sebelumdan sesudah melakukan


kegiatan

3) Membuat
kepututsan dengan
benar
c. Menunjukkan

fungsi

sensori yang utuh

5.

Kerusakan integritas

Tissue integrity : scin and Pressure management

kulit berhubungan

mucous membran

a. Anjurkan pasien menggunakan pakaian longgar

dengan luka gangren

Kriteria hasil :

b. Hindari kerutan pada tempat tidur

a. Dapat

c. Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering

mempertahanakan
integritas

kulit

d. Monitoring kulit adanya kemerahan pada kulit


yang

baik

(elastis,

temperatur,

hidrasi,

pigmentasi)
b. Tidaka da luka
c. Perfusi jaringan baik

e. Oleskan lotion pada daerah yang tertekan

d. Mampu

melindungi

kulit agar tetap lembab

DAFTAR PUSTAKA

Meydani, Putri Yolla. 2011. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan upaya


Pencegahan Komplikasi Dm oleh Pasien DM di Poliklinik Khusus Penyakit
alam RSUP Dr.Djamil Padanag. [Serial On Line] diakses melalui
http://repository.unand.ac.id/16788/1/skripsi.pdf pada tanggal 21 Aprl 2015
pukul 10.00
Ndraha, Suzanna. 2014. Diabetes Mellitus Tipe 2 dan Tata Laksana Terkini. [serial
on line] diakses melalui
http://cme.medicinus.co/file.php/1/LEADING_ARTICLE_Diabetes_Mellitu
s_Tipe_2_dan_tata_laksana_terkini.pdf pada tanggal 21 April 2015 pukul
10.24
Fitriyani. 2012. Faktor Resiko Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Kecamatan
Citangkil dan Puskesmas Kecamatan Pulo Merak Kota Cilegon. [serial on
line] diakese melalui http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20318875-S-PDFFitriyani.pdf pada tanggal 21 April 2015 pukul 11.00
Baradero, Mary. 2009. Klien Gangguan Endokrin. Jakarta : EGC [serial on line]
diakses melalui https://books.google.co.id/books?id=vfREV2JlRMC&pg=PA85&dq=asuhan+keperawatan+DM+tipe+2&hl=en&sa=X
&ei=i681VejqOcG48gWNvoH4DA&redir_esc=y#v=onepage&q=asuhan
%20keperawatan%20DM%20tipe%202&f=true pada tanggal 21 April 2015
pukul 11.00
Baughman, Diane. 2000. Keperawatan Medikal Bedah : Buku Saku Brunner dan
Suddarth. Jakarta : EGC. [serial on line] diakses melalui
https://books.google.co.id/books?
id=SP3Gj97OJisC&pg=PA109&dq=keperawatan+DM+tipe+2&hl=en&sa=
X&ei=J7A1VZKWFITu8gWToH4Dw&redir_esc=y#v=onepage&q=keperawatan%20DM%20tipe
%202&f=true pada tanggal 21 April 2015 pukul 11.00
Nurarif, Huda & Kusuma, Hardi. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Diagnosa
Medis & NANDA NIC NOC. Yogyakarta : Mediaction