Anda di halaman 1dari 23

PENGOLAHAN TANAH PADA PEMBIBITAN, TANAMAN KERAS,

TANAMAN SAYURAN DAN TANAMAN HIAS

Makalah
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah
Budidaya Tumbuhan
yang dibina oleh Ibu Ir.Nugrahaningsih, MP. dan Bapak Dr. Ir. Suhadi, MSi

Oleh
Kelompok 3
Ika Diana Werdani

130342615301 (HP/2013)

Nur Hidayatus Sholikah

130342615304 (HP/2013)

Ria Yustika

130342615306 (HP/2013)

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Februari 2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tanah merupakan komponen esensial dalam budidaya tanaman. Tanah berfungsi
sebagai medium pertumbuhan tanaman. Kecukupan nutrisi dan faktor abiotik lainnya
sangat berpengaruh terhadap kesuksesan dalam membudidayakan tanaman.
Menurut Aak (1973) kesuburan tanah adalah kemampuan tanah untuk
menyediakan unsur-unsur makanan tanaman dalam jumlah yang cukup dan seimbang,
sehingga dapat memberi hasil seperti apa yang diharapkan oleh penanam. Kesuburan
tanah sangat erat hubungannya dengan bentuk atau susunan tanah, dan banyak bahanbahan organis didalam tanah.
Teknik budidaya yang salah bisa merusak kesuburan tanah. Seperti kurangnya
pemupukan, penanaman yang searah dengan lereng sehingga membuat erosi lebih besar,
dan tanah yang terbuka tidak ditanami pada waktu yang cukup lama sehingga mori-pori
tanah tersumbat (Jumin, 1994:126).
Dalam budidaya tanaman diperlukan teknik-teknik tertentu dalam mengolah tanah
sehingga memberikan hasil yang memuaskan. Perlakuan pengolahan tanah tertentu juga
dilakukan untuk jenis tanaman yang berbeda, diantaranya tanah untuk pembibitan,
tanaman keras, sayur-sayuran dan tanaman hias.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini diantaranya adalah.
1.
2.
3.
4.

Bagaimana cara pengolahan tanah untuk bibit tanaman?


Bagaimana cara pengolahan tanah untuk tanaman keras?
Bagaimana cara pengolahan tanah untuk tanaman sayuran?
Bagaimana cara pengolahan tanah untuk tanaman hias?

C. Tujuan
1. Mengetahui cara pengolahan tanah untuk pembibitan.
2. Mengetahui cara pengolahan tanah untuk tanaman keras.
3. Mengetahui cara pengolahan tanah untuk sayur-sayuran.
4. Mengetahui cara pengolahan tanah untuk tanaman hias.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengolahan Tanah untuk Bibit Tanaman
Faktor penentu keberhasilan budidaya tanaman diantaranya adalah benih yang
digunakan, lingkungan dan teknologi budidaya yang diterapkan. Teknologi yang
diterapkan diantaranya adalah teknik pengolahan tanah. Pengolahan tanah dimaksudkan
untuk menciptakan kondisi tanah yang baik yang cocok bagi pertumbuhan tanaman.
Tanah menjadi gembur remah aerasi atau tata udara tanah menjadi lebih baik (PPP, 2015).
Tujuan pengolahan tanah yang paling utama adalah untuk memperbaiki sifat fisik
tanah agar sesuai bagi pertumbuhan tanaman, sedangkan menurut Unger dan Mc Calla
dalam PPP (2015), bahwa kondisi tanah yang sesuai untuk pertumbuhan dan
perkembangan tanaman secara umum ditentukan oleh sifat fisik tanah, antara lain
konsentrasi dan struktur tanah yang mampu memberikan cukup ruang pori-pori untuk
aerasi dan penyediaan air bagi tanaman. Lebih lanjut, Beare et al. dalam PPP (2015),
mengatakan bahwa kondisi lahan yang baik tersebut kadang-kadang sudah terpenuhi
secara alami dan apabila kondisi belum baik maka dapat dilakukan modifikasi yaitu
dengan atau tanpa pengolahan tanah.
Pengolahan tanah yang baik dan dalam, menyebabkan berkurangnya tingkat
ketahanan penetrasi tanah. Berkurangnya penetrasi tanah ini memudahkan akar tanaman
menembus tanah, berkembang dan mampu menyerap unsurhara dari dalam tanah. Hal ini
sesuai dengan pendapat Kuipers dalam PPP (2015) bahwa ketahanan penetrasi tanah
selain dipengaruhi oleh tekstur dan struktur tanah, juga dipengaruhi oleh keberadaan air
di dalam ruang pori. Dengan adanya air dalam ruang pori, maka gaya matrik tanah dapat
dikurangi.
Pengolahan tanah memiliki fungsi sebagai berikut.
1. Memperbaiki sturktur tanah, pada tanah berat pengolahan tanah hendaknya dilakukan
dengan alat olah yang mampu merobah tanah tersebut menjadi gembur.
2. Pengelohan tanah dapat juga mendorong pertumbuhan mikro dan hara tanaman.
3. Mencegah hama dalam tanah yang dapat menggnagu pertumbuhan tanaman sesuai
dengan kondisi /keadaan tanah.
4. Mencegah pertumbuhan gulma yang dapat menggangu pertumbuhan tanaman.

Lebih lanjut Widiatmoko dan Supartoto dalam PPP (2015) menyatakan persiapan
lahan untuk tanaman dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu yang pertama disebut zero
atau tanpa olah tanah (TOT) pengolahan tanah minimum,dan pengolahan tanah
maksimum (sempurna). Pengolahan penyiapan lahan dapat dikerjakan sebagai berikut.
1. Tanpa olah tanah (TOT), yaitu pengolahan yang dilakukan dengan hanya mencangkul
tanah hanya untuk lubang tanam. Sistem TOT dapat dipraktekan misalnya pada bekas
lahan tebang Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI). Keuntungan TOT antara lain adalah
menekan biaya pengolahan tanah, menekan pertumbuhan gulma, dan memperpendek
waktu tanam.
2. Pengolahan tanah sempurna (maksimum), yaitu tanah yang akan diolah tidak terlalu
kering atau basah sehingga mudah diolah menjadi gembur dengan cara melakukan
pembajakan tanah sebanyak 2 kali dengan kedalaman 12-20 cm, membenamkan gulma
dan sisa tanaman, kemudian tanah diolah menggunakan garu sampai rata. Tanah
dibiarkan kering angin selama 7-14 hari. Pengolahan tanah dilakukan paling sedikit 1
minggu sebelum tanam. Tujuan pengolahan tanah secara sempurna adalah sebagai
berikut.
a. Memperbaiki tekstur dan struktur tanah.
b. Memberantas gulma dan hama dalam tanah.
c. Memperbaiki aerasi dan drainase tanah.
d. Mendorong aktifitas mikroorganisme tanah.
e. Membuang gas-gas beracun dari dalam tanah.
3. Pengolahan tanah minimum (minimum), pengolahan ini dilakukan terhadap tanah yang
peka erosi, mutlak diperlukan usaha-usaha konservasi tanah dan sedikit mungkin
dilakukan pengolahan tanah. Bila waktu mendesak, pengolahan tanah dilakukan hanya
pada barisan tanaman saja dengan kedalaman 15-20 cm. Pengolahan tanah biasanya
dilakukan pada awal musim kemarau, yaitu diperkirakan 15 hari sebelum tanam.
Pengolahan tanah dapat diartikan sebagai kegiatan manipulasi mekanik terhadap
tanah. Pengolahan tanah merupakan tindakan yang penting untuk menciptakan kondisi
media perakaran yang mampu mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal. Tanah
berfungsi sebagai wahana (media) dimana air, udara, hara dan energi ditranslokasikan ke
biji dan tanaman itu sendiri, oleh karena itu sifat-sifat tanah yang mempengaruhi
penyimpanan dan translokasi parameter tersebut memainkan peran sangat penting (PPP,
2015).

Dalam mempersiapkan lahan untuk menanam tanaman dapat dilakukan dengan


beberapa cara antara lain yaitu Pengolahan Tanah Konvensional atau yang biasa disebut
Olah Tanah Sempurna (OTS), dan Pengolahan Tanah Konservasi.
1. Pengolahan Tanah Konvensional
Pengolahan tanah secara konvensional atau pengolahan tanah sempurna sebaiknya
dilakukan setelah hujan mulai turun dengan mempertimbangkan kondisi lengas tanah
yang sesuai untuk pengolahan tanah atau dapat juga dilakukan sebelum hujan turun.
2. Pengolahan Tanah Konservasi
Ada beberapa macam Pengolahan Tanah Konservasi, antara lain Olah Tanah
Minimum (OTM) dan Tanpa Olah Tanah (TOT). Strategi penyiapan lahan yang kini
banyak menarik perhatian adalah penerapan pengurangan pengolahan tanah atau Olah
tanah konservasi (OTK). OTK dapat diartikan sebagai tindakan pengurangan pengolahan
tanah dan disertai dengan penggunaan mulsa. Olah tanah konservasi adalah penyiapan
lahan yang menyisakan sisa tanaman di atas permukaan tanah sebagai mulsa dengan
tujuan untuk mengurangi erosi dan penguapan air dari permukaan tanah. Utomo dalam
PPP (2015) mendefinisikan olah tanah konservasi sebagai suatu cara pengolahan tanah
yang bertujuan untuk menyiapkan lahan agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi
optimum, namum tetap memperhatikan aspek konservasi tanah dan air.
a. Olah Tanah Minimum (OTM)
OTM adalah cara penanaman yang dilakukan dengan mengurangi frekuensi
pengolahan. Pengolahan tanah dilakukan sekali dalam setahun atau sekali dalam 2
tahun tergantung pada tingkat kepadatan tanahnya, dan sisa tanaman disebarkan
seluruhnya diatas permukaan tanah sebagai mulsa setelah pengolahan tanah. Pada
tanah-tanah yang cepat memadat seperti pada tanah yang bertekstur berat,
pengolahan tanah dapat dilakukan dalam sekali setahun; sedangkan pada tanahtanah
yang bertekstur sedang dapat dilakukan sekali dalam 2 tahun.
b. Olah Tanah Strip (strip tillage)
Olah Tanah Strip (OTS) adalah cara pengolahan tanah yang dilakukan hanya pada
strip-strip atau alur-alur yang akan ditanami, biasanya strip-strip tersebut dibuat
mengikuti kontur. Bagian lahan diantara 2 strip tidak terganggu/diolah. Sisa tanaman
disebar sebagai mulsa diantara 2 strip dan menyisakan zona sekitar strip tanpa
adanya mulsa.
c. Tanpa Olah Tanah (TOT)

TOT adalah cara penanaman yang tidak memerlukan penyiapan tanah, kecuali
membuka lubang kecil mennggunakan tongkat kayu yang diruncingkan bagian
bawahnya (tugal) untuk meletakkan benih.
Berdasarkan atas tahapan kegiatan, hasil kerja dan dalamnya tanah yang
menerima perlakuan pengolahan tanah, kegiatan pengolahan tanah dibedakan
menjadi dua macam, yaitu pengolahan tanah pertama atau awal (primary tillage) dan
pengolahan tanah kedua (secondary tillage) (Anonim, tanpa tahun).
Dalam pengolahan tanah pertarna, tanah dipotong kemudian diangkat terus dibalik
agar sisa-sisa tanarnan yang ada di permukaan tanah dapat terbenam di dalam tanah.
Kedalaman pemotongan dan pembalikan umumnya di atas 15 cm. Pada umumnya hasil
pengolahan tanah masih berupa bongkahbongkah tanah yang cukup besar, karena pada
tahap pengolahan tanah ini penggernburan tanah belum dapat dilakukan dengan efektif
(Anonim, tanpa tahun).
Dalam pengolahan tanah kedua, bongka-bongkah tanah dan sisa-sisa tanaman
yang telah terpotongi pada pengolahan tanah pertama akan dihancurkan menjadi lebih
halus dan sekaligus mencampurnya dengan tanah. Kedalaman pengolahan tanah kedua
pada umumnya kurang dari 15 cm. Jadi penggemburan tanah secara intensif hanya
dilakukan pada lapisan tanah atas (Anonim, tanpa tahun).
Dalam pelaksanaannya cara pengolahan tanah dapat dilakukan dengan
cara kering maupun cara basah. Pengolahan tanah kering adalah cara pengolahan tanah
yang pada saat tanah dalam keadaan kering. Sedang pengolahan tanah basah adalah tanah
dalam keadaan jenuh air. Dalam pelaksanaannya dimungkinkan penggabungan dari dua
cara di tersebut (Anonim, tanpa tahun).
Macam-macam Alat dan Mesin Pengolah Tanah
Dalam Anonim (tanpa tahun) diebutkan bahwa sesuai dengan macam dan cara
diterangkan di atas, secara garis besar alat dan rnesin pengolahan dibedakan menjadi dua
macam pula, yaitu:
1. alat dan mesin pengolahan tanah pertama digunakan untuk melakukan kegiatan
pengolahan tanah pertama. Peralatan pengolahan tanah ini biasanya berupa bajak,
2. alat dan mesin pengolahan tanah yang digunakan untuk melakukan pengolahan
tanah kedua. Peralatan pengolah tanah ini biasanya berupa garu.

B. Pengolahan Tanah untuk Tanaman Keras


Tanaman keras merupakan tanaman usaha perkebunan dan mempunyai masa
manfaat 20 tahun atau lebih, misalnya kelapa sawit, karet, dan cokelat (PPLH, 2008).
1

Budidaya tanaman kakao


Syarat tumbuh tanaman kakao
Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan

produksi tanaman kakao. Lingkungan alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan
demikian curah hujan, temperatur, dan sinar matahari menjadi bagian dari faktor iklim
yang menentukan. Demikian juga faktor fisik dan kimia tanah yang erat kaitannya
dengan

daya

tembus

(penetrasi)

dan

kemampuan

akar

menyerap

hara.

Ditinjau dari wilayah penanamannya, kakao ditanam di daerahdaerah yang berada pada
100 LU sampai dengan 100 LS. Walaupun demikian penyebaran pertanaman kakao
secara umum berada pada daerahdaerah antara 70 LU sampai dengan 180 LS. Hal ini
tampaknya erat kaitannya dengandistribusi curah hujan dan jumlah penyinaran matahari
sepanjang tahun (Anonim b, tanpa tahun).
Tanah
Tanaman kakao dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah yang persyaratan fisik dan
kimia tanah yang berperan terhadap pertumbuhan dan produksi kakao terpenuhi.
Keasaman tanah (pH), kadar zat organik, unsur hara, kapasitas adsorbsi, dan kejenuhan
basa merupakan sifat kimia yang perlu diperhatikan, sedangkan faktor fisiknya adalah
kedalaman efektif, tinggi permukaan air tanah, drainase, struktur, dan konsistensi tanah.
Selain itu kemiringan lahan juga merupakan sifat fisik yang mempengaruhi pertumbuhan
dan pertumbuhan kakao (Anonim b, tanpa tahun).
a Sifat Kimia Tanah
Tanaman kakao dapat tumbuh dengan baik pada tanaman yang memiliki pH 6
7,5; tidak lebih tinggi dari 8 serta tidak lebih rendah dari 4; paling tidak pada
kedalaman 1 meter. Hal ini disebabkan terbatasnya ketersediaan hara pada pH tinggi
dan efek racun dari Al, Mn, dan Fe pada pH rendah. Disamping faktor keasaman, sifat
kimia tanah yang juga turut berperan adalah kadar zat organik. Kadar zat organik
yang tinggi akan meningkatkan laju pertumbuhan pada masa sebelum panen. Usaha
meningkatkan kadar organik dapat dilakukan dengan memanfaatkan serasah sisa
pemangkasan maupun pembenaman kulit buah kakao (Anonim b, tanpa tahun).

b Sifat Fisik Tanah


Tekstur tanah yang baik untuk tanaman kakao adalah lempung liat berpasir
dengan komposisi 30 40% fraksi liat, 50% pasir, dan 1020 persen debu. Susunan
demikian akan mempengaruhi ketersediaan air dan hara serta aerasi tanah. Struktur
tanah yang remah dengan agregat yang tepat menciptakan gerakan air dan udara di
dalam tanah sehingga menguntungkan bagi akar. Tanah tipe latosol dengan fraksi liat
yang tinggi ternyata sangat kurang menguntungkan tanaman kakao, sedangkan tanah
regosol dengan tekstur lempung berliat walaupun mengandung kerikil masih baik
c

bagi tanaman kakao (Anonim b, tanpa tahun).


Pembersihan Lahan dan Pengolahan Tanah
Pembersihan dilakukan dengan membersihkan semak belukar dan kayukayu
kecil sehingga memudahkan penebangan pohon. Semak belukar dan kayukayu kecil
sedapat mungkin ditebas atau dibabat rata dengan permukaan tanah, kemudian baru
kemudian dilanjutkan dengan tahap tebang atau tumbang. Kriteria kayu atau tunggul
yang tinggal sangat menentukan tahap tebang/tumbang ini karena menyangkut biaya,
waktu dan keselamatan kerja. Alat yang digunakan umumnya adalah chain saw.
Untuk menebang kayu yang berdiameter kecil dapat digunakan kapak biasa. Setelah
penebasan atau babat dan tebang atau tumbang, semak belukar, kayuayu kecil dan
batang dikumpulkan untuk dibakar. Pembakaran dilakukan bila kayu dan daun telah
luruh, kering, dan rapuh, serta kulit kayu yang mengering. Pembakaran dilaksanakan
sampai kayu dan daun menjadi abu. Areal yang telah bebas dari semak belukar, kayu
kayu kecil, dan pohon besar, apalagi bila baru dibakar, biasanya cepat sekali
menumbuhkan ilalang. Seperti diketahui ilalang merupakan gulma utama dari areal
pertanian. Karena itu pengendaliannya harus dilakukan sesegera mungkin, sehingga
sedapat mungkin areal telah bebas dari areal pada saat penanaman pohon pelindung.
Pengendalian ilalang dapat dilakukan secara manual, kimiawi, maupun mekanis.
Pembersihan areal sering juga diakhiri dengan tahap pengolahan tanah. Pengolahan
tanah umumnya dilaksanakan dengan cara mekanis khususnya pada areal yang dibuka
untuk penanaman kakao cukup luas (Anonim b, tanpa tahun).

C. Pengolahan Tanah untuk Tanaman Sayuran


1) Pengolahan tanah

Menurut Fahmuddin dan Widianto (2004), pengolahan tanah adalah setiap


kegiatan mekanik yang dilakukan terhadap tanah dengan tujuan untuk memudahkan
penanaman, menciptakan keadaan tanah yang gembur bagi pertumbuhan dan
perkembangan akar tanaman sekaligus memberantas gulma. Menurut Puslitbang Hutan
Tanaman (2006), tujuan penyiapan lahan adalah mewujudkan prakondisi lahan yang
optimal untuk keperluan penanaman yang berwawasan lingkungan dan memelihara
kesuburan tanah, terutama agar kondisi fisik tanah mendukung perkembangan akar,
mengurangi persaingan
dengan gulma dan mempermudah penanaman.
Pengolahan

tanah

merupakan

upaya

mengubah

kondisi

lahan

dengan

menggunakan peralatan, sehingga diperoleh kondisi tanah yang sesuai bagi tanaman.
Pengolahan tanah memberikan manfaat bagi tanaman yang terdiri :
1)
2)
3)
4)
5)

Memperbaiki struktur atau kegemburan tanah


Memperbaiki komposisi udara, air dan padatan tanah
Memperbaiki aktivitas organisme tanah
Mengendalikan pertumbuhan gulma
Mematikan hama dan penyakit yang bersumber dari tanah.
Pengolahan tanah dapat dibedakan menjadi 3 yaitu (BPTP Jambi, 2010):
1) Pengolahan seluruh permukaan
2) Pengolahan pada barisan
3) Pengolahan pada bidang yang ditanami
a. Pengolahan seluruh permukaan
Pengolahan tanah seluruh permukaan dilakukan dengan cara :
1. Tanah dicangkul atau dibajak pada seluruh permukaan tanah sedalam 20 -30 cm
2. Tanah olahan dikeringkan selama 1 minggu.
3. Tanah diolah kembali dengan membuang sisa-sisa akar gulma dan tanah
digemburkan.
4. Selanjutnya tanah dibuat bedengan dengan lebar 2 m panjang menyesuaikan,
jarak antara bedengan 30-50 cm.
5. Tanah diberi pupuk organik

(pupuk kandang, kompos, pupuk hijau),

kemudian
dicampur merata.
6. Biarkan 1 minggu dengan keadaan tanah bedengan yang sudah diratakan dengan
pupuk organik.

b. Pengolahan pada barisan


Pengolahan tanah dilakukan pada barisan bertujuan untuk mengurangi tenaga
kerja. Pengolahan tanah ini umumnya dilakukan pada tanah yang gembur.
Prinsip pengolahan tanah pada barisan adalah :
1. Tentukan jarak tanam, kemudian buatlah petak-petak tanaman.
2. Pada bagian pinggir sepanjang baris dilakukan pengemburan tanah.
3. Tanah olahan dikeringkan selama 1 minggu
4. Pada barisan ditambahkan pupuk kandang, kemudian dicampur merata
5. Selanjutnya tanah campuran didiamkan selama 1 minggu.

c. Pengolahan pada bidang yang ditanami


Pengolahan tanah model ini merupakan teknik yang paling sederhana.
Pengolahan tanah dilakukan pada

bagian yang akan ditanami. Pengolahan ini

lebih efisien, murah, dan hemat tenaga. Prinsip pengolahan tanah ini adalah tanah

diolah hanya pada bidang/lubang tanam saja. Pengolahan


minggu sebelum tanam.

tanah

dilakukan

1-2

2) Contoh pengolahan tanah pada tanaman sayuran


a. Cabai rawit
Pada umumnya cabe dapat ditanam pada dataran rendah sampai
ketinggian 2000 meter dpl. Cabe dapat beradaptasi dengan baik pada
temperatur 24-27C dengan kelembaban yang tidak terlalu tinggi. Tanaman cabe
dapat ditanam pada tanah sawah maupun tegalan yang gembur, subur, tidak
terlalu liat dan cukup air. Permukaan tanah yang paling ideal adalah datar
dengan sudut kemiringan lahan 0-10 o serta membutuhkan sinar matahari penuh
dan tidak ternaungi. pH tanah yang optimal antara 5,5-7. Tanaman cabe
menghendaki pengairan yang cukup. Tetapi apabila jumlah air berlebihan dapat
menyebabkan
penyakit

kelembaban

jamur

dan

yang

bakteri.

tinggi

dan merangsang

tumbuhnya

Jika kekurangan air tanaman cabe dapat

kurus, kerdil, layu dan mati. Pengairan dapat menggunakan irigasi, air tanah
dan air hujan (Edi dan Bobihoe, 2010).
Cabai rawit dapat ditanam di dataran rendah maupun di dataran tinggi,
namun tanaman ini lebih cocok ditanam di ketinggian antara 0-500 m

dpl.

Produksi pada ketinggian di atas 500 m dpl tidak jauh berbeda namun
waktu panennya lebih panjang. Tanaman ini menghendaki tanah gembur, kaya
akan bahan organik dan pH netral (6-7) (Setiawati, dkk., 2007).
Pengolahan tanah bertujuan untuk memperbaiki struktur dan porositas
tanah sehingga peredaran air dan udara menjadi optimal. Pengolahan tanah
dilakukan secara sempurna yaitu pembajakan dua kali dan penyisiran satu
kali. Setelah pengolahan tanah (7-14) hari, dibuat bedengan dengan tujuan
memudahkan

pembuangan

air

hujan

yang

berlebihan,

mempermudah

pemeliharaan, mempermudah meresapnya air hujan atau air pengairan, serta


menghindari tanah terinjak-injak sehingga menjadi padat. Ukuran bedengan
yang baik yaitu lebar 110-120 cm, dengan tinggi 20-30 cm, panjang
disesuaikan dengan keadaan lahan, serta jarak antara bedengan 40-50 cm.
Pada saat 70% bedengan kasar terbentuk dipupuk dengan pupuk kandang
atau kotoran ayam yang telah matang sebanyak 1,0-1,5 kg/lubang tanam.
Pada tanah yang pH-nya asam juga diberikan pengapuran sebanyak 100-125
gr/lubang pertanaman (Edi dan Bobihoe, 2010).

Apabila lahan yang hendak dipakai merupakan lahan kering atau


tegal, maka tanah harus dibajak dan dicangkul sedalam 30-40 cm dan
dibalik,

kemudian

bongkahan

tanah

dihaluskan

dan

sisa

pertanaman

sebelumnya dibersihkan agar tidak menjadi sumber penyakit (Setiawati, dkk.,


2007).
b. Terong
Pada dasarnya terung dapat ditanam di

dataran rendah sampai

dataran tinggi. Tanah yang cocok untuk tanaman terong adalah tanah yang
subur, tidak tergenang air, dengan pH 5-6, dan drainase baik. Tanah
lempung dan berpasir sangat baik untuk tanaman terung (Edi dan Bobihoe,
2010).
Terung dapat ditanam di dataran rendah sampai dataran tinggi. Tanah
yang cocok untuk pertanaman terung adalah tanah yang subur, tidak tergenang
air, dengan pH 5-6, dan drainase yang lancar. Tanah berpasir atau lempung
berpasir merupakan jenis tanah yang cocok untuk terung.
tergenang,

tanaman

terung

akan

Apabila

terhambat pertumbuhannya, juga mudah

terserang penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum)


disebabkan oleh jamur Verticillium spp. Waktu

tanam

pada awal musim kemarau (bulan Maret/April)


musim

akar

dan

layu

yang

yang

baik

yaitu

atau

pada

awal

penghujan (bulan Oktober/Nopember) (Setiawati, dkk., 2007).


Tanah yang akan ditanami dicangkul 2-3 kali dengan kedalaman

20-30 cm.

Buat bedengan dengan lebar 100-120 cm dan

disesuaikan dengan

kondisi lahan,

jarak

panjang

antara bedengan 50 cm. Pada

tanah dengan pH <5 lakukan pengapuran dengan dolomit/kalsit 1-2 t/ha 3


minggu sebelum tanam. Diantara bedengan
kedalaman
dilakukan

30

cm.

Apabila menggunakan

dibuat
mulsa

parit

plastik,

dengan

pemasangan

setelah pembuatan bedengan. Pupuk organik atau kompos

diberikan 0,5-1 kg per lubang tanam, 1 minggu sebelum tanam (Edi dan Bobihoe,
2010).
D. Pengolahan Tanah untuk Tanaman Hias
Tanaman Hias adalah segala jenis tanaman yang memiliki nilai hias (bunga,
batang, tajuk, cabang, daun, akar, aroma dsb) yang menimbulkan kesan indah

(artistik) atau kesan seni. Tanaman hias terdiri dari tanaman hias pot, tanaman hias
potong, tanaman hias daun dan tanaman hias lansekap/taman. Manfaat dan kegunaan
tanaman hias memiliki 3 aspek kepentingan yaitu : Ekonomi, Seni dan Lingkungan.
(Sabarnas, 2007)
Dua tipe media tumbuh
1. Campuran tanah (soil mixes) yang mengandung tanah alami dan sering dicampur
pasir dan kompos
2. Campuran tanpa tanah (soilless mixes) yang tidak mengandung tanah alami
a. Komponen anorganik : vermikulit, perlit, liat, fumice
b. Komponen organik : gambut atu peat, sphagnum moss, sisa kayu, sisa tanaman,
pukan. (Santoso, 2013)
Pengolahan tanah
Pengolahan lahan dilakukan agar tanah menjadi gembur, memiliki drainase
baik dan subur untuk menjamin pertumbuhan akar secara optimal sehingga
pertumbuhan tanaman menjadi subur. (Santoso, 2013)
Tanaman hias biasa ditanam di pekarangan atau pada wadah, seperti pot,
jembangan, drum, atau kaleng-kaleng bekas.langkah pertama yang dilakukan adalah
menyiapkan lahan, di tanah atau di wadah. Menyiapkan lahan artinya mengolah
tanah. Tanah yang digunakan untuk ditanami harus gembur dan mengandung unsur
hara yang cukup. (Subarnas, 2007)

a. Pengolahan tanah pekarangan

Mengolah tanah pekarangan dilakukan dengan cara dicangkul atau


digarpu. Biasanya tanah di bagian bawah dibalikkan ke atas. Setelah itu diberi
pupuk untuk menambah kesuburan tanah. Selanjutnya tanah itu digali untuk
penanaman. Besarnya lubang galian disesuaikan dengan besarnya tanaman.
(Sabarnas, 2007)
Dalam membuat lubang, tanah galian bagian atas dipisahkan dengan tanah
bagian bawah. Nanti ketika penanaman sudah dilakukan, tanah bagian bawah
dimasukkan terlebih dahulu, kemudian ditimbum dengan tanah bagian atas.
Sebelumnya, tanah bagian atas dicampur dengan pasir dan pupuk. (Sabarnas,
2007)
Tanaman hias yang di tanam di tanah pekarangan ditandai dengan sosok
bunga berukuran pendek sampai tinggi, mempunyai tangkai bunga panjang,
ukuran bervariasi (kecil, menengah dan besar), umumnya ditanam di lapangan dan
hasilnya dapat digunakan sebagai bunga potong.
b. Pengolahan tanah pada wadah

Tanaman hias yang ditanam dalam wadah ditandai dengan sosok tanaman
kecil, tingginya 20-40 cm, berbunga lebat dan cocok ditanam di pot, polibag atau
wadah lainnya.
Tanah untuk wadah selain harus gembur, sebaiknya bercampur pasir.
Tanah itu kemudian dicampur pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1.
Sebelum dimasukkan ke dalam wadah, wadah tersebut diisi pecahan genting atau
bata kira-kira 1/3 wadah. Fungsi pecahan genting atau bata tersebut untuk
menahan air agar jangan terlalu deras ke luar melalui lubang di bagian bawah
wadah(Sabarnas, 2007)
Persiapan Media Tanam
1. Letakan beberapa pecahan batu merah (sebagai pengikat air) di dasar pot
2. Isi pot dengan campuran tanah yang ideal untuk tiap-tiap jenis
3. Campuran umum: pasir 1/3 bagian, tanah 1/3 bagian, 1/3 bagian pupuk
kandang
Campuran untuk jenis suka kering: pasir bagian, 1/2 bagian pupuk kandang
Campuran untuk jenis suka lembab: tanah bagian, 1/2 bagian pupuk kandang
4. Media siap untuk ditanami.
(Sabarnas, 2007)
Cara Pengepotan yang Baik
1. Pilihlah pot tanaman dan media tumbuh yang sesuai dengan tanaman yang
akan kita potkan. Pot juga harus disesuaikan dengan tempat dimana dan
bagaimana pot tersebut diletakkan.

2. Bila pot dan media yg telah disiapkan tersedia, pastikan pot memiliki lubang
drainase yang cukup. Isikan media kurang lebih 1/3 bagian pot. masukkan
tanaman, usahakan media asal yang menempel pada tanaman masih ada, agar
tanaman tidak mengalami stres saat beradaptasi dengan media yang baru.
3. Tambahkan lagi media tanam, sambil tanaman dipegang terus dengan sebelah
tangan. Setelah hampir penuh, tekan media perlahan-lahan dengan ibu jari agar
tanaman dapat berdiri kokoh. Pot jangan diisi sampai penuh, sisakan sekitar 2
cm dari bibir pot agar mudah waktu melakukan penyiraman.
Setelah pengepotan selesai, siramlah tanaman secukupnya. Dinding luar
dan dasar pot dibersihkan dari kotoran dan media tanam yang masih menempel
sebelum diletakkan pada tempat yang diinginkan. (Sabarnas, 2007)
Cara Pengairan yang Tepat
Beberapa cara untuk mengairi tanaman pot dalam ruangan yaitu :
1. Air diberikan melalui alas pot. Dengan cara ini air akan meresap ke atas ke
media tanam dengan melalui sistem kapiler. Keuntungan media tidak terlalu
basah, tetapi ketersediaan air cukup terjamin. Untuk membantu peresapan air
ke media tanam sebaiknya dipasang tali dari media ke alas pot melewati lubang
drainase.
2. Air diberikan langsung pada media tanam. Pada cara ini air dapat disiramkan
langsung pada permukaan media tanam atau juga dapat melalui pipa yang
ditancapkan ke media tanam. Usahakan air siraman tidak mengenai tanaman
secara langsung.
3. Waktu terbaik untuk melakukan penyiraman tanaman adalah di pagi hari kirakira jam 7 -10
Kriteria Tanah Untuk Budidaya Tanaman Hias
1. Keadaan tanah : Tipe tanah yang dibutuhkan untuk budidaya secara komersial
adalah remah, porous, tidak mudah tergenang dan mempunyai pH tanah 6-7,
berpasir dan kaya akan bahan organik, agar tanaman tumbuh optimal.
2. Lahan di lokasi yang terpilih, bersih dari rumput liar (gulma), pepohonan yang
tidak berguna/batu-batuan untuk memudahkan pengelolaan tanah dan
menghindari terganggunya pertumbuhan tanaman.

3. PH tanah yang baik adalah 6-7. Bila terlalu rendah dapat ditaburkan dolomit.
Bila penggunaan dolomit secara ekonomis terlalu mahal, dapat dialihkan untuk
mencari lokasi yang lebih sesuai pHnya.
4. Kelembaban udara yang cocok untuk budidaya tanaman ini 50-80%.
5. Stek berakar ditanam pada campuran media tanah : pupuk kandang : pasir = 1 :
1 : 1 dalam polybag diameter 7-9 cm atau pada bedengan perbenihan dengan
campuran media yang sama. Pemberian pupuk dasar dapat ditambahkan
pembenah dan pemantap tanah
6. Tempatkan polybag pada tempat yang terlindung dari sinar matahari, kering
dan sirkulasi udara cukup baik serta dilakukan penyiraman secara rutin
7. Bila lahan dalam kondisi kering, usahakan lahan yang akan ditanami digenangi
air terlebih dahulu untuk membasahi tanah bedengan tempat tanam sehingga
benar-benar basah, tetapi air tidak menggenang.
8. Padatkan tanah dengan tangan di sekitar tanaman sedemikian rupa sehingga
tanaman berdiri tegak dan tidak roboh. (Direktorat Budidaya Tanaman Hias,
2008)
Prosedur Kerja Teknik Penanaman
1. Siapkan rencana pelaksanaan penanaman tanaman
2. Lakukan pengecekan kembali, kondisi bulan penanaman apakah merupakan
musim hujan atau tidak. Yakinkan bahwa saat tanam bukan hari datangnya
hujan dan bukan musim hujan
3. Lakukan pengecekan kembali lahan yang telah disiapkan. Kesiapan bedengan,
pemberian pupuk kandang, lubang tanam maupun jarak tanam
4. Bila lahan dalam kondisi kering, usahakan lahan yang akan ditanami digenangi
air terlebih dahulu untuk membasahi tanah bedengan tempat tanam sehingga
benar-benar basah, tetapi air tidak menggenang
5. Lakukan pengecekan dan seleksi benih, ambil benih tanaman yang benar-benar
dalam kondisi baik.
6. Angkut benih secara hati-hati ke lokasi dekat lubang tanam
7. Tanam benih yang telah disediakan pada setiap lubang tanam
8. Padatkan tanah dengan tangan di sekitar tanaman sedemikian rupa sehingga
tanaman berdiri tegak dan tidak roboh
Verifikasi
Terpenuhinya persyaratan penanaman : ketepatan waktu dan teknik
menanam, tanaman yang ditanam bermutu berdasarkan karakteristik fisik.
(Direktorat Budidaya Tanaman Hias, 2008)

Pemupukan
1. Lakukan pengecekan kembali dan pastikan saat atau beberapa waktu kemudian
2.
3.
4.
5.
6.

setelah pemupukan tidak akan terjadi hujan dan tidak terlalu banyak air
Pastikan, pemupukan dilakukan pada pagi hari
Angkut pupuk ke lokasi dekat tanaman yang akan dipupuk
Tanah di sekeliling rumpun tanaman dikorek dengan kedalaman sekitar 5 cm
Timbun kembali taburan pupuk tersebut dengan tanah
Setelah pemupukan jangan langsung dilakukan penyiraman, agar pupuk tidak
larut dan hanyut ke saluran drainase
Verifikasi
Terpenuhinya standar pemupukan : tepat jenis, dosis, waktu dan cara
(Direktorat Budidaya Tanaman Hias, 2008)
Pengairan
Standar Pengairan

1. Sumber air tersedia dengan pH sekitar 6,5-7


2. Air tidak tercemar logam berat atau limbah beracun
3. Pada awal fase pertumbuhan, tanaman Melati membutuhkan ketersediaan air
yang memadai
4. Pengairan perlu dilakukan secara kontinu setiap hari sampai tanaman berumur
kurang lebih 1 bulan
5. Pengairan dilakukan 1-2 kali sehari pada pagi dan sore hari
6. Cara pengairan adalah dengan disiram air bersih setiap tanam hingga tanah di
sekitar perakaran cukup basah
7. Penyiraman dilakukan secara merata dari ujung daun sampai tanah
8. Hindari air tergenang di sekitar tanaman
9. Hindari percikan tanah naik dan menempel pada tanaman
Prosedur Kerja Pengairan
1.

Ukur pH sekitar 6,5-7 untuk memastikan keasaman air dengan pH meter atau

kertas lakmus.
2. Bila keasaman air kurang dari 6,5, perlu dilakukan pengapuran untuk
menaikkan pH air menjadi 6,5-7
3. Cek dan pastikan air yang digunakan bersih dan tidak tercemar logam berat
atau limbah beracun
4. Atur nozle sehingga siraman air berbentuk spray atau kabut
5. Lakukan penyiraman pada 1-2 kali sehari pada pagi dan sore hari
6. Lakukan penyiraman secara merata dari ujung daun sampai media tanam
dengan jarak terdekat 1 m dari nozle dengan tanaman yang disiram

7. Hindari percikan tanah naik ke bagian tanaman dan hindari air tergenang di
sekitar tanaman
8. Lakukan pencatatan setiap tahapan pelaksanaan pemupukan dan informasi lain
yang dianggap perlu
Verifikasi
Terpenuhinya

standar

prosedur

pelaksanaan

pengairan

sesuai

persyaratan yang ditentukan antara lain : air memenuhi baku mutu, jenis air
sesuai kebutuhan tanaman, pH air, sanitasi air, frekuensi, waktu, cara
penyiraman (Direktorat Budidaya Tanaman Hias, 2008).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini diantaranya adalah.
1. Dalam mempersiapkan lahan untuk menanam tanaman dapat dilakukan dengan
beberapa cara antara lain yaitu Pengolahan Tanah Konvensional atau yang biasa
2.

disebut Olah Tanah Sempurna (OTS), dan Pengolahan Tanah Konservasi


Pengolahan tanah untuk tanaman keras umumnya dilaksanakan dengan cara mekanis
khususnya pada areal yang dibuka untuk penanaman kakao cukup luas (Anonim b,

tanpa tahun).
3. Cara pengolahan tanah pada budidaya tanaman sayuran dapat dilakukan dengan tiga
cara yaitu pengolahan seluruh permukaan, pengolahan pada barisan, dan pengolahan
pada bidang yang ditanami.
4. Ada dua macam pengolahan tanah pada budidaya tanaman hias yaitu pengolahan
tanah pada pekarangan dan pengolahan tanah pada wadah.
B. Saran
Adapun saran dalam pembuatan makalah ini adalah hendaknya menggunakan
literature yang lebih banyak lagi.

Daftar Pustaka
AAK. 1973. Tanah dan Pertanian. Yogyakarta: Kanisius.
Agus, Fahmuddin dan Widianto. 2004. Petunjuk Praktis Konservasi Tanah Pertanian Lahan
Kering. Bogor : World Agroforestry Centre ICRAF Southeast Asia.
Anonim b. Tanpa Tahun. Budidaya Kakao. (Online), (http://migroplus.com/brosur/Budidaya
%20Kakao.pdf) diakses 28 Februari 2016.
Anonim.

Tanpa

Tahun.

Mesin

Pengolah

Tanah.

(Online),

(http://elisa.ugm.ac.id/user/archive/download/32762/c4c5125e77ae63eda66dfa6106b874e
c) diakses 28 Februari 2016.
Direktorat Budidaya Tanaman Hias. 2008. Standar Operasional Melati. E-book, Direktorat
Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian.
Edi, Syafri dan Bobihoe, Julistia. 2010. Budidaya Tanaman Sayuran.Jambi: Balai pengkajian
Teknologi Pertanian.
Jumin, H. B. 1994. Dasar-Dasar Agronomi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
PPLH.2008.Laporan Kerjasama Penelitian Model Pengelolaan Hutan Tanaman Terpadu untuk
meningkatkan fungsi lingkungan dan Kesejahteraan Masyarakat di Daerah Tangkapan Air
Waduk

Serbaguna

Wonogiri

Studi

di

SUBDAS

Keduang,

Kecamatan

Nguntoronadi.Surakarta.
Pusat Pelatihan Pertanian. 2015. Pelatihan Teknis Budidaya Jagung Bagi Penyuluh Pertanian
dan Babinsa. (Online), (http://www.pertanian.go.id/pajale2015/h1.7.PENGOLAHAN
%20TANAH%20JGUNG%20JK.pdf) diakses 26 Februari 2016.
Sabarnas, Nandang. 2007. Terampil Bekreasi. Bandung : Grafindo Media Pratama.
Santoso, Bambang B. Tanaman Hias. E-book Management Produksi Tanaman Hortikulltura.
Setiawati, Wiwin dkk. 2007. Petunjuk teknis Budidaya Tanaman Sayuran. Bandung: Balai
Penelitian Tanaman Sayuran.