Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM KONSERVASI ENERGI

BEBAN TIDAK SEIMBANG

Disusun sebagai salah satu tugas mata konservasi energi pada semester VI

Diusulkan Oleh :
Rechan Afranzia Nugraha
131711021

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG


BANDUNG

2016

BAB I. PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Saat ini energi listrik banyak dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam
rumah tangga maupun industri. Hal ini karena energi listrik mudah untuk dikonversikan
menjadi energi lainnya. Oleh karena itulah, energi listrik menjadi kebutuhan yang utama.
Dalam memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan sistem penyediaan energi listrik yang
stabil dan kontinyu.
Penggunaan energi listrik dikonsumen tidak sama. Terjadi pembagian beban-beban
yang pada awalnya merata tetapi karena ketidakserempakkan waktu penyalaan bebanbeban tersebut, maka menimbulkan ketidakseimbangan beban yang berdampak pada
penyediaan energi listrik. Ketidakseimbangan beban antara tiap-tiap fasa (fasa R, fasa S,
dan fasa T) inilah yang menyebabkan mengalirnya arus netral. Adanya arus netral
menyebabkan rugi-rugi (losses).
Pemasangan daya yang terlalu besar akan membawa kerugian kepada badan yang
bersangkutan dengan tingginya tarif yang harus dibayar. Sehingga evaluasi harus
dilakukan untuk mengetahui penggunaan daya listrik yang terpakai. Oleh karena itu perlu
dilakukan upaya-upaya untuk meminimalisir arus netral untuk mengurangi losses dengan
cara melakukan peluang konservasi pada sistem jaringan tidak seimbang.
I.2. Tujuan
Berikut tujuan dari praktikum konservasi energi beban tidak seimbang :

Mengevaluasi sistem kelistrikan dilihat dari ketidakseimbangan beban terpasang.

Mencari peluang penghematan energi.

Menentukan langkah yang akan diambil untuk melakukan konservasi energi


untuk menyeimbangkan beban.

I.3. Rumusan Masalah


Berikut merupakan rumusan masalah dari praktikum beban tidak seimbang.

Apa saja peluang penghematan energi dan rekomendasi yang tepat untuk
mengatasi beban tak seimbang

Membandingkan hasil percobaan dengan teori


2

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


Ketidakseimbangan beban pada suatu sistem distribusi tenaga listrik selalu terjadi dan
penyebab ketidakseimbangan tersebut adalah karena ketidakserempakan waktu penyalaan
beban-beban tersebut. Akibat ketidakseimbangan beban tersebut muncullah arus netral. Arus
netral yang mengalir menyebabkan terjadinya losses (rugi-rugi), yaitu losses akibat adanya
arus netral pada penghantar netral dan losses akibat arus netral yang mengalir ke tanah.
Yang dimaksud dengan keadaan seumbang adalah suatu keadaan dimana:

Ketiga vektor arus/tegangan sama besar.

Ketiga vektor saling membentuk sudut 120o satu sama lain.

Sedangkan yang dimaksud dengan keadaan tidak seimbang adalah keadaan dimana
salah satu atau kedua syarat keadaan seimbang tidak terpenuhi. Kemungkinan keadaan tidak
seimbang ada 3 yaitu:

Ketiga vektor sama besar tetapi tidak membentuk sudut 120o satu sama lain.

Ketiga vektor tidak sama besar tetapi membentuk sudut 120o satu sama lain.

Ketiga vektor tidak sama besar dan tidak membentuk sudut 120o satu sama lain.

Akibat ketidakseimbangan beban:


1.

Adanya rugi dan drop tegangan pada konduktor netral

2.

Menyebabkan tegangan 3-fasa tidak seimbangan dalam sistem distribusi tenaga

3.

Mengurangi torsi dan terjadinya overheating motor induksi

4.

Gangguan elektromagnetik yang berlebihan untuk peralatan yang sentitif

5.

Mengakibatkan kesalahan pada sistem pengukuran

Analisa ketidakseimbangan beban, menggunakan persamaan:

[ I R ]=a [ I ]
[ I S ]=b [ I ]
3

[ I T ]=c [ I ]
Dengan IR, IS, dan IT berturut-turut adalah arus di arus fasa R, S, dan T.
I

: besarnya arus fasa dalam kedaan seimbang sama dengan Irata-rata

a,b,c

: koefisien kedaan tidak seimbang arus-arus fasa.

Rata-rata ketidakseimbangan beban (dalam%) dinyatakan dengan rumus:

{|a1|+|b1|+|c1|}
3

x 100

Losses akibat adanya arus netral pada penghantar netral dapat dihitung besarnya, yaitu:
PN = IN2 .RN
Persentase losses akibat adanya arus netral pada penghantar netral adalah:
% PN =

PN
P

x 100%

P = daya aktif (watt)

BAB III. METODE


Berikut merupakan metode yang digunakan, antara lain :
A. Prosedut Kerja
1. Pahami dan mengerti materi sistem beban tak seimbang.
2. Pahami gambar rangkaian pada gambar rangkaian.
3. Persiapkan alat dan bahan.
4. Periksa kelayakan alat.
5. Nyalakan sumber listrik
6. On-kan saklar sesuai dengan konfigurasi yang telah ditentukan.
Fasa R

Fasa S

Fasa T
4

ON
OFF
OFF
ON
ON
ON
OFF

OFF
ON
OFF
ON
ON
OFF
ON

OFF
OFF
ON
ON
OFF
ON
ON

7. Amati tegangan pada fasa to netral (fasa R, S, T)


8. Amati tegangan pada fasa R, S, T dan Netral
9. Catat nilai yang telah diamati pengamatan di tabel percobaan
10. Pastikan data praktikum telah diamati semua
11. Mematikan sumber setelah praktikum selesai.
B. Skema Rangkaian dan Titik Pengukuran
1. Skema Rangkaian
Berikut merupakan skema rangkaian yang digunakan dalam praktikum beban tak
seimbang.

100
60 W
60 W
X W
100
X W

Gambar 1. Rangkaian praktikum beban tak seimbang

2. Titik Pengukuran

Titik pengukuran yang dilakukan adalah melihat tegangan dan arus tiap fasa dan
melakukan konfigurasi beban agar system menjadi seimbang, dan juga ada beberapa
lampu yang tidak diketahui kapasitasnya didapatkan dengan percobaan saklar.

3. Alat dan Bahan Yang Digunakan


Berikut merupakan alat dan bahan yang digunakan.
Tabel 1. Alat dan Bahan

Alat dan bahan


Voltmeter
Amperemeter
Multimeter digital
Modul rangkaian beban tak seimbang
Lampu

Jumlah
1 buah
4 buah
1 buah
6 buah

BAB IV. Kompilasi Data dan Analisa


Berikut merupakan data yang didapatkan mencangkup data primer hasil pengukuran dan
data olahan beserta analisisnya.
A. Data Primer
1. Spesifikasi Lampu
Berikut merupakan spesifikasi lampu yang digunakan ketika praktikum sistem beban
tak seimbang :
Tabel 2 Spesifikasi Lampu

No
1
2
3

Jenis Lampu
Halogen
Pijar
Sodium

Spesifikasi Lampu
Kapasitas daya 100W
Kapasitas daya 60 W
Kapasitas daya 38 W

2. Pengukuran
Berikut merupakan data hasil pengukuran praktikum sistem beban tak seimbang :

Pengukuran kapasitas lampu yang tidak diketahui

Ada kapasitas lampu yang belum diketahui yaitu terdapat pada fasa S dan T, oleh karena itu
untuk mendapatkannya kelompok kami melakukan hal seperti dibawah.
100
W
S

A
V

xW

Gambar 2. Rangkaian untuk mengetahui daya lampu

Untuk mencari daya lampu x didapatkan dari,


P1 : daya saat hanya lampu 100 W dipasang
P2 : daya saat lampu kedua dipasang
Sehingga didapatkan
P1 = V x I x 3
= 220 x 0,2 x 3
= 76,21 W 100W (dipasaran)
Dari perbandingan didapatkan nilai arus untuk lampu kedua adalah 0,1 A sehingga
P2 = V x I x 3
= 220x 0,1 x 3
= 38,28 W 40 W ( dipasaran)

Pengukuran menyeimbangkan beban

Agar mendapatkan konfigurai beban tak seimbang, kelompok kami menggunakan dua data
praktikum yaitu sebagai berikut.
1. Menyeimbangkan beban dengan metode on-off saklar
Untuk dapat menyeimbangkan beban dilakukan konfigurasi peluang sebagai berikut.
Tabel 3. Konfigurasi peluang menyeimbangkan beban

R
1
1
1
1
2
2
2
2

S
1
1
2
2
1
1
2
2

T
1
2
1
2
1
2
1
2

Keterangan :
1: hanya satu lampu yang menyala yaitu yang penempatan kiri
2: kedua lampu menyala
Tabel 4. Daya lampu terpasang

Fasa
R
S
T

Daya
1 =100 W
2 =60 W
1 =60 W
2 =38 W
1 =100 W
2 =38 W

Jenis lampu
Halogen
Pijar
Pijar
Sodium
Halogen
Sodium

Berdasarkan konfigurasi peluang menyeimbangkan beban didapatkan data sebagai berikut.

Tabel 5. Data pengukuran

Fasa
S
1
1
2
2
1
1
2
2

R
1
1
1
1
2
2
2
2

T
1
2
1
2
1
2
1
2

Parameter yang diukur


IR (A) IS (A) IT (A)
0.49
0.2
0.4
0.5
0.2
0.6
0.5
0.4
0.4
0.5
0.4
0.6
0.8
0.2
0.4
0.8
0.2
0.6
0.8
0.4
0.4
0.8
0.4
0.6

V (volt)
222
210
213
210
210
210
210
210

IN (A)
0.18
0.31
0
0.18
0.37
0.39
0.25
0.22

Kemudian didapatkan hasil beban tiap fasa dan total dan juga arus netral yang didapatkan yaitu
sebagai berikut.
Tabel 6. Data pengukuran yang didapatkan

No
1
2
3
4
5
6
7
8

R (W)
1
100
100
100
100
100
100
100
100

S (W)
2
60
60
60
60

1
60
60
60
60
60
60
60
60

T (W)
2
38
38
38
38

1
100
100
100
100
100
100
100
100

2
38
38
38
38
38

R
100
100
100
100
37.5
37.5
37.5
37.5

Fasa (W)
S
60
60
23.2
23.2
60
60
23.2
23.2

IN (A)

T
100
27.5
100
27.5
100
27.5
27.5
27.5

0.18
0.31
0
0.18
0.37
0.39
0.25
0.22

Menghitung ketidakseimbangan beban


Analisa ketidakseimbangan beban, menggunakan persamaan:
I
[ R ]=a [ I ]

[ I S ]=b [ I ]
[ I T ]=c [ I ]
Mencari koefisien a, b, c . Contoh, untuk konfigurasi beban no.1 didapatkan :
Irata-rata =

I R + I S + IT
3

0.49+0.2+0.4
3

= 0.36 A

10

a=

IR
=
I

0.49
0.36 = 1.36

b=

IS
=
I

0.2
0.36

= 0.55

c=

IT
=
I

0.4
0.36

= 1.11

{|a1|+|b1|+|c1|}

x 100% =

{|1.361|+|0.551|+|1.111|}
3

x 100% = 0.67%

Tabel untuk keseluruhan konfigurasi beban, presentase rata-rata ketidakseimbangan beban yang
terkecil menunjukkan beban mendekati seimbang.
Tabel 7. Presetasi rata-rata ketidakseimbangan beban

No

Ir

1
2
3
4
5
6
7
8

Is

It

I rata

0.49

0.2

0.4

0.36

1.36

0.55

1.10

30.333
33

0.5

0.2

0.6

0.43

1.29

0.46

1.38

40.333
33

0.5

0.4

0.4

0.43

1.18

0.92

0.92

0.5

0.4

0.6

0.50

1.10

0.80

1.20

16.666
67

0.8

0.2

0.4

0.46

1.82

0.43

0.86

41.666
67

0.8

0.2

0.6

0.53

1.61

0.38

1.13

45.333
33

0.8

0.4

0.4

0.53

1.59

0.75

0.75

19.666
67

0.8

0.4

0.6

0.60

1.42

0.67

1.00

25

Menghitung losses akibat adanya arus netral pada penghantar netral


PN = IN2 .RN
. L
RN =
A
11

(hambatan jenis kawat tembaga) = 1.7 x 10-8 m


L = 70 cm = 0.7 m
A = 1.5 mm2 = 1,5 x 10-6 m2
. L
1,7 x 108 . 0,7
=
= 0.793 x 10-2
A
1,5 x 106

Diketahui :

RN =

Contoh perhitungan losses untuk konfigurasi beban no.1 :


PN = IN2 .RN
PN = (0.18)2. 0.793 x 10-2 = 2,57 x 10-4 W
P = V . (IR+IS+IT) = 222 x (0.49 + 0.2 + 0.4) = 241.98 W
PN
2,57 x 104
% PN = P x 100% =
x 100% = 1,06 x 10-4W
241,98
Sehingga didapatkan keseluruhan perhitungan presentasi losses sebagai berikut.
Tabel 8. Perhitungan losses

No.
1
2

In

0.18
0.31
0
0.18
0.37
0.39
0.25
0.22

3
4
5
6
7
8

Rn
0.00793
0.0079
3
0.00793
0.00793
0.00793
0.00793
0.00793
0.00793

P
241,98

Pn

%Pn

2,57 x 10

1,06 x 10-4

273

7,6 x 10-4

2,78 x 10-4

276,9
315
294
336
336
378

-4

-4

2,57 x 10
1,08 x 10-3
1,20 x 10-3
4,95 x 10-4
3,83 x 10-4

8,1 x 10-5
3,67 x 10-4
3,57 x 10-4
1,47 x 10-4
1,01 x 10-4

2. Menyeimbangkan beban dengan cara mengubah komposisi beban


Metode berikut dilakukan dengan cara menukar beban lampu pada praktikum beban tak
seimbang sehingga didapatkan data sebagai berikut.
Tabel 9. Percobaan menyeimbangkan beban

No
.
1
2
3
4
5

Fasa
R
A B
A B

Fasa
S
C D

Fasa
T
E F

VRN

VSN

VTN

IR

IS

IT

IN

222

222

222

0.5

0.35

0.49

210

210

210

0.5

0.6

C
E
C

E
C
A

D
D
D

A
A
E

F
F
F

213
210
210

213
210
210

213
210
210

0.4
0.65
0.4

0.6
0.38
0.48

0.86
0.6
5
0.66
0.67
0.85

B
B
B

0.17
0.27
0.33
0.45

12

Keterangan:
Lampu A = 60 W
Lampu B = 60 W
Lampu C = 38 W

Lampu D = 38 W
Lampu E = 100 W
Lampu F = 100 W

13

Perhitungan

a. Total beban per fasa


No
1

Fasa R
60 60

60

60

38
10
0
38

60

Fasa S
38
38
10
0
38
10
0
38

60
60

38
60

4
5

38
38

Fasa T
100 100
38

100

60

100

60
100

100
100

Fasa R
30

Fasa S
19

Fasa
T
50

In
0.49

30

27.5

27.5

0.17

23.2

27.5

37.5

0.27

37.5

19

37.5

0.33

23.2

23.2

50

0.45

b. Menghitung ketidakseimbangan beban


Analisa ketidakseimbangan beban, menggunakan persamaan:
[ I R ]=a [ I ]

[ I S ]=b [ I ]
[ I T ]=c [ I ]
Mencari koefisien a, b, c . Contoh, untuk konfigurasi beban no. 1:
I R + I S + IT
3

Irata-rata =

0.5+ 0.35+0.86
3

a=

IR
=
I

0.5
0.57 = 0.87

b=

IS
=
I

0.35
0.57

= 0.61

c=

IT
=
I

0.86
0.57

= 1.5

{|a1|+|b1|+|c1|}
3

x 100% =

= 0.57 A

{|0.871|+|0.611|+|1.51|}
3

x 100% = 32.742%

Tabel untuk keseluruhan konfigurasi beban, presentase rata-rata ketidakseimbangan beban yang
terkecil menunjukkan beban mendekati seimbang.

14

No
.

c.

Ir
0.5

Is
0.35

It
0.86

I rata
0.57

a
0.88

b
0.61

c
1.51

%
33.92

0.5

0.6

0.65

0.58

0.86

1.03

1.11

9.52

0.4

0.6

0.66

0.55

0.72

0.72

1.19

24.90

0.65

0.38

0.67

0.57

1.15

0.67

1.18

21.96

0.4

0.48

0.85

0.58

0.69

0.83

1.47

31.60

Me
ngh
itun
g

losses akibat adanya arus netral pada penghantar netral.


PN = IN2 .RN
. L
RN =
A
(hambatan jenis kawat tembaga) = 1.7 x 10-8 m
L = 70 cm = 0.7 m
A = 1.5 mm2 = 1,5 x 10-6 m2
. L
1,7 x 108 . 0,7
=
= 0.793 x 10-2
A
1,5 x 106

Diketahui :

RN =

Contoh perhitungan losses untuk konfigurasi beban no.1 :


PN = IN2 .RN
PN = (0.49)2. 0.793 x 10-2 = 1,9 x 10-3 W
P = V . (IR+IS+IT) = 222 x (0.5 + 0.6 + 0.65) = 388.5 W
PN
1,9 x 103
% PN = P x 100% =
x 100% = 4,89 x 10-4 W
388.5
Tabel untuk keseluruhan perhitungan presentase losses.
Tabel 10. Presentasi losses

No.
1

In
0.49

Rn
0.00793
0.0079
3

P
388.5
367.5

0.17

Pn

%Pn

1,9 x 10

4,89 x 10-4

2,29 x 10-4

6,23 x 10-5

0.27

0.00793

353.58

5,78 x 10-4

1,6 x 10-4

0.33

0.00793

357

8,6 x 10-4

2,4 x 10-4

0.45

0.00793

363.3

1,6 x 10-3

4,4 x 10-4

-3

15

Analisa :
Pada praktikum beban tak seimbang yang telah dilakukan, sebagai tujuan praktikum yaitu
membuat keseimbangan beban pada setiap fasa (R-S-T). Untuk proses menyeimbangkan
beban dilakukan dengan 2 metode, yaitu metode penyaklaran (ON-OFF) dan metode

konfigurasi beban.
Pada penggunaan metode penyaklaran untuk menyeimbangkan beban, terdapat 24
peluang perlakuan penyaklaran, sebagaimana ditunjukkan pada tabel III. Pada tabel
tersebut, didapatkan losses paling kecil dengan perolehan 0% (tidak ada losses). Hal ini
dapat terjadi dikarenakan nilai arus netral adalah mendekati 0 A. Pada praktikum beban
tak seimbang dengan metode penyaklaran menggunakan konfigurasi nomor tiga, dapat
dikatakan pemilihan konfigurasi dengan keseimbangan yang paling baik, dikarenakan
perolehan arus netralnya yang paling baik, yaitu mendekati nol ampere (0 A). dari
percobaan tersebutdapat diketahui konfigurasinya sebagai berikut.
Fasa R (ON 1)
Fasa S (ON 2)
Fasa T (ON 1)

Lampu 100 W
Lampu 60 W + 38 W
Lampu 100W

Namun berdasarkan perolehan hasil praktikum diatas, perolehan penyeimbangan beban


dengan metode penyaklaran tersebut dinilai tidak dapat memberikan gambaran terhadap
kondisi existing ketika di industri/lapangan, dikarenakan nilai arus netralnya yang terlalu

ideal, yaitu sama dengan nol.


Pada keseimbangan beban dengan metode konfigurasi beban, dilakukan dengan cara
mengatur pemosisian lampu pada pembebanan fasa yang sesuai. Kondisi sesuai dalam hal
ini adalah kondisi dimana untuk mendapatkan arus netral yang mendekati ideal yaitu nol
(In = 0). Sehingga dari praktikum dengan metode ini didapatkan kondisi paling baik
dengan konfigurasi seperti yang ditunjukkan pada Tabel 9, yaitu dengan hasil pengukuran

didapatkan losses 9.5% dan arus netralnya adalah 1.7A.


Percobaan dengan parameter penyalaan satu lampu dengan beban pada setiap fasanya (RS-T) masing-masing adalah 100W; 60W dan 100W, maka didapatkan arus netralnya
sebesar 0.18A. Namun apabila konfigurasi beban lampu pada setiap fasa R, S, T secara
berurutan diberikan beban lampu dengan daya 100W, 60W dan 27 W maka dapat
dihasilkan arus nominal 0.31A. berbeda halnya lagi ketika dilakukan dengan pembebanan
16

setiap fasanya (R, S, dan T) adalah 100W, 23.2W dan 100W maka dapat dihasilkan arus
netral yang lebih mendekati ideal/sangat ideal yaitu sama dengan nol. Dari hal tersebut
dapat ditarik konklusi awal bahwa, apabila setiap fasa (R, S dan T) dilakukan dengan
pembebanan yang tidak merata/seimbang, maka akan berpengaruh pada besarnya nilai
arus netral yang akan terjadi.

Percobaan kedua adalah menyeimbangkan beban dengan mencari konfugurasi beban


yang menghasilkan arus netral (losses) terkecil. Hasilnya, konfigurasi beban berikut,
menghasilkan arus netral paling kecil yaitu 0,17 A. hal ini karena konfigurasi beban ini
yang paling mendekati seimbang, dengan rata-rata ketidakseimbangan beban hanya 9,5%.
2

0.5

0.6

0.65

0.58

0.86

1.03

1.11

9.52

Dari percobaan tersebut dapat dianalisis bahwa semakin besar arus netral maka semakin
besar losses yang timbul. Hal ini digambarkan pada grafik..

In terhadap losses
0
0

Pn (W)

0
0
0
0.15

0.2

0.25

0.3

0.35

0.4

0.45

0.5

0.55

In (A)
In terhadap losses
Linear (In terhadap losses)

Arus netral mempengaruhi besarnya losses sesuai dengan rumus PN=IN2.RN. dimana rugirugi pada penghantar netral sebanding dengan kuadrat arus netral yang mengalir di
penghantar tersebut. Dari percobaan ini, arus netral yang paling kecil yakni 0,17 A
menghasilkan rugi-rugi yang paling kecil pula, yaitu sebesar 2,29 x 10-4W.
Peluang Penghematan Energi

17

Terdapat beberapa peluang penghematan energi yang dapat dilakukan untuk mengatasi
masalah beban tak seimbang, diantaranya:
- Mengatur beban tiap fasa dengan seimbang agar meminimalisir ketidakseimbangan
beban. Dengan menyeimbangkan beban, akan menurunkan arus netral sehingga
-

losses yang dihasilkan kecil.


Memilih kabel dengan luasan yang lebih besar mengganti kabel dengan yang lebih
pendek, sehingga akan menurunkan hambatan pada kawat netral.

18

Rekomendasi
Rekomendasi yang dapat diterapkan, sesuai dengan praktikum ini yakni
mengubah/mengatur konfigurasi beban tiap fasa, mengatur beban dengan seimbang
untuk memperkecil arus netral sehingga losses kecil. Dan berdasarkan praktikum untuk
menyeimbangkan beban dilakukan konfigurasi penyeimbangan beban sesuai metode 2
dikarenakan kondisinya sama seperti kondisi existing berbeda dengan metode 1 yaitu
kondisi ideal dimana In : 0
BAB V. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum beban tak seimbang yang telah dilakukan dapat ditarik beberapa
kesimpulan diantaranya :
- Beban yang tidak seimbang akan menimbulkan arus netral yang menyebabkan rugi-rugi
-

pada penghantar netral


Rugi-rugi pada penghantar netral sebanding dengan arus netral yang mengalir dan
hambatan kawat penghantar. Semakin tinggi arus netral dan semakin besar tahanan kawat

penghantar, maka semakin besar losses yang ditimbulkan.


Presentase rata-rata ketidakseimbangan beban sebanding dengan rugi-rugi. Semakin kecil

persen ketidaksembangan beban, maka semakin kecil pula rugi-rugi yang ditimbulkan.
Peluang penghematan energi yang dapat dilakukan untuk mengatasi ketidakseimbangan
beban diantaranya mengubah konfigurasi beban tiap fasa, mengganti kabel dengan

ukuran yang lebih besar, dan memperpendek jarak distribusi ke beban.


Rekomendasi yang paling mungkin dilakukan adalah mengatur konfigurasi beban tiap
fasa, dengan kombinasi beban yang seimbang yang akan menghasilkan rugi-rugi paling
minimum.

DAFTAR PUSTAKA
2016. Modul praktikum konservasi. POLBAN
http://www.academia.edu/10799844/Konservasi_energi. Diunduh pada tanggal 12-06-2016
jurnal.unimus.ac.id/index.php/ME/article/download/634/686. Diunduh pada tanggal 13-06-2016

19