Anda di halaman 1dari 15

Penggunaan anestesi local yang makin meluas di bidang kedokteran gigi tidak jarang

menimbulkan reaksi yang tidak menguntungkan bagi pasien. Untuk dapat mengatasi reaksi yang
tidak menguntungkan tersebut, dokter gigi harus mengenal masalah dan komplikasi serta cara
untuk
menangani
kondisi
seperti
ini.
Beberapa reaksi tidak menguntungkan yang dapat terjadi sebagai efek anestesi local diantaranya:

1. Lokal
1. Kegagalan mendapatkan efek anestesi
Kegagalan mendapatkan efek anestesi dapat disebabkan oleh teknik anestesi yang
salah. Untuk mengatasi hal ini dapat dilakukan pengulangan suntikan setelah
memeriksa landmark anatomi dan setelah meninjau ulang teknik suntukan yang
digunakan. Tidak tercapainya efek anestesi juga dapat terjadi pada jaringan yang
mengalami peradangan. Untuk situasi seperti ini, anestesi dapat diperoleh dengan
menggunakan teknik anestesi regional di mana larutan anestesi didepositkan pada
jaringan yang letaknya agak jauh dari daerah peradangan.
Penyebab lain terjadinya kegagalan mendapatkan efek anestesi disebabkan karena
penggunaan larutan yang sudah kadaluwarsa. Oleh karena itu, dokter gigi harus
memastikan bahwa stock cartridge anestesi belum kadaluwarsa dan
menggunakannya dengan benar, kadang ada pula pasien yang mempunyai
resistensi individual terhadap obat-obat tertentu. Untuk mengatasi hal ini,
pemberian obat alternative yang mempunyai komposisi kimia yang berbeda akan
memungkinkan diperolehnya hasil yang diinginkan.
2. Sakit selama dan setelah penyuntikan
Untuk mengurangi rasa sakit selama penyuntikan dapat dilakukan dengan
menggunakan jarum yang tajam untuk menyuntik. Tindakan lain yang dapat
memperkecil rasa tidak enak adalah dengan menghangatkan larutan anestesi dan
menyuntikannya perlahan-lahan
3. Pembentukan haematoma pada daerah penyuntikan
Bila dokter gigi menganggap bahwa haematoma kemungkinan akan terinfeksi, ia
harus segera memberikan terapi antibiotic tanpa melihat letak daerah beku darah,
apakah avaskular atau tidak dan tanpa mempertimbangkan bentuk ideal untuk
proliferasi bakteri. Pasien juga harus diminta datang kembali dalam waktu 24 jam
atau lebih bila perlu.
4. Suntikan intravascular

Penetrasi pembuluh darah hanya dapat dideteksi sedini mungkin bila digunakan
teknik aspirasi, bila selama aspirasi terlihat aliran darah ke dalam larutan anestesi
maka dapat disimpulkan bahwa terjadi penetrasi pembuluh darah dan jarum harus
segera ditarik keluar dan dimasukkan kembali pada posisi yang sedikit berbeda
5. Kepucatan
Kepucatan akibat suntikan umumnya bersifat sementara dan berlangsung selama
30 detik sampai 30 menit. Untuk situasi ini hanya diperlukan tindakan
menenangkan pasien saja. Teknik penyuntikan yang cermat dengan melakukan
aspirasi larutan atau sedikit menarik jarum sebelum mendepositkan larutan akan
dapat mengurangi insidensi komplikasi ini.
6. Trismus
Trismus sering terjadi beberapa saat setelah penyuntikan dan setelah selesai
prosedur perawatan gigi. Bila disebabkan oleh infeksi, pasien umumnya akan
menderita demam dan meraa sakit dan tidak sehat. Dalam kondisi ini nanah yang
terbentuk harus didrainase dan harus diberikan terapi antibiotic. Bila infeksi
seudah terkontrol simtom trismus dapat dihilangkan dengan menggunakan larutan
kumur saline hangat dan diatermi gelombang pendek.
7. Paralisa wajah
Paralisa wajah Timbul akibat insersi ujung jarum terlalu ke belakang dan terlalu di
belakang ramus asendens. Pasien yang menderita komplikasi ini harus
ditenangkan dan diberi tahu bahwa fungsi normal dan penampilan wajah akan
kembali normal segera setelah efek agen anestesi local hilang
8. Gangguan sensasi yang berlangsung lama
Gangguan sensasi setelah penyuntikan anestesi local umumnya disebabkan oleh
kerusakan saraf. Tanda dan simtom pemulihan yang nyata biasanya terlihat
setelah 3 bulan. Bila diperkirakan bahwa pemulihan tidak dapat terjadi, maka
harus dirujuk ke spesialis. Bila ada paralisa yang terlalu lama mungkin ada
gangguan penjalaran. Bisa saat menyuntik membuat kerusakan saraf, bisa juga
ada peradangan yang bisa menekan saraf sehingga jalan impulsnya tidak lancer.
Bisa diberikan obat-obat untuk merangsang penyembuhan saraf seperti vitamin
B12, namun lambat laun pasti akan sembuh sendiri.
9. Patahnya jarum
Jarum umumnya patah pada daerah hubungan. Saat insersi, sisakan jarum 5 mm
dari seluruh panjang jarim agar tetap menonjol keluar dari permukaan mukosa.
Bila patah terjadi, jaringan harus tetap ditekan ketika ujung jarumyang terletak di

luar jaringan ditarik dengan bantuan tang atau forcep arteri saat mengeluarka
frakmen fraktur
10. Infeksi
Untuk menghindari infeksi dapat dilakukan dengan mensterilkan semua peralatan
yang akan digunakan untuk menganastesi
11. Trauma pada bibir
Trauma pada bibir pada pasien anaka dapat disebabkan karena pasien menggigitgigit bagian bibir yang teranestesi, yang dapat menimbulkan ulser yang sangat
nyeri. Pada pasien dewasa, kemungkinan penyebab trauma bibir adalah akibat
erusakan termis dari bibir akibat konsumsi minuman yang panas atau merokok
12. Gangguang visual
Gangguan ini dapat berupa penglihatan ganda atau penglihatan yang buram dan
bahkan kebutaan sementara. Gangguan penglihatan akan kembali normal bila
larutan sudah terdispersi, biasanya membutuhkan waktu 3 jam
2.
3. Sistemik
1. Sinkop
Kedaruratan ini paling sering terjadi pada pasien yang duduk di kursi unit baik
pada awal maupun akhir perawatan. Kolaps dapat terjadi tiba-tiba dan dapat
disertai atau tidak disertai dengan hilangnya kesadaran. Pada sebagian besar kasus
yang mendadak dan menimbulkan hipoksia serebral dan umumnya akan pulih
secara spontan. Pasien sering mengeluh pusing, lemas dan nausea dengan kulit
yang pucat, dingin serta mudah berkeringat. Sinkop karena serangan bradikardia
yang nyata sehingga adanya denyut nadi yang lambat dan lemah dapat digunakan
untuk membantu menentukan diagnose banding.
Pertolongan pertama harus segera diberikan dan pasien jangan ditinggalkan
sendirian. Prioritas pertama adalah memulihkan dan mempertahankan saluran
udara serta mempertahankan respirasi dan sirkulasi. Perawatan ABC adalah
memulihkan saluran udara, pernapasan dan sirkulasi dan kangan menunda waktu
terlalu lama sebelum kita akhirnya menentukan diagnose atau terapi obat.
Sebagian besar pasien yang dirawat dengan prinsip tersebut dapat pulih kembali
dengan cukup cepat tanpa sekuela lebih lanjut. Pasien harus segera dibaringkan
dengan posisi kepala lebih rendah dari tubuh yaitu dengan menyesuaikan

sandaran kursi unit 100 (posisi tredelenburg), karena posisi pada derajat yang
lebih besar akan mengganggu drainase venus serebral dan mengurangi perfusi
darah pada otak. Pasien jangan diberi minum sampai ia sudah sadar kembali.
Bila dokter gigi mempunyai asisten yang dapat membantunya, pasien dapat
diangkat dari kursi unit dan dibaringkan telungkup di lantai. Ganjal mulut,
potongan-potongan gigi, bahan-bahan gigi dan alat harus dikeluarkan dari rongga
mulut dengan menggunakan jari dan darah harus diaspirasi dengan suction. Bila
ada indikasi yang menunjukkan pasien akan muntah, pasien dimiringkan,
terutama miring ke sisi kanan. Pasien wanita yang sedang hamil tua jangan
dibaringkan telungkup karena uterus gravis akan menekan vena cava inferior dan
menimbulkan "kompresi cava" atau sindrom "hipotensi telungkup" yang dapat
menimbulkan output kardiak dan memperlambat pemulihan. Bila seorang pasien
pingsan, harus dibaringkan dalam posisi telungkup untuk mempertahankan
saluran udaranya.
Pemulihan spontan biasa terjadi dalam waktu 15 menit dan sering kali prosedur
perawatan gigi dapat diselesaikan pada satu kunjungan bila perawatan dilakukan
dengan pasien dalam posisi berbaring. Bila perawatan belum dimulai dan
perawatan tidak terlalu penting, sebaiknya perawatan ditunda dahulu sebelum
kunjungan berikutnya. Pada kasus ini pasien harus dibiarkan beristirahat selama
sekurang-kurangnya 1 jam.

2. Interaksi obat
Banyak pasien yang tidak mengetahui nama atau sifat obat yang diminumnya.
Karena itulah, bila ada keraguan, dokter gigi sebaiknya menghubungi dokter yang
merawat pasien untuk memastikan detail obat-obatan yang digunakan pasien
tersebut, sebelum melakukan perawatan. Pada saat bersamaan dokter gigi juga
harus menentukan keparahan penyakit sistemis yang diderita pasien dan
hubungannya terhadap perawatan gigi yang akan dilakukannya.
3. Hepatitis serum
Agen penyebab dari penyakit yang sangat serius ini adalah antigen yang
berhubungan dengan hepatitis B (GBsAg) yang juga disebut sebagai "virus B' dari
"antigen Australia". Pada praktek kedokteran gigi, resiko penyebaran infeksi
sangatlah besar terutama bila digunakan syringe dan jarum yang kurang steril
4. Reaksi sensitivitas
Reaksi ini mempunyai derajat yang bervariasi dari pembengkakan oedematus
local atau urtikaria pada daerah suntikan sampai reaksi anaphilatik yang
berbahaya dan parah yang terbukti fatal bila tidak cepat ditanggulangi. Untunglah

sebagian besar reaksi bersifat ringan dan sementara sehingga tidak memerlukan
perawatan dan bahkan sering tidak mendapat perhatian.
Reaksi toksis karena dosis berlebih dapat terlihat bila kadar lignokain dalam
plasm lebih besar daripada 5 ug/ml. konsentrasi sebesar ini dapat dicapai bila
dilakukan penyuntikan intravascular secara kurang tepat atau bila dilakukan
pendepositan sejumlah besar larutan anestesi local secara cepat. Tanda pertama
dari respon system saraf sentral biasanya berupa eksitasi seperti pusing, gelisah,
nausea atau sakit kepala ringan diikuti dengan tremor dan denyut muscular
terutama pada wajah, tangan dan kaki. Baru kemudian terjadi konvulsi.
5. Dermatitis okupansional
Bila digunakan prokain sebagai larutan anestesi local tidak jarang akan
menemukan reaksi sensitivitas terhadap larutan ini berupa timbulnya dermatitis
"Novocain" yang ditandai dengan retak-retak yang sakit dan fisur-fisur pada kulit
yang terlihat sangatlah jelas di sekitar kuku dan di antara jari. Kondisi ini resisten
terhadaa perawatan dan individu yang terserang sebaiknya diminya untuk
menggunakan sarung tangan karet selama bekerja dalam usaha untuk menghindari
kontak dengan prokain.
6. Gangguan kardio respirasi
Kemungkinan terjadinya gagal respirasi atau gagal jantung yang disebabkan oleh
penyuntikan larutan anestesi local umumnya bersifat sementara. Walaupun
demikian, setiap dokter gigi harus mampu menangani kedaruratan yang terjadi
karena sebab apapun. Perlu juga disadari bahwa kedua kondisi ini saling
berhubungan karena bila keduanya tidak terdeteksi dan tidak dirawat, akan
berkembang makin cepat. Karena itu, bila pasien berhenti napas, dokter gigi harus
memeriksa denyut carotid dan pupil mata. Tidak adanya denyutan dan dilatasi
pupil adalah tanda yang menunjukkan adanya gagal jantung yang munkin
disebabkan oleh gagal respirasi.
Komplikasi obat anestesi lokal
Obat anestesi lokal, melewati dosis tertentu merupakan zat toksik, sehingga untuk tiap jenisobat
anestesi lokal dicantumkan dosis maksimalnya. Komplikasi dapat bersifat lokal atausistemik
Komplikasi lokal
1. Terjadi ditempat suntikan berupa edema, abses, nekrosis dan gangrene.2. Komplikasi infeksi
hampir selalu disebabkan kelainan tindakan asepsis danantisepsis.3. Iskemia jaringan dan
nekrosis karena penambahan vasokonstriktor yangdisuntikkan pada daerah dengan arteri buntu.
Komplikasi sistemik
1. Manifestasi klinis umumnya berupa reaksi neurologis dan kardiovaskuler.
2. Pengaruh pada korteks serebri dan pusat yang lebih tinggi adalah berupa perangsangan
sedangkan pengaruh pada pons dan batang otak berupa depresi.3. Pengaruh kardiovaskuler

adalah berupa penurunan tekanan darah dan depresimiokardium serta gangguan hantaran listrik
jantung
Larutan anestetikum yang mengandung konsentrasi epinefrin yang sangat tinggi sebaiknya hanya
digunakan pada kasus-kasus yang diindikasikan.
Berikut ini merupakan cara penanganan dan pencegahan komplikasi lokal yang sering terjadi
pada anestesi lokal:
1. Patah Jarum
Penyebab:
Gerakan tiba-tiba jarum gauge (ukuran) kecil, jarum yang dibengkokkan .
Pencegahan:
Kenalilah anatomi daerah yang akan dianestesi, gunakan jarum gauge besar, jangan gunakan
jarum sampai porosnya, pake jarum sekali saja, jangan mengubah arah jarum, beritahu pasien
sebelum penyuntikan.
Penanganan:
Tenang, jangan panic, pasien jangan bergerak, mulut harus tetap terbuka jika pragmennya
kelihatan, angkat dengan hemostat keal, jika tidak terlihat diinsisi, beritahu pasien, kirim ke ahli
bedah mulut.
2. Rasa Terbakar Pada Injeksi
Sebab:
pH larutan melampaui batas, injeksi larutan cepat, kontaminasi larutan catridge dengan larutan
sterilisasi, larutan anestesi yang hangat.
Masalah:
Bisa terjadi iritasi jaringan, jaringan menjadi rusak.
Pencegahan:
Gunakan anestetik lokal yang pH kira-kira 5, injeksi larutan perlahan-lahan (1ml/menit),
cartridge disimpan pada suhu kamar, lokal anestetik tetap steril.
3. Rasa Sakit pada Injeksi
Sebab:
Teknik injeksi salah, jarum tumpul, deposit larutan cepat, jarum mengenai periosteum.
Pencegahan:
Penyuntikan yang benar, pakai jarum yang tajam, pakai larutan anestesi yang steril, injeksikan
jarum perlahan-lahan, hindari penyuntikan yang berulang-ulang.
Penanganan:
Tidak perlu penanganan khusus.
4. Parastesi (kelainan saraf akibat anestesi): tidak terasa.
Sebab:
Trauma (iritasi mekanis pada nervus akibat injeksi jarum/ larutan anestetik sendiri.)

Masalah:
Dapat terjadi selamanya, luka jaringan.
Pencegahan:
Injeksi yang tepat, penggunaan cartridge yang baik.
Penanganan:
Tenangkan pasien, pemeriksaan pasien (lamanya parastesia), pemeriksaan ulang sampai gejala
hilang, konsul ke ahli bedah, mulut atau neurologi.
5. Trismus (gangguan membuka mulut).
Sebab:
Trauma pada otot untuk membuka mulut, iritasi, larutan, pendarahan, infeksi rendah pada otot.
Masalah:
Rasa sakit, hemobility (kemampuan mandibula untuk bergerak menurun).
Pencegahan:
Pakai jarum suntik tajam, asepsis saat melakukan suntikan, hindari injeksi berulang-ulang,
volume anestesi minimal.
Penanganan:
Terapi panas (kompres daerah trismus 15-20 menit) setiap jam. Analgetik obat relaksasi otot,
fisioterapi (buka mulut 5- 10 menit tiap 3 jam), megunyah permen karet, bila ada infeksi beri
antibiotik alat yang digunakan untuk membuka mulut saat trismus.
6. Hematoma (efusi darah kedalam ruang vaskuler).
Sebab:
Robeknya pembuluh darah vena/ arteri akibat penyuntikan, tertusuknya arteri/ vena, dan efusi
darah.
Pencegahan:
Anatomi dan cara injeksi harus diketahui sesuai dengan indikasi, jumlah penetrasi jarum
seminimal mungkin.
Penanganan:
Penekanan pada pembuluh darah yang terkena, analgetik bila nyeri, aplikasi pada pada hari
berikutnya.
7. Infeksi.
Sebab:
Jarum dan daerah operasi tidak steril, infeksi mukosa masuk kedalam jaringa, teknik pemakaian
alat yang salah
Pencegahan:
Jarum steril, aseptic, hindari indikasi berulang-ulang.
Penanganan:

Terapi panas, analgesic, antibiotic.


8. Udema (Pembengkakan Jaringan)
Sebab:
Trauma selama injekasi, infeksi, alergi, pendarahan, irirtasi larutan analgesic.
Pencegahan:
Pemakaian alat anestesi lokal yang betul, injeksi atraumatik, teliti pasien sebelum pemberian
larutan analgesic.
Penanganan:
Mengurangi pembengkakan secepat mungkin, bila udema berhubungan dengan pernafasan maka
dirawat dengan epinefrin 8,3 mg IV/Im, antihistramin IV/im. Kortikosteroid IV/ IM, supinasi,
berikan basic life support, tracheastomi, bila sumbat nafas, evaluasi pasien.
9. Bibir Tergigit.
Sebab:
Pemakaian long acting anestesi lokal.
Masalah:
Bengkak dan sakit.
Pencegahan:
Pilih anastetik durasi pendek, jangan makan/minum yang panas, jangan mengigit bibir.
Penanganan:
Analgesi, antibiotic, kumur air hangat beri vaselinlipstik.
10. Paralyse N. Facialis (N. Facialis ter anestesi)
Sebab:
Masuknya larutan anestesi ke daam kapsul/ substransi grandula parotid.
Masalah:
Kehilangan fungsi motoris otot ekspersi wajah. Mata tidak bisa mengedip.
Pencegahan:
Blok yang benar untuk n. Alveaolaris inferior, jarum jangan menyimpang lebih kepost Waktu
blok n. alveolaris inferior.
Penanganan:
Beritahu pasien, bahan ini bersifat sementara, anjurkan secara periodic membuka dan menutup
mata.
11. Lesi Intra Oral Pasca Anestesi.
Penyebab:
Stomatitis apthosa rekuren, herpes simpleks.
Masalah:
Pasien mengeluh sensitivitas akut pada daerah uslerasi.

Penanganan:
Simptomatik, kumur-kumur dengan larutan dipenhidramin dan susu magnesium.
12. Sloughing pada Jaringan.
Penyebab:
Epitel desquamasi, abses steril.
Masalah:
Sakit hebat.
Pencegahan:
Pakai topical anestesi, bila memakai vasokonstriktor jangan berlebihan.
Penanganan:
Secara simptomatik, rasa sakit diobati dengan analgesic (aspirin/ kodein secara topical)
13. Syncope (fainting).
Merupakan bentuk shock neurogenik.
Penyebab:
Isohemia cereoral sekunder, penurunan volume darah ke otak, trauma psikologi.
Masalah:
Kehilangan kesadaran.
Pencegahan:
Fentilasi yang cukup, posisi kepala lebih rendah dari tubuh, hentikan bila terjadi perubahan
wajah pasien.
Penanganan:
Posisikan kepala lebih rendah dari tubuh, kaki sedikit diangkat, bila sadar anjurkan tarik nafas
dalam-dalam, rangsang pernaasan dengan wangi-wangian.

Kesimpulan
Anestesi local (anestesi regional) adalah hilangnya rasa sakit pada bagian tubuh tertentu
tanpa desertai dengan hilangnya kesadaran. Anestesi local merupakan aplikasi atau injeksi obat
anestesi pada daerah spesifik tubuh.
Pada pemberian anestesi lokal yang tidak dilakukan secara hati hati dapat terjadi
komplikasi komplikasi seperti : patah jarum, rasa terbakar pada injeksi, rasa sakit pada injeksi,
parastesi, trismus, hematoma, infeksi, udema, bibir tergigit, lesi intra oral, dll.

Komplikasi dapat dicegah jika melakukan anestesi lokal dengan hati hati dan memahami
dengan baik tentang anestesi, tetapi apabila komplikasi terjadi, harus bcepat diatasi dengan baik
agar tidak terjadi komplikasi yang berkepanjangan.

Pencegahan:Injeksi yang tepat, penggunaan cartridge yang baik.Penanganan:Tenangkan pasien,


pemeriksaan pasien (lamanya parastesia), pemeriksaan ulang sampaigejala hilang, konsul ke ahli
bedah, mulut atau neurologi.
5.
Trismus (gangguan membuka mulut).
Sebab:Trauma pada otot untuk membuka mulut, iritasi, larutan, pendarahan, infeksi rendah
padaotot.Masalah:Rasa sakit, hemobility (kemampuan mandibula untuk bergerak
menurun).Pencegahan:Pakai jarum suntik tajam, asepsis saat melakukan suntikan, hindari injeksi
berulang-ulang,volume anestesi minimal.Penanganan:Terapi panas (kompres daerah trismus 15-20 menit)
setiap jam. Analgetik obat relaksasi otot,fisioterapi (buka mulut 5- 10 menit tiap 3 jam), megunyah
permen karet, bila ada infeksi beriantibiotik alat yang digunakan untuk membuka mulut saat trismus.
6.
Hematoma (efusi darah kedalam ruang vaskuler).
Sebab:Robeknya pembuluh darah vena/ arteri akibat penyuntikan, tertusuknya arteri/ vena, dan
efusidarah.Pencegahan:Anatomi dan cara injeksi harus diketahui sesuai dengan indikasi, jumlah
penetrasi jarumseminimal mungkin.Penanganan:Penekanan pada pembuluh darah yang terkena,
analgetik bila nyeri, aplikasi pada pada hari berikutnya.
Infeksi.
Sebab:Jarum dan daerah operasi tidak steril, infeksi mukosa masuk kedalam jaringa, teknik pemakaian alat
yang salahPencegahan:Jarum steril, aseptic, hindari indikasi berulang-ulang.
Penanganan:Terapi panas, analgesic, antibiotic.
7.
Udema (Pembengkakan Jaringan)
Sebab:Trauma selama injekasi, infeksi, alergi, pendarahan, irirtasi larutan
analgesic.Pencegahan:Pemakaian alat anestesi lokal yang betul, injeksi atraumatik, teliti pasien
sebelum pemberianlarutan analgesic.Penanganan:Mengurangi pembengkakan secepat mungkin, bila
udema berhubungan dengan pernafasanmaka dirawat dengan epinefrin 8,3 mg IV/Im, antihistramin
IV/im. Kortikosteroid IV/ IM,supinasi, berikan basic life support, tracheastomi, bila sumbat
nafas, evaluasi pasien.
8.
Bibir Tergigit.
Sebab:Pemakaian long acting anestesi lokal.Masalah:Bengkak dan sakit.Pencegahan:Pilih anastetik
durasi pendek, jangan makan/minum yang panas, jangan mengigit bibir.Penanganan:Analgesi, antibiotic,
kumur air hangat beri vaselin

lipstik.
9
.
Paralyse N. Facialis (N. Facialis ter anestesi)
Sebab:Masuknya larutan anestesi ke daam kapsul/ substransi grandula parotid.Masalah:Kehilangan fungsi
motoris otot ekspersi wajah. Mata tidak bisa mengedip.Pencegahan:Blok yang benar untuk n. Alveaolaris
inferior, jarum jangan menyimpang lebih kepost Waktu blok n. alveolaris
inferior.Penanganan:Beritahu pasien, bahan ini bersifat sementara, anjurkan secara periodic
membuka danmenutup mata.
10.
Lesi Intra Oral Pasca Anestesi
Penyebab:Stomatitis apthosa rekuren, herpes simpleks.Masalah:Pasien mengeluh sensitivitas akut pada
daerah uslerasi.Penanganan:Simptomatik, kumur-kumur dengan larutan dipenhidramin dan susu magnesium.
11.
Syncope (fainting).
Merupakan bentuk shock neurogenik.Penyebab:Isohemia cereoral sekunder, penurunan volume darah ke otak,
trauma psikologi.Masalah:Kehilangan kesadaran.Pencegahan:Fentilasi yang cukup, posisi kepala
lebih rendah dari tubuh, hentikan bila terjadi perubahanwajah pasien.Penanganan:Posisikan kepala
lebih rendah dari tubuh, kaki sedikit diangkat, bila sadar anjurkan tarik nafas dalam-dalam,
rangsang pernaasan dengan wangi-wangian
2.2.4 Lidocain
Sejak diperkenalkan pada tahun 1949 derivat amida dari xylidide ini sudah menjadi agenanestesi
lokal yang paling sering digunakan dalam kedokteran gigi bahkan menggantikan prokain sebagai
prototipe anestesi lokal yang umumnya digunakan sebagai pedoman bagisemua agen anestesi
lainnya. Lidokain dapat menimbulkan anestesi lebih cepat dari pada procain dan dapat tersebar
dengan cepat diseluruh jaringan, menghasilkan anestesi yang lebihdalam dengan durasi yang
cukup lama. Obat ini biasanya digunakan dalam kombinasi denganadrenalin (1:80.000 atau 1:
100.000). Pengunaan lidocain kontraindikasi pada penderita penyakit hati yang parah.
2.2.5 Mepivacain
D
erivat amida dari xilidide ini cukup populer yang diperkenalkan untuk tujuan klinis padaakhir tahun 1990an.
Kecepatan timbulnya efek,durasi aksi, potensi dan toksisitasnya miripdengan lidocain.
Mepivacain tidak mempunyai sifat alergenik terhadap anestesi lokal tipe

ester. Agen ini dipasarkan sebagai garam hidroklorida dan dapat digunakan anestesi infiltrasi/
regional. Bila mepivacain dalam darah sudah mencapai tingkatan tertentu , akan terjadieksitasi
sistem saraf sentral bukan depresi, dan eksitasi ini dapat berakhir berupa konvulsi dandepresi respirasi.
2.2.6 Prilocain
Merupakan derivat toluidin dengan tipe amida pada dasarnya mempunyai formula kimiawidan
farmakologi yang mirip dengan lidocain dan mepivacaine. Prolocain biasanyamenimbulkan aksi yang lebih
cepat daripada lidocain namun anestesi yang ditimbulkan tidak terlalu dalam. Prolocain juga
kurang mempunyai efek vasodilator bila dibandingkan denganlidocain dan bisanya
termetabolisme lebih cepat. Obat ini kurang toksis dibanding denganlidocaine tapi dosis total yang
dipergunakan sebaiknya tidak lebih dari 400mg.
2.2.7 Vasokonstriktor
Penambahan sejumlah kecil agen vasokonstriktor pada larutan anestesi lokal dapat
memberikeuntungan berikut ini:1.
mengurangi efek toksik melalui efek menghambat absorpsi konstituen.2.
Membatasi agen anestesi hanya pada daerah yang terlokalisir sehingga dapatmeningkatkan
kedalaman dan durasi anastesi.3.
Menimbulkan daerah kerja yang kering (bebas bercak darah) untuk prosedur operasi.Vasokonstriktor yang
biasa digunakan adalah:1.
Adrenalin (epinephrine), suatu alkaloid sintetik yang hampir mirip dengan sekresimedula
adrenalin alami.2.
Felypressin (octapressin), suatu polipeptida sintetik yang mirip dengan sekresi glandula pituutari
posterior manusia. Mempunyai sifat vasokonstriktor yang dapat diperkuatdengan penambahan
prilokain.
2.3 Klasifikasi Anestesi Infiltrasi
1. Soft tissue anestesi (jaringan lunak)a. Submukus infiltrasi anestesiInfiltrasi anestesi ini biasanya
dipergunakan:1.
melumpuhkan serabut saraf n. nasopalatinus atau n. Buksinatorius2.
melakukan eksisi gingiva yang menutupi gigi contoh M3 bawah3.
insisi (membuat jalan keluar nanah) dari abses4.
ekstirpasi gingiva polip dan fibroma5.
mengambil bagian tulang alveolar (alveolektomi)