Anda di halaman 1dari 30

30

Survei Lapangan

3.1
3.1.1

Survei Bathimetri
Pengantar

Pengembangan suatu pelabuhan terdiri dari dua sisi perencanaan pengembangan, yakni
pengembangan sisi daratan dan perairan, dimana keduanya merupakan satu kesatuan
perencanaan yang melengkapi satu sama lain dalam operasional pelabuhan. Perencanaan
pengembangan sisi perairan ini memerlukan salah satu data perairan pelabuhan, yakni kedalaman
perairan sekitar pelabuhan eksisting agar dapat menentukan hal-hal yang perlu dilakukan dalam
merencanakan kedalaman sesuai dengan pengembangan pelabuhan itu sendiri. Oleh karena itu
dalam rangka kegiatan penyusunan Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku, maka
dilakukan survei bathimetri di kawasan perairan pelabuhan yang merupakan daerah kepentingan
perairan pelabuhan sebagai bagian dari perencanaan pengembangan sisi perairan yang bertujuan
untuk mendapatkan gambaran kedalaman atau topografi dasar perairan di wilayah kepentingan
pelabuhan yang dilakukan dengan cara pemeruman sehingga didapatkan kedalaman (z) serta
posisi (x, y) wilayah perairan pelabuhan dari permukaan dasar laut sehingga permukaan dasar laut
pada lokasi rencana pembangunan Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku dapat digambarkan.
3.1.2

Metodologi Survei

Metodologi teknis survei bathimetri dalam kegiatan penyusunan Rencana Induk Pelabuhan
Waisala Provinsi Maluku ini dijabarkan secara singkat dalam uraian di bawah ini dan digambarkan
dalam suatu bagan alir yang diberikan dalam Gambar 3.1. Secara umum Pemeruman dilakukan
dengan menggunakan alat GPS MapSounder yang dapat mengukur kedalaman laut dan
menentukan posisinya dengan metoda GPS pada jalur memanjang dan jalur melintang, dimana
hasil ukuran direkam dengan interval perekaman data disesuaikan dengan keinginan kerapatan
data (batas minimal perekaman data tiap 10 m, atau 1 detik pergerakan alat/kapal survei). Titik
awal dan akhir untuk tiap jalur sounding dicatat dan kemudian dimasukan ke dalam alat pengukur
yang dilengkapi dengan fasilitas GPS untuk dijadikan acuan lintasan perahu sepanjang jalur
sounding. Contoh alat yang dipakai dan penempatan alat dalam pelaksanaan Survei Bathimetri di
Pelabuhan Waisala diberikan dalam Gambar 3.2.

Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

31

Survei Bathimetri

Rencana Kerja:

Ketua Tim

diperiksa

Jadwal;
Lokasi Survei;

disusun

Ahli Geodesi;
Ahli Perencana Pelabuhan.

Personil;
Peralatan.
Surat ke instansi terkait

Pemberi Kerja

Satker Peningkatan Fungsi Pelabuhan dan Pengerukan Pusat

Pelaksanaan Survei:
Lokasi: kawasan perairan sekitar rencana Pelabuhan Waisala;
Luas areal pengukuran min. 30 ha;
Alat survei:
GPS MapSounder;
Notebook;
Kapal/perahu.
Pengolahan Data:
Kompilasi data;
Penggambaran Peta Bathimetri.

Penyusunan Laporan

umber:

Olahan Konsultan, 2016

Gambar 3.1 Alur Pikir Metodologi Survei Bathimetri Rencana Pelabuhan Waisala

umber:

Basis Data Konsultan, 2016

Gambar 3.2 Alat Survei Bathimetri Rencana Pelabuhan Waisala

Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

32

3.1.3

Pelaksanaan Survei

Pengukuran bathimetri dilakukan sesuai dengan lingkup kerja yang dimintakan dalam Kerangka
Acuan Kerja, yakni pengukuran lahan seluas minimal 30,0 ha pada kawasan perairan Pelabuhan
Waisala. Dokumentasi pada saat pelaksanaan survei diberikan dalam Gambar 3.3

umber:

Survei Lapangan Konsultan, 2016

Gambar 3.3 Pelaksanaan Survei Bathimetri Rencana Pelabuhan Waisala

3.1.4

Hasil Survei

Hasil survei bathimetri menunjukan perairan lokasi rencana pembangunan Pelabuhan Waisala
merupakan merupakan perairan yang landai, dimana kedalaman perencanaan di depan dermaga
pelabuhan (faceline) adalah -5 m yang didapat pada jarak kurang lebih 100 m dari bibir pantai dan
pertambahan kedalaman berjarak sekitar 20 m setiap meternya. Hasil survei bathimetri ini
diberikan dalam suatu peta situasi bathimetri yang digabungkan dengan peta situasi topografi
dalam Gambar 3.7, sedangkan data mentah hasil survei bathimetri ini diberikan dalam buku
laporan tersendiri berupa Laporan Survei Lapangan.
3.2
3.2.1

Survei Topografi
Pengantar

Perencanaan pengembangan lahan darat di suatu pelabuhan diperlukan guna mengetahui


kepemilikan, tata guna lahan, serta topografi lahan yang akan direncanakan. Oleh karena itu dalam
rangka kegiatan penyusunan Rencana Induk Pelabuhan Waisala, maka dilakukan survei topografi

Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

33

lahan darat eksisting dan lahan yang akan direncanakan sebagai bagian dari pengembangan sisi
darat pelabuhan. Survei topografi ini dimaksudkan untuk mengetahui ketinggian rata-rata dari
suatu lokasi survei yang nantinya dijadikan acuan dalam membangun fasilitas pelabuhan dan
tujuan survei ini adalah untuk mendapatkan peta situasi wilayah daratan pada lokasi rencana
pengembangan Pelabuhan Waisala.
3.2.2

Metodologi Survei

Metodologi teknis survei topografi dalam kegiatan penyusunan Rencana Induk Pelabuhan Waisala
Provinsi Maluku ini dijabarkan secara singkat dalam uraian di bawah ini dan digambarkan dalam
suatu bagan alir yang diberikan dalam Gambar 3.4.
Lingkup pekerjaan Survei Topografi dalam penyusunan Rencana Induk Pelabuhan Waisala
meliputi:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Orientasi lapangan;
Pemasangan patok Bench Mark (BM);
Pengukuran kerangka dasar pemetaan;
Pengukuran situasi detail;
Pengukuran situasi untuk lokasi tapak bangunan;
Perhitungan dan penggambaran draft sementara di lapangan.

Tahapan pelaksanaan Survei Topografi dalam kegiatan penyusunan Rencana Induk Pelabuhan
Waisala ini adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Orientasi Lapangan dan Inventarisasi BM;


Pemasangan Bench Mark (BM);
Kerangka Dasar Pemetaan;
Pengukuran Situasi Detail/Rincian;
Pengolahan Data Survei Topografi;
Penggambaran.

3.2.3

Pelaksanaan Survei

Pengukuran Topografi dilakukan sesuai dengan lingkup kerja yang dimintakan dalam Kerangka
Acuan Kerja, yakni pengukuran lahan seluas minimal 10,0 ha pada lahan darat eksisting, lahan
perencanaan, serta lahan di sekitar lokasi rencana pengembangan Pelabuhan Waisala.
Dokumentasi pada saat pelaksanaan survei topografi rencana Pelabuhan Waisala diberikan dalam
Gambar 3.5, sedangkan deskripsi patok Bench Mark (BM) sejumlah 2 buah diberikan dalam
Gambar 3.6.
3.2.4

Hasil Survei Topografi

Hasil survei topografi menunjukan bahwa kondisi situasi dan topografi daratan lokasi rencana
pengembangan Pelabuhan Waisala merupakan dataran yang memiliki ketinggian relatif datar,
yakni berkisar 0 2,5 mdpl berupa rawa tanah dengan ilalang, dimana hal ini digambarkan dalam
suatu peta situasi topografi yang digabungkan dengan peta situasi bathimetri pada Gambar 3.7,

Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

34

sedangkan data mentah hasil survei topografi ini diberikan dalam buku laporan tersendiri berupa
Laporan Survei Lapangan.

Survei Topografi

Rencana Kerja:

Ketua Tim

diperiksa

Jadwal;
Lokasi Survei;
Personil;

disusun

Ahli Geodesi;
Ahli Perencana Pelabuhan.

Peralatan.
Surat ke instansi terkait

Pemberi Kerja

Satker Peningkatan Fungsi Pelabuhan dan Pengerukan Pusat

Pelaksanaan Survei:
Lokasi: lahan darat perencanaan pengembangan Pelabuhan Waisala;
Luas areal pengukuran min. 10 ha;
Alat survei:
Theodolit T0;
Waterpass;
Pencatat Ketinggian.
Pengolahan Data:
Kompilasi data;
Penggambaran Peta Kontur;
Penggambaran Peta Situasi.

Penyusunan Laporan

umber:

Olahan Konsultan, 2016

Gambar 3.4 Alur Pikir Metodologi Survei Topografi Rencana Pelabuhan Waisala

umber:

Survei Lapangan Konsultan, 2016

Gambar 3.5 Pelaksanaan Survei Topografi Rencana Pelabuhan Waisala

Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

umber:

Survei Lapangan Konsultan, 2016

Gambar 3.6 Deskripsi Patok Bench Mark (BM) Rencana Pelabuhan Waisala
Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

Gambar 3.7 Peta Situasi Topografi dan Bathimetri Rencana Pelabuhan Waisala
Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

3.3

Survei Pengamatan Pasang Surut

3.3.1

Pengantar

Pengembangan suatu pelabuhan tidak terlepas dari data mengenai pasang surut yang ada di
perairan tersebut dimana hal ini berpengaruh terhadap tingginya air permukaan dari permukaan
dasar laut. Survei pengamatan pasang surut ini bermaksud untuk menentukan kedudukan air
tertinggi, duduk tengah, dan air terendah yang dicapai maupun kedudukan LWS serta bertujuan
untuk menentukan bidang referensi kedalaman air laut (HWS, MSL, LWS). Referensi yang akan
digunakan sebagai Chart Datum atau garis nol kedalaman adalah LWS, dimana referensi ini
dipergunakan pula untuk mengoreksi hasil pengukuran bathimetri.
3.3.2

Metodologi Survei

Metodologi teknis survei pasang surut dalam kegiatan penyusunan Rencana Induk Pelabuhan
Waisala diuraikan dalam penjelasan singkat dan digambarkan dalam suatu bagan alir yang
diberikan dalam Gambar 3.8. Ketentuan-ketentuan yang menjadi acuan dalam pelaksanaan
pengamatan pasang surut adalah:
1. Pengamatan/pencatatan pergerakan muka air dilakukan minimum selama 15 hari terus
menerus menggunakan alat pencatat (tide gauge), dimana pencatatan dimulai pukul 00.00
waktu setempat pada hari pertama dan terakhir pada pukul 24.00 hari ke-15 (atau 24 jam x 15
hari);
2. Pengamatan pasang surut dilakukan terus menerus pada saat survei bathimetri dilakukan
dengan lama pengamatan 15 piantan dan interval pengamatan maksimal 1 serta dilaksanakan
dengan mengamati dan mencatat tinggi muka air pada palem;
3. Pengamatan pasang surut dilakukan pada area/lokasi survei yang sama sehingga diharapkan
4.
5.
6.
7.
8.

mempunyai sifat pasang surutSurvei


yang Pasang
sama; Surut
Bidang acuan tinggi muka laut diikatkan ke BM.1;
Rekaman data asli hasil pengukuran pasang surut dibuat dalam bentuk tabulasi;
Stasiun Pasang Surut tidak boleh berada pada daerah ombak pecah;
Tidak berdekatan dengan intrusi air tawar, seperti pada muara sungai;
Rencana Kerja:
Letak palem harus selalu terbenam sekalipun pada surut terendah, dan tidak terbenam pada
Jadwal;

Ahli Geodesi;
diperiksa
disusun
saat pasang tertinggi;
Lokasi Survei;
Ketua Tim
9. Konstruksi stasiun pasang surut harus kuat, tidak goyang selama
pengamatan
berlangsung,
Ahli
Perencana Pelabuhan.
Personil;

sehingga posisi palem akanPeralatan.


selalu tegak lurus dan tidak bergeser posisinya secara vertikal;
10. Konstanta pasang surut dihitung dengan menggunakan metoda Admiralty/Least Square
Pemberi Kerja
Adjusment berdasarkan data pengamatan, selama minimum
15 terkait
piantan. Hitungan
dilakukan
Surat ke instansi

Satker Peningkatan Fungsi Pelabuhan dan Pengerukan Pusat

dengan menggunakan metoda tersebut sehingga diperoleh Konstanta Harmonic S 0, M2, S2, N2,

Pelaksanaan Survei:

K1, O1, M4, MS4, K2, P1.

Lokasi: kawasan perairan sekitar Pelabuhan Waisala yang diperkirakan menjadi kawasan kepentingan pelabuhan;
Alat survei:
Palem;
Alat Pencatat.

Pengolahan Data:
Kompilasi data;
Perhitungan periode pasang surut.
Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016
Penyusunan Laporan

umber:

Olahan Konsultan, 2016

Gambar 3.8 Alur Pikir Metodologi Survei Pasang Surut Rencana Pelabuhan Waisala

3.3.3

Pelaksanaan Survei

Pengamatan pasang surut di Pelabuhan Waisala dilaksanakan dengan menggunakan pheil scale
untuk mendapatkan data yang akan diolah dengan menggunakan metode admiralty. Pengamatan
pasang surut ini dilaksanakan di wilayah perairan Pelabuhan Waisala selama 15 x 24 jam dengan
periode 30 menit. Dokumentasi pelaksanaan survei pengamatan pasang surut Pelabuhan Waisala
diberikan dalam Gambar 3.9.
3.3.4

Hasil Survei

Nilai Formzahl pasang surut di perairan rencana Pelabuhan Waisala, yakni 0,75 dengan metode
Least Square dan 0,27 dengan metode Admiralty, sehingga berdasarkan sifat pasang surut, maka
tipe pasang surut Pelabuhan Waisala ini merupakan tipe campuran condong ke harian ganda
(mixed dominan semi diurnal). Hasil survei pengamatan pasang surut Pelabuhan Waisala berupa
nilai Formzhl dan nilai elevasi pada keadaan LWS, MSL, dan HWS diberikan dalam bentuk tabel
pada Tabel 3.1 Tabel 3.2 dan grafik pasang surut hasil survei serta grafik pasang surut
perbandingan anatara survei dan analisa ramalan pada Gambar 3.10 Gambar 3.11, sedangkan

Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

data mentah hasil survei pasang surut ini diberikan dalam buku laporan tersendiri berupa Laporan
Survei Lapangan.

umber:

Survei Lapangan Konsultan, 2016

Gambar 3.9 Pelaksanaan Survei Pasang Surut Rencana Pelabuhan Waisala

Tabel 3.1

Hasil Survei Pengamatan Pasang Surut Rencana Pelabuhan Waisala


Metode Least Square

Metode Admiralty

No.

Konstituen

M2

24,59

267,88

22,91

S2

14,91

194,92

10,95

69,75

N2

3,23

265,58

1,43

-82317,93

K2

12,96

142,62

2,52

69,75

K1

19,92

-50,12

8,31

2178,58

O1

9,51

243,56

0,86

-55336,89

P1

21,17

134,40

2,74

2178,58

Amplitudo

Beda Fasa

Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

Amplitudo

Beda Fasa
-53237,45

Metode Least Square

Metode Admiralty

No.

Konstituen

M4

0,86

164,38

0,86

-106246,31

MS4

0,79

215,35

0,59

-52948,72

10

S0

Amplitudo

Amplitudo

199,41

Bil. Formazhl
Tipe Pasang Surut
umber:

Beda Fasa

Beda Fasa

199,41

0,75

0,27

Mixed Dominan Semi Diurnal

Mixed Dominan Semi Diurnal

Analisa Konsultan, 2016

Tabel 3.2

Nilai Elevasi Pasang Surut Rencana Pelabuhan Waisala


Elevasi Penting
(cm)

No.

Least Square

Admiralty

Normal

Highest Water Spring (HWS )

246,82

283,86

Mean High Water Spring (MHWS)

239,55

265,47

Mean High Water Level (MHWL)

223,26

233,28

Mean Sea Level (MSL )

199,41

199,41

Mean Low Water Level (MLWL)

174,34

165,66

Mean Low Water Spring (MLWS)

160,21

134,96

Lowest Water Spring (LWS )

155,28

112,14

II

Diikatkan pada MSL

Highest Water Spring (HWS )

47,41

84,45

Mean High Water Spring (MHWS)

40,14

66,06

Mean High Water Level (MHWL)

23,85

33,87

Mean Sea Level (MSL )

Mean Low Water Level (MLWL)

6
7

-25,07

-33,75

Mean Low Water Spring (MLWS)

-39,2

-64,45

Lowest Water Spring (LWS )

-44,13

-87,27

91,54 cm

171,72 cm

Tunggang Pasang
III

Diikatkan pada LWS

Highest Water Spring (HWS )

91,54

171,72

Mean High Water Spring (MHWS)

84,27

153,33

Mean High Water Level (MHWL)

67,98

121,14

Mean Sea Level (MSL )

44,13

87,27

Mean Low Water Level (MLWL)

19,06

53,52

Mean Low Water Spring (MLWS)

4,93

22,82

Lowest Water Spring (LWS )

umber:

Analisa Konsultan, 2016

Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

Grafik Pengamatan Pasang Surut


Pelabuhan Waisala
Provinsi Maluku
Periode 15 - 30 April 2016
3.

2.5

2.
BIG

1.5

1.

.5

Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

umber: Analisa Konsultan, 2016

Gambar 3.10 Grafik Pengamatan Pasang Surut Rencana Pelabuhan Waisala

Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

umber:Analisa Konsultan, 2016

Gambar 3.11 Grafik Pengamatan Pasang Surut Perbandingan Survei dan Analisa Ramalan Rencana Pelabuhan Waisala

Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

3.4

Survei Pengamatan Arus

3.4.1

Pengantar

Survei pengamatan arus bertujuan untuk mendapatkan besaran kecepatan dan arah arus yang
akan berguna dalam penentuan sifat dinamika perairan lokal.
3.4.2

Metodologi Survei

Metodologi teknis survei pengamatan arus dalam kegiatan penyusunan Rencana Induk Pelabuhan
Waisala Provinsi Maluku ini dijabarkan secara singkat dalam uraian di bawah ini dan digambarkan
dalam suatu bagan alir yang diberikan dalam Gambar 3.12.

Survei Pengamatan Arus

Rencana Kerja:

Ketua Tim

diperiksa

Jadwal;
Lokasi Survei;
Personil;

disusun

Ahli Geodesi;
Ahli Perencana Pelabuhan.

Peralatan.
Surat ke instansi terkait

Pemberi Kerja

Satker Peningkatan Fungsi Pelabuhan dan Pengerukan Pusat

Pelaksanaan Survei:
Lokasi survei: kawasan perairan rencana Pelabuhan Waisala yang diperkirakan menjadi kawasan kepentingan pelabuhan;
Waktu pengamatan: 5 hari berturut-turut, 24 jam, 2 sesi pengukuran (pagi dan sore), spring tide dan neap tide;
Kedalaman 0,2 d, 0,6 d, dan 0,8 d
(d = kedalaman lokasi pengamatan arus);
Alat survei:
Currentmeter Tohodenta MC2;
Perahu;
Tali;
Pemberat.
Alat survei:
Palem;
Alat Pencatat.
Pengolahan Data:
Kompilasi data;
Perhitungan Arus.

Penyusunan Laporan

umber:

Olahan Konsultan, 2016

Gambar 3.12 Alur Pikir Metodologi Survei Pengamatan Arus Rencana Pelabuhan Waisala

Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

3.4.3

Pelaksanaan Survei

Durasi pengukuran arus pada stasiun pengukuran dilakukan selama 25 jam dengan interval
pengambilan data setiap satu jam. Pengukuran dilaksanakan pada 2 titik lokasi di wilayah perairan
Pelabuhan Waisala. Pengukuran pada setiap stasiun dan setiap even pengukuran dilaksanakan
pada tiga kedalaman (d) yaitu pada setiap 0,2d; 0,6d; dan 0,8d dengan menggunakan alat Current
Meter OTT Hydrological Services Germany no. seri 055-BI 98-28. Dokumentasi pelaksanaan
survei pengamatan arus Pelabuhan Waisala diberikan dalam Gambar 3.13.

umber:

Survei Lapangan Konsultan, 2016

Gambar 3.13 Pelaksanaan Survei Pengamatan Arus Rencana Pelabuhan Waisala

3.4.4

Hasil Survei

Hasil pengamatan arus di lokasi rencana Pelabuhan Waisala didapatkan bahwa kecepatan arus
secara keseluruhan di wilayah perairan Waisala ini sangatlah kecil dengan rata-rata kecepatan 0
0,25 m/det, yang artinya wilayah ini relatif aman dari gelombang dan aman untuk dijadikan areal
sandar kapal, mengingat pula wilayah perairan rencana Pelabuhan Waisala ini berupa teluk. Hasil
pengamatan arus rencana Pelabuhan Waisala diberikan dalam bentuk tabel yang disampaikan
pada Tabel 3.3 Tabel 3.4, sedangkan grafik perbandingan arus dan pasang surut serta current
rose rencana Pelabuhan Waisala diberikan dalam Gambar 3.14 Gambar 3.17.

Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

Tabel 3.3

Pengamatan Arus Rencana Pelabuhan Waisala Titik Sta. 1

Hari/Tgl.:

Dusun Masika Jaya, Desa Waisala, Kec. Huamual Belakang,


Kab. Seram Bagian Barat, Prov. Waisala
Ahad Senin, 17 18 April 2016

Koord.:

0391347 T, 9660054 U

Kedalaman (D):

15 m

Jam

Arah
(0)

Lokasi:

No.

Pasut
(cm)

Kecepatan (m/dtk)
0,2D

0,6D

0,8D

17:00:00

50

0,01

0,01

0,01

199

18:00:00

310

0,05

0,00

0,00

204

19:00:00

290

0,04

0,02

0,00

208

20:00:00

300

0,01

0,01

0,01

211

21:00:00

20

0,05

0,06

0,09

212

22:00:00

120

0,01

0,02

0,01

212

23:00:00

310

0,01

0,02

0,02

213

00:00:00

330

0,00

0,02

0,03

207

01:00:00

300

0,00

0,01

0,00

201

10

02:00:00

80

0,00

0,00

0,00

194

11

03:00:00

120

0,00

0,00

0,00

194

12

04:00:00

140

0,00

0,00

0,00

195

13

05:00:00

40

0,01

0,01

0,01

197

14

06:00:00

60

0,01

0,00

0,00

199

15

07:00:00

220

0,01

0,00

0,01

189

16

08:00:00

240

0,01

0,01

0,00

197

17

09:00:00

270

0,01

0,01

0,00

202

18

10:00:00

220

0,01

0,00

0,00

209

19

11:00:00

290

0,02

0,01

0,00

212

20

12:00:00

270

0,01

0,00

0,00

218

21

13:00:00

270

0,01

0,01

0,01

211

22

14:00:00

30

0,04

0,02

0,01

205

23

15:00:00

70

0,02

0,01

0,00

197

24

16:00:00

50

0,04

0,03

0,02

195

25

17:00:00

80

0,03

0,02

0,01

188

umber:

Analisa Konsultan, 2016

Tabel 3.4

Pengamatan Arus Rencana Pelabuhan Waisala Titik Sta. 2

Hari/Tgl.:

Dusun Masika Jaya, Desa Waisala, Kec. Huamual Belakang,


Kab. Seram Bagian Barat, Prov. Waisala
Ahad Senin, 17 18 April 2016

Koord.:

0391347 T, 9660054 U

Kedalaman (D):

15 m

Jam

Arah
(0)

Lokasi:

No.

Pasut
(cm)

Kecepatan (m/dtk)
0,2D

0,6D

0,8D

17:00:00

180

0,08

0,08

0,07

208

18:00:00

290

0,05

0,05

0,04

214

19:00:00

300

0,05

0,11

0,01

224

20:00:00

280

0,06

0,06

0,02

226

21:00:00

120

0,05

0,05

0,02

219

Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

Lokasi:
Hari/Tgl.:

Dusun Masika Jaya, Desa Waisala, Kec. Huamual Belakang,


Kab. Seram Bagian Barat, Prov. Waisala
Ahad Senin, 17 18 April 2016

22:00:00

150

0,07

0,07

0,05

217

23:00:00

100

0,08

0,05

0,03

204

00:00:00

80

0,11

0,05

0,04

195

01:00:00

90

0,11

0,05

0,05

191

10

02:00:00

100

0,10

0,09

0,11

184

11

03:00:00

60

0,11

0,11

0,12

177

12

04:00:00

190

0,09

0,10

0,06

184

13

05:00:00

120

0,08

0,07

0,08

189

14

06:00:00

50

0,11

0,08

0,08

198

15

07:00:00

290

0,10

0,12

0,12

199

16

08:00:00

280

0,24

0,14

0,15

205

17

09:00:00

310

0,25

0,20

0,20

209

18

10:00:00

320

0,18

0,15

0,16

212

19

11:00:00

290

0,14

0,11

0,09

214

20

12:00:00

320

0,05

0,06

0,05

206

21

13:00:00

250

0,05

0,05

0,07

201

22

14:00:00

300

0,05

0,05

0,04

195

23

15:00:00

80

0,07

0,09

0,06

195

24

16:00:00

50

0,10

0,10

0,08

195

25

17:00:00

80

0,09

0,07

0,07

199

umber:

Analisa Konsultan, 2016

umber:

Analisa Konsultan, 2016

Gambar 3.14 Perbandingan Pengamatan Arus dan Pasang Surut Rencana Pelabuhan Waisala
Sta. 1

Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

umber:

Analisa Konsultan, 2016

Gambar 3.15 Perbandingan Pengamatan Arus dan Pasang Surut Rencana Pelabuhan Waisala
Sta. 2

umber:

Analisa Konsultan, 2016

Gambar 3.16 Current Rose Rencana Pelabuhan Waisala Sta. 1

Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

STAND 2
umber:

Analisa Konsultan, 2016

Gambar 3.17 Current Rose Rencana Pelabuhan Waisala Sta. 2

3.5

Hasil Kuisioner dan Wawancara

Wawancara dan diskusi dilakukan bersama pihak KUPP Waisarisa, Kepala Dusun Masika Jaya,
Pihak Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat yang diwakili instansi Badan Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah, Dinas Perhubungan, Dinas Pekerjaan Umum, Badan
Pertanahan Negara, yang dilakukan selama beberapa kali di lokasi rencana Pelabuhan Waisala
dan di Piru, dimana masing-masing instansi diwakili oleh staff yang ditunjuk oleh Kepala Dinas
masing-masing instansi.
Beberapa hal mengenai wilayah Dusun Masika Jaya berdasarkan wawancara dengan pihak-pihak
terkait di atas mengenai rencana pembangunan dan pengembangan Pelabuhan Waisala antara
lain adalah:
1. Lokasi Dusun Masika Jaya memang merupakan salah satu wilayah yang akan dikembangkan
menjadi salah satu simpul transportasi laut oleh Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat,
dimana saat ini terdapat dermaga kayu yang dibangun oleh Desa Waisala pada tahun 2001
dengan dimensi panjang trestle 34 m lebar 2 m serta dermaga dengan panjang 6 m dan lebar
2 m, serta lahan daratan berukuran 10 x 15 m;
2. Secara umum, pergerakan orang dan barang dari dan ke wilayah Desa Waisala, sebagian
besar melalui Dusun Masika Jaya, dalam hal ini transportasi laut, mengingat akses jalan darat
yang masih buruk menuju pusat kegiatan yang lebih tinggi hierarkinya, yakni Piru;

Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

3. Pergerakan orang dan barang melalui Dusun Masika Jaya adalah dari dan menuju 3 pulau
yang berada di depan daratan lokasi rencana, yakni Pulau Buano, Pulau Kelang, dan Pulau
Manipa, serta Ambon;
4. Pergerakan barang selama ini masih berupa pesanan dari luar daerah, berupa pesanan
beberapa olahan hasil bumi, antara lain minyak kayu putih dalam kemasan curah, biji kakao,
ikan, dan sejumlah kecil kopra serta ternak;
5. Seluruh pergerakan baik penumpang maupun barang sampai saat ini belumlah tercatat baik di
KUPP Waisarisa maupun BPS atau dinas lainnya.
Oleh karena itu berdasarkan potensi-potensi di atas, maka pihak KUPP Waisarisa dan Pemerintah
Daerah Kabupaten Seram Bagian Barat, khususnya pihak Dusun Masika Jaya sangat mendukung
rencana pembangunan dan pengembangan Pelabuhan Waisala, dimana bentuk dukungannya
berupa:
1. Kesiapan penyerahan kepemilikan lahan untuk dipergunakan segala hal yang mendukung
terbangun dan beroperasinya pelabuhan. Untuk itu masyarakat telah sepakat menyerahkan
lahan seluas 4.557 m2 (73,5 m x 62 m) di lokasi rencana pembangunan pelabuhan kepada
pihak KUPP Waisarisa, dimana surat tertulis penyerahan lahan tersebut diberikan dalam
Gambar 3.18;
2. Kesiapan pembangunan jalan akses pelabuhan dari pusat Dusun Masika Jaya ke lokasi
rencana pelabuhan.
3.6

Hasil Focus Group Discussion (FGD)

Rapat FGD terkait rencana pembangunan dan pengembangan Pelabuhan Waisala, Desa Masika
Jaya, Desa Waisala, Kecamatan Huamual Belakang, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi
Maluku dilaksanakan pada hari Kamis, 21 April 2016 di ruangan rapat Kantor UPP Kelas III
Waisarisa Wilayah Kerja Pelabuhan Hatu Piru, di Piru. Beberapa dokumentasi rapat FGD ini serta
bukti kehadiran para pihak yang menghadiri rapat diberikan dalam Gambar 3.19 Gambar 3.20,
sedangkan para pihak yang menghadiri rapat FGD ini, yakni:
1. Konsultan Penyusun RIP Kementarian Perhubungan, PT. Ditori Geokarya Teknik;
2. KUPP Waisarisa, Bapak Sunarko, sebagai Pimpinan Rapat;
3. Sub Direktorat Pengembangan Pelabuhan, Direktorat Pelabuhan dan Pengerukan, Direktorat
Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, Bapak M.
Suhendra;
4. Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Seram Bagian Barat, Ibu Marlen
Lewerissa;
5. Dinas Perhubungan Kabupaten Seram Bagian Barat, Bapak Tri Von Bulow;
6. Dinas Tata Ruang dan Permukiman Kabupaten Seram Bagian Barat, Bapak H. F. Joseph;
7. Kantor Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Seram Bagian Barat, Bapak J. Takalele.

Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

umber:

KUPP Waisarisa, 2016

Gambar 3.18 Surat Penyerahan Lahan di Lokasi Rencana Pelabuhan Waisarisa


Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

umber:

Basis Data Konsultan, 2016

Gambar 3.19 Dokumentasi Pelaksanaan Rapat Focus Group Discussion (FGD) Rencana
Pelabuhan Waisala

Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

umber:

Basis Data Konsultan, 2016

Gambar 3.20 Bukti Kehadiran Para Pihak yang Menghadiri Rapat FGD Rencana Pelabuhan Waisala

Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

Pembahasan rapat FGD tersebut antara lain adalah:


1. Konsultan PT. Ditori Geokarya Teknik menyampaikan laporan pendahuluan pekerjaan sebagai
berikut:
a. Lokasi studi terletak di Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku;
b. Hierarki Pelabuhan Waisala berdasarkan Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN)
adalah Pelabuhan Pengumpan Lokal;
Gambaran Umum Wilayah Studi yang meliputi:
1) Letak Administrasi Kabupaten Seram Bagian Barat;
2) Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Seram Bagian Barat;
3) Peta Infrastruktur;
4) Data kependudukan Kabupaten Seram Bagian Barat;
5) PDRB Kabupaten Seram Bagian Barat;
6) Kondisi klimatologi Kabupaten Seram Bagian Barat.
d. Kondisi Eksisting Pelabuhan Waisala meliputi:
1) Fasilitas;
2) Operasional;
3) Bathimetri-topografi;
4) Pasang surut-arus gelombang;
5) Layout Pelabuhan.
e. Rencana kerja dan jadwal pelaksanaan.
2. Perwakilan KUPP Pelabuhan Waisala menyampaikan saran dan masukan sebagai berikut:
a. Jalan akses ke Pelabuhan Waisala perlu perbaikan;
b. Sebagian lahan di sekitar lokasi pelabuhan milik masyarakat;
c. Mendukung terhadap rencana pemerintah dalam rangka rencana pembangunan
c.

Pelabuhan Waisala.
3. Tim Evaluasi Sub Direktorat Pengembangan Pelabuhan, Direktorat Pelabuhan dan
Pengerukan, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan Republik
Indonesia menyampaikan saran dan masukan sebagai berikut:
a. Kejelasan lahan pelabuhan, hibah lahan ke Kementerian Perhubungan dan bagaimana
dukungan Pemda serta BPN agar lahan pelabuhan dapat disertifikasikan atas nama
Kemenhub cq. Dirjen Perhubungan Laut;
b. Dukungan Pemda untuk penyediaan lahan/pengembangan jalan akses pelabuhan;
c. Dukungan dan komitmen pemda untuk menertibkan hal-hal yang mengganggu operasional
semisal penertiban calo, PKL, dan lain-lain;
d. Komitmen Pemda untuk memberikan rekomendasi kesesuaian RIP dengan
RTRW/Penetapan RIP berdasarkan peraturan sesuai dengan hierarki pelabuhan;
e. Dukungan dan komitmen lain yang menurut analisa bapak/ibu dibutuhkan demi
peningkatan kinerja dan kualitas pelabuhan.
4. Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Seram Bagian Barat,
menyebutkan:
a. Rencana pembangunan Pelabuhan Waisala sudah sesuai dengan RTRW Kab. Seram
Bagian Barat 2010 2030 dan pemerintah mendukung sepenuhnya terhadap rencana
pembangunan pelabuhan di Waisala;
b. Sanggup untuk membantu segala kelancaran terhadap proses selanjutnya dalam rangka
rencana pelaksanaan Pembangunan Pelabuhan Waisala kedepannya.
5. Dinas Perhubungan Kabupaten Seram Bagian Barat menyebutkan:
a. Sudah ada kenaikan status ruas jalan Piru ke Waisala dari status jalan provinsi ke jalan
nasional di tahun 2016;
b. Adanya dukungan secara lisan dari Kepala Desa untuk penyerahan lahan yang akan
digunakan untuk kepentingan Pelabuhan Waisala dan melarang pembangunan di wilayah
tersebut selain untuk kepentingan Pelabuhan Waisala.

Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

6. Dinas Tata Ruang dan Pemukiman Kabupaten Seram Bagian Barat menyebutkan:
a. Menanyakan tentang kejelasan status lahan untuk akses ke Pelabuhan Waisala harus
jelas dulu sebelum dibangun;
b. Diusahakan jalan akses ke pelabuhan minimum lebar jalannya 8 10 m.
7. Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Seram Bagian Barat menyebutkan:
a. Status tanah di sekitar Pelabuhan Waisala adalah tanah negara;
b. Apabila diperlukan pembebasan lahan dengan luas areal di bawah 5 ha, proses ganti
ruginya bisa dilakukan sesuai dengan jual beli tanah seperti pada umumnya dengan harga
c.

sesuai dengan NJOP setempat;


Apabila diperlukan pembeibasan lahan lebih dari 5 ha, maka proses pembebasannya
sesuai dengan perundangan yang berlaku dan proses pembayarannya pun dilakukan
melalui rekening bank.

Beberapa hal yang menjadi kesimpulan rapat FGD mengenai rencana pembangunan dan
pengembangan Pelabuhan Waisarisa antara lain adalah:
1. Pada prinsipnya Pemerintah Daerah Kabupaten Seram Bagian Barat sangat setuju sekali
dengan adanya rencana Pembangunan Pelabuhan Waisala di Dusun Masika Jaya;
2. Bentuk dukungan yang akan dilakukan oleh Pemda setempat adalah membantu terhadap
proses pengalihan status tanah di sekitar rencana Pelabuhan Waisala kepada Kementerian
Perhubungan cq. Dirjen Perhubungan Laut;
3. Hal-hal lainnya yang mendukung kelancaran proses pembangunan Pelabuhan Waisala.

3.7

Dokumentasi Lapangan

Beberapa dokumentasi mengenai orientasi pencapaian dan situasi lokasi rencana Pelabuhan
Waisala pada saat survei lapangan yang dilakukan konsultan diberikan dalam Gambar 3.21
Gambar 3.22.

Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

umber:

Survei Lapangan Konsultan, 2016

Gambar 3.21 Dokumentasi Orientasi Pencapaian Lokasi

Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

umber:

Survei Lapangan Konsultan, 2016

Gambar 3.22 Dokumentasi Lokasi Rencana Pelabuhan Waisala

3.8

Status Lahan Pelabuhan

Status lahan yang menjadi lahan rencana Pelabuhan Waisala dikalim sebagai tanah milik
masyarakat Dusun Masika Jaya, dimana telah ada sebagian lahan seluas 4.557 m 2 (73,5 m x 62
m) yang telah diserahkan oleh masyarakat melalui pihak kecamatan kepada pihak KUPP
Waisarisa. Lokasi lahan hibah ini diberikan dalam peta pada Gambar 3.24.
3.9

Kondisi Akses Jalan Pelabuhan

Akses jalan menuju lokasi rencana Pelabuhan Waisala saat ini belum tersedia, dimana pencapaian
menuju lokasi rencana pelabuhan berupa masih berupa jalan setapak melalui semak dan rawa,
dimana dokumentasi jalan akses eksisting diberikan dalam Gambar 3.23.

Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

umber:

Survei Lapangan Konsultan, 2016

Gambar 3.23 Kondisi Jalan Akses menuju Lokasi Rencana Pelabuhan Waisala

Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016

umber:

Survei Lapangan dan Olahan Konsultan, 2016

Gambar 3.24 Lahan Hibah Masyarakat ke KUPP Waisarisa untuk Rencana Pelabuhan Waisala
Rencana Induk Pelabuhan Waisala Provinsi Maluku 2016