Anda di halaman 1dari 5

PRINSIP PERAWATAN SALURAN AKAR

Perawatan saluran akar terdiri dari tiga tahap (Triad Endodontik), yaitu (1) preparasi
biomekanis meliputi pembersihan dan pembentukan, (2) sterilisasi yang meliputi irigasi dan
disinfeksi serta (3) pengisian saluran akar.
Preparasi biomekanis yaitu pembuangan jaringan pulpa dengan cara ekstirpasi jaringan yang
vital maupun nekrotik. Preparasi saluran akar yang ideal meliputi 4 tahap, yaitu:
a.
b.
c.
d.

Menentukan arah saluran akar.


Membersihkan saluran akar.
Membentuk saluran akar.
Preparasi daerah apical

Selama proses preparasi saluran akar dilakukan irigasi untuk membersihkan sisa jaringan
pulpa, jaringan nekrotik dan serbuk dentin (Cohen dan Hargreaves, 2006). Irigasi adalah
pengambilan fragmen kecil-kecil debris organik dan serpihan dentin dari saluran akar. Tindakan
irigasi adalah salah satu kunci keberhasilan dalam perawatan endodontik. Sebab jika diabaikan
dapat menyebabkan kegagalan perawatan endodontik. Karena dinding saluran akar yang tidak
bersih dapat menjadi tempat persembunyian bakteri, mengurangi perlekatan bahan pengisi
saluran akar dan meningkatkan celah apikal. Tujuan irigasi saluran akar yaitu: (1) mengeluarkan
debris, (2) melarutkan jaringan smear layer, (3) antibakteri, (4) sebagai pelumas (Johason dan
Noblet, 2009). Adapun sifat bahan irigasi yang ideal adalah merupakan pelarut debris atau
pelarut jaringan, tidak toksis, memiliki tegangan permukaan rendah, sebagai pelumas, mampu
membuang smear layer serta bahan irigasi tidak mudah dinetralkan dalam saluran akar agar
efektivitasnya tetap terjaga. Bahan irigasi yang biasa dipakai adalah yang mempunyai sifat
antiseptik artinya suatu bahan yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme secara in
vitro dan in vivo pada jaringan hidup.

Berbagai teknik irigasi yang digunakan juga telah berkembang. Teknik irigasi yang
digunakan secara sederhana adalah dengan menggunakan alat semprit disposible 12 ml berupa
jarum berlubang dengan ujung buntu dan bertakik. Kemudian dengan menggunakan alat khusus
yaitu spuit endodonti dengan ujung jarum pipih untuk mencegah penetrasi ke dalam saluran akar
yang berdiameter kecil agar debris pada saluran akar dapat keluar.

Gambar 1. Spuit endodonti


Gambar 1 menunjukkan suatu spuit endodonti berupa jarum berlubang dengan ujung buntu serta
penampang saluran akar gigi. Tanda panah di atas menunjukkan lubang jarum yang merupakan
tempat keluarnya bahan irigasi ke arah lateral sehingga menyebabkan perforasi ke arah lateral
dan jika mengenai jaringan periapikal. Jadi dengan menggunakan alat ini tekanan harus diatur
sedemikian rupa agar bahan irigasi dapat keluar secara konstan.

Gambar 2. Jarum irigasi bengkok dimasukkan sebagian ke dalam saluran akar tanpa terjepit.
Larutan irigasi merembes keluar dan diabsorpsi dengan kain kasa steril, untuk memonitor
pengambilan debris dari saluran akar

Gambaran jarum endodonti di dalam saluran akar (Gambar 2), menunjukkan jarum harus
dibengkokkan menjadi sudut tumpul untuk mencapai saluran akar gigi depan dan belakang.
Jarum dimasukkan sebagian ke dalam saluran dan harus ada ruang yang cukup antara jarum dan
dinding saluran yang memungkinkan pengaliran kembali larutan dan menghindari penekanan ke
dalam jaringan periapikal.
Dan teknik yang terbaru adalah dengan menggunakan teknik Ultrasound, dengan prinsip
kerja negative pressure. Artinya alat-alat yang digunakan pada sistem ini harus memiliki
pergerakan dan perputaran selama irigasi berlangsung tanpa berkontak atau menyentuh dinding
saluran akar (seperti roda berputar). Tujuan akhir dari teknik irigasi yang akan digunakan adalah
untuk mendapatkan saluran akar yang bersih artinya bebas dari mikroorganisme.

Gambar 3. EndoVac sistem menggunakan np2


Tahap terakhir dari perawatan saluran akar adalah pengisian saluran akar atau obturasi.
Pengisian saluran akar bertujuan untuk memberikan penutupan yang sempurna dalam saluran
akar. Penutupan ini akan mencegah bakteri dan racun mengalir menuju jaringan periapikal serta
sebaliknya sehingga saluran akar tetap steril dari iritasi yang berasal dari jaringan apikal. Hal ini
dapat diperoleh dengan cara menciptakan kerapatan sempurna pada sistem saluran akar yaitu dari
koronal sampai apical. Pengisian saluran akar bertujuan menutup saluran akar dan menutup

semua pintu masuk yang terdapat antara periodonsium dan saluran akar. Pengisian saluran akar
diperoleh dengan memasukkan suatu bahan pengisi ke dalam ruangan yang sebelumnya
ditempati oleh jaringan pulpa, sehingga mencegah infeksi berulang. Bahan pengisi saluran akar
dari bahan utama yang berbentuk padat misalnya guta perca, dan bahan semipadat yang
berbentuk pasta disebut siler saluran akar. Bahan pengisi saluran akar yang ideal mampu mengisi
sistem saluran akar secara sempurna sampai batas apikal dan tidak sampai masuk ke jaringan
periapikal sehingga menutup rongga pulpa dari kamar pulpa tepat pada penyempitan apikal.
Untuk mendapatkan hasil obturasi yang baik bagian terbesar dari saluran akar diisi dengan bahan
padat seperti konus guta perca dan celah celah dinding saluran akar diisi dengan pasta siler
saluran akar yang dapat beradaptasi dengan dinding saluran akar.
Siler adalah substansi yang membantu menghasilkan perlekatan yang kuat antara dua
permukaan. Tujuan dari siler saluran akar adalah untuk mencegah rekolonisasi bakteri serta
rekontaminasi dari sistem saluran akar, untuk mencegah pertumbuhan bakteri residu pada sistem
saluran akar serta untuk menghilangkan celah antara bahan pengisi utama dan dinding saluran
akar. Siler dapat diperoleh dengan mencampur serbuk dan cairan, kemudian campuran tersebut
dapat mengeras. Menurut bahan dasarnya siler dapat diklasifikasikan menjadi siler dengan bahan
dasar seng oksid eugenol, resin, kalsium hidroksida, silikon dan ionomer kaca. Siler saluran akar
berbahan dasar resin yang ada di pasaran saat ini contohnya adalah RealSeal. Siler saluran akar
berbahan dasar kalsium hidroksida contohnya Sealapex.

DAFTAR PUSTAKA

Cohen S., dan Hargreaves, K.M.. 2006. Pathways of the Pulp. 9th ed., Mosby Elsevies, St. Louis,
262-281; 318-348.
http://etd.repository.ugm.ac.id/downloadfile/70379/potongan/S1-2014-149728-chapter1.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/30054/4/Chapter%20II.pdf