Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

DINASTI UMAYYAH II
( Bani Umayyah 2 )
Diajukan untuk memenuhi tugas mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)

Disusun Oleh : Kelompok 2


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Madroji
Fahrul
Hasbi As Sidiqgi
Al Farizi
Neng santi
Ernawati

YAYASAN MANBA EL-KHAIR


MADRASAH ALIYAH RANCARANJI
TAHUN PELAJARAN 2016 - 2017
Jl. Ki. Sarnaja No. 05 Rancaranji Ds. Kramatlaban Kec. Padarincang
Kab. Serang - Banten

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Esa atas segala rahmat-NYA sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga mengucapkan
banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan
memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih
banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Padarincang, 03 Agustus 2016


Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ............................................................................................i


Daftar isi ......................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ...........................................................................1
A. Latar Belakang ................................................................................1
B. Rumusan Masalah ...................................................................................1
C. Tujuan .............................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.

Proses Berdirinya Dinasti Umayyah 2 ............................................2


Perkembangan Pada Masa Dinasti Umayyah 2...............................3
Masa Kejayaan ................................................................................4
Para Pemimpin ................................................................................5
Bentuk Pemerintahan ......................................................................5
Masa Berahirnya Dinasti Umayyah 2 .............................................5

BAB III PENUTUP .....................................................................................8


Kesimpulan ...........................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................10

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kita sebagai uamat muslim tentunya berpedoman terhadap Al-Quran dan Assunnah. Namun kebanyakan orang awam mereka meninggalkan As-sunnah dengan
bentuk penolakan. Padahal sunnah dalam syariat berkedudukan sebagai penguat
hukum yang sudah ada di dalam Al-Quran.
Inilah dalam pembahasan ini bukan sunnah dalam pengertian fiqih, yaitu sesuatu
yang dikerjakan mendapat pahala dan ditinggalkan tidak apa-apa. Sebagaiman
firman Allah Dan kami sudah menurunkan peringatan kepadamu agar kamu

menerangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada manusia (Q.S. An


Nahl: 44). Demikianlah karena sebagian besar ayat-ayat Al-Quran yang
mengandung hukum masih merupakan suatu hal yang garis besar, sedang untuk
jelasnya diperlukan suatu keterangan dari nabi.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu As-Sunnah?
2. Bagaimana kedudukan As-Sunnah?
3. Bagaimana pembagian As-Sunnah?
4. Bagaimana cara pengamalan As-Sunnah?
5. Apa hubungan As-Sunnah dengan Al-Quran?
C. Tujuan
Tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu
tugas mentoring agama. Selain itu, tujuan pembuatan makalah ini untuk mengetahui
pengertian As-Sunnah, pembagian As-Sunnah, kedudukan As-Sunnah, cara
pengamalan As-sunnah, dan sebagainya.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian As-sunnah
Berikut ini adalah beberapa pengertian mengenai As-Sunnah :
1. As-Sunnah menurut syariat adalah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi
saw dalam bentuk qaul (ucapan), fiil (perbuatan), taqrir (penetapan), sifat
tubuh serta akhlak yang dimaksudkan dengannya tasyri (pensyariatan) bagi
umat Islam.
2. As-Sunnah menurut bahasa adalah jalan atau tuntunan baik yang terpuji
maupun tercela.

3. Segala hal yang diriwayatkan dari Rasulullah saw baik berupa ucapan,
perbuatan maupun pembenaran atas segala sesuatu perkara begitu juga sifat
jasmani dan akhlak.
4. As-Sunnah menurut bahasa Arab adalah ath-thariqah yang berarti metode,
kebiasaan, perjalanan hidup atau perilaku yang baik maupun buruk.
5. As-Sunnah adalah sesuatu yang dinukil dari Nabi saw dan sekaligus
merupakan penjelasan Al-Quran. ( Asy-Syatibi, Al-Muwafat 4:47).
6. As-Sunnah adalah ketetapan dari Nabi saw yang bukan fardhu dan bukan
wajib (Asy-Syaukani, Irsyadul Fuhul 31).
B. Pembagian As-sunnah
Dilihat dari pembagiannya, As-sunnah dibagi menjadi dua yaitu mutawatir dan
ahad. Kemudian golongan Hanafi menambahkan satu lagi yaitu masyhur atau
mustafidl.
As-sunnah mutawatir adalah sunnah yang diriwayatkan dari Rasulullah saw oleh
sekelompok perawi yang menurut kebasaannya perawi ini tidak mungkin bersepakat
untuk berbohong atau berdusta.
As-sunnah ahad adalah sunnah yang diriwayatkan oleh satu atau dua orang atau
kelompok yang keadaannya tidak sampai pada tingkatan tawatir.
As-sunnah masyur adalah sunnah yang diriwayatkan dari Rasulullah saw oleh
seorang atau dua orang atau kelompok sahabat Rasulullah yang tidak sampai pada
kelompok tawatir, kemudian dari kelompok-kelompok tawatir itu meriwayatkan
hadits atau sunnah tersebut dari satu orang perawi atau beberapa orang perawi.
Perbedaan antara As-Sunnah mutawatir dan masyur adalah yang mutawatir setiap
lingkungan mata rantai sanadnya terdiri dari kelompok tawatir, sejak awal menerima
dari rasulullah hingga sampai kepada kita, sedangkan yang masyhur lingkungan mata
rantai sanadnya yang pertama bukanlah kelompok di antara kelompok-kelompok
tawatir, bahkan diterimanya oleh seorang atau dua orang atau sekelompok yang tidak
sampai kepada tingkatan tawatir. Hanya saja keseluruhan lingkungan itu merupakan
kelompok tawatir.

C. Kedudukan As-sunnah
1. Kedudukan As-Sunnah dalam Islam
As-sunnah adalah sumber hukum Islam setelah Al-Quran. Bagi mereka yang

telah beriman kepada Al-Quran sebagai sumber hukum, maka secara otomatis harus
percaya bahwa As-Sunnah sebagai sumber Islam juga.
Dalil yang menunjukkan wajibnya kita mengambil As-Sunnah sebagai sumber
hukum Islam disamping Al-Quran adalah sebagai berikut :
1. Setiap mumin harus taat kepada Rasul-nya, selain taat kepada Allah SWT.


wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatilah Rasul-nya
(Q.S. Annisa 4:59).
2. Hukum taat kepada rasul sama dengan taat kepada Allah SWT
barang siapa mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah (Q.S.
Annisa 4:80).
3. Bila mengikutinya, kita akan dicintai Allah dan mendapat ampunan-Nya.

Katakanlah wahai Muhammad : jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah
aku niscaya Allah mengasihimu dan mengempuni dosa-dosamu (Q.S. Ali imron :
31).
4. Ajakan Rasul membawa kehidupan yang benar dan harus menjadi tauladan
hidup.

hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan rasul apabila Rasul
menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan (Q.S.Al Anfal:24).
2. Kedudukan As-Sunnah dalam Syariat Islam
Dalil Al-Quran sebelumnya memberikan petunjuk yang sangat penting dalam
kedudukan As-Sunnah dalam syariat islam di antaranya :
1. Tidak ada perbedaan antara hukum Allah dan Rasul-Nya.
2. Tidak boleh seseorang mendahului Rasul sebagaimana ia tidak boleh
mendahului Allah.
3. Taat kepada Rasul berarti taat kepada Allah.

4. Orang yang berpaling taat dari Rasul berarti termasuk orang kafir.
5. Bila terjadi perselisihan dalam agama, maka wajib kembali kepada Allah dan
Rasul.
6. Orang yang menyalahi perintah Rasul akan mendapat akibat yang buruk di
dunia dan akhirat,
7. Taat kepada nabi penyebab utama masuknya seseorang ke syurga dan
memperoleh sukses yang besar.
8. Setiap yang diperintahkan Rasul wajib kita mengikuti dan yang dilarang
wajib kita jauhi.
9. Apa-apa yang diharamkan Rasul sama dengan apa yang diharamkan Allah.
10. Manusia bisa selamat dari kesesatan dan penyelewengan hanyalah dengan
berpegang kepada Al-Quran dan As-Sunnah.
11. Kewajiban mengikuti As-Sunnah mencakup masalah aqidah maupun ahkam
dan meliputi seluruh perkara agama.
D. Pengamalan As-sunnah
Kaidah dalam mengamalkan

sunnah adalah mempertimbangkan

antara

mashlahah (kemaslahatan) dan mafsadah (kerusakan). Contoh pengamalan assunnah di antaranya melunakkan hati kaum muslimin, meninggalkan perkara yang
mustahab, mengerjakan suatu amalan soleh, mengerjakan wudlu, mengerjakan salat
sunat, dan sebagainya.
E. Hubungan As-sunnah dengan Al-Quran
Ditinjau dari hukum yang ada, maka hubungan As-Sunnah dengan Al-Quran di
antaranya sebagai berikut :
1. As-sunnah berfungsi sebagai penguat hukum yang sudah ada dalam Al-Quran.
2. As-sunnah berfungsi sebagai penafsir atau pemerinci hal-hal yang disebut secara
mujmal dalam Al-quran atau memberikan taqyid, atau memberikan takhshih
dari ayat-ayat Al-Quran yang mutlaq dan am.
3. As-sunnah berfungsi menetapkan dan membentuk hukum-hukum yang tidak
terdapat di dalam Al-Quran.
F. Perintah Al-Quran Agar Berhukum Dengan As-sunnah
Di dalam Al-quran banyak ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk berhukum
dengan As-sunnah di antaranya :
1.

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan
yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan
ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa

mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang
nyata. (Q.S. Al-Ahjab :36).

2.

Katakanlah: hendaklah kamu taat kepada Allah dan Rasul. Tetapi jika kamu
berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang kafir.
(Q.S. Ali Imran: 32).
3.

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantahbantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan
bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.(QS. 8:46)
4.

Barang siapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke


dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai ia kekal di dalamnya; dan
itulah kemenangan yang besar. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya
dan melanggar ketentuannya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka
sedang ia kekal di dalamnya dan mendapatkan siksa yang menghinakan. (Q.S. Annisa : 13-14)

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dilihat dari pembahasan yang telah dijelaskan kesimpulan dari As-Sunnah
adalah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi saw berupa pekataan, perbuatan,
persetujuan, larangan yang ditujukan sebagai syariat. Kedudukannya sangat
tinggi dalam Islam di mana As-Sunnah merupakan sumber hukum, syariat Islam
tertinggi setelah Al-Quran, dan sumber kedua setelah Al-Quran. As-sunnah
sangat dibutuhkan oleh Al-Quran karena ia sebagai penjelas, bahkan As-sunnah
sama seperti Al-Quran dari sisi wajib ditaati dan diikuti. Berpegang teguh
kepada Al-Quran dan As-sunnah akan menjag kita dari penyelewengan dan
kesesatan. Karena hukum-hukum yang ada di dalamnya berlaku sampai hari
kiamat. Oleh karena itu, kita tidak boleh membedakan keduanya.

DAFTAR PUSTAKA

Tim UII Press. Al-Quran dan Tafsirnya II Jus 4-5-6. Yogyakarta: UII Press. 2004.
Syaikh Muhammad Al-Utsaimin.2006.Syarah Riyadhus Shalihin Jilkid II. Jakarta:
Darul Falah.
Maruf Amari,Nurhadi.2012.TAFSIR untuk kelas XII Madrasah Aliyah Pogram
Keagamaan.Solo : PT.WANGSA JATRA LESTARI