Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

LABORATORIUM UNIT PROSES


COOLING TOWER APPARATUS

Oleh:
KELOMPOK 2
Maulana Rionaldo H.

(03111403006)

Yuri Prasetyo

(03111403027)

Evi Nurul Triandari

(03111403030)

Septi Afria

(03111403038)
NAMA ASISTEN
Agus Candra

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Secara umum Cooling Tower dapat dikategorikan sebagai pendingin
evaporatif yang digunakan untuk mendinginkan air atau media kerja lainnya
sampai mendekati temperatur bola basah udara sekitar. Kegunaan utama dari
Cooling Tower adalah untuk membuang panas yang diserap akibat sirkulasi air
sistem pendingin yang digunakan pada pembangkit daya, kilang petroleum, pabrik
petrokimia, dan fasilitas lainnya. Cooling tower itu sendiri merupakan alat yang
penting dimiliki agar suatu pabrik bisa beroperasi dengan efisien.
Air digunakan untuk sumber pendingin membutuhkan suatu sarana yang
dapat mengembalikan ke kondisi semula. Dalam industri manapun air pendingin
dibutuhkan sekali sebagai media pertukaran panas antara suatu yang panas dengan
air sebagai pendingin, berlangsungnya pertukaran panas disuatu media yang
dinamakan dengan cooler. Air pendingin akan berubah suhunya sebab terjadinya
panas yang dibawa oleh air tersebut. Air yang digunakan setelah keluar dari
cooler tidak dapat langsung dibuang ke lingkungan sebab dapat merusak
lingkungan.
1.2 Tujuan
1) Untuk mendinginkan air panas sisa operasi yang berasal dari kondesor atau
unit perpindahan panas lainnya.
2) Untuk mengetahui beberapa perubahan panas yang terjadi dibandingkan
dengan laju udara yang masuk.
3) Untuk mengetahui cara kerja cooling tower.
1.3 Permasalahan
1) Bagaimanakah pengaruh flow rate udara terhadap temperatur keluar ?
2) Apa pengaruh perubahan panas yang terjadi terhadap flow rate ?
3) Apa pengaruh perubahan panas yang terjadi terhadap flow rate udara
apabila tinggi atau rendah ?

1.4 Manfaat Percobaan


1) Dapat mengetahui cara kerja cooling tower.
2) Dapat mengetahui pengaruh hubungan kecepatan aliran udara terhadap laju
pendinginan.
3) Dapat mengetahui bagian-bagian cooling tower dan fungsinya.
4) Dapat mengetahui hubungan antara kecepatan udara terhadap approach to
Wet bulb dan presure drop, maka dapat diaplikasikan pada peralatan
cooling secara lebih efisien.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Teknologi pendingin sudah lama diketemukan dengan teknologi pertama
kali dengan teknologi pendinginan udara. Kemudian teknologi pendinginan air
baru diketemukan sebab dengan pendinginan air pendinginan menjadi lebih
konstan. Pertama teknologi pendinginan air menggunakan sungai, sumur, danau
dan kanal.
Tetapi sejak perluasan industri yang sudah sangat luas banyak industri
berdiri jauh dari sumber air, apalagi suatu industri yang berdiri di negara yang
minim sumber air. Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi, maka
untuk mendinginkan air yang telah digunakan pada suatu proses sebelum dibuang
ke lingkungan sekitar, setelah

ditemukan suatu teknologi menara pendingin

(cooling tower).
Cooling Tower adalah suatu alat yang dipergunakan untuk memindahkan
sejumlah panas dari suatu fluida ke fluida lain. Cooling tower ini beroperasi
menurut

prinsip

difusi,

dimana

adanya

perubahan

temperatur

dapat

mengakibatkan perbedaan besarnya laju perpindahan massa yang terjadi.


Besarnya laju perpindahan massa dipengaruhi oleh luas daerah kontak antara
fluida panas dengan fluida dingin. Sedangkan cooling water adalah air pendingin
yang digunakan untuk mendinginkan peralatan. Pendinginannya air terjadi
didalam cooling tower.
2.1 Cooling Water
Peralatan-peralatan yang digunakan untuk pengolahan/ penyediaan cooling
water adalah:
1) Cooling Tower (Basin, ID fan).
2) Pompa Cooling Water.
3) System Injeksi bahan kimia.
Cooling water atau air pendingin adalah suatu media air yang berfungsi
untuk mengambil panas dari suatu proses atau equipment dengan jalan
perpindahan panas (heat transfer).

Cooling water system pada garis besarnya dibagi menjadi 2 (dua) type, yaitu:
1) Recirculation Type.
a) Open type, yaitu dimana sebagian air setelah mengalami pemanasan akan
diuapkan untuk proses pendinginannya kembali.
b) Close type, yaitu dimana pendingin kembali airnya tanpa penguapan.
Type ini biasanya dipakai untuk internal engine combustion system.
2) Once Through Type (tergantung penggunaannya).
Cooling water sangat penting gunanya untuk pabrik, karena apabila ada
gangguan cooling water akan menyebabkan terjadinya pengurangan produksi
atau akan menyebabkan kerusakan alat baik langsung maupun tidak langsung.
Oleh karena itu Cooling Water System harus dikontrol dengan sebaik-baiknya,
minimal mampu beroperasi tanpa gangguan selama 1-2 tahun. Adapun tujuan
digunakannya cooling water adalah :
a) Korosi yang terjadi dalam peralatan dapat dihindari sekecil mungkin.
b) Deposit yang terjadi didalam peralatan dapat dihindari sekecil mungkin.
c) Pertumbuhan bakteri, jamur, lumut terkendali.
d) Menaikkan efisiensi alat pendingin.
e) Tidak merusak lingkungan.
Beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap cooling water adalah
sebagai berikut:
1) Make Up Air Pendingin
Sebagai make up adalah filter water. Hal ini mempunyai pengaruh yang
besar karena

filter

water

membawa

beberapa

komponen

yang

dapat

mengakibatkan timbulnya deposit maupun korosif.


2) Lingkungan Sekitar
Karena sebagai media pendingin dari air pendingin di cooling water adalah
udara yang diambil dari sekitarnya, maka tidak lepas dari kotoran atau benda
asing lainnya yang dibawa udara masuk kesistem air pendingin, akibatnya
terkontaminasi.
3) Proses yang terkait

Yang dimaksud proses terkait adalah bentuk atau macam fluida yang
didinginkan, Hal ini biasanya terjadi karena kebocoran dari peralatan. Misalnya
Heat Exchanger untuk pelumas gas ammonia atau gas sintesa apabila terjadi
kebocoran akan mengakibatkan kontaminasi air pendingin.
4) Bahan Kimia
Penggunaan bahan kimia melalui injeksi tidak terkontrol menimbulkan efek
samping, pengaruh ini lebih dominan bilamana jumlahnya semakin besar.
2.2 Treatment Prosedur
Ada beberapa batasan yang harus diperhatikan air sebelum masuk ke
cooling
tower, yaitu:
1) pH harus dijaga kondisi normal, yaitu 6-7, karena pH yang lebih tinggi akan
menyebabkan perubahan lignin pada pemanasan weed fiber.
2) Inhibitor korosi dipilih berdasarkan pada adanya serat-serat kimia dalam make
up water dan material dari peralatan Heat Exchanger.
3) Penambahan zat anti alga dan jamur diperlukan untuk menjaga keadaan zat
kimia tersebut.
2.3 Pengontrolan Cooling Water
Yang dimaksud dengan Cooling water control system adalah usaha-usaha
untuk menjaga kualitas dan kuantitas cooling water sesuai dengan parameter
design yang telah ditetapkan. Kuantitas/ jumlah cooling water ditentukan oleh
kondisi mekanik seperti pompa, opening valve, tekanan yang mempengaruhi flow
cooling water. Sedangkan kualitas cooling water ditentukan oleh chemical
treatment yang dilakukan. Adapun bahan kimia yang diinjeksikan untuk chemical
treatment adalah:
1) Pencegah Korosi (Corrossion Inhibitor)
Korosi adalah suatu peristiwa perusakan water olehreaksi kimia atau reaksi
elektrokimia. Untuk menghindari ini maka diinjeksikan bahan kimia yang dapat
melapisi permukaan metal (protective film) agar terhindar dari pengaruh korosi
atau dapat menurunkan kecepatan korosi. Bahan kimia ini berupa cairan yang

terdiri dari Ortho Phospat, Poly Phospat dan Phospat dengan perbandingan
tertentu, diinjeksikan ke dalam cooling water system sampai di dapat kadar Ortho
Phospat sebesar 12 17 ppm.
2) Pencegah Kerak (Scale Inhibitor)
Kerak terjadi karena adanya endapan deposit dipermukaan metal. Endapan
ini dapat digolongkan dalam beberapa jenis, yaitu:
a) Mineral scale, yaitu pengendapan garam-garam kistal apabila daya
kelarutannya dilampaui (misalnya: garam-garam Ca, Mg, SiO2).
b) Suspended metter, yaitu partikel-partikael asing yang masuk ke dalam
sistem karena terbawa udara (misalnya: debu).
c) Corrosion Product, hasil sampingan dari proses korosi yang tidak larut
dalam air.
Adanya kerak dalam permukaan pipa akan menyebabkan, sebagai berikut:
a)

Mengganggu perpindahan panas.

b) Menyebabkan penyumbatan pipa.


c)

Penyebab korosi.
Untuk menghindari terbentuknya pengendapan, yang berupa garam Ca,

maka diinjeksikan scale inhibitor (Dispersant). Terbentuknya kerak ini


dipengaruhi beberapa faktor, yaitu:
a)

pH, makin tinggi pH maka makin mudah terjadinya pengendapan.

b) Temperatur, makin tinggi temperatur maka kelarutan garam kalsium karbon


semakin turun sehingga bertendensi terjadi pengendapan
c)

Flow rate, semakin rendah flow rate memperbesar kesempatan pengendapan

3) Pencegah Slime (Slime inhibitor)


Slime adalah lendir yang berwarna coklat kehitaman yang menempel
dipermukaan pipa. Slime akan mengurangi effect pencegahan korosi dan
menurunkan efisiensi cooling water. Slime disebabkan oleh adanya bakteri
mikroorganisme yang terbentuk dalam cooling water.
Untuk mencegah bakteri/ mikroorganisme tersebut, diinjeksikan gas
chlorine yang akan mampu membunuh hampir semua mikroorganisme yang ada.

Disamping bakteri, gas chlorine juga mampu menghilangkan fungi/ jamur,


alga/ganggang dan lumut. (Utility Plant, PT PUSRI, Page 8 - 10).
Secara umum elemen-elemen yang dimiliki oleh suatu steam plant terlihat
pada komponen-komponen antara lain boiler, kondensor, pompa, turbin dan juga
cooling tower. Cooling tower terbagi beberapa macam antara lain:
1) Berdasarkan arah aliran udara masuk
a) Cross flow
b) Counter current flow
2) Berdasarkan cara pemakaian alat bantu seperti fan atau blower
a) Induced draf (alat bantu berada dibagian puncak tower)
b) Force draf (alat bantu berada dibagian bawah tower)
3) Berdasarkan kondisi aliran udara bebas tanpa alat pembantu
a) Atmosphere (udara pada kondisi atmosphereric mengalir bebas tanpa
memakai penutup tower).
b) Natural draf (udara mengalir dalam udara pendinginan dari tower namun
kondisi udara belum tentu atmospheric).
2.4 Fungsi Cooling Tower
Cooling tower sangat dibutuhkan oleh industri sebab cooling tower
merupakan bagian dari utilitas yang banyak digunakan. Dimana cooling tower
memproses air yang panas menjadi air yang dingin yang digunakan kembali yang
bisa dirotasikan. Cooling tower salah satu alat yang juga mengolah air untuk
mengatasi masalah polusi lingkungan.
2.5 Persyaratan Proses Menara Pendingin
Umumnya batasan operasi cooling tower adalah pada suhu 120

F.

Temperatur air keluar biasanya lebih rendah dari 120 oF. Pada saat temperatur air
proses melebihi 120 oF perlu dilakukan tahapan evaporasi dengan menggunakan
cooler sehingga tidak terjadi kontak langsung antar air panas dan udara.
Temperatur air terendah yang mungkin didinginkan didalam cooling tower
tergantung pada wet bulb temperatur udara, tetapi ini bukanlah batasan mutlak
karena tekanan uap keluar dan wet bulb temperatur dalam cooling tower disebut
Approach.

2.6 Packing
Pengisian packing pada cooling tower harus memenuhi karakteristik
sebagai berikut:
1) Permukaan interfacial antara fuida yang akan didinginkan dengan fluida yang
mendinginkan besar.
2) Memiliki karakteristik aliran fluida yang didinginkan pada packing harus
terjadi pertukaran volume fluida yang besar melalui cross section tower yang
kecil tanpa loading/ fleeding dan presure drop yang rendah untuk gas.
3) Zat inert fluida dapat diproses secara kimia.
4) Mempunyai kekuatan struktural sehingga mudah dalam penangan dan
instalasi.
5) Biayanya murah.
Terdapat dua cara pengisian packing, yaitu:
1) Random Packing
Jenis random packing yang digunakan, yaitu:
a) Rasching ring
b) Lessing ring
c) Partition ring
d) Belt saddle
e) Intalox saddle
f)

Tellerate

g) Pall ring atau flexiring


2) Regular Packing
Jenis regular packing yang digunakan, yaitu:
a) Rasching ring
b) Doble spiral ring
c) Section through expanded metal packing
d) Wood grids
2.7 Water Make-Up
Perlengkapan make up untuk cooling tower terdiri dari penjumlahan
evaporation loss, drift loss dan blown down.

Rumus:
Wm = We + Wd + Wb

(1)

Dimana:
Wm

Water make up.

Wd

Water drift loss.

Wb

Water blown down.

Evaporation loss dapat ditentukan dengan persamaan, yaitu:


We =

0,00085 Wc (T1 - T2)

Dimana:
Wc

Sirkulasi water flow (gal/ min pada tower inlet)

T1 - T2

Temperatur air masuk - temperatur air keluar, oF.

Drift adalah air yang naik ke atas (terdorong keatas) pada tower dischange
vapor. Drift loss adalah fungsi dari draft eliminator design yang bervariasi antara
0,1 dan 0,2 % dari air yang di supply ke tower. Perkembangan baru dalam
eliminator design memungkinkan untuk mengurangi menjadi dibawah 0,1 %.
Blown down mengurangi bagian dari sirkulasi air terkonsentrasi terhadap
proses evaporasi untuk menurunkan konsentrasi sistem solid blown dapat
dihitung berdasarkan jumlah siklus dari konsentrasi. Kuantitas blowndown yang
dibutuhkan:
Cycle of concentration =

We Wb
Wb

(2)
=

We
1
Wb

We
cycle 1

atau
Wb
2.8 House Power
Pada cooling tower sumber daya yang digunakan sebagai pengeluar udara
adalah fan atau blower, kecepatan tergantung dari beberapa banyak air yang akan
diinginkan. Jumlah dari fan tergantung pada faktor cooling tower, termasuk type
fill, konfigurasi tower dan kondisi thermal.

Static

Q hs d
33.000 12

(3)
Dimana:
=

Volume udara (ft3/ min).

hs =

Static head di dalam air.

Densitas air pada temperatur ambient (lb/ ft3).

2.9 Pump Horse Power


Pompa adalah salah satu bagian yang terpenting dari cooling tower untuk
mengalirkan air dari dasar cooling tower menuju bagian spray pada puncak
cooling tower. Cara menghitung reducing pompa adalah :
Pump bhp

gal / min (ht )


3.960 ( pump efficiency )

Dimana:
ht =

total head, ft.

2.10 Operasi Cooling Tower


Penerapan yang nyata dari operasi ini adalah dengan cooling tower.
Biasanya cooling tower ini menyerupai kotak kayu, dimana alat ini mengontakkan
air panas sisa dari proses pendingin ke udara sehingga terjadi proses pendinginan
air. Fungsi kayu yang ada pada bagian cooling tower adalah untuk memperluas
wilayah pertemuan antara air dan udara. Suatu cooling tower biasanya dapat
menekan kebutuhan akan cooling water sebanyak 98 % walau ada juga resiko
terkontaminasi yang disebabkan oleh penjenuhan air oleh uap air.
Pada cooling tower udara dingin dari atmosfer dilewatkan ke bagian bawah
cooling tower dan terjadi panas antara air panas dengan udara dingin. Bila zat cair
panas dikontakkan kepada gas tak jenuh, sebagian dari zat cair tersebut akan
menguap dan suhu zat cair menjadi turun. Pendinginan air dalam jumlah besar
dilakukan dalam kolam-kolam semprot (Spray Pond).
Kita telah tahu bahwa tujuan dari dibuatnya cooling tower atau menara
pendingin adalah untuk mensirkulasikan air pendingin dengan cara mendinginkan
air itu dan menggunakannya kembali secara berulang-ulang. Air panas yang

biasanya berasal dari kondensor atau unit perpindahan panas lainnya dimasukkan
melalui puncak menara (top tower) dan di distribusikan ke dalam plat-plat melalui
metode cascade kebawah dilengkapi dengan Slat Grating untuk memberikan luas
permukaan yang besar untuk kontak udara dan air.
Pada prinsipnya cooling tower atau menara pendingin adalah jenis bahan
isian yang khusus yaitu kayu sipres yang mempunyai daya tahan aksi gabungan
air dan angin. Dalam menara itu sebagian air menguap ke udara dan kalor sensibel
berpindah dari air panas ke udara yang lebih dingin. Kedua proses itulah yang
mengakibatkan turunnya air dingin dan untuk menjaga keseimbangan air dingin
kita hanya perlu menambahkan air untuk menggantikan air yang hilang karena
penguapan atau angin.
2.11 Teori Difusi
Suatu peristiwa difusi melibatkan peresapan satu fluida lainnya misalnya,
gas udara yang mengandung sejumlah kecil uap aseton yang larut dalam air
sedangkan udara tidak larut dalam air. Seandainya campuran udara-aseton
dimasukkan ke menara dimana air akan mengalir secara kontinu sehingga molekul
aseton melekat ke molekul air. Maka molekul aseton dalam lapisan film udara
12
menyentuh lapisan film liquid dan menyerap dengan cepat oleh larutan tersebut
dalam liquid sehingga konsentrasi aseton dalam lapisan udara lebih kecil
dibandingkan yang terlarut.
2.12 Packing
Pengisian packing harus memenuhi karakteristik sebagai berikut :
1. Permukaan interfacial antara fluida yang akan didinginkan dengan fluida yang
mendinginkan besar.
2. Memiliki karakteristik aliran fluida yang diinginkan, pada packing harus terjadi
pertukaran volume fluida yang besar melalui cross section tower yang kecil
tanpa loading atau fleeding dan pressure drop yang rendah untuk gas.
3. Zat inert fluida dapat diproses secara kimia.
4. Mempunyai kekuatan struktural sehingga mudah dalam penangan dan instalasi.
5. Biayanya relatif murah
6. Instalasi relatif mudah

Terdapat dua cara pengisian packing, yaitu :


1. Random Packing
Sewaktu instalasi packing dijatuhkan atau ditempatkan kedalam menara
secara acak dimana menara diisi dengan air untuk mengurangi kecepatan jatuhan.
Jenis random packing yang sering digunakan adalah :
a.

Rasching ring

b.

Leesing ring

c.

Partition ring

d.

Berl saddle

e.

Intalox saddle

f.

Tellrate

g.

Pall ring or Flex ring

2. Regular Packing
Packing jenis ini menguntungkan karena pressure drop yang rendah dan laju
alir fluida yang lebih besar. Jenis-jenis packing regular, yaitu :
a.

Rasching ring

b.

Double spiral ring

c.

Section through expanded metal lath packing

d.

Wood grids

2.13 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kerja Cooling Tower


Beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap cooling tower adalah :
a. Kecepatan aliran air
Semakin besarnya rate air yang masuk maka akan semakin besar beban
fluida pendingin dalam proses pendinginan.
b. Kecepatan aliran udara
Semakin besarnya rate udara yang masuk maka proses pendinginan di
dalam cooling tower akan semakin cepat.
c. Perbandingan distribusi air dan udara
Perbandingan distribusi air sebagai fluida yang akan didinginkan dan
udara sebagai fluida yang digunakan untuk mendinginkan haruslah sesuai
dengan kondisi yang diinginkan.
BAB III
METODOLOGI

3.1

Alat dan Bahan


1. Satu unit Cooling Tower Armfiel yang dilengkapi dengan pemanas.
2. Aquadest
3. Udara bebas (sebagai media pendingin)

3.2

Prosedur Percobaan
1. Siapkan peralatan cooling tower supaya dapat beroperasi
2. Masukkan aquadest ke dalam basin
3. Hubungkan cooling tower dengan arus listrik, atur debit air yang mengalir dan
Q sesuai dengan yang dikehendaki
4. Catat temperatur inlet dan outlet untuk dry bulb dan wet bulb T1 T6 tekanan
dan presure drop yang ditunjukan. Lakukan pengambilan data sebanyak lima
kali dengan tekanan yang berbeda-beda.
5. Hitung laju alir udara masing-masing data.