Anda di halaman 1dari 3

Politik Anggaran

Politik anggaran merupakan proses saling mempengaruhi di antara berbagai pihak yang
berkepentingan dalam menentukan skala prioritas pembangunan dan mempengaruhi
kebijakan alokasi anggaran karena terbatasnya sumberdana publik yang tersedia. Politik
angaran juga merupakan penegasan kekuasaan atau kekuatan politik di antara berbagai pihak
yang terlibat dalam penentuan kebijakan maupun alokasi anggaran. Indra J Pialang
menyebutkan Politik anggaran memegang peranan kunci dalam kebijakan-kebijakan
pemerintah pusat. Untuk beberapa provinsi di Indonesia mendapat anggaran besar, anggaran
tersebut merupakan sebuah komitmen pemerintah pusat untuk menyejahterakan masyarakat.
Namun di bebrapa provinsi lainnya ada juga yang mendapatkan anggaran yang kecil
meskipun provinsi tersebut telah menjalankan sebuah prinsip Good Governance dalam
menjalankan pemerintahan daerahnya.
a. Sejarah Politik Anggaran
Dilihat dari konsep dan prakteknya, proses penyusunan anggaran terdiri dari dua hal, yaitu
perencanaan dan penganggaran. Serta dari sifatnya, perencanaan dan penganggaran di
pemerintahan daerah dilaksanakan secara terintegrasi dengan berlandaskan pada konsep
penggunaan sumberdaya/dana yang ada untuk pemenuhan kebutuhan Masyarakat. Anggaran
disusun sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan pelayanan yang ada di daerah, yang telah
direncanakan sebelumnya sebelum tahun anggaran berjalan. Untuk mendapatkan anggaran
dari perencanaan yang telah tersusun tersebut, daerah banyak berharap dari kebijakan
pemerintahan pusat, sehingga disinilah mmuncul peranan pemerintahan pusat dalam politik
anggaran. Politik anggaran sudah diterapkan dari era pemerintahan terdahulu, pada masa orde
baru misalnya, seperti yang diungkapkan oleh Thontowi, J bahwa seringkali daerah yang
bukan pendukung partai penguasa tidak bakal disentuh pembangunan, jadi jika suatu daerah
ingin maju pemimpin-pemimpin daerah tersebut harus tergabung dalam partai politik
penguasa yang dapat melanggengkan kekuasaan kelompok tertentu. Sedangkan pada masa
reformasi saat ini Politik anggaran menjadi tarik menarik antara kepentingan kelompok elite
politik, politik anggaran lebih berorientasi terhadap kepentingan pribadi dan golongan bukan
untuk mengatasi problem masyarakat. Pada saat ini sering kali politik anggaran justru

menguras keuangan untuk biaya birokrasi dan administrasi sehingga output nya bukan untuk
mengatasi masalah, melainkan hanya agar para pelaksananya dapat melakukan kegiatan dan
dapat memetik keuntungan ekonomi. Dalam masa reformasi, terdapat dua pola politik
anggaran yang diterapkan oleh masing-masing pemerintahan, pada masa Pemerintahan
Megawati Soekarno Putri misalnya, kebijakan anggaran diarahkan pada arah kebijakan
menjaga ketahanan dan konsolidasi fiskal, optimalisasi penggalian sumber pendapatan
negara, penerapan kebijakan pengurangan subsidi, pemulihan ekonomi, pemantapan proses
desentralisasi serta penerapan disiplin anggaran melalui efisiensi. Sementara dalam
Pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono; kebijakan anggaran diarahkan pada stabilisasi
ekonomi makro, penurunan deficit anggaran, pengurangan rasio hutang, pertumbuhan
ekonomi, dan upaya pengurangan kemiskinan.
b. Penerapan Politik Anggaran di Indonesia.
Irene S. Rubin pada The Politics of Public Budgeting dalam Iksan, M. mengatakan, dalam
penentuan besaran maupun alokasi dana untuk rakyat senantiasa ada kepentingan politik yang
diakomodasi oleh pejabat. Bahwa alokasi anggaran acap juga mencerminkan kepentingan
perumus kebijakan terkait dengan konstituennya. Politik anggaran harus dikendalikan oleh
tujuan yang akan dicapai. Dengan kata lain harus ada keterkaitan antara keuangan negara
dengan arah kebijakan sebagaimana tertuang rencana pemerintah. Politik anggaran harus
menjadi alat mencapai tujuan pembangunan daerah. Konsekuensi dari politik anggaran ini
adalah pemerintah didorong melakukan perubahan secara mendasar di level birokrasi.
Seluruh satuan kerja perangkat daerah perlu didorong untuk meningkatkan penerimaan dan
melakukan efisiensi dan efektivitas pengeluaran di daerah. Untuk menjalankan hal tersebut
diperlukan sebuah kebijakan yang menyamakan tujuan kebijakan daerah yang berlandaskan
kebijakan yang ditetapkan pemerintah pusat, ketika kebijakan daerah telah sejalan dengan
kebijakan pusat maka pemerintahan pusat dapat memberikan sebuah reward and punishment,
yakni dengan mengalirkan pengganggaran melalui transfer anggaran kedaerah dengan adil
dan merata bagi daerah yang mengikuti kebijakan pemerintah pusat, dan bisa juga dengan
memangkas penggangran untuk menghukum daerah yang membalelo. Menurut Sirait, M.
dalam Merdeka.com . Politik anggaran diterapkan untuk membatasi anggaran daerah yang
digunakan sesuai kebutuhannya saja. Karena, dia menganggap bila suatu daerah memiliki
anggaran yang tak terserap dengan baik maka hal itu bisa berdampak pada laju
perekonomian, sosial dan budaya warga setempat. "Imbasnya, pembangunan daerah bisa
terhambat. Kami saat ini sedang mendiskusikan bagaimana caranya memanfaatkan dana tak

terserap di tiap daerah agar dapat ditarik ke tingkat provinsi maupun pusat," urainya. Namun
kebijakan kebijakan ini dinilai akan membuat disintegrasi bangsa. Selain karena kepala
daerah tidak dari satu partai saja bahkan ada yang dari luar pemerintah, kebijakan ini juga
dinilai akan menghambat pembangunan daerah. Karena anggaran yang sudah ditetapkan
untuk alokasi daerah dipotong karena daerah tidak nurut dengan kebijakan pusat. Berbeda
dengan Sirait, M., Khadafi, U.S. dalam Tribunnews (2014) justru berpendapat bahwa
Penerapan politik anggaran dan wacana pemotongan anggaran daerah diprediksi akan
membuat Indonesia kacau. Khadafi, U.S menilai daerah tidak akan begitu saja mengikuti
pusat. Kalau pemotongan anggaran daerah maka dapat memicu ketegangan di masyarakat
dan akan terjadi demo. Kalau anggaran daerah dipotong-potong Indonesia akan semakin
kacau, apalagi anggaran tidak disetujui, sudah jelas kesatuan NKRI makin terancam, Selain
itu untuk menerapkan politik anggaran tersebut, harus berhadapan dengan birokasi dan
undang-undang. Jangankan tidak menyetujui atau memotong anggaran, saat pengucuran
anggaran telat saja sudah memicu kemarahan. Kalau uang itu tidak dikucurkan ke daerah, itu
masalah besar. Sementara menurut Maengkom, B. dalam Okezone (2014) mengungkapkan
bilamana ada kebijakan daerah seperti Aceh dan Papua yang tidak seiring dengan Pusat dan
jika politik anggaran diterapkan pada daerah tersebut, maka dapat memicu rakyat Aceh dan
Papua untuk melakukan pemberontakan dan memisahkan diri dari Republik Indonesia.
Karena itu ia menilai, politik anggaran kepada Pemerintah Daerah tidak tepat. Hal yang
terjadi bukan ketaatan kepada Pemerintah Pusat, melainkan pemberontakan yang pada
akhirnya memicu disintegrasi bangsa.
Politik Anggaran menunjukkan peran pemerintah dalam mengatur pembelanjaan keuangan
negara sebagai suatu kewajiban dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat. Jika keuangan
negara dikelola dengan baik berdasarkan prinsip-prinsip, sistem, dan struktur yang benar
maka hal tersebut dapat menciptakan pembangunan daerah yang berkeadilan. Namun jika
pengelolaan keuangan dengan politik anggaran yang tidak berdasarkan ketentuan yang ada
maka hal tersebut dapat memicu perpecahan di daerah yang dapat menimbulakan disintegrasi
bangsa.

Anda mungkin juga menyukai