Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagai suatu kemampuan untuk berdediksi bagi orang lain, pengawasan dengan
waspada, perasaan empati pada orang lain dan perasaan cinta atau menyayangi. Dalam
keperawatan, caring merupakan bagian inti yang penting terutama dalam praktik
keperawatan.
Koseling sebagai hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua
orang dalam mana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus
yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar. Dalam hal ini konseli dibantu untuk
memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaannya masa depan
yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk
kesejahteraan pribadi maupun masyarakat.
Komunikasi

merupakan

proses

kompleks

yang

melibatkan

perilaku

memungkinkan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan dunia sekitarnya.
1.2 Tujuan
~ Untuk mengetahui Caring seorang perawat terhadap pasien
~ Untuk mengetahui Konseling seorang perwat terhadap pasien
~ Untuk mengetahui Komunikasi seorang perawat terhadap pasien

dan

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Caring Secara Umum
A.Defenisi
Caring secara umum dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk berdedikasi bagi
orang lain, pengawasan dengan waspada, menunjukkan perhatian, perasaan empati pada
orang lain dan perasaan cinta atau menyayangi yang merupakan kehendak keperawatan.
(Potter, P. A. & Perry A. G. (2005). Fundamentals of Nursing : Concepts, Process, and
Practice. 6th Ed. St. Luois, MI : Elsevier Mosby.).
Caring juga mempelajari berbagai macam philosofi dan etis perspektif. Perspektif
klien mengenai caring juga perlu dipertimbangan untuk meningkatkan kemampuan perawat
dalam memberikan caring, selain itu untuk dijadikan penilaian kepuasaan terhadap pelayanan
kesehatan. Adapun nilai-nilai dalam konsep caring (Watson) diantaranya konsep tentang
manusia, kesehatan, lingkungan dan keperawatan. Konsep tentang manusia meliputi
keinginan untuk dirawat, dihormati, mendapatkan asuhan, dipahami dan dibantu. Kesehatan
merupakan menekankan pada fungsi pemeliharaan dan adaptasi untuk meningkatkan fungsi
dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Lingkungan. Lingkungan mencakup pengaruh
budaya sebagai strategi untuk melakukan mekanisme koping terhadap lingkungan tertentu.
Keperawatan berfokus pada promosi kesehatan, pencegahan penyakit dan caring
ditujukan untuk klien baik dalam keadaan sakit maupun sehat. Dalam hal melakukan caring,
ada tiga aspek pendorong yang membuat perawat melakukannya ialah aspek kontrak
(keterikatan dengan pekerjaan), etika dan spritualitas (keagamaan). Manfaat caring itu sendiri
amat beragam, yang pada dasarnya betujuan untuk meningkatkan status kesehatan klien.
Caring merupakan heart profesi, artinya sebagai komponen yang fundamental dari
fokus sentral serta unik dari keperawatan (Barnum, 1994). Meskipun perkataan caringtelah
digunakan secara umum, tetapi tidak terdapat definisi dan konseptualisasi yang universal
mengenai caring itu sendiri (Swanson, 1991, dalam Leddy, 1998). Setidaknya terdapat lima
perspektif atau kategori mengenai caring, yaitu caring sabagai sifat manusia (Benner &
Wrubel, Leininger), caring sebagai intervensi terapeutik (Orem), dancaring sebagai bentuk
kasih sayang (Morse et al., 1990, dalam Leddy, 1998).

B. Sikap Caring
a.Karakteristik Sikap
Sikap merupakan bagian penting dalam kehidupan. Tanpa sikap kita tidak akan
mengetahui cara bereaksi cara bereaksi terhadap sesuatu hal yang terjadi pada kita seharihari, dan kita akan merasa sangat sulit untuk mengambil keputusan. Kita juga akan
menghabiskan banyak waktu untuk mencoba memahami dan menjelaskan prilaku manusia
dengan menghubungkannya kemotif yang melandasi perilaku tersebut, kecenderungan atau
sikap (Heider, 1958 dalam Morrison dan Burnard, 2009). Dalam psikologi sosial, istilah sikap
telah menjadi sumber dari banyak penelitian yang mencoba untuk menggali penjelasan
terhadap hal-hal yang dilakukan manusia dan cara mereka berperilaku.
Pada dasarnya sikap adalah kecenderungan untuk merespon secara menyenangkan atau tidak
menyenangkan terhadap suatu objek, orang, institusi, atau kejadian (Ajzan, 1988 dalam
Morrison dan Burnard, 2009) dan relatif stabil dari waktu kewaktu.
b. Pembentukan Sikap
Kita memperoleh sikap dalam berbagai cara yang menarik. Pembelajaran adalah
proses penting dalam pembentukan sikap, khususnya tipe pembelajaran yang terjadi saat kita
disosialisasikan oleh orang tua kita, anggot keluarga lain dan kawan-kawan kita. Keluarga
membekali kita dengan model peran untuk dapat bersaing, dan untuk dapat bersaing secara
efektif, kita tidak hanya mengasimilasikan perilaku model peran inti tetapi juga harus
mengasimilasikan sikap yang mereka tunjukkan kepada kita. Selanjutnya kita juga
mengembangkan sikap kita sendiri dari pajanan langsung terhadap pengalaman baru yang
menarik (Morrison dan Burnard, 2009).
c. Model Sikap Caring
Meskipun terdapat berbagai macam pendekatan untuk meneliti sikap, kecenderungan
pendekatan yang umumnya dipakai adalah memikirkan sikap dalam tiga bidang berbeda
yaitu: bidang afektif, bidang perilaku, bidang kognitif. Pendekatan ini juga dikenal sebagai
model sikap ABC (affective, behavior, cognitif) (Breckler, 1984 dalam Marrison dan Burnard,
2009).Bidang afektif berfokus pada bagaimana perasaan seseorang terhadap objek.
Sementara

bidang

perilaku

berhubungan

dengan

tindakan

individu

dengan

mempertimbangkan objek tertentu. Bidang kognitif berfokus pada informasi, persepsi, dan
keyakinan yang dimiliki individu tentang objek.

2.2 Konseling Secara Umum


Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang penolong
(disebut konselor) kepada individu yang perlu mendapatkan pertolongan (disebut konseli)
yang bertujuan agar masalah konseli dapat teratasi. Artikel berikut dan artikel lainnya yang
menyusul adalah serangkaian penjelasan singkat tentang konseling.
Istilah konseling berasal dari kata latin consilum yang berarti dengan atau
bersama dan mengambil atau memegang. Maka, bisa dirumuskan denga ungkapan
memegang atau mengambil bersama. Konotasinya, ada sesuatu yang harus dipegang,
diraih, diambil bersama-sama. Bila dikaitkan dengan konseling, berarti mencoba menangkap
suatu masalah bersama orang lain atau mencoba memahami sesuatu bersama-sama.
Bayangan yang timbul adalah dua pribadi yang sedang dihadapkan pada suatu gejala tertentu,
keduanya sama-sama serius mencoba menangkap atau memahami gejala tersebut.
Sebagai proses, konseling meliputi relasi tatap muka secara pribadi antara dua orang
di mana si konselor, lewat relasi tersebut dan dengan menggunakan kemampuan khususnya,
berusaha memberikan sejenis situasi belajar di mana si konseli ditolong untuk memahami
dirinya sendiri dengan cara yang memuaskan bagi dirinya sendiri dan tidak merugikan orang
lain atau masyarakat. Dalam proses tersebut si konseli belajar memecahkan masalah-masalah
dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan tertentu.
- Konseling berhubungan dengan kesejahteraan, pertumbuhan pribadi, karier, dan kelainan.
Dengan kata lain, konselor bekerja di bidang yang melibatkan hubungan. Bidang ini
mencangkup kepedulian intrapersonal dan interpersonal yang berkaitan dengan pencarian
makna dan penyesuaian dalam latar tertentu seperti sekolah, keluarga dan karier.
- Konseling dilakukan dengan orang yang dianggap sehat dan orang yang memiliki masalah
serius. Konseling memenuhi kebutuhan berbagai macam orang.menurut pandangan konselor,
konseli memiliki masalah perkembangan atau situasional, yang memerlukan bantuan untuk
penyesuaian dan remediasi. Masalah mereka sering kali memerlukan intervensi jangka
pendek, tetapi pengobatan dapat diperpanjang untuk mengatasi kelainan yang tercantum
dalam manual Diagnostik dan Statistik dari kelainan Mental yang di keluarkan ACA.

- Konseling berbasis Teori. Konselor memakai sejumlah pendekatan teoritis, mencangkup


kognitif, afektif, perilaku, dan sistemik.
- Konseling merupakan proses baik berupa perkembangan atau intervensi. Konselor berfokus
pada sasaran konseli. Jadi, konseling melibatkan pilihan maupun perubahan. Dalam beberapa
kasus, konseling adalah latihan sebelum bertindak (Casey, 1996, p.176)
Selain mendefinisikan konseling secara umum, ACA juga mendefinisikan spesialisasi
Konseling Profesional, yang merupakan bidang (di dalam konseling) yang memiliki focus
lebih tajam dan membutuhkan pengetahuan lebih mendalam di bidang konseling
(http://www.counseling.org). Spesialisasi ini antara lain : sekolah, mahasiswa, perkawinan,
kesehata mental, rehabilitasi, lansia, kecanduan, dan karier. Menurut ACA, menjadi spesialis
adalah berdasarkan premis bahwa semua 'konselor professional harus terlebih dahulu
memenuhi

persyaratan

sebagai

praktisi

(http://www.counseling.org).

umum

dalam

konseling

professional'

2.3 Komunikasi Secara Umum


Komunikasi

merupakan

proses

kompleks

yang

melibatkan

perilaku

dan

memungkinkan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan dunia sekitarnya.
Menurut Potter dan Perry (1993), komunikasi terjadi pada tiga tingkatan yaitu intrapersonal,
interpersonal dan publik. Makalah ini difokuskan pada komunikasi interpersonal yang
terapeutik.
Komunikasi interpersonal adalah interaksi yang terjadi antara sedikitnya dua orang
atau dalam kelompok kecil, terutama dalam keperawatan. Komunikasi interpersonal yang
sehat memungkinkan penyelesaian masalah, berbagai ide, pengambilan keputusan, dan
pertumbuhan personal. Menurut Potter dan Perry (1993), Swansburg (1990), Szilagyi (1984),
dan Tappen (1995) ada tiga jenis komunikasi yaitu verbal, tertulisa dan non-verbal yang
dimanifestasikan secara terapeutik.
Komunikasi dalam keperawatan disebut dengan komunikasi terapeutik, dalam hal ini
komunikasi yang dilakukan oleh seorang perawat pada saat melakukan intervensi
keperawatan harus mampu memberikan khasiat therapi bagi proses penyembuhan
pasien. Komunikasi terapeutik adalah suatu pengalaman bersama antara perawat-klien yang
bertujuan untuk menyelesaikan masalah klien. Maksud komunikasi adalah untuk
mempengaruhi perilaku orang lain. Oleh karenanya seorang perawat harus meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan aplikatif komunikasi terapeutik agar kebutuhan dan kepuasan
pasien dapat dipenuhi. Di dalam komunikasi terapeutik ini harus ada unsure kepercayaan.
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar dan bertujuan dan
kegiatannya difokuskan untuk kesembuhan pasien, dan merupakan komunikasi professional
yang mengarah pada tujuan untuk penyembuhan pasien
Beberapapendapatmengenaikomunikasiterapeutikdiantaranya:
1.

Northouse (1998) mendefinisikan komunikasi terapeutik sebagai kemampuan atau

keterampilan perawat untuk membantu klien beradaptasi terhadap stres, mengatasi gangguan
psikologis dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain.
2.

Stuart G.W (1998) menyatakan bahwa komunikasi terapeutik merupakan hubungan

interpersonal antara perawat dan klien, dalam hubungan ini perawat dan klien memperoleh
pengalaman belajar bersama dalam rangka memperbaiki pengalaman emosional klien.
Hubungan perawat klien yang terapeutik adalah pengalaman belajar bersama dan
pengalaman perbaikan emosi klien.Dalam hal ini perawat memakai dirinya secara terapeutik
dengan menggunakan berbagai teknik komunikasi agar perilaku klien berubah kearah yang
positif secara optimal. Agar perawat dapat berperan efektif dan terapeutik, ia harus
menganalisa dirinya dari kesadaran diri, klarifikasi nilai, perasaan dan mampu menjadi model

yang bertanggungjawab. Seluruh perilaku dan pesan yang disampaikan perawat (verbal
ataunon verbal) hendaknya bertujuan terapeutik untuk klien.
Analisa

hubungan intim yang

terapeutik perlu

dilakukan untuk evaluasi

perkembangan hubungan dan menentukan teknik dan keterampilan yang tepat dalam setiap
tahap untuk mengatasi masalah klien dengan prinsip di sini dan saat ini (here and now).
Rasa aman merupakan hal utama yang harus diberikan pada anak agar anak bebas
mengemukakan perasaannya tanpa kritik dan hukuman.

2.4 DESKRIPSI KASUS


Contoh Studi Kasus Bimbingan dan Konseling
Lia (bukan nama sebenarnya) adalah siswa kelas I SMU Favorit Salatiga yang
barusan naik kelas II. Ia berasal dari keluarga petani yang terbilang cukup secara sosial
ekonomi di desa pedalaman + 17 km di luar kota Salatiga, sebagai anak pertama semula
orang tuanya berkeberatan setamat SLTP anaknya melanjutkan ke SMU di Salatiga; orang tua
sebetulnya berharap agar anaknya tidak perlu susah-sudah melanjutkan sekolah ke kota, tapi
atas bujukan wali kelas anaknya saat pengambilan STTB dengan berat merelakan anaknya
melanjutkan sekolah. Pertimbangan wali kelasnya karena Lia terbilang cerdas diantara
teman-teman yang lain sehingga wajar jika bisa diterima di SMU favorit. Sejak diterima di
SMU favorit di satu fihak Lia bangga sebagai anak desa toh bisa diterima, tetapi di lain fihak
mulai minder dengan teman-temannya yang sebagian besar dari keluarga kaya dengan pola
pergaulan yang begitu beda dengan latar belakang Lia. Ia menganggap teman-teman dari
keluarga kaya tersebut sebagai orang yang egois, kurang bersahabat, pilih-pilih teman yang
sama-sama dari keluarga kaya saja, dan sombong. Makin lama perasaan ditolak, terisolik, dan
kesepian makin mencekam dan mulai timbul sikap dan anggapan sekolahnya itu bukan untuk
dirinya tidak krasan, tetapi mau keluar malu dengan orang tua dan temannya sekampung;
terus bertahan, susah tak ada/punya teman yang peduli. Dasar saya anak desa, anak miskin
(dibanding teman-temannya di kota) hujatnya pada diri sendiri. Akhirnya benar-benar
menjadi anak minder, pemalu dan serta ragu dan takut bergaul sebagaimana mestinya. Makin
lama nilainya makin jatuh sehingga beban pikiran dan perasaan makin berat, sampai-sampai
ragu apakah bisa naik kelas atau tidak.
Teknik Konseling dari kasus diatas ialah:
Jika pemikiran Lia yang tidak logis / realistis (tentang konsep dirinya dan
pandangannya terhadap teman-temannya) itu diperangi maka dia akan mengubahnya. Dengan
demikian tujuan konseling adalah memerangi pemikiran irasional Lia yang melatar-belakangi
ketakutan / kecematannya yaitu konsep dirinya yang salah beserta sikapnya terhadap teman
lain. Dalam konseling konselor lebih bernuansa otoritatif : memanggil Lia, mengajak
berdiskusi dan konfrontasi langsung untuk mendorongnya beranjak dari pola pikir irasional
ke rasional / logis dan realistis melalui persuasif, sugestif, pemberian nasehat secara tepat,
terapi dengan menerapkan prinsip-prinsip belajar untuk PR serta bibliografi terapi.
Konseling kognitif : untuk menunjukkan bahwa Lia harus membongkar pola pikir
irasional tentang konsep harga diri yang salah, sikap terhadap sesama teman yang salah jika
ingin lebih bahagia dan sukses.

Konselor lebih bergaya mengajar : memberi nasehat, konfrontasi langsung dengan


peta pikir rasional-irasoonal, sugesti dan asertive training dengan simulasi diri menerapkan
konsep diri yang benar dan sikap/ketergantungan pada orang lain yang benar/rasional
dilanjutkan sebagai PR melatih, mengobservasi dan evaluasi diri. Contoh : mulai dari
seseorang berharga bukan dari kekayaan atau jumlah dan status teman yang mendukung,
tetapi pada kasih Allah dan perwujudanNya. Allah mengasihi saya, karena saya berharga
dihadiratNya. Terhadap diri saya sendiri suatu saat saya senang, puas dan bangga, tetapi
kadang-kadang acuh-tak acuh, bahkan adakalanya saya benci, memaki-maki diri saya sendiri,
sehingga wajar dan realistis jika sejumlah 40 orang teman satu kelas misalnya ada + 40%
yang baik, 50% netral, hanya 10% saja yang membeci saya. Adalah tidak mungkin menuntut
semua / setiap orang setiap saat baik pada saya, dan seterusnya. Ide-ide ini diajarkan, dan
dilatihkan dengan pendekatan ilmiah.
Konseling emotif-evolatif untuk mengubah sistem nilai Lia dengan menggunakan
teknik penyadaran antara yang benar dan salah seperti pemberian contoh, bermain peran, dan
pelepasan beban agar Lia melepaskan pikiran dan perasaannya yang tidak rasional dan
menggantinya dengan yang rasional sebagai kelanjutan teknik kognitif di atas. Konseling
behavioritas digunakan untuk mengubah perilaku yang negatif dengan merobah akar-akar
keyakinan Lia yang irasional/tak logis kontrak reinforcemen, sosial modeling dan
relaksasi/meditasi.
Teori ini dalam menolong menggunakan pendekatan direct menggunakan nasehat
yang ditandai oleh menyerang masalah dengan intektual dan meyakinkan (koselor).
Tekniknya jelas, teliti, makin melihat/menyadari pikiran dan kata-kata yang terus menerus
ditujukan kepada diri sendiri, yang membawa kehancuran kepada diri sendiri. Cara konselor
ialah dengan pendekatan yang tegas, memintakan perhatian kepada pikiran-pikiran yang
menjadi sebab gangguan itu dan bagaimana pikiran dan kalimat itu beroperasi hingga
membawa akibat yang merugikan. Konselor selanjutnya menolong dia untuk memikir
kembali, menantang, mendebat, menyebutkan kembali kalimat-kalimat yang merugikan itu,
dan dengan cara demikian ia membawa klien ke kesadaran dan tilikan baru. Tetapi tilikan dan
kesadaran tidak cukup. Ia harus dilatih untuk berpikir dan berkata kepada diri sendiri hal-hal
yang lebih positive dan realistik. Terapis mengajar klien untuk berpikir betul dan bertindak
efektif. Teknik yang dipakai bersifat eklektif dengan pertimbangan :
1. Ekonomis dari segi waktu baik bagi konselor maupun konseli.
2. Efektifitas teknis-teknis yang dipakai cocok untuk bermacam ragam konseli.
3. Kesegaran hasil yang dicapai.
4. Kedalaman dan tanah lama serta dapat dipakai konseling untuk mengkonseling
dirinya sendiri kalah.

DESKRIPSI KASUS
Aplikasi perilaku caring dalm bidang sesuai kasus
Praktisi keperawatan dalam melaksanakan fungsinya perlu menerapkan teori atau
model yang sesuai dengan situasi tertentu. Pada kondisi awal, kombinasi dari beberapa
teori atau model dapat dipertimbangkan, tetapi jika dipergunakan secara konsisten dapat
dilakukan analisa atau evaluasi terhadap efektivitasnya. Dengan menggunakan berbagai
teori dan model keperawatan, maka fokus dan konsekwensi praktek keperawatan dapat
berbeda .
Contoh studi kasus Caring
Tn X usia 45 tahun, berasal dari daerha yogyakarta, status duda, satu jam sebelum
masuk rumah sakit pasien mengeluh nyeri dada sebelah kiri menjalar ke leher, rahang,
lengan serta ke punggung sebelah kiri. Nyeri dirasakan seperti tertekan benda berat. Nyeri
menetap walaupun telah diistirahatkan. Nyeri dirasakan terus menerus lebih dari 30
menit. Kemudian oleh keluarga dibawa ke UGD RSHS. Ketika pasien meraskan rasa
nyeri tersebut pasien hanya bisa meringis (wajah merasa sakit) dengan nada pelan dan
tidak berteriak. Pasien hanya pasrah dan merasakan nyerinya, dan sedikit mengeluarkan
kata-kata.Klien sebelumnya belum pernah dirawat atau sakit berat tetapi memiliki
kebiasaan kurang olah raga, riwayat merokok berat 2 bungkus per hari, klien adalah
seorang kepala keluarga dan bekerja sebagai seorang meneger di salah satu perusahaan.
Hasil pemeriksaan fisik : kesadaran kompos mentis, tekanan darah 140/90 mmHg, Nadi
98 kali/pemit, respirasi 30 kali/menit. Tampak gelisah, banyak keluar keringat. Hasil
pemeriksaan EKG menunjukan adanya ST elevasi. Hasil Laboratorium terdapat enzim
troponin T positip dan CKMB meningkat. Oleh dokter klien didiagnosa sindroma koroner
akut dengan ST elevasi Miocard infark.
Teknik Caring dari kasus diatas ialah:
Pada kasus Tn X tersebut diatas maka perawat harus segera bereaksi terhadap
perilaku pasien baik secara perbal maupun non verbal, melakukan validasi, membagi
bereaksi terhadap perilaku pasien dengan mempersepsikan, berfikir dan merasakan.
Perawat membantu pasien untuk mengurangi ketidaknyamanan baik fisik maupun
psikologis, ketidakmampuan pasien dalam menolong dirinya, serta mengevaluasi
tindakan perawatan yang sudah dilakukannya. Semua itu dapat diterapkan melalui
pendakaan

disiplin

proses

keperawatan

Orlando

sebagai

berikut

1. Fase Reaksi Perawat.


Menutut George (1995) bahwa reaksi perawat dimana terjadi berbagi reaksi
perawat dan perilaku pasien dalam disiplin proses keperawatan teori Orlando identik
dengan fase pengkajian pada proses keperawatan.
10

Pengkajian difokuskan terhadap data-data yang relatif menunjukan kondisi yang


emergenci dan membahayakan bagi kehidupan pasien, data yang perlu dikaji pada kasus
diatas selain nyeri dada yang khas terhadap adanya gangguan sirkulasi koroner, juga perlu
dikaji lebih jauh adalah bagaimana kharakteristik nyeri dada meliputi apa yang menjadi
faktor pencetusnya, bagaimana kualitasnya, lokasinya, derajat dan waktunya. Disamping
itu dapatkan juga data adakah kesulitan bernafas, rasa sakit kepala, mual dan muntah
yang mungkin dapat menyertai keluhan nyeri dada.Perawat perlu mengkaji perilaku
pasien non verbal yang menunjukan bahwa pasien memerlukan pertolongan segera seperti
: tanda-tanda vital, pada kasus didapatkan tekanan darah 140/90 mmHg, nadi 98
kali/menit, respirasi 30 kali/menit. Tampak gelisah, banyak keluar keringat. Perlu juga
dikaji bagaimana kondisi akral apakah hangat atau dingin, CRT, kekuatan denyut nadi,
Selanjutnya perawat perlu mengetahui data-data lain seperti catatan dari tim kesehatan
lain, hasil laboratorium dan pemeriksaan diagnostik. Pada kasus didapatkan : EKG ST
elevasi, diagnosa medis SKA STEMI. Troponin T positif, CKMB meningkat.
2. Fase Nursing Action
Fase perencanaan pada proses keperawatan, sesuai dengan fase nursing action
pada disiplin proses keperawatan mencakup sharing reaction (analisa data), diagnosa
keperawatan, perencanaan dan tindakan keperawatan atau implementasi Tujuannya
adalah selalu mengurangi akan kebutuhan pasien terhadap bantuan serta berhubngan
dengan peningkatan perilaku pasien.Setelah mendapatkan data-data yang menunjukan
perilaku pasien, menurut Orlando perawat perlu melakukan sharing reaction yang identik
dengan

analisa

data,

sehingga

dapat

ditentukan

diagnosa

keperawatan.

a. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan difokuskan terhadap masalah ketidak mampuan pasien
untuk memenuhi kebutuhannya sehingga perlu pertolongan perawat. Dari data yang
didapatkan pada kasus Tn X ditemukan masalah :
1. Ketidakmampuan pasien menolong dirinya dalam memelihara perfusi jaringan otot
jantung (berhubungan dengan penurunan aliran darah sekunder terhadap obstruksi.)
2. Ketidakmampuan pasien menolong dirinya dalam mengatasi rasa nyeri (berhubungan
dengan adanya iskemik)
3. Ketidakmampuan pasien untuk melakukan aktivitas fisik (berhubungan dengan
ketidaksimbangan suplai dan kebutuhan akan oksigen).

11

DESKRIPSI KASUS
Contoh studi kasus komunikasi
Peristiwa ini dialami oleh perawat S ketika bertugas di sebuah daerah yang cukup
terpencil. Pada suatu hari perawat S yang sedang berdinas di Puskesmas A dijemput dengan
sebuah mobil oleh enam orang yang tidak dikenalnya. Perawat S dimintai pertolongan untuk
datang ke rumah seorang kepala suku di daerah tersebut. Perawat S segera menyiapkan alat
dan bergegas ikut ke lokasi .Setibanya di lokasi keluarga pasien mempersilakan perawat
untuk masuk. Disisi lain rumah, perawat melihat ada seorang anggota keluarga yang agak
mabuk (menurut persepsi perawat). Di ruang tamu terdapat cukup banyak orang (warga),
sehingga ruangan menjadi sesak dan ribut. Perawat menanyakan siapa yang sakit, kemudian
perawat diantar oleh istri pasien masuk ke kamar. Setelah berada di dalam kamar, terjadilah
dialog antara perawat dan istri pasien, akan tetapi di kamar tersebut ternyata dipenuhi oleh
beberapa orang anggota keluarga sehingga perawat merasa terganggu oleh keadaan itu.
Perawat meminta keluarga yang lain untuk keluar kecuali istri pasien, tetapi mereka tidak
mau keluar. Sekali lagi perawat mengulangi permintaannya tetapi tidak ada tanggapan dari
keluarga pasien sehingga perawat menjadi agak kesal dan emosi. Untunglah ada keluarga
pasien yang bisa memberi pengertian, sehingga mereka mau keluar juga meskipun disertai
omelan. Setelah situasi di kamar tenang, perawat segera melakukan tindakan keperawatan
sesuai prosedur. Perawat menanyakan kepada pasien, mengapa tidak memeriksakan diri ke
Puskesmas tetapi pasien marah dan menjawab dengan nada tinggi. Pada saat yang bersamaan
perawat mendengar perkataan yang tidak menyenangkan dari keluarga pasien yang berada di
pintu. Setelah semua prosedur dilakukan, perawat S membuat kesimpulan bahwa pasien
menderita usus buntu kronis. Perawat hanya bisa memberikan obat untuk mengurangi rasa
sakit dan menyarankan agar pasien segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan
pertolongan lebih lanjut. Tetapi pasien menolak sambil marah-marah. Perawat S berusaha
memberikan penjelasan sekali lagi tentang kemungkinan terburuk yang bisa tejadi sambil
membuat surat rujukan. Akhirnya pasien bersedia untuk dirujuk ke rumah sakit.
Teknik komunikasi dari kasus diatas ialah :
Dari studi kasus yang ada di atas, dapat dianalisis bahwa faktor-faktor penghambat
komunikasi jika ditinjau dari faktor komunikan dan komunikator yakni persepsi, nilai dan
latar belakang sosial, emosi, tatanan interaksi atau lingkungan serta pengetahuan.

12

1)

Persepsi.
Persepsi adalah cara seseorang mencerap tentang segala sesuatu yang terjadi

disekelilingnya. Persepsi dikatakan sebagai salah satu faktor penghambat komunikasi


(perawat-klien) karena pada kasus tersebut terdapat suatu kejadian dimana saat perawat S
ingin memeriksa pasien dan menyuruh keluarga pasien untuk menunggu di luar kamar,
keluarga pasien malah marah-marah ke perawat S, padahal maksud perawat S baik agar
pasien dapat bernapas lebih enak. Disini telah tampak perbedaan persepsi antara keluarga
pasien dan perawat S dimana keluarga merasa dirinya perlu untuk mendampingi pasien saat
d periksa .
2)

Nilai dan Latar Belakang Sosial


Komunikasi yang terjadi antara perawat dengan klien juga dipengaruhi oleh nilai-nilai

dari kedua belah pihak. Nilai adalah keyakinan yang dianut seseorang, jalan hidup seseorang
dipengaruhi oleh keyakinan, fikiran dan tingkah lakunya. Nilai-nilai seseorang sangat dekat
dengan masalah etika. Seperti kejadian pada di kasus diatas, dimana seseorang yang sakit itu
adalah salah satu keluarga kepala suku atau mungkin kepala suku dan (mungkin) keyakinan /
nilai yang berkembang di sana jika ada seorang warga atau bahkan jika kepala suku /
keluarga kepala suku yang sakit patut untuk di lihat sebagai tanda penghormatan hingga
membuat rumah tersebut sesak dipenuhi oleh banyak orang baik keluarga maupun warga.
3)

Emosi
Emosi juga sangat berpengaruh pada komunikasi perawat dan klien (pasien) dan

menjadi salah satu factor penghambat. Emosi adalah subyektif seseorang dalam merasakan
situasi yang terjadi disekelilingnya. Kekuatan emosi seorang dipengaruhi oleh bagaimana
kemampuan atau kesanggupan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain. Seperti
contoh pada kasus diatas, dimana si pasien selalu emosi dan marah-marah ke perawat
sehingga apapun yang dikatakan perawat seakan tidak bisa ia terima. Begitu pula pada
keluarga pasien yang juga marah-marah pada perawat. Ini terjadi (mungkin) karena situasi
lingkungannya yang terlalu rame / gaduh ditambah lagi keadaannya (pasien) yang sedang
sakit dan keluarga pasien yang panik.
4)

Tatanan Interaksi atau Lingkungan


Tatanan interaksi atau lingkungan juga sangat berpengaruh dan menjadi salah satu

factor penghambat bagi perawat dalam berkomunikasi dengan klien. Hal ini dikarenakan
suatu komunikasi baik itu dapat terwujud jika dalam tatanan interaksi yang baik pula.
Perawat dan klien dipastikan dapat berkomunikasi dengan nyaman.

13

Sedangkan yang terjadi pada kasus diatas tatanan interaksi atau lingkungannya
sangat gaduh karena dipenuhi oleh banyak orang sehingga menyebabkan perawat terganggu
untuk memeriksa pasien begitu pula pada pasien yang bawaannya ingin marah saja pada
pasien .
5)

Pengetahuan
Komunikasi sulit berlangsung bila terjadi perbedaan tingkat pengetahuan dari pelaku

komunikasi. Seperti pada contoh kasus diatas dimana terdapat perbedaan pengetahuan antara
perawat dan pasien. Pada saat pasien marah dan tidak mau untuk di rujuk ke rumah sakit oleh
perawat S. Ini sudah membuktikan bahwa pengetahuan pasien akan penyakit yang
dideritanya kurang, sehingga merasa dirinya tidak perlu untuk dirujuk ke rumah sakit,
padahal sesungguhnya penyakitnya sudah kronis dan mesti dibawa ke rumah sakit guna
mendapatkan perawatan yang lebih intensif.

14

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Caring merupakan fenomena universal yang berkaitan dengan cara seseorang
berpikir,berperasaan dan bersikap ketika berhubungan dengan orang lain. Tujuan Caring
adalah untuk mendukung proses penyembuhan secara total(hoover,2002).
Koseling sebagai hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua
orang dalam mana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus
yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar.
Komunikasi

merupakan

proses

kompleks

yang

melibatkan

perilaku

memungkinkan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan dunia sekitarnya.

15

dan

DAFTAR PUSTAKA
Potter,Patricia A,Anne G. Perry. 2009. Fundamental Of Nursing edisi 7. Jakarta: Penerbit
Salemba Medika.
Tindall,W.N.,Beardsley,R.S.,Kimberlin.C.L.,1994, Communication Skills in Pharmacy
Practice,A Practical Guide for Students and Practitioners, 3rd Ed., Lea & Febiger,
Baltimore, Maryland.
Taylor,carol.lilis,carol

dan

lemone,priscilla.

ed,phidelphia:Lippincott.
(http://www.counseling.org).

16

1997.

Fundamental

of

Nursing

3nd