Anda di halaman 1dari 127

ANALISIS PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA PADA PROSES PRODUKSI TEH MAHKOTA DEWA DENGAN METODE OBJECTIVE MATRIX (OMAX) (Studi kasus di PT. Salama Nusantara Yogyakarta)

SKRIPSI

(Studi kasus di PT. Salama Nusantara Yogyakarta) SKRIPSI Disusun Oleh : YUDHA EKA FITRIYANTO 06/196527/ TP/

Disusun Oleh :

YUDHA EKA FITRIYANTO 06/196527/ TP/ 08684

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA

2011

i

ANALISIS PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA PADA PROSES PRODUKSI TEH MAHKOTA DEWA DENGAN METODE OBJECTIVE MATRIX (OMAX) (Studi kasus di PT. Salama Nusantara Yogyakarta)

SKRIPSI

Diajukan Kepada:

Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada

Sebagai Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Strata Satu (S1)

Jurusan Teknologi Industri Pertanian

Disusun Oleh :

YUDHA EKA FITRIYANTO

06/196527/TP/08684

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2011

ii

iii

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SAW yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan skripsi dengan judul Analisis Produktivitas Tenaga Kerja pada Proses Produksi Teh

Mahkota Dewa dengan Metode OBJECTIVE MATRIX (OMAX). (Studi kasus di PT. Salama Nusantara, Yogyakarta) guna melengkapi syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata Satu di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan skripsi ini dapat terwujud atas bantuan dan dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada:

1. Keluargaku tercinta yang telah memberikan doa, semangat dan dukungan baik secara materi maupun spiritual.

2. Dr. Ir. Djagal Wiseso Marseno, M.Agr. selaku Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

3. Dr. Ir. Adi Djoko Guritno, M.Si. selaku Ketua Jurusan Teknologi Industri Pertanian FTP UGM, atas segala bimbingan dan petunjuk yang diberikan selama ini.

4. Ir. Pujo Saroyo, M.Eng.Sc. selaku dosen pembimbing I yang telah berkenan menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membimbing serta memberikan saran dan kritik dalam penyusunan skripsi.

5. Dr. Ir. Endy Suwondo, DEA selaku dosen pembimbing II dan sekaligus DPA yang telah berkenan menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membimbing serta memberikan saran dan kritik dalam penyusunan skripsi.

6. Ir. Ag. Suryandono, M. App. Sc. selaku dosen penguji skripsi yang telah memberi masukan demi perbaikan skripsi ini.

7. Seluruh dosen Jurusan Teknologi Industri Pertanian yang telah membantu kelancaran penyusunan skripsi ini.

iv

8. Seluruh staf dan karyawan Jurusan Teknologi Industri Pertanian yang telah membantu kelancaran penyusunan skripsi ini.

9. DRS HM. Maryono sebagai pemilik PT. Salama Nusantara dan seluruh karyawan PT Salama Nusantara yang telah memberikan kesempatan dan bantuan dalam penyusunan skripsi.

10. Seluruh teman-teman TIP khususnya angkatan 2006 yang selalu membantu dan memberikan semangatnya.

11. Dan segenap pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini

hingga selesai. Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan skripsi ini masih jauh dari sempurna, Untuk itu diharapkan masukan-masukan dari semua pihak demi kesempurnaan laporan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap semoga laporan skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi semua pihak.

Yogyakarta, 28 Juni 2011

v

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……………

……………………………

i

HALAMAN PENGAJUAN…………………………………………… ii

HALAMAN PENGESAHAN…………………………………………. iii

KATA PENGANTAR………………………………………………… iv

DAFTAR ISI……………………………………………………………vi

DAFTAR TABEL………………………………………………………ix

DAFTAR GAMBAR…………………………………………………

x

DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………xi

INTISARI……………………………………………………………… xii

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang……………………………………………………

1

B. Perumusan Masalah………………………………………

……

3

C. Batasan Masalah…………………………………………… ……

4

D. Tujuan Penelitian…………………………………………

……

4

E. Manfaat penelitian…………………………………………. ……

4

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Produktivitas…………………………………… ……

5

B. Daur Produktivitas…………………………………………. ……

8

C. Pengukuran Produktivitas…………………………………

……

9

D. Industri Teh……………………………………………

…….….

13

E. Pengertian produktivitas Tenaga kerja dan arti pentingnya

15

vi

F. Pengukuran Produktivitas Menggunakan Metode

Objective Matrix (Omax)……………………………………………….15

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Obyek Penelitian…………………

………………

27

B. Tahapan Penelitian………………………………………… ……

27

C. Pengumpulan Data…………………………………………

……

28

D. Metode analisa data…………………………….……

………

29

E. Diagram Alir Penelitian……………………………. ……

33

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

 

A.

Gambaran Umum Perusahaan

1.

Sejarah Perusahaan…………………………

….

34

2.

Proses Produksi…………………………

…….

35

B.

Perhitungan data Tahun 2008

1.

Perhitungan rasio………………

……

 

41

2.

Perhitungan Kinerja Standar (skor 3)…………………………

42

3.

Perhitungan Sasaran akhir (skor 10)…………………………

 

43

4.

Perhitungan Nilai Terendah (skor 0)………………………

….

44

5.

Perhitungan Sasaran Jangka Pendek (skor 0-3 dan 3- 10)……

 

45

6.

Penentuan Bobot Rasio……………………

48

7.

Analisis dan Pembahasan……………………

50

8.

Analisis Indeks Produktivitas……………………

 

52

C.

Perhitungan data Tahun 2009

1.

Perhitungan rasio ………………

……

 

58

vii

2.

Perhitungan Kinerja Standar (skor 3)…………………………

58

3.

Perhitungan Sasaran akhir (skor 10)…………………………

 

59

4.

Perhitungan Nilai Terendah (skor 0)………………………

….

61

5.

Perhitungan Sasaran Jangka Pendek (skor 0-3 dan 3- 10)……

62

6.

Penentuan Bobot Rasio……………………

65

7.

Analisis dan Pembahasan………………

67

8.

Analisis Indeks Produktivitas……………………

69

D.

Perhitungan data Tahun 2010

1.

Perhitungan rasio…………

………………

……

75

2.

Perhitungan Kinerja Standar (skor 3)…………………………

75

3.

Perhitungan Sasaran akhir (skor 10)…………………………

 

76

4.

Perhitungan Nilai Terendah (skor 0)………………………

….

78

5.

Perhitungan Sasaran Jangka Pendek (skor 0-3 dan 3- 10)……

78

6.

Penentuan Bobot Rasio……………………

82

7.

Analisis dan Pembahasan………………

84

8.

Analisis Indeks Produktivitas……………………

86

E.

Perbandingan produktivitas……… ………….……

92

F.

Analisis kriteria dengan diagram fishbone

93

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

 

A. Kesimpulan………………………………………………… ……

95

B. Saran………………………………………………………………

96

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

viii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel II.1. Tabel Omax

21

Tabel VI.1. Data-data Pengukuran Produktivitas Tenaga Kerja Tahun 2008

41

Tabel VI.2. Perhitungan kinerja Standar Tahun 2008

42

Tabel VI.3. Perhitungan Nilai Terendah Tahun 2008………………………

45

Tabel VI.4. Hasil Pembobotan Tiap Rasio Tahun 2008……………………

49

Tabel VI.5. Perhitungan Indeks Produktivitas dan Indeks Produktivitas

relative Tahun 2008……………………………………….………………

53

Tabel VI.6. Data-data Pengukuran Produktivitas Tenaga Kerja Tahun 2009

58

Tabel VI.7. Perhitungan kinerja Standar Tahun 2009

59

Tabel VI.8. Perhitungan Nilai Terendah Tahun 2009………………………

61

Tabel VI.9. Hasil Pembobotan Tiap Rasio Tahun 2009……………………

66

Tabel VI.10. Perhitungan Indeks Produktivitas dan Indeks Produktivitas

relative Tahun 2009…………………………………………………………

70

Tabel VI.11. Data-data Pengukuran Produktivitas Tenaga Kerja Tahun 2010

75

Tabel VI.12. Perhitungan kinerja Standar Tahun 2010

76

Tabel VI.13. Perhitungan Nilai Terendah Tahun 2010……………………

78

Tabel VI.14. Hasil Pembobotan Tiap Rasio Tahun 2010……………………

83

Tabel VI.15. Perhitungan Indeks Produktivitas dan Indeks Produktivitas

relative Tahun 2010…………………………………………………………

87

ix

DAFTAR GAMBAR

 

Halaman

Gambar II.1. Siklus Produktivitas

8

Gambar II.3. Diagram Fishbone

26

Gambar III.1. Diagram Penelitian

33

Gambar IV.1. Kemasan Plastik Teh Mahkota Dewa…………………

35

Gambar IV.2. Kemasan Kotak Teh Mahkota Dewa (Lama)

35

Gambar IV.3. Kemasan Kotak Teh Mahkota Dewa (Baru)

35

Gambar IV.4. Proses Pembuatan Teh Mahkota Dewa

……………………

37

Gambar IV.5. Proses Perajangan……………………………………………

39

Gambar IV.6. Proses Pengeringan I

39

Gambar IV.7. Perbandingan Indeks Produktivitas………………………………

92

Gambar IV.8. Rasio yang Dominan……………………………………

92

Gambar IV.9. Diagram Fishbone

93

x

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

: Matriks Omax Periode Mei 2008 dan kinerja Periode Mei 2008

Lampiran 2

: Matriks Omax Periode Juni 2008 dan kinerja Periode Juni 2008

Lampiran 3

: Matriks Omax Periode Juli 2008 dan kinerja Periode Juli 2008

Lampiran 4

: Matriks Omax Periode Agustus 2008 dan kinerja Periode Agustus

2008

Lampiran 5

: Matriks Omax Periode Mei 2009 dan kinerja Periode Mei 2009

Lampiran 6

: Matriks Omax Periode Juni 2009 dan kinerja Periode Juni 2009

Lampiran 7

: Matriks Omax Periode Juli 2009 dan kinerja Periode Juli 2009

Lampiran 8

: Matriks Omax Periode Agustus 2009 dan kinerja Periode Agustus

2009

Lampiran 9

: Matriks Omax Periode Mei 2010 dan kinerja Periode Mei 2010

Lampiran 10

: Matriks Omax Periode Juni 2010 dan kinerja Periode Juni 2010

Lampiran 11

: Matriks Omax Periode Juli 2010 dan kinerja Periode Juli 2010

Lampiran 12

: Matriks Omax Periode Agustus 2010 dan kinerja Periode Agustus

2010

Lampiran 13

: Data Produksi dan Personalia

Lampiran 14

: Nilai Indikator Performance Periode Awal

Lampiran 15

: Angket Pembobotan Terhadap Rasio Produktivitas

xi

ANALISIS PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA PADA PROSES PRODUKSI TEH MAHKOTA DEWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE OBJECTIVE MATRIX

(Study kasus di PT. Salama Nusantara Yogyakarta)

Yudha Eka Fitriyanto 1 , Pujo Saroyo 2 , Endy Suwondo 2

INTISARI

PT. Salama Nusantara merupakan perusahaan yang bergerak dibidang pangan yaitu pembuatan Teh Mahkota Dewa. PT. Salama Nusantara harus dapat menghadapi persaingan dalam industri pertanian yang cukup ketat. Maka diperlukan suatu indikator yang dapat menunjukkan performansi suatu industri yaitu tingkat produktivitas. Metode Analisis menggunakan Objective Matrix. OMAX merupakan metode untuk mengukur unit-unit kerja seperti tenaga kerja. Teori yang mendasari OMAX yaitu bahwa produktivitas merupakan sebuah fungsi dari beberapa faktor performansi. Hasil akhir dari pengukuran dengan metode OMAX yaitu nilai tunggal yang menyatakan indikator pencapaian produktivitas dalam setiap periode pengukuran. Dari hasil diketahui kriteria yang berpengaruh terhadap produktivitas tenaga kerja di PT. Salama Nusantara yaitu Jumlah produk yang dihasilkan, Jumlah tenaga kerja, jumlah produk cacat, jumlah total hari kerja, dan jumlah absensi. Kriteria ini digolongkan menjadi 3 rasio. Nilai indikator pencapaian tertinggi pada bulan Agustus 2010 sebesar 796 dengan kenaikan tingkat indikator pencapaian awal sebesar 176,38%. Indikator yang terendah terjadi pada bulan Juni 2010 sebesar 297 dengan mengalami penurunan produktivitas sebesar 3,125%. Peningkatan produktivitas dapat dilakukan dengan cara perbaikan rasio 1 dengan meningkatkan skill pekerja, menciptakan kelompok kerja solid, pemberian tugas dan tanggung jawab pada pekerja yang jelas. Supaya nantinya mempengaruhi pada produk yang dihasilkan.

Kata kunci : Produktivitas, Objective matrix, Nilai indikator, Performansi

1 Mahasiswa Jurusan Teknologi Industri Pertanian FTP UGM

2 Staf Pengajar Jurusan Teknologi Industri Pertanian FTP UGM

xii

THE ANALYSIS OF MANPOWER PRODUCTIVITY TO PRODUCTION PROCESS OF MAHKOTA DEWA TEA BY USING OBJECTIVE MATRIX METHOD (The case study in PT. Salama Nusantara Yogyakarta)

Yudha Eka Fitriyanto 1 , Pujo Saroyo 2 , Endy Suwondo 2

ABSTRACT

PT. Salama Nusantara is a company that moves in food sector is producing the Mahkota Dewa Tea. PT. Salam Nusantara should able to face the competition within tightly agricultural sector. Therefore it needs an indicator action that show the performance of an industry is productivity level. The analysis method uses objective matrix. OMAX is method to measure work units like empower. Theory underlying OMX is that productivity is a function of some performance factors. The final result of measurement by OMAX method is single value state that the productivity achievement indicator in each period of measurement. From the result showed that criteria influences the empower productivity in PT. Salama nusantara was the number of produced product, of imperfect product, of total work day, and of absence. This criterion was categorized into three ratios. The highest achievement indicator value on August 2010 was 796 with increased initial achievement indicator value of 176.38%. The lowest indicator was on June 2010 of 297 with decreased productivity of 3.125%. The increasing productivity can be conducted by repair way of ratio 1 by increasing the labor’ skill, create solid work group, clear assignment duty and responsibility for labor in order to influence the produced product in the future.

Keywords : Productivity, Objective matrix, Indicator value, Performance

1 The student of Agricultural Industry Technology Major, FTP UGM

2 The teaching staff of Agricultural Industry Technology, FTP UGM

xiii

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Era globalisasi ditandai dengan semakin ketatnya persaingan bisnis yang

menuntut perusahaan mampu mengelola sumber daya yang dimiliki seoptimal

mungkin. Pasar tidak hanya dimasuki oleh pesaing-pesaing domestik dan non

domestik dengan berbagai jenis produk yang bernilai jual tinggi dan kompetitif.

Lingkungan bisnis yang begitu kompleks membawa dampak bagi perusahaan

untuk mengkaji kembali sumber daya yang dimiliki dan menggunakan secara

optimal yang nantinya dapat menghasilkan produk yang bernilai jual tinggi

dipasaran baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Dalam

mencapai

tujuannya,

sebuah

perusahaan

harus

mampu

menyesuaikan dengan perubahan zaman, dan hal ini tidak terlepas dari kinerja

produktivitas

tenaga

kerja

yang

nantinya

dapat

menghasilkan

produk

yang

kompetitif. Situasi yang selalu stabil bagi perusahaan dapat dijadikan sebuah

peluang dalam meningkatkan kapasitas produksinya, akan tetapi dapat juga

sebagai ancaman bagi perusahaan tersebut jika tidak dapat menyesuaikan dengan

perubahan lingkungan bisnis yang ada.

PT. Salama Nusantara merupakan Badan Usaha yang bergerak di sektor

pangan yaitu, pengolahan Teh Mahkota Dewa, Yang mempunyai visi yaitu

menjadikan perusahaan yang menghasilkan produk yang berdaya jual tinggi dan

berguna bagi kesehatan masyarakat Indonesia tanpa adanya bahan kimia. Dan

2

mempunyai tujuan menjadikan masyarakat indonesia sehat secara herbal tanpa

ada campuran bahan kimia.

Banyaknya pesaing yang bermunculan akhir-akhir ini seperti PTPN XI

yaitu dalam perbedaan kualitas produknya yaitu grade a dan grade b yang

nantinya untuk kualitas ekspor sedangkan di PT Salama Nusantara kualitas

produknya grade c dan grade d yang nantinya untuk kualitas impor. Akan tetapi

PT Salama Nusantara berusaha untuk menaikkan kualitas produknya dari grade c

dan grade d menjadi grade a dan grade b yang nantinya bisa menembus pasar

ekspor.

Untuk

mengevaluasi

kinerja

perusahaan

tersebut,

perlu

dilakukan

pengukuran secara menyeluruh dan terus menerus.

Salah satunya evaluasi yang dapat dilakukan adalah adanya evaluasi

produktivitas tenaga kerja. Hasil pengukuran produktivitas tenaga kerja ini dapat

digunakan sebagai umpan balik bagi perusahaan dalam melaksanakan programnya

sehingga

perusahaan

meningkatkan

daya

kelangsungan kegiatan perusahaan.

saing

produknya,

guna

menjamin

Upaya peningkatan produktivitas industri akan sangat terkait dengan

tenaga kerja yang akan menjalankan proses tersebut. Faktor tenaga kerja berperan

penting di sebuah industri. Karena faktor inilah yang menjadi motor penggerak

berjalan

atau

tidaknya

sebuah

industri.

Oleh

karena

itu,

setiap

industri

berkewajiban melakukan pengelolaan secara sistemik dan terpadu terkait dengan

tenaga kerjanya.

3

Oleh karena itu, perlu adanya evaluasi dan perbaikan tenaga kerja yang

merupakan faktor penting dalam berjalan atau tidaknya suatu industri Yang

nantinya akan berpengaruh dengan besar kecilnya daya saing perusahaan tersebut.

B. Perumusan Masalah

Persaingan yang semakin ketat memerlukan pengukuran produktivitas

perusahaan. Sebagai

langkah awal, perlu dilakukan pengukuran produktivitas

tenaga kerja, yaitu dengan pengukuran produktivitas tenaga kerja sebagai upaya

untuk mengetahui efektivitas penggunaan sumber daya manusia dalam proses

produksi. Apabila hal ini tetap berlanjut akan berdampak pada kemajuan dan daya

saing

yang

dicapai

perusahaan.

Oleh

karena

itu

diperlukan

pengukuran

produktivitas

secara

sistematis

dan

berkesinambungan

guna

mendukung

terciptanya sistem produksi yang produktif.

PT. Salama Nusantara merupakan salah satu contoh industri berskala

menengah

yang

belum

melakukan

pengukuran

produktivitas,

terlebih

produktivitas tenaga kerja. Industri ini lebih banyak menggunakan tenaga kerja

manusia dalam berproduksi, sehingga produktif atau tidaknya usahanya dapat

dilihat dari faktor tenaga kerja. Tenaga kerja ini akan sangat mempengaruhi

jumlah

produk

yang

dihasilkan

dari

sekian

jumlah

bahan

baku

dengan

keterbatasan jam kerja yang tersedia. Tenaga kerja ini juga akan berpengaruh pada

kualitas

produk

teh

yang

diproduksi,

yaitu

seberapa

persen

mereka

dapat

menyebabkan produk cacat. Jumlah tenaga kerja yang tidak hadir dalam suatu

waktu produksi juga akan sangat berpengaruh terhadap produktivitas.

4

C. Batasan Masalah

Penelitian

ini

Fokus

pada

pengukuran

intensitas

tenaga

kerja

yang

berhubungan langsung dengan produktivitas tenaga kerja pada perusahaan dengan

menggunakan elemen

data produksi, absensi tenaga kerja, jumlah tenaga kerja,

jumlah hari kerja, dan jumlah produk yang rusak. Dengan Objevtive matrix

dengan perbaikan diagram pareto.

D.

Tujuan Penelitian

 

1.

Mengidentifikasi kriteria yang digunakan dalam pengukuran produktivitas

tenaga kerja di PT. Salama Nusantara

 

2.

Mengetahui nilai tenaga kerja selama periode pengukuran yang ditentukan.

3.

Menentukan langkah-langkah pengendalian untuk meningkatkan produktivitas

tenaga kerja.

E.

Manfaat penelitian

 

1.

Masukan bagi PT. Salama Nusantara mengenai produktivitas tenaga kerja

berdasarkan hasil pengukuran

 

2.

Memperoleh

informasi

bagi

perusahaan

yang

dapat

digunakan

sebagai

masukan untuk perbaikan produktivitas bagi peusahaan dengan meningkatkan

tenaga kerja dan dapat menilai kemajuan yang telah dicapai.

 

3.

Menentukan langkah-langkah perbaikan yang mengarah pada peningkatan

produktivitas tenaga kerja pada periode yang akan datang.

5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Produktivitas

Menurut

sinungan

(1997)

produktivitas

merupakan

konsep

pemanfaatan

sumbr daya secara lebih baik sehingga menghasilkan output yang diinginkan. Hingga

saat ini, konsep yang paling banyak digunakan mengenai produktivitas adalah konsep

yang

dikemukakan

oleh

Sumanth

dalam

Manajemen

Produktivitas

Perusahaan

(1984). Menurutnya produktivitas total merupakan rasio dari output nyata dengan

input nyata.

Skala likert merupakan jenis pengukuran yang mengukur sikap, pendapat,

persepsi seseorang atau kelompok orang fenomena sosial. Variabel yang akan diukur

dijabarkan menjadi indikator variabel. Indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak

untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan.

Jawaban setiap item instrumen menjadi gradiasi dari sangat positif sampai sangat

negatif (Sugiono, 2008).

Contohnya : rasio sangat penting (4), rasio penting (3), rasio agak penting (2), dan

rasio kurang penting (1).

Selama ini banyak orang yang berpendapat bahwa produktivitas sama dengan

produksi, hal ini disebabkan karena adanya pandangan bahwa jika hasil produksi

meningkat

maka

produktivitas

juga

meningkat.

Pengertian

dari

produktivitas

sebenarnya tidak sama dengan produksi, tapi produksi merupakan

bagian dari

6

produktivitas

itu

sendiri.

Untuk

memperjelas

pengertian

dari

produktivitas,

dipaparkan perbedaan antar keduanya menurut Sumanth (1984) yaitu:

a. Perbedaan dari segi definisi yaitu :

Produksi adalah aktivitas yang dilakukuan untuk menghasilkan barang dan

jasa.

Produktivitas adalah yang menyangkut efisiensi penggunaan sumber daya

(input) untuk menghasilkan barang/ jasa (output

b. Perbedaan dari segi kuantitatif yaitu :

Produksi adalah jumlah output yang dihasilkan.

Produktivitas adalah rasio dari output yang dihasilkan dengan input yang

digunakan.

 

Pengertian

mengenai

efisiensi

dan

efektivitas

sendiri

sering

kali

salah

diartikan.

Berikut

adalah

pengertiaan

efisiensi

dan

efektivitas

untuk

lebih

memperjelas perbedaan antara keduanya (gaspersz, 2000) :

Efisiensi adalah ukuran yang menunjukkan bagaimana tingkat penggunaan sumber

daya dalam upaya untuk menghasilkan output. Efisiensi merupakan karakteristik

proses yang mengukur performansi aktual dari sumber daya relatif terhadap standar

yang ditetapkan.

Efektivitas adalah ukuran derajat pencapaian output dari suatu sistem produksi.

Efektivitas produksi diukur berdasarkan rasio output aktual terhadap output yang

7

direncanakan. Pengukuran efektivitas membutuhkan beberapa rencana atau standar

yang telah ditetapkan sebelum proses menghasilkan output dimulai.

hasil atau performance, tetapi

produktivitas merupakan ukuran seberapa

efektif dan efisien sumber daya dipadukan dalam organisasi dan digunakan dalam

menghasilkan output (Ravianto, 1986).

Menurut Wignjosoebroto (1989), produktivitas pada dasarnya akan berkaitan

erat pengertiannya dengan sistem produksi, yaitu sistem dimana sumber daya dikelola

dalam suatu cara yang terorganisir untuk mewujudkan barang (finished goods

product) atau jasa (service) secara efektif dan efisien. Pengertian umum produktivitas

diidentifikasikan dengan efisiensi dalam arti suatu rasio antara keluaran (output) dan

masukan (input).

Menurut

Mundel

(1994),

produktivitas

adalah

suatu

ukuran

yang

menggambarkan

rasio

antara

unit

output

per

unit

input.

Sedangkan

indeks

produktivitas

merupakan

rasio

output

hasil

produksi

dari

sumber

daya

yang

dikonsumsi (input) dibandingkan dengan rasio yang sama pada periode dasar.

Produktivitas adalah konsep untuk membimbing manajemen sistem produksi

dan mengukur keberhasilannya. Indikasi keberhasilan tersebut dapat dilihat dari

tenaga kerjanya, kapital, material, energi, modal, dan lain-lain yang digumakan

(Sastrowinoto, 1985).

Produktivitas

menggunakan

fasilitas

yaitu

efektivitas

dari

manajemen

perusahaan

dalam

produksinya.

Produktivitas

berorientasi

pada

pencapaian

tingkat performance setinggi mungkin, sehingga produktivitas bukanlah produksi

8

atau manufaktur, bukan hasil atau performance, tetapi produktivitas merupakan

ukuran seberapa efektif dan efisien sumber daya dipadukan dalam organisasi dan

digunakan dalam menghasilkan output (Ravianto, 1986).

Menurut Ravianto (1986), produktivitas merupakan sebuah konsep sistematis

yang berkaitan dengan konversi masukan menjadi keluaran dari sistem yang berada

pada suatu keadaan tertentu. Produktivitas dalam suatu industri dilihat dari dua sisi

sebab produktivitas yang ada menggambarkan kaitan antara tingkat efektivitas dalam

pencapaian tujuan industri dengan tingkat efisiensi

sumber daya yang dimilikinya.

B. Daur Produktivitas

industri dalam penggunaan

Sumanth (1985) memperkenalkan suatu konsep formal yang disebut sebagai

siklus produktivitas (productivity cycle) untuk dipergunakan dalam peningkatan

produktivitas terus menerus. Pada dasarnya konsep siklus produktivitas terdiri dari

empat

tahap

perencanaan

utama

yaitu

produktivitas,

:

pengukuran

produktivitas,

evaluasi

produktivitas,

dan

peningkatan

produktivitas.

Konsep

siklus

produktivitas tersebut ditunjukkan dalam gambar berikut :

Tahap I :

Pengukuran Produktivitas

dalam gambar berikut : Tahap I : Pengukuran Produktivitas Tahap IV : Peningkatan Produktivitas Tahap II
dalam gambar berikut : Tahap I : Pengukuran Produktivitas Tahap IV : Peningkatan Produktivitas Tahap II

Tahap IV :

Peningkatan Produktivitas

Produktivitas Tahap IV : Peningkatan Produktivitas Tahap II : Evaluasi Produktivitas Tahap III :

Tahap II :

Evaluasi Produktivitas

Produktivitas Tahap II : Evaluasi Produktivitas Tahap III : Perencanaan Produktivitas Gambar 2.1 Siklus

Tahap III :

Perencanaan Produktivitas

Gambar 2.1 Siklus Produktivitas

9

Gambar diatas menunjukkan bahwa siklus produktivitas merupakan suatu proses

kontinu

yang

melibatkan

aspek-aspek

pengukuran,

evaluasi,

perencanaan,

dan

pengendalian produktivitas (PEPP). Berdasarkan konsep siklus produktivitas, secara

formal

program

peningkatan

produktivitas

harus

dimulai

melalui

pengukuran

produktivitas dari sistem industri itu sendiri. Untuk keperluan ini berbagai teknik

pengukuran

dapat

dipergunakan

dan

dikembangkan

dari

memilih

indikator

pengukuran yang sederhana sampai yang lebih kompleks dan komprehensif.

Apabila produktivitas dari sistem industri itu telah dapat diukur, langkah

selanjutnya adalah mengevaluasi tingkat produktivitas aktual tersebut untuk dapat

diperbandingkan dengan rencana yang telah ditetapkan. Kesenjangan yang terjadi

antara tingkat produktivitas aktual dan rencana (productivity gap) merupakan masalah

produktivitas yang harus dievaluasi dan dicari akar penyebab yang menimbulkan

kesenjangan

produktivitas

tersebut.

Berdasarkan

evaluasi

ini,

selanjutnya

dapat

direncanakan kembali target produktivitas yang akan dicapai baik jangka pendek

maupun

jangka

panjang.

Untuk

mencapai

target

produktivitas

yang

telah

direncanakan itu, berbagai program formal dapat dilakukan untuk meningkatkan

produktivitas terus menerus. Siklus produktivitas itu diulang kembali secara kontinu

untuk mencapai peningkatan produktivitas terus menerus dalam sistem industri.

C. Pengukuran Produktivitas

Suatu organisasi perusahaan perlu mengetahui pada tingkat produktivitas

mana perusahaan itu beroperasi agar dapat membandingkannya dengan produktivitas

standar yang telah ditetapkan manajemen, mengukur tingkat perbaikan produktivitas

10

dari waktu ke waktu, dan membandingkannya dengan produktivitas industri sejenis

yang menghasilkan produk serupa. Hal ini penting agar perusahaan tersebut dapat

meningkatkan daya saing dari produk yang dihasilkannya di pasar global yang amat

kompetitif (Gaspersz, 2000).

Produktivitas dapat diukur pada beberapa tingkat yang berbeda mulai dari

pekerja secara individual hingga skala nasional. Pada skala nasional, produktivitas

merupakan indikator penting dari kekuatan ekonomi suatu negara dan merupakan

kunci dari standar kehidupan suatu negara, produktivitas ini juga dapat mengukur

daya saing suatu negara di pasar global. Pada skala industri, tingkat produktivitas

yang tinggi diperlukan untuk menekan biaya dan menjaga daya saing harga produk

yang dihasilkan

Perusahaan dengan tingkat produktivitas yang tinggi cenderung akan dapat

menikmati

margin

keuntungan

yang

lebih

tinggi

dibandingkan

kompetitornya.

Sedangkan

produktivitas

yang

tinggi

pada

tingkat

individu

diperlukan

untuk

memelihara standar kehidupan seseorang dan merupakan sumber kepuasan individu

dan pemenuhan kebutuhan diri (Gray dan Jurison, 1995).

Menurut

Sumanth

(1984),

kegunaan dan manfaat, yaitu :

pengukuran

produktivitas

memiliki

beberapa

1. Pengukuran produktivitas merupakan indikator yang dapat digunakan oleh

para manajer untuk menilai kemajuan yang telah diperoleh dalam pencapaian

tujuan. Hasil pengukuran tersebut memberikan indikasi awal kepada para manajer

tentang berbagai permasalahan potensial yang muncul.

11

2. Pengukuran

produktivitas

dapat

digunakan

dalam

membantu

pengambilan

keputusan, antara lain yang berkaitan dengan investasi modal, alokasi sumber

daya, dan pemberian kompensasi.

3. Pengukuran produktivitas memungkinkan perusahaan untuk membandingkan

tingkat efisiensi dan laju pertumbuhan yang dimilikinya dengan industri lain.

4. Pengukuran

produktivitas

memberikan

perspektif

mengenai

data

keuangan

perusahaan, sebagai contoh

sebuah organisasi/perusahaan mungkin mampu

memenuhi target margin keuntungan pada jangka pendek, namun pada jangka

panjang mungkin terjadi penurunan produktivitas yang mengancam daya tahan

perusahaan.

5. produktivitas

Pengukuran

dapat

meningkatkan

tingkat

kepedulian

terhadap

pentingnya peningkatan produktivitas (productivity improvement).

Mengingat hasil pengukuran produktivitas akan menjadi landasan dalam

membuat kebijakan perbaikan produktivitas secara keseluruhan dalam proses bisnis,

oleh karena itu untuk mendukung pengukuran produktivitas yang valid diperlukan

kondisi-kondisi sebagai berikut (Gaspersz, 2000) :

1. Pengukuran harus dimulai pada permulaan program perbaikan produktivitas.

Berbagai masalah yang berkaitan dengan produktivitas serta peluang untuk

memperbaikinya harus dirumuskan dengan jelas.

2. Pengukuran

produktivitas

dilakukan

pada

sistem

industri

itu.

Fokus

dari

pengukuran produktivitas adalah pada sistem industri secara keseluruhan.

12

3. Pengukuran produktivitas seharusnya melibatkan semua individu yang terlibat

dalam proses industri itu, dengan kata lain pengukuran produktivitas bersifat

partisipatif.

4. Pengukuran produktivitas seharusnya dapat memunculkan data, dimana nantinya

data

tersebut

dapat

ditunjukkan

atau

ditampilkan

dalam

bentuk

peta-peta,

diagram-diagram, tabel-tabel, hasil perhitungan statistik, dan lain-lain. Data

tersebut hendaknya direpresentasikan dalam cara yang mudah dipahami.

5. Hasil pengukuran yang berupa informasi-informasi utama seharusnya dicatat

tanpa distorsi, yang berarti pengukuran itu harus memunculkan informasi yang

akurat.

6. Perlu adanya komitmen secara menyeluruh dari manajemen dan karyawan untuk

pengukuran produktivitas dan perbaikannya. Kondisi ini sangat penting sebelum

aktivitas pengukuran produktivitas mulai dilaksanakan.

7. Program-program pengukuran dan perbaikan produktivitas seharusnya dapat

dipecah-pecah

atau

diuraikan

dalam

batas-batas

yang

jelas

sehingga

tidak

tumpang tindih dengan program-program yang lain.

Menurut Gray dan Jurison (1995), tidak ada suatu metode pengukuran

produktivitas yang dapat berlaku secara universal. Suatu metode yang sesuai untuk

suatu organisasi atau perusahaan belum tentu sesuai untuk organisasi/perusahaan lain,

oleh karena itu pengukuran yang berbeda diperlukan pada organisasi yang berbeda.

Tidak

ada

metode

pengukuran

produktivitas

yang

sempurna,

masing-masing

memiliki kelebihan dan kekurangan. Melalui pemahaman terhadap kelebihan dan

13

keterbatasan tersebut, para manajer dapat memilih metode pengukuran yang paling

sesuai dan menerapkannya untuk meningkatkan performansi organisasi.

D. Industri Teh

Industri teh merupakan salah satu industri yang sangat potensial untuk

dikembangkan. Khususnya teh mahkota dewa yang terdapat bahan berupa pohon

mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) yang dikenal sebagai salah satu tanaman obat

yang mempunyai manfaat menyembuhkan beberapa penyakit, diantaranya : Kanker,

jantung, diabetes, asam urat, vertigo, stroke, dan penyakit kronis lainnya. (Anonim,

2009).

Peranan komoditas teh dalam perekonomian di indonesia cukup strategis.

Industri

teh

Indonesia

diperkirakan

menyerap

sekitar

300.000

pekerja

dan

menghidupi sekitar 1,2 juta jiwa. Sacara nasional industri teh menyumbang produk

domestik Bruto sekitar Rp 1,2 trilyun dan menyumbang devisa bersih sekitar 110 juta

dolar AS per tahun. Dari aspek lingkungan, usaha budidaya dan pengelolahan teh

termasuk jenis usaha yang mendukung konservasi tanah dan air. (ATI, 2000).

Selain sebagai produsen, Indonesia juga merupakan negara eksportir teh curah

yang menduduki urutan kelima di dunia setelah Sri lanka, kenya, Cina, dan india.

Perkembangan ekspor teh Indonesia terus menurun selama sembilan tahun terakhir

123.900 ton pada tahun 1993 menjadi hanya 102.000 ton pada tahun 2002. (ITC,

2003).

14

Menurut Wignjosoebroto (2000) pada dasarnya ada dua faktor utama yang

mempengaruhi

usaha

peningkatan produktivitas,

yaitu

faktor

teknis

dan

faktor

manusia.

1.

Faktor teknis, yaitu faktor yang berhubungan dengan pemakaian dan penerapan

fasilitas produksi secara lebih baik, penerapan metode kerja yang lebih efektif

dan efisien, dan atau penggunaan bahan baku yang lebih ekonomis.

2.

Faktor manusia, yaitu faktor yang mempengaruhi usaha-usaha yang dilakukan

manusia di dalam menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung

jawabnya. Di sini ada dua hal pokok yang menentukan yaitu kemampuan kerja

(ability) dari pekerjaan tersebut dan yang lain adalah motivasi kerja yang

merupakan

pendorong

ke

arah

kemajuan

dan

peningkatan

prestasi

kerja

seseorang.

Pada industri-industri yang lebih banyak menghasilkan proses mekanisasi dan

atau otomatisasi

untuk fasilitas-fasilitas produksinya maka faktor teknis akan

memberi pengaruh yang besar terhadap usaha peningkatan produktivitas. Untuk

kondisi yang demikian maka penelitian mengenai produktivitas akan lebih banyak

dititikberatkan pada aspek pengembangan teknologi daripada aspek pengembangan

manusianya.

Sebaliknya

untuk

usaha-usaha

dimana

pengaruh

pengembangan

kemampuan teknis relatif kecil sedangkan faktor manusia sebagai unsur dalam sistem

produksi jauh lebih menonjol maka usaha untuk peningkatan produktivitas akan lebih

diarahkan pada segi manusia daripada segi teknologinya.

15

E. Produktivitas Tenaga Kerja dan Arti Pentingnya

Produktivitas

mempunyai

peranan

penting

dalam

suatu

kegiatan

usaha.

Pentingnya produktivitas tinggi antara lain adalah mampu menghasilkan keluaran

yang lebih baik atau banyak di masa yang akan datang sehingga mampu memenuhi

permintaan terhadap produk tersebut. Tenaga kerja merupakan salah satu bagian

perusahaan

yang

menentukan

keberhasilan

perusahaan.

Konsep

perbaikan

produktivitas tenaga kerja lebih efektif diterapkan kepada tenaga kerja tingkat bawah

daripada tenaga kerja tingkat atas. Pengukuran produktivitas tenaga kerja biasanya

dilakukan

dengan

terminologi

output

per

input

tenaga

kerja.

Pengukuran

produktivitas tenaga kerja dalam hal ini memperhitungkan jam kerja sebagai faktor

masukan dan nilai keluaran yang terdiri atas volume produksi. Shimizu (1991)

menyatakan bahwa produktivitas tenaga kerja merupakan rasio antara value added

dengan man power.

Pertimbangan perlunya pengukuran produktivitas tenaga kerja menurut Kopelman

(1987) adalah sebagai berikut :

1.

Hasil pengukuran lebih mudah diinterpretasikan.

2.

Memungkinkan untuk mengestimasi kebutuhan tenaga kerja di masa yang akan

datang.

3.

Produktivitas tenaga kerja terkait dengan biaya tenaga kerja.

F.

Pengukuran Produktivitas Dengan Metode Objective Matrix (OMAX)

Metode

pengukuran

produktivitas

Objective

Matrix

merupakan

sistem

pengukuran produktivitas parsial yang dikembangkan untuk memantau produktivitas

16

di bagian perusahaan dengan kriteria produktivitas yang sesuai dengan keberadaan

bagian tersebut. OMAX dapat digunakan sebagai sarana pengukuran produktivitas,

alat

memecahkan

masalah

produktivitas

serta

alat

pemantau

pertumbuhan

produktivitas. Metode ini dikembangkan oleh James L. Riggs, P.E seorang profesor

produktivitas dari Departement of Industrial Engineering at Oregon State University

di AS pada era 1970-an.

Model pengukuran Objective Matrix dikembangkan berdasarkan pendapat

bahwa produktivitas adalah fungsi dari beberapa faktor kinerja yang berlainan.

Konsep metode ini adalah menggabungkan beberapa kriteria kinerja kelompok kerja

ke dalam suatu matriks. Masing-masing kriteria kinerja memiliki sasaran berupa jalur

khusus menuju perbaikan serta memiliki bobot berdasarkan kepentingannya terhadap

tujuan produktivitas.

Objective Matrix merupakan salah satu metode pengukuran produktivitas

perusahaan yang memuat informasi mengenai kriteria produktivitas dan performansi.

Adapun hasil akhir dari pengukuran dengan metode OMAX adalah sebuah nilai

tunggal untuk kelompok kerja (Riggs, 1987).

Langkah-langkah pengukuran produktivitas dengan metode OMAX menurut

Riggs (1987) di dalam Maghfiroh (2003) ada 3 tahap yaitu sebagai berikut :

1. Pengukuran Unit Kerja

Tujuan

pengukuran

adalah

untuk

meningkatkan

produktivitas

dimana

keberhasilan pengukuran akan mempengaruhi operasi, keuntungan, upah dan biaya.

Sistem pengukuran ideal harus dapat mengukur aktivitas yang bersifat fisik dan

17

aktivitas yang membutuhkan keahlian yang outputnya sulit diukur. Kedua aktivitas

ini akan memberikan sumbangan kinerja yang mempengaruhi produktivitas.

Pada kenyataannya tidak ada sistem yang dapat memenuhi suatu kategori

secara

sempurna,

yang

ada

hanya

optimasi

kesempurnaan.

Pemakaian

metode

pengukuran OMAX merupakan salah satu metode yang dapat dicapai sebab secara

objektif kinerja diukur sebagai target pencapaian bagi kelompok kerja sehingga

dihasilkan pengukuran kuantitatif yang menunjukkan sejauh mana tujuan manajemen

tercapai.

2. Pembentukan Matriks Pengukuran Kinerja

Menurut Riggs (1987) ada 4 tahapan pembentukan dan pengembangan

matriks pengukuran kinerja atau disebut matriks sasaran, antara lain :

a. Pemilihan kriteria kinerja

Kinerja kelompok kerja dalam suatu aktivitas kerja untuk mendapatkan

keluaran dalam suatu organisasi pada dasarnya memiliki karakter yang berbeda.

Kriteria biasanya ditetapkan dalam bentuk rasio, namun bentuknya tidak harus seperti

produktivitas konvensional yang berpengaruh terhadap output dari unit yang dapat

diukur.

b. Pengukuran Kinerja Standar Awal

Pengukuran kinerja standar digunakan untuk menentukan nilai tahap awal

yang

diletakkan

pada

level

3

dan

digunakan

sebagai

dasar

pengukuran.

Cara

menentukan nilai tahap awal yaitu dengan menghitung rata-rata rasio 3 periode

terkhir. Kemudan menghitung standar deviasi untuk masing-masing rasio. Standar

18

deviasi ini diharapkan tidak lebih besar dari 10% terhadap nilai rata-rata. Namun

seandainya nilainya lebih dari 10% maka nilai tahap awal yang digunakan adalah

nilai rata-rata 6 periode terakhir. Penentuan nilai tahap awal dengan menggunakan

rata-rata 6 periode terakhir ini dimaksudkan bahwa rata-rata 6 periode terakhir

memiliki nilai yang mendekati kondisi aktual.

3. Penetapan skala kinerja

Skala kinerja pada matriks sasaran dimulai dari 0 sampai dengan 10 sehingga

terdapat sebelas tingkat untuk masing-masing kriteria. Penetapan sasaran untuk tiap

tingkatan

adalah

yang

terpenting

dari

pembuatan

skala,

sebab

sasaran

memperlihatkan hasil produktivitas yang dicapai oleh kelompok. Pembentukan awal

skala terbagi menjadi 3 tingkatan yaitu :

Tingkat 0 : tingkat terendah dari kinerja selama periode dasar

Tingkat 3 : hasil yang menunjukkan kriteria kelompok kerja pada saat pengukuran

pertama kali dilakukan.

Tingkat 10 : target realistis yang dapat dicapai dengan sumber dan sistem yang

telah

ada sekarang dalam jangka waktu yang masih diramalkan.

4. Penetapan bobot untuk kepentingan kriteria kinerja

Penetapan bobot adalah tanggung jawab pihak manajemen yaitu orang yang

mengetahui

kondisi

perusahaan.

Faktor

pembobotan

menggambarkan

besarnya

pengaruh masing-masing tenaga kerja terhadap fungsi tujuan perusahaan berdasarkan

pandangan manajemen.

19

5. Penerapan pengukuran produktivitas kelompok

Nilai seluruh kriteria dikumpulkan menjadi nilai tunggal melewati proses

pembobotan.

Hasil

perhitungan

ini

dipergunakan

untuk

menganalisa

tingkat

produktivitas perusahaan guna mengetahui perkembangan perusahaan selama periode

pengukuran. Model yang digunakan untuk mengevaluasi perkembangan produktivitas

adalah dengan melakukan perhitungan sebagai berikut :

Menghitung persentase perubahan indeks-indeks produktivitas, indeks masukan dan

keluaran pada pengukuran periode dasar. Rumusnya adalah :

Indeks Produktivitas

IP

i

IP

o

IP

o

x100%

(2.1)

Perhitungan ini untuk mengevaluasi perkembangan nilai indeks produktivitas

terhadap pencapaian awal, apakah terlihat gambaran kenaikan atau penurunan tingkat

produktivitas dan seluruh pengamatan.

Menghitung persentase indeks-indeks produktivitas relatif, indeks masukan

dan keluaran pada periode sebelumnya. Rumusnya adalah :

Indeks produktivitas relatif

IP

i

IP

i

1

IP

i

1

x 100%

(2.2)

Keterangan : IP i = nilai indikator pencapaian satu periode

IP i-1 = nilai indikator pencapaian periode sebelumnya

Perhitungan ini untuk mengetahui persentase kenaikan atau penurunan relatif

yang terjadi pada setiap periode.

20

6. Perencanaan produktivitas

Rencana produktivitas merupakan tahap pemikiran bagaimana caranya untuk

meningkatkan

produktivitas,

untuk

selanjutnya

diimplementasikan

pada

tahap

berikutnya. Perencanaan bertujuan untuk memprediksi produktivitas periode yang

akan datang dan menyiapkan segala sesuatu guna meningkatkan produktivitas.

Perencanaan perlu memperhatikan faktor-faktor internal dan eksternal agar perubahan

produktivitas mengalami peningkatan. Perencanaan yang ditetapkan digunakan untuk

menyatukan tindakan, memotivasi tenaga kerja dan mengevaluasi pencapaian tujuan.

Adapun keuntungan dari pengukuran produktivitas dengan menggunakan

metode Objective matrix adalah :

1. Mengidentifikasi

berbagai

faktor

yang

berpengaruh

terhadap

peningkatan

produktivitas.

2. pekerja

Memotivasi

untuk

mencapai

tujuan

perusahaan

melalui

sasaran

produktivitas perusahaan.

3. Adanya penetapan bobot yang mencerminkan pengaruh masing-masing faktor

terhadap peningkatan produktivitas.

4. Dapat memantau pencapaian sasaran dan memberikan informasi bila dijumpai

penyimpangan pada periode yang sedang berlangsung.

5. Dapat digunakan sebagai indikator untuk mengendalikan pencapaian sasaran

produktivitas di masa yang akan datang.

6. Model

ini

memungkinkan

dijalankan

aktivitas

pengukuran

produktivitas,

perencanaan produktivitas sekaligus peningkatan produktivitas.

21

Selain beberapa keuntungan di atas ada beberapa faktor yang dapat dirasakan

sebagai pendukung penerapan model ini yaitu :

1. Model ini relatif sederhana dan mudah dipahami.

2. Pengoperasiannya

pemakainya.

cepat

dan

tidak

membutuhkan

keahlian

khusus

bagi

3. Data-data yang dibutuhkan mudah diperoleh.

4. Model ini fleksibel dapat disesuaikan dengan tempat penerapannya

Struktur OMAX

Tabel 2.1 Tabel Omax

produk yang dihasilkan produk yang Cacat Absensi Tenaga Kerja A Jumlah Total hari Kerja produk
produk yang dihasilkan
produk yang Cacat
Absensi Tenaga Kerja
A
Jumlah Total hari Kerja
produk yangdihasilkan
Jumlah Tenaga Kerja
level
Rasio Produktivitas
Nilai performansi
10
9
8
7
6
B
5
Scores
4
3
2
1
0
Score
C
Bobot
Nilai Performansi

Nilai indikator Performansi

performansi 10 9 8 7 6 B 5 Scores 4 3 2 1 0 Score C

22

Keterangan :

A. Penjelasan (Defining) : Bagian ini menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi

kinerja suatu unit kerja yang diidentifikasi sebagai kriteria produktivitas dan dinyatakan dalam bentuk rasio. a. Nilai kinerja aktual yang dicapai oleh suatu unit kerja selama periode pengukuran,

nilai ini diletakan pada baris performance.

B. Pengukuran

( Quantifying )

:

Tabel

Objective

Matrix

terdiri

dari

11

level

pencapaian kinerja, dimulai dari level 0 yang menunjukan nilai kinerja yang

kurang memuaskan sampai level 10 yang menunjukan nilai kinerja terbaik yang

dapat dicapai oleh suatu unit kerja.

b1. Sasaran kinerja suatu unit kerja yang dapat dicapai secara realistis pada waktu

tertentu. Nilai ini merupakan estimasi realistis yang dapat dicapai oleh suatu kriteria

berdasarkan pertimbangan peningkatan produktivitas untuk periode waktu tertentu.

Selain itu, nilai tertinggi dari setiap rasio yang dicapai pada periode tertentu dapat

dinyatakan sebagai sasaran kinerja jika tidak ada estimasi yang dapat ditetapkan.

Nilai ini akan memiliki skor 10 untuk setiap kriteria.

b2. Tingkat standar kinerja suatu unit kerja pada saat pembuatan matrik dilakukan.

Biasanya

nilai

ini

merupakan

nilai

rasio

standar

yang

dicapai

pada

periode

pengukuran dasar tertentu. Nilai ini akan memiliki skor 3 untuk setiap kriteria.

C. Pemantauan

(Monitoring)

:

Performance

Indikator

merupakan

nilai

yang

diperoleh dari penjumlahan antara skor yang dimiliki dikalikan dengan bobot

untuk masing-masing kriteria. Index merupakan persentase perbedaan antara

current dan previous performance Indikator.

23

c1. Bobot prioritas yang diberikan untuk masing-masing kriteria, menunjukan

dampak relatif dari produktivitas setiap unit kerja.

c2.

Indikasi

produktivitas

performance indikator.

unit

kerja

yang

diperoleh

dari

tingkat

perubahan

Berdasarkan keterangan di atas, maka untuk menentukan nilai dari setiap skor

diperlukan pembuatan skala yang mampu menggambarkan level performansi dari

setiap unit kerja yang menjadi indikator produktivitas. Setiap unit organisasi mungkin

saja memiliki sekumpulan kriteria produktivitas yang berbeda, akan tetapi faktor-

faktor

yang

menggambarkan

misi

dan

sasaran

kinerja

setiap

unit

organisasi

bersangkutan

harus

dimasukan

pada

matrik.

Indikator-indikator

pengukuran

produktivitas harus dipilih sesuai dengan kepentingan yang menunjukan bagaimana

suatu unit kerja dapat beroperasi secara baik.

Proses pembuatan skala merupakan hal yang sangat penting dalam model Objective

Matrix, karena hasil yang didapat akan menentukan tingkat kesulitan dari pencapaian

kinerja untuk setiap unit kerja. Untuk melakukan pembuatan skala

diperlukan

beberapa level yang menjadi titik acuan. Pada model Objective Matrix, level yang

digunakan sebagai titik acuan terdiri dari 3 level, yaitu :

• Level 0 : Level terendah untuk setiap rasio yang menjadi kriteria produktivitas

selama kurun waktu tertentu pada kondisi operasi yang normal, katakanlah terjadi

pada waktu lalu. Secara nominal, rasio terendah dapat berupa nilai rasio terburuk

yang dapat diperkirakan.

24

• Level 3 : Hasil pengukuran yang menunjukan pencapaian umum (standar) dari

kinerja suatu rasio yang menjadi indikator produktivitas pada saat pembuatan skala

dilakukan.

• Level 10 : Perkiraan realistis dari hasil yang dapat dicapai dari suatu rasio pada

kurun waktu yang akan datang dengan kondisi dan ketersediaan sumber daya yang

sama pada saat ini. Level ini merupakan suatu tantangan bagi manajemen untuk

melakukan peningkatan produktivitas.

Skor untuk level 0 dan level 3 didefinisikan sebagai benchmarking, level 10

merupakan tantangan bagi perusahaan untuk mencapai kinerja terbaik. Penentuan sasaran

yang

terlalu

optimis

dapat

mengakibatkan

tidak

tercapainya

kinerja

terbaik

yang

diharapkan karena ketidakmampuan untuk melaksanakannya, sedangkan sasaran yang

terlalu mudah untuk dicapai akan mengakibatkan rendahnya motivasi pencapaian kinerja

yang terbaik.

Setelah dihitung bobot pada masing-masing kriteria yang ditentukan maka

langkah selanjutnya yaitu dimasukan kedalam diagram pareto untuk diketahui mana

kriteria yang dominan dan mana kriteria yang tidak dominan. Karena diagram pareto

sendiri merupakan diagram merupakan suatu diagram balok yang disusun secara

berjenjang mulai dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah yang digunakan

untuk menentukan tingkat kepentingan atau urutan prioritas dari suatu masalah yang

akan dipecahkan. Dengan memilih dan memecahkan masalah yang menduduki

prioritas

utama,

maka

berarti

telah

berada

pada

langkah

yang

tepat

untuk

memecahkan suatu masalah secara terarah dan efisien (Tunggal, 1993).

25

Kemudian

dari

diagram

pareto

tersebut

didapatkan

mana

kriteria

yang

mengalami penurunan atau yang tidak dominan untuk menganalisa kriteria yang

mengalami penurunan dibutuhkan diagram tulang ikan ( Fish Bone Diagram). Karena

diagram ini menunjukkan hubungan antar sebab dan akibat. Berkaitan dengan proses

statistikal, diagram sebab-akibat dipergunakan untuk menunjukkan faktor-faktor

(sebab)

dan

karakteristik

penyebab tersebut.

kualitas

(akibat)

yang

disebabkan

oleh

faktor-faktor

Pada dasarnya diagram sebab akibat dapat dipergunakan untuk kebutuhan

berikut:

• Membantu mengidentifikasi akar penyebab dari suatu masalah.

• Membantu membangkitkan ide-ide untuk solusi suatu masalah.

• Membantu dalam penyelidikan atau pencarian fakta lebih lanjut

Langkah-langkah pembuatan diagram sebab akibat adalah sebagai berikut

(Gaspersz, 2003):

1. Mulai dengan pernyataan masalah-masalah utama yang penting dan mendesak

untuk diselesaikan.

2. Tulislah pernyataan masalah itu pada kepala ikan, yang merupakan akibat

(effect). Tuliskan pada sisi sebelah kanan dari kertas (kepala ikan), kemudian

gambarkan tulang belakang dari kiri ke kanan dan tempatkan pernyataan

masalah itu dalam kotak.

3. Tuliskan faktor-faktor penyebab utama yang mempengaruhi masalah kualitas

sebagai tulang besar, juga ditempatkan dalam kotak. Faktor-faktor penyebab

26

atau kategori-kategori utama dapat dikembangkan melalui stratifikasi ke

dalam pengelompokan dari faktor-faktor: manusia, mesin, peralatan, material,

metode kerja, lingkungan kerja, pengukuran,dll, atau stratifikasi melalui

langkah-langkah aktual dalam proses. Faktor-faktor penyebab atau kategori-

kategori dapat dikembangkan melalui brainstorming.

4. Tuliskan

penyebab-penyebab

sekunder

yang

mempengaruhi

penyebab-

penyebab utama (tulang-tulang besar), serta penyebab-penyebab sekunder itu

dinyatakan sebagai tulang-tulang berukuran sedang.

5. Tuliskan penyebab-penyebab tersier yang mempengaruhi penyebab-penyebab

sekunder (tulang-tulang berukuan sedang), serta penyebab-penyebab tersier

itu dinyatakan sebagai tulang-tulang berukuran kecil.

6. Tentukan item-item yang penting dari setiap faktor dan tandailah faktor-faktor

penting

tertentu

yang

karakteristik kualitas.

kelihatannya

memiliki

pengaruh

nyata

terhadap

7. Catatlah informasi yang perlu di dalam diagram sebab akibat itu, seperti:

judul, nama produk, proses, kelompok, daftar partisipan, tanggal, dll.

Material Manusia Metode
Material
Manusia
Metode
daftar partisipan, tanggal, dll. Material Manusia Metode Mesin lingkungan Pertayaan masalah? Gambar 2.3. Diagram
daftar partisipan, tanggal, dll. Material Manusia Metode Mesin lingkungan Pertayaan masalah? Gambar 2.3. Diagram
daftar partisipan, tanggal, dll. Material Manusia Metode Mesin lingkungan Pertayaan masalah? Gambar 2.3. Diagram
daftar partisipan, tanggal, dll. Material Manusia Metode Mesin lingkungan Pertayaan masalah? Gambar 2.3. Diagram
daftar partisipan, tanggal, dll. Material Manusia Metode Mesin lingkungan Pertayaan masalah? Gambar 2.3. Diagram
Mesin lingkungan
Mesin
lingkungan
partisipan, tanggal, dll. Material Manusia Metode Mesin lingkungan Pertayaan masalah? Gambar 2.3. Diagram Fishbone

Pertayaan masalah?

Gambar 2.3. Diagram Fishbone

27

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Objek Penelitian

Penelitian pengukuran produktivitas tenaga kerja dengan menggunakan

metode Objective Matriks dilakukan Di industri Teh Mahkota Dewa. Perusahaan

ini berlokasi di Yogyakarta. Industri ini mengolah bahan baku berupa Mahkota

Dewa, Teh hijau, dan Benalu teh untuk dijadikan produk teh Mahkota Dewa

B. Tahapan Penelitian

1. Observasi pendahuluan

Yaitu melakukan kegiatan awal yang dilakukan dengan melakukan kunjungan

ke PT. Salama Nusantara. Adapun tujuan sebagai langkah awal melakukan

observasi pendahuluan

2. Identivikasi masalah

Yaitu berdasarkan hasil observasi, kemudian coba dilakukan identifikasi

masalah yang ada di PT. Salama Nusantara terutama gaji karyawan masih

murah dan kurangnya bahan baku pembuatan Teh Mahkota Dewa.

3. Penetapan tujuan

Yaitu menetapkan tujuan dari penelitian ini, yaitu meniliti produktivitas

tenaga kerja dengan metode OMAX dihubungkan dengan metode perbaikan

salah satunya pareto.

28

4. Studi pustaka

Yaitu sebagai langkah untuk menambah referensi secara tekstual, baik yang

diambil dari pustaka yang ada diperpustakaan maupun yang ada diperusahaan

itu sendiri.

5. Identifikasi Faktor Terkait

Identifikasi faktor ini bertujuan untuk mengevaluasi faktor-faktor apa yang

turut mempengaruhi produktivitas tenaga kerja yang kemudian diolah dengan

OMAX.

6. Pengolahan Data

Pengolahan data dengan metode OMAX mencakup beberapa tahapan mulai

dari penetapan kriteria sampai dengan perhitungan indikator pencapaian

7. Analisa dan Pembahasan

Hasil pengolahan data kemudia dianalisa perkembangan produktivitas tenaga

kerjanya dan langkah-langkah apa yang sebaiknya diambil untuk meningkatan

produktivitas tenaga kerja dimasa yang akan datang

8. Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan analisa hasil yang dilakukan kemudian diambil kesimpulan yang

sesuai serta memberikan saran-saran yang mendukung terhadap perbaikan

produktivitas tenaga kerja

C. Pengumpulan Data

1. Jenis data yang diperlukan

a. Jumlah produk yang dihasilkan

b. Jumlah produk yang cacat/rusak

29

c. Jumlah tenaga kerja

d. Absensi tenaga kerja

e. Jumlah total hari kerja

2. Cara pengambilan data

a. Wawancara, yaitu data yang diperoleh secara langsung dengan cara

mengajukan pertanyaan kepada pihak-pihak yang bersangkutan dengan

masalah yang dihadapi

b. Observasi

dan

dokumentasi,

yaitu

data-data

diperoleh

dengan

cara

pengamatan dan pencacatan data-data yang telah ada pada dokumen

perusahaan

c. Studi pustaka, dilakukan dalam keseluruhan proses penelitian mulai dari

perencanaan sampai pembuatan laporan. Dataini diperoleh dari berbagai

buku, laporan serta literature lain yang relevan dan mendukung penelitian

d. Penyebaran angket untuk penetapan bobot kriteria kinerja

D. Metode analisa data

1. menetapkan kriteria kinerja

Ada 3 kriteria yang diukur dalam metode OMAX yaitu kriteria efektivitas, kriteria

efisiensi, dan kriteria inferensial. Ada 4 aturan yang menjadi acuan dalam

menerapkan kebijaksanaan pemilihan kriteria kinerja, yaitu :

Kriteria

hanya

ditujukan

pada

aktivitas

kerja

yang

pencapaian sasaran produktivitas perusahaan

berpenngaruh

terhadap

Pencapaian tujuan tergantung pada perilaku kerja yang dapat dikendalikan oleh

anggota kelompok

30

Kriteria

hendaknya

dapat

mengetengahkan

kelompok, termasuk kualitas kinerja

semua

aspek

tanggung

jawab

Kriteria yang digunakan untuk sebuah kelompok biasanya berkisar 4-7 buah

2. Perhitungan rasio-rasio berdasarkan kriteria produktivitas

Menurut Riggs (1987) kriteria produktivitas pada umumnya diwujudkan dalam

bentuk rasio. Perhitungan kriteria produktivitas yang diukur berdasarkan rasio

antara lain :

a. Rasio yang berkaitan dengan kuantitas

Rasio 1

Jumlah produk yang dihasilkan

Jumlah Total hari Kerja

(3.1)

Rasio (1) ini mempunyai sasaran untuk meningkatkan total hari kerja

terhadap Jumlah produk yang dihasilkan

b. Rasio yang berkaitan dengan kualitas

Rasio 2

Jumlah produk yang cacat

Jumlah produk yang dihasilkan

(3.2)

Rasio (2) ini mempunyai sasaran bahwa pekerja yang baik menghasilkan produk dengan kualitas cacat yang sedikit. Oleh karena itu, maka rasio 2 ini dipakai untuk mengukur produktivitas tenaga kerja pada proses produksi teh Mahkota Dewa dengan kualitas produk yang dihasilkan baik dan meminimasi kualitas cacat pada produk.

c. Rasio yang berkaitan dengan kondisi kelompok kerja

Rasio 3

Jumlah AbsensiTenaga Kerja

Jumlah Tenaga Kerja

(3.3)

Rasio (3) ini bertujuan untuk meminimalkan jumlah pekerja yang tidak hadir

31

3. Pengukuran kinerja standar

Setelah

menentukan

rasio-rasio

produktivitas

selanjutnya

mengukur

kinerja sebagai standar awal. Sebelumnya melakukan pengukuran terlebih

dahulu menentukan periode yang dibutuhkan untuk menentukan nilai

tahap awal. Penentuan nilai tahapa awal dengan menghitung terlebih

dahulu rata-rata kinerja untuk tiga periode terakhit. Jika data berdeviasi

kurang dari 10 % dari nilai rata-raa maka dibutuhkan tiga periode data.

4. Menetapkan sasaran akhir

Menetapkan sasaran adalah keputusan manajemen yang bermaksud untuk

menentukan besarnya sasaran yang akan dicapai dalam meningkatkan

produktivitas.

5. Penetapan Bobot Kriteria Kinerja

Pembobotan dilakukan dengan memberikan angkrt terhadap tenaga kerja

agar

melakukan

penilaian

terhadap

masing-masing

rasio

dari

yang

terpenting

sampai

rasio

yang

tidak

penting.

Adapun

penilaian

menggunakan

skala

1

sampai

memiliki

tingkat

kepentingan

skala

yang

4

makin

tinggi

tinggi pula.

Nilai

kemudian dikonversikan ke dalam skala 100.

Nilai Rasio

Jumlah Bobot Tiap Rasio

Total Bobot

X 100%

6. Pembentukan Matrik OMAX

Nilai yang tercantum dalam matriks OMAX :

nilainya

berarti

bobot

tersebut

(3.4)

a. Nilai standar awal

b. Nilai sasaran

32

c. Nilai Terendah

d. Nilai pembobotan

e. Penentuan nilai aktual dilakukan tiap periode masing-masing rasio. Nilai

aktual merupakan nilai rasio merupakan nilai rasio tiap periode terhadap

masing-masing rasio.

f. Perhitungan Skor Aktual

g. Perhituangan skor aktual dilakukan dengan mencari nilai skor kinerja yang

mendekati nilai aktual nilai ini ditandai untuk menentukan nilai skor

aktualnya.

h. Perhitungan Nilai Kinerja

i. Perhitungan nilai kinerja untuk tiap periode terhadap masing-masing rasio

j. Perhitungan Indikator Pencapaian

k. Indikator

pencapaian

dialakukan

menjumlahkan seluruh nilai kinerja.

l. Evaluasi Tingkat Produktif.

setiap

periode

dengan

cara

33

C. Diagram alir penelitian

33 C. Diagram alir penelitian Gambar 3.1. Diagram Alir Penelitian

Gambar 3.1. Diagram Alir Penelitian

34

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Perusahaan

1. Sejarah perusahaan

Sejarah berdirinya Salama Nusantara ini pada awalnya pada tahun 2003 di

kala

Indonesia

mengalami

kondisi

krisis

ekonomi

yang

berdampak

bagi

kehidupan masyarakat luas, yang dialami pada keluarga saya (Drs.HM Maryono)

selaku PNS pada waktu itu, beliau mempunyai ide untuk bias hidup secara layak

dengan mencari nilai tambah dengan usaha kecil-kecilan. Pada waktu itu berbekal

dari sebuah buku yang beliau dapatkan dari seorang teman, yang berjudul

“Budidaya Mahkota Dewa” maka beliau mencoba meracik buah mahkota dewa,

ditambah benalu teh, dan teh hijau menjadi minuman kesehatan Teh Mahkota

Dewa. Hasilnya banyak yang melaporkan setelah mengkonsumsi ramuan tersebut

sangat manjur dan bias menyehatkan mereka yang mengkonsumsi. Dari situlah

kemudian berkembang dari mulai pasar local, nasional maupun internasional dan

beliau memutuskan untuk mengundurkan dari PNS dan mendirikan usahanya

secara resmi jamu tradiosional pada tangaal 20 Maret 2005. Dan mendapatkan ijin

resmi dari Balai POM, Halal MUI, dan Dinas kesehatan, serta diawasi oleh

Apoteker dari UGM

35

2. Proses Produksi Teh mahkota Dewa

Teh Mahkota Dewa

Teh Mahkota Dewa merupakan salah satu produk yang diproduksi oleh

PT. Salama Nusantara. Teh mahkota dewa ini mempunyai fungsi yaitu mencegah

Diabes militus, Asam urat, hipertensi, jantung koroner, kanker, dan penyakit

pendek umur yakni berkurangnya harapan hidup manusia.

Ada 3 produk Teh Mahkota Dewa yang diproduksi PT Salama Nusantara

yaitu :

Teh Mahkota Dewa yang diproduksi PT Salama Nusantara yaitu : Kemasan Plastik (100 gr) Dengan harga

Kemasan Plastik (100 gr)

Dengan harga eceran

Jawa

Rp. 12.000,00

Luar Jawa

Rp. 20.000,0

Gambar 4.1 Kemasan Plastik Teh Mahkota Dewa

Rp. 20.000,0 Gambar 4.1 Kemasan Plastik Teh Mahkota Dewa Kemasan Kotak Lama (130 gr) Dengan harga

Kemasan Kotak Lama (130 gr)

Dengan harga eceran

Jawa

Rp. 17.000,00

Luar Jawa

Rp. 30.000,00

Gambar 4.2 Kemasan Kotak Teh Mahkota Dewa (Lama)

30.000,00 Gambar 4.2 Kemasan Kotak Teh Mahkota Dewa (Lama) Kemasan Kotak Baru (130 gr) Jawa Rp.

Kemasan Kotak Baru (130 gr)

Jawa

Rp. 25.000,00

Luar Jawa

Rp. 35.000,00

Gambar 4.3 Kemasan Kotak Teh Mahkota Dewa (Baru)

36

Bahan Baku

Bahan baku dalam membuat Teh Mahkota Dewa terdiri dari campuran tiga

bahan baku yaitu tanaman mahkota dewa, teh hijau, dan benalu teh. Dengan

komposisi perbandingan tanaman mahkota dewa 70 %, teh hijau 20 %, dan benalu

teh 10 %.

Proses produksi

Proses produksi diartikan sebagai proses perubahan bahan atau komponen

bahan mentah menjadi produk jadi yang mempunyai mutu dan dan daya jual

tinggi. PT. Salama Nusantara mempuyai delapan tahapan dalam proses pembuatan

Teh Mahkota dewa yaitu :

a. Sortasi

b. Perajangan

c. Pengeringan

d. Penimbangan I

e. Pencampuran

f. Penimbangan II

g. Pengemasan

Untuk mempermudah dalam hal mengecek suatu proses pembuatan Teh Mahkota

Dewa maka perusahaan membuat diagram proses produksi. Diagram proses

produksi dapat dilihat pada gambar 4.1. sebagai berikut

37

37 Pembuatan Teh Mahkota Dewa (Sumber : Data primer)

Pembuatan Teh Mahkota Dewa

(Sumber : Data primer)

38

Proses Sortasi

Sebelum melakukan proses sortasi ini terlebih dahulu dilakukan pemetikan

yaitu pemetikan Buah mahkota Dewa, Teh hijau, dan Benalu teh selama 3 bulan

sekali. Setelah itu, dilakukan proses sortasi ketiga bahan baku pembuat Teh

Mahkota dewa dengan menerapkan sortasi basah untuk perlakuan ketiga bahan

baku pembuatan Teh Mahkota Dewa yaitu Mahkota Dewa, Teh hijau, dan Benalu

teh.

Untuk Buah mahkota Dewa disortasi dengan memilih buah yang tidak

busuk dan berwarna merah dan dibersihkan dari pengotor yang ada dan dilakukan

proses pencucian dengan air bersih yang mengalir sampai bersih. Setelah itu

dilakukan sortasi basah juga pada Teh hijau, dan benalu teh

yaitu dengan

mengambil 3 tangkai dari ujung, kemudian dipilih yang tidak busuk dan tidak

berlubang untuk Teh hijau dan Benalu teh tidak dilakukan pencucian sehingga

wadah dan proses yang dilakukan tetap bersih. Proses sortasi ketiga bahan baku

berupa Mahkota Dewa, Teh hijau, Benalu teh dilakukan secara manual.

Perajangan

Setelah melewati proses sortasi basah ketiga bahan baku pembuat Teh

Mahkota Dewa selanjutnya dilakukan proses perajangan. Ketiga bahan baku

tersebut

yaitu

:

Mahkota

dewa,

Teh

hijau,

Benalu

teh

dirajang

dengan

menggunakan bantuan pisau stainless. Untuk Mahkota dewa buahnya dirajang

dengan

pisau

stainless kemudian

dibelah

dan

diambil

daging

buahnya

dan

dirajang tipis-tipis serta bijinya dibuang. Sedangkan untuk perajangan Teh hijau

dan Benalu teh sama dirajang tipis-tipis dengan bantuan pisau stainless.

39

39 Gambar 4.5 Proses Perajangan Pengeringan I Proses selanjutnya yaitu proses pengeringan, ketiga bahan baku yang

Gambar 4.5 Proses Perajangan

Pengeringan I

Proses selanjutnya yaitu proses pengeringan, ketiga bahan baku yang

berupa Mahkota dewa, Teh hijau, dan benalu teh dilakukan proses pengeringan.

Pada

proses

pengeringan

Mahkota

dewa

ini

dilakukan

pengeringan

dengan

bantuan sinar matahari 2-3 hari dan setelah kering kemudian dilakukan proses

penyangraian dengan menggunakan alat penyangraian. Sedangkan untuk proses

pengeringan Teh hijau dan Benalu teh juga dilakukan proses pengeringan dengan

bantuan sinar matahari tetapi tidak langsung tetapi ditutup dengan kain hitam

selama satu hari. Setalah itu dilakukan proses pengeringan dengan oven listrik

dengan suhu 80 0 C dengan waktu 4 jam.

oven listrik dengan suhu 80 0 C dengan waktu 4 jam. Gambar 4.6 Proses Pengeringan 1

Gambar 4.6 Proses Pengeringan 1

Sortasi kering

Berikutnya dilakukan proses sortasi kering. Pada tahap proses ini ketiga

bahan baku pembuat Teh Mahkota Dewa yang berupa mahkota dewa, teh hijau,

40

dan benalu teh di sortir dari kemungkinan adanya pengotor selama proses

berlangsung.

Penimbangan

Proses selanjutnya yaitu penimbangan. Untuk ketiga bahan baku pembuat

Teh Mahkota Dewa dilakukan penimbangan untuk mengetahui satu kali untuk

produksi. Untuk Mahkota dewa yaitu 10,5 kg untuk satu kali produksi, Teh hijau

3 kg untuk satu kali produksi, dan 1,5 kg Benalu teh untuk satu kali produksi.

Pencampuran dan Penimbangan

Pada proses pencampuran ini dilakukan dengan mencampur ketiga bahan

yaitu : Mahkota dewa, Teh hijau, dan Benalu teh hingga homogen yang tujuannya

supaya ketiga bahan tercampur dengan rata sehingga mendapatkan kualitas Teh

Mahkota Dewa yang mutu dan nilai jual lebih. Setelah

dilakukan proses

pencampuran

hingga

homogen,

bantuan alat timbangan.

selanjutnya

dilakukan

penimbangan

dengan

Pengemasan

Setelah

dilakukan

proses

penimbangan

ketiga

bahan

baku

campuran

tersebut

dikemas

dengan

kemasan

yang

sudah

disediakan

oleh

PT.Salama

Nusantara dan selanjutnya produk yang berupa Teh Mahkota Dewa di Packing

dengan kotak kardus dan disegel sekaligus produk tersebut siap dipasarkan.

Perhitungan data Tahun 2008

Data yang digunakan dalam perhitungan produktivitas akan dibuat dalam

satu tabel untuk mempermudah

dalam perhitungan dan analisa. Data yang

digunakan berupa data produksi good quality tea, data penjualan good quality tea,

41

data tenaga kerja, dan data absensi tenaga kerja. Data yang diperoleh sebagai

berikut :

Tabel 4.1 Data-data pengukuran produktivitas tenaga kerja

Untuk periode

Mei

Juni

Juli

Agustus

2008

2008

2008

2008

Jumlah produk yang dihasilkan (kg)

5070

5070

5265

4875

Jumlah produk yang rusak/cacat

253,5

253,5

263,2

243,7

Jumlah tenaga kerja (orang)

16

14

15

17

Absensi tenaga kerja (orang)

2

4

3

1

Jumlah total hari kerja (jam)

183

180

196

175

1. Perhitungan rasio

Rasio yang berkaitan dengan kuantitas

Rasio 1

Jumlah produk yang dihasilkan

Jumlah Total hari Kerja

Contoh Perhitungan : Rasio periode Mei 2008

5070

=27,70

183

Rasio yang berkaitan dengan kualitas

Rasio 2

Jumlah produk yang cacat

Jumlah produk yang dihasilkan

Contoh Perhitungan : Rasio periode Mei 2008

253,5

5070

=0,05

Rasio yang berkaitan dengan kondisi kelompok kerja

Rasio 3

Jumlah Absensi Tenaga Kerja

Jumlah Tenaga Kerja

Contoh Perhitungan : Rasio periode Mei 2008

2

16

=0,125

2. Perhitungan Kinerja Standar (skor 3)

(4.1)

(4.2)

(4.3)

Perhitungan kinerja standar awal dengan menentukan nilai tahap awal

dimana pada matriks akan diletakan pada tingkat ketiga (skor 3) dan merupakan

42

dasar dari pengukuran. Pada pengukuran ini nilai tahap didapat dari nilai rata-rata

tiap

rasio

pengukuran

dari

empat

periode

pengukuran.

Nilai

baris

skor

3

menunjukan kinerja dari tenaga kerja yang menunjukan kinerja dari tenaga kerja

yang sesungguhnya pada sesungguhnya pada saat periode pengamatan.

Hasil perhitungan selengkapnya pada tabel berikut :

Tabel 4.2 Perhitungan Kinerja Standar (Skor 3)

 

Nilai Rasio Empat periode Pengukuran (Mei-Agustus 2008)

Nilai Tahap

Rasio

Awal

(Ri)

 

27,70

 

1

28,16

27,64

(Kg/Jam)

26,86

27,85

 

0,050

 

2

0,050

0,0495

(Kg/Orang)

0,049

0,049

 

0,125

 

3

0,285

0,165

(Kg/Orang)

0,200

0,050

Keterangan : Rasio (1) = Jumlah produk yang dihasilkan / Jumlah total hari kerja

Rasio (2) = Jumlah produk yang cacat / Jumlah produk yang

dihasilkan

Rasio (3) = Jumlah Absensi Tenaga kerja / Jumlah Tenaga kerja

3. Perhitungan sasaran akhir (skor 10)

Sasaran akhir merupakan target peningkatan kinerja yang ingin diestimasikan

mampu dicapai perusahaan PT. Salama Nusantara menetapkan sasaran akhir

43

sebesar 30%. nilai pada baris skor 10 menunjukan prestasi realistis yang mungkin

dicapai

dalam

jangka

pendek

dengan

input

yang

sama,

selain

itu

harus

diperhatikan faktor-faktor lain seperti kualitas, inovasi teknologi, perilaku kerja,

kondisi ekonomi, dan lain-lain. Nilai sasaran akhir atas tiap rasio atau tolak ukur

kinerja yang digunakan diperoleh dari wawancara dengan atasan perusahaan.

Target yang telah ditetapkan oleh pihak manajemen PT. Salama Nusantara

sebesar

30%.

target

ini

menunjukan

sasaran akhir

yang

ingin

dicapai

dan

selanjutnya digunakan untuk mengisi matrik pada baris skor 10.

Kriteria efisiensi

Rasio 1

Nilai

pada baris skor 10 diisi dengan nilai rasio yang ingin dicapai perusahaan,

yang diperoleh dari penambahan nilai rasio maksimum yang terdapat pada bulan

Juni 2008 sebesar 28,16 dengan target peningkatan 30%.

28,16+ (28,16 x 0,3) = 36,60

Nilai 36,60 menunjukan prestasi realistis yang mungkin dicapai PT. Salama

Nusantara dalam

jangka pendek dengan jumlah input yang sama. Apabila

perusahaaan

menggunakan

tenaga

kerja

untuk

berproduksi

dengan

jumlah

produksi teh mahkota dewa sebagai output maka, perusahaan mampu mencapai

Target produktivitas sebesar 36,60

Rasio 2

Nilai

pada baris skor 10 diisi dengan nilai rasio yang ingin dicapai perusahaan,

yang diperoleh dari penambahan nilai rasio maksimum yang terdapat pada bulan

44

O,05+ (0,05x 0,3) = 0,065

Nilai 0,065 menunjukan prestasi realistis yang mungkin dicapai PT. Salama

Nusantara dalam

jangka pendek dengan jumlah input yang sama. Apabila

perusahaaan

menggunakan

tenaga

kerja

untuk

berproduksi

dengan

jumlah

produksi teh mahkota dewa sebagai output maka, perusahaan mampu mencapai

Target produktivitas sebesar 0,065

Rasio 3

Nilai

pada baris skor 10 diisi dengan nilai rasio yang ingin dicapai perusahaan,

yang diperoleh dari penambahan nilai rasio maksimum yang terdapat pada bulan

Juni 2008 sebesar 0,285 dengan target peningkatan 30%.

0,285+ (0,285x 0,3) = 0,37

Nilai 0,37 menunjukan prestasi realistis yang mungkin dicapai PT. Salama

Nusantara dalam

jangka pendek dengan jumlah input yang sama. Apabila

perusahaaan

menggunakan

tenaga

kerja

untuk

berproduksi

dengan

jumlah

produksi teh mahkota dewa sebagai output maka, perusahaan mampu mencapai

Target produktivitas sebesar 0,37

4. Perhitungan Nilai Terendah (skor 0)

Perhitungan

matriks

OMAX

skor

0

merupakan

nilai

terendah

yang

menunjukan kinerja terburuk pada suatu kriteria produktivitas dalam periode yang

ditetapkan. Nilai ini akan mengisi matriks pada baris skor 0.

45

Tabel 4.3 Perhitungan Nilai Terendah (skor 0)

Rasio

Rasio Terendah

Periode (Bulan)

 

1 26,86

Juli 2008

 

2 0,049

Agustus 2008

 

3 0,05

Agustus 2008

5. Perhitungan Sasaran Jangka Pendek (skor 0 ~ 3 dan 3 ~ 10)

Sasaran jangka pendek merupakan

Sasaran tingkat menengah. Penambahan nilai

dihitung secara linier untuk mempermudah dalam melakukan analisis. Nilai ini

akan mengisi tabel 6.5 pada baris antara 0 ~ 3 dan 3 ~ 10.

Perhitungan sebagai berikut :

Rasio 1

interval dari nilai rasio tahap awal (skor 3) sampai akhir (skor 10) bertambah 1,28.

Perhitungan sebagai berikut :

36,60 27,64

7

= 1,28

Nilai 1,28 diperoleh dari selisih antara nilai rasio pada sasaran akhir dengan nilai

tahap awal lalu dibagi dengan 7 (jarak dari skor 3 ke skor 10). Peningkatan target

produktivitas

sebesar

30

%

dapat

diperoleh

perusahaan

apabila

perusahaan

mampu menaikkan produktivitas sebesar 1,28 dengan jumlah produksi teh per

tenaga kerja tersedia sebagai indikatornya, dari kinerja standar yang dapat dicapai

perusahaan.

Interval dari nilai rasio terendah (skor 0) sampai nilai rasio tahap awal (skor 3)

bertambah 0.26 Perhitungan sebagai berikut :

46

27,64 26,86

3

= 0,26

Nilai 0,26 diperoleh dari selisih antara nilai rasio pada tahap awal dengan rasio

terendah lalu dibagi dengan 3 (jarak dari skor 0 ke 3). Nilai baris 3 menunjukkan

kinerja dari tenaga kerja yang sesungguhnya pada saat periode pengamatan

sedangkan, nilai baris skor 0 menunjukan kinerja terburuk. Perusahaan harus

meningkatkan produktivitasnya sebesar 0,26 pada indikator jumlah produksi teh

per jumlah tenaga kerja tersedia agar produktivitas perusahaaan berada pada tahap

kinerja standar.

Rasio 2

interval dari nilai rasio tahap awal (skor 3) sampai akhir (skor 10) bertambah 0,17.

Perhitungan sebagai berikut :

0,065 0,0495

7

= 0,002

Nilai 0,002 diperoleh dari selisih antara nilai rasio pada sasaran akhir dengan nilai

tahap awal lalu dibagi dengan 7 (jarak dari skor 3 ke skor 10). Peningkatan target

produktivitas

sebesar

30

%

dapat

diperoleh

perusahaan

apabila

perusahaan

mampu menaikkan produktivitas sebesar 0,002 dengan jumlah produksi teh per

tenaga kerja tersedia sebagai indikatornya, dari kinerja standar yang dapat dicapai

perusahaan.

Interval dari nilai rasio terendah (skor 0) sampai nilai rasio tahap awal (skor 3)

bertambah 0,0001 Perhitungan sebagai berikut :

0,0495 0,049

3

= 0,0001

47

Nilai 0,0001 diperoleh dari selisih antara nilai rasio pada tahap awal dengan rasio

terendah lalu dibagi dengan 3 (jarak dari skor 0 ke 3). Nilai baris 3 menunjukkan

kinerja dari tenaga kerja yang sesungguhnya pada saat periode pengamatan

sedangkan, nilai baris skor 0 menunjukan kinerja terburuk. Perusahaan harus

meningkatkan produktivitasnya sebesar 0,0001 pada indikator jumlah produksi teh

per jumlah tenaga kerja tersedia agar produktivitas perusahaaan berada pada tahap

kinerja standar.

Rasio 3

interval dari nilai rasio tahap awal (skor 3) sampai akhir (skor 10) bertambah

0,029. Perhitungan sebagai berikut :

0,37 0,165

7