Anda di halaman 1dari 13

PDPH ( POST DURAL PUNCTURE HEADACHE)

Sampai saat ini ada dua teori mengenai terjadinya PDPH. Teori pertama menyebutkan bahwa kebocoran yang
kontinyu dari cairan serebrospinal menyebabkan berkurangnya cairan dari kompartmen intrakranial. Karena
cairan serebrospinal berfungsi sebagai bantalan dari otak, maka pengurangan cairan ini menyebabkan posisi
dari otak jatuh sehingga menyebabkan tarikan pada meningen yang sensitif terhadap nyeri. Nyeri ini menjalar
sepanjang nervus trigeminus ke daerah frontal. Juga melalui nervus vagus dan glossopharyngeal ke daerah
occipital dan leher. Nyeri lebih terasa terutama pada posisi tegak.
Teori yang kedua menyebutkan bahwa kebocoran cairan serebrospinal menyebabkan terjadinya hipotensi
intrakranial, yang menyebabkan tubuh berkompensasi dengan melakukan vasodilatasi. 2
ANATOMI DAN FISIOLOGI
Cairan serebrospinal (CSS) merupakan hasil ultrafiltrasi plasma yang jernih tidak berwarna, tidak berbau dan
berada dalan ventrikel otak, sisterna otak, dan ruang subarakhnoid sekitar otak dan medula spinalis. Volume
CSS pada orang dewasa rata-rata memproduksi sekitar 500 ml CSS/hari, atau 21 ml/jam (0,3 ml/kgBB/jam),
dengan 90 % berasal dari pleksus koroid di ventrikel lateral, dan 10% dari substansi otak itu sendiri. Dengan
berat jenis CSS1.002 1.009, pH 7,32 dan 50 ml berada dalam ruang intrakranial.3
Cairan ini mengalir melalui foramina interventrikular masuk ke ventrikel ketiga, dan dari tempat ini akan
masuk ke ventrikel keempat melalui aquaduktus. CSS kemudian bersirkulasi melalui foramen Luschka dan
Magendi menuju ruang subarakhnoid dan vili arakhnoid dari sinus dura mater (badan Pacchionian), dan dari
tempat ini akan masuk ke dalam sinus venosus.4
Aliran CSS melalui sistem ini dipermudah oleh faktor-faktor sirkulasi dan postural yang menimbulkan
tekanan SSP sebesar 10 mmHg. Penurunan tekanan akibat pengeluaran hanya beberapa ml CSS selama
pungsi lumbal untuk analisis laboratorium dapat menimbulkan nyeri kepala yang hebat. Melalui proses
pembentukan, sirkulasi dan reabsorpsi yang terus menerus, seluruh volume CSS digantikan lebih dari tiga kali
sehari.
Menings spinalis terdiri atas 3 lapis, yaitu : dari lapisan terluar sampai terdalam, dura mater, arakhnoid, pia
mater. Ruang antara lapisan arakhnoid dan pia mater di bawahnya disebut ruang subarakhnoid, terisi oleh
CSS. 5
Secara anatomis, dura mater spinalis memanjang dari foramen magnum ke segmen kedua sakrum. Ini terdiri
dari matriks jaringan ikat padat kolagen dan serat elastis. Sebanyak sekitar 150 ml CSS beredar pada satu
waktu dan diserap oleh vili arakhnoid. 6

Gambar 1. Potongan sagital vertebra lumbal


(Diambil dari referensi no.7)

KLASIFIKASI
Naulty et al membagi PDPH menjadi dua fase. Yang pertama adalah PDPH yang relatif ringan. Biasanya
timbul 36 48 jam setelah anestesi. Fase kedua, atau yang disebut juga sebagai PDPH klasik, timbul 3 4 hari
setelah anestesi, dengan nyeri kepala berat yang tidak bisa hilang dengan analgesik. Sedangkan Lybecker et al
membagi PDPH menjadi ringan, moderat dan berat.8
Klasifikasi Post Dural Puncture Headache menurut Lybecker et al :
1

Mild PDPH
Sakit kepala sedikit mengganggu aktivitas sehari-hari. Pasien tidak perlu beristirahat total di
tempat tidur .
Tidak ditemukan gejala yang berhubugan dengan PDPH.
Moderat PDPH
Sakit kepala yang mengganggu aktivitas sehari-hari dengan signifikan. Pasien mnghabiskan
sebagian besar waktu di tempat tidur.
Dapat ditemukan gejala yang berhubungan dengan PDPH.
Severe PDPH
Sakit kepala yang sangat berat. Pasien tidak dapat beraktivitas.
Ada gejala yang berhubungan dengan PDPH.

Gejala yang berhubungan dengan PDPH :

Gejala vestibular
Gejala cochlear
Gejala okular
Gejala muskuloskletal

: mual, muntah, vertigo


: hilang pendengaran, hiperakusis, tinitus
: fotofobia diplopia, kesulitan akomodasi
: kaku di area leher, nyeri skapular

PATOFISIOLOGI
Penyebab PDPH tidak sepenuhnya pasti. Penjelasan terbaik adalah bahwa hasil tekanan rendah CSS dari
kebocoran CSS melalui robekan dural dan arakhnoid, sebuah kebocoran melebihi tingkat produksi dari CSS.
Sedikitnya hilang 10% volume CSS dapat menyebabkan sakit kepala ortostatik. Ada dua mekanisme dasar
teoritis untuk menjelaskan PDPH. Salah satunya adalah refleks vasodilatasi dari pembuluh meningeal karena
menurunnya tekanan CSS. 7
Monroe-Kelly menyatakan bahwa total volume elemen dari rongga intrakranial (darah, CSS, dan jaringan
otak) tetap konstan. Konsekuensi kehilangan CSS adalah vasodilatasi yang mengkompensasi hilangnya
volume dalam rongga intrakranial, sehingga sakit kepala dialami oleh paien setelah kebocoran CSS mungkin
sebagian disebabkan vasodilatasi intrakranial. Efek menguntungkan dari obat vasokontriktor otak termasuk
kafein, teofilin, dan sumatriptan mendukung etiologi vaskuler untuk PDPH. Ganggguan visual terjadi di mana
tercatat bahwa mereka yang menerima anestesi spinal terjadi penurunan tekanan intrakranial. Diplopia adalah
gejala mata yang paling umum diakibatkan dari penurunan tekanan intrakranial dan disebabkan oleh traksi
pada saraf abducens (saraf kranial keenam), yang memiliki jalan terpanjang dalam rongga intrakranial.
Gejala yang berhubungan dengan pendengaran, disebabkan disfungsi saraf kedelapan, juga kadang-kadang
dapat terjadi, yang mengalami ketulian unilateral atau bilateral. Insiden kehilangan pendengaran berkorelasi
dengan ukuran dan jenis jarum yang digunakan dan telah didokumentasikan untuk dihilangkan dengan patch
darah epidural. Efek pada pendengaran adalah resultan dari perubahan tekanan CSS, yang ditransmisikan ke
sirkulasi getah bening endocochlear dalam kanalis semisirkularis, dan hasil dalam kondisi sementara mirip
dengan hidrops pada penyakit Meniere. 2
Teori yang lainnya adalah traksi pada struktur sensitif nyeri intrakranial dalam posisi tegak. Traksi pada nervus
servikal seperti C1, C2, C3 yang menyebabkan nyeri pada leher dan bahu. Traksi pada saraf kranial kelima
menyebabkan sakit kepala frontal. Nyeri di daerah oksipital ini disebabkan oleh traksi pada saraf kranial
kesembilan dan kesepuluh.6

INSIDENSI PDPH

Insiden PDPH diperkirakan 30 50% pada diagnostik atau terapi pungsi lumbal, 0 5% anestesi spinal dan
81% kejadian pungsi dural selama insersi epidural pada wanita hamil. PDPH sering terjadi pada dewasa muda
termasuk pasien obstetri dengan insiden sebanyak 14%, dibanding dengan pasien yang berusia lebih dari 70
tahun. Kejadian PDPH meningkat dengan penggunaan jarum spinal yang berukuran besar dan komplikasi
berkurang dengan penggunaan jarum pencil tripped needles.9

Gambar 2. Jarum Sprotte, Whitracre, dan Quinckle


Insiden PDPH secara langsung berkaitan dengan diameter jarum yang menembus duramater. Meskipun
tusukan jarum diameternya kecil digunakan untuk blok subarakhnoid mengurangi resiko PDPH, jarum ini
secara teknis sulit untuk digunakan dan berkaitan dengan tingkat keberhasilan lebih rendah dari anestesi spinal,
terutama di tangan yang kurang berpegalaman. Hal ini disebabkan kegagalan dalam mengenali pungsi dural
sekunder untuk memperlambat aliran melalui jarum kecil, menyebabkan tusukan berganda dan berulang.
Insiden dari PDPH dengan jarum Whitacre 25-gauge (tidak tajam) kurang daripada jarum Quincke 27-gauge
(tajam). Morbiditas terkait dengan pungsi lumbal dapat dikurangi dengan pemilihan yang tepat dari sebuah
pengukur jarum yang tepat dan konfigurasi ujung jarum.6

FAKTOR RESIKO
Sejumlah faktor dilaporkan turut mempengaruhi kejadian PDPH, dan informasi ini didasarkan pada laporan
kasus klinis dan studi sebelumnya, ada hubungan kuat antara timbulnya sakit kepala dan ukuran jarum, usia,
jenis kelamin, kehamilan, desain bevel dan arah penusukan bevel. Perempuan, khususnya selama kehamilan
dan terutama setelah post partus spontan, dianggap memiliki resiko yang lebih tinggi untuk Sejumlah faktor
dilaporkan turut mempengaruhi kejadian PDPH, dan informasi ini didasarkan pada laporan kasus klinis dan
studi sebelumnya, ada hubungan kuat antara timbulnya sakit kepala dan ukuran jarum, usia, jenis kelamin,
kehamilan, desain bevel dan arah penusukan bevel. Perempuan, khususnya selama kehamilan dan terutama

setelah post partus spontan, dianggap memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami PDPH. Insiden
PDPH tertinggi antara usia 18 30 tahun dan menurun pada anak-anak muda usia kurang dari 13 tahun dan
dewasa yang lebih tua dari 60 tahun. Kejadian lebih besar pada pasien dengan indeks masa tubuh lebih
rendah. Wanita yang mengalami obesitas sebenarnya memiliki insiden PDPH yang lebih rendah. Ini mungkin
karena peningkatan tekanan intraabdomen dapat bertindak sebagai pengikat perut yang membantu untuk
menutup kerusakan pada dura dan mengurangi hilangnya CSS. Wanita yang lebih muda mungkin berada
pada resiko yang lebih besar karena elastisitas serat dura meningkat yang menjaga kerusakan paten dura
dibandingkan dengan dura yang kurang elastis pada pasien lebih tua. Pasien dengan sakit kepala sebelum
pungsi lumbal dan riwayat PDPH juga lebih beresiko. Tidak ada hubungan yang diketahui antara diagnosis
sakit kepala migrain dan peningkatan kejadian PDPH setelah anestesi regional. Mungkin ada beberapa
korelasi antara sejarah dari motion sickness dan PDPH. Faktor lain yang penting adalah pengalaman orang
yang melakukan prosedur yang mengarah pada tusukan ke dura. Spinal secara kontinu mengurangi kejadian
PDPH bila dibandingkan dengan spinal suntikan tunggal. 6
Lybecker menyarankan bahwa orientasi bevel mungkin bahkan lebih penting daripada ukuran jarum dan
tidak bisa menunjukkan perbedaan ketika menggunakan jarum 22 dan jarum 25-gauge, saat bevel itu
berorientasi vertikal. Read et al menyarankan bahwa arah miring jarum akan mengurangi kejadian PDPH.
Arakhnoid erat melekat dengan dura, dan ketika jarum maju tegak lurus, lubang yanng dibuat oleh bevel di
daerah dura dan arakhnoid ecara langsung sejalan satu sama lain. Ketika jarum diarahkan miring, pungsi dural
tidak membatasi pada lapisan arakhnoid, sehingga menghalangi kebocoran CSS.2

TANDA DAN GEJALA


PDPH biasanya bermanifestasi sebagai sakit kepala, postural frontal, frontotemporal, atau oksipial, diperparah
dengan ambulasi dan ditingkatkan dengan posisi dekubitus, terjadi dalam 48 jam setelah pungsi dural. Gejalagejala yang menyertai biasanya mual, muntah dan leher kaku. Gejala lainnya yaitu keluhan mata seperti
fotofobia dan diplopia, dan keluhan pendengaran seperti tinitus dan hiperakusis. Kasus pertama diplopia
setetlah pungsi dural dilaporkan oleh Quincke lebih dari 100 tahun yang lalu. Diplopia atau kelumpuhan otot
luar mata (EOMP) setelah pungsi dural telah dilaporkan, terutama dalam literatur neurologi dan oftalmologi.
Karena tampaknya ada periode jendela sebelum diplopia bermanifestasi setelah pungsi dural. Diplopia
biasanya terjadi 4 10 hari setelah pungsi dural tetapi dapat bermanifestasi sampai akhir minggu ketiga.
Kendali pemulihan secara umum dapat diharapkan dalam dua minggu sampai delapan bulan, meskipun kasus
permanen jarang dilaporkan.6

PENGOBATAN
Konservatif / Terapi simtomatik
Para dokter yang merawat harus memberikan dukugan emosional dan jamiinan kepada pasien PDPH.
Istirahat telah dianjurkan dalam kasus pungsi dural oleh beberapa dokter. Namun, metaanalisis terbaru gagal
menunjukkan bahwa istirahat setelah pungsi dural lebih baik dari mobilisasi langsung dalam mengurangi
kejadian PDPH. Istirahat dapat dikaitkan dengan insiden PDPH yang lebih tinggi dalam kelompok pasien
tertentu. Istirahat di tempat tidur dapat menunda terjadinya sakit kepala namun tidak mencegahnya.6
FARMAKOTERAPI
Obat oral dan obat intravena
Hidrasi oral tetap menjadi terapi populer untuk PDPH, tetap tidak ada bukti bahwa hidrasi kuat memiliki
manfaat terapeutik, atau yang mendorong peningkatan produksi cairan serebrospinal. Namun, pasien dengan
PDPH tidak diperbolehkan mengalami dehidrasi. Efektivitas kafein oral untuk pengobatan PDPH dievaluasi
pada 40 pasien postpartum. Sebuah dosis oral tunggal terbukti aman, efektif dan harus dipertimbangkan dalam
pengobatan awal PDPH ringan. Pemberian kafein 300 mg peroral atau kafein benzoat 500 mg IV atau IM,
dapat digunakan untuk mengobati PDPH. Efektivitas kafein dalam pengobatan awal PDPH berkisar 75
80%, namun tidak lanjut 48 jam kemudian mengungkapkan bahwa semua pasien dapat mngalami kembali
sakit kepala. Metylxanthines dapat menghalangi reseptor adenosin otak, yang menyebabkan vasokontriksi
pembuluh darah otak, tetapi efeknya bersifat sementara.
Cosyntropin, bentuk sintesis dari hormon adrenokortikotropik, telah digunakan dalam pengobatan PDPH
refraktori. Hormon adrenokortikotropik diyakni bekerja dengan merangsang kelenjar adrenal untuk
meningkatkan produksi CSS dan produksi -endorfin. Harus hati-hati digunakan pada pasien diabetes. Jenis
serotonin 1-d reseptor agonis (sumatriptan) efektif dalam pengobatan PDPH, dengan gejala lengkap. Obat ini
mahal dan efek samping termasuk rasa sakit di tempat suntikan dan dada terasa sesak. Pasien yang menerima
sumatriptan 6 mg melalui rute subkutan, selama satu jam berikut harus dilakukan pemantauan terhadap
elektrokardiografi, tekanan darah dan pulse oxymetri . Pengobatan menggunakan sumatriptan pada pasien
dengan penyakit jantung iskemik harus mendapat perhatian. Percobaan Cosyntropin, bentuk sintesis dari
hormon adrenokortikotropik, telah digunakan dalam pengobatan PDPH refraktori. Hormon
adrenokortikotropik diyakni bekerja dengan merangsang kelenjar adrenal untuk meningkatkan produksi CSS
dan produksi -endorfin. Harus hati-hati digunakan pada pasien diabetes. Jenis serotonin 1-d reseptor agonis

(sumatriptan) efektif dalam pengobatan PDPH, dengan gejala lengkap. Obat ini mahal dan efek samping
termasuk rasa sakit di tempat suntikan dan dada terasa sesak. Pasien yang menerima sumatriptan 6 mg melalui
rute subkutan, selama satu jam berikut harus dilakukan pemantauan terhadap elektrokardiografi, tekanan
darah dan pulse oxymetri . Pengobatan menggunakan sumatriptan pada pasien dengan penyakit jantung
iskemik harus mendapat perhatian. Percobaan terkontrol diperlukan untuk mengevaluasi lebih lanjut
penggunaan sumatriptan untuk pengobatan PDPH. Tren dari manajemen konservatif untuk blood patch telah
mncul dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini didasarkan pada ketidakefektifan relatif dari pengobatan
konservatif. Sebagai contoh lebih dari 80% pasien postpartum yang konservatif diobati masih akan
merasakan sakit kepala dalam satu minggu.6
AUTOLOGOUS EPIDURAL BLOOD PATCH (AEBP)
AEBP pertama kali dijelaskan oleh Gormley tahun 1960 untuk digunakan dalam PDPH dan kemudian
dipopulerkan oleh Crul dkk dan DiGiovanni dan Dunbar. Mekanisme dugaan tindakan AEBP adalah
tamponade dari kebocoran dural sekaligus meningkatkan tekanan subarakhnoid. Peningkatan tekanan
subarakhnoid dan epidural tetap hanya selama 20 menit. Bukti MRI menegaskan efek massa setelah injeksi
darah epidural, dengan ketetapan bertahap selama sekitar 7 jam. Tidak seperti NaCl, dekstran atau cairan lain,
darah tidak dikeluarkan dengan cepat dari ruang epidural, dan berpotensi memberikan suatu efek tamponade
untuk waktu yang jauh lebih lama. Darah autologous diperkirakan membentuk gumpalan fibrin pada robekan
dural, sehingga volume CSS dan menormalkan tkanan seperti CSS baru dihasilkan.
AEBP telah menjadi standar emas dalam pengobatan PDPH. Karena ada beberapa resiko infeksi ketika
menyuntikan darah ke dalam ruang epidural, kita akan membahas efektivitas beberapa agen cair lainnya yang
telah disuntikkan ke dalam ruang epidural untuk mengobati PDPH. Sebelum mempertimbangkan
pengguanaan suntikan epidural darah atau zat lain untuk meringankan gejala PDPH, perlu ada sejarah yang
jelas negatif dari sepsis dan koagulopati. Infeksi HIV bukan merupakan kontraindikasi dari AEBP.
Dekstran dan NaCl 0,9% diberikan secara bolus 30 60 ml diberikan 6 jam untuk 4 dosis disuntikan ke
dalam ruang epidural yang sementara meningkatkan tekanan dalam ruang epidural, yang kemudian
mengurangi kebocoran CSS dan mengembalikan tekanan subarakhnoid. Tidak hanya tingkat keberhasilan
rata-rata, tetapi juga anafilaksis telah dilaporkan setelah penggunaan dekstran untuk tujuan ini. Patch epidural
dengan zat bukan darah, misalnya saline atau koloid, tidak efektif untuk digunakan dalam jangka panjang.
Komplikasi setelah AEBP meliputi : sakit punggung (35%), nyeri leher (0,9%), dan peningkatan suhu transien
(5%) yang berlangsung 24 48 jam. Perdarahan, infeksi, arakhnoiditis dari darah yang disuntikkan ke dalam

ruang subarakhnoid telah dilaporkan. Ada setidaknya dua kasus kelumpuhan saraf wajah dilaporkan setelah
AEBP, keduanya dapat sembuh secara spontan.6
PROFILAKSIS EPIDURAL BLOOD PATCH
Beberapa praktisi menganjurkan penggunaan EBP profilaksis untuk mencegah PDPH, terutama pada
mereka yang berisiko tinggi. Praktik ini cenderung tidak memiliki banyak dampak pada pencegahan dari
PDPH.
neurologis sementara atau gejala terkait, pungsi lumbalgia tidak spesifik postdural, toksisitas obat saraf, dan
anterior spinal artery syndrome semua harus disingkirkan. Pengujian tambahan seperti Magnetic Resonance
Imaging dapat dilakukan pada kasus dengan gejala atipikal tusukan postdural, untuk menyingkirkan
kemungkinan terkena komplikasi serius.6
PROGNOSIS

Meskipun PDPH biasanya dapat sembuh secara spontan, tetapi sangat tidak menyenangkan, dan
dapatmemperpanjang masa rawat di rumah

Tabel 1. Penatalaksanaan PDPH


( Diambil dari referensi no. 10)
DIAGNOSIS BANDING

Sebuah riwayat komprehensif dan pemeriksaan fisik harus dilakukan sebelum membuat diagnosis PDPH.
Spinal abses, hematoma tulang belakang, meningitis septik atau aseptik, lesi masa intrakranial, aneurisma
serebral, edema serebral, sindrom myofascial, arakhnoiditis yang disebabkan oleh steroid intratekal, sindrom
neurologis sementara atau gejala terkait, pungsi lumbalgia tidak spesifik postdural, toksisitas obat saraf, dan
anterior spinal artery syndrome semua harus disingkirkan. Pengujian tambahan seperti Magnetic Resonance
Imaging dapat dilakukan pada kasus dengan gejala atipikal tusukan postdural, untuk menyingkirkan
kemungkinan terkena komplikasi serius.6
PROGNOSIS
Meskipun PDPH biasanya dapat sembuh secara spontan, tetapi sangat tidak menyenangkan, dan dapat
memperpanjang masa rawat di rumah sakit. Pengobatan yang efektif terbatas sehingga tindakan termasuk
penggunaan jarum yang cocok dan perolehan ketrampilan yang tepat dalam melakukan pungsi spinal dan
epidural sangat penting untuk mengurangi kejadian PDPH.9
Meski tidak mengancam jiwa, PDPH membawa morbiditas yang membatasi aktivitas sehari-hari.
Pengobatan simtomatik seperti istirahat, cairan, analgesik, kafein, dan sumatriptan hanya menunda
ketidaknyamanan. Epidural blood patch tetap menjadi pengobatan invasif pilihan, sekitar 70% keberhasilan
dalam jangka lama setelah injeksi awal. Manfaat dari profilaksis blood patching tidak begitu jelas tapi layak
dipertimbangkan bagi mereka yang pling beresiko terkena PDPH, seperti pada pasien postpartum dan perforsi
dural akibat pengguanaan jarum Touchy.
ABSES EPIDURAL
Duramater tulang belakang terpisah dari arkus vertebra oleh jaringan pengikat yang longggar.
Jaringan tersebut seolah-olah menyediakan ruang untuk kuman yang dapat membentuk abses. Karena
itu, manifestasi abses epidural spinalis yang mencerminkan efek proses desak ruang dari sisi posterior.

Epidemiologi lebih umum pada pria dibandingkan pada wanita. Insiden tertinggi adalah pada
usia 50 - 60 tahun. patogen yang paling umum: staphylococcus aureus, streptokokus,
Escherichia coli, Pseudomonas, jarang anaerob, mikobakteri, dan jamur.
Etiologi, patofisiologi, pathogenesis
akumulasi nanah antara dura mater dari sumsum tulang belakang dan periosteum tulang
belakang. penyebaran hematogen (terjadi pada 60% kasus): infeksi kulit dan jaringan lunak,
infeksi endokarditis, pneumonia, infeksi saluran urogenital. Dengan ekstensi: vertebral

osteomyelitis, abses psoas, paraspinal abses, trauma. Iatrogenik: pungsi lumbal, anestesi
epidural, pasca operasi.
Temuan pada CT
Digunakan pada kontraindikasi MRI. Akumulasi cairan di dalam ruang epidural. CT
myelography bersifat sensitive dan invasive. CT-dipandu biopsi untuk mengidentifikasi
pathogen.
Temuan MRI
massa epidural menekan sumsum tulang belakang dan menggeser dura mater, lebih sering
anterior daripada posterior. Dapat menyebar melalui foramen saraf menyebabkan abses di
ppsoas mayor. Perubahan sinyal di dalam badan vertebra yang berdekatan dan disk dengan
spondylodiskitis simultan.
Aspek Klinis
-

Gambaran khas: nyeri punggung, nyeri radikuler. Kelemahan pada kaki. Disfungsi

sphingter. Demam.
Pilihan terapi: dekompresi bedah dengan laminectomy dan drainase. Terapi
antibiotic sistemik.

Diagnosis banding
Epidural hematom: - anamnesa ( trauma, antikoagulasi )
- onset akut dari gejala klinis
- tanda inflamasi
Osteomyelitis tulang belakang: terbatas pada tulang
Spondylodiskitis : berhubungan dengan intervertebral disk
Herniasi disk: - perbedaan signal pada T1 dan T2
- kelainan terbatas pada satu segment
Guillain-Barre syndrome: tidak akibat massa

Faktor etiologi dan presipitasi yang penting bagi abses epidural yang akut ialah diabetes
mellitus dan infeksi Staphylococcus aureus yang berupa bisul di kulit atau osteomyelitis pada korpus,
lamina atau pedikel tulang belakang. Yang paling sering terkena adalah bagian torakal. Bagi jenis
yang kronik, spondilitis tuberkulosa merupakan penyakit primernya.
Tergantung pada lokasi abses epidural, maka paraplegi dengan deficit sensorik akan
berkembang secara berangsur-angsur. Kompresi medula spinalis mulai dengan nyeri tulang belakang,
kemudian nyeri radikuler, dan paraplegia akan tibul sedikit demi sedikit dengan gangguan perasaan
getar, gerak, dan posisi sebagai gejala dininya.
Pemeriksaan penunjang untuk menentukan diagnosis yang penting meliputi kultur darah dan
MRI medulla spinalis. Bila MRI tidak memungkinkan maka bisa dilakukan CT myelography. Lumbal
punksi dikontraindikasikan pada pasien dengan kecurigaan abses epidiral spinal ini karena
dikhawatirkan dapat menyebarkan materi purulen kedalam ruang subarachnoid.
Penatalaksanaan penyakit ini meliputi pengobatan medis dan pengobatan bedah. Terapi medis
meliputi pemberian antibiotic yang adekuat dan harus diberikan sedini mungkin. Durasi dari
pengobatan ini biasanya mencapai 3-4 minggu. Karena agen yang biasa menginfeksi ialah S.aureus,
maka terapi yang diberikan ialah dari golongan penicillin, cephalosporin, atau vancomycin. Contohcontoh preparat yang digunakan ialah Ceftriaxone (Rocephin), Nafcillin (Unipen), Cefazolin (Ancef,
Kefzol, Zolicef), Vancomycin (Vancocin).
Terapi bedah yang biasa digunakan ialah dekompresi pada tulang belakang dan drainase
abses, indikasi terapi pembedahan ini ialah adanya peningkatan deficit neurologik, rasa sakit menjadijadi dan demam yang menetap, serta leukositosis. Keberhasilan terapi dilaporkan dengan
menggunakan kombinasi antara aspirasi abses dan terapi antibiotic yang adekuat.
Komplikasi yang biasa terjadi pada cedera spinal meliputi disfungsi kandung kemih, decubiti,
supine hypertension, sepsis berulang, dan lain sebagainya. Prognosis pada pasien dengan penyakit ini
bervariasi, bergantung pada onset dan derajat penyakit pada saat pertama kali ditemukan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Bready LL, Dilman D, Noorily SH. Decision Making in Anesthesiology : an Algorithmic Approach.
India : Elsevier Publisher; 2007 : 602-5
2. Finucane BT. Complications of Regional Anesthesia. Canada : Springer Science; 2007 : 177-80
3. Latief SA, Suryadi KA, Dechlan MR. Petunjk Praktis Anestesiologi. Jakarta : Bagian Anestesiologi
dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2009 : 17
4. Silbernagl S, Lang F. Teks dan Atlas Berwarna Patofisiologi. Jakarta : EGC; 2013 : 356
5. Sherwood L. Fisiologi Manusia. Edisi 2. Jakarta : EGC; 2001 : 111-12
6. Ghaleb A. Postdural Puncture Headache. Anesthesiology Research and Practice Vol. 2010 (Last
update : 2 Juli 2010). Available from : http://www.hindawi.com/journals/arp/2010/102967/ Diunduh
pada tanggal 14 Februari 2015
7. Morgan GE, Mikail MS, Murray MJ. Clinical Anesthesiology 4th ed. New York : Lange Medical
Book; 2006 : 298-312
8. Dureja. Regional Anesthesia and Pain Management : Current Perspectives. India : Elsevier; 2007 :
163-4
9. Campbell NJ. Effective Managemen of The Post Dural Puncture Headache. Anesthesia Tutorial of
The

Week

181

(Last

update

31

May

2010).

Available

http://www.frca.co.uk/Documents/181%20Post%20dural%20puncture%20headache.pdf

from

Diuduh

pada tanggal 15 Februari 2015


10. Frank RL. Lumbar Puncture and Post Dural Puncture Headache. Impliations for The Emergncy
Physician.

(Last

update

December

2008).

Available

http://www.medscape.com/viewarticle/578254_print Diunduh pada tanggal 15 Februari 2015

from