Anda di halaman 1dari 3

VITAMIN C

Vitamin C adalah nutrient dan vitamin yang larut dalam air dan penting untuk kehidupan
serta untuk menjaga kesehatan. Vitamin C merupakan suatu zat organik yang merupakan koenzim atau askorbat ko-faktor pada berbagai reaksi biokimia tubuh. Vitamin C berupa suatu
kristal putih dengan zat organik yang relatif sederhana, hampir mendekati bentuk
gula/monosakarida. Dari semua jenis vitamin yang ada, vitamin C merupakan yang palih
mudah rusak dan sangat mudah teroksidasi terutama apabila ada panas, cahaya, alkali dan
adanya enzim-enzim oksidasi. Karena mudah dioksidasi inilah, maka vitamin C merupakan
suatu zat reduktor yang kuat (Prawirokusumo, 1991).
Vitamin C merupakan suatu senyawa utama tubuh yang dibutuhkan dalam berbagai proses
penting, mulai dari pembuatan kolagen, karnitin pengangkut lemak, hormon adrenalin dan
kortison, pengangkut elektron dalam berbagai reaksi enzimatik, pelindung integritas
pembuluh darah, pemacu gusi yang sehat, pelindung radiasi, pengatur tingkat kolesterol,
pendetoksifikasi radikal bebas, senyawa antibakteria dan antivirus, serta pemacu imunitas
(Goodman, 2000).
Fungsi yang terpenting vitamin C adalah pembentukan kolagen, yakni protein bahan
penunjang utama dalam tulang/rawan dan jaringan ikat. Bila sintesa kolagen terganggu, maka
mudah terjadi kerusakan pada dinding pembuluh yang berakibat pendarahan (Tjay dan
Rahardja, 2002).
Absorbsinya dari usus cepat dan praktis sempurna (90%) tetapi menurun pada dosis diatas 1
g. Distribusinya ke semua jaringan baik. Persediaan tubuh untuk sebagian besar terdapat
dalam cortex anak ginjal. Dalam darah sangat mudah dioksidasi secara reversibel menjadi
dehidroaskorbat yang hamper sama aktifnya. Sebagian kecil dirombak menjadi asam oksalat
dengan jalan pemecahan ikatan antara C2 dan C3. Ekskresi berlangsung terutama sebagai
metabolit dehidronya dan sedikit sebagai asam oksalat (Tjay dan Rahardja, 2002).
Apabila dosis vitamin yang diberikan berlebihan, maka vitamin C yang berlebih ini akan
diekskresikan melalui urin. Pada manusia sebagian vitamin C akan diubah menjadi garamgaram oksalat, dan keluar bersama urin. Apabila kalsium oksalat yang terbentuk, maka akan
terjadi pengendapan. Kelebihan vitamin C juga dapat menaikkan kadar keasaman darah
khususnya yang mendapat vitamin C dosis tinggi secara intravena. Pada keadaan tertentu,
penurunan pH darah tidak diharapkan. Dapat juga terjadi keasaman urin. Oleh karena itu,
dilihat darii sudut gizi, pemasukan vitamin C itu harus disesuaikan dengan pemasukan zat-zat
gizi lainnya (baik dalam jumlah maupun proporsinya) agar kesehatan tubuh dapat terbina
(Prawirokusumo, 1991).

Vitamin C atau asam askorbat merupakan vitamin yang larut dalam air. Vitamin C bekerja
sebagai suatu koenzim dan pada keadaan tertentu merupakan reduktor dan antioksidan.
Vitamin ini dapat secara langsung atau tidak langsung memberikan elektron ke enzim yang
membutuhkan ion-ion logam tereduksi dan bekerja sebagai kofaktor untuk prolil dan lisil
hidroksilase dalam biosintesis kolagen. Zat ini berbentuk kristal dan bubuk putih kekuningan,
stabil pada keadaan kering (Dewoto 2007).
Farmakokinetik
Mudah diabsorbsi melalui saluran cerna. Ekskresi melalui urine dalam bentuk utuh dan
bentuk garam sulfatnya terjadi jika kadar dalam darah melewati ambang rangsang ginjal 1,4
mg%. vitamin ini digunakan dalam metabolisme karbohidrat dan sintesis protein, lipid, dan
kolagen. Vitamin C juga dibutuhkan oleh endotel kapiler dan perbaikan jaringan. vitamin C
bermanfaat dalam absorpsi zat besi dan metabolisme asam folat. Tidak seperti vitamin yang
larut lemak, vitamin C tidak disimpan dalam tubuh dan diekskresikan di urine. Namun, serum
level vitamin C yang tinggi merupakan hasil dari dosis yang berlebihan dan diekskresi tanpa
mengubah apapun (Kamiensky, Keogh 2006).
Kebutuhan vitamin C berdasarkan U.S. RDA antara lain untuk pria dan wanita sebanyak 60
mg/hari, bayi sebanyak 35 mg/hari, ibu hamil sebanyak 70 mg/hari, dan ibu menyusui
sebanyak 95 mg/hari. Kebutuhan vitamin C meningkat 300-500% pada penyakit infeksi, TB,
tukak peptik, penyakit neoplasma, pasca bedah atau trauma, hipertiroid, kehamilan, dan
laktasi (Kamiensky, Keogh 2006).
Vitamin C berperan sebagai kofaktor dalam sejumlah reaksi hidroksilasi dan amidasi dengan
memindahkan electron ke enzim yang ion logamnya harus berada dalam keadaan tereduksi;
dan dalam keadaan tertentu bersifat sebagai antioksidan. Vitamin C dibutuhkan untuk
mempercepat perubahan residu prolin dan lisin pada prokolagen menjadi hidroksiprolin dan
hidroksilisin pada sintesis kolagen. Perubahan asam folat menjadi asam folinat, metabolisme
obat oleh mikrosom dan hidroksilasi dopamine menjadi norepinefrin juga membutuhkan
vitamin C. Asam askorbat meningkatkkan aktivitas enzim amidase yang berperan dalam
pembentukan hormon oksitosin dan hormon diuretik. Vitamin C juga meningkatkan absorpsi
besi dengan mereduksi ion feri menjadi fero di lambung.Peran vitamin C juga didapatkan
dalam pembentukan steroid adrenal (Kamiensky, Keogh 2006; Dewoto 2007).
Fungsi utama vitamin C pada jaringan adalah dalam sintesis kolagen, proteoglikan zat
organik matriks antarsel lain misalnya pada tulang, gigi, dan endotel kapiler. Peran vitamin C
dalam sintesis kolagen selain pada hidroksilasi prolin juga berperan pada stimulasi langsung
sintesis peptide kolagen. Gangguan sintesis kolagen terjadi pada pasien skorbut. Hal ini

tampak pada kesulitan dalam penyembuhan luka, gangguan pembentukan gigi, dan pecahnya
kapiler yang mengakibatkan petechiae dan echimosis. Perdarahan tersebut disebabkan oleh
kebocoran kapiler akibat adhesi sel-sel endotel yang kurang baik dan mungkin juga karena
gangguan pada jaringan ikat perikapiler sehingga kapiler mudah pecah oleh penekanan
(Kamiensky, Keogh 2006; Dewoto 2007).
Pemberian vitamin C pada keadaan normal tidak menunjukkan efek farmakodinamik yang
jelas. Namun pada keadaan defisiensi, pemberian vitamin C akan menghilangkan gejala
penyakit dengan cepat.
Vitamin C mudah diabsorpsi melalui saluran cerna.pada keadaan normal tampak kenaikan
kadar vitamin C dalam darah setelah diabsorpsi. Kadar dalam lekosit dan trombosit lebih
besar daripada dalam plasma dan eritrosit. Distribusinya luas ke seluruh tubuh dengan kadar
tertinggi dalam kelenjar dan terendah dalam otot dan jaringan lemak. Ekskresi melalui urin
dalam bentuk utuh dan bentuk garam sulfatnya terjadi jika kadar dalam darah melewati
ambang rangsang ginjal yaitu 1,4 mg% (Dewoto 2007).
Beberapa obat diduga dapat mempercepat ekskresi vitamin C misalnya tetrasiklin,
fenobarbital, dan salisilat. Vitamin C dosis besar dapat memberikan hasil false negative pada
uji glikosuria (enzymedip test) dan uji adanya darah pada feses pasien karsinoma kolon. Hasil
false positive dapat terjadi pada clinitest dan tes glikosuria dengan larutan Benedict.