Anda di halaman 1dari 9

Tips Kerja Cepat (& Tepat) SAP2000 (Part 2

Pendahuluan)
Posted by Purbo on 23 March 2010

Oke, setelah pada sekuel pertama sudah penulis bahas tentang tips kerja cepat, di bagian kedua
ini tiba saatnya ulasan masalah yang tidak kalah pentingnya, yaitu Tips Kerja Tepat. Kenapa
sih harus tepat juga, apa bisa tidak tepat alias salah? Daripada penulis langsung beri jawaban
Yes/No, mendingan kita bandingkan saja dengan program lain di bagian pendahuluan ini, biar
lebih joss
Ambil contoh program AutoCAD, misal untuk menggambar obyek sebuah kotak / bujur sangkar,
bisa bermacam-macam caranya. Pakai perintah rectangle, lewat polygon, atau mau manual
digambar satu-satu pake line juga boleh. Hasilnya semua sama: obyek berbentuk segi empat
sama sisi. Masalah mungkin timbul hanya terkait pengerjaan, mana yang lebih cepat, atau
masalah seleksi (obyek dengan rectangle atau polygon langsung terpilih semua saat klik satu
sisi, sedangkan dengan line harus dipilih satu per satu). Kita lihat lagi contoh lain, misal MS
Word, ketika membuat nomor halaman (page number). Tentu tersedia fasilitas otomatisnya,
namun mau dibuat manual satu per satu tiap halaman pun bisa juga (coba halamannya ratusan ya
hehehe). Hasilnya jika di-print juga akan sama, nomor halaman berurutan.
Nah, sekarang kembali ke SAP2000. Harap diperhatikan, SAP2000 termasuk program untuk
hitungan, sehingga otomatis jika hitungannya tidak tepat, ya bubar jalan lah semuanya
Contohnya? Kita ambil kasus yang gampang saja deh biar mudah: simple beam sendi-rol. Wah,
kok sederhana banget sih Eh, biar sederhana begini tapi kalau tidak paham bisa salah lho Ini
kasus simple beam balok beton dengan beban terpusat, ceritanya ingin mencari besar reaksi
tumpuan.

Ah, gampang itu Langsung buka SAP2000 dan (saking sudah jagonya) hanya dalam hitungan
menit sudah keluar outputnya. Mana? Ini dia :

Lapor! Reaksi tumpuan terdeteksi sebesar 5,20 kN! Laporan selesai! Wuih mantapnya
Yakin ? Kita coba cek dengan cara jadul alias manual ya
R = 1/2 . ( P + BJ.b.h.L )
R = reaksi, P = beban terpusat, BJ = berat jenis beton, b = lebar balok, h = tinggi balok, L =
panjang bentang.
R = 1/2 . ( 5 + 24.0,15.0,25.3 ) = 3,85 kN
Lho? Kok beda? Ah, pasti salah hitung manual tuh! Oke, kita cek lagi dengan prinsip
keseimbangan gaya luar dan reaksi tumpuan. Gaya luar / beban (F) adalah sebesar ( P +
BJ.b.h.L ) = ( 5 + 24.0,15.0,25.3 ) = 7,7 kN.
Dari cara hitung manual :
2 . R = 2.3,85 = 7,7 kN = F OK!
Dari cara canggih SAP2000 :
2 . R = 2.5,20 = 10,40 kN > F ???
Wah, kok ada selisih dengan gaya luar alias beban ya? Ada yang korupsi nih Apa mesti lapor
ke KPK? Hehehe tidak perlu jauh-jauh sampai ke sana kok. Usut punya usut, ternyata di sini
letak kesalahannya :

Faktor pengali berat sendiri penampang masuk dua kali dalam analisis, dalam beban berat sendiri
(BS) dan beban terpusat (P), sehingga menjadi :
R = 1/2 . ( 5 + 24.0,15.0,25.3 + 24.0,15.0,25.3 ) = 5,20 kN
Seharusnya, self weight multiplier hanya masuk sekali saja (jika berat sendiri akan dihitung
otomatis oleh program), yaitu hanya pada load case BS saja :

Hahaha cuma itu to, kalau begitu saja sih masih gampang Oh ya? Pingin contoh lagi yang
lebih keren? Ini dia :

Kalau yang ini ceritanya gedung 5 lantai dengan denah tidak simetris, dari beton bertulang, akan
dicari momen maksimum balok. Untuk data geometri, penampang dan bahan asumsikan yang
standar saja ya, daripada dicantumkan di sini nanti kepanjangan Selain itu, akan dibandingkan
juga pengaruh gaya gempa pada gedung, dengan acuan rekaman gempa dari Elcentro di Amerika
sono. Ah, gampang itu, berarti kita pakai Time History Function kan, yang seperti ini lho :

Ok, benar, itu yang dimaksud. Lapor, komandan! Analisis sudah rampung! Wah, cepat amat, jago
benar ini orang ya oke, kita lihat bareng-bareng hasilnya :

COMB1 (kiri) = kombinasi beban mati+hidup, COMB2 (kanan) = beban mati+hidup+gempa.


Lapor (lagi)! Pengaruh gempa ternyata tidak signifikan! Laporan selesai! Huss ngawur, gempa
kok tidak pengaruh apa-apa ke gedung Lho, itu tadi buktinya, lagipula rekaman gempa kan
juga sudah jelas masuk ke SAP2000. Jadi, apa salahnya? Jangan-jangan programnya yang error
ya Wah kalau ini yang error jelas orangnya donk, ini dia yang kurang :

Walaupun rekaman gempa sudah dimasukkan lewat Function, namun belum otomatis
dibebankan pada struktur, sehingga masih harus ditambahkan dalam Analysis Case. Karena tadi

belum ada, ya hasilnya juga nol donk alias tidak berpengaruh. Akan lebih nyata jika kita lihat
hasilnya (yang sudah benar) berikut ini :

Bandingkan selisihnya, 23 kNm dengan 105 kNm Wow


Selain itu, faktor pengali juga harus disesuaikan karena input rekaman gempa Elcentro adalah
dalam satuan gravitasi bumi (g). Jadi nilai Scale Factor 9,81 adalah konstanta gravitasi bumi
dalam m/detik2 (perhatikan pula saat input angka, satuan panjang harus sesuai, dalam m!).
Bayangkan, jika Scale Factor hanya diisi dengan nilai 1 (karena dikira sudah bawaan dari
programnya), momen maksimum yang seharusnya sebesar 105 kNm menjadi hanya 28 kNm
Misal dengan balok dimensi 25/35, yang seharusnya perlu tulangan 5 D 22 hasilnya cuma 2 D
22. Untung sudah sempat membaca blog ini ya hehehe Tentu yang diuraikan di sini belumlah
menjangkau semuanya, masih ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait dengan kasus
yang dihadapi masing-masing.
Wuih, kok jadi ngeri begini ya, jadi takut pakai SAP2000 Hehehe lantas maunya
bagaimana? Menghitung gedung apartemen 30 lantai dengan kalkulator? Asal mengerti dan
paham tentang program, dijamin struktur yang paling kompleks sekalipun model dan analisisnya
bisa tokcer kok. Sebaliknya kalau nggak ngerti, analisis balok sederhana saja sampai salah
. Kalau meminjam kalimat empunya SAP2000 (Prof. Wilson) di manual SAP90 :

No computer program can replace the engineering judgment of an experienced engineer. It is


well said that an incapable engineer cannot do with a ton of computer output what a good
engineer can do on the back of an envelope
Perhatikan kalimat yang dicetak tebal, kira-kira terjemahan bebasnya : walau memakai program
canggih tapi asal-asalan, masih kalah dengan insinyur jagoan yang cuma pakai coret-coretan di
atas kertas. Tentu saja yang dimaksud kalah di sini adalah kalah akurat, alias bisa salah, ya

seperti dua contoh tadi. Istilah keren engineering judgment di kalimat sebelumnyalah yang
harus ikut berperan dalam menggunakan suatu program semacam SAP2000. Logika atau nalar
juga harus bermain, tidak cukup sekadar bisa klik mouse dan keyboard. Ketika terdapat output
yang tampaknya kurang wajar, harus segera diperiksa model yang kita buat, sebelum melangkah
lebih jauh.
Waduh, kok jadi panjang begini ya pembukaannya Maaf, tapi memang inilah yang sebenarnya
menjadi point penting dalam penggunaan program hitungan semacam SAP2000 ini. Penulis
harap para pembaca juga sudah paham perbedaannya dengan program komersial umum seperti
yang diulas di awal tulisan ini. Kalau urusan penggunaan program, penulis kira sudah cukup
banyak resource yang tersedia, sedangkan masalah engineering judgment kadang jarang
dikupas secara mendalam. Untuk referensi literatur yang bagus, penulis sarankan membaca
bukunya Pak Wiryanto, terutama pada bab yang membahas masalah tersebut (bukan promosi
lho tapi karena memang oke pembahasannya). Kalau referensi dari penulis sendiri? Hehehe
masih dalam proses, rencana dalam waktu dekat mudah-mudahan bisa segera terbit, doakan
saja Ada juga kok, info lengkapnya bisa klik di sini
. Oke, setelah puas jauh

melanglangbuana sudah saatnya kembali ke topik posting ini, yang akan penulis sambung
di: Part 2 Kerja Tepat.