Anda di halaman 1dari 16

Bab II

Teori Dasar
Pemanfaatan energi matahari dapat dibagi menjadi dua yaitu: sistem aktif dan
sistem pasif. Perbedaan antara kedua sistem ini adalah ada atau tidaknya
pengumpul surya (kolektor) pada sistem tersebut. Kolektor adalah kunci dari
sistem aktif, sedangkan sistem pasif hanya mengandalkan sinar matahari yang
datang secara alami tanpa menggunakan kolektor.
Pengumpul surya (solar collector) adalah suatu alat yang memanfaatkan
energi termal dari radiasi matahari yang kemudian diteruskan kepada fluida
kerjanya. Menurut cara pengumpulan energi surya, pengumpul surya dibagi
menjadi pengumpul terkosentrasi (concentrating solar collector) dan pengumpul
tidak-terkonsentrasi (non-concentrating solar collector). Pengumpul surya
terkonsentrasi umumnya memiliki reflektor yang mengkonsentrasikan radiasi
surya ke arah bagian pelat penyerap. Pengumpul surya tidak-terkonsentrasi,
langsung memanfaatkan terpaan radiasi surya untuk memanaskan pelat penyerap
melalui efek rumah kaca. Sistem pemanas air surya untuk perumahan pada
umumnya menggunakan kolektor tidak-terkonsentasi, yaitu kolektor pelat datar.

Gambar 2.1 Pemanas air surya pelat datar

2.1 Pemanas Air Surya Pelat Datar


Terdiri dari dua bagian utama yaitu kolektor dan tangki penyimpan air
(gambar 2.1). Pada bagian kolektor terdapat sistem aliran fluida yang berupa pipapipa dan penyerap panas radiasi matahari. Permukaan kolektor tersebut diberi
warna hitam untuk meningkatkan arbsorpsivitasnya.

Ketika energi panas matahari mengenai permukaan kolektor, permukaan


tersebut akan menjadi panas dan akan memanaskan air yang berada dalam pipa.
Ketika temperatur air meningkat, berat jenisnya akan turun sehingga air yang
panas akan bergerak naik ke bagian atas kolektor menuju bagian atas tangki
penyimpan air. Sedangkan air dingin yang masih berada di bagian bawah tangki
akan bergerak turun ke bagian bawah kolektor karena berat jenis air dingin lebih
tinggi daripada air panas. Sirkulasi air ini terjadi terus-menerus ketika kolektor
tersebut terkena panas matahari. Namun ketika radiasi matahari berkurang, air
didalam kolektor mendingin dan apabila temperaturnya lebih rendah daripada
temperatur air dalam tangki, maka sirkulasi akan berhenti. Prinsip kerja ini
disebut thermosyphon (gambar 2.2).

Gambar 2.2 Sirkulasi alami pemanas air surya

2.1.1 Kolektor Pelat Datar


Kolektor pelat datar datpat dibedakan lagi berdasarkan jenis fluida kerjanya,
yaitu kolektor pelat datar untuk air dan kolektor pelat datar untuk udara. Dibawah
ini akan dijelaskan kolektor pelat datar yang digunakan pada sistem pemanas air
surya.
Kolektor pelat datar terdiri dari empat elemen dasar:
1. Absorber. Berfungsi untuk menyerap radiasi matahari yang datang dan
memindahkan energi panas ini ke fluida. Terdiri dari pelat absorber (sirip),
pipa pengumpul dan pipa induk. Pelat absorber (sirip) berfungsi untuk
memperluas permukaan penyerap panas. Panas ini kemudian diserap oleh air
dalam pipa-pipa pengumpul yang dihubungkan dengan pipa induk.

2. Penutup transparan. Berfungsi untuk mengurangi kehilangan panas radiasi dan


perpindahan panas konveksi dari kolektor kesekeliling.
3. Isolasi. Berfungsi untuk mengurangi kehilangan panas dari bagian-bagian
absorber yang tidak terkena matahari.
4. Rangka dan rumah (casing) kolektor. Tempat untuk meletakkan seluruh
komponen pada posisinya dan menyangga berat kolektor.

Gambar 2.3 Kolektor pelat datar untuk air

Energi panas dipindahkan dari absorber ke fluida baik itu fluida cair maupun
gas yang kemudian digunakan langsung atau disimpan. Biasanya lebih dari
setengah panas yang diserap hilang dari permukaan absorber, disebabkan oleh
reradiasi dan konveksi ke lingkungan. Kehilangan panas ini dapat dikurangi
dengan menggunakan pelat penutup transparan dari jenis kaca karena:
a. Kaca dapat meneruskan gelombang radiasi matahari tetapi tidak dapat
meneruskan gelombang radiasi matahari.
b. Ruang udara antara absorber dengan kaca memangkas besar hambatan
thermal antara absorber dengan udara lingkungan.
Bagian bawah absorber harus diisolasi untuk mencegah kerugian secara
konduksi dari sisi bagian bawah dan samping. Sebagai contoh, rangka bagian luar
dan penyangga pelat penutup harus juga diisolasi dari pelat absorber dan juga dari
ruang udara, yang memiliki temperatur diatas temperatur sekeliling.

2.1.2 Tangki penyimpan air


Digunakan untuk menyimpan air panas yang sudah dipanaskan dikolektor
untuk digunakan sesuai keperluan. Tangki dibuat bebrbentuk silinder horizontal
dan dilengkapi dengan 4 buah pipa dengan fungsi masing-masing, seperti
ditunjukkan pada gambar 2.4.
1. Saluran air panas dari kolektor
Terletak pada bagian atas sebelah kiri dari tangki untuk saluran air yang telah
dipanaskan di kolektor.
2. Saluran air dingin
Terletak di bagian paling bawah sebelah kanan tangki. Pipa ini berfungsi
sebagai saluran air dingin ke kolektor dan sebagai saluran masuk untuk air
dingin pengganti (make-up water).
3. Saluran pengambilan air panas / pemakaian
Terletak pada bagian atas sebelah kanan dari tangki. Berfungsi untuk
mengalirkan air panas yang akan digunakan. Saluran ini ditempatkan diatas
saluran air masuk dari kolektor, untuk menjamin permukaan air didalam
tangki selalu berada diatas saluran air dari kolektor sehingga sirkulasi
thermosyphon dari kolektor ke tangki akan selalu berjalan.
4. Saluran pengeluaran udara
Terletak diantara saluran masuk air dingin dan saluran pengambilan air panas.
Saluran ini berguna untuk mengeluarkan udara yang terjebak didalam tangki.
Bila didalam tangki terdapat udara, maka udara ini akan

menghalangi

masuknya air kedalam tangki. Sirkulasi air akan terganggu dan tekanan
didalam sistem akan naik akibat pemuaian udara.

Gambar 2.4 Tipikal tangki penyimpan air panas

2.1.3 Pelat Penutup


Radiasi matahari yang diterima oleh suatu benda, dapat ditransmisikan ( ),
direfleksikan ( ), dan atau di absorpsi ( )

+ + =1
Persamaan tersebut berlaku untuk cahaya dengan berbagai panjang gelombang,
juga untuk memperhitungkan radiasi matahari dan untuk radiasi gelombang
panjang dari pelat absorber kolektor matahari. Material penutup kolektor harus
mempunyai nilai transmisivitas yang tinggi, sedangkan absorpsivitas dan
refleksivitas yang seminimal mungkin. Hal ini disebabkan karena radiasi matahari
yang diterima oleh pelat penutup harus dapat diteruskan secara maksimal ke pelat
absorber agar energi radiasi tersebut sebanyak-banyaknya dipindahkan ke fluida
kerja [Lunde, 1980].
Ada banyak material yang dapat meneruskan radiasi matahari dengan baik,
tetapi menyerap sedikit energi dari sinar yang datang. Kaca, udara, air dan bahan
plastik yang transparan termasuk diantara material tersebut. Secara umum, kaca
menyerap 5-10% dari sinar yang datang. Yang mempengaruhi absorpsivitas dan
warna dari kaca adalah kandungan oksida besi. Untuk kaca dengan kadar besi
yang rendah, yaitu 0,05% oksida besi, akan kehilangan hanya sekitar 2,5% dari
cahaya yang diteruskan untuk diserapkan oleh kaca dengan ketebalan pada
umumnya. Untuk kaca water white dengan kadar besi yang sangat rendah yaitu

0,01% oksida besi, dapat meneruskan sekitar 91,4% dari radiasi matahari.

Sifat-Sifat

Jenis kaca:
Ordinary Float

Iron-oxide content, percent


0,12
Refractive Index
1,52
Light transmittance (normal, percent)
79-84
Glass thickness, inches
0,25-0,125
Reflectance loss, percent
8,2-8,0
Absorpstion loss, percent
8,0-13,0
Tabel 2.1 Sifat-sifat kaca [2]

Tabel diatas penting untuk mengetahui rugi-rugi panas di pelat penutup. Sehingga
dapat diketahui besar intensitas radiasi matahari yang diterima dan dimanfaatkan
kolektor.

2.1.4 Permukaan Pelat Absorber

Karakteristik optik dari pelat absorber sangat berpengaruh terhadap efisiensi


dimana radiasi matahari yang datang diubah menjadi energi berguna. Sifat
permukaan yang melakukan reradiasi panjang gelombang termal menentukan
banyaknya losses radiasi secara langsung. Rugi-rugi ini tetap ada pada kolektor
meskipun terdapat pelat penutup karena luas pemukaan kolektor cukup besar.
Besar pemantulan cahaya tampak dan infra merah sangat menentukan seberapa
besar energi panas yang diserap karena pelat absorber yang opaque tidak
meneruskan cahaya.

+ =1
Selain itu juga terdapat istilah emissivitas (), yaitu sifat optik permukaan
yang sama dengan absorptivitas, tetapi pada temperatur sehingga permukaan lebih
banyak memancarkan (emit) daripada menyerap radiasi.
Pelat absorber yang ideal memiliki permukaan dengan absorptivitas yang
tinggi untuk menyerap sebanyak mungkin radiasi matahari, akan tetapi memiliki
emissivitas yang rendah untuk meminimalkan losses secara reradiasi. Permukaan
dengan sifat-sifat diatas disebut dengan permukaan selektif.

2.2 Teori Kolektor Pelat Datar

Sub-bab ini akan membahas tentang kolektor pelat datar secara teoritik dengan
cukup mendetail. Hal ini dilakukan dengan tujuan mengembangkan pengertian
cara kerja dari kolektor pelat datar. Sedangkan pada perhitungan performasi
kolektor pada bab 4, dilakukan penyederhanaan dari berbagai prosedur teoritik
yang dijelaskan pada sub-bab ini.

2.2.1 Persamaan Kesetimbangan Energi pada Kolektor Pelat Datar

Langkah awal untuk melakukan analisis kolektor pelat datar adalah


kesetimbangan energi. Kesetimbangan energi ini menunjukkan adanya energi
matahari yang diterima menjadi energi yang berguna, rugi-rugi termal dan rugirugi optik. Dengan mengasumsikan kolektor beroperasi dalam keadaan tunak,
energi panas yang dikumpulkan ( Qu ) sama dengan energi yang diserap ( Qa )
dikurangi dengan rugi-rugi ke sekeliling ( Qloss ):

Qu = Qa Qloss

(2.1)

Energi panas yang diserap sebanding dengan perkalian radiasi matahari yang
diserap kolektor, S dengan luas kolektor, Ac
Qa = S Ac

(2.2)

Radiasi matahari yang diserap oleh kolektor sebanding dengan perkalian


antara nilai transmisi-absorpsi rata-rata, ( )ave dengan radiasi matahari yang
datang, I t .
S = ( )ave I t

(2.3)

Energi thermal yang hilang dari kolektor ke sekeliling dengan konduksi,


konveksi, dan radiasi infra merah dapat diwakili dengan koefisien kehilangan
panas, U L , perbedaan antara temperatur rata-rata pelat absorber, Tp,m dan
temperatur lingkungan Ta . Persamaan rugi-rugi termal didefinisikan sebagai
berikut:
Qloss = U L Ac (Tp ,m Ta )

(2.4)

Maka besarnya energi yang berguna:


Qu = Ac S U L (Tp ,m Ta )

(2.5)

Permasalahan pada persamaan ini adalah temperatur rata-rata pelat absorber


sulit untuk dihitung atau diukur karena merupakan fungsi rancangan kolektor,
radiasi matahari yang datang dan kondisi fluida yang masuk.
Ukuran kinerja kolektor adalah efisiensi kolektor, yang didefinisikan sebagai
perbandingan dari energi yang berguna sepanjang periode waktu tertentu terhadap
energi matahari yang datang dalam periode waktu yang sama.

Qu
Ac I t

(2.6)

Nilai dari efisiensi kolektor biasanya berkisar antara nol dan satu. Tetapi bernilai
negatif ketika radiasi yang datang tidak dapat mengimbangi rugi-rugi yang terjadi.

10

2.2.2 Koefisien Kehilangan Panas Kolektor Keseluruhan

Mengembangkan

konsep

dari

koefisien

kehilangan

panas

kolektor

keseluruhan berguna untuk menyederhanakan persamaan matematika. Rangkaian


thermal untuk sistem dengan satu pelat penutup ditunjukkan oleh gambar 2.5.
Pada beberapa lokasi tertentu pada pelat kolektor dimana temperaturnya adalah
Tp, sejumlah energi matahari S diserap oleh pelat; S sebanding dengan radiasi
matahari yang datang dikurangi rugi-rugi optik, sesuai dengan persamaan (2.3).
Energi yang diserap ini akan didistribusikan menjadi losses melalui bagian atas
dan bawah kolektor, dan juga menjadi energi berguna. Tujuan dari sub-bab ini
adalah merubah rangkaian thermal gambar 2.5 menjadi rangkaian thermal pada
gambar 2.6.

Gambar 2.5 Rangkaian thermal kolektor dengan satu pelat penutup

R1 = Penjumlahan tahanan termal konveksi akibat sekeliling dan tahanan


termal radiasi.

R2 = Penjumlahan tahanan termal konveksi dalam ruang antara kaca dengan


pelat absorber dan tahanan termal radiasi.

R3 = Tahanan termal konduksi isolasi

R4 = Penjumlahan tahanan termal konveksi akibat sekeliling dan tahanan


termal radiasi.

Ta = Temperatur sekeliling.

Tc1 = Temperatur kaca.

Tp = Temperatur pelat absorber.

Tb = Temperatur isolasi bagian bawah.

11

Gambar 2.6 Rangkaian thermal ekivalen kolektor pelat datar

Rugi-rugi energi yang melewati bagian atas kolektor disebabkan oleh


konveksi dan radiasi diantara pelat sejajar. Perpindahan energi antara pelat
kolektor yang bertemperatur Tp dan pelat penutup yang bertemperatur Tc adalah
sama dengan rugi-rugi energi ke sekeliling dari pelat penutup atas. Rugi-rugi yang
melewati bagian atas kolektor tiap satu satuan luas adalah sama dengan
perpindahan energi panas dari pelat absorber ke pelat penutup:
qloss ,top = h p c (T p Tc ) +

T p 4 Tc 4
1

(2.7)

h p c = koefisien perpindahan panas antara pelat kolektor dan pelat penutup.


Dengan melinearkan perpindahan panas secara radiasi, maka:

qloss ,top = (h p c + hr , p c )(T p Tc )

dimana:

hr , p c =

(T

+ Tc ) T p + Tc
1
1
+ 1

(2.8)

Tahanan, R2 , dinyatakan sebagai:


R2 =

h p c

1
+ hr , p c

(2.9)

Persamaan untuk tahanan dari pelat penutup atas ke sekeliling, R1 sama dengan
persamaan (2.9) tetapi koefisien perpindahan panas konveksi-nya adalah untuk
angin yang bertiup di sekitar kolektor.
Tahanan radiasi dari bagian atas pelat penutup memperhitungkan perubahan
radiasi dengan langit pada Ts . Diambil referensi untuk tahanan ini dengan

12

temperatur lingkungan Ta . Maka koefisien perpindahan panas secara radiasi dapat


ditulis sebagai berikut:

hr ,c a = c

(Tc + Ts ) Tc 2 + Ts 2 (Tc Ts )
Tc Ta

(2.10)

tahanan ke sekeliling ditulis sebagai:


R1 =

hwind

1
+ hr , c a

(2.11)

untuk sistem satu pelat penutup, koefisien rugi-rugi untuk bagian atas pelat
kolektor ke sekeliling adalah:

Ut =

1
R1 + R2

(2.12)

Dalam menyelesaikan persamaan koefisien rugi-rugi tersebut diperlukan


proses iterasi. Pertama, dengan menebak temperatur pelat penutup yang tidak
diketahui, dimana koefisien perpindahan panas untuk konveksi dan radiasi
diantara pelat sejajar sudah diperhitungkan. Dengan dugaan ini, persamaan (2.12)
dapat diselesaikan. Rugi-rugi panas bagian atas pelat kolektor adalah koefisien
rugi-rugi bagian atas pelat kolektor dikalikan dengan perbedaan temperatur
keseluruhan. Untuk menghitung nilai temperatur pelat, perubahan energi diantara
pelat harus sama dengan rugi-rugi panas keseluruhan. Diawali pada pelat
absorber, nilai temperatur baru dihitung untuk pelat penutup pertama. Temperatur
pelat penutup pertama yang baru digunakan untuk mencari temperatur pelat
penutup kedua, dan selanjutnya. Untuk dua pelat yang berdekatan, temperatur
baru dari pelat (j) dapat dinyatakan dalam kondisi temperatur (i) sebagai:
T j = Ti

U t (T p Ta )
hi j + hr ,i j

(2.13)

Proses ini diulangi hingga temperatur pelat penutup tidak lagi berubah banyak
diantara iterasi.
Proses perhitungan koefisien kehilangan panas cukup panjang, apalagi bila
ingin diketahui UL setiap 2 menit. Untuk mempermudah telah disajikan grafik UL
terhadap temperatur pelat rata-rata [Duffie, 1980]. Tersedia grafik untuk satu, dua
dan tiga pelat penutup; temperatur ambien 40, 10 dan -20 C; untuk koefisien

13

perpindahan panas angin 5, 10 dan 20 W/m2C; dan untuk emisi pelat 0,95 dan
0,10.
Rugi-rugi energi yang melalui bagian bawah kolektor ditunjukkan dengan
gambar dua rangkaian tahanan, R3 dan R4, pada gambar 2.3. R3 manggambarkan
tahanan aliran energi panas melalui isolasi dan R4 menggambarkan tahanan
konveksi dan radiasi ke sekeliling. R4 memungkinkan untuk diasumsikan benilai 0
dan seluruh tahanan untuk aliran energi panas disebabkan oleh isolasi. Maka
koefisien rugi-rugi untuk bagian bawah kolektor, Ub, dapat dinyatakan sebagai
berikut:
Ub =

k
1
=
R3 L

(2.14)

dengan k = konduktivitas thermal isolasi dan L = ketebalan isolasi.


Untuk kebanyakan kolektor, perhitungan rugi-rugi untuk bagian tepi sangat
rumit. Akan tetapi sistem yang dirancang dengan baik, rugi-rugi bagian tepi
seharusnya kecil sehingga tidak diperlukan perhitungan dengan ketelitian yang
tinggi. Rugi-rugi bagian tepi diperkirakan dengan menganggap aliran energi panas
ke arah samping adalah satu dimensi sekeliling sistem kolektor. Rugi-rugi yang
melalui bagian tepi harus direkomendasikan terhadap luas kolektor. Jika perkalian
koefisien rugi-rugi bagian tepi dengan luas adalah (UA)edge , maka koefisien rugirugi bagian tepi berdasarkan luas kolektor, Ac adalah:
Ue =

(UA)edge
Ac

kisolasi

+ h p tbox

Ue =
Ac

(2.15)

(2.16)

dimana:
kisolasi = konduktivitas thermal isolasi
L

= tebal isolasi

= koefisien konveksi sekeliling

= keliling

tbox = tinggi kotak kolektor

14

Pada rugi-rugi bagian tepi untuk susunan kolektor dengan konstruksi yang
cukup besar biasanya diabaikan, tetapi untuk kolektor yang kecil rugi-rugi bagian
tepi cukup berpengaruh.
Koefisien rugi-rugi kolektor keseluruhan, UL, adalah penjumlahan dari
koefisien rugi-rugi untuk bagian atas, bawah dan tepi
U L = Ut + Ub + Ue

(2.17)

2.2.3 Faktor Efisiensi Kolektor

Dengan menganggap konfigurasi pipa dan pelat seperti pada gambar 2.5 dapat
diperoleh faktor efisiensi sirip dan faktor efisiensi kolektor.
W/2
Tb

bond

Tf
(W-D)/2
D
x

Gambar 2.7 Konfigurasi pipa dan absorber

Permukaan yang diperluas selalu digunakan untuk membantu perpindahan


enrgi panas dari permukaan absorber ke fluida kerja. Dalam kolektor dengan
fluida cair,permukaan absorber bertindak sebagai sirip pada pipa dimana fluida
bersirkulasi

sehingga

dapat

digunakan

pipa

yang

berdimensi

kecil,

mempertahankan biaya yang rendah, menyederhanakan permasalahan distribusi


dan meyakinkan koefisien perpindahan panas yang tinggi pada bagian sisi fluida
cair (gambar 2.7)
Radiasi matahari secara seragam menimpa sirip (atau pelat absorber) dan
dikonduksikan ke pipa yang terdekat. Sejumlah panas yang mengalir pada
sepanjang sirip dengan jarak tertentu ke pipa akan semakin rendah. Untuk
mengkonduksikan panas sepanjang sirip, temperatur harus meningkat seperti
peningkatan yang terjadi dari ujung sirip, dengan temperatur tertinggi pada titik
tengah antara pipa. Dengan temperatur yang tinggi ini berarti rugi-rugi ke
lingkungan melalui pelat penutup juga tinggi.
Persamaan efisiensi sirip adalah sebagai berikut:

15

tanh m (W D ) 2
F=
m (W D ) 2

(2.18)

Dimana m didefinisikan dengan:

m 2 = U L k
Nilai k merupakan perkalian antara konduktivitas thermal pelat dan ketebalan
pelat.
Fungsi F diatas merupakan persamaan standar efisiensi sirip untuk sirip lurus
dengan profil persegi panjang yang digambarkan pada gambar 2.6.

Gambar 2.8 Efisiensi sirip untuk pipa dan absorber kolektor matahari [1]

Persamaan faktor efisiensi kolektor, F, adalah:

F'=

1
UL

1
1
1
+
+
W

U L D + (W D ) F CB Di h f ,i

(2.19)

CB pada persamaan diatas merupakan konduktivitas dari pengikat, yang dihitung


dengan persamaan berikut:

CB =

kb b

(2.20)

Kb : konduktivitas thermal pengikat, : tebal rata-rata pengikat dan b : lebar


pengikat.
Persamaan konduktivitas pengikat dapat menjadi parameter sangat penting
dalam menggambarkan kinerja kolektor secara akurat. Persamaan F diatas
menggambarkan perbandingan penerimaan energi berguna aktual terhadap

16

penerimaan energi berguna jika permukaan kolektor yang menyerap energi berada
pada temperatur fluida lokal.
Faktor efisiensi kolektor pada dasarnya konstan untuk setiap rancangan
kolektor dan laju aliran fluida. Untuk kebanyakan rancangan kolektor, parameter

F merupakan variabel yang sangat penting dalam menentukan F, tetapi bukan


merupakan fungsi temperatur.
Faktor efisiensi kolektor menurun dengan meningkatnya jarak antara sumbu
pipa yang bersebelahan dan meningkat dengan meningkatnya ketebalan kedua
material dan konduktivitas thermal. Dengan meningkatnya koefisien rugi-rugi
keseluruhan akan menurunkan F, tetapi dengan meningkatkan koefisien
perpindahan energi panas pipa akan meningkatkan F.

2.2.4 Heat Removal Factor


Merupakan

hal

yang

tepat

untuk

mendefinisikan

besaran

yang

menghubungkan penerimaan energi berguna aktual dari kolektor dengan


penerimaan energi berguna jika seluruh permukaan kolektor berada pada
temperatur fluida masuk. Besaran ini dinamakan dengan faktor pelepasan panas
kolektor, FR, secara matematis ditulis dengan:

FR =

m C p ( T f , o T f ,i )

Ac S U L (T f ,i Ta )

U L Ac F '/ mc p
m Cp

1 e

FR =
AcU L

(2.21)

Besaran FR ekivalen dengan conventional heat exchanger efectiveness, yang


didefinisikan sebagai perbandingan antara energi panas aktual terhadap
perpindahan energi panas maksimum yang mungkin. Penerimaan energi berguna
maksimum yang mungkin dalam solar collector terjadi ketika seluruh kolektor
berada pada temperatur fluida masuk; rugi-rugi panas ke sekeliling menjadi
minimum. Faktor pelepasan energi panas kolektor dikalikan dengan penerimaan
energi berguna maksimum yang mungkin, sama dengan penerimaan energi aktual,

Qu:

Qu = Ac FR S U L (Ti Ta )

(2.22)

17

Persamaan diatas berguna dan berlaku untuk kebanyakan kolektor pelat datar.
Dengan persamaan ini, penerimaan energi berguna diperhitungkan sebagai fungsi
dari temperatur fluida masuk, dan merupakan gambaran yang tepat ketika
menganalisis sistem energi matahari, dengan syarat temperatur masuk fuida
diketahui. Akan tetapi, rugi-rugi berdasarkan temperatur fluida masuk sangat kecil
ketika rugi-rugi terjadi di sepanjang pelat kolektor dan pelat mengalami
peningkatan temperatur dalam arah aliran. Ketika laju aliran massa yang melalui
kolektor

meningkat,

temperatur

sepanjang

kolektor

menurun.

Hal

ini

menyebabkan rugi-rugi yang kecil ketika temperatur rata-rata kolektor rendah dan
pada saat bersamaan penerimaan energi berguna meningkat. Peningkatan ini
digambarkan dengan peningkatan faktor pelepasan panas kolektor FR sebagai
peningkatan laju aliran massa. Perlu diketahui bahwa faktor pelepasan panas
kolektor FR tidak akan melebihi faktor efisiensi kolektor F. Ketika laju aliran
semakin membesar, perubahan temperatur fluida dari masuk sampai keluar akan
menurun mendekati nol, akan tetapi temperatur permukaan absorber akan tetap
lebih tinggi dari temperatur fluida. Perbedaan temperatur ini diperhitungkan untuk
faktor efisiensi kolektor, F.

2.2.5 Performansi Kolektor


Performansi kolektor secara instan ditunjukkan pada gambar 2.9 untuk empat
rancangan kolektor pemanas cairan: satu dan dua pelat penutup, pelat absorber
yang selektif dan non-selektif. Kofisien kehilangan panas bagian atas, UL telah
dihitung dengan menyelesikan sistem dari persamaan-persamaan algebra seperti
dijelaskan sub-bab 2.2.2. Losses bagian bawah dan tepi diasumsikan sebesar 1,0
W/m2C. Untuk kolektor dengan satu pelat penutup, nilai produk transmisiabsorpsi efektif, ()e diasumsikan 0,86 dan 0,81 untuk kolektor selektif dan nonselektif. Untuk kolektor dengan dua pelat penutup, ()e diasumsikan sebesar 0,81
dan 0,77. Pada setiap rancangan, nilai faktor pelepasan panas kolektor, FR konstan
sebesar 0,95.
Apabila dipakai nilai UL yang konstan, maka semua kurva akan menjadi garis
lurus. Sebuah garis lurus yang sesuai dapat dipakai untuk menggantikan setiap
kurva dengan kesalahan 5%. Kurva-kurva ini dikembangkan dengan radiasi

18

datang pada kolektor sebesar 1000 W/m2, ini merupakan radiasi level tinggi; jika
digunakan radiasi dengan level lebih rendah, kurva akan lebih linear.

Gambar 2.9 Efisiensi kolektor sebagai fungsi dari temperatur fluida masuk [1]

Observasi penting lainnya dapat diambil dari gambar ini. Seleksi dari kolektor
terbaik bergantung pada aplikasinya. Jika input kolektor adalah air temperatur
rendah, maka kolektor yang paling murah, satu pelat penutup, non-selektif akan
mempunyai efisiensi tertinggi. Dengan kenaikan temperatur air suplai,
performansi kolektor dengan 1 penutup, dan non-selektif akan jatuh lebih cepat
dari yang lain. Ketika temperatur inlet melebihi 100C, kolektor paling mahal, dua
pelat penutup, dan permukaan selektif akan memiliki performansi tertinggi.
Sebuah implikasi dari paragraf sebelumnya adalah temperatur fluida diketahui
untuk aplikasi tertentu. Ini jarang menjadi masalah. Kebanyakan sistem surya
bekrja dengan temperatur inlet yang bervariasi sehingga seleksi kolektor terbaik
dari sudut pandang performansi thermal tidak selalu mungkin. Walaupun jika
performansi thermal dari satu kolektor melebihi yang lainnya untuk temperatur
dengan range yang lebar, harga dari dua sistem tersebut harus dipertimbangkan
sebelum keputusan rasional diambil.

19