Anda di halaman 1dari 3

Manajemen Glukosa (tabel 1)

Goal dari manejemen dlukosa pada GDM adalah untuk mempertahankan nilai
glukosa sedekat mungkin batas normal.
FIWC menyarankan konsentrasi glukosa kapiler darah adalah dibawah 96 mg/dL
(<5,3mmol/L) sebelum makan dan atau dibawah 140 mg/dL (<7,8 mmol/L) I jam
setelah atau di bawah 120 mg/dL (<6,7 mmol/L) 2 jam setelahnya. Nilai glukosa
darah normal yang disarankan oleh ADA adalah dibawah 105 mg/dL (5,8 mmol/L)
sebelum makan dan atau di bawah 155 mg/dL (8,6mmol/L_ 1 jam setelah, atau
dibawah 130 mg/dL (7,2 mmol/L) 2 jam setelah makan.
Perlu ditekankan lagi, bagaimanapun juga, bahwa rekomendasi ini tidak
mempertimbangkan nilai-nilai glikemik lebih tinggi daripada biasanya dicatat dalam
kehamilan, yang mereka sebut glikemik yang berhubungan dengan hasil kehamilan.
Hal ini terutama dikarenakan oleh masih jarangnya studi mengenai glkemia pada
perempuan hamil normal, sehubungan dengan sedikitnya permpuan hamil yang
dirawat dan karena kadar glukosa hanya diukjur 1 x selama kehamilan yaitu pada
trimester ketiga.
Pada penelitian terbaru mengenai perempuan hamil dengan berat badan normal
yang memonitor sendiri kadar glukosa darah mereka, Paretti et al menemukan
bahwa kadar glikemik yang lebih rendah pada sebelum dan sesudah makan, yang
terus meningkat pada minggu ke 28-38 minggu gestasi.
Sekarang ini, sistem monitoring glukosa darah secara kontinu adalah dengan
menggunakan sensor yang dimasukkan dengan glucose oxidase untuk mengakses
glukosa interstirial subkutan setiap 10 detik. Alat ini memberikan temuan mengenai
kadar glukosa normal pada kehamilan, kadar glukosa nya sama seperti yang sudah
diungkapkan oleh Paretti et al bahwa secara signifikan lebih rendah pada malam
hari8 dibandingkan dengan siang hari. Penulis yang sama mengungkapkan pula
bahwa permpuan hamil yang obese, secara signifikan memiliki kadar glukosa yang
lebih rendah pada malam hari. Langer et al setelah ini menemukan bahwa untuk
mempertahankan control yang baik terhadap kadar glikemik pada perempuan
obese(mean plasma gluikosa <100 mg/dL) hanya dapat dicapai dengan
penggunaan insulin. Hal ini dapat berarti bahwa kadar glikemik yang berbeda
diperlukan pada permpuan hamil dengan GDM untuk menurunkan komplikasi fetal
dan maternal.
Mengukur gluukosa darah sebelum makan lebih penting dibandingkan dengan
pengukuran 2 jam PP dikarenakan kadar glukosa sebelum makan memiliki
hubungan yang lebih langsung terhadap efek negative terhadap neonates contoh
malformasi congenital, hipoglikemi dsb.
Terdapat perdebatan mengenai apakah glukosa darah seharusnya diukur 1 jam atau
2 jam setelah makan. Monitoring glukosa darah secara kontinu menunjukkan bahwa
kadar glukosa memuncak 70 13 menit setelah makan pada perempuan hamil non

diabeteik., dan 90 menit setelah pada perempuan hamil diabetic tidak tergantung
pada control glikemiok apa yang digunakan dan apa tipe terapinya. Tidka ada
perbvedaan pada glukosa darah PP antara jam sarapan makan siang dan makan
malam. Penelitian terbaru mengenai pasien yang mendapat terapi yang mengacu
pada kadar glukosa setrlah makan umunya memiliki berat badan bayi yang lebih
kecil , resiko neonatal hipohlikemi dan macrosomia yg lbh rendah, dan juga angka
SC yg lbh rendah dibandingkan dengan pasien yang mendapat terapi sesuai dengan
glukosa 2 jam PP.
Langer et al menemukan bahwa angka macrosomia lebih tinggi pada mean glucose
level >105 mg/dL, sedangkan resiko bayi lahir kecil lebih tinggi pada mean glucose
leverl <87 mg/dL dan 105mg/dL. Oleh sebab itu mean glucose harus dipertahankan
antara 87 mg/dL dan 105 mg/dL pada pasein GDM untuk menghindari komplikasi
fetal.
Sedangkan untuk kematian fetus, Petitt et al melaporkan bahwa resiko stillbirth
biasanya berhubungan dengan pertumbuhan fetal yang berlebihan.
Bartha et al menemukan bahwa stillbirths umum terjadi pada Perempuan GDM yang
didiagnosis lebih awal dibandingkan dengan yang didagnosis pada usai kehamilan
yang lebih tua. Aberg et al menyetuijui data ini. Beischer et al juga
mendokumentasikan andka kematian perinatal yang lebih tinggi pada pasien GDM
yang tidak mendapatkan terapi dibandingkan dengan yang medapatkan terapi.
Tingkat mortalitas yang menignkat ini bergantung pada derajat keparahan dari
Intoleransi glukosa dan derjat dari control glikemik. ADA menyarankan bahwa
glukosa darah puasa diatas 105 mg/dl membawa resiko yang lebih tinggi akan
kematian perinatal pasa pasien GDM. Kalson juga menemukan adanya hubungan
antara mean glucose level dan perinatal mortality yaitu 4 % pada Perempuan GDM
dengan plasma glucose level dibawah 100 mg/dL, 15 % apabila kadaranya 100
mg/dL sampai 150 mg/dL, dan 24 % apabila diatas 150 mg/dL.
Untuk control glikemik dan kompikasi fetal yang berhuibungan dengan GDM ,
Langer menyinggung sebelumnya bahwa mean glucose level dibawah 100 mg/dL
dapat menurunkan insidensi dari komplikasi ini.
Tercapainya control glikemik yang baik merupakan hal yang sangat penting untuk
menurunkan komplikasi fetal pada GDM dan sangat penting untuk ditekankan
bahwa kkontrol glukosa yang baik perlu dicapai tanpa adanya episode
hipoglikemik.Taslimi menemuakn bahwa index glikemik memiliki korelasi yang lebih
baik dengan persentase berat badan dibandingkan dengan kadar glukosa darah
yang dimonitor secara konvensional. Kontrol glikemik dapat dipantau dengan
mengukur HbA1c, namun begitu belum terdapat suatu hubungan yang pasti antara
kadar HbA1c pada GDM dengan outcome kehamilan.

Diet
Tujuan terapi pada diabetes mellitus gestasional adalah untuk mencapai diet yang
benar, yaitu nutrisi yang tepat untuk memastikan terpenuhinya berat maternal dan
pertumbuhan fetal, mengoptimalkan kontrol glikemik, menghindari ketoasidosis,
dan menurunkan kadar glukosa setelah makan, karena efek negative maternal dan
fetal sering dihubungkan dengan hal ini. Untuk mencapai hal ini sangat penting bagi
pasien untuk di follow up dan mendapatkan edukasi mengenai berat badan yang
ideal, intake kalori, distribusi karbohidart berdasarkan kebutuhan sehari2, protein
yang optimal, intake lemak dan mikronutrien serta jumlah dan tipe olahraga yang
sesuai.
Intake karbohidrat optimal yang dibutuhkan populasi pada umumnya adalah
minimal 130 gr/hari. Pada wanita hamil membutuhkan 33 gram lebih banyak
(misalnya, 175 gr/hari). Makanan dengan kadar glikemik rendah menginduksi
kenaikan yang lebih sedikit pada level glukosa dan hal ini penting pada pasien GDM
karena biasanya mereka memiliki kadar glukosa yang lebih tinggi setelah makan.
Exercise
Aktivitas fisiki memang membantu menurunkan kadar glukosa dan resistensi insulin
pada pasien diabetes dan karena itu dapa membantu mereka untuk mengontrol
berat badan, dan dapat dijadikan terapi tambahan.
ADA menyarankan perlunya aktivitas fisik pada pasien GDM tanpa kontraindikasi,
untuk melakukan olahraga sedang sebagai bagian dari terapi GDM. IWC
menyarankan 30 menit olahraga / hari . Namun begitu olahraga belum terbukti
dalam menurunkan glukosa plasma dan menahan atau mencegah penggunaan
terapi insulin. Studi lebih lanjut masih diperlukan dalam menentukan frekuensi
intentsitas waktu dan tipe olahraga yang optimal untuk pasien2 GDM.