Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM TEKNIK KIMIA

TEKNIK FERMENTASI

Disusun Oleh :
Kelompok I (Satu)
Hendryanto Sinaga

(1507167334)

Ryan Tito

(1507165761)

Sudung Sugiarto Siallagan

(1507165728)

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA S1 NON REGULER


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2016

ABSTRAK
Fermentasi adalah suatu proses yang memanfaatkan mikroba untuk menghasilkan
produk yang diinginkan dalam suatu lingkungan yang dikendalikan. Percobaan
ini bertujuan agar mampu memahami teknik pelaksanaan fermentasi dalam
produksi biomassa. Tahapan proses yang dilakukan pada saat fermentasi adalah
penyiapan medium/substrat, penyiapan inokulum, proses fermentasi dan analisa
produk. Pada tahap penyiapan medium, digunakan glukosa sebanyak 100 gram
yang kemudian masing-masing ditambahkan dengan 0,4 gr urea dan 0,5 gr NPK,
lalu dilarutkan dengan aquadest dalam labu erlenmeyer 1000 ml, ditutup dan
dimasukkan kedalam autoclave selama 15 menit. Pada tahapan inokulum,
ditambahkan ragi sebanyak 4 gram kedalam erlemeyer 1000 ml yang telah berisi
campuran glukosa, urea dan NPK yang sudah disterilkan dan didinginkan, lalu
di-shaker selama 1 jam. Proses fermentasi dilakukan dengan mencampurkan
larutan nutrisi dengan larutan inokulum kedalam vessel fermentor dan diaduk.
Kemudian setiap 1 jam selama 6 jam, produk sampel diambil sebanyak 12 ml.
Sampel yang telah diambil, dianalisa konsentrasi glukosa dan berat biomassa
selnya. Berdasarkan hasil percobaan, konsentrasi glukosa yang diperoleh
berfluktuasi terhadap waktu fermentasi, sedangkan pertumbuhan sel akan
semakin meningkat seiring dengan bertambahnya waktu fermentasi. Pertumbuhan
sel akan menurun ketika telah mencapai fase pertumbuhan diperlambat.
Pertumbuhan sel tertinggi dicapai pada saat fermentasi 5 jam yaitu sebesar 0,26
gram, dimana laju pertumbuhan sel maksimum ( maks) didapat sebesar 0,12 g/L
jam dengan yield sel sebesar 0,18.

Kata kunci: biomassa, fermentasi, glukosa, inokulum.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Tujuan Percobaan
Dengan melaksanakan praktikum modul Teknik Fermentasi, praktikan akan

mengenal teknik pelaksanaan fermentasi dalam produksi biomassa.

1.2

Dasar Teori

1.2.1 Fermentasi
Fermentasi berasal dari bahasa latin yaitu fevere artinya mendidih.
Peristiwa mendidih sebenarnya timbul dari gelembung-gelembung CO2 yang
dihasilkan dari proses katabolisme karbohidrat. Kemudian pengertian fermentasi
berkembang dan didefenisikan sebagai proses penguraian yang dilakukan oleh
mikroorganisme. Proses penguraian tidak hanya terhadap karbohidrat tetapi juga
terhadap protein, lemak, asam, dan juga zat-zat lain karena adanya aktivitas
enzim.
Sampai sekarang defenisi fermentasi semakin berkembang bahkan kadangkadang sudah berbeda sama sekali baik ditinjau dari segi biokimia maupun dari
segi mikrobiologi industri. Akan tetapi pengertian dasar dari pengertian
fermentasi yang dapat diterima, baik dari segi biokimia maupun dari segi
mikrobiologi yaitu sebagai proses penguraian/perubahan dari karbohidrat, protein,
dan lemak oleh enzim-enzim yang diikuti oleh pembentukan gas. Wadah tempat
melakukan proses fermentasi disebut sebagai fermentor.
Fermentasi merupakan proses pemecahan senyawa organik menjadi
senyawa sederhana yang melibatkan mikroorganisme.

Mikroorganisme
Klasik: Urai senyawa-senyawa organik komplek
senyawa sederhana
Anaerob

Modern: Pengubahan suatu substrat

Mikroorganisme
Bahan lebih berguna
Terkontrol

Fermentasi merupakan segala macam proses metabolisme yang (enzim,


jasad renik scroksidasi, reduksi, hidrolisa atau reaksi kimia lainnya) melakukan
perubahan kimia pada suatu substrat organik dengan menghasilkan produk akhir.

1.2.2 Sifat-sifat Proses


Sifat-sifat proses harus disesuaikan dengan kondisi yang dibutuhkan
oleh mikroba dalam melakukan metabolisme. Kondisi yang dibutuhkan dapat
aerob ataupun anaerob, sedangkan bentuk medium dapat cair ataupun padat.
Dalam proses produksi dapat digunakan proses tertutup atau pun kontinu.
Perbedaan kondisi yang dibutuhkan oleh mikroba dalam proses industri juga akan
menentukan :
1. Tipe fermentor
2. Optimasi lingkungan: pH, aerasi, suhu, kadar nutrien
3. Macam alat bantu: sumber air, listrik, kompresor dan sebagainya
4. Cara pengunduhan hasil, sterilisasi

1.2.3 Komponen Proses Fermentasi


Proses fermentasi mempunyai enam komponen dasar yaitu:
1. Susunan medium yang digunakan selama pengembangan inokulum dan di
dalam fermentor
2. Sterilisasi medium, fermentor dan peralatan yang lain
3. Aktivitas produksi, pemanfaatan kultur murni, jumlah inokulum untuk
produksi
4. Pertumbuhan mikroba dalam fermentor produksi pada kondisi optimum
untuk pembentukan hasil
5. Ekstraksi produk dan pemurnian
6. Penanganan limbah yang dihasilkan selama proses

Namun demikian, salah satu hal yang perlu diperhatikan di bidang


penelitian adalah perancangan perbaikan efisiensi fermentasi secara terus
menerus. Sebelum proses fermentasi dapat dilakukan, organisme yang dipakai
harus diisolasi, dimodifikasi sehingga dapat menghasilkan produk yang
diharapkan dalam skala komersial, hal ini tentunya membutuhkan perancangan
peralatan. Proses ekstraksi produk juga harus diperhatikan karena ini menyangkut
biaya produksi yang besar.
Beberapa faktor medium, garam, keasaman, kultur, dan waktu berperan
penting dalam fermentasi. Proses fermentasi bersifat sederhana namun harus teliti
sehingga flavor, tekstur, aroma, dan karakteristik lainnya yang diharapkan, dapat
muncul.
1.2.4 Jenis Jenis Fermentasi
Fermentasi secara umum dibagi menjadi dua model utama yaitu fermentasi
media cair (liquid state fermentation, LSF) dan fermentasi media padat (solid state
fermentation, SSF). Fermentasi media cair diartikan sebagai fermentasi yang
melibatkan air sebagai fase kontinu dari sistem pertumbuhan sel bersangkutan
atau substrat baik sumber karbon maupun mineral terlarut atau suspensi sebagai
partikel-partikel dalam fase cair. Fermentasi media padat merupakan proses
fermentasi yang berlangsung dalam substrat tidak terlarut, namun mengandung air
cukup sekalipun tidak mengalir bebas. Dalam fermentasi tradisional baik
fermentasi medium cair maupun medium padat telah lama dikenal. Fermentasi
cair dapat meliputi fermentasi minuman anggur dan alkohol, fermentasi asam
cuka, yoghurt dan kefir. Fermentasi media padat seperti fermentasi tape, oncom
dan kecap.
a. Fermentasi Media Cair
Komponen tambahan yang diperlukan pada pakan generasi baru seringkali
disintesa secara terpisah dan ditambahkan kemudian. Cara yang digunakan
biasanya dengan cara fermentasi media cair, yang dapat mensitesa asam-asam
amino, asam-asam organik, enzim-enzim dan beberapa vitamin. Fermentasi cair
dengan teknik tradisional dilakukan pengadukan, berbeda dengan teknik

fermentasi cair modern melibatkan fermentor yang dilengkapi dengan pengaduk


agar medium tetap homogen, aerasi, pengatur suhu (pendinginan dan pemanasan)
dan hasil lebih homogen dan dapat diprediksi. Juga tidak dilakukan sterilisasi,
namun pemanasan, perebusan dan pengukusan mematikan banyak mikroba
kompetitor.
b. Fermentasi Media Padat
Fermentasi media padat mempunyai kandungan nutrien per volume dapat
lebih besar. Produksi protein mikroba untuk pakan ternak dari keseluruhan hasil
fermentasi dapat dilakukan dengan pengeringan sel-sel mikroba dan sisa substrat.
Fermentasi substrat padat dengan kapang mempunyai keuntungan, yaitu:
1. Medium yang digunakan relatif sederhana
2. Ruang yang diperlukan untuk peralatan fermentasi relatif kecil, karena air
yang digunakan sedikit.
3. Inokulum dapat disiapkan secara sederhana.
4. Kondisi medium tempat pertumbuhan fungi mendekati kondisi habitat
alaminya.
5. Aerasi dihasilkan dengan mudah karena ada ruang udara diantara tiap
partikel substrat.
6. Produk yang dihasilkan dapat dipanen dengan mudah.
Faktor yang mempengaruhi fermentasi media padat diantaranya:
1. Kadar air
Kadar optimum tergantung pada substrat, organisme dan tipe produk akhir.
Kisaran kadar air yang optimal adalah 50-75%. Kadar air yang tinggi akan
mengakibatkan penurunan porositas, pertukaran gas, difusi oksigen, volume
gas, tetapi meningkatkan resiko kontaminasi dengan bakteri.
2. Temperatur
Temperatur berpengaruh pada laju reaksi biokimia selama proses
fermentasi.
3. Pertukaran Gas
Pertukaran gas antara fase gas dengan substrat padat mempengaruhi proses
fermentasi.

1.2.5 Fase Pertumbuhan Mikroba


Kultivasi mikroba baik skala kecil maupun skala besar dilakukan dalam
vessel reaksi spesial yang disebut bioreaktor atau fermentor, sehingga prosesnya
disebut dengan fermentasi.

Gambar 1.1 Reaktor pada proses fermentasi batch.


Ada tiga model pengoperasian bioreaktor: batch, kontinu dan fed batch.
Pada kultur batch, bioreaktor diisi dengan medium segar kemudian diinokulasi.
Gambar 1.3 adalah salah satu contoh reaktor batch yang dipakai dalam melakukan
reaksi fermentasi yang dilengkapi dengan pengaduk, saluran aerasi, dan
perlengkapan lainnya. Diakhir fermentasi, isi reaktor dikeluarkan untuk proses
down stream reaktor kemudian dibersihkan, disterilkan dan diisi kembali untuk
fermentasi berikutnya. Saat sel ditumbuhkan pada kultur batch mereka akan
mengalami beberapa fase pertumbuhan, yaitu the lag phase, exponential (or log)
phase, stationary phase dan the death phase.

Gambar 1.2 Kurva karakteristik pertumbuhan sel dalam medium fermentor


Pertumbuhan kultur mikroba umumnya dapat digambarkan dalam suatu
kurva pertumbuhan. Pertumbuhan mikroba dapat terbagi dalam beberapa tahap
seperti pada gambar 1.2 antara lain:
1. Fasa stationer (a) adalah fasa yang disebut fasa adaptasi/lag phase. Pada
saat ini mikroba lebih berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan dan
medium baru dari pada tumbuh ataupun berkembang biak. Pada saat ini mikroba
berusaha merombak materi-materi dalam medium agar dapat digunakan sebagai
nutrisi untuk pertumbuhannya. Bila dalam medium ada komponen yang tidak
dikenal mikroba, mikroba akan memproduksi enzim ekstraselular untuk
merombak komponen tersebut. Fasa ini juga berlangsung seleksi. Hanya mikroba
yang dapat mencerna nutrisi dalam medium untuk pertumbuhannya lah yang
dapat bertahan hidup.
2. Fasa pertumbuhan dipercepat (b) adalah fasa dimana mikroba sudah dapat
menggunakan nutrisi dalam medium fermentasinya. Pada fasa ini mikroba banyak
tumbuh dan membelah diri sehingga jumlahnya meningkat dengan cepat.
3. Fasa eksponensial (c) adalah akhir fasa pertumbuhan dipercepat. Pada fasa
ini laju pertumbuhan tetap pada laju pertumbuhan maksimum (maks). Nilai
maks ini ditentukan oleh konstanta jenuh/saturasi substrat. Nilai maks untuk
setiap mikroba juga tertentu pada masing-masing substrat.
4. Fasa pertumbuhan diperlambat (d) mulai pada akhir fasa eksponensial.
Pertumbuhan mikroba yang begitu cepat tidak diimbangi tersedianya nutrisi yang

cukup. Jika fermentasi dilakukan secara batch, dimana umpan nutrisi dimasukkan
hanya pada awal proses fermentasi, pada waktu tertentu saat jumlah mikroba yang
mengkonsumsi nutrisi tersebut melebihi daya dukung nutrisi akan terjadi
kekurangan nutrisi. Hal lain yang memperlambat pertumbuhan mikroba adalah
terjadinya inhibisi ataupun represi yang terjadi karena terakumulasinya produk
metabolit sekunder hasil aktifitas fermentasi mikroorganisme.
5. Fasa kematian terjadi apabila nutrisi sudah benar-benar tidak dapat lagi
mencukupi kebutuhan mikroorganisme. Keadaan ini diperparah oleh akumulasi
produk metabolit primer dan sekunder yang tidak dipanen sehingga terus
menginhibisi ataupun merepresi pertumbuhan sel mikroorganisme. Selain itu
umur sel juga sudah tua, sehingga pertahanan sel terhadap lingkungan yang
berbeda dari kondisi biasanya juga berkurang.
Plot ln [Cell] terhadap waktu akan menghasilkan hubungan garis lurus yang

[Cells]

ln [Cells]

mewakili exponential phase dapat dilihat pada Gambar 1.3.

slope

Waktu

Waktu

Gambar 1.3 Grafik ln [cells] Terhadap Waktu


Analisis dari bagian exponential phase dari kurva pertumbuhan ini adalah
bahwa sel tidak hanya bertambah dalam konsentrasinya tetapi juga dalam laju
peningkatan

konsentrasi

sel.

Sel

adalah

katalis

yang

self-reproducing

(autocatalysts) yaitu dapat mengkatalisa reaksi dan juga memproduksi katalis


lebih banyak lagi. Saat jumlah sel meningkat, laju bioreaksi juga akan meningkat.

Sehingga, jika kondisi lainnya tetap konstan maka laju peningkatan jumlah sel
(biomass) akan tergantung dari konsentrasi sel yang ada dalam reaktor yang
dituliskan sebagai berikut:
dX
X .................................................................(1.1)
dt

Yang mana X adalah konsentrasi biomass dalam bioreaktor. Konsentrasi biomass


dinyatakan dalam g/l.
Ekspresi proporsionalitas dalam persamaan 1 dapat ditambahkan dengan
sebuah konstanta yang disebut specific growth rate (), sehingga menjadi:
dX
X .................................................................(1.2)
dt

yang mana adalah laju pertumbuhan specific growth rate. Model pertumbuhan
mikroba seperti ini disebut theexponential growth model. Specific growth rate ()
mengambarkan berapa cepat sel bereproduksi. Semakin tinggi nilainya maka
semakin cepat sel melakukan pertumbuhan. Saat sel tidak tumbuh, maka nilai
specific growth ratenya adalah nol/zero. Selama exponential phase, specific
growth rate relatif konstan.
Untuk estimasi specific growth rate, maka persamaan 2 harus diintegralkan
untuk menghasilkan hubungan antara konsentrasi biomass (X) dan waktu (t) pada
interval waktu dari 10 sampai l. Dengan memindahkan variabel pada persamaan 2
maka diperoleh:
X 1 X 0e ( t1t 0) ....................................................(1.3)

Plot ln X vs t akan menghasilkan persamaan garis lurus. Slope garis ini ekuivalen
dengan specific growth rate ().
Biomass biasanya diukur/dinyatakan dalam dry weight yaitu berat sel
setelah air dikeluarkan (setelah pengeringan). Untuk menentukan dry weight, sel
pertama kali harus dipisahkan dari medium fermentasi ini dapat dilakukan dengan
filtrasi membran atau sentrifugasi. Teknik filtrasi membran yaitu liquid fermentasi
difilter melalui predried, pre-weighed membran. Filter kemudian dicuci untuk
menghilangkan broth yang masih larut. Lalu filter dikeringkan dan ditimbang.

Doubling time (tD) adalah ekspresi yang biasa dipakai mikrobiologis untuk
menyatakan laju pertumbuhan sel yaitu waktu yang dibutuhkan oleh populasi sel
untuk melipat gandakan dirinya. Selama exponensial phase tD akan selalu
konstan. Hubungan antara doubling time dan specific growth rate dapat dituliskan
sebagai berikut:
ln

2X
t D ........................................................(1.4)
X

Jika konsentrasi biomassdouble time dari X1 menjadi 2 X1 selama doubling time,


tD (= t2 - t1) kemudian persamaan 4 menjadi:

ln 2 t D .............................................................(1.5)
Sehingga hubungan antara doubling time dan specific growth rate diperoleh:
t D

ln2

...................................................................(1.6)

Yield (atau koefisien yield) didefinisikan sebagai jumlah produk yang


dihasilkan dari sejumlah input tertentu. Contoh: jika 0,6 gram asam sitrat
dihasilkan dari 1 gram glukosa maka yield asam sitrat dari glukosa adalah 0,6
gram/gram. Yield dapat sangat bervariasi selama fermentasi. Untuk alasan ini,
yield rata-rata selalu digunakan untuk menggambarkan efisiensi produksi. Yield
rata-rata disebut koefisien yield. Tipe-tipe koefisien yield yaitu:
Biomass yields (Yxs) dan
Product yields (Yps).
Yield koefisien biomass adalah berat rata-rata biomass dihasilkan per berat
substrat digunakan. Contoh untuk kultur batch, Yxs dihitung sebagai:
Y

X X0
X
..........................(1.7)

S0 S
S

dimana:
X0 dan S0 adalah konsentrasi awal biomass dan substrat.
X1 dan S1 adalah konsentrasi biomass dan substrat pada waktu tertentu
(biasanya pada akhir fermentasi).
Escherichia coli masih merupakan salah satu mikroorganisme yang penting
dan banyak diekploitasi untuk menghasilkan produk-produk dalam bioproses,

misalnya untuk produksi rekombinat protein. Untuk memperoleh produk tersebut


perlu untuk memproduksi biomass Escherichia coli dalam konsentrasi tinggi.
Produksi komersial biomass Escherichia coli secara organik yang lebih sederhana
serta air. Misalnya bahan baku yang mengandung glukosa maka proses
fermentasinya adalah sebagai berikut:
C6H12O6 + O2 Biomass + CO2 + H2O
Proses fermentasi yang menghasilkan produk biomass, artinya proses
fermentasi hanya ditujukan untuk memperoleh sel-sel mikroorganisme sebanyak
mungkin. Pada keadaan ini, tujuan akhir dari proses fermentasi adalah untuk
meningkatkan akumulasi sel-sel mikroorganisme. Produk biomass dari suatu
proses fermentasi, secara komersil telah dikembangkan untuk menghasilkan
produk sel ragi dan protein sel tunggal.
Untuk mengendalikan proses fermentasi agar berada dalam keadaan
optimum, dibutuhkan beberapa parameter pengendalian proses. Dewasa ini,
beberapa fermentor dalam skala industri telah dilengkapi dengan alat
pengendalian poses yang canggih dengan menggunakan perangkat komputer.
Pengendalian ini berjalan secara otomatis sehingga kondisi optimum fermentasi
dapat terjaga dengan baik. Parameter yang digunakan untuk mengendalikan
proses diantaranya pH dan suhu.
1. pH
Proses fermentasi merupakan proses yang berdasarkan pada kerja enzim.
Jadi aktivitas yang berlangsung dalam proses fermentasi tergantung pada aktivitas
enzimnya. Pada keadaan ini, enzim berfungsi sebagai penghambat, pengendali
dan mengkatalisa aktivitas kimia dari suatu sel hidup. Kondisi pH optimum untuk
pertumbuhan mikroorganisme tergantung pada mikroorganisme yang dipilih.
Setiap mikroorganisme mempunyai pH optimum tertentu untuk dapat tumbuh
dengan cepat. Oleh karena itu, substrat untuk pertumbuhan mikroorganisme harus
diatur seteliti mungkin sesuai dengan pH optimum mikroorganisme tersebut.
Sebagian besar mikroorganisme dapat tumbuh pada rentang pH 3 hingga 4.
Bakteri umumnya tumbuh pada rentang pH 4 hingga 8. Ragi tumbuh pada rentang
3 hingga 8 dan fungi (jamur) tumbuh pada rentang pH 3 hingga 7 dan sel-sel

eukariot mampu tumbuh pada rentang pH 6,5 hingga 7,5. Pengaturan pH dalam
proses fermentasi dewasa ini telah berkembang sehingga pengaturan pH dapat
dilakukan secara otomatis.
Prinsip dasar pengaturan pH adalah dengan penambahan asam atau basa.
Bila pH proses turun dari pH yang diharapkan atau pH proses menjadi asam maka
untuk meningkatkan pH cairan dilakukan dengan penambahan basa sehingga pH
cairan sesuai dengan pH yang ditetapkan. Senyawa basa yang biasa ditambahkan
dalam proses fermentasi biasanya dengan larutan NaOH dengan konsentrasi
tertentu seperti NaOH 4 N. Dan jika pH proses naik dari pH yang ditetapkan
dalam suatu proses fermentasi atau dengan kata lain pH cairan basa maka untuk
penurunan pH sesuai dengan pH yang ditetapkan ke dalam cairan ditambahkan
larutan asam. Larutan asam yang digunakan pada umumnya adalah larutan H2SO4
atau larutan HCl dengan konsentrasi sekitar 4 N.
2. Suhu
Suhu mempengaruhi laju reaksi, namun bila suhu terlalu tinggi untuk
pertumbuhan mikroorganisme maka dapat menyebabkan kerusakan pada enzim.
Akibatnya akan mempengaruhi aktivitas enzim terhambat. Oleh karena itu, untuk
mengoptimalisasi

pertumbuhan

mikroorganisme

harus

dilakukan

proses

fermentasi pada kondisi suhu optimum. Pertumbuhan mikroorganisme yang


maksimum berdasarkan suhu proses dapat digolongkan dalam 3 keadaan yaitu
psikhrofilik, mesofilik, dan thermofilik. Rentang suhu masing-masing keadaan
tersebut ditampilkan dalam Tabel 1.1 berikut :
Tabel 1.1 Temperatur pertumbuhan mikroorganisme maksimum

Fermentor

Mikroorganisme

Rentang Suhu (oC)

Psikhrofilik

< 20

Mesofilik

30 35

Thermofilik

> 50

merupakan

wadah

tempat

berlangsungnya

pertumbuhan

mikroorganisme dan pembentukan produk selama proses fermentasi berlangsung.


Bila ditinjau dari ukuran fermentor, maka fermentor dapat digolongkan menjadi :

1. Fermentor skala laboratorium, yaitu fermentor yang mempunyai kapasitas


volume dari 1 L hingga 20 L.
2. Fermentor skala pilot yaitu fermentor yang mempunyai kapasitas volume
dari 20 L hingga 30 L.
3. Fermentor skala industri yaitu fermentor yang mempunyai kapasitas volume
lebih besar dari 100 L.
Peningkatan proses fermentasi mulai dari skala laboratorium (volume 1-20
L) menjadi fermentor berskala industri disebut sebagai scale up. Scale up ini dapat
dilakukan bila parameter kinetika dari proses fermentasi tersebut dapat diperoleh
dengan akurat melalui penelitian yang bertahap dan intensif. Parameter yang perlu
ditentukan pada saat melakukan scale up adalah besaran Ks, maks, Yx/s, Yp/s,
KLa (khusus aerob) dan lain-lain.
Fermentor merupakan tempat proses utama dalam sistem fermentasi. Oleh
karena itu, fermentor harus memenuhi beberapa kriteria meliputi :
1. Bisa dioperasikan secara aseptis dalam selang waktu yang panjang.
2. Tersedia fasilitas aerasi
3. Tersedia sistem pengatur agitasi
4. Tersedia sistem pengatur suhu
5. Tersedia sistem pengatur pH
6. Tersedia fasilitas sampling
7. Tangki bioreaktor dapat dipergunakan untuk berbagai proses dan
mempunyai geometri yang sama.
Berdasarkan pengoperasian suatu fermentor baik dalam skala laboratorium,
skala pilot maupun skala industri, maka fermentor dapat dioperasikan dalam
berbagai cara :
1. Fermentor batch (curah)
2. Fermentor fed batch.
3. Fermentor semi batch
4. Fermentor kontinue.

1.2.6 Sterilisasi Medium dan Kemasan


Agar biakan bakteri dapat dibuat, maka medium dan alat-alat yang
diperlukan harus disterilisasi sebelum inokulasi. Sterilisasi yaitu suatu proses
untuk mematikan semua organisme yang dapat menjadi kontaminan.
Sterilisasi yang umum dilakukan dapat berupa:
1. Sterilisasi secara fisik (pemanasan, penggunaan sinar gelombang pendek
yang dapat dilakukan selama senyawa kimia yang akan disterilkan tidak akan
berubah atau terurai akibat temperatur atau tekanan tinggi). Dengan udara panas,
dipergunakan alat bejana/ruang panas (oven dengan temperatur 170o 180oC
dan waktu yang digunakan adalah 2 jam yang umumnya untuk peralatan gelas).
2. Sterilisasi secara kimia (misalnya dengan penggunaan disinfektan, larutan
alkohol, larutan formalin).
3. Sterilisasi secara mekanik, digunakan untuk beberapa bahan yang akibat
pemanasan tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan, misalnya
adalah dengan saringan/filter. Sistem kerja filter, seperti pada saringan lain adalah
melakukan seleksi terhadap partikel-partikel yang lewat (dalam hal ini adalah
mikroba).
Metode yang lazim digunakan untuk mensterilisasikan media dan alat-alat
ialah dengan pemanasan. Jika panas digunakan bersama-sama dengan uap air
disebut sterilisasi basah (menggunakan autoclave ), sedangkan jika tanpa uap air
disebut sterilisasi kering (menggunakan oven).
Autoclave digunakan untuk mensterilkan alat-alat maupun medium
mikroorganisme. Gambar 1.5 adalah contoh jenis autoclave yang paling
sederhana. Prinsip kerja alat ini sama dengan prinsip kerja kukusan (alat
sederhana untuk menanak nasi) hanya saja memiliki tekanan sehingga
menghasilkan panas yang lebih tinggi. Hal ini bertujuan untuk lebih
menyempurnakan proses sterilisasi. Tahap sterilisasi sebenarnya cukup singkat
yaitu dengan suhu 1210C selama 15 menit. Namun waktu keseluruhan mulai dari
pemanasan awal (kenaikan suhu) sampai pendinginan (penurunan suhu) bisa
mencapai kurang lebih 2 jam-an. Yang perlu diperhatikan selama mengoperasikan
alat ini adalah tutupnya jangan diletakkan sembarangan dan dibuka-buka karena

isi botol atau tempat medium akan meluap dan hanya boleh dibuka ketika
manometer menunjukkan angka 0.

Gambar 1.4 Autoclave


Medium yang mengandung vitamin, gelatin atau gula, maka setelah
sterilisasi medium harus segera didinginkan. Cara ini untuk menghindari zat
tersebut terurai. Medium dapat langsung disimpan di lemasi es jika medium sudah
dapat dipastikan steril (Dwidjoseputro, 1994). Dan jangan lupa tulis siapa
pengguna (nama, waktu dan lab.) sebelum start, selalu memakai sarung tangan
tahan panas, isilah air sesuai ukuran yang ditentukan sebelum start, jangan
membuka autoclave sebelum suhu dingin (dibawah 60 derajat celcius).

1.2.6 Inokulasi Bakteri


Penanaman bakteri atau biasa disebut juga inokulasi adalah pekerjaan
memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan
tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Untuk melakukan penanaman bakteri
(inokulasi) terlebih dahulu diusakan agar semua alat yang ada dalam hubungannya
dengan medium agar tetap steril, hal ini agar menghindari terjadinya kontaminasi.
Ada beberapa tahap yang harus dilakukan sebelum melakukan teknik penanaman
bakteri (inokulasi) yaitu :
1. Menyiapkan ruangan
Ruang tempat penanaman bakteri harus bersih dan keadannya harus steril
agar tidak terjadi kesalahan dalam pengamatan atau percobaaan .dalam labotarium
pembuataan serum vaksin dan sebagainya. Inokulasi dapat dilakukan dalam

sebuah kotak kaca udara yang lewat dalam kotak tersebut dilewatkan saringan
melalui suatu jalan agar tekena sinar ultraviolet.
2. Pemindahan dengan dengan pipet
Cara ini dilakukan dalam penyelidikan air minum atau pada penyelidikan
untuk diambil 1 ml contoh yang akan diencerkan oleh air sebanyak 99 ml murni.
3. Pemindahan dengan kawat inokulasi.
Ujung kawat inokulasi sebaliknya dari platina atau nikel .ujungnya boleh
lurus juga boleh berupa kolongan yang diametrnya 1-3mm. Dalam melakukuan
penanaman bakteri kawat ini terlebih dahulu dipijarkan sedangkan sisanya tungkai
cukup dilewatkan nyala api saja setelah dingin kembali kawat itu disentuhkan lagi
dalam nyala.
1.2.7 Teknik Inokulasi
Ada beberapa metode yang digunakan untuk mengisolasi biakan murni
mikroorganisme yaitu (Winarni, 1997):
a. Metode gores
Teknik ini lebih menguntungkan jika ditinjau dari sudut ekonomi dan
waktu, tetapi memerlukan ketrampilan-ketrampilan yang diperoleh dengan
latihan. Penggoresan yang sempurna akan menghasilkan koloni yang terpisah.
Inokulum digoreskan di permukaan media agar nutrien dalam cawaan petri
dengan jarum pindah (lup inokulasi). Di antara garis-garis goresan akan terdapat
sel-sel yang cukup terpisah sehingga dapat tumbuh menjadi koloni. Cara
penggarisan dilakukan pada medium pembiakan padat bentuk lempeng. Bila
dilakukan dengan baik teknik inilah yang paling praktis. Dalam pengerjaannya
terkadang berbeda pada masing-masing laboratorium tapi tujuannya sama yaiitu
untuk membuat goresan sebanyak mungkin pada lempeng medium pembiakan.
b. Metode tebar
Setetes inokolum diletakan dalam sebuah medium agar nutrien dalam cawan
petridish dan dengan menggunakan batang kaca yang bengkok dan steril.
Inokulasi itu disebarkan dalam medium batang yang sama dapat digunakan dapat
menginokulasikan pinggan kedua untuk dapat menjamin penyebaran bakteri yang

merata dengan baik. Pada beberapa pinggan akan muncul koloni koloni yang
terpisah-pisah.
c. Metode tuang
Isolasi menggunakan media cair dengan cara pengenceran. Dasar
melakukan pengenceran adalah penurunan jumlah mikroorganisme sehingga pada
suatu saat hanya ditemukan satu sel di dalam tabung.
d. Metode tusuk
Metode tusuk yaitu dengan dengan cara meneteskan atau menusukan ujung
jarum ose yang didalamnya terdapat inokolum, kemudian dimasukkan ke dalam
media.
1.2.8 Macam-Macam Media
Ada beberapa macam media yang digunakan untuk inokulasi yaitu
(Winarni, 1997):
1. Mixed culture : berisi dua atau lebih spesies mikroorganisme.
2. Plate culture: media padat dalam petridish.
3. Slant culture : media padat dalam tabung reaksi.
4. Stap culture : media padat dalam tabung reaksi, tetapi penanamannya
dengan cara penusukan.
5. Liquid culture : media cair dalam tabung reaksi.
6. Shake culture: media cair dalam tabung reaksi yang penanamannya dikocok.

BAB II
METODOLOGI PERCOBAAN

2.1

Percobaan I: Persiapan Inokulum

2.1.1

Tujuan
Dengan melaksanakan praktikum teknik fermentasi, praktikan akan

mengenal teknik pelaksanaan fermentasi dalam produksi biomassa.


2.1.2

Bahan

1. Glukosa
2. Urea
3. NPK
4. Ragi / yeast extract
5. Aquadest steril
2.1.3

Alat

1. Erlenmeyer 1L
2. Timbangan Analitik
3. Autoclave
4. Kapas dan kain kasa
5. Shaker
2.1.4

Prosedur Praktikum

1. Aquades diambil sebanyak 1000 ml.


2. Nutrisi ditimbang yang terdiri dari Glukosa sebanyak 100 gram, Urea
sebanyak 0,4 gram dan NPK 0,5 gr.
3. Ragi ditimbang sebanyak 4 gram
4. Glukosa yang dilarutan dengan aquades dan telah ditambahkan nutrisi
yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam erlenmeyer 1 L kemudian
kocok hingga homogen.
5. Erlenmeyer yang berisi larutan ditutup dengan kapas dan aluminium foil.
6. Erlenmeyer dimasukkan ke dalam autoclave selama 15 menit, dengan
suhu sekitar 121oC dan kemudian didinginkan.

7. Setelah dingin, ragi yang telah ditimbang dicampurkan, dan tutup kembali
erlenmeyer dengan kapas dan aluminium foil.
8. Erlenmeyer diletakkan diatas shaker selama 1 jam.

2.2

Persiapan Medium/Substrat

2.2.1

Tujuan
Dengan melaksanakan praktikum teknik fermentasi, praktikan akan

mengenal teknik pelaksanaan fermentasi dalam produksi biomassa.


2.2.2

Bahan

1. Glukosa
2. Ragi / yeast extract
3. Aquadest steril
2.2.3

Alat

1. Erlenmeyer 2L
2. Timbangan Analitik
2.2.4

Prosedur Praktikum

1. Aquades diambil sebanyak 1000 ml


2. Glukosa ditimbang sebanyak 100 gram
3. Nutrisi yang terdiri dari Urea dan NPK ditimbang masing-masing
sebanyak 0,4 gram dan 0,5 gram.
4. Glukosa yang telah ditambahkan nutrisi dimasukkan ke dalam erlenmeyer
yang berfungsi sebagai reaktor.
5. Reaktor yang telah berisi medium disterilkan didalam autoclave selama 15
menit dengan suhu 121 oC, kemudian didinginkan.
6. Inokulum yang sudah di-shaker selama 1 jam dimasukkan ke dalam
reaktor.
7. Campuran inokulum dan substrat di dalam reaktor (fermentor) ini diaduk
hingga homogen kemudian di lakukan proses fermentasi.

2.3

Proses Fermentasi

2.3.1

Tujuan
Dengan melaksanakan praktikum teknik fermentasi, praktikan akan

mengenal teknik pelaksanaan fermentasi dalam produksi biomassa.


2.3.2

Bahan
Larutan substrat yang telah dicampur Inokulum

2.3.3

Alat

1. Agitator
2. Aerator
3. Pipet Volume Berskala
4. Tabung reaksi
2.3.4

Prosedur Praktikum

1. Rangkaian alat yang terdiri dari agitator, aerator dan fermentor


(erlenmeyer) dipasang secara benar.
2. Agitator dan aerator dihidupkan.
3. Sampel produk fermentasi diambil 12 ml setiap 1 jam selama 6 jam
dengan pipet volume berskala ke dalam tabung reaksi.
2.4

Analisa Produk

2.4.1

Kadar Glukosa

2.4.1.1 Tujuan
Dengan melaksanakan praktikum teknik fermentasi, praktikan akan
mengenal teknik analisa kadar glukosa dalam produksi biomassa.
2.4.1.2 Bahan
1. Sampel produk fermentasi
2. Reagen Antron 0,02%
3. Aquadest
2.4.1.3 Alat
1. Gelas Ukur 100 ml
2. Tabung Reaksi
3. Sentrifuse

4. Labu ukur 1000 ml


5. Gelas ukur 10 ml
6. Rak Tabung Reaksi
7. Pipet Tetes
8. Vortex Mixer
9. Spektrofotometer
2.4.1.4 Prosedur Praktikum
1. Sebanyak 12 ml sampel produk fermentasi disentrifugasi dengan
kecepatan 500 rpm selama 15 menit.
2. Sebanyak 1 ml supernatan (filtrat) diambil lalu dimasukkan ke dalam labu
ukur 250 ml untuk pengenceran 250 kali
3. Sebanyak 1 ml larutan supernatan yang telah diencerkan diambil lalu
dimasukkan ke dalam tabung reaksi untuk analisa kadar glukosa
4. Sebanyak 2 ml reagen antron 0,02% masing-masing ditambahkan ke
dalam tabung reaksi yang berisi larutan supernatan yang telah diencerkan
sehingga warna larutan berubah menjadi biru kehijauan
5. Tabung reaksi dikocok dengan vortex mixer selama 2 menit
6. Sampel didinginkan pada suhu kamar, jika perlu menggunakan air es.
7. Absorbansi sampel diukur dengan spektrofotometer pada panjang
gelombang 520 nm.

2.4.2

Berat Sel Kering

2.4.2.1 Tujuan
Dengan melaksanakan praktikum teknik fermentasi, praktikan akan
mengenal teknik analisa produk fermentasi (biomassa sel).
2.4.2.2 Bahan
1. Sampel produk fermentasi
2. NaCl 0,1 M
3. Aquadest

2.4.2.3 Alat
1. Gelas ukur 100 ml
2. Timbangan Analitik
3. Oven
4. Kertas Saring
5. Gelas Kimia 100 ml
6. Corong
2.4.2.4 Prosedur Praktikum
1. Sisa sampel produk fermentasi yang telah disentrifuse disaring dengan
menggunakan kertas saring yang sudah ditimbang sebelumnya.
2. Kertas saring dicuci dengan aquadest, kemudian dengan NaCl 0,1 M, dan
dengan aquadest lagi.
3. Kertas saring dikeringkan di dalam oven pada suhu 110oC sampai beratnya
konstan.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Analisa Pertumbuhan Mikroba dalam Proses Fermentasi


Analisa pertumbuhan mikroba dilakukan dengan perhitungan berat kering
(dry weight ) dari sel, karena untuk biomassa pada umumnya dinyatakan dalam
bentuk dry weight. Perhitungan berat kering dari sel dalam praktikum dilakukan
dengan cara pengeringan langsung, dimana sel pertama kali harus dipisahkan dari
substrat atau medium fermentasi dengan cara penyaringan (filtrasi). Setelah
disaring sel dikeringkan didalam oven sampai didapatkan berat konstannya.
Hubungan antara waktu fermentasi dengan berat kering sel dapat dilihat pada
Gambar 3.1.
0.3

Berat Kering Sel (gr)

0.25
0.26
0.2
0.21

0.22

0.22

0.23

0.235

0.24

0.15
0.1
0.05
0
0

Waktu Fermentasi (jam)

Gambar 3.1 Hubungan antara berat kering sel terhadap waktu


Gambar 3.1 menunjukkan hubungan antara berat kering sel terhadap waktu
fermentasi, dimana berat kering sel bertambah seiring bertambahnya waktu
fermentasi. Berdasarkan Gambar 3.1 terlihat bahwa fasa lag (adaptasi) terjadi
pada 2 jam pertama dengan berat sel dalam sampel sebesar 0,22 gram. Pada fasa
ini mikroba lebih berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan dan medium

baru daripada tumbuh atau berkembangbiak. Mikroba merombak materi-materi


yang terdapat pada medium agar dapat digunakan sebagai nutrisi untuk
pertumbuhannya. Pada jam ke-3 berat sel dalam sampel sebesar 0,23 gram, pada
jam ke-4 berat sel dalam sampel sebesar 0,235 gram dan pada jam ke-5 berat sel
dalam sampel sebesar 0,26 gram. Pada fasa ini sel mulai mengalami fase
pertumbuhan dipercepat dimana sel mulai tumbuh dan berkembang dengan
menggunakan substrat dan nutrisi yang tersedia sehingga jumlah sel bertambah
dengan cepat. Pada jam ke-6 berat sel dalam sampel sebesar 0,24 gram. Pada fasa
ini terjadi penurunan berat sel yang menandakan sel telah sampai pada fasa
pertumbuhan diperlambat. Kondisi ini terjadi karena keadaan substrat dan nutrisi
yang digunakan sel untuk pertumbuhan mulai berkurang sedangkan sel terus
bertambah, sehingga akan terjadi kompetisi antara sel yang akan menyebabkan
laju pertumbuhan sel menurun. Dari perhitungan didapatkan laju pertumbuhan sel
maksimum ( maks) sebesar 0,12 g/L jam dan yield sel yang diperoleh dalam
percobaan ini sebesar 0,18.

3.2 Analisa Konsentrasi Glukosa


0.7
y = 0.0062x + 0.0026
R = 0.9876

Absorbansi (oA)

0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
0

20

40

60

80

100

Konsentrasi Glokosa (mg/L)

Gambar 3.2 Kurva Kalibrasi Standar Glukosa

120

Glukosa digunakan sebagai sumber energi dan sumber karbon yang


digunakan untuk membentuk material penyusun sel baru. Pengukuran konsentrasi
glukosa pada percobaan ini dilakukan dengan menggunakan spectrofotometer
dengan sampel yang sudah diencerkan dan ditambahkan antron. Untuk
menghitung konsentrasi glukosa pada sampel menggunakan deret standar larutan
glukosa baku dengan konsentrasi 20, 40, 60, 80 dan 100 ppm. Sehingga didapat
kura kalibrasi standar seperti pada Gambar 3.2. Kurva kalibrasi standar dapat
digunakan untuk menentukan konsentrasi glukosa pada masing-masing sampel.
Dengan mengukur absorban sampel, kemudian menggunakan persamaan linear
kurva kalibrasi standar yaitu y = 0,0062x + 0,0026 sehingga akan didapat
konsentrasi sampel. Hubungan antara konsentrasi glukosa terhadap waktu
fermentasi dapat dilihat pada Gambar 3.3.

Konsentrasi Glukosa (g/L)

0.06
0.05
0.051
0.04
0.03

0.054

0.055
0.047

0.037

0.039

0.044

0.02
0.01
0
0

Waktu Fermentasi (jam)

Gambar 3.3 Hubungan antara konsentrasi glukosa terhadap waktu fermentasi


Berdasarkan Gambar 3.3 terlihat bahwa konsentrasi glukosa terhadap waktu
mengalami fluktuasi. Konsentrasi glukosa mengalami penurunan pada awal
proses fermentasi hingga jam ke-1, yaitu dari 0,051 g/L menjadi 0,037 g/L.
Kemudian terjadi peningkatan konsentrasi glukosa hingga jam ke-4 yaitu sebesar
0,055 g/L. Konsentrasi glukosa kemudian turun pada jam ke-5 hingga ke-6 yaitu
menjadi sebesar 0,044 g/L. Kondisi ini tidak sesuai dengan teori, dimana menurut

Kumalaningsih & Hidayat (1995), semakin lama waktu fermentasi maka semakin
kecil konsentrasi glukosa yang tertinggal dalam medium, hal ini disebabkan
glukosa dikonversi menjadi alkohol oleh mikroba. Kesalahan ini disebabkan oleh
kontaminan

yang

dapat

menghambat

proses

metabolisme

sehingga

mengakibatkan makin bertambahnya jumlah glukosa pada saat fermentasi 2 jam,


3 jam, dan 4 jam. Inhibisi ataupun represi yang terjadi dapat dikarenakan
terakumulasinya

produk

metabolit

sekunder

hasil

aktifitas

fermentasi

mikroorganisme. Selain itu kontaminan juga meningkatkan turbiditas sehingga


menggangu pada saat pengukuran konsentrasi glukosa.

BAB IV
KESIMPULAN

Dari praktikum yang dilakukan didapatkan kesimpulan yaitu :


1. Semakin lama waktu fermentasi maka pertumbuhan sel semakin
meningkat. Pertumbuhan sel akan menurun ketika telah mencapai fase
pertumbuhan diperlambat. Pertumbuhan sel tertinggi dicapai pada saat
fermentasi 5 jam yaitu sebesar 0,26 gram.
2. Konsentrasi glukosa yang diperoleh berfluktuasi terhadap waktu
fermentasi. Adanya kontaminan yang dapat

menghambat proses

metabolisme mengakibatkan makin bertambahnya jumlah glukosa pada


saat fermentasi 2 jam, 3 jam, dan 4 jam.
3. Laju pertumbuhan sel maksimum ( maks) didapat sebesar 0,12 g/L jam
dengan yield sel sebesar 0,18.

DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro, D. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan. Jakarta.


Kumalaningsih, S. & Hidayat, N. 1995. Mikrobiologi Hasil Pertanian. Malang:
IKIP Malang.
Prakasham, R. S. & Ramakrishna, S. V. 1998. Microbial fermentations with
immobilized cells, Lecture Handouts. India: Biochemical and Environmental
Engineering. Indian Institute of Chemical Technology.
Tim Penyusun. 2016. Penuntun Praktikum Laboratorium Teknik Kimia Edisi 2.
Pekanbaru: Program Studi S1 Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas
Riau.
Winarni, D.1997. Diktat Teknik Fermentasi. Surabaya: Program Studi D3 Teknik
Kimia FTI- ITS

LAMPIRAN A
DATA PENGAMATAN

1.

Persiapan Medium/Substrat dan Sterilisasi


Tabel A.1 Data Persiapan Medium/Substrat dan Sterilisasi

2.

No.

Variabel

Data

Volume cairan (ml)

1000

Suhu (C)

121

Waktu (menit)

15

Warna cairan

Putih kekuningan

Persiapan Inokulum
Tabel A.2 Data Penyiapan Inokulum

3.

No.

Variabel

Data

Volume cairan (ml)

1000

Suhu (C)

121

Waktu (menit)

Warna inokulum

15
60 (shaker)
Putih kekuningan

Pelaksanaan Fermentasi
Tabel A.3 Data Analisa Konsentrasi Sel
t (jam)

Volume (ml)

Massa (gr)

[Sel] (g/L)

12

0,21

17,5

12

0,22

18,33

12

0,22

18,33

12

0,23

19,17

12

0,235

19,58

12

0,26

21,67

12

0,24

20,00

Tabel A.4 Data Analisa Konsentrasi Glukosa

4.

Waktu

Absorbansi

Konsentrasi

(jam)

(A)

(g/L)

0,321

0,051

0,234

0,037

0,245

0,039

0,355

0,054

0,344

0,055

0,292

0,047

0,273

0,044

Larutan Standar
Tabel A.5 Data Absorbansi Larutan Standar
Sampel

Konsentrasi (mg/L)

Absorbansi (A)

Blanko

Standar 1

20

0,122

Standar 2

40

0,286

Standar 3

`60

0,331

Standar 4

80

0,513

Standar 5

100

0,625

LAMPIRAN B
DATA PERHITUNGAN

1.

Menghitung Konsentrasi Glukosa


Cara menghitung konsentrasi glukosa adalah dengan menggunakan

persamaan yang diperoleh pada kurva standar yaitu y = 0,0062x + 0,0026. Untuk t
= 1 jam Absorbansi = 0,234 oA, maka konsentrasi glukosa :
=

,
,
,

x = 37,32 mg/L
x = 0,03732 g/L
Konsentrasi glukosa pada waktu fermentasi 1 jam sebesar 0,03732 g/L.
Perhitungan yang sama juga digunakan untuk menentukan konsentrasi glukosa
pada t = 2 jam hingga t = 6 jam.

2.

Menghitung Konsentrasi Sel Awal


Konsentrasi sel =

gra

iter

= 2 g/L

3.

Menghitung Laju Pertumbuhan Mikroorganisme ()


=
Nt = Konsentrasi sel pada t

In NtIn N

N0 = Konsentrasi sel pada t = 0


Pada t = 1 jam, konsentrasi sel = 18,33 g/L
=

8,

= 2,215 g/L jam

Laju pertumbuhan mikroorganisme pada t = 1 jam yaitu sebesar 2,215 g/L


jam. Perhitungan yang sama juga digunakan untuk menentukan laju pertumbuhan
mikroorganisme pada t = 2 jam hingga t = 6 jam.

4.

Menghitung maks
Laju pertumbuhan mikroorganisme maksimum terjadi pada t = 1 jam sebesar

2,215 g/L.jam

maks =
maks =


8,

maks = 0,12 g/L jam

5.

Menghitung Growth Yield (Yxs)


Konsentrasi glukosa awal = 100 g/L
Konsentrasi sel awal = 2 g/L
Pada jam ke-6

Konsentrasi sel akhir = 20 g/L


Konsentrasi glukosa akhir = 0,044 g/L

Yxs =
=

[sel akhir] [sel awal]


[glukosa awal] [glukosa akhir]

= 0,18

g/L

g/L

LAMPIRAN C
DOKUMENTASI

Gambar C.1 Persiapan substrat dan


inokulum

Gambar C.2 substrat dan inokulum


setelah ditambahkan aquades

Gambar C.3 Sterilisasi menggunakan


Autoclave

Gambar C.4 Pendinginan inokulum


dan substrat

Gambar C.5 Proses shaking inokulum

Gambar C.7 Sampel setelah


disentrifuse dan siap untuk dianalisa.

Gambar C.6 Sentrifuse

LAMPIRAN D
LAPORAN SEMENTARA

Judul Praktikum

: Teknik Fermentasi

Hari/Tanggal Praktikum

: Sabtu/ 30 Juli 2016

Asisten Laboratorium

: Nuruzzaman Shiqhi, ST

Nama Kelompok I

: Hendriyanto Sinaga (1507167334)


Ryan Tito (1507165761)
Sudung Sugiarto Siallagan (1507165728)

Hasil Percobaan

Tabel D.1 Data Absorbansi Larutan Standar


Sampel

Konsentrasi
(mg/L)

Absorbansi
(A)

Blanko

Standar 1

20

0,122

Standar 2

40

0,286

Standar 3

`60

0,331

Standar 4

80

0,513

Standar 5

100

0,625

Tabel D.2 Data Analisa Konsentrasi Glukosa


Waktu

Absorbansi

(jam)

(A)

0,321

0,234

0,245

0,355

0,344

0,292

0,273

Tabel D.3 Data Analisa Konsentrasi Sel


t (jam)

Volume (ml)

Massa (gr)

12

0,21

12

0,22

12

0,22

12

0,23

12

0,235

12

0,26

12

0,24

Pekanbaru, 31 Juli 2016


Asisten

Nuruzzaman Shiqhi, ST