Anda di halaman 1dari 38

Laporan Praktikum Laboratorium Teknik Kimia

PERPINDAHAN PANAS

Laporan Praktikum Laboratorium Teknik Kimia PERPINDAHAN PANAS Dosen Pembimbing Dr. Ahmad Fadli., MT Kelompok Nama Kelompok

Dosen Pembimbing Dr. Ahmad Fadli., MT

Kelompok Nama Kelompok

Tanggal Praktikum Tanggal Pemasukan Laporan

:

: 1. Hendryanto Sinaga (1507167334)

I (Satu)

2. Ryan Tito (1507165761)

: 31 Juli 2016 : 6 Agustus 2016

LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA PROGRAM STUDI S1 TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS RIAU

2016

ABSTRAK

Perpindahan panas konduksi merupakan perpindahan panas yang terjadi jika

dalam suatu bahan yang bersifat kontinu terdapat gradient suhu, dimana panas

akan mengalir tanpa ada disertai oleh suatu gerakan zat. Prinsip dasarnya

adalah jika ada dua benda yang berbeda suhu maka panas akan mengalir dari

benda yang suhunya lebih tinggi ke benda yang suhunya lebih rendah. Percobaan

ini bertujuan untuk memahami proses perpindahan panas secara konduksi pada

aliran linier dan radial dari berbagai bahan, memahami penggunaan Hukum

Fourier pada perpindahan panas konduksi dan mengetahui bahwa setiap bahan

memiliki konduktivitas yang berbeda. Pada percobaan ini dilakukan pengukuran

temperatur disetiap thermocouple pada masing-masing modul (brass 13mm dan

25 mm, aluminium 25mm serta stainless steel 25mm) dengan memvariasikan

tegangan panas (3V, 4V dan 5V), sehingga didapatkan data tegangan, kuat arus

dan temperatur di setiap posisi thermocouple. Untuk konduksi panas pada aliran

linier, modul yang memiliki konduktivitas panas terbesar secara berurutan yaitu

brass 13mm, brass 25 mm, stainless steel 25mm dan aluminium 25mm.

Konduktivitas panas modul brass 13mm pada aliran radial hasil percobaan jauh

lebih kecil daripada konduktivitas literatur dengan rata-rata persen kesalahan

sebesar 96,02%.

Kata kunci : perpindahan kalor; konduksi; thermocouple; laju aliran kalor; aliran linier; aliran radial.

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Tinjauan Pustaka

1.1.1 Pengertian Perpindahan Panas

Kalor merupakan salah satu bentuk energi. Kalor adalah energi yang berpindah dari benda yang suhunya lebih tinggi ke benda yang suhunya lebih rendah ketika kedua benda bersentuhan. Kalor bisa diibaratkan seperti air yang secara spontan mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah tanpa peduli berapa banyak air yang sudah berada di bawah. Panas juga mengalir secara spontan dari benda yang bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu rendah tidak peduli seberapa besar ukuran kedua benda itu (ukuran benda menentukan banyaknya kandungan kalor) (Kern, 1965). Kalor yang diberikan dalam sebuah benda dapat digunakan untuk 2 cara, yaitu untuk merubah wujud benda dan untuk menaikkan suhu benda itu. Besar kalor yang diberikan pada sebuah benda yang digunakan untuk menaikkan suhu tergantung pada :

kalor jenis benda

perbedaan suhu kedua benda

massa benda Bila dua buah benda atau zat yang suhunya berbeda berada dalam kontak termal, maka kalor akan mengalir (berpindah) dari benda yang suhunya lebih tinggi ke benda yang suhunya lebih rendah. Dalam proses perpindahan energi

tersebut tentu ada kecepatan perpindahan panas yang terjadi atau yang lebih dikenal

dengan laju perpindahan panas. Perpindahan energi kalor ini akan terus berlangsung hingga kedua benda tersebut mencapai kesetimbangan temperatur. Secara umum proses perpindahan panas dari suatu sistem atau benda ke sistem atau benda lain terdiri atas tiga mekanisme yaitu perpindahan panas/energi secara konduksi, konveksi, dan radiasi. Ilmu konsep perpindahan panas berbeda dengan termodinamika. Ilmu termodinamika hanya menjelaskan bagaimana cara

energi itu berpindah dari suatu benda ke benda lain, sedangkan pada ilmu perpindahan panas selain menjelaskan bagaimana cara energi panas tersebut berpindah juga dapat memprediksi laju alir perpindahan panas yang terjadi pada kondisi-kondisi tertentu (Yusnimar, 2007).

1.1.2 Konduksi

Konduksi dapat didefenisikan sebagai perpindahan kalor dari suatu daerah yang memiliki temperatur lebih tinggi ke daerah yang memiliki temperature lebih

rendah di dalam suatu medium (padat, cair, atau gas) atau antara medium yang berlainan kontak fisik secara langsung. Pada aliran kalor secara konduksi, molekul-molekul pada daerah bertemperatur tinggi akan memindahkan bagian dari energi yang dimilikinya kepada molekul-molekul bertemperatur rendah. Perpindahan energi tersebut dapat berlangsung dengan tumbukan elastis (elastic impact), misalnya dalam fluida atau dengan difusi dari elektron-elektron yang bergerak lebih cepat dari daerah yang bertemperatur tinggi ke daerah yang bertemperatur lebih rendah misalnya pada logam-logam. Perpindahan kalor induksi pada ahkirnya akan menuju kesetimbangan temperature (Yusnimar,

2007).

Konduksi adalah proses perpindahan kalor yang terjadi tanpa disertai dengan perpindahan partikel-partikel dalam zat itu (Kreith, 2005). Perpindahan panas secara konduksi adalah energi (panas) dipindahkan sebagai energi kinetik dari satu molekul ke molekul lain, tanpa molekul-molekul tersebut berpindah tempat (Yusnimar, 2007). Contoh perpindahan kalor secara konduksi antara lain:

perpindahan kalor pada logam cerek pemasak air atau batang logam pada dinding tungku.

1.1.3 Perpindahan Kalor Konduksi di dalam Zat Padat

Aliran kalor konduksi terjadi jika dalam suatu bahan kontinu terdapat gradient suhu, maka kalor akan mengalir tanpa disertai oleh suatu gerakan zat. Pada logam-logam padat, konduksi termal merupakan akibat dari gerakan elektron yang tidak terikat. Konduktivitas termal berhubungan erat sekali dengan konduktivitas listrik. Pada zat padat yang bukan penghantar listrik, konduksi

termal merupakan akibat dari transfer momentum oleh masing-masing molekul di samping gradient suhu (Mc.Cabe, 1999). Hubungan dasar yang menguasai aliran kalor melalui konduksi adalah berupa kesebandingan antara laju aliran kalor melintas permukaan isothermal dan gradient suhu yang terdapat pada permukaan itu. Hubungan umum ini disebut hukum Fourier yang berlaku pada setiap lokasi di dalam suatu benda, pada setiap waktu. Hukum tersebut dapat dituliskan sebagai (Mc.Cabe, 1999) :

A = −k

……………………………………………………

(1.1)

dimana A = luas permukaan isothermal yang tegak lurus terhadap arah aliran kalor

n

= jarak, diukur tegak lurus terhadap permukaan itu

q

= laju aliran kalor melintasi permukaan itu pada arah normal terhadap permukaan

T

= suhu

k

= konstanta proporsionalitas (tetapan kesebandingan)

Konduksi pada kondisi distribusi suhu konstan disebut konduksi keadaan stedi (steady-state conduction). Pada keadaan stedi, T hanya merupakan fungsi posisi saja dan laju aliran kalor pada setiap titik pada dinding itu konstan. Untuk aliran stedi satu-dimensi, persamaan (1.1) dapat dituliskan sebagai :

A = −k

……………………………………………………… (1.2)

Konstanta proporsionalitas k di atas adalah suatu sifat fisika bahan yang disebut konduktivitas termal (Mc.Cabe, 1999).

1.1.4 Aliran Kalor Melintasi Lempeng Jika pada suatu lempeng rata seperti terlihat pada Gambar 1.1, diandaikan bahwa k tidak tergantung pada suhu dan luas dinding sangat besar dibandingkan dengan tebalnya, sehingga kehilangan kalor dari tepi-tepinya dapat diabaikan. Permukaan-permukaan luar dinding tegak lurus terhadap bidang gambar, dan kedua permukaan itu isothermal.

T 1 T 2 x 1 x 2
T
1
T 2
x 1
x 2

Gambar 1.1. Pemanasan suatu lempeng pada keadaan stedi

Arah aliran kalor tegak lurus terhadap dinding. Karena keadaan stedi, tidak ada

penumpukan ataupun pengurasan kalor di dalam lempeng itu, dan q konstan di

sepanjang lintas aliran kalor. Jika x adalah jarak dari sisi yang panas, maka

persamaan (1.2) dapat dituliskan :

= −k

x …………………
A

…………………………………… (1.3)

Oleh karena hanya x dan T yang merupakan variabel dalam Pers. (1.3),

integrasi langsung akan menghasilkan :

A x −x =

= k

x ………………………………………………(1.4)

Dimana ∆T = beda suhu melintas lempeng

∆x = tebal lempeng

Bila konduktivitas termal k berubah secara linier dengan suhu, maka k

̅ ̅

diganti dengan nilai rata-rata k . Nilai k dapat dihitung dengan mencari rata-rata

aritmetik dari k pada kedua suhu permukaan, T 1 dan T 2 , atau dengan menghitung

rata-rata aritmetik suhu dan menggunakan nilai k pada suhu itu. Persamaan (1.4)

dapat dituliskan dalam bentuk :

q =

R

………………………………………………………… (1.5)

Karena dalam aliran kalor stedi semua kalor yang melalui tahanan pertama

harus seluruhnya melalui tahanan kedua pula, dan lalu tahanan ketiga, maka q a , q b

dan q c tentulah sama, dan ketiganya dapat ditandai dengan q.

A

=

∆x

=

∆x

=

∆x

………………………………… (1.6)

Selanjutnya,

T − T =

∆T + ∆T + ∆T =

A x

+ x

+ x

……………….(1.7)

atau :

A

=

dimana :

U T − T …………………………

………………………(1.8)

=

+

x

x

+ x

= R ………………………

U adalah overall heat transfer coefficient.

……………… (1.9)

1.1.5 Konduktivitas Thermal (Daya Hantar Panas)

Konduktivitas termal adalah sifat bahan yang menunjukkan seberapa cepat

bahan itu dapat menghantarkan panas konduksi. Pada umumnya nilai k dianggap

tetap, namun sebenarnya nilai k dipengaruhi oleh suhu (T) (Gerald, 2005).

Berdasarkan daya hantar kalor, benda dibedakan menjadi dua, yaitu:

Konduktor, yaitu bahan-bahan yang mudah dalam menghantarkan kalor

(mempunyai konduktivitas yang baik)

Contoh : aluminium, besi, baja, dan tembaga.

Isolator, yaitu bahan-bahan yang lebih sulit dalam menghantarkan kalor

(mempunyai konduktivitas yang jelek).

Contoh : plastik, kayu, kain, kertas, dan kaca.

Konduktivitas termal zat cukup berbeda-beda. Nilainya adalah tertinggi pada

logam, dan paling rendah untuk bahan berbentuk serbuk yang telah dihampakan

dari udara (Mc.Cabe, 1999). Data-data konduktivitas termal berbagai jenis logam

disajikan pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1 Konduktivitas termal, densitas, dan kapasitas panas beberapa logam

(Geankoplis, 1997).

Material

 

T

ρ

C

p

k (W/m.K)

 

(

o C)

(kg/m 3 )

(kJ/kg.K)

 
 

202

206

215

Aluminium

20

2707

0,896

(0 0 C)

(100 0 C)

(200 0 C)

Brass (70-30)

 

20

8522

0,385

97

104

109

(0 0 C)

(100 0 C)

(200 0 C)

 

55

52

48

Cast iron

20

7953

0,465

(0 0 C)

(100 0 C)

(200 0 C)

 

388

377

372

Cooper

20

8954

0,383

(0 0 C)

(100 0 C)

(200 0 C)

 

35

33

31

Lead

20

11370

0,130

(0 0 C)

(100 0 C)

(200 0 C)

Steel 1% C

20

7801

0,473

45,3

45

45

 

(0 0 C)

(100 0 C)

(200 0 C)

304 stainless

13,8

16,3

18,9

steel

0

7817

0,461

(0 0 C)

(100 0 C)

(300 0 C)

1.2. Tujuan Percobaan

1. Memahami proses perpindahan panas secara konduksi pada aliran linier dari

berbagai bahan.

2. Memahami proses perpindahan panas secara konduksi pada aliran radial

dari berbagai bahan.

3. Memahami penggunaan Hukun Fourier pada perpindahan panas konduksi.

4. Mengetahui bahwa setiap bahan memiliki konduktivitas yang berbeda.

BAB II

METODOLOGI PERCOBAAN

2.1 Alat-alat yang Digunakan

1. HT11 Linier Heat Conduction Accessory

2. HT12 Radial Heat Conduction Accessory

3. Chart recorder with voltage input (1 V = 100 0 C)

4. Digital Multitester

2.2 Modul yang Digunakan

1. Brass 13mm dan 25mm

2. Aluminium 25mm

3. Stainless Steel 25mm

2.3 Prosedur Percobaan

2.3.1 Konduksi Panas pada Aliran Linier

a.

Persiapan Peralatan

1.

Sebelum melaksanakan percobaan, keadaan alat dipastikan dalam kondisi baik.

2.

Pemanas dan pendingin dari HT11 dijepitkan secara bersamaan dan dilapisi dengan thermal paste.

3.

Voltage control potentiometer diset menuju minimum (berlawanan arah jarum jam) dan posisikan ke pilihan manual kemudian hubungkan sumber arus dari HT11 ke soket bertanda O/P3 pada unit.

4.

Suplai air pendingin dipastikan terhubung dengan regulating valve pada

HT11.

5.

Semua unit dipastikan terhubung dengan sumber listrik.

b.

Prosedur Praktikum

1.

Modul yang telah dilapisi thermal paste dijepit diantara pemanas dan pendingin HT11

3. Tegangan pemanas diset pada 3 Volt. Untuk mengatur tegangan pemanas terlebih dahulu ubah panel pada unit pemanas pada posisi V.

4. Biarkan alat HT11 pada kondisi stabil.

5. Temperatur T 1 , T 2 , T 3 , T 4 , T 5 , T 6 , T 7 , T 8 , serta nilai V dan I dicatat pada saat temperatur sudah stabil.

6. Percobaan dilakukan kembali dengan variasi tegangan yang ditugaskan.

7. Percobaan dilakukan kembali dengan menggunakan modul yang berbeda.

2.3.2 Konduksi Panas secara Radial

a.

Persiapan Peralatan

1.

Sebelum melaksanakan percobaan, keadaan alat dipastikan dalam kondisi baik.

2.

Pemanas dan pendingin dari HT12 dijepitkan secara bersamaan yang dilapisi dengan thermal paste.

3.

Voltage control potentiometer diset menuju minimum (berlawanan arah jarum jam) dan posisikan ke pilihan manual kemudian hubungkan sumber arus dari HT12 ke soket bertanda O/P3 pada unit.

4.

Suplai air pendingin dipastikan terhubung dengan regulating valve pada

HT12.

5.

Semua unit dipastikan terhubung dengan sumber listrik.

b.

Prosedur Praktikum

1.

Modul yang telah dilapisi thermal paste dijepit diantara pemanas dan pendingin HT11

2.

Air pendingin dialirkan ke HT12.

3.

Tegangan pemanas diset pada 3 Volt. Untuk mengatur tegangan pemanas terlebih dahulu ubah panel pada unit pemanas pada posisi V.

4.

Biarkan alat HT12 pada kondisi stabil.

5.

Temperatur T 1 , T 2 , T 3 , T 4 , T 5 , T 6 , T 7 , T 8 , serta nilai V dan I dicatat pada saat temperatur sudah stabil.

6.

Percobaan dilakukan kembali dengan variasi tegangan yang ditugaskan.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Konduksi Panas pada Aliran Linier

Percobaan dilakukan dengan mengukur temperatur disetiap thermocouple pada masing-masing modul (brass 13mm, brass 25mm, aluminium 25mm dan stainless steel 25mm) dengan memvariasikan tegangan (3V, 4V dan 5V). Pada modul brass 25mm, didapatkan data temperatur di setiap posisi thermocouple T 1 , T 2 , T 3 , T 4 , T 5 , T 6 , T 7 dan T 8 , sedangkan pada modul brass 13mm, aluminium 25mm serta stainless steel 25mm didapatkan data temperatur disetiap posisi thermocouple T 1 , T 2 , T 3 , T 6 , T 7 dan T 8 . Data hasil percobaan konduksi panas pada aliran linier dapat dilihat pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Data hasil percobaan konduksi panas pada aliran linier.

Modul

Temperatur ( o C) Tegangan Arus Listrik Listrik (Volt) (mA) T T 2 T 3
Temperatur ( o C) Tegangan Arus Listrik Listrik (Volt) (mA) T T 2 T 3
Temperatur ( o C) Tegangan Arus Listrik Listrik (Volt) (mA) T T 2 T 3
Temperatur ( o C)
Tegangan
Arus
Listrik
Listrik
(Volt)
(mA)
T
T 2
T 3
T 4
T 5
T 6
T 7
T 8
1
(Volt) (mA) T T 2 T 3 T 4 T 5 T 6 T 7 T
(Volt) (mA) T T 2 T 3 T 4 T 5 T 6 T 7 T

3 0,09

32,4

32,5

32,1

30,47

29,66

28,1

27,9

27,6

4 0,19

33,2

33,05

32,9

30,98

30,06

28,2

28,0

27,8

5

0,29

36,6

36,2

35,8

32,93

31,46

3

0,08

29,1

28,7

28,3

27,9

27,31

31,46 3 0,08 29,1 28,7 28,3 27,9 27,31 28,4 28,2 28,0 26,6 26,3 26,1 27,5 27,1
31,46 3 0,08 29,1 28,7 28,3 27,9 27,31 28,4 28,2 28,0 26,6 26,3 26,1 27,5 27,1

28,4

28,2

28,0

26,6

26,3

26,1

28,4 28,2 28,0 26,6 26,3 26,1
27,5 27,1 26,8 27,9 27,6 27,3 28,6 28,4 28,1 28,7 28,4 28,2 28,7 28,6 28,3

27,5

27,1

26,8

27,9

27,6

27,3

28,6

28,4

28,1

28,7

28,4

28,2

28,7

28,6

28,3

27,8

27,7

27,6

28,0

27,9

27,7

28,6

28,3

28,1

28,7 28,4 28,2 28,7 28,6 28,3 27,8 27,7 27,6 28,0 27,9 27,7 28,6 28,3 28,1
28,7 28,4 28,2 28,7 28,6 28,3 27,8 27,7 27,6 28,0 27,9 27,7 28,6 28,3 28,1

4

0,19

29,7

29,4

29,1

28,3

28,07

5

0,29

30,4

30

29,6

28,9

28,56

3

0,09

34,9

34,75

34,6

32,14

30,97

4

0,19

35,9

35,5

35,1

32,62

31,31

5

0,29

37,3

36,7

36,1

33,37

31,86

3

0,09

31,4

30,85

30,3

29,57

28,97

4

0,19

31,5

31,1

30,7

29,79

29,18

5

0,30

33,3

32,95

32,6

31,07

30,21

28,97 4 0,19 31,5 31,1 30,7 29,79 29,18 5 0,30 33,3 32,95 32,6 31,07 30,21
28,97 4 0,19 31,5 31,1 30,7 29,79 29,18 5 0,30 33,3 32,95 32,6 31,07 30,21
28,97 4 0,19 31,5 31,1 30,7 29,79 29,18 5 0,30 33,3 32,95 32,6 31,07 30,21
  Brass 13mm   Brass 25mm
 

Brass

13mm

13mm

  Brass 13mm   Brass 25mm
 

Brass

25mm

  Aluminium 25mm
 

Aluminium

25mm

25mm

Stainless

Steel 25mm

  Brass 13mm   Brass 25mm   Aluminium 25mm Stainless Steel 25mm
  Brass 13mm   Brass 25mm   Aluminium 25mm Stainless Steel 25mm
  Brass 13mm   Brass 25mm   Aluminium 25mm Stainless Steel 25mm
  Brass 13mm   Brass 25mm   Aluminium 25mm Stainless Steel 25mm

3.1.1

Brass 13mm

Percobaan dilakukan dengan mengukur temperatur yang mengalir disepanjang modul brass 13mm, yaitu pada thermocouple T 1 , T 2 , T 3 , T 6 , T 7 , dan T 8 . Hubungan temperatur dengan jarak thermocouple disajikan pada Gambar 3.1.

40 T1 T2 T3 35 T4 T5 30 T6 T7 T8 25 0 0,03 0,06
40
T1
T2
T3
35
T4
T5
30
T6
T7
T8
25
0
0,03
0,06
0,09
0,12
Temperatur ( o C)

Jarak Thermocouple (m)

3V40 T1 T2 T3 35 T4 T5 30 T6 T7 T8 25 0 0,03 0,06 0,09

4V40 T1 T2 T3 35 T4 T5 30 T6 T7 T8 25 0 0,03 0,06 0,09

5V40 T1 T2 T3 35 T4 T5 30 T6 T7 T8 25 0 0,03 0,06 0,09

Gambar 3.1 Hubungan temperatur dengan jarak thermocouple pada aliran linier untuk modul brass 13mm Berdasarkan Gambar 3.1, untuk setiap variasi tegangan, temperatur pada thermocouple cenderung mengalami penurunan dari T 1 hingga T 8 . Kondisi ini sesuai dengan hukum Fourier dimana hubungan jarak dengan temperatur yang mengalir di dalam modul adalah berbanding terbalik.

= −

…………………………… (3.1)

Temperatur paling tinggi terdapat pada T 1 dengan tegangan panas 5V yaitu 36,6 ºC sedangkan temperatur paling rendah terdapat pada T 8 dengan tegangan 3V yaitu 27,6 ºC.

Berdasarkan Gambar 3.1 juga dapat dilihat semakin tinggi tegangan panas maka temperatur yang mengalir di dalam modul juga semakin tinggi. Kondisi ini sesuai dengan hukum Fourier dimana hubungan tegangan pemanas, laju perpindahan kalor dan temperatur adalah berbanding lurus.

…………………….(3.2)

= = = −

Data hasil pengukuran temperatur digunakan untuk menentukan konduktivitas panas modul. Konduktivitas panas modul brass 13mm dengan variasi tegangan panas 3V, 4V dan 5V disajikan pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2 Konduktivitas panas modul brass 13mm hasil percobaan dan literatur pada berbagai variasi tegangan.

Konduktivitas (W/m o C)

Tegangan Panas

3V

4V

5V

Percobaan

0,1085

0,3396

0,4165

Literatur (Geankoplis,1997)

99,1042

99,1364

99,254

Berdasarkan Tabel 3.2, semakin tinggi tegangan yang diberikan maka semakin besar konduktivitasnya. Kondisi ini sesuai dengan hukum Fourier dimana hubungan tegangan pemanas dan konduktivitas panas adalah berbanding lurus. Tabel 3.2 memperlihatkan adanya perbedaan yang sangat jauh antara konduktivitas panas modul brass 13mm hasil percobaan dengan konduktivitas literatur dimana konduktivitas hasil percobaan jauh lebih kecil daripada konduktivitas literatur dengan rata-rata persen kesalahan sebesar 99,71%. Ketidakakuratan ini terjadi karena pengukuran temperatur pada setiap T 1 hingga T 8 tidak menggunakan HT10X Heat Transfer Service Unit melainkan hanya menggunakan digital multitester, dimana temperatur yang terbaca di digital multitester tidak stabil.

3.1.2 Brass 25mm

Percobaan dilakukan dengan mengukur temperatur yang mengalir disepanjang modul brass 25mm, yaitu pada thermocouple T 1 , T 2 , T 3 , T 4 , T 5 , T 6 ,

T 7 , dan T 8 . Hubungan temperatur dengan jarak thermocouple disajikan pada Gambar 3.2. Berdasarkan Gambar 3.2, untuk setiap variasi tegangan, temperatur pada thermocouple cenderung mengalami penurunan dari T 1 hingga T 8 . Kondisi ini sesuai dengan hukum Fourier dimana hubungan jarak dengan temperatur yang

mengalir di dalam modul adalah berbanding terbalik. Temperatur paling tinggi terdapat pada T 1 dengan tegangan panas 5V yaitu 30,4 ºC sedangkan temperatur paling rendah terdapat pada T 8 dengan tegangan 3V yaitu 26,1 ºC.

31 T1 T2 T3 30 T4 29 T5 3V T6 28 T7 4V T8 5V
31
T1
T2
T3
30
T4
29
T5
3V
T6
28
T7
4V
T8
5V
27
26
25
0
0,03
0,06
0,09
0,12
Temperatur ( o C)

Jarak Thermocouple (m)

Gambar 3.2 Hubungan temperatur dengan jarak thermocouple pada aliran linier untuk modul brass 25mm Berdasarkan Gambar 3.1 juga dapat dilihat semakin tinggi tegangan panas maka temperatur yang mengalir di dalam modul juga semakin tinggi. Kondisi ini sesuai dengan hukum Fourier dimana hubungan tegangan pemanas, laju perpindahan kalor dan temperatur adalah berbanding lurus. Data hasil pengukuran temperatur digunakan untuk menentukan konduktivitas panas modul. Konduktivitas panas modul brass 25mm dengan variasi tegangan panas 3V, 4V dan 5V disajikan pada Tabel 3.3.

Tabel 3.3 Konduktivitas panas modul brass 25mm hasil percobaan dan literatur pada berbagai variasi tegangan.

Tegangan Panas

3V

4V

5V

Konduktivitas (W/m o C)

a n P a n a s 3V 4V 5V Konduktivitas (W/m o C) Percobaan Literatur

Percobaan Literatur (Geankoplis,1997)

0,0197

98,9278

0,0794

98,9775

0,1249

99,0146

Berdasarkan Tabel 3.3, semakin tinggi tegangan yang diberikan maka semakin besar konduktivitasnya. Kondisi ini sesuai dengan hukum Fourier dimana hubungan tegangan pemanas dan konduktivitas panas adalah berbanding lurus. Tabel 3.3 memperlihatkan adanya perbedaan yang sangat jauh antara konduktivitas panas modul brass 25mm hasil percobaan dengan konduktivitas literatur dimana konduktivitas hasil percobaan jauh lebih kecil daripada konduktivitas literatur dengan rata-rata persen kesalahan sebesar 99,92%.

3.1.3 Aluminium 25mm

Percobaan dilakukan dengan mengukur temperatur yang mengalir disepanjang modul aluminium 25mm, yaitu pada thermocouple T 1 , T 2 , T 3 , T 6 , T 7 , dan T 8 . Hubungan temperatur dengan jarak thermocouple disajikan pada Gambar

3.3.

40 T1 T2 T3 35 T4 T5 30 T6 T7 T8 25 0 0,03 0,06
40
T1
T2
T3
35
T4
T5
30
T6
T7
T8
25
0
0,03
0,06
0,09
0,12
Temperatur ( o C)

Jarak Thermocouple (m)

3V40 T1 T2 T3 35 T4 T5 30 T6 T7 T8 25 0 0,03 0,06 0,09

4V40 T1 T2 T3 35 T4 T5 30 T6 T7 T8 25 0 0,03 0,06 0,09

5V40 T1 T2 T3 35 T4 T5 30 T6 T7 T8 25 0 0,03 0,06 0,09

Gambar 3.3 Hubungan temperatur dengan jarak thermocouple pada aliran linier untuk modul aluminium 25mm Berdasarkan Gambar 3.3, untuk setiap variasi tegangan, temperatur pada thermocouple cenderung mengalami penurunan dari T 1 hingga T 8 . Kondisi ini sesuai dengan hukum Fourier dimana hubungan jarak dengan temperatur yang mengalir di dalam modul adalah berbanding terbalik. Temperatur paling tinggi

terdapat pada T 1 dengan tegangan panas 5V yaitu 37,3 ºC sedangkan temperatur paling rendah terdapat pada T 8 dengan tegangan 3V yaitu 28,1 ºC. Berdasarkan Gambar 3.3 juga dapat dilihat semakin tinggi tegangan panas maka temperatur yang mengalir di dalam modul juga semakin tinggi. Kondisi ini sesuai dengan hukum Fourier dimana hubungan tegangan pemanas, laju perpindahan kalor dan temperatur adalah berbanding lurus. Data hasil pengukuran temperatur digunakan untuk menentukan konduktivitas panas modul. Konduktivitas panas modul aluminium 25mm dengan variasi tegangan panas 3V, 4V dan 5V disajikan pada Tabel 3.4.

Tabel 3.4 Konduktivitas panas modul aluminium 25mm hasil percobaan dan literatur pada berbagai variasi tegangan.

Konduktivitas (W/m o C)

Tegangan Panas

3V

4V

5V

Percobaan Literatur (Geankoplis,1997)

0,0293

203,2624

0,0507

203,2788

0,0987

203,3048

Berdasarkan Tabel 3.4, semakin tinggi tegangan yang diberikan maka semakin besar konduktivitasnya. Kondisi ini sesuai dengan hukum Fourier dimana hubungan tegangan pemanas dan konduktivitas panas adalah berbanding lurus. Tabel 3.4 memperlihatkan adanya perbedaan yang sangat jauh antara konduktivitas panas modul aluminium 25mm hasil percobaan dengan konduktivitas literatur dimana konduktivitas hasil percobaan jauh lebih kecil daripada konduktivitas literatur dengan rata-rata persen kesalahan sebesar 99,97%. Ketidakakuratan ini terjadi karena pengukuran temperatur pada setiap T 1 hingga T 8 tidak menggunakan HT10X Heat Transfer Service Unit melainkan hanya menggunakan digital multitester, dimana temperatur yang terbaca di digital multitester tidak stabil.

3.1.4

Stainless steel 25mm

Percobaan dilakukan dengan mengukur temperatur yang mengalir disepanjang modul stainless steel 25mm, yaitu pada thermocouple T 1 , T 2 , T 3 , T 6 , T 7 , dan T 8 . Hubungan temperatur dengan jarak thermocouple disajikan pada Gambar 3.4.

35 T1 T2 T3 32,5 T4 T5 30 3V T6 T7 T8 4V 27,5 5V
35
T1
T2
T3
32,5
T4
T5
30
3V
T6
T7
T8
4V
27,5
5V
25
0
0,03
0,06
0,09
0,12
Temperatur ( o C)

Jarak Thermocouple (m)

Gambar 3.4 Hubungan temperatur dengan jarak thermocouple pada aliran linier untuk modul stainless steel 25mm Berdasarkan Gambar 3.4, untuk setiap variasi tegangan, temperatur pada thermocouple cenderung mengalami penurunan dari T 1 hingga T 8 . Kondisi ini sesuai dengan hukum Fourier dimana hubungan jarak dengan temperatur yang mengalir di dalam modul adalah berbanding terbalik. Temperatur paling tinggi terdapat pada T 1 dengan tegangan panas 5V yaitu 33,3 ºC sedangkan temperatur paling rendah terdapat pada T 8 dengan tegangan 3V yaitu 27,6 ºC. Berdasarkan Gambar 3.4 juga dapat dilihat semakin tinggi tegangan panas maka temperatur yang mengalir di dalam modul juga semakin tinggi. Kondisi ini sesuai dengan hukum Fourier dimana hubungan tegangan pemanas, laju perpindahan kalor dan temperatur adalah berbanding lurus. Data hasil pengukuran temperatur digunakan untuk menentukan konduktivitas panas modul. Konduktivitas panas modul stainless stel 25mm dengan variasi tegangan panas 3V, 4V dan 5V disajikan pada Tabel 3.5.

Tabel 3.5 Konduktivitas panas modul stainless steel 25mm hasil percobaan dan literatur pada berbagai variasi tegangan.

Konduktivitas (W/m o C)

Tegangan Panas

3V

4V

5V

Percobaan

0,0332

0,0728

0,1069

Literatur (Geankoplis,1997)

14,53

14,60

14,615

Berdasarkan Tabel 3.5, semakin tinggi tegangan yang diberikan maka semakin besar konduktivitasnya. Kondisi ini sesuai dengan hukum Fourier dimana hubungan tegangan pemanas dan konduktivitas panas adalah berbanding lurus. Tabel 3.5 memperlihatkan adanya perbedaan yang sangat jauh antara konduktivitas panas modul stainless steel 25mm hasil percobaan dengan konduktivitas literatur dimana konduktivitas hasil percobaan jauh lebih kecil daripada konduktivitas literatur dengan rata-rata persen kesalahan sebesar 99,5%. Ketidakakuratan ini terjadi karena pengukuran temperatur pada setiap T 1 hingga T 8 tidak menggunakan HT10X Heat Transfer Service Unit melainkan hanya menggunakan digital multitester, dimana temperatur yang terbaca di digital multitester tidak stabil. Konduktivitas termal zat cukup berbeda-beda. Nilainya adalah tertinggi pada logam, dan paling rendah untuk bahan berbentuk serbuk yang telah dihampakan dari udara. Berdasarkan hasil percobaan, untuk konduksi panas pada aliran linear, modul yang memiliki konduktivitas panas terbesar secara berurutan yaitu brass 13mm, brass 25 mm, stainless steel 25mm dan aluminium 25mm.

3.2 Konduksi Panas pada Aliran Radial

Percobaan dilakukan dengan mengukur temperatur pada bahan brass 13mm dengan memvariasikan tegangan (3V, 4V dan 5V) sehingga didapatkan data temperatur di setiap posisi thermocouple T 1 , T 2 , T 3 , T 4 , T 5 dan T 6 . Data hasil percobaan konduksi panas pada aliran radial dapat dilihat pada Tabel 3.6.

Tabel 3.6 Data Hasil percobaan konduksi panas pada aliran radial

3.6 Data Hasil percobaan konduksi panas pada aliran radial Temperatur ( o C) Tegangan Listrik (Volt)

Temperatur ( o C)

konduksi panas pada aliran radial Temperatur ( o C) Tegangan Listrik (Volt) Arus Listrik   (mA)
konduksi panas pada aliran radial Temperatur ( o C) Tegangan Listrik (Volt) Arus Listrik   (mA)
konduksi panas pada aliran radial Temperatur ( o C) Tegangan Listrik (Volt) Arus Listrik   (mA)
konduksi panas pada aliran radial Temperatur ( o C) Tegangan Listrik (Volt) Arus Listrik   (mA)

Tegangan Listrik (Volt)

Arus Listrik

 

(mA)

T 1

T 2

T 3

T 4

T 5

T 6

3

0,05

29,3

28,9

27,8

27,2

26,9

26,3

4

0,19

30,6

29,9

29,1

28,8

28,6

28,4

5

0,29

32,3

30,3

29,7

29,5

29,1

28,6

3.5.

Hubungan temperatur dengan jarak thermocouple disajikan pada Gambar 35 T1 32,5 T2 T3 30 T4
Hubungan temperatur dengan jarak thermocouple disajikan pada Gambar
35
T1
32,5
T2
T3
30
T4
T5
3V
T6
4V
27,5
5V
25
0
0,01
0,02
0,03
0,04
0,05
0,06
Jarak Thermocouple (m)
Temperatur ( o C)

Gambar 3.5 Hubungan temperatur dengan jarak thermocouple pada aliran radial

untuk modul brass 13mm.

Berdasarkan Gambar 3.5, untuk setiap variasi tegangan, temperatur pada

thermocouple cenderung mengalami penurunan dari T 1 hingga T 6 . Kondisi ini

sesuai dengan hukum Fourier dimana hubungan jarak dengan temperatur yang

mengalir di dalam modul adalah berbanding terbalik.

= −

…………………………… (3.3)

Temperatur paling tinggi terdapat pada T 1 dengan tegangan panas 5V yaitu 32,3

ºC sedangkan temperatur paling rendah terdapat pada T 6 dengan tegangan 3V

yaitu 26,3 ºC.

Berdasarkan Gambar 3.1 juga dapat dilihat semakin tinggi tegangan panas maka temperatur yang mengalir di dalam modul juga semakin tinggi. Kondisi ini sesuai dengan hukum Fourier dimana hubungan tegangan pemanas, laju perpindahan kalor dan temperatur adalah berbanding lurus.

…………………….(3.4)

Data hasil pengukuran temperatur digunakan untuk menentukan konduktivitas panas modul. Konduktivitas panas modul brass 13mm pada aliran radial dengan variasi tegangan panas 3V, 4V dan 5V disajikan pada Tabel 3.7.

= = = −

Tabel 3.7 Konduktivitas panas modul brass 13mm hasil percobaan dan literatur pada aliran radial dengan berbagai variasi tegangan

Konduktivitas (W/m o C)

Tegangan Panas

3V

4V

5V

Percobaan Literatur (Geankoplis,1997)

0,7525

5,185

5,882

98,94

99,046

99,094

Berdasarkan Tabel 3.7, semakin tinggi tegangan yang diberikan maka semakin besar konduktivitasnya. Kondisi ini sesuai dengan hukum Fourier dimana hubungan tegangan panas dan konduktivitas panas adalah berbanding lurus. Tabel 3.7 memperlihatkan adanya perbedaan yang sangat jauh antara konduktivitas panas modul brass 13mm aliran radial hasil percobaan dengan konduktivitas literatur dimana konduktivitas hasil percobaan jauh lebih kecil daripada konduktivitas literatur dengan rata-rata persen kesalahan sebesar 96,02%.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

4.1

Kesimpulan 1. Semakin besar jarak thermocouple maka temperatur yang mengalir di dalam modul (bahan logam) semakin rendah. 2. Hubungan antara temperatur dengan tegangan pemanas yaitu berbanding lurus, dimana semakin tinggi tegangan pemanas maka temperatur yang mengalir di dalam modul juga semakin tinggi. 3. Untuk konduksi panas pada aliran linear, modul yang memiliki konduktivitas panas terbesar secara berurutan yaitu brass 13mm, brass 25 mm, stainless steel 25mm dan aluminium 25mm. 4. Konduktivitas panas modul brass 13mm pada aliran radial hasil percobaan jauh lebih kecil daripada konduktivitas literatur dengan rata-rata persen kesalahan sebesar 96,02%.

4.1

Saran

Alat yang digunakan dalam percobaan ini (HT10X Heat Transfer Service Unit) dalam kondisi yang tidak baik, dimana pengukuran temperatur dan kuat arus pada alat tidak bisa dilakukan sehingga digunakan digital multitester dengan read-

out yang tidak stabil. Oleh karena itu, praktikan harus teliti dalam melakukan pengukuran temperatur disetiap thermocouple dengan digital multitester ini. Kesalahan dalam pengukuran ini akan mempengaruhi nilai konduktivitas modul yang didapat.

DAFTAR PUSTAKA

Geankoplis, CJ. 1997. Transport Processes and Unit Operations. 3 rd edition. Eastern Economy Edition. Prentice-Hall of India Private Ltd. New Delhi, India. Gerald, C.F. 2005. Applied Numerical Analysis. Addison-Wesley Publishing

Company.

Kern, DQ. 1965. Process Heat Transfer. New York : Mc.Graw-Hill.

Kreith, F. 2005. Principles Heat Transfer. Harper & Row Publisher.

Mc.Cabe, W.L, Smith, JC, Harriot, P. 1999. Operasi teknik Kimia. Ed. 4. Jilid 1

Jakarta: Erlangga.

Perpindahan

Pendidikan Universitas Riau. Pekanbaru.

Yusnimar.

2007.

Konsep

Dasar

Panas.

Pusat

Pengembangan

LAMPIRAN A

LAPORAN SEMENTARA

Judul Praktikum

Hari/Tanggal Praktikum

Pembimbing

Asisten Laboratorium

Nama Kelompok II

: Perpindahan Panas

: Minggu/31 Juli 2016

: Dr. Ahmad Fadli., MT

: Heni Ismawati

: Hendryanto Sinaga (1507167334)

Ryan Tito (1507165761)

Data Hasil Percobaan

A.1 Konduksi Panas pada Aliran Linear

:

Variasi tegangan listrik

Modul yang digunakan : Brass 13 mm, Brass 25 mm, Aluminium 25 mm

: 3 volt, 4 volt dan 5 volt.

dan Stainless steel 25 mm.

Tabel A.1 Data Hasil Percobaan Konduksi Panas pada Aliran Linear

Modul

Tegangan

Arus

Listrik

Listrik

(Volt)

(mA)

T 1

Temperatur ( o C)

T 2

T 3

T 4

(mA) T 1 Temperatur ( o C) T 2 T 3 T 4 - - T

-

-

T

5

T

6

T

7

T

8

-

28,1

27,9

27,6

-

28,2

28,0

27,8

3 0,09

32,4

32,1

4 0,19

33,2

32,9

36,6

35,8

-

-

28,4

28,2

28,0

29,1

28,3

27,9

26,6

26,3

26,1

29,7

29,1

28,3

27,5

27,1

26,8

30,4

29,6

28,9

27,9

27,6

27,3

34,9

34,6

-

-

28,6

28,4

28,1

35,9

35,1

-

-

28,7

28,4

28,2

37,3

36,1

-

-

28,7

28,6

28,3

31,4

30,3

-

-

27,8

27,7

27,6

31,5

30,7

-

-

28,0

27,9

27,7

33,3

32,6

-

-

28,6

28,3

28,1

5 0,29 3 0,08 4 0,19 5 0,29 3 0,09 4 0,19 5 0,29 3
5 0,29 3 0,08 4 0,19 5 0,29

5

0,29

3

0,08

4

0,19

5

0,29

5 0,29 3 0,08 4 0,19 5 0,29 3 0,09 4 0,19 5 0,29 3 0,09
5 0,29 3 0,08 4 0,19 5 0,29 3 0,09 4 0,19 5 0,29 3 0,09
5 0,29 3 0,08 4 0,19 5 0,29 3 0,09 4 0,19 5 0,29 3 0,09
3 0,09 4 0,19 5 0,29 3 0,09 4 0,19 5 0,30
3 0,09 4 0,19 5 0,29 3 0,09 4 0,19 5 0,30

3

0,09

4

0,19

5

0,29

3 0,09

4 0,19

3 0,09 4 0,19 5 0,29 3 0,09 4 0,19 5 0,30
3 0,09 4 0,19 5 0,29 3 0,09 4 0,19 5 0,30
5 0,30

5 0,30

Brass

13mm

Brass

25mm

AluminiumBrass 13mm Brass 25mm 25mm

25mm

Stainless

Steel 25mm

Brass 13mm Brass 25mm Aluminium 25mm Stainless Steel 25mm
Brass 13mm Brass 25mm Aluminium 25mm Stainless Steel 25mm
Brass 13mm Brass 25mm Aluminium 25mm Stainless Steel 25mm
Brass 13mm Brass 25mm Aluminium 25mm Stainless Steel 25mm
Brass 13mm Brass 25mm Aluminium 25mm Stainless Steel 25mm
Brass 13mm Brass 25mm Aluminium 25mm Stainless Steel 25mm
Brass 13mm Brass 25mm Aluminium 25mm Stainless Steel 25mm

A.2 Konduksi Panas pada Aliran Radial

Variasi tegangan listrik

: 3 volt, 4 volt dan 5 volt.

Tabel A.2 Data Hasil Percobaan Konduksi Panas pada Aliran Radial

Temperatur ( o C) Tegangan Listrik (Volt) Arus Listrik (mA) T 1 T 2 T
Temperatur ( o C)
Tegangan Listrik
(Volt)
Arus Listrik
(mA)
T 1
T 2
T 3
T 4
T 5
T 6
(Volt) Arus Listrik (mA) T 1 T 2 T 3 T 4 T 5 T 6
(Volt) Arus Listrik (mA) T 1 T 2 T 3 T 4 T 5 T 6

3

0,05

29,3

28,9

27,8

27,2

26,9

26,3

3 0,05 29,3 28,9 27,8 27,2 26,9 26,3 4 0,19 30,6 5 0,29 32,3 29,9 29,1

4

0,19

30,6

5

0,29

32,3

29,9

29,1

28,8

28,6

28,4

30,3

29,7

29,5

29,1

28,6

29,9 29,1 28,8 28,6 28,4 30,3 29,7 29,5 29,1 28,6
4 0,19 30,6 5 0,29 32,3 29,9 29,1 28,8 28,6 28,4 30,3 29,7 29,5 29,1 28,6

Pekanbaru, 31 Juli 2016

Asisten Praktikum,

Heni Ismawati

LAMPIRAN B

PERHITUNGAN

B.1

B.1.1

Konduksi Panas pada Aliran Linier

Brass 13mm

Pengolahan data untuk bahan Brass 13mm pada tegangan 3 volt.

Diketahui:

= 0,03 m = 0,015 m = 0,03 m = 0,013 m

Kuat Arus = 0,09 mA = 9x10 -5 A

Diameter

X

∆X

∆X

hot

int

cold

Substitusi Temperatur :

T + T

, + ,

T =

Untuk mencari T 4 dan T 5 , digunakan persamaan garis lurus

=

= ,

= − ,

+ ,

Dengan x adalah T ke-x

T = − , + , = ,

T = − , + , = ,

Temperatur rata-rata

=

, + , + , + , + , + , + , + ,

=

= ,

Heat Flow

Q

= V. I

= (3 volt) (9x10 -5 A)

= 0,00027 Watt

Cross sectional area

=

= , , m = 0,000133 m 2

Temperature difference in heated section

∆T hot

= T 1 T 3

= (32,4 32,1) o C

= 0,3 o C

Conductivity in heated section

=

= , , , × ,

= 0,203 W/m o C

Temperature difference in cooled section

∆T cold

= T 6 T 8

= (28,1 27,6) o C

= 0,5 o C

Conductivity in cooled section

=

= , , , × ,

= 0,1218 W/m o C

Temperature at hotface of specimen

T − T

T = T

, ,

= ,

= 32,025 o C

Temperature at coldface of specimen

T = T + T − T

= , + , ,

= 28,2 o C

Temperature difference across specimen

∆T int

= T hotface T coldface

= (32,025 28,2) 0 C

= 3,825 0 C

Conductivity in intermediate section

=

= , , , × ,

= 0,0008 W/m o C

k v

=

k t + k t + k ×

= , + , + , ×

= 0,1085 W/m o C

Perhitungan di atas juga digunakan untuk bahan Brass 13mm pada tegangan

4V dan 5V. Hasil perhitungan keseluruhan untuk bahan Brass 13mm dapat dilihat

pada Tabel B.1.

B.1.2

Brass 25mm

Pengolahan data untuk bahan Brass 25mm pada tegangan 3 volt:

Diketahui:

= 0,03 m = 0,015 m = 0,03 m = 0,025 m

Kuat Arus = 0,08 mA = 8x10 -5 A

X

∆X

∆X

Diameter

hot

int

cold

Substitusi Temperatur :

T = T + T

, + ,

=

= ,

Untuk mencari T 5 , digunakan persamaan garis lurus

= − ,

+ ,

Dengan x adalah T ke-x

T = − , + ,

= ,

Temperatur rata-rata

=

, + , + , + , + , + , + , + ,

=

= ,

Heat Flow

Q

= V. I

= (3 volt) (8x10 -5 A)

= 0,00024 Watt

Cross sectional area

=

= , , m = 0,0005 m 2

Temperature difference in heated section

∆T hot

= T 1 T 3

= (29,1 28,3) o C

= 0,8 o C

Conductivity in heated section

=

= , , , × ,

= 0,018 W/m o C

Temperature difference in cooled section

∆T cold

= T 6 T 8

= (26,6 26,1) o C

= 0,5 o C

Conductivity in cooled section

=

= , , , × ,

= 0,0288 W/m o C

Temperature at hotface of specimen

T − T

T = T

, ,

= ,

= 28,1 o C

Temperature at coldface of specimen

T = T + T − T

= , + , ,

= 26,75 o C

Temperature difference across specimen

∆T int

= T 4 T 5

= (27,9 27,31) 0 C

= 0,59 0 C

Conductivity in intermediate section

=

= , , , × ,

= 0,0122 W/m o C

k v

=

k t + k t + k ×

= , + , + , ×

= 0,0197 W/m o C

Perhitungan di atas juga digunakan untuk bahan Brass 25mm pada tegangan

4V dan 5V. Hasil perhitungan keseluruhan untuk bahan Brass 25mm dapat dilihat

pada Tabel B.1.

B.1.3

Aluminium 25mm

Pengolahan data untuk bahan Aluminium 13mm pada tegangan 3 volt.

Diketahui:

= 0,03 m = 0,015 m = 0,03 m = 0,025 m

Kuat Arus = 0,09 mA = 9x10 -5 A

X

∆X

∆X

Diameter

hot

int

cold

Substitusi Temperatur :

T + T

, + ,

T =

Untuk mencari T 4 dan T 5 , digunakan persamaan garis lurus

=

= ,

= − ,

+ ,

Dengan x adalah T ke-x

, + , = ,

T = − , + , = ,

T =

Temperatur rata-rata

=

, + , + , + , + , + , + , + ,

=

= ,

Heat Flow

Q

= V. I

= (3 volt) (9x10 -5 A)

= 0,00027 Watt

Cross sectional area

=

= , , m = 0,0005 m 2

Temperature difference in heated section

∆T hot

= T 1 T 3

= (34,9 34,6) o C

= 0,3 o C

Conductivity in heated section

=

= , , , × ,

= 0,054 W/m o C

Temperature difference in cooled section

∆T cold

= T 6 T 8

= (28,6 28,1) o C

= 0,5 o C

Conductivity in cooled section

=

= , , , × ,

= 0,0324 W/m o C

Temperature at hotface of specimen

T − T

T = T

, ,

= ,

= 34,525 o C

Temperature at coldface of specimen

T = T + T − T

= , + , ,

= 28,7 o C

Temperature difference across specimen

∆T int

= T hotface T coldface

= (34,525 28,7) 0 C

= 5,825 0 C

Conductivity in intermediate section

=

= , , , × ,

= 0,0014 W/m o C

k v

=

k t + k t + k ×

= , + , + , ×

= 0,0293 W/m o C

Perhitungan di atas juga digunakan untuk bahan Aluminium 25mm pada

tegangan 4V dan 5V. Hasil perhitungan keseluruhan untuk bahan Aluminium

25mm dapat dilihat pada Tabel B.1.

B.1.4

Stainless Steel 25mm

Pengolahan data untuk bahan Stainless steel 25mm pada tegangan 3 volt.

Diketahui:

= 0,03 m = 0,015 m = 0,03 m = 0,025 m

Kuat Arus = 0,09 mA = 9x10 -5 A

X

∆X

∆X

Diameter

hot

int

cold

Substitusi Temperatur :

T + T

, + ,

T =

Untuk mencari T 4 dan T 5 , digunakan persamaan garis lurus

=

= ,

= − ,

+ ,

Dengan x adalah T ke-x

T = − , + , = ,

T = − , + , = ,

Temperatur rata-rata

=

, + , + , + , + , + , + , + ,

=

= ,

Heat Flow

Q

= V. I

= (3 volt) (9x10 -5 A)

= 0,00027 Watt

Cross sectional area

=

= , , m = 0,0005 m 2

Temperature difference in heated section

∆T hot

= T 1 T 3

= (31,4 30,3) o C

= 1,1 o C

Conductivity in heated section

=

= , , , × ,

= 0,01473 W/m o C

Temperature difference in cooled section

∆T cold

= T 6 T 8

= (27,8 27,6) o C

= 0,2 o C

Conductivity in cooled section

=

= , , , × ,

= 0,081 W/m o C

Temperature at hotface of specimen

T − T

T = T

, ,