Anda di halaman 1dari 35

BAGIAN PERTAMA

KERAJAAN BERUNAI DAN NEGERI TIGA SERANGKAI


(BERUNAI, SUKADANA, DAN SAMBAS)
Bahwa sesungguhnya di zaman purbakala, pulau Borneo bagian sebelah Utara,
yaitu tanah Brunei sudah ada mempunyai Mahkota Kerajaan Besar, kenamaan dan
mahsyur, sehingga nama pulau Borneo ini pun di masa itu disebut orang juga pulau
Brunei atau Kalimantan. Lain dari itu Kerajaan Brunei itu termasuk negeri yang
tertua di muka bumi, mula-mula negeri itu diperintah oleh Sultan Mohamad
namanya. Supaya karangan ini jangan menjadi terlalu panjang diwartakan saja
disini ringkasan ceritanya demikian:
Konon kabarnya Sultan Mohamad itu ada mempunyai seorang putri yang terlalu
elok parasnya, putri itu dikawinkan Baginda dengan seorang muallaf bangsa
Tionghoa yang kaya raya bernama Wang Sinting, yang kemudian digelar Sultan
Ahmad. Maka Sultan Ahmad dengan istrinya tuan putri ini ada mendapat pula
seorang putri, dikawinkannya dengan seorang bangsawan Arab pancaran Amir
Hasan dari negeri Thaif (Mekkah) turun ke Brunei bernama Syarif Ali bin Abu
Namani bin Barkat, lalu digelar Sultan Barkat. Dan selanjutnya bahwa Sultan Barkat
itu beranakkan Sultan Sulaiman, Sultan Sulaiman itu beranakkan Sultan Balkia,
Sultan Balkia beranakkan Sultan Abdul Kahar, Sultan Abdul Kahar beranakkan
Sultan Saifulridjal, Sultan Saifulridjal beranakkan Sultan Syah. Sultan Syah
beranakkan Sultan Abdul Djalil Akbar dan Sultan yang tersebut dikemudian sekali
itu ada memperoleh dua orang putra, yaitu :
1. Raja Abdullah, kemudian digelar Sultan Abdul Djalil Djabbar.
2. Raja Tengah.
Alkisah menurut riwayat, pada masa kira-kira dalam abad 16, adalah hal Raja
Tengah itu terlalu mahsyur gagah beraninya, tidak ada tuluk bandingnya dalam
Kerajaan Brunei dan sekitar takluk jajahannya, karena belum itulah maka Kerajaan
Brunei semakin lama semakin bertambah luas tanah jajahannya dan banyak negerinegeri yang tunduk dibawah perintahnya hingga sampai ke pulau Sulu (Solok).
Disisi itu beliau itu amat disayangi dan dikasihi oleh sekalian keluarga dan hamba
rakyatnya, sekaliannya malu dan amat segan kepadanya, karena moralnya
(budinya) amat tinggi. Maka apabila Sultan Abdul DJalil Djabbar melihat hal
kejayaannya saudaranya yang sedemikian itu, timbullah perasaan dengki, khawatir
dan takut serta amat gelisah hatinya, seperti orang duduk di bara hangat dan penka
ribut mengharu rimba, selalu terlintas dalam hatinya kalau-kalau singgasana tahta
Kerajaannya itu direbut oleh saudaranya itu, dari sebab itu Baginda senantiasa
berduka cita dan mencari akal dan berdaya upaya dengan jalan tipu muslihatnya
yang halus, agar supaya saudaranya itu sedapat mungkin lekas hendaknya keluar
dari negeri Brunei itu, akan sifat Baginda yang demikian, tak salah seperti pepatah
mengatakan : Takut akan tikus seekor, rangkiong di halaman dirobohkan.
Syahdan pada suatu waktu (hari) dipanggil Baginda akan saudaranya itu
menghadap ke istananya, setelah saudaranya itu datang, Baginda dengan berlaku
pura-pura tersenyum manis, lalu bersabda kepadanya demikian : Hai Adindaku!
Seperti Adinda maklum dengan rahmat Allah, Kakanda telah menjadi Raja di
Kerajaan Berunai ini, akan tetapi selama ini belumlah senang dan puas hati
Kakanda, jika Adinda belum menjadi Raja juga, sebab itu Kanda bermaksud, bahwa
Adinda akan Kakanda angkat dan dijadikan Raja buat memerintah tanah pusaka dari
Ayahanda kita di Serawak, artinya tanah Serawak itu Kanda serahkan akan menjadi
kepunyaan Adinda. Raja Tengah itupun berdatang sembah, demikian sembahnya :
Harap diampun beribu-ribu ampun, apa saja titah duli Tuanku. Mendengar sahut

saudaranya yang sedemikian itu (peri), senanglah hati Baginda dan lalu Baginda
bertitah pula begini : Jika begitu, baiklah sekarang Adinda berkemas-kemas dulu,
lusa berangkatlah Adinda kesana dan bawalah seribu sakai buat teman Adinda
berlayar kesana itu. Pada kelusaannya harinya betul-betul, berangkatlah Raja
Tengah itu bersama-sama dengan seribu sakai (hamba rakyat) hadiah dari pada
saudaranya itu dan biduk berlayar meninggalkan tanah Brunei menuju ke tempat
kediamannya yang baru, yaitu tanah Serawak. Dikala itu barang sedikitpun Raja
Tengah itu tidak tahu, bahwasanya dirinya sudah tertipu dengan bujukan-bujukan
manis oleh saudaranya, karena dia amat dikhawatiri oleh saudaranya itu diam lama
di negeri Brunei itu.
Menurut piagam adalah asal usul Datuk, nenek, moyang, dari pada Raja-Raja di
Kerajaan Sambas, yaitu Pancaran atau aliran darah dari negeri tiga serangkai, ialah
Brunei, Sukadana, dan Sambas, dari situlah berdirinya Kerajaan Sambas yang
sekarang. Tegasnya mulai dari stam (pohon) cawang yang pertama (Sultan Barkat)
sampai kepada cawing yang sembilan (Raja Tengah) yang tersebut, sekaliannya
itulah Raja-Raja yang bertahta di Kerajaan Brunei, yang asalnya menerbitkan
(menurunkan turunan) zriat, yakni anak, cucu, cicit dan piut sampai ke cawing yang
kesepuluh (Sultan Mohamad Tsafiudin I), ialah Sultan yang pertama sekali bertahta
di Kerajaan Sambas dan seterusnya hingga sampai sekarang ini.
Pada waktu kami menulis sejarah ini, diantara 12 landscape di pantai sebelah barat
pulau Borneo ini, terkecuali negeri Sukadana (sekarang beribu negeri Ketapang atau
Matan), maka Kerajaan Sambas termasuk juga ketingkatan jumlah negeri yang
tertua dimuka bumi ini. Sebelum kami menceritakan yang lain-lain yang berkenaan
dengan negeri tiga serangkai itu barang kadarnya, baiklah kami bawa para
pembaca dahulu berpaling ke belakang in vogel vlucht (meninjau dari udara), yaitu
dari jauh kedataran tanah-tanah bekas zaman Kerajaan Brunei, Sukadana, dan
Sambas yang telah lalu yang ada masih bekas kebesarannya dalam bangunanbangunan yang tinggal, supaya mudah dipahamkan. Bahkan ketiga-tiganya negeri
ini (negeri tiga serangkai) hingga sampai kini masih ada berdiri, akan tetapi tentu
saja telah jauh benar perubahannya dari masa itu dan tidak mahsyur lagi
kejayaannya lagi sebagai dizaman dahulu itu.
A. DATARAN SERAWAK DAN BERUNAI
Sebelah utara dari Tanjung Datuk sampai ke gunung Kinibalu (4170 M), yaitu
gunung yang tertinggi dipulau Borneo, adalah dua buah gunung dataran, yakni
Serawak dan Berunai.
Pada dataran tersebut, kita bertemu juga dengan gunung-gunung, tetapi letaknya
bercerai-cerai, misalnya gunung Kidorong, dan gunung Lambir. Dekat Tanjung Sirik
bermuara sungai Rejang yang menjadikan sebuah delta yang besar. Ditepi laut Cina
dekat Tanjung Baram itu bertambah-tambah lebar karena pasir dan lumpur
senantiasa dihanyutkan sungai Baram itu.
Sungai yang bermuara ke Teluk Datuk, yaitu sungai Serawak, Sodong, Batung,
Lupar, dan Seribas, dekat negeri Serawak sungai Serawak itu menjadikan pula
sebuah delta yang besar. Sungai yang besar itu di sebelah utara Tanjung Baram,
hilirannya ke Teluk Brunei, diantaranya yang kenamaan, ialah sungai Limbang,
Teurusan, dan Padas. Disepanjang tepi Laut Cina Selatan antara Serawak dan Brunei
kita bertemu pasir beronggok-onggok. Adapun yang bertahta di Kerajaan Brunei di
masa itu Sultan Abdul Djalil Djabbar, Ibu negerinya terletak di tepi sungai Limbang,
luasnya kesebelah Selatan sampai ke muara Sungai Baram, tetapi di sebelah
utaranya sampai ke Sungai Padas di tangan bangsa Inggris. Di Teluk Brunei terletak
pulau Labuan yang telah dibeli orang Inggris pada Sultan Brunei dari sejak tahun

1847, Ibu negerinya bernama Victoria. Dataran yang sebelah selatan Sungai Baram
itu, ialah tanah Serawak kepunyaan Raja Tengah, luasnya kira-kira 2/3 bagian dari
dataran Brunei itu.
Maka di sebelah utara dari dataran yang tersebut kemudian, adalah lagi tiga buah
kerajaan, yaitu Papar, Maludu, dan Mangedari, ketiga-tiganya kerajaan ini
selamanya membayar upeti dan di bawah hokum Sultan Brunei, tetapi sekarang
Kerajaan Kerajaan itu sudah diserahkan Sultan Brunei kepada tangan Compagnie
Inggris.
Penduduk negeri Brunei dan Serawak itu, yaitu bangsa Melayu, Bugis, Dayak, dan
Cina. Orang orang Cina selain dari berniaga kebanyakan bekerja menambang
emas, berkebun lada, dan gambir. Hasil-hasil negeri-negeri itu yang terutama sekali,
ialah sagu, gambir, lada, rotan, lilin, getah jelutung, damar, telur penyu, emas, dan
kayu yang elok akan diperbuat perkakas.
B. DATARAN SUKADANA DAN MATAN
Adapun daerah Borneo sebelah barat ini terutama diairi oleh sungai Kapuas yang
panjang hulunya. Di sebelah timur dari hiliran sungai tersebut, terletak tanah Tayan
dan Meliau dan ibu negerinya terletak di tepi batang air bernama jauga. Di sebelah
selatan dari situ kita bertemu dengan negeri Sukadana, letaknya di tepi laut.
Pada pertengahan abad 16 yang memerintah di negeri Sukadana dan Matan, yaitu
Panembahan Giri Mustaka namanya, beliau bergelar juga Panembahan Meliau dan
lain dari itu beliaulah juga yang pertama sekali dati cawing keturunannya yang
bergelar Sultan, terteranya demikian. Maka pada suatu hari turunlah dari negeri
Mekkah ke Sukadana seorang Arab bernama Syekh Sjamsuddin, dia ini ada
membawa beberapa hadiah untuk Tuanku Panembahan Giri Mustaka tersebut, yang
mana berupa sebuah Quran Setambul kecil, sebentuk cincin permata yakud yang
tak ternilai harganya dan sepucuk surat besluit angkatan beliau dijadikan Sultan
dengan nama gelaran Sultan Mohamad Tsafiudin. Sungguhpun demikian baginda
telah bergelar Sultan Mohamad Tsafiudin, akan tetapi selalu baginda menyebutkan
dirinya juga Sultan Meliau (Mulia), sebagai nama diwaktu baginda bergelar
Panembahan Meliau. Dan Syekh Sjamsuddin itulah juga yang mula-mula
mensebarkan Agama Islam di Sukadana itu. Menurut ceritera, bahwa negeri
Sukadana itu dari tahun 1786 sampai tahun 1828 tempat sarang atau perlindungan
orang-orang perompak laut (lanun). Dalam tahun 1828 datanglah kesitu seorang
anak Raja Negeri Siak Seri Inderapura yang bernama Raja Akil, lalu didirikannya
sebuah negeri diberinya nama Nieuw Brussel dan lama kelamaan negeri inilah yang
bernama Sukadana.
C. DATARAN SAMBAS
Adapun negeri Sambas letaknya pada bagian 30 mil di sebelah utara dari
katulistiwa dan dialiri yang terutama oleh dua buah sungai yang membelah Bandar
dan desa. Berbatas sebelah selatan dengan gunung Sanggau (Tengahan) dan di
sebelah timur dari gunung inilah terletak gunung Pandan, maka pada gunung itu
hulu sungai Sambas yang terjadi dari Sambas kecil dan Sambas besar. Sungai
Sambas besar itu terjadi pula dari sungai Sambas simpang kanan (Tempapan) dan
sungai Sambas simpang kiri (Kumba) yang pada hulunya dinamai orang juga Siding,
sungai Siding ini hulunya di gunung Bangau, yang letaknya pada tempat pertemuan
negeri Montrado (dulu tempat kedudukan Tuan Resident dan Assistant Resident),
negeri Serawak dan negeri Sanggau (Kapuas). Di tepi sungai Sambas besar simpang
kanan (Tempapan), di situlah terletak Kota Lama (negeri Sambas dahulu kala, di situ
masih sampai sekarang, makam Ratu Sapuda dan Ratu-Ratu yang dahulu dari

padanya dll). Sungai Sambas besar itu bermuara ke Laut Cina Selatan, di
pertemuannya itu menjadikan Kuala Sambas, di situ terletak (sekarang
Onderafdeling Pemangkat). Di sebelah utara dari Singkawang, terletak sungai
Selakau yang bermuara ke Laut Jawa Barat, hulunya bercabang-cabang (beranakanak) sampai ke kampung Pak Mion Theo dan Serukam (Montrado), tiada jauh dari
sini terletak gunung Malang (464 M) pada gunung inilah hulu sungai Selakau.
Anaknya yang pertama sekali bernama sungai Barangan, sungai Gelik, dan sungai
Sanggang, di sebelah utaranya terletak gunung Singadang. Di sebelah hilir dari
muara sungai barangan itu atau di kanan mudiknya, kita bertemu dengan bekas
kubu (benteng) negeri Balai Pinang dan kira-kira 170 m. dengan sebuah munggu
yang terjun ketepi sebuah lubuk, disitulah terletak makam Ratu Anom Kusuma Juda,
Pangeran Mangkurat dan lain-lain, masih ada sampai sekarang.
Adapun kota bangun, ialah muara sungai Sambas kecil yang bertemu dengan
sungai sambas besar, dari situlah mulai sungai Sambas besar dan sungai Sambas
kecil terpisah menjadi dua. Sungai Sambas kecil ini mula-mula menghilir ke Utara
kemudian ia mengelok ke Barat, disitu sungai itu dipertalikan oleh sebuah Terusan
dengan sungai Sambas besar, sehingga menjadikan sebuah pulau. (Terusan
tersebut Terusan Kartiasa namanya diperbuat oleh Sp. Sulthan Mohamad Tsafiudin
II). Mulai dari terusan itu sungai Sambas kecil mengelok-mengelok ke Timur dan
disitu sungai itu bercabang dua pula, yaitu cabang sebelah kanan bernama sungai
Teberau dan cabang sebelah kiri bernama sungai Subah, dipertemuan cabang
kedua-kedua sungai itu bernama Muara Ulakan, di sebelah Timur Muara Ulakan
inilah mula-mula istana Sulthan didirikan oleh Sulthan Mohamad Tadjuddin,
(sehingga sampai sekarang disitu menjadi tempat kedudukan istana Sulthan).
Sungai Subah itu mengelok ke Utara dihulunya bercabang dengan anaknya
bernama sungai Sabung, di saka sungai Sabung itulah dahulu berdiri negeri Kota
Bandir (ibu negeri Sambas yang kedua). Dan sungai Teberau itu mula-mula ia
mengelok ke Selatan dan kemudian ke Timur, disitu ia bercabang dua dengan
anaknya bernama sungai Lumbang, dihulu sungai Teberau itu kita bertemu dengan
sebuah Lubuk yang lebar bernama Lubuk Madung (disinilah dulu tempat Istana
Sulthan atau ibu Negeri Sambas yang ketiga), yaitu di hulu dari pada kampung
Lubuk Lega sekarang adanya.

BAGIAN KEDUA
RAJA TENGAH DI SUKADANA DAN RATU SAPUDA DI SAMBAS (WAKIL
BETARA MAJAPAHIT)
Syahdan maka kemudian daripada itu tiada berapa lamanya Raja Tengah itu
menjadi Raja dan memerintah dinegeri Serawak itu, Baginda pun pergi bertamasya
dengan armadanya ke Negeri Johor, hendak mengunjungi mak muda Baginda Raja
Bunda Permaisuri Yang dipertuan Sultan Abdul Djalil Johor. Setelah kira-kira dua
tahun lamanya Baginda tinggal disitu, lalu berlayar akan kembali ke negerinya
Serawak, akan tetapi entah apakah sebabnya armada angkatan Baginda ini tersasar
arah tujuannya, lalu terdampar ke negeri Sukadana, masa itu yang memerintah
negeri Sukadana, ialah Sultan Mohamad Tsafiudin tersebut. Nasib baik bagi Raja
tengah, maka disitu Baginda disambut, dimuliakan dan diterima oleh Sultan Maliau
itu dengan penuh gembira dan kesukaan dan diberinya Baginda pekerjaan yang
khusus dalam urusan istananya. Lama kelamaan ternyatalah oleh Baginda Sultan,
bahwa Raja Tengah ini betullah turunan dari bangsawan sejati dan disamping itu
oleh karena rajin, cakap, halus dan pantang tingkah lakunya, baik budi bahasanya,
lemah lembut perkataannya, cerdik dan sopan santunnya, dari itu baginda semakin
amat disayangi dan dipercayai oleh Baginda Sultan itu, pada akhirnya Raja Tengah

itupun dikawinkan Baginda Sultan dengan saudara muda Baginda yang bernama
Ratu Surja Kusuma, maka sangat kasih sayang Raja Tengah kepada istrinya itu,
seperti menating minyak yang penuh lakunya. Dari perkawinan ini, Raja Tengah
memperoleh lima orang putra dan putri, putra yang sulung diberinya nama Raden
Sulaiman, yang kedua Raden Badara, yang ketiga Raden Abdulwahab, dan dua
orang putrinya.
Syahdan maka setelah beberapa tahun lamanya Raja Tengah itu bermukim dinegeri
Sukadana itu dengan hidup rukun dan damai dan aman sentosa tiada kurang suatu
apa-apa, dalam selama itu tidak pernah terlintas dihatinya lagi akan kembali ke
negerinya (Serawak), akan tetapi dalam hati sanubarinya senantiasa menggoda dan
tertarik ingin akan pergi ke negeri Sambas, hal ini tiadalah mengherankan kita,
sebab sewaktu Baginda dulu berada di Johor, di situ Baginda ada mendapat berita
tentang adilnya pemerintahan Sambas itu dan tantangan mahsyur dari emasnya
sumber, karena negeri itu sudah agak lama mengantarkan upeti dan takluk atau
tunduk kepada kekuasaan Sambas itu. Maka pada suatu peristiwa, yaitu
sesudahnya Baginda mendapat kebenaran dan izin daripada ipar Baginda (Sultan
Mohamad Tsafiudin) itu, berangkatlah Baginda beserta istri dan putra putrinya
serta pengiringnya dengan armadanya, yakni empat puluh buah sekunar dan
pancalang kenaikannya lengkap dengan orang-orangnya serta alat senjatanya akan
berpindah menuju ketempat kediamannya yang baru, yaitu akan menumpang diam
ke negeeri Sambas itu.
Adapun pada masa itu yang memerintah dan menjadi Raja di negeri Sambas, ialah
seorang Ratu yang bergelar Ratu Sapuda(keturunan dan wakil Raja Majapahit di
Sambas). Maka Baginda Ratu itu ada mempunyai dua orang kemenakan, yang tua
bernama Pangeran Prabu Kentjana dan yang muda bernama Pangeran Aria
Mangkurat, selain dari itu adalah pula Baginda mempunyai dua orang putri, yang
tua telah dikawinkan oleh Baginda dengan kemenakan Baginda bernama Pangeran
Prabu Kentjana itu dan beliaulah yang dicadangkan bakal pengganti Ratu, sebagai
Putra Mahkota dan putrinya yang seorang lagi bernama Pangeran Mas Aju Bungsu.
Apabila dan diwaktu mana datangnya Baginda dan Ratu itu ke Sambas, tidak dapat
diketahui. Dimana duduknya negeri Sambas itu sudah kami terangkan sekadarnya
pada dataran Sambas ( C ). Pada masa Sultan Mohamad Tsafiudin II memerintah
negeri Sambas, yaitu sebelum negeri in imenjadi pemerintahan Landscape, disitu
dan sekitarnya adalah tempat kedudukan seorang kepada Distrik (Wedana),
dinamai Distrik Kota Lama, tetapi sekarang kampung Kota Lama itu masuk bilangan
distrik Teluk Keramat.
Menurut Riwayat adalah Baginda Ratu Sapuda itu yang pertama sekali telah
membuat perjanjian dengan Oost Indische Compagnie dalam tahun 1609 bulan
Oktober, perjanjian yang mana menyebutkan bahwa Baginda Ratu tidak akan
menjual emas dan barang hasil hutan kepada orang-orang Eropa yang lain-lain,
selainnya dari Compagnie Belanda tersebut.
Alkisah maka manakala armada Raja Tengah sekeluarga serta para pengiringnya
yang telah tersebut diatas tadi itu tiba di negeri Sambas, segeralah hal itu
disembahkan oleh Kyai Setia Bakti kebawah duli Ratu, oleh Baginda Ratu akan
kedatangan Raja Tengah itu disambut dan diterima dengan kedua belah tangan
yang terbuka serta dengan amat gembira dan penuh kesukaannya, lalu Baginda
berikan kepada Raja Tengah itu dan sekalian pengiringnya sebuah kampung yang
teristimewa untuk tempat kediamannya dan diberinya nama kampung itu Kambajat
Seri Negara (sampai saat ini kampung Kambajat itu masih didiami orang, letaknya
di sebelah hilir dari Kota Lama dan dekat kampung Semantir sekarang). Beberapa
tahun lamanya Baginda serta pengiringnya tinggal berdiam berhidup di kampung

itu dengan sejahteranya. Maka tiada berapa lamanya kemudian dari itu Baginda
Ratu Sapuda itupun mangkat (berlindung) dengan gegabah tidak semena-mena.
Menurut adat sebelum jenazahnya di bawa orang ke kubur, terlebih dahulu
jenazahnya disandingkan di singgasana bertolak belakang dengan Putra Mahkota
negeri, yaitu Pangeran Prabu Kentjana dan ketika itulah beliau dilantik menjadi Ratu
di Sambas yang digelar Ratu Anom Kusuma Juda dan saudara beliau yaitu Pangeran
Aria Mangkurat diangkat menjadi Patih sebagai Wazirnya. Keesokan harinya barulah
jenazah Baginda Ratu Sapuda itu dikuburkan di Kota Lama.
Maka setahun menjelang dari hari sejak mangkatnya Baginda Ratu itu, atas
mufakatan dari kedua belah menyebelah pihak pertama Baginda Ratu Anom
Kusuma Juda dan pihak yang lain Baginda Raja Tengah, lalu dikawinkanlah Raden
Sulaiman dengan Pangeran Mas Aju Bungsu di keraton Sambas (Kota Lama) itu.
Kemudian kira-kira setahun sesudah perkawinan itu dilangsungkan, maka Pangeran
Mas Aju Bungsu itupun melahirkan seorang putra dengan selamat, oleh Raden
Sulaiman putranya itu diberinya nama Raden Bima (menurut zaman wayang, Bima
itu ialah Werkodara keluarga Raja Pendawa Lima). Maka tiada juga antara beberapa
lama dari hari kelahiran Raden Bima itu, maka ninda beliau Raja Tengah pun
berlayar pula ke Serawak buat menjenguk keluarga Baginda yang sudah agak lama
ditinggalkannya. Akan tetapi malang Baginda setibanya Baginda di negeri Serawak,
maka dengan takdir Tuhan yang Maha Kuasa, Raja Tengah itupun lalu mendapat
sakit keras sehingga sampai membawa ajalnya mangkat disana dimakamkan di
sungai Bedil (sekarang Kucing ibu negeri Serawak).
Syahdan dari semulanya sudah diterangkan diatas, bahasa adalah Kerajaan Sambas
itu, sudah takluk dibawah pemerintahan negeri Johor dan setiap tahun sekali harus
membayar upeti yang berupa emas urai serta jamur (kulat) kerang kepada negeri
Johor tersebut. Maka pada suatu ketika berangkat Baginda Ratu beserta
pengiringnya dengan armadanya yang terdiri dari pada 70 buah pencalang, biduk,
sekunar, dan nelayan yang bermacam-macam bentuknya dan cukup dengan alat
senjatanya berlayar ke Johor itu untuk menghantarkan Upeti, seperti yang sudah
berlaku dengan sekali setahun. Urusan pemerintahan negeri selama Baginda dalam
pemergian itu diwakilkan Baginda pada saudaranya, ialah Pangeran Aria Mangkurat,
tetapi yang mengenai tentang urusan di dalam kota saja dan beliau inilah dibantu
oleh seorang Menteri Kerajaan yang bernama Kyai Djaka Sari, sedang urusan di luar
dari kandungan Kota diwakilkan dan diserahkan Baginda kepada iparnya, ialah
Raden Sulaiman beliau itu dibantu pula oleh dua orang menteri Kerajaan, yaitu Kyai
Dipa dari penghulu anak sungai Sekumba dan Kyai Setia Bhakti penghulu anak
sungai Sange namanya. Maka adalah Kyai Djaka Sari itu pada masa itu seorang
yang tertua (Menteri Kerajaan) diantara Menteri-Menteri Kerajaan yang lain,
disamping itu beliau ini tempat Baginda Ratu Kusuma Juda melimpahkan segenap
kepercayaannya.
Hatta adalah armada angkatan Ratu itu terlebih dulu singgah di pulau Tambelan
buat menyinggahi Petinggi pulau tersebut hendak dibawa bersama-sama, tetapi
entah apakah gerangan sebabnya, rupanya sekali ini pelayaran angkatan armada
Baginda Ratu tersebut ditimpa oleh malapetaka, mula-mula mendapat angin sakal
dan terkatung-katunglah ditengah laut, kemudian dipukul angin ribut yang maha
hebat, karenanya itu terpaksa angkatan itu berbalik ke pulau Tambelan, jadi tak
berhasil maksud tujuannya sebagai yang di cita-citakannya itu. Oleh petinggi dan
penduduk pulau itu Baginda disambut dan dipersilahkannya supaya Baginda
bersemayam beberapa lamanya disitu, sementara menunggu angin dan waktu yang
baik, maka atas perhatian dan minat Petinggi itu, disetujui benar oleh Baginda.

Adapun hal keadaan dalam negeri Sambas sepeninggal Baginda berlayar itu alihalih muncullah suatu perselisihan paham yang amat hebat diantara Pangeran Aria
Mangkurat kontra Raden Sulaiman itu. Terjadinya perselisihan kedua saudara
beripar itu, tidak ada dari sebab hal yang lain, melainkan hanya semata-mata dan
chisit, dengki, dan iri hati itulah saja. Tumbuhnya perselisihan paham itu
sebenarnya telah agak lama jua, keadaannya seperti api di dalam sekam, akan
tetapi sepeninggal Baginda barulah bara itu bernyala-nyala dan berkobar-kobar.
Kabarnya konon maka adalah ketika itu Raden Sulaiman itu amat dikasihi dan
disayangi oleh rakyat, karena itu segala perintahnya bukannya saja diturut oleh
segenap rakyat, akan tetapi oleh segala golongan penduduk mulai dari kalangan
yang terkemuka sampai kepada lapisan yang serendah-rendahnya, yaitu rakyat
jelata. Tiadalah mengherankan, karena ternyata benar bahwa Raden Sulaiman itu
seorang yang bersifat sportif dan di sisi itu baik tingkah lakunya, halus budi
pekertinya, sangat peramah dan adil tidak pandang memandang didalam waktu
menjalankan pemerintahan negeri. Akan tetapi akan ini hal keadaan Pangeran Aria
Mangkurat itu adalah sebaliknya, yakni dalam segala-galanya jauh benar
perbedaannya antara kedua beripar itu, sebagai siang dan malam, karena sifat
beliau ini berhati garang, bernafsu perang, dan tidak dapat menahankan hatinya
dalam segala hal, jadi sifatnya itu berlawan sekali dengan sifat yang mesti ada pada
orang yang sportif itu.
Selanjutnya perselisihan itu dari sehari kesehari semakin bertambah gentingnya,
sehingga menyebabkan Pangeran Aria Mangkurat itu dengan terburu nafsu, artinya
tidak sabar dan tidak memikirkan lagi bagaimana akibatnya dibelakang hari, maka
dengan berlaku diam-diam terus beliau ini mengirim (mengutus) seorang utusan,
utusan yang mana dengan sengaja dipilihnya anak oleh Kyai Djaka Sari tersebut,
sebagai wakilnya untuk menghadap Baginda Ratu yang adalah ketika itu masih
berada di pulau Tambelan itu. Pendeknya setelah utusan itu tiba di Tambelan, terus
ia menghadap ke bawah duli Ratu menyembahkan sepucuk surat dari Pangeran Aria
Mangkurat itu, diantara lain-lainnya, isi surat itu penuh asung fitnah semata-mata
melulu yang terhadap kepada dirinya Raden Sulaiman itu, beginilah bunyinya :
bahwa sepeninggal Baginda Ratu, kelihatan semakin lebih jelas dan nyata sekali
yang pendirian Raden Sulaiman itu serta pengikutnya akan mendurhaka kepada
Baginda. Maka berharap patik dengan sebesar-besar pengharapan, tuanku yang
akan menghapuskan segala kerusakan dan yang mengecewakan hati yang
diterbitkan oleh mereka itu. Dari sebab itu patik mohon agar supaya selekas
mungkin Baginda kembali ke Sambas.
Menurut sepanjang ceritera, bahwa surat itu dengan segera juga dibalas oleh
Baginda, yang membawa balasannya itu diserahkan Baginda pula kepada utusan itu
tadi, akan tetapi dengan dalih bukannya saja membawa balasannya itu, melainkan
membawa dua pucuk surat yang sama bunyinya, yaitu sepucuk buat Pangeran Aria
Mangkurat dan sepucuknya lagi untuk Raden Sulaiman, sebahagian isi surat-surat
itu demikian bunyinya : Baginda Ratu memaklumkan, bahwa dipenghabisan musim
kalaman ini Baginda akan segera jua bertolak dari Tambelan kembali ke Sambas.
Pada jangka Baginda kira-kira dalam Purnama Raja yang akan datang, diwaktu
padang meruap menyapu pantai dan dikala itulah armada Baginda tiba dikuala
muara Sungai Sambas Besar. Atas permintaan Baginda, hendaklah kedatangannya
itu kelak supaya disambut dengan upacara kebesaran adat secara Raja-Raja, yaitu
mulai dari ibu Negeri Sambas (kota Lama) hingga sampai ke muara kuala sungai
Sambas Besar demikianlah adanya.
Syahdan manakala maka utusan itu tiba kembali ke Sambas, kedua-dua pucuk surat
itupun disembahkannya kepada masing-masing yang berkepentingan. Dan sehabis
Raden Sulaiman membaca surat itupun dengan segera beliau ini pergi

mendapatkan Kyai Setia Bhakti akan bermufakat padanya cara bagaimana buat
mengatur penyambutan atas kedatangan Ratu itu kelak yang agak memuaskan,
akan tetapi sikap Pangeran Aria Mangkurat tentang permintaan Ratu itu adalah
sebaliknya, bahwa beliau itu sedikitpun tidak mengindahkan, tidak mengambil
perduli dan tak menghiraukan apa-apa akan hal itu dan rupa-rupanya beliau itu tak
bersenang hati setelah menerima balasan dari pada Ratu yang sedemikian
bunyinya itu, seperti merajuk air ruang yang akibatnya perahu diri sendiri juga
kelak yang akan karam. Kemudian dari pada itu apabila telah sampai hari ketikanya
sebagaimana janji dalam surat Ratu tersebut, berangkatlah Raden Sulaiman dengan
perahu kenaikannya yang teristimewa, sedang perahu-perahu yang lain untuk
penyambutan itu yang sudah diselenggarakannya sekaliannya diserahkannya
kepada Kyai Setia Bhakti yang mengepalainya sendiri. Segala Menteri-Menteri yang
lain seperti Sida-Sida dan bantara hulubalang masing-masing pula dengan perahu
kenaikannya. Sekalian perahu perahu itu diperhiasi dengan indah, lengkap dengan
orang-orang, bunyi-bunyian serta alat senjatanya. Macam atau bentuknya perahuperahu itu terlalu banyak dan tiada terbilang lagi. Tiang perahu seperti turus atau
kayu yang dipancangkan, setunggul panji-panji sepantun awan berarak dan ruparupa payung kebesaran laksana mega membangun, sehingga tempat kapat rupa
sungai oleh kebanyakan perahu orang yang mengiringkan perahu Kyai Setia Bhakti.
Setelah perahu kenaikan Kyai Setia Bhakti yang menjadi kepala dari upacara
penyambutan itu sampai dimuara Kuala sungai Sambas besar, disitu dari jauh
sudah kelihatan sayup-sayup mata memandang terbentang memutih layar perahuperahu armada Baginda Ratu menuju ke arah penyambutan itu. Dan seketika itu jua
perahu kenaikan Baginda Raden Sulaiman melancar berlayar keluar dari Kuala
menghalau-halaukan Lancang Kuning itu, terus armada Ratu dibawanya masuk ke
muara dan terus menuju negeri Sambas dengan serba kebesaran dan kemuliaan,
sementara itu dibunyikan oranglah segala tabuh seperti gong, gendang dan
dipasang orang meriam dan lela, sehingga menjadi hingar bingar, hiruk pikuk, dan
gegap gempita bunyinya, seakan-akan pecah anak telinga karenanya. Penyambutan
Baginda Ratu ketika itu amatlah hebatnya, dimana-mana orang berdaya upaya
untuk menjadikan perkunjungan Baginda Ratu itu suatu saat yang tidak dapat
dilupakan bagi rakyat Sambas itu khususnya. Dan manakala upacara penyambutan
itu tiba kembali di Sambas, lalu Baginda Ratu naik dikeraton dan Baginda
didudukkan oleh Kyai Setia Bhakti di atas singgasana kerajaan dihadapan serta
dihormati dengan sepertinya oleh Raden Sulaiman dan sekalian menteri-menteri,
sida-sida bantera hulubalang laki-laki dan perempuan. Begitulah halnya pada
peristiwa itu dalam negeri Sambas, sekalian rakyat amat bersuka ria akan
kedatangan Ratunya itu, akan tetapi heran dibalik heran orang akan Pangeran Aria
Mangkurat itu, apakah lagi dia akan pergi menyambut kedatangan kakandanya
(Ratu) pada hari yang telah ditetapkan itu, sedangkan diwaktu Ratu berada di
keraton itupun beliau ini tidak ada hadir disitu. Jika dipikirkan atas penyambutan
tersebut, tentu saja tidak sekali-sekali dengan sengaja atau dengan niat akan minta
dipuji-puji orang, karena perbuatan itu dengan hati tulus dan ikhlas dilakukan oleh
Kyai Setia Bhakti dan Raden Sulaiman, ialah semata-mata menjunjung titah perintah
Rajanya, akan tetapi disamping itu rupanya asung fitnah yang telah disebarkan tadi
oleh Pangeran Aria Mangkurat itu dengan sendirinya telah dijawab oleh Kyai itu
dengan perbuatan dan perubahan semangat baru yang menggembirakan hati
rakyat sambas itu. Berhubung pada masa itu dalam suasana yang sedemikian
gentingnya, terlihat oleh Pangeran
Aria Mangkurat pula itu akan upacara
penyambutan yang luar biasa yang pada sangkanya tak seramai itu, jadi bertambah
panas dan sangat meradanglah hatinya, yang pada akhirnya sekali menyebabkan
Kyai Setia Bhakti itu melayang nyawanya, ialah mati terbunuh oleh Pangeran Aria
Mangkurat itu sendiri sebagai korban dari perselisihan itu. Didalam perselisihan

paham (konflik) itu, Baginda Ratu tampaknya berdiri menjadi orang ditengah dan
tidak campur (netral), tinggal diam-diam berdaku bulu, tegasnya kesini tidak dan
kesanapun tidak, seperti bunyi semboyan : Ibarat buah simalakama, jika dimakan
ibu berpulang, tak dimakan ayah meninggal.

BAGIAN KETIGA
RADEN SULAIMAN MENINGGALKAN NEGERI KOTA LAMA, BERHENTI DI KOTA
BANGUN DAN MENDIRIKAN NEGERI KOTA BANDIR

Hatta maka setelah tersiar berita pembunuhan yang amat kejam sekali itu diseluruh
negeri Sambas, dari karena itulah rupanya Raden Sulaiman sekeluarga menjadi
bertambah kurang senang dan merasa juga setiap saat terancam keselamatan
jiwanya masing-masing buat tinggal lama-lama dinegeri itu. Setelah beliau ini
berembuk dengan istrinya, lalu beliau mengambil tindakan dan keputusan yang
tepat dan jitu hendak keluar atau mengundurkan dirinya, dari ibu negeri Sambas itu
kelain tempat membawa untung nasib badannya, ialah jika untung batu tenggelam
dan nasib sabut timbul. Pada suatu hari Raden Sulaiman suami istri itu dengan
mendesak dan memberanikan diri datang menghadap kakandanya Ratu
memohonkan izinnya akan meninggalkan ibu negeri Sambas itu untuk mencari
tempat kediaman yang lebih aman dan sentosa, dengan alasan katanya supaya
pemerintahan Baginda Ratu dalam negeri Sambas itu jangan kiranya disebabkan
tegal perselisihan itu yang hanya semata-mata terdorong oleh hati dengki dan
khianat itu sampai menjadi rusak binasa dan buruk namanya. Pada mulanya
bermacam-macam dalih dikemukakan Baginda Ratu akan menolak permohonan
Raden Sulaiman itu, akan tetapi karena keras desakan Raden Sulaiman itu, dan
disisinya itu telah ternyata banyak benar perbuatan yang tidak baik (patut) serta
sifat-sifat yang kurang baik sudah dilakukan oleh saudaranya (Pangeran Aria
Mangkurat) itu terhadap kepada Raden Sulaiman c.s. itu, akhirnya permohonan
Raden Sulaiman itu mendapat persetujuan yang penuh dari Baginda Ratu. Maka
akan segala peristiwa yang telah kejadian itu, yang mana tentu sekali tidak diingini
oleh Raden Sulaiman sekeluarga itu, ialah sebagai suatu percobaan (imtihan) Allah
kepada sekalian makhluknya, tetapi akan hal ini Raden Sulaiman itu sedikitpun
tidak berkecil hati dan berpatah semangat karenanya, lalu beliau sekeluarga
berangkatlah dengan segera beserta Kyai Dipa Sari sekeluarga dan para
pengiringnya laki-laki dan perempuan yang telah masing-masing menyatakan akan
bersetia kepada beliau itu meninggalkan negeri itu dengan angkatan yang terdiri
dari berpuluh-puluh buah perahu hilir menyusur pinggir sungai Sambas Besar, yang
mana akhirnya tibalah rombongan angkatan itu pada pertemuan muara sungai
Sambas Kecil dengan sungai Sambas Besar, disitu angkatan ini berhenti disuatu
tempat dan tempat ini diberinya nama kota Bangun (sampai sekarang tempat itu
masih ada dan telah menjadi suatu kampung, yaitu Kampung Kota Bangun).
Maka apabila kabarnya yang menyatakan Raden Sulaiman sekeluarga serta para
pengiringnya itu telah berpindah dari ibu negeri Kota Lama ke Kota Bangun tersiar
disegenap desa dan dusun (anak-anak sungai) yang jauh letaknya, berdatanglah
anak-anak sungai (negeri) yang berduyun-duyun sebagai anai-anai bobos kesitu,
ialah turut berpindah juga mengikut beliau itu. Diantara lain-lainnya ada tiga orang
petinggi yang masing-masing dengan anak istrinya dan anak-anak buahnya pergi
dari kampung Segerunding, Bantilan (sekarang desa Bantilan itu sudah termasuk
dalam kampung Mensemat Kuajan) dan Pakur (kampung Mensok yang disebut
orang juga Solor Biding dan dikemudian sekali bernama Solor Medan).
Pada suatu hari bermufakatlah tiga orang petinggi dari desa-desa tersebut dengan
Kyai Dipa Sari dan para pengikutnya, di antara lain-lain adalah keputusan dari
permuasjawaratan itu tadi, ialah mereka itu sekaliannya sudah menetapkan janjinya
masing-masing akan setia, yaitu sehidup dan semati dengan Raden Sulaiman
sekeluarga itu dan mereka, tidak sekali-sekali akan membiarkan beliau sekeluarga
itu terlantar ditengah perjalanannya, walau bagaimanapun bahaya atau rintangan

yang akan menimpa kepada diri mereka itu, melainkan diterimanya dengan ridho,
asal saja Raden Sulaiman sekeluarga itu mujur selamat, begitulah bunyi ikrar
perjanjian diantaranya masing-masing itu. Dengan suara bulat kemudian mereka itu
pun lalu dengan serempak bersama-sama datang menghadap kepada Raden
Sulaiman suami istri itu akan mempersembahkan dari keputusan permufakatannya
itu dari selainnya dari itu adalah maksud kedatangannya itu pula ialah
memohonkan dengan sangat kepada beliau itu supaya mengabulkan permintaan
mereka, permintaan yang mana yaitu mereka sekalian dalam kehulu sungai Sambas
Kecil itu untuk mencari suatu tempat yang lebih baik dan layak dari pada Kota
Bangun itu akan buat dijadikan negeri baru, ialah akan tempat kedudukan apabila
kelak Raden Sulaiman itu menjadi Sultan.
Pendek kata, bahwa atas usul dan anjuran yang mereka sembahkan itu segenapnya
dikabulkan (diperkenankan) oleh Raden Sulaiman suami istri itu, akan tetapi Raden
Sulaiman minta kepadanya hendaklah mereka masing-masing itu sekalian sebelum
berangkat mudik lebih dahullu sekaliannya supaya meneguhkan sumpahnya yang
akan bersetia kepada diri beliau itu. Tidak kami bicarakan disini tentang inti atau
kern dari keteguhan sumpah itu, hanyalah yang kami sebutkan sekadar kulitnya
saja, ialah menurut adat Raja-Raja di zaman itu begini : Sebelumnya mereka
bersumpah maka terlebih dahulu sekaliannya itu mesti meminum air rendaman
keris pusaka negeri barang seteguk seorang dihadapan Raden Sulaiman suami istri
itu, ketika itu ditegaskannya maksud sumpahnya itu dengan lisan bahwa sebagai
suatu jaminan diri mereka masing-masing telah ridho dengan putih hati tulus dan
ikhlas sudah menyerahkan dirinya serta anak istrinya kepada Raden Sulaiman
sekeluarga itu dan di dalam pada itu jika sekiranya salah sekaliannya seorang
diantaranya akan mendurhaka ataupun akan berbuat khianat kepada beliau itu,
maka jiwa mereka dan jiwa anak istrinya jualah yang menjadi tanggungan jawab
atas perbuatan yang mereka lakukan itu.
Kemudian daripada itu maka setelah beberapa hari lamanya rombongan angkatan
Raden Sulaiman itu berkayuh dan berdayung memasuki (memudiki) sungai Sambas
Kecil itu, akhirnya rombongan itu sampai dan berada (berhenti) pada suatu tempat
yang agak bagus letaknya pada pemandangan mereka untuk mendirikan negeri,
yaitu dipinggir muara saka sungai Sabung, ialah anak sungai dari sungai Subah
(sungai Sambas Kecil simpang kiri masuk). Di tmpat inilah didirikan orang rumahrumah serta lengkap dengan kubu dan paritnya lalu diberinya nama tempat ini
Kota Bandir.
BAGIAN KEEMPAT
Sungguhpun sudah boleh dikatakan bahwa keadaan di kota Bandir itu segalasegalanya telah sempurna belaka, akan tetapi hati Raden Sulaiman suami istri
melihat hal itu masih belum merasa senang dan memuaskan, jika kedudukan di
negeri yang baru di takhiskannya itu masih belum diserahkannya kebawah dulu
Baginda Ratu di Sambas (Kota Lama). Dari itu diperintahkannyalah kepada salah
seorang di antara ketiga-ketiga petinggi yang tersebut akan berangkat pergi ke kota
Lama itu buat menghadap menyembahkan hal kedudukan dan keadaan beliau
sekeluarga di Kota Bandir itu kepada Baginda Ratu itu.
Kembali sejenak kita ke Kota Lama.
Adapun perihal keadaan Baginda Ratu Anom Kusum Juda dan negeri Sambas (Kota
Lama) itu sepeninggal Raden Sulaiman sekeluarga pergi mengembara itu, bukannya
negeri itu bertambah ramai dan maju, tetapi adalah sebaliknya, baik dalam urusan
pemerintahan negeri dan maupun dalam pertanian dan perniagaannya kelihatan
makin sehari makin mundur dan kacau balau, malahan negeri pun bertambah

lengang (sunyi), karena rakyat telah banyak yang berpindah kenegeri Kota Bandir
itu, tegasnya hamba rakyat tak kuat lagi buat memikul dan menanggung segala
perintah dan hukuman sewenang-wenang dan bengis yang dilakukan oleh Pangeran
Aria Mangkurat disitu. Hal itu tak mengherankan, karena kasih sayang atau
kesetiaan rakyat itu kepada Rajanya atau pemerintahannya, adalah disebabkan dari
kelurusan dan keadilannya. Demikianlah juga sebaliknya, bahwa kutuk atau sumpah
dan kemurkaan rakyat itu, adalah disebabkan oleh kezalimannya. Rasanya kedua
petunjuk ini, memang telah jamaknya ada berlaku dimuka bumi, tak dapat
dipersalahkan lagi kiranya seperti yang sudah berlaku pada masa itu dinegeri Kota
Lama itu. Alkisah akan perihal itu rupanya semakin lama semakin terasa dan
menjadi perhatian pula oleh Baginda Ratu itu sendiri. Dan disebabkan dari karena
hal itulah kaum keluarganya, terkecuali Pangeran Aria Mangkurat, ialah Baginda
bermaksud dengan segera, akan berpindah kepada tempat yang lebih dulu telah
dipilihnya, yaitu ke desa Selakari buat selama-lamanya.
Maka setibanya petinggi Segerunding di Kota Lama, beliau inilah yang telah terpilih
dulu buat menjadi utusan Raden Sulaiman itu pergi kesitu, kebetulan benar ketika
itu Baginda Ratu dengan angkatannya sudah mustaid tinggal menunggu saat yang
baik lagi akan berangkat ke desa Selakau itu, jadi karena berkenaan dengan
kedatangan petinggi tersebut, lalu diperintahkan Baginda Ratu pula kepadanya
supaya selekas mungkin dia berangkat kembali lagi ke kota Bandir, untuk
menjemput dan memberitahukan hal itu kepada Raden Sulaiman suami istri, lain
dari pada itu maka atas permintaan Ratu dengan segera hilir buat menunggu
kedatangan Baginda Ratu di kota Bangun, karena disitulah maksud Baginda Ratu
akan mengadakan suatu pertemuan sebagai selamat perpisahan kepada saudara
dan iparnya itu. Dan apabila sampai pada hari dan waktu yang telah dijanjikan dan
ditetapkan itu, terjadilah dipertemuan muara sungai Sambas Kecil dengan sungai
Sambas Besar (kota Bangun) itu, suatu upacara hari pertemuan dan perpisahan
yang amat penting dan hebat, yaitu upacara Kerajaan berpisahan dan penyerahan
dari pemerintahan negeri Sambas umumnya kedalam tangan Raden Sulaiman
suami istri oleh Baginda Ratu yang dihadiri oleh para menteri serta rakyatnya,
berhubung dengan tidak sanggup lagi Baginda akan mengendalikan pemerintahan
negeri ini sebagaimana mestinya dan mengundurkan dirinya ke desa Selakau,
karena usia Baginda Ratu itu telah lanjut. Maka dalam upacara penyerahan ini
menurut adat istiadat diantara lain-lain telah diserahkan oleh Baginda kepada
Raden Sulaiman itu, yaitu dua pucuk meriam sedang, tiga pucuk meriam kecil (lela)
dan sekalian alat kebesaran Kerajaan Sambas.
Setelah selesai dari pada melakukan upacara penyerahan itu lalu Raden Sulaiman
suami istri itupun menyembah dan menjunjung duli kepada Baginda dan antara
kedua belah pihak persaudaraan itu masing-masing berpamitan, sejurus kemudian
dari pada itu bergeraklah lebih dahulu perahu angkatan Ratu itu menuju ke arah
muara sungai Selakau, kemudian barulah bergerak perahu angkatan Raden
Sulaiman itu mudik kembali ke Kota Bandir.
Alkisah maka setelah berjalan kurang lebih tiga tahun lamanya Raden Sulaiman
sekeluarga dan sekalian pengiringnya itu diam beristirahat di Kota Bandir itu, maka
atas permufakatan serta persetujuan Raden Sulaiman dan sekaliannya itu juga,
bahwa kota Bandir (ibu negeri Sambas) itu dipindahkannya pula ke hulu sungai
Teberau (anak dari sungai Sambas Kecil simpang kanan mudik), yaitu pada tepi
sebuah lubuk yang dalam dan besar, disitulah didirikannya ibu negeri yang baru itu
dan diberinya nama Kota Lubuk Madung (Kota Lubuk Madung itu sekarang cuma
tinggal namanya saja lagi, tetapi disebelah hilirnya kini ada muncul sebuah desa,
yaitu Lubuk Lega namanya).

Konon kabarnya tiada berapa lama antaranya sesudahnya kota Lubuk Madung itu
didirikan, lalu disitulah juga Raden Sulaiman itu dinobatkan oleh para menteri dan
seluruh raja Kerajaannya menjadi Sultan Sambas dengan gelaran Sultan Mohamad
Tsafiudin, yaitu Sultan yang pertama sekali negeri Sambas ini. Dan begitu juga
saudara-saudara Baginda yang bernama Raden Abdulwahab dan Raden Badarudin
sewaktu baginda dinobatkan, yang tersebut pertama diangkat menjadi wazirnya
dengan gelaran dan nama Pangeran Bendahara Seri Maharaja dan yang tersebut
kemudian dengan gelaran dan nama Pangeran
Tumenggung Jaya Kusuma.
Kemudian manakala 6 bulan lamanya Baginda Sultan Mohamad Tsafiudin I
bersemayam diatas tahta Kerajaan negeri Sambas (di Ibu Kota Lubuk Madung) itu,
lalu Baginda utuskan puteranya (Raden Bima) buat pergi belajar kenegeri Sukadana
untuk menjelang kaum keluarganya dari sebelah pihak bunda Baginda (Ratu Surya
Kusuma). Oleh Sultan Zainuddin yang pada masa itu memerintah di Sukadana, atas
kunjungan dan kedatangan Raden Bima itu disitu, disambut dan dihormati Baginda
dengan gembira serta diperlakukan sebagaimana mestinya penyambutan adat
secara Raja-raja. Baru saja beberapa lamanya (bulan) Raden Bima itu diam di
Sukadana itu atas mufakatan Baginda Sultan, maka Raden Bima ini dikawinkan
Baginda dengan saudara Baginda yang paling muda bernama Puteri Indera Kusuma.
Setelah berkawin Raden Bima itu tinggal diam disitu beberapa tahun sehingga
beliau dengan istrinya itu ada mendapat seorang putera yang diberinya nama
Raden Maliau (mulia) ialah menurut nama sebuah sungai yang bernama Maliau,
sebab puteranya itu dilahirkan dalam kandungan sungai Maliau itulah.
Syahdan manakala Raden Maliau tersebut telah agak pandai berjalan-jalan jatuh
(rebah), maka Raden Bima suami istri itupun bermohon kehadirat Baginda Sultan,
agar beliau laki isteri itu diizinkan boleh pulang kembali ke Sambas, karena ingin
sekali buat menjumpai dan memperlihatkan istri dan puteranya itu kepada
Ayahanda dan bundanya (Sultan Mohamad Tsafiudin I dan Permaisurinya) itu,
karena dari semenjak Raden Bima itu datang ke Sukadana itu sehingga sampai
pada waktu dia bermohon izin itu belum pernah beliau kembali ke Sambas. Setelah
Raden Bima itu mendapat perkenan dari Baginda Sultan sebagaimana yang
diinginkannya, berangkatlah beliau dengan istri serta anaknya dan pengiringnya
berlayar kembali ke Sambas, diantarkan oleh perahu kenaikan dan angkatan Sultan
Sukadana itu sendiri. Tiada berapa lama dalam pelayarannya itu, tibalah perahu
angkatannya itu di jembatan Istana Kota Lubuk Madung, maka putera, menantu dan
cucunya Baginda itu di elu-elukan dan disambut oleh para menteri yang masingmasing dengan istrinya dan segenap rakyat Kerajaan dari segala lapisan dan
golongan dengan penuh kesukaan dan kegembiraan, lebih-lebih lagi kegirangan dan
kesukaan bagi diri Baginda Sultan serta Permaisurinya atas kedatangan yang
tersebut, tak dapat kami akan melukiskannya disini, ternyata sekali dibalai dan
didalam istana berbakul-bakul orang menghamburkan beras kuning kepada Raden
Bima Sekeluarga itu adanya.
Maka setelah Raden Bima itu beristirahat setahun lamanya di Lubuk Madung dari
sejak kembali dari Sukadana itu, kemudian oleh Paduka Ayahandanya diperintahkan
pula kepadanya supaya berlayar ke Negeri Berunai, ialah untuk mengunjungi dan
menjelang kaum keluarga dari sebelah pihak Ayahanda Baginda (Raja Tengah)
disitu.
Adapun akan kedatangan Raden Bima itu di Negeri Berunai sangatlah berasa
beruntung dan berbahagia juga, terbukti dari kehormatan dan penyambutan yang
orang lapurkan disana atas kedatangan beliau, baik dari kalangan kaum bangsawan
dan maupun golongan rakyatnya dan dari sekaliannya itu beliau mendapat minat
dan perhatian yang luar biasa pula kesukaannya.

Oleh Baginda yang dipertuan Negeri Berunai atas kedatangan Raden Bima itu
dibesarkannya dengan diadakannya perayaan bermacam-macam keramaian yang
lamanya tujuh hari tujuh malam, ialah sebagai suatu tanda yang menyatakan
kegirangan hati sanubarinya, karena dari kunjungan ahli bait keluarganya yang
sekali-kali tidak disangkanya datang ke Berunai itu. Dan dalam perayaan itu juga
lalu disana Raden Bima itu dinobatkan oleh Baginda yang dipertuan menjadi Sultan
Sambas dengan gelaran Sultan Mohammad Tsafiudin, selain dari pada itu Raden
Bima itu dianugerahi Baginda kebesaran alat Kerajaan yang berupa paying
keemasan, payung ubur-ubur, tombak cangah, keris, tempat dian, puan dan getar
dan juga berupa tetabuhan seperti keromong, gambang, gong, gendering dan
serunai nafiri serta lengkap dengan para orang pemainnya, yaitu alat kebesaran
Kerajaan Berunai di jaman itu, alat kebesaran tersebut sudah dari semulanya, yaitu
dari Baginda Sultan Mohammad Tsafiudin I turun temurun sehingga sampai
sekarang, masih lazim dipakai selengkap ataupun sebagiannya saja ala kadarnya
dalam upacara peralatan dikalangan kaum bangsawan di kesultanan Sambas,
katanya supaya jangan mendapat tungkal kemali, dan sakatan bangsa dari
padanya, ialah umumnya dipakai dalam masa dan waktu ketika mendapat kesukaan
ataupun kedukaan, umpamanya pada waktu mengadakan perayaan perkawinan
atau kematian. Lain dari pada itu biasanya dipakai juga dalam waktu peralatan
upacara ketika penobatan Sultan-Sultan dan mengangkat menteri-menteri besar
dan kecil dan lain-lain. Dan adalah tiga pucuk lela (meriam kecil) pusaka Kerajaan
Sambas dari ibu negeri Sambas Kota Lama itu, khususnya hanya dipusakai
manakala menobatkan Sultan-Sultan saja. Ketiga-tiganya benda itu dimandikan
dengan air langgir dan kasai, dipayungi dengan payung ubur-ubur dan dibesarkan
dengan alat kebesaran upacara Kerajaan yang tersebut.
1. Lela yang panjang berbuntut itu Raden Sambir namanya.
2. Lela yang besar pendek tidak berbuntut Raden Mas namanya, dan
3. Lela yang kecil pendek tidak berbuntut Raden Kajang namanya.
Sekaliannya alat kebesaran Kerajaan sebagai mana yang tersebut sampai sekarang
disimpankan, dikumpulkan dalam Istana Sultan, diantaranya ada yang telah lapuk,
tetapi diganti pula dengan baru.
BAGIAN KELIMA
Negeri Sambas sekarang didirikan oleh Sultan Mohammad Tajudin (Raden
Bima). Musnahnya ibu negeri Kota Lama dan Negeri Balai Pinang. Sultan
Umar Akamuddin dan Sultan Abu Bakar Kamaludin.
--------------Arkian maka sesudahnya baginda Sultan Mohammad Tajudin itu tinggal diam
beberapa tahun lamanya di negeri Berunai itu dengan hidup penuh kemewahan dan
kesukaan, maka pada suatu hari bermohon dirilah Baginda kepada Yang dipertuan
Berunai (Niangda Baginda) hendak pulang kembali ke negeri Sambas. Pendek kata,
kabarnya belum berapa lama Baginda itu datang di Sambas sepulangnya dari
perkunjungannya ke negeri Berunai tadi itu, timbullah maksud Baginda akan
memindahkan ibu negeri Sambas ini lagi, ialah dari Kota Lubuk Madung itu ketepi
muara Olakan.
Setelah padalah anjuran dan usul Baginda itu, oleh paduka Ayahandanya (Sultan
Mohammad Tsafiudin I) dipindahkannya ibu negeri Sambas ke muara Ulakan itu dan
didirikannya istana pada tepi sebelah Timur dari pertemuan cabang tiga sungai
Sambas Kecil, cabang yang mana disebelah kanan mudik disebut sungai Teberau
dan disebelah kiri mudiknya bernama sungai Subah. Maka ibu negeri kedudukan

Sultan-Sultan Sambas disitu hingga sampai sekarang tetap dari sejak itu tak pernah
berpindah-pindah lagi kelain tempat dengan lain perkataan, bahwa Sultan Sambas
turun temurun memerintah dan beristana disitu mulai dari Sultan Mohamad
Tsafiudin I sehingga Sultan Mohamad Ibrahim Tsafiudin sekarang. Demikianlah juga
mesjid Jami, kantor Kerajaan, rumah para Menteri dan kaum bangsawan pun
sekaliannya dahulu tersiri ditempat itulah. Kemudian apabila sudah selesai dari
memindahkan ibu Negeri yang baru tersebut (negeri Sambas sekarang), yaitu
lengkap dengan Kota dan Kubunya hingga luasnya dari muara Ulakan sampai ke
sungai Betung (sekarang di tepi sungai Betung itu ada tersiri kantor Gubernur
Belanda), oleh Baginda Sultan Mohamad Tsafiudin diangkatnyalah puteranya
Baginda (Sultan Mohamad Tajudin) itu buat menggantikan baginda menjadi Sultan
Sambas, karena baginda merasa dirinya sudah tidak agak kuat lagi untuk
mengendalikan pemerintahan negeri disebabkan usia baginda telah lanjut. Maka
gelaran yang diberikan baginda kepada anaknya itu tak pula dirubahnya, ialah
menurut sebagaimana gelaran yang telah dianugerahkan oleh Yang dipertuan itu
juga, yaitu dengan nama Sultan Mohamad Tajiddin (Sultan yang kedua di Kerajaan
Sambas). Dan adalah ketika itu yang diangkat menjadi wazirnya (Pangeran
Bendahara Seri Maharaja), yaitu Raden Ahmad, Beliau ini putera oleh Pangeran
Bendahara Seri Maharaja (Raden Abdul Wahab saudara muda oleh baginda Sultan
Mohamad) itu.
Selang beberapa tahun kemudian sesudahnya menebalkan atau menobatkan
Baginda Sultan Mohammad Tsafiudin menaiki Singgasana Tahta Kerajaan Sambas,
maka dengan tiba-tiba Ayahanda Sultan Mohammad Tsafiudin itupun mangkatlah
(kembali ke Rahmatullah) karena tuanya dan almarhum ini disebut orang Almarhum
Sulaiman. Maka almarhum Sulaiman ini juga yang pertama sekali dimakamkan di
kota Sambas yang baru saja dibangunkan itu, yaitu dikampung Dalam Kaum. Dari
sejak jaman itu sehingga sampai sekarang ini rupanya makam segala Raja-Raja
yang memerintah dinegeri Sambas, sekaliannya teratur pada masing-masing
tempatnya berkelompok-kelompok, memanjang dari Utara ke Selatan dalam
bilangan kampong tersebut, yaitu disebelah Timur, Tenggara dan Selatan dari pada
Istana Sultan.
Hatta adalah keadaan Negeri Sambas dan rakyatnya didalam masa pemerintahan
Baginda Sultan Mohamad Tajuddin itu dari setahun kesetahun semakin bertambahtambah maju, ramai dan makmur pasar perniagaan dan pertaniannya, begitupun
juga tentang adil pemerintahannya, karena Baginda dan segenap para pegawai
Kerajaannya melakukan barang sesuatu kewajibannya masing-masing, ialah dengan
bijaksana, lurus dan tidak pandang memandang, dari itu akibatnya membawa
kemahsyuran Negeri dan harum nama Baginda sampai keluar Negeri Sambas
umumnya yang mana tinggal kaum-kaum pelaut dan para saudagar diaperi masa
itu datang singgah ke Negeri Sambas.
Dimasa Baginda itulah juga tentang perhubungan silaturahim antara negeri Sambas
dengan negeri Sukadana dan Berunai tak putus-putusnya dari mengutus-ngutus
dan berkirim-kirim bingkisan.
Kembali pula kita sebentar kepada menceritakan perihal ibu negeri Kota Lama dan
Balai Pinang.
Alkisah menurut sepanjang riwayat, bahwa adalah keadaan ibu negeri Kota Lama
semenjak dari berangkatnya Baginda Ratu Anom Kusuma Yuda dulu ke desa
Selakau, Negeri itu makin hari semakin sunyi senyap dan tidak berarti lagi seperti
seperti sebuah negeri bekas diserang oleh geruda lakunya. Sebagian besar dari
penduduknya telah berpindah ke kota Bandir dan juga dulu sudah berpindah sama-

sama mengikut Baginda Ratu ke desa Selakau itu. Pada Umumnya rakyat yang
masih ada tinggal disitu serentak memboikot dan tidak mengindahkan sekali-kali
akan segala perintah yang dijalankan oleh Pangeran Aria Mangkurat kepada mereka
itu. Sungguh satu peristiwa yang sangat menyedihkan dan menghangatkan hati
beliau itu, karenanya selalu kelihatan muka beliau itu merah padam dan matanya
menyolok berapi-api sebab marahnya.
Dari sebab itulah kabarnya tidak berapa lama diantaranya dari sepeninggal Baginda
Ratu berangkat ke Selakau itu, Beliau sekeluarga itupun pergi menyusul pula dari
belakang mengikut baginda berpindah kesana juga. Seperti dahulu telah
disebutkan, bahwa perjalanan angkatan Baginda Ratu itu, sejak bertolak dari kuala
Sambas kebetulan selalu diantar angin baik dari belakang tidak juga berapa lama
tibalah ia dimuara sungai Selakau, terus ia mengarungi sungai itu lebih dalam
sampai ke hulunya dan akhirnya berhentilah ia serta angkatannya itu ditepi sebelah
hilir dari muara sungai Barangan, yaitu anak yang pertama dari sungai Selakau
tersebut. Disitulah Baginda itu mendirikan negeri baru, yaitu lengkap dengan kubu
(benteng) dan paritnya, negeri ini diberinya nama Negeri Balai Pinang.
Konon kabarnya tiada berapa lamanya setelah siap dari mendirikan negeri Balai
Pinang itu Baginda Ratu pun mendapat sakit (gering), dari penyakitnya itu
kesudahannya baginda meninggal dunia, kemudian dari pada itu dengan tiba-tiba
Pangeran Aria Mangkurat meninggal dunia pula dengan tidak semena-mena.
Kedua-duanya Almarhum itu dimakamkan disitu, yaitu di atas sebuah mungguk
yang tepinya terjun curam ke dalam sebuah lubuk dipinggir sungai Selakau yang
kira-kira 170 meter jauhnya dari kota dan kubu negeri Balai Pinang itu (masih ada
sampai sekarang kita dapati disitu pusara Ratu Anom Kusuma Yuda, Pangeran Aria
Mangkurat dan lain-lainnya, demikian juga bekas sisa-sisa Kubu dari Kerajaan itu)
akan tetapi pusara-pusara di Balai Pinang dan begitupun juga di Kota Lama, kini
tidak dimuliakan orang lagi seperti dahulunya.
Maka setelah wafat baginda Ratu itu, lalu dilantik oleh rakyat disitu buat menjadi
Raja, yaitu putera baginda yang bernama Raden Bakut dengan gelaran
Panembahan Balai Pinang. Panembahan itu beristrikan puteri oleh Pangeran Aria
Mangkurat itu yang bernama Raden Mas Ayu Karantika, dengan isterinya ini
Panembahan tersebut ada mendapat anak seorang putera pula bernama Raden
Mas Dungun. Menurut ceritera, bahwa manakala telah wafat Panembahan Balai
Pinang (Raden Bakut) itu, yang pertama kali memerintah disitu, maka oleh baginda
Sultan Mohamad Tajudin diperintahkannya beberapa orang menterinya untuk
menjemput (mengambil) Raden Mas Dungun serta sekalian keluarganya itu disana,
supaya mereka dipindahkan dan diberi tempat kediaman di kota Sambas. Dengan
begitu akhirnya negeri Balai Pinang itu tinggal namanya saja lagi, penduduknya
berpindah ke tempat lain hingga negeri itu menjadi hutan belukar (belantara)
kembali. Begitulah ternyata buruk akibatnya nasib dari keturunan dan
pemerintahan Ratu-Ratu di Kota Lama dan di Balai Pinang itu, yang mana dalam
garis perjuangan hidupnya sedikitpun tidak mendatangkan sukses yang
memuaskan bagi zuriatnya dikemudian harinya. Kedua-keduanya kerajaan tersebut
musnahnya dari muka bumi ini, ialah dimasa Baginda Sultan Mohammad Tajudin itu
memerintah negeri Sambas adanya.
Syahdan kemudian dari pada itu maka setelah beberapa tahun lamanya baginda
Sultan Mohammad Tajudin memerintah negeri Sambas yang senantiasa didalam
kemakmuran, kesentosaan, dan keamanan itu, maka disebabkan dari umur baginda
telah agak lanjut jua, baginda pun meninggalkan negeri yang fana ini kembali ke
negeri yang baka dan wafatnya almarhum itu disebut Almarhum Bima.

Menurut adat istiadat yang galib diadatkan di negeri ini, bahwa akan pengganti
baginda itu diangkatlah oleh menteri-menteri kerajaan buat menggantikan
menduduki singgasana tahta kerajaan, seperti telah maklum, ialah Raden Mulia
(Maliau) putera baginda yang sulung itu, dengan gelaran Sultan Umar Akamuddin
(Sultan yang ketiga).
Adapun baginda Sultan Umar Akamuddin I ini adalah satu-satunya Raja yang amat
adil dan bijaksana menjalankan pemerintahan negerinya, tidak heran hingga
sampai kezaman sekarang terbukti nama baginda itu masih disebut-sebut oleh
rakyat Kerajaan Sambas umumnya dengan sebutan atau panggilan Almarhum
Adil, althans sebutan ini bukan karena dilebih-lebihkan, melainkan telah terletak
pada tempatnya. Setelah baginda mangkat, maka oleh Menteri-menteri kerajaan
dan rakyat ditabalkan menjadi Sultan untuk menggantikan Baginda, yaitu putera
baginda yang bernama Raden Bungsu dengan gelaran Sultan Abubakar Kamaludin
(Sultan yang keempat).
BAGIAN KEENAM
Sultan Umar Akamuddin II, Sultan Muda, Ahmad Tajudin, Sultan Abubakar
Tajudin II, Sultan Muda Ahmad (Putera Mahkota) dan Pangeran Anom.
Syahdan adalah baginda Sultan Abubakar Kamaludin tersebut, tidak berapa lama
memegang pucuk pimpinan Kerajaan Sambas, kabarnya hanyalah beberapa tahun
saja, karena sewaktu baginda itu diangkat menjadi Sultan, baginda sudah berumur
tua. Kemudian setelah baginda meninggal dunia disebut Almarhum Bungsu dan
baginda ini digantikan oleh putera baginda yang bernama Raden Jama (Jamak) dan
adalah gelaran baginda menurut sebagaimana gelaran almarhum paduka ninda
baginda tersebut, yaitu Sultan Umar Akamudin II (sultan yang kelima).
Di dalam masa baginda duduk bertahta di atas singgasana Kerajaan, terjadilah dua
kali hal yang penting hebat dalam kerajaan Sambas, yang pertama ialah
pemberontakan dari distrik tambang emas Cina
kongsie (kolonisten bangsa
Tionghoa) didalam bilangan Loro-Lumar dan Montrado dan yang kedua yaitu dari
perselisihan tapal watas antara negeri Sambas dengan negeri Mempawah. Keduaduanya hal tersebut, akhirnya dapat dipadamkan dengan tidak menumpahkan
setitik darahpun atas kebijaksanaan baginda hal-hal itu diselesaikannya dengan
jalah suluh perdamaian yang memuaskan antara kedua-dua belah pihak. Setelah itu
maka dalam tahun 1760 baginda diberinya izin kembali lagi kepada kolonisten
bangsa Tionghoa tersebut untuk membuka dan mengerjakan tambang emas dalam
bilangan daerah Lara-Lumar dan Montrado itu juga.
Adapun baginda Sultan Umar Akamudin II itu kabarnya konon banyak mempunyai
istri gahara ataupun gundik, diantara lain-lain, adalah permaisuri baginda yang
mendapat gelaran seperti berikut dibawah ini, yaitu :
1. Ratu Sultan
2. Mas Sultan binti Pangeran Mangku bin Pangeran Tambak Baja, asal dari
keturunan Raja-Raja di negeri Landak, dan
3. Mas Aju.
Maka dengan permaisurinya yang pertama (Ratu Sultan) tersebut, baginda ada
mendapat putera bernama Raden Ahmad, dengan permaisuri yang kedua (Mas
Sultan), yaitu Raden Menteri dan Raden Samba dan dengan permaisuri yang ketiga
(Mas Aju) baginda ada mendapat pula putera bernama Raden Pasu, dan Semar.
Selain dari pada itu yang tersebut di atas ini banyak lagi putera-putera dan

begitupun jua puteri-puteri baginda itu, akan tetapi rasanya tak perlu semuanya
disebutkan namanya disini, karena diantaranya tidak memancarkan turunan Sultan.
Allakulihal kelima-limanya putera-putera baginda yang tersebut, silih berganti
berturut-turut menjadi Sultan Kerajaan Sambas, tetapi di antaranya pula hanya tiga
saja yang sesungguhnya menjadi waris Sultan, sedang yang lainnya dua orang itu
cuma menjadi wakil sultan saja.
Menurut yang tersebut dalam silsilah yang disyahkan di kerajaan Sambas, bahwa
zuriat keturunan dari baginda Sultan Umar Akamudin II inilah rupanya yang ramai
dan meriah diketika itu beranak pinak dan ternyata sekali hingga sampai sekarang
ini dari pancaran turunan itu semakin berkembang biak dalam lapangan bangsa
darah-darah Raja di Kesultanan Sambas. Sewaktu baginda masih hidup dan tengah
gasa benar memerintah negeri, pertama-pertama sekali telah dilantik baginda
puteranya yang bernama Raden Ahmad itu untuk memegang kendali pemerintahan
negeri Sambas dengan gelaran Sultan Muda Ahmad Tajudin (Sultan yang keenam).
Akan tetapi malang benar baginda Sultan yang muda ini, sebab baru didalam waktu
enam bulan saja dari sejak baginda itu dinobatkan, baginda pun mendapat gering
keras karenanya lalu meninggal dunia dan disebut Almarhum Gayung.
Baginda Sultan Umar Akamudin II itu meninggal dunia dalam tahun 1779 dan
disebut almarhum Djama, lalu digantikan menjadi Sultan oleh putera baginda yang
bernama Raden Menteri dengan gelaran Sultan Abubakar Tajudin I (Sultan yang
ketujuh).
Sebermula adalah baginda Sultan Abubakar Tajudin I tersebut, hanya ada
mempunyai seorang putera (laki-laki yang tunggal) saja, bernama Raden Atung.
Oleh karena hal itu baginda selalu berfikir, bahwa selagi baginda menjadi Raja
merasa amat perlu selekas-lekasnya mengambil tindakan terlebih dahulu buat
menentukan dan menetapkan siapa kelak akan pengganti baginda menjadi Raja
Sambas. Tak lama kemudian dari pada itu dengan secara resmi segera baginda
angkatlah putera baginda yang satu-satunya itu menjadi Putera Mahkota (Wali Ahli
Sultan) dengan gelaran Sultan Muda Ahmad. Dan ketika itu juga diangkat oleh
baginda menjadi Wazir Kerajaan, yaitu pangeran Anum (saudara muda yang seBapak oleh baginda) dengan gelaran pangeran Bendahara Seri Maharaja, akan
tetapi Pangeran Anum itu lazim menyatakan, biarlah orang menyebutkan diri beliau
itu dengan nama Pangeran Anom saja.
Pada umumnya Sultan Muda Ahmad yang tersebut itulah nanti akan menjadi Raja
Sultan Sambas pengganti S.P.Ayahanda baginda. Akan tetapi cita-cita ini tinggal
cita-cita begitu saja, tegasnya angan-angan baginda itu tidak sampai bagaimana
yang baginda maksudkan, karena baginda Sultan Muda Ahmad yang berhak
mempusakai negeri Sambas ini rupanya tidak lanjut usianya, baginda itu meninggal
dunia lebih dulu dari S.P.Ayahanda baginda, yaitu sedang masih berumur remaja
putera. Dan tidak disisi itu pula bahwa baginda ini tidak meninggalkan puteraputera laki-laki, melainkan puteri-puteri belaka, salah seorang diantara puteriputerinya, yaitu yang bernama Raden Aminah dan adalah Raden Aminah ini puteri
baginda Sultan Muda Ahmad itu dengan isteri baginda yang bernama Daeng Usul
binti Daeng Kelala asal dari keturunan Raja-raja dinegeri Bugis (Sulawesi).
Menurut ceritera, bahwa adalah pada peristiwa baginda Sultan Abubakar Tajudin I
itu menjadi Raja di Sambas, maka pekerjaan dari distrik tambang emas Cina
Kongsie dibilangan Montrado, Lara dan Lumar dan ditempat-tempat yang lain dalam
daerah Kerajaan Sambas dari sebulan ke sebulan semakin bertambah maju dan luas
perusahaannya sehingga prosentasenya dari standar produksinya berlipat ganda
naiknya, malahan bukannya saja ukuran hasilnya bertambah naik, tetapi

pembukaan pekerjaan yang baru juga semakin banyak, seperti jamur tumbuh
dimusim penghujan.
Dari sebab itu upeti buat keuntungan baginda Sultan bertambah banyak, jika
diperbandingkan dengan keuntungan yang diperoleh dimasa ayahanda baginda
menjadi raja. maka manakala Raja-Raja dan Bangsawan-bangsawan dilain-lain
negeri, diantaranya ialah kepala-kepala dari bajak laut (Lanun) yang mahsyur gagah
beraninya seperti Datuk Comerang, Datuk Tama, Datuk Akub dari Negeri Sulu
(Solok), Tengku Syarif Ali dari negeri Siak seri Inderapura dan lain-lainnya
mendengar keuntungan baginda dari sumber emasnya yang terkenal dan yang
payah dicari tandingannya dizaman itu, menyolok mata mereka sekaliannya tertuju
ke Kerajaan Sambas dan bangkitlah hasrat nafsu tamak dihati mereka hendak
merampas Kerajaan Sambas. Akan tetapi kehendak mereka itu masih tertahantahan tegasnya masih tekandung pada batin hatinya masing-masing, dengan
perkataan lain, bahwa keinginannya masing-masing itu masih terpendam dalam
lubuk hatinya, sebab mereka itu merasa takut, segan dan malu terhadap kepada
Pangeran Anom itu, jadi adalah hal keadaan Pahlawan-pahlawan dari nusantara itu,
yaitu sebagai buku' bertemu ruas adanya.
Maka berhubung dengan mangkatnya anakda baginda (Sultan Muda Ahmad) itu
tadi, berarti juga putusnya keturunan baginda Sultan Abubakar Tajudin I itu,
seandainya Baginda nanti meninggal dunia, lalu dari pada itu berhubung dengan
keadaan dalam negeri dimasa itu sedang diselubungi oleh mega mendung, awan
kedukaan dalam suasana pancaroba, kegentingan dan kekuatiran seperti yang
maklum itu, dengan segeranya lalu baginda unjukan dan tujukan saudara baginda
(Pangeran Anom) itu menjadi kandidat (bakal) pengganti baginda kelak kepada
sidang sekalian keluarga sultan. Setelah putus mufakat dan bulatnya timbangan
dari sekalian sekeluarga sultan itu, lalu baginda serahkan hak kewarisan buat
mempusakai Kerajaan Sambas kepada saudaranya baginda sebapak itu, walaupun
sewaktu itu baginda masih ada mempunyai saudara yang lain yang seibu dan
sebapak (Raden Samba') Perunjukan (persetujuan) dan pemilihan baginda memang
terletak kepada tempatnya yang berdasarkan gevul (perasaan) dan bersendikan
keyakinan, karena sebelumnya sudah baginda jalankan penyelidikan yang seksamaseksamanya, sebab adalah ketika itu Pangeran Anom itu sedang berumur muda
belia dan yang sebenarnya cakap buat menggantikan mengendalikan Kerajaan
Sambas dihari yang akan datang, lain dari pada itu ternyata bahwa sekalian pula
bahwa beliau ini seorang diantara keluarga Sultan yang sudah terkenal gagah dan
beraninya serta banyak pengalamannya dari pada saudara-saudara baginda yang
lainnya, karena adalah pengalaman itu guru yang paling besar, kata peribahasa.
Disamping itu lagi adalah Pangeran Anom itu pada masa itu sebagai seorang ahli
pelaut yang ulung dan amat mengagumkan namanya serta bandingannya, beliau
ini suka bergaul dengan segala lapisan penduduk dan last but not least jika
sekiranya Pangeran Anom itu tidak ada hidup pada zaman itu dinegeri Sambas,
tentu sekali Kerajaan Sambas telah jatuh kedalam cengkeraman para Datuk-datuk
Kepala Perompak dari Nusantara yang tersebut ataupun kedalam tangan kongsi
bangsa Tionghoa yang mempunyai distrik tambang emas Cina Kongsi, diantaranya
yang kenamaan seperti, Thai Kong di Montrado, Lara dan Lumar bersama-sama
dengan Kongsi "Sam Toe" di Pemangkat, Seminis dan Sepang. Selanjutnya kami
terangkan dalam bahagian yang ketujuh yang khusus akan keadaan Pangeran Anom
itu agar dapat pembaca ketahui serba sedikit tentang riwayat hidupnya.
BAGIAN KETUJUH

Sultan Mohammad Ali Syafiuddin I, Putra Mahkota (Kroonprins) Pangeran


Ratu Nata Kesuma, Bestuurscommissie, Sultan Usman Kamaluddin dan
Sultan Umar Akamuddin (kedua-duanya sebagai wakil Sultan)
Sebermula adalah Raden Pasa itu sewaktu Sri Paduka Ayahandanya (Sultan Umar
Akamuddin II) itu masih hidup Beliau ini sudah digelarnya dengan gelaran Pangeran
Anom. Maka adalah pendirian beliau itu dari sejak muda turunannya sampai
bergelar dan berpangkat Pangeran Anom itu dengan sengaja telah menceburkan
dirinya kedalam golongan kaum pelaut. Dari pergaulan dalam kalangan itulah beliau
itu dapat belajar bermacam-macam ilmu gaib, seperti ilmu sihir, spiritisme,
telepatic, magnetisme, hypnose, demikian juga ilmu gagah, kebal, silat, cekok dan
lain-lainnya. Dari sebab itu beliau ini terkenal sebagai seorang pelaut yang ulung,
amat bijak dan campin melayari samudera raya, keadaan beliau sebagai seorang
Pahlawan yang tangkas dan gagah berani siap mengorbankan dirinya untuk
kemakmuran tanah airnya dan disisi itu beliau selalu menjalankan taktik dan politik
peperangan dan bukapesitu dalam melaksanakan Pemerintahan Negerinya, artinya
membuka pintu Kuala Sambas buat kemajuan Negeri dan rakyatnya, agar supaya
ekonomi dalam negeri berkembang biak dan disamping itu pula beliau bermaksud
dan ingin supaya perbatasan serta keadaan negeri Sambas bertambah lebar, ramai
dan makmur adanya. Lain dari pada yang tersebut, maka adalah sifat beliau itu
juga sangat merasa senang dan jemu apabila tinggal senantiasa didalam Istana,
dan hampir pada tiap-tiap hari bekerja diantara empat buah dinding yang mana
sedikitpun tak dapat melayangkan pemandangan keluar Negeri.
Beliau berpendapat, bahwa adalah orang yang hendak menjadi seorang tukang
pengemudikan negeri, haruslah ia mengadakan kesempatan dimana waktu yang
agak senggang daripada urusan dalam negeri patut pergi bertamasya keluar negeri
buat belajar menjadi pelayan dan melihat peri keadaan dinegeri orang, agar supaya
jangan sebagai katak dibawah tempurung dan begitulah juga umpamanya seorang
yang ingin hendak menjadi pengajar (guru), bukankah ia harus dulu belajar menjadi
murid dan lain-lainnya.
Buat menyampaikan cita-cita yang terkandung dihati sanubari beliau itu, beliau
senantiasa pergi berlayar mondar-mandir dengan gerombolan armadanya yakni
perahu-perahu layar yang bernama "Krouis dan Fenes" yang ramping dan molek,
yang tak gentar sedikit jua pun mengarungi lautan Cina, Jawa, dan sampai ke Selat
Malaka, negeri-negeri ditanah semenanjung dan lain-lain, yang pada kasat dan
hakikatnya ialah untuk menjaga jangan musuh (perompak laut) masuk kedalam
negeri Sambas. Ditengah-tengah lautan itulah beliau mengintai, menghalau,
menyesar dan menangkap perahu-perahu layar, wangkang dan kapal-kapal layar
kepunyaan siapapun juga yang ditemuinya terus ditawannya dan setelah
diperiksanya muatannya, barulah perahu-perahu itu disuruhnya bawa masuk
kedalam negerinya. demikianlah halnya dan dari karena itu setiap tahun bukan
sedikit bilangannya orang-orang bangsa Tionghoa dan juga hampir segala bangsa
disekitar Nusantara ini dimasa itu masuk tinggal menumpang kedalam perbatasan
negeri Sambas dan bernaung dibawah panji-panji saudara beliau (baginda Sultan
Abubakar Tajudin I) yang telah tersebut dahulu riwayatnya. oleh karena itulah nama
dan gagah perkasa Pangeran Anom itu termahsyur dan kenamaan kesegenap
negeri-negeri disebelah Timur ini pada abad ke 18 itu.
Kabarnya konon jika sekiranya tidak ada hal yang penting benar, jarang sekali
Pangeran Anom itu pulang kembali ke Sambas dan pada suatu ketika kabarnya
sehingga sampai 4 - 5 tahun lamanya beliau itu mengembara dinegeri orang atau
ditengah lautan dan tak pernah kembali kenegerinya, maka apabila beliau merasa
lelah dan capek dari pada melakukan pekerjaan tersebut, beristirahatlah beliau

beberapa musim purnama lamanya tinggal untuk mengaso mengisap udara laut
yang segar bugar di pulau Lemukutan. Pulau itulah rupanya dijadikan dan dipilih
beliau sebagai benteng pertahanan, sebagai pangkalan tempat angkatan pasukan
lautnya dan sebagai gudang untuk persediaan air, makanan, dan alat peperangan
yang lengkap. Seperti yang telah kami sebutkan diatas, dipulau itu juga tempat
kedudukan beliau dalam sementara waktu buat menenangkan pikirannya, yaitu
pada pagi dan petang hari karena dari itu dapat beliau melayangkan
pemandangannya dari jauh kelautan lepas dan kegunung-gunung didaratan
negerinya, dari sebab itu hati yang susah jadi terhibur, payah dan letih yang
menitikkan keringat hijau biru seakan-akan terisap oleh kekayaan alam yang molek
dan amat menarik hati beliau itu.
Adapun letaknya pulau Lemukutan itu dan pulau-pulau yang kecil disampingnya,
seperti pulau Kabung, Pulau Penatah Besar dan Pulau Penatah kecil serta Pulau
Pikah dengan Tanjung Datuk, memang sangat strategis untuk melaksanakan
peperangan, penyerangan dan amat penting buat pertahanan perang untuk
menerjang ke Utara dan ke Selatan serta untuk menyerbu ke Barat.
Diatas sebuah batu yang amat besar menganjur kelaut dalam sebuah teluk dipantai
sebelah Timur pulau Lemukutan itu, dari situ tak ada yang menghalangi mata
memandang kelautan luas yang airnya kebiru-biruan, gemerlapan disinari cahaya
terang bulan purnama raja, desir gelombang yang memecah pada batu itu amat
merdu bunyinya dan menderu berkejar-kejaran diatas hamparan pasir. Maka sinaran
bulan yang gilang-gemilang itu memancarlah menerangi alam jagat, sebentarsebentar dilindungi pula oleh awan mega yang tengah memecah disekelilingnya
sehingga segala daun kayu kelihatan kilau-kilauan yang ditaburi oleh kunangkunang (kelip-kelip) beribu-ribu banyaknya sebagai electrische serie lampen di
gedung bioskop. Pada siang hari sejauh-jauh mata dilayangkan akhirnya bertemu
juga dengan bibir langit, ditempat muka laut berjawat salam dengan kebiruan langit
nirmala. Alun dan gelombang yang berkejar-kejaran dari tengah ke tepi, yang
seakan-akan pantai dirindukan gelombang itu dari setahun kesetahun, dari satu
masa ke satu masa, akan tetapi sudah berabad-abad lamanya masih sedemikian
juga perjumpaan antara pantai laut dengan batu itu. Merdu nian bunyi derau
perjumpaan gelombang itu kedengaran dalam panca indera pendengarnya, maka
disanalah Pangeran Anom itu sedang duduk berunding dengan beberapa orang
panglimanya yangg setia dan cekatan, yaitu sedang duduk mengumpulkan
kepercayaan, keteguhan dan kemauan hati mereka yang bergelora untuk melawan
topan dan badai hidup ditengah perompak laut (musuh) yang merajalela, maka
ganas dan hebat yang senantiasa menggoda pikiran Pangeran Anom itu dizaman
sewenang-wenang, di masa pantas tewas dan ras nang itu, artinya siapa yang tidak
pantas tentu menjadi tewas dan siapa yang tidak berlaku keras tentu saja tidak
menang. Kabarnya masih ada sampai sekarang meriam dan batu-batu yang
tersusun ditepi teluk pantai pulau itu yang dahulu bekas tempat permandian
Pangeran Anom itu.
Berperang menyerang negeri Banjarmasin,
kapal perang "Cendana", negeri Mempawah dan Pontianak
Pada mula-mula sekali Pangeran Anom itu beraksi menyerang negeri Banjarmasin,
serangan yang mana mendapat hasil yang menyenangkan sehingga pihak yang
diserang itu dipukul mundur dan banyak meninggalkan mayat dan terpaksa
melarikan diri ke hulu sungai barito mencari tempat perlindungan. Ceritanya
demikian : "Beliau ada menanggung amanat dari S.P. Ayahandanya, yaitu akan
menuntut bela kematian seorang imam Sambas yang bernama Datuk Imam Yacub".

Adapun pada masa baginda Sultan Umar Akamudin II bertahta di negeri Sambas,
telah menitahkan Imam tersebut pergi berlayar ke Jawa dan banyak membawa
emas, disana akan membeli amfiun (candu) dan barang lain-lain serta disuruh juga
menempa barang-barang perhiasan kepada pandai emas. Setelah itu berhasillah
apa-apa yang dititahkan kepadanya itu, maka dalam pelayarannya hendak kembali
ke Sambas, dapatlah ia angin yang kurang baik, sehingga perahunya jatuhlah
dikuala Banjarmasin. Disinilah ia serta sekalian anak-anak buah perahunya mati
terbunuh serta dan perahu serta barang-barangnya yang tersebut tadi dirampas
oleh suruhan Sultan Adam Banjarmasin. Itulah sebabnya maka Pangeran Anom itu
menyerang negeri Banjarmasin itu dalam tahun 1799, ialah akan menyampaikan
amanah dari S.P. Ayahandanya itu.
Kemudian dari pada itu ditengah pelayarannya dari banjarmasin itu hendak pulang
kepulau Lemukutan, alih-alih Kruis angkatan beliau itu berjumpa dengan sebuah
kapal perang yang bernama "Cendana" kepunyaan Compagnie bangsa Inggris,
maka dengan tidak diberinya kesempatan lagi terus sebagai kilat Pangeran Anom
menggunting haluan kapal itu dan menyerbunya, karena penyerangan yang tibatiba dilakukan oleh beliau dengan taktik yang sangat mengherankan atas
kecakapannya itu, terpaksalah komandan kapal "Cendana" tersebut menyerah
takluk, walaupun yang diserang itu jauh lebih kuat serta lengkap persiapan
persenjataannya dari pada yang menyerang hal itu tidak munasabah dengan akal
pikiran orang, bahwa beliau itu mendapat kemenangan itu. Segala barang-barang
muatan kapal itu habis dirampas beliau dan kapal dengan orang-orangnya
dilepaskannya.
setelah itu beliau masuk kekuala Mempawah dan Pontianak akan menyerang keduaduanya negeri itu, adapun negeri yang tersebut pertama, mendapat kekalahan
yang besar yang menjadi Raja disitu ketika itu ialah Tuanku Panembahan Upu Daeng
Menambon dan sedangkan negeri yang tersebut kemudian, beliau mengikat
perjanjian perdamaian tidak akan serang menyerang. Riwayatnya demikian : pada
waktu armada Pangeran Anom ini masuk kenegeri Pontianak siap menghancurkan
negeri itu, yang disertai dengan sorak sorai, gegap gempita bunyinya seakan-akan
belah bumi karenanya, apabila rakyat negeri mendengar riuh rendah yang
demikian, maka sekaliannya beliau berlari-larian pergi bersembunyi kehulu sungai,
seorangpun tak ada kelihatan puncak hidungnya, sebab datang dahsyat dan
ketakutan melihat angkatan Pangeran Anom itu. Maka atas kebijaksanaan baginda
Sultan Sayid Abdul Rahman Alkadrie yang masa itu bertahta dinegeri Pontianak itu,
dengan segera dititahkannya sekalian istrinya dengan para dayang-dayang inang
pengasuhnya pergi menghadap Pangeran Anom itu dikeruis keanikannya yang
sedang berlabuh ditengah-tengah sungai Kapuas dalam negeri itu dengan
permohonan supaya dibikin saja perdamaian dan persahabatan antara negeri
Sambas dengan negeri Pontianak. Maka manakala Pangeran Anom terpandang
kepada sekalian Istri baginda Sultan Pontianak itu dengan pengiringnya perempuan
belaka serta lengkap dengan alat kebesaran upacara Raja-Raja pada zaman itu, lalu
meresap dan bergelora peri kemanusiaan dan ketabahan hati beliau yang yang
membangkitkan hasrat merupakan belas kasihan lalu permintaan para Istri-istri
baginda Sultan itu diluluskan oleh beliau dan mulai dari sejak itulah Pontianak dan
Sambas tidak serang menyerang adanya.
Maka atas pertolongan Allah SWT dengan tangan besi Pangeran Anom itu
menjalankan kekuasaannya sebagai Elang Laut, dengan tidak memandang ini dan
itu, kian hari kian leluasa mencutukkan jarum tipu muslihat dan kesulitan
peperangan kesekitar Nusantara, tak ada suatu kesempatan yang tak
dipergunakannya dengan baik dan senantiasa mendapat kemenangan yang besar
dan gilang gemilang itu, sehingga sarang-sarang lanun, perompak, pembegal dan

bandit-bandit dapat disapunya bersih, maka pada suatu hari atas panggilan yang
sangat dari saudaranya (Sultan Abubakar Tajudin I) dan juga perlu untuk
mengadakan atau menghentikan lelahnya (mengaso), beliau itu pun berangkatlah
kembali ke Sambas, karena menjelang telah lima tahun lamanya beliau
meninggalkan kaum keluarga di negerinya. Manakala pulau Lemukutan telah
dilepas dibelakang, kebetulan angin menghantar dari belakang buritan, melancarlah
kruis beliau sebagai dilancarkan lajunya melalui kuala Singkawang, Pemangkat dan
masuk kemuara Sungai Sambas Kecil, meninggalkan Kota Bangun menuju kemuara
Ulakan, yaitu tempat Istana Sultan Abubakar Tajudin I itu, ditepi ditengah rantau
dalam perjalanan itu terasa benar oleh beliau akan kekuasaan dan kebesaran Tuhan
yang mempunyai kodrat iradat telah memeliharakan serta menyelamatkan beliau
dari pada segala mara bahaya musibah dan hal ikwal yang dilakukannya diwaktu
yang telah silam dan telah lalunya masanya itu.
Pada waktu beliau sampai ke istana Sultan, ketika itu berkenaan dengan pertukaran
siang dengan malam, ialah suatu saat yang berbahagia dan saat beliau terlepas
dari segala pikiran yang memberatkan pikulannya dan pada senjakala itu beliau
itupun menghanyutkan dirinya dalam arus perasaan yang nikmat dan rahmat dari
Tuhan yang tak ternilai dan sisi itu tentulah tiap-tiap pekerjaan yang telah
dilakukannya, beliau sendirilah yang menanggung jawab pada gelora sukmanya,
hanya Allah SWT yang dapat mengetahuinya. Sepintas lalu telah tampak oleh beliau
perubahan negerinya sedari beberapa tahun yang silam. Bunga-bungaan yang
indah aneka warna sedang berkembang dihalaman istana itu, yaitu seolah-olah
lambang kebesaran dan keberuntungan negeri Sambas ini. Diluar istana angin
malam mendayu-dayu membujuk membelainya. Hawa bunga cempaka putih yang
kuning serta bunga melati gambirpun meraksi memenuhi panca indera penciuman,
dikala itu beliau tengah dikerumuni oleh keluarganya dalam suatu lingkungan yang
mana setengahnya merasa amat rindu karena menjelang lima tahun yang lalu tiada
berjumpa.
Negeri Sambas tiga kali berturut-turut diserang
oleh angkatan negeri Siak Inderapura (Sumatera)
Alkisah maka tiada lamanya beliau Pangeran Anom beristirahat didalam negerinya,
alih-alih pada tahun 1789, datanglah angkatan dari negeri Siak Seri Inderapura
yang dikepalai oleh Raja Ismail menyerang negeri Sambas. Atas serangan ini
terjadilah perguatan dan pertempuran yang hebat dan sengit sekali rakyat Sambas
menangkis pukulan rakyat Siak. Dalam peperangan ini konon kabarnya banyaklah
panglima-panglima diantara kedua belah pihak yang tewas jiwanya dimedan
peperangan, akhirnya serangan itu dapat digagalkan oleh pihak yang diserang
sehingga dengan mendapat kekalahan yang besar sekali. Disebabkan dari
kekalahan itu maka Sultan Siak yang bernama Said Ali merasa amat malu dan
panas hatinya.
Dua tahun berselang dari peperangan tersebut, yaitu dalam tahun 1791, datanglah
pula angkatan yang kuat dan lebih besar dari negeri Siak itu yang dikepalai oleh
Baginda Sultan Said Ali itu sendiri. Dari itu setiap hari bertempurlah rakyat Sambas
melawan kepada pihak Siak, masing-masing menjalankan tipu muslihatnya, taktik,
tipu dan daya peperangan. Perjuangan ini lama mengambil waktu, antara kedua
belah pihak tidak berkalahan, karena sama-sama berani dan kuat. Kemudian pada
tahun 1792 datang lagi angkatan bala bantuan dari negeri itu atas pimpinan Tuan
Said Mustafa. Kabarnya konon adalah angkatan tuan Said Mustafa ini lebih besar
dan lebih kuat dari pada angkatan yang sudah-sudah itu, maksudnya akan
menaklukkan negeri Sambas, diantara lain-lain, ada pula dibawanya seorang
pahlawan yang sudah termahsyur gagah, kebal dan saktinya, yang mana sengaja

diambil dari negeri Aceh, panglima tersebut bernama Aru, yaitu nama dari suatu
tempat (kampung) yang terletak dibagian negeri Aceh itu. Selain dari pada itu
kabarnya bahwa permaisuri dari baginda sultan itupun tidak ketinggalan turut
berjuang juga dalam pertempuran ini, ialah seorang kaum ibu yang sabar pada
zaman itu serta amat pendekar, gagah perkasa sukar akan bandingannya.
Menurut riwayat maka panglima Aru itu berlawan (berpadan) dengan seorang
panglima Sambas yang termahsyur juga bernama Lawang Tandik. Perkelahian
mereka itu tidak pernah berhenti-hentinya sampai tujuh hari dan tujuh malam terus
menerus lamanya, yaitu mengadu ilmu kesaktiannya dan kekuatannya masingmasing tetapi pada akhir perjuangan itu menewaskan jiwanya panglima Aru
tersebut. Karena matinya panglima Aceh itu maka timbullah bintang kemenangan
pada pihak Sambas. Apabila dilihat oleh permaisuri Sultan Siak itu, bahwa panglima
Aru itu telah mati dibunuh oleh panglima Lawang Tandik tersebut, maka secepat
kilat beliau ini menyeburkan dirinya ke gelanggang perjuangan adalah lakunya
penaka seekor singa lepas dari tangkapan, terjadilah perkelahian disitu yang maha
hebat, walaupun pihak Sambas mempertahankan kedudukannya dengan matimatian, tetapi serangan permaisuri yang gagah itu seorangpun panglima Sambas
tidak tahan melawannya, disamping itu bahwasanya panglima-panglima Sambas
telah hampir habis terbunuh olehnya, oleh karena itu pertahanan pihak yang
diserang menjadi kocar-kacir dan lalu mengundurkan ke kubu pertahanan.
Manakala melihat keadaan hal yang sedemikian, bukan muatan marah dan panas
hati serta mendidih darah beliau Pangeran Anom, karena beliaulah yang menjadi
pemimpin agung dalam perjuangan itu, maka dengan tiba-tiba sebagai petir
menyambar, sebuah peluru petunang terbang melayang ditembakkan oleh beliau
itu dengan jitu dan tepat mengenai permaisuri itu, akhirnya keberanian itu terpaksa
ditebus dengan nyawanya.
Setelah permaisuri yang gagah berani dan termahsyur namanya itu meninggal
dunia, sekalian rakyat dan panglima dari pihak yang menyerang itupun berlarian
tunggang langgang dan bertaburan, setengahnya kembali pulang kenegerinya
bersama sama dengan baginda Sultan Said Ali dan Said Mustafa dengan bersedih
hati dan dengan hujan air mata yang bercampur darah, sedang diantaranya ada
juga yang minta nyawa untuk tinggal menetap menjadi rakyat negeri Sambas,
sungguh suatu tragedi yang amat menyedihkan. Kepada mereka yang menetap di
Sambas itu diberikan suatu kampung yang bernama Kampung Tanjung Rengas.
Buktinya masih ada sampai sekarang zuriat keturunan asal orang dari negeri Siak
itu diam dikampung tersebut.
Petunang, yaitu peluru yang didalamnya berisi dengan jisim yang halus (Jin)
sahabat (muakal) beliau Pangeran Anom, Jin itu bernama Bujang Danor, umum
diketahui oleh rakyat Sambas hingga sampai kini.
Keruis, yaitu perahu layar untuk kenaikan Sultan dari Fenes, ialah perahu layar
untuk kenaikan Menteri-Menteri kerajaan. Barangkali sebutan keruis itu mengambil
dari asal perkataan orang Portugis ataupun Spanyol, begitupun juga dengan
perkataan Fenes itu. Keruis itu lebih besar sedangkan Fenes itu kecil, tetapi amat
laju dan perbuatannya bersahaja sekali.
Kongsie "Thai Kong" menyerang Kongsie "Sam Toe Kioe"
Kejadian-kejadian berekor, peristiwa-peristiwa berbuntut dengan sambungmenyambung terus menerus. Dalam pada itu pada akhir tahun 1792 itu juga, ialah
pada kemudian sekali negeri Sambas diserang oleh Angkatan dari negeri Siak yang
dikepalai oleh Tuan Syarif Mustafa itu, maka timbullah perselisihan yang besar

antara Kongsie Thai Kong dengan Kongsie Sam Toe Kioe, karena kongsie yang
tersebut belakangan itu menambang (mendulang) pada tempat yang penting ada
mengandung emasnya dalam daerah dari distrik tambang parit emas Cina Kongsie
yang tersebut pertama. Sebagai telah maklum yang dulu kami telah sebutkan
dalam bagian keenam akan tempat kedudukan (central) serta cabang-cabangnya
(filial) dari masing-masing distrik tambang emas Cina Kongsie tersebut.
Sebetulnya berdiri kongsi-kongsie bangsa Tionghoa itu di Sambas pada zaman itu,
yaitu pada lahirnya saja sebagai merupakan suatu perusahaan akan menambang
emas, akan tetapi pada batinnya terbayang suatu perkumpulan politik yang
hakikatnya akan merampas negeri ini, dari sebab itu perusahaan itu lekas menjalar
dari tumbuh kesegenap tempat dalam negeri Sambas yang buminya ada
mengandung sumber emas, seperti jamur tumbuh dimusim penghujan. Menjalarnya
kongsie-kongsie itu amat pesat kesegenap penjuru, sudut dan pelosok Kerajaan
Sambas, nyatalah seterang-terangnya suasana gerakan politik itu telah lengkap
bersiap sekedar hanya menunggu saat yang baik dalam keadaan genting saja,
karenanya kedudukan negeri ini amat berbahaya terancam sekali, apabila timbul
udara keruh oleh asap meriam, menyebabkan musuh dengan leluasa dan amat
mudah dapat mengepung dan mengurungnya.
Peri keadaan dan jalan pertarungan kongsie-kongsie itu sangat diperhatikan oleh
Pangeran Anom itu dengan siasat perang yang tajam, dari sebab itu selainnya
beliau ini memang dari semulanya telah dimalui dan disegani oleh kepala-kepala
dari kongsie tersebut, akan tetapi amatlah mengherankan, bahwa pada waktu yang
akhir-akhir itu seringkali orang melihat beliau itu mengadakan perhubungan
(kontak) yang rapat dan karib sekali kepada kepala-kepala dari pada keduakeduanya kongsie itu dan dalam sementara itu kedua-kedua pihak kongsie tersebut
itu pun berjuang bertempurlah dengan amat hebatnya yang menggemparkan dan
menakutkan penduduk Sambas seluruhnya.
Setelah sekian lamanya berjalan peperangan itu, ternyatalah pertempuran yang
tidak seimbang kekuatannya ini berakhir dengan kalahnya barisan kongsie Sam Toe
Kioe itu, lalulah kepala dari kongsie ini datang menghadap Pangeran Anom meminta
belas kasihan dan pertolongan beliau dengan berjanji tidak akan mendurhaka
kepada negeri Sambas. Atas permintaan kepala dari kongsie ini dituluskan beliau
itu. Kemudian dari itu majulah kemedan perang angkatan Pangeran Anom yang
digabungkan dengan angkatan kongsie Sam Toe Kioe melawan kongsie Thai kong
itu dipimpin oleh beliau sendiri.
Peperangan kedua-kedua belah pihak sama-sama kuat dan berani. Lapangan
pertempuran menjadi luas dan jauh sampai ke lembah sungai Singkawang, pihak
Pangeran Anom dapat merebut dan menduduki beberapa benteng pertahanan Thai
Kong itu, dari itu banyaklah panglima-panglima dari pihak Pangeran Anom ini yang
tewas jiwanya dimedan perang itu. Akan tetapi amat sayang, dalam suatu
pertempuran seorang panglima yang mahsyur gagah beraninya dan amat disayangi
dan dikasihi beliau telah menghembus nafasnya yang penghabisan. Kehilangan
pahlawan yang gagah berani itu tidaklah melemahkan semangat perjuangan, tetapi
sebaliknya laskar Pangeran Anom semakin nekat menerjang musuhnya dibawah
pimpinan beliau itu sendiri. Kesudahannya pertempuran ini, maka kongsie Thai Kong
itu dapat dikalahkan dan tunduk kebawah cerpu Pangeran Anom itu diambil musuh
dan ditaruhnya dalam kelentengnya di Montrado disembahnya dijadikannnya
berhala (Thaipekong). Maka adalah Tengku Sambo' itu, yaitu asal panglima
peninggalan dari perang Siak menyerang Sambas, dari sejak baginda Syarif Ali
Sultan Siak dulu kembali kenegerinya, dia (Tengku Sambo') itu tinggal menetap di
Sambas dan menjadi panglima pula kepada Pangeran Anom itu.

Demikianlah peristiwa tersebut, boleh dikatakan masa yang sejaya-jayanya dalam


riwayat negeri Sambas dan sebagai suatu saat yang bertuah rasanya tidak
dilupakan oleh rakyat dinegeri ini, bahkan memang, sehingga sewaktu kami menulis
sejarah ini peristiwa itu masih saja menjadi buah bibir rakyat negeri Sambas
adanya.
Dan sekarang, walaupun zaman sudah berganti, muslihat perang sudah jauh
berubah dan teknik sudah sempurna, kita masih juga perlu akan sifat-sifat manusia
yang baik dan abadi sebagai Almarhum Anom itu, sifat-sifat yang tidak boleh tidak
musti ada pada tiap-tiap orang pelaut.
Baginda itu menjadi contoh keberaniannya, almarhum Anom itu bukan saja orang
yang berani, tetapi pun juga seorang pelaut yang pandai dan bijaksana lagi telah
lama mengecap udara laut. Bahkan adalah perbuatan dan tindakan yang dilakukan
baginda itu besar artinya bagi negeri dan rakyat Sambas dikemudian harinya,
karena persoon baginda sebagai seorang pahlawan bangsawan tinggi dan
kwalitetnya sebagai seorang patriot yang hidup ditengah-tengah keluarga Sultan
dalam kesultanan Sambas dan bukan saja baginda termahsyur sebagai panglima
perang, sebagai prajurit, dan sebagai krijgsman, akan tetapi yang terutama baginda
itu termahsyur pula sebagai staatsman dan politicus, sehingga riwayatlah yang
membuktikan kebenarannya.
Oleh sebab itu, jelas dan ternyatalah pada masa ini, jikalau sekiranya Almarhum
Anom itu tidak menunjukkan kejagoannya (gagah beraninya) pada zaman rasnang
itu, tentu saja negeri Sambas ini telah jatuh kedalam tangan orang-orang lain negeri
itu ataupun kedalam tangan kongsie-kongsie dari bangsa Tionghoa tersebut. Dari
karena itu janganlah tuan-tuan pembaca akan mentela dan mengejek-ejekkan atas
perbuatan Almarhum itu, sebab baginda itu sebenarnya seorang Raja yang telah
berbakti kepada nusa dan bangsanya.
Sesungguhnya adalah kasod perbuatan Almarhum itu yang terutama sekali
sehingga sampai menjadi Elang Laut itu atau tegasnya menjadi kepala dari
perampok laut (lanun) itu, yaitu hanya sekedar hendak menunjukkan kepada para
Datuk dan Sultan (kepala-kepala perompak laut) dari negeri Solak, Banjarmasin,
Pontianak, Siak dan lain-lainnya, sebagaimana yang telah kami sebutkan dahulu
ceritanya itu, bahasa baginda itu dan rakyat Sambas umumnya, bukan orang yang
berhati penakut dan bersifat pengecut, sebab terang sekali setelah mereka itu
mengetahui akan kegagahan dan eberanian baginda itu serta rakyatnya, lalu
mereka masing-masing itu berlutut membawahkan dirilah serta bertobat dari pada
menganiaya rakyat Sambas lagi. Dan disamping itu pula masuklah mereka itu diam
menumpang di negeri Sambas dan diberikan oleh baginda kepadanya masingmasing suatu tempat, yaitu kampung yang bernama Nagur untuk tempat kediaman
panglima-panglima dari negeri Solok (Sulu), kampung Tanjung Rengas untuk
panglima-panglima dari Siak Seri Inderapura dan kampung Bugis untuk panglimapanglima dari negeri Bugis (Celebes), tinggallah mereka itu disitu dengan beranak
pinak dan sedangkan diantaranya yang masih lagi akan menjalankan perompakkan
kembalilah mereka itu kenegerinya masing-masing.
Negeri Sambas kalah diserang (dipukul) oleh compagnie bangsa Inggris
tahun 1812 - 1813
Hatta maka kira-kira selang tahun kemudian dari pada itu, atas pertolongan dari
beberapa orang nelayan (penangkap ikan) yang setia dan berbakti pada negeri,
dapatlah diketahui bahwa dikuala Sambas telah datang angkatan kapal perang
compagnie Inggris hendak menyerang Sambas.

Setelah disembahkan mereka itu akan hal itu kehadirat baginda Sultan Abubakar
Tajudin I, maka dengan tergesa-gesa diperintahkan oleh baginda kepada para
menteri-menterinya buat menjaga dan mengepalai hamba rakyat bekerja dengan
selekas mungkin membendung dan menimbuni batu kedalam sungai Sambas Kecil,
yaitu ditentang kampung Sebatu, yang gunanya akan buat menyusahkan dan
menghalangi supaya jangan sampai mudah apabila kelak kapal perang Inggris itu
masuk dari jalan itu dengan leluasa langsung kedalam negeri.
kemudian apabila telah selesai hamba rakyat dari menyelenggarakan pekerjaan
tersebut, ditepi sebelah kanan dan kiri sungai itu yang tidak jauh dari bendungan itu
tadi diperlengkapi pula dengan kubu pertanahan yang kuat serta dikawali oleh
panglima-panglima dan rakyat yang pilihan siang dan malam. Pekerjaan ini ada
memberi hasil yang baik, sebab dari sejak pekerjaan itu siap dikerjakan sudah
beberapa kali comandant Inggris itu hendak mencoba mendaratkan tentaranya dari
jalan itu, tetapi niatnya selalu gagal dan mengundurkan diri, karena mendapat
pukulan yang hebat dari orang pengawal kubu pertahanan itu.
Akan tetapi oleh perbuatan beberapa orang rakyat yang berhati busuk dan khianat
kepada negeri dan Rajanya, yaitu barisan yang kelima, mereka itu menjadi spion
dan pandu membawa masuk dan mempertunjukkan kepada musuh itu suatu jalan
yang lain, yaitu jalan dari sebelah belakang, jalan yang mana memang selama itu
tidak diperkuatkan serta tidak juga dijagai, ialah jalan dari sungai Sambas Besar,
dimana kampung Kartiasa sekarang. Dari situ mendaratkan comandant perang itu
dengan bala tentara dan alat perkakas perangnya, berjalan menempuh hutan rimba
yang lebat menuju kebelakang kubu pertahanan yang kedua di tepi sungai Betung
dengan pinggir sungai Sambas Kecil (Sekarang ada berdiri Kantor Government).
Pada hari jumat tengah hari pada tanggal 24 Juli tahun 1812 maka dengan
sekonyong-konyong dan mendadak datanglah serangan compagnie Inggris itu
merudu dan menghujani dengan pelor kepada belakang kubu yang tersebut
belakangan itu, atas serangan yang tiba-tiba dan sedikitpun tidak disangkakan itu,
tentu saja amat mengejutkan dan mencemaskan serta mengacau balaukan rakyat,
sebab sekaliannya akan menghadapi suatu marabahaya oleh nyalanya api
peperangan yang tak terkira-kira hebatnya itu dan kebetulan pula pada ketika itu
bahwa Pangeran Anom tidak ada dalam negeri, beliau ini sedang berjalan
bertamasya serta bercengkerama kehulu negeri, yaitu kekampung Lundu (dekat
batas negeri Sambas dengan negeri Serawak). Dan disana beliau ini tangan
mendapat gering, karena ditumbuhi penyakit bengkak yang belum mecah pada
kakinya. Oleh menderita penyakit itu beliau tidak bisa kembali dengan segera ke
Sambas. Berhubung dengan hal itu maka para panglima dan rakyat sewaktu itu
merasa amat kehilangan tiang saudaranya untuk memimpin dan mengepalai
peperangan akan mempertahankan negeri dari serangan bala tentara Inggris itu.
Ketika Pangeran Anom itu mendengar berita yang mengabarkan bahwa bala tentara
Inggris itu telah masuk kedalam negerinya, tersimburlah darah panas beliau,
kepadanya dan dengan segera diperintahkannya berangkat ke Sambas, sebagai
gantinya buat memimpin peperangan akan mengakis serta mengusir musuh yang
datang menyerang itu, ialah putera beliau yang bernama Pangeran Muda.
Adapun maksud Pangeran Anom mengirimkan puteranya itu kemedan perang, agar
supaya ada memimpin rakyat dalam melakukan kewajibannya mempertahankan
negeri dan juga supaya rakyat dalam negeri menjadi tinggal sabar dan berlaku
tenteram dalam menempuh gelombang yang maha dahsyat dari pada bahasa api
peperangan itu, sebab adalah Pangeran Muda itu seorang pahlawan yang gagah
berani dan cekatan, dalam perkelahian tidak setapakpun pernah mundur atau surut
kebelakang, memang beliau ini menurut langkah sebagai jejak ayahandanya.

Maka disebabkan kubu yang ditepi sungai Betung itu tidak mungkin lagi dapat
dipertahankan dari desakan musuh, terpaksalah pada malam hari ditinggalkan oleh
para panglima dan rakyat masing-masing pergi dengan secepat kilat melarikan diri
mereka dengan diam-diam dan berlaku sangat berhati-hati sekali menyelundup
menyeberangi sungai Sambas Kecil, sebagai cecak jatuh diatas beras, yaitu
berpindah kepada kubu pertahanan juga paling penghabisan (yang ketiga), kubu
yang mana ada terdiri di sebelah Timur Daya dari kampung Pendawan sekarang.
Setelah kubu sungai betung itu dikosongkan, musuh itupun datang menyerbu kesitu
sehingga dimusnahkannya menjadi umpan api, tetapi seorang pun tidak ada jiwa
yang binasa karenanya. Tak berapa hari dari pada selang kejadian tersebut, musuh
itu mengatur pula barisan pasukannya rupanya bermaksud akan menghancur
luluhkan kubu pertahanan yang ketiga itu. Untuk menangkis serangan itu dengan
segera pasukan Raja digabungkan menjadi satu dalam kubu yang penghabisan,
yaitu pasukan dari kubu pertama (kampung Sebatu') dan pasukan perlarian dari
kubu yang kedua (sungai Betung) dipimpin oleh Pangeran Muda sementara itu
majulah kemedan perang barisan dari pasukan panglima-panglima yang pilihan
dikepalai oleh Pangeran Muda itu sendiri akan mencegah jalan musuh yang hendak
menerjang kekubu yang satu-satunya itu lagi, lalu terjadilah pertempuran yang
sengit dan hebat dalam hutan yang lebat, sementara itu muslihat perang berubah
dengan masing-masing menggunakan perang secara Gerilliya, kabarnya
peperangan secara ini memakan waktu yang hingga beberapa bulan lamanya,
sebab sama-sama bijak dan pandai melakukan taktiknya, pada akhirnya dalam
pertempuran tersebut Pangeran Muda itu atas keberaniannya yang luar biasa dapat
terkepung dalam lingkarang musuh sehingga menemui ajalnya, diantaranya banyak
juga panglima pengikut beliau yang turut mengorbankan dirinya. Biarpun Pangeran
Muda itu sudah meninggal dunia dimedan perang itu, akan tetapi musuh amat
gagal maksudnya hendak merebut kubu yang ketiga tersebut, karena senantiasa
mendapat pukulan yang keras dari barisan Sambas.
Syahdan beberapa bulan lamanya kemudian dari pada meninggalnya Pangeran
Muda itu, maka dari pintarnya comandant Inggris melaksanakan siasat peperangan,
pusat tentaranya dibagi dua, yaitu pasukan yang pertama dijadikannya sebagai
umpan untuk mengelabui pihak barisan Prajurit Raja, sedang pasukan yang lainnya
dengan bersembunyi telah bergerak melewati dari area pertempuran, yaitu maju ke
Timur yang kira-kira 150 meter menyusuri dari tepi sungai Sambas Kecil hingga
sampai ke cabang kanan mudik sungai itu yang bernama Sungai Teberau, disitu
musuh itu membakar sebuah kampung sehingga kampung itu hangus menjadi abu.
Setelah itu musuh itu bergerak maju ke Barat Laut akan mengepung Kubu yang
ketiga itu dari sebelah samping. Disebabkan dari hal yang sedemikian maka
keadaan kubu yang ketiga itu jadi terancam oleh bahaya, disisi itu berhubung pula
dari ketiadaan pemimpinnya lagi, dari karena itulah kemauan panglima-panglima
akan berperang sudah menjadi semakin surut, kesudahannya pada awal tahun 1813
diatas kubu itu dinaikkan oranglah bendera putih sebagai suatu tanda bahwa negeri
telah tunduk (kalah) kepada Compagnie Inggris itu.
Sampai pada masa ini masih ada bekas sisa dari kubu pertahanan yang ketiga itu
disebelah Timur Daya dari kampung Pendawan sekarang dan begitu pula bekas
kampung yang telah dibakar orang Inggris itu ditepi sebelah kanan mudik sungai
Teberau itu hingga sampai kini dinamai kampung Angus adanya.
Syahdan menurut sepanjang cerita maka tatkala Pangeran Anom mendengar kabar
berita yang menyatakan bahwasanya negeri Sambas telah kalah berperang dengan
Inggris itu dari selain dari itu beliau mendengar pula akan kesetiaan dan
keperwiraan puteranya yang telah terpaksa ditebusnya dengan mengorbankan
jiwanya dalam mempertahankan negeri nya itu, dengan seketika itu juga naiklah

darah pahlawannya, mendidih panas hatinya, gementar tubuhnya, menduri pori


bulu romanya, bersengit, mengerekat giginya dan menggenggam-genggamkan
tinjunya, sebagai hendak melompat berlari kembali ke Sambas lakunya, karena
memikirkan perihal yang telah terjadi itu dengan retak nasib peruntungan
puteranya kaum keluarganya dan negeri kekuasaannya, yang mana seakan-akan
putus pengharapan dan hilang lenyaplah segala kelezatan hidup didunia ini
baginya, ketika itu beliau merasa dirinya tidak lagi berada diatas buana yang luas
ini. Sementara itu mengalirlah keringat dingin dari tubuhnya, beliaupun tersadar
dan telah reda kemurkaannya itu, kemudian datanglah baginda fajar keinsyafan,
kesabaran dan teringatlah beliau akan keadaan dirinya yang mana pada waktu itu
sendi anggotanya masih lemah lunglai dan badannya belum segar kembali, karena
baru saja sembuh dari pada geringnya dan pada saat itu pula beliau terkenang akan
penanggungan hidup yang berat dan akan menghadapi suatu marabahaya yang tak
terkira kira hebatnya yang akan dideritanya pada masa yang akan datang kelak,
dari sebab itu beliau bermaksud lebih baik tinggal diam dikampung Lunduk dari
pada kembali ke negerinya, seperti diatas sudah kami sebutkan juga ceritanya,
bahwa dari sejak negeri Sambas dilanggar bangsa Inggris hingga sampai kepada
negeri tersebut kalah, adalah Pangeran Anom itu dan keluarganya masih tinggal
dikampung tersebut. Sehabisnya beliau bercengkeramadan bersuka-sukaan, seperti
berburu rusa, menuba ikan dan lain-lain, disana Pangeran Anom itu mendapat sakit
bengkak pada kakinya dan penyakit ini lama baru sembuh, kemudian beliau
mendapat pula sakit demam panas yang agak keras, dari sebab itulah beliau
terpaksa hingga beberapa bulan lamanya tinggal dikampung Lunduk itu.
Alkisah maka setelah negeri Sambas dalam cengkeraman Compagnie Inggris
tersebut, comandant kapal perangnya itupun datanglah menghadap ke istana akan
belajar kenal kepada baginda Sultan Abubakar Tajudin I dan juga kepada Pangeran
Anom. Oleh karena waktu itu Pangeran Anom ini masih berada dikampung Lunduk,
comandant tersebut lalu memohonkan atas pertolongan Baginda Sultan, agar
supaya dengan segera baginda memerintahkan
pada menterinya buat
menyinggahi Pangeran Anom itu disana dibawa kembali ke Sambas dan disitu
diterangkannya maksudnya yang dia amat perlu benar akan berjumpa dan melihat
wajah Pangeran Anom (pahlawan Sambas) yang ulung itu yang telah mahsyur dan
tersiar namanya disekitar Samudra Raya. Buat akan memenuhi atas permintaan
Pembesar tadi itu, pada hari itu juga baginda Sultan perintahkan kepada 4 orang
Datuk Kyai serta berpuluh-puluh orang pengiringnya dengan lengkap alat upacara
Raja-Raja dizaman itu pergi menjemput dan menyinggahi P. Pangeran Anom dan
keluarganya itu kekampung Lunduk tersebut. Setelah Pangeran Anom serta
keluarganya berada kembali di Sambas, dengan segera beliau pergi hilir dengan
bedar kenaikannya akan menjumpai pembesar Inggris itu dikapal perangnya.
Dikapal itu lama juga beliau bercakap-cakap dengan pembesar itu dengan ramah
tamahnya dan pada keesokan harinya datang pula tamu agung itu ke istana
saudara beliau itu (Sultan Abubakar Tajudin I), ialah sebagai membalas akan
kedatangan P. Pangeran Anom itu kemaren, disitu diantara lain-lain pembesar
tersebut sudah berjanji pada beliau, katanya bahwa akan peristiwa, yang telah
kejadian yang sekali-sekali tak diinginkannya itu dan pertemuannya dengan beliau
ini, segala-galanya nanti akan disampaikannya kepada Pemerintahnya yang
tertinggi di betawi. Selain dari itu katanya bahwa tidak juga berapa lama kiranya
nanti datang kesinilah suatu utusan yang khas dari pemerintah di Betawi, melulu
untuk mengikat tali persahabatan kepada baginda Sultan dan P. Pangeran Anom
dan juga tentang perjanjian dagang. Pada kemudiannya sekali sebagai penutup
pembicaraannya pembesar itu mengucapkan selamat tinggal pada baginda Sultan
dan Pangeran Anom itu, karena katanya besok sore dia akan berangkat terus pulang
kembali ke Betawi dengan segala angkatannya.

Begitulah riwayatnya negeri Sambas kalah diserang oleh Compagnie Inggris, akan
tetapi jika seandainya P. Pangeran Anom itu ada di Sambas dan dalam keadaan
sehat afiat badannya, kami rasa negeri ini susah akan dikalahkan oleh musuh, siapa
jua pun. Konon kejadian yang tersebut itu, ialah suatu kejadian yang luar biasa
hebat dan negerinya selama riwayat negeri Sambas berkembang, perihal itu
sehingga masih sampai kini menjadi peringatan dan sebutan orang-orang tua,
katanya, hijjerat negeri kalah, dan kejadian itu, ialah juga sebagian malapetaka
yang berhubung dengan akibat penyerangan dan perampasan kapal perang
"Cendana" seperti yang telah lalu uraiannya diatas ini.
Alkisah tiada berapa lamanya Pangeran Anom berada di istana saudaranya, lalu
beliau diangkat dan digelar menjadi Pangeran Bendahara Seri Maharaja dan juga
dikandidatkan buat jadi pengganti Sultan (bacalah cerita ringkas dalam bagian
keenam).
Syahdan kemudian dari pada itu maka dengan takdir Allah yang maha kuasa oleholeh baginda Sultan Abubakar Tajudin I itupun berlindung (wafat) dengan tak
semena-mena pada 20 hari bulan Ramadhan tahun 1229H disebut almarhum
Janggut, sebagai telah maklum seperti lalu kami telah sebutkan uraiannya,
berhubung dengan bunyi dan menurut sepanjang amanat almarhum Janggut itu,
ketika itu juga oleh kaum keluarga Sultan dan hamba rakyatnya dinobatkanlah buat
pengganti Sultan, ialah Pangeran Bendahara Seri Maharaja tersebut, dengan
pangkat dan gelar Sultan Mohamad Ali Safiudin I, yaitu sebagai sultan yang ke-8,
dalam tahun 1815.
Pada waktu itu juga diangkat buat menduduki kursi Wazir kerajaan ialah :
1. Saudara baginda bernama Raden Samba digelar Pangeran Bendahara Seri
Maharaja dan,
2. Saudara kandung oleh baginda yang bernama Raden Semar digelar Pangeran
Tumenggung Jaya Kusuma.
Maka berkenaan dengan keangkatan Sultan Mohamad Ali Safiudin I itu menduduki
tahta singgasana Kerajaan Sambas, dalam tahun 1815 itu juga datanglah ke
Sambas sebuah kapal kepunyaan orang Inggris yang bernama "Borneo". Kapal itu
ada membawa bingkisan yang berupa sehelai besla ketetapan pengakuan dan
pengesahan hak Pangeran Anom itu sebagai Putera Mahkota dan mempusakai
Kerajaan Sambas turun temurun dari pada Pemerintah Tertinggi di Betawi
(Engelsche Tussen Bestuur).
Konon kabarnya sewaktu kapal itu hendak berlayar kembali ke Betawi, karena
kurang awas juru mudinya, tiba-tiba dalam sungai Sambas Kecil di tentang
kampung Sebatu sekarang, terlanggarlah haluan kapal itu pada batu, sehingga
kapal itu pecah disitu. Batu itu yang kena langgar itu kabarnya sisa (bekas) kubu
pertahanan negeri yang ditembokkan oleh hamba rakyat untuk membendung
sungai itu dizaman peperangan dengan Inggris menyerang Sambas. Masih ada
sampai sekarang kerangka dari sisa bagian kapal borneo tersebut dalam sungai itu
menjadi pusaka.
Adapun pada peristiwa baginda Sultan Mohamad Ali Safiudin I ini mengendalikan
pemerintahan negeri Sambas, keadaan diluar dan dalam negeri aman, sentosa
menjadi bertambah-tambah maju dan makmur dari pada masa yang telah lalu.
Diwaktu itu seringkali orang melihat bahwa baginda ini senantiasa berpakaian
secara seorang Raja ditanah Bugis tulen. Baginda beristrikan :
1. Tengku Utin yang berasal dari keturunan Raja dinegeri Siak Seri Inderapura
( Sumatera)
2. Mas Perbu, dan

3. Mas Keraton.
Dari permaisuri baginda yang tersebut pertama itu baginda ada mendapat seorang
putera bernama Pangeran Muda, dari permaisuri yang kedua seorang putri bernama
Raden Kencana dan dari permaisuri yang tersebut kemudian (ketiga) baginda ada
mendapat dua orang putera bernama Raden Ishak atau nama timangannya Raden
Kelukuk dan Raden Ruai. Lain dari pada yang tersebut ada lagi istri-istri dan puteraputera dan puteri-puteri baginda ini, akan tetapi tidak ada pecahan zuriatnya yang
berlakon penting dalam riwayat hidupnya masing-masing.
Syahdan maka beberapa tahun lamanya baginda tunggu-tunggu akan kedatangan
utusan Inggris ke Sambas, sebagai mana dulu dijanjikan oleh comandant kapal
perang, akan tetapi tunggu punya tunggu sia-sia menjaring angin saja atau seperti
pepatah bilang "tunggu-tunggu sungai tidak berhulu" apatah lagi akan
kedatangannya, sedangkan kabar beritanya pun selama itu tak ada diterima dari
semenjak besluit yang dibawa oleh kapal Borneo yang pecah itu. Baginda sangat
kesal mengenangkan hal itu, hal yang mana sebagai punaka parang menyelam
beliung dan apakah sebabnya yang sampai menghalangi kedatangannya itu, tiada
seorang juapun yang dapat menerkanya. Akan tetapi sungguh begitu halnya,
namun baginda tiadalah padam bara pengharapannya. Maka bermusyawarahlah
baginda dengan para Pangeran Datuk Kiai dan kaum keluarga baginda, bertempat
diistana baginda untuk menimbang pembicara tentang hal persahabatan dan
perjanjian dagang yang akan dilakukan nanti kepada utusan pemerintah Inggris itu,
sebab baginda berpendapatan, bahwa soal tersebut harus dengan secepat mungkin
diselesaikan.
Pada majelis persidangan agung ini diantara lain-lain baginda bersabda sebagai
memberi pemandangan kepada para hadirin diwaktu itu, bahwa baginda telah
beberapa lamanya mengalami serta menjalankan tipu muslihat peperangan dan
diwaktu yang akhir sekali itu sudah terbayang dikala baginda merasa sangat perlu
lebih dulu mengatur persiapan organisatie militair untuk menjaga prestige turunan
baginda dikemudian hari dan juga untuk kepentigan pertahanan negerinya, karena
dimasa itu pihak Tionghoa semakin banyak mendirikan kongsie yang baru dan
besar dan disamping itu mereka semakin mendesak merebut jalan penghidupan
rakyatnya. Dari sebab itulah baginda mendapat perhatian yang baru yang mana
harus mengubah sikapnya yang lama dan merasa lebih perlu seleka-selekanya akan
mengikat tali persahabatan dan perjanjian perdagangan kepada Pemerintah Inggris
itu. Usul baginda tersebut dengan serentak disetujui dan di junjung tinggi oleh para
hadirin itu.
Begitulah tajam siasat dan jauh pemilikannya baginda Sultan Mohamad Ali Safiudin
I itu, sebab sebelumnya kejadian suatu apa, dia sudah tahu lebih dahulu akan
jangkanya dan selain dari itu baginda sudah pula tahu bahwa turunannya (anak
cucunya) kelak tidak ada yang bersifat gagah berani sebagaimana baginda itu,
karena itu pastilah dihari yang akan datang Kerajaan Sambas akan dirampas oleh
Kongsie Tionghoa. Hal itulah rupanya baginda tergesa-gesa akan mengikat
perjanjian persahabatan tolong- menolong kepada pemerintah yang bertangan besi,
agar supaya dibelakang hari turunannya mendapat perlindungan yang kuat.

Pangeran Tumenggung Jaya Kusuma (Raden Semar) berangkat ke Jawa


Maka Pada suatu ketika hari tengah terang cuaca, berkenaan dengan musim
kemarau, teduh ombak dilautan dan setiap waktu berembus amat kencangnya
angin Selatan. Menurut pengalaman ahli pelayar-pelayar, bahwa pada musim
tersebut, agak sentosa perahu berlayar dari pantai Borneo Barat menuju salah satu
pelabuhan di pulau Jawa, sebab selalu dihantar atau dipukul angin yang datangnya
dari sebelah buritan perahu. Maka saat yang baik itu sultan Mohamad Ali Safiudin I
itu, tidak dibiarkannya lalu dengan begitu saja, pada waktu itulah diperintahkan
baginda pada adinda baginda, yaitu Pangeran Tumenggung Jaya Kusuma (Raden
Sema), berangkat berlayar dengan perahu ke Betawi, sebagai utusan dan wakil
baginda dengan Pemerintah Inggris disana. Kepada saudaranya itulah rupanya
tempat baginda melimpahkan segenap amanah masalah yang tersebut diatas tadi
dan disisi itu baginda berikan kesempatan pula kepada saudaranya itu buat
bertamasya atau melawat yang dianggap baginda amat penting artinya untuk
meluaskan pemandangan saudaranya itu adanya.
Adapun kisah pelayaran Paduka Pangeran Tumenggung Jaya Kusuma ke Betawi
tidak usah kami panjangkan uraiannya disini, karena pembaca sudah maklum
bahwa keadaan pelayaran dengan perahu layar dizaman itu amat lama
mempergunakan waktu. Pada umumnya apabila perahu telah mengarung ditengah
lautan lepas disitu tidak ada yang tampak lagi oleh kita, selainnya dari air dan muka
laut dan langit, kalau tak mujur pelayaran maka bahaya yang datang menimpa,
seperti dapat angin sakal, dipukul ribut, gangguan bajak laut (lanun), dimasa itu
lautan bersimaharaja lela ataupun kadang-kadang ditimpa oleh kemalangan yang
lain, umpamanya dapat kebocoran, jip dan tiang perahu patah, kemudi jatuh,
karena tidak berpengalaman yang sempurna tujuan perahu kesasar dan lain-lain
sebagainya.
Pendeknya manakala beliau itu telah tiba dengan selamat dibandar Betawi, ketika
itu hatinya merasa sangat cemas dan heran, karena disitu tidak ada lagi pemerintah
Inggris, rupanya sudah bertukar dengan pemerintah yang lain, yaitu Ost Indische
Compagnie Belanda. Akan perubahan pertukaran itu memang dari semulanya
sekali-kali barang sedikitpun tidak ada terlintas dalam hati sanubarinya. Jadi lain
orang yang berjanji, lain orang pula yang akan dijumpainya. Oleh perubahan itu
beliau bermaksud tidak akan berlena-lena tinggal di Betawi, karena beliau
mengetahui bahwa suasana pertukaran pemerintahan yang sedang hangat itu,
amat penting lebih cepat disembahkannya lebih cepat kepada Rajanya, lebih cepat
Rajanya mengetahui kabar itu kiranya semakin lebih baik, disamping itu beliau
merasa adalah dirinya diwaktu itu menjadi sebagai seorang utusan yang khas dari
seorang Raja kepada Pemerintah dari Kerajaan Bangsa lain yang sudah bertukar
kepada lain bangsa pula pemerintahnya. Dari sebab itu tiada berlengah-lengah lagi
pergilah beliau menghadap mengunjungi P. Tuan Regeeringscommissaris
pemerintah disitu membawa kabar officieel atas titah dan perintah Rajanya. Setelah
beliau menyembahkan segala pembicaraan yang perlu-perlu sebagaimana maksud
serta kehendak Rajanya itu, kemudian beliaupun memaklumkan kepada P. Tuan
Regeeringscommissaris itu, bahwa beliau tidak lama tinggal disitu dan dalam
beberapa hari lagi saja akan kembali ke Sambas.
Maka pada suatu hari sebelum beliau mendapat izin buat berangkat kembali
kenegerinya, ketika itu beliau duduk beristirahat dan bersenang-senang dirumah
penginapannya dihadap oleh para pengiringnya, maka tengah beliau duduk itu
terlintaslah dalam hatinya kepada beberapa hal yang menjadikan pikirannya
terombang-ambing dalam ombak angan-angan yang menggelorakan sukmanya
pada masa beberapa tahun yang silam, waktu yang lampau itu rupanya sangat

menarik perhatian beliau, bahwa beberapa tahun itu suatu masa yang sekejap
dalam riwayat suatu bangsa dan dalam waktu sekejap itu mereka telah membuat
perubahan tukar-menukar dari sebuah pulau ke sebuah tanah yang lain, tentulah
perbuatan dan kehendak mereka itu menurut aliran pendapatan persoonlijke
ervaringen dari ahli pemimpin negerinya masing-masing, baru sampai disitu pikiran
beliau
itu
melayang-layang,
tiba-tiba
datanglah
kesitu
P.
Tuan
Regeeringscommissaris menjemput beliau dan terus beliau dibawanya kegedung
tempat persediaan alat senjata peperangan. Dalam gedung itu penuh dengan
bermacam-macam kaliber meriam, senapan dan obat bedil serta zirah (baju
berantai) dan lain-lainnya, maka dengan serta merta ditanyakan oleh Tuan itu
beberapa pertanyaan kepada beliau ini, antara lain begini : "Tuan Pangeran! apa
adakah alat senjata yang begini lengkapnya dinegeri Tuan? pertanyaan itu dijawab
dengan sebenar-benarnya oleh beliau itu, yaitu beliau mengatakan : "Tidak ada,
Tuan!" dan demi beliau melihat persediaan alat senjata peperangan yang begitu
banyaknya, menjadikan bertambah heran dan takjub dihati beliau itu, karena
dinegerinya alat senjata peperangan yang selengkap itu tidak ada.
Beberapa hari kemudian, setelah itu, beliau menyuruh berkemas-kemas kepada
pengiringnya, sebab akan berangkat ke Sambas.
Syahdan maka manakala beliau telah berada datang di Sambas, segala hal ikhwal
dalam perjalanannya itu sedikitpun beliau tidak lupa, sekaliannya disembahkannya
kebawah duli paduka kakandanya (Sultan Mohamad Ali Safiudin I) itu adanya.
Maka tidak berapa lama antaranya dari sejak P. Pangeran Tumenggung Jaya Kusuma
itu tiba, datanglah pula di Sambas P. Tuan Regeeringscommissaris dengan kapal
perang untuk mengikat tali persahabatan dan kontrak perdagangan specerijen
antara Sultan Mohamad Ali Safiudin I dengan Oost Indische Compagnie dan juga
didirikannya di Sambas sebuah Loji.
Diperbuat kontrak itu pada 3 februari 1819 dikunci oleh paduka tuan Mayoor
Nahuijs (Regeeringscommissaris) tersebut. Baginda Sultan Mohamad Ali Safiudin I
ini lah yang pertama sekali dari antara Sultan dinegeri Sambas mengikat kontrak
dengan Pemerintah Belanda (O.I.C) dalam abad pertengahan (abad ke 18).
Kemudian dari pada itu maka pada 2 september tahun tersebut, dengan kerelaan
Gubernur Jenderal diperbaiki pula bunyi kontrak itu tadi dalam bahasa melayunya,
tegasnya mana-mana perkataan dalam bahasa Melayu yang tak selaras (cocok)
maksudnya dalam bahasa Belandanya sekaliannya dipersuaikan (disamakan
artinya) dan disisi itu ditambah pula dengan beberapa artikel (pasal) lagi, yaitu
yang berkenaan serta layak menurut keadaan masa itu, dikunci dan dimateraikan
oleh P. Tuan R.J. Rusler Commissaris Pemerintah ditanah Borneo dan oleh P. Tuan
Goedman Assistant Resident di Sambas. Dan kemudian sekali berhubung dengan
pentingnya gelagat perubahan zaman dan menilik keadaan dalam negeri, sebagai
suatu tindakan dari pemerintah, agar supaya sesuai dengan aliran masa itu, pada
tahun 1823 11 Mei datanglah P. Tuan J.M. Tabias sebagai commissaris Pemerintah
ditanah Borneo mengunjungi negeri Sambas untuk bermusyawarah dengan baginda
Sultan akan menambahi lagi 8 pasal pada kontrak yang tersebut kemudian pada
pasal 15, diantara lain-lain disitu disebutkan dan ditentukan bahwa adalah gaji
baginda Sultan itu dinamai dengan "Pengganti Kerugian" (schadeloosstelling) pada
baginda.
Beberapa kali peperangan yang terjadi sebelum paduka Pangeran Anom duduk
diatas tahta kerajaan Sambas, seperti yang lalu uraiannya itu, memang dengan
sengaja tentang kejadian-kejadian itu kami uraikan dengan sesingkat-singkatnya,
ialah kami ambil sekedar kesimpulannya saja. Sudah tentu banyak yang belum kami

ceritakan ataupun dengan sengaja kami lampaui, sebab kami rasa kurang perlu.
Oleh sebab itu kami rasa tentu berita-berita peperangan itu tidak memuaskan bagi
yang membacanya. Hal ini tak mengherankan, karena adalah tujuan kami yang
sebenarnya menulis riwayat ini tidak melulu buat menceritakan peperangan itu
dengan selengkap-lengkapnya, melainkan maksud kami hanya sekedar untuk
membangunkan minat pembaca atas pahlawan Timur dizaman purbakala itulah
saja, karena sepanjang hemat kami patut benar-benar sebagai baginda Sultan
Mohamad Safiudin I itu akan mendapat sebutan Jago Borneo seluruhnya dimasa itu.
Tatkala itu baginda telah berumur lanjut (tua), maka berpalinglah baginda dari pada
perbuatan yang garang itu, akan tetapi tentang kebijaksanaan, siasat dan
penilikannya semakin jauh dan tajam. Baginda dirikan sebuah masjid Jami disebelah
kanan istananya serta beberapa surau dalam kota, kemudian baginda perintahkan
dengan keras kepada hamba rakyatnya buat mengerjakan suruhan agama Islam.
Setiap waktu orang melihat baginda itu tengah berkhalwat (mengasingkan dirinya
untuk tapakur).
Mudah-mudahan Allah SWT ampunkan dosa baginda yang dimasa mudanya, karena
sepak terjangnya dalam garis perjuangan hidupnya dalam mengabdikan dirinya
membela tanah air, memimpin rakyatnya dan kemudian sekali membela agama
Allah, Amin!.
Setelah memegang pucuk pimpinan kerajaan Sambas dari tahun 1815 sampai
tahun 1828 dalam penuh kejayaan serta meruah kemajuan, kemakmuran dan aman
sentosa, maka dalam akhir tahun 1828 baginda Sultan Mohamad Ali Safiudin I itu
pun wafat, disebutkan almarhum Anom.