Anda di halaman 1dari 5

2.

6 Penentuan Hujan Kawasan


Stasiun penakar hujan hanya memberikan kedalaman hujan di titik di mana stasiun berada;
sehingga hujan pada suatu luasan haus diperkirakan dari titik pengukuran tersebut. Apabila
pada suatu daerah terdapat lebih dari satu stasiun pengukuran yang ditempatkan secara
terpencar, hujan yang tercatat di masing-masing stasiun dapat tidak sama. Dalam analisis
hidrologi seing diperlukan untuk menentukan hujan rerata pada daerah tersebut, yang dapat
ilakukan dengan tida metode berikut yaitu metode rerata aritmatik, metode poligon Thiessen,
dan metode isohiet.

1. Metode rerata aritmatik (aljabar)


Metode ini adalah yang paling sederhana untuk meghitung hujan rerata pada suatu
daerah. Pengukuran yang dilakukan di beberapa stasiun dalam waktu yang bersamaan
dijumlahkan dan kemudian dibagi dengan jumlah stasiun. Stasiun hujan yang digunakan
dalam hitungan biasanya aalah yang berada di dalam DAS; tetapi stasiun di luar DAS
yang masih berdekatan juga bisa diperhitungkan
Metode rerata aljabar memberikan hasil yang baik apabila;
a. stasiun hujan tersebar secara merata di DAS,
b. distribusi hujan relatif merata pada seluruh DAS.
Hujan rerata pada seluruh DAS diberikan oleh bentuk berikut:
p1+ p 2+ p 3++ pn
p=
n
dengan :
p
: hujan rerata kawasan
p1,p2,p3,...,pn : hujan di stasiun 1,2,3,...,n
n
: jumlah stasiun
Contoh 2
Diketahui suatu DAS Seperti ditunjukan dalam Gambar 2.8. mempunyai empat
stasiun hujan. Dalam gambar tersebut tiga stasiun hujan berada di dalam DAS sedang
satu stasiun berada tidak jauh di luar DAS. Kedalaman hujan di stasiun A, B, C, dan D
berturut-turut adalah 50 mm, 40 mm, 20 mm, dan 30 mm. Hitung hujan rerata.
Penyelesaian
Karena stasiun A berada tidak jauh dari DAS, maka dapat diperhitungkan untuk
menentukan hujan rerata. Dengan menggunakan Persamaan (2.1) diperoleh:
pA+ pB+ pC+ pD 50+40+20+ 30
p=
=
=35 mm
4
4
Jika stasiun A yang berada di luar DAS tidak diperhitungkan, maka :
pB+ pC + pD 40+20+30
p=
=
=30 mm
3
3

Kedua hasil memberikan perbedaan yang cukup besar, hal ini mengingat variasi hujan
di masing-masing stasiun cukup besar; sementara metode tersebut cocok apabila
variasi hukan terhadap jarak tidak besar.

Gambar 2.8. Stasiun hujan di DAS


2. Metode Thiessen
Metode ini memperhitungkan bobot dari masing-masing stasiun yang mewakili luasan
di sekitarnya. Pada suatu luasan di dalam DAS dianggap bahwa hujan adalah sama
dengan yang terjadi pada stasiun terdekat, sehingga hujan yang tercatat pada suatu
stasiun mewakili luasan tersebut. Metode ini digunakan apabila penyebaran stasiun
hujan di daerah yang ditinjau tidak merata. Hitungan curah hujan rerata dilakukan
dengan memperhitungkan daerah pengaruh dari tiap stasiun.
Pembentukan poligon Thiessen adalah sebagai berikut ini.
a. Stasiun pencatat hujan digambarkan pada peta DAS yang ditinjau, termasuk
stasiun hujan di luar DAS yang berdekatan, seperti ditunjukkan dalam Gambar
2.9.
b. Stasiun-stasiun tersebut dihubungkan dengan garis lurus (garis terputus) sehingga
membentuk segitiga-segitiga, yang sebaiknya mempunyai sisi dengan panjang
yang kira-kira sama.
c. Dibuat garis berat pada sisi-sisi segitiga seperti ditunjukkan dengan garis penuh
pada Gambar 2.9.
d. Garis-garis berat tersebut membentuk poligon yang mengelilingi tiap stasiun. Tiap
stasiun mewakili luasan yang dibentuk oleh poligon. Untuk stasiun yang berada di
dekat batas DAS, garis batas DAS membentuk batas tertutup dari poligon.
e. Luas tiap poligon diukur dan kemudian dikalikan dengan kedalaman hujan di
stasiun yang berada di dalam poligon
f. Jumlah dari hitungan pada butir e untuk semua stasiun dibagi dengan luas daerah
yang ditinjau menghasilkan hujan rerata daerah tersebut, yang dalam bentuk
matematik mempunyai bentuk berikut ini.
p=

A 1 p 1+ A 2 p 2++ A n Pn
A 1+ A 2+ + An

dengan :
p

: hujan rerata kawasan

p1, p2, ... , pn : hujan pada stasiun 1,2,3,...,n

A1,A2,...,An : luas daerah yang mewakili stasiun 1,2,3, ... , n

Gambar 2.9. Poligo Thissen


Metode poligon Thiessen banyak digunakan untuk menghitung hujan rerata kawasan.
Poligon Thiessen adalah tetap untuk suatu jaringan stasiun hujan tertentu. Apabila
terdapat perubahan jaringan stasiun hujan, seperti pemindahan atau penambahan
stasiun, maka harus dibuat lagi poligon yang baru

Contoh 3
Diketahui DAS dan stasiun hujan seperti dalam Contoh 2. Luas DAS adalah 500 km 2.
Hitung hujan rerata dengan menggunakan metode Thiessen.
Penyelesaian
Dengan menggunakan prosedur yang telah dijelaskan di atas dibuat poligon Thiessen
seperti ditinjukkan dalam Gambar 2.9. Dari gambar tersebut dihitung luasan daerah
yang diwakili oleh masing-masing stasiun. Hujan rerata dihitung dengan
menggunakan Tabel 2.4.
Hujan rerata:
p=

16.380
=32,76 mm
500
Tabel 2.4 Hitungan hujan rerata dengan metode Thiessen
Stasiun

Hujan (mm)

A
B
C
D

50
40
20
30
Jumlah

Luas Poligon
(km2)
95
129
172
113
500

Hujan x Luas
4.750
4.800
3.440
3.390
16.380

3. Metode Hieset
Isohiet adalah garis yang menghubungkan titik-titik dengan kedalaman hujan yang
sama. Pada metode isohiet, dianggap bahwa hujan pada suatu daerah diantara dua

garis isohiet tersebut. Pembuatan garis isohiet dilakukan dengan prosedur berikut ini
(Gambar 2.10).
a. Lokasi stasiun hujan dan kedalaman huja digambarkan pada peta daerah yang
ditinjau.
b. Dari nilai kedalaman hujan di stasiun yang berdampingan dibuat interpolasi
dengan pertambahan nilai yang ditetapkan.
c. Dibuat kurva yang menghubungkan titik-titik interpolasi yang mempunyai
kedalaman hujan yang sama. Ketelitian tergantung pada pembuatan garis isohiet
dan intervalnya.
d. Diukur luas daerah antara dua isohiet yang berurutan dan kemudian dikalikan
dengan nilai rerata dari nilai kedua garis isohiet.
e. Jumlah dari hitungan pada butir d untuk seluruh garis isohiet dibagi dengan luas
daerah yang ditinjau dengan menghasilkan kedalaman hujan rerata tersebut.
Secara sistematis hujan rerata tersebut dapat ditulis:
I n + I n +1
I 1+ I 2
I 2+ I 3
A1
+A 2
++
2
2
2
p=
A 1+ A 2+ + An
atau

I n + I n+1
n

An

p= i=1

An
i=1

dengan
p
I1,I2,..., In
A1,A2,...,An
..., n dan n+1

: hujan rerata kawasan


: garis isohiet ke 1,2,3,..., n, n+1
: luas daerah yang dibatasi oleh garis isohiet ke 1 dan 2,2 dan 3,

Metode isohiet merupakan cara paling teliti utuk menghitung kedalaman hujan
rerata disuatu daerah, tetapi cara ini membutuhkan pekerjaan dan perhatian yang lebih
banyak dibanding dua metode sebelumnya. Gambar 2.10. adalah contoh peta isohiet
hujan rerata tahunan di Jawa Tengah (Multimera Harapan, 1997).

Gambar 2.10 Peta isohite Jawa Tengah

Gambar 2.11. Metode isohiet


Contoh 4
Soal seperti contoh 3. Hitung hujan rerata dengan menggunakan metode isohiet.
Penyelesaian
Dibuat garis-garis isohiet seperti dalam Gambar 2.10. selanjutnya dihitung luasan
daerah di antara dua garis isohiet. Hitungan dengan menggunakan tabel 2.5.
Tabel 2.5. Hitungan hujan rerata dengan metode isohiet
Daerah

Isohiet (mm)

I
II
III
IV
V
VI

15
20
25
30
35
40
45

Luasan antara
dua isohiet
(km2)
12
50
95
111
140
70

Jumlah

Hujan rerata :

p=

16.826
=33,65 mm
500

Rerata dari
dua isohiet
(km2)

Hujan x
Luasan

17,5
22,5
27,5
32,5
37,5
42,5

210
1.125
2.613
3.608
5.250
2.975
16.826