Anda di halaman 1dari 30

PERCOBAAN 2

REAKSI KIMIA: GEJALA UMUM DAN LAJU REAKSI


I. TUJUAN PERCOBAAN
1.1 Mampu menjelaskan jenis dan tanda-tanda reaksi kimia
1.2 Mampu menentukan nilai parameter laju reaksi
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Reaksi Kimia
2.1.1

Pengertian Reaksi Kimia


Reaksi kimia adalah suatu proses di mana zat zat baru, yaitu
hasil reaksi, terbentuk dari beberapa zat aslinya disebut
pereaksi.Biasanya, suatu reaksi kimia disertai oleh kejadian
kejadian fisis, seperti perubahan warna, pembenukan endapan, atau
timbulnya gas.
(Petrucci,1992)

2.1.2

Pengggolongan Perubahan Kimia

a. Reaksi Pembentukan
Reaksi pembentukan merupakan reaksi apabila suatu zat yang
dibentuk dari gabungan dua atau lebih zat.
Contoh: CaO + CO2 CaCO3
Fe + S FeS
2Na + Cl2 2NaCl
(Pudjaa
tmaka,2001)

b. Reaksi Perkaratan
Korosi merupakan proses perusakan suatu materi yang terjadi
secara perlahan lahan dalam waktu yang lama oleh suatu proses
kimia. Misalnya korosi besi. Besi secara lambat dan terus
menerus akan bereaksi dengan udara ( terutama O2 ) membentuk
suatu oksidasi besi.
( Vogel,1990 )
c. Reaksi Penguraian
Reaksi penguraian merupakan kebalikan dari reaksi
pembentukan. Reaksi ini terjadi apabila dua atau lebih zat dihasilkan
dari satu zat.
Contoh: C12H22O11 12C + 11H2O
d. Reaksi Substitusi
Reaksi ini terjadi dimana satu unsur digantikan dengan unsur
yang lain dari senyawanya.
Contoh: Zn + 2HCl ZnCl2 + H2
asam klorida

(Pudjaatmaka,2001)
e. Reaksi Pembakaran
Reaksi ini terjadi dimana suatu unsur / senyawa bergabung
dengan O2 membentuk senyawa yang mengandung O2 sederhana,
misalnya: CO2, H2O dan SO2.
Contoh: C3H8 + CO2 3CO2 + H2O
(Kee
nan,1990)

f. Reaksi Penggabungan / sintetis


Reaksi dimana suatu zat yang lebih kompleks terbentuk dari
dua / lebih zat yang lebih sederhana.
Contoh: 2H2 + O2 2H2O
(Keenan,1990)
2.2 Laju Reaksi
2.2.1

Pengertian Laju Reaksi


Laju reaksi adalah perubahan konsentrasi pereaksi ataupun
produk dalam suatu satuan waktu. Laju reaksi dapat dinyatakan
sebagai laju bertambahnya konsentrasi suatu produk. Konsentrasi
biasanya dinyatakan dalam mol per liter, tetapi untuk reaksi fase
gas, satuan tekanan atmosfer atau melimeter mercurium atau pascal
dapat digunakan sebagai pengganti konsentrasi. Satuan waktu
dapat detik, me
nit, jam, hari, atau bahkan tahun tergantung apakah reaksi itu cepat
atau lambat.
A+B

C
[C]

V=

[B]
atau V = -- -------

Sehingga persamaan laju


V = k[A] m[B]n
(
keenan,1990)

2.2.2

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi laju Reaksi


a. Jenis Reaktan
Tiap-tiap zat mempunyai sifat yang berbeda-beda apabila
bereaksi dengan zat lain. Semakin reaktif jenis reaktan tersebut,
maka laju reaksi semakin cepat.
(Brocks,1959)
b. Konsentrasi
Percobaan menunjukkan bahwa kelajuan reaksi kimia yang
bersifat homogen tergantung pada konsentrasi pereaksinya. Reaksi
homogen merupakan reaksi yang terjadi dalam satu fase. Reaksi
heterogen berjalan meliputi lebih dari satu fase. Kenyataan bahwa
reaksi heterogen sebanding dengan luas permukaan antara fase
fase pereaksi. Salah satu contoh adalah perkaratan besi, yang
merupakan reaksi heterogen yang meliputi satu fase padatan, besi,
dan satu fase oksigen.
Kelajuan reaksi homogen tergantung pada konsentrasi dari
pereaksi pereaksi dalam larutan. Larutan dapat berupa cairan atu
gas. Dalam larutan cairan, konsentrasi pereaksi dapat diubah
berdasarkan penambahan reaksi atau dengan pengubahan volume
dari sistem atau berdasarkan penambahan atau pengurangan
pelarut.
(Sastrohamidjojo,2001)

c.Sifat Dasar Pereaksi


Dalam suatu reksi kimia terjadi pemutusan ikatan dan
pembentukan ikatan baru sehingga kelajuan reaksi harus
bergantung pada macam ikatan yng ada. Secara percobaan,
kecepatan reksi tergantung pada senyawa yang melakukan reaksi
bersama. Setiap zat berbeda secara nyata, dalam laju reaksi
mereka juga mengalami perbedaan kecepatan reaksi. Reaksi
kimia dapat terjadi akibat tumbukan antara molekul molekul.
Sedangkan energi yang harus dimiliki olekul untuk dapat
bereaksi disebut energi aktivasi. Semakin tinggi nilai energi
aktivasi, semkin kecil fraksi mol yang teraktifkan dan semakin
lambat reaksi berlangsung
(Sastrohamidjojo,2001)
d.

S
uhu
Naiknya suhu menyebabkan kecepatan rata-rata dan energi

kinetiknya rata-rata molekul naik, sehingga frekuensi tumbukan


juga semakin besar. Suhu tinggi diperlukan agar molekul fraksi
reaktan meningkat dan dapat menumbuk dengan energi kinetik
yang lebih besar daripada energi aktivasi. Ini dibutuhkan agar
tumbukan yang terjadi efektif.
(Miller,1987)
e. Katalis
Katalis adalh suatu zat yang menimbulkan kecepatan suatu
reaksi kimia, tanpa mengalami perubahan kimia. Secara permanen,
proses ini disebut katalisasi, diduga mempengaruhi kecepatan
reaksi dengan salah satu jalan yaitu :

pembentukan senyawa senyawa ( katalis homogen )

absorbsi ( katalis heterogen )


(Keenan,1990)

f. Luas Permukaan
Luas permukaan sangat berpengaruh pada keceopatan laju
reaksi. Makin besar luas permukaan suatu zat, makin cepat reaksi
berlangsung. Sebaliknya malin kecil luas permukaan suatu zat,
makin lambat zat tersebut bereaksi. Untuk memperluas permukaan
biasanya dilakukan dengan menghaluskan zat tersebut atau
memperkecil ukuran zat. Seperti sebatang kapur dengan butiran
kecil kapur akan memiliki laju reaksi yang lebih besar
dibandingkan dengan batang kapur.
(Keenan,1990)
Rumus Laju Reaksi

Konsentrasi
Konsentrasi P

Konsentrasi R

Berdasarkan grafik di atas :


V = - [R] t= {+ [P] t}
Keterangan:
- [R] = berkurangnya konsentrasi reaktan

= perubahan waktu

= laju reaksi

Pada awal reaksi, zat produk (P) belum terbentuk. Setelah reaksi
berjalan, zat P mulai terbentuk. Semakin lama konsentrasi zat P
semakin bertambah, sedangkan konsentrasi zat R semakin berkurang.
Rumus Umum Laju Reaksi
V = K [A]m [B]n
Keterangan:
V = laju reaksi
K = konstanta laju reaksi
[A] = konsentrasi zat A
[B] = konsentrasi zat B
m = orde reaksi terhadap A
n = orde reaksi terhadap B
(Brady,1982)
2.3 Orde dan Konstanta Laju reaksi
Orde reaksi adalah jumlah semua komponen dari konsentrasi
persamaan laju reaksi. Orde reaksi dikenal sebagai tingkat reaksi. Jika laju
reaksi berbanding lurus dengan pangkat satu konsentrasi dari suatu
pereaksi, V=k[A], maka reksinya dikatakan berorde satu. Orde reaksi
ditetapkan berdasarkan pada data kinetik eksperimen untuk mengetahui
yang paling cocok. Kecocokan ini dapat ditentukan dengan cara :
-

menghitung tetapan laju reksi

grafik kecepatan terhadap waktu


(Keenan,1990)

Ada 3 orde reaksi yaitu :


a. Reaksi Orde Nol

Laju reaksi terkadang tidak tergantung pada konsentrasi pereaksi


sama sekali. Keadaan ini akan terlihat bila beberapa peubah mengatur laju

reaksi, misalnya intensitas reaksi kimia dalam suatu reaksi fotokimia atau
tersedianya enzim dalam katalis oleh enzim. Pada reksi berlangsung
dengan laju yang tetap.
Laju reaksi = k = tetap
Reaksi yang mempunyai orde nol dan satuan k sama dengan satuan
lajunya.
b. Reaksi Orde Pertama
Pada reaksi orde pertama, data yang digunakan tidak selalu perlu
dinyatakan dalam konsetrasi molar. Kadang-kadang masa pereaksi, atau
hanya fraksi pereaksi yang dikonsumsi, sudah cukup. Contohnya yaitu
peluruhan atom radio aktif. Sebagai, contoh

P yang digunakan dalam

studi biokimia 14,3 hari. Berapaun jumlah atom P, akan terdapat setengah
dari jumlah tersebut 14,3 hari,seperempatnya dalam 28,6 dan seterusnya.
Tetapan laju peluruhannya adalah k = 0,693/t.
c. Reaksi Orde Kedua
AB+C
Bila reaksi hipotetik merupakan reaksi orde kedua terhadap A,
berarti bahwa laju reaksinya adalah laju menghilangnya A = k[A] 2 . Bila
reaksi hipotetik A+B C+D merupakan orde pertama terhadap A dan
juga terhadap B, orde totalnya adalah orde kedua, dan laju menghilangnya
A atau B = k [A][B]. Tetapi orde reaksi tidak dapat ditentukan dari data
laju reaksi.
(Petrucci,1992)
2.4. Konstanta Reaksi
Konstanta reaksi merupakan konstanta (tetap) yang menyatakan
hubungan sebanding dengan besarnya laju reaksi dan berbanding terbalik
dengan hasil kali reaksi konstantanya.

Konsentrasi laju reaksi merupakan bilangan pengali dengan konsentrasi


reaktan juga mendapatkan besarnya laju reaksi yang sesuai standar.
Konsentrasi ini dapat dirumuskan:

k=

v
[A]m [b]n
Ket.
M dan N adalah orde reaksi
(Atkins, 1997)

2.5. Teori Tumbukan


Menurut teori tumbukan, molekul-molekul pereaksi selalu
mengadakan tumbukan. Akibat tumbukan ini molekul-molekul hanya dapat
bereaksi bila mempunyai tenaga kinetik yang tinggi. Molekul-molekul
hanya dapat bereaksi bila mempunyai tenaga lebih tinggi dari tenaga ratarata molekul-molekul dalam sistem. Selisih tenaga ini yang disebut tenaga
aktivasi. Hanya molekul yang mempunyai tenaga lebih besar atau sama
dengan tenaga aktivasi yang dapat bereaksi.
(Sukardjo,1992)
Secara kualitatif teori tumbukan dapat menerangkan adanya faktor
mempengaruhi kelajuan reaksi, antara lain :
-

Peningkatan suhu menyebabkan molekul terbentuk makin


cepat, sehingga molekul lebih sering bertumbukan makin hebat
dan mengakibatkan reaksi makin cepat.

Katalis dapat mempercepat reaksi karena katalis dapat


menurunkan energi aktivasi. Dalam reaksi kimia, katalis sendiri
tidak mengalami perubahan yang permanen. Katalis dibagi
menjadi dua : yakni katalis homogen dan katalis heterogen.
Pada katalis homogen, antarapereaksi dan katalis berada dalam
fase tunggal. Pada katalis heterogen, tersedianya elektron d dan

orbital d pada atom-atom permukaan katalis memegang


peranan penting. Aktivasi katalis banyak dilakukan oleh
sejumlah besar unsur peralihan dan senyawa-senyawanya.
Persyaratan kunci dalam katalis heterogen adalah bahwa
pereaksi fase gas atau larutan di absorbsi ke permukaan katalis.
Tidak semua atom permukaannya sama efektifnya. Bagian aktif
tersebut disebut sisi aktif katalis.
-

Semakin tinggi konsentrasi, maka jumlah partikelnya semakin


banyak. Maka, tumbukan antar partikel yang terjadi semakin
banyak. Hal ini berdampak pada makin cepatnya laju reaksi.

Semakin luas permukaan bidang sentuh, maka, tumbukan antar


partikel yang terjadi semakin banyak. Hal ini mengakibatkan
makin cepatnya laju reaksi.

Sifat dasar pereaksi karena mempunyai energi aktivasi yang


berbeda-beda.

Semakin kecil volume, maka semain tinggi konsentrasinya.


Jumlah partikelnyapun semakin banyak. Tumbukan antar
partikel yang terjadi semakin banyak maka laju reaksinya
semain cepat.
(Petrucci,1992)

2.6.

Jenis-jenis Reaksi Kimia

2.6.1Reaksi netralisasi
Reaksi netralisasi adalah reaksi asam dan basa, dapat ditunjukan oleh
salah satu dari tiga buah cara sebagai berikut:
1.

Persamaan Reaksi Lengkap


HCl + NaOH NaCl + H2O
Asam

2.

basa

garam

air

Persamaan Reaksi Ion


H+ + Cl- + Na+ + OH-- Na+ + Cl- + H2O
asam

basa

garam

air

3.

Persamaan Reaksi Ion Bersih


H+ + OH- H2O

Persamaan reaksi ion bersih merupakan gambaran yang tepat dari


reaksi netralisasi menurut teori Archenius . Hal ini menghasilkan satu
pokok

penting yaitu suatu reaksi netralisasi meliputi penggabungan

antara ion hidrogen dan ion hidroksida untuk menghasilkan air (H2O).
(Petr
ucci,1987)
2.6.2Reaksi Redoks
Oksidasi adalah suatu prosese yang mengakibatkan kehilangan suatu
electron atau lebih dari dalam zat ( atom, ion, molekul ). Bila suatu
unsure dioksidasi, keadaan oksidasinya berubah ke harga yang lebih
positif. Suatu zat pengpksidasi adalah zat yang memperoleh electron dan
dalam reaksi itu zat direduksi. Defenisi ini sangat umum , sehingga
berlaku untuk zat padat, lelehan maupun gas.
Reaksi sebaliknya adalah proses yang mengangkibatkan diperolehnya
suatu electron atau lebih oleh zat ( atom, ion, molekul ). Bila unsure
direduksi, keadaan oksidasi menjadi lebih negative. Zat pereduksi adalah
zat yang kehilangan electron, dalam proses ion dioksidasi. Ini berlaku
untuk proses zat padat, lelehan, maupun gas. Tahap reduksi maupun
oksidasi yang melibatkan pelepasan maupun pengambilan electron
disebut reaksi setengah sel.
Contoh : Cu(s) + 2Ag+(aq) Cu2+(aq)+2Ag
Terdiri dari :
-

reduksi Ag+

oksidasi Cu
( Vogel,1990 )

2.6.3.Reaksi Pengendapan
Tetapan kesetimbangan yang menyatakan kelarutan endapan
dalam air disebut tetapan hasil kali kelarutan. Apabila tetapan kelarutan
terlampaui, maka pengendapan mulai terjadi dengan terbentuknya
sejumlah inti atau nukleon yang merupakan suatu partikel-partikel.
Contoh reaksi: 2Na 3PO4

(g)

+ BaCl2 (aq) Ba3(PO4)2

(s)

6NaCl(aq)

(Petrucci,1987)
2.6.4.Reaksi Pembentukan Gas
Reaksi yang menimbulkan gas biasanya terjadi apabila logam
direaksikan dengan asam keras encer. Reaksi ini disebut juga reaksi
pendesakan logam, karena logam yang bereaksi harus diletakkan
disebelah kiri H dalam deret volta. Asam yang digunakan harus selain
HNO3 pekat, HNO3 encer, H2SO4 pekat. Gas yang dihasilkan biasanya
adalah gas hidrogen.
Reaksi: Logam + Asam keras encer Garam +H2
Contoh: 2Al + 6HCl 2AlCl3 + 3H2
(
Petrucci,1987)
2.6.5.Reaksi Pembentukan Kompleks
Reaksi ini terjadi pada zat-zat yang mudah larut dan tidak
terdisosiasi. Reaksi ini menghasilkan ion atau molekul kompleks. Ion
kompleks adalah ion logam transisi yang dapat berikatan kovalen
koordinasi dengan ion-ion negatif atau molekul netral yang mempunyai
pasangan elektron bebas dan membentuk suatu kesatuan gabungan ionion yang stabil, ion kompleks dinyatakan dengan notasi kurang siku.
Dalam ion kompleks terdapat 2 unsur, yaitu logam transisi selaku atom
pusat dan ion negatif selaku ligan / gugus pengeliling.

Contoh ion kompleks:


[Fe(Cn)6]3- ion heksanoferat (III)
(Petrucci,1987)
2.6.6. Reaksi Pertukaran Muatan
Reaksi ini sering juga disebut sebagai reaksi
redoks. Reaksi redoks singkatan dari reaksi reduksi dan reaksi oksidasi.
Reduksi adalah penerimaan elektron atau penurunan bilangan oksidasi,
sedangkan oksidasi adalah pelepasan elektron atau peningkatan bilangan
oksidasi. Setiap reaksi redoks merupakan pasangan antara reaksi reduksi
dan reaksi oksidasi. Jadi, reaksi redoks adalah reaksi yang didalamnya
terdapat serah terima elektron antar zat, atau reaksi yang disertai dengan
perubahan bilangan oksidasi.
Contoh: Cu

2+

(aq)

+ Zn (s) Cu (s) + Zn

2+

(aq)

2.7. Analisa bahan


a. NaOH
Padatan putih, higroskopis, mudah mudah menyerap CO2, membentuk
Na2CO3, sangat korosif terhadap jaringan organik. Titik leleh 139 0C,
titik didih 318 0C, massa jenis 2,1
(Mulyono, 1997)
b. Plumbum Acetat (Pb(CH3COOH)2)
Asam timbal normal, gula timbal, garam saturnus. BM=325,8.
Komposisi C 14,77% ; H 1,86% ; Pb 63,7% ;O 13,67%. Pada keadaan
terhidrat, merupakan kristal tak berwarna, gumpalan putih, atau bubuk.
Bau asetatnya tidak terlalu tajam, beracun. Mengikat CO 2 dari udara
dan menjadi sol yang tidak sempurna. Kerapatan 2,55 g/cm3. Titik leleh
750C. Pada suhu di atas 1000C,ikatan asam asetat mulai menghilang.
Digunakan dalam pewarna pakaian.
(Windholz,1976)

c. Asam Klorida ( HCl )


Larutan jernih yang berat molekulnya 36,47 gram/mol, titik didih 118
0

C, bersifat asam kuat


(Mulyono, 1997)

d. H2SO4
Zat cair kental tak berwarna, menyerupai minyak, bersifat asam kuat,
titik didih 315-338 0C, titik leleh 100 0C, massa jenis 1,8
(Mulyono, 1997)
e. CuSO4
Berwarna biru bersifat higroskopis, digunakan sebagai fungisida, bahan
pewarna dan pengawet kayu.
(Mulyono, 1997)
f. Logam Magnesium (Mg)
BM=24,305. Nomor atom 12. Bervalensi 2. Termasuk logam alkali
tanah. Salah satu unsur yang paling banyak terdapat dikulit bumi.
Ditentukan secara alami dalam bentuk persenyawaan magnesit kornalit,
dolomit, CaMg(CO3)2, epsomit, kieserite,dan lain-lain, juga terdapat di
air laut.Logam berwarna putih keperakan. Struktur kerangka tertutup
heksagonal, teroksidasi dengan lambat pada udara lembab. Titik lebur
6510C, titik didih 11000C. Tersedia dalam bentuk batangan, pita, kawat,
dan bubuk. Bereaksi sangat lambat dengan air pada temperatur
ruangan. Reaksi asam menghasilkan pembebasan hidrogen.
(Windholez,1976)
g. Aquades
Air yang diperoleh pada pengembunan uap air melalui proses
penguapan atau pendidihan air. Tidak berwarna, tidak berasa, titik leleh
0 0C, titik didih 100 0C bersifat polar, pelarut oranik yang baik.
(Mulyono, 1997)

III. METODE PERCOBAAN


3.1

Alat
a. tabung reaksi
b. pipet tetes
c. gelas ukur
d. gelas beker
e. stopwatch

3.2

Bahan
a. NaOH
b. HCl
c. H2SO4
d. Pb(CH3COO)2
e. Kristal CuSO4
f. Pita logam Mg
g. Aqudes

3.3

Gambar Alat

Tabung reaksi

Pipet Tetes

Gelas Ukur

Gelas Beaker

Stopwatch

3.4 Skema Kerja


3.4.1

Mengenal Jenis-Jenis Reaksi Kimia

NaOH

PbOAc

Tabung reaksi

Tabung reaksi

- Penambahan larutan H2SO4


- Pengamatan
Hasil

Hasil

HCl

Aquades

Tabung reaksi

Tabung reaksi

- Penambahan larutan H2SO4


- Pengamatan
Hasil

3.4.2

- Penambahan larutan H2SO4


- Pengamatan

- Penambahan larutan H2SO4


- Pengamatan
Hasil

Menilai Laju Reaksi dan Menentukan Ordenya


HCl 0,8 M

HCl 0,6 M

Tabung reaksi

Tabung reaksi

- Penambahan pita logam Mg


- Penghitungan waktu

- Penambahan pita logam Mg


- Penghitungan waktu

Hasil

Hasil

- Penambahan pita logam Mg


Hasil
- Pengahitungan waktu

- Penambahan pita logam Mg


Hasil
- Penghitungan waktu

HCl 1,2 M

HCl 2 M

Tabung reaksi

Tabung reaksi

IV. DATA PENGAMATAN


4.1 Data Pengamatan
4.1.1
No

Mengenal jenis-jenis reaksi kimia

Reaktan 1
NaOH

Reaktan 2
H2SO4

Gejala
Gelembung gas sedikit

NaOH

pekat
H2SO4

panas, ada uap


Gelembung gas banyak,

encer

hangat terbentuk

Reaksi
2NaOH+H2SO4Na2SO4+2H2O

PbOAc

HCl

endapan
Terbentuk endapan

HCl

CuSO4

warna putih
Terjadi perubahan warna 2HCl+CuSO4CuCl2+H2SO4

Aquades

Mg

menjadi biru
Terjadi gelembung-

PbOAc+2HClPbCl+OHAc

Mg+H2OMg(OH)2+H2

gelembung kecil,
permukaan logam Mg
melebur
4.1.2 Menilai laju reaksi dan menentukan ordenya
No [HCl]M
1
2
3
4

0,8
1,2
1,6
2

T
(detik)
160
78
61
40

Pengamatan
Timbul gelembung gas di sekitar Mg, kenaikan suhu
Timbul gelembung gas di sekitar Mg, kenaikan suhu
Timbul gelembung gas di sekitar Mg, kenaikan suhu
Timbul gelembung gas di sekitar Mg, kenaikan suhu

4.1.3 Tabel pengamatan laju rekasi dan penentuan ordenya


No Log 1/t (y)

Log[HCl](x)

x,y

x2

1
2
3
4

-2,204
-1,892
-1,785
-1,602
y = -7,483

-0,097
0,079
0,204
0,301
X = 0,681

0,214
-0,149
-0,364
-0,482
x,y = -1,209

9,409 x 103
6,241 x 103
0,0416
0,091
X2 = 0,146

4.1.4 Tabel dari grafik


X
-0,097
0,079
0,204
0,301

Y
-2,204
-1,892
-1,785
-1,602

V= K[HCl]m

Keterangan

V= 1/t

m= 1,4568

Log 1/t = log k[HCl]m

c= 2,0481

Log 1/t = m.log[HCl]m

log k= -2,0481

y= mx+c

k= antilog -2,0481
k= 8,95 X 10-3

log 1/t

log[HCl]

log k

Persamaan Laju Reaksi Dari Grafik :


V = K [HCl]m
1/t = K [HCl]m
= 0,01014 [HCl]1,4568
4.2 Perhitungan
Mencari regresi linier :
m = n xy -- x . y

Ket : X = log [HCl]

n x2 ( x )2

Y = log [1/t]

= 4.(-1,209) -- (-5,096)
data
4.0,146 (0,464)
= 0,26
0,12
= 2,16 (orde reaksi)
Konstanta Reaksi Hasil Perhitungan :
Sampel 1 = log [1/t] = log k + m log [HCl]
-2,204

= log k + 2,16 (-0,097)

-2,204

= log k 0,209

Log k

= -2,204 + 0,209

Log k

= -1,995

= antilog (-1,995)

= 0,01011

Persamaan Laju Reaksi dari perhitungan :


V = K [HCl]m

n = banyak

1/t = K [HCl]m
0,01011 [HCl]2,16
Persamaan Laju Reaksi Dari Grafik :
V = K [HCl]m
1/t = K [HCl]m
= 0,01014 [HCl]2,1667

V. PEMBAHASAN
5.1

Mengenal jenis-jenis reaksi kimia

5.1.1

Reaksi antara NaOH dengan H2SO4


Pada reaksi ini, tabung 1 terisi NaOH yang ditambahkan H 2SO4 pekat

dan H2SO4 encer. Pada larutan NaOH yang ditambahkan H2SO4 pekat, gejala
yang terjadi yaitu timbul sedikit gelembung gas, panas, dan terdapat uap.
Sedangkan pada larutan NaOH yang ditambahkan H2SO4 encer, gejala yang
terjadi yaitu timbul banyak gelembung gas dan hangat. Sehingga pada reaksi
ini dibuktikan dengan terjadinya kenaikan suhu yang terbukti dengan adanya
gelembung gas, panas dan uap. Hal ini terjadi secara spontan antara asam kuat
dengan basa kuat. Sehingga tumbukkan antar molekul banyak karena samasama kuat, sehingga konsentrasi tumbukan yang menghasilkan reaksi banyak.
Karena tumbukan yang menghasilkan reaksi kimia itu melepaskan panas
kelingkungan (eksoterm), sehingga suhu sistem menjadi naik.
Reaksi yang terjadi :
2NaOH + H2SO4 Na2SO4 + 2H2O
Reaksi tersebut adalah reaksi netralisasi asam kuat dan basa kuat yang
menghasilkan garam dan air disertai pelepasan panas (eksoterm)
(Petruc
ci, 1985)
Selain merupakan reaksi netralisasi dan reaksi eksoterm, percobaan ini
juga disebut reaksi metasis. Reaksi metasis (reaksi perpindahan rangkap)
menyangkut suatu larutan dan pertukaran dari kation dan anionnya. Na + akan
berikatan dengan SO42- dan H+ akan berikatan dengan OH-.
(Brady,1994)
5.1.2

Reaksi antara (CH3COO)2Pb(aq) dengan larutan HCl

Pada reaksi ini, tabung 2 berisi (CH3COO)2Pb yang ditambahkan


dengan HCl. Pada reaksi ini terbentuk endapan PbCl 2 yang berwarna putih.
Reaksi yang terjadi :
(CH3COO)2Pb(aq) + 2HCl(aq) PbCl2 + CH3COOH(aq)
Reaksi tersebut merupakan reaksi pengendapan dari larutan garam
CH3COO2Pbdan larutan asam kuat (HCl) yang menghasilkan garam (PbCl2)
dan asam lemah (CH3COOH). Reaksi Pengendapan terjadi apabila tetapan
kelarutan terlampaui. Maksud dari tetapan kelarutan terlampaui yaitu hasil kali
ion-ionnya(Qsp) lebih besar dari Kspnya sehingga larutan menjadi lebih
jenuh. Sehingga pengendapan mulai terjadi dengan terbentuknya sejumlah inti
atau nukleon yang merupakan suatu pertikel. Artinya terjadinya endapan ini
untuk menurunkan konsentrasi ion dalam larutan, sehingga hasil kali ion(Qsp)
sama dengan Ksp.
(Underwood, 1986)
Ada 3 kemungkinan hubungan Ksp dengan Qsp,yaitu :
a. Jika Qsp< Ksp maka dikatakan larutan belum jenuh (tidak terjadi endapan)
b. Jika Qsp = Ksp maka dikatakan larutan tepat jenuh (akan terjadi endapan)
c. Jika Qsp > Ksp maka dikatakan larutan lewat jenuh (akan terjadi endapan)
Energi solvasi yang lebih besar daripada energi ikatan maka zat terlarut
akan larut pada pelarutnya. Pada percobaan ini, PbCl2 yang diketahui dengan
terbentuknya endapan PbCl2. Hal ini menunjukan bahwa energi solvasinya
lebih kecil dari pada energi ikatannya. Selain terbentuknya endapan, pada
percobaan ini juga terjadi reaksi metatesis antara (CH 3OO)2Pb dengan HCl.
CH3COO- akan berikatan dengan H+ dan Pb2+ akan berikatan dengan Cl-.
(Brady,1994)
5.1.3

Reaksi antara HCl dan CuSO4


Pada reaksi antara HCl dan CuSO4 terjadi perubahan warna larutan

menjadi biru. Perubahan warna ini disebabkan oleh terbentuknya senyawa


kompleks yang terdiri sebagai atom pusat dan ligan, hingga terbentuk kovalen
koordinasi. Ligan adalah suatu suatu senyawa atau unsur yang memiliki

pasangan elektron bebas, sedangkan atom pusat adalah suatu atom sebagai
penyedia orbital kosong.
Reaksi :2HCl + CuSO4 CuCl2 + H2SO4
(Petrucci, 1992)
Pada reaksi tersebut, yang termasuk ligan adalah ion klorida. Dimana
ligan tersebut memilki pasangan elektron tak berikatan yang aktif pada tingkat
energi paling luar. Pasangan elektron tak berikatan ini digunakan untuk
membentuk ikatan koordinasi dengan ion logam.
Warna yang tampak sebagai hasil reaksi adalah warna yang terabsorbsi
ketika sinar putih melewati larutan yang berisi ion tersebut direfleksikan oleh
larutan tersebut. Pelekatan ligan pada ion logam merupakan efek dari energi
orbital-orbital d. Sinar yang diserap sebagai akibat dari perpindahan elektron
diantara orbital d satu dengan yang lain.
(Petrucci, 1992)
5.1.4

Reaksi antara Aquadest dengan Mg


Pada reaksi ini, tabung 4 berisi aquadest yang ditambah dengan logam

Mg. Pada reaksi ini, dihasilkan gelembung-gelembung kecil yaitu gelembunggelembung gas H2.
Sesuai dengan reaksi : Mg + 2H2O Mg(OH)2 + H2
(Chang, 1987)
Gas H2 dihasilkan dari reduksi H2O, Dalam hal ini, H2O sebagai
oksidator dan Mg sebagai reduktor. H2O yang bilangan oksidasinya turun dan
mengikat elektron (mengalami reduksi) sedangkan Mg yang bilangan
oksidasinya naik dan melepaskan elektron (mengalami oksidasi).
5.2

Menilai laju reaksi dan menentukan ordenya


Dalam percobaan ini digunakan pita logam Mg yang dimasukkan dalam

larutan HCl yang mempunyai molaritas yang berbeda-beda. Maksud dari


perbedaan molaritas tersebut adalah untuk membandingkan bagaimana
pengaruh konsentrasi pada laju reaksi. Dari hasil pengamatan diperoleh hasil,

bahwa semakin besar konsentrasi HCl semain cepat waktu yang digunakan
untuk bereaksi. Hal ini disebabkan karena HCl dengan konsentrasi besar bila
bereaksi dengan Mg akan terjadi banyak tumbukan sehingga prosentase
tumbukan yang menghasilkan reaksi semakin banyak, sehingga reaksi
berlangsung cepat.
Reaksi :
Mg + 2HCl MgCl2 + H2
(Petruc
ci, 1985)
Semakin besar konsentrasi, semakin cepat pula reaksi berlangsung.
Peristiwa itu dapat terjadi karena konsentrasi yang tinggi, jarak antar molekul
akan semakin rapat, sehingga akan sering terjadi tumbukan antar partikel.
Konsentrasi Mg tidak dimasukkan kedalam perhitungan, karena Mg
berwujud solid dan konsentrasi Mg sama pada setiap larutan, sehingga tidak
berpengaruh pada laju reaksi.
Dari hasil perhitungan diperoleh :
k = 0,01011
Persamaan laju reaksinya : v = k [HCl]m
1/t = k [HCl]m
= 0,01011 [HCl]2,16
Sedangkan dari grafik diperoleh k = 0,01014
Persamaan laju reaksinya : v = k [HCl]m
1/t = k [HCl]m
= 0,01014 [HCl]1,4568
Pada percobaan ini, nilai orde reaski dan konstanta yang diperoleh dari
perhitungan menggunakan rumus diperoleh orde reaksi 2,16 dan k =0,01011
Sedangkan pada hasil grafik, diperoleh orde reaksi 2,1667 dan k =0,01014
Dalam literatur dijelaskan semakin pekat konsentrasi, maka laju reaksi
semakin cepat. Hal yang menyebabkabn perbedaan nilainya yaitu :

a. Ketidaktepatan dalam membuat HCl dalam konsentrasi tersebut.


b.

Ketidaktepatan dalam menyatakan atau memastikan stopwatch dalam


menghitung waktu Mg sampai habis.
Sedangkan yang menyebabkan perbedaan nilai antara data perhitungan

dan grafik adalah ketidaktepatan dalam pembulatan angka antara angka manual
dan angka yang ada dalam komputer.

VI PENUTUP
6.1 Kesimpulan
6.1.1 Jenis-jenis reaksi kimia antara lain :

Reaksi netralisasi : 2NaOH(aq) + H2SO4(aq) Na2SO4(aq) + 2H2O(l)


Gejalanya adalah timbulnya panas

Pembentukan endapan : (CH3COOH)2Pb(aq) + 2HCl(aq) PbCl(s) +


(CH3COOH)2 (aq)

Pembentukan senyawa kompleks : [Cu(H 2O)4]2+ + 4Cl- CuCl42- +


4H2O. Gejalanya adalah berubahnya warna larutan menjadi biru atau
hijau.

Penggantian tunggal : Mg(s) + 2H2O

(l)

Mg (OH)2

(aq)

+ H2(g)

Gejalanya adalah terjadinya gelembung-gelembung udara.


6.1.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi antara lain karena
faktor jenis reaktan,konsentrasi,suhu,katalis,luas permukaan.
6.1.3 Tanda-tanda terjadinya reaksi kimia yang terjadi dalam praktikum
kali ini adalah adanya perubahan warna,perubahan PH,gas atau
gelembung,timbulnya uap,terjadi peleburan logam,terjadi kenaikan
suhu,dan terbentuknya endapan.
6.1.4

Nilai orde reaksi berdasarkan grafik 2,1667 sedangkan dari hasil


perhitungan adalah 2,16.

6.1.5 Nilai konstanta berdasarkan grafik adalah 0,01014 sedangkan dari


hasil perhitungan adalah 0,01011.
.

VII. DAFTAR PUSTAKA


Atkins, P.W., 1997, Kimia Fisik II. Edisi keempat. Erlangga : Jakarta
Brady, James ., 1982, Kimia Universitas. Binarupa Aksara : Jakarta
Brocks ,. 1959 ,. Kimia Dasar .Jilid I. Edisi I . Erlangga : Jakarta
Keenan,Charles., 1991, Ilmu Kimia Untuk Universitas. Erlangga: Jakarta
Kenneth, Watkins., 1993,.An Introduction to Chemistry.Mc Graw Hill Inc: New
York
Oxford , 1990, Kamus lengkap kimia. Erlangga : Jakarta
Miller,1987, Chemistry A Basic Introduction,4th edition. Wasorth Publishing
Company: California
Mulyono, Mannan, H.A ., 2001, Kamus Kimia. Gaesindo : Bandung
Petrucci, Ralph., 1987, Kimia Dasar. Erlangga : Jakarta
Pudjaatmaka, H., 1990, Kamus Kimia Organik . Depdikbud: Jakarta
Sastrohamidjojo, Hardjono., 2001, Kimia Dasar. UGM Press : Yogyakarta
Sukardjo, 1992, Kimia Anorganik. Bina Aksara : Jakarta
Sukardjo, 1992, Kimia Koordinasi. Rineka Cipta: Jakarta
Underwood ,1986, Analisa Kimia Kuantitatif. Erlangga : Jakarta
Vogel, 1985, Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif. Kalman Media Pustaka :
Jakarta
Windholez, Martha., 1976 , The Merck Index Ninth Edition. Merck & Co.,Inc:
Rahway

Semarang, 31 Januari 2009


Praktikan,

Praktikan,

Chalida Z

Dian Amalia

J2C008009

J2C008010

Praktikan,

Praktikan,

Dian Nurvika

Dwi Jayanti

J2C008011

J2C008012

Praktikan,

Praktikan,

Dwi Surya

Dyah Arum

J2C008013

J2C008014

Praktikan,

Praktikan,

Dyah Lasna

Eka Hariyanto

J2C008015

J2C008016
Mengetahui,
Asisten

Sri Lestari

LAPORAN TERBAIK
PRAKTIKUM KIMIA DASAR I

JUDUL PERCOBAAN :
REAKSI KIMIA : GEJALA UMUM
DAN LAJU REAKSI
Disusun Oleh Kelompok 2 :
Chalida Z
(J2C008009)
Dian Amalia (J2C008010)
Dian Nurvika (J2C008011)
Dwi Jayanti (J2C008012)
Dwi Surya A (J2C008013)
Dyah Arum (J2C008014)
Dyah Lasna (J2C008015)
Eka Hariyanto S (J2C008016)
Asisten : Sri Lestari

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG

2009