Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH KIMIA

PENERAPAN KONSEP KESETIMBANGAN KIMIA

NAMA
ANGGOTA :
1. Nuryana Rachmawati

(19)

2. RidhaHidayah

(22)

3. RindangPrasaati D.M .

(24)

4.Zannatul Firdaus N.

(32)

Kelas XI IPA - 4
RSBI SMA NEGERI MOJOAGUNG
TAHUN AJARAN 2011/ 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat
serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini yang
berjudul Penerapan Konsep Kesetimbangan Kimia
Makalah ini berisikan tentang informasi tentang penerapan konsep kesetimbangan
kimia dalam berbabagai bidang atau yang lebih khususnya membahas penerapan konsep
kesetimbangan dalam bidang industry, dan dalam kehidupan sehari-hari.

Diharapkan

makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang penerapan konsep
kesetimbangan .
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan
serta dalam penyusunan makalah ini khususnya ibu guru kami ibu Dwi Mei Endrastuti
S.Pd. Yang telah membimbing kami dari awal sampai akhir . Semoga Allah SWT
senantiasa meridhai segala usaha kita.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Prinsip prinsip pergeseran kesetimbangan banyak diderapkan dalam kehidupan
sehari-hari dan termasuk juga dalam industri., dalam industri banyak digunakan
dalam pembuatan zat kimia karena dengan menggeser kesetimbangan ke arah hasil
reaksi yang maksimal dapat membuat produksi lebih efisien.

1.2Manfaat Pembuatan Makalah


-

Kelak dimasa mendatang makalah ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana


pembelajaran dalam pelajaran kimia khususnya mengenai penerapan prinsip
kesetimbangan.

Membahas tentang pembuatan gas amonia dengan cara Haber-Bosch, produksi


asam sulfat dengan cara kontak dan pembuataan asam nitrat menurut proses
Ostwald.

1.3Tujuan Pembuatan Makalah


-

Dapat mengetahui penerapan sistem kesetimbangan dalam kehidupan manusi,


misalnya pada bidang industri.

Memberi wawasan dan pengetahuan tentang penerapan sistem keseimbangan


dalam industri

Mengetahui bagaimana keseimbangan dapat menghasilkan produk yang lebih


besar dengan proses yang lebih

BAB II
ISI MAKALAH

1. Penerapan Konsep Kesetimbangan Kimia dalam Industri


Banyak proses industri zat kimia yang didasarkan pada reaksi kesetimbangan.
Agar efesien, kondisi reaksi harus menggeser kesetimbangan ke arah produk dan
meminimalkan reaksi balik. Misalnya:

1. Industri Amonia
Pembuatan Amonia menurut proses Haber-Bosch, Nitrogen terdapat melimpah
di udara, yaitu sekitar 78% volume. Walaupun demikian, senyawa nitrogen tidak
terdapat banyak di alam. Satu-satunya sumber alam yang penting ialah NaNO3
yang disebut Sendawa Chili. Sementara itu, kebutuhan senyawa nitrogen semakin
banyak, misalnya untuk industri pupuk, dan bahan peledak. Oleh karena itu,
proses sintesis senyawa nitrogen, fiksasi nitrogen buatan, merupakan proses
industri yang sangat penting. Metode yang utama adalah mereaksikan nitrogen
dengan hidrogen membentuk amonia. Selanjutnya amonia dapat diubah menjadi
senyawa nitrogen lain seperti asam nitrat dan garam nitrat.
Dasar teori pembuatan amonia dari nitrogen dan hidrogen ditemukan oleh
Fritz Haber (1908), seorang ahli kimia dari Jerman. Sedangkan proses industri
pembuatan amonia untuk produksi secara besar-besaran ditemukan oleh
Carl Bosch, seorang insinyur kimia juga dari Jerman. Persamaan termokimia
reaksi sintesis amonia adalah :

Berdasarkan prinsip kesetimbangan kondisi yang menguntungkan untuk


ketuntasan reaksi ke kanan (pembentukan NH3) adalah suhu rendah dan tekanan
tinggi. Akan tetapi, reaksi tersebut berlangsung sangat lambat pada suhu rendah,
bahkan pada suhu 500oC sekalipun. Dilain pihak, karena reaksi ke kanan
eksoterm, penambahan suhu akan mengurangi rendemen. Proses Haber-Bosch
semula dilangsungkan pada suhu sekitar 500oC dan tekanan sekitar 150-350 atm
dengan katalisator, yaitu serbuk besi dicampur dengan Al2O3, MgO, CaO, dan

K2O. Seiring dengan kemajuan teknologi, digunakanlah tekanan yang jauh lebih
besar, bahkan mencapai 700 atm. Untuk mengurangi reaksi balik, maka amonia
yang terbentuk segera dipisahkan. Mula-mula campuran gas nitrogen dan hidrogen
dikompresi (dimampatkan) hingga mencapai tekanan yang diinginkan. Kemudian
campuran gas dipanaskan dalam suatu ruangan yang bersama katalisator sehingga
terbentuk amonia. Diagram alur dari proses Haber-bosch untuk sintesis amonia :

2. Industri Asam Sulfat


Pembuatan asam sulfat menurut proses kontak industri lainnya yang
berdasarkan reaksi kesetimbangan yaitu pembuatan asam sulfat yang dikenal
dengan proses kontak. Reaksi yang terjadi dapat diringkas sebagai berikut:

a. Belerang dibakar dengan udara membentuk belerang dioksida

b. Belerang dioksida dioksidasi lebih lanjut menjadi belerang trioksida.

c. Belerang trioksida dilarutkan dalam asam sulfat pekat membentuk asam


pirosulfat.

d. Asam pirosulfat direaksikan dengan air membentuk asam sulfat pekat.

Tahap penting dalam proses ini adalah reaksi (2). Reaksi ini merupakan
reaksi kesetimbangan dan eksoterm. Sama seperti pada sintesis amonia, reaksi ini
hanya berlangsung baik pada suhu tinggi. Akan tetapi pada suhu tinggi justru
kesetimbangan bergeser ke kiri. Pada proses kontak digunakan suhu sekitar 500oC

dengan katalisator V2O5. Sebenarnya tekanan besar akan menguntungkan produksi


SO3, tetapi penambahan tekanan ternyata tidak diimbangi penambahan hasil yang
memadai. Oleh karena itu, pada proses kontak tidak digunakan tekanan besar
melainkan tekanan normal, 1 atm. Dalam industri kimia, jika campuran reaksi
kesetimbangan mencapai kesetimbangan maka
Produk reaksi tidak bertambah lagi. Akan tetapi produk reaksinya diambil
atau disisihkan, maka akan menghasilkan lagi produk reaksi.

Amonia yang terbentuk dipisahkan dari campuran kesetimbangan dengan


cara pencarian dari gas nitrogen di daur ulang ke wadah reaksi untuk
menghasilkan produk reaksi.
Banyak proses alamiah dalam kehidupan sehari-hari berkaitan dengan
perubahan konsentrasi pada sistem kesetimbangan. pH darah dan jaringan badan
kira-kira 7,4 . Harga ini diatur dalam darah berada dalam kesetimbangan dengan
ion hidrogen karbonat dan ion hidrogen.

Jika konsentrasi ion hidrogen bertambah, ion-ion ini bereaksi dengan ion
hidrogen karbonat. Jika konsentrasi ion hidrogen terlampau rendah, asam karbonat
bereaksi menghasilkan hidrogen.

Oksigen diangkut dari paru-paru ke sel badan oleh hemoglobin dalam sel
darah merah. Dalam paru-paru, konsentrasi oksigen cukup tinggi dan hemoglobin
bereaksi dengan oksigen membentuk oksihemoglobin. Reaksi ini dapat ditulis,

Dalam jaringan tubuh, konsentrasi oksigen rendah, sehingga reaksi


sebaliknya yang terjadi, yaitu menghasilkan oksigen untuk digunakan dalam sel
tubuh. Ketika oksigen diangkut dari paru-paru ke jaringan tubuh, karbon dioksida
yang dihasilkan oleh respirasi sel angkut dari jaringan tubuh ke paru-paru.

Dalam jaringan tubuh karbon dioksida yang konsentrasinya relatif tinggi


melarut dalam darah bereaksi dengan air membentuk asam karbonat.

Dalam paru-paru di mana konsentrasi karbon dioksida relatif rendah, reaksi


sebaliknya yang terjadi dan karbon dikeluarkan dari darah ke udara.

Batu kapur CaCO3 tidak melarut dalam air murni, namun melarut dalam air
tanah yang mengandung CO2 terlarut, membentuk kalsium hidrogen karbonat
yang melarut.

Reaksi di atas dapat dianggap sebagai jumlah dua reaksi kesetimbangan.

Jika air tanah mengalir melalui daerah berkapur, maka batu kapur melarut.
Jika air berjumpa dengan udara yang mengandung sedikit karbondioksida maka
karbon dioksida akan dilepaskan dari larutan ke udara, sehingga kalsium
karbonat mengendap.

3. Industri Asam Nitrat


Asam nitrat digunakan dalam pembuatan pupuk amonium nitrat, bahan
peledak seperti nitrogliserin dan trinitrotoluen (TNT), industry zat warna, dan
metalurgi. Asam nitrat dapat dibuat dengan cara mereaksikan NO 2 dan air.
Metode yang biasa digunakan adalah proses Ostwald yang terdiri atas tiga tahap
reaksi.

Tahap 1 : Oksidasi Ammonia


Biasanya, proses pembuatan asam nitrat satu paket dengan pembuatan
amonia karena sebagian amonia yang dihasilkan dioksidasi untuk menghasilkan
gas nitrogen monoksida. Pada reaksi ini, suhu reaksi sekitar 900 0C dan digunakan
katalis platina dan rhenium.
4NH3(g) + 5O2(g)

4NO(g) + 6H2O(l)

H = -907 kJ

Gas NO optimum, jika suhu reaksi diturunkan dan tekanan diperbesar.

Tahap 2 : oksidasi gas NO


Gas NO yang terbentuk selanjutnya dicampurkan dengan udara agar dapat
bereaksi dengan oksigen.
2NO(g) + O2(g)

2NO2(g)

H = -114 kJ

Gas NO optimum, suhu reaksi diturunkan dan tekanan diperbesar.

Tahap 3 : pembentukan HNO3


Pada tahap akhir ini, gas NO2 direaksikan dengan air menghasilkan asam
nitrat dan gas NO.
3NO2(g) + H2O(l)

2HNO3(aq) + NO(g)

2. Penerapan Konsep kesetimbangan Kimia Dalam Kehidupan


sehari-hari
4. Tangki Penyimpan Hidrogen Cair
Hidrogen cair merupakan salah satu bahan bakar alternative yang kini mulai
digunakan. Salah satu masalah dalam penyimpanan bahan bakar hydrogen untuk
kendaraan bermotor dapat diatasi dengan pembentukan hidrida. Menurut
penelitian, beberapa logam dapat menyimpan hydrogen cair 50% lebih banyak dari
wadah yang biasa digunakan untuk menyimpan hydrogen cair. Dengan
memberikan tekanan, hydrogen membentuk hidrida dengan serbuk logam.
Ti(s) + nH2(l)

TiH2n(g)

Jika hydrogen digunakan, tekanan akan berkurang sehingga reaksi akan


bergeser ke kiri (menghasilkan hidrogen).

5. Kolam Renang dan Bak Penampung Air


Untuk mencegah pertumbuhan alga dan bakteri dalam kolam renangatau
bak penampung air, ke dalam kolam atau bak biasanya ditambahkan asam
hipoklorit (HClO). sinar matahari dapat mempercepat penguraian HClO. Untuk
memperlambat penguraian HClO, ke dalam kolam renang ditambahkan asam
sianurat karena asam triklorosianurat tidak terurai oleh sinar matahari.
H3C3N3O3(aq) + 3HClO(aq)
Asam sianurat

Cl3C3N3O3(aq) + 3H2O(l)
Triklorosianurat

Jika asam hipoklorit terurai atau mengoksidasi alga atau bakteri, reaksi
akan bergeser ke arah kiri (pembentukan asam hipoklorit). Dengan demikian,
penggunaan asam hipoklorit dapat dihemat sekaligus mengurangi biaya produksi.

3. Penerapan Konsep Kesetimbangan Kimia Dalam Tubuh


Berikut ini beberapa contoh proses dalam tubuh yang melibatkan
kesetimbangan kimia.

6. pH Darah dan Jaringan Tubuh.


Darah dan jaringan tubuh kita mempunyai pH sekitar 7,4. Dalam darah dan
jaringan tubuh terjadi reaksi kesetimbangan antara asam karbonat dalam darah
dengan ion hidrogen karbonat dan ion hidrogen.
H2O(l) + CO2(aq)
H2CO3(aq)
HCO3-(aq) + H-(aq)
Jika kita mengonsumsi makanan yang bersifat asam, konsentrasi ion
hydrogen bertambah (darah bersifat asam) sehingga reaksi kesetimbangan bergeser
ke kiri. Sebaliknya, jika kita mengonsumsi makanan yang bersifat basa,
konsentrasi ion hydrogen berkurang (darah bersifat basa), sehingga reaksi
kesetimbangan bergeser ke kanan.

7. Metabolisme Karbon Dioksida dalam Tubuh


Ketika oksigen diangkut dari paru-paru ke jaringan tubuh, pada saat yang
sama karbon dioksida yang dihasilkan oleh respirasi sel diangkut dari jaringan
tubuh ke paru-paru. Dalam jaringan tubuh, karbon dioksida yang konsentrasinya

relative tinggi melarut dalam darah bereaksi dengan air membentuk asam
karbonat. Dengan demikian, reaksi bergeser ke arah kanan.
CO2(g)

CO2(aq) + H2O(l)

H2CO3(aq)

Sebaliknya, dalam paru-paru konsentrasi karbon dioksida relatife rendah


sehingga karbon dioksida dikeluarkan dari darah ke udara. Oleh karena itu, reaksi
bergeser ke kiri.

8. Kesetimbangan dalam Mulut


Reaksi kesetimbangan terjadi juga dalam mulut. Email gigi mengandung
senyawa kalsium hidroksiapatit, Ca5(PO4)3OH. Di dalam mulut, zat itu akan
mengalami reaksi kesetimbangan sebagai berikut.
Ca5(PO4)3OH(s)

5Ca2+(aq) + 3PO43-(aq) + OH-(aq)

Reaksi kesetimbangan yang terjadi akan mengalami pergeseran jika kita


mengonsumsi makanan yang mengandung asam. Makanan asam mengandung
ion H+ sehingga ion tersebut akan mengikat ion PO 43- dan OH-. Akibatnya, reaksi
kesetimbangan akan bergeser ke kanan (konsentrasi Ca5(PO4)3OH) berkurang.
Pergeseran reaksi tersebut menyebabkan lapisan email menjadi keropos sehingga
timbul sakit gigi.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1) Penerapan kesetimbangan kimia dalam industri
1.

Pembuatan amoniak menurut proses Haber-Bosch


a. Suhu diatur hingga 400oC
b. Untuk menangani suhu yang tinggi(4000C) yang menyebabkan laju reaksi
bergeser ke arah pereaksi maka digunakan tekanan yang tinggi pula yaitu

sekitar 700atm, ini menyebabkan molekul-molekul semakin rapat sehingga


menyebabkan laju reaksi semakin cepat.
c. Menambahkan kosentrasi
d. Serta memberi, katalis agar proses laju reaksi terjadi dengan cepat.
2.

Pembuatan asam sulfat menurut proses kontak


a. Suhu direndahkan agar laju reaksi berjalan kearah hasil reaksi
b. Tekanan harus tinggi dan volumu harus kecil
c. Dengan suhu rendah, laju reaksi akan berjalan dengan lambat, selain itu biaya
menjadi sangat mahal karena proses dalam suatu pabrik berlangsung pada
tekanan tinggi.
d. Masalah tersebut ,dapat diatasi dengan penambahan katalis berupa Vanadium
pentaoksida(V2O5).
3. Pembuatan Asam Nitrat
Proses modern untuk menghasilkan asam nitrat HNO3, adalah oksidasi amonik di
udara. Dalam proses ini, amonia dicampur dengan udara berlebih, dan campurannya
dipanaskan hingga temperatur tinggi dengan katalis platina. Amonia akan diubah
menjadi Nitrogen Oksida (NO2), yang kemudian di oksidasi lebih lanjut di udara
menjadi Nitrogen dioksida (NO2). Nitrogen Oksida direaksikan dengan air
menghasilkan asam nitrat.

Saran dan Kritik


Dengan adanya makalah ini kami berharap agar bisa dimanfaatkan sebaik
mungkin dalam proses belajar disekolah dan dengan adanya buku ini para
pembaca juga dapat mengetahui manfaat/ penerapan prinsip kesetimbangan
dalam bidang industri kehidupan sehari-hari dan kesetimbangan dalam tubuh.

Daftar pustaka
Allinge, Norman L., et. al. 1976. Organic Chemistry. New York: Worth publisher.
Brady, James E. dan John R. Holum. 1988. Fundamental of Chemistry. New York:
John Wiley & Sons,
Inc.
Fessenden, Ralph J. dan Joan S. Fessenden. 1982. Organic Chemistry. Mashachuset:
Willard Grant
Press/PWS Publ.
Gupto, S. 1988. Advances Level Chemistry Model to Part Examination Papers.
Singapore: Foirfield book
Publ., Ltd.
Wilford, L. D. R. 1987. Chemistry for First Examinations. London: Blackie.