Anda di halaman 1dari 55

BAB I

PENDAHULUAN
A. Deskripsi Modul
Modul Prinsip dan Operasi Sistem Refigerasi Komersial ini membahas tentang
berbagai hal yang berkaitan dengan prinsip dan operasi peralatan refrigerasi
komersial. Materi yang disajikan di dalam modul ini mencakup refrigeran dan isu
lingkungan, sistem dan komponen refrigerasi komersial, aplikasi sistem refrigerasi
komersial, diagram siklus refrigerasi dan operasi sistem refrigerasi komersial.
B.

Prasyarat
Sudah mengikuti Diklat refrigerasi dan tata udara domestik.

C. Petunjuk Penggunaan Modul


Modul Pembelajaran ini menggunakan Sistem Pelatihan Berbasis Kompetensi.
Pelatihan berbasis kompetensi adalah pelatihan yang memperhatikan kemampuan,
keterampilan dan sikap yang diperlukan di tempat kerja agar dapat melakukan
pekerjaan dengan kompeten. Penekanan utamanya adalah pada apa yang dapat
dilakukan seseorang setelah mengikuti pelatihan. Salah satu karakteristik yang paling
penting dari pelatihan berbasis kompetensi adalah penguasaan individu terhadap
bidang pengetahuan dan kerampilan tertentu secara nyata di tempat kerja.
Penyajian modul ini dibagi ke dalam tiga Kegiatan Belajar. Setiap kegiatan belajar
dilengkapi dengan Lembar Kerja yang berupa pertanyaan-pertanyaan (review
questios) yang harus dijawab oleh peserta diklat setelah selesai membaca infomasi
yang relevan, dan lembaran praktek. Untuk dapat dinyatakan lulus, peserta diklat
harus :
1. Mengikuti kegiatan pembelajaran minimal 90%.
2. Menyelesaikan semua lembar kerja yang tersedia dengan benar.
3. Melakukan tugas praktek dengan benar.
4. Mengikuti ujian teori dan praktek, dan dinyatakan lulus.

Modul Prinsip Refrigerasi Komersial


SMK Negeri 1 Cerme - Gresik

D.

Tujuan Pembelajaran
Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini, diharapkan peserta diklat memiliki
pemahaman secara konseptual tentang prinsip dan operasi system refrigerasi
komersial.

E.

Rencana Pembelajaran
Kegiatan Belajar
KB. 1. Prinsip Refrigerasi Komersial

Aktifitas

Pencapaian

Lembar Informasi
Lembar Kerja Tugas
Praktek

KB. 2. Diagram Siklus Refrigerasi

Lembar Informasi
Lembar Kerja Tugas

KB. 3. Operasi Sistem Refrigerasi


Komersial

Lembar Informasi
Lembar Kerja Tugas
Praktek

Modul Prinsip Refrigerasi Komersial


SMK Negeri 1 Cerme - Gresik

A. Kegiatan Belajar 1
Prinsip Refrigerasi Komersial
Tujuan Pembelajaran :
Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini, diharapkan peserta mampu :
1. Menyebutkan dan menjelaskan system serta komponen refrigerasi komersial
2. Menjelaskan prinsip refrigerasi komersial
1. Sistem dan Komponen Refrigerasi Komersial

Gambar 1.1, Siklus refrigerant pada system refrigerasi


Efek refrigerasi diperoleh dengan cara menguapkan liquid refrijeran yang
ditempatkan di dalam refrijerator. Karena refrijeran (R134a) berada di bawah tekanan
atmosfir normal (1,0132 bar), maka kondisi saturasi refrijeran dicapai pada suhu
-29,8C. Penguapan pada suhu rendah ini, menyebabkan refrijeran dapat menyerap
panas udara ruang dengan cepat. Panas yang diserap melalui penguapan liquid
Modul Prinsip Refrigerasi Komersial
SMK Negeri 1 Cerme - Gresik

refrijeran akan dibuang kduar ruang melalui lubang angin oleh gas refrijeran. Efek
pendinginan akan beriangsung terus hingga liquid refrijeerannya habis. Kontainer
yang digunakan untuk menyimpan liquid refrijeran disebut evaporator. Evaporator
adalah salah satu bagian penting dalam sistem refrijerasi kompresi
1.1 Tipikal Sistem Kompresi Uap
Sistem Kompresi uap merupakan mesin refrigerasi yang berisi fluida penukar
kalor (refrigeran) yang bersirkulasi terus menerus. Selama bersirkulasi di dalam
unitnya maka refrigeran tersebut akan selalu mengalami perubahan wujud dari gas ke
liquid dan kembali ke gas. Proses tersebut berlangsung pada suhu dan tekanan yang
berbeda, yaitu tekanan tinggi dan pada tekanan rendah. Tekanan tinggi diperoleh
karena adanya efek kompresi, yang dikerjakan oleh kompresor. Oleh karena itu sistem
refrijerasi ini lazim disebut sebagai sistem kompresi uap.

Modul Prinsip Refrigerasi Komersial


SMK Negeri 1 Cerme - Gresik

Gambar 1.2 Diagram Alir sistem Kompresi Uap


Gambar 1.2 memperlihatkan diagram alir suatu sistem kompresi uap sederhana.
Sesuai dengan proses yang terjadi di dalam siklus refrigeran maka sistem refrigerasi
kompresi uap mempunyai 4 komponen utama yang saling berinteraksi satu sama lain,
yaitu : Evaporator untuk proses evaporasi liquid refrigeran. Kompresor untuk
meningkatkan tekanan gas refrigeran. Kondenser untuk proses kondensasi gas
refrigeran. Katub ekspansi untuk menurunkan tekanan liquid refrigeran yang akan di
masuk ke evaporator. Adanya gangguan pada salah satu komponen dapat
menggagalkan efek refrigerasi.
Evaporator (1), menyediakan transfer panas melalui luas permukaannya, sehingga
panas yang terkandung di udara dan produk makanan yang ada di dalam ruang dapat
diserap oleh penguapan refrijeran cair yang mengalir di dalam koil evaporator.
Suction line (2) adalah saluran yang terletak pada sisi tekanan rendah kompresor,
untuk menyalurkan refrijeran gas bertekanan rendah dari evaporator menuju ke katub
hisap kompresor.
Compressor (3) merupakan jantung sistem refrijerasi kompresi uap, berfungsi
menghisap refrijeran gas dari evaporator dan menaikkan suhu dsn tekanan refrijeran
ke suatu titik di mana refrijeran gas akan mengembun dengan mudah pada kondisi
normal media kondensasinya. Discharge line (4) adalah saluran yang terletak pada sisi
tekanan tinggi kompresor, untuk menyalurkan refrijeran gas bertekanan dan bersuhu
tinggi dari katub tekan kompresor menuju ke kondeser.
Condensor (5) menyediakan transfer panas melalui luas permukaannya, sehingga
energi panas yang yang terkandung dalam refrijeran dapat dipindahkan ke media
kondensasi.
Receiver Tank (6), sebagai tempat penyimpanan atau pengumpulan refrijeran cair yang
sudah mengembun di kondens'or, sehingga catu refrijeran cair ke evaporator dapat
dijaga konstan sesuai keperluan.
Liquid line (7) adalah saluran yang terletak pada sisi masuk katub ekspansi, untuk
menyalurkan refrijeran cair dari receiver tank ke refrigerant control.
Refrigerant control (8) berfungsi untuk mengatur jumlah refrijerant cair yang akan
diuapkan di evaporator dan untuk menurunkan tekanan refrijeran cair yang masuk ke
evaporator, sehingga refrijeran cair dapat diuapkan pada suhu rendah sesuai yang
diinginkan.
1.2 Service Valve
Modul Prinsip Refrigerasi Komersial
SMK Negeri 1 Cerme - Gresik

Pada sisi hisap (suction) dan sisi tekan (discharge) kompresor biasanya
dilengkapi dengan katub khusus untuk keperluan pemeliharaan atau service operation.
Demikian juga pada sisi keluar (outlet) dari tanki tandon (receiver tank). Sesuai dengan
letaknya, disebut Suction Service valve (SSV), diacharge service valve (DSV), dan
Liquid receiver service valve (LRSV). Receiver pada sistem yang besar, biasanya
dilengkapi dengan shut-off valve pada kedua sisinya.

1.3 Hand Expansion Valve


Hand expansion valve adalah katub ekspansi yang diatur secara menual. Laju
aliran refijeran yang melalui katub tergantung pada beda tekanan pada mulut katub dan
bukaan katub jarumnya. Bila beda tekanan pada mulut katub jarum konstan, maka laju
aliran refrijeran cair juga konstan tidak terpengaruh oleh tekanan operasi evaporator.

Gambar 1.3 Hand expansion valve Kelemahan hand expansion valve adalah tidak
responsive terhadap perubahan beban pendinginan yang diterima oleh evaporator.

1.4 Automatic Expansion Valve


Modul Prinsip Refrigerasi Komersial
SMK Negeri 1 Cerme - Gresik

Gambar 1.4 menunjukkan diagram skematik automatic expansion valve. Katub ini
terdiri dari katub dan dudukan katub jarum, diafragma, filter dan pegas yang dapat
diatur tensinya melalui sebuah sekrup pengatur.

Gambar 1.4 Diagram skematik automatic expansion valve


Saringan atau filter batasanya dipasang pada sisi masuk katub untuk menyaring
atau mencegah kotoran agar tidak menghalangi kerja katub. Gambar 1.5
memperiihatkan konstruksi katub otomatis ini. Perhatikan Gambar 1.4, tekanan
evaporasi menekan diafrahma dari satu sisi yang cenderung untuk menutup katub
sedang tekanan pegas menekan diafrahma dari sisi lainnya yang cenderung membuka
Modul Prinsip Refrigerasi Komersial
SMK Negeri 1 Cerme - Gresik

katub. Pada saat kompresor bekerja, katub berfungsi menjaga tekanan evaporasi
seimbang dengan tekanan pegas.

1.5 Thermostatic Expansion Valve


Katub ekspansi thermosattik adalah jenis katub yang paling banyak digunakan,
karena efisiensinya tinggi dan mudah diadaptasikan dengan berbagai aplikasi
refrijerasi. Bila pada katub ekspansi otomatik pengaturannya berbasis pada tekanan
evaporator, maka kaub ekspansi thermostatik pengaturannya berbasis pada suhu gas
panaslanjut di bagian keluaran evaporator selalu konstan untuk memastikan refrijeran
yang dihisap kompresor selalu dalam fasa gas. Karena sifatnya tersebut, katub ekspansi
thermostatik sangat tepat digunakan pada sistem refrijerasi yang mempunyai beban
bervariasi. Gambar 1.7 memperiihatkan konstruksi katub ekspansi thermostatik.

Gambar 1. 5, llustrasi konstruksi katub ekspansi thermostatic


Bagian utama katub ekspansi thermostatik adalah (1) katub jarum dan
dudukannya, (2) diafrahma, (3) remote bulb yang berisi refrijeran cair, dilengkapi
dengan pipa kapiler yang langsung terhubung ke diafrahma, dan (4) pegas yang dapat
diatur tekanannya melalui sekrup pengatur tekanan. Seperti semua piranti kontrol laju
aliran refijeran lainnya, katub ekspansi thermostatik juga dilengkapi dengan filter dari
kasa baja yang diletakkan di sisi masukan katub. Remote bulb dipasang pada sisi
keluaran evaporator dicekam atau diklem kuat pada saluran outlet evaporator agar
Modul Prinsip Refrigerasi Komersial
SMK Negeri 1 Cerme - Gresik

dapat mendeteksi atau merespon langsung suhu refriejran yang mengalir pada sisi
outlet evaporator. Walaupun dalam prakteknya ada sedikit perbedaan antara suhu gas
pada saluran suction di mana remote bulb dipasang dan suhu refrijeran saturasi yang
ada di dalam remote bulb, tetapi untuk hal ini dapat diabaikan. Sehingga dapat
dianggap tekanan yang diberikan oleh refrijeran saturasi yang ada di dalam remote
bulb selalu berhubungan dengan suhu gas refrijeran yang ada di saluran outlet
evaporator dimana remote bulb dipasang.

Katub ekspansi thermostatic


sabran equaizer eksternal
Katub ekspansi thermostatic
sabran equaizer eksternal

Evaporator
Evaporator

Gambar 1.6 Lokasi pemasangan remote bulb pada sisi outlet


evaporator

Modul Prinsip Refrigerasi Komersial


SMK Negeri 1 Cerme - Gresik

Gambar 1.7, Pemasangan Sensing/Remote Bulb

Gambar 1.8, llustrasi prinsip kerja katub ekspansi thermostatic


Kerja katub ekspansi thermostatik merupakan hasil interaksi tiga jenis tekanan
yang bekerja pad diafrahma, ya'rtu tekanan pegas dan tekanan evaporasi yang akan
menekan diafrahma sehingga cenderung menutup katub dan tekanan yang dihasilkan
oleh refrijeran saturasi yang ada di dalam remote bulb bila refrijerannya mengembang
yang melawan tekanan pegas dan tekanan evaporasi, sehingga cenderung membuka
katub. Gambar 1.10 memperiihatkan gambar skema prinsip kerja katub ekspansi
thermostatik.
Asumsikan refrijeran cair yang ada di evaporator menguap pada suhu 4C
sehingga tekanan saturasi evaporasinya adalah 250 kPa. Asumsikan pula, tekanan yang
diberikan oleh pegas adalah 60 kPa, sehingga tekanan total yang diterima diafrahma
adalah (150 + 60) = 310 kPa. Bila rugi tekanan diabaikan maka suhu dan tekanan pada
semua titik di evaporator adalah sama. Tetapi refrijeran yang berada setelah titik B
hingga ke saluran outlet evaporator menguap sehingga suhunya naik dan refrijeran
Modul Prinsip Refrigerasi Komersial
SMK Negeri 1 Cerme - Gresik

10

saturasi berubah menjadi gas panaslanjut (superheat vapor), pada tekanan saturasi 250
kPa. Pada sisi ini suhu refrijeran naik 5K dari 4C, menjadi 9C. Refrijeran saturasi
yang ada di dalam remote bulb akan merasakan langsung perubahan suhu ini sehingga
suhunya juga naik menjadi 9oC dan menghasilkan tekanan pada diafrahma sebesar 310
kPa yaitu tekanan saturasi pada suhu 9C. Karena kedua tekanan yang bekerja pada
diafrahma mempunyai besaran yang sama, sehingga bukaan katub jarumnya akan
dipertahankan konstan.
Selama suhu refrijeran gas pada sisi outlet evaporator tetap konstan 9C, atau
derajad panas lanjut gas refrijeran tetap 5K, maka keseimbangan laju aliran refrijeran
ke evaporator akan tetap terjaga. Tetapi jika suhu gas panalanjut pada outlet evaporator
turun lebih kecil dari 5K, maka tekanan yang dihasilkan oleh remote bulb turun
sehingga katub jarum sedikit menutup karena tekanan pegas dan tekanan evaporasinya
menjadi lebih besar. Laju aliran refrijeran agak tersendat, hingga akhirnya suhu gas
panaslanjut pada sisi outlet evaporator naik kembali ke besaran 5K.
Kebalikannya, jika suhu gas panalanjut pada outlet evaporator turun lebih besar
dari 5K, maka tekanan yang dihasilkan oleh remote bulb naik sehingga bukaan katub
jarum menjadi lebih besar karena tekanan pegas dan tekanan evaporasinya menjadi
lebih kecil. Laju aliran refrijeran agak naik, hingga akhirnya suhu gas panaslanjut pada
sisi outlet evaporator naik kembali ke besaran 5K.
Pengaturan tekanan pegas melalui baut pengatur sering disebut sebagai 'setting
superheat'. Jika setting tekanan pegas dinaikkan, akan menaikkan derajad panaslanjut,
dan kebalikannya bila tekanan pegas diturunkan akan menurunkan derajad
panaslanjutnya. Biasa nya besaran derajad panaslanjut (setting superheat) yang lazim
dilakkan oleh pabrikan berkisar antara 4K hingga 5K.

bulb location

Modul Prinsip Refrigerasi Komersial


SMK Negeri 1 Cerme - Gresik

11

Gambar 1.9, Lokasi pemasangan remote bulb yang salah dan yang benar

Seperti telah dikemukakan di atas, karena adanya rugi tekanan pada pipa maka
tekanan pada sisi masuk dan sisi keluar evaporator tidak sama. Jika rugi tekanan yang
timbul cukup besar, maka dapat berakibat pada setting superheat-nya. Untuk mengatasi
hal ini maka pada katub ekspansi thermostatik ditambah asesori yang disebut sebagai
equalizer eksternal. Gambar 1.9 memperlihatkan konstruksi katub ekspansi
thermostatik yang dilengkapi dengan equalizer sedang gambar 1.10 memperlihatkan
prinsip kerjanya.

Gambar 1.10, Konstruksi katub ekspansi dengan equalizer eksternal

Gambar 1.11, Konstruksi katub ekspansi dengan eksternal equalizer

Modul Prinsip Refrigerasi Komersial


SMK Negeri 1 Cerme - Gresik

12

Dari gambar 1.11 dapat dilihat bahwa tekanan pegas 51 kPa ditambah dengan
tekanan tekanan outlet evaporator 188 kPa. Tekanan total yang diberikan ke diafrahma
adalah (188+51) = 239 kPa. Tekanan yang diberikan oleh remote bulb adalah 239 kPa.
Keadaan seimbang ini akan terus dipertahankan selama derajat panas lanjut refrijeran
gas sebesar 5K.
1.6 Evaporator
Evaporator adalah media pemindahan energi panas melalui permukaan agar
refrijeran cair menguap dan menyerap panas dari udara dan produk yang ada di dalam
ruang tersebut. Karena, begitu banyaknya variasi kebutuhan refrijerasi, maka
evaporator juag dirancang dalam berbagai tipe, bentuk, ukuran dan desain. Evaporator
dapat dikelompokkan dalam berbagai klasifikasi, misalnya, konstruksi, cara pencatuan
refrijeran cair, kondisi operasi, cara sirkulasi udara dan jenis katub ekspansinya. Dalam
sistem refrigerasi yang besar (umumnya tipe shell and tube), evaporator bisa dibagi
menjadi dua tipe yaitu :
a. Tipe Flooded Evaporator
Refrigeran dari XV akan masuk menggenangi shel yang di dalamnya berisi pipa
yang berisi air. Air hangat yang masuk di dalam pipa akan diserap panasnya oleh
refrigerant yang menggenangi shel. Akibat perpindahan panas ini, refrigeran yang
menggenangi shel akan menguap dan uap refrigeran akan naik menuju kompresor,
sedangkan air yang keluar dari shell akan menjadi dingin. Flooded evaporator
biasanya dilengkapi oleh sensor level liquid refrigeran di dalam shel yang terhubung
dengan mekanisme kerja electronic expansion valve sehingga akan mengatur
banyaknya refrigeran yang akan masuk ke dalam shel untuk menjaga tingkat terendah
refrigeran yang menggenangi shell.

Gambar 1.12 Flooded Evaporator

Modul Prinsip Refrigerasi Komersial


SMK Negeri 1 Cerme - Gresik

13

b.

Tipe Direct Expansion (DX) Evaporator

Gambar 1.13 Dry-Expansion Evaporator


Beda dengan tipe Flooded evaporator, refrigeran yang keluar dari XV akan
masuk melalui pipa dan air akan masuk memenuhi shell. Air di dalam shell akan
didinginkan oleh refrigeran yang ada di dalam pipa, konsekuensinya refrigeran akan
menguap dan keluar menuju kompresor.

1.7 Konstruksi Evaporator


Dilihat konstruksinya, evaporator dapat dibagi menjadi empat kelompok, yaitu
(1) bare-tube, (2) plate-surface, (3) finned dan (4) shell and tube. Evaporator jenis Bare
tube dan plate-surface dapat dikdompokkan sebagai evaporator permukaan primer, di
mana permukaan untuk transfer panas mempunyai kontak langsung dengan refrijeran
cair yang menguap di dalamnya. Kalau evaporator jenis finned, maka hanya pipa
refrijeran yang disebut permukaan primer, sedangkan finned-nya disebut sebagai
evaporator permukaan sekunder. Finned hanya berfungsi menangkap udara
disekitarnya dan mengubungkannya ke pipa refrijeran. Evaporator Bare-tube dan
plate-surface lazim digunakan untuk keperluan pendinginan air dan pendnginan udara
yang suhunya di bawah 1C. Akumulasi bunga es pas permukaan evaporator tidak
dapat dicegah. Oleh karena itu perlu diupayakan untuk menghilangkan bunga es di
permukaan evaporator.

Modul Prinsip Refrigerasi Komersial


SMK Negeri 1 Cerme - Gresik

14

1.7.1 Bare tube Evaporator


Evaporator jenis bare-tube, terbuat dari pipa baja atau pipa tembaga.
Penggunaan pipa baja biasanya untuk evaporator berkapasitas besar yang
menggunakan ammonia. Pipa tembaga biasa digunakan untuk evaporator berkapasitas
rendah dengan refrijeran
selain ammonia.

Gambar 1.14 Desain Evaporator Bare-tube

7.1.2 Plate Surface Evaporator


Evaporator permukaan plat atau plate-surface dirancang dengan berbagai jenis.
Beberapa diantaranya dibuat dengan menggunakan dua plat tipis yang dipres dan dilas
sedemikian sehingga membentuk alur untuk mengalirkan refrijeran cair. Cara lainnya,
menggunakan pipa yang dipasang diantara dua plat tipis kemudian dipress dan dilas
sedemiak seperti gambar 1.15.

Gambar 1.15 Desain Evaporator Permukaan Plat

Modul Prinsip Refrigerasi Komersial


SMK Negeri 1 Cerme - Gresik

15

Gambar 1.16 Desain evaporator Permukaan plat urituk refrigerator Domestik

Gambar 1.17 Desain evaporator permukaan plat dengan pipa


7.1.3 Finned Evaporator
Evaporator jenis finned adalah evaporator bare-tube tetapi dilengkapi dengan
sirip-sirip yang terbuat dari plat tipis alumunium yang dipasang disepanjang pipa
untuk menambah luas permukaan perpindahan panas. Sirip-sirip alumunium ini
berfungsi sebagai permukaan transfer panas sekunder. Jarak antar sirip disesuaikan
dengan kapasitas evaporator, biasanya berkisar antara 40 sampai 500 buah sirip per
meter.
Evaporator untuk keperluan suhu rendah, jarak siripnya berkisar 80 sampai 200 sirip
per meter. Untuk keperluan suhu tinggi, seperti room AC, jarak fin berkisar 1,8 mm.

Gambar 1.18 Desain evaporator permukaan plat dengan pipa

1.8 Kapasitas Evaporator


Modul Prinsip Refrigerasi Komersial
SMK Negeri 1 Cerme - Gresik

16

Kapasitas evaporator biasanya dinyatakan dalam watt. Agar dapat memindahkan


energi panas sesuai denga keinginan, maka permukaan perpindahan panas evaporator
harus mempunyai kapasitas perpindahan panas yang cukup, agar semua refrijeran
yang akan diuapkan di dalam evaporator dapat berlangsung dengan optimal dan
menghasilkan pendinginan yang maksimum pula.
Pemindahan panas yang berlangsung di evaporator dapat terjadi dalam dua
cara.yaitu konveksi, dan konduksi. Besarnya kapasitas perpindahan panas pada
evaporator tergantung pada lima variable sebagai berikut:
1)

Luas area permukaan

2)

Beda suhu

3)

Faktor konduktivitas panas

4)

Ketebalam material yang digunakan

5)

Waktu

Secara matematika, jumlah panas yang dipindahkan dapat dihitung dengan formula
sebagai berikut:
Q = A x U x TD
Di mana
Q

= Jumlah panas yang dipindahkan dalam W

= Permukaan luar evaporator dalam m2

U
TD

= Faktor konduktansi panas dalam W/m2 K


= Beda suhu refrijeran dan udara luar

1.9 Kondenser
Seperti telah diketahui, bahwa fungsi condenser di dalam sistem Refrigerasi
Kompresi Gas adalah untuk merubah wujud refrigeran dari gas yang bertekanan dan
bersuhu tinggi dari discharge kompresor menjadi cairan refrigeran yang masih bersuhu
dan bertekanan tinggi. Pada saat gas bergerak dari sisi discharge kompresor masuk ke
dalam condenser, ia mengandung beban kalor yang meliputi kalor yang diserap oleh
evaporator untuk penguapan liquid refrigeran, kalor yang diserap untuk menurunkan
suhu liquid refrigeran dari suhu kondensing ke suhu evaporating, kalor yang dihisap
oleh silinder chamber dan kalor yang dipakai untuk mengkompresi gas dari evaporator.
Kondenser harus mampu membuang kalor tersebut ke cooling medium yang digunakan
oleh kondensernya. Untuk membuang kalor yang dikandung refrigeran yang berada di
Modul Prinsip Refrigerasi Komersial
SMK Negeri 1 Cerme - Gresik

17

dalam coil kondenser diperlukan cooling medium. Sesuai dengan jenis cooling medium
yang digunakan maka kondenser dapat dibedakan menjadi 3, yaitu :
1)

Air Cooled Condenser (menggunakan udara sebagai cooling medium),

2)

Water Cooled Condenser (menggunakan air sebagai cooling medium dan

3)

Evaporative Condenser (menggunakan kombinasi udara dan air)


Seperti telah diketahui, kondenser diletakkan di luar ruangan (out door). Sehingga

permukaan coil kondenser tentu saja mudah sekali terkena kotoran baik oleh debu, uap
air dan kotoran lainnya. Agar pembuangan kalor tersebut dapat beriangsung dengan
efektis secara terus menerus maka permukaan perpindahan panas pada kondenser harus
selalu dalam kondisi bersih, bebas kotoran dan debu. Untuk itu kondenser harus selalu
dibersihkan secara rutin.
1) Air Cooled Condeser (ACC)
Air Cooled Condeser (ACC) adalah condenser dengan media pendingin
udara.

Keuntungan menggunakan Air

Cooled Condeser adalah mengurangi

instalasi untuk cooling tower sehingga mengurangi biaya perawatan. Instalasi


cooling tower akan berhubungan dengan maintenance pada water treatment, make up
water, perawatan pada tower, freeze protection dan pembesihan tabung condenser.
Keuntungan lain dari

Air Cooled Condeser adalah sistem yang sudah utuh,

packaged system, sehingga akan mengurangi waktu untuk mendesain sistem,


instalasi yang sederhana, dan faktor packaging systemang membuat semua
komponen refrigerasi yang sudah terpasang dari pabrik sehingga memudahkan untuk
monitoring sistemnya. Kerugian dari sistem ini adalah jika temperatur ambient diatas
dari temperature kondesor serta mahalnya biaya energy listrik. Air Cooled Condeser
dinstalasi dibagian luar gedung.

Modul Prinsip Refrigerasi Komersial


SMK Negeri 1 Cerme - Gresik

18

Gambar 1.19 Air Cooled Condenser


2) Water Cooled Condenser (WCC)
Water Cooled Condenser adalah condenser dengan media pendingin air. Energi
yang digunakan pada Water Cooled Condenser lebih efesien dibandingkan Air
Cooled

Condenser. Keuntungan menggunakan Water Cooled Condenser

salah

satunya tidak dipengaruhi oleh temperatur ambient . Life time dari Water-cooled
chiler bisa mencapai 20-25 tahun sedangkan untuk air-cooled chilers hanya 15-20
tahun. Water Cooled Condenser dinstalasi di bagian dalam gedung biasanya di
basement. Kerugian dari Water Cooled Condenser adalah instalasi yang

tidak

sederhana. Secara umum sistem Water Cooled Condenser bisa dibagi menjadi 2
kategori, yaitu :
a.

Waste-water system, dimana air yang sudah terpakai di condenser langsung


dibuang. Biasanya sistem ini dipakai untuk lokasi sistem yang kaya dengan
sumber air.

Gambar 1.20. Waste-water system


b. Recirculated water system, dimana air yang sudah terpakai untuk mendinginkan
Modul Prinsip Refrigerasi Komersial
SMK Negeri 1 Cerme - Gresik

19

kondenser didinginkan melalui cooling tower lalu disirkulasikan kembali ke


condenser.

Gambar 1.21. Recirculated water system

a)

Terdapat tiga tipe dasar dari Water Cooled Condenser yaitu :


Tipe double-tube / tube and tube
Tipe ini menggabungkan dua pipa, yang satu berisi refrigeran dan satunya
lagi berisi air dengan arah arus saling berlawanan.

Gambar 1.22 Double tube Condenser

Modul Prinsip Refrigerasi Komersial


SMK Negeri 1 Cerme - Gresik

20

b) Tipe Shell and tube


Tipe ini menggunakan shell (tabung) yang berfungsi
menampung

refrigeran

dari

kompresor

untuk

dikondesasikan sedangkan air sebagai media penghantar


panas berada di dalam pipa horizontal.
Refrigerant vapor in
Shell
Hot water out

Tube
Cold
water Gambar 1.23 Shell and tube
in
Condenser

Refrigerant liquid out

c) Tipe Shel and coil


Tipe ini menggunakan shell (tabung) yang berfungsi
menampung

refrigeran

dari

kompresor

untuk

dikondesasikan sedangkan air sebagai media penghantar


panas berada di dalam pipa coil.

Modul Prinsip Refrigerasi Komersial


SMK Negeri 1 Cerme - Gresik

21

Gambar 1.24 Shell and coil Condenser

Modul Prinsip Refrigerasi Komersial


SMK Negeri 1 Cerme - Gresik

22

3) Evaporative Cooled Condenser (ECC)


Evaporative Cooled Condenser adalah condenser dengan media pendingin
kombinasi antara udara dan air.

Gambar 1.25 Evaporative Cooled Condenser


1.10 Condensing unit
Dalam prakteknya, untuk memudahkan dalam hal desain dan perakitan sistem
refrijerasi kompresi gas, susunan kompresor, hot gas line, condensor dan receiver tank
serta penggerak kompresor biasanya motor listrik satu fasa atau tiga fasa, disusun
dalam satu kesatuan unit, dan lazim disebut sebagai condensing unit. Gambar 1.26
memperlihatkan tipikal condensing unit, dengan kompresor hermetik.

Gambar 1.26 Tipikal Air Cooled Condensing Unit, system hermetic

Rangkuman
Efek refrigerasi diperoleh dengan cara menguapkan liquid refrigerant yang ditempatkan di
dalam refrigerator. Karena refrigerant (R134a) berada di bawah tekanan atomsfir normal
(1,0132 bar), maka kondisi saturasi refrigerant dicapai pada suhu -29,8C. penguapan pada
suhu rendah ini, menyebabkan refrigerant dapat menyerap panas udara ruang dengan
cepat.
Panas yang diserap melalui penguapan liquid refrigerant akan dibuang keluar ruang
melalui lubang angin oleh gas refrigerant. Efek pendinginan akan berlangsung terus hingga
liquid refrigerannya habis. Kontainer yang digunakan untuk menyimpan liquid refrigerant
disebut evaporator. Evaporator adalah salah satu bagian penting dalam system refrigerasi
kompresi mekanikal. Dalam system kompresi uap, refrigerant bersirkulasi di dalam system
pemipaan secara tertutup. Dalam satu siklus terdapat 4 proses utama yaitu :
1. Proses Evaporasi
2. Proses Kompresi
3. Proses Kondensasi
4. Proses Ekspansi

Lembar Kerja
1. Jelaskan prinsip refrigerasi

2. Jelaskan istilah condensing unit

3. Jelaskan proses evaporasi!

4. Jelaskan proses kondensasi!

5. Jelaskan proses kompresi!

2. Aplikasi Sistem Komersial


Pada awal produksinya, peralatan refrijerasi mekanik berbadan besar, mahal dan
tidak begitu efisien. Penggunaanyapun masih sangat terbatas, yaitu sebagai Mesin
Pembuat Es, Penyimpanan dan Pengepakan Daging dan sebagai Gudang Pedinginan.
Hanya dalam beberapa dekade, industri refrijerasi mengalami perkembangan yang sangat
cepat, hingga sekarang. Ada beberapa factor yang menyebabkannya. Pertama, dengan telah
dikembangkannya metoda atau cara manufaktur yang presisi, menjadikan peralatan
refrijerasi modern menjadi semakin kecil dan kompak dan menjadi semakin efisien.
Kemajuan ini seiring dengan kemajuan yang dicapai dalam bidang motor listrik, sebagai
penggerak utama kompresor, sehingga memungkinkan mendesain peralatan refrijerasi
dalam skala kecil untuk keperluan domestic dan komersial serta untuk keperluan lainnya
misalnya transportasi, kenyamanan hunian, dan proses produksi di industri.

2.1 Klasifikasi
Untuk keperluan studi dan pepelajaran, industri refrijerasi dapat dikelompokkan ke
dalam enam kategori umum, yaitu (1) refrijerasi domestic, (2) refrijerasi komersial, (3)
refrijerasi industri, (4) Refrijerasi transportasi dan Kapal Laut, (5) Tata Udara untuk
kenyamanan Hunian, dan (6) Tata Udara untuk keperluan proses produksi di industri.
Refrijerasi Domestik
Refrijerasi domestic memiliki ruang lingkup yang agak terbatas, ditujukan
pada refrigerator dan freezer untuk keperluan rumah tangga. Walaupun ruang
lingkupnya terbatas, tetapi industri refrijerasi domestic ini mengambil porsi yang
cukup signifikan pada industri refrijerasi secara keseluruhan. Peralatan refrijerasi
domestic, biasanya berkapasitas kecil, konsumsi daya input antara 35 watt hingga
375 watt, dengan menggunakan kompresor system hermetic.
Refrijerasi Komersial
Ada banyak masalah yang idhadapi oleh dunia Refrijerasi komersial, antara
lain perencanaan atau desain, pemasangan atau instalasi, dan pemeliharaan. Aplikasi
refrijerasi komersial telah merambah di banyak bidang usaha, antara lain pasar ritel,

restoran, hotel dan industri lainnya yang berkaitan dengan penyimpanan, pengolahan
dan pengawetan makanan. Sesuai dengan fungsinya, ada banyak jenis dan tipe yang
tersedia di pasaran untuk memenuhi kebutuhan komersial, misalnya reach-in
refrigerator, single-duty service case, double-duty service case, high multishelf
produce sales case, dan open type display.

Gambar 1.27 Reach-in Refrigerator

Reach-in Refrigerator merupakan perlatan yang paling banyak pemakainya


untuk keperluan komersial. Beberapa pengguna peralatan ini dapat disebutkan di
sini, toko ritel, toko sayuran dan buah-buahan, toko daging, toko roti, toko obat,
restoran dan warung makan, toko bunga dan hotel. Biasanya peralatan ini digunakan
sebagai tempat penyimpanan dan sebagian lagi digunakan sebagai tempat pajangan
(display). Sebagai tempat pajangan, pintunya terbuat dari kaca.
Display Case
Sesuai dengan namanya, display case adalah peralatan refrijerasi komersial
yang berfungsi sebagai tempat pajangan produk atau komoditi yang akan dijual.
Tampilan display case ini sengaja didesain dengan sangat atraktif, untuk
menimbulkan minat dan ketertarikan para konsumen agar dapat menstimulasi
penjualan produk. Sehubungan dengan fungsinya tersebut, maka penampilan dan
pajangan komoditi merupakan pertimbangan utama dalam mendesain display case.
Pada display case, tidak begitu memperhatikan kondisi penyimpanan yang optimal,
sehingga lama penyimpanan komoditi di dalam display case sangat terbatas, dengan

rentang waktu hanya beberapa jam untuk produk tertentu hiingga beberapa minggu,
untuk produk tertentu pula, dan biasanya paling lama 3 minggu.

Multishetf display case, spserti yang diperlihatkan dalam gambar 1.27


digunakan untuk tempat pajangan komoditi seperti daging, sayuran, buah-buahan,
makanan beku, es krim dan komoditi lainnya. Display case dapat digunakan untuk
berbagai komoditi karena dilengkapi dengan pengontrol suhu dan kelambaban udara.
Suhu dan kelambaban udara diatur sesuai dengan komoditi yang disimpan di
dalamnya.

Gambar 1.28 Display Case, single duty.

Gambar 1.29 Multishelf

Gambar 1.30, Open type display case, untuk menyimpan makanan beku
dan es krim

Lembar Kerja
1. Jelaskan system refrigerasi komersial!
2. Jelaskan aplikasi system komersial!
Tugas Praktek
Topik : Mengidentifikasi Sistem Refrigerasi Komersial
Prosedur Pelaksanaan Praktikum :
1. Meminta ijin pada pelatih/instruktur
2. Mengidentifikasi komponen system refrigerasi
3. Mengoperasikan system refrigerasi
4. Mencatat data-data unjuk kerja/operasi system refrigerasi
5. Melakukan re-setting untuk mengoptimalkan unjuk kerja system refrigerasi
6. Membuat kesimpulan
Petunjuk :
1. Gunakan format isian yang telah disediakan !
2. Utamakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Format 1. Identifikasi Komponen Sistem Refrigerasi
Peralatan

Data Pengamatan

Light Commercial Suhu ambient:


Refrigeration

Tekanan Suction :
Tekanan Discharge :
Suhu Kabinet : Suhu
Suhu Evaporasi:
Suhu Kondensing :

Commercial

Suhu ambient :

Refrigeration

Tekanan Suction :
Tekanan Discharge :

Setting/Re-setting

Suhu Kabinet:
Suhu Evaporasi:
Suhu Kondensing :

B. Kegiatan Belajar 2
Diagram Siklus Refrigerasi
Tujuan Pembelajaran :
Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini, diharapkan peserta mampu :
1. Menguasai PH-diagram
2. Membuat diagram siklus refrigerasi
1. PH-Diagram
Untuk dapat lebih mendalami pengetahuan tentang mesin refrigerasi kompresi
gas diperlukan studi yang lebih intensif tidak hanya proses individual yang
menghasilkan suatu siklus tetapi juga tentang hubungan antara berbagai proses yang

terjadi, dan efek yang ditimbulkan oleh perubahan satu proses terhadap proses lainnya
di dalam siklus. Misalnya, perubahan pada proses kompresi, pasti akan berpebgaruh
terhadap proses kondensasi, ekspansi dan evaporasi. Untuk memahami hubungan
antar proses tersebut digunakan suatu chart dan diagram untuk memperlihatkan siklus
lengkap secara grafikal.
Representasi secara grafikal tentang siklus refrijrasi ini memungkinkan kita
untuk dapat mempertimbangkan secara simultan semua perubahan yang dapat terjadi
pada refrijeran dan akibat yang dapat ditimbulkannya selama proses berlangsung.
Diagram yang sering digunakan dalam menganalisa siklus refrijerasi adalah diagram
tekanan versus entalpi atau lazim disebut sebagai ph Diagram.
Pressure-enthalpy chart atau lazim disebut ph chart adalah diagram yang
menampilkan kondisi refrijeran dalam berbagai status termodinamik sebagai titik atau
garis yang dipetakan pada ph diagram. Titik pada ph dagram yang menampilkan
kondisi refrijeran pada satu status termodinamik dapat dipetakan bila ada 2 sifat
refrijeran yang diketahui. Begitu status titik sudah terpetakan, maka sifat lainnya dapat
ditentukan pada diagram. Gambar 2.1 memperlihatkan peta ph diagram. Peta ph
diagrarm tersebut memetakan 3 pembagian daerah yang dipisahkan oleh kurva
saturasi cair dan kurva saturasi gas, yaitu daerah saturasi (saturated region),
superdingin (subcooled region) dan panaslanjut (superheated region).

Specific enthalpy (kJ/kg]


Gambar 2.1 Pemetaan tiga daerah penting pada ph Diagram

Daerah tengah yang dibatasi oleh kurva saturasi cair (saturated vapor curve)
dan kurva saturasi gas (saturated liquid curve) disebut daerah saturasi. Pada daerah ini
refrijeran mengalami perubahan fasa. Perubahan fasa dari cair ke gas berlangsung
secara progresif dari arah kiri ke kanan dan perubahan dari gas ke cair, berlangsung
secara progresif dari arah kanan ke kiri. Tepat pada garis kurva saturasi cair maka
wujud refrijerannya adalah cair. Begitu juga tepat pada garis kurva saturasi gas, maka
wujud refrijerannya adalah gas.
Tepat ditengah daerah saturasi, merupakan daerah campuran antara refrijeran
gas dan cair dengan perbandingan sama. Pada daerah yang dekat dengan garis kurva
saturasi cair, persentasi cairan lebih banyak dari pada gas. Begitu sebaliknya, pada
daerah dekat garis saturasi gas, persentasi gas lebih banyak dibandingkan refrijeran
cair.

Perbandingan jumlah refrijeran cair dan gas ini ditunjukkan dengan garis skala yang
disebut garis Constant quality (Gambar 2.2).

300
Specific"enthalpy (id/kg)
Gambar 2.2 Pemetaan tekanan, suhu dan entalpi
pada ph-chart

Garis constant quality ini membentang dari atas ke bawah melalui bagian
tengah chart dan hampir parallel dengan garis saturasi cair dan gas. Pada gambar 2.2
telah terpetakan garis constant quality 10%. Sebagai contoh, setiap titik pada garis
constant quality dekat dengan garis saturasi cair, maka kualitas campuran refrijeran
cair dan gas adalah 10%. Artinya, 10% masa refrijeran berpa gas dan 90% masa
refrijeran berupa cairan atau liquid. Demikian juga untuk garis lainnya sama. Misalnya
garis constant quality yang berada di dekat garis saturasi gas adalah 90%. Artinya,
90% masa refrijeran berupa gas dan 10% berupa liquid.
Garis horizontal yang membentang dari kiri ke kanan melalui bagian tengah
chart adalah garis tekanan konstan (constantpressure), dan garis vertikal yang
membentang dari atas ke bawah melalui bagian tengah chart adalah garis entalpi
konstan (constant enthalpy). Semua titik pada garis constant pressure mempunyai
tekanan yang sama. Demikian juga semua titik pada garis constant elthalpy
mempunyai eltalpi sama.

Garis suhu konstan atau constant temperature pada daerah subcooled region
dinyatakan dengan garis vertical memotong garis saturated liquid dan parallel dengan
garis constant enthalpy. Pada bagia tengah, karena perubahan fasa refrijeran

bertangsung pada suhu dan tekanan konstan, maka garis constant temperature parallel
dan segaris dengan garis constant pressure. Pada garis saturated vapor, maka garis
constant temperature berbelok arah lagi dan pada daerah superheated region, kurva
garis constant 'temperature menurun curam ke bagian dasar chart. Pada gambar 2.2,
diberikan contoh sebuah garis constant temperature pada skala 15C. Selanjutnya,
pada daerah superheated region, dipetakan garis constant entropy, berupa garis
diagonal hampir tegak dan garis constant volume, yang dipetakan dengan garis
lengkung ke atas melalui garis saturated vapor.

Gambar 2.3 Pemetaan proses refrigerasi pada ph-chart

Besaran atau nilai dari berbagai sifat refrijeran penting yang diperiukan dalam
siklus refrijerasi dapat langsung dibaca dengan mudah melalui ph-chart Untuk
menyederhanakan chart, maka jumlah garis skala pada ph-chart dibuat seminimum
mungkin. Oleh karena itu, bila hasil pemetaan siklus tidak berada tepat pada garis
skalanya, perlu dilakukan interpolasi untuk menentukan nilai yang sebenarnya. Dalam
buku ini, ph-chart perhitungannya didasarkan pada asumsi sebagai berikut: masa
refrijeran dinyatakan dalam 1 kg, spesifik volume dalam satuan m 3/kg, entapi dalam

kJ/kg, dan entropi dalam kJ/kg.K. Skala entapli dapat ditemukan pada garis horisontal
di bagian bawah chart. Gambar 2.4 memperlihatkan contoh pemetaan siklus refrijerasi
pada ph- chart. Pada chart dapat dibaca berbagai kondisi refrijeran selama SlklUSnya
berlangsung. Titik A, B, C, D pada Chart sesuai dengan titik A, B, C, dan D pada
gambar 6.4. Dari chart dapat diketahui, misalnya Suhu evaporasi adalah - 5C, suhu
kondensasi adalah 40C. Tekananan kondensasi adalah 9,61 bar, tekanan evaporasi
adalah 2,61 bar. Suhu refngerant gas pada sisi discharge kompresor adalah 46,8C (D)
atau 66,7C (D) Panas sensible dan panas laten yang ditambahkab atau diambil dari
refrijeran juga dapat langsung diketahui Demikian juga entalpinya.

Gambar 2.4, Contoh Pemetaan siklus refrigerasi pada ph-chart

1.1 Proses Ekspansi


Pada kasus gambar 2.4, diasumsikan, refrijeran tidak mengalami perubahan saat keluar
dari condeser menuju ke katub ekspansi, jadi Tekanan refrijeran saat mencapai katub
ekspansi sama dengan kondisi di titik A, yaitu 9,61 bar. Setelah melewati katub ekspansi
(titik B) tekanan refrijeran cair langsung turun karena mengalami proses ekspansi
adiabatic, yaitu entalpi tidak berubah. Garis ekapansi adiabatic A-B merupakan garis lurus,
Karena entalpinya tidak berubah. Pada titik B tekanan refrijeran cair adalah 2,61 bar, Suhu
-5C, entalpi 238,535 kJ/kg.
1.2 Proses Evaporasi
Titik B hingga ke titik C adalah proses eveporasi, yaitu penguapan refrijeran cair d
evaporator. Karena penguapan terjadi pada suhu dan tekanan konstan, maka proses B-C
lazim disebut sebagai isothermal dan isobar, dan diyatakan dengan garis lurus horizontal
dari titik B ke titik C. Pada titik C penguapan refrijeran selesai, sehinga kondisinya disebut
saturasi pada suhu dan tekanan penguapan. Pada titik C ini, kondisi tekanan refrijeran
adalah 2,61 bar, suhu -5, entalpi 349,32 kJ/kg. Garis BC lazim disebut sebagai efek
refrijerasi (refrigerating efecf) atau qe. Besarnya qe adalah (349,32 - 238,54) kJ/kg =
110,78 kJ/kg.
1.3 Proses Kompresi
Proses refrijerasi yang ditunjukkan dalam gambar 2.3 disebut proses refrijerasi saturasi,
karena kompresor menghisap saturasi gas hasil evaporasi di evaporator. Garis CD
menyatakan proses kompresi yang dilakukan oleh kompresor, yaitu meningkatkan tekanan
dan suhu refrijeran gas yang dihisap oleh katub suction dan kemudian mengkompresi
hingga tekanan tertentu, yang disebut tekanan kondensasi, titik D. Dalam kasus ini, proses
kompresi yang dilakukan oleh kompresor, lazim disebut sebagai proses kompresi
isentropik, yaitu proses kompresi yang berlangsung pada entropi konstan atau constant
entropy. Karena tidak ada perubahan entropi selama proses kompresi dari titik C ke titik D,

maka entropi refrijeran pada titik C sama dengan entropi refrijeran pada titik D. Oleh
karena itu titik D dapat dipetakan pada ph-chart mengikuti garis constant entropy dari titik
C hingga memotong garis constant pressure, yaitu tekanan kondensasi, di titik D.
Pada titik D, kondisi refrijeran gas disebut gas panaslanjut pada tekanan kondensasi 9,61
bar, pada suhu saturasi kondensasi 40C. Garis CD lazim disebut sebagai Energi panas
untuk kompresi atau kerja kompresi, atau qw. Besarnya adalah (372,4 - 349,32) kJ/kg =
23,08 kJ/kg.
Hasil penyerapan panas yang dilakukan kompresor, menyebabkan kondisi refrijeran gas
yang dipampatkan oleh kompresor menjadi gas panaslanjut, yang suhunya di atas suhu
saturasi pada tekanan kondensasi. Suhu gas panaslanjut ini mencapai 46,75C, sedang
suhu saturasi pada tekanan 9,61 adalah 40C. Sebelum gas dapat diembunkan (kondensasi)
maka suhu gas panaslanjut harus diturunkan hingga ke suhu saturasi sesuai tekanan
kondensasinya. Panas yang dipindahkan adalah panas sensibel (garis DE).

1.4 Proses Kondensasi


Biasanya, proses DE (panas sensibel) dan proses kondesasi EA (panas laten),
berlangsung di kondensor, yaitu gas panaslanjut dari kompresor didinginkan hingga
mencapai suhu kondensasi dan kemudian mengembun. Proses DE berlangsung dibagian
atas kondensor dan saluran gas panas. Pada titik E, kondisi refrijeran adalah gas saturasi
pada suhu dan tekanan kondensasi. Sifat-sifatnya sebagai berikut: tekanan 9,61 bar, suhu
40C, entalpi 367,146 kJ/kg.
Proses EA adalah proses kondensasi gas saturasi di kondensor. Karena kondensasi
berlangsung pada suhu dan tekanan konstan, maka garis EA segaris dengan garis constant
pressure dan conctant temperature dari titik E ke titik A.
Panas yang dibuang ke media kondensasi adalah qc adalah :
(372,4 - 238,54) kJ/kg = 133,86 kJ/kg.
Atau qc = qe + qw = 110,78 + 23,08 = 133,86 kJ/kg.
Bila kapasitas refrijerasi dikehendaki sebesar 1 kW, maka masa refrijeran yang harus
disirkulasi di dalam sistem kompresi gas ini adalah :
m=

Qe
=
qe

1(kW )
=0,00903 kg /det 9,03 g/det
kj
110, 78( )
kg

Kapasitas kondensasi Qc adalah :


Qc = (m).(qc) = 0,00903 (kg/det) x 133,86 (kj/kg) = 1,209 kj/det
Kapasitas kompresi Qw adalah :
Qw = (m).(qw) = 0,00903 (kg/det) x 23,08 (kj/kg) = 0,20841 kj/kg

1.5 Coeficient of Performance (COP)


Kualitas unjuk kerja suatu sistem refrijerasi dapat dinyatakan dengan suatu angka
hasil perbandingan antara energi yang diserap dari udara ruang dan energi yang digunakan
untuk mengkompresi gas di kompresor. Perbandingan kedua energi tersebut lazim disebut
sebagai Koefisien unjuk kerja dari siklus refrijerasi atau Coefficient of performance (cop).
COP = 110,78 (kj/kg)/23,08(kj/kg) = 4,8
2.

Pengaruh Suhu Evaporasi


Efisiensi siklus refrijerasi kompresi uap bervariasi terhadap suhu eveporasi dan suhu

kondensasi. Tetapi pengaruh suhu evaporasi terhadap efisiensi siklus lebih besar
dibandingkan suhu kondensasi.
Gambar 2.5 memberikan ilustrasi bagaimana pengaruh suhu evaporasi terhadap
efisiensi siklus refrijerasi. Gambar tersebut menunjukkan hasil pemetaan pada ph-chart
dari dua siklus refrijeasi yang mempunyaisushu evaporasi berbeda. Siklus pertama, dengan
suhu evaporasi -10C ditandai melalui titik A, B, C, D, E dan siklus kedua dengan suhu
5C , ditandai dengan titik A, B\ C\ D', dan E.

Gambar 2.5, Pemetaan dua suhu evaporasi yang berbeda

Untuk memperlihatkan perbedaannya, marilah kita hitung entalpinya.


(a)

untuk siklus dengan suhu -10C


qe = hc - ha = (347,13 - 238,54) kJ/kg = 108,59 kJ/kg
qw. = hc - hc = (373,33 - 347,13) kJ/kg = 26,2 kJ/kg
qc = hc - h3 = (373,33 - 238,54) kJ/kg = 134,79 kJ/kg

(b) untuk siklus dengan suhu 5C


qe = hc - ha = (353,6 - 238,54) kJ/kg = 115,06 kJ/kg
qw = hd - hc = (370,83 - 353,6) kJ/kg = 17,23 kJ/kg
qc = hd - ha = (370,83 - 238,54) kJ/kg = 132,29 kJ/kg
Kenaikan Efek refrijerasi terhadap kenaikan suhu evaporasi adalah :
115,06 kJ/kg - 108,59 kJ/kg = 6,47 kJ/kg Atau (6,47 /108,59) x 100 = 5,96% . Jadi
semakin tinggi suhu evaporasi semakin besar pula efek refrijerasinya.
Sekarang marilah kita tinjau perbedaan masa refrijeran terhadap kenaikan suhu
evaporasi.
(a)

untuk siklus dengan suhu -10C, besaran masa refrijeran per kilowatt kapasitas
refrijerasi adalah:
1(kW )
kj
108,59( ) = 0,00921 kg/det.
kg

(b) untuk siklus dengan suhu 5C, besaran masa refrijeran per kilowatt kapasitas
refrijerasi adalah:
1(kW )
kj
115,06 ( ) = 0.00869 kg/det
kg

Pada kenaikan suhu evaporasi, jumlah masa refrijeran yang disirkulasikan mengalami
penurunan. Penurunannya sebesar :
0,00921 (kg/det) 0,00869 (kg/det) / 0,00921 (kg/det) x 100% = 5,65 %
Sekarang kita tinjau perbedaan daya teoritis yang digunakan untuk kompresi
refrijeran.
(a)

untuk siklus dengan suhu -10C, besaran daya teoritis kompresi adalah :
Pt = mxqw = 0,00921 (kg/det)x26.2(kJ/kg) = 0,2413 kW

(b) untuk siklus dengan suhu 5C, besaran daya teoritis kompresi adalah :
Pt = mxqw = 0,00869(kg/det)17,23(kJ/kg) = 0,1497 kW
Dari sini dapat dinyatakan, bahwa kenaikan suhu evaporasi akan menurunkan daya
kompresi teoritis sebesar:
0,2413 0,1497 / 0,2413 x 100% = 36,7%
Terakhir, marilah kita tinjau efisiensi siklus refrijerasinya.
Untuk membandingkan efisiensi siklusnya, dapat dilakukan dengan membandingkan
COP antara kedua siklus tersebut.
(a) untuk siklus dengan suhu -10C, besaran COP adalah :
108,59( kJ /kg)
=4,14
26,20 (kJ /kg)
(b) untuk siklus dengan suhu 5C, besaran COP adalah :
115,06(kJ /kg)
=6,68
17,23( kJ /kg )
Sudah dapat dipastikan, bahwa COP dan juga efisiensi siklus akan ikut naik bila suhu
evaporasinya juga naik. Disini, kenaikan suhu evaporasi dari -10C ke 5C,
menyebabkan kenaikan efisiensi sebesar:
6,684,14
x 100=61,4
4,14
3. Pengaruh Suhu Kondensasi
Walaupun pengaruh perbedaan suhu kondensasi terhadap efisiensi siklus tidak sebesar
suhu evaporasi, tetapi pengaruh perbedaan suhu kondensasi terhadap efisiensi tetap tidak

boleh diabaikan. Gambar 2.6 memberikan ilustrasi bagaimana pengaruh suhu kondensasi
terhadap efisiensi siklus refrijerasi. Gambar tersebut menunjukkan hasil pemetaan pada phchart dari dua siklus refrijeasi yang mempunyai suhu kondensasi berbeda. Siklus pertama,
dengan suhu evaporasi 40C ditandai melalui titik A, B, C, D, E dan siklus kedua dengan
suhu 50C, ditandai dengan titik A' B', C, D', dan E'.

Gambar 2.6, Pemetaan dua suhu kondensasi yang berbeda


Untuk memperlihatkan perbedaannya, marilah kita hitung entalpinya.
(a) untuk siklus dengan suhu evaporasi -10C dan suhu kondensasi 40C sudah
dihitung pada contoh kasus sebelumnya, yaitu :
qe = hc - ha = (347,13 - 238,54) kJ/kg = 108,59 kJ/kg
qw = hd hc = (373,33 - 347,13) kJ/kg = 26,2 kJ/kg
qc = hd- ha = (373,33 - 238,54) kJ/kg = 134,79 kJ/kg
(b) untuk siklus dengan suhu kondensasi 50C :
qe = hc - ha = (347,13 - 248,88) kJ/kg = 98.25 kJ/kg
qw = hd - hc = (377,71 - 347,13) kJ/kg = 30.58 kJ/kg
qc = hd- ha = (377,71 - 248,88) kJ/kg = 128.83 kJ/kg
Penurunan Efek refrijerasi terhadap kenaikan suhu kondensasi adalah :

108,59 kJ/kg - 98,25 kJ/kg = 10,34 kJ/kg Atau (10,34 /108,59) x 100 = 9,52%.

Jadi semakin tinggi suhu kondensasi semakin kecil efek refrijerasinya. Sekarang
marilah kita tinjau perbedaa masa refrijeran terhadap kenaikan suhu evaporasi.
c) untuk siklus dengan suhu 40C, besaran masa refrijeran per kilowatt kapasitas
refrijerasi adalah:
1 (kW)/ 108,59 (kj/kg) = 0,00921 kg/det
d) untuk siklus dengan suhu 50C, besaran masa refrijeran per kilowatt kapasitas
refrijerasi adalah:
1 (kW)/ 98,25 (kj/kg) = 0,01018 kg/det
Pada kenaikan suhu kondensasi, jumlah masa refrijeran yang disirkulasikan
mengalami kenaikan. kenaikannya sebesar:
0,01018 (kg/det) 0,00921 (kg/det) / 0,00921 (kg/det) x 100 % = 10,53 %
Sekarang kita tinjau perbedaan daya teoritis yang digunakan untuk kompresi
refrijeran.
(c) untuk siklus dengan suhu 40C, besaran daya teoritis kompresi adalah:
Pt = mxqw = 0,00921 (kg/det) x 26,2(kJ/kg) = 0,2413 kW

(d) untuk siklus dengan suhu 50C, besaran daya teoritis kompresi adalah:
Pt = mxqw = 0,01018(kg/det) x 30,58(kJ/kg) = 0,3113 kW
Dari sini dapat dinyatakan, bahwa kenaikan suhu kondensasi akan meningkatkan daya
kompresi teoritis sebesar:
311,3 241,3/ 241,3 x 100% = 29 %

4. Efek Kompresi
4.1 Menentukan Kapasitas Sistem Refrigerasi
Dengan bekal gambar pemetaan pada ph-chart seperti diperlihatkan pada gambar 2.4 di
atas, maka kapasitas sistem refrigerasi dapat ditentukan dengan mudah, sebagai berikut:
1. Menentukan nilai entalpi untuk setiap kondisi refrigeran, yaitu titik A, B, C, D, C\ dan
D\
1.1 Dari titik A, tarik garis lurus ke bawah, hingga memotong skala enthalpy.
Sehingga dapat diperoleh nilai entalpinya, yaitu ha = 238,54 kJ/kg. Titik B
mempunyai entalpi sama dengan titik A.
1.2 Demikian juga dari titik C, tarik garis lurus ke bawah, hingga memotong skala
enthalpy. Sehingga dapat diperoleh nilai entalpinya, yaitu hc = 349,32 kJ/kg.
1.3 Dari titik D, tarik garis lurus ke bawah, hingga memotong skala enthalpy.
Sehingga dapat diperoleh nilai entalpinya, yaitu hd = 372,4 kJ/kg.
1.4 Demikian juga dari titik C\ tarik garis lurus ke bawah, hingga memotong skala
enthalpy. Sehingga dapat diperoleh nilai entalpinya, yaitu hc = 362,04 kJ/kg.
1.5 Dari titik D', tarik garis lurus ke bawah, hingga memotong skala enthalpy.
Sehingga dapat diperoleh nilai entalpinya, yaitu hd = 387,47 kJ/kg.

2. Menentukan Nilai Kapasitas Sistem


2.1 Kapasitas efek refrigerasi untuk siklus saturasi (titik C) dapat ditentukan
dengan mencari selisih antara hc dan ha, yaitu 349,32 kJ/kg - 238,54
kJ/kg = 110,78 kJ/kg. Artinya bila masa refrigeran yang diuapkan di
evaporator sebesar 2 kg, maka kapasitas efek refrigerasi mencapai
22 1,56 kJ.
2.2 Kapasitas

efek

refrigerasi

untuk

siklus

panaslanjut

(titik

C)

dapat

ditentukan dengan mencari selisih antara he' dan ha, yaitu 362,04 kJ/kg 238,54 kJ/kg = 123,50 kJ/kg. Artinya bila masa refrigeran yang diuapkan di
evaporator sebesar 2 kg, maka kapasitas efek refrigerasi mencapai 247 kJ.

2.3 Kapasitas kompresi saturasi dapat ditentukan dengan mencari selisih antara hd
dan hc, yaitu 372,4 kJ/kg - 349,32 kJ/kg = 23,08 kJ/kg.
2.4 Kapasitas kompresi panaslanjut dapat ditentukan dengan mencari selisih antara
hd' dan he', yaitu 387,47 kJ/kg - 362,04 kJ/kg = 25,43 kJ/kg.
2.5 Kapasitas kondensasi siklus saturasi dapat ditentukan dengan mencari selisih
antara hd dan ha, yaitu 372,4 kJ/kg - 238,54 kJ/kg = 133,86 kJ/kg.
2.6 Kapasitas kondensasi siklus panaslanjut dapat ditentukan dengan mencari
selisih antara hd' dan ha, yaitu 387,47 kJ/kg - 238,54 kJ/kg = 148,93 kJ/kg.

Dari perhitungan di atas dapat diambil kesimpulan, sebagai berikut:


1. Panas kompresi per kilogram pada siklus panas lanjut sedikit lebih besar dari pada
siklus saturasi, yaitu sebesar 10%. Di mana daya kompresi siklus saturasi 23,08 kJ/kg
sedang daya kompresi siklus panas lanjut adalah 25,43 kJ/kg.
25,43-23,08/23,08 x 100 % = 10 %
2. Pada suhu dan tekanan kondensasi sama, suhu gas panas yang keluar dari katub
discharge kompresor pada siklus panaslanjut sedikit lebih tinggi daripada siklus
saturasi, yaitu 66,7C untuk siklus panaslanjut dan 46,8C untuk siklus saturasi.
3. Pada siklus panaslanjut, panas yang dibuang di kondenser lebih besar daripada siklus
saturasi. Pada siklus panaslanjut qc = 148,93 kj/kg, pada siklus saturasi qc= 133,86
kj/kg. Kenaikannya sebesar:

148,93 133,86 / 133,86 x 100% = 11,26%


4. COP pada siklus saturasi adalah:
110, 79 / 23,08 = 4,8
5. COP pada siklus panas lanjut adalah:
123,5 / 25,43 = 4,85

Lembar Tugas
Pelajari hasil pemetaan siklus refrijerasi pada gambar ini, kemudian berikan kesimpulan!

Specific enthalpy (kJ/kg)

C. Kegiatan Belajar 3
Operasi Sistem Komersial
Tujuan Pembelajaran :
Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini, diharapkan peserta mampu :
Mengoperasikan unit komersial, mencakup unit cooler, unit chiller dan unit freezer.
1. Operasi Pendinginan
Gudang pendinginan. dapat dibedakan ke dalam tiga kategori, yaitu (1)
Penyimpanan Jangka pendek (temporer), (2) penyimpanan jangka panjang, dan (3)
Penyimpanan bahan makanan beku. Untuk keperluan penyimpanan jangka pendek dan
jangka panjang, makanan didinginkan dan disimpan pada suhu di atas suhu titik beku.
Untuk keperluan penyimpanan makanan beku, maka makanan harus dibekukan terlebih
dahulu, kemudian disimpan pada suhu-12C hingga -23C.
Penyimpanan jangka pendek, berkisar antara satu atau dua hari untuk produk
tertentu. Untuk produk lain, dapat tahan hingga maksimal 15 hari. Penyimpanan jangka
panjang biasa dilakukan untuk keperluan komersial di gudang-gudang pendinginan.
Lama penyimpanan tergantung jenis produk. Untuk produk makanan sensitif seperti
tomat, kantalop dan brokoli hanya dapat disimpan selama tujuh sampai sepuluh hari
pada suhu tertentu. Untuk produk makanan yang lebih kuat, seperti bawang, dan
daging asap dapat disimpan hingga delapan bulan. Untuk produk makanan yang cepat
busuk, bila diinginkan dapat disimpan dalam waktu lama, harus dibekukan dan
disimpan di gudang pembekuan. Tetapi untuk tomat tidak dapat dibekukan. Suhu dan
kelembaban udara gudang penyimpanan harus diatur dan disesuaikan dengan jenis
produk.
1.1 Aksi Pematangan
Aksi Ensiminasi - ada beberapa proses yang terjadi dalam pertumbuhan suatu
benda yang cenderung menuju pembusukan. yang pertama adalah proses pembusukan
alami. Bila kita petik sesuatu yang masih hijau dan kita biarkan beberapa waktu, maka
ia akan menjadi matang atau masak. Tetapi bila kita petik yang sudah masak, maka
beberapa waktu kemudian ia akan membusuk. Buah-buahan akan menjadi lunak dan
empuk, sedangkan sayuran akan menjadi keras, layu dan kering. Kecepatan perusakan

produk ini meningkat dengan naiknya suhu dan menurun pada suhu yang lebih rendah.
Daging tidak dipengaruhi oleh aksi ini.
1.2 Aksi Pernafasan (Respirasi)
Selama proses penuaan, suatu produk akan menimbulkan panas. Panas ini timbul
akibat adanya reaksi kimia antara kandungan karbohidrat dengan oksigen yang ada di
dalam udara. Reaksi ini disamping menimbulkan panas juga menghasilkan
karbondioksida. Panas yang timbul karena reaksi kimiawi ini dikenal dengan sebutan
Panas respirasi atau factor respirasi. Factor respirasi besarnya bervariasi tergantung
jenis produk dan karena proses pematangan lebih cepat pada suhu yang lebih tinggi,
maka panas yang ditimbulkannya juga akan lebih banyak pada suhu gudang yang lebih
tinggi.
Oleh karena itu, bila unit gudang pendingin (cool room) rusak (break down)
sedangkan produk makanan buah-buahan dan sayuran masih berada di dalam ruang
tersebut maka pintu gudang harus dibuka dan fan harus tetap dijalankan. Kalau tidak,
panas respires yang dihasilkan oleh produk yang berada di dalam paket-paket tertutup
akan menyebabkan suhu produk meningkat dengan cepat dan akan meningkatkan
reaksi kimiawinya.
Contoh kasus:
Sebuah Gudang pendingin untuk sayuran dan buah-buahan yang berukuran 3x3x3
meter memikul beban penuh pada suhu 5C. Bila unit refrigerasinya mati, dan pintu
gudang tetap dibiarkan tertutup, maka setelah sekitar 12 jam maka suhu gudang akan
dapat naik dengan cepat hingga mencapai 40C dengan mengabaikan suhu
lingkungannya. Panas yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu ruang dibangkitkan oleh
proses pematangan buah-buahan (panas respirasi). Panas respirasi dapat menyebabkan
titik pusat paket tetap dingin. suhunya sama ketika baru dimasukkan ke dalam gudang
hingga seminggu. Sehingga dapat menurunkan kembali suhu ruangnya. Oleh karena
itu, perlu member aliran udara segar yang cukup (dengan membuka pintu gudang dan
menjaga fan tetap jalan) agar suhu di dalam titik pusat paket ini tidak berubah.

1.3 Enzim
Semua tumbuh-tumbuhan dan binatang mempunyai unsure kimiawi yang disebut
enzim yang menyebabkan ia dapat menjadi rusak atau membusuk. Dalam kehidupan
yang normal, aksi kimiawi ini dikontrol oleh proses kehidupan dan pertumbuhan.

Tetapi setelah masa panen atau penyembelihan, maka proses pertumbuhan-akan


berhenti tetapi aksi ensiminasi akan terus berjalan. Proses ensiminasi ini akan membuat
sayuran hijau menjadi menguning dan merubah cita rasanya. Oleh karena itu untuk
keperluan penyimpanan jangka panjang maka proses ini perlu dipertimbangkan.
Aksi ini dapat dikontrol dengan cara memasak (cooking). Dengan memasak
terlebih dahulu maka keberadaan enzim di dalam produk makanan dapat dihilangkan.
Enzim yang terdapat di dalam buah-buahan, dalam banyak kasus tidak merusak produk
yang didinginkan. Tetapi enzim yang ada di dalam daging, cenderung merusak atau
melarutkan tissue pembungkusnya, aksi kimiawinya lebih cepat daripada sayuran.
1.4 Bakteri dan Jamur
Bakteri yang ada pada suatu produk dapat menyebabkan terjadinya pembusukan.
Jamur menyebabkan terjadinya perusakan pada permukaan produk. Produk makanan
yang telah mengalami kontaminasi akan sangat membahayakan konsumen. Bakteri
cenderung mengambil tempat di dalam makanan atau di bawah permukaan, sedangkan
jamur cenderung menempel pada permukaan produk dan sedikit masuk di bawah
permukaan.
Aktifitas atau pertumbuhan jamur dan bakteri dapat diperlambat dengan
menurunkan suhu produk. Pada suhu yang cukup rendah, biasanya di bawah titik beku,
maka pertumbuhan bakteri dan jamur akan berhenti. Tetapi, titik suhu pada mana
bakteri dan jamur tersebut berhenti pertumbuhannya sangat bervariasi, tergantung pada
jenis produk dan jenis bakteri atau jamurnya.
Meskipun pertumbuhan jamur dan bakteri telah berhenti, tetapi mereka tidak
mati. Keberadaannya di dalam produk makanan masih ada, dan ia akan aktif atau
berkembang kembali begitu produknya mencair atau suhunya naik kembali.
Kembalinya aktifitas pertumbuhan bakteri dan jamur ini akan semakin cepat setelah
mencair dibandingkan dengan sebelum beku, karena adanya uap air ekstra yang
terdapat pada permukaan produk sebagai hasil proses kondensasi selama proses
pencairan berlangsung.
Inilah yang menjadi alasan utama untuk menghindarkan pembekuan kembali bagi
produk yang telah mencair Varena tingkat kekebalan bakteri dan jamur akan lebih
tinggi dibandingkan produk yang belum dibekukan sebelumnya. Dan yang perlu selalu
diingat, bahwa pencairan yang kedua kalinya, akan diikuti meningkatnya aktifitas
bakteri, dan bakteri pada level ini dapat sangat membahayakan jiwa manusia yang
memakannya.

1.5 Perubahan lainnya


Bila makanan dipanaskan atau dikeringkan maka akan timbul perubahan yang
tidak diinginkan. Buah-buahan dan sayur-sayuran akan menjadi layu, sehingga tidak
menimbulkan selera. Daging akan kehilangan kandungan airnya, kesegarannya dan
warna kemerahannya bila dikeringkan dan berubah menjadi kehitaman. Daging, buahbuahan dan sayuran akan kehilangan berat dalam kondisi kering.
Contoh kasus :
Bila 1000 kg daging disimpan di dalam ruang pendingin maka hanya 950 kg yang
dapat diperoleh setelah dikeluarkan dari ruang pendingin. Karena kandungan air di
dalam daging sebanyak 50 kg menguap akibat penyerapan panas oleh evaporator
selama dagingnya tersimpan di dalam ruang pendingin.
Kita tahu daging diperjualbelikan dalam ukuran berat. Dengan kondisi demikian
maka tukang daging harus memperhitungkan penurunan berat ini bila akan
menentukan harga jualnya disamping juga harus mempertimbangkan biaya konsumsi
listrik selama penyimpanannya. Tingkat pengeringan dan penyusutan tergantung pada
apakah makanan disimpan di dalam ruangn yang kering atau ruang yang lembab.
Beberapa makanan memerlukan kondisi udara ruang yang relative kering. Misalnya
semua jenis makanan kering, kacang, bawang dan keju. Kelembaban yang tinggi dapat
menurunkan kualitasnya dan meningkatkan tumbuhnya jamur pada permukaannya.
Kandungan vitamin pada banyak makanan akan rusak secara cepat setelah dipetik
dan tingkat suhunya menjadi hal yang paling menentukan tingkat kecepatan
perubahannya. Telah dapat dibuktikan bahwa beberapa makanan pada suhu normal
dapat kehilangan semua kandungan vitaminnya, sedangkan penyimpanan pada suhu
yang dirtgin dapat menyebabkan tetap tersimpannya 40 hingga 70 % kandungan
vitaminnya. Beberapa makanan lainnya akan kehilangan rasa manisnya bila tidak
didinginkan dengan segera seperti misalnya jagung dan buah pear.
2. Operasi Pembekuan
Ada dua cara pembekuan makanan yang dapat dilakukan, yaitu pembekuan
lamban dan pembekuan cepat. Pembekuan lambat dapat dilakukan dengan meletakkan
makanan yang akan dibekukan pada suatu tempat yang bersuhu rendah, dan dibiarkan
menbeku secara perlahan-lahan. Makanan yang akan dibekukan biasanya dikemas
dalam suatu pengepakan kedap udara, dalam besaran 5 sampai 15 kilogram per
kemasan. Kemasan produk tersebut disimpan di ruang dengan suhu -18C hingga
-40C. Pembekuan secara cepat dilakukan dalam tiga cara, yaitu : (1) pencelupan, (2)

kontak tidak langsung, dan (3) air blast. Pembekuan dengan pencelupan produk,
dilakukan dengan merendam produk ke dalam cairan sodium clorida. Sodium klorida
mempunyai daya hantar tinggi, sehingga proses pembekuan dapat berlangsung dengan
cepat.
Pembekuan dengan kontak tidak langsung, dapat dilakuakn dengan meletakkan
produk di atas plat pembekuan. Karena produk yang akan dibekukan mempunyai
kontak thermal langsung dengan plat pembekuan, maka permukaan kontak akan
menentukan kecepatan proses pembekuan.
Pembekuan dengan sistem air blast, adalah kombinasi pembekuan melalui suhu
rendah dan kecepatan udara dingin yang dihembuskan ke arah produk. Banyak
perubahan akan terjadi dalam produk makanan pada saat dibekukan. Beberapa
memberi manfaat dan beberapa tidak. Perubahan terbesar adalah terbentuknya formasi
Kristal es dan terbentuknya soliditas (pengerasan) dari semua bagian dari produk
makanan tersebut. Kedua hal tersebut tidak berlangsung secara simultan. Kristal es
cenderung terbentuk pada suhu sekitar -1C hingga -3,5C.
Titik beku dari semua bagian lain dari produk makanan akan terbentuk pada suhu
di bawah itu dan sangat bervariasi untuk setiap jenis produk. Bahkan ada sesuatu
produk tertentu akan dapat mencapai beku secara keseluruhan pada suhu di bawah
-18C. Untuk penyimpanan jangka panjang beberapa ruang pembeku di industri dapat
mencapai -30C.
Tahapan pembekuan, mula-mula air, kemudian bagian-bagian lain yang
cenderung memisahkan kandungan uap air dari bagian lain dari makanan. Jadi semakin
rendah kecepatan pembekuan semakin banyak lapisan Kristal es yang terbentuk.
Semakin besar lapisan Kristal es mempunyai dua efek yang tidak diharapkan pada
produk makanan. la akan merusakkan dinding-dinding sel, dan ia menyebabkan
semakin banyaknya jumlah kandungan uap air yang terpisah dari produk makanan.
Bila produknya mencair, maka kandungan uap air tersebut akan mencair keluar melalui
dinding-dinding sel yang rusak sehingga produknya mengalami dehidrasi dank arena
uap air tersebut mengandung rasa maka produknya juga akan mengalami kehilangan
rasa. Buah-buahan menjadi lembek dan sayuran akan layu dan biasanya berubah
warna. Sedangkan daging akan menjadi kering dan keras serta kehilangan rasa.
Bila proses pembekuan berlangsung dengan sangat cepat, maka kristal es sangat
kecil dan tingkat kerusakan dinding-dinding sel juga kecil sehingga tingkat
kebocorannya juga rendah. Sebagai tambahan, karena lapisan Kristal esnya sangat
kecil, maka pada saat pencairan hanya ada sedikit air yang akan diserap ulang oleh

bahan makanan yang ada di sekitarnya, sehingga kualitas produknya masih menyerupai
kondisi semula. Berikut ini adalah tabel 3.1 temperature penyimpanan beberapa
produk.

BAB III
EVALUASI

A. Evaluasi Program
Evaluasi program dilakukan pada sesi akhir diklat. Evaluasi ini dimaksudkan
untuk menjaring aspek kepuasan peserta diklat. Adapun aspek kepuasan peserta diklat
yang dijaring mencakup fasilitas asrama, pemeliharaan kebersihan lingkungan,
layanan konsumsi, layanan panitia, program diklat, penyediaan fasilitas belajar,
layanan pengajar, kualitas bahan ajar, layanan keuangan dan layanan umum.
B. Uji Kompetensi
Untuk mengetahui tingkat keberhasilan peserta dalam mengikuti modul ini,
setiap peserta dievaluasi baik terhadap aspek pengetahuan maupun keterampilannya.
Aspek pengetahuan dilakukan melalui latihan-latihan dan tes tertulis, sedang aspek
keterampilan dilakukan melalui tugas praktek. Pada akhir diklat, peserta harus
mengikuti test sumatif yang diberikan oleh widyaiswara pengampu mata diklat. Score
test tertulis minimal yang harus dicapai oleh peserta adalah 80% dari score
maksimum. Peserta diklat yang memperoleh nilai kumulatif di atas 80, dinyatakan
lulus dan berhak memperoleh sertifikat diklat.

BAB IV
PENUTUP

Modul Pembelajaran ini menggunakan sistem pelatihan berbasis kompetensi.


Pelatihan berbasis kompetensi adalah pelatihan yang memperhatikan pengetahuan,
keterampilan dan sikap yang diperlukan di tempat kerja agar dapat melakukan
pekerjaan dengan kompeten. Penekanan utamanya adalah tentang apa yang dapat
dilakukan seseorang setelah mengikuti pelatihan. Salah satu karakteristik yang paling
penting dari pelatihan berdasarkan kompetensi adalah penguasaan individu secara
nyata di tempat kerja. Dalam sistem pelatihan berbasis kompetensi, fokusnya tertuju
kepada pencapaian kompetensi dan bukan pada pencapaian atau pemenuhan waktu
tertentu. Dengan demikian maka dimungkinkan setiap peserta pelatihan memerlukan
atau menghabiskan waktu yang berbeda-beda dalam mencapai suatu kompetensi
tertentu.
Jika peserta belum mencapai kompetensi pada usaha atau kesempatan pertama,
maka widyaiswara akan mengatur rencana pelatihan dengan peserta. Rencana ini
memberikan kesempatan kembali kepada peserta untuk meningkatkan level
kompetensinya sesuai dengan level yang diperlukan. Jumlah usaha atau kesempatan
yang disarankan adalah dua kali.

DAFTAR PUSTAKA

H.MH.Sapto Widodo.MSc - Anita Widiawati, M.Pd, Modul prinsip dan Operasi


Refrigerasi Komersial , 2012, P4TK BMTI Bandung
Lamond Peter, Refrigeration Fundamentals, 2006
Althouse A. D., Turnquist C. H., Bracciano A.F., Modern Refrigeration and Air
th
Conditioning, 18 Edition, The Goodheart-Willcox Company Inc
Handoko, Lemari es. Ichtiar Baru Jakarta 1981

Anda mungkin juga menyukai