Anda di halaman 1dari 17

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Energi Surya

Energi surya merupakan energi yang didapat dengan mengkonversi energi radiasi
panas surya (Matahari) melalui peralatan tertentu menjadi sumber daya dalam
bentuk lain. Energi surya menjadi salah satu sumber pembangkit daya selain air,
uap, angin, biogas, batu bara, dan minyak bumi. Teknik pemanfaatan energi
surya mulai muncul pada tahun 1839, ditemukan oleh A.C. Becquerel. Ia
menggunakan kristal silikon untuk mengkonversi radiasi Matahari, namun sampai
tahun 1955 metode itu belum banyak dikembangkan. Selama kurun waktu lebih
dari satu abad, sumber energi yang banyak digunakan adalah minyak bumi dan
batu bara. Upaya pengembangan cara memanfaatkan energi surya baru muncul
lagi pada tahun 1958. Sel silikon yang dipergunakan untuk mengubah energi
surya menjadi sumber daya mulai diperhitungkan sebagai metode baru, karena
dapat digunakan sebagai sumber daya bagi satelit angkasa luar (Anonim, 2012).

Energi mempunyai peranan penting dalam pencapaian tujuan sosial, ekonomi, dan
lingkungan untuk pembangunan berkelanjutan, serta merupakan pendukung bagi
kegiatan ekonomi nasional. Penggunaan energi di Indonesia meningkat pesat
sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk. Untuk
memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat tersebut, dikembangkan
berbagai energi alternatif, di antaranya energi terbarukan. Potensi energi

terbarukan, seperti: biomassa, panas bumi, energi surya, energi air, energi angin
dan energi samudera, sampai saat ini belum banyak dimanfaatkan, padahal potensi
energi terbarukan di Indonesia sangatlah besar.

Energi surya merupakan salah satu energi yang sedang giat dikembangkan saat ini
oleh pemerintah Indonesia karena sebagai negara tropis, Indonesia mempunyai
potensi energi surya yang cukup besar.

Untuk memanfaatkan potensi energi surya tersebut, 2 macam teknologi yang


sudah diterapkan, yaitu:
Teknologi energi surya fotovoltaik, energi surya fotovoltaik digunakan untuk
memenuhi kebutuhan listrik, pompa air, televisi, telekomunikasi, dan lemari
pendingin dengan kapasitas total 6 MW.
Teknologi energi surya termal, energi surya termal pada umumnya digunakan
untuk memasak (kompor surya), mengeringkan hasil pertanian (perkebunan,
perikanan, kehutanan, tanaman pangan) dan memanaskan air (Kementrian ESDM,
2010).

2.2. Perpindahan Panas

Konduksi kalor pada banyak materi dapat digambarkan sebagai hasil tumbukan
molekul-molekul. Ketika suatu ujung benda dipanaskan, molekul-molekul di
tempat itu bergerak lebih cepat, sehingga bertumbukan dengan molekul-molekul
yang berada di sampingnya, molekul tersebut mentransfer sebagian energi ke
molekul-molekul yang lain sepanjang benda tersebut. Dengan demikian energi
gerakan termal ditansfer oleh tumbukan molekul sepanjang benda. Pada logam,

tumbukan antara elektron-elektron bebas di dalam logam dan atom logam tersebut
mengakibatkan terjadinya konduksi. Konduksi kalor hanya terjadi jika ada
perbedaan temperatur (Giancoli, 2001).

Menurut Tipler (1998), Energi panas ditransfer dari suatu tempat ke tempat lain
melalui tiga proses: yaitu konduksi, konveksi, dan radiasi. Pada konduksi, energi
panas ditransfer lewat interaksi antara atom-atom atau molekul, walaupun atomatom dan molekulnya sendiri tidak berpindah. Sebagai contoh, jika salah satu
ujung sebuah batang padat dipanaskan, maka atom di ujung dipanaskan bergetar
dengan energi yang lebih besar dibandingkan di ujung yang lebih dingin. Karena
interaksi atom-atom yang lebih energetik dengan sekitarnya, energi dipindahkan
sepanjang batang. Jika padatan adalah logam, maka perpindahan energi panas
dibantu oleh elektron-elektron bebas, yang bergerak di seluruh logam, sambil
menerima dan memberi energi panas ketika bertumbukan dengan atom-atom
logam. Dalam gas, panas dikonduksi oleh tumbukan langsung molekul-molekul
gas. Molekul di bagian yang lebih panas dari gas mempunyai energi rata-rata
yang lebih tinggi daripada molekul-molekul di bagian yang lebih dingin dari gas.
Bila molekul yang berenergi lebih tinggi bertumbukan dengan molekul yang
berenergi lebih rendah, maka sebagian energi molekul yang berenergi tinggi
ditransfer ke molekul berenergi rendah.

Jika batang padat dengan penampang yang luasnya A, salah satu ujung batang
dipertahankan pada suatu temperatur tinggi dan ujung lainnya pada temperatur
rendah, maka energi panas terus menerus dikondusikan lewat batang dari ujung
yang panas ke ujung yang dingin. Dalam keadaan mantap, temperatur berubah

secara uniform (jika batang uniform) dari ujung yang panas ke ujung yang dingin.
Laju perubahan temperatur sepanjang batang T/x dinamakan gradient
temperatur. Perhatikan bagian yang kecil dari batang, suatu potongan yang
tebalnya x, dan misalkan T adalah beda temperatur pada potongan. Jika Q
jumlah energi panas yang dikonduksikan lewat potongan itu dalam waktu t,
maka laju konduksi energi panas Q/t dinamakan arus panas I. Secara
experimen, ditemukan bahwa arus panas sebanding dengan gradient temperatur
dan dengan luas penampang A, secara umum dirumuskan dengan Persamaan
sebagai berikut:

.....(1)
Dimana: I

= Laju perpindahan kalor (W).

= Waktu (s)

= Jumlah energi panas (Joule atau W.s).

= Konduktivitas termal (W.m-1.oC-1).

= Luas penampang (m2).


= Gradien suhu (oC.m-1).

Menurut Giancoli (2001), konveksi adalah proses di mana kalor ditransfer dengan
pergerakan molekul dari suatu tempat ke tempat yang lain. Sementara konduksi
melibatkan molekul-molekul yang hanya bergerak dalam jarak yang kecil dan
bertumbukan, koveksi melibatkan pergerakan molekul dalam jarak yang besar.
Tungku dengan udara yang dipaksa, di mana udara dipanaskan kemudian ditiup
dengan kipas angin ke dalam ruangan, merupakan satu contoh konveksi yang
dipaksakan. Salah satu contoh konveksi alami adalah udara di atas radiator

memuai pada saat dipanaskan, dan kerapatannya akan berkurang, sehingga udara
panas tersebut naik.

Menurut Tipler (1998), konveksi panas dipindahkan lansung lewat perpindahan


massa. Sebagai contoh, bila udara dekat lantai dipanaskan, udara memuai dan
naik karena kerapatannya yang lebih rendah. Jadi energi panas di udara panas ini
dipindahkan dari lantai ke langit-langit bersama dengan massa udara panas.

Menurut Giancoli (2001), konveksi dan konduksi memerlukan adanya materi


sebagai medium untuk membawa kalor dari daerah yang lebih panas ke daerah
yang lebih dingin. Tetapi jenis ketiga dari transfer kalor terjadi tanpa medium
apapun, yaitu radiasi. Semua kehidupan di dunia ini bergantung dari energi yang
ditransfer dari Matahari, dan energi ini ditransfer ke bumi melalui ruang yang
hampa. Bentuk transfer energi ini dalam kalor karena temperatur Matahari jauh
lebih besar (6000K) dari bumi.

Menurut Tipler (1998), energi radiasi, dipancarkan dan diserap oleh benda-benda
dalam bentuk radiasi elektromagnetik. Radiasi ini bergerak lewat ruang dengan
kecepatan cahaya. Radiasi panas, gelombang cahaya, gelombang radio,
gelombang televisi, dan sinar-X semuanya adalah bentuk radiasi elektromagnetik
yang berbeda hanya dalam panjang gelombang dan frekuensinya. Semua benda
memancarkan dan menyerap radiasi elektromagnetik. Bila benda ada dalam
kesetimbangan panas dengan sekitarnya, maka benda meradiasi keluar lebih
banyak energi daripada yang diserapnya, dengan demikian benda menjadi lebih
dingin sementara sekitarnya menjadi lebih panas.

10

Mekanisme ketiga untuk transfer energi panas adalah radiasi dalam bentuk
gelombang elektromagnetik. Laju radiasi energi panas suatu benda sebanding
dengan luas benda dan dengan pangkat empat temperatur absolutnya. Hasil ini
ditemukan secara empiris oeh Josef Stefan pada 1879 dan diturunkan secara
teoritis oleh Ludwig Boltzmann kira-kira lima tahun kemudian, sehingga
dinamakan hukum Stefan Boltzmann, dinyatakan dengan Persamaan sebagai
berikut:

P = e .A.T4 ........................................................................................(2)
Dimana:

P = Daya yang diradiasikan (W).


e = Emesivitas (0 sampai 1)
= Konstanta Stefan-Boltzman (5,669 x 10-8 W.m-2.K-4).
A = Luas permukaan (m2).
T = Suhu (K).

Bila radiasi jatuh pada benda tak tembus cahaya, sebagian radiasi direfleksikan
dan sebagian diserap. Benda-benda berwarna terang memantulkan sebagian besar
radiasi nampak, sedangkan benda-benda gelap menyerap sebagian besar
daripadanya.

Sebuah benda yang menyerap semua radiasi yang datang padanya mempunyai
emisivitas sama dengan 1 dan dinamakan benda hitam. Sebuah benda hitam juga
merupakan radiator ideal. Konsep benda hitam ideal adalah penting karena ciri
radiasi yang dipancarkan oleh benda semacam itu dapat dihitung secara teoritis.
Bahan-bahan seperti beludru hitam mendekati sebagian benda hitam ideal.

11

2.3. Jenis-jenis Kolektor

Beberapa jenis kolektor yang pernah dirancang adalah kolektor surya tipe
prismatik, kolektor surya tipe semisilindris dan kolektor surya plat datar.
Kolektorkolektor tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangannya masingmasing.

2.3.1. Kolektor surya tipe prismatik

Penelitian tentang kolektor surya tipe prismatik pernah dilakukan oleh Kristanto
(2000). Keunggulan dari kolektor surya tipe prismatik ini adalah kemampuannya
untuk dapat menerima energi radiasi Matahari dari segala posisi. Kolektor surya
tipe prismatik dapat digolongkan dalam kolektor plat datar dengan permukaan
kolektor berbentuk prisma yang tersusun dari 4 bidang yang membentuk prisma, 2
bidang berbentuk segi-tiga sama kaki dan 2 bidang yang lain berbentuk segiempat siku-siku. Penelitian yang dilakukan oleh Kristanto menghasilkan
kesimpulan yaitu, pertama, dalam pemanfaatan kolektor surya, energi berguna
aktual yang dapat dimanfaatkan untuk memanaskan air sangat tergantung pada
intensitas radiasi lokasi setempat yang datang pada permukaan kolektor. Kedua,
untuk mengoptimalkan efisiensi dari kolektor tergantung pada posisi kolektor
yang berkaitan dengan arah radiasi langsung yang jatuh ke permukaan kolektor
disamping menghindarkan adanya hambatan yang menghalangi jatuhnya radiasi
langsung ke permukaan kolektor. Kolektor surya tipe prismatik dapat dilihat pada
Gambar 1.

12

Ket:
1.Kaca bening tembus cahaya
2.Plat dicat hitam
3.Pipa sirkulasi air
4.Tangki air
Pemanfaatan
air panas

Suplai air
dingin

Gambar 1. Kolektor surya tipe prismatik.

2.3.2. Kolektor surya tipe semisilindris

Penelitian kolektor surya tipe semi silindris pernah dilakukan oleh Syahri (2011)
dengan judul Rancang Bangun Sistem Desalinasi Energi Surya Menggunakan
Absorber Bentuk Separo Elip Melintang. Penelitian yang dilakukan oleh Syahri
menghasilkan kesimpulan yaitu rancang bangun kolektor surya dengan
penggantian plat absorber dari plat datar menjadi plat gelombang (setengah elips)
akan meningkatkan efisiensi kolektor surya dengan cara memperbesar luasan
penyerapan efektif dan meminimalkan kehilangan energi panas akibat pantulan
keluar dari kolektor surya.

Penelitian kolektor surya tipe semi silindris juga pernah dilakukan oleh Burhan,
dkk (2012) dengan judul Pemanfaatan Kolektor Surya Pemanas Air dengan
Menggunakan Seng Bekas Sebagai Absorber untuk Mereduksi Pemakaian Bahan

13

Bakar Minyak Rumah Tangga. Penelitian yang dilakukan oleh M. Burhan, dkk
menghasilkan kesimpulan yaitu: Desain kolektor yang optimal didapatkan pada
penggunaan tebal kaca 5 mm dan jarak absorber ke kaca penutup 30 mm. Desain
ini menghasilkan efisiensi rerata tertinggi sebesar 79,6% dibanding lainnya.
Penggunaan kolektor dengan desain tersebut lebih optimal dalam mempercepat
proses pendidihan air. Bahan bakar yang dapat direduksi rata-rata 52,32%. Luas
permukaan kolektor adalah 1,2 m2 dengan kapasitas 18 liter/jam. Kolektor ini
dapat dimanfaatkan sebagai pre-heater air bagi kebutuhan rumah tangga.

2.3.3. Kolektor surya tipe plat datar

Penelitian tentang kolektor surya plat datar pernah diteliti oleh Burhanuddin
(2005) dengan judul Karakteristik Kolektor Surya Plat Datar Dengan Variasi
Jarak Penutup . Penelitian yang dilakukan oleh Burhanuddin menghasilkan tiga
kesimpulan yaitu: Pertama, pada ketiga variasi jarak plat penyerap dengan kaca
transparan, didapatkan nilai perbedaan temperatur input-output tertinggi pada
jarak 3 cm dan terendah pada jarak 9 cm, dan plat penyerap akan menyerap radiasi
Matahari secara maksimal jika posisi plat tersebut tegak lurus dengan arah datang
radiasi Matahari. Kedua, kemiringan kolektor surya semakin mendekati sudut
zenit maka perbedaan temperatur input-output semakin besar, dan ketiga, efisiensi
termal bergantung dari intensitas Matahari, temperatur masukan, temperatur
keluaran, dan aliran udara efisiensi termal.

Penelitian tentang kolektor surya plat datar juga pernah diteliti oleh Tirtoatmodjo
(1999) dengan judul Unjuk Kerja Pemanas Air Jenis Kolektor Surya Plat Datar
dengan Satu dan Dua Kaca Penutup. Penelitian yang dilakukan oleh

14

Tirtoatmodjo menghasilkan beberapa kesimpulan yaitu: Secara umum dapat


dikatakan bahwa penggunaan kolektor dengan dua buah kaca penutup adalah
lebih baik dari pada hanya menggunakan sebuah kaca penutup saja. Perbedaan
suhu yang dicapai dengan percobaan dengan dua buah kaca penutup untuk
intensitas cahaya total antara 447 hingga 711 Watt/m2 adalah 25C hingga 42C
sedangkan kolektor dengan sebuah kaca penutup yang menerima intensitas cahaya
mulai dari 419 hingga 741 Watt/m2 hanya memiliki perbedaan suhu antar 15C
hingga 28C saja. Secara umum dapat dikatakan pula bahwa penggunaan
kolektor dengan dua buah kaca penutup adalah lebih efektif pada intensitas cahaya
yang relatif tinggi, dalam percobaan ini jika di atas 600 Watt/m2.

Wirawan dan Sutanto (2011) pernah meneliti kolektor surya plat datar dengan
judul Analisa Laju Perpindahan Panas Pada Kolektor Surya Tipe Plat Datar
Dengan Absorber Pasir. Penelitian yang dilakukan oleh Wirawan dan Sutanto
menghasilkan beberapa kesimpulan yaitu: Pertama, kalor yang diserap oleh air
pada kolektor surya absorber plat aluminium lebih besar dibandingkan dengan
kolektor surya absorber pasir. Kedua, semakin besar debit aliran air yang
mengalir dalam kolektor maka kalor yang diserap oleh air semakin besar karena
meningkatnya laju aliran massa air. Ketiga, kerugian kalor yang dialami oleh
kolektor surya absorber plat aluminium lebih tinggi dibandingkan dengan kolektor
surya absorber pasir.
Sudia (2010) melakukan penelitian kolektor surya plat datar dengan judul Unjuk
Kerja Kolektor Surya Plat Datar Menggunakan Konsentrator Dua Cermin Datar.
Penelitian yang dilakukan oleh Wirawan menghasilkan beberapa kesimpulan

15

yaitu: Pertama, penggunaan konsentrator dua cermin datar dapat meningkatkan


fluks kalor yang diserap absorber. Fluks kalor yang diserap absorber
menggunakan cermin (Srata-rata) = 556,05 Watt, sedangkan tanpa cermin Srata-rata =
425,52 Watt. Kedua, penggunaan konsentrator dua cermin datar dapat
meningkatkan energi berguna (qu) kolektor, untuk kolektor yang menggunakan
cermin qurata-rata = 495,4 Watt, kolektor tanpa cermin qurata-rata = 290,4 Watt.
Ketiga, penggunaan konsentrator dua cermin datar dapat meningkatkan efisiensi
kolektor, untuk kolektor yang menggunakan cermin d = 51,8 %, sedangkan
kolektor tanpa cermin d = 29,7 %.
Sucipta, dkk (2010) melakukan penelitian kolektor surya plat datar dengan judul
Analisis Performa Kolektor Surya Plat Bersirip Dengan Variasi Luasan
Permukaan Sirip. Penelitian yang dilakukan oleh Sucipta, dkk menghasilkan
beberapa kesimpulan yaitu: Pertama, untuk ketiga variasi luasan permukaan sirip
yang diuji pada laju aliran massa yang sama diperoleh temperatur udara keluaran
kolektor untuk kolektor dengan aliran udara di atas plat penyerap lebih tinggi
dibandingkan temperatur udara keluar kolektor dengan aliran udara di bawah plat
penyerap. Kedua, kolektor dengan aliran udara di atas plat penyerap
menghasilkan energi berguna lebih besar dibandingkan kolektor dengan aliran
udara di bawah plat penyerap, untuk ketiga variasi luasan permukaan sirip.

Kolektor surya tipe plat datar paling banyak menggunakan sistem termosifon
karena penggunaannya lebih mudah dan lebih sederhana. Kolektor surya tipe plat
datar dapat dilihat pada Gambar 2.

16

Gambar 2. Kolektor surya tipe plat datar.

Sistem termosifon merupakan sistem yang paling banyak digunakan pada saat ini,
beberapa faktor yang mendukung sistem ini antara lain:
1. Ekonomis, karena instalasinya tidak memerlukan pompa tapi
menggunakan sistem perbedaan densitas pada suhu panas dan pada suhu
dingin, sehingga air yang panas akan bergerak ke atas dan air yang dingin
akan mengisi ruang yang ditinggalkan air panas.
2. Sistem perpindahan yang alamiah.
3. Sistemnya sederhana.

2.4. Perpindahan Panas Pada Kolektor Surya

Ada tiga mekanisme dasar untuk menganalisis perpindahan panas pada kolektor
ini, yaitu mekanisme konduksi, konveksi dan radiasi. Suatu gambaran mengenai
tiga cara perpindahan panas dalam sebuah alat pemanas surya dapat dijelaskan
sebagai panas mengalir secara radiasi saat sinar Matahari menembus kaca dan
mengenai pipa absorber, sedangkan secara konduksi sepanjang plat penyerap dan
melalui dinding luar masuk ke permukaan dinding dalam saluran. Kemudian
panas dari dinding dalam dipindahkan ke fluida dalam saluran dengan cara

17

konveksi alami. Perpindahan panas pada kolektor surya dengan cara konveksi
alamiah sama dengan sistem termosifon.

Kekhususan cara kerja sistem termosifon terletak pada sistem kerja dan
konstruksinya. Sistem ini merupakan dasar dari seluruh sistem sirkulasi pemanas
air tenaga surya. Sistem termosifon adalah sirkulasi fluida kerja yang terjadi pada
sistem tertutup dimana berat jenis fluida yang lebih tinggi berada di bawah dan
berat fluida yang lebih ringan berada di atas. Kerja sistem dimulai ketika energi
surya mencapai kolektor yang terdiri dari plat alumunium dan pipa absorber yang
dialiri air. Pada saat inilah terjadi konversi energi panas Matahari menjadi energi
panas yang terkumpul pada kolektor. Ketika terpanasi, air akan mengalami
perkembangan atau muai volum sehingga berat jenis air yang rendah cenderung
akan menempati posisi di atas dibandingkan air yang mempunyai berat jenis yang
lebih tinggi. Kecenderungan ini memaksa air untuk bersirkulasi dalam pipa yang
telah didesain. Sistem termosifon pada kolektor surya dapat dilihat pada Gambar
3.

2.5. Penyimpan Energi Dalam Tangki

Tangki penyimpanan merupakan bagian yang penting dari sistem pemanas energi
Matahari karena merupakan tempat penyimpanan energi panas. Penggunaan air
panas ini sering kali tidak bersamaan dengan waktu pemanasan air. Oleh karena
itu diperlukan tangki penyimpan air panas agar dapat digunakan pada saat
dibutuhkan.

18

Tangki Peyimpan
air
Air panas masuk ke
dalam tangki
peyimpan air

Air dingin
masuk
kolektor
Kolektor
Aliran termosifon

Gambar 3. Sistem termosifon pada kolektor surya.

Energi Matahari dapat disimpan sebagai kalor sensibel yang hanya melibatkan
perubahan suhu medium penyimpanan atau sebagai kalor laten yang juga
melibatkan perubahan fase medium penyimpanan. Penyimpanan kalor sensibel
lebih lazim dipakai. Tangki penyimpan kalor sensibel dengan media air dapat
dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Tangki penyimpan kalor sensibel dengan media air.

Suatu bahan padat yang stabil secara termal dengan kalor jenis yang relatif tinggi
dan rapat massa tinggi dapat digunakan untuk menyimpan kalor sensibel. Kalor

19

jenis rapat massa yang tinggi diperlukan untuk mengecilkan volume


penyimpanan. Kalor yang disimpan dapat dinyatakan dengan Persamaan sebagai
berikut:
.................................................................................(3)
Dimana: E = Kalor yang tersimpan dalam air (J).
m = Massa air yang disimpan (kg).
Cp = Kapasitas panas spesifik air (4187 J.kg-1.oC-1).
= Takhir Tawal (oC).
Kapasitas penyimpanan optimum tergantung pemakaian. Jika kapasitas terlampau
kecil, maka sebagian energi yang telah terkumpul akan terbuang sia-sia. Dengan
demikian luas permukaan kolektor kurang termanfaatkan atau kurang optimal.
Akan tetapi bila terjadi sebaliknya yaitu terlalu banyak air yang akan dipanaskan
maka tidak tercapainya suhu yang diharapkan. Rumus-rumus yang akan
digunakan dalam menghitung energi dalam tangki adalah sebagai berikut ini:

= Takhir Tawal ............................................................................(4)


..................................................................................(5)

Ep = Ibt.Ak .......................................................................................(6)
Ein = Ak.Ibt.kaca tembaga ..................................................................(7)
Ein L = Ein. p.....................................................................................(8)
atau

..............................(9)

........................................................................................(10)

Dimana: Ep
Ein

= Daya potensi kolektor (W).


= Daya input pada kolektor (W).

20

Ein L = Daya yang terserap kolektor (W).


Q

= Energi yang diserap oleh kolektor (Joule).


= Beda suhu tangki penyimpan (oC).
= Suhu rata-rata (oC).

Ak

= Luas kolektor (m2).

Tawal = Suhu awal (oC).


Takhir = Suhu akhir (oC).
t

= Waktu (s).

IbT

= Intensitas radiasi Matahari (W/m2).

T1

= Suhu atas tangki penyimpan (oC).

T2

= Suhu tengah tangki penyimpan (oC).


= Suhu bawah tangki penyimpan (oC).

T3

= Efisiensi kolektor.

= Efisiensi kolektor.

= Massa air yang disimpan (kg).

kaca

= Emisivitas kaca.

tembaga = Emisivitas tembaga.


Cp

= Kapasitas panas spesifik air (4187 J.kg-1.oC-1).

= (Takhir Tawal ) suhu dalam tangki penyimpan (oC).

2.6. Efisiensi Kolektor Surya

Efisiensi kolektor surya adalah perbandingan antara energi yang


diserap dengan jumlah energi surya yang diterima pada waktu tertentu oleh
kolektor surya. Efisiensi kolektor surya dapat dinyatakan dengan Persamaan
sebagai berikut:
.......................................................................................(11)
Dimana:
Q

= Efisiensi kolektor surya.


= Energi yang diserap oleh kolektor (Joule).

21

= Massa air yang disimpan (kg).

Cp = Kapasitas panas spesifik air (4187 J.kg-1.oC-1).


T = (Takhir Tawal ) suhu dalam tangki penyimpan (oC).