Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH KELOMPOK

EPIDEMIOLOGI KELAINAN MUSKULOSKELETAL

Disusun Oleh
Kelompok 3
Delvalianggi

1311211080

Edwin Halim

1311211057

Fadiah Dini Putri

1311211061

Firstka Julliani Putri

1311211056

Fitri Aulia

1311211072

Nurul Putri Utami

1311211073

Trisna Okta Maghfira

1311211088

Yoni Fitri Aprilla

1311211071

Dosen Mata Kuliah

: Dr. Fauziah Elytha, MSc

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG

KATA PENGANTAR
Puji syukur diucapkan kepada Allah S.W.T, Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat, hidayah, dan karunia-Nya. Berkat limpahan karunia-Nya,
penulis telah dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Epidemiologi Kesehatan
Lingkungan mengenai Epidemiologi Kelainan Muskuloskeletal. Penulis berharap
makalah ini bermanfaat bagi semua pihak sehingga mampu menambah pengetahuan
orang-orang yang membacanya.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Epidemiologi
Kesehatan Lingkungan, Ibu Dr. Fauziah Elytha, MSc, serta semua pihak yang telah
membantu dan mendukung mulai dari persiapan hingga makalah ini selesai. Terlepas
dari semua itu, penulis menyadari bahwa penulis adalah manusia yang mempunyai
keterbatasan dalam berbagai hal. Oleh karena itu, tidak ada hal yang dapat
diselesaikan dengan sempurna, begitu juga makalah ini. Penulis melakukannya
semaksimal mungkin dengan kemampuan yang dimiliki.
Oleh karena itu pula, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca
demi kesempurnaan makalah ini dan untuk perbaikan di masa yang akan datang.

Padang, April 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................................ii
BAB 1 : PENDAHULUAN..........................................................................................1
1.1 Latar Belakang....................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...............................................................................................1
1.3 Tujuan.................................................................................................................1
BAB 2 : PEMBAHASAN............................................................................................2
2.1 Pengertian Stress Kerja.......................................................................................2
2.2 Faktor Penyebab Stress Kerja.............................................................................3
2.3 Gejala-Gejala Stress Kerja..................................................................................4
2.4 Pengendalian Stress Kerja..................................................................................5
2.5 Pengertian Kekerasan di Tempat Kerja...............................................................6
2.6 Faktor Penyebab Kekerasan di Tempat Kerja.....................................................7
2.7 Bentuk-Bentuk Kekerasan di Tempat Kerja.......................................................7
2.8 Epidemiologi Kekerasan di Tempat Kerja..........................................................8
2.9 Pencegahan Kekerasan di Tempat Kerja...........................................................10
BAB 3 : PENUTUP....................................................................................................11
3.1 Kesimpulan.......................................................................................................11
3.2 Saran.................................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN JURNAL

ii

BAB 1 : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem musculoskeletal merupakan salah satu system tubuh yang sangat
berperan terhadap fungsi pergerakan dan mobilitas seseorang. Komponen
penununjang yang paling dominan pada system ini adalah tulang. Masalah atau
gangguan pada tulang akan dapat mempengaruhi system pergerakan seseorang, mulai
dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa, maupun pada lansia. Salah satu masalah
musculoskeletal yang sering kita temukan di sekitar kita adalah fraktur atau patah
tulang. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan
luasnya (Smeltzer, 2001). Fraktur lebih sering terjadi pada orang laki-laki daripada
perempuan dengan umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga,
pekerjaan atau kecelakaan. Sedangkan pada Usila prevalensi cenderung lebih banyak
terjadi pada wanita berhubungan dengan adanya osteoporosis yang terkait dengan
perubahan hormon. Hal ini didukung dengan data WHO yang menyebutkan bahwa
1/3 warga dunia pernah mengalami patah tulang dan insiden terbesar terjadi pada
remaja antara usia 14 tahun hingga 21 tahun. Faktor utamanya adalah kecelakaan,
sedangkan faktor osteophorosis pada lansia menjadi penyebab kedua sebesar 8, 1%
(Depkes RI, 2010).
Kecelakaan merupakan suatu keadaan yang tidak diinginkan yang terjadi
secara mendadak dan dapat mengenai semua umur. Angka kejadian 2 kecelakaan lalu
lintas di Kabupaten Kendal sepanjang tahun 2010 mencapai 383 kasus, dengan
korban meninggal 23 orang, luka berat 51 orang, dan dan luka ringan sebanyak 548
orang (Nugroho, 2010).
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan kelainan muskuloskeletal (MSDs) ?
2. Apa saja yang menjadi faktor penyebab dari kelainan muskuloskeletal?
3. Bagaimanakah gejala dari kelainan muskuloskeletal?
4. Bagaimanakah cara mengukur kelainan muskuloskeletal?
5. Apa saja bentuk keluhan dari penderita kelainan muskuloskeletal?
6. Apa saja yang menjadi faktor resiko dari kelainan muskuloskeletal?
7. Bagaimanakah upaya pencegahan dari kelainan muskuloskeletal?

2
1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari kelainan muskuloskeletal.
2. Mengetahui faktor penyebab dari penyakit kelainan muskuloskeletal
3. Mengetahui gejala dari penderita kelainan muskuloskeletal.
4. Mengetahui cara mengukur kelainan muskuloskeletal.
5. Mengetahui bentuk keluhan dari penderita kelainan muskuloskeletal.
6. Mengetahui faktor resiko dari kelainan muskuloskeletal.
7. Mengetahui upaya pencegahan kelainan muskuloskeletal.

BAB 2 : PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kelainan Muskuloskeletal (Musculoskeletal Disorders / MSDs)


MSDs

merupakan

sekelompok

kondisi

patologis

dimana

dapat

mempengaruhi fungsi normal dari jaringan halus sistem musculoskeletal yang


mencakup sistem saraf, tendon, otot dan struktur penunjang .bagian tubuh yang
menjadi fokus pada penelitian ini adalah punggung dan bahu.
Menurut Occupational Health and Safety Council of Ontario
(OHSCO) tahun 2007, Keluhan muskuloskeletal adalah serangkaian
sakit pada tendon, otot, dan saraf. Aktifitas dengan tingkat
pengulangan tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan
sehingga dapat menimbulkan rasa nyeri dan rasa tidak nyaman
pada otot. Keluhan musculoskeletal dapat terjadi walaupun gaya
yang dikeluarkan ringan dan postur kerja yang memuaskan.
Menurut National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH) dan
WHO MSDs merupakan gangguan yang disebabkan ketika seseorang melakukan
aktivitas kerja dan kondisi pekerjaan yang signifikan sehingga mempengaruhi adanya
fungsi normal jaringan halus pada sistem Muskuloskeletal yang mencakup saraf,
tendon, otot.
MSDs umumnya terjadi tidak secara langsung melainkan penumpukanpenumpukan cidera benturan kecil dan besar yang terakumulasi secara terus menerus
dalam waktu yang cukup lama.Yang diakibatkan oleh pengangkatan beban saat
bekerja, sehingga menimbulkan cidera dimulai dari rasa sakit, nyeri, pegal-pegal
pada anggota tubuh. Musculoskeletal disorders merupakan suatu istilah yang
memperlihatkan bahwa adanya gangguan pada sistem musculoskeletal.
2.2 Faktor Penyebab Kelainan Muskuloskeletal
Menurut

Peter

Vi

(2004),

faktor

penyebab

keluhan

muskuloskeletal antara lain:


1) Peregangan otot yang berlebihan (over exertion)
Peregangan otot yang berlebihan pada umumnya
dikeluhkan oleh pekerja dimana aktivitas kerjanya
menuntut pengerahan yang besar, seperti aktivitas

4
mengangkat, mendorong, menarik, menahan beban
yang

berat.

dikategorikan

Perawat

melakukan

membutuhkan

tenaga

aktivitas

yang

yang

besar,

seperti mengangkat dan memindahkan pasien serta


merapikan tempat tidur (bed making). Mengangkat dan
memindahkan pasien dilakukan 5-20 pasien untuk
setiap tugas bergilir yang khusus. Saat bed making
membungkuk dan mengharuskan untuk melakukan
peregangan saat memasang sprai ke tempat tidur
(Sardewi, 2006).
2) Aktivitas berulang adalah pekerjaan yang dilakukan
secara terus menerus. Seperti mencangkul, membelah
kayu, angkat-angkat dan sebagainya. Perawat memiliki
aktivitas

yang

dilakukan

berulang-ulang

seperti

mengangkat dan memindahkan pasien, melakukan bed


making, dan aktivitas kerja lainnya yang dilakukan
setiap hari secara berulang-ulang dan dalam waktu
yang relative lama.
3) Sikap kerja tidak alamiah adalah sikap kerja yang
menyebabkan posisi bagian-bagian tubuh bergerak
menjauhi posisi alamiah, misalnya pergerakan tangan
terangkat,

punggung

terlalu

membungkuk

dan

sebagainya. Perawat adalah tenaga medis yang 24 jam


berada di dekat pasien, kebutuhan dasar pasien harus
diperhatikan oleh seorang perawat. Tingginya aktivitas
yang

dilakukan

perawat,

sehingga

perawat

tidak

memperhatikan posisi tubuh yang baik saat melakukan


tindakan.
Selain itu terdapat factor penyebab sekunder dari keluhan
muskuloskeletal, yaitu:
1) Tekanan : Terjadinya tekanan langsung pada jaringan
otot

yang

lunak

secara

berulang-ulang

menyebabkan nyeri yang menetap.

dapat

5
2) Getaran : Getaran dengan frekuensi yang tinggi akan
menyebabkan

kontraksi

otot

bertambah.

Kontraksi

statis ini menyebabkan peredaran darah tidak lancar,


penimbunan asam laktat meningkat dan akhirnya
timbul rasa nyeri otot.
3) Mikroklimat : Paparan suhu dingin yang berlebihan
dapat menurunkan kelincahan, kepekaan dan kekuatan
pekerja sehingga pergerakan pekerja menjadi lamban,
sulit bergerak disertai dengan menurunnya kekuatan
otot.

Perbedaan

lingkungan

dan

besar
suhu

suhu
tubuh

yang
akan

besar

antara

mengakibatkan

sebagian energi yang ada di dalam tubuh akan


digunakan untuk beradaptasi dengan suhu lingkungan.
Apabila hal ini tidak diimbangi dengan asupan energi
yang cukup, suplai energi di otot akan menurun,
terhambati
terjadinya

proses

metabolisme

penimbunan

asan

karbohidrat

laktat

yang

dan
dapat

menyebabkan nyeri otot.

2.3 Gejala-Gejala Stress Kerja


Gejala keluhan muskuloskeletal dapat menyerang secara cepat
maupun lambat (berangsur-angsur), menurut Kromer (1989), ada tiga
tahap terjadinya MSDs yang dapat diidentifikasi yaitu:
1) Tahap 1
Sakit atau pegal-pegal dan kelelahan selama jam kerja
tapi gejala ini biasanya menghilang setelah waktu kerja
(dalam satu malam). Tidak berpengaruh pada kinerja.
Efek ini dapat pulih setelah istirahat.
2) Tahap 2
Gejala ini tetap ada setelah melewati waktu satu malam
setelah

bekerja.

Tidak

mungkin

terganggu.

Kadang-

kadang menyebabkan berkurangnya performa kerja.


3) Tahap 3

6
Gejala ini tetap ada walaupun setelah istirahat, nyeri
terjadi ketika bergerak secara repetitif. Tidur terganggu
dan sulit untuk melakukan pekerjaan, kadang-kadang
tidak sesuai kapasitas kerja.

2.4 Pengukuran Kelainan Muskuloskeletal


Pengukuran muskuloskeletal disorders (Rizka, 2012): melalui
NBM dapat diketahui bagian-bagian otot yang mengalami keluhan
mulai dari rasa tidak nyaman (agak sakit) sampai sangat sakit.
Nordic Body Map merupakan salah satu metode pengukuran
subyektif untuk mengukur rasa sakit otot para pekerja. Kuesioner
Nordic Body Map merupakan salah satu bentuk kuisioner checklist
ergonomi. Kuisioner Nordic Body Map adalah kuesioner yang paling
sering digunakan untuk mengetahui ketidaknyamanan pada para
pekerja karena sudah terstandarisasi dan tersusun rapi. Pengisian
kuisioner Nordic Body Map ini bertujuan untuk mengetahui bagian
tubuh dari pekerja yang terasa sakit sebelum dan sesudah melakukan
pekerjaan pada stasiun kerja. Survei ini menggunakan banyak pilihan
jawaban yang terdiri dari dua bagian yaitu bagian umum dan
terperinci. Bagian umum menggunakan bagian tubuh yaitu yang
dilihat dari bagian depan dan belakang. Responden yang mengisi
kuisioner diminta untuk memberikan tanda ada tidaknya gangguan
pada bagian area tubuh tersebut. Nordic Body Map memiliki 28
pertanyaan tentang tingkat keluhan muskuloskeletal dari leher hingga
ujung kaki. Masing-masing sisi tubuh kiri dan kanan memiliki
pertanyaan yang berbeda, sehingga seluruh tubuh yang nyeri akan
dinilai dengan cermat. Pada NBM terdapat empat rentang skor yaitu
skor satu untuk tidak sakit, skor dua untuk agak sakit, skor tiga untuk
sakit dan skor empat untuk sangat sakit. Setelah kuesioner diisi, skor
dari masing-masing pertanyaan akan diakumulasi untuk mengetahui
tingkatan keluhan musculoskeletal yang diderita (Dryastiti, 2013).

2.5 Keluhan Kelainan Muskuloskeletal


Jenis-jenis keluhan Keluhan muskuloskeletal antara lain:

7
1) Sakit Leher : Sakit leher adalah penggambaran umum
terhadap

gejala

yang

mengenai

leher,

peningkatan

tegangan otot atau myalgia, leher miring atau kaku leher.


Pengguna

komputer

yang

terkena

sakit

ini

adalah

pengguna yang menggunakan gerakan berulang pada


kepala

seperti

menggambar

dan

mengarsip,

serta

pengguna dengan postur yang kaku.


2) Nyeri Punggung : Nyeri punggung merupakan istilah yang
digunakan untuk gejala nyeri punggung yang spesifik
seperti herniasi lumbal, arthiritis, ataupun spasme otot.
Nyeri punggung juga dapat disebabkan oleh tegangan
otot dan postur yang buruk saat menggunakan komputer.
3) Carpal Tunnel Syndrome : Merupakan kumpulan gejala
yang mengenai tangan dan pergelangan tangan yang
diakibatkan iritasi dan nervus medianus. Keadaan ini
disebabkan oleh aktivitas berulang yang menyebabkan
penekanan pada nervus medianus. Keadaan berulang ini
antara lain seperti mengetik, arthritis, fraktur pergelangan
tangan

yang

penyembuhannya

tidak

normal,

atau

kegiatan apa saja yang menyebabkan penekanan pada


nervus medianus.
4) Thoracic Outlet Syndrome : Merupakan keadaan yang
mempengaruhi bahu, lengan, dan tangan yang ditandai
dengan nyeri, kelemahan, dan mati rasa pada daerah
tersebut. Terjadi jika lima saraf utama dan dua arteri yang
meninggalkan leher tertekan. Thoracic outlet syndrome
disebabkan oleh gerakan berulang dengan lengan diatas
atau maju kedepan.
5) Tennis Elbow : Tennis elbow adalah suatu keadaan
inflamasi tendon ekstensor, tendon yang berasal dari siku
lengan bawah dan berjalan keluar ke pergelangan tangan.
Tennis elbow disebabkan oleh gerakan berulang dan
tekanan pada tendon ekstensor.
6) Low Back Pain : Low back pain terjadi apabila ada
penekanan pada daerah lumbal yaitu L4 dan L5. Apabila

8
dalam pelaksanaan pekerjaan posisi tubuh membungkuk
ke depan maka akan terjadi penekanan pada discus.Hal
ini berhubungan dengan posisi duduk yang janggal, kursi
yang tidak ergonomis, dan peralatan lainnya yang tidak
sesuai dengan antopometri pekerja.
Munculnya keluhan MSDs pada tubuh buruh angkut dipasar ditandai dengan
adanya gejala-gejala yang dirasakan oleh para buruh. Sedangkan pengertian keluhan
muskuloskeletal adalah keluhan pada bagian-bagian otot skeletal yang dirasakan oleh
seseorang mulai dari keluhan sangat ringan sampai sangat sakit. Apabila otot menerima
beban statis secara berulang dan dalam waktu yang lama akan menyebabkan keluhan
berupa kerusakan sendi, ligament dan tendon. Secara garis besar keluhan ini dibagi
menjadi dua yaitu keluhan sementara dan keluhan menetap:

1) Keluhan sementara adalah keluhan otot yang terjadi pada saat otot
menerima beban statis, keluhan ini dapat hilang jika melakukan istirahat
dan pembebanan dihentikan sementara.
2) Keluhan menetap adalah keluhan otot yang bersifat menetap walaupun
sudah melakukan pemberhentian pengangkatan beban tetapi rasa sakit
diotot masih muncul. Keluhan otot biasanya terjadi karena kontraksi otot
yang berlebihan yang disebabkan oleh pembebanan saat bekerja yang
terlalu berat dengan durasi yang cukup lama.

2.6 Faktor Resiko Kelaian Muskuloskeletal


MSDs dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan
kejadian cedera yang terdiri dari:
1) Faktor individu

a.

Lama kerja
Umumnya dalam sehari seseorang bekerja selama 6-8 jam dan
sisanya 14-18 jam digunakan untuk beristirahat atau berkumpul
dengan keluarga dan berkumpul dengan masyarakat.Adanya
penambahan jam kerja yang dapat menurunkan efisiensi pekerja,
menurunkan

produktivitas,

timbulnya

kelelahan

dan

dapat

mengakibatkan penyakit dan kecelakaan. Seseorang biasanya


bekerja selama 40-50 jam dalam seminggu.
Menurut Disnaker Lama kerja juga diatur dalam undang-undang no
13 tahun yang menyatakan bahwa jam kerja yang berlaku 7 jam

9
dalam 1 hari dan 40 jam dalam 1 minggu untuk 6 hari kerja dalam 1
minggu, 8 jam 1 hari dan 40 jam dalam 1 minggu untuk 5 hari kerja.
menurut pasal 77 ayat 2 dalam undang-undang no 13 tahun 2003
menyatakan bahwa jumlah jam kerja secara akumulatif masingmasing shift tidak diperbolehkan bekerja lebih dari 40 jam dalam
seminggu. Dapus depnaker.
Lama kerja mempunyai hubungan yang kuat dengan keluhan otot
dan dapat meningkatkan resiko gangguan musculoskeletal disorders
terutama untuk jenis pekerjaan dengan menggunakan kekuatan kerja
yang cukup tinggi.

b.

Masa Kerja
Masa kerja adalah waktu yang dihitung dari pertama kali pekerja
masuk kerja sampai penelitian berlangsung.Penentuan waktu dapat
diartikan sebagai pengukuran kerja untuk mencatat tentang jangka
waktu dan perbandingan kerja yaitu mengenai suatu unsur pekerjaan
tertentu yang dilaksanakan dalam suatu keadaan. Yang berguna
untuk menganalisa keterangan hingga ditemukan.waktu yang
diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan pada tingkat prestasi
tertentu.38 secara umum pekerja dengan masa kerja > 4 tahun
memiliki

kerentanan

untuk

munculnya

gangguan

kesehatan

dibandingkan dengan masa kerja yang < 4 tahun.

c.

Umur
Pertambahan umur pada masing-masing orang menyebabkan adanya
penurunan kemampuan kerja pada jaringan tubuh (otot, tendon,
sendi dan ligament). Penurunan elastisitas tendon dan otot
meningkatkan jumlah sel mati sehingga terjadi adanya penurunan
fungsi

dan

kapabilitas

otot,

tendon,

ligament

yang

akan

meningkatkan respon setres mekanik sehingga tubuh menjadi rentan


terhadap MSDs. Dengan demikian adanya kecenderungan bahwa
risiko MSDs meningkat seiring bertambahnya umur. Keluhan otot
skeletal biasanya dialami seseorang pada usia kerja yaitu 24-65
tahun. Biasanya Keluhan pertama dialami pada usia 30 tahun dan
tingkat keluhan akan meningkat seiring dengan bertambahnya umur.
Pada usia 30 thn terjadi degenerasi berupa kerusakan jaringan,
penggantian jaringan menjadi jaringan parut, pengurangan cairan.

10
Berat badan, tinggi badan dan massa tubuh erat kaitannya dengan
status gizi pada seseorang. Gizi kerja adalah gizi yang diterapkan
pada karyawan untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan jenis dan
tempat kerja dengan adanya tujuan dapat meningkatkan efisiensi dan
produktivitas yang tinggi. Status gizi pada seorang pekerja umur 18
tahun keatas ditandai dengan indeks massa tubuh . indeks massa
tubuh dihitung berdasarkan pada berat badan dan tinggi badan.
Keterikatan antara indeks masa tubuh dengan MSDs yaitu semakin
gemuk seseorang maka akan bertambah besar risiko orang tersebut
untuk mengalami MSDs. Hal ini disebabkan karena seseorang
dengan kelebihan berat badan akan berusaha untuk menopang berat
badan dari dengan cara mengontraksikan otot punggung. Dan jika ini
dilakukan terus menerus dapat menyebabkan adanya penekanan
pada bantalan saraf tulang belakang. Indeks masa tubuh dapat
digunakan sebagai indikator kondisi status gizi pada pekerja. Dengan
menggunakan rumus

BB2/TB (berat badan2/tinggi badan),

sedangkan menurut WHO dikategorikan menjadi tiga yaitu kurus


ringan (<17,0), kurus berat (17,0-18,5), normal (>18,5- 25), gemuk
(>27,0). Kaitan indeks masa tubuh dengan MSDs adalah semakin
gemuk seseorang maka bertambah besar risiko untuk mengalami
MSDs. Hasil penelitian pada tenaga kerja bongkar muat di
pelabuhan Manado menjelaskan bahwa tidak ada hubungan antara
status gizi dengan keluhan MSDs.
Semakin lama dan semakin tingginya frekuensi merokok seseorang
maka semakin tinggi pula tingkat keluhan yang dirasakan.
Meningkatnya keluhan otot ada hubungannya dengan lama dan
tingkat kebiasaan merokok. kebiasaan merokok dibagi menjadi 4
kategori yaitu kebiasaan merokok berat > 20 batang/hari, sedang 1020 batang/hari, ringan < 10 batang/hari dan tidak merokok.
Meningkatnya keluhan otot ada hubungan dengan lama dan tingkat
kebiasaan merokok seseorang. Risiko meningkatnya kebiasaan
merokok pada seseorang 20% untuk tiap 10 batang rokok per hari.
mereka yang berhenti merokok selama setahun memiliki risiko
MSDs.48 Adanya kebiasaan merokok akan menurunkan kapasitas
paru-paru, sehingga kemampuan untuk mengkonsumsi oksigen akan

11
menurun. Jika seseorang dituntut untuk melakukan tugas dengan
pengerahan tenaga, maka akan mudah lelah karena kandungan
oksigen didalam darah rendah dan pembakaran karbohidrat
terhambat, sehingga dalam hal ini terjadi tumpukan asam laktat dan
akhirnya menimbulkan rasa nyeri otot.49
Hasil dari penelitian di kota klaten menunjukkan bahwa kebiasaan
merokok ada hubungannya dengan keluhan MSDs yaitu dengan
persentase 19,04% beresiko tinggi dan 54,76% beresiko sedang. 13
Pekerja yang memiliki kebiasaan merokok lebih berisiko mengalami
keluhan MSDs dibanding dengan pekerja yang tidak memiliki
kebiasaan merokok. Hal ini menyebabkan stabilitas pada tulang dan
otot berkurang. Semakin tua seseorang, semakin tinggi resiko orang
mengalami penurunan elastisitas pada tulang yang menjadi pemicu
timbulnya gejala keluhan MSDs. Menurut penelitian di kota Bogor
menyatakan bahwa keluhan MSDs tertinggi dialami oleh kelompok
dengan usia 35 tahun keatas sebanyak 41 orang dengan persentase
sebesar 58,6% dan usia kurang dari 35 tahun terdapat 29 orang
mengalami keluhan MSDs dengan persentase sebesar 41,4%.

d.

Status gizi
Berat badan, tinggi badan dan massa tubuh erat kaitannya dengan
status gizi pada seseorang. Gizi kerja adalah gizi yang diterapkan
pada karyawan untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan jenis dan
tempat kerja dengan adanya tujuan dapat meningkatkan efisiensi dan
produktivitas yang tinggi. Status gizi pada seorang pekerja umur 18
tahun keatas ditandai dengan indeks massa tubuh . indeks massa
tubuh dihitung berdasarkan pada berat badan dan tinggi badan. 44
Keterikatan antara indeks masa tubuh dengan MSDs yaitu semakin
gemuk seseorang maka akan bertambah besar risiko orang tersebut
untuk mengalami MSDs. Hal ini disebabkan karena seseorang
dengan kelebihan berat badan akan berusaha untuk menopang berat
badan dari dengan cara mengontraksikan otot punggung. Dan jika ini
dilakukan terus menerus dapat menyebabkan adanya penekanan
pada bantalan saraf tulang belakang. Indeks masa tubuh dapat

digunakan sebagai indikator kondisi status gizi pada pekerja.


Dengan menggunakan rumus BB2/TB (berat badan2/tinggi

12
badan), sedangkan menurut WHO dikategorikan menjadi tiga
yaitu kurus ringan (<17,0), kurus berat.-). Kaitan indeks masa
tubuh dengan MSDs adalah semakin gemuk seseorang maka
bertambah besar risiko untuk mengalami MSDs.44
Hasil penelitian pada tenaga kerja bongkar muat di pelabuhan
Manado menjelaskan bahwa tidak ada hubungan antara status gizi
dengan keluhan MSDs.

e.

Kebiasaan merokok
Semakin lama dan semakin tingginya frekuensi merokok seseorang
maka semakin tinggi pula tingkat keluhan yang dirasakan.
Meningkatnya keluhan otot ada hubungannya dengan lama dan
tingkat kebiasaan merokok. kebiasaan merokok dibagi menjadi 4
kategori yaitu kebiasaan merokok berat > 20 batang/hari, sedang 1020 batang/hari, ringan < 10 batang/hari dan tidak merokok.
Meningkatnya keluhan otot ada hubungan dengan lama dan tingkat
kebiasaan merokok seseorang. Risiko meningkatnya kebiasaan
merokok pada seseorang 20% untuk tiap 10 batang rokok per hari.
mereka yang berhenti merokok selama setahun memiliki risiko
MSDs.48 Adanya kebiasaan merokok akan menurunkan kapasitas
paru-paru, sehingga kemampuan untuk mengkonsumsi oksigen akan
menurun. Jika seseorang dituntut untuk melakukan tugas dengan
pengerahan tenaga, maka akan mudah lelah karena kandungan
oksigen didalam darah rendah dan pembakaran karbohidrat
terhambat, sehingga dalam hal ini terjadi tumpukan asam laktat dan
akhirnya menimbulkan rasa nyeri otot.

Hasil dari penelitian di kota klaten menunjukkan bahwa kebiasaan merokok ada
hubungannya dengan keluhan MSDs yaitu dengan persentase 19,04% beresiko tinggi
dan 54,76% beresiko sedang.13 Pekerja yang memiliki kebiasaan merokok lebih berisiko
mengalami keluhan MSDs dibanding dengan pekerja yang tidak memiliki kebiasaan
merokok.

2.7 Pencegahan Kelainan Muskuloskeletal


Diperlukan suatu upaya pencegahan untuk meminimalisasi timbulnya MSDs
pada lingkungan kerja.upaya pencegahan tersebut dapat mempunyai manfaat berupa
penghematan biaya, meningkatkan produktivitas serta kualitas kerja dan meningkatkan

13
kesehatan para karyawan.34 Berikut upaya yang bisa dilakukan oleh para pekerja untuk
mengurangi risiko terjadinya kecelakaan kerja yaitu:

Peregangan otot sebelum melakukan pekerjaan pada setiap harinya.

Posisi sedikit berlutut saat mengambil barang jangan membungkuk.

Mencodongkan punggung saat mengangkat beban.

BAB 3 : Kesimpulan dan Saran

3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

14

DAFTAR PUSTAKA

http://julyyansyahsaputra.blogspot.co.id/2013/11/sistem-muskuloskeletal.html
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/158/jtptunimus-gdl-ivakhusnul-7877-3babii.pdf
https://wisuda.unud.ac.id/pdf/1002106026-3-BAB%202.pdf
http://rizka-zahra.blogspot.co.id/2012/04/musculoskeletal-disorders.html