Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hewan kesayangan anjing dan kucing semakin digemari masyarakat padahal untuk
memelihara anjing dan kucing tersebut sangat rumit selain dibutuhkan pengetahuan cara pemeliharaan
dan pengetahuan tentang kesehatan juga harus mengenal penyakit dan cara pengobatannya. Cara
pemeliharaan anjing dan kucing dan dalam menjaga kesehatannya sangat berkaitan erat dengan
penyebab penyakitnya terutama masalah penyakit yang sangat menular dan menyebabkan kematian.
Seiring dengan meningkatnya rasa cinta terhadap hewan kesayangan, menyebabkan timbulnya suatu
kebutuhan yang besar akan suatu tempat yang benar-benar dapat menampung dan menyediakan
berbagai alat dan jasa yang berkaitan dengan perawatan dan pemeliharaan hewan-hewan kesayangan.
Adapun beberapa penyaikit seperti Panleukopenia, Calicivirus, dan Rhinotracheitis merupakan
penyakit-penyakit yang sering terjadi pada kucing yang perawatan oleh si pemilik hewan kurang dan
menjadi kekhawatiran tersendiri pada para pecinta pet. Di Indonesia sendiri penyakit-penyakit tersebut
merupakan salah satu penyakit yang sangat rentang terjadi oleh karena itu pada kesempatan kali ini
penulis ingin memaparkan sedikit tentang penyakit-penyakit tersebut (Taty Syafriati dan Indrawati
Sendow, 2003).
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana menjelaskan dan menganalisa penyakit neonatal pada kucing dan penanganannya?
2. Bagaimana menjelaskan berbagai ragam perubahan klinik dan patologis, merumuskan
diagnosis dan diagnosis banding serta rencana tindakan penanganan penyakit seperti kasus
Panleukopenia, Calicivirus, Rhinotracheitis pada kucing?
C. Tujuan Praktikum
1. Dapat menjelaskan dan menganalisa penyakit neonatal pada kucing dan penanganannya.
2. Dapat menjelaskan berbagai ragam perubahan klinik dan patologis, merumuskan diagnosis
dan diagnosis banding serta rencana tindakan penanganan penyakit seperti kasus
Panleukopenia, Calicivirus, Rhinotracheitis pada kucing?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Panleukopenia
a) Etiologi
Feline Panleucopenia merupakan virus golongan Parvovirus yang mempunyai virion
iksohendral dengan diameter 18-26 nm dan terdiri atas 60 subunit protein. Genom ssDNA
polaritas minus berukuran 5,2 kb serta replikasi pada inti yang membelah serta menghasilkan
benda inklusi intranukleus yang besar. Sangat stabil dan tahan terhadap temperatur 60 C
selama 60 menit pada pH 3-9. Virus ini sangat cepat menular dan tergolong virus yang jahat,
karena mampu membagi sel-selnya dengan cepat sehingga dapat menyebabkan kematian.
Adapun kerugian dari penyebaran sel pada virus ini dapat membuat kucing komplikasi dan
infeksi/peradangan hasil bakteri (Katrin Hartmann, 2015).
b) Patogenesis
Setelah proliferasi awal dari jaringan limfoid farings, virus menyebar ke seluruh organ dan
jaringan lewat aliran darah. Terjadi infeksi dan kematian sel yang mempunyai reseptor yang
sama dengan virus. Virus bereplikasi dalam sel yang sedang dalam fase S dari siklus sel.
Replikasi virus menyebabkan sel tidak dapat bermitosis karena terjadi panleukopenia yang
serius disertai dengan penghancuran elemen sel darah putih. Infeksi virus ini juga
menyebabkan hilangnya sel dari kripta menyebabkan jonjot sangat pendek dan tidak
mempunyai kemampuan untuk menyerap sehingga menyebabkan terjadinya akumulasi zalir
dan ingesta secara cepat dalam lumen usus sehingga terjadi mencret. Bila keadaan klinis itu
berlangsung lama dehidrasi merupakan penyebab utama kematian. Bila enteritis telah
berlangsung selama beberapa hari sebelum mati, lesi usus biasanya jelas dan terdiri dari
segmen dengan dinding sangat tebal menjadi struktur seperti pipa dan kuku. Neuron motoris
yang dirusak oleh parvovirus tidak dapat diganti sehingga kucing akan kejang-kejang (Katrin
Hartmann, 2015).
c) Gejala Klinis
Virus ini menyerang anak kucing sekitar saat penyapihan, tetapi kucing pada semua tingkat
umur adalah rentan. Gejala memakan waktu sekitar 10 hari untuk muncul setelah infeksi.
Gejala-gejala panlekopenia pada kucing meliputi: Kehilangan nafsu makan, mendadak demam
tinggi (lebih dari 40 C) yang bertahan selama kurang lebih 24 jam dan selama periode ini
bentuk penyakit perakut. Temperatur akan normal dan meningkat kembali pada hari ke tiga
dan empat, muntah, diare berdarah, depresi, kejang, dehidrasi parah. Kucing akan duduk di
dekat air atau tempat minumnya, seperti haus, tetapi tidakminum, kucing menggigit ekornya
sendiri, bulu kusam, punggung bawah dan punggung kaki dan anemia (Taty Syafriati dan
Indrawati Sendow. 2003).
d) Diagnosis
Diagnosa Virus panleukopenia diberdasarkan riwayat dan pemeriksaan klinis. Pemeriksaan
patologi dan pemeriksaan laboratorium untuk menentukan diagnosa pasti. Berdasarkan gejala
klinis dan paskamati sangat menentukan diagnosa. Prosedur untuk memastikan meliputi
pemeriksaan hematologi untuk mengetahui adanya leukopenia, hemaglutinasi langsung dari
sel darah merah babi atau kera resus. Bisa juga dengan pengisolasian virus dalam biakan sel.
Pewarnaan antibodi flurosensi dapat digunakan untuk mendeteksi antigen dan ELISA untuk
mendeteksi antibodi atau antigen, di deteksi dengan PCR (Taty Syafriati dan Indrawati
Sendow. 2003).
e) Diferensial Diagnosis
Deferensial diagnosanya yaitu E.colli dan Salmonella (Katrin Hartmann, 2015).
f) Prognosis

Prognosa ditegakkan dengan memperhatikan status cairan tubuh, tingkat anemia, serta
beratnya infeksi yang diperoleh dari pemeriksaan darah. Biasanya prognosanya dubius (Katrin
Hartmann, 2015).
g) Terapi
Pengobatan dengan antibiotika berspektrum luas misalnya pemberian tetrasiklin dapat
melawan infeksi ikutan terhadap Chlamydia. Untuk menghilangkan sekresi yang liat
(tenacious) dapat dilakukan nebulisasi, atau pemberian tetes hidung ephedrine sulfat dalam
larutan 0,25 % yang dikombinasikan dengan antibiotika mampu menurunkan leleran hidung.
Salep mata yang mengandung antibiotik (tetrasiklin) diberikan 5-6 kali sehari untuk mencegah
iritasi kornea dari eksudat yang mongering. Hewan yang menderita dispnoea perlu diberikan
terapi oksigen dan apabila terjadi dehidrasi diberikan terapi cairan. Esofagotomi dan
pencucian lambung pada kucing yang sakitnya parah dapat dilakukan untuk meringankan
penyakit. Antihistamin chlorpheniramine dapat diberikan per oral dengan dosis 8 mg untuk
kucing dewasa dan 4 mg untuk kucing anak pada awal kejadian penyakit (Reza Sofa Hartuti,
Mulyadi Adam dan Triva Murtina, 2014).
B. Calicivirus
a) Etiologi
Feline Calicivirus (FCV) merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi Calicivirus, yaitu
virus RNA, yang dulu dikenal sebagai Picornavirus. Penyakit ini biasanya menyerang mulut,
hidung, mata sampai ke paru-paru sebagai infeksi lanjutan. Gejala yang tampak dari infeksi
FCV antara lain adalah lethargy, pengerasan rambut di sekitar mulut dan hidung, anorexia, inappetance, oral ulceration, hipersalivasi dan nasal discharge dengan atau tanpa disertai
demam dan bersin. Gejala klinis muncul dari 2-8 hari setelah infeksi virus dan mencapai
puncaknya dalam 10 hari setelah gejala klinis teramati (Foster dan Smith M, 2009).
b) Patogenesis
Patogenesa dari penyakit FCV yaitu adanya transmisi virus secara langsung dari kucing
terinfeksi kepada kucing sehat atau adanya kontaminasi dari tangan pemilik ataupun peralatan
kandang yang tercemar virus. Rute infeksi biasanya berasal dari nasal, oral dan conjungtiva.
Setelah masuk ke dalam tubuh, virus akan segera bereplikasi di jaringan target yaitu
conjunctiva, mukosa mulut, mukosa hidung dan paru-paru (Foster dan Smith M, 2009).
c) Gejala Klinis
Gejala klinis feline calicivirus muncul dari 2-8 hari setelah infeksi virus dan mencapai
puncaknya dalam 10 hari setelah gejala klinis terlihat. Pada kasus yang berlangsung akut
saluran nafas tertutup lendir yang mengental disertai discharge pada hidung (nasal), demam
tinggi, bersin (tidak sebanyak feline rhinotracheitis), sulit bernafas akibat radang paru-paru
(pneumonia), dehidrasi, luka (ulser) seperti sariawan pada hidung, mulut, lidah atau bibir yang
menyebabkan kucing tidak mau makan (anoreksia) karena kesakitan saat mengunyah makanan
dan kadang-kadang ulser juga terjadi di sela-sela cakar dan telapak kaki. Kematian dapat
terjadi akibat dari dehidrasi dan anoreksia yang berlangsung lama. Selain itu, terjadi gangguan
pada mata seperti konjungtivitis, epifora, blepharospasmus dan chemosis yaitu pembengkakan
pada palpebra sebelah dalam sehingga mata membesar oedematous. Pada kasus yang
berlangsung kronis menunjukkan gejala yang ringan atau tidak menunjukkan gejala sama
sekali. Pada beberapa kasus dapat menunjukkan gejala gingivitis yang berulang. Gejala
kepincangan (limping kitten syndrome) juga dapat terlihat pada infeksi feline calicivirus akibat
peradangan pada sendi (artritis) terutama terlihat pada anak kucing yang umurnya kurang dari
14 minggu. Artritis terutama terjadi pada kaki belakang dan tidak menimbulkan kerusakan
sendi yang permanen. Status karier dapat berlangsung selama beberapa tahun dan virus
dibebaskan lewat oropharynx (Subronto, 2006).
d) Diagnosis
Berdasarkan pemeriksaan fisik seperti keluar discharge dari hidung dan mata kucing
mengalami konjungtivitis dan peradangan kronis pada rongga hidung dan trakea, dan

berdasarkan pemeriksaan darah lengkap terjadi penurunan jumlah leukosit dan eritrosit atau
(leukositopenia dan anemia), maka berdasarkan gejala-gejala tersebut dapat disebabkan oleh
beberapa penyakit yaitu calicivirus, rhinotrakheitis dan lain-lain (Subronto, 2006).
e) Diferensial Diagnosis
Feline calcivirus memiliki gejala klinis yang hampir sama dengan dengan infeksi Feline
Rhinotracheitis (Foster dan Smith M, 2009).
f) Prognosis
Prognosa ditegakkan dengan memperhatikan status cairan tubuh, tingkat anemia, serta
beratnya infeksi yang diperoleh dari pemeriksaan darah. Biasanya prognosanya dubius (Foster
dan Smith M, 2009).
g) Terapi
Prinsip terapi terhadap FCV adalah mengisolasi kucing yang terinfeksi. kemudian kucing yang
terinfeksi harus diistirahatkan dan diberikan terapi yang bersifat suportif. Kucing sebisa
mungkin dicegah dari kejadian dehidrasi dengan pemberian cairan secara IV. Multivitamin
maupun obat pengurang rasa sakit dapat diberikan jika diperlukan. Untuk adanya infeksi
sekunder perlu diberikan antibiotik yang sesuai dengan kepekaan kuman penyebab infeksi
tersebut misalnya amoxicillin (Subronto, 2006).
C. Rhinotracheitis
a) Etiologi
Feline rhinotracheitis pada kucing disebabkan oleh Feline Herpes Virus -1 (FHV - 1). Virus
ini memiliki masa inkubasi 2-4 hari namun pada kucing dengan daya tahan tubuh yang kuat,
masa inkubasi virus ini menjadi 10-14 hari. Penularan virus ini melalui kontak langsung
dengan kucing yang sakit atau dengan alat, tempat makan dan pakan yang sudah
terkontaminasi (Juliani, 2015).
b) Patogenesis
Feline Viral Rhinotracheitis (FVR) baru dikenal sebagai penyakit sendiri sewaktu banyak
kucing dipelihara bersama. Infeksi diduga terjadi per inhalasi. Virus bereplikasi dalam epitel
mata, konjunktivita dan mengakibatkan nekrosa lokal. Pengeluaran virus terjadi antara lain
melalui sekret hidung, konjunktivita dan urin. Penularan dapat berjangkit dalam satu koloni
kucing secara laten. Hewan yang sembuh masih dapat peka lagi terhadap infeksi virus ini.
Perubahan lingkungan diduga dapat mengaktifkan infeksi. Kucing dapat ditulari lewat
berbagai jalan antara lain intranasal (Juliani, 2015).
c) Gejala Klinis
Gejala yang sering ditimbulkan adalah: batuk, demam hingga 41 oC, nafsu makan menghilang,
bersin-bersin, mata merah, bengkak dan berair disertai kerak-kerak pada kelopak mata.pada
kasus tertentu juga dijumpai radang kornea. Pada kucing hamil yang terinfeksi akan
menyebabkan abortus, kalau tidak abortus maka anak-anak kucing yang lahir akan terkena
radang paru-paru (Juliani, 2015).
d) Diagnosis
Diagnosa penyakit kucing ini didasarkan atas pemeriksaan klinis, pemeriksaan hispatologi,
dan pemeriksaan laboratorium (Juliani, 2015).
e) Diferensial Diagnosis
Penyakit rhinotracheitis memiliki gejala klinis yang hampir sama dengan dengan infeksi
calicivirus dan penleukopenia. Pada panleukopenia yang terlihat adalahgejala-gejala dari
traktus digestivus, muntah-muntah, dan diare. Pada penleukopenia ditemukan lekopeni yang
parah sedangkan pada FVR sekali-kali ditemukan lekositosis. Pada infeksi calicivirus maka
rhinitis biasanya bersifat mucus dan jarang berubah menjadi purulen. Diferensiasi secara
virologist dpat dilakukan (Juliani, 2015).
f) Prognosis
Prognosa ditegakkan dengan memperhatikan status cairan tubuh, tingkat anemia, serta
beratnya infeksi yang diperoleh dari pemeriksaan darah. Biasanya prognosanya dubius
(Juliani, 2015).

g)

Terapi
Kucing yang terinfeksi feline rhinotracheitis virus sebaiknya dipisahkan dari kucing yang lain.
Kucing ditempatkan ke ruangan yang nyaman dan sirkulasi yang baik. Makanan dan minuman
tersedia, jika kucing tidak mau makan maka kucing tersebut harus diinfus dan disuapin.
Pengobatan untuk penyakit ini adalah pemberian antibiotik seperti ampicilin, amoxixilin untuk
infeksi sekunder. Obat tetes mata dan salep mata untuk mengurangi gejala pada mata.
Pemberian Lysin untuk mengganggu replikasi virus dan menambah nafsu makan (Juliani,
2015).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Panleukopenia, Calicivirus, dan Rhinotracheitis merupakan penyakit yang dapat
dikatakan kompleks karena dalam satu hewan yang menderita mungkin ditemukan campuran
keadaan konjungtivitis, lakrimasi, salivasi dan ulserasi oral. Untuk gejala-gejala klinis hampir
sama dan perlunya diadakan beberapa pendekatan agar dapat menetukan si hewan menderita
salah satu penyakit tersebut namun dalam penanganan medis untuk ketiga penyakit ini berbeda.
B. Saran
Untuk praktikum ini yang bisa menjadi saran untuk praktikum kedepannya ialah
pengoptimalan waktu praktikum karena menurut praktikan pribadi sangat lama dalam
pelaksanaan praktikum itu sendiri, mungkin kurangnya kerjasama yang efektif dari kelompok
dalam hal pemeriksaan hewan yang mengambil banyak waktu.
Dan juga etelah membaca tulisan ini semoga dapat bermanfaat dan dapat djadikan
referensi untuk pembuatan tulisan-tulisan lainnya, untuk tulisan-tulisan mengenai penyakitpenyakit di atas yang telah dijelaskan dapan dikembangkan untuk penulisan mengenai penyakitpenyakit tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Foster dan Smith M. 2009. Feline Upper Respiratory Disease : Rhinotracheitis and Calicivirus
Infection in Cat. http://www.peteducation.com/index.cfm [1 September 2016].
Juliani. 2015. Feline Viral Rhinotracheitis. Artikel 005 - Vitapet Animal Clinic.
Katrin Hartmann. 2015. Feline Panleukopenia. J Feline Med Surg 2009; 11: 538-546.
Reza Sofa Hartuti, Mulyadi Adam dan Triva Murtina. 2014. Kajian Kesejahteraan Kucing yang
Dipelihara Pada Beberapa Pet Shop Di Wilayah Bekasi, Jawa Barat. Jurnal Medika
Veterinaria Vol. 8 No. 1, Februari 2014
Subronto. 2006. Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba pada Anjing dan Kucing. Yogyakarta : Gadjah
Mada University Press.
Taty Syafriati dan Indrawati Sendow. 2003. Keberadaan Penyakit Feline Panleukopenia Pada Kucing
Di Indonesia. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Puslitbang Peternakan
Bogor 29 - 30 September 2003.
.