Anda di halaman 1dari 40
b. Pola Distribusi Hujan Badai. Data hujan yang digunakan untuk menghitung curah hujan dengan berbagai periode ulang adalah hujan harian maksimum tahunan. Hal ini mengakibatkan curah hujan yang diperoleh adalah curah hujan per 24 jam. Penetapan distribusi dan durasi hujan, dilakukan dengan pengamatan hidrograf banjir dan data hujan jam-jaman. Kumpulan data hidrograf banjir dari pos duga air otomatis (AWLR) dan data distribusi hujan jam-jaman dari stasiun hujan otomatis, kemudian ditentukan distribusi hujan jam-jaman yang menimbulkan puncek hidrograf banjir tertinggi. Distribusi hujan yang menimbulkan terjadinya puncak banjir tertinggi diambil sebagai distribusi hujan badai rencana. Untuk mendapatkan muka air banjir maksimum waduk,perlu dilakukan optimasi dengan “reservoir routing” guna memilih durasi hujan kri Pemilihan durasi hujan kritis (Critical Storm Duration), pada prinsipnya tergantung pada luas DPS dan pengaruh-pengaruh lain seperti luas genangan waduk dan konfigurasi bangunan pelimpah, sehingga untuk setiap bendungan walaupun memiliki luas DPS yang sama belum pasti durasi hujan kritisnya sama. Pemilihan durasi hujan dengan pola distribusinya, sangat berpengaruh pada hasil banjir desain yang diperhitungkan, Curah hujan yang sama yang terdistribusi dengan durasi yang panjang akan menghasilkan puncak banjir yang lebih rendah dibanding dengan yang terdistribusi dengan durasi yang pendek. Oleh karena itu penetapan durasi hujan kritis perlu dilakukan dengan optimasi beberapa besaran durasi hujan sehingga diperoleh durasi hujan kritis. Untuk bencungan-bendungan kecil disarankan dilakukan optimasi untuk, durasi hujan 6 sampai dengan 24 jam, misal 6, 9, 12, 15 jam dan seterusnya, sedang untuk bendungan besar disarankan dilakukan optimasi untuk durasi hujan 1, 2, 3 hari bahkan dapat lebih tergantung 36 besarnya DPS dan dimensi waduk. Sebagai perkiraan awal, durasi hujan dapat diambil sama dengan atau sedikit lebih besar dari waktu Konsentrasi banjir (time of concentration). Gambar 3.10 memperlihatkan contoh penetapan durasi hujan kritis waduk Manggar-Kalimantan Timur, berdasarkan hidrograf aliran keluar dan elevasi muka air waduk. Bila data hidrograf banjir dari pos duga air otomatis dan data distribusi hujan jam-jaman dari stasiun hujan otomatis tidak tersedia, pola distribusi hujan dapat ditetapkan dengan mengacu pada tabel 3.11 yang diambil dari PSA 007. Gambar 3.11 adalah merupakan grafik yang digambar dari tabel 3.11 dengan sedikit penghalusan. 1280 1270 160 3 ro § S é 3 ao. § = 1230 5 8 12.20 os 2880 fe derSinjan sais 5} Durasi (jam) Gambar 3.10 Contoh penetapan durasi hujan kritis waduk Manggar berdasarkan hubungan hidrograf aliran keluar dan elevasi muka air waduk Tabel 3.12 merupakan besaran-besaran yang diambil dari gambar grafik 3.11, sedang tabel 3.13 adalah contoh distribusi hujan dalam persen (%) untuk durasi hujan 12 jam, yang disusun berdasarkan tabel 3.12. Untuk mendapatkan curah hujan kritis selanjutnya sesuai dengan PSA 005, distribusi hujan disusun dalam bentuk genta (bell shape), dimana hujan tertinggi ditempatkan ditengah, tertinggi kedua disebelah kiri, tertinggi ketiga disebelah kanan dan seterusnya. Gambar 3.12 memperlihatkan distribusi hujan dengan durasi 12jam yang telah disusun dalam bentuk genta. Tabel 3.14 memperlihatkan total CMB dalam % untuk durasi 24, 48 dan 72 jam 37 Tabel. 3.11 Intensitas hujan dalam % yang disarankan PSA 007 Kala ulang Durasi Hujan Tahun Yajam | %jam | jam | 2jam | 3jam | 6jam | 12jam 3 32 a 48 59 66 8 88 10 30 38 5 57 64 76 88 3 28 36 8 55 63 75 88 50 a 5 2 53 61 23 88 100 26 4 a 52 60 n 88 1000 B 32 39 49 57 69 88 CMB 20 v | x 45 52 64 88 100] _ Lt z° 8 : g »xl—+- a r a P 30] 4a 30 ela ° 2 4 6 8 wo 12 «14 w 18 nna waktu (Jam) , Gambar. 3.11 Persentasi CMB terhadap hujan 24 jam Tabel.3.12 Hubungan antara durasi dan kedalaman ,curah hujan maksimum boleh jadi Durasihujangam)| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 12 | 16 | 20 | 2 Curah hujan% ” [34 | 45 [52 | 60 | 65 | 68 92 | 96 | 100 Tabel. 3.13 Contoh distri busi hujan untuk durasi 12 jam. Durasihujan(am) | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 7[8]9}w fu Durasi hujan (%) 8 | 16 | 25 | 33 | 41 | 50 58 | 66 | 75 | 83 | 9 100 Curah hujan (%) | 44 | 60 | 68 | 75 | 82 | 88 | 90 | 92 | 94 | 96 | 98 100 Curah Hujan Dalam % Tabel.3.14 Total curah hujan maksimum boleh jadi dalam % untuk durasi 24, 48 dan 72 jam Durasi hujan jam) | 24 | 48 | 72 Curah hujan % 100 | 150 | 175 50 + AO boos 30 20 | pete A AGC 10 - fal 5 6 7 8 9 10 11 12 Durasi Hujan Dalam Jam Gambar. 3.12 Contoh Distribusi hujan dengan durasi 12 jam dalam bentuk genta. ¢. Hujan Efektif. Hujan efektif adalah bagian dari curah hujan total yang menghasilkan limpasan langsung (direct run-off). Limpasan langsung ini terdiri dari limpasan permukaan (surface run-off) dan aliran antara atau interflow (air yang masuk kedalam lapisan tipis di bawah permukaan tanah dengan permeabilitas rendah, yang keluar lagi ditempat yang rendah dan berubah menjadi limpasan permukaan). Jadi hujan efektif adalah curah hujan total dikurangi kehilangan pada awal hujan turun akibat intersepsi dan infiltrasi. 39 Ada beberapa metode yang lazim digunakan, namun pada panduan ini hanya akan ditampilkan metode Horton dan metode Phi Indeks sesuai dengan SK SNI-18-1989-F, sebagai berikut : » Metode Horton Metode Horton mengasumsikan bahwa kehilangan debit aliran akan berupa lengkung eksponensial, sehingga makin besar jumlah hujan yang meresap akan mengakibatkan tanah menjadi cepat jenuh akibatnya besar resapan akan berkurang dan akan mengikuti rumus Horton sebagai berikut: _ F, = f+ (b-fe* ————— 8.17) keterangan : f, = kapasitas infiltrasi pada waktu t (mm) f= harga akhir dari infiltrasi fy = kapasitas infiltrasi permulaan yang tergantung dari hujan sebelumnya, dapat diperkirakan 50-80% dari curah hujan total. k= konstanta yang tergantung dari tekstur tanah t= waktu sejak hujan mulai Kanes Mon ssrocr” rete § ores ¢ eer oc emt Gambar 3.13. Contoh Metode Horton 2) Metode Indeks Phi (¢p indeks) Metode ¢ indeks, mengasumsikan bahwa besarnya kehilangan hujan dari jam ke jam adalah sama, sehingga kelebihan dari curah hujan akan sama dengan volume dari hidrograf aliran seperti (lihat Gambar 3.14) wactus KE “Tinéct CURAN HH ee Gambar. 3.14 Metode indeks Hidrograf Satuan (Unit Hidrograft) Hidrograf satuan adalah hidrograf limpasan langsung yang dihasilkan oleh hujan lebih (exces rainfall), yang terjadi merata diseluruh DPS, dengan intensitas tetap dalam satuan waktu. Setiap DPS, memiliki hidrograf satuan yang khas sesuai dengan karakteristiknya. ‘Ada dua andaian pokok teori hidrograf satuan yaitu : ~ Hujan terjadi merata diseluruh DPS, ~ Hujan merata dalam unit waktu yang di Konsep dasar pada hidrograf satuan ialah bahwa hujan satuan yang berbeda-beda besarnya akan menghasilkan grafik distribusi yang hampir sama. Untuk penerapan metode hidrograf satuan, umumnya luas DPS dibatasi tidak boleh lebih besar dari 5000 km? Hidrograf satuan dapat disusun dari suatu kasus banjir atau hujan. Untuk penerapan metode hidrograf satuan ada beberapa keterbatasan 41 yang perlu diperhatikan : - Umumaya luas DPS lebih besar dari 200 ha dan kurang dari 5000 km? Presipitasi hanya berasal dari air hujan, bukan dari melelehnya salju. Pada DPS tidak terdapat tampungan-tampungan besar yang dapat berakibat mengganggu hubungan linier antara tampungan dengan debit. Bila curah hujannya tidak seragam (non uniform), hidrograf satuan tidak akan memberi hasil yang baik. Pakaian hidrograf satuan tidak dapat memberi hasil yang sangat tiiti, debit puncak dengan variasi + 10% dan basis hidrograf dengan variasi + 20% umumnya masih dapat diterima. Hidrograf satuan hanya dapat disusun kalau tersedia hidrograf aliran banjir yang disusun dari hasil pengamatan. Untuk hidrograf satuan dari suatu asus banjir diperlukan data rekaman ketinggian muka air otomatis (AWL R). Data ini sering sulit diperoleh atau tidak tersedia, untuk DPS yang tidak memiliki data debit (ungauged catchments), dapat diatasi dengan menggunakan metode hidrograf satuan sintetik melalui analisis wilayah. Pemakaian diluar wilayah dimana hidrograf satuan sintetik tersebut dikembangkan, perlu dilakukan kalibrasi terhadap parameter-paramater empirik yang digunakan. Namun perlu diingat, metode hidrograf satuan sintetik umumnya dikembangkan berdasarkan kerelasi-korelasi empirik yang hanya sesuai untuk digunakan pada wilayah dimana metode tersebut dikembangkan, sehingga tidak seharusnya suatu metode digunakan sebagai persamaan umum yang cocok untuk seluruh wilayah. Data yang diperlukan pada metode hidrograf satuan sintetik adalah : - Data curah hujan pengamatan jangka panjang, ~ Sifat DPS. Pada hidrograf satuan yang perlu diperhatikan adalah : hujan efektif, aliran dasar dan hidrograf limpasan. Dalam menentukan besar debit banjir desain dengan metode hidrograf satuan sintetik diperlukan data hujan jam-jaman. Curah hujan desain harian dalam berbagai periode ulang, berdasarkan 42 pola distribusi hujan yang sesuai daerah studi, dapat dirubah dalam bentuk curah hujan jam-jaman. Curah hujan jam-jaman selanjutnya disusun dan digambarkan dalam bentuk diagram hujan (Storm hyetograph). Diagram hujan setelah dikurangi kehilangan awal dan infiltrasi akan diperoleh diagram hujan efektif (Effective Rainfall Hyetograph - ERH). Hidrograf banjir dapat diturunkan dari diagram hujan efektif dan hidrograf satuan. Dalam SK SNI M-18-1989-F ada dua metode hidrograf satuan sintetik yang disarankan, yaitu : - Metode Gama I dan - Metode “Soil Conservation Service” (SCS) - USA. 1) Hidrograf Satuan Sintetik Gama 1 Metode ini dikembangkan oleh DR. Ir. Sri Harto, berdasarkan penelitian pada 30 DPS di Pulau Jawa. a) Satuan hidrograf sintetik Gama I dibentuk oleh tiga komponen dasar yaitu waktu naik (TR), debit puncak (Qp), waktu dasar (TB) dengan uraian sebagai berikut : (1) waktu naik (TR) dinyatakan dengan rumus : i z + 1,0665 SIM + 1,2775 _..... (3.18) keterangan: TR = waktu naik (jam) L = _panjang sungai (km) SF = faktor sumber yaitu perbandingan antara jumlah panjang sungai tingkat 1 dengan jumlah panjang sungai semua tingkat. SIM = _ faktor simetri ditetapkan sebagai hasil kali antara faktor lebar (WF) dengan luas relatif DAS sebelah hulu (RUA). 43 WF = faktor lebar adalah perbandingan antara lebar DPS yang diukur dari titik di sungai yang berjarak 3/4 L dan lebar DPS yang diukur dari titik yang berjarak 1/4 L dari tempat pengukuran (hat Gambar 3.15). (2) debit puncak (QP) dinyatakan dengan rumus : QP = 0.1836 AY JNO TRO keterangan : QP = debit puncak (m3/det) JN = jumlah pertemuan sungaiyaitujumiah selarch perteruan sungai di dalam DPS TR = waktu naik (am) 3.19) (3) waktu dasar (TB) dinyatakan dengan rumus : TB = 27,4132 TR" 5*™ SNY* RUAM™ (3.20) keterangan : TB = waktu dasar (jam) TR = waktu naik (am) s = landai sungai rata-rata SN = frekuensi sumber yaitu perbandingan antara jumlah segmen sungai-sungai tingkat 1 dengan jumlah sungai semua tingkat, untuk penetapan tingkat sungai lihat gambar 3.17 RUA = luas DPS sebelah hulu (km?), (lilt Gambar 3.16), sedangkan bentuk grafis dari hidrograf satuan (lihat Gambar 3.18). XOA= 0756 ‘eyXeoB = O7SL wort, A Gambar 3.15 Sketsa penetapan WF H RUA= AUIA Gambar 3.16 Sketsa penetapan RUA Gambar 3.17 * Sketsa penetapan tingkat sungai Gambar 3.18. Bentuk hidrograf satuan b) Hujan efektif didapat dengan cara metode ¢ indeks yang dipengaruhi fungsi luas DPS dan frekuensi sumber SN, dirumuskan sebagai berikut : = 10,4903-3,859 . 10°. A? = 1,6985 . 10° . (A/SN)* ¢ = indeks infiltrasi, dalam mm/jam A = luas DPS dalm Km? ‘SN = ‘frekuensi sumber, tidak berdimensi_ c) Aliran dasar dapat didekati sebagai fungsi luas DPS dan kerapatan jaringan sungai yang dirumuskan sebagai betikut: QB = A751 AHA DIO __ —---- (3.22) keterangan QB = aliran dasar (m*/det) A = luas DPS (km?) D = kerapatan jaringan sungai (km/km?) d) Besarnya hidrograf banjir dihitung dengan mengalikan hujan efektif dengan kala ulang tertentu dengan hidrograf satuan yang didapat dari rumus (20), (21) dan (22) selanjutnya ditambah dengan aliran dasar. Metode Hidrograf satuan Sintetik tak berdemensi“ Soil Conservation Service” (SCS) - USA. Hidrograf satuan tak berdemensi SCS adalah hidrograf sintetis yang di-ekspresikan dalam bentuk perbandingan antara debit q dengan debit puncak q, dan waktu t dengan waktu naik (time of riseJT, seperti gambar 3.19. Tabel 3.15 memperlihatkan koordinat dari hidrograf ini. Nilai q, dan ,T dapat diperkirakan dengan menggunakan penyederhanaan model hidrograf satuan segitiga seperti gambar a6 3.19 b, dengan satuan waktu jam dan debit dalam m’/dt. Dalam kajian terhadap banyak hidrograf satuan, waktu turun (time of recession) dapat diperkirakan sebesar 1,67 T, dan basis hidrograf t, = 2,67 T,. Untuk limpasan langsung (direct runoff) sebesar 1 cm diperoleh debit puncak cA 623) % Oe dimana q, = puncak hidrograf satuan (m°/dt) C = konstanta = 2,08 A = luas DPS (km) ve = waktu naik atau waktu yang diperlukan antara permulaan hujan hingga mencapai puncak hidrograf (jam) Lama waktu kelambatan (lag time) : 1, = 06 T, (3.24) waktu kelambatan yaitu waktu antara titik berat curah hujan hingga puncak hidrograf (jam) = waktu kosentrasi yang dapat dihitung dengan rumus KIRPICH (1940) 0.01947 L°7” S93 . (3.25) waktu kosentrasi (menit) panjang maksimum lintasan air (m) kemiringan (slope) DPS = AH/L perbedaan ketinggian antara titik terjauh di DPS deangan tempat pelepasan (outlet) Waktu naik (time of rise) to & & .- (8.26) waktu naik (jam) = ama terjadinya hujan efektif jam) = waktu kelambatan (jam) a7 Langkah perhitungan: 1) Ambil durasi hujan t, dari data hujan yang tersedia 2) Hitung waktu kosentrasi t, 3) Hitung lama waktu kelambatan t, 4) Hitung waktu naik T, 5) Hitung puncak hidrograf satuan 9, 6) Hidrograf tak berdemensi seperti gambar 3.19 dapat diperoleh dengan mengalikan sumbu horisotal dengan T, dan sumbu vertikal dengan q, serta basis hidrograf t, = 2,67, LM alee " os les ‘ i 4 O48 avs | cal | bet i eee . 1 2 3 4 $ - um (@) (b) Gambar. 3.19 Hidrograf Satuan Sintetik SCS. (a) Hidrograf tak berdemensi (b) Hidrograf Satuan segitiga 48 Tabel. 3.15 Koordinat Hidrograf Satuan tak Berdemensi SCS a/% vt. a/% vt W% 0 wa 0.98 28 0.098 0.015 12 092 30 0075 0.075 13 084 35 0.036 016 14 075 40 0.018 028 a3) 0.66 45 0.009 0.3 16 056 50 0.008 060 18 oz O77 20 032 089 22 024 097 24 038 1.00 26 013+ Pengujian hasil perhitungan debit banjir desain. Untuk mempertinggi tingkat ketelitian hasil hitungan dari metode yang dipilih, disamping perlu dilakukan kalibrasi terhadap metode yang dipakai juga dapat diuji dengan cara sebagai berikut : (1) Hasil perhitungan dibandingkan dengan hasil-hasil pengukuran debit + @a«a' yang pernah dilakukan di DPS lain di dekatnya yang kondisinya "! hampir bersamaan. (2) Dibandingkan dengan metode-metode unit hidrograf yang lain . Hidrograf Banjir Unit hidrograf seperti yang dijelaskan diatas, selanjutnya dapat dialihragamkan menjadi hidrograf banjir melalui cara penyelesaian persamaan pollinomial atau cara collins. 1) Cara persamaan pollinomial (konvulasi diskrete) Persamaan ini dapat ditulis secara singkat seperti berikut : QB PULP Thos Q = Debit aliran keluar pada waktu k G27 U, = Ordinat hidrograf satuan pada waktu n P,,= hujan netto pada waktu m 49 Tabel.3.16 Penyelesaian hidrograf banjir untuk tinggi curah hujan efektif P,, Untuk mempermudah penyelesaian,persamaan diatas _biasa diselesaikan dalam bentuk tabel seperti tabel 3.16 dan gambar 3.20. Cara diatas baru akan menghasilkan hidrograf limpasan permukaan, untuk mendapatkan hidrograf banjir masih perlu ditambah dengan hidrograf aliran dasar (base flow). Penyelesaian lain dapat menggunakana cara matriks seperti bérikut: PIU) =(Q) , P,P. .. P, dan ordinat hidrograf U,, Uz, Us... a » lp itr fe up | ur [ur | ur, U,P; | ‘U;P, | UP, | U,Py U,P; | U,P, | U;P, U,P, UP; @atletlalala Sehingga Q= UP, Q.=U,P,+ 0,7, Q,=U,P, + U,P, + U, Py Q,=U,P,+U;P,+U;P, Q,=U, P+ UP, Q.= Us Ps 50 i (mm /satuan waktu Oo 1 2 3 Hujan efekt Satuan waktu U2 Debit m3/dt a 6 7 Satuan waktu 10 1 z 3 4 5, © Gambar. 18 Hidrograf banjir yang diperoleh dari curah hujan efektif P,, P,, PR, dan hidrograf satuan dengan ordinat U,, U,, U, dan U, 51 2) Cara Collins Bila digunakan hidrograf banjir dari hasil rekaman AWLR dan dalam penyelesaiannya dengan cara pollinomial mengalami kesulitan, dapat digunakan cara Collins. Penyelesaian hidrograf banjir dengan cara persamaan pollinomial mempunyai beberapa kelemahan, diantaranya : = persamaan-persamaan yang diperoleh tidak selalu dapat diselesaikan, - terjadi perambatan kesalahan, karena kesalahan yang terjadi dalam hitungan U, akan terbawa ke hitungan U; dan seterusnya, - Up dapat ditetapkan sama dengan nol,akan tetapi U, tidak selalu sama dengan nol, sehingga diperlukan pertimbangkan tersendiri. Cara hitungan Collins dapat disebutkan berikut ini: (1) Tetapkan Hidrograf satuan sembarang dengan menetapkan ordinat -ordinatnya dengan besaran tertentu dalam kaitan ini tidak ada pedoman yang dapat dipergunakan, kecuali berdasarkan pengamatan atas sifat-sifat umum hidrograf. (2) Hidrograf satuan pertama ini dikalikan dengan semua bagian hujan efektif kecuali hujan yang terbesar. (3) Hidrograp limpasan langsung yang didapat di atas dikurangkan dari hidrograf limpasan langsung terukur, maka yang didapat adalah hidrograf limpasan langsung yang ditimbulkan oleh hujan maksimum tersebut. Dari sini maka hidrograf satuan kedua dapat diperoleh. (4) Hidrograf satuan kedua ini dibandingkan dengan yang pertama. Apabila masih terdapat perbedaan yang besar maka urutan butir ketiga dan keempat diulangi, dengan menggunakan hidrograf satuan terakhir. (8) Demikian selanjutnya sampai diperoleh perbedaan sekecil mungkin antara hidrograf satuan terakhir dengan hidyograf satuan sebelumnya 3.24 Penelusuran Banjir lewat waduk (Reservoir flood routing) Penelusuran banjir adalah suatu prosedur untuk memperkirakan waktu dan besaran banjir disuatu titik disungai, berdasarkan data yang diketahui disungai sebelah hulu. Dalam praktek terdapat dua macam routing, yaitu penelusuran saluran (channel routing) dan penelusuran waduk (reservoir routing). Tujuan routing adalah untuk : - Menentukan hidrograf sungai ditempat tertentu berdasar hidrograf dihulu yang diketahui. - Sarana peringatan dini pada pengaman banjir (early warning system). - Menentukan dimensi bangunan-bangunan hidrolik disepanjang sungai Berdasarkan teori terdapat dua cara routing, yaitu “hydraulic routing” dan “hydrologic routing”, dan pada bab ini hanya akan dibahas penelusuran waduk hidrologis (lydrolégic reservoir routing). Perlu diperhatikan untuk bendungan yang spillwaynya dilengkapi pintu, pelaksanaan routing harus memperhatikan rencana operasi pintu. Data yang diperlukan pada penelusuran banjir lewat waduk adalah : - Hubungan volume tampungan dengan elevasi waduk. - Hubungan debit keluar (outflow) dengan elevasi muka air di waduk serta hubungan debit keluar dengan tampungan. - Hidrograf inflow, I= - Nilai awal dari tampungan §, inflow I, dan debit keluar Q pada t= 0 Nilai awal tampungan, diambil pada kondisi muka air normal atau muka air setinggi mercu spillway. Untuk waduk pengendali banjir, nilai tampungan disesuaikan dengan pedoman operasinya. Untuk keamanan bendungan, disarankan diasumsikan pintu intake dalam keadaan tertutup. Ada dua cara penelusuran banjir di waduk yang lazim digunakan yaitu, “Modified Pul’s Method”. Persamaan yang digunakan adalah sebagai berikut : Gr) Q+@ S; =: 2 2 (3.28) 53 dimana: * Il, = inflow pada waktu t,t, Q,,0, = outflow pada waktu t,, ty S,S; = volume tampungan pada waktu t,, Persamaan dengan periode penelusuran At setelah disederhanakan akan menjadi: 2 .. 8.29) Bila debit masuk, hubungan volume tampungan dengan elevasi muka air, hubungan outflow dengan elevasi muka air, volume tampungan awal, debit keluar awal semuanya diketahui, maka persamaan tersebut di atas dapat digunakan setahap demi setahap untuk menghitung perubahan tampungan waduk, dan outflow yang disebabkan oleh setiap banjir. Setelah bagian Kiri dari persamaan diketahui semuanya, maka bagian kanan persamaan yaitu (s, Q2 At } Dapat dihitung. Dengan menggambar 2 kurva hubunganantora | s, + a dengan elevasi serta kutva hubungah antara outflow O dengan elevasi seperti contoh pada gambar. 19, maka dapat diketahui hubungan antara O dengan (S, + 0/2). Pada awal penelusuran, volume tampungan awal (8) debit keluar (Q) daa debit masuk (I) diketahui. Setelah langkah waktu At telah ditetapkan, maka seluruh komponen persamaan bagian kiri dari persamaan 3.29 telah diketahui semuanya, sehingga bagian Q dt _kanan persamaan yang merupakan fungsi | $, + dapat dihitung. Untuk langkah perhitungan yang praktis, dapat digunakan metoda semi grafis sebagai berikut : 1) Dari data hubungan antara volume tampungan S dengan clevasi dan debit At keluar Q dengan elevasi, dibuat grafik/kurva hubungan|-S + Q dengan elevasi seperti gambar. 3.21 At adalah merupakan langkah waktu 54 yang diambil sebesar 20% sampai 40% dari waktu naik hidrograf debit masuk (inflow). 2 Digambar pula kurfa hubungan antara debit keluar Q dengan elevasi (gambar 19) Pada awal penelusuran, volume tampungan, elevasi dan debit keluar telah diketahui. Untuk langkah waktu awal (5:4) at dan i as) 3 diketahui sehingga dengan menggunakan persamaan penelusuran diatas Q, At) dapat dihitung. S,+ = 7 Q at Elevasi muka air pada | s, + dapat diperoleh dari kurfa pertama, sedang debitkeluar Q, pada langkah Waktu akhir dapat diperoleh dari kurfa kedua. 5) Dari (s, Sie 2 ) dapat diketahui Q, At yang selanjutnya dapat dirubah _ (s 7 oat) menjadi 7} awal, untuk langkah waktu berikutnya. 6) Prosedur ini dilakukan berulang-ulang tahap demi tahap untuk seluruh hidrograf debit masuk. Untuk mendapatkan harga yang paling ekonomis dari kombinasi lebar pelimpah dan tinggi mercu bendungan, penelusuran.waduk perlu dicobe-coba untuk berbagai lebar pelimpah. Berikut di berikan contoh penelusuran waduk dengan elevasi awal (elevasi pelimpah) = +100.50 m dan t= 6 jam. Tabel 3.17 dan 3.18, merupakan hubungan antara data elevasi, tampungan, dengan debit keluar, dan hubungan antara waktu dengan debit masuk. Tabel 3.20 memperlihatkan langkah-langkah perhitungan penelusuran. Gambar 3:21 memperlihatkan hubungan antara [S + 2*# elevasi muka air diwaduk yang diperoleh dari tabel 3.19. dan Q dengan Gambar 3.22 memperlihatkan hubungan antara debit mask dan keluar yang diperoleh dari data pada kolom 1,8 dan 7 55 Tabel. 3.17 Data hubungan antara elevasi muka air, tampungan dan debit keluar Elevasi Tampungan Debit keluar (10 m') (at) 100.00 3.350 0 10050 3.472 10 101.00 3.880 26 101.50 4.383, 46 z 4.882 2 5.370 300 3527 16 5.856 130 Tabel 3.18 Data hubungan antara waktu dan debit masuk Waku 0 6 12 18 24 30 36 42 48 St 60 66 72 (jam) Debit = masuk 10 20 55 80 73 58 46 36 55 2 15 23 01 (wat Q oer) S+ Tabel 3.19 Hubungan antara elevasi, debit keluar dan ( Elevasi (m) 100.00 10050 101.00 101.50 102.00 10250 10275 103.00 Debit keluar 0 10 26 46 2 100 16 «130 (s- 2) 335 358 416 488 566 645 678 726 (10° m’) At = 6 jam = 6 x 60 x60 = 0.0216 x 10° dt Be Tabel 3.20 Perhitungan penelusuran waduk Gambar. 3.21 Kurfa hubungan antara debit keluar dengan elevasi dans + elevasi 5 (5+ Dat vs elevasi Ots6h +s elevasi awal =100+50 o 55 6.0 (5+ Dan in tora? Waktu | Inflow i T.at] s a8 s+ a8 Elevasi | Q (h) | 1 (m/f) | m3/at (10° m’) | 10°? 10° m m3/dt 1 2 3 4 5 6 7 8 0 10 10050 | 10 6 2 15.00 | 0324 | 3362 3636 | 10062 | “13 R 35 3750 | 0gi0 | 3.405 475 | 10104 | 27 18 80 6750 | 1458 | 3.632 5.090 | 10164 | 53 24 B 76.50 1.652 3.945 5.597 101.96 69 30 38 6550 | 1415 | 4.107 552 | 1091 | 66 36 46 52.00 1.1123 4.096 5.219 101.72 57 42 36 41.00 | 0.886 | 3.988 4874 | 10148 | 45 48 275 | 31.75 | 0686 | 3.902 4588 | 10130 | 37 54 20 2375 | 0513 | 3789 4302 | 10010 | 29 60 15 1750 | 0378 | 3676 4.054 | 10093 | 23 66 13 14.00 0.302 3.557 3.859 100.77 18 72 n 12.00 0.259 3.470 3.729 100.65 14 3.427 Debit keluar! Outflow O(a? 10-1020. 40 -60.- 80: 100 - 120. 1.140. 160 enwrone puna io a S8s8 84 é Debit (m*at) o's 8 ° 06 12 16.26730 3 ZEUS BE 6086 72-78 waktu (iam) Gambar, 3.22 Hubungan antara debit masuk (inflow), debit keluar (autflow) dengan waduk Televasi awal. = gos 100-50 ~ Elevasi muka air waduk (m) 8: 8 3g. 8 3 100.00) a 0 6 12 1B 26 3036 42 48 52606672 78 waktu (jam) ~ Gambar 3.23. Hubungan antara elevasi muka air waduk dengan waktu DebiexatuartOurtow © (maids) 20.4 co ys wy 0 uo _ 160 103.0 10259} it 1 E sors ? 7~[0.9 sj varann f 3 = : . 3 ror00} a a f j Elevasiawal 2+ 100,50 a1 Siam ae ter ss {at} (¢atam 108 m} Gambar. 3.24 5B 41 KETERSEDIAAN AIR Ketersediaan air yang dimaksud, adalah ketersediaan air di waduk, bukan ketersediaan air di sungai atau yang lebih umum disebut sebagai debit andalan (dependable flow, expected discharge, reliable discharge). Debit andalan adalah ketersediaan air di sungai yang melampaui atau sama dengan suatu nilai yang keberadaannya di kaitkan dengan prosentasi waktu atau kemungkinan terjadinya. Misal pada perencanaan irigasi. Debit andalan diperlukan pada studi awal untuk menetapkan perlu tidaknya bendungan dibangun pada suatu sungai. . Bila dari analisis neraca air, diketahui bahwa debit andalan lebih kecil dari pada kebutuhan, maka perluadanya tampungan tambahan misal dengan membangun bendungan, - Metode perhitungan debit andalan, telah dijelaskan secara rinci pada KP- Irigasi 1986. Data yang diperlukan Data yang diperlukan untuk analisis ketersediaan air adalah data debit bulanan atau harian dengan periode pencatatan cukup panjang yaitu lebih besar dari 10 tahun. Untuk ketelitian yang lebih tinggi, sangat di sarankan panjang data lebih besar dari 30 tahun. Data harus merupakan hasil rekaman pos duga air dilokasi bendungan atau dekat di sebelah hulu atau hilirnya. Bila data debit terlalu pendek atau bahkan tidak tersedia, debit bulanan. dapat disimulasi_berdasarkan data hujan dan data evapotranspirasi potensial pada daerah studi dengan bantuan model matematik hubungan hujan-limpasan. Model hubungan hujan - debit dengan interval bulanan yang sering digunakan adalah NRECA sedang untuk interval harian adalah SSARR, Sacramento, Stanford Tank model dan FJ Mock. Selanjutnya pada buku panduan ini, hanya akan dibahas model metematik hubungan hujan-limpasan NRECA. Jika didekat lokasi studi ada pos duga air, maka perameter model dapat diperkirakan dengan cara kalibrasi, selanjutnya parameter tersebut digunakan untuk merubah data hujan menjadi debit. 59 Jika dilokasi studi tidak ada pos duga air samasekali, bahkan di dalam DPS yang bersangkutan juga tidak ada, maka diperlukan analisis wilayah. Analisis ini bertujuan untuk membuat korelasi antara parameter model dengan ciri cekungan terukur atau bahkan kondisi geohidrologinya Model matematik hubungan hujan - limpasan NRECA a. Struktur model Model NRECA dikembngkan oleh Norman H. Crowford (USA) yang merupakan penyederhanaan dari Stanford Watershed Model IV yang memiliki 34 parameter. Model ini dapat digunakan untuk menghitung debit bulanan dari hujan bulanan berdasarkan keseimbangan air di DPS. Persamaan keseimbangan tersebut adalah sebagai berikut : Houjan - Evapotranspirasi aktual + Perubahan tampungan = Limpasan Konsep model disajikan pada gambar. 4.1 model NRECA membagi aliran bulanan menjadi dua, yaitu limpasan langsung (limpasan permukaan dan bawah permukaan) dan aliran dasar. Tampungan juga dibagi dua yaitu tampungan kelengasan (moisture storage) dan tampungan air tanah (ground water storage) pies ih crsuay Sim panan a tess isan cowry Gambar. 4.1 Sket Struktur Model NRECA Perubahan tampungan diperhitungkan sebagai selisih dari tampungan akhir dan awal. Simpanan kelengasan ditentukan oleh hujan, evapotranspirasi dan Iengas lebih yang selanjutnya menjadi aliran langsung dan imbuhan ke air tanah. ‘ Debit total merupakan jumlah dari aliran langsung ditambahaliran air tanah. . Parameter karakteristik DPS Pada model NRECA ini ada tiga parameter yang menggambarkan karakteristik DPS yang besar pengaruhnya terhadap keluaran sistem, yaitu: NOMINAL = indek kapasitas kelengasan tanah (mm), dapat didekati dengan persamaan : 100 + C. R, c=02 wujan tahunan (mm) Nilai NOMINAL dapat berkurang sampai dengan 25% pada DPS yang fegetasinya terbatas dan tanah penutupnya tipis. PSUB = prosentasi dari limpasan yang bergerak keluar dari DPS melalui Jintpasan permukaan. PSUB merupakan para meter karakteristik lapisan tanah pada kedalaman 0~2m. Nilai PSUB berkisar 03 ~ 0.9 tergantung pada sifat lulus air tanah PSUB=03 bila bersifat kedap air PSUB = 0.9 bila bersifat lulus air. GWF = prosentasi dari tampungan air tanah yang mengalir ke sungai sebagai aliran dasar. GWF merupakan parameter karakteristik lapisan tanali pada kedalaman 2~ 10m GWE = 0.2 bila bersifat lulus air GWE = 08 bila bersifat kedap air. Disamping tiga parameter tersebut, ada dua parameter lagi yang pengaruhnya kecil terhadap keluaran sistem (low effect parameter); yaitu : 61 SM stor = simpanan kelengasan tanah (soil moisture storage) GW stor = simpanan air tanah (Ground water storage) Simpanan kelengasan tanah (soil mositure storage/SM stor) Simpanan kelengasan tanah adalah cadangan air yang besarnya ditentukan oleh selisih dari tampungan akhir dan tampungan awal. Besarnya tampungan ini ditentukan oleh hujan, evapotranspirasi dan kelebihan kelengasan yang menjadi limpasan langsung dan imbuhan air tanah. Simpanan kelengasan tanah bulanan selanjutnya ditentukan dengan persamaan : M, = SM, + 4 Stor, dimana , Sm, = simpanan kelengasan tanah bulana ke i Sm = simpanan kelengasan tanah bulan ke ,., i = 123, : SM, = simpanan kelengasan awal, yang ditentukan dengan coba-coba AStor,, = perubahan simpanan kelengasan bulan ke, Simpanan air tanah (Ground Water Storage/GWStor) Kelebihan kelengasan tanah yang masuk ke dalam tanah dan mengalami perkolasi akan masuk ke dalam tampungan air tanah, yang biasa disebut akuifer. Akibat proses hidrologi sebelumnya, akuifer ini biasanya tidak kosong Simpana air tanah dalam akuifer akibat proses hidrologi sebelumnya disebut sebagai tampungan awal air tanah (begin strorage groundwater). Sementara itu tampungan yang telah mendapat tambahan air perkolasi desebut sebagai tampungan akhir air tanah (end storage groundwater). Pada bulan selanjutnya tampungan akhir ini akan menjadi tampungan awal, proses ini berlanjut terus-menerus sebagai fungsi waktu. Selanjutnya tampungan akhir inilah yang akan menjadi aliran tanah bila kondisi tampungan memungkinkan. Dalam model ini tampungan awal ditentukan dengan cara coba-coba. Sementara itu tampungan awal bulan selanjutnya ditentukan dengan persamaan BSG,,, = ESG, - GWFlow, (42) dimana, BSG = tampungan awal bulan ke-it1 ESG, = tampungan akhir bulan ke-i GWFlow, = _aliranair tanah bulan ke-i Dalam model ini tampungan akhir dihitung dengan persamaan sebagai berikut: ESG, = BSG, + RECH, (43) dimana, RECH, = kelebihankelengasan tanah yang masuk ke dalam tanah pada bulan ke-i c. Kalibrasi parameter Kalibrasi parameter model NRECA dilakukan dengan tujuan mencari parameter yang paling sesuai dengan karakteristik cekungan DPS yang bersangkutan sehingga hidrograf perhitungan akan mendekati hidrograf pengamatan. Karena masukan utama model adalah hujan maka tahap kalibrasi tergantung dari ketersediaan data hujan dan debit. ‘Ada dua parameter NRECA yang perlu dikalibrasi, yaitu PSUB dan GWF . Disamping itu ada parameter lain diluar struktur model seperti crop factor (faktor pengali besaran evapotranspirasi) dan faktor bobot di setiap pos hyjan. Tolok ukur kedekatan antara hidrograf pengamatan dan perhitungan 63. ditentukan berdasarkan fungsi objektif 1/n 3 (Qobs-Qcom), dimana n = jumlah data; Qobs = debit pengamatan; Qcom = debit perhitungan. Secara visual kedekatan antara pengamatan dan perhitungan dapat dilihat melalui grafik. Setelah masing-masing besaran hasil pengamatan dan besaran hasil perhitungan diplot dalam bentuk grafik. Keandalan hasil kalibrasi parameter tergantung dari: - keandalan data debit dan hujan; - _ tingkatcampur tangan manusia dalam mengelola sumber daya air seperti adanya bendungan dan intake bebas di hulu pos duga air. - _ panjang tahun kalibrasi seyogyanya lebih dari5 tahun |. Langkah perhitungan Langkah perhitungan mencakup 18 tahap yang dinyatakan dengan contoh seperti pada tabel. 4.1. Pertama kali masukkan nilai tampungan kelengasan awal pada kolom 4 dan nilai tampungan air tanah awal pada kolom 14. Selanjutnya perhitungan dapat dilakukan kolom per kolom dari kolom (1) hingga (18) seperti di bawah ini (semua satuan dalam mm) 1) Nama bulan Januari sampai Desember 2) _ Nilai hujan rata-rata bulanan (R,) yang dihitung dengan rumus sebagai berikut : i Untuk bulan Januarai Ra 71/2 Rah (Ru) = hujan rata-rata bulan Januari di pos ke-i (mm/bin) n = jumlah pos hujan 3) _ Nilai penguapan peluh potensial/ potensial evapotranspiration (PET) 4) _ Nilai tampungan kelengasan awal (W,)- Nilai ini harus dicoba-coba, dan ‘percobaan pertama'dapat diambil 500 (mm/bin) di bulan Januari 5) _ Ratio tampungan tanah (soil storage ratio - W) dihitung dengan rumus: NOMINAL 64 8) 8) 10) 11 12) 13) 14) 15) 16) NOMINAL = 100+02R, R, = hujan tahunan (mm) Rasio R,/PET = kolom (2) dibagi kolom (3) Rasio AET/PET AET = penguapan peluh aktual yang dapat diperoleh dari gambar 21, nilai tergantung rasio R,/PET (kolom 6) dan W , (kolom 5). owe (45) aer =| a) x PET x koefisien reduksi PRT = kolom (7) x kolom (3) x koefisien reduksi Neraca air = R, - AET = kolom (2) - kolom (8) Rasio kelebihan kelengasan (excess moisture) yang dapat diperoleh sebagai berikut : . (1) bila neraca air (kolom 9) positip, maka rasio tersebut dapat diperoleh dari gambar no. 22 dengan memasukkan nilai tampungan kelengasan fanah (W)) di kolom 5 2) bila neraca air negatif, rasio = 0 Kelebihan kelengasan = rasio kelebihan kelengasan x neraca air =. kolom (10) x kolom (9) Perubahan tampungan = neraca air - kelebihan kelengasan = kolom (9) - kolom (11) Tampunganairtanah = PSUB x kelebihan kelengasan = PSUB x kolom (11) ‘Tampungan air tanah awal yang harus di coba-coba, percobaan pertama dapat diambil = 2 Tampungan air tanah akhit = tampungan air tanah + tampungan air tanah awal = kolom (13) + kolom (14) Aliran air tanah = GWE x tampungan air tanah akhir = GWE xkolom (15) 65 17) Aliran langsung (direct flow) kelebihan kelengasan - tampungan air tanah kolom (11) - kolom (13) 18) Aliran total = aliran langsung + aliran air tanah = kolom (17) + kolom (16), dalam mm/bln Dalam m’/bulan = kolom (18) (mm) x 10 x luas tadah hujan (ha) Untuk perhitungan bulan berikutnya : oo) 2 ‘Tampungankelengasan = — tampungan kelengasan bulan sebelumnya + — perubahan tampungan = kolom (4) + kolom (12), semuanya dari bulan sebelumnya. Tampunganairtanah © = —tampungan air tanah bulan sebelumnya - aliran air tanah = kolom (15) - kolom (16), semuanya dari bulan sebelumnya. Sebagai patokan di akhir perhitungan, nilai tampungan kelengasan awal (anuari) harus mendekati tampungan kelengasan bulan Desember. Jika perbedaan antara keduanya cukup jauh (> 200 mm) perhitungan perlu diulang mulai bulan Januari lagi dengan mengambil nilai tampungan kelengasan awal (Januari) = tampungan kelengasan bulan Desember. Perhitungan biasanya dapat diselesaikan dalam dua kali jalan. 10 aersPer o2| ool L oF, 0s 06 08 o waa is ujonbuonan (Ry 1/ PET Gambar. 4.2 Rasio AET/PET 66 = — Gambar. 43 Rasio tampungan kelengasan tanah 67 ane ae] ve wo pot [eon | wr wax [ous | ove st6 zsu | oF city foot |iss | 66 gor fou | esa | og/ti os az | or ew Joo [ace | os ew | 63 | 9662 | 08/01 v o 00" oe w w wv see ode wet 08/6 © o | oo woe fis fa fa ewe | cist | cee | o8/e 6 o | o cor fis for | ae ease | ots | set | ose oz 0 | voor jer feo fit fever fot | ot | ov zz o | o gat foc [ar fert | eves |vsst fos | oa/s voz 0 | o sw for [is |ost | eros | es | ves | o/r 68s ess or vee | OO wel wt cre 6. ose on/e veel eset we vee | OL ws at 6109 vee tryet 08/z est zr | oc cw floor [ever [at |oos [ew | ess | ow or (uw) (ww) | (uw) qoupuoy | (ww) | (um) Ghyow) ona won | oney 94 soc] anon | oveg | sav | aga | uaa/ | omy | aus] ine | demu] wa srooq | mem hav | da | 20s | anon 3) i) tou te wy w L ow wW lO} w w w VOSUN apoiaws weap ueugng yqap UeBuMAYLed YORIOD °F eq" I Si 51 5.2 KAPASITAS WADUK Keandalan waduk Pembangunan waduk akan menjadi mahal harganya jika dalam melayani konsumen tidak di perbolehkan mengalami kegagalan atau kekurangan air sama sekali. Kriteria kegagalan untuk pelayanan irigasi, biasanya ditentukan berdasarkan jumlah kejadian kegagalan dalam memenuhi air irigasi dengan kemungkinan kegagalan dua kali dalam 10 tahun atau 80% keandalan, sementara untuk air minum umumnya dipakai 90% keandalan. Penentuan kapasitas waduk Besar volume tampungan bersih waduk yang dibutuhkan dengan keandalan tertentu, ditentukan secara simulasi berdasarkan neraca air di waduk sebagai fungsi dari inflow (hasil perhitungan ketersediaan air) dan out flow (kebutuhan air) serta tampungan di waduk dalam interval waktu bulanan. Sebelum dilakukan perhitungan kapasitan waduk, iebih dulu perlu digambarkan hubungan antara elevasi, luas permukaan dan volume. Simulasi neraca air dilakukan berdasarkan inflow yang sudah dihitung dan berbagai besaran outflow untuk berbagai tingkat keandalan. Besaran outflow ini terdiri dari penjumlahan air untuk memenuhi berbagai kebutuhan antara lain irigasi, air baku bagi masyarakat dan industri, debit riparian atau air konservasi untuk menjaga tetap adanya aliran di sungai serta kehilangan air akibat evaporasi di waduk. Debit reparian lazimnya ditetapkan paling tidak sebesar debit aliran dasar. Perhitungan kebutuhan air irigasi mengacu pada KP.01 - 1986 mengenai Perencanaan Jaringan lrigasi, dan untuk kebutuhan air baku mengacu standar yang di keluarkan Direktorat Jenderal Cipta Karya. Untuk memilih volume tampungan bersih optimum, perlu dibuat beberapa alternatif lengkung hubungan antara volume tampungan bersih, luas pelayanan irigasi/jumlah orang yang mendapat pelayanan air minum, tingkat keandalan. . 69 5.3 Pada gambar 5.1 diberikan cvontoh lengkung kapasitas waduk untuk keperluan irigasi dengan keandalan 80% dan debit riparian (debit yang dipertahankan tetap mengalir di sungai) sebesar 50 I/dt da 100 1/dt. Lengkung yang mendatar menunjukkan laju yang lebih tinggi pada kenaikan volume tampungan waduk dibanding luas layanan, hal ini ditinjau dari segi ekonomi kurang menguntungkan. 2000 | 7 a “1800 & 1600 Bren ‘anh 3 -L_| 5: 1000/-— 800 a 6 8 10 12 4 16 18 20 Volume tampungan yang diperlukan (juta m3) —= diran riparian 50 Var — = aliran riparian 100Vat Gambar. 5.1 Contoh Lengkung Kapasitas Tampungan waduk dengan 80% tingkat keandalan. Simulasi neraca air waduk. Simulasi neraca air waduk merupakan fungsi dari inflow, outflow dan tampungan waduk yang dapat disajikan dalam persamaan sederhana 1-O= ds/dt 61) Atau 1 Ozas (62) dimana : I = inflow ° = outflow ds/dt= AS = perubahan tampungan 70 atau secara rinci dapat ditampilkan sebagai berikut : VY. = Va thtR-E-L,-0,-0, . 6.3) dengan: V, = Tampungan waduk pada periode t Vi. = Tampungan waduk pada periode t-1 I, = Inflow waduk pada periode t R, = Hujan yang jatuh di atas permukaan waduk, pada periode t E, = Kehilangan air akibat evaporasi pada periode t L, = Kehilangan air akibat rembesan dan bocoran ©, = Total kebutuhan air Os, = Outflow dari pelimpah Inflow adalah aliran sungai yang masuk ke waduk dan curah hujan yang jatuh di atas permukaan waduk. Outflow terdiri dari, lepasan waduk untuk irigasi, air baku dan kebutuhan konservasi sungai. Besarnya lepasan waduk untuk irigasi dan air baku ditentukan berdasarkan perhitungan di analisis irigasi dan air baku, sedangkan kebutuhan untuk konservasi sungai besarnya ditentukan minimal sama dengan aliran dasar. Selain itu limpasan air dari pelimpah dan penguapan dari permukaan waduk juga diperhitungkan sebagai outflow. Perubahan tampungan waduk adalah besarnya perubahan volume waduk yang mengacu pada lengkung kapasitas waduk yang bersangkutan. Simulasi dimulai dengan asumsi pada saat waduk penuh dan berakhir juga pada saat waduk dalam kondisi penuh Kembali, sepanjang tahun dan dilakukan berulang-ulang sepanjang tahun dengan data debit yang dimiliki. 71 61 SEDIMENTASI WADUK Proses sedimentasi, selalu terjadi pada bendungan-bendungan yang dibangun di sungai. Perencana harus memperkirakan laju sedimentasi dan umur waduk berkaitan dengan lamanya sedimen terendap mengisi tampungan mati sampai penuh. Sedimen adalah hasil akhir dari proses erosi lempeng (Sheet erosion) pada permukaan tanah dan erosi alur (gully erosion) yang diangkut oleh air. Erosi lempeng ditambah erosi alur disebut sebagai erosi gros (gross erosion). Tidak semua hasil erosi akan terangkut sampai di sungai, sebagian diantaranya akan mengendap di cekungan-cekungan, atau karena adanya rintangan- rintangan alam atau rintangan yang dibuat manusia, sebagian lagi akan mengefidap di saluran drainasi, sungai, dan bantaran. Bagian dari hasil erosi yang terangkut sampai ditempat pengukuran dil ir, disebut hasil sedimen (sediment yield). Laju sedimen rata-rata (sediment yield rate) adalah laju sedimen per satuan luas DPS. Secara garis besar ada dua metoda perkiraan laju sedimen yaitu langsung dan tidak langsung. Metoda langsung adalah metoda yang paling dapat diandalkan, metoda ini dapat berupa pengukuran sedimen di waduk atau pengambilan contoh (sampling) muatan sedimen di sungai. Metoda lain berupa perkiraan sedimen berdasarkan persamaan empiris, atau berdasarkan hubungan empiris yang diturunkan dari hasil pengukuran. Panduan ini, hanya akan membahas beberapa metoda yang umum digunakan. Perkiraan laju sedimen DPS kecil bedasarkan persamaan empiris Ada dua metoda yang umum digunakan untuk memperkirakan laju sedimen pada DPS kecil berdasarkan persamaan empiris yaitu, metoda yang dikembangkan oleh “Mutchler dan Young” serta “Wischmeier dan Smith” (1965) Metoda ini akan menghasilkan perkiraan kasar besarnya erosi gross, Untuk menetapkan besarnya sedimen yang sampai ditempat studi, erosi gross harus dikalikan dengan ratio pelepasan sedimen (sediment delivery ratio). n Normalnya metoda ini hanya cocok digunakan untuk DPS yang luasnya kurang dari 10 Km’, sedang untuk DPS yang lebih besar seyogyanya dilakukan dengan pengukuran sedimen (sampling). Pada paragraf ini, hanya akan dibahas metoda Wischmeier dan Smith. Pada metoda ini faktor-faktor yang perlu dihitung adalah: - Erosivitas hujan - Erodibilitas tanah ~ Panjang dan kemiringan lereng - Konservasi tanah dan pengelolaan tanaman ~ Laju erosi potensial ~ Laju erosi aktual ~ Laju sedimentasi potensial Metoda Wischmeier dan Smith (dikenal sebagai formula USLE = Universal Soil Losses Equation) telah diteliti lebih lanjut jenis tanah dan kondisi di Indonesia oleh Balai Penelitian Tanah Bogor. Penggunaan metoda tersebut, seyogyanya mengunakan parameter-parameter dari hasil penelitian dari Balai Penelitian Tanah Bogor. a. Erosivitas hujan Erosi lempeng (Sheet erosion) sangat tergantung dari sifat hujan yang jatuh dan ketahanan tanah terhadap pukulan butir-butir hujan serta sifat gerakan aliran air di atas permukaan tanah sebagai limpasan permukaan. Untuk menghitung besamya indeks erosivitas hujan digunakan rumus empiris sebagai berikut : Ely = ExIyx10? .» (6.1) E = 14374" . (62) Be a = 77,178 + 1,010 R (63) 3 s Dengan : El, = indeks erosivitas hujan (ton cm/Ha. Jam) E = energi kinetik curah hujan (ton m/Ha. Cm) = curah hujan bulanan 1) =. intensitas hujan maksimum selama 30 menit . Erodibilitas tanah Erodibilitas merupakan ketidak sanggupan tanah untuk menahan pukulan butir-butir hujan. Tanah yang mudah tererosi pada saat dipukul oleh butir- butir hujan mempunyai erodibilitas yang tinggi. Erodibilitas dapat dipelajari hanya kalau terjadi erosi. Erodibilitas dari berbagai macam tanah hanya dapat diukur dan dibandingkan pada saat terjadi hujan. ‘Tanah yang mempunyai erodibilitas tinggi akan tererosi lebih cepat, bila dibandingkan dengan tanah yang mempunyai erodibilitas rendah Erodibilitas tanah merupakan ukuran kepekaan tanah terhadap erosi, dan hal ini sangat ditentukan oleh sifat tanah itu sendiri, khususnya sifat fisik dan kandungan mineral liatnya. Faktor kepekaan tanah juga dipengaruhi oleh struktur dan tekstumya, serta semakin kuat bentuk agregasi tanah dan semakin halus butir tanah, maka tanahnya tidak mudah lepas satu sama lain sehingga menjadi lebih tahan terhadap pukulan air hujan. Erodibilitas tanah dapat dinilai berdasarkan sifat-sifat fisik tanah sebagai berikut : 1) Tekstur tanah yang meliputi: * fraksi debu 2-50" m) * fraksi pasir sangat halus (50-100 ym) * fraksi pasir (100-200 m) 2) Kadar bahan organik yang dinyatakan dalam % 3) Permeabilitas yang dinyatakan sebagai berikut : * sangatlambat —(<0,12.cm/jam) 74 * lambat (0,125 - 0,5 cm/jam) *agaklambat (0,5 2,0 cm/jam) * sedang (20-625 cm/jam) *agakcepat (6,25 12,25 cm/jam) * cepat (125 cm/jam) 4) Struktur dinyatakan sebagai berikut : * granular sangathalus : tanah liat berdebu * granular halus : tanah liat berpasir * granular sedang : lempung berdebu * granular kasar : lempung berpasir . Panjang dan kemiringan lereng (LS) Dari penelitian yang telah ada, dapat diketahui bahwa proses erosi dapat terjadi pada lahan dengan kemiringan lebih besar dari 2%. Derajat kemiringan lereng sangat penting, karena kecepatan air dan kemampuan untuk memecah/melepas dan mengangkut pertikel-partikel tanah tersebut akan bertambah secara eksponensial dari sudut kemiringan. Secara matematis dapat ditulis : kehilangan tanah = c.S* dengan: . (64) c=konstanta k= konstanta S= kemiringan lereng (%) Pada kondisi tanah yang sudah dibajak tetapi tidak ditanami, eksponen K berkisar antara 1,1 sampai dengan 1,2 ‘Menurut Weischmeier dengan kawan-kawan di Universitas Purdue (Hudson 1976) menyatakan bahwa nilai faktor LS dapat dihitung dengan menggunakan rumus :