Anda di halaman 1dari 29

PROPOSAL PENELITIAN BAKTERI COLIFORM

Kamis, 26 Juli 2012 | By LUQMAN


I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air merupakan kebutuhan paling vital bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup
lainnya. Tubuh manusia terdiri dari sekitar 65 % air. Makhluk hidup yang kekurangan air
cukup banyak dapat berakibat fatal atau bahkan mengakibatkan kematian. Manusia
memerlukan 2,5 3 liter air untuk minum dan makan (Sutjahyo,2000).
Kebutuhan air minum setiap orang bervariasi dari 2,1 liter hingga 2,8 liter per hari,
tergantung pada berat badan dan aktivitasnya. Air minum harus memenuhi persyaratan fisik,
kimia, maupun bakteriologis (Suriawiria, 1996).
Data Departemen Kesehatan (1994), rata-rata keperluan air Indonesia adalah 60 liter per
kapita, meliputi : 30 liter untuk keperluan mandi, 15 liter untuk keperluan minum dan sisanya
untuk keperluan lainnya. Negara-negara yang sudah maju, ternyata jumlah tersebut sangat
tinggi, seperti : kota Paris (Perancis) 480 liter, kota Tokyo (Jepang) 530 liter dan kota
Uppsala (Swedia) 750 liter per kapita per hari.
Data Departemen Kesehatan (2004), syarat-syarat air minum adalah tidak berasa, tidak
berbau, tidak berwarna, dan tidak mengandung logam berat. Air dari sumber alam dapat
diminum oleh manusia tetapi masih terdapat resiko bahwa air ini telah tercemar oleh bakteri
(misalnya Escherichia coli) atau zat-zat berbahaya. Bakteri dapat dibunuh dengan memasak
air hingga 1000 C, banyak zat berbahaya, terutama logam, tidak dapat dihilangkan dengan
cara ini (Suprihatin dalam kompas, 2003).
Air tawar bersih yang layak minum semakin langka di perkotaan. Sungai-sungai yang
menjadi sumbernya sudah tercemar berbagai macam limbah, mulai dari buangan sampah
organik, rumah tangga hingga limbah beracun dari industri. Air tanah sudah tidak aman
dijadikan bahan air minum karena telah terkontaminasi rembesan dari tangki septik maupun
air permukaan. Hal ini membuat semakin banyak industri pengolahan air minum dalam
kemasan (AMDK) yang menjawab tantangan dalam penyediaan air bersih terutama air
minum.
Menurut Athena,dkk (2003), air minum dalam kemasan adalah air yang mengalami
proses pemurnian baik secara ultraviolet, ozonisasi ataupun keduanya dengan tahap filtrasi.
Hal ini membuat air bersih ini dapat dipakai untuk berbagai keperluan.

Negara Indonesia pertama kali memproduksi air minum dalam kemasan dengan merk
AQUA pada tahun 1972. Air minum dalam kemasan berkembang pesat. Harga air minum
dalam kemasan terasa mahal dan hanya dapat dijangkau oleh golongan ekonomi menengah
ke atas. Harga yang ditawarkan air minum isi ulang dapat lebih murah lantaran tidak
memerlukan biaya pengiriman dan pengemasan (Zuhri, 2009).
Keterbatasan daya beli masyarakat terhadap air minum dalam kemasan menyebabkan
sebagian besar masyarakat lebih memilih membeli air minum isi ulang yang disediakan oleh
Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) dengan harga yang relatif lebih murah dan terjangkau
tanpa mempertimbangkan kualitas. Hasil pengujian laboratorium yang dilakukan Badan
Pengawas Obat dan Makanan (POM) atas kualitas depo air minum isi ulang di Jakarta
menunjukkan adanya cemaran mikroba dan logam berat pada sejumlah sample (Kompas,
2003).
Masyarakat atau pasar masih memiliki persepsi bahwa depot air minum isi ulang ini air
bakunya adalah berasal dari sumber mata air pegunungan yang memenuhi syarat-syarat
kesehatan. Air baku dapat diambil dari berbagai sumber. Tingkat higienitas depot air minum
isi ulang memang tidak dapat ditentukan. (Siswanto, 2004).
Bakteri coliform dicurigai berasal dari tinja. Kehadiran bakteri ini di dalam berbagai
tempat mulai dari air minum, bahan makanan ataupun bahan-bahan lain untuk keperluan
manusia, tidak diharapkan dan bahkan sangat dihindari. Hubungan antara tinja dan bakteri
coliform dapat menjadikan bakteri ini sebagai indikator alami kehadiran materi fekal. Suatu
subtrat atau benda misalnya air minum didapatkan bakteri ini, langsung ataupun tidak
langsung air minum tersebut dicemari materi fekal (Suriawiria, 1996).
Hasil pemaparan tersebut dan keterkaitan antara kebutuhan air minum isi ulang dan
tingkat keamanannya dari cemaran bakteri yaitu Escherichia coli pada depot air minum isi
ulang (DAMIU) melatarbelakangi dilakukan penelitian ini pada depot air minum isi ulang di
wilayah Kecamatan Pontianak Barat Kota Pontianak.
1.2

PERUMUSAN MASALAH
Bakteri coliform adalah bakteri yang dijadikan indikator alami pencemaran pada wilayah
perairan. Keberadaan bakteri ini ke wilayah perairan dari tinja yang dapat berasal dari
manusia, ataupun hewan. Bakteri ini membuat air yang dipakai menjadi tidak higienis lagi
terutama sebagai bahan baku air minum. Rumusan masalah yang akan dibahas pada
penelitian ini adalah apakah ada pencemaran bakteri Escherichia coli pada produksi air
minum di sejumlah depot air minum isi ulang di Kecamatan Pontianak Barat Kota Pontianak
dan dari manakah sumber bahan baku yang digunakan depot air minum isi ulang tersebut

serta bagaimanakah proses produksi air minum pada sejumlah depot air minum isi ulang
tersebut?
1.3 TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Hasil pemaparan dari latar belakang dan perumusan masalah, maka tujuan penelitian ini
adalah:
1. Mengetahui tingkat pencemaran coliform pada air minum dari beberapa depot air minum isi
ulang yang ada di Kota Pontianak.
2. Mendapatkan informasi sumber air bahan baku & pengolahan air pada depot air minum isi
ulang tersebut.
Manfaat dari hasil penelitian ini yaitu :
1. Database tingkat pencemaran bakteri coliform pada air minum yang dihasilkan dari depot air
minum isi ulang.
2. Mendapatkan info sumber bahan baku air dan proses pengolahan air minum isi ulang
tersebut.
1.4 HIPOTESIS PENELITIAN
Hipotesis yang dapat diberikan pada penelitian ini yaitu, air minum isi ulang beberapa
Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) di wilayah Kecamatan Pontianak Barat Kota
Pontianak positif tercemar bakteri Escherichia coli.

2.1

II. TINJAUAN PUSTAKA


Peranan Air Bagi Kehidupan
Manusia dan makhluk hidup lain yang tidak hidup di dalam air senantiasa mencari tempattempat tinggal dekat air supaya mudah mengambil air untuk keperluan hidupnya. Desa atau
kota zaman dulu berada di sekitar sumber air, di tepi sungai, atau di tepi danau. Manusia yang
lebih maju saat ini, tempat tinggalnya tidak perlu dekat dengan sumber air. Manusia modern
menggunakan saluran pipa dan didistribusikan ke berbagai wilayah. Teknologi ini membuat
kebutuhan masyarakat terhadap air bersih dapat terpenuhi (Prawiro, 1989).
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang memiliki fungsi sangat penting bagi
kehidupan. Air juga dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat, sehingga merupakan
modal dasar pembangunan dan penting bagi kelangsungan hidup. Air minum seharusnya
dibedakan dengan air bersih. Air bersih dipergunakan untuk berbagai kepentingan rumah
tangga seperti mandi, mencuci piring, dan mencuci pakaian, tetapi tidak dapat langsung
diminum, karena mungkin masih mengandung bakteri patogen (Zuhri, 2009).

2.2

Pengertian Air Minum


Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 907/MENKES/SK/VII tahun
2002, tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air, yang dimaksud air minum adalah air

yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat
kesehatan dan dapat langsung diminum (Purwana dan Rachmadi,2003).
Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor:
651/MPP/Kep/10/2004

yaitu

tentang

persyaratan

teknis

Depot

air

minum

dan

perdagangannya. Air minum adalah air baku yang telah diproses dan aman untuk diminum
(Sulistyawati dan Dwi,1997).
2.3

Penggolongan Air Minum

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 907/MENKES/SK/VII/2002


tentang syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas air minum adalah (Purwana dan
Rachmadi,2003):
a. Air yang didistribusikan melalui pipa untuk keperluan rumah tangga.
b. Air yang didistribusikan melalui tangki air
c. Air kemasan
d. Air yang digunakan untuk produksi bahan makanan dan minuman yang disajikan kepada
masyarakat.
2.4

Karakteristik Air Minum

Air minum dipengaruhi oleh kondisi negara masing-masing, perkembangan ilmu


pengetahuan dan teknologi. Dunia dilanda krisis air karena semakin menurunnya kualitas air
akibat pencemaran, maka dikeluarkan standar persyaratan kualitas air minum. Indonesia
memiliki standar persyaratan kualitas air ditetapkan oleh Departemen Kesehatan mulai tahun
1975, kemudian diperbaiki tahun 1990 dan diperbaiki lagi tahun 2002. Kualitas air minum
memiliki persyratan sesuai Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor:
907/MENKES/SK/VII/2002 tentang syarat - syarat dan Pengawasan Kualitas air minum,
adalah meliputi persyaratan: Bakteriologi, Kimiawi, Radioaktif dan Fisik (Purwana dan
Rachmadi,2003).
2.5

Standarisasi Air Bersih dan Air Minum

Air bersih yang baik harus sesuai peraturan internasional (WHO dan APHA) ataupun
peraturan nasional atau setempat. Kualitas air bersih di Indonesia harus memenuhi
persyaratan

yang

tertuang

dalam

peraturan

Menteri

Kesehatan

RI

No.173/Men.Kes/Per/VIII/77 dimana setiap komponen yang diperkenankan berada di


dalamnya harus sesuai (Widianti dan Ristiati, 2004).
Kualitas air tersebut menyangkut:
a) Kualitas fisik yang meliputi kekeruhan, temperatur, warna, bau dan rasa. Kekeruhan air
dapat ditimbulkan oleh adanya bahan-bahan organik dan anorganik yang terkandung di dalam

air seperti lumpur dan bahan-bahan yang berasal dari buangan. Kekeruhan di dalam air
dihubungkan dengan kemungkinan pencemaran oleh air buangan.
b) Kualitas kimia yang berhubungan dengan ion-ion senyawa ataupun logam yang
membahayakan, di samping residu dari senyawa lainnya yang bersifat racun, seperti antara
lain residu pestisida. Senyawa-senyawa ini kemungkinan besar bau, rasa dan warna air akan
berubah, seperti yang umum disebabkan oleh adanya perubahan pH air. Kelompok logam
berat seperti Hg, Ag, Pb, Cu, Zn, tidak diharapkan kehadirannya di dalam air.
c) Kualitas biologis, berhubungan dengan kehadiran mikroba patogen (penyebab penyakit,
terutama penyakit perut), pencemar (terutama bakteri coli) dan penghasil toksin.
Air minum yang ideal seharusnya jernih, tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau.
Air minum juga tidak mengandung kuman patogen dan segala mahkluk yang membahayakan
kesehatan manusia, tidak mengandung zat kimia yang dapat mengganggu fungsi tubuh, dapat
diterima secara estetis dan tidak merugikan secara ekonomis (Dwidjoseputro, 1990).
Standar air minum yang mencakup peraturan yang memberi petunjuk tentang kontaminasi
berbagai parameter yang sebaiknya diperbolehkan ada dalam air minum. Standar ini berbeda
antara satu negara dengan negara yang lain tergantung pada social kultural termasuk
kemajuan teknologinya. Standar suatu negara seharusnya layak bagai keadaan sosial ekonomi
dan budaya setempat. untuk negara berkembang seperti indonesia, perlu didapat cara-cara
pengolahan air yang relatif murah sehingga kualitas air yang dikonsumsi masyarakat dapat
dikatakan baik dan memenuhi syarat. Parameter yang disyaratkan meliputi; Parameter fisik,
kimiawi, biologis dan radiologist (Suriawiria, 1996).
2.6

Pengolahan Air Minum

Pengolahan adalah usaha-usaha teknis yang dilakukan untuk mengubah sifat-sifat suatu
zat. Hal ini sangat penting artinya bagi air minum. Perkembangan peradaban serta semakin
banyaknya aktivitas manusia, maka akan menambah pencemaran terhadap air. Laporan
keadaan lingkungan di dunia pada tahun 1992 menyatakan bahwa air sudah saatnya menjadi
benda ekonomis, karena itu pengelolaan sumber daya air sangat penting. Pengolahan air
minum dilakukan tergantung dari kualitas air baku yang digunakan baik pengolahan
sederhana sampai dengan pengolahan yang kompleks. Pengolahan air baku ini dimaksudkan
untuk memperbaiki kualitas air sehingga aman dan tidak membahayakan bagi kesehatan
masyarakat yang menggunakannya (Suriawiria, 1996).
Prinsip pengolahan air minum terdiri dari (Suriawiria, 1996):
1). Pengolahan Fisik

Pengolahan ini bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan kotoran-kotoran kasar,


penyisiran lumpur serta mengurangi zat-zat organik.
2). Pengolahan Kimia
Pengolahan kimia yaitu suatu tingkat pengolahan dengan menggunakan zat kimia untuk
membantu proses selanjutnya, misalnya dengan pembubuhan kapur.
3). Pengolahan Bakteriologis
Suatu pengolahan untuk membunuh atau memusnahkan bakteri-bakteri yang terkandung
dalam air minum yakni dengan cara pembubuhan bahan desinfektan.
Proses sanitasi air dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu (Widianti dan Ristiati,
2004):
1. Sanitasi air yang paling sederhana dengan memanaskan air hingga titik didih.
2. Dengan klorinasi atau pencampuran kaporit kedalam air.
3. Penggunaan senyawa perak.
Alternatif ini jarang digunakan. Perak nitrat biasanya digunakan dengan mencampurkannya
ke dalam air.
4). Ultraviolet.
Air dialirkan melalui tabung dengan lampu ultraviolet berintensitas tinggi, sehingga
bakteri terbunuh oleh radiasi sinarultraviolet. Intensitas lampu ultraviolet yang dipakai harus
cukup. Sanitasi air yang efektif diperlukan intensitas sebesar 30.000 MW sec/cm2 (micro
watt detik per sentimeter persegi). Radiasi sinar ultraviolet dapat membunuh semua jenis
mikroba bila intensitas dan waktunya cukup. Residu atau hasil samping tidak ada dari proses
penyinaran dengan UV. Lampu UV harus dibersihkan secara teratur dan harus diganti paling
lama satu tahun. Air yang akan disinari dengan UV harus telah melalui filter halus dan karbon
aktif untuk menghilangkan partikel tersuspensi, bahan organik, dan Fe atau Mn (jika
konsentrasinya cukup tinggi).
5. Ozonisasi.
Ozon merupakan oksidan kuat yang mampu membunuh bakteri patogen, termasuk
virus. Penggunaan ozon menguntungkan karena pipa, peralatan dan kemasan akan ikut di
sanitasi sehingga produk yang dihasilkan akan lebih terjamin selama tidak ada kebocoran di
kemasan. Ozon merupakan bahan sanitasi air yang efektif disamping sangat aman.
2.7

Penjernihan Air Minum

Penjernihan air minum dapat dilakukan dengan proses filtrasi. Filtrasi adalah proses
penyaringan untuk menghilangkan zat padat tersuspensi dari air melalui media berpori-pori.
Zat padat tersuspensi dihilangkan pada waktu air melalui suatu lapisan materi berbentuk

butiran yang disebut media filter. Media filter biasanya pasir atau kombinasi pasir,
anthracite, garnet, polystyrene dan beads. Filter dengan bahan anthracite, kecepatan
filtrasinya dapat diperbesar menjadi 1,5 2 kali saringan kasir. Pasir yang paling baik untuk
bahan filter adalah pasir yang mengandung kuarsa (SiO2) lebih besar atau sama 90,8 %
(Winarno,1993).
Penghilangan zat padat tersuspensi dengan penyaringan memainkan peranan penting, baik
yang terjadi dalam pemurnian alami dari air tanah maupun dalam pemurnian buatan dalam
pemurnian instalasi pengolahan air (Sutrisno dan Eny, 1997).
Penyaringan (filtrasi) dapat dibedakan menjadi dua yaitu: 1) filtrasi dengan pasir dan 2)
filtrasi membran. Filtrasi pasir untuk memisahkan partikel berukuran besar (>3 mikrometer),
mikrofiltrasi membran dapat memisahkan partikel berukuran lebih kecil (0,08 mikrometer),
ultrafiltrasi dapat memisahkan makromolekul, nanofiltrasi dapat memisahkan mikromolekul
dan ion-ion bervalensi dua (misalnya Mg,Ca). Ion-ion dapat dipisahkan dengan membran
reverses osmosis. Penggunaan mikrofiltrasi dapat memisahkan bakteri, dan penggunaan
ultrafiltrasi dapat memisahkan bakteri dan virus (Widianti dan Ristiati, 2004).
Bahan tersuspensi dapat dihilangkan dengan cara koagulasi/flokulasi, sedimentasi, filtrasi
pasir atau membran filtrasi (mikrofiltrasi). Bahan-bahan terlarut dapat dihilangkan dengan
aerasi (misalnya Fe dan Mn), oksidasi (misalnya dengan ozonisasi atau radiasi UV), adsorpsi
dengan karbon aktif atau mebran filtrasi (reversed osmosis) (Widianti dan Ristiati, 2004).
Proses pengolahan air minum pada prinsipnya harus mampu menghilangkan semua jenis
polutan, baik pencemaran fisik, kimia maupun mikrobiologis. Bisnis air minum isi ulang
merupakan fenomena yang tidak dapat dihilangkan. Pengaturan berupa standar produk dan
prosesnya sangat diperlukan dalam mengawasi pelaksanaanya. Pihak konsumen akan
terlindungi dan juga usaha air minum isi ulang itu sendiri.
Air baku

Aerasi

Filtrasi pasir

Filter karbon aktif


Filtrasi membran

membran

Ozonisasi/Radiasi UV

Filtrasi

Kemasan

Pengisian

Pelabelan

Ke

konsumen
Gambar 1. Skema proses pengolahan air minum
(Widianti dan Ristiati, 2004).
2.8

Bakteri Indikator Tingkat Higienitas Air Minum


Bakteri indikator sanitasi adalah bakteri yang keberadaannya dalam pangan menunjukkan
bahwa air atau makanan tersebut pernah tercemar oleh feses manusia. Bakteri-bakteri
indikator sanitasi umumnya adalah bakteri yang lazim terdapat dan hidup pada usus manusia.
Bakteri tersebut pada air atau makanan menunjukkan bahwa dalam satu atau lebih tahap
pengolahan air atau makanan pernah mengalami kontak dengan feses yang berasal dari usus
manusia dan oleh karenanya mungkin mengandung bakteri patogen lain yang berbahaya
(Widianti dan Ristiati, 2004).
Koliform merupakan suatu grup bakteri yang digunakan sebagai indikator adanya polusi
kotoran dan kondisi yang tidak baik terhadap air, makanan, susu dan produk-produk susu.
Koliform sebagai suatu kelompok dicirikan sebagai bakteri berbentuk batang, gram negatif,
tidak membentuk spora, aerobik dan anaerobic fakultatif yang memfermentasi laktosa dengan
menghasilkan asam dan gas dalam waktu 48 jam pada suhu 35oC. Bakteri koliform yang
berada di dalam makanan/minuman menunjukkan kemungkinan adanya mikroba yang
bersifat

enteropatogenik

dan

atau

toksigenik

yang

berbahaya

bagi

kesehatan

(Suriawiria,1996).
Bakteri Coliform berdasarkan asal dan sifatnya dibagi menjadi dua golongan (Suriawiria,
1996):
1). Coliform fekal, seperti Escherichia coli yang betul-betul berasal dari tinja
manusia.
2). Coliform non fekal, seperti aerobacter dan Klebsiella yang bukan berasal
dari tinja manusia tetapi biasanya berasal dari hewan atau tanaman yang
telah mati.
Sifat-sifat Coliform Bacteria yang penting adalah (Suriawiria, 1996):
a). Mampu tumbuh baik pada beberapa jenis substrat dan dapat mempergunakan berbagai
jenis karbohidrat dan komponen organik lain sebagai sumber energi dan beberapa komponen
nitrogen sederhana sebagai sumber nitrogen.
b). Mempunyai sifat dapat mensistesa vitamin.
c). Mempunyai interval suhu pertumbuhan antara 10-46,50C.

d). Mampu menghasilkan asam dan gas gula.


e). Dapat menghilangkan rasa pada bahan pangan.
f). Pseudomonas aerogenes dapat menyebabkan pelendiran.
Escherichia coli adalah kuman oportunis yang banyak ditemukan di dalam usus besar
manusia sebagai flora normal. Bakteri ini bersifat unik karena dapat menyebabkan infeksi
primer pada usus, misalnya diare pada anak, seperti juga kemampuannya menimbulkan
infeksi pada jaringan tubuh lain di luar usus. Escherichia coli terdiri dari 2 species yaitu:
Escherichia coli dan Escherichia hermanis (Zuhri,2009).
Escherichia coli sebagai salah satu contoh terkenal mempunyai beberapa spesies hidup di
dalam saluran pencernaan makanan manusia dan hewan berdarah panas. Escherichia coli
mula-mula diisolasi oleh Escherich pada tahun 1885 dari tinja bayi. (Suriawiria, 1996).
2.9

Batasan Kandungan Bakteri pada Air Minum


Air minum yang baik dapat diukur terbebas dari bakteri atau tidak,
pegangan yang digunakan adalah E.coli. Air minum dapat diperiksa dengan
menggunakan Membrane Filter Technique maka 90% dari contoh air diperiksa
selama 1 bulan harus bebas dari E.coli. E.coli digunakan sebagai patokan
dalam menentukan syarat bakteriologis karena pada umumnya bibit penyakit
ini ditemukan pada kotoran manusia dan relatif lebih sukar dimatikan dengan
pemanasan air (Hartini,2009).

Medium pada umumnya terdiri atas bahan-bahan sebagai berikut (Zuhri,2009):


a. Air
Air mutlak perlu untuk kegiatan sel hidup, karena merupakan penyusun utama sel. Fungsi air
yang lain adalah sebagai sumber oksigen dan pelarut. Pembuatan media digunakan air suling.
b. Pepton
Pepton merupakan bentuk hasil antara hidrolisa protein alam oleh enzim proteolitik, misalnya
tripsin, papain, dan lain- lain. Fungsi yang terpenting dari pepton dalam medium adalah
sebagai sumber nitrogen, juga karena asam amino merupakan senyawa yang bersifat amfoter.
c. Ekstrak daging
Ekstrak daging berfungsi memberi substansi tertentu yang dapat merangsang aktivitas
bakteri, yaitu enzim yang dapat mepercepat pertumbuhan bakteri.
d. Agar
Agar berguna sebagai bahan pemadat medium.
e. Natrium klorida (garam)
Garam biasanya ditumbuhkan ke dalam media untuk menaikkan tekanan osmose.

f. Senyawa anorganik
Kebutuhan bakteri akan senyawa anorganik tidak banyak diketahui, tetapi unsur-unsur ini
biasanya ditambahkan ke dalam medium, yaitu Na, Mg, K, Fe, S, dan P. Unsur-unsur Cl, C,
N, dan H biasanya sudah terdapat dalam zat anorganik penyusun medium.
g. Senyawa yang dapat difermentasikan
Senyawa yang dapat difermentasikan ini biasanya merupakan suatu karbohidrat gula.
Senyawa ini mempunyai dua fungsi dalam medium, yaitu sebagai sumber energi dan
memberi reaksi yang membantu identifikasi.
Jumlah koliform dapat dihitung dengan menggunakan metode Most Probable Number
(MPN). Bakteri coli dari air dapat diperiksa keberadaannya dengan menggunakan medium
kaldu laktosa yang ditempatkan di dalam tabung reaksi berisi tabung durham (tabung kecil
yang letaknya terbalik, digunakan untuk menangkap gas yang terjadi akibat fermentasi
laktosa menjadi asam dan gas). Cara-cara yang digunakan adalah sistem 3-3-3 (3 tabung
untuk 10 ml, 3 tabung untuk 1,0 ml, 3 tabung untuk 0,1 ml) atau 5-5-5. Bakteri coli yang
didapatkan memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan manusia, terbukti dengan
kualitas air minum, secara bakteriologis tingkatannya ditentukan oleh kehadiran bakteri
tersebut (tabel 1).
Tabel

1. Batas maksimum cemaran mikroba dalam air mineral

Sumber : Lampiran Surat keputusan Dirjen POM Nomor : 037267/B/SK/VII/89


Catatan :* 100 ml untuk jenis makanan bentuk cair
2.10 Uji Kualitatif Koliform

Uji kualitatif koliform secara lengkap terdiri dari 3 tahap yaitu: (1) Uji penduga
(presumptive test), (2) Uji penguat (confirmed test) dan Uji pelengkap (completed test)
(Widianti dan Ristiati,2004).
1. Uji penduga (presumptive test)
Uji penduga merupakan uji kuantitatif koliform menggunakan metode MPN. Tes
pendahuluan dapat menunjukkan adanya bakteri koliform berdasarkan dari terbentuknya
asam dan gas yang disebabkan karena fermentasi laktosa oleh bakteri golongan koli. Tingkat
kekeruhan pada media laktosa menandakan adanya zat asam. Gelembung udara pada tabung
durham menandakan adanya gas yang dihasilkan bakteri. Tabung dinyatakan positif jika
terbentuk gas sebanyak 10% atau lebih dari volume di dalam tabung durham. Kandungan
bakteri Escherichia coli dapat dilihat dengan menghitung tabung yang menunjukkan reaksi
positif terbentuk asam dan gas dan dibandingkan dengan tabel MPN. Metode MPN dilakukan
untuk menghitung jumlah mikroba di dalam contoh yang berbentuk cair. Inkubasi 1 x 24 jam
hasilnya negatif, maka dilanjutkan dengan inkubasi 2 x 24 jam pada suhu 35 0C. Waktu
inkubasi selama 2 x 24 jam tidak terbentuk gas dalam tabung Durham menunjukkan hasil
negatif. Jumlah tabung yang positif dihitung pada masing-masing seri. MPN penduga dapat
dihitung dengan melihat tabel MPN.
2.

Uji penguat (confirmed test)


Hasil uji dugaan dilanjutkan dengan uji ketetapan. Tabung yang positif terbentuk asam dan
gas terutama pada masa inkubasi 1 x 24 jam, suspensi ditanamkan pada media Eosin
Methylen Blue Agar (EMBA) secara aseptik dengan menggunakan jarum inokulasi. Koloni
bakteri Escherichia coli tumbuh berwarna merah kehijauan dengan kilat metalik atau koloni
berwarna merah muda dengan lendir untuk kelompok koliform lainnya.

3.

Uji pelengkap (completed test)


Pengujian selanjutnya dilanjutkan dengan uji kelengkapan untuk menentukan bakteri
Escherichia coli. Koloni yang berwarna pada uji ketetapan diinokulasikan ke dalam medium
kaldu laktosa dan medium agar miring Nutrient Agar (NA), dengan jarum inokulasi secara
aseptik. Tahapan selanjutnya adalah diinkubasi pada suhu 370C selama 1 x 24 jam. Hasil yang
positif akan terbentuk asam dan gas pada kaldu laktosa, maka sampel positif mengandung
bakteri Escherichia coli. Media agar miring NA dibuat pewarnaan gram dimana bakter
Escherichia coli menunjukkan gram negatif berbentuk batang pendek. Cara untuk
membedakan bakteri golongan koli dari bakteri golongan coli fekal (berasal dari tinja hewan
berdarah panas), dilakukan duplo, dimana satu seri diinkubasi pada suhu 37 0C (untuk
golongan koli ) dan satu seri diinkubasi pada suhu 42 0C (untuk golongan koli fekal). Bakteri

golongan koli tidak dapat tumbuh dengan baik pada suhu 42 0C, sedangkan golongan koli
fekal dapat tumbuh dengan baik pada suhu 420C.
III. METODE PENELITIAN
3.1

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas


Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tanjunpura Pontianak.
3.2

Objek yang diteliti

Objek yang akan diteliti pada penelitian ini adalah sampel air minum yang terdapat di
beberapa depot air minum isi ulang yang berada di Kecamatan Pontianak Barat Kota
Pontianak.
3.3

Alat dan Bahan Penelitian

Alat alat yang digunakan meliputi autoklaf, botol, cawan petri, erlenmeyer, inkubator,
kawat inokulasi, karet gelang, kertas sampul, jarum ose laminar air flow, mikroskop cahaya,
plastik mika, plastik pembungkus, spuit, tabung reaksi, tabung Durham.
Bahan-bahan yang diperlukan meliputi sampel air, media EMBA (Eosin Methylen Blue
Agar), media NA (Nutrien Agar), kaldu laktosa, alkohol, dan kapas.
3.4

Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan dari penelitian ini tersaji dalam tabel berikut ini:
No

Kegiatan

1
2

Studi Literatur
Penyusunan dan Presentasi

3
4

Proposal Penelitian
Observasi Lapangan
Pengambilan Sampel &

5
6

Wawancara
Pengujian di Laboratorium
Penyusunan Laporan dan

Minggu
4 5

Presentasi Hasil Penelitian


3.5

Cara Kerja

1) Teknik Pengumpulan Data


Pengumpulan data berdasarkan observasi lapangan dengan mengambil contoh sampel air
minum isi ulang sebanyak 100 ml yang ada di Kecamatan Pontianak Barat Kota Pontianak
yang terduga telah tercemar bakteri koliform. Uji air minum isi ulang tersebut dapat

dilakukan setelah uji pendahuluan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Matematika dan


Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tanjungpura Pontianak, meliputi persiapan alat-alat,
pelaksanaan dan pengamatan.
2) Pelaksanaan Pengujian Air Minum Sampel
Pelaksanaan meliputi pengambilan sampel pada beberapa depot air minum isi ulang
(DAMIU), dan dilanjutkan dengan menggunakan uji penduga dengan 9 tabung (seri 3-3-3).
Media pertumbuhan menggunakan kaldu laktosa yang masing-masing tabung berisi 9 ml
dilengkapi tabung durham dengan posisi terbalik. Tiga seri tabung pertama diisikan 10 ml air
minum sampel, tiga seri tabung kedua diisikan dengan 1 ml air minum sampel, dan tiga seri
tabung ketiga diisikan 0,1 ml air sampel. Tahap selanjutnya inkubasi selama 1-2 X 24 jam
dengan diamati pembentukan gas pada tabung durham dan berubahnya media menjadi keruh
yang menandakan media menjadi asam karena adanya aktivitas bakteri koliform. Hasil
selanjutnya dianalisis dengan metode MPN (Most Probable Number) atau metode JPT
(Jumlah Perkiraan Terdekat) dengan penggunaan seri 3-3-3.
3) Wawancara
Wawancara dilakukan dengan pemilik dan karyawan depot air minum isi ulang mengenai
bahan baku produksi dan proses pengolahannya.
4) Pengumpulan Dokumen
Hasil wawancara dan pengujian berupa data yang dikumpulkan dan disusun sebagai bahan
acuan pembanding antara hasil pengujian di laboratorium dan di lapangan yakni sumber
bahan baku dan prosesnya menjadi produk.
3.6 Analisis Data
Analisis data berdasarkan kehadiran bakteri koliform melalui uji penduga dibandingkan
dengan tabel MPN (Most Probable Number) atau JPT (Jumlah Perkiraan Terdekat)
(Cappuccino & Sherman, 1987). Tabel tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan
jumlah bakteri colifom dalam 100 ml sampel air.

P
embangunan sektor air minum dan penyehatan lingkungan belum
menjadi agenda
utama para pengambil keputusan di Indonesia
1

.
T
ingginya kebutuhan terhadap air minum

layak konsumsi menyebabkan meningkatnya minat masyarakat


dalam mengkonsumsi
Air
Minum Isi Ulang
(AMIU) karena lebih praktis, higienis dan harga yang lebih murah
.
Adanya
depot AMIU ini, mempermudah masyarakat agar tidak
membuang
buang waktu
untuk menyiapkan air minum yang diperlukan setiap harinya karena
cukup memesan
AMIU tanpa memasak terlebih dahulu
2

.
B
erdasarkan data
Riskesdas
tahun 2013, di
Provinsi Sumatera Selatan
, proporsi rumah tangga yang mengkonsumsi air minum
isi
ulang sebagai sumber air minum menempati urutan kedua (19,0 %)
setelah sumur gali
terlindung (35,9 %).
P
enyakit diare masih merupakan masalah utama kesehatan
masyarakat
di wilayah
kerja Puskesmas Tebing Gerinting dengan j
umlah
penderita diare pada ke
lompok umur
balita yang mengalami peningkatan dari tahun 2012
2013 yaitu sebanyak 396 kasus
menjadi 472
kasus
4

P
ada bulan Januari
Agustus 2014 kasus diare pada balita sebanyak
375 kasus dan terjadi peningkatan kasus di bulan agustus (60
kasus) dibanding b
ulan
Juli
(39 kasus)
5

.
P
enyakit diare disebabkan
oleh infeksi virus dan parasit,
ditularkan melalui air
dan makanan yang terkontami
nasi kotoran manusia dan hewan,
selain itu sumber air bersih,
penanganan makanan
, perilaku
dan kebersihan pribadi
6

.
K
ejadian penyakit merupakan hasil hubungan interaktif antara
manusia dan
perilakunya serta komponen lingkungan yang memiliki potensi
penyakit
7

.
H
al ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Sousa (2012) di
Kecamatan Dom Aleixo
Kabupaten
Dili, menunj
ukkan bayi yang menderita diare lebih banyak pada keluarga
dengan kualitas
bakteriologis air minum depot yang tidak memenuhi syarat
kesehatan beresiko menderita

diare sebesar 8,55 kali lebih besar dibandingkan dengan balita


yang mengkonsumsi air
minum isi
ulang yang memenuhi syarat.
B
alita dengan ibu tingkat pendidikan rendah
memiliki peluang untuk terkena diare 3,16 kali lebih besar
dibandingkan dengan balita
dengan ibu tingkat pendidikan tinggi.
B
alita dengan ibu berprilaku cuci tangan tidak baik
memiliki
peluang untuk terkena diare 2,59 kali lebih besar dibandingkan
dengan balita
yang ibu dengan berprilaku cuci tangan baik.
M
asyarakat dapat mengurangi risiko
kejadian
diare dengan
ber
perilaku sehat dan
melakukan
kegiatan penyehatan lingkungan.
P
erilaku seh
at yang dapat dilakukan antara
lain pemberian ASI, menggunakan air bersih yang cukup, mencuci
tangan, membuang tinja
bayi dengan benar, menggunakan jamban, mencuci botol susu
dengan benar serta
pemberian imunisasi.
S
edangkan kegiatan penyehatan lingkungan
yang dapat dilakukan
yaitu penyediaan air bersih, pengelolaan sampah dan sarana
pembuangan air limbah
6

.
B
erdasarkan latar belakang diatas, peneliti

tertarik untuk
melakukan penelitian
mengenai
hubungan kualitas bakteriologis air minum isi ulang dan
perilaku higiene ibu
dengan kejadian diare pada balita di Wilayah kerja Puskesmas
Tebing

bayi dengan benar, menggunakan jamban, mencuci botol susu


dengan benar serta
pemberian imunisasi.
S
edangkan kegiatan penyehatan lingkungan
yang dapat dilakukan
yaitu penyediaan air bersih, pengelolaan sampah dan sarana
pembuangan air limbah
6

.
B
erdasarkan latar belakang diatas, peneliti
tertarik untuk
melakukan penelitian
mengenai
hubungan kualitas bakteriologis air minum isi ulang dan
perilaku higiene ibu
dengan kejadian diare pada balita di Wilayah kerja Puskesmas
Tebing Gerinting
Kabupaten Ogan Ilir tahun 2014
.
BAHAN DAN CARA PENELITIAN
Metode penelitian ini menggunakan desain studi
cross sectional.
S
ampel pada
penelitian ini berjum

lah 95 orang balita dan 9 depot air minum isi ulang yang
dikonsumsi
oleh balita.
Responden
pada penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita dengan
memperhatikan kriteria inklusi dan ekslusi.
K
riteria
Inklusi
yaitu bersedia untuk menjadi responden dalam penelitian, ibu yang
mempunyai balita dan me
ngkonsumsi AMIU
berlangganan serta mengkonsumsi susu
formula menggunakan botol susu, apabila dalam suatu keluarga
memiliki balita lebih dari
satu orang, maka yang ditanyakan adalah anak balita yang paling
muda sedangkan kriteria
ekslusi yaitu tidak berada di tempat tingg
al setelah 3 kali ditemui, i
bu
yang mempunyai
balita yang mengkonsumsi susu formula menggunakan botol susu
dan tidak mengkonsumsi
AMIU berlangganan, i
bu yang mempunyai balita yang mengkonsumsi
AMIU
berlangganan dan tidak mengkonsumsi susu
formula menggunak
an botol susu.
P
emeriksaan higiene sanitasi fisik depot AMIU dilakukan dengan
observasi
menggunakan lembar
checklist
pemeriksaan higienesanitasi fisik depot AMIU
.
K
ualitas
bakteriologis AMIU diukur dengan melakukan uji analisa
laboratorium dengan

menggunak
an metode MPN (
Most Probable Number
).
HASIL PENELITIAN
Analisa Univariat
D
ari hasil penelitian yang dilakukan terhadap 95 orang ibu yang
memiliki balita dan 9
depot AMIU di wilayah kerja Puskesmas Tebing Gerinting di peroleh
hasil penelitian ya
ng
dapat
dilihat pada tabel 1.
Tabel 1
Distribusi Frekuensi Kejadian Diare Balita, Kualitas Bakteriologis Air
Minum Isi
Ulang, Tingkat Pendidikan Ibu, Perilaku Higiene Ibu Dan Higiene
Sanitasi Fisik
Depot Air Minum Isi Ulang Di Wilayah Kerja Puskesmas Tebing Ger
inting Tahun
2014
Variabel
J
umlah
P
ersen (%)
K
ejadian diare
D
iare
64
67,4
T
idak diare
31
32,6
Kualitas bakteriologis air minum isi ulang
T
idak memenuhi syarat

3
33,33
M
emenuhi syarat
6
66,67
T
ingkat pendidikan ibu
R
endah
39
41,1
T
inggi
56
58,9
Perilaku higiene ibu
B
uruk
41
43,2
B
aik
54
56,8
Higiene
sanitasi fisik depot AMIU
Buruk
3
33,33
Baik
6
66,67
B
erdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa
proporsi
balita yang mengalami diare
sebanyak 64 orang (67,4 %).
K
ualitas bakteriologis air minum isi ulang yang tidak

memenuhi syarat (mengandung bakteri


E.coli
) sebanyak 3 depot (33,33 %).
M
ayoritas
responden sudah memiliki pendidikan tinggi yaitu sebanyak 56 or
ang (58,9%).
Perilaku
higiene ibu yang digolongkan buruk sebanyak 41 orang (43,2 %).
D
epot air minum isi
ulang yang memiliki higiene sanitasi fisik buruk sebanyak 3 depot
AMIU (33,33 %).
A
nalisa bivariat
D
ari hasil penelitian yang dilakukan terhadap 95
orang ibu yang memiliki balita dan 9
depot AMIU di wilayah kerja Puskesmas Tebing Gerinting di peroleh
hasil analisa bivariat
yang dapat dilihat pada tabel 2.
T
abel 2
A
nalisa
Bivariat Antara Kualitas Bakteriologis Air Minum Isi Ulang, Tingkat
Pendidikan
Ibu, Perilaku Higiene Ibu Dan Higiene Sanitasi Fisik Depot Dengan
Kejadian Diare Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Tebing
Gerinting Tahun
2014
Variabel
p
value
PR
(Cl 95 %)
K
ualitas bakteriologis AMIU
0,

308
0,798 (0,541

1,176)
T
ingkat pendidikan
ibu
0,020
1,436 (1,096

1,881)
P
erilaku higiene ibu
0,087
1,317 (1,001

1,733)
H
igiene sanitasi fisik depot AMIU
1,000
1,308 (0,765

1,410)
Berdasarkan
tabel 2
dapat kita lihat jika hasil uji statistik
p
value
>

(0,05) maka
variabel tersebut memiliki hubungan dengan kejadian diare pada
balita.
Adapun
variabel
yang memiliki hubungan yaitu tingkat pendidikan ibu (p
value =
0,020).
PEMBAHASAN
H

ubungan antara kualitas bakteriologis air minum isi ulang dengan


kejadi
an diare
pada balita.
H
asil analisis
bivariat
menunjukkan bahwa nilai
p value
antara kualitas bakteriologis
air minum isi ulang dengan kejadian diare pada balita adalah 0,308,
dimana
p value
>
0,05,
yang artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna secara
statistik antara kualitas
bakteriologis air minum isi ulang dengan kejadian diare pada balita.
Penelitian
ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Murni (2008) di
Kecamatan
Sungailiat Kabupaten Bangka, hasil analisa didapatkan
p value =
0,752 yang
berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara kualitas
bakteriologis air minum dari
depot air minum dengan risiko kejadian diare pada balita.
Balita
yang mengkonsumsi air
minum d
ari depot air minum yang tidak memenuhi syarat (mengandung
E.coli
) dan
menderita diare ada 7 (17,5 %) dan balita yang mengkonsumsi air
minum dari depot air
minum yang memenuhi syarat ( tidak mengandung
E.coli
) ada 51 (19,6 %).
A
ir memiliki potensi menimbul

kan penyakit jika mengandung bakteri patogen atau


bahan kimia beracun
7

.
M
enurut
Peraturan Menteri Kesehatan
RI tahun 2010, syarat
bakteriologis air minum yaitu tingkat kontaminasi nol atau
kandungan bakteri
E.coli
dalam
air minum yaitu 0 sel/100 ml.
Tidak
adanya hubungan antara kualitas bakteriologis air
minum isi ulang dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja
puskesmas Tebing
Gerinting juga dikarenakan oleh faktor lain seperti kualitas sumber
air bersih utama yang
digunakan penduduk di wilayah ke
rja puskesmas Tebing Gerinting berasal dari air sumur
dan PDAM.
B
erdasarkan penelitian yang peneliti lakukan, teori yang mendukung
dan
penelitian sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa kualitas
bakteriologis air minum isi
ulang bukan merupakan salah satu
faktor risiko kejadian diare pada balita.
H
ubungan antara
Tingkat Pendidikan Ibu
dengan
Kejadian Diare Pada Balita
H
asil analisis bivariat menunjukkan bahwa nilai
p value
antara tingkat pendidikan ibu
dengan kejadian diare pada balita adalah 0,014, dimana
p value

< 0,05, yang artinya


terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara tingkat
pendidikan ibu dengan
kejadian diare pada balita.
Hal
ini dapat dilihat dari nilai RP yang diperoleh yaitu sebesar
1,436 dimana balita dengan ibu tingkat pendidik
an rendah memiliki peluang 1,436 kali
untuk mengalami diare dibandingkan dengan balita dengan ibu
tingkat pendidikan tinggi.
P
enelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sousa
(2010), balita
dengan ibu pendidikan rendah dan menderita diare
40 (76,9 %) dari 52 balita. hasil uji
statistik diperoleh
p value
= 0,006 yang berarti terdapat hubungan antara tingkat
pendidikan ibu balita dengan kejadian diare pada balita. uji statistik
juga diperoleh nilai
OR sebesar 3,16 artinya balita dengan ibu ti
ngkat pendidikan rendah memiliki peluang
terkena diare 3,16 kali lebih besar dibandingkan dengan balita
dengan ibu tingkat
pendidikan tinggi.
F
aktor pendidikan ibu tidak langsung berhubungan dengan kejadian
diare pada bayi
dan balita, namun sebagai salah
satu pencetus terjadinya diare
11

.
P
endidikan akan
mempengaruhi pengetahuan, sikap dan perilaku seseorang.
S
eseorang dengan pendidikan
rendah akan sulit dalam menyerap informasi sehingga lebih
beresiko untuk terkena
penyakit.

K
eterbatasan informasi yang diserap dan tidak memadainya
informasi tersebut
menyebabkan ibu sebagai orang terdekat dengan anak tidak
mengerti cara pencegahan
diare dalam memberikan makanan kepada anak, pentingnya
pemberian ASI sedini
mungkin, tanda dan geja
la penyakit diare, bagaimana pertolongan pertama di rumah pada
saat anak sakit dan lain
lain.
B
erdasarkan penelitian yang peneliti lakukan, teori yang
mendukung dan penelitian sebelumnya maka dapat disimpulkan
bahwa tingkat pendidikan
ibu merupakan salah s
atu faktor risiko kejadian diare pada balita.
H
ubungan antara Perilaku
Higiene
Ibu dengan
Kejadian Diare
pada
Balita
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa nilai
p value
antara
perilaku higiene ibu
dengan kejadian diare pada balita adalah 0,0
87
, dima
na p
value
>
0,05, yang artinya
tidak
terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara tingkat
pendidikan ibu dengan
kejadian diare pada balita.

P
enelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nuraeni
(2012), yang
menjelaskan tidak ada
nya hubungan yang bermakna antara perilaku higiene ibu dengan
kejadian diare pada balita (
p value
= 0,198).
H
asil penelitian menunjukkan perilaku higiene
yang tidak baik berisiko 0,494 kali untuk terkena diare.
Diare
dapat disebabkan oleh faktor lingkungan, pengetahuan ibu, sosial
ekonomi,
faktor infeksi, faktor malabsorbsi, faktor neoplasma, faktor psikis
dan faktor makanan
(infeksi).
P
ada balita penularan penyakit diare dapat melalui fase oral
terutama disebabkan
kar
ena meminum dan memakan yang terkontaminasi, kontak dengan
tangan yang
terkontaminasi, dan penyiapan dan penyimpanan makanan atau
minuman yang tidak
semestinya dan serta perilaku higiene ibu yang buruk
13

.
Balita
berada pada masa
pengenalan terhadap lingkun
gan sekitarnya.
Perilaku
yang sering dilakukan oleh balita
yaitu berusaha memegang benda apa saja yang ada
disekelilingnya dan memasukkan ke
dalam mulut.
K
etika kondisi tangan dari balita maupun benda yang dipegang tidak
steril

memungkinkan terjadinya kont


aminasi bakteri
E.coli
.
Berdasarkan
pengamatan peneliti di
lapangan, ibu bukanlah satu
satunya yang berperan sebagai pengasuh balita.
Balita
juga
diasuh oleh nenek, kakak atau anggota keluarga lainnya yang
tinggal serumah dengan
balita. Perilaku pengasuh
pengganti (selain ibu) juga dapat menjadi faktor risiko balita
terkena diare.
B
erdasarkan penelitian yang peneliti lakukan, teori yang mendukung
dan
penelitian sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa perilaku
higiene ibu bukan
merupakan salah satu faktor r
isiko kejadian diare pada balita
H
ubungan antara Higiene Sanitasi Depot A
i
r Minum Isi Ulang dengan
Kejadian
Diar
e pada
Balita
Hasil analisis
bivariat
menunjukkan bahwa nilai
p value
antara
higiene sanitasi
depot dengan
kejadian diare pada balita adalah
1,000

, dimana
p value
>
0,05, yang artinya
tidak
terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara
higiene sanitasi depot air
minum isi ulang
dengan kejadian diare pada balita.
H
igiene sanitasi depot yang buruk secara tidak langsung
berhubungan deng
an
kejadian diare pada balita karena dapat menghasilkan air minum
yang terkontaminasi
bakteri
E.coli
yaitu bakteri patogen penyebab diare.
S
ejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Sembiring (2008) higiene sanitasi DAMIU yang
buruk akan