Anda di halaman 1dari 36

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu ternak ruminansia yang dipelihara dengan tujuan produksi susu
yaitu sapi perah. Pengembangan usaha peternakan sapi perah dengan sasaran
peningkatan produksi susu perlu diperhatikan baik dari segi kualitas maupun
kuantitasnya. Kualitas dan kuantitas susu dapat dipengaruhi oleh faktor fisiologis dan
faktor lingkungan. Faktor fisiologis meliputi bangsa, tingkat laktasi, estrus,
kebuntingan, interval beranak dan umur.
Pemeliharaan ternak perah dilakukan secara intensif, mulai dari pakan,
kandang, pemerahan hingga pengolahan susu sebagai produk akhir. Kebersihan dan
kehigienisan segala sesuatu yang berhubungan langsung dengan ternakpun perlu
diperhatikan, karena mempengaruhi kualitas hingga kuantitas produksi susu.
Pemeliharaan ternak perah erat kaitannya dengan faktor lingkungan yang meliputi
makanan, masa kering, kondisi waktu beranak, frekuensi pemerahan, interval
pemerahan, temperatur lingkungan, penyakit dan obat-obatan.
Penilaian kualitas susu ada dua macam yaitu secara fisik dan kimiawi.
Penilaian kualitas susu secara kimiawi diantaranya dapat berdasarkan kadar lemak,
bahan kering, berat jenis dan kadar protein. Sedangkan penilaian kualitas susu secara
fisik yaitu berdasarkan indera penciuman, perasa, dan penglihatan. Salain penilaian
kualitas susu, penilaian kuantitas produksi susu pun perlu diperhatikan, hal ini
menyagkut bagaimana sistem manajemen suatu peternakan sapi perah, diantaranya
sumber daya manusia, sumber daya alam, sistem perkandangan, dan metode

pemerahan. Hal inilah yang melatarbelakangi dilaksanakan praktek lapang ilmu


ternak perah di Kabupaten Enrekang.
B. Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dilaksanakan praktek lapang Ilmu Ternak Perah di Kelurahan Cendana
Kabupaten Enrekang yaitu untuk mengetahui bangsa dan tipe sapi perah, potensi
sumber daya alam dan sumber daya manusia, sistem perkandangan sapi perah,
metode pemerahan, produksi dan kualitas air susu serta pengolahan air susu.
Kegunaan dilaksanakan praktek lapang Ilmu Ternak Perah di Kelurahan
Cendana Kabupaten Enrekang yaitu untuk mengetahui bangsa dan tipe sapi perah,
potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia, sistem perkandangan sapi
perah, metode pemerahan, produksi dan kualitas air susu serta pengolahan air susu.

TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengenalan Bangsa dan Tipe Sapi Perah
1. Bangsa Sapi Perah Daerah Tropis
Bangsa sapi perah daerah tropis pada umumnya sapi berpunuk kecuali sapi
bali. Telinga relatif panjang dan pada bagian ujungnya meruncing. Kepala sapi relatif
panjang tetapi pada bagian dahi menyempit.Berkulit tipis, kurang lebih 5-6mm.
Gelambir berkembang sempurna ,lebar. timbunan lemaknya relatif rendah. Garis
punggung pada bahu meninggi , tetapi di belakng bahu menurun atau cekung.bahu
pendek, halus dan rata. Mempunyai kaki yang panjang dan lincah. pertumbuhan
lambat, usia 5 tahun baru mencapai berat maksimal. Tubuh sempit dan relatif kecil ,
mempunyai berat sekitar 250-650 kg produksi susu rendah. tahan terhadap suhu
tinggi dan kehausan. Tahan terhadap gigitan caplak atau nyamuk.Bangsa sapi tropis
yang kita kenal adalah Zebu (bos indicus), banteng (bos sondaikus) (Blakely,1991).
a. Red Sindhi
Bangsa sapi Red Sindhi berasal dari daerah distrik Karachi, Hyderabad dan
Kohistan. Sapi Red Sindhi berwarna merah tua dan tubuhnya lebih kecil bila
dibandingkan dengan sapi Sahiwal, sapi betina dewasa rata-rata bobot badannya 300350 kg, sedangkan jantannya 450-500 kg. Produksi susu Red Sindhi rata-rata 2000
kg/tahun, tetapi ada yang mencapai produksi susu 3000 kg/tahu dengan kadar
lemaknya sekitar 4,9% (Blakely,1991).
b. Sahiwal
Bangsa sapi Sahiwal berasal dari daerah Punyab, distrik Montgo Mery,
Pakistan, daerah antara 295 -302 LU. Sapi perah Sahiwal mempunyai warna

kelabu kemerah-merahan atau kebanyakan merah warna sawo atau coklat. Sapi betina
bobot badannya mencapai 450 kg sedangkan yang jantan 500-600 kg. sapi ini tahan
hidup di daerah asalnya dan dapat berkembang di daerah-daerah yang curah hujannya
tidak begitu tinggi. Produksi susu paling tinggi yaitu antara 2500-3000 kg/tahun
dengan kadar lemaknya 4,5%.
c. Gir
Bangsa sapi Gir berasal dari daerah semenanjung Kathiawar dekat Bombay di
India Barat dengan curah hujan 20-25 inchi atau 50,8-63,5 cm. Daerah ini terletak
antara 205-226 LU. Pada musim panas temperature udara mencapai 98F (36,7C)
dan musim dingin temperatu udara sampai 60F (15,5C) (Prihadi,1997).Warna sapi
Gir pada umumnya putih dengan sedikit bercak-bercak coklat atau hitam, tetapi ada
juga yang kuning kemerahan. Sapi ini tahan untuk bekerja baik di sawah maupun di
tegal. Ukuran bobot sapi betina dewasa sekitar 400 kg, sedangkan sapi jantan dewasa
sekitar 600 kg. produksi susu rata-rata 2000 liter/tahun dengan kadar lemak 4,5-5%
(Blakely,1991).
2. Bangsa Sapi Perah Daerah Subtropis
a. Sapi Friesian Holstein (FH)
Sapi Friesian Holstein (FH) merupakan bangsa sapi yang paling banyak
terdapat di Amerika Serikat, sekitar 80--90 % dari seluruh sapi perah yang berada di
sana. Sapi ini berasal dari Belanda yaitu di Provinsi North Holand dan West Friesland
yang memiliki padang rumput yang sangat luas. Sapi FH mempunyai beberapa
keunggulan, salah satunya yaitu jinak, tidak tahan panas tetapi sapi ini mudah
menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan. Ciri-ciri sapi FH yang baik adalah
memiliki tubuh luas ke belakang, sistem dan bentuk perambingan baik, puting

simetris, dan efisiensi pakan tinggi yang dialihkan menjadi produksi susu (Makin,
2011).
Kemampuan produksi susu sapi FH lebih tinggi dibandingkan bangsa sapi
perah yang lain. Untuk mencapai produksi yang optimal sapi perah sebaiknya
dipelihara di tempat yang bersuhu rendah. Suhu lingkungan yang optimum untuk sapi
perah dewasa berkisar antara 5--21 C, sedangkan kelembaban udara yang baik untuk
pemeliharaan sapi perah adalah sebesar 60% dengan kisaran 50%--75% (Diwyanto,
dkk., 2000).
Menurut Makin (2011), sapi FH memiliki ciri-ciri yaitu, warna bulu hitam
dengan bercak putih, terdapat warna putih berbentuk segitiga di daerah dahi, tanduk
pendek dan menjurus ke depan, dada, perut bagian bawah, dan ekor berwarna putih,
ambing besar, tenang dan jinak sehingga mudah dikuasai, tidak tahan panas, kepala
besar dan sempit.
Menurut Diwyanto, dkk (2000), sapi FH memiliki warna cukup terkenal, yaitu
belang hitam putih dengan pembatas yang jelas dan tidak ada warna bayangan serta
mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sehingga bangsa sapi ini dapat dijumpai
hampir di seluruh dunia. Bangsa sapi perah yang banyak dipelihara di Indonesia
adalah jenis bangsa sapi perah peranakan Friesian Holstein (PFH). Sapi PFH
merupakan hasil persilangan (grading-up) antara sapi perah FH dengan sapi lokal.
Bangsa

sapi

perah

subtropis

adalah

sapi

yang

hidup

di

daerah

Subtropis.Daerah subtropis seperti di belahan dunia utara yaitu Eropa, Asia, dan
Afrika sedangkan bagian selatan yaitu Australia dan Amerika Selatan.Daerah
beriklim subtropis memiliki 4 musim yaitu musim semi, musim panas, musim gugur,

dan musim dingin.Kelompok dari Bos primigenius, yang tersebar di daerah sub tropis
atau lebih dikenal dengan Bos Taurus(Blakely,1991).
b. Ayrshire
Pola warna bangsa sapi Ayrshire bervariasi dari merah dan putih sampai
warna mahagoni dan putih.Bangsa sapi Ayrshire di kembangkan di daerah Ayr, yaitu
daerah di bagian barat Skotlandia. Mulai tersebut dingin dan lembab, padang rumput
relative tidak banyak tersedia. Dengan demikuan maka ternak terselesi secara alamia
akan ketahanan dan kesanggupannya untuk merumput (Blakely, 1991).
c. Brown Swiss
Bangsa sapi Brown Swiss banyak dikembangkan dilereng-lereng pegunungan
di Swiss.Ukuran badannya yang besar serta lemak badannya yang berwrna putih
menjadikannya sapi yang disukai untuk produksi daging (Blakely).Warna sapi Brown
Swiss bervariasi mulai dari coklat muda samai coklat gelap. Bobot badan sapi betina
dewasa1200-1400 pound, sedangkan sapi Brown Swiss 1600-2400 pound. Produksi
susu rata-rata mencapai 10860 pound dengan kadar lemak 4,1% dan warna lemak
susunya agak putih (Blakely, 1991).
d. Guernsey
Bangsa sapi Guernsey dikembangkan di pulau Guernsey di Inggris.Sapi perah
Guernsey berwarna coklat muda dengan totol-totol putih. Sapi Guernsey memiliki
kadar lemak susu serta kadar bahan padat susu yang tinggi. Bobot badan rata-rata sapi
betina dewasa 1100 pound dengan kisaran antara 800-1300 pound. Sedangkan bobot
sapi jantan dewasa dapat mencapai 1700 pound. Produksi susu sapi Guernsey
menurut DHIA (1965-1966) rata-rata 9179 pound dengan kadar lemaknya 4,7%
(Prihadi, 1997).
e. Jersey

Sapi Jersey dikembangkan di pulau Jersey di Inggris yang terletak hanya


sekitar 22 mil dari palau Guernsey. Pulau tersebut hasil utamanya adalah mentega,
dengan demikian sapi Jersey dikembangkan untuk tujuan produksi lemak susu yang
banyak, sifat yang sampai kini pun masih menjadi perhatian. Dalam masa
perkembangan bangsa ini, hanya sapi-sapi yang bagus sajalah yang tetap dipelihara
sehingga sapi Jersey ini masih terkenal karena keseragamannya (Blakely,1991).
B. Potensi Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM)
1. Potensi Sumber Daya Alam (SDA)
Populasi sapi perah sampai tahun 1997 (sebelum krisis moneter)
menunjukkan perubahan yang selalu meningkat . Kenaikan cepat terjadi selama tahun
1979 - 1989 karena importasi dalam jumlah besar sapi perah betina dari Australia dan
New Zealand. Importasi dalam jumlah besar terutama terjadi dalam dua periode,
pertama dengan jumlah sapi betina 56.375 ekor selama tahun 1979 - 1983, dan
berikutnya dengan jumlah sapi betina 27.410 ekor dalam tahun 1987 - 1989 (GKSI,
1996). Oleh karenanya selama kurun waktu yang sama terjadi lonjakan laju
pertumbuhan populasi sapi perah sebesar 12,35 persen per tahun, tetapi setelah tahun
1989 pertumbuhan populasi sapi perah nasional kembali menurun menjadi 2,61
persen per tahun (Suheri, 2007).
Suheri (2007), lebih lanjut menjelaskan bahwa penurunan kembali
pertumbuhan populasi sapi perah nasional setelah terhentinya kegiatan importasi
mengindikasikan tidak berjalannya kesimbangan antara laju pengeluaran ternak
terhadap penggantiannya. Keadaan ini antara lain disebabkan oleh karena sapi betina
impor sulit beradaptasi pada lingkungan barunya di Indonesia. Hal tersebut terutama

dialami oleh sapi perah impor yang dibudidayakan di daerah dataran rendah yang
sulit mengatasi cekaman panas, pakan tidak memadai, serangan penyakit dan parasit,
serta tingkat manajemen yang belum mendukung. Pada skala individu faktor tersebut
menyebabkan penurunan kineda produktivitas ternak, yang direfleksikan oleh
penurunan produksi susu, gangguan reproduksi - (kegagalan clan penyakit
reproduksi), angka kematian pedet yang tinggi, clan daya hidup produktif menurun.
Pada skala lebih luas akan menurunkan kualitas populasi yang dicerminkan oleh
struktur populasi yang tidak berimbang. Produktivitas yang dicapai sapi perah lokal
masih rendah bila dibandingkan dengan produktivitas sapi perah iklim sedang.
Kemampuan menghasilkan produksi susu secara rataan masih berkisar antara
8 - 10 liter per hari (2400 - 3000 liter per laktasi), dengan rataan produksi sedikit
lebih tinggi untuk sapi perah di daerah sentra produksi susu seperti Pangalengan dan
Lembang di Jawa Barat, Pujon (Malang) Jawa Timur dan perusahaan sapi perah,
dengan rataan berkisar antara 10 - 13 liter per hari (3000 - 3600 liter per laktasi).
Meskipun demikian kapasitas produksi sapi perah lokal mempunyai variasi yang luas
clan masih belum banyak digali potensinya sebagai upaya untuk menghasilkan
kelompok sapi perah dengan Kemampuan produksi susu tinggi (Diwyanto, dkk.,
(2000).
Sementara itu kinerja reproduksi sapi perah di Indonesia masih rendah yang
antara lain diindikasikan oleh selang beranak masih panjang . Jarak beranak sapi
perah domestik (lokal dan eks-impor) umumnya masih melebihi 14 bulan. Selang
beranak tersebut masih lebih panjang dari yang direkomendasikan, yakni selama 12
bulan (365 hari) agar sapi betina mampu menampilkan prestasi produksi (produksi

susu dan pedet) secara optimal selama masa produktifnya. Sejumlah masalah yang
menjadi penyebab panjangnya selang beranak yang ditemukan berdasarkan hasil
survey di daerah sentra susu di Jawa Tengah meliputi Kabupaten Banyumas,
Boyolali, clan Klaten disebabkan antara lain oleh karena, sapi betina tidak/kurang
memperlihatkan tanda-tanda birahi yang jelas, penyakit reproduksi, kasus keguguran,
dan gangguan kesehatan (Diwyanto, dkk., 2000).
2. Potensi Sumber Daya Manusia (SDM)
Kondisi budidaya sapi perah pada peternakan rakyat umumnya dilakukan
pada skala pemilikan ternak dalam jumlah yang terbatas . Keterbatasan lahan dan
modal yang dimiliki oleh sebagian besar peternak menyebabkan sulitnya peningkatan
jumlah pemeliharaan ternak. Pada sebagian besar peternak dengan skala pemilikan
yang kecil ini pemeliharaan sapi perah biasanya merupakan suatu usaha sampingan
dengan mata pencaharian pokok mereka adalah sebagai petani tanaman pangan
ataupun pekerjaan lainnya (Suheri, 2007).
Pemeliharaan ternak terutama ditujukan untuk memanfaatkan limbah hasil
pertanian sedangkan kotorannya dipakai sebagai-pupuk untuk menyuburkan lahan
pertanian. Akan tetapi pada daerah sentra produksi susu umum ditemukan peternak
yang menjadikan sapi perah sebagai mata pencaharian pokok mereka, dengan
pemelihaaan ternak dilakukan secara intensif dalam jumlah cukup besar. Budidaya
yang dijalankan lebih berdasarkan pada pertimbangan nilai ekonomis dari hasil usaha.
Peternak yang menjadikan budidaya sapi perah sebagai usaha pokok akan
memberikan perhatian penuh dalam pengelolaan sapi perahnya, seperti memberi
pakan dengan kualitas dan kuantitas yang memadai, menjaga kebersihan kandang,

memelihara kesehatan ternak secara teratur, dan menjga kualitas susu yang
dihasilkan. Hal ini dimaksudkan untuk dapat menghasilkan susu segar dalam jumlah
dan kuantitas yang akan memberikan nilai penjualan tertinggi agar diperoleh tingkat
kelayakan ekonomis yang baik dari pemeliharaan sapi perah (Suheri, 2007).
Peternakan rakyat merupakan mayoritas pelaku budidaya, tetapi karakteristik
peternaknya sendiri tidak mengalami banyak perubahan dibandingkan kondisi tahuntahun sebelumnya, yang masih dicirikan sebagai pelaku usaha dengan keterbatasan
pengetahuan, modal, dan ketrampilan . Tidak mengherankan apabila sebagian besar
peternak masih menerapkan budidaya secara tradisional pada skala pemeliharaan sapi
perah relatif kecil, sekitar 1-5 ekor per rumah tangga, sedangkan pengelolaan lebih
merupakan usaha keluarga. Hanya sebagian kecil peternak yang memelihara sapi
perah dengan skala pemilikan cukup besar, sekitar 6 -12 ekor. Peternak seperti ini
biasanya mempunyai lahan dan modal yang memadai, dengan pengelolaan biasanya
memakai tambahan tenaga dari luar keluarga lebih lanjut menjelaskan budidaya yang
diterapkan relatif lebih maju dibandingkan peternak skala kecil (Diwyanto, dkk.,
2000).
Diwyanto, dkk., (2000) untuk meningkatkan kemampuan produksi sapi yang
dipelihara, mereka berusaha mengintroduksi teknologi praktis bagi pengembangan
budidaya sapi perahnya. Disamping peternak rakyat dengan skala pemilikan ternak
cukup bervariasi, terdapat beberapa perusahaan yang relatif besar dengan
kepemilikan sapi perah diatas 100 ekor. Pendapatan usaha terutama bersumber dari
produksi susu yang dipasarkan melalui koperasi/GKSI ke IPS . Pembayaran susu oleh
koperasi kepada peternak dilakukan setiap sepuluh had setelah dipotong biaya

produksi clan operasional koperasi. Sumber pendapatan lain dapat diperoleh dari
penjualan sapi betina atkir clan pedet (jantan clan betina) . Sedangkan kotoran ternak
oleh sebagian besar peternak belum menjadi produk yang ditingkatkan nilai jualnya
melalui pembuatan kompos (Diwyanto, dkk., 2000).
C. Sistem Perkandangan Sapi Perah
Perkandangan merupakan hal yang penting dalam pemeliharaan sapi perah.
Kandang harus memenuhi aspek lingkungan yang aman bagi sapi perah seperti
terhindar dari angin kencang, terik matahari, air hujan, suhu udara malam hari yang
dingin, gangguan binatang buas, dan pencuri. Oleh karena itu, peternak sapi dituntut
untuk menyediakan bangunan kandang yang dapat mengamankan sapi terhadap
kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan. Kandang sapi perah merupakan
kandang yang dirancang untuk hidup sapi dalam proses usaha pembibitan dan
produksi susu pada periode tertentu, mulai dari pedet, sapi dara, dan sapi dewasa
secara baik, aman, sehat dan cukup pegerakan, sehingga sapi dapat hidup secara
leluasa produktif dan masa hidupnya lebih panjang (Kusumawati, 2005).
Tipe kandang yang dapat di gunakan di Indonesia yaitu (Siregar,1993) :
a. Kandang Terbuka
Kandang Terbuka adalah kandang yang semua sisinya terbuka. Kelebihannya
yaitu biaya pembangunan murah,biaya oprasional murah, tidak ketergantungan
dengan listrik, karena apabila listrik mati maka sistem akan terganggu, sedangkan
kekurangan kandang terbuka yaitu perlindungan terhadap penyakit kurang baik, dan
perlindungan terhadap faktor lingkungan kurang baik.
b. Kandang Tertutup

Tujuan membangun kandang tertutup adalah untuk menyediakan udara yang


sehat bagi ternak (sistem ventilasi yang baik) yaitu udara yang menghadirkan
sebanyak-banyaknya oksigen, dan mengeluarkan sesegera mungkin gas-gas
berbahaya seperti karbondioksida dan amonia. Kelebihan kandang tertutup yaitu
perlindungan ternak terhadap penyakit dapat di maksimalkan dan tenak tidak
terpengaruh dengan lingkungan luar,sedangkan kekuranan kandang tertutup yaitu
biaya pembangunan mahal, biaya oprasional mahal dan ketergantungan dengan
listrik, karena apabila listrik mati maka sistem akan terganggu.
Kandang sapi perah yang baik adalah kandang yang sesuai dan memenuhi
persyaratan kebutuhan dan kesehatan sapi perah. Sapi perah akan berproduksi
maksimal apabila berada dikondisi yang nyaman (comfortable). Bila kedua hal
tersebut tidak terpenuhi akan menyebabkan terjadinya gangguan reproduksi yang
berkaitan pada rendahnya efisiensi reproduksi. Menurut Kusumawati (2005),
persyaratan umum kandang untuk sapi perah adalah sebagai berikut:
1. sirkulasi udara cukup dan mendapat sinar matahari, sehingga kandang tidak
lembab. Kelembaban ideal yang dibutuhkan sapi perah adalah 60--70%;
2. lantai kandang selalu kering;
3. tempat pakan yang lebar sehingga memudahkan sapi dalam mengonsumsi
pakan yang disediakan;
4. adanya tempat air minum agar air selalu tersedia sepanjang hari.
Jenis-jenis kandang sapi perah yaitu:
1. Kandang Sapi Perah Induk
Kandang yang dimaksud yaitu kandang konvensional dengan tipe satu baris.
Ketentuan dan ukuran kandang sapi perah induk adalah panjang dan lebar untuk satu

tempat sapi perah induk, masing-masing adalah 1,8 m dan 1,50 m, panjang tempat
ransum dan air minum selebar tempat sapi perah induk (1,50).
2. Kandang Pedet Sebelum Sapih
Panjang dan lebar kandang masing-masing 2 m dan 1,2 m. tinggi dinding dari
samping kiri, depan, dan belakang adalah 1 m. Tinggi dinding dari samping kiri,
depan, dan belakang adalah 1 m. Kandang pedet ini dibuat berdampingan dengan
kandang sapi perah induk. Setiap ekor sapi perah induk harus ada satu kandang
pedet.
3. Kandang Pedet Setelah Sapi
Kerangka atap dengan kuda-kuda dan bentuk atap jurai atau simetris. Tinggi
atap jika dari genting tingginya 4,5 m untuk daerah rendah menengah dan 4 m untuk
daratan tinggi, jika dari asbes tingginya 5 m untuk daerah dataran rendah dan 4,5
untuk daerah dataran tinggi, dan tinggi plafon emperan berkisar antara 1,75-2,20 m
dengan lebar emperan sekitar 1 m.
4. Kandang Sapi Dewasa
Ukuran kandang 1,75 x 1,2 m, masing-masing dilengkapi tempat makan dan
tempat air minum dengan ukuran masing-masing 80 x 50 cm dan 50 x 40 cm.
Kandang sapi dewasa dapat juga dipakai untuk sapi dara.
5. Kandang Pejantan
Sapi pejantan pada umumnya dikandangkan secara khusus. Ukuran lebih
besar dari pada kandang induk dan konstruksinya lebih kuat.Bentuk yang paling baik
untuk kandang pejantan adalah kandang yang berhalaman atau Loose Box. Lebar dan
panjang untuk kandang pejantan minimal 3 x 4 m dengan ukuran halaman 4 x 6 m.
Tinggi atap hendaknya tidak dijangkau sapi yaitu 2,5 m, tinggi dinding kandang dan
pagar halaman 180 cm atau paling rendah 160 cm. Lebar pintu 150 cm dilengkapi

dengan beberapa kayu penghalang. Pagar halaman terbuat dari tembok setinggi 1 m,
di atasnya dipasang besi pipa dengan diameter 7 cm, disusun dengan jarak 20 cm.
6. Kandang Pedet
Kandang pedet ada 2 macam yaitu individual dan kelompok. Untuk kandang
individual sekat kandang sebaiknya tidak terbuat dari tembok supaya sirkulasi udara
lancar, tinggi sekat + 1 m. Ukuran kandang untuk 0 4 minggu 0,75 x 1,5 m dan
untuk 4 8 minggu 1 x 1,8 m.
Pada kandang kelompok adalah untuk anak sapi yang telah berumur 4 8
minggu dengan ukuran 1 m2/ekor dan pada umur 8 12 minggu 1,5 m2/ekor dengan
dinding setinggi 1 m. Dalam satu kelompok sebaiknya tidak dari 4 ekor. Tiap individu
harus dilengkapi tempat makan dan tempat air minum.
7. Kandang Kawin
Tempat kawin dibuat pada pada bagian yang berhubungan dengan pagar
halaman kandang pejantan yang diatur dengan pintu-pintu agar perkawinan dapat
berlangsung dengan mudah dan cepat. Ukuran kandang kawin; panjang 110 cm, lebar
bagian depan 55 cm, lebar bagian belakang 75 cm, tinggi bagian depan 140 cm dan
tinggi bagian belakang 35 cm. Bahan kandang kawin sebaiknya digunakan balok
berukuran 20 x 20 cm. Tiang balok ditanam ke dalam tanah sedalam 50 60 cm dan
dibeton supaya kokoh.
8. Kandang Isolasi / Kandang Darurat
Kandang ini dibangun sebagai tempat pengobatan sapi yang sakit.Pada tempat
ini sapi yang sakit dapat diobati dengan mudah dan sapi tidak sukar ditangani.
Ukuran kandang yaitu; panjang 150 cm, lebar 55 cm dan tinggi 150 cm. Letaknya

terpisah dengan kandang sapi yang sehat dengan tujuan penyakit tidak mudah
menular.
9. Kandang Melahirkan
Ukurannya 6 x 6 m, perlengkapannya sama dengan kandang sapi dewasa.
Lantainya miring ke arah pintu tiap 1 m turun 1 cm dan dibuat kasar.Sebaiknya
kandang melahirkan ini tidak dekat dengan kandang pedet.Selokan pembuangan
terpisah dari selokan kandang dewasa.Sudut-sudut dinding dibuat melengkung agar
mudah dibersihkan.
Produksi sapi perah dapat optimum apabila kondisi internal dan eksternal sapi
perah baik. Kondisi eksternal berkaitan dengan lingkungan yang baik adalah
pengaruh suhu. Suhu lingkungan yang optimum untuk sapi perah dewasa berkisar
antara 5--21 C, sedangkan kelembaban udara yang baik untuk pemeliharaan sapi
perah adalah sebesar 60% dengan kisaran 50%--75%. Suhu kandang yang terlalu
panas dan kelembaban yang terlalu tinggi dapat berpengaruh buruk pada proses
reproduksi khususnya pada saat pembuahan. Stres panas dapat memperpendek lama
birahi, dan penurunan intensitas birahi menyebabkan waktu inseminasi buatan tidak
tepat, serta ovulasi yang diperpendek menyebabkan tumbuhnya kasus kawin berulang
(Kusumawati, 2005).
D. Metode Pemerahan
Sebelum melakukan pemerahan pada sapi, maka yang perlu diperhatikan dan
harus dilakukan adalah kebersihan kandang seperti kotoran sapi, air kencing, sisa-sisa
rumput baik di dalam kandang maupun disekitar lokasi kandang. Kotoran-kotoran di
atas lantai harus bersih yaitu dengan menyemprotkan air di permukaan lantai kandang

sapi. Kemudian mandikan sapi-sapi tersebut dan disikat agar kotoran yang menempel
pada badan sapi bersih. Tujuan membersihkan lantai dan memandikan sapi adalah
untuk menghindari terjadinya pencemaran terhadap susu, disamping kualitas dan
kesehatan susu akan terjamin (Suheri, 2007).
Lebih lanjut Suheri (2007) menjelaskan bahwa sebelum sapi diperah diberi
makanan terutama makanan penguat atau konsentrat, sedangkan pemberian hijauan
diberikan setelah pemerahan selesai. Usahakan pemberian makanan hijauan jangan
yang mengandung bau seperti daun lobak, kol, silase dan lain sebagainya yang dapat
menyerap bau-bauan, agar baunya tidak terserap oleh susu. Pada pemerahan sapi
perah yang baru pertama kali diperah umumnya akan mengalami sedikit kesukaran.
Lakukan pada sapi perah tersebut dengan penuh kasih sayang, seperti mengelus-elus
badan sapi menjelang pemerahan. Ada beberapa hal penting yang harus dilakukan
sebelum pemerahan antara lain
a. Membersihkan kandang dan peralatan pemerahan
b. Memandikan sapi, terutama pada bangian ambing, bagian belakang disekitar
lipatan paha bagian dalam dengan menggunakan kain lap basah. Kemudian
ambing di lap lagi dengan air hangat (37C) untuk menghindari pencemaran
bakteri dan juga untuk merangsang agar air susu dapat keluar dari kelenjarkelenjar susu . Olesi puting susu dengan vasline agar puting susu tidak luka atau
lecet. Bagi petugas pemerah diusahakan memakai pakaian khusus yang bersih.
Pada waktu pemerahan posisi pemerah harus berada disebelah kanan sapi
sehingga tangan kiri berfungsi sebagai penahan apabila ada tendangan kaki sapi,
sedangkan tangan kanan untuk menjaga ember susu.

c. Untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan sapi terjangkit mastitis atau


radang ambing, maka perlu dilakukan pengetesan pada waktu pemerahan. Oleh
karena itu disediakan wadah atau cangkir (strip cup) yang ditutup dengan kain
hitam. Pemerahan pertama dan kedua air susu ditampung dalam cangkir tersebut
kemudian amati susu tersebut apabila terdapat tanda-tanda susu bercampur
dengan darah atau nanah, maka dipastikan sapi tersebut terjangkit mastitis,
pemerahah selanjutnya harus dihentikan. Bila tidak terjangkit pemerahan dapat
dilanjutkan. Sapi yang diduga terjangkit mastitis hendaknya segera dilakukan
pemisahan dengan sapi-sapi lainnya untuk pengobatan selanjutnya.
d. Lakukan pemerahan dengan baik dan benar agar puting susu sapi tidak terluka
atau lecet. Pemerahan usahakan dengan menggunakan ke lima jari tangan dan
jangan diperah secara dipijit atau ditarik karena putting susu lama kelamaan akan
memenjang. Pemerahan hendaknya harus habis, yang bertujuan untuk
merangsang kelenajr-kelenjar susu untuk memproduksi kembali air susu seara
aktif.
e. Selesai pemerahan, susu segera disaring dengan kain nilon yang halus kemudian
diukur atau ditimbang. Setelah pemerahan selesai ambing puting dibilas dengan
air bersih dan hangat kemudian puting susu dicelup dengan larutan biocid.
E. Produksi dan Kualitas Air Susu
Produktivitas yang dicapai sapi perah lokal masih rendah bila dibandingkan
dengan produktivitas sapi perah iklim sedang. Kemampuan menghasilkan produksi
susu secara rataan masih berkisar antara 8 - 10 liter per hari (2400 - 3000 liter per
laktasi), dengan rataan produksi sedikit lebih tinggi untuk sapi perah di daerah sentra
produksi susu seperti Pangalengan dan Lembang di Jawa Barat, Pujon (Malang) Jawa

Timur dan perusahaan sapi perah, dengan rataan berkisar antara 10 - 13 liter per hari
(3000 - 3600 liter per laktasi) . Meskipun demikian kapasitas produksi sapi perah
lokal mempunyai variasi yang luas clan masih belum banyak digali potensinya
sebagai upaya untuk menghasilkan kelompok sapi perah dengan kemampuan
produksi susu tinggi (Diwyanto, dkk., 2000).
Penurunan kualitas susu segar dalam pengertian jumlah bakteri sudah
melebihi satu juta per ml susu biasanya mulai terjadi setelah susu segar
didistribusikan. Ketika susu segar sampai di pusat pengumpulan, biasanya kandungan
bakterinya sudah sangat meningkat yang dapat melebihi 10 - 20 juta per cc susu
segar. Bila kualitas susu segar ditinjau dari kandungan lemak (fat) dan bahan padatan
tanpa lemak (solid non fat) yang menjadi ketentuan penetapan harga susu oleh IPS,
maka persyaratan standar kadar minimal lemak 3,5 %dan padatan tanpa lemak 7,5 %
(total solid 11 %) relatif dapat dipenuhi oleh peternak. Namun pada beberapa kasus
masih terjadi penolakan susu segar peternak oleh IPS karena tidak memenuhi standar
yang diinginkan (Diwyanto, dkk., 2000).
Kualitas fisik dan kimia susu sapi segar dipengaruhi oleh faktor bangsa sapi
perah, pakan, sistem pemberian pakan, frekuensi pemerahan, metode pemerahan,
perubahan musim dan periode laktasi. Kontaminasi bakteri dimulai setelah susu
keluar dari ambing dan jumlah bakteri akan semakin meningkat pada jalur susu yang
lebih panjang (Utami, dkk., 2010).
F. Pengolahan Susu
Susu sebagai produk utama sapi perah merupakan produk dengan tingkat
sensitifitas yang tinggi sehingga mudah tercemar oleh mikroba pembusuk. Olehnya

itu diperlukan pengolahan dan penanganan air susu. Cara penanganan air susu
sesudah pemerahan adalah sebagai berikut (Saleh, 2004) :
1. Air susu hasil pemerahan harus segera dikeluarkan dari kandang untuk menjaga
jangan sampai susu tersebut berbau sapi atau kandang. Keadaan ini penting
terutama jika keadaan ventilasi kandang tidak baik.
2. Air susu tersebut disaring dengan saringan yang terbuat dari kapas atau kain
putih dan bersih, susu tersebut disaring langsung dalam milk can. Segera setalah
selesai penyaringan milk can tersebut ditutup rapat. Kain penyaring harus dicuci
bersih dan digodok kemudian dijemur. Bila kain penyaring tersebut hendak
dipakai kembali sebaiknya disetrika terlebih dahulu.
3. Tanpa menghiraukan banyaknya kuman yang telah ada, air susu perlu
didinginkan secepat mungkin sesudah pemerahan dan penyaringan sekurangkurangnya pada suhu 4oC7oC selama 2 atau 3 jam. Hal ini dilakukan untuk
mencegah berkembangnya kuman yang terdapat didalam air susu.bila tidak
mempunyai alat pendingin maka pendinginan tersebut dilakukan dengan
menggunakan balok es, dalam hal ini milk can yang telah berisi susu dimasukkan
kedalam bak yang berisi es balok dan ditutup rapat.
Susu selain dapat dikonsumsi dalam bentuk segar, dapat pula diolah terlebih
dahulu menjadi susu olahan. Konsumsi masyarakat terhadap susu olahan lebih
banyak dibandingkan dengan konsumsi susu segar. Pengolahan susu tidak saja
dilakukan oleh IPS tetapi juga industri rumah tangga. Pengolahan susu oleh industri
rumah tangga dapat memberikan nilai tambah yang besar bagi usaha sapi perah

rakyat. Beberapa bentuk olahan susu diuraikan sebagai berikut (Usmiati dan
Abubakar, 2009).
1. Susu Fermentasi
Pengembangan produk susu fermentasi di dunia sebagian besar didasarkan
kepada peran terhadap kesehatan manusia. Aktivitas enzim laktase dari mikroba
starter dalam susu fermentasi menyebabkan laktosa dihidrolisis menjadi glukosa dan
galaktosa yang mudah dicerna dan diserap alat pencernaan. Selain itu, konsistensi
susu fermentasi yang relatif kental dibandingkan dengan susu murni memberi
kesempatan penyerapan nutrisi lebih banyak karena kecepatan melewati saluran
pencernaan lebih lambat.
2. Susu Pasteurisasi dan Susu Sterilisasi
Pasteurisasi susu adalah pemanasan susu di bawah suhu didih untuk
membunuh kuman atau bakteri patogen namun sporanya masih dapat hidup.
Sterilisasi susu adalah proses pengawetan susu yang dilakukan dengan cara
memanaskan susu sampai mencapai suhu di atas titik didih, sehingga bakteri maupun
kuman dan sporanya mati.

METODOLOGI PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat
Praktek lapang Ilmu Ternak Perah pada Hari Sabtu-Minggu 23 24 April
2016 bertempat di Peternakan Rakyat Milik pak Nasruddin Dusun Baba Kelurahan
Cendana Kecamatan Cendana, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktek lapang Ilmu Ternak Perah adalah alat tulis
menulis tranportasi, skop, selang air, milking, mesin pemotong rumput, karpet,
laktodensimeter dan termometer.
Bahan yang digunakan pada praktek lapang Ilmu Ternak Perah adalah kertas
ph, susu segar, hijauan, air, konsentrat, dedak, ampas tahu dan kertas saring.
Metode Praktikum

Metode yang digunakan pada praktek lapang Ilmu Ternak Perah adalah
tinjauan langsung ke kandang lalu melakukan pembersihan kandang, memandikan
sapi, memberikan pakan, memerah susu dan wawancara dengan pemilik peternakan
rakyat (Bapak Nasruddin). Selanjutnya dilakukan uji fisik air susu (uji Ph, BJ air
susu, warna, aroma, dan rasa) serta pengolahan susu menjadi dangke.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Bangsa-Bangsa Sapi Perah
Berdasarkan praktek lapang yang telah dilakukan, maka diketahui pada Usaha
peternakan Rakyat Sapi Perah milik Pak Nasruddin yang terletak di Dusun Baba,
Kelurahan Cendana, Kecamatan Cendana, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan
terdapat beberapa jenis sapi perah, diantaranya Sapi Peranakan Fries Holland
(Friesian Holstein). Sapi FH menjadi bangsa sapi yang mayoritas dipelihara peternak
di Enrekang maupun Sulawesi Selatan secara menyeluruh, hal ini karena jenis sapi ini
mudah beradaptasi dan mudah dalam pemeliharaannya. Hal ini sesuai pendapat
Makin (2011) yang menyatakan bahwa sapi FH mempunyai beberapa keunggulan,
salah satunya yaitu jinak, tidak tahan panas tetapi sapi ini mudah menyesuaikan diri
dengan keadaan lingkungan.

Sapi Peranakan Fries Holland (Friesian Holstein) ini adalah hasil


persilangan antara sapi jawa atau Madura dengan sapi FH. Hasil persilangan tersebut
kini popular dengan sebutan sapi Grati karena banyak diternakkan di Jawa Timur
terutama di daerah Grati.Tanda-tanda sapi Peranakan Fries Hollandmenyerupai sapi
FH, yaitu produksi relative lebih rendah dari pada FH dan badannya pun lebih kecil.
Hal ini sesuai dengan Ako, (2013) yang menyatakan bahwa ciri sapi Peranakan Fries
Holland menyerupai FH yaitu warna belang hitam putih, pada dahi umumnya
terdapat warna putih berbentuk segitiga, kaki bagian bawah dan bulu ekornya
berwarna putih, tanduk pendek serta menjurus kedepan, dan lambat dewasa.
Menurut Makin (2011), ciri-ciri sapi FH yang baik adalah memiliki tubuh luas
ke belakang, sistem dan bentuk perambingan baik, puting simetris, dan efisiensi
pakan tinggi yang dialihkan menjadi produksi susu.
B. Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM)
Potensi sumber daya alam di Dusun Baba Kelurahan Cendana Kecamatan
Cendana Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan yaitu memiliki prospek yang sangat
baik, akan tetapi proses untuk menunjang potensi sumber daya alam dan manusia
masih dalam skala yang kurang efektif, misalnya salah satu komoditas peternakan
yang dikembangkan dengan prinsip keterkaitan antara daerah yaitu sapi perah yang
diusahakan dalam skala peternakan rakyat dengan pola pengusaha yang masih
sebagai sambilan di kabupaten Enrekang.
Permasalahan pola pengusaha peternakan sapi perah dipengaruhi oleh
kurangnya sumber daya manusia atau minimnya pengetahuan yang dimiliki petani
peternak. Hal ini sesuai pendapat Suheri (2007), yang menyatakan bahwa peternakan

rakyat merupakan mayoritas pelaku budidaya, tetapi karakteristik peterna tidak


mengalami banyak perubahan dibandingkan kondisi tahun-tahun sebelumnya, yang
masih dicirikan sebagai pelaku usaha dengan keterbatasan pengetahuan, modal, dan
ketrampilan.
Bahan baku pakan utama dari sumber daya alam yang digunakan pada
peternakan sapi perah milik Pak Nasruddin yang terletak di Dusun Baba, Kelurahan
Cendana, Kecamatan Cendana, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan ini adalah
hijuan segar berupa rumput gajah (Pennisetum purpureum) yang diperoleh dari
padang rumput di sekitar areal peternakan tersebut yang ditanam sendiri. Hijauan
rumput gajah (Pennisetum purpureum) merupakan makanan pokok bagi ternak sapi
perah karena mengandung serat kasar yang tinggi dengan poduksi persatuan luas
yang sangat tinggi.
Kebutuhan rumput segar pada peternakan sapi perah Pak Nasruddin sekitar 4
kg/hari per ekor. Rumput ini dicincang terlebih dahulu, sesudah itu baru diberikan
kepada sapi perah. Rumput gajah memiliki produksi pertahun yang cukup tinggi dan
pada waktu masih muda nilai gizinya cukup tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat
Sanjaya, (2010) yang menyatakan bahwa dari nilai nutrisinya, rumput gajah memiliki
kandungan kadar protein kasar antara 9 10,5 %. Rumput ini baik ditanam pada
ketinggian 0 3.000 m DPL dengan curah hujan 1.500 mm
Akan tetapi selama musim kemarau penyediaan hijauan menjadi kendala
terbesar dalam pemeliharaan sapi perah milik pak Nasruddin. Olehnya itu, untuk
memenuhi kebutuhan pakan diberikan pakan tambahan seperti ampas tahu dan
konsentrat.

Ampas tahu kadang diberikan dan merupakan salah satu pakan tambahan
yang berasal dari sisa hasil pembuatan tahu yang dikombinasikan dengan konsentrat
yang memiliki kandungan energi metabolis yang tinggi.

Hal ini sesuai dengan

pendapat Haryanto (2009) yang menyatakan bahwa ampas tahu merupakan hasil
buangan dari

proses pembuatan tahu yang kaya akan kandungan protein dan

mengandung pro vitamin A yang dapat merubah vitamin A dalam tubuh makhluk
hidup.
Lebih lanjut diungkapkan oleh Rian (2013) yang menyatakan bahwa ampas
tahu yang terbuat kedelai ini memiliki kandungan protein 41,7%, lemak 3,5%, serat
kasar 6,5% dan energi metabolisme 2.240Kcal/kg, sedangkan untuk dedak memiliki
kandungan protein 11,8%, lemak 3,0%, serat kasar 11,2% dan energi metabolisme
1.140 Kcal/kg. Dedak memiliki kandungan energi metabolisme yang tinggi.
Pemberian jumlah pakan setiap ternak disesuaikan berdasarkan umur dari
masing-masing ternak. Hal ini sesuai pendapat Makin (2011), bahwa umur saat
penyapihan tergantung pada waktu yang diperlukan oleh pedet-pedet itu untuk
berkembangnya fungsi rumen dan makan ransum starter sebanyak 0,75

- 1 kg

perhari, untuk sapi dara (heifer) pemberian pakan diberikan sebanyak 1,5 2 kg
setiap hari, sedangkan untuk sapi betina laktasi diberikan kombinasi hijauan dan
konsentrat 1,25 1,8 kg ransum kering untuk tiap 45 kg berat badan. Pemberian
pakan konsentrat untuk sapi betina kering sekitar 1,5 kg konsentrat untuk setiap 100
kg berat badan.
C. Sistem Perkandangan Sapi Perah

Berdasarkan praktek lapang yang telah dilakukan, maka dapat kita ketahui
pada Usaha peternakan Rakyat Sapi Perah milik Pak Nasruddin yang terletak di
Dusun Baba, Kelurahan Cendana, Kecamatan Cendana, Kabupaten Enrekang,
Sulawesi Selatan terlihat memakai sistem kandang terbuka di mana terlihat dinding
bagian bawah kandang terbuat dari batu sedangkan dinding bagian atas terbuka dan
terlihat memakai system kandang kelompok dimana kandang tersebut berfungsi
sebagai tempat tinggal hewan atau binatang peliharaan.
Menurut Kusumawati (2005), kadang koloni atau kandang komunal
merupakan model kandang dalam suatu ruangan kandang ditempatkan beberapa ekor
ternak, secara bebas tanpa diikat.Penggunaan tenaga kerja untuk kandang koloni lebih
efisien dibanding kandang model individu, karena pekerjaan rutin harian adalah
membersihkan tempat pakan, minum dan memberikan pakan. Dalam hal ini satu
orang tenaga kandang mampu menangani sekitar 50 ekor sedangkan untuk kandang
individu sekitar 15 20 ekor. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan
pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda
penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling
bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.
Secara umum, kandang memiliki dua tipe, yaitu individu dan kelompok. Pada
kandang individu, setiap sapi menempati tempatnya sendiri berukuran 2,5 X 1,5 m.
Tipe ini dapat memacu pertumbuhan lebih pesat, karena tidak terjadi kompetisi dalam
mendapatkan pakan dan memiliki ruang gerak terbatas, sehingga energi yang
diperoleh dari pakan digunakan untuk hidup pokok dan produksi daging tidak hilang
karena banyak bergerak. Pada kandang kelompok, bakalan dalam satu periode

penggemukan ditempatkan dalam satu kandang. Satu ekor sapi memerlukan tempat
yang lebih luas daripada kandang individu. Kelemahan yaitu terjadi kompetisi dalam
mendapatkan pakan sehingga sapi yang lebih kuat cenderung cepat tumbuh daripada
yang lemah, karena lebih banyak mendapatkan pakan. Dalam pembangunan kandang
atau perkandangan diperlukan perencanaan yang seksama. Perencanaan tersebut perlu
dipertimbangkan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi dari sebuah bangunan
perkandangan. (Setya, 2008).
a.

Syarat Kandang

- Bahan kandang dari kayu/ bambu serta kuat


- Letak kandang terpisah dari rumah dan jaraknya cukup jauh. Lantai dari
semen/tanah yang dipadatkan, dan harus dibuat lebih tinggi dari tanah sekitarnya.
-

Ventilasi udara dalam kandang harus baik.

Drainase di dalam dan luar kandang harus baik.

b.

Ukuran kandang

Sapi betina dewasa 1,5 X 2 m/ekor

Sapi jantan dewasa 1,8 X 2 m/ekor

Anak sapi 1,5 X 2 m/eko


Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari

jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan
pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda
penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling
bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk

jalan.Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk


tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit (Ako, 2013).
Konstruksi kandang sapi seperti rumah kayu. Atap kandang berbentuk kuncup
dan salah satu/kedua sisinya miring. Lantai kandang dibuat padat, lebih tinggi dari
pada tanah sekelilingnya dan agak miring kearah selokan di luar kandang. Bahan
konstruksi kandang adalah kayu gelondongan/papan yang berasaldari kayu yang kuat.
Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat, tetapi agak terbuka agar sirkulasi udara
didalamnya lancar. Termasuk dalam rangkaian penyediaan pakan sapi adalah air
minum yang bersih. Air minum diberikan secara ad libitum, artinya harus tersedia dan
tidak boleh kehabisan setiap saat. Tempat air minum sebaiknya dibuat permanen
berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi dari pada permukaan lantai. Dengan
demikian kotoran dan air kencing tidak tercampur didalamnya (AAK, 1995).
D. Metode Pemerahan
Berdasarkan hasil praktek lapang yang telah dilakukan diketahui bahwa pada
Usaha peternakan Rakyat Sapi Perah milik Pak Nasruddin yang terletak di Dusun
Baba, Kelurahan Cendana, Kecamatan Cendana, Kabupaten Enrekang, Sulawesi
pemerahan dilakukan secara manual atau dengan tangan. Hal ini sesuai pendapat
Suheri (2007) bahwa pemerahan dilakukan dengan menggunakan ke lima jari tangan
dan jangan diperah secara dipijit atau ditarik karena putting susu lama kelamaan akan
memanjang. Pemerahan hendaknya harus habis, yang bertujuan untuk merangsang
kelenajr-kelenjar susu untuk memproduksi kembali air susu seara aktif.
Sebelum pemerahan, dilakukan beberapa tahapan persipan, mulai dari
pembersihan kandang, pemandian ternak, pemberian pakan, dsb. Hal ini sesuai

pendapat Suheri, (2007), bahwa sebelum melakukan pemerahan pada sapi, maka yang
perlu diperhatikan dan harus dilakukan adalah kebersihan kandang seperti kotoran
sapi, air kencing, sisa-sisa rumput baik di dalam kandang maupun disekitar lokasi
kandang. Kemudian mandikan sapi-sapi tersebut dan disikat agar kotoran yang
menempel pada badan sapi bersih. Tujuan membersihkan lantai dan memandikan sapi
adalah untuk menghindari terjadinya pencemaran terhadap susu, disamping kualitas
dan kesehatan susu akan terjamin.
Pemerahan dilakukan pada pagi hari dan sore hari. Sebelum pemerahan,
puting sapi diolesi margarin sebagai pelicin pada proses pemerahan. Pemerahan
dilakukan menggunakan kelima jari, dengan memerah puting sampai habis secara
berurutan. Hal ini sesuai pendapat

Suheri (2007), yang menjelaskan bahwa

pemerahan usahakan dengan menggunakan ke lima jari tangan dan jangan diperah
secara dipijit atau ditarik karena putting susu lama kelamaan akan memenjang.
Pemerahan hendaknya harus habis, yang bertujuan untuk merangsang kelenajrkelenjar susu untuk memproduksi kembali air susu seara aktif.
E. Produksi dan Kualitas Air Susu
Berdasarkan hasil praktek lapang yang telah dilakukan diketahui bahwa pada
Usaha peternakan Rakyat Sapi Perah milik Pak Nasruddin yang terletak di Dusun
Baba, Kelurahan Cendana, Kecamatan Cendana, Kabupaten Enrekang, Sulawesi
Selatan produksi air susu perhari (pemerahan pagi-sore) yaitu 13 liter. Menurut
Hadiwiyoto, S., (1983) produksi susu tiap ekor sapi telah berlipat dua, yaitu antara
4500 sampai 5400 kg susu perekor/tahun sebagai tingkat produksi yang umum.
Banyak sapi yang istimewa yang dapat menghasilkan 13.500 kg susu/tahun.

Pengujian kualitas susu dillakukan pada Usaha peternakan Rakyat Sapi Perah
milik Pak Nasruddin. Pengujian dilakukan dengan uji sifat fisik susu, dan diperoleh
hasil pengamatan yaitu paramter warna menunjukkan susu murni berwarna putih
kekuningan, beraroma khas susu, rasa khas susu, pH 6, suhu 29 C , Berat Jenis
(BJ) 22 3/10. Hal ini sesuai pendapat Malaka (2010), bahwa warna susu yang baik
adalah putih kekuning-kuningan. Warna putih karena adanya penyebaran butiranbutiran koloid lemak, kalsium kaseinat (dispersi koloid yang tidak tembus cahaya)
sedangkan warna kekuning-kuningan pada susu adalah adanya karoten (berasal dari
pakan yang diberikan) dan riboflavin. Sedangkan jika terjadi perubahan warna pada
susu seperti kebiruan karena adanya penambahan air atau pengurangan lemak. Warna
kemerahan pada susu terjadi karena susu mengandung darah dari sapi penderita
mastitis. Variasi warna ini terjadi karena faktor keturunan disamping juga karena
faktor pakan yang diberikan dan Lemak susu sangat mudah menyerap bau dari
sekitarnya, seperti bau hewan asal susu perah. Susu memiliki bau yang aromatis, hal
ini disebabkan adanya perombakan protein menjadi asam-asam amino. Bau susu akan
lebih nyata jika susu dibiarkan beberapa jam terutama pada suhu kamar. Kandungan
laktosa yang tinggi dan kandungan klorida rendah diduga menyebabkan susu berbau
seperti garam dan Rasa yaitu rasa pahit bila terkontaminasi kuman pembentuk
peptone,rasa lobak bila terkontaminasi bakteri E.coli,rasa sabun bila terkontaminasi
bakteri Bacillus Lactis Saponei,rasa tengik karena kuman asam mentega,serta hanyir
atau amis oleh kuman-kuman lainnya.

Menurut pendapat Haryanto (2009), bahwa air susu mempunyai berat jenis
yang lebih besar daripada air, yaitu umumnya 1.027-1.035 dengan rata-rata 1.031.
Akan tetapi menurut codex susu, BJ air susu adalah 1.028. Codex susu adalah suatu
daftar satuan yang harus dipenuhi air susu sebagai bahan makanan. Daftar ini telah
disepakati para ahli gizi dan kesehatan sedunia, walaupun disetiap negara atau daerah
mempunyai ketentuan-ketentuan tersendiri. Berat jenis harus ditetapkan 3 jam setelah
air susu diperah.
F. Pengolahan Susu
Usaha peternakan Rakyat Sapi Perah milik Pak Nasruddin yang terletak di
Dusun Baba, Kelurahan Cendana, Kecamatan Cendana, Kabupaten Enrekang,
Sulawesi Selatan memliki produksi susu yaitu dalam sehari seekor ternak dapat
menghasilkan 40 liter susu dari 8 ekor sapi betina. Produksi susu ini memiliki nilai
ekonomis yang tinggi karena dilakukan penangan yang baik, seperti pengolahan susu
menjadi dangke dan krupuk dangke yang memiliki nilai tambah. Penggunaan susu
sapi dalam pengolahan dangke harus dilakukan untuk mempertahankan keberadaan
dangke baik sebagai salah satu kekayaan budaya asli Indonesia, maupun sebagai
industri skala rumah tangga yang telah memberikan sumbangan pendapatan, dan
memiliki kandungan nutrisi yang tinggi untuk sebagian masyarakat peternak di
pedesaan Kabupaten Enrekang. Sedangkan krupuk dangke merupakan hasil olahan
susu yang difermentasikan menjadi olahan dangke kemudiaan diolah lagi menjadi
krupuk dangke dengan berbagai rasa seperti rasa original, balado, dan rasa coklat.
Bahan dasar dari kerupuk susu yakni dangke, yang dihasilkan tidak
menggunakan susu sebagai bahan dasar pembuatan kerupuk ini, melainkan dangke

sehingga namanya kerupuk dangke. Hal ini sejalan dengan Girisonta (1995) bahwa
Penggunaan susu sapi dalam pengolahan dangke harus dilakukan dalam rangka
mempertahankan keberadaan dangke baik sebagai salah satu kekayaan budaya asli
Indonesia, maupun sebagai industri skala rumah tangga yang telah memberikan
sumbangan pendapatan untuk sebagian masyarakat peternak di pedesaan Kabupaten
Enrekang.
Menurut Malaka (2010) menambahkan bahwa Bahan dasar dari kerupuk susu
yakni dangke, kerupuk yang dihasilkan tidak menggunakan susu sebagai bahan dasar
pembuatan kerupuk ini, melainkan dangke sehingga namanya kerupuk dangke. untuk
menghasilkan 1 kg krupuk dangke dibutuhkan sekitar 4 - 5 buah dangke. Pembuatan
1 bungkus dangke diperoleh dari susu segar sebanyak 1,5 liter. Proses pembuatan
dangke yaitu: (1) Susu segar dimasak hingga mendidih, (2) Memberi sedikit
tambahan getah papaya (membuat lemak susu mengendap dan memisah dari air
susu), (3) Mengambil endapan susu yang telah terapung di permukaan panci, (4)
Mencetak pada tempurung kelapa, (5) Membungkus dangke yang telah jadi
menggunakan daun pisang, dan (6) Dangke siap untuk dipasarkan. Produk susu yang
satu ini dijual dengan harga Rp. 15.000.
Berbeda dengan pembuatan kerupuk susu. Prosesnya lebih mudah yaitu: (1)
Mencampurkan dangke (matang) dengan tepung beras, (2) Memasukkan adonan
kedalam cetakan krupuk, (3) Digoreng dengan minyak panas, (4) Krupuk susu
dibungkus dengan plastik dan diberi label, dan (5) Krupuk susu siap untuk
dipasarkan. Produk kerupuk susu ini dijual senilai Rp. 5.000 sampai Rp.20.000/
bungkus (Haryanto, 2009).

DAFTAR PUSTAKA

AAK. 1995. Petunjuk Praktis Beternak Sapi Perah. Kanisius, Yogyakarta.


Ako, Ambo. 2013. Ilmu Ternak Perah Daerah Tropis. IPB Press : Bogor
Blakely, J and D.H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan, edisi ke- 4. Gadjah Mada
University Press. Jogjakarta.
Diwyanto, Kusuma I , Anneke A, Tatit S, Nurhasanah, Hadi S. 2000. Pengkajian
sistem budidaya sapi perah untuk meningkatkan produktivitas. Pusat
Penelitian Peternakan. Bogor
Girisonta. 1995. Petunjuk Praktis Beternak Sapi Perah. Kanisius Yogyakarta.
Hadiwiyoto, S., 1983.Pengujian Mutu Susu dan Hasil Olahannya. Penerbit Liberty.
Yogykarta.

Haryanto, 2009. Proses Pembentukan Susu. http://usahaternaksapi.blogspot.com/


2009/12/seri-tips-praktis-03-proses-pembentukan.html. Diakses tanggal 27
April 2016
Kusumawati, Eva. 2005. Sistem Manajemen Perkandangan Sapi Perah di Unit
Pelaksanaan Teknis Daerah, Balai Pengembangan Bibit Pakan Ternak dan
Diagnostik Kehewanan (UptdBpbptdk) Dinas Pertanian Daerah Istimewa
Yogyakarta
Makin, Moch. 2011. Tata Laksana Peternakan Sapi Perah. Graha Ilmu. Yogyakarta
Malaka, Ratmawati. 2010. Pengantar Teknologi Susu. Masagena Press: Makassar.
Prihadi. S. 1996. Tata Laksana Dan produksi ternak Perah. Fakultas Peternakan.
Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Rian. 2013. Laporan Manajemen Ternak Perah. http://jualterpercaya. blogspot.com /
2013/09/laporan-manajemen-ternak-perah.html. Diakses tanggal 27 April
2016
Saleh, Eniza. 2004. Teknologi Pengolahan Susu Dan Hasil Ikutan Ternak. Fakultas
Pertanian Universitas Sumatera Utara.
Sanjaya. 2010. Budidaya rumput gajah. Universitas Udayana. Bandung
Setya, Dema. 2008. Analisis hewan ternak jenis sapi. http://demasetyaajip. blogspot.
com/2008/12/analisis-hewan-ternak-jenis-sapi.html. Diakses tanggal 27
April 2016.
Siregar. S. B. 1993. Manajemen Agribisnis Sapi Perah Yang Ekonomis, Kiat Melipat
Gandakan Keuntungan. Penerbit Pribadi . Bogor.
Suheri, G. 2007. Teknik Pemerahan Dan Penanganan Susu Sapi Perah. Balai
Penelitian Ternak, Ciawi-Bogor
Usmiati, S dan Abubakar. 2009. Teknologi Pengolahan Susu. Balai Besar Penelitian
dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Bogor
Utami, Kartika, B., Lilik, E., Puguh S. 2010. Kajian kualitas susu sapi perah PFH
(studi kasus pada anggota Koperasi Agro Niaga di Kecamatan Jabung
Kabupaten Malang). Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang.
Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan 24 (2): 58 66

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU TERNAK PERAH

OLEH :
NAMA
NIM
KELOMPOK
ASISTEN

: SRI ANGGRAENI ZAINUDDIN


: I111 14 317
:I
: HASMAN

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016