Anda di halaman 1dari 14

Minggu ke 7

1. Kepemimpinan

Kepemimpinan Visioner
Saudara mahasiswa, silahkan baca terlebih dahulu modul 7 Kepemimpinan edisi 2,
kemudian cermatilah materi berikut!
Seorang pemimpin visioner harus bisa menjadi penentu arah, agen perubahan, juru
bicara dan pelatih.
Oleh karena itu seorang pemimpin visioner harus:
1. menyusun arah dan secara personal sepakat untuk menyebarkan kepemimpinan
visioner ke seluruh organisasi;
2. memberdayakan para karyawan dalam bertindak untuk mendengar dan mengawasi
umpan balik;
3. selalu memfokuskan perhatian dalam membentuk organisasi mencapai potensi
terbesarnya.
Selanjutnya,silahkan bacalah materi pada
http://maliqren.wordpress.com/2011/12/23/pemimpin-visioner/
Tugas 3

Coba Anda amati organisasi di sekitar Anda. Kemudian buatlah uraian tentang pola
hubungan pemimpin dengan pengikut/bawahannya!
Anda dapat membuat uraiannya dengan sistimatika pendahuluan, pembahasan dan
penutup.
Selamat mengerjakan tugas!
2. MIP

Inisiasi 7 IPEM 4432


Memasuki Inisiasi ke-7 pada IPEM 4432 Metodologi Ilmu Pemerintahan ini, Tutor
Anda mengharapkan Anda sudah membaca modul 8 IPEM 4432. Kami mengingatkan
bahwa tujuan pembelajaran kita kali ini, adalah Anda diharapkan dapat menjelaskan
model-model MIP sebagai kelanjutan model sebelumnya
Isu-isu di seputar pembelajaran kita adalah belum kelihatan paradigma yang kuat dari
metodologi ilmu pemerintahan sebagaimana sudah diungkapkan pada inisiasi
sebelumnya, namun dengan adanya model-model MIP Ke dalam dan ke luar, Anda
diharapkan dapat memahami bukan hanya bagaimana mengkonstruk ilmu
pemerintahan untuk tujuan penelitian dan analisis; tetapi juga menunjukkan eksistensi
Ilmu Pemerintahan secara akademik melalui metodologinya.

Inisiasi 7
MIP KE DALAM

Model MIP Ke Dalam beranjak pada pola pemikiran untuk mengembangkan


Ilmu Pemerintahan itu sendiri, MIP Ke Dalam terbagi atas 3 generasi.
I.

MIP Ke Dalam Generasi Pertama

Sebenarnya ada tiga sasaran pokok MIP Ke Dalam, yaitu :


1) Mengidentifikasikan dan mengklarifikasi perbedaan antara konsep Ilmu
Pemerintahan dengan konsep ilmu lain (analisis) yang sejenis guna
membentuk dan memelihara disiplin ilmu.
2) Mengkonstruk hubungan antara konsep ilmu pemerintahan dengan konsep
ilmu itu sebagai landasan bagi kerja sama antar ilmu pengetahuan.
3) Metodologi penerapan (penggunaan) ilmu pemerintahan.
MIP Generasi Ke Dalam Generasi Pertama terdiri dari :
A. Model MIP Empat Puluh : Sasaran Kajian Ilmu Pemerintahan Adalah
Peristiwa Kerakyatan (Pemerintahan)
B. Model MIP Empat Puluh Satu: Hubungan Kerakyatan Adalah Peramalan
Pemerintahan
C. Model MIP Empat Puluh Dua: Ramalan Harus Dikondisikan (Model XY dan
Model XYZ)
D. Model MIP Empat Puluh Tiga: Proses Politik VS Proses Pemerintahan.
E. Model MIP Empat Puluh Empat : Semakin Lemah Lingkungan Kerja (Linker),
Semakin Besar Tanggung Jawab Eksekutif
F. Model MIP Empat Puluh Lima : Alternatif Rekayasa Linker Eksekutif
G. Model MIP Empat Puluh Enam : Definisi Ilmu Pemerintahan
Berdasarkan Model MIP Satu Sampai Model MIP Empat Puluh Enam,
dapatlah dirumuskan definisi Ilmu Pemerintahan sebagai berikut :
Pemerintahan adalah ilmu yang mempelajari bekerjanya jabatan
puncak (Eksekutif) unit kerja publik pada level pembuatan

kebijaksanaan, penyusunan peraturan dan pengambilan keputusan di


dalam hubungan kerakyatan.
Implikasi definisi tersebut ialah bidang kajian Ilmu Pemerintahan adalah
peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam Hubungan Kerakyatan. Ini membawah
Ilmu Pemerintahan semakin akrab dengan berbagai aspek kerakyatan yaitu:
Budaya Kerakyatan, Seni Kerakyatan, Bahasa Kerakyatan, Komunikasi
Kerakyatan, Sejarah, Antropologi, Hukum Adat, Tradisi dan lain-lain yang bersifat
kerakyatan.
II.

MIP Ke Dalam Generasi Kedua

MIP Ke Dalam Generasi Kedua adalah alat (tool) untuk mencari, mengidentifikasi,
menemukan jenis, sifat dan bentuk hubungan antara disiplin ilmu pemerintahan
dengan ilmu-ilmu lainnya.
MIP Ke Dalam Generasi Kedua terdiri atas :
A. Model MIP Empat Puluh Tujuh : Ilmu Pengetahuan adalah Sebuah
Masyarakat, yaitu masyarakat Ilmu Pengetahuan The Community of
Science.
B. Model MIP Empat Puluh Delapan : Hubungan antar Disiplin Ilmu
pemerintahan dengan ilmu Lain
III.

MIP Ke Dalam Generasi Ketiga

MIP Ke Dalam Generasi Ketiga adalah alat (tool) untuk mencari, mengidentifikasi
dan menemukan jenis, sifat dan bentuk pengembangan dan penerapan ilmu
Pemerintahan.
MIP Ke Dalam Generasi Ketiga terdiri atas :
A. Model MIP Empat Puluh Sembilan: Metodologi Dikjarlat (pendidikan,
pengajaran dan pelatihan) Ilmu Pemerintahan.
B. Model MIP Lima Puluh: Metodologi Penelitian dan Pengembangan Ilmu
Pemerintahan
TUGAS 3
Bagaimana pendapat anda mengenai proses politik dan proses
pemerintahan di Indonesia?Buat dalam bentuk makalah dimana ada
Pendahuluan, Pembahasan dan Penutup. Selamat Bekerja.
3. Pengantar ilmu pemerintahan

4. REFORMASI BIROKRASI

SEPANJANG sejarahnya birokrasi dipandang sebagai mesin pengaturan publik. Apa


yang diatur dan bagaimana mengaturnya tergantung pada keputusan yang dihasilkan
oleh sistem politik. Akan tetapi, pemikiran tentang demokrasi di waktu lalu-sekitar
pertengahan abad ke-20-menghasilkan pandangan bahwa dalam proses yang berjalan
birokrasi harus terlepas dari campur tangan politik. Birokrasi harus mempunyai
beberapa prinsip dasar, yaitu keteraturan dan universalisme (melayani semua
kelompok secara sama).
Akibatnya, birokrasi ditempatkan sebagai bagian nonresponsif dari institusi publik.
Persoalan daya tanggap (responsiveness) adalah masalah yang harus dibebankan pada
para elite politik. Dalam kerangka yang bersifat manajemen ini, birokrasi sudah
dipandang baik jika menjalankan menerapkan aturan yang sudah ditetapkan.
Akuntabilitas dan transparansi juga didasarkan dari aturan hukum tadi.
Kelemahan yang ada pada model paradigma birokrasi seperti itu terletak pada proses
kerja, kontrol dan daya tanggapnya pada kebutuhan masyarakat. Birokrasi semacam
itu cenderung lambat dan tidak efisien. Kelambanan ini bukan salah pada prinsip rule
of law-nya. Kelambanan merupakan akibat tidak adanya tekanan baik dari politisi
maupun masyarakat. Padahal, peraturan apa pun mencerminkan ada atau tidaknya ada
serta macam tekanan yang ada di masyarakat.
Akuntabilitasnya sangat tergantung pada kesiapan lembaga penegakan hukum. Jika
lembaga penegak hukum tidak peduli atau korup, pelanggaran yang terjadi dalam
birokrasi akan berlarut dan semakin membudaya. Pengaruh pemimpin nasional politik
yang populer hanya bersifat sementara jika tidak dilanjutkan dengan pembaruan
lembaga-lembaga itu.
Karakternya yang terisolasi juga membuat birokrasi semacam itu lepas dari persoalan
dan kebutuhan baru dalam masyarakat. Orientasi idealnya adalah ketertiban
administrasi. Hal-hal baru menyangkut peran negara dan masyarakat, definisi
keadilan dan kesejahteraan, dan hubungan-hubungan berbagai lembaga/organisasi
yang ada di suatu negara tidak dapat menembus sistem birokrasi. Seperti diketahui,
hubungan peran negara, definisi keadilan dan kesejahteraan, serta hubungan
antarlembaga selalu menuntut perubahan.
Misalnya saja, pada era globalisasi peran negara bukan saja mengatur distribusi
ekonomi, melainkan semakin banyak pada memfasilitasi kelompok ekonomi
menghadapi persaingan. Untuk dapat melakukan hal itu dengan baik, negara perlu
mempererat jaringan kerja sama dengan berbagai pelaku bisnis. Pola interaksi dengan
sendirinya harus berubah.
BEBERAPA pemikiran dan model telah dikembangkan untuk mengatasi kelemahankelemahan birokrasi prosedural ini. Kesemuanya membuat birokrasi lebih terbuka
terhadap pengaruh luar, baik dari segi penyerapan kebutuhan, gagasan hingga kontrol.

"Model korporasi" adalah membuat birokrasi berjalan menurut perencanaan dalam


mencapai sasaran-sasaran tertentu. Sebagai contoh, birokrasi yang berada pada satu
departemen pemerintah akan memikirkan sistem birokrasi yang dipandang paling
efektif dalam membantu tercapainya kebijakan tertentu. Dengan demikian, sistem
birokrasi dibentuk oleh tujuannya, misalnya birokrasi untuk penanggulangan
kemiskinan harus sederhana dan mudah disesuaikan dengan kondisi lokal.
Dalam model korporasi, setidaknya dalam hal ini sudah terjadi perubahan pola
interaksi ke arah yang lebih intens antara pengambil kebijakan dan birokrasi. Dalam
hal sumber daya yang dibutuhkan tidak terlalu amat besar karena bertumpu ada
beberapa manajer yang mampu membuat sistem yang khas. Yang sangat dibutuhkan
adalah dukungan politik dari para pemimpin untuk mengatasi resistensi dari dalam.
Model yang kedua adalah "kewiraswastaan". Pada model ini, para pegawai
diharapkan berlaku penuh inisiatif mengembangkan cara-cara dan hubungan kerja
sama yang menguntungkan. Kontrak-kontrak yang terjadi merupakan ukuran kinerja
maupun bentuk kontrol dari tindakan staf. Pengawasan dari atasan dilonggarkan.
Model yang terakhir adalah model jaringan kerja sama. Birokrasi dipandang sebagai
entitas yang dapat mencapai tujuannya jika diletakkan dalam suatu jaringan kerja
sama dengan organisasi-organisasi lain, seperti forum bisnis, lembaga riset, organisasi
sosial, atau antar-organisasi pemerintah. Misalkan saja dalam masalah pembangunan
industri pedesaan, birokrasi jelas membutuhkan kerja sama dengan lembaga-lembaga
yang disebut tadi. Kontrol juga terletak pada jaringan kerja sama itu. Dalam kerja
sama selalu ada kesepakatan tentang aturan main.
Kekuatan dari model jaringan ini, selain merupakan sinergi, juga dipandang
memungkinkan saling pertukaran nilai dan norma dari masing-masing
lembaga/organisasi. Pengaruh positif dipandang lebih mungkin daripada terjadinya
pengaruh negatif karena sesuatu yang baik kecil peluangnya mendapat tekanan untuk
berubah. Dengan kerja sama ini, pengaruh positif yang diperoleh birokrasi, misalnya,
tata cara kerja efisien dari dunia bisnis atau prinsip integritas dari lembaga akademis
atau prinsip "membagi" dari organisasi masyarakat.
Bagi negara berkembang, pandangan birokrasi yang baik -yaitu yang efisien dan
transparan berdasarkan peraturan- masih dianggap sesuatu yang ideal dan menjadi
kerangka utama dari usaha pembaruan birokrasi. Pemerintahan baru di bawah Susilo
Bambang Yudhoyono belum jelas pilihannya. Namun, penulis mengkhawatirkan
pembaruan akan mengambil model prosedural semata karena hampir tidak ditemukan
dalam wacana publik tentang raison detre dari birokrasi.
Padahal, bagi pemerintahan baru, reformasi birokrasi di luar paradigma prosedural
sangat diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan sosial dan ekonomi. Tentu perbaikan
secara prosedural tetap diperlukan. Kedisiplinan, keteraturan, dan ketepatan

merupakan masalah besar dalam birokrasi kita. Pemerintahan baru bukan hanya
berperan melalui kontrol internal terhadap kementeriannya. Karena birokrasi
merupakan cerminan juga dari karakter masyarakatnya, maka untuk jangka panjang
orientasi kultural baru harus dibangun melalui sistem pendidikan.
Model-model birokrasi yang responsif juga harus diadopsi untuk bagian-bagian yang
sesuai. Responsif terhadap apa? Apa yang dijadikan pegangan? Pembaruan birokrasi
mau tak mau harus kembali pada tujuan-tujuan yang ingin dicapai bangsa ini. Tujuan
ekonomi pemerintahan baru adalah peningkatan lapangan kerja melalui peningkatan
investasi, pengembangan industri kecil dan menengah, dan penghapusan korupsi.
Setidaknya dari tujuan ini saja, bisa terlihat bahwa kesemua model birokrasi akan
diperlukan.
Kepastian dan efisiensi akan sangat dibutuhkan untuk tujuan pertama dan ketiga.
Untuk tujuan kedua, efisiensi dan jaringan sangat diperlukan. Pemerintah sebaiknya
jangan menyederhanakan keragaman persoalan yang dihadapi industri. Sebagian dari
industri ini sangat terkait dengan karakter lokalnya. Ini berarti bahwa sebelum
melakukan tindakan, sebaiknya dilakukan studi cepat untuk mengetahui pelayanan
macam apa yang dibutuhkan. Bukan hanya menyangkut birokrasi, tetapi juga
lembaga/organisasi lain yang dibutuhkan keterlibatannya.
Belum lagi jika pertimbangan sosial politik dimasukkan dalam tujuan pemerintahsesuatu yang tak terhindarkan. Persoalan berlatar belakang keragaman kultural,
jender, etnik dan ras, serta sejarah interaksinya dengan negara merupakan isu yang
secara kuat sudah muncul di wilayah publik. Untuk menghadapi ini semua, birokrasi
harus betul-betul diletakkan sebagai aparat pendukung pemerintah dengan segala
penyesuaian yang dibutuhkan.
Sumber: BMP IPEM 4111
Tugas 3
Pada materi inisiasi 7 telah diuraikan tentang birokrasi pemerintahan.

5. Dalam tugas ini Anda diminta untuk mencari kasus yang berhubungan dengan birokrasi
pemerintahan bersumber dari media massa (cetak maupun elektronik). Buatlah ringkasan
dalam satu paragraf (tidak lebih dari 10 baris) dan cantumkan sumbernya.
Selanjutnya, jelaskan kasus tersebut dengan menggunakan konsep birokrasi pemerintahan.
Berikan tanggapan Anda apakah kasus tersebut sudah sesuai konsep birokrasi
pemerintahan. Berikan kesimpulan dan rekomendasi berdasarkan hasil pembahasan Anda.
Tugas disusun dalam 1 s/d 2 halaman, kertas A4, 1.15 spasi, dan jenis huruf Times New
Roman 12. Kirimkan tugas dengan penulisan file: Tugas3_IPEM4111_Nama&NIM_UPBJJUT. Contoh penulisan file: Tugas3_IPEM4111_Hasan0800000_Jambi.
Kirimkan tugas Anda melalui upload file pada kotak dialog di bawah ini. Batas pengiriman
tugas tanggal 19 Oktober2014 pukul 23.55..
Kerjakan tugas sesuai petunjuk yang diberikan. Selamat mengerjakan.

-Tutor
Suyatno

Available from:
Tanggal penyelesaian:

Senin, 13 Oktober 2014, 06:00


Minggu, 19 Oktober 2014, 23:55

Diskusi 7
Forum Diskusi.
Sebagai bahan diskusi, simaklah dua kutipan berita berikut ini.
--Survei PERC: Indonesia Terkorup di Asia Pasifik
PONTIANAK, KOMPAS.com- Indonesia menjadi negara paling korups dari 16 negara di kawasan
Asia Pasifik menurut survei persepsi korupsi 2011 terhadap pelaku bisnis. Survei dilakukan oleh
Political & Economic Risk Consultancy yang berbasis di Hongkong.
Demikian diungkapkan Kepala Satuan Tugas Sosialisasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
Guntur Kusmeiyano, Rabu (22/2/2012), dalam seminar pemberantasan korupsi di Kota Pontianak,
Kalimantan Barat.
"Di mata para pelaku bisnis, Indonesia merupakan negara paling korup di kawasan Asia Pasifik. Ini
tentu berkaitan dengan kinerja birokrasi, sehingga persoalannya tidak akan selesai kalau hanya
mengandalkan penindakan. Ini harus diatasi dengan mulai membangun komitmen," kata Guntur.
Guntur menambahkan, di tingkat internasional, indeks persepsi korupsi Indonesia 1,9 dengan indeks
10. "Dengan angka sekecil itu, di mata dunia, Indonesia itu sejajar dengan negara-negara baru yang
sampai hari ini masih dililit persoalan peperangan. Inilah dampak parahnya korupsi di Indonesia," kata
Guntur.
Sumber: Kompas.com, Rabu, 22 Februari 2012
--Reformasi Birokrasi Kemenkeu Dinilai Gagal
TEMPO.CO, Jakarta - Reformasi birokrasi yang dilakukan Kementerian Keuangan dinilai gagal.
Kasus pajak yang kini menjerat tersangka dugaan korupsi di Direktorat Jenderal Pajak, Dhana
Widyatmika, dinilai menjadi indikator kegagalan tersebut.
Wasekjen Transparansi International Indonesia Luky Djani menyatakan proses reformasi birokrasi
yang sudah dijalankan sejak tahun 2008 belum menyentuh akar permasalahannya.
"Upaya pembenahan di Direktorat Pajak serta Bea dan Cukai seperti mengalami kemunduran,
reformasi birokrasi mendadak mengkhawatirkan," katanya dalam diskusi polemik bertema "Pembajak
Pajak" di Warung Daun Cikini, Sabtu, 3 Maret 2012.
Menurut dia, upaya yang dilakukan untuk reformasi birokrasi belum menyentuh berbagai pihak.
"Belum sampai ke masalah yang utama, sudah masuk dalam sistem baru, tetapi belum meredam
penyimpangan yang terjadi," ujarnya.
Bagi Luky, upaya reformasi birokrasi yang dijalankan masih bersifat konvensional. "Sehingga tidak
mampu membendung kasus korupsi yang sudah terbangun dengan logika dan norma berbeda,"
ujarnya.

Anggota Komisi Keuangan dan Perbankan Dewan Perwakilan Rakyat, Nusron Wahid, sependapat
dengan Luky. Dia menambahkan, sudah saatnya juga muncul kesadaran dari para wajib pajak untuk
memenuhi kewajibannya. "Selain penegakan hukum yang belum berjalan, kesadaran dari para wajib
pajak juga masih kurang," ujarnya.
Sumber: Tempo.co, Senin,15 April 2013
--Berdasarkan wacana di atas, silakan diskusikan hambatan-hambatan dalam proses reformasi
birokrasi.

4. pengantar ilmu politik

13 Oktober - 19 Oktober
INISIASI 7: BIROKRASI
Pada materi inisiasi sebelumnya telah dibahas tentang partai politik dan keterkaitannya
dengan partisipasi politik. Dilanjutkan dengan pembahasan partai politik sebagai
lembaga legislatif. Pada materi inisiasi 7 dan 8 akan dibahas tentang birokrasi dan
reformasi birokrasi serta konsep kepemimpinan. Anda dapat melakukan browsing di
internet untuk mendapatkan tambahan materi tentang birokrasi. Beberapa sumber akan
saya bantu carikan.
Presiden SBY meluncur twitter, katanya agar dekat dengan rakyat. Berita ini penting
kita simak karena presiden adalah pucuk pimpinan birokrasi Indonesia sampai dengan
tahun pemilu 2014. Dalam perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, maka
penggunaan media sosial sudah lumrah diterapkan, terutama di negara2 maju. Yang
menarik dari penggunaan media sosial seperti twitter adalah dalam menyampaikan
pesan kepada presiden, yaitu dengan keterbatasan karakter huruf yang dapat
digunakan (40 karakter) maka bahasa formal dan rigid diabaikan, yang muncul adalah
bahasa lugas dan mudah-mudahan komunikasi 2 (dua) arah ini tidak berujung pada
mis-komunikasi.
Selain itu lembaga pemerintahan pusat dan pemerintahan daerah sudah lama meluncurkan
website yang berisi informasi/data tentang masing2 lembaga yang dapat diakses publik.
Beberapa pelayanan publik sudah dapat diakses secara online(akan dibahas pada Inisiasi 8),
misalnya dalam pelayanan pembuatan paspor. Birokrasi adalah alat/agen pelaksana kebijakan
badan eksekutif. Birokrasi adalah sekumpulan jabatan dan tugas yang terorganisasi secara
formal, yang membantu tugas pemerintah dan menerima gaji dari Negara (Modul 7, hal 7.5).
Selanjutnya tentang konsep, pengertian dan keterkaitan dengan sistem pemerintahan suatu
Negara dapat Anda baca pada modul 7.
Bagaimana sistem birokrasi di Indonesia? Birokrasi di Indonesia memang merupakan warisan
sistem birokrasi kolonial Hindia Belanda yang dikenal dengan pangreh praja. Dalam
perjalanan sejarah birokrasi pada masa Orde Baru tidak berbeda dengan masa kolonial, yaitu
birokrasi merupakan alat kekuasaan penguasa yang jauh dari praktek aparatur yang
professional dan kompeten. Pada masa kolonial birokrat direkrut dari kalangan priyayi yang
memiliki status sosial yang lebih tinggi di banding dari masyarakat yang lain. Proses
rekrutmen pada masa kolonial mirip pula pada masa Orde Baru yaitu proses rekrutmen lebih

berasal dari kader-kader partai mayoritas GOLKAR, militer dan kaum teknokrat yang
berafiliasi dengan partai mayoritas Golkar. Proses rekrutmen yang tidak terbuka ini
memunculkan penyakit birokrasi pemerintahan yang paternalistik dan sentralistik yang
tergambar dalam praktek2 feodalisme. Sudah banyak dibahas tentang kelemahan praktik
penyelenggaraan pemerintahan (birokrasi) di Indonesia, di antaranya adalah dalam
menjalankan tugas2nya selalu minta pengarahan dari atasan; loyalitas pada atasan bukan pada
institusi (muncul istilah ABS asal bapak senang); tidak berorientasi pada prestasi dan
kinerja; praktek ekonomi berbiaya tinggi yang berakibat pada tidak efisien dan tidak efektif
dalam menjalankan pemerintahan; sistem rekrutmen yang tidak berdasarkan merit sistem
berakibat pada membengkaknya jumlah pegawai yang tidak kompeten. Akibat dari gambaran
patologi birokrasi ini maka muncul birokrat yang korup.
Pada era reformasi saat ini wacana good governance dalam praktik birokrasi disinergikan
dengan membentuk Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
(Kemenpan & RB) yang diharapkan meminimalkan patologi birokrasi yang telah disebut di
atas. Langkah awal adalah dengan membentuk lembaga-lembaga negara yang mandiri yang
tujuan utama adalah pemberantasan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Caranya dengan
restrukturisasi birokrasi dan memperkenalkan mekanisme birokrasi yang transparan dan
akuntabel, proses rekrutmen berdasarkan merit sistem dan dilakukan dengan sistem terbuka
secara online. Ini adalah sebagian pekerjaan restrukturisasi birokrasi dan masih banyak lagi
yang harus dilaksanakan untuk memaksimalkan pelayanan publik dan meminimalkan patologi
birokrasi.
5. Pengantar sosiologi

Pada inisiasi 7 akan dibahas tentang institusi sosial yang terdapat pada modul 7 .
Diharapkan Anda sudah membaca materi tersebut terlebih dahulu.
Institusi sosial berkaitan erat dengan upaya individu untuk memenuhi kebutuhannya,
di mana untuk itu individu berusaha membentuk dan mengembangkan serangkaian
hubungan sosial dengan individu lainnya. Serangkaian hubungan sosial tersebut
terlaksana menurut pola-pola tertentu. Pola resmi dari suatu hubungan sosial ini
terjadi di dalam suatu sistem yang disebut dengan sistem institusi sosial
institusi sosial ini bersifat dinamis. Institusi sosial yang ada di masyarakat bisa hilang
atau bertambah sesuai dengan perkembangan kebutuhan yang ada di masyarakat. Bisa
terjadi pengalihan fungsi dari institusi sosial yang satu pada institusi sosial lainnya.
Pengalihan fungsi ini terjadi apabila:
institusi sosial tersebut tidak lagi berhasil memenuhi kebutuhan yang harus
diberikan,
dua atau lebih institusi sosial mampu memenuhi suatu kebutuhan tertentu, tetapi
tetap ada salah satu di antara institusi-institusi sosial tersebut yang mempunyai
kemampuan paling tinggi
Institusi sosial terbentuk terutama untuk memenuhi satu masalah/kebutuhan pokok
dari kehidupan sosial, tetapi institusi sosial memberi sumbangan yang besar bagi
kehidupan masyarakat. Institusi sosial merupakan unsur-unsur utama yang
membentuk masyarakat. Ternyata terdapat unsur persaingan yang ketat di antara

institusi-institusi sosial tersebut. Hal ini dikarenakan adanya fungsi yang dapat
dilakukan oleh beberapa institusi sosial, sehingga institusi-institusi sosial tersebut
akan saling bersaing dalam melaksanakan fungsi tersebut.
Pada umumnya institusi sosial memiliki banyak karakteristik, tetapi terdapat tiga
karakteristik pokok yaitu simbol kebudayaan, tata krama perilaku, dan ideologi.
TUGAS 3
1. Jelaskan bagaimana kontrol di masyarakat terhadap kegiatan "kesenian" yang dianggap
tidak sesuai dengan norma masyarakat. Berikanlah contoh dan penjelasan saudara dengan
menggunakan salah satu perspektif sosiologi!
2. Berikan satu contoh dari perilaku menyimpang dan jelaskan alasan Anda
mengkategorikan perilaku tersebut sebagai menyimpang secara sosiologis tentunya!
Contoh tentunya jangan sama dengan yang dimodul yah.
Silahkan mengirimkan jawaban Tugas 3 pada menu "upload" yang tersedia.
Selamat mengerjakan
DISKUSI 7
Saudara mahasiswa, di era kecanggihan teknologi informasi seperti sekarang ini, ada
sebagian pendapat yang mengatakan bahwa masyarakat tidak bisa lagi melakukan
fungsi kontrol sosial kepada individu. Terhadap kasus di bawah, ,bagaimana menurut
Anda dan bagaimana peran pers sebagai salah satu institusi sosial di masyarakat dalam
melakukan fungsinya untuk melakukan kontrol sosial. Apakah yang dilakukan oleh
pers sudah tepat ?
Berikan tanggapan Anda.
PERAN PERS SEBAGAI FUNGSI KONTROL SOSIAL
Menurut Undang-Undang Pers Nomer 40 Tahun 1999. Dinyatakan bahwa pers merupakan
lembaga sosial dan wahana kominukasi massa yang melakasanakan kegiatan jurnalistik.
Sebagai pelaku media informasi, selain memiliki fungsi pendidikan dan fungsi hiburan, pers
juga memiliki fungsi control sosial. Dalam perannya sebagai fungsi pendidikan, pers memuat
tulisan-tulisan yang mengandung pengetahuan dan wawasannya. Sebagai fungsi hiburan pers
juga memuat hal-hal yang bersifat hiburan untuk mengimbangi berita-berita barat (hard
news ) dan artikel-artikel yang berbobot.
Berbentuk cerita pendek, cerita bersambung, cerita bergambar, teka-teki silang,pojok, dan
kalikatur. Lalu apa peran pers dalam fungsi control sosial ?
Setidaknya ada empat fungsi pers sebagai control sosial , yang terkandung makna demokratis,
didalamnya terdapat unsure-unsur sebagai berikut : (1) social participation (keikutsertaan
rakyat dalam pemerintahan), social responsibility (pertanggungjawaban pemerintah terhadap

rakyat), social support (dukungan rakyat terhadap pemerintah), dan social control (control
masyarakat terhadap tindakan-tindakan pemerintah.
Dalam perannya sebagai control sosial, kondisi pers di Indonesia memang mengalami pasang
surut. Hal ini sangat tergantung pada kepemimpinan pemerintah. Pada masa Orde baru ,
misalnya, peran sosial pers ini hampir-hampir tidak tampak. Hal ini disebabkan pemerintah
tidak mau borok-boroknya diketahui publik. Dalam hal inim pers hanya berperan sebagai
media pendidikan dan media hiburan , atau bahkan harus menjadi corong pemerintah untuk
memberikan hal-hal positif yang telah dilakukan pemerintah , seperti keberhasilan didalam
pembangunan , tetapi tidak boleh diberitakan kecurangan pemerintah , atau sekandal oknum
pejawab pemerintah. Ketika itu , meski banyak oknum pemerintah yang memiliki rekening
gendut, memiliki harta berlimpah, memiliki kebiasaan buruk, hampir tidak ada
pemberitaannya di media-media cetak kita. Kita tentu masih ingat, bagaimana seorang
wartawan dari Yogyakarta , yang berusaha mempubikasikan kasus korupsi diwilayahnya,
dihabisi dengan cara mengenaskan.
Pada tahun 1999, memasiki era reformasi , ketika kran pres sebagai kontrol sosial menjadi
terbuka lebar. Bahkan, ketika itu seakan-akan peran pers sebagai kontrol masyarakat seperti
Lepas kontrol . Pers menjadi momok bagi oknum pejabat pemerintah. Banyak wartawan
yang berkeliaran dikantor-kantor pemerintah.
Bahkan banyak wartawan yang hanya bermodalkan surat kabar yang hanya dicetak sekali
saja. Kita tentu tidak menginginkan salah satu peran pers saja yang menonjol, tapi kita
mengharapkan adanya peran yang seimbang , antara fungsi sebagai kontrol sosial yang lebih
cenderung memberikan borok-borok oknum pemerintah atau sebaliknya pers yang hanya
berfungsi mengharumkan nama pemerintah.
Artinya , pemberitaan menggunaan system reward and punishment, baik dan buruk
diberitakan untuk menjaga keseimbangan. Harapannya , ketika kebaikan atau prestasi
disampaikan , maka banyak orang yang akan mengikuti jejaknya , sebaliknya ketika sebuah
kejahatan diberitakan dan pelakunya mendapatkan hukuman setimpal sesuai perbuatannya,
maka diharapkan masyarakat atau oknum pejabat publik menjadi takut melakukan tindakan
kejahatan, seperti korupsi, maksiat atau lainnya.
Pada masa reformasi ini , meskipunpers telah memiliki kebebasan berpartisipasi dalam peran
dan fungsinya sebagai kontrol sosial , ternyata masih banyak oknum pemerintah atau
pejabat Negara yang terkandung kasus korupsi. Bahkan Negara kita termasuk Negara yang
masuk lima besar Negara yang paling korup. Kalau kita cermati , dimulai dari anggaran
itu disusun oleh Banggar DPR sudah tercium aroma korupsi . Sudah dapat dipatikan , hal itu
akan terus berlanjut ke tahap-tahap berikutnya.
Para pelaku korupsi telah memahami bahwa pers merupakan bencana bagi mereka, maka
akan lebih berhati-hati di dalam melakukan rekayasa tindakan korupsi , sehingga mereka
akan melakukan transaksi secara lebih canggih lagi. Oleh karena itu, insane pers pun harus
memiliki strategi yang lebih canggih lagi, sehingga mampu membongkar banyak kasus
kecurangan oknum pejabat publik dalam kapasitasnya sebagai wartawan.
Kebijakan pemerintah dengan menjalinkan kewenangan dari pusat ke daerah, juga
telah banyak membuat raja-raja kecil didearah yang menjadi lebih leluasa , dan kemudian
terjerat kasus korupsi .

Mencengangkan dari 32 bupati/walikota hampir setengahnya tergantung korupsi.


Demikian halnya, banyak gubernur yang mengakhiri masa purna baktinya dibalik terali besi.
Kasus lainnya, didunia pendidikan misalnya, dengan pemindahan urusan keuangan
dari Dinas ke rekening kepala sekolah , juga ada indikasi terjadinya penyalahgunaan dana di
tingkat oknum pejabat sekolah. Dana BOS yang masuk kesekolah , dapat juga diakalinoleh
kepala sekolah yang tidak amanah , sehingga dana dikelola untuk kepentingan pribadinya.
Untuk membantu pemerintah didalam mengawasi penggunaan uang Negara , dalam
kapasitasnya insan pers dengan peran kontrol sosial , maka insan pers diharapkan berperan
lebih aktif lagi , dengan meningkatkan metode, mempelajari berbagai hal yang berkaitan
dengan aliran dana , kebijakan pemerintah, atau lainnya, sehingga insan pers menjadi melek
terhadap segala aturan pemerintah , sehingga dapat menjadi bagian dalam partisipasinya
sebagai fungsi kontrol sosial , baik memberikan kebaikan sebagai reward maupun
membongkar borok-borok oknum pemerintah sebagai punishment , sehingga pers memainkan
peran sehingga seimbang.(Andi SN)
6Top of Form

6. pengantar statistik sosial

Inisiasi 7
Hal-hal Penting Yang Perlu Anda Ketahui tentang pengujian hipotesis satu sampel
Saudara, pengujian hipotesis satu sampel untuk kategori non-parametrik dapat
dibedakan berdasarkan skala pengukurannya.
1. Apabila uji statistik satu sampel dengan skala ordinal maka dapat menggunakan
"Run Test". Pengujian dilakukan dengan cara mengukur keacakan populasi yang
didasarkan pada data sampel. pengamatan dilakukan terhadap sampel dengan cara
mengukur banyaknya "run" dalam satu kejadian. "run" diartikan sebagai
perubahan peristiwa yang terjadi.
2. Apabila variabel yang digunakan berskala nominal dan jumlah sampelnya
besar, maka uji statistik yang dapat digunakan adalah Chi-Square of Goodness of
Fit. Apabila pengujian dilakukan terhadap satu sampel mengenai satu variabel
yang memiliki dua kategori maka uji yang paling tepat adalah uji goodness of fit
of binomial. Uji binomial ini digunakan jika skala variabelnya adalah nominal
dengan jumlah sampel yang kecil.
Tugas ke-3
Jawablah soal-soal berikut ini
1. Kepala sekolah SMU Bhineka membuat aturan bahwa para siswa tidak boleh bolos
lebih dari 3 kali dalam sebulan. Selama pengamatan 30 hari ternyata angka bolos
siswa masih tinggi, yakni 5 kali dengan standar deviasi 4. Dengan menggunakan taraf
signifikansi 5%, apakah target kepala sekolah tercapai?
2. Seorang Pimpinan Universitas Terbuka mengambil kebijakan untuk memberikan
diskon terhadap harga buku materi pokok (BMP). Harga rata-rata BMP sebesar Rp 54

ribu. Setelah kebijakan diberlakukan selanjutnya diambil sampel secara acak terhadap
16 jenis BMP dan ternyata harga rata-ratanya mencapai Rp 30 ribu dengan standar
deviasi Rp 24 ribu. Apakah penurunan harga tersebut berbeda nyata dengan harga
sebelumnya pada taraf signifikansi 5% sehingga cukup berarti bagi mahasiswa UT?
Petunjuk Menjawab Soal

Sebelum menjawab pertanyaan setiap soal, uraikan tiap soal ke dalam langkahlangkah uji hipotesis, seperti (1) menyusun hipotesis; (2) memilih uji statistik yang
sesuai; (3) menentukan taraf signifikansi; (4) melakukan perhitungan; (5) mengambil
keputusan atau kesimpulan.

Perhatikan apakah soal menuntut perhitungan uji statistik satu sisi atau dua sisi.

Pedoman mencari nilai tabel Z dan tabel t dapat diunduh (download) pada inisiasi
sebelumnya.

Forum Diskusi 7
Saudara-saudara mahasiswa, setelah Anda mempelajari terlebih dahulu modul 8 tentang uji
statistik hipotesis, dan menyimak materi inisiasi 7. silahkan Anda Jawab pertanyaan berikut ini.
1. Jelaskan perbedaan antara uji hipotesis dan uji statistik?
2. Jelaskan elemen-elemen uji hipotesis?
Anda juga diharapkan menanggapi jawaban dari mahasiswa lainnya sehingga terjadi interaksi
dan diskusi.
Selamat bekerja
Tutor
7. SISPEMDES

Mahasiswa Peserta Tutorial Online (Tuton) Matakuliah Sistem


Pemerintahan Desa dimana pun Anda berada...
Selamat Datang Pada Diskusi 6 Tuton MK Sistem Pemerintahan Desa
Pada Diskusi ke-6 ini kita akan membahas tentang pengawasan
pemerintahan desa. Untuk itu, coba Anda beri ulasan singkat tentang:
1. Bagaimana pengertian dari pengawasan pada pemerintahan desa
berdasarlkan UU No 32 tahun 2004?
2. Bagaimana mekanisme pengawasan pada pemerintahan desa?
3. Hambatan apa saja yang mungkin terjadi dalam pengawasan
pemerintahan desa?
Selamat Berdiskusi.

8. Sispolindo
BADAN EKSEKUTIF DAN BIROKRASI
Walaupun pada masa Orde Baru, secara formal birokrasi netral terhadap politik
dan mendukung kebijakan pemerintah; akan tetapi melalui KORPRI sebagai
wadah PNS, pemerintah yang identik dengan Golkar memobilisasi para PNS.

Bahkan birokrasi merupakan salah satu pilar utama penyangga Golkar, di samping
keluarga besar ABRI dan Golkar (kelompok fungsional). Tiga pilar utama ini lebih
dikenal dengan jalur ABG (ABRI-Birokrasi-Golkar).
Sejak pemerintahan Orde Baru runtuh, maka Golkar sebagai partai terbesar yang
identik dengan pemerintah dianggap yang paling bertanggung jawab terhadap
persoalan pembangunan. Oleh karena itu untuk menjaga netralitas birokrasi
dikeluarkan PP No. 5/1999 jo. PP No. 12/1999 tentang PNS yang menjadi anggota
partai politik. Dengan demikian mulai Pemilu 1999 setiap PNS dijamin
kebebasannya untuk menggunakan hak pilihnya.
Diskusi 7

Bagaimana pendapat Anda tentang Badan eksekutif dan birokrasi


dewasa ini! Kaitkan dengan teori birokrasi Weber !
Tugas 3
Jelaskan apakah militer yang profesional
seperti di AS bisa dibentuk di Indonesia?
Anda harus
menjawabnya dalam bentuk makalah dengan ketentuan:
1. Pont time new
roman, 12, spasi 1.5 jumlah halaman 8-10 hal.
2. Makalah terdiri
dari 3 Bab, yaitu: Bab I Pendahuluan (latar belakang dan perumusan masalah),
Bab II Rumusan dan Pembahasan (Di sini mohon kaitkan dengan Teori yang Anda
gunakan, dan tulislah sumber referensinya), Bab 3 Kesimpulan dan Saran; serta
Daftar Pustaka.
3. Penulisan
makalah hendaknya memperhatikan komposisi halaman, umumnya 60-75% ada di Bab 2.
4. Jangan lupa
cantumkan nama dan NIM, serta Judul Tugas pada halaman depan tugas.
4. Mohon ketentuan
ini diperhatikan.
Terimakasih.