Anda di halaman 1dari 43

LAPORAN

PENELITIAN TINDAKAN KELAS


PENERAPAN METODE PEMECAHAN MASALAH UNTUK MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
KELAS VI SDN 05 PONDOK SUGUH
Di Ajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mata Kuliah
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) IDIK 4008

DISUSUN OLEH

ARYANI
NIM 824492488
SEMESTER VI ( Enam )
KELAS B

KEMENTRIAN RISET DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS TERBUKA
UPBJJ-UT BENGKULU
POKJAR IPUH
2016.1

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
PADA SD NEGERI 05 PONDOK SUGUH
KABUPATEN MUKOMUKO
NAMA

: ARYANI

NIM

: 824492488

PROGRAM STUDI

: S.1 PGSD

POKJAR

: IPUH

DIKETAHUI DAN DISAHAN


OLEH

Air Hitam, Mei 2016


Ka. SD N 05 Pondok Suguh

Supervisor 1

EVI RISYANTI,S.Pd.SD

Drs. ZANLAILI,M.Pd

NIP.196908182001032001

NIP.

Mengetahui ;
Kepala UPBJJ-UT Bengkulu

Dr.H Sugilar,M.Pd
NIP. 1957050319870310002

ABSTRAK
PENERAPAN METODE PEMECAHAN MASALAH UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA KELAS VI SDN 05 PONDOK SUGUH, Penelitian ini

dilatar belakangi oleh kesulitan guru dalam pembelajaran matematika. Kurangnya


kemampuan guru dalam merancang dan menerapkan metode, menjadi kendala dalam
keberhasilan anak dalam proses belajar matematika. Penelitian ini dilakukan untuk
meningkatkan kinerja guru dalam mengelola pembelajaran matematika dengan
menggunakan Metode Pemecahan Masalah. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk
mengetahui : 1) Hasil belajar siswa dalam menyelesaikan soal cerita materi pokok
perbandingan dan skala sebelum menggunakan metode pemecahan masalah, 2) Aktivitas
siswa selama proses pembelajaran pada pembelajaran matematika dengan menerapkan
metode pemecahan masalah, 3) Hasil belajar siswa dalam menyelesaikan soal cerita
materi pokok perbandingan dan skala setelah menggunakan metode pemecahan masalah.
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas ( Classroom
Action Research ), proses penelitian dilakukan sebanyak dua siklus yang sebelumnya
melakukan tindakan tahap pra siklus, setiap siklusnya meliputi 4 tahap yaitu : 1) tahap
perencanaan, 2) tahap pelaksanaan, 3) tahap observasi, 4) tahap refleksi.
Hasil yang diperoleh dari pelaksanaan penelitian terlihat adanya peningkatan, ini
terlihat dari hasil jawaban siswa pada lembar kerja siswa dan terjadinya peningkatan
dalam keaktifan siswa dalam hal tanya jawab dikelas dan cara berpikirnya lebih aktif dan
kritis. Demikian juga hasil belajar dari setiap tindakan menunjukan peningkatan, yakni
nilai rata-rata tes pada tindakan pertama adalah 5,38 dan nilai rata-rata tes tindakan kedua
6,61 sedangkan pada tahap pra siklus nilai rata-ratnya adalah 4,67. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode pemecahan masalah pada pembelajaran
matematika di Sekolah Dasar berdasarkan hasil penelitian ternyata dapat meningkatkan

hasil belajar matematika dan seyogyanya para guru dapat mencoba menerapkan metode
ini agar siswa aktif dan termotivasi dalam belajar matematika.

KATA PENGANTAR

Puji Syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat
dan rahmat-Nyalah, saya dapat menyusun dan menyelesaikan laporan untuk mata kuliah
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) PENERAPAN METODE PEMECAHAN MASALAH
UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN
MATEMATIKA KELAS VI SDN 05 PONDOK SUGUH. Adapun pembuatan laporan ini
guna memenuhi kewajiban dalam mata kuliah tersebut serta mendidik mahasiswa
khususnya agar kemampuan dalam hal merencanakan dan melaksanakan pembelajaran
yang baik dan terprogram dapat tercapai. Hal tersebut berpengaruh terhadap kompetensi
seorang guru/calon guru yang nantinya akan mendidik anak bangsa menjadi orang yang
terdidik dan berpendidikan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang
telah membantu dan terlibat dalam pembuatan laporan ini khususnya kepada
1. Bapak Dr. H Sugilar,M.Pd selaku Kepala UPBJJ-UT Bengkulu
2. Ibu Drs. Zanlaili,M.Pd selaku Supervisor 1
3. Ibu Evi Risyanti,S.Pd.SD selaku Kepala SD Negeri 05 Pondok Suguh
4. Seluruh dewan Guru di SD Negeri 05 Pondok Suguh
5. Seluruh Siswa Dan Siswi SD Negeri 05 Pondok Suguh
6. Ayah dan ibu yang selalu memberi dukungan dan doa restu

7. Semua teman-teman seperjuangan


8. Pengelola UPBJJ-UT Pokjar Ipuh.

Saya menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna dan banyak memiliki
kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari berbagai pihak yang
membaca laporan ini demi perbaikan untuk dimasa yang akan datang.

Air Hitam, Mei 2016

ARYANI
NIM. 824492488

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Matematika mempunyai peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Banyak
contoh yang menunjukan peranan ilmu matematika dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu
matematika mempunyai sumbangan yang cukup besar dalam pembentukan manusia
unggul karena salah satu kriteria manusia unggul adalah manusia yang dapat
menggunakan nalarnya untuk kemajuan umat manusia. Kemajuan teknologi yang
merubah dunia semakin canggih dan praktis dalam segala kehidupan adalah sumbangsih
ilmu matematika.
Dalam menghadapi kehidupan ini kita sering dihadapkan kepada suatu
permasalahan sehingga kita dituntut untuk menyelesaikannya. Ilmu matematika tumbuh
dan berkembang berdasarkan kebutuhan manusia dalam menghadapi permasalahan hidup.
Sikap positif yang harus ditumbuhkan dalam menghadapi permasalahan adalah berani

menerima tantangan, mau mencoba menyelesaikannya, tidak lekas menyerah dan


terampil mengaplikasikan pengetahuan dan pemahaman matematika dalam kehidupan
sehari-hari.
Pentingnya belajar matematika tidak lepas dari perannya dalam segala jenis
kehidupan. Seperti diungkapkan dalam GBPP (2004:11) bahwa: Mempersiapkan siswa
agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan seharihari dan dalam mempelajari ilmu pengetahuan. Agar tujuan pembelajaran matematika
berhasil secara optimal seorang guru dituntut benar-benar profesional dalam arti guru
dapat menguasai semua materi yang akan disampaikan dan penggunaan metode dalam
kegiatan pembelajaran guna meningkatkan hasil peserta didik sebab guru di sekolah dasar
merupakan guru kelasdalam arti setiap pelajaran yang akan diajarkan kepada peserta
didik harus benar-benar dikuasai oleh guru.
Mata pelajaran matematika adalah salah satu bidang studi yang dipelajari di
sekolah dasar dari kelas I sampai dengan kelas VI. Pada pembelajaran matematika di
SDN 05 Pondok Suguh di kelas VI sering mengalami hambatan dan kesulitan terutama
dalam pencapaian hasil belajar yang diharapkan. Hambatan dan kesulitan tersebut
disebabkan oleh beberapa faktor anatara lain :
1. Masih banyak siswa yang menganggap bahwa matematika tidaklah lebih dari sekedar
berhitung dan bermain dengan rumus dan angka-angka. Selain itu juga pelajaran
matematika dianggap hal yang memusingkan, dan pelajaran matematika dianggap
sangat sulit, sehingga menimbulkan minat yang rendah terhadap pelajaran
matematika.
2. Masih banyak siswa yang hanya menerima begitu saja pengajaran matematika
disekolah tanpa mempertanyakan mengapa dan untuk apa matematika itu diajarkan.
3. Kebanyakan guru dalam mengajar masih kurang memperhatikan kemampuan berfikir
siswa atau dengan kata lain tidak melakukan pengajaran yang bermakna.
4. Kurangnya ketersediaan alat peraga dalam mendukung proses kegiatan pembelajaran.
5. Metode yang digunakan kurang bervariasi, akibatnya motivasi belajar siswa menjadi
sulit ditumbuhkan.
Faktor-faktor yang menghambat dalam hasil pencapaian hasil belajar dapat
dilihat dari hasil wawancara dan observasi peneliti terhadap para siswa kelas VI SDN 05
Pondok Suguh. Menurut keterangan yang diperoleh dari hasil evaluasi soal cerita pada
materi pokok perbandingan dan skala rata-rata nilai adalah 4,67 bahkan ada siswa yang
mendapatkan nilai 3,0. dapat disimpulkan bahwa prestasi siswa pada pelajaran
matematika khususnya pada pokok bahasan soal cerita masih tergolong rendah karena
masih dibawah standar ketuntasan minimal yaitu 6,0.Dalam penelitian kali ini metode
pembelajaran yang diterapkan adalah Metode Pemecahan Masalah. Dengan diadakannya

perubahan ini maka diharapkan dapat membuat proses pembelajaran matematika berjalan
secara aktif sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Berdasarkan dari hasil pemikiran dan observasi pendahuluian di SDN 05 Pondok
Suguh, maka peneliti bermaksud melakukan penelitian dengan mengambil judul
Penerapan Metode Pemecahan Masalah Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam
Pembelajaran Matematika Kelas VI di SDN 05 Pondok Suguh.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan paparan pada latar belakang masalah, rumusan masalah yang
diangkat dalam kajian ini adalah Apakah metode pemecahan masalah dapat
meningkatkan pemahaman matematika di sekolah dasar? Dengan lebih rinci rumusan
masalahnya adalah:
1. Bagaimana hasil pembelajaran matematika siswa kelas VI SDN 05 Pondok Suguh
sebelum Menggunakan metode pemecahan masalah?
2. Bagaimana aktivitas siswa kelas VI SDN 05 Pondok Suguh dalam proses
pembelajaran menggunakan metode pemecahan masalah?
3. Bagaimana hasil pembelajaran matematika siswa kelas VI SDN 05 Pondok Suguh
setelah menggunakan metode pemecahan masalah?
C. Tujuan Penelitian
Secara umum tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat keberhasilan
penerapan metode pemecahan masalah terhadap peningkatan pemahaman matematika
sekolah dasar. Secara rinci tujuan yang dimaksud adalah ingin mengetahui tentang:
1. Hasil belajar siswa kelas VI SDN 05 Pondok Suguh dalam menyelesaikan soal
cerita sebelum menggunakan metode pemecahan masalah.
2. Aktivitas kelas VI SDN 05 Pondok Suguh selama proses pembelajaran pada
pembelajaran matematika dengan menerapkan metode pemecahan masalah.
3. Hasil belajar siswa kelas VI SDN 05 Pondok Suguh dalam menyelesaikan soal
cerita setelah menggunakan metode pemecahan masalah.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh manfaat yang dapat diajukan dalam
penerapan metode pemecahan masalah matematika sekolah dasar. Manfaat penelitian
tersebut adalah sebagai berikut:
Manfaat Teoritis
1. Agar dari hasil penelitian ini dapat disajikan sebagai bahan bacaan yang
bermanfaat bagi yang membaca.
2. Sebagai literatur atau kajian pustaka bagi para peneliti yang lain.
3. Sebagai pedoman untuk penelitian selanjutnya.
Manfaat Praktis

Manfaat praktis dari penelitian ini adalah agar hasil dari penelitian ini dapat
diterapkan di lembaga-lembaga baik itu lembaga formal dan non formal.
E. Metode Penelitian
Penelitian ini bersifat melakukan perbaikan pembelajaran, oleh karena itu metode
yang dianggap tepat adalah metode penelitian tindakan kelas (Classsroom Action
research) yaitu studi sistematis yang dilakukan dalam upaya memperbaiki praktik-praktik
pendidikan dengan melakukan tindakan praktis serta refleksi dari tindakan tersebut
(Kasbolah K, 1998/1994:14), sedangkan pendekatannya digunakan kualitatif dan
kuantitatif yakni suatu penelitian yang mendasarkan diri pada fakta dan analisis
perbandingan, bertujuan untuk mengadakan generalisasi empirik, menetapkan konsepkonsep membuktikan teori dan mengembangkan serta pengumpulan data dan analisis
datanya berjalan dalam waktu yang bersamaan (Nazir, 1999:68).
Metode penelitian tindakan kelas atau dalam bahasa aslinya Classroom action
research yang dilaksanakan di SDN Purwajaya III bersifat perbaikan pembelajaran.
Perbaikan pembelajaran yang dimaksud adalah perbaikan pembelajaran matematika
dalam pemahaman pokok bahasan Perbandingan dan skala dalam bentuk soal cerita.
Karena bersifat perbaikan, tentu saja pelaksanaan pembelajaran tidak hanya cukup satu
kali saja melainkan diperlukan berulang-ulang dari siklus yang satu ke siklus berikutnya
sehingga hasil pembelajaran tersebut dapat optimal

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar
1. Hakikat Pembelajaran
Sebagian besar dari proses perkembangan berlangsung melalui kegiatan belajar.
Belajar selalu berkenaan dengan pengalaman dan perubahan-perubahan pada diri orang
yang belajar. Didalam proses pembelajaran di sekolah, baik sekolah dasar, menengah
maupun perguruan tinggi. Belajar merupakan kegiatan pokok dan penting. Artinya,
berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan tergantung bagaimana proses
pembelajaran dilakukan.
Belajar menurut Witherington adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang
menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi yang berupa kecakapan, sikap,
kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian (Purwanto, 2004: 84).
Menurut Gagne belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa
kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai.
Belajar terdiri dari tiga komponen penting yaitu kondisi eksternal, kondisi internal dan
hasil belajar (Dimyati, 2002 : 10).
Peristiwa belajar dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Salah satu sudut
pandang adalah mengaitkan peristiwa belajar dengan proses berpikir. Sudut pandang
tersebut berasal dari pandangan psikologi kognitif . Perilaku belajar memiliki lima unsur
atau dimensi yaitu sikap dan persepsi positif terhadap belajar, memperoleh dan
mengintegrasikan pengetahuan, memperluas memperbaiki pengetahuan, menggunakan
pengetahuan-pengetahuan secara bermakna dan kebiasaan berfikir produktif. Kelima

dimensi belajar tersebut memiliki saling keterkaitan dengan dimensi sikap dan persepsi
positif sebagai prasyaratnya dan dimensi kebiasaan berpikir produktif sebagai muaranya.
Kebiasaan berpikir produktif ditandai oleh berpikir jernih dan pencairan kejernihan
masalah, berpikir terbuka dan lapang dada, menghindar diri dari sifat emosional,
menyadari jalan pikirannya sendiri, menilai aktivitas tindakan, berupaya memperluas dan
mendalami pengetahuan dan melibatkan diri secara intensif dan penuh komitmen dalam
menjawab berbagai persoalan yang dihadapi. Secara keseluruhan peristiwa belajar
dipenggaruhi oleh faktor dari dalam dan dari luar diri pembelajaran. Yang termasuk dari
dalam adalah keadaan jasmani dan karakteristik psikologis individu. Sedangkan yang
termasuk faktor dari luar diri adalah faktor lingkungan sisial dan non sosial.
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik atau sumber
belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan
pendidik agar dapat terjadi proses memperoleh ilmu dan pengetahuan, penguasaan
kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan peserta didik agar dapat
belajar dengan baik. Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta
dapat berlaku kapanpun dan dimanapun. Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip
dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks
pendidikan, guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi
pembelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), serta
keterampilan (aspek psikomotor) seseorang peserta didik. Pengajaran memberi kesan
hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pembelajaran
juga menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan peserta didik. Belajar adalah
perubahan yang relatif permanen dalam prilaku atau potensi prilaku sebagai hasil dari
pengalaman atau latihan yang diperkuat.
Perubahan akibat belajar dapat terjadi dalam berbagai bentuk perilaku, dari ranah
kognitif afektif dan psikomotor. Tidak terbatas hanya penambahan pengetahuan saja. Sifat
perubahannya relatif permanen, tidak akan kembali kepada keadaan semula. Tidak bisa
diterapkan pada perubahan akibat situasi sesaat, seperti perubahan akibat kelelahan, sakit,
mabuk dan sebagainya. Perubahan tidak harus langsung mengikuti pengalaman belajar.
Perubahan yang segera terjadi tidak dalam bentuk prilaku, tapi terutama hanya dalam
potensi seseorang untuk berprilaku. Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman
atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta-merta akibat refleks atau prilaku instinktif.
Perubahan akan lebih mudah terjadi bila disertai adanya penguat, berupa ganjaran yang
diterima berupa hadiah atau hukuman akibat adanya perubahan prilaku tersebut.

Sering dikatakan mengajar adalah mengorganisasikan aktivitas siswa dalam arti


yang luas. Peranan guru bukan semata-mata memberikan informasi, melainkan
mengarahkan dan memberi fasilitas belajar (directing and facilitating the learning) agar
proses belajar lebih memadai. Pembelajaran mengandung arti setiap kegiatan yang
dirancang untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan atau nilai yang
baru. Proses pembelajaran pada awalnya meminta guru untuk mengetahui pengetahuan
dasar yang dimiliki oleh siswa meliputi kemampuan dasarnya, motivasinya, latar
belakang akademisnya, latar belakang sosial ekonominya dan lain sebagainya. Kesiapan
guru untuk mengenal karakteristik siswa dalam pembelajaran merupakan modal utama
penyampaian bahan ajar dan menjadi indikartor suksesnya pelaksanaan pembelajaran.
Bahan pelajaran dalam proses pembelajaran hanya merupakan perangsang tindakan
pendidik atau guru juga hanya merupakan tindakan memberikan dorongan dalam belajar
yang tertuju pada pencapaian tujuan belajar. Antara belajar dan mengajar dengan
pendidikan bukanlah sesuatu yang terpisah atau bertentangan. Justru proses pembelajaran
adalah merupakan aspek yang terintegrasi dari proses pendidikan. Hanya saja sudah
menjadi kelaziman bahwa proses pembelajaraan dipandang sebagai aspek pendidikan jika
berlangsung di sekolah saja. Hal ini menunjukan bahwa proses pembelajaran merupakaan
proses yang mendasar dalam aktivitas pendidikan di sekolah. Dari proses pembelajaran
tersebut, siswa memperoleh hasil belajar yang merupakan hasil dari hasil suatu interaksi
tindak belajar yaitu membelajarkan siswa. Guru sebagai pendidik melakukan rekayasa
pembelajaran berdasarkan kurikulum yang berlaku, dalam tindakan tersebut guru
menggunakan asas pendidikan maupun teori pendidikan. Guru membuat desain
intruksional, mengacu pada desain ini para siswa menyusun program pembelajaran
dirumah dan bertanggung jawab sendiri atas jadwal belajar yang dibuatnya. Sementara itu
siswa sebagai pembelajar di sekolah memiliki kepribadian, pengalaman dan tujuan. siswa
tersebut, mengalami perkembangan jiwa sesuai asas emansipasi dirinya menuju keutuhan
dan kemandirian.
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar Mengajar
Faktor pengajar dalam proses kegiatan belajar-mengajar memang sangat
berpengaruh sekali terhadap motivasi pembelajaran, meski memang ada juga siswa yang
mandiri, yang tidak terpengaruh terhadap faktor pengajar karena dia mau belajar sendiri.
Pada umumnya kita akan menyukai pengajar yang bagus dalam penyampaian
materi, mudah dimengerti dan berlangsung dua arah hingga bisa diketahui sejauh
mana siswa dapat menyerap materi yang telah disampaikan. Tetapi dari paparan diatas
terdapat dua faktor yang mungkin dianggap sukses jika kita melakukannya yaitu:

a. Lingkungan sekitar
Termasuk didalamnya adalah orangtua, Guru dan teman. Walaupun tentu saja
kecerdasan anak sendiri sangat mempengaruhi kesuksesan dalam belajar, namun karena
hal tersebut adanya di dalam dan bukan faktor luar maka hal itu tidak disertakan dalam
faktor lingkungan sekitar. Peran orang tua dan guru sangat penting dalam pendidikan
anak atau murid-muridnya, tetapi pertanyaannya adalah bagaimana mengembangkan
sikap yang independen dan kreatif dalam proses belajar dan bukan hasil instan yang
hanya berhasil bila ada pengawasan dari orang tua atau guru. Jika orang tua turut serta
dalam perkembangan belajar anak anaknya bukan tidak mungkin si anak akan mengalami
keadaan dimana ia dapat mengembangkan akal dan pikirannya dalam belajar, suasana
belajar di rumah yang diciptakan para orang tua dapat mendukung kemauan anak untuk
belajar dan dapat dipastikan hasilnya akan sangat memuaskan.
Begitupun peran guru di sekolah juga sangat penting dalam meningkatkan
kemauan belajar anak-anak. Seorang guru dapat memotivasi dan memberikan pengarahan
kepada anak-anak bagaimana cara belajar yang baik dan mengembangkan potensi lebih
yang terdapat pada anak. Sebagai guru adalah sebuah kebanggaan tersendiri yang tak
akan hilang bila berhasil membimbing anak dalam studi dan menjadikannya sukses.
Bahkan guru, akan rela berusaha semaksimal mungkin dan melakukan apa saja demi
membantu anak sukses dalam studinya. Tapi bagaimana
caranya yang paling tepat? Inilah yang sering menjadi masalah
Satu faktor yang perlu diperhatikan adalah pergaulan dengan teman. Pergaulan
anak anak di sekolah juga harus kita monitoring, jangan sampai anak-anak kita terbawa
dalam suasana belajar yang negatif akibat dari pengaruh buruk teman temannya. Jika
anak hendak belajar bersama temannya, dukunglah ia. Belajar bersama memang dapat
membantu anak, baik dalam pelajarannya sendiri,maupun dalam perkembangan
bersosialisasinya.
b. Faktor-faktor dalam individu
Faktor-faktor tersebut menyangkut aspek jasmaniah yang mencakup kondisi dan
kesehatan jasmani individu. Aspek psikis atau rohaniah mencakup kondisi kesehatan
psikis, kemampuan-kemampuan intelektual, sosial, psikomotor serta kondisi afektif dan
kognitif dari individu.
Kondisi intelektual yang menyangkut tingkat kecerdasan, bakat dan penguasaan
akan pelajaran yang lalu. Kondisi sosial menyangkut hubungan siswa dengan orang lain.
Selain itu kondisi belajar berupa situasi afektif , kertenangan juga motivasi belajar sangat
berpengaruh.Keberhasilan belajar anak juga dipengaruhi oleh keterampilan-keterampilan

yang dimilikinya, seperti membaca, berdiskusi, memecahkan masalah dan mengerjakaan


tugas-tugas.
3. Hakikat Matematika
Banyak ahli yang mengartikan pengertian matematika baik secara umum maupun
secara khusus. Herman Hudojo menyatakan bahwa: matematika merupaka ide-ide
abstrak yang diberi simbol-simbol itu tersusun secara hirarkis dan penalarannya dedukti,
sehingga belajar matematika itu merupakan kegiatan mental
yang tinggi. (Hudojo,1990:2). Sedangkan James dalam kamus matematikanya
menyatakan bahwa Matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan,
besaran dan konsep-konsep berhubungan lainnya dengan jumlah yang banyak yang
terbagi ke dalam tiga bidang, yaitu aljbar, analisis dan goemetri (Suherman, 2001:19).
Matematika dikenal sebagai ilmu dedukatif, karena setiap metode yang
digunakan dalam mencari kebenaran adalah dengan menggunakan metode deduktif,
sedang dalam ilmu alam menggunakan metode induktif atau eksprimen. Namun dalam
matematika mencari kebenaran itu bisa dimulai dengan cara deduktif, tapi seterusnya
yang benar untuk semua keadaan harus bisa dibuktikan secara deduktif, karena dalam
matematika sifat, teori atau dalil belum dapat diterima kebenarannya sebelum dapat
dibuktikan secara deduktif.
Matematika mempelajari tentang keteraturan, tentang struktur yang
terorganisasikan, konsep-konsep matematika tersusun secara hirarkis, berstruktur dan
sistematika, mulai dari konsep yang paling sederhana sampai pada konsep paling
kompleks. Dalam matematika objek dasar yang dipelajari adalah abstrak, sehingga
disebut objek mental, objek itu merupakan objek pikiran. Objek dasar itu meliputi:
a. Konsep, merupakan suatu ide abstrak yang digunakan untuk menggolongkan
sekumpulan obejek, misalnya: segitiga merupakan nama suatu konsep abstrak. Dalam
matematika terdapat suatu konsep yang penting yaitu fungsi, variabel, dan konstanta.
Konsep berhubungan erat dengan definisi, definisi adalah ungkapan
suatu konsep, dengan adanya definisi orang dapat membuat ilustrasi atau gambar
atau lambang dari konsep yang dimaksud.
b. Prinsip, merupakan objek matematika yang komplek. Prinsip dapat terdiri atas
beberapa konsep yang dikaitkan oleh suatu relasi atau operasi, dengan kata lain prinsip
adalah hubungan antara berbagai objek dasar matematika. Prisip dapat berupa aksioma,
teorema dan sifat.
c. Operasi, merupakan pengerjaan hitung, pengerjaan aljabar, dan pengerjaan
matematika lainnya, seperti penjumlahan, perkalian, gabungan, irisan. Dalam matematika

dikenal macam-macam operasi yaitu operasi unair, biner, dan terner tergantung dari
banyaknya elemen yang dioperasikan. Penjumlahan adalah operasi biner karena elemen
yang dioperasikan ada dua, tetapi tambahan bilangan adalah merupakan operasi unair
karena elemen yang dipoerasika hanya satu (Soedjadi, 2000:12-15).
4. Fungsi dan Tujuan Pembelajaran Matematika di SD
Dalam kegiatan belajar mengajar, dikenal adanya tujuan pengajaran, atau yang
sudah umum dikenal dengan tujuan instruksional. Bahkan ada juga yang meyebutnya
pembelajaran.
Pengajaran merupakan perpaduan dari dua aktivitas mengajar dan aktivitas
belajar. Aktivitas mengajar menyangkut peranan guru dalam konteks mengupayakan
terciptanya jalinan komunikasi harmonis antara belajar dan mengajar. Jalinan komunikasi
ini menjadi indikator suatu aktivitas atau proses pengajaran yang berlangsung dengan
baik.
Dengan demikian tujuan pengajaran adalah tujuan dari suatu proses interaksi
antara guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan
pendidikan.
Matematika sebagai salah satu ilmu dasar, dewasa ini telah berkembang pesat
baik materi maupun kegunaannya. Mata pelajaran matematika berfungsi melambangkan
kemampuan komunikasi dengan menggambarkan bilangan-bilangan dan simbol-simbol
serta ketajaman penalaran yang dapat memberi kejelasan dan menyelesaikan
permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun fungsi dan tujuan dari pengajaran matematika di SD adalah:
a. Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan dan pola
pikir dalam kehidupan dan dunia selalu berkembang, dan
b. Mempersipakn siswa meggunakan matematika dan pola piker matematika
dalam kehidupan sehari dan dalam mepelajari berbagai ilmu pengetahuan (Soedjadi,2000:
43)
Dari uraian di atas jelas bahwa kehidupan dunia ini akan terus sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh karena itu siswa harus memiliki
kemampuan memperoleh, memilih dan mengelola informasi untuk bertahan pada keadaan
yang selalu berubah. Kemampuan ini membutuhkan pemikiran yang kritis, sistematis,
logis, kreatif dan kemampuan bekerja sama yang efektif. Dengan demikian, maka seorang
guru harus terus mengikuti perkembangan matematika dan selalu berusaha agar kreatif
dalam pembelajaran yang dilakukan sehingga dapat membawa siswa ke arah yang
diinginkan.

Namun secara khusus tujuan kurikuler pengajaran matematika yang disebutkan


dalam kurikulum berbasis kompetensi adalah sebagai berikut:
a. Melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya
melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksprimen, menunjukkan kesamaan,
perbedaan, konsisten dan ekonsisten.
b. Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi dan
penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, mebuat
prediksi serta mencoba-coba.
c. Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.
d. Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau
mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, catatan, grafik, peta,
diagram dalam menjelaskan gagasan (DPN,2003:11 ).
Melatih cara berfikir dan bernalar dalam pembelajaran matematika sangatlah
penting. Meskipun pola pikir ini penting, namun dalam pembelajaran matematika
terutama pada jenjang SD dan SLTP masih diperlukan pola pikir deduktif, sedangkan
jenjang sekolah menengah penggunaan pola pikir induktif dalam penyajian suatu topik
sudah semakin dikurangi. Di samping cara berpikir, dalam proses pembelajaran siswa
juga dilatih untuk mengembagkan kreatifitasnya melalui imajinasi dan intuisi. Setiap
siswa punya kemampuan yang berbeda-beda dalam memandang suatu permasalahan yang
dikembangkan, inilah yang disebut dengan pemikiran divergen yang perlu terus
dikembangkan.
Berdasarkan penjelasan tujuan pengajaran di atas dapat dimengerti bahwa
matematika itu bukan saja dituntut sekedar menghitung, tetapi siswa juga dituntut agar
lebih mampu menghadapi berbagai masalah dalam hidup ini. Masalah itu baik mengenai
matematika itu sendiri maupun masalah dalam ilmu lain, serta dituntut suatu disiplin ilmu
yang sangat tinggi, sehingga apabila telah memahami konsep matematika secara
mendasar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
a. Peranan Matematika di Sekolah Dasar
Seorang guru SD atau calon guru SD perlu mengetahui beberapa karakteristik
pembelajaran matematika di SD, seperti yang diuraikan sebelumnya, bahwa matematika
adalah ilmu yang abstrak dan deduktif, sedangkan yang kita ketahui, siswa SD yang ada
pada usia 7 hingga 12 tahun masih berada pada tahap operasional konkrit yang belum
dapat berpikir formal. Oleh karena itu pembelajaran matematika di SD selalu tidak
terlepas dari hakikat matematika dan hakikat anak didik di SD.

Johnson dan Rising dalam Ruseffendi (1997 : 28) mengemukakan bahwa


matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan
cermat, jelas dan akurat representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa
simbol, mengenai ide (gagasan) daripada mengenai bunyi. Kemudian Kline dalam
Ruseffendi (1994 : 28) mengemukakan matematika itu bukanlah pengetahuan menyendiri
yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama untuk
membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi dan
alam.
Menurut kurikulum 2004, matematika merupakan suatu bahan kajian yang
memiliki objek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran deduktif,yaitu kebenaran
suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga
keterkaitan antar konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas. Dalam
pembelajaran matematika agar mudah dimengerti oleh siswa, proses penalaran induktif
dapat dilakukan pada awal pembelajaran.
Kemudian dilanjutkan dengan proses penalaran deduktif untuk menguatkan
pemahaman yang sudah dimiliki oleh siswa. Tujuan pembelajaran matematika adalah
melatih dan menumbuhkan cara berpikir secara sistematis, logis, kritis, kreatif
dan konsisten serta mengembangkan sikap gigih dan percaya diri sesuai dalam
menyelesaikan masalah (Depdiknas, 2003 : 6).
Berpijak dari uraian di atas, maka di Sekolah Dasar, khususnya kelas VI terlebih
dahulu siswa diberi kesempatan untuk memanipulasi benda-benda sehingga keaktifan
siswa dalam proses belajar terjadi secara penuh. Bruner dalam Ruseffendi (1994 : 109110) mengemukakan bahwa dalam proses belajar siswa melewati 3 tahap yaitu :
a. Tahap enaktif
Dalam tahap ini siswa secara langsung terlibat dalam memanipulasi objek.
b. Tahap ikonik
Dalam tahap ini kegiatan yang dilakukan siswa berhubungan dengan mental,
yang merupakan gambaran dari objek-objek yang dimanipulasinya.
c. Tahap simbolik
Anak pada tahap ini sudah mampu menggunakan notasi tanpa ketergantungan
terhadap objek real.
b. Kesulitan Belajar Matematika di Sekolah Dasar
Pada umumnya kesulitan merupakan kondisi tertentu yang ditandai dengan
adanya hambatan-hambatan dalam kegiatan untuk mencapai suatu tujuan, sehingga
memerlukan usaha yang lebih berat lagi untuk dapat mengatasinya. Kesulitan belajar

dapat diartikan sebagai suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya
hambatan-hambatan tertentu untuk menghasilkan hasil belajar. Jadi, dapat disimpulkan
bahwa yang dimaksud dengan kesulitan belajar adalah keadaan dimana siswa mengalami
hambatan dalam belajar, sehingga tidak memenuhi harapan-harapan yang diinginkan
dalam berbagai jenis mata pelajaran termasuk matematika.
Kesulitan-kesulitan tersebut dapat disebabkan oleh masalah karakteristik
Matematika, masalah siswa, ataupun masalah guru.
1). Karakteristik Matematika
Karakteristik Matematika yaitu objeknya abstrak, konsep dan prinsipnya
berjenjang, dan prosedur pengerjaannya banyak memanipulasi bentuk-bentuk. Siswa
memerlukan waktu dan peragaan dalam menangkap konsep yang abstrak itu. Siswa akan
mengalami kesulitan dalam mempelajari konsep berikutnya, jika konsep yang
sebelumnya tidak terbentuk dengan benar.
2). Masalah siswa
Setiap siswa mempunyai kecepatan belajar yang berbeda-beda dan gaya belajar
yang berbeda pula. Mereka mempunyai kecenderungan untuk membentuk konsep sendiri
yang akhirnya membentuk miskonsepsi. Selain itu, mereka juga kurang dalam latihan
mengerjakan soal-soal Matematika.
3). Masalah guru
Setiap guru mempunyai persepsi sendiri tentang matematika, hakekat belajar dan
mengajar. Mereka mempunyai gaya mengajar atau metode mengajar sendiri. Selain itu,
mereka juga mempunyai keterbatasan pengetahuan dan keterampilan (Mohammad Soleh,
1998 : 34 39).
Dalam kegiatan belajar yang dilakukan siswa, tidaklah selalu lancar seperti apa
yang diharapkan. Kadang-kadang mereka mengalami berbagai kesulitan atau hambatan
yang harus dihindari. Dan pengaruh tersebut sebaiknya bukanlah faktor penghambat yang
harus dihindari, tetapi harus dicari jalan penyelesaian yang terbaik dengan
memperhatikan situasi dan kondisi yang ada, sehingga prestasi yang diharapkan bisa
tercapai.
Adapun penyebab kesulitan siswa SD dalam menyelesaikan soal-soal
Matematika dibagi menjadi dua faktor, yaitu :
a. Faktor Endogen
Faktor endogen adalah faktor yang datang dari dalam diri anak itu sendiri.
1). Biologis

Faktor penghambat biologis adalah faktor yang secara langsung berhubungan


dengan jasmani anak, seperti kesehatan, cacat badan, dan sebagainya.
2). Psikologi
Faktor penghambat psikologi adalah faktor yang berhubungan dengan kejiwaan
atau rohani yang berupa IQ, motivasi, intelegensi, perhatian, minat, bakat, dan emosi.
b. Faktor Eksogen
Faktor eksogen adalah faktor yang datang dari luar maupun dalam diri anak itu
sendiri.
1). Faktor lingkungan keluarga
Contohnya : orang tua, suasana rumah dan keadaan sosial ekonomi.
2). Faktor lingkungan sekolah
a) Interaksi guru dan siswa
Guru yang kurang berinteraksi dengan siswa menyebabkan proses belajar
matematika itu kurang lancar. Siswa merasa ada jarak dengan guru, maka mereka akan
sulit untuk berpartisapasi aktif kegiatan belajar matematika.
b) Metode belajar mengajar
Dalam kegiatan belajar, siswa menggunakan cara belajar yang keliru, yaitu bila
besok ada ulangan barulah mereka belajar terus menerus dari siang sampai malam yang
biasa disebut dengan sistem wayangan. Dalam metode pengajaran, kesalahan guru dalam
pemilihan metode yang tidak tepat dalam
menyampaikan materi juga dapat menyebabkan siswa sulit untuk belajar
mmatematika, misalnya metode ceramah.
Tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk mengatasi kesulitan siswa SD
dalam menyelesaikan soal-soal matematika. Secara operasional, tindakan-tindakan yang
dilakukan untuk mengatasi kesulitan siswa SD dalam menyelesaikan soal-soal
matematika tersirat dalam GBPP Matematika SD tahun 1986, sebagai berikut :
1. Mempersiapkan anak didik agar sanggup menghadapi perubahan keadaan
didalam kehidupan dan didalam dunia yang senantiasa berubah ini, melalui bertindak atas
dasar pemikiran secara logis dan rasional, kritis dan cermat, obyektif, kreatif, dan efektif.
2. Mempersiapkan anak didik agar dapat menggunakan matematika secara tepat
di dalam kehidupan sehari-hari dan didalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.
Selain itu, pemilihan metode pengajaran yang tepat bagi guru merupakan salah
satu tindakan mengatasi kesulitan siswa SD dalam menyelesaikan soal-soal matematika.
Hal ini mengingat bahwa metode pengajaran merupakan komponen yang sangat penting
dan membantu guru dalam proses belajar mengajar.

Dengan menggunakan metode pemecahan masalah dapat mendorong siswa untuk


mencari dan memecahkan persoalan-persoalan. Pemecahan secara instinkif merupakan
bentuk tingkah laku yang tidak dipelajri, seringkali berfaedah dalam situsi yang luar
biasa.
B. Metode Pemecahan Masalah
1. Masalah
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menghadapi permasalahan. Untuk
memecahkan permasalahan tersebut biasanya kita bertanya kepada diri sendiri dengan
sejumlah pertanyaan yang dibantu dengan informasi yang ada.
Problem atau masalah menurut Hayes ( Halgimon SL, 1992:2) adalah suatu
kesenjangan (gap) antara dimana anda berada sekarang dengan tujuan yang anda
inginkkan, sedangkan anda tidak tahu proses apa yang akan dikerjakan.
Biasanya masalah muncul pada saat atau situasi yang tidak diharapkan atau
muncul karena akibat-akibat kita melakukan suatu pekerjaan, atau jika merencanakan
suatu kegiatan (proyek) kita akan menemukan berbagai permasalahan yang muncul.
Munculnya masalah tersebut dapat dikatakan atau dijadikan sebagai masalah jika kita
mau menerimanya sebagai tantangan untuk diselesaikan, tetapi jika kita tidak mau
menerima sebagai tantangan berarti masalah tersebut menjadi bukan masalah yang
terselesaikan.
Untuk terampil dalam menyelesaikan masalah dibutuhkan berbagai kemampuan
yang ada pada diri kita, sebagai hasil dari belajar , yaitu berbagai pengetahuan, sikap dan
psikomotor. Berbagai pengetahuan dimaksud adalah : ingatan, pemahaman, penerapan,
analisis, sintesis dan evaluasi (sering disebut taksonomi bloom). Dengan demikian
tidaklah mudah menyelesaikan suatu masalah, karena melibatkan berbagai kemampuan
nalar atau berpikir kita dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi. Misalkan , jika kita
ingin mengukur luas tanah, pengetahuan-pengetahuan apakah yang harus kita miliki dan
bagaimana cara menggunakannya?. Untuk dapat mengetahui luas tanah, kita harus
memiliki pengetahuann tentang
bentuk-bentuk geometris beserta ciri-cirinya, satuan ukuran panjang, rumusrumus mencari luas, dan operasi hitung yang terbentuk oleh rumus-rumus tersebut.
Didalam permasalahan matematika, biasanya kita bertanya kepada diri kita
sendiri dengan sejumlah pertanyaan yang membantu kita untuk menyeleksi informasi
yang ada.
Permasalahan yang kita hadapi dapat kita katakan masalah jika masalah terseburt
tidak bisa dijawab secara lanngsung, karena harus menyeleksi informasi (data) yang

diperoleh. Dan tentunya jawaban yang diperoleh bukanlah kategori masalah yang rutin
(tidak sekedar memindahkan isi dari bentuk kalimat biasa kekalimat matematika).
Suatu pertanyaan merupakan masalah bagi anak SD, tetapi bukan permasalahan
bagi gurunya sebab anak SD untuk menjawab pertanyaan tersebut memerlukan proses
yang rumit sedang bagi gurunya untuk menjawab tersebut memerlukan proses penalaran
yang rutin.
Namun apabila suatu pertanyaan mmerupakan permasalahan bagi anda. Apakah
pertanyaan tersebut merupakan masalah bagi anaak SD? Tentu saja pertanyaan tersebut
bagi anak SD bukan merupakan permasalahan, karena memang anak SD belum siap
untuk mampu menjawab permasalahan anda. Demikian juga permasalahan yang dihadapi
oleh ilmuwan , misalnya ahli goedesi tentunya bukan masalah bagi kita, karena kita tidak
mempelajari permasalahan yang dihadapi oleh ahli geodesi.
Selain itu, pertanyaan itu merupakan permasalahan bila pertanyaan itu
merupakan tantangan bagi kita untuk menjawabnya. Kalau demikian halnya, apa yang
dimaksud dengan masalah? Suatu pertanyaan akan merupakan suatu masalah bagi
seseorang , jika orang itu mempunyai aturan atau hukum tertentu yang segera
dapat digunakan untuk menemukan jawaban pertanyaan tersebut. Ini berarti pertanyaan
tersebut tidak dapat dijawab dengan prosedur rutin, pertanyaan tersebut dapat dimengerti,
pertanyaan tersebut merupakan tantangan untuk dijawab yang sifatnnya inividu dan
bergantung pada waktu pemecahan atau penyelesaian masalah merupakan proses
penerimaan tantangan dan kerja keras untuk menyelesaikan masalah tersebut. Jadi aspek
penting dari makna masalah adalah bahwa penyelesaian yang diperoleh tidak daapat
dikerjakan dengan prosedur rutin. Berpikir keras harus dilaksanakan untuk mendapatkan
cara menyelesaikan suatu masalah. Perhitungan sederhana dan aplikasi langsung rumusrumus tidak dikualifikasi sebagai permasalahan.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melakukan aktivitas-aktivitas yang
berhubungan dengan kegiatan yang membutuhkan penalaran yang melibatkan ilmu
matematika. Karena ilmu matematika tumbuh dan berkembang berdasarkan kebutuhan
manusia dalam menghadapi persoalan hidup. Oleh karena itu permasalahan yang kita
hadapi dapat dibedakan menjadi masalah yang berhubungan dengan masalah translasi,
masalah aplikasi, masalah proses dan masalah teka-teki.
Masalah translasi merupakan masalah kehidupan sehari-hari yang untuk
menyelesaikannya perlu adanya translasi (perpindahan) dari benntuk verbal kebentuk
matematika . Dalam memindahkkan bentuk verbal (kata/kalimat) kebentuk model
matematika dibutuhkan kemampuan menafsirkan atau menerjemahkan kata atau kalimat

biasa kedalam simbol-simbol matematika yang selanjutnya dicari cara penyelesaiannya


berdasarkan aturan yang berlaku.
Masalah aplikasi merupakan penerapan berbagai teori atau konsep yang
dipelajari pada matematika. Sebagai guru perlu memberikan kesempatan pada
siswa untuk menyelesaikan masalah dengan menggunakan bermacam-macam
keterampilan dan prosedur matematik.
Masalah proses biasanya untuk menyusun langkah-langkah merumuskan pola
dan strategi khusus dalam menyelesaikan masalah. Masalah semacam ini memberikan
kesempatan kepada siswa sehingga daalam diri siswa terbentuk keterampilan
menyelesaikan masalah sehingga dapat membantu siswa menjadi terbiasa menyeleksi
masalah dalam berbagai situasi.
Masalah teka-teki dimaksudkan utuk rekreasi dan kesenangan serta sebagai alat
yang bermanfaat untuk mencapai tujuan afektif dalam pengajaran matematika.
2. Pengertian Metode Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah merupakan metode suatu pengajaran yang
mendorong siswa untuk mencari dan memecahkan persoalan-persoalan. Pemecahan
secara instinkif merupakan bentuk tingkah laku yang tidak dipelajri, seringkali berfaedah
dalam situsi yang luar biasa.
Metode pemecahan masalah adalah penggunaan metode dalam kegiatan
pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu maslah
pribadi maupun maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara
bersama-sama. Belajar pemecahaan masalah terjadi bila individu menggunakan berbagai
konsep atau prinsip untuk menjawab suatu pertanyaan. Proses pemecahan masalah selalu
bersegi jamak atau satu sama lain saling berkaitan.
Metode pemecahan masalah bukan hanya sekedar metode mengajar, tetapi juga
merupakaan metode berpikir, sebab dalam pemecahan masalah dapat menggunakan
metode-metode lainnya yang dimulai dengan mencari data sampai
kepada menarik kesimpulan. Belajar pemecahan masalah mengacu pada proses
mental individu dalam menghadapi suatu masalah untuk selanjutnya menemukan cara
mengatasi masalah itu melalui proses berpikir yang sistematis dan cermat.
Pemecahan masalah merupakan bagian dari kurikulum matematika yang sangat
penting karena dalam proses pembelajaran maupun penyelesaiannya, siswa
dimungkinkan memperoleh pengalman menggunakan pengetahuan serta keterampilan
yang sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin.
Melalui kegiatan ini aspek-aspek kemampuan yang penting seperti penerapan aturan pada

masalah tidak rutin, penemuan pola, penggeneralisasian,komunokasi matematika dan


lain-lain dapat dikembangkan secara lebih baik.
Sebagaiman tercantum dalam kurikulim matematika sekolah bahwa tujuan
diberikannya matematika antara lain agar siwa mampu menghadapi perubahan keadaan
yang selaalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis,
rasional, kritis, cermat, jujur dan efektif. Tuntuan tersebut tidak mungkin tercapai bila
pembelajaran hanya berbentuk hafalan, latihan pengerjaan soal yang rutin, serta proses
pembelajaran yang teacher centered yang tidak menuntut siswa untuk mengoptimalkan
daya pikirnya . Menurut Gagne (1970), keterampilan intelektual tingkat tinggi dapat
dikembangkan melalui pemecahan masalah.
Menurut polya (1957), ada empat langkah dalam pemecahan masalah, yaitu
memahami masalah merencanakan penyelesaian, menyelesaikan masalah sesuai dengan
rencana, dan melakukan pengecekan kembali terhadap semua langkah yang telah
dikerjakan. Pada pelaksanaan keempat langkah tersebut, tugas utama guru adalah
memfasilitasi siswa untuk dapat mengoptimalkan kemampuannya mencapai
terselesaikannya masalah yang dihadapi secara logis, struktur, cermat dan tepat.
Kemampuan kognitif siswa akan berkembang selaras dengan kematangannya dan
akan berkembang dengan baik dan cepat jika dalam belajarannya sering dihadapkan
terhadap permasalahan kehidupan seharri-hari. Guru harus menyadari bahwa kemampuan
manusia itu terbatas dan tidak sama irama perkembangan mentalnya, maka dari itu
sebagai guru harus menyesuaikan pemberian materi pelajaran dengan kemampuankemampuan siswa-siswanya, seperti belajar dari hal-hal konkrit menuju abstrak, dari
sederhana ke kompleks dan dari mudah kesulit.
Siswa diajak menyelesaikan pemecahan masalah dari satu langkah
kepenyelesaian masalah yang membutuhkan banyak langkah yang disertai kemampuan
memahami dan menangkap lebih banyak variabel dan faktor dalam suatu masalah.
Tidak ada cara yang pasti bagaimana cara melatihkan pemecahan masalah kepada
siswa, namun ada petunjuk yang dapat membatu guru dalam membelajarkan siswanya
kearah penggunaan pendekatan pemecahan masalah matematika, agar siswa belajarnya
terarah dan mendapat hasil yang baik.
Langkah-langkah untuk membantu siswa dalam penyelesaian masalah
seperti yang telah dibahas sebelumnya beberapa keterampilan untuk meingkatkan
kemampuan memecahkan masalah antara lain adalah: memahami masalah merencanakan
penyelesaian, menyelesaikan masalah sesuai dengan rencana, dan melakukan pengecekan
kembali terhadap semua langkah yang telah dikerjakan

Memahami soal yaitu dengan cara guru memberi masalah dalam bentuk soal
setiap hari, baik dalam jam pelajaran matematika maupun pada mata pelajaran lain secara
terpadu. Dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menjelaskan kata atau ungkapan operasi hitung yang digunakan, seperti
berikut:
1). Penjumlahan: digabungkan, disatukan, dijadikan satu wadah, dijumlahkan,
dimasukan dan pengulangan suatu kegitan.
2). Pengurangan: selisih atau beda, dikurangi atau berkurang, diambil,
dipisahkan, dan dibagikan.
3). Perkalian: digandakan sebanyak. kali, setiap terdiri dari., kegiatan
yang berulang-ulang (dalam jumlah yang sama).
b. Memilih strategi pemecahan yaitu, pendekatan atau strategi pemecahan
masalah banyak sekali alternatif yang harus kita pakai, hal tersebut didasarkan pada jenis
masalah atau soal. Strategi tersebut adalah : membuat tabel,membuat gambar, menduga,
mencoba memperbaiki, mencari pola, mennggunakan penalaran, menggunakan variabel,
menggunakan persamaan, menggunakan algoritma, menggunakan sifat-sifat bilangan,
menggunakan informasi yang diketahui untuk mengembangkan informasi baru dan lainlain.
Bagi siswa yang belum berpikir abstrak pendekatan dengan membuat gambar
lebih dahulu akan sangat membantu. Hal tersebut dapat dilakukan secara konkrit atau
dengan gambaran objek yang dimaksud. Setelah itu berkembang kepada strategi-strategi
lain yang memungkinkan suatu masalah dapat diselesaikan secara matematis, seperti
membuat variabel, membuat persamaan, menggunakan logika dan lain-lain.
Menyelesaikan masalah, Dalam menyelesaikan masalah matematika siswa
dituntut untuk trampill menggunakan pengetahuannya tentang konsep-konsep dasar
matematika beserta aturan-aturan yang ia ketahui sewaktu mengerjakan latihan-latihan
soal.
Mengecek kembali terhadap semua langkah yang dikerjakan. Sebelum
diterjemahkan kedalam kesimpulan, sebaiknya siswa dibiasakan untuk memeriksa dulu,
apakah jawaban hasil perhitungan itu benar atau masih terdapat kekeliruan.untuk ini
dibutuhkan ketelitian untuk mengecek ulang hasil perhitungan yang didapatkan.
3. Kelebihan dan Kekurangan Metode Pemecahan Masalah
Adapun kelebihan metode pemecahan masalah sebagai berikut:
Metode ini dapat membuat pendidikan di sekolah menjadi lebih relevan dengan
kehidupan.

a. Proses pembelajaran melalui pemecahan masalah dapat membiasakan para


siswa menghadapi dan memecahkan masalah secara terampil apabila menghadapi
permasalahan di dalam kehidupan dalam keluarga, bermasyarakat dan bekerja kelak.
Suatu kemampuan yang sangat bermakna bagi kehidupan manusia.
b. Metode ini merangsang pengembangan kemampuan berpikir siswa secara
kreatif dan menyeluruh, karena dalam proses belajarnya siswa banyak melakukan mental
dengan menyoroti permasalahan dari berbagai segi dalam rangka mencari pemecahan.
c. Melatih siswa untuk mendisain suatu penemuan.
d. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis.
e. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
f. Mengevaluasi hasil pengamatan.
Kekurangan metode pemecahan masalah sebagai berikut:
a. Menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat
berpikir siswa dan kelasnya serta pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki siswa
sangat memerlukan kemampuan dan keterampilan guru.
b. Proses pembelajaran dengan menggunakan metode ini sering memerlukan
waktu yang cukup banyak dan sering terpaksa mengambil waktu pelajaran lain.
c. Mengubah kebiasaan siswa belajar dengan menggunakan dan menerima
informasi dari guru menjadi belajar dengan banyak berpikir memecahkan permasalahan
sendiri atau kelompok, yang kadang-kadang memerlukan berbagai sumber belajar
merupakan kesulitan tersendiri bagi siswa (Winda.2009:3).
4. Pemecahan Masalah dalam Soal Cerita
Kegiatan belajar matematika membutuhkan kreatifitas dari guru, agar siswa
dalam belajarnya mencapai tujuan yang diharapkan. Pada dasarnya belajar pemecahan
matematika merupakan melatih siswa untuk terampil menggunakan pengetahuan
yang telah dipelajarinya sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari,
baik yang serupa atau mirip ataupun sudah dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan yang
terjadi. Kegiatan belajar dikatakan berhasil, jika siswa dapat mengakomodasi dan
mengkonstruksi pengetahuannya untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan
lebih jauh lagi dapat dijadikan dasar dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan.
Mengakomodasi berarti tersimpan dalam memori otak yang relatif lama, sedangkan
mengkonstruksi berarti membangun pengetahuan baru dari hasil belajar sebelumnya.
Seorang guru dalam mengajarkan matematika dapat memilih pendekatan sesuai
dengan kehiduan siswa, agar siswa tidak asing lagi antara kaitan matematika dengan
kehidupan sehari-harinya. Pendekatan yang demikian sering disebut pendekatan

matematika realistik dengan karakteristik menggunakan konteks dunia nyata, modelmodel, produksi dan kontruksi siswa, interaktif dan keterkaitan. Dengan demikian
pendekatan belajar matematika dengan soal-soal cerita dapat dikatakan pendekatan
belajar matematika realistik apabila soal-soal cerita tersebut sudah dikenal siswa karena
guru membawa siswa kearah situasi yang sudah dikenal dan siswa dapat membayangkan
situasi atau kondisi yang diceritakan.
Dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan soal cerita
Sutawidjaja (1992/1993) mengarahkan kepada pendekatan model dan pendekatan
terjemahan (translasi), seperti berikut ini:
a. Pendekatan model, dalam pendekatan ini siswa membaca atau mendengarkan
soal cerita kemudian siswa mencocokkan situasi yang dihadapi itu dengan model yang
sudah mereka pelajari sebelumnya.
b. Pendekatan terjemahan (Translasi), kegiatan pembelajaran ini melibatkan
siswa pada membaca kata demi kata dan ungkapan demi ungkapan dari soal cerita yang
dihadapinya, untuk kemudian menterjemahkan kata-kata dan ungkapan-ungkapan ini
kedalam kalimat matematika.
C. Materi Pembelajaran
Perbandingan dan Skala
1. Perbandingan
Menyelesaikan masalah yang melibatkan perbandingan.
Contoh : Perbandingan umur Aris dan Fani 2:3. Jika umur Aris 12 tahun, berapa
tahun umur Fani ?
2. Skala
Menyelesaikan masalah yang melibatkan skala.
Contoh : Jarak kota Karawang ke kota Bandung dalam peta 15 cm. Skala peta
1:5.000.000. Berapa km jarak antara kota Karawang dan kota Bandung sesungguhnya ?
D. Implementasi Pembelajaran
Untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam penyelasaian soal cerita, guru
memberikan bimbingan. Adapun bimbingan yang diberikan yaitu:
1. Pemberian tes awal yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana
kemampuan siswa memahami materi yang akan disampaikan.
2. Penggunaan metode yang tepat dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam
menyelesaikan soal cerita. Dalam hal ini metode yang digunakan yaitu metode
pemecahan masalah.

3. Penggunaan media yang tepat. Adapun media yang digunakan adalah peta,
atlas, penggaris dan buku berpetak.. Guru memberikan soal cerita kepada siswa yang
berkaitan dengan pengalaman yang sudah dimilikinya. Hal ini dapat melibatkan siswa
secara langsung dalam penyelesaian soal tersebut.
4. Guru menjelaskan kepada siswa tentang cara penyelesaian cerita. Setelah guru
mengetahui bahwa siswa kurang mampu menyelesaikan yang diberikan sebagai tes awal,
guru menjelaskan carapenyelesaian soal tersebut dengan langkah-langkah sebagai
berikut: menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanya, pengerjaanya dan cara
mengkomunikasikan hasilnya.
Contoh : Perbandingan jumlah tabungan Tiyan dan Tya adalah 4:6. Jumlah
tabungan keduanya adalah Rp.2.400.000,-. Berapakah masing-masing jumlah tabungan
mereka ?
Jawab :
Langkah 1 : Jumlahkan kedua angka perbandingan = 4+6 = 10.
Langkah 2 : Kemudian cari jumlah tabungan masing-masing dengan
membandingkan angka perbandingannya dengan jumlah kedua angka perbandingan.
Misalnya tabungan Tiyan, maka 4/10 x Rp.2.400.000,- = Rp.960.000,- , sedangkan
jumlah tabungan Tya adalah 6/10 x Rp.2.400.000,- = rp.1.440.000,5. Guru memberikan lembar kerja siswa sebagai tes.

BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN
A. subjek Penelitian
Penelitian ini bersifat melakukan perbaikan pembelajaran. Oleh karena itu,
metode yang tepat untuk digunakan adalah metode penelitian tindakan kelas (Class Room
Action Research). Yakni studi sistematis yang dilakukan dalam upaya memperbaiki
praktik-praktik pendidikan dengan melakukan tindakan praktis serta refleksi dari tindakan
tersebut (Kasbolah,1998/1999:14)
Metode penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di SDN 05 Pondok Suguh.
Dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2010/2011. Subjek penelitian adalah
siswa kelas VI SDN Purwajaya III, Jumlah siswa yang diikutsertakan dalam penelitian ini
adalah 18 siswa yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 6 siswa perempuan.
Penelitian ini bersifat perbaikan pembelajaran. Perbaikan pembelajaran yang
dimaksud adalah perbaikan dalam pembelajaran matematika dalam bentuk soal cerita
karena bersifat perbaikan, tentu saja pelaksanaan pembelajaran tidak haya cukup sekali
saja, melainkan diperlukan berulang-ulang dari siklus yang satu ke siklus berikutnya,
sehingga hasil pembelajaran tersebut dapat optimal. penelitian ini menerapkan 2(dua)
siklus.
B. Prosedur Penelitian
Prosedur yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk siklus. Metode siklus
yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk spiral yang dikembangkan oleh Kemmis
dan taggart, yang mengemukakan bahwa penelitian dibagi ke dalam empat tahap, yaitu
sebagai berikut:
1. Tahap Perencanaan
Pada tahap persiapan ini adalah kegiatan refleksi awal dengan mengarahkan
segala upaya dalam mempersiapkan perencanaan tindakan yang akan dilakukan pada

siklus. Kegiatan perencanaan diawali dengan merencanakan ide penelitian kemudian


ditindaklanjuti dengan pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan pada hari Selasa tanggal
02 Mei 2016 kegiatan ini merupakan kegiatan pendahuluan yang tujuannya untuk
mengidentifikasi masalah daan menemukan fakta yang terjadi dikelas.
Berdasarkan temuan pada studi pendahuluan, peneliti merencanakan langkahlangkah yang akan dilaksanakan di kelas dalam proses pembelajaran matematika dengan
menggunakan metode pemecahan masalah. Secara operasional tahap-tahap kegiatan
penelitian dalam setiap siklus dapat dijelaskan sebagai berikut:
Membuat rencana pembelajaran dengan menggunakan metode pemecahan
masalah yang akan digunakan pada saat melakukan tindakan kelas.
Mempersiapkan alat bantu pembelajaran yang diperlukan sebagi media
pembelajaran untuk membantu menyelesaikan soal-soal dalam bentuk soal
cerita.
Mempersiapkan instrumem pengumpul data
Membuat alat evaluasi, untuk mengukur peningkatan hasil belajar siswa
dengan menggunakan metode pemecahan masalah.
Melakukan penelitian sesuaai dengan prosedur.
2. Tahap pelaksanaan
Pada tahap ini, peneliti melaksanakan tindakan sesuai dengan perencanaan yang
telah dirumuskan. Jenis tindakan yang dilaksanakan peneliti adalah hasil rumusan yang
telah ditetapkan. Tujuan utama pada tahap ini adalah mengupayakan inovasi dalam proses
pembelajaran dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang dirasakan
dan peningkatan hasil belajar siswa. Sebelum melakukan tindakan diawali dengan
observasi awal, kegiatan ini dilakukan untuk dapat mengetahui tindakan yang tepat dalam
rangka penerapan metode pembelajaran sebelumnya.
Siklus I
a. Setelah melakukan kegiatan observasi awal dalam rangka penjajakan untuk
mendapatkan informasi tentang keadaan kelas yang akan dijadikan dan dilakukan
tindakan, maka dibuatlah rencana tindakan I dengan merumuskan persiapan
pembelajarannya.
b. Pelaksanaan tindakan I. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah melakukan
tindakan-tindakan dalam bentuk intervensi terhadap pelaksanaan kegiatan yang
menjadi tugas sehari-hari.
c. Melakukan pengamatan selama kegiatan pembelajaran berlangsung dengan
melakukan pengamatan terutama pada aktivitas belajar siswa selama menerapkan
metode pemecahan masalah. Pada tahap ini secara lebih operasional adalah untuk

mengenal, merekam dan mendokumentasikan segala hal yang berkaitan dengan


hasil dan proses pelaksanaan tindakan ataupun akibat dari pelaksanaan tindakan.
d. Melakukan pengamatan terhadap hasil pembelajaran dengan melihat aktivitas
belajar siswa. Kegiatan pengamatan ini dilakukan adalah untuk melihat apakah
selama kegiatan pembelajaran berlangsung dengan menerapkan metode pemecahan
masalah dapat menunjukkan aktivitas belajar.
e. Refleksi I
Siklus II
a. Membuat persiapan pembelajaran untuk pelaksanaan tindakan II.
b. Melaksanakan pembelajaran berdasarkan persiapan pembelajaran berlangsung
bersamaan dengan pelaksanaan tindakannya.
c. Melakukan pengamatan terhadap aktivitas beajar yang dilakukan siswa selama
kegiatan pembelajaran.
d. Melakukan evaluasi terhadap hasil kegiatan pembelajaran yang dicapai siswa.
e. Refleksi II
C. Klarifikasi Konsep
Dalam kajian ini terdapat istilah-istilah yang dianggap perlu dijelaskan
maknanya, guna memenuhi rambu-rambu penelitian dan juga memahami makna yang
dimasud di dalam naskah penelitian. Istilah-itilah dimaksud adalah:
1. Metode Pemecahan masalah
Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam
kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu
masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri
atau secara bersama-sama.
Pemecahan masalah merupakan bagian dari kurikulum matematika yang sangat
penting karena dalam proses pembelajaran maupun penyelesaiannya, siswa
dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta keterampilan
yang sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin.
2. Meningkatkan Hasil Belajar
Maksud dari meningktan hasil belajar adalah hasil yang dicapai dari suatu proses
yang telah dilalui oleh siswa sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Peningkatan hasil belajar disini dapat dilihat dari nilai yang diperoleh siswa pada saat tes.
dari hal itu kita dapat mengetahui terjadi peningkatan atau tidaknya dalam hasil belajar
Adanya penetapan kriteria atau berhasil tidaknya pembelajaran membuat adanya
usaha untuk mencapai hasil belajar yang maksimal sesuai dengan apa yang diharapkan.
3. Pembelajaran Matematika di SD

Untuk mengetahui pngertian pembelajaran matematika di SD kita uraikan


terlebih dahulu istilah pembelajaran dan matematika
Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dan sumber belajar
pada suatu laingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan
pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan
kemahiran, dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik,
dengan kata lain pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat
belajar dengan baik.
Sementara pengertian matematika, matematika berasal dari kata yunani yaitu
matemathike. Akar kata dari mathem dan mathanein. Mathema berarti pengetahuan atau
ilmu sedangkan mathein berarti belajar atau berpikir. Jadi maatematika adalah pelajaran
yang memerlukan pemusatan pemikiran untuk meningkatkan dan mengenal kembali
semua aturan yang ada dan harus dipeuhi untuk menguasai materi yang dioelajari.
Berdasarkan dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
matemetika di SD merupakan suatu proses interaksi antara peserta didik dan sumber
belajar (guru) pada suatu lingkungan belajar, dimana perubahan tingkah laku peserta
didik diarahkan pada peningkatan kemampuan dalam mempelajari matematika,
sedangkan guru dalam mengajar harus pandai mencari metode pembelajaran yang akan
membantu peserta didik dalam kegiatan belajarnya.
D. Instrumen Penelitian
Instrumen berfunngsi sebagai alat bantu dalam mengumpulkan data yang
diperlukan. Bentuk instrumen berkaitan dengan metode pengumpulan data, missal metode
wawancara, instrumennya pedoman wawancara. Metode angket atau kuisioner
instrumennya berupa angket atau kuisioner. Metode tes innstrumennya adalah soal tes,
tetapi metode observasi instrumennyaa bernama checklist.
Menyusun insrumen pada dasarnya adalah menyusun alat evaluasi karena
evaluasi adalah memperoleh data tentang sesuatu yang diteliti dan hasil yang diperoleh
dapat diukur dengan menggunakan standar yang telah ditentukan sebelumnya oleh
peneliti. Bentuk instrument yang akan digunakan dalam penelitian ini adalaah instrumen
tes (berupa soal tes) yang digunakan pada awal penerapan metode pemecahan masalah
dan pada akhir penerapan metode pemecahan masalah , instrumen observasi.
1. Observasi
Secara sederhana observasi berarti pengamatan dengan tujuan tertentu. Oleh
karena itu, penggunaan istilah observasi dan pengamatan sering diperlukan.Khusus dalam

kontek PTK observasi mempunyai maknaa yang sangat khas. Yang membedakanya
obsevasi dalam penelitian.Yang diobsevasi dalam penelitian ini adalah siswa dan yang
mengobservasi adalah si peneliti atau guru itu sendiri.
Secara umum observasi bertujuan untuk mengumpulkan data yang diperlukan
untuk menjawab masalah tertentu. Dalam penelitian formal, observasi bertujuan untuk
mengumpulkan data yang valid dan reliable (sahih dan handal). Data
ini kemudian akan diolah untuk menjawab berbagai pertanyaan penelitian. Dalam
PTK, observasi terutama diajukan untuk memantau proses dan dampak perbaikan yang
direncanakan. Oleh karena itu, yang menjadi sasaran observasi dalam PTK adalah proses
dan hasil atau dampak pembelajaran yang direncanakan sebagai tindakan perbaikan.
Proses dan dampak yang teramati diinterpretasikan, selanjutnya digunakan untuk menata
kembali langkah-langkah perbaikan.
Pada dasarnya prosedur atau langkah-langkah observasi terdiri dari tiga tahap,
yaitu: pertemuan pendahuluan, observasi dan siklus balikan. Ketiga tahap ini sering
disebut sebagai siklus pengamatan, yang dipakai dalam supervise klinis, baik dalam
membimbing calon guru maupun dalam memberikan bantuan profesional bagi guru yang
sudah bertugas.
2. Angket dan wawancara
Disamping data yang dikumpulkan dengan observasi, masih ada data
pembelajaran yang akan dikumpulkan dengan berbagai teknik lain, seperti angket dan
wawancara.
Angket atau kuisioner dapat digunakan untuk menjaring pendapat siswa tentang
pembelajaran, asal dibuat secara sederhana dan juga memuat pertannyaan yang direspon
secara bebas (terbuka) oleh siswa.
Wawancara dapat dilakukan untuk mengungkap pendapat siswa tentang
pembelajaran. Dalam hal ini wawancara dapat terjadi antara guru dan siswa, pengamat
dan siswa, siswa dan siswa, sedangkan wawancara pengamat dan guru terjadi pada tahap
pertemuan pendahulan dan diskusi balikan. Agar wawancara berlangsung efektif, suasana
kondusif harus diciptakan terlebih dahulu.
E. Prosedur dan Teknik Pengolahan Data
Pengumpulan data dilakukan guru sebagai peneliti selama proses pelaksanaan
tindakan. Data yang dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara dan angket.
Observasi dilakukan pada saat penelitian akan dilakukan dan pada saat penelitian itu
berlangsung.

1. Pengolahan data
Data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis data, yaitu
data kuantitatif dan data kualitatif. Adapun data kuantitatif yang akan merekam daya
serap siswa terhadap pembelajaran akan dikumpulkan melalui pelaksanaan evaluasi
secara tertulis dengan alat bantu adalah alat evaluasi (soal-soal) bentuk pilihan uraian
yang hasilnya akan disajikan dalam bentuk diagram dan tabel sedangkan cara
pengumpulan data kualitatif tentang interaksi antara guru dengan siswa dalam
pembelajaran dan keaktifan siswa dalam pembelajaran akan dikumpulkan melalui
pelaksanaan observasi dengan alat bantu lembar observasi.
a. Data kuantitatif
Data diperoleh dari hasil belajar selama tes pembelajaran matematika.
Pengolahan data kuantitatif menggunakan metode statistik yaitu dengan perhitungan:
Penyekoran
Penyekoran dilakukan dengan menghitung jumlah skor yang diperoleh setiap
siswa dengan mengisi format daftar penilaian. Kriteria penilaian yang digunakan adalah
siswa yang menjawab benar diberi skor 25, siswa yan menjawab salah diberi skor 0,
siswa menjawab tapi kurang tepat diberi skor 10 dan menjawab hanya pemahaman diberi
skor 5 sesuai dengan indicator penialian yang telah dibuat (terlampir)
1). Untuk mengetahui skor rata-rata kelas diguanakan rumus:
SR = fi.xi
fi
Keterangan :

SR

= rata-rata kelas

Fi

= jumlah siswa

Xi

= nilai tiap siswa

2). Adapun untuk mengolah hasil tes siswa dilakukan dengan teknik perhitungan
persentase. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa
dalam menguasai materi. Oleh karena itu rumus yang digunakan untuk mencari
persentase tersebut adalah:
P = f x 100
n
Keterangan :

= persentase jumlah nilai siswa

=jumlah nilai yang diperoleh

=jumlah siswa

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di SDN Purwajaya III untuk


pelajaranmatematika ini adalah 6,0. Maka penelitian ini dikatakan berhasil apabila semua
siswa mendapatkan nilai minimal 6,0. Dalam penelitian kuantitatif penyajian data ini
dilakukan dalam bentuk tabel dan grafik. Melalui penyajian data tersebut maka data akan
terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan, sehingga akan mudah dipahami.
b. Data kualitatif
Data kualitatif mencatat tentang interaksi antar siswa dengan guru dalam
pembelajaran dan keaktifan siswa dalam pembelajaran akan dikumpulkan melalui
pelaksanaan observasi dengan alat bantu lembar observasi.
Data kualitatif dinilai berdasarkan huruf dari A (Baik Sekali), B (Baik), C (Cukup), D
(kurang). Dari setiap aspek terdapat 3 kriteria skor penilaian apabila melaksanakan semua
kriteria mendapat nilai A, salah satu tidak dilaksanakan mendapat nilai B, hanya saatu
yang dilaksanakan mendapat nilai C dan jika semua tidak dilaksanakan
mendapat nilai D.
Rata rattan = Jumlah Nilai Aspek
Jumlah siswa
2. validasi data
Untuk mendapatkan data yang mendukung dan ssesuai dengan karakteristik
permasalan dan tujuan penelitian teknik validasi data yang diggunakan adalah sebagai
berikut:
1. Triangulasi data, yaitu upaya pengecekan kembali data yang sudah terkumpul
dengan menggunakan instrumen, untuk menjaring data ini melalui observasi dan
tes hasil belajar.
2. Member chek, yaitu mengecek kebenaran hasil temuan dari hasil tiap siklus,
refleksi
sampai akkhir keseluruhan tindakan. Sehingga mendapatkan data yang lengkap
dan memiliki validitas dan realibilitas yang tinggi.
3. Audit trail, yaitu pengecekan keabsahan temuan penelitian dan prosedur penelitian
yang telah diperiksa dengan mengkonfirmasikan kepada teman sejawat dan
dosen. Hal ini dilakukan untuk memperoleh kritik, tanggapan serta masukan
konstruktif sehingga mempertajam analisis dan memperoleh validitas yang
tinggi.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Keadaan Siswa
Keadaan siswa kelas VI SDN Purwajaya III
Berdasarkan Jenis Kelamin

No
Jenis kelamin
1
Laki-laki
2
Perempuan
Jumlah

Jumlah
12
6
18

Persentase
66,67%
33,33%
100%

Berdasarkan data tabel di atas, dapat disimpulkan lebih dari setengahnya


(66,67%) berjenis kelamin laki-laki, sedangkan sisanya kurang dari setengah (33,33%)
berjenis kelamin perempuan.
Keaktifan Siswa di Kelas VI SDN Purwajaya III

No Peringkat/kategori
1
Aktif
2
Sedang
3
Kurang
Jumlah

Jumlah
5
9
4
18

Persentase
27,78%
50%
22,22%
100%

Dari tabel diatas 5 orang siswa atau sebagian kecil (27,78%) digolongkan kelompok
aktif, 9 orang siswa (50%),digolongkan kelompok sedang dan 4 orang siswa (22,22%)
digolongkan ke kelompok kurang.
B. Deskripsi Per Siklus
Siklus I
a. Perencanaan
Dalam tahap perencanan peneliti menyusun beberapa tahap untuk dilaksanakan
agar pelaksanaan tindakan berjalaan sesuai dengan tujuan, diantaranya adalah: menyusun
rencana pelaksanaan pembelajaran, menyiapkan materi, memilih buku pelajaran yang
relevan, benda atau media untuk membantu pemahaman siswa, tugas (Lembar Kerja
Siswa) dan lembar observasi.
b. Pelaksanaan Tindakan dan Observasi
Pelaksanaan tindakan I merupakan proses pembelajaran matematika dengan
menerapkan metode pemecahan masalah, dilaksanakan pada hari selasa tanggal 25

Januari 2011, Pukul 08.30 sampai dengan pukul 09.40 WIB, dideskripsikan sebagai
berikut.
Kegiatan Awal, dengan ucapan salam, pembacaan doa, guru mengabsen siswa.
Kemudian guru memberi penjelasan materi pelajaran tentang pokok bahasan
perbnadingan dan skala dalam bentuk soal cerita.
Kegiatan inti, dengan menggunakan benda konkrit berupa peta dan atlas, guru
menjelaskan cara menyelesaikan perbandingan dan skala dalam bentuk soal cerita,
kemudian beberapa siswa disuruh kedepan dan guru bertanya kepada siswa apakah yang
diketahui dalam soal tersebut, apa yang ditanyakan dan bagaimana cara
menyelesaikannya. Setelah itu guru memberikan contoh soal sebelum siswa mengisi soal
siswa membaca soal terlebih dahulu agar memami isi soal yang diberikan dan mengetahui
tentang apa yang diketahui, ditanyakan dan bagaiman cara menyelesaikannya dalam soal
tersebut. Setelah siswa paham barulah siswa mengerjakannya. Kemudian guru
memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya.
Kegiatan akhir, guru menyimpulkan pelajaran yang telah dipelajari bersama dan
sebagai tindak lanjut guru memberikan tugas kepada siswa setelah selesai bersama-sama
guru dan siswa membahas latihan yang telah mereka kerjakan.
Dari hasil penilaian tugas yang diberikan guru kepada siswa bahwa dalam proses
pembelajaran matematika sudah ada peningkatan, hal ini dapat dilihat dari hasil jawaban
siswa yang sebagian besar sudah memahami dan cara menyelesaikan soal cerita.
c. Analisis dan Refleksi
1) Analisis
Dari hasil analisis evaluasi siswa terhadap proses pembelajaran matematika pada
siklus I dapat dilihat dibawah ini:
Hasil Analisis Terhadap Hasil Evaluasi Siswa
Pada Tahap Siklus I
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Nama
Ahmad Fadilah
Ahmad Yadi
Adika Sofyan
Anita Indriani
Erwin Santoso
Fitri Ekawati
Fitriyani
Intan Sri Mulyani
Jafar Abdurrohman

Nilai
5
4
6
6
6
6
5
6
5

No
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.

Nama
Khilin April Dhaeni
Rahmat Hidayat
Rasmadi
Tia Haryani
Tiyan Riyadi
Dini Andini
Aris
Teja Sulaksana
Muksin

Grafik Nilai Pada Tahap Siklus I


Frekuensi

Nilai
5
5
7
6
6
5
4
3
7

7
6
5
4
3
2
1
Nilai

Dari tabel di atas menujukan bahwa pembelajaran pada siklus I paling banyak
siswa memperoleh nilai dari 6,0. Itu artinya mencapai batas kelulusan.
2). Refleksi
Berdasarkan hasil analisis terhadap pembelajaran matematika pada tahap siklus I
dalam proses pembelajaran dan hasil perolehan sudah mengalami peningkatan yaitu pada
siklus I memperoleh nilai rata-rata 5,38.. Oleh karena itu, peneliti merencanakan
perbaikan proses pembelajaran matematika melalui metode pemecahan masalah pada
tahap siklus II
Siklus II
a. Perencanaan
Sebelum proses pembelajaran matematika dengan menggunakan metode
pemecahan masalah dilaksanakan, terlebih dahulu dipersiapkan perencanaan sebagai
berikut : pertama, menyusun rencana pembelajaran II dengan menerapkan metode
pemecahan masalah. Rencana pembelajaran tahap ini, perencanaan kegiatan yang
dilakukan guru adalah merumuskan dalam bentuk Persiapan Mengajar Harian (PMH),
dengan sub pokok bahasan perbnadingan dan skala pada soal cerita. Rumusan persiapan
mangajar harian terlampir.
b. Pelaksanaan Tindakan dan Observasi
Tindakan kedua ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 01 Februaril 2011
pukul 08.30-09.40 WIB, pada tindakan kedua ini berpedoman pada refleksi tindakan
kesatu yang lebih banyak menjelaskan tentang cara memahami kalimat yang ada pada
soal cerita, dan bagaimana cara penyelesaiannya apakah ditambah, dikurang,
dikali atau dibagi. Setelah selesai mengoperasikanya memeriksa kembali apakah
jawabannya benar atau tidak. Setelah melewati proses ini siswa akan lebih mudah untuk
memahami soal.
Kegiatan awal, setelah selesai ber doa, mengucap salam dan kemudian guru
mengabsen guru memulai pembelajaranya dengan mengulang materi yang telah dipelajari
dan selanjutnya mempersiapkan siswa untuk menerima pelajaran.

Kegiatan inti, guru mencoba mengatasi kesulitan siswa dalam memahami soal
cerita. Kemudian guru memberikan contoh soal yang digambarkan pada benda konkrit.
Pertama guru menjelaskan apa yang diketahui dalam soal tersebut dan apa yang
ditanyakandan bagaiman cara menyelesaikannya. Karena pembelajaran ini dilakukan
pada kelas rendah yaitu kelas II, maka agar siswa lebih paham menggunakan benda
kongkrit. Selama kegiatan berlangsung, peneliti melakukan pengamatan terhadap
aktivitas siswa dalam menyelesaikan soal cerita serta memasuki hasil pengamatannya
kedalam pengamatan observasi. Dan pada tahap siklus II ini siswa belajar lebih aktif dan
dapat berpikir kritis, itu dapat dilihat dari berbagai pertanyaan dan jawabannya pada saat
pembelajaran berlangsung. Akhir kegiatan inti II, guru menyimpulkan materi dan siswa
diberikan tes formatif II secara individual.
Kegiatan akhir, guru mengadakan refleksi terhadap proses pembelajaran dan hasil
belajar siswa, yang dilanjutkan dengan memberikan evaluasi sebagai bahan refleksi II.
Kesimpulan dari hasil belajar siswa pada siklus II peneliti menganalisis proses
pembelajaran dengan menggunakan pedoman observasi aktivitas siswa guru selama
pembelajaran yang diisi oleh observer.
c. Analisis, Refleksi dan Revisi proses pembelajaran siklus ke II
1). Analisis
Dari hasil analisis pada tahap siklus ke II ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Hasil Analisis Terhadap Hasil Evaluasi Siswa
Pada Tahap Siklus II
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Nama Siswa
Ahmad Fadilah
Ahmad Yadi
Adika Sofyan
Anita Indriani
Erwin Santoso
Fitri Ekawati
Fitriyani
Intan Sri Mulyani
Jafar Abdurrohman

Nilai
6
5
7
6
6
6
6
8
6

No
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.

Nama Siswa
Khilin April Dhaeni
Rahmat Hidayat
Rasmadi
Tia Haryani
Tiyan Riyadi
Dini Andini
Aris
Teja Sulaksana
Muksin

Grafik Nilai Pada Tahap Siklus II

Frekuensi
10
9
8
7
6
5
4
3

Nilai
7
8
7
7
7
6
5
5
8

2
1
Nilai

dapat dilihat bahwa hasil pembelajaran siswa pada siklus II menunjukan


peningkatan yang sangat baik, hal ini dapat dibuktikan oleh nilai yang diperoleh siswa
semua siswa sudah mencapai batas kelulusan bahkan ada beberapa siswa yang
memperoleh nilai 8. hal ini berarti semua siswa dapat memenuhi KKM dengan rata-rat
nilai 6,61.
2). Refleksi dan Revisi
Dari hasil analisis terhadap pembelajaran matematika pada tahap Siklus II
diperoleh data bahwa proses pembelajaran yang terjadi pada Siklus II sangat baik,
peningkatan persentase hasil belajar dari tahap pra PTK ke tahap siklus II mencapai 6,61
4,67 = 1,94 atau 29,34% dari hasil belajar pada Siklus II dan jumlah yang lulus
sebanyak 18 Orang siswa dengan persentase 100% sehingga memberikan dampak cukup
baik terhadap aktivitas dan kemampuan siswa dalam pembelajaran matematika pada
pokok perbandingan dan skala dalam bentuk soal cerita melalui metode pemecahan
masalah..
Peningkatan tersebut menggambarkan adanya perubahan dalam proses
pembelajaran selama menggunakan metode pemecahan masalah, dengan demikian
peneliti menyimpulkan bahwa metode pemecahan masalah dalam meningkatkan
kemampuan menyelesaikan soal cerita sangat baik. Peningkatkan hasil belajar siswa
sebelum dan sesudah menggunakan metode pemecahan masalah.
Hasil Analisis Siklus I dan Siklus II

No

Nama Siswa

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Ahmad Fadilah
Ahmad Yadi
Adika Sofyan
Anita Indriani
Erwin Santoso
Fitri Ekawati
Fitriyani
Intan Sri Mulyani
Jafar Abdurrohman
Khilin April Dhaeni
Rahmat Hidayat
Rasmadi
Tia Haryani
Tiyan Riyadi
Dini Andini

Perolehan Nilai Pada


Siklus I
Siklus II
5
6
4
6
6
7
6
6
6
6
6
6
5
6
6
8
5
6
5
7
5
8
7
7
6
7
6
7
5
6

16 Aris
4
6
17 Teja Sulaksana
3
6
18 Muksin
7
8
Jumlah
84
119
Rata-rata Nilai
4,67
6,61
Grafik Nilai Pada Tahap Siklus I dan Siklus II

100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
%

Siklus I

Siklus II

Berdasarkan pada grafik diatas bahwa persentase tingkat keberhasilan pada tahap
siklus I adalah sebesar 50% dan persentase tingkat keberhasilan pada tahap siklus II
adalah sebesar 100%.
C. Pembahasan
Hasil penelitain menujukan bahwa pembelajaran matematika sebelum
menggunakan metode pemecahan masalah mendapatkan nilai yang rendah dan nilai ratarata yang diperoleh dibawah standar KKM dengan nilai rata-rata 4,67 sedangkan batas
nilai KKM adalah 6,0 dan pada pembelajaran ini sebagian besar siswa belum mencapai
batas nilai KKM yaitu sebanyak 13 orang siswa dari jumlah siswa seluruhnya 18, dengan
persentase 72,22% siswa yang tidak lulus, Sedangkan aktivitas siswa dalam proses
pembelajaran sebelum menggunakan metode pemecahan masalah, menunjukan siswa
kurang aktif dalam belajar, seakan-akan siswa belajar matematika hanya diam,
mendengarkan dan mencatat materi yang di berikan guru, jadi dalam pembelajaran
hanyalah guru dan siswa tidak diberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas belajar
sesuai dengan tujuan pembelajaran, hasil dari observasi terhadap aktivitas belajar siswa.
Hasil yang diperoleh pada aktivitas siswa setelah menggunakan metode
pemecahan masalah, menunjukan peningkatan yang begitu baik, karena dalam
pembelajaran ini, siswa lebih banyak diajak untuk berpikir aktif dalam pembelajaran dan
guru dalam pemelajaran matematika ini hanyalah bersifat fasilitator. Nilai yang diperoleh
dalam proses pembelajaran setelah menerapkan metode pemecahan masalah pun
meningkat yaitu pada siklus I mendapatkan nilai rata-tara kelas 5,38 dengan tingkat

keberhasilan 50% dan pada siklus II mendapatkan nilai rata-rata kelas 6,61 dengan
tingkat keberhasilan 100%.
Dari hasil pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa metode pemecahan
masalah dapat meningkatkan hasil belajar siswa selain itu juga metode pemecahan
masalah dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa yang tadinya siswa bersifat pasif
dalam pembelajaran matematika, bahwa sebelum penelitian di laksanakan dengan
menggunakan metode pemecahan masalah, aktivitas siswa tidak lain hanyalah duduk,
diam,mencatat materi yang diberikan oleh guru dan akhir pelajaran siswa melaksanakan
tes evaluasi, tetapi setelah penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode
pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika dalam menyelesaikan soal cerita,
siswa lebih banyak melakukan aktivitas belajar dan berpikir aktif dan dapat
meningkatkan hasil belajar siswa.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tentang penerapan metode pemecahan masalah pada


mata pelajaran matematika kelas VI di SD Negeri Purwajaya III , dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. Sebelum menggunakan metode pemecahan masalah hasil belajar siswa sangat
kurang baik dan dibawah rata-rata KKM dengan 6,0 yang tidak lulus sebanyak 13
orang dari jumlah 18 siswa, dengan ratarata kelas 4,67.
2. Aktivitas belajar siswa dengan menggunakan metode pemecahan masalah
menjadikan siswa lebih aktif dalam pembelajaran siswa tidak lagi diam dan pasif
dalam pembelajaran matematika siswa lebih diajak berpikir aktif dan dituntut
untuk bertanya jika ada materi yang belum dipahami. Setelah menggunakan
metode pemecahan masalah siswa menagalmi penigkatan dari berbagai aspek, dari
aspek disiplin, motivasi,minat dan aktivitas dalam pembelajaran.
3. Sesudah menggunakan metode pemecahan masalah hasil belajar siswa meningkat
dengan baik, menggunakan nilai batas lulus (rata-rata KK) 6,0 yang lulus
sebanyak 28 orang siswa, dengan nilai ratarata kelas pada siklus I (5,38) dengan
tingkat keberhasilan 50%. dan Siklus II (6,61) dengan tingkat keberhasilan 100%.
B. Saran
Adapun saran berdasarkan hasil penelitian tentang penerapan metode pemecahan
masalah pada mata pelajaran matematika kelas VI di SD Negeri Purwajaya III , Aadalah
sebagai berikut:
1. Dengan melihat hasil peningkatan prestasi belajar siswa, setelah menggunakan
metode pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika, disarankan bagi
guruguru untuk dapat menerapkan metode pemecahan masalah dalam proses
pembelajaran karena (1) siswa tidak lagi bosan dengan metode ceramah yang
disajikan guru setiap mengajar, (2) siswa tidak lagi takut menghadapi pelajaran
matematika, (3) siswa tidak lagi menjadi objek dalam proses pembelajaran, (4)
siswa tidak lagi pasif dalam proses pembelajaran,(5) siswa harus lebih
meningkatkan aktivitas belajarnya (6) siswa tidak bingung lagi ketika menghadapi
soal cerita dan bisa menyelesaikannya dengan baik.
2. Agar pelaksanaan metode pemecahan masalah terlaksana dengan efektif dan
efesien. Perlu aspek-aspek sebagai berikut : (1) bahan pelajaran harus sudah
tersusun dengan baik, (2) siswa diajak untuk berpikir, (3) kreativitas siswa lebih
diutamakan, (4) penguasaan materi bagi pengajar, (5) kemampuan guru dalam
mengarahkan siswa ke dalam menyelesaikan soal cerita, (6) guru harus menjaga
keamanan dan ketertiban siswa, supaya kelas lain tidak terganggu.

3. Apabila masih ada siswa yang belum mencapai terget, dianjurkan bagi guru untuk
mengadakan pengajaran remedial atau perbaikan yang biasanya menerapkan
kegiatan kegiatan sebagai berikut: (1) mengulang pokok bahasan seluruhnya, (2)
mengulang pokok bahasan yang hendak dicapai, (3) menyelesaikan soal-soal
secara bersama-sama, (4) memberikan tugastugas khusus.

DAFTAR PUSTAKA
Adjie, N dan Maulana. (2006). Pemecahan Masalah Matematika. Bandung: UPIPress.
Ambarita, A. (2006). Manajemen Pembelajaran. Bandung: Depdiknas.
Adjie Nahrowie. (2006). Konsep Dasar Matematika. Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia.

Erman, S, Dkk ( 2002), kurikulum Pembelajaran, Bandung : UPI.


Hermawan, R., Mujono dan Suherman, A. (2006). Metode Penelitian Pendidikan
Sekolah Dasar. Bandung: UPI Press
Karso, dkk. (2002) Pendidikan Matematika I, Jakarta : Pusat Penerbit Universitas
Terbuka.
Kasbolah, Kasihani.(1997/1998).Penelitian Tindakan Kelas : Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Direktoral Jendral Pendidikan Tinggi.
NN. (2007). Pemecahan Masalah. [Online]. Tersedia:http://gurupkn.wordpress.com
[17 desember 2009]
NN. (2009). Pendekatan Pemecahan Masalah dalam Matematika. [Online]. Tersedia:
http://techonly13.wordpress.com [17 Desembar 2009]
Purwanto. Ngalim (1990) Psikologi Pendidikan :Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.
Ruseffendi. (2006) Pengantar Kepada Membantu Guru Mengmbangkan Kompetensinya
Dalam Pengajaran Matematika Untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito
Rusefendi, E.T, dkk. (1998) Model Pendidikan Matematika 3. Depdiknas 1992
Sukidin, dkk ( 2002), Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : Insan Cendikia.
Syarifudin Tatang. (2006) Landasan Pendidikan. Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia
Suwangsih, E. (2006). Model Pembalajaran Matematika. Bandung: UPI Press
Syaodih. Sukmadinata, Nana. (2003) Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung:
PT. Remaja Rosda Karya
Usman, Moh Uzer. (1993) Upaya Peningkatan Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung: PT.
Remaja Rosda Karya
Wardani, I, Wihardit K.(2008). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Universitas Terbuka.
Winataputra, udin, dkk. Teori Belajar dan Pembalajaran. Jakarta: Universitas
Terbuka
Winda. (2009). Metode Problem Solving Pemecahan. [Online]. Tersedia:
http://winda-forum.blogspot.com [17 desember 2009]
.
Wibawa, Basuki. (2003) Penilaian Tindakan Kelas. Jakarta: Departemen Pendidikan
Nasional
--------------(2006) Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: Departemen Pendidikan
Nasional Universitas Pendidikan Indonesia.