Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Audit laporan keuangan adalah penilaian atas suatu perusahaan atau badan
hukum lainnya (termasuk pemerintah) sehingga dapat dihasilkan pendapat yang
independen tentang laporan keuangan yang relevan, akurat, lengkap dan disajikan
secara wajar. Hasil audit laporan keuangan harus memiliki manfaat baik bagi pihak
internal maupun eksternal perusahaan. Selain itu, laporan audit memiliki keterbatasan
tertentu dan beberapa penyimpangan dari standar laporan audit, dan auditor harus
mengetahui semuanya.
Masyarakat yang semakin kompleks menyebabkan pengguna laporan
keuangan (pengambil keputusan ekonomi) dihadapkan kepada informasi yang
semakin tidak bisa dipercaya. Agar dapat digunakan untuk berbagai kepentingan yang
berbeda (yang sebagian di antaranya merupakan pihak diluar manajemen), maka
laporan keuangan harus disusun berdasarkan Kerangka Laporan Keuangan yang
Berlaku. Para pengguna laporan keuangan kadang-kadang meragukan kewajaran
informasi yang tertuang dalam laporan keuangan yang disusun manajemen karna
berbagai hal.
Dari uraian di atas, maka penulis tertarik untuk membuat makalah tentang
Audit Laporan Keuangan agar nantinya mahasiswa yang telah memperlajari mata
kuliah audit setidaknya dapat memahami dan menyatakan pendapat atas kewajaran
laporan keuangan, dalam semua hal yang material, sesuai dengan prinsip-prinsip
akuntansi yang berlaku umum.
1.2 Rumusan Masalah
Mengacu kepada hal-hal di atas yang melatar belakangi pembuatan makalah
ini, maka penulis mengidentifikasi permasalahan yang ada yaitu sebagai berikut:
1.Jelaskan secara rinci bagaimana latar belakang pengauditan laporan keuangan?
2. Siapa pihak pihak yang berinteraksi secara profesional dengan auditor?

MAKALAH AUDIT LAPORAN KEUANGAN |

3. Bagaimana isi dan struktur Standar profesional akuntan publik yang berlaku
saat ini?
1.3 Tujuan Penelitian
1.Untuk mengetahui bagaimana latar belakang pengauditan laporan keuangan.
2. Untuk mengetahui siapa pihak pihak yang berinteraksi secara profesional
dengan auditor.
3. Untuk mengetahui bagaimana isi dan struktur Standar Profesional Akuntan
Publik yang berlaku saat ini.

MAKALAH AUDIT LAPORAN KEUANGAN |

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Latar Belakang Pengauditan Laporan Keuangan


Pada bagian berikut ini akan dibahas tentang (1) hubungan antara akuntansi
dengan penngauditan, (2) asumsi yang mendasari pengauditan, (3) kondisi-kondisi
yang menyebabkan timbulnya kebutuhan akan pengauditan dan (4) manfaat serta
keterbatasan pengauditan.
A. Hubungan antara Akuntansi dan Pengauditan
Banyak pemakai laporan keuangan dan masyarakat awam pada umumnya,
rancu tentang hubungan antara auditing dengan akuntansi. Ada yang mengatakan
bahwa auditing adalah cabang dari akuntansi, karena orang yang melakukan auditing
pasti harus ahli dibidang akuntansi. Ada pula yang mengatakan bahwa pengauditan
adalah pemeriksaan atas catatan akuntansi, sehingga pengauditan di artikan sebagai
pemeriksaan akuntansi.
Sebenarnya segala macam informasi yang bisa dikuantifikasi dan bisa di
verifikasi akan bisa diaudit, sepanjang terdapat kesepakatan antara auditor dengan
pihak diaudit mengenai kriteria yang akan digunakan sebagai dasar untuk
menyatakan tingkat kepatuhan (kesesuaian). Sebagai contoh, audior bisa diminta
untuk mengaudit keefektivan sebuah perusahaan penerbangan. Kriteria yang biasa
disepakati untuk mengukur tingkat efektifitas perusahaan itu bisa berupa kecepatan,
akselerasi, keceptana jelejah pada keetinggian tertentu, dan sebagiannya. Kriteria
kriteria tersebut bukan merupakan data akuntansi.
Namun dalam sebagian besar audit, lebih-lebih dalam audit laporan keuangan,
terdapat hubungan yang erat dan banyak melibatkan data akuntansi. Sebagaimana
diketahui akuntansi didefisinikan sebagai proses mengindentifikasi, mengukur, dan
mengomunikasikan informasi keuangan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Pelaporan keuangan yang merupakan tahap pengkomunikasian dalam akuntansi
adalah penyampaian informasi akuntansi dalam bentuk laporan keuangan, meski pun
konsep laporan keuangan tidak terbatas hanya pada keuangan.
Gambar 2-1 dibawah ini menunjukan adanya (mencatat, mengelompokan, dan
meringkas transaksi dalam bentuk laporan keuangan yang disusun sesuai dengan
kerangka pelaporan keuangan yang berlaku) berbeda dengan proses auditing
MAKALAH AUDIT LAPORAN KEUANGAN |

(mendapatkan dan mengevaluasi bukti untuk menghasilkan bahwa laporan keuangan


telat disusun sesuai dengan kerangka laporan keuangan yang berlaku).
Gambar 2-1 HUBUNGAN ANTARA AKUNTANSI DENGAN AUDITING
PELAPORAN KEUANGAN

AKUNTANSI

AUDITING

Berlandaskan Standar Kerangka


Pelaporan Keuangan

Berlandaskan Standar Auditng


Tanggungjawab Auditor

Tanggungjawab Manajemen
Menganalisis kejadian
dan transaksi

Mengukur dan mencatat


Data transaksi

Mengelompokan dan
meringkas data

Menyusun laporan keuangan


sesuai dengan kerangka
pelaporan keuangan yang
berlaku

Mendapatkan dan
mengevaluasi bukti tentang
laporan keuangan
Memeriksa bahwa laporan
keuangan telah di susun
sesuai dengan kerangka
pelaporan keuanga yang
berlaku

Menyatakan pendapat(opini)
dalam laporan auditor

Menyerahkan laporan
kepada klien

Mendistribusikan laporan
keuangan dan laporan
auditor kepada para
pemegang saham dalam
laporan keuangan tahunan
MAKALAH AUDIT LAPORAN KEUANGAN |

B. Asumsi yang Mendasari Pengauditan: Data Laporan Keuangan Bisa


Diverifikasi
Pengauditan didasarkan pada asumsi bahwa data laporan keuangan bisa
diverifikasi. Data dikatakan bisa diverifikasi apabila dua orang atau lebih yang
memiliki kualifikasi tertentu, masing-masing melakukan pemeriksaan secara
independen atas data tertentu, dan dari hasil pemeriksaan tersebut diperoleh
kesimpulan yang sama tentang data yang diperiksanya. Masalah bisa tidak nya data
diverifikasi terutama berkaitan dengan ketersediaan bukti yang memiliki keabsahan
sesuai dengan audit yang dilakukan.
Data dikatakan bisa diperiksa apabila pemeriksa membuktikan tanpa keraguan
bahwa data benar atau salah. Hal itu tidak berlaku dalam akuntansi dan pengauditan.
Auditor hanya membutuhkan dasar yang memadai untuk menyatakan suatu pendapat
tentang kewajaran laporan keuangan. Dalam pengauditan laporan, auditor harus yakin
bahwa asersi-asersi individual bisa diverifikasi (atau bisa diperiksa) dan
dimungkinkan untuk mencapai suatu kesimpulan tentang kewajaran laporan sebagai
keseluruhan dengan memeriksa akun-akun yang membentuk laporan.
C. Kondisi - Kondisi yang Menyebabkan Timbulnya Kebutuhan akan
Pengauditan
Masyarakat yang semakin kompleks menyebabkan pengguna laporan
keuangan (pengambil keputusan ekonomi) dihadapkan kepada informasi yang
semakin tidak bisa dipercaya. Agar dapat digunakan untuk berbagai kepentingan yang
berbeda (yang sebagian di antaranya merupakan pihak diluar manajemen), maka
laporan keuangan harus disusun berdasarkan Kerangka Laporan Keuangan yang
Berlaku. Para pengguna laporan keuangan kadang-kadang meragukan kewajaran
informasi yang tertuang dalam laporan keuangan yang disusun manajemen karna
berbagai alasan antara lain:
1. Informasi Dibuat Oleh Pihak Lain
Apabila informasi berasal dari pihak lain, maka kemungkinan (disengaja atau
tidak disengaja) adanya informasi yang tidak benar menjadi bertambah besar. Resiko
salah informasi semakin meningkat ketika obyek yang dilaporkan berjauhan dengan
penerima informasi.
2.Bias dan Motivasi Pembuat Informasi

MAKALAH AUDIT LAPORAN KEUANGAN |

Apabila informasi disusun oleh pihak atau orang lain yang tujuannya tidak
selaras dengan tujuan pengambilan keputusan, maka informasi bisa menjadi bias
demi keuntungan si pembuat informasi.
3.Volume Data
Bertambahnya jumlah transaksi bisa menyebabkan terjadi kesalahan dalam
pencatatan. Sebagai contoh, apabila sebuah perusahaan besar menarik selembar check
yang jumlah rupiah nya ditulis lebih besar beberapa ribu rupiah dar jumlah yang
seharusnya, kesalahan seperti ini sering tidak nampak kecuali bila perusahaan
tersebut memiliki prosedur kontrol yang sangat ketat.
4.Kerumitan Transaksi
Transaksi pertukaran antara organisasai semakin bertambah kompleks dan
akibatnya semakin sulit untuk mencatatnya secara cepat. Sebagai contoh pada tahuntahun terakhir ini transaksi leasing (sewa guna) dan pencatatannya cukup rumit
semakin sering terjadi, begitu pula penggabungan dan pengungkapan hasil operasi
dari anak perusahaan pada berbagai industri.
Cara mengurangi resiko informasi
Ada tiga pilihan yang mungkin dilakukan untuk mengurangi resiko informasi,
yaitu:
1. Pemakai laporan melakukan sendiri verifikasi atas informasi
Pemakai laporan datang keperusahaan untuk melakukan pemeriksaan atas
catatan dan mencari informasi tenteng keandalan laporan.
2. Pemakai Membebankan Risiko Informasi pada Manajemen
Pembebanan kerugian manajemen kadang-kadang tidak dapat menutup
kerugian yang diderita pemakai informasi.
3.Disediakan Laporan Keuangan Auditor
Cara yang umum ditempuh untuk mendapatkan informasi yang dapat di
andalkan adalah dengan mengharuskan dilakukan audit secara independen.
Informasi yang telah di audit kemudian telah digunakan dalam proses
pengambilan keputusan dengan asumsi bahwa informasi tersebut lengkap, akurat,
dan tidak bias.

MAKALAH AUDIT LAPORAN KEUANGAN |

D. Manfaat Ekonomis Suatu Audit


Manfaat ekonomis suatu audit keuangan antara lain:
1.Akses kepasar modal
Undang-undang pasar modal mewajibkan perusahaan audit untuk di audit
laporan keuangan nya agar bisa didaftar dan bisa menjual saham nya di pasar modal.
Tanpa audit, perusahaan akan ditolak untuk melakukan akses kepasar modal
2.Biaya Modal Menjadi Lebih Rendah
Oleh karena laporan keaungan auditan dapat menurunkan resiko informasi,
biasanya kreditor bersedia untuk menetapkan bunga yang lebih rendah, dan para
investor mungkin akan bersedia untuk menerima rate off return yang lebih rendah ats
investasi nya.
3.Pencegah Terjadinya Kekeliruan dan Kecurangan
Apabila para karyawan mengetahui akan dilakukan audit oleh auditor
independen mereka cendrung untuk lebih berhaati-hati agar dapat memperkecil
terjadinya kekeliruan dalam pelaksaan fungsi akuntansi dan penyalahgunaan asset
perusahaan.
4.Perbaikan Dalam Pengendalian Operasional
Auditor independen sering kali dapat memberi berbagai saran umtuk
memperbaiki pengendalian dan mencapai efesinsi operas yang lebih besar dalam
organisasi klien.
E.Keterbatasan Audit
Auditor tidak bisa memberi jaminan penuh bahwa laporan keuangan yang
telah di audit nya bebas dari kesalahan penyajian material yang timbul akibat
kesalahan atau pun kecurangan. Laporan keuangan yang telah di audit tidak dapatb
benar-benar akirat. Hal ini disebabkan oleh proses akuntansi yang melahirkan laporan
keuangan, ,maupun oleh proses pengauditan itu sendiri.
Keterbatasan audit yang timbul karna proses audit itu sendiri, bisa terjadi
karna berbagai hal. Idealnya auditor harus bisa memperoleh bukti tangan pertama
untuk mendukung setiap asersi yang melekat dalam laporan keuangan, tetapi hal
seperti itu kadang-kadang tidak prakstis atau tidak mungkin.

MAKALAH AUDIT LAPORAN KEUANGAN |

2.2 Pihak Pihak yang Berinteraksi dengan Auditor


Dalam suatu audit atas laporan keuangan, auditor menjalin hubungan
profesional dengan berbagai pihak, yaitu (1) manajemen, (2) pihak yang bertanggung
jawab atas tata kelola, (3) auditor internal, dan (4) pemegang saham.
A.Manajamen
Manajemen adalah individu atau sekelompok individu dengan tanggung
jawab eksekutif untuk melaksanakan operasi entitas. Untuk beberapa entitas di
beberapa yurisdiksi, manajemen mencakup beberapa atau semua individu yang
bertanggung jawab atas tata kelola, sebagai contoh, anggota eksekutif dewantata
kelola atau seorang manajer pemilik. Dalam konteks audit, manajemen meliputi
pejabat pemimpin, kontroler, dan personil-personil kunci dalam perusahaan.
Selama audit berlangsung, auditor sangat sering berhubungan atau
berinteraksi dengan manajemen. Untuk mendapatkan bukti yang diperlukan dalam
suatu audit, auditor seringkali meminta data perusahaan yang bersifat rahasia. Oleh
karena itu sangatlahpenting bagi auditor untuk menjalin hubungan baik dengann
manajemen atas dasar saling sulit untuk dilakukan. Pendekatan yang lazimnya
dilakukan auditor terhadap asersi manajemen adalah apa yang biasa disebut sekptis
profesional (professional skepticims). Ini bearti bahwa auditor tidak bersikap tidak
mempercayai asersi manajemen, tetapi juga tidak begitu saja mempercayai atau
menerima pernyataan tersebut. Sikap auditor adalah mengakui perlunya penilaian
yang obyektif atas kondisi yang diselidiki dan bukti yang diperoleh selama audit
berlangsung.
B. Pihak yang Bertanggung Jawab atas Tata Kelola
Standar audit (SA 260) mewajibkan auditor untuk berkomunikasi dengan
pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola dalam audit atas laporan keuangan.
Komunikasi yang dimaksud oleh SA ini adalah komunikasi dua arah yang efektif,
yakni komunikasi dengan pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola dalam
rangka mendapatkan informasi sebagai bukti audit dan kewajiban auditor untuk
memberi informasi kepada pihak yang bertanggung jaawab atas tata kelola untuk
berbagai keperluan. SA 260 mendefinisikan pihak yang bertanggung jawab atas tata
kelola sebagai berikut :

MAKALAH AUDIT LAPORAN KEUANGAN |

Individu atau organisasi atau organisasi-organisasi (seperti wali amanat


korporasi) yang memliki tanggung jawab untuk mengawasi arah strategi enitas
dan pemenuhan kewajiban yang berkaitan dengan akuntabilitas entitas. Hal ini
mencakup pengawasan terhadap proses pelaporan keuangan.
Menurut SA 260 tujuan auditor melakukan komunikasi dengan pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola adalah :
a. Untuk mengkomunikasikan secara jelas kepada pihak yang bertanggung
jawab atas tata kelola tentang tanggung jawab auditor yang berkaitan dengan
audit atas laporan keuanngan, dan gambaran umum perencanaan lingkup dan
saat audit.
b. Untuk memperoleh informasi yang relevan dengan audit dari pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola.
c. Untuk menyediakan kepada pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola
secara tepat waktu, hasil observasi audit yang signifikan dan relevan terhadap
tanggung jawab mereka untuk mengawasi proses pelaporan keuangan, dan
d. Untuk mendukung komunikasi dua arah yang efektif antara auditor dengan
pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola.
Standar audit tidak secara eksplisit menyebut nama badan/dewan atau orang
yang dimaksud sebagai pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola. Hal ini bisa
dimengerti karena standar audit ini adalah standar yang berlaku secara internasional
yang harus bisa merangkum semua pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola
dinegara manapun. Padahal, struktur tata kelola bervariaso berdasarkan yurisdiksi dan
entitas, menggambarkan pengaruh seperti perbedaan latar belakangan budaya dan
hukum, dan ukuran serta karakteristik kepemilikan yang berbada. Sebagai contoh,
dalam beberapa kasus, beberapa atau semua pihak yang bertanggung jawab atas tata
kelola terlibat dalam pengelolaan entitas. Dalam kasus yang lainnya, pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola dan manajemen terdiri dari individu-individuyang
berbeda. Dalam beberapa kasus, pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola
bertanggung jawab untuk menyetujui laporan keuangan entitas.dalam kasus lainnya
tanggung jawab tersebut berada pada manajemen.
Dalam sebagian besar entitas,termasuk entitas yang beradadiindonesia, tata
kelola merupakan tanggung jawab bersama suatu badan tata kelola yang disebut
dewan komisaris. Namun entitas yang lebih kecil, satu individu mungkindapat
bertanggung jawab atas tata kelola, sebagai contoh, manajer pemilik yang tidakada
pemilik lainnya, atau pengawas tunggal.

MAKALAH AUDIT LAPORAN KEUANGAN |

Jika tata kelola adalah tanggung jawab bersama, suatu subgrup seperti komite
audit bahkan seorang individu, mungkin dapat bertanggung jawab atas tugas tertentu
untuk membantu badan tata kelola (dewan komisaris) dalam memenuhi tanggung
jawabnya. SA 260.A7 menyatakan bahwa keberadaan komite audit tedapat dalam
banyak entitas. Meskipun wewenang dan fungsi mereka dapat berbeda, komunikasi
dengan komite audit, jika ada, telah menjadi elemen kunci komunikasi auditor dengan
pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola.prinsip tata kelola yang baik
menyarankan bahwa :

Auditor akan diundang secara teratur untuk hadir dalam rapat dengan komite
audit.
Ketua komite audit dan,jika relevan, anggota lainnya dari komite audit, akan
berhubungan dengan auditor secara periodik.
Komite audit akan bertemu dengan auditor tanpa kehadiran pihak manajemen
paling sedikit satu tahun sekali.

C. Auditor Internal
Intenal auditor adalah auditor yang berkerja pada satu entitas, dan oleh
karenanya merupakan pegawai dan tunduk pada manajemen entitas dimana ia
berkerja. Fungsi audit internal anatara lain pemeriksaan, pengevaluasian, dan
pemantauan kecukupan dan efektivitas pengendalian internal. Tujuan fungsi internal
auditor ditentukan oleh manajemen, dan jika relevan, pihak yang bertanggung jawab
atas tata kelola. Walaupun tujuan fungsi auditor internal berbeda dengan auditor
eksternal, beberapa cara yang digunakan oleh fungsi auditor internal dan auditor
eksternal mungkin sama.
Aktifitas fungsi audit internal dapat mencakup satuatau lebih hal-hal sebagai
berikut :

Pemantauan pengendalian internal


Pemeriksaan atas informasi keuangan dan informasi keuangan operasional
Penelahan aktifitas operasi
Penelahan atas kepatuhan terhadap peraturan perundang-undanngan
Pengelolaan resiko
Tata kelola

Standar audit (SA 610) mengatur tentang kemungkinan auditor eksternal


menggunakan pekerjaan yang dilakukan oleh auditor internal sepanjang memenuhi
MAKALAH AUDIT LAPORAN KEUANGAN |

10

ketentuan yang diatur dalam standar audit tersebut. Dalam menentukan apakah
pekerjaan auditor internal kemungkinan cukup untuk tujuan audit, auditor eksternal
harus mengevaluasi :
Obyektivitas fungsi auditor internal
Kompentensiteknis auditor internal
Apakah pekerjaan auditor internal akan dilaksanakan dengan kecermatan dan
kehati-hatian profesional, dan
Apakah komunikasi antara auditor internal dengan auditor eksternal akan
efektif.
Apabila auditor eksternal menggunakan pekerjaan auditor internal, tanggung
jawab penggunaan pekerjaan tersubut berada pada auditor eksternal.ia adala
penanggung jawab tunggal atas opini audit yang dinyatakan, dan tanggung jawab
tersebut tidak berkurang dengan digunakannya pekerjaan auditor internal oleh auditor
eksternal.
D. Pemegang Saham
Para pemegang saham mengandalikan pada laporan keuangan yang telah
diaudit untuk mendapatkan keyakinan bahwa manajemen telah melaksanakan
tanggung jawabnya dengan baik. Oleh karena itu auditor memiliki tanggung
jawabyang penting terhdapa para pemegang saham sebagai pemakai utama laporan
audit. Selama perikatan audit berlangsung, auditor biasa tidak berhubungan langsung
dengan para pemegang saham karena mereka bukanlah pejabat atau pegawai
perusahaan. Namun demikian auditor akan berhadapan langsung dengan para
pemegang saham pada saat perusahaan menyelenggarakan rapat umum pemegang
saham (RUPS) dan auditor harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
pemegan saham.

2.3 Standar Profesional Akuntan Publik yang Berlaku Saat Ini

MAKALAH AUDIT LAPORAN KEUANGAN |

11

Standar audit adalah pedoman umum untuk membantu para auditor dalam
memenuhi tanggung jawab profesional mereka dalam pengauditan laporan keuangan
historis. Standar tersebut mencakup pertimbangan kualitas profesional antara lain
persyaratan kompetensi dan independensi, pelaporan, dan bukti.
Institut akuntan publik indonesia (IAPI) sebagai organisasi profesi
berkewajiban untuk menetapkan standar auditing. Untuk melaksanakan tugas tersebut
IAPI membentuk dewan standar yang ditetapkan sebagai badan teknis senior dari
IAPI untuk menerbitkan pernyataan-pernyataan tentang standar auditing.
Sejalandengan perkembangan yang terjadi dalam era globalisasi, IAPI telah
memutuskan untuk mengadopsi international auditing standards (ISA) yang
diterbitkan oleh international auditing and assurance standards boards (IAASB) dan
dengan demikian tidak memberlakukan lagi standar auditing yang selama ini berlaku.
A. Isi dan Struktur Standar Profesional Akuntan Publik
Isi dan struktur SPAP wajib dipahami oleh para auditor dan calon auditor,
karena SPAP merupakan panduan utama yang wajib dilaksanakan dalam pengauditan
laporan keuangan historis berdasarkan standar audit. Walaupun isinya mengandung
banyak persamaan, sistimatika dan struktur SPAP yang sekarang berlaku sangat
berbeda bila dibandingkan dengan SPAP yang berlaku sebelumnya. Berikut ini adalah
judul-judul dari isi standar audit yang telah diberlakukan oleh IAASB dan diadopsi
oleh IAPI.
B. Audit Informasi Keuangan Historis
200-299

Prinsip-prinsip umum dan tanggung jawab

SA 200

Tujuan keseluruhan auditor independen dan pelaksanaan audit


berdasarkan standar audit.

SA 210

Persetujuan atas ketentuan perikatan audit

SA 220

Pengendalian mutu untuk audit atas laporan keuangan

SA 230

Dokumen audit

SA 240

Tanggung jawab auditor terkait dengan kecurangan dalam suatu audit


atas laporan keuangan

SA 250

Pertimbangan atas peraturan perundang-undangan dalam audit atas


laporan keuangan

MAKALAH AUDIT LAPORAN KEUANGAN |

12

SA 260

Komunikasi dengan pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola

SA 265

Pengkomunikasian defisiensi dalam pengendalian internal kepada


pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola dan manajemen

300-499

Penilaian resiko dan respons terhadap resiko yang telah dinilai

SA 300

Perencanaan suatu audit atas laporan keuangan

SA 315

Pengindetifikasian dan penilaian resiko kesalahan penyajian material


melalui pemahaman atas entitas dan lingkungannya.

SA 320

Materialitas dalam tahap perencanaan dan pelaksanaan audit

SA 330

Respons auditor terhaap resiko yang telah dinilai

SA 402

Pertimbangan audit terkait dengan entitas yang menggunakan suatu


organisasi jasa

SA 450

Pengevaluasian atas kesalahan penyajian yang didefinikasi selama


audit

500-599

Bukti Audit

SA 500

Bukti Audit

SA 501

Bukti audit pertimbangan spesifik atas unsur pilihan

SA 505

Konfirmasi eksternal

SA 510

Perikatan audit tahun pertama saldo awal

SA 520

Prosedur analitis

SA 530

Sampling audit

SA 540

Audit atas estimasi akuntansi, termasuk estimasi akuntansi nilai wajar,


dan pengungkapan yang bersangkutan

SA 550

Pihak berrelasi

SA 560

Peristiwa kemudian

SA 570

Kelangsungan usaha

SA 580

Representasi tertulis

MAKALAH AUDIT LAPORAN KEUANGAN |

13

600-699

Penggunaan pekerjaan pihak lain

SA 600

Pertimbangan khusus audit atas laporan keuangan grup (termasuk


pekerjaan auditor komponen)

SA 610

Penggunaan pekerjaan auditor internal

SA 620

Penggunaan pekerjaan pakar auditor

700-799

Kesimpilan audit dan pelaporan

SA 700

Perumusan suatu pendapat dan pelaporan atas pelaporan keuangan

SA 705

Modifikasi atas opini dalam laporan auditor independen

SA 706

Paragraf penekanan suatu hal dan paragraf hal lain dalam laporan
auditor independen

SA 710

Informasi komparatif angka-angka yang berkaitan dan laporan


keuangan komparatif

SA 720

Tanggung jawab auditor terkait dengan informasi lain dalam dokumendokumen yang berisi laporan keuangnan auditan

800-899

Area area khusus

SA 800

Pertimbangan khusus audit atas laporan keuangan yang disusun


sesuai dengan kerangka bertujuan khusus

SA 805

Pertimbangan khusus audit atas laporan keuangan tunggal dan suatu


unsur, akun, atau pos tertentu dalam laporan keuangan

SA 810

Perikatan untuk melaporkan ikhtisar laporan keuangan

C. Struktur Standar Profesional Akuntan Publik


Struktur setiap standar audit yang tercakup dalam standar profesional akuntan
publlik mengikuti struktur yang terdapat dalam ISA yang menggelompokan informasi
MAKALAH AUDIT LAPORAN KEUANGAN |

14

dalam seksi yang berbeda, yaitu : pengantar, tujuan, definisi, ketentuan, dan materi
penerapan dan penjelasan lain..
a. Pengantar
Materi pengantar bisa mencakup informasi yang berhubungan dengan tujuan,
lingkup, dan pokok bahasan dari standar audit yang bersanngkutan, disamping itu
dimuat pula tanggung jawab auditor dan pihak lainnya dalam konteks standar audit
yang bersangkutan.
b. Tujuan
Setiap standar audit (SA) berisi pernyataan yang jelas tentang tujuan auditor
mengenai hal-hal yang dibahas dalam (SA) tersebut.
c. Definisi
Agar diperoleh pemahaman yang lebih baik tentang SA, istilah-istilah terkait
didefinisikan dalam setiap SA.
d. Ketentuan
Setiap tujuan didukung dengan ketentuann yang jelas. Ketentuan selalu
dinyatakan dengan frasa auditor harus
e. Materi penerapan dan penjelasan lain
Materi penerapan dan penjelasan lain menjelaskan secara lebih tepat makna
dari suatu ketentuan atau apa yang dimaksudkan untuk dicakup, atau menyertakan
contoh-contoh prosedur yang mungkin cocok dalam situasi yang dihadapi.

BAB III
KESIMPULAN

MAKALAH AUDIT LAPORAN KEUANGAN |

15

Audit laporan keuangan adalah penilaian atas suatu perusahaan atau badan
hukum lainnya (termasuk pemerintah) sehingga dapat dihasilkan pendapat yang
independen tentang laporan keuangan yang relevan, akurat, lengkap dan disajikan
secara wajar. Hasil audit laporan keuangan harus memiliki manfaat baik bagi pihak
internal maupun eksternal perusahaan.
Dalam suatu audit atas laporan keuangan, auditor menjalin hubungan
profesional dengan berbagai pihak, yaitu (1) manajemen yaitu individu atau
sekelompok individu dengan tanggung jawab eksekutif untuk melaksanakan operasi
entitas, (2) pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola, (3) auditor internal yaitu
auditor yang berkerja pada satu entitas, dan (4) pemegang saham.
Dalam mengaudit laporan keuangan, auditor menggunakan standar audit
untuk memenuhi tanggung jawab profesional mereka. Standar audit adalah pedoman
umum untuk membantu para auditor dalam memenuhi tanggung jawab profesional
mereka dalam pengauditan laporan keuangan historis. Standar tersebut mencakup
pertimbangan kualitas profesional antara lain persyaratan kompetensi dan
independensi, pelaporan, dan bukti.

DAFTAR PUSTAKA

MAKALAH AUDIT LAPORAN KEUANGAN |

16

Jusup, Al Haryono. 2014. Auditing : Pengauditan Berbasis ISA. 2 Jil.


Yogyakarta : Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN.

MAKALAH AUDIT LAPORAN KEUANGAN |

17