Anda di halaman 1dari 29

1

BAB. I
PEMBEKALAN OPERASI PEMBANGKIT
BERBASIS KOMPETENSI
Seiring perkembangan teknologi dan industri di Indonesia secara otomatis pertumbuhan
demand energi listrik khususnya di pulau jawa mengalami peningkatan yang sangat pesat,
sehingga dibangunlah pusat-pusat listrik yang dikelola oleh swasta maupun pemerintah
khususnya pembangkit thermal berbahan bakar Gas atau Batu Bara dengan daya terpasang
yang cukup besar.
Melalui pembangunan pusat-pusat listrik tersebut maka terbukalah lapangan pekerjaan
dengan spesifikasi sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dibidang pembangkitan
tenaga listrik, khususnya unit-unit kompetensi dibidang operasi maupun pemeliharaan
pembangkit thermal. Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) atau Pusat Listrik Tenaga Gas Uap
(PLTGU) yang merupakan pembangkit thermal dengan plant effisiensi yang relatif tinggi bila
dibandingkan dengan plant efisiensi pembangkit thermal jenis lain seperti Pusat Listrik
Tenaga Gas (PLTD) dan Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG). Mengingat ketersediaan tenaga
kerja baru baik yang berasal dari tingkatan sekolah menengah kejuruan, Diploma-3 maupun
Strata-1 belum memiliki ketrampilan dalam bidang pengoperasian maupun pemeliharaan
dibidang pembangkit tenaga listrik khususnya Thermal Power Plant, maka diperlukan adanya
pembekalan dasar pengetahuan dan ketrampilan kompetensi (Knowledge and Skill
Competency Basic) terlebih dahulu sebelum mereka ditugaskan sebagai tenaga pengelola
pada Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG) maupun Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan Pusat
Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU).
Dengan dilaksanakannya pembekalan tersebut khususnya dibidang operasi pembangkit
thermal, untuk itu diperlukan buku pegangan dari suatu materi Operasi & Faktor-Faktor
Operasi yang diberikan agar materi mudah dipelajari dan dipahami oleh peserta Pre Employ
Training (PET). Dalam buku materi Proses Operasi Tenaga Listrik ini akan membahas dasar
pemahaman dari operasi Sistim Tenaga Listrik Jawa Bali, Proses Operasi Pembangkit
Thermal dan Faktor-faktor operasi yang mempunyai keterkaitan langsung dalam operasi
sistim tenaga listrik yang mengedepankan sukuriti sistim, mutu produksi dan mutu pelayanan
energy listrik dalam sistim tenaga listrik jawa bali.
Harapan yang tersirat dalam materi ini agar para peserta PET tersebut memahami terlebih
dahulu bagaimana energy listrik tersebut di produksi, disalurkan dan didistribusikan guna
menunjang kebutuhan akan energy listrik dalam satu sistim, sebelum yang bersangkutan
2

mendapatkan lebih detail tentang beberapa materi pelatihan berbasis kopetensi operasi atau
pemeliharaan pembangkitan tenaga listrik saat yang bersangkutan nantinya melalui masa In
Class Training (Training melalui lembaga Diklat Perusahaan) maupun materi pembekalan
bidang operasi atau pemeliharaan saat yang bersangkutan nantinya melalui masa On Job
Training (In House Training melalui Unit Kerja Perusahaan).

Gambar 1. Proses Kualifikasi Kompetensi Personil

BAB. II
OPERASI SISTIM TENAGA LISTRIK JAWA BALI
Dipulau Jawa Madura dan Bali (JAMALI) terdapat beberapa pusat-pusat listrik yang
dioperasikan oleh PT.PLN(Persero), PT.Pembangkitan Jawa Bali, PT.Indonesia Power dan
Idependent Power Producer (Perusahaan listrik

swasta).

Produksi energi listrik yang

dibangkitkan dari pusat pusat listrik tersebut disalurkan secara interkoneksi ke dalam sistim
tenaga listrik jawa bali melalui Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 KV guna
memenuhi kebutuhan energi listrik khususnya sistim area daerah dan Saluran Udara
Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 KV guna

memenuhi kebutuhan energi listrik

umumnya Sistim Jawa Madura Bali (JAMALI) serta Saluran Bawah Laut Tegangan Tinggi
(SBLTT) guna memenuhi kebutuhan energi listrik khususnya Pulau Madura dan Bali.
Produksi energi listrik yang disalurkan kedalam sistim tenaga listrik jawa bali melalui sistim
penyaluran tersebut diatas, dibangkitkan melalui generator pembangkit energi listrik pada
Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA), Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi. (PLTP), Pusat Listrik
Tenaga Diesel (PLTD), Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG), Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU),
Pusat Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU), yang dioperasikan oleh perusahaan-perusahaan
pembangkit energi listrik.
2.1.

Operasi Sistim Tenaga Listrik Jawa Bali.


Operasi sistim tenaga listrik jawa bali tersebut dikendalikan dari Jawa Bali Control Center
(JCC) di Gandul Cinere-Jakarta Selatan, yang berfungsi untuk menjaga sukuriti sistim
tenaga listrik, mengendalikan mutu frekuensi, mengatur tegangan di sub sistim 500 KV
serta switch sistim transmisi 500 KV melalui koordinasi pengendalian operasi sistim yang
terbagi menjadi empat wilayah (Region) yaitu Region 1 meliputi wilayah Jakarta &
Banten, Regian 2 meliputi wilayah Jawa barat, Region 3 meliputi wilayah Jawa Tengah &
DIY, Region 4 meliputi wilayah Jawa Timur & Bali. Operasi sistim untuk masing-masing
region dikendalikan dari Regional Control Centre (RCC) yaitu RCC Cawang untuk
region 1, RCC Cigelereng untuk region 2, RCC Ungaran untuk region 3, RCC Waru
untuk region 4, dimana masing-masing region tersebut berfungsi untuk menjaga sukuriti
kawasan wilayah tenaga listrik yang dikendalikan, mengatur tegangan di sub sistim 150
KV & 70 KV serta switching sistim transmisi 150 KV & 70 KV, melanjutkan perintah
JCC mengenai pembebanan unit pembangkit.

Gambar 2. Konfigurasi Jaringan 500 KV Sistim Jawa Bali

Gambar 3. Konfigurasi Jaringan Subsistim Region 4.


5

2.2.

Aliran Daya Sistim Tenaga Listrik Jawa Bali


Sesuai rencana operasi Sistim Tenaga Listrik Jawa Bali tahun 2009 ( Perkiraan neraca
energy dengan pertumbuhan energy listrik 5% dari pencapaian tahun 2008) kebutuhan
energi listrik mencapai 17.189 MW (beban netto) dengan total daya terpasang dari pusatpusat listrik sebesar 22.229 MW. Daya terpasang guna memenuhi kebutuhan energy
listrik tersebut saat ini sebagaian besar masih disuplay dari pembangkit thermal,
khususnya PLTU dan PLTGU yang menggunakan bahan bakar Minyak, Gas dan
Batu Bara.
Dimana produksi energy listrik dari pusat-pusat listrik dalam sistim tenaga listrik jawa
bali sesuai perusahaan pembangkitan dan pemakaian energy primer dalam sistim tenaga
listrik jawa bali digambarkan dalam komposisi sebagai berikut :

Gambar 4. Komposisi Produksi Energi Listrik Per Perusahaan Pembangkit Th.2009

Gambar 5. Komposisi Produksi Energi Listrik Per Energi Primer Th.2009.


6

Pengendalian Operasi Sistim Tenaga Listrik Jawa Bali guna menjamin sekuriti sistem,
tentunya tidak hanya tergantung dari JCC maupun RCC akan tetapi juga sangat
tergantung dari kesiapan operasi pusat-pusat listrik yang dapat menunjang aliran daya
sesuai karakteristik beban harian sistim.

Gambar 6. Karakteristik Tipikal Beban Harian Sistim.

Gambar 7. Aliran Daya Tipikal Saat Beban Puncak Siang Hari Kerja.

Gambar 8. Aliran Daya Tipikal Saat Beban Puncak Malam Hari Kerja.
7

2.3.

Strategi Pengaturan Frekuensi Sistim Tenaga Listrik Jawa Bali.


Karakteristik operasi pusat-pusat listrik guna mendukung pengendalian operasi sistim
khususnya terhadap pengaturan frekuensi sistim dan tegangan sistim harus memenuhi
karakteristik unjuk kerja jaringan, untuk itu maka setiap generator pembangkit listrik
yang interkoneksi ke dalam sistim tenaga listrik jawa bali harus memenuhi karakteristik
unjuk kerja jaringan diantaranya sebagai berikut :
a. Frekuensi Sistim.
Frekuensi nominal 50 Hz, diusahakan untuk tidak lebih rendah dari 49,5Hz. atau lebih
tinggi dari 50,5 Hz. Selama waktu keadaan darurat(emergency) dan gangguan,
frekuensi Sistem diizinkan turun hingga 47.5Hz atau naik hingga 52.0 Hz sebelum
unit pembangkit diizinkan keluar dari operasi.
b. Tegangan Sistim.
Tegangan Sistim harus dipertahankan dalam batasan Tegangan Nominal Kondisi
Normal yaitu : 500 kV +5% / -5% , 150 kV +5% / -10% , 70 kV +5% / - 10% , 20
kV +5% / -10%.
c. Faktor Daya Sistim.
Faktor-daya (Cos ) di titik sambung antara instalasi Pemakai Jaringan dengan
Jaringan minimum sebesar 0.85 lagging.
Dimana strategi operasi Sistim Tenaga Listrik Jawa Bali dalam pengaturan frekuensi
sistim dilaksanakan melalui beberapa Skema Pengaturan Frekuensi Sistem Jawa Bali
sebagai berikut :

A. Frekuensi Normal (50 Hz 0,2 Hz)


Merupakan strategi pengendalian frekuensi sistim yang dilaksanakan oleh pusat-pusat
pembangkit dengan pengoperasian pembangkit pada mode operasi Governor Free dan
Load Frekuency Control (LFC), sedangkan penurunan frekuensi sistim sampai 49,5
Hz terjadi pada saat memobilisasi pembangkit untuk memulihkan frekuensi dan pada
frekuensi 49,5 Hz tersebut dapat bertahan sampai 10 menit.
B. Pelepasan Beban Manual (49,5 Hz ~ 49,1 Hz) .
Merupakan strategi pengendalian frekuensi sistim yang dilaksanakan dari JCC atau
RCC dengan cara melepas beban sistim secara manual atau Under Frekuensi Relay
(UFR) dengan waktu tunda 7 ~ 9 menit, dimana strategi ini dirancang untuk
mengatasi defisit daya yang diindikasikan oleh turunnya frekuensi antara 49,5 Hz s.d
49,1 Hz, sedangkan waktu tunda ditentukan dari waktu yang diperlukan untuk
memobilisasi cadangan putar atau untuk men-start PLTA yang dalam kondisi siap
operasi (standby).
C. Pelepasan Beban Secara Otomatis (49,0 Hz ~ 48,4 Hz).
Merupakan strategi pengendalian frekuensi sistim secara otomatis melalui pelepasan
beban secara bertahap mulai tahap 1 sampai tahap 7 dengan perbedaan antara setiap
tahap sebesar 0,1 Hz, yang dilaksanakan untuk tahap 1 ~ 4 di penyulang 20 KV dan
tahap 5 ~ 7 di penyulang 20 KV, trafo distribusi atau penghantar radial SUTT dan
SKTT (Saluran Kabel Tegangan Tinggi).
D. Pengaturan Sitim Islanding Operation (48,3 Hz ~ 48.0 Hz).
Merupakan strategi pengendalian frekuensi sistim secara pelepasan beberapa pusat
listrik dari interkoneksi sistim Jawa Bali. Tujuan penerapan islanding operation adalah
melindungi pembangkit pada island tersebut agar tidak padam (TRIP). Island dibentuk
secara seimbang antara kemampuan pembangkit yang sedang beroperasi dengan
beban di island tersebut, bila island gagal dibentuk atau beban island terlampau besar
maka pada frekuensi 47,5 Hz unit pembangkit akan beroperasi Host Load, dimana
pembangkit tersebut hanya memikul beban pemakaian sendiri, bila sistim telah siap
untuk menerima beban kembali unit bisa segera dimasukan kembali ke sistim tenaga
listrik jawa bali.

BAB. III
OPERASI PEMBANGKIT LISTRIK
Pada Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG), Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) maupun Pusat
Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) dalam proses operasinya didukung dengan beberapa alat
bantu utama yang merupakan mesin-mesin pembangkit energi yang berfungsi untuk merubah
suatu energi menjadi energi lain sesuai bentuk dan sifat dari energi tersebut. Dimana energi
dapat didefinisikan suatu kemampuan untuk melakukan kerja sesuai prosesnya dan hal
tersebut dinyatakan dalam hukum kekekalan energi Energi tidak dapat diciptakan atau
dihancurkan tetapi dapat berubah bentuk (dari bentuk energi yang satu ke bentuk energi
yang lain) . Sehingga sebagai gagasan dasar dari pembahasan bentuk energi yang terdapat
di pembangkit thermal dapat dinyatakan bahwa energi dapat disimpan dalam suatu sistim ,
energi dapat

dikonversikan dari satu bentuk ke bentuk yang lain dan energi dapat

dipindahkan antar sistim.


3.1.

Bentuk Bentuk Energi Pada Pembangkit Thermal.


Beberapa bentuk energi yang terdapat di pembangkit thermal PLTG, PLTU maupun
PLTGU diantaranya adalah sebagai berikut :
1.

Energi Kimia.
Sesuai sifatnya energi kimia terjadi melalui suatu proses reaksi kimia , dan pada
pembangkit thermal energi kimia tersebut berasal dari bahan bakar yang berbentuk cair
(bahan bakar minyak), gas (bahan akar gas) dan padat (bahan bakar batubara) yang
bereaksi dengan oksigen, melalui suatu proses pembakaran. Dimana suatu bahan bakar
jika unsur-unsur bahan bakar tersebut bereaksi dengan oksigen pada ruang bakar dari
suatu pembangkit tenaga, maka akan menghasilkan energi panas dalam jumlah yang
cukup besar. Dalam hal ini, energi yang terkandung dalam bahan bakar dikonversikan
menjadi energi panas melalui suatu reaksi kimia, sehingga energi yang terkandung
dalam bahan bakar disebut energi kimia.

2.

Energi panas.
Pada proses pembangkit thermal energi panas dihasilkan dari suatu proses pembakaran
bahan bakar. Dalam hal ini energi panas yang dihasilkan mempunyai besaran
temperatur dan kuantitas panas tertentu.
- Temperatur adalah tingkat atau derajat dari panas dan diukur dengan alat ukur
thermometer dalam satuan derajat Celsius atau

derajat Fahrenheit.

- Kuantitas panas adalah jumlah panas yang di-gunakan untuk melakukan usaha dan
diukur dengan alat ukur Calori meter dalam satuan Calori atau Joule.
10

Pada PLTU energi panas tersebut diterima oleh air melalui suatu proses heat transfer,
sehingga air tersebut berubah wujud menjadi uap yang memiliki besaran temperature
dan kuantitas panas tertentu.
3.

Energi Kinetik.
Energi kinetik adalah energi yang dikandung oleh suatu benda atau massa yang sedang
bergerak, dimana energy panas yang dikandung oleh masa gas atau uap yang
dipancarkan melalui sudu-sudu

turbin diubah menjadi energy kinetik yang bisa

memutar poros turbin.


4.

Energi Mekanik.
Energi mekanik bersumber dari energi kinetik dalam hal ini energi suatu massa yang
sedang bergerak melalui suatu bidang penggerak dan dikonversikan pada pembangkit
tenaga mekanik.

5.

Energi Listrik.
Energi listrik adalah gaya gerak listrik yang dibangkitkan dari perpotongan medan
magnit dua pasang pasang kutup pada rotor dan stator dari pembangkit tenaga listrik,
dalam hal ini energi listrik mempunyai besaran arus, tegangan, daya dan frekwency.
- Arus diukur dengan alat Ampere meter.
- Tegangan diukur dengan alat Volt meter.
- Daya diukur dengan alat Watt meter.
- Frequency diukur dengan alat Frequency meter.

3.2.

Alat-alat bantu pada PLTG , PLTU dan PLTGU.


Sesuai fungsi dari alat bantu utama pada PLTG, PLTU maupun PLTGU sebagaimana
uraian tersebut diatas, maka dalam menunjang proses operasi dari masing-masing alat
bantu utama tersebut terdapat beberapa alat bantu khusus dan dalam menunjang proses
operasinya dari semua alat bantu utama dan alat bantu khusus tersebut terdapat alat bantu
umum dari PLTG, PLTU maupun PLTGU. Dimana secara keseluruhan alat-alat bantu
pada PLTG, PLTU maupun PLTGU tersebut dapat kita definisikan sebagai berikut :
1. Alat Bantu Utama :
Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG).
Compresor adalah suatu pembangkit tenaga mekanik yang berfungsi untuk
membangkitkan energy panas yang berasal dari udara atmosfer guna memenuhi
kebutuhan proses pembakaran dalam ruang bakar gas turbin.
Dalam proses operasinya, Compresor ditunjang dengan alat bantu khusus yang
meliputi : Intake Air Filter dan Inlet Gate Fane.
11

Combuster adalah suatu ruang bakar yang merupakan pembangkit energi panas
dari suatu proses pembakaran bahan bakar.
Dalam proses operasinya, Combuster ditunjang dengan alat bantu khusus yang
meliputi : Tangki bahan bakar dan Pompa bahan bakar (untuk bahan bakar
minyak), Gas Station (untuk bahan bakar gas), Control System, Fuel Nozzle,
Ignitor System.
Gas Turbine, adalah suatu pembangkit energi mekanik dari suatu proses
konversi energi dari energi panas menjadi energi kinetik selanjutnya menjadi
energy mekanik yang mampu menggerakkan poros turbin dengan massa gas
pembakaran bahan bakar.
Dalam proses operasinya Gas Turbin ditunjang dengan alat bantu khusus yang
meliputi : Lubricating Oil System, Control Oil System, Turning Motor, Pony
Motor, Starting Motor, Cooling Water System, Exhaust Duck System, Turbine
Supervisory Instrumen.
Generator, adalah suatu pembangkit energy listrik dari suatu proses konversi
energy dari energy mekanik pada poros turbin dikonversikan menjadi energy
listrik.
Dalam proses operasinya ditunjang dengan alat bantu khusus yang meliputi :
Jacking Oil Pump, Exciter, Generator Circuit Breaker, Main Transformer,
Generator Protection System, Auxiliary Power System.

Gambar 10. Skema Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG).


12

Energi listrik yang dihasilkan dari proses operasi generator pada sistim PLTG sesuai
gambar 9 tersebut, selanjutnya tegangannya dinaikkan menjadi 150 KV atau 500 KV
dengan menggunakan Main Transformer untuk disalurkan ke gardu induk sistim Jawa
Madura Bali (JAMALI) melalui Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) atau Saluran
Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) untuk pendistribusian lebih lanjut kepada
konsumen.
Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU).
Boiler, adalah suatu pembangkit energi panas dalam hal ini massa yang bergerak
adalah massa gas hasil pembakaran, massa air yang diubah menjadi massa uap
atau pada umumnya disebut pembangkit energy uap. Dalam proses operasinya
ditunjang dengan alat bantu khusus yang meliputi : Forced Draf Fan, Steam
Air Heater, Lyung Strom Air Heater, Burner System, Ignitor System, Stack,
Control System, Feed Water System, dll.
Steam Turbine, adalah suatu pembangkit energy mekanik dari suatu proses
konversi energi dari energi panas menjadi energi kinetik selanjutnya menjadi
energy mekanik yang mampu menggerakkan poros turbin dengan massa uap.
Dalam proses operasinya ditunjang dengan alat bantu khusus yang meliputi :
Lubricating Oil System, Control Oil System, Turning System, Gland Steam
System, Turbine Supervisory Instrumen.
Condenser, adalah suatu pembangkit yang merubah massa uap bekas ekpansi
turbin menjadi massa air.
Dalam proses operasinya Condenser ditunjang dengan alat bantu khusus yang
meliputi : Circulating Water Pum, Condensate Pump, Starting Ejector, Main
Ejector, Make Up Water System.
Generator, adalah suatu pembangkit energy listrik dari suatu proses konversi
energy dari energy mekanik pada poros turbin dikonversikan menjadi energy
listrik.
Dalam proses operasinya ditunjang dengan alat bantu khusus yang meliputi :
Jacking Oil Pump, Seal Oil System, Exciter, Generator Circuit Breaker, Main
Transformer, Generator Protection System, Auxiliary Power System, Hydrogen
System Plant.

13

Gambar 11. Skema Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU)


Energi listrik yang dihasilkan dari proses operasi generator pada sistim PLTGU
sesuai gambar 10 tersebut, selanjutnya tegangannya dinaikkan menjadi 150 KV atau
500 KV dengan menggunakan Main Transformer untuk disalurkan ke gardu induk
sistim Jawa Madura Bali (JAMALI) melalui Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)
atau Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) untuk pendistribusian lebih
lanjut kepada konsumen.
Pusat Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU)
Proses operasi PLTGU merupakan gabungan prose PLTG dan PLTU, sehingga
alat bantu utama dan alat bantu khususnya sama dengan proses pada PLTG dan
PLTU kecuali boiler. Pada PLTGU fungsi alat bantu utama sejenis boiler namanya
Heat Recovery Steam Generator.
Heat Recovery Steam Generator, adalah suatu pembangkit energi panas dalam
hal ini massa yang bergerak adalah massa gas bekas proses ekspansi gas turbin,
massa air yang diubah menjadi massa uap atau pada umumnya disebut
pembangkit energy uap.
Dalam proses operasinya ditunjang dengan alat bantu khusus yang meliputi :
Exhaust Damper System, Control System, Boiler Feed Pump, Wheater Damper,
Stack.

14

Perumahan
STEP DOWN
TRAVO
Trafo Distribusi

INDUSTRI

TOWER

150 K V / 500 K V

SUB STATION
STEP UP

BY PAS STAC K

TRAVO
HRSG
IN LET AIR

FU EL
PR EH EATER

C OMBU STOR

LP EC ONOMIZER
H P ECON OMIZER 1
C OMPR ESSOR

TU R BIN E

LP EVAPOR ATOR
H P ECON OMIZER 2

GAS TU R BINE

GENER ATOR

H P EVAPOR ATOR
D S H EATER

SU PER HEATER 1
SU PER HEATER 2

HP STEAM
TURBINE

LP STEAM TURBINE

EXHAUST DAMPER
GEN ER ATOR

STEP UP
TRAVO

CONDENSOR

SEA WATER

Gambar 12. Skema Pusat Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU)


Energi listrik yang dihasilkan dari proses operasi generator pada sistim PLTGU
sesuai gambar 11 tersebut, selanjutnya tegangannya dinaikkan menjadi 150 KV atau
500 KV dengan menggunakan Main Transformer untuk disalurkan ke gardu induk
sistim Jawa Madura Bali (JAMALI) melalui Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT)
atau Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) untuk pendistribusian lebih
lanjut kepada konsumen.
2. Alat Bantu Khusus :
Seperti diuraikan pada masing-masing alat bantu utama tersebut diatas yang berfungsi
untuk menunjang proses operasi dari masing-masing alat bantu utama pada PLTG,
PLTU maupun PLTGU.
3. Alat Bantu Umum :
Suatu alat bantu proses operasi PLTG, PLTU maupun PLTGU, yang berfungsi untuk
menunjang proses operasi secara keseluruhan dari alat-alat bantu utama maupun alat
Bantu khusus. Dimana alat bantu umum dimaksud meliputi : Sea Water System,
Cooling Water System, Chlorination Plant, Desalination Plant, Demineralizer Water
Plant, Wase Water Treatment Plant, Fire Fithing System, Fire Protection System.

15

3.3.

Siklus Operasi PLTG, PLTU & PLTGU.


1. Siklus Operasi PLTG.
Produksi energi listrik dari Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG) merupakan tahapan dari
proses pembangkit tenaga yang dihasilkan dari beberapa alat bantu utama PLTG,
dimana dalam proses perubahan energi tersebut diawali dari Compresor yang
berfungsi untuk memberikan sejumlah udara yang dibutuhkan dalam proses
pembakaran bahan bakar, dalam hal ini energi kimia diubah menjadi energi panas
yang berbentuk gas panas pembakaran yang terjadi dalam Combuster , selanjutnya
energi gas panas pembakaran yang mempunyai besaran temperatur dan kuantitas panas
tersebut disalurkan kedalam Gas Turbine untuk mendorong sudu-sudu turbin hingga
menjadi energi kinetik untuk memutar poros turbin, dalam hal ini energi panas diubah
menjadi menjadi energi mekanik melalui poros gas turbine yang merupakan satu
kesatuan dengan rotor generator, yang berfungsi untuk membangkitkan energi listrik ,
selanjutnya gas bekas dari proses ekspansi gas turbine tersebut dibuang ke atmosfer,
hal ini dikenal dengan siklus operasi open cycle dan lebih jelasnya dapat dilihat pada
gambar skema perubahan energi pada PLTG berikut.

Energi
Kimia

Energi
Panas

Energi
Mekanik

Energi
Listrik

Bahan Bakar

COMBUSTER

COMPRESOR

GAS TURBINE

GENERATOR

STACK

Gambar 13. Skema Perubahan Energi Pada PLTG

Pada siklus operasi gas turbin dikenal dengan siklus Brayton (Brayton cycle). Siklus
ini terdiri dari dua proses adiabatik mampu balik (isentropik) dan dua proses tekanan
tetap (Gambar). Gas itu damampatkan secara isentropik dari titik 1 ke titik 2,
dipanaskan pada tekanan kostan dari titik 2 ke titik 3, dan kemudian diekspansikan
secara isentropik melalui turbin dari titik 3 ke titik 4. Pendinginan berlangsung dari
16

titik 4 ke titik 1, baik di dalam penukar kalor (siklus tertutup) atau ke atmosfer terbuka
(siklus terbuka).

Gambar 14. Siklus Brayton


Keterangan proses Siklus PLTG :
1 ~ 2 : Proses kompresi didalam compressor.
2 ~ 3 : Proses memasukan bahan bakar & pembakaran diruang
bakar.
3 ~ 4 : Proses expansi di turbine (menghasilkan kerja, ditransfer
ke generator).
4 ~ 1 : Proses pembuangan energi yang tidak terserap oleh
turbin ke udara.
2. Siklus Operasi PLTU.
Produksi energi listrik dari Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) merupakan tahapan dari
proses pembangkit tenaga yang dihasilkan dari beberapa alat bantu utama PLTU,
dimana dalam proses produksi energi listrik pada PLTU merupakan tahapan dari
proses pembangkit tenaga yang dihasilkan dari beberapa alat bantu utama PLTU,
dimana dalam proses perubahan energi tersebut diawali dari Boiler yang berfungsi
untuk merubah energi kimia yang terdiri dari energi bahan bakar dan udara menjadi
energi panas yang berbentuk gas panas pembakaran yang terjadi dalam ruang bakar
boiler, selanjutnya energi gas panas pembakaran tersebut ditranfer ke dalam air hingga
air tersebut berubah bentuk menjadi uap, dimana uap yang mempunyai besaran
temperatur dan kuantitas panas tersebut disalurkan kedalam Steam Turbine untuk
mendorong sudu-sudu turbin hingga menjadi energi kinetik untukmemutar poros
turbin, dalam hal ini energi panas diubah menjadi energi mekanik melalui
17

poros Steam Turbine yang merupakan satu kesatuan dengan rotor Generator, yang
berfungsi untuk membangkitkan energi listrik , selanjutnya uap bekas dari proses
ekspansi Steam Turbine tersebut dimasukan ke dalam Condenser yang berfungsi
untuk mererubah sisa energi uap menjadi energi air, hal ini dikenal dengan siklus
operasi regeneratif dan lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar skema perubahan
energi pada PLTU berikut.
Energi
Kimia

Udara

Energi
Panas

Energi
Mekanik

Energi
Listrik

Bahan Bakar

BOILER

STEAM TURBINE

GENERATOR

STACK
CONDENSER

Gambar 15. Skema Perubahan Energi Pada PLTU


Pada instalasi pembangkit daya yang memanfaatkan uap bertekanan tinggi untuk
menggerakkan turbin uap, digunakan suatu acuan siklus kerja yang mejadi dasar dari
pengoperasian instalsi pembangkit tersebut. Siklus kerja yang digunakan pada
instalasi pembangkit pada PLTU adalah siklus Rankin (Rankin cycle), dimana air
sebagi fluida kerja dalam siklus akan digunakan sebagai mediator pembangkitan
tenaga dengan memanfaatkan perubahan fasa antara cairan dan uap melalui suatu
proses perpindahan panas.

Gambar 16. Siklus Rankine

18

Keterangan proses Siklus Rankine :


1 ~ 2 : Proses menaikkan tekanan air dengan Boiler Feed (BFP)
2 ~ 3 : Air bertekanan tinggi memasuki boiler, dipanaskan pada tekanan konstan
dengan sumber panas dari luar (pembakaran bahan bakar).
3 4 : Proses expansi uap jenuh di turbine (menghasilkan kerja, ditranfer ke
generator)
4 1 : Proses kondensasi (perubahan phase uap ke cair), pada tekanan & temperatur
konstan di Condensor
Fluida kerja yang berupa air (Feed Water) dipompa dengan Boiler Feed Pump (BFP)
pada proses antara titik 1 ~ 2 proses kompresi pada BFP tersebut berlangsung secara
isentropic, selanjutnya air dipanaskan melalui proses 2 ~ 3 yang berlangsung di boiler
pada tekanan konstan (isobarik), proses ini berakhir sampai titik 3 yaitu titik air telah
sepenuhnya berubah fasa menjadi uap jenuh. Kemudian uap diekspansikan melalui
proses 3 ~ 4 yaitu uap jenuh bertekanan mendorong sudu-sudu turbin sehingga
menggerakkan poros turbin atau energi panas dari uap bertekanan tersebut
dikonversikan menjadi energi mekanik berupa putaran poros turbin. Proses ekspansi
ini berakhir pada titik 4 dimana sifat fluida tersebut mengalami penurunan temperatur
tetapi masih berwujud uap dengan tingkat kebasahan tertentu. Setelah itu dilanjutkan
proses 4 ~ 1 yaitu fluida kerja masuk condenser, pada proses ini uap dikondensasi
sehingga uap tersebut berubah fasa air. Uap tersebut terkondensasi saat kontak
langsung dengan permukaan dinding kondensor yang telah didinginkan dengan air laut
(Sea Water). Proses kondensasi pada condensor berakhir pada titik 1. Fluida yang
meninggalkan kondensor pada titik 1 tersebut kemudian dialirkan menuju boiler.
3. Siklus Operasi PLTGU
Produksi energi listrik dari Pusat Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU)

merupakan

tahapan dari 2 proses pembangkit tenaga yang dihasilkan dari beberapa alat bantu
utama PLTG dan PLTU (Combined Cycle), dimana dalam proses transfer energi
tersebut diawali dari Compresor yang berfungsi untuk memberikan sejumlah udara
yang dibutuhkan dalam proses pembakaran bahan bakar, dalam hal ini energi kimia
diubah menjadi energi panas yang berbentuk gas panas pembakaran yang terjadi
dalam Combuster , selanjutnya energi gas panas pembakaran yang mempunyai
besaran temperatur dan kuantitas panas tersebut disalurkan kedalam Gas Turbine
untuk mendorong sudu-sudu turbin hingga menjadi energi kinetik untuk memutar
poros turbin, dalam hal ini energi panas diubah menjadi menjadi energi mekanik
melalui poros gas turbine yang merupakan satu kesatuan dengan rotor generator, yang
berfungsi untuk membangkitkan energi listrik , selanjutnya gas bekas dari proses
19

ekspansi gas turbine yang masih memiliki besaran temperatur dan kuantitas panas
tersebut disalurkan kedalam Heat Recovery Steam Generator untuk ditranfer ke dalam
air hingga air tersebut berubah bentuk menjadi uap, dimana uap yang mempunyai
besaran temperatur dan kuantitas panas tersebut disalurkan kedalam Steam Turbine
untuk mendorong sudu-sudu turbin hingga menjadi energi kinetik untukmemutar poros
turbin, dalam hal ini energi panas diubah menjadi energi mekanik melalui poros Steam
Turbine yang merupakan satu kesatuan dengan rotor Generator, yang berfungsi untuk
membangkitkan energi listrik , selanjutnya uap bekas dari proses ekspansi Steam
Turbine tersebut dimasukan ke dalam Condenser yang berfungsi untuk mererubah sisa
energi uap menjadi energi air, hal ini dikenal dengan siklus operasi Combined Cycle
dan lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar skema transfer energi PLTGU berikut ini.

Gambar 17. Skema Perubahan Energi Pada PLTGU

Pada instalasi pembangkit Combined Cycle yang merupakan gabungan antara


Brayton Cycle dan Rankine Cycle tersebut pada gambar 13 dan 15 diatas tentunya
memiliki efisiensi plant yang lebih tinggi dan sampai saat ini merupakan pembangkit
thermal yang paling efisien, mengingat pada siklus brayton energi panas dari gas
buang yang cukup besar tersebut masih mampu untuk dikonversikan menjadi energi
panas berupa steam melalui suatu alat pembangkit uap.

Untuk Combined cycle, terdapat tiga jenis metoda rencana penggabungan pusat
listrik yang akan menghasilkan combined cycle power plant, yaitu:
20

1. Combined Cycle Power Plant dengan metoda Repowering Power Plant, dimana
terlebih dahulu sudah terdapat PLTU yang sesuai dengan rencana Combined Cycle
Power Plant dan selanjutnya melaksanakan pemasangan PLTG.
2. Combined Cycle Power Plant dengan metoda Convertion Power Plant, dimana
terlebih dahulu sudah ada PLTG maupun PLTU yang sesuai dengan rencana
Combined Cycle Power Plant dan selanjutnya dengan melakukan sedikit
modyfikasi guna menggabungkan ke dua siklus daya tersebut sehingga diperoleh
Combined cycle power plant.
3. Combined Cycle Power Plant dengan metoda Package Power Plant, dimana
pemasangan PLTG dan PLTU yang merupakan satu kesatuan dalam modul
Combined Cycle Power Plant yang direncanakan.
3.4.

Karakteristik Operasi Pembangkit.


Setiap generator pembangkit listrik yang interkoneksi ke dalam sistim tenaga listrik jawa
bali harus memenuhi karakteristik unjuk kerja jaringan seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya, sedangkan karakteristik operasi pembangkit guna mendukung pengendalian
operasi sistim tersebut meliputi :
1. Kapasitas Design.
Kemampuan pembangkit mengeluarkan daya secara kontinyu dan diukur pada sisi
tegangan tinggi trafo tenaga utama (Main Transformer), yang meliputi :
Daya terpasang.
Daya keluaran maksimum.
Daya keluaran minimum.
2. Batas Batas Frekuensi.
Kemampuan pembangkit dalam merespons rentang frekuensi sistim sesuai durasi
penyimpangannya, yang meliputi :
Frekuensi normal.
Frekuensi Island.
Frekuensi House Load.
Frekuensi minimum (Under Frequency)
Frekuensi maksimum (Over Frequency)

3. Daya Reaktif.
21

Kemampuan pembangkit dalam penyediaan daya reaktif baik lagging maupun leading
sesuai dengan capability curve generator pembangkit.

Gambar 18. Capability Curve Generator


4. Start Up Unit.

Kemampuan waktu dalam proses start-up unit, dimana start up unit dianggap sudah
terjadi jika generator unit sudah berhasil disinkronkan dengan Sistem Tenaga Listrik
dan telah dibebani pada tingkat pembangkitan minimum sesuai metoda start up, yang
meliputi :
Start dingin (Colt Start).
Start-up Dingin didefinisikan sebagai suatu proses start up unit yang dilaksanakan
setelah unit dimatikan (Shut down) selama lebih dari 48 jam dan pada umumnya
kondisi temperatur di first stage HP.Turbin Uap di bawah 180 C.
Start hangat (Warm Start).
Start hangat didefinisikan sebagai suatu proses start up unit yang dilaksanakan
setelah unit dimatikan (Shut down) selama 10 ~ 48 jam dan pada umumnya
kondisi temperatur di first stage HP.Turbin Uap di antara 180 C ~ 350 C.
Start panas (Hot start).
Start panas didefinisikan sebagai suatu proses start up unit yang dilaksanakan
setelah unit dimatikan (Shut down) selama 2 ~ 10 jam dan pada umumnya kondisi
temperatur di first stage HP.Turbin Uap diantara 350 C ~ 500 C.

Start sangat panas (Veri Hot Start).


22

Start hangat didefinisikan sebagai suatu proses start up unit yang dilaksanakan
setelah unit dimatikan (Shut down) selama kurang dari 2 jam dan pada umumnya
kondisi temperatur di first stage HP.Turbin Uap melebihi 500 C.
Metoda start up unit sesuai batasan waktu shut down dan batasan temperatur first
stage HP.Turbin Uap tersebut tentunya tidak sama dari setiap design Steam Turbin,
hal tersebut sangat tergantung dari karakteristik operasinya.
Batasan lain dari setiap metoda start up tersebut yang masih perlu diperhatikan antara
lain meliputi kecepatan kenaikan putaran, waktu pemerataan pemuaian rotor dan
stator, kecepatan pembebanan nominal, sehingga dari setiap metoda start up unit
tersebut tentunya memiliki karakteristik waktu proses start up sampai pembebanan
nominal load yang berbeda-beda.
5. Kecepatan Naik Turunnya Beban (Ramping Rates)
Kecepatan maksimum naik turun beban (ramping rates) antara beban dari 60% sampai
100% beban nominal dalam satuan MW/Menit.
6. Regulasi Primer (Free Governor)
Kemampuan unit dalam melakukan respon secara otomatis yang memberikan
perubahan daya keluaran (MW/Menit) dalam waktu 60 detik setelah terjadinya
perubahan frekuensi sistim sebesar 0.2 Hz (atau lebih) selama 30 detik (atau kurang),
dimana setting regulasi primer dari masing-masing Unit harus berada dalam batasan
desain unit (load limmiter design).
7. Regulasi Sekunder (Load Frequency Control)
Kemampuan unit dalam melakukan respon secara otomatis yang memberikan
perubahan daya keluaran (MW/Menit) dalam waktu 60 detik sejak terjadinya
perubahan frekuensi sistem untuk mengambil alih respon Regulasi Primer yang
bertahan sedikitnya 30 menit melalui suatu pengaturan seting Automatic Generating
Control (AGC) dari Control Centre (JCC) atau Area Control Centre (ACC).

Pembahasan operasi dari masing masing masing alat bantu utama, alat bantu khusus dan alat
bantu umum serta proses operasinya yang tergabung dalam sistim operasi pusat-pusat listrik
tersebut khususnya untuk PLTU berbahan bakar Batu Bara akan diuraikan secara detail pada
kesempatan pelaksanaan On Job Training di unit kerja perusahaan.

BAB. IV
23

FAKTOR KINERJA OPERASI PEMBANGKIT LISTRIK


Penjelasan dan rumusan dari factor kinerja operasi yang terdiri dari Outage, Derating,
Reserve Shutdown, Pengecualian Outage dan Derating, Durasi, Indeks Kinerja Pembangkit,
Formula Perhitungan Indeks Kinerja Pembangkit, yang berbasis versi NERC (Nort
American Electric Reliability Council). Tujuan pembahasan ini bukan untuk menyediakan
semua penjelasan dan rumusan dari faktor-faktor kinerja operasi, tetapi hanya sebagaian dan
dipilih secara garis besar sebagai pemahaman terhadap factor kinerja operasi dari suatu
pembangkit listrik.
1. OUTAGE
Outage adalah suatu kejadian dimana unit tidak sinkron ke jaringan dan bukan dalam
status Reserve Shutdown. Suatu outage dimulai ketika unit dikeluarkan dari jaringan atau
pindah status misalnya dari status Reserve Shutdown menjadi Maintenance Outage dan
Outage berakhir ketika unit terhubung ke jaringan atau pindah ke status lain.
Klasifikasi outage secara umum dikelompokkan menjadi tujuh jenis kejadian sebagai
berikut:
PO - Planned Outage : yaitu keluarnya pembangkit akibat adanya pekerjaan
pemeliharaan periodik pembangkit seperti inspeksi, overhaul atau pekerjaan lainnya
yang sudah dijadwalkan sebelumnya dalam rencana tahunan pemeliharaan pembangkit
atau sesuai rekomendasi pabrikan.
MO - Maintenance Outage: yaitu keluarnya pembangkit untuk keperluan pengujian,
pemeliharaan preventif, pemeliharaan korektif, perbaikan atau penggantian suku cadang
atau pekerjaan lainnya pada pembangkit yang dianggap perlu dilakukan, yang tidak
dapat ditunda pelaksanaannya hingga jadwal PO berikutnya dan telah dijadwalkan
dalam Rencana Operasi Mingguan berikutnya.
SE - Scheduled Outage Extension: adalah perpanjangan dari Planned Outage (PO) atau
Maintenance Outage (MO), yaitu outage yang melampaui perkiraan durasi penyelesaian
PO atau MO yang telah ditentukan sebelumnya.
SF - Startup Failure: yaitu outage yang terjadi ketika suatu unit tidak mampu sinkron
dalam waktu start up yang ditentukan setelah dari status outage atau RSH. Dimana
periode Startup untuk masing-masing unit ditentukan oleh Unit pembangkit. Hal ini
spesifik untuk tiap unit, dan tergantung pada kondisi unit ketika startup (panas, dingin,
standby, dll.). Periode start up dimulai dari perintah start dan berakhir ketika unit
sinkron. SF berakhir ketika unit sinkron atau unit berubah status.

24

FO - Forced Outage: yaitu keluarnya pembangkit akibat adanya kondisi emergensi


pada pembangkit atau adanya gangguan yang tidak diantisipasi sebelumnya serta yang
tidak digolongkan ke dalam MO atau PO. Dimana Forced Outage tersebut
diklasifikasikan menjadi tiga kejadian diluar rencana (Unplanned)
2. DERATING.
Derating adalah suatu kejadian dimana daya keluaran (MW) unit kurang dari Daya
Mampu Netto yang telah disepakati. Derating berakhir ketika peralatan yang menyebabkan
derating tersebut kembali normal, terlepas dari apakah pada saat itu unit diperlukan sistem
atau tidak. Klasifikasi outage secara umum dikelompokkan menjadi delapan jenis kejadian
sebagai berikut:
PD - Planned Derating: adalah derating yang dijadwalkan dan durasinya sudah
ditentukan sebelumnya dalam rencana tahunan pemeliharaan pembangkit.
MD - Maintenance Derating: adalah derating yang dapat ditunda melampaui akhir
periode operasi mingguan, tetapi memerlukan

pengurangan kapasitas sebelum PO

berikutnya.
3. RESERVE SHUTDOWN.
RS - Reserve Shutdown: adalah suatu kondisi apabila unit siap operasi namun tidak
disinkronkan ke sistem karena beban sistim yang rendah. Kondisi ini dikenal juga sebagai
economy outage atau economy shutdown. Jika suatu unit keluar karena adanya
permasalahan peralatan, baik unit diperlukan atau tidak diperlukan oleh sistem, maka
kondisi ini dianggap sebagai sebagai FO, MO, atau PO, bukan sebagai reserve shutdown
(RS).
4. DURASI
Service Hours (SH): adalah jumlah jam operasi unit pembangkit tersambung ke
jaringan transmisi, baik pada kondisi operasi normal maupun kondisi derating.
Available Hours (AH): adalah jumlah jam unit pembangkit siap dioperasikan yaitu
Service Hours ditambah Reserve Shutdown Hours.
Planned Outage Hours (POH): adalah jumlah jam unit tidak dapat beroperasi sebagai
akibat dari Planned Outage untuk pelaksanaan pemeliharaan, inspeksi dan overhaul,
yang telah dijadwalkan jauh hari sebelumnya.
Unplanned Outage Hours (UOH): adalah jumlah jam yang dialami selama Unplanned
(Forced) Outages U1, U2, U3) + Startup Failures (SF) + Maintenance Outages (MO) +
Scheduled Outage Extensions (SE) dari Maintenance Outages (MO).

25

Forced Outage Hours (FOH): adalah jumlah jam unit keluar paksa sebagai akibat dari
gangguan Unplanned (Forced) Outages (U1, U2, U3) + Startup Failures (SF).
Maintenance Outage Hours (MOH): adalah jumlah jam unit tidak dapat beroperasi
sebagai akibat dari keluar pemeliharaan karena Maintenance Outages (MO) +
Scheduled Outage Extensions (SE) dari Maintenance Outages (MO).
Unavailable Hours (UH): adalah jumlah jam dari semua Planned Outage Hours (POH)
+ Unplanned (Forced) Outage Hours (FOH) + Maintenance Outage Hours (MOH).
Scheduled Outage Hours (SOH): adalah jumlah jam unit tidak dapat beroperasi
sebagai akibat dari keluar terencana baik Planned Outage maupun Maintenance Outage
+ Scheduled Outage Extensions (SE) dari Maintenance Outages (MO) dan Planned
Outages(PO).
Reserve Shutdown Hours (RSH): adalah jumlah jam unit tidak beroperasi karena tidak
dibutuhkan oleh sistem (pertimbangan ekonomi).
Period Hours (PH): adalah total jumlah jam dalam suatu periode tertentu yang sedang
diamati selama unit dalam status Aktif.
Unit Derating Hours (UDH): adalah jumlah jam unit mengalami derating.
Equivalent Seasonal Derated Hours (ESEDH): adalah perkalian antara MW derating
unit pembangkit akibat pengaruh cuaca/musim dengan jumlah jam unit pembangkit siap
dibagi dengan Daya Mampu Netto.
Equivalent Forced Derated Hours (EFDH): adalah perkalian antara jumlah jam unit
pembangkit derating secara paksa (forced derating) dengan besar penurunan derating
dibagi DMN.
Equivalent Planned Derated Hours (EPDH): adalah perkalian antara jumlah jam unit
pembangkit derating terencana (Planned Derating) termasuk Extension (DE) dan besar
penurunan derating dibagi dengan DMN.
Equivalent Unplanned Derated Hours (EUDH): adalah perkalian antara jumlah jam
unit pembangkit derating tidak terencana dan besar penurunan derating dibagi dengan
DMN.
Equivalent Forced Derated Hours during Reserve Shutdown (EFDHRS): adalah
perkalian antara jumlah jam unit pembangkit forced derating selama reserve shutdown
dan besar penurunan derating dibagi dengan DMN.
Equivalent Planned Derated Hours During Reserve Shutdowns EPDHRS (PD):
adalah perkalian antara jumlah jam unit keluar terencana (Planned Derating) selama
reserve shutdown dan besar penurunan derating dibagi dengan DMN.
26

5. INDEKS KINERJA PEMBANGKIT


Availability Factor (AF): adalah rasio antara jumlah jam unit pembangkit siap
beroperasi terhadap jumlah jam dalam satu periode tertentu.
Equivalent Availability Factor (EAF): adalah ekivalen Availability Factor yang telah
memperhitungkan dampak dari derating pembangkit.
Service Factor (SF): adalah rasio dari jumlah jam unit pembangkit beroperasi terhadap
jumlah jam dalam satu periode tertentu.
Planned Outage Factor (POF): adalah rasio jumlah jam unit pembangkit keluar
terencana (planned outage) terhadap jumlah jam dalam satu periode.
Maintenace Outage Factor (MOF): adalah rasio dari jumlah jam unit pembangkit
keluar terencana (Maintenace outage) terhadap jumlah jam dalam satu periode.
Scheduled Outage Factor (SOF): adalah rasio dari jumlah jam unit pembangkit keluar
terencana (planned outage dan maintenance outage) terhadap jumlah jam dalam satu
periode.
Unit Derating Factor (UDF): adalah rasio dari jumlah jam ekivalem unit pembangkit
mengalami derating terhadap jumlah jam dalam satu periode.
Reserve Shutdown Factor (RSF): adalah rasio dari jumlah jam unit pembangkit keluar
reserve shutdown (RSH) terhadap jumlah jam dalam satu periode.
Forced Outage Factor (FOF): adalah rasio dari jumlah jam unit pembangkit keluar
paksa (FOH) terhadap jumlah jam dalam satu periode.
Forced Outage Rate (FOR): adalah jumlah jam unit pembangkit dikeluarkan dari
sistem (keluar paksa) dibagi jumlah jam unit pembangkit dikeluarkan dari sistem
ditambah jumlah jam unit pembangkit beroperasi, yang dinyatakan dalam prosen.
Equivalent Forced Outage Rate (EFOR): adalah Forced Outage Rate yang telah
memperhitungkan dampak dari derating pembangkit.
Net Capacity Factor (NCF): adalah rasio antara total produksi netto dengan daya
mampu netto unit pembangkit dikali dengan jam periode tertentu (umumnya periode 1
tahun, 8760 atau 8784 jam).
Net Output Factor (NOF): adalah rasio antara total produksi netto dengan daya mampu
netto unit pembangkit dikali dengan jumlah jam unit pembangkit beroperasi.
Plant Factor (PF): adalah rasio antara total produksi netto dengan perkalian antara
Daya Mampu Netto dan jumlah jam unit pembangkit siap dikurangi jumlah jam
ekivalen unit pembangkit derating akibat forced derating, maintenance derating,
planned derating, dan derating karena cuaca/musim.
27

6. FORMULA PERHITUNGAN INDEKS KINERJA PEMBANGKIT


Formula untuk perhitungan Indeks Kinerja Pembangkit adalah sebagai berikut:
UNIT PEMBANGKIT TUNGGAL
1

AH
100%
PH

Availability factor
[ AF ]

Equivalent Availability
Factor

[ EAF ]

AH ( EFDH EMDH EPDH ESEDH )


100%
PH

Service Factor

[ SF ]
4

Planned Outage Factor

SH
100%
PH

POH
100%
PH

MOH
100%
PH

RSH
100%
PH

[ POF ]
5

Maintenance Outage
Factor [ MOF ]

Reserve Shutdown Factor


[ RSF ]

Unit Derating Factor

EPDH EUDH
100%
PH

[ UDF ]
8

Scheduled Outage Factor

POH MOH
100%
PH

[ SOF ]
9

Forced Outage Factor

FOH
100%
PH

[ FOF ]
10

Forced

Outage

Rate

FOH
100%
FOH SH Synchronou sHours

[ FOR ]
11

Forced Outage Rate


demand

[FORd]

28

f FOH
100%
( f FOH ) SH

12

Equivalent Forced Outage

FOH EFDH
100%
FOH SH Synchr.Hrs. EFDHRS

Rate [EFOR]
13

Equivalent Forced Outage


Rate demand

( f FOH ) ( fp EFDH )
100%
( f FOH ) SH

dimana:

[ EFORd ] **)
**) Untuk pembangkit
pemikul beban puncak
Jika SH, FOH atau RSH =
0, maka untuk perhitungan
diberi angka 0,001.

fp = (SH/AH)
f = (1/r + 1/T) / (1/r + 1/T + 1/D)
r = Durasi FO rata-rata = [FOH / jumlah kejadian
FO]
D = jam operasi rata-rata = [SH / jumlah start aktual]
T = RSH rata-rata = [RSH / jumlah start yang

Jika jumlah kejadian FO,

dilakukan, baik berhasil maupun gagal]

start atau start aktual = 0,


maka untuk perhitungan
diberi angka 1.
14

Net

Capacity

Factor

Pr oduksi Netto
PH DMN

100%

factor

Pr oduksi Netto

100%

[ NCF ]
15

Net

Output

SH DMN

[ NOF ]
16

Plant Factor

[ PF ]

Pr oduksi Netto
( AH ( EPDH EUDH )) DMN

29

100%