Anda di halaman 1dari 12

MODEL TERAIN DIGITAL

PEMBUATAN DTM DENGAN FOTO UDARA DAN TERRESTRIS

DISUSUN OLEH :
IMASTI DHANI PRATIWI
13/347458/TK/40726

DEPARTEMEN TEKNIK GEODESI DAN GEOMATIKA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA
2016

Page 1

I.

PENGERTIAN DTM
DTM merupakan singkatan dari Digital Terrain Model, dimana
merupakan suatu bentuk penyimpanan data/basisdata koordinat
x,y,z secara digital yangmampu mempresentasikan bentuk
topografi suatu permukaan bumi dalam ruang 3 dimensi. Suatu DTM
merupakan sistem yang terdiri dari dua bagian, yaitu:
- Sekumpulan titik-titik yang mewakili bentuk permukaan
terrain yang disimpan pada memori komputer, dan
- Algoritma untuk melakukan interpolasi titik-titik beru dari
data titik yang diberikan atau menghitung data lain.
(Linkwitz, 1970)
DTM sendiri dapat diartikan sebagai representasi ketinggian dari
suatu continuous terrain atau permukaan (tanpa ada feature alam
dan hand made) dalam bentuk digital atau numeric, dalam sistem
koordinat X, Y, Z. Pengertian DTM mencakup tidak hanya tinggi
(height) dan elevasi (elevation), tetapi juga unsur-unsur morfologi
yang lain seperti garis sungai, dsb.
DEM merupakan kumpulan data digital point yang disimpan
dalam bentuk X,Y,Z dan dapat membentuk berbagai permukaan.
Dalam arti luas, diperlukan penyebutan permukaan tertentu yang
dimaksud, misal DEM permukaan vegetasi, DEM permukaan air
tanah dan DEM permukaan bumi. Dari pengertian tersebut, dapat
dikatakan bahwa DTM merupakan salah satu bentuk permukaan
khusus DEM. DTM adalah DEM dari permukaan bumi. Dalam
akuisisi data untuk pembentukan DTM dapat diperoleh dari
berbagai metode, antara lain :
-

II.

Pengukuran langsung
Konversi dari peta topografi
Teknik fotogrammetri
INSAR
LIDAR

JENIS DTM
Jenis DTM Digital Terrain Model dapat dibagi menjadi dua jenis
yaitu DTM grid dan DTM non-grid. DTM non-grid dapat berupa
DTM Triangulated Irregular Network (TIN) maupun DTM kontur.
Ketiga jenis DTM tersebut masing-masing dibedakan berdasarkan
sebaran titik - titik DTMnya.
Cara Pembentukan DTM adalah sebagai berikut :
a. DTM Grid mempunyai titik-titik DTM yang tersebar secara
merata pada seluruh permukaan model dan teratur dalam
Page 2

interval tertentu. Titik DTM dapat berupa titik sampel maupun


titik hasil interpolasi titik sampel. Permukaan model terbentuk
oleh grid yang menghubungkan titik DTM.
b. DTM TIN menggunakan titik-titik yang tersebar secara tidak
teratur pada permukaan model. Permukaan model TIN adalah
jaring bidang segitiga yang terbentuk dari triangulasi titik-titik
DTM.
c. DTM Kontur menyajikan topografi permukaan bumi dalam
bentuk garis-garis kontur yang menghubungkan titik-titik
yang memiliki nilai ketinggian yang sama. DTM kontur didapat
dari tracing/plotting model stereo citra ataupun dari hasil
interpolasi DTM Grid atau TIN.
III.

PEMBENTUKAN DTM
Dalam akuisisi data DTM terdapat beberapa cara yang
digunakan, dua diantaranya adalah melalui fotogrametri, dimana
pembentukan DTM berdasarkan foto udara dan pengukuran
langsung di lapangan.
A. PEMBENTUKAN DTM DENGAN FOTO UDARA
Pembentukan DTM dengan foto udara memiliki syarat
bahwa foto yang digunakan adalah foto stereo. Sebelum
pembuatan DTM, beberapa hal yang harus diperhatikan
antara lain :
1. Interior orientation
Pada fotogrametri analitik, proses interior orientation
atau yang sering disebut orientasi dalam ini dapat
diartikan sebagai proses transformasi (pengikatan)
koordinat titik obyek dari sistem internal (monitor atau
komparator) ke sistem koordinat foto. Untuk dapat
melakukan tahap interior orientation ini diperlukan
informasi tentang parameter kamera yang digunakan,
meliputi koordinat fiduscial mark, panjang fokus, posisi
principal point dan distorsi lensa(Soetaat, 1994).
2. Image Matching
Metode
Pencocokan
Citra
(Image
Matching)
merupakan metode yang digunakan dalam berbagai
aplikasi pengolahan citra untuk keperluan otomatisasi
proses. Metode pencocokan citra adalah menentukan
seberapa mirip/sama bentuk objek baik secara semantik
maupun geometrik antara citra yang satu dengan citra
yang lainnya. Terdapat 3 metode dalam image matching,

Page 3

yaitu: Area-based matching,


Symbolic matching.

Feature-based

matching,

3. Koreksi Radiometri
Koreksi radiometrik digunakan untuk memperbaiki
kualitas foto udara/citra secara visual serta untuk
memperbaiki nilai-nilai piksel yang tidak sesuai dengan
nilai piksel pantulan obyek yang sebenarnya.
Koreksi ini dilakukan pada citra/foto udara yang
mengalami distorsi radiometrik. Atau dikatakan juga
bahwa Koreksi radiometrik dilakukan karena gangguan dari
efek atmosfer sebagai sumber kesalahan utama.Distorsi
dapat terjadi sewaktu akuisisi data dan transmisi atau
perekaman detektor-detektor yang digunakan pada sensor
dengan ciri-ciri kesalahan meliputi:
- Adanya piksel yang hilang
- Pengaruh atmosfer yang menyebabkan hamburan
bayangan obyek
- Adanya tampilan garis yang disebabkan oleh ketidak
seragaman detector.
4. Koreksi Geometri
Koreksi
geometric
merupakan
koreksi
untuk
membuat agar koordinat pada foto udara sesuai dengan
koordinat yang ada di lapangan. Dalam melakukan proses
ini, digunakan data koordinat GCP (Ground Control Point)
yang telah ditentukan pada saat akuisisi data. Tahapan ini
sering di sebut juga sebagai tahap orthorektifikasi, yaitu
penyesuaian posisi citra sesuai dengan kondisi asalnya.
5. Single Model Bundle Adjustment
Tahap ini merupakan proses perhitungan secara
langsung parameter orientasi luar dari masing-masing
kamera (, , , Tx, Ty, Tz) sekaligus koordinat tanah dari
masing-masing tie points (X, Y Z). Proses perhitungan ini
didasarkan atas adanya kondisi kesegarisan (collinearity
condition) yang merupakan kondisi dimana stasiun
pemotretan foto, titik obyek di foto dan obyek sebenarnya
di lapangan berada dalam satu garis lurus (Wolf, 1993).
6. Ekstraksi DEM
Dari proses sebelumnya akan dihasilkan informasi
besar jarak anatar piksel yang sama antara citra yang
saling bertampalan atau lebih dikenal sebagai jarak
Page 4

parallax. Lebih jauh mengenai parallax, parallax


merupakan perbedaan posisi bayangan sebuah titik pada
dua buah foto yang bertampalan karena perubahan posisi
kamera (Zorn 1984 dalam Pranadita 2013) dengan melihat
obyek secara stereo maka suatu obyek dapat dilihat
secara simultan dari dua perspektif yang berbeda,
seperti foto udara yang diambil dari kedudukan kamera
yang berbeda untuk memperoleh kesan 3D. Untuk
dapat menghasilkan ketinggian tepat pada permukaan
obyek maka syarat yang harus dipenuhi ialah besarnya
paralaks
X dan paralaks
Y sama dengan nol atau
mendekati nol. Besar paralaks dapat dieliminir dengan
mengetahui parameter orientasi luar untuk masingmasing foto.

7. Mozaiking
Proses mosaicking adalah gabungan atau hasil
penyambungan citra/foto udara yang telah dilakukan
ortorektifikasi atau telah dikoreksi secara geometrik.
Dalam foto udara, apabila akan menggabungkan beberapa
foto, diharuskan untuk menentukan Tie Point pada daerah
yang bertampalan, karena foto udara yang saling
bertampalan digunakan sebagai acuan untuk proses
mosaicking. Data mosaik disimpan dalam format data
digital yang dapat dibaca oleh perangkat lunak
penginderaan jauh, tanpa kehilangan informasi datum dan
sistem proyeksi peta/sistem koordinat, dan tidak tergradasi
resolusi
radiometrik
dan
spektralnya.
Koreksi
orthorektifikasi merupakan sistem koreksi geometrik untuk
mengeliminasi
kesalahan
akibat
perbedaan
tinggi
permukaan bumi serta proyeksi akusisi citra yang
umumnya tidak orthogonal. Perbedaan tinggi obyek pada
di permukaan bumi dapat dicontohkan pada wilayah
pegunungan, perbukitan yang mempunyai variasi tinggi
dari lembah hingga puncak gunung dan bukit . Contoh
mozaiking :

Page 5

8. Pembuatan DTM
Dari proses mosaicking tersebut, dihasilkan foto
udara yang saling bertampalan. Foto yang saling
bertampalan ini digunakan untuk membuat bentuk 3D dari
foto udara. Bentuk 3D ini selanjutnya dibuat untuk
pembuatan DTM (Digital Terain Model). Apabila data
berasal dari satu pasangan foto, data mentah (raw data)
DTM yang dihasilkan dari pasangan foto adalah hasil
ploting stereo titik koordinat 3D terain (x,y,z) melalui
proses restitusi analitis atau pembuatan citra-citra epipolar.

Contoh DTM
Untuk sumber data DTM diakuisisi dengan teknik
fotogrametri, kesalahan dalam bahan sumber termasuk
yang di foto udara (misalnya, yang disebabkan oleh
distorsi lensa distorsi) dan titik kontrol. Ketidaktelitian
peralatan berdasar pada keterbatasan kemampuan alat
dan
ketelitian
instrument
fotogrametri
dan
juga
keterbatasan jumlah digit yang digunakan oleh komputer,
Page 6

kesalahan
manusia
seperti
kesalahan
pengukuran
menggunakan titik apung dan kesalahan ketik, kesalahan
transformasi koordinat termasuk seperti dalam orientasi
relative dan absolute dan juga matching citra pada system
otomasi.
Pembentukan DTM dengan foto udara dapat dilakukan
dengan bantuan software penginderaan jauh, antara lain
PCI, AgiSoft, Global Mapper, Photo modeler dan masih
banyak lagi.
B. PEMBUATAN DTM SECARA TERRESTRIS
Sesuai dengan pengertian DTM, yaitu merupakan salah
satu bentuk permukaan khusus DEM, dengan kata lain DTM
adalah DEM dari permukaan bumi. Dalam pengukuran secara
terrestris, pengukuran dilakukan secara langsung di lapangan,
dan proses akuisisi data yang didapatkan adalah data
koordinat dari permukaan bumi.
Dalam pengukuran secara langsung, alat yang digunakan
antara lain adalah Topcon, Total Station, TLS. Data yang di
dapatkan berupa koordinat X, Y, Z dari suatu objek yang ada
di permukaan bumi.
Tahapan akuisisi data secara terrestris yaitu :
1. Perencanaan
2. Survey pendahuluan
3. Pengukuran KKH dan KKV
4. Pengukuran
Detil,
meliputi
titik
tinggi
yang
merepresentasikan area
5. Pengolahan data, meliputi perhitungan data bowdith,
editing data awal
6. Penggambaran, meliputi penyempurnaan hasil ukuran
detil, pembuatan DTM, pembuatan kontur, dan
layouting.
Pengolahan data pengukuran terrestris sepenuhnya
dengan menggunakan bantuan software yang memudahkan
dalam pembentukan DTM. Software yang dapat digunakan
antara lain adalah Surpac, CAD, dan software untuk
menganalisis dapat dengan menggunakan ArcGIS.
Tahapan dalam pembuatan DTM dengan software Surpac
adalah sebagai berikut :
1. Import data berupa koordinat, dan juga nilai string
dalam format .csv

Page 7

2. Lakukan editing terhadap data tersebut, agar DTM yang


terbentuk sesuai dengan kondisi lapangan

3. Membuat DTM pada file string yang telah disimpan


sebelumnya dengan cara memilih menu Surface DTM
File functions Create DTM from string file.

4. Setelah memasukkan data yang akan dibuat sebagai


DTM, tunggu proses dan akan muncul hasil DTM

Page 8

Contoh DTM
Dalam software Surpac model DTM yang digunakan adalah
DTM TIN menggunakan titik-titik yang tersebar secara tidak
teratur pada permukaan model. Permukaan model TIN adalah
jaring bidang segitiga yang terbentuk dari triangulasi titik-titik
DTM. Disini perlu diperhatikan penggunaan breakline, agar
dalam pembentukan DTM dari data yang ada sesuai dengan
kondisi di dunia nyata. Penggunaan Breakline misalkan pada
daerah punggung bukit yaitu seperti ini :

Page 9

1. DTM tanpa breakline

2. Pembentukan DTM denga breakline

Page 10

IV.

APLIKASI DTM
Aplikasi DTM antara lain :
1. Bidang pemetaan topografi : Data DTM digunakan untuk
mengetahui kebenaran dari pembuatan peta turunan yang
dibuat dari peta induk topografi.
2. Bidang analisa geomorfologi dan hidrologi : Basis data DTM
banyak digunakan sebagai data masukan untuk pembuatan
model yang digunakan untuk aliran air hujan, erosi, analisa
karakteristik suatu permukaan dan kestabilan tanah. Data ini
memiliki kelebihan karena posisinya yang unik, sehingga
memungkinkan untuk melakukan prediksi dampak dari suatu
lokasi.
3. Bidang pembuatan peta ortofoto : Memproduksi peta topografi
bagi keperluan teknik, perencanaan dan desain menempuh
beberapa cara agar mendapatkan hasil dengan kualitas standart,
antara lain :
- Menggunakan ortofoto
- Membuat penggambaran kontur secara otomatis
dengan mendigitasiscanning citra stereoskopis selama
produksi ortofoto
- Keuntungan menggunakan penggambaran kontur digital
adalah; kontur yang diproduksi dengan calcomps
general purpose countouring systemlebih akurat apabila
dibandingkan dengan stereoploter, penggambarannya
lebih singkat, dan penggunaan data digital dari
hasil ortophoto scanningyang dikombinasi dengan
plotter
flatbed
kecepatan
tinggi
akan
sangat
menghemat waktu.
4. Bidang meteorologi dan pemodelan kualitas udara : Data yang
diperlukan adalah data ketinggian dan informasi mengenai muka
bumi. Contoh masalah ini bisa dilihat pada daerah yang
bertopografi kompleks menyebabkan gangguan aliran angin dan
pola dispersi polutan. Pemodelan kualitas angina terrain ini
dirancang untuk menghitung dan mengukur perpindahan,
penyebaran, reaksi kimia, dan polutan yang dibawa oleh angin
tersebut dari tempat lain.
Page 11

5. Bidang kehutanan :Ada tiga sistem dalam penggunaan DTM,


yaitu :
- Topographic Analysis System
- Digital Terrain Information System
- Methode Of Science Alternative Impacts By Computer

DAFTAR PUSTAKA
Digital Terain Model : Menyelesaikan Berbagai Persoalan.docx
Djurjani,1999. Modul MTD.pdf
http://www.sucofindo.web.id/2013/04/konsep-pemetaanfotogrametri.html (Diakses Minggu, 15 Mei 2016, pukul 17.33 WIB)
https://syafraufgisqu.wordpress.com/2013/09/30/bingung-antara-demdtm-dan-dsm/ (Diakses Minggu, 15 Mei 2016, pukul 17.43 WIB)
http://patita.co.id/index.php?
option=com_content&view=article&id=36&catid=9&Itemid=102
(Diakses
Minggu, 15 Mei 2016, pukul 17.45 WIB)
http://www.madesapta.com/2015/04/mengenal-model-terrain-digitalmtd_47.html (Diakses Minggu, 15 Mei 2016, pukul 17.50 WIB)
http://boworahmanto.blogspot.co.id/2009/01/pembuatan-dem-darifoto-udara-format.html (Diakses Minggu, 15 Mei 2016, pukul 17.57 WIB)

Page 12