Anda di halaman 1dari 7

Asumsi Ekonomi Makro dalam Penyusunan APBN

Menurut UU Nomor 10 Tahun 2010, Anggaran Pendapatan Belanja Negara, yang


selanjutnya di singkat APBN, adalah rencana keuangan tahunan pemerintah negara yang
disetujui oleh Depan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.
APBN memiliki beberapa tahapan yaitu penyusunan, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban
APBN. Dalam penyusunan APBN, pemerintah mengajukan rancangan APBN dalam bentuk
RUU tentang APBN kepada DPR. Setelah melalui perubahan, DPR menetapkan UU tentang
APBN selambat-lambatnya 2 bulan sebelum tahun anggaran dilaksanakan.
Penyusunan APBN tidak terlepas dari asumsi makro ekonomi yang menjadi barometer dan
patokan dalam pertumbuhan ekonomi. Paradigma penggunaan asumsi makro ekonomi dalam
penyusunan APBN dilatarbelakangi oleh pemikiran bahwa stabilitas ekonomi diperlukan dalam
rangka mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi yang diharapkan.
Asumsi dalam penyusunan APBN tersebut, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Produk Domestik Bruto (PDB)


Pertumbuhan ekonomi tahunan (%)
Tingkat inflasi (%)
Nilai tukar rupiah per USD
Suku bunga SBI 3 bulan (%)
Harga minyak Indonesia (USD/barel)
Lifting minyak Indonesia (barel/hari)
Paradigma penggunaan asumsi makro ekonomi dalam penyusunan APBN dilatarbelakangi oleh
pemikiran bahwa stabilitas ekonomi diperlukan dalam rangka mempertahankan tingkat
pertumbuhan ekonomi yang diharapkan. Sebagaimana anggapan ekonom kapitalis, bahwa
pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan stabil merupakan jalan untuk menyelesaikan problem
perekonomian. Dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan dicapai bergeraknya sektor
ekonomi sehingga akan melahirkan banyak lapangan pekerjaan. Dengan demikian,
pengangguran akan dapat diatasi, begitu pula angka kemiskinan secara otomatis dapat dikurangi.

1. Produk Domestik Bruto (PDB) dalam rupiah


Produk domestik bruto (PDB) adalah nilai pasar semua barang dan jasa yang
diproduksi oleh suatu negara pada periode tertentu. PDB merupakan salah
satu metode untuk menghitung
pendapatan nasional.
PDB diartikan sebagai nilai keseluruhan semua barang dan jasa yang
diproduksi di dalam wilayah tersebut dalam jangka waktu tertentu (biasanya
per tahun). PDB hanya menghitung total produksi dari suatu negara tanpa
memperhitungkan apakah produksi itu dilakukan dengan memakai faktor
produksi dalam negeri atau tidak. Sebaliknya, PNB memperhatikan asal usul
faktor produksi yang digunakan.
PDB Nominal merujuk kepada nilai PDB tanpa memperhatikan pengaruh
harga. Sedangkan PDB riil <!-(atau disebut PDB Atas Dasar Harga Konstan)-> mengoreksi angka PDB nominal dengan memasukkan pengaruh dari
harga.
PDB dapat dihitung dengan memakai dua pendekatan, yaitu pendekatan
pengeluaran dan pendekatan pendapatan. Rumus umum untuk PDB dengan
pendekatan pengeluaran adalah:
PDB = konsumsi + investasi +
pengeluaran pemerintah + (ekspor - impor )
Di mana konsumsi adalah pengeluaran yang dilakukan oleh rumah tangga,
investasi oleh sektor usaha, pengeluaran pemerintah oleh pemerintah, dan
ekspor dan impor melibatkan sektor luar negeri.
Dengan mengetahui keadaan PDB sekarang, kita bisa memprediksikan dan
menargetkan PDB pada tahun yang akan datang.

. 1. Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi adalah proses dimana terjadi kenaikan produk nasional bruto riil atau
pendapatan nasional riil. Jadi perekonomian dikatakan tumbuh atau berkembang bila terjadi
pertumbuhan output riil. Definisi pertumbuhan ekonomi yang lain adalah bahwa pertumbuhan
ekonomi terjadi bila ada kenaikan output perkapita. Pertumbuhan ekonomi menggambarkan
kenaikan taraf hidup diukur dengan output riil per orang.

2.

1)
2)
3)
4)
5)

3.

Tingkat Inflasi
Secara umum, laju inflasi tahun 2011 lebih rendah bila dibandingkan dengan inflasi tahun
sebelumnya, yang didorong oleh laju inflasi yang cenderung rendah pada semester II tahun 2011.
Sampai pada bulan Januari dan Februari 2012, tingkat inflasi lebih rendah jika dibandingkan
dengan laju inflasi pada periode yang sama tahun 2011.
Belajar dari penerpan tahun 2005 dan 2008, dalam rangka meminimalkan dampak kebijakan
di bidang harga tersebut, pemerintah akan melaksanakan beberapa kebijakan dalam rangka
meredam peningkatan ekspetasi inflasi masyarakat, antara lain:
Mejaga ketersediaan pasokan dan kelancaran arus distribusi bahan pangan pokok khususnya
beras
Meningkatkan kesiapan infrastruktur dan kepastian ketersediaan pasokan BBM sehingga
menjaga agar tidak terjadi kelangkaan pasokan
Meningkatkan alokasi belanja infrastruktur dalam mendukung domestic connectivity
Meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana transportasi umum
Meningkatkan alokasi anggaran dalam mendukung program ketahanan pangan nasional, dan
stabilitas harga pangan.
Nilai Tukar Rupiah
Sepanjang tahun 2011, nilai tukar rupiah bergerak relatif stabil dengan kecenderungan
menguat, sejalan dengan derasnya arus modal asing, peningkatan rating Indonesia ke
posisiinvestment grade, serta semakin seimbangnya permintaan dan penawaran valuta asing di
pasar domestik.
Untuk menjaga stabilitas eksternal dan internal, Bank Indonesia memadukan kebijakan
stabilitas nilai tukar rupiah dan pengelolaan lalu lintas modal. Di tengah derasnya aliran modal
asing yang masuk dan tekanan apresiasi, stabilitas nilai tukar dilakukan untuk mengurangi
volatilitas rupiah dalam upaya pengendalian dan stabilisasi harga. Kebijakan stabilitas nilai tukar
juga dilakukan sebagai langkah antisipasi terjadinya pembalikan modal (sudden reversal) dengan
menjaga cadangan devisa pada level yang memadai untuk mencukupi pembayaran impor dan
utang luar negeri. Bank Indonesia juga melakukan kebijakan intervensi secara terukur di pasar
valuta asing untuk menahan laju penguatan rupiah. Kebijakan tersebut dilakukan
secara symmetricdengan mengakomodasi nilai tukar yang lebih fleksibel dan tetap memerhatikan
tren nilai tukar negara-negara kawasan agar daya saing rupiah tetap terjaga. Pergerakan rupiah

diupayakan agar tidak mengalamiovershooting dan tidak terlalu fluktuatif serta tidak
menimbulkan dampak yang berlebihan terhadap pasokan likuiditas domestik.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut dan kebijakan yang akan ditempuh
Pemerintah dan Bank Indonesia dalam upaya menjaga kestabilan nilai tukar rupiah, asumsi ratarata nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam RAPBN-P 2012 diperkirakan mencapai sekitar
Rp9.000 per USD.
Menurut Bambang PS Brojonegoro Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementrian Keuangan
(Kemenkeu), kenaikan nilai tukar rupiah terjadi dikarenakan adanya kecenderungan nilai ekspor
yang melambat sehingga yang terlihat kurs tidak bersahabat terhadap dunia usaha. Menurut
catatan BPS, pencapaian ekspor dari Januari 2012 mengalami penurunan sebesar 9,28% dari
Desember 2011 dan berada dikisaran USD 15,49 miliar.
4.

Suku Bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 Bulan


Sejak bulan November 2010, lelang SBI 3 bulan dihentikan oleh Bank Indonesia. Derasnya
arus modal asing masuk ke instrumen-instrumen pasar jangka pendek dikhawatirkan berpotensi
menimbulkan flutuasi nilai tukar berlebih, khususnya bila terjadi pembalikan arus dana (sudden
capital reversal) kembali ke negara asal masing-masing. Pemberhentian lelang SBI 3 bulan
diharapkan mampu mengalihkan arus modal asing masuk ke instrumen investasi dan pasar lain
dengan tenor yang lebih panjang. Berdasarkan perundang-undangan yang berlaku, dengan
diberhentikannya mekanisme pelelangan SBI 3 bulan, Pemerintah memiliki kewajiban untuk
menerbitkan surat utang lain yang memiliki sistem pelelangan setara dengan SBI 3 bulan. Di
bulan Maret 2011, Pemerintah mulai menerbitkan Surat Perbendaharaan Negara (SPN) dengan
tenor 3 bulan sebagai dasar perhitungan tingkat bunga Surat Utang Negara dengan variable rate.
Prospek pasar SPN 3 bulan di dalam negeri terlihat cukup baik. Selama tahun 2011, total
jumlah penawaran oleh masyarakat dalam lelang SPN 3 bulan mencapai Rp48,7 triliun dan
jumlah penawaran yang dimenangkan jauh lebih kecil, yaitu sebesar Rp12,5 triliun. Minat
investor yang cukup besar tersebut memberikan keuntungan tersendiri berupa ketersediaan satu
sumber pembiayaan defisit yang relatif murah.

5.

Harga Minyak Mentah Indonesia(Indonesian Crude-oil Price/ICP)


Kinerja pertumbuhan ekonomi dunia yang semakin membaik telah berdampak pada naiknya
konsumsi minyak dunia, terutama di beberapa negara berbasis industri, seperti Cina dan Rusia.
Badan Energi Amerika (Energy Information Administration/EIA) mencatat ratarata realisasi total

konsumsi minyak dunia pada akhir Desember 2011 mencapai 87,9 juta barel per hari, merupakan
rata-rata tertinggi sejak periode krisis tahun 2008.
Sejalan dengan meningkatnya konsumsi minyak dunia, EIA memperkirakan harga minyak
mentah dunia WTI pada tahun 2012 akan berada pada level USD100,4 per barel atau naik sekitar
5,5 persen dari rata-rata harga minyak mentah WTI pada tahun 2011 yang mencapai sebesar
USD94,86 per barel.
Pergerakan harga minyak mentahIndonesia (Indonesian Crude-oil Price/ICP) menunjukkan
adanya perubahan tren. Harga ICP yang selama ini mengikuti pergerakan harga minyak mentah
khususnya WTI, berubah menjadi mengikuti pergerakan harga minyak mentah Brent yang secara
rata-rata lebih tinggi sekitar USD15 per barel dibandingkan dengan harga minyak WTI. harga
ICP pada tahun 2012 diperkirakan mengalami peningkatan selaras dengan tren pergerakan harga
minyak internasional, terutama Brent. Rata-rata harga minyak mentah Indonesia tahun 2012
diperkirakan mencapai USD105 per barel atau lebih tinggi bila dibandingkan dengan asumsi
rata-rata harga minyak ICP pada APBN tahun 2012 yang ditetapkan sebesar USD90,0 per barel.

6.

Lifting Minyak Indonesia


Dalam beberapa tahun terakhir, pencapaianlifting minyak selalu di bawah target yang telah
ditetapkan. pada tahun 2011 realisasi liftingminyak (periode Desember 2010 - November 2011)
mencapai sebesar 898,5 ribu barel per hari (lebih rendah dari target sebesar 945 ribu barel per
hari).
Dalam tahun 2012, target lifting sebesar 950 ribu barel per hari, diperkirakan juga sulit untuk
dicapai. Pada bulan Januari 2012, realisasi lifting hanya mencapai 884 ribu barel per hari.
Berdasarkan perkembangan tersebut, target minyak mentah dalam RAPBN-P tahun 2012
dikoreksi ke bawah menjadi 930 ribu barel per hari
http://fitriasblog-fitria.blogspot.co.id/2012/05/v-behaviorurldefaultvmlo.html
http://adie-wongindonesia.blogspot.co.id/2010/03/asumsi-ekonomi-makro-dalampenyusunan.html

Berdasarkan hasil pembahasan antara Pemerintah dengan DPR, asumsi dasar ekonomi makro
dalam APBN tahun 2016 ditetapkan dan disepakati sebagai berikut:
1. Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen;
2. Tingkat Inflasi sebesar 4,7 persen;

3. Nilai tukar rupiah rata-rata Rp13.900/USD;


4. Tingkat suku bunga SPN 3 bulan sebesar 5,5 persen;
5. Harga minyak mentah Indonesia rata-rata USD50/barel;
6. Lifting minyak rata-rata 830 ribu barel/hari; dan
7. Lifting gas rata-rata 1.155ribu barel setara minyak.
Asumsi dasar ekonomi makro tersebut ditetapkan dengan mempertimbangkan perkembangan
terkini dan prospek perekonomian,serta berbagai tantangan di tahun 2015 dan 2016, baik yang
berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Dengan didasarkan kondisi terkini serta langkahlangkah yang akan dilakukan ke depan, APBN tahun 2016 diharapkan dapat mendukung
pencapaian berbagai sasaran pembangunan di tahun 2016 secara lebih efektif, efisien, dan
berkualitas.
http://www.kemenkeu.go.id/en/node/47651

APBN disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan negara dan


kemampuan dalam menghimpun pendapatan negara. Rancangan APBN berpedoman kepada
rencana kerja pemerintah dalam rangka mewujudkan tercapainya tujuan bernegara. Tentang
pembiayaan isinya antara lain disebutkan, dalam hal APBN diperkirakan defisit, ditetapkan
sumber-sumber pembiayaan untuk menutup defisit tersebut dalam UU-APBN. Dalam hal
anggaran diperkirakan surplus, pemerintah pusat dapat mengajukan rencana penggunaan surplus
anggaran kepada DPR.Pemerintah pusat menyampaikan pokok-pokok kebijakan fiskal dan
kerangka ekonomi makro tahun anggaran berikutnya kepada DPR selambat-lambatnya
pertengahan bulan Mei tahun berjalan, kemudian dilakukan pembahasan bersama antara
Pemerintah Pusat dengan DPR untuk membahas kebijakan umum dan prioritas anggaran untuk
dijadikan acuan bagi setiap kementerian negara/lembaga dalam penyusunan anggaran.
Dalam rangka penyusunan rancangan APBN, menteri/pimpinan lembaga selaku pengguna
anggaran/pengguna barang, menyusun rencana kerja dan anggaran kementerian negara/lembaga
tahun berikutnya, berdasarkan prestasi kerja yang akan dicapainya. Rencana kerja dan anggaran
tersebut disertai perkiraan belanja untuk tahun berikutnya setelah tahun anggaran yang sedang
disusun, disampaikan kepada DPR untuk dibahas dalam pembicaraan pendahuluan rancangan
APBN, dan hasil pembahasan tersebut disampaikan kepada Menteri Keuangan sebagai bahan
penyusunan rancangan undang-undang tentang APBN tahun berikutnya, sedangkan ketentuan
lebih lanjut mengenai penyusunan rencana kerja dan anggaran kementerian negara/lembaga
diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pemerintah Pusat mengajukan rancangan UU-APBN, disertai Nota Keuangan dan dokumendokumen pendukungnya kepada DPR bulan Agustus tahun sebelumnya. DPR dapat mengajukan
usul yang mengakibatkan perubahan jumlah penerimaan dan pengeluaran dalam RUU-APBN.
Pengambilan keputusan oleh DPR selambat-lambatnya 2 (dua) bulan sebelum tahun anggaran
yang bersangkutan dilaksanakan. APBN yang disetujui DPR terinci sampai dengan unit
organisasi, fungsi, program, kegiatan, dan jenis belanja. Apabila DPR tidak menyutujui RUUAPBN, Pemerintah Pusat dapat melakukan pengeluaran setinggi-tingginya sebesar angka APBN
tahun anggaran sebelumnya
https://fileq.wordpress.com/2012/02/20/proses-penyusunan-apbn/