Anda di halaman 1dari 13

PPE Jawa

Profile Ekoregion Jawa

PPE Regional Jawa +62 274 625800

Home

Ekoregion Pulau

Karakteristik

Potensi SDA

Masalah LH

DAS Brantas

6.6.1 DAS Brantas


Berdasarkan Pola Pengelolaan Sumberdaya Air WS Brantas merupakan Wilayah Sungai terbesar
kedua di Pulau Jawa, terletak di Propinsi Jawa Timur pada 11030 BT sampai 11255 BT dan 701
LS samp ai 815 LS. Sungai Brantas mempunyai panjang 320 km dan memiliki luas wilayah
sungai 14.103 km2 yang mencakup 25% luas Propinsi Jawa Timur atau 9% luas Pulau Jawa.
WS Brantas terdiri dari 4 (empat) Daerah Aliran Sungai (DAS) yaitu DAS Brantas, DAS Tengah
dan DAS Ringin Bandulan serta DAS Kondang Merak. Peta lokasi wilayah sungai Brantas dapat
dilihat pada Gambar 6.51.
Gambar 6.51. Wilayah Sungai Brantas Sumber: BBWS, 2010
Dalam pembahasan mengenai potensi sumberdaya air ini menggunakan satuan DAS. DAS
Brantas berada di dalam wilayah administrasi 9 Kabupaten dan 6 Kota, yaitu: Kab. Nganjuk, Kab.

Potensi SDA
Hutan
Provinsi Banten
Provinsi DKI
Provinsi Jawa Barat
Provinsi Jawa
Tengah
Provinsi Jawa TImur

Tulungagung, Kab. Malang, Kab. Blitar, Kab. Sidoarjo, Kab. Mojokerto, Kab. Jombang, Kab.
Probolinggo, Kab. Lumajang, Kota Surabaya, Kota Sidoarjo, Kota Malang, Kota Blitar, Kota Kediri,
dan Kota Pasuruan. DAS brantas sendiri memiliki luas lebih kurang 11.988 km2, yang terdiri dari
6 Sub DAS dan 32 basin block.
A. Karakteristik Lingkungan Fisik
Untuk membekali informasi mengenai potensi sumberdaya air DAS Brantas, beberapa informasi
mengenai karakteristik lingkungan fisik akan sangat membantu. Karakteristik lingkungan fisik
yang cukup penting untuk disajikan antara lain:

Geologi dan Geomorfologi


Geologi
Geologi DAS Brantas dijelaskan secara spasial berdasarkan Peta Geologi yang terlihat pada
Gambar 6.52.
Gambar 6.52.Peta Geologi DAS Brantas (Sumber : BP DAS Brantas)
Informasi mengenai geologi DAS Brantas memberikan penjelasan bahwa kawasan DAS brantas
terbentuk oleh formasi geologi yang terdiri dari:
Alluvium, berada di daratan yang meliputi Kota Surabaya, Kab. Sidoarjo, Kab. Mojokerto,
Kab. Jombang, Kota Kediri, dan Kota Tulungagung.
Andesit, banyak ditemukan di utara DAS Brantas terutama di sekitar Sub DAS Bluwek.
Hasil Gunung Api Kwarter Muda, tersebar di sekitar Gunung Kelud, Gunung Kawi, Gunung
Butak, dan Gunung Penanggungan.
Hasil Gunung Api Kwarter Tua, tersebar di sisi timur DAS secara lokal antara lain di daerah
Gunung Arjuno, Jabung, Poncokusumo dan di lereng timur Gunung Penanggungan.
Hasil Gunung Api Tak Terurai, merupakan hasil erupsi Gunung Api Wilis yang berada di
sisi Barat DAS.
Miosen Fasies Batu Gamping, batuan gamping berumur miosen terdapat di sisi selatan DAS
dan tersebar di sebagian Kab. Tulungagung, Kab. Blitar, dan Kab. Malang.
Miosen Fasies Batu Sedimen, sedikit berada di Kab. Boyolali

Pertanian
Pesisir Laut
Energi dan Mineral
Ekosistem Karst
Air
DAS Brantas
DAS Bengawan Solo
DAS Progo
DAS Serayu
DAS Citanduy
DAS Citarum
DAS Ciliwung
DAS Cisadane
DAS Cimanuk

Pliosen Fasies Batu Gamping, tersebar secara lokal di antara geologi pleistosen fasies
Gunung Api yang berada di Sub DAS Bluwek.
Pliosen Fasies Batu Sedimen, sedimen hasil pengendapan berumur pliosen banyak terdapat
di daerah dataran Trenggalek.
Pleistosen Fasies Gunung Api, berada di sekitar Sub DAS Bluwek.
Pleistosen Fasies Batu Sedimen, batuan hasil pengendapan berumur pleistosen banyak
terdapat di lerenglereng di Sub DAS Bluwek.
Geomorfologi
Gunungapigunungapi yang ada mempengaruhi pembentukan lahan di DAS Brantas antara lain :
Gunung Kawi, Gunung Butak, Gunung Kelud, Gunung Wilis, Gunung Anjasmoro, Gunung
Arjuno, Gunung Welirang, Gunung Penanggungan, Gunung Semeru, dan sedikit bagian dari
Gunung Bromo. Hasil erupsi gunungapi tersebut kemudian mengalami proses erosi dan
sedimentasi sehingga menghasilkan bentuklahan asal proses vulkanik yang berupa perbukitan,
pegunungan, dataran, maupun lembah.
Selain proses geomorfologi, kondisi permukaan DAS Brantas juga dipengaruhi oleh kondisi
relief, topografi, dan kemiringan lahan. Secara umum kemiringan lahan DAS Brantas sangat
kompleks dan terbagi dalam lima (5) kelas. (1) Kemiringan lereng 0 8 % (datar) yang terdapat di
dataran aluvial gunungapi. (2) Kemiringan lereng 8 15 % (landai) yang membentuk lereng kaki
dan lereng bawah gunungapi. (3) Kemiringan Lereng 15 25 % (agak curam) yang dijumpai pada
lereng tengah gunungapi. (4) Kemiringan lereng 25 40 % (curam) dan (5) kemiringan lereng >
40 % yang membentuk lereng atas gunungapi. Secara spasial kemiringan lahan di DAS Brantas
tergambar pada Peta Kelas Kemiringan lahan (Gambar 6.53).
Daerahdaerah dengan kemiringan tingga (>40%) terutama di sub DAS Borek Glidik, sedangkan
daerah yang berada di kemiringan rendah/datar (<8%) banyak terdapat di sub DAS Widas dan
Lahar. Berikut ini ditampilkan ikhtisar kemiringan lahan dengan lokasinya (Tabel 6.27).
Tabel 6.27. Klas Kemiringan Lahan di Wilayah DAS Brantas
Gambar 6.53. Peta Klas Kemiringan Lahan DAS Brantas (Sumber : BP DAS Brantas)
Jenis Tanah

Kondisi tanah di DAS Brantas sangat kompleks. Hal ini dipengaruhi oleh kompleksnya batuan
penyusun DAS Brantas sebagai bahan induk tanah yang berasal dari sumber yang berbeda dan
adanya pengaruh iklim dan waktu pembentukan yang berbeda. Tipe tanah yang terdapat di DAS
Brantas secara umum antara lain :
1. Alluvial
Tanah alluvial termasuk tanah muda, belum mengalami diferensiasi horison. Sifat tanah ini
dipengaruhi langsung oleh bahan asalnya yaitu aluvium. Material aluvium ini menampakkan
morfologi berlapis lapis karena adanya periodisasi pengendapan. Keterdapatan tanah jenis ini
berada pada topografi dataran dengan solum tanah yang dalam. Tanah ini berpotensi untuk
pengembangan pertanian dan perikanan.
Gambar 6.54. Peta Jenis Tanah DAS Brantas (Sumber : BP DAS Brantas)
2. Litosol
Tanah berbatubatu. Bahan pembentuknya berasal dari batuan keras yang belum mengalami
pelapukan secara sempurna. Jenis tanah ini juga disebut tanah azonal. Tanaman yang dapat
tumbuh di tanah litosol adalah rumput ternak, palawija, dan tanaman keras
3. Latosol
Merupakan jenis tanah yang telah mengalami perkembangan lanjut, sehingga telah terjadi
pencucian unsur basa, bahan organik dan silika dengan meninggalkan sekuioksida sebagai sisa
berwarna merah. Tekstur geluh lempung berpasir, struktur remah sampai gumpal lemah,
konsistensi gembur, Terdapat selubang lempung pada agregat tanah bawah. Kesuburan tanah
rendah sedang dan tidak mudah tererosi maupun longsor.
4. Grumusol
Tanah Grumusol atau disebut juga tanah margalith adalah tanah yang terbentuk dari material
halus berlempung. Jenis tanah ini berwarna kelabu hitam dan bersifat subur. Tanaman yang
tumbuh di tanah grumusol adalah padi, jagung, kedelai, tebu, kapas, tembakau, dan jati.
5. Regosol
Jenis tanah ini belum mengalami diferensiasi horison meskipun pada tanah regosol tua horison
sudah mulai terbentuk dengan horison Al lemah berwarna kelabu. Tekstur kasar, struktur kersai
atau remah, konsistensi lepaslepas sampai gembur. Pada jenis tanah ini belum terbentuk

agregat sehingga mudah tererosi, dalam hal ini erosi oleh angin. Tanah regosol dapat dijumpai di
daerah pesisir dengan bahan induk batuan vulkanik. Daya simpan air pada jenis tanah ini kecil.
6. Andosol
Tanah andosol berasal dari abu gunungapi. Tanah andosol di DAS Brantas berasosiasi dengan
tanah regosol hasil erupsi gunungapi yang belum mengalami pelapukan.
7. Mediteran
Merupakan hasil pelapukan batuan kapur keras dan batuan sedimen. Warna tanah kemerahan
hingga coklat. Jenis tanah ini kurang subur tetapi cocok untuk tanaman palawija, jati, tembakau,
dan jambu mete. Keseluruhan jenis tanah yang ditemui di DAS Brantas dengan perkiraan
luasnya dapat dilihat secara lengkap pada Tabel 6.28. dan gambaran sapasial distribusi jenis
tanah DAS Brantas dapat dilihat pada Gambar 6.55.
Tabel 6.28. Jenis Tanah di Wilayah DAS Brantas
Hidrologi
Neraca air DAS Brantas menunjukkan bahwa dengan catchment area 11.800 Km2 DAS Brantas
memiliki potensi air permukaan dan airtanah sebesar 16.472,46 (106 m3). Kebutuhan air
(pasisiva) domestik sebesar 2.308,56 (106 m3), pertanian 2.770,39 (106 m3), dan industri 50,26 (106
m3). Total kebutuhan air di berbagai sektor tersebut sebesar 31,14% dari potensi air yang dimiliki
DAS Brantas.
Kondisi hidrologi permukaan DAS Brantas dapat dilihat dari sungaisungai yang mengalir di
wilayah Sungai Brantas, baik pada orde 1,2,3 dari sungai utama. Terdapat 40 sungai yang
bermuara di Sungai Brantas. Sungaisungai besar seperti K. Lesti, K. Metro, K. Dawir, K. Parit
Agung, K. Ngasinan, K. Konto, K.Widas, dan K.Kuncir berpotensi membawa air dari hulu dalam
jumlah yang besar sehingga mempengaruhi debit sungai utama (K.Brantas). Sungaisungai
tersebut membentuk pola aliran dendritik. Hal tersebut menunjukkan bahwa aliran pada sungai
sungai di DAS Brantas berpotensi untuk mengerosi lahan di sekitarnya.
Tabel 6.29. Debit Sungai DAS Brantas yang Dikelola Perum Jasa Tirta I
Pemanfaatan Lahan
Penggunaan lahan di DAS Brantas per Kabupaten/Kota tersaji dalam tabel. Tabel tersebut

menunjukkan bahwa secara umum pemanfaatan lahan di wilayahwilayah kabupaten lebih


dominan dimanfaatkan sebagai sawah, lahan kering, dan hutan. Sedangkan di daerah perkotaan
(Kota Kediri, Blitar, Malang, dan Mojokerto) pemanfaatan yang dominan adalah sawah, lahan
kering, dan non pertanian. Hampir tidak terdapat hutan di kotakota tersebut. Penggunaan lahan
non pertanian, pada umumnya berupa permukiman, sarana perkotaan dan kawasan industri.
Tabel 6.30. Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan per Kabupaten/Kota
Penggunaan lahan DAS Brantas secara spasial dapat dilihat pada gambar 6.55. Penggunaan lahan
sebagai hutan dapat dijumpai pada lereng atas Gunungapi Kawi, Gunungapi Butak, Gunungapi
Kelud, Gunungapi Wilis, Gunungapi Arjuno, Gunungapi Anjasmoro, Gunungapi Wilerang,
Gunungapi Bromo, Gunungapi Semeru, dan lereng atas perbukitanperbukitan yang tersebar di
DAS Brantas. Pada puncak gunung atau perbukitan terdapat rumput dan semak belukar. Di
bawah lereng atas gunungapi yang memiliki topografi curam, lahan di manfaatkan sebagai lahan
kebun. Sedangkan lereng bawah dengan topografi landai hingga agak curam dimanfaatkan
sebagai lahan tegalan. Topografi datar pada dataran aluvial banyak dimanfaatkan sebagai pusat
pemukiman, sawah irigasi, sawah tadah hujan, dan empang.
Gambar 6.55. Peta Penggunaan Lahan DAS Brantas Tahun 2009 (Sumber : MIHKLH)
B. Potensi Sumberdaya Air
Berdasarkan data SLHD Provinsi Jawa Timur tahun 2011, Perkiraan kepadatan penduduk Jatim
Th. 20102011 adalah 781 jiwa/km2. Dengan luas DAS sebesar 11.988 km2, maka perkiraan jumlah
penduduk yang tinggal di wilayah DAS Brantas adalah: 9.362.628 jiwa. Berdasarkan laporan
BMKG setempat, secara menyeluruh kawasan ini memiliki curah hujan ratarata sekitar 2.000
mm/th. Sementara itu pada sumber data lainnya menyebutkan bahwa total potensi debit air
permukaan sebesar 373,64 m3/detik atau 11.783,2 juta m3/th.
Pada umumnya fluktuasi debit air tahunan di semua DAS di Indonesia cukup tinggi. Saat terjadi
musim hujan, sungai utama mengalami kelebihan air dan berakibat banjir pada kawasan dengan
elevasi rendah. Sementara itu, saat terjadi musim kemarau, terjadi kekeringan di sebagian
wilayah catchment areanya. Untuk mengurangi tingginya fluktuasi debit, salah satu upaya yang
dilakukan adalah dengan membangun waduk atau bendungan. Ada bendungan utama yang
telah dibangun di DAS Brantas terlihat pada Tabel. 6.31.

Tabel 6.31. Bendungan di DAS Brantas


Gambar 6.56. Bendunganbendungan yang ada di DAS Brantas
Jika dilihat dari luasnya daerah tangkapan air (catchment area) masingmasing kabupaten dan
kota yang terdapat di dalam wilayah DAS Brantas, dapat diketahui besarnya pengisian air
(potensi air) yang masuk ke dalam DAS. Potensi besarnya pengisian air di masingmasing
catchment area secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 6.32. Potensi Pengisian Air Tahunan DAS Brantas
Potensi sumberdaya air yang besar secara kumulatif dalam satu tahun sebagaimana tergambar
pada tabel di atas, pada dasarnya tidak seluruhnya termanfaatkan secara efektif. Yang terpenting
adalah ketersediaan air pada suatu waktu tertentu, sesuai dengan kebutuhan. Walaupun dalam
hitungan terlihat bahwa sumberdaya air dalam kurun satu tahun itu melimpah, namun pada
kenyataannya tidak semua termanfaatkan. Buktinya, ketika musim hujan air begitu melimpah
hingga terbuang percuma dan bahkan menjadi perusak. Sementara ketika musim kemarau,
pada daerah tertentu, air begitu sulit di dapatkan. Air dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik
(rumah tangga dan perkotaan) juga digunakan untuk pertanian dan industri. Berikut ini tertera
tabel mengenai proyeksi kebutuhan air untuk domestik dan industri, hingga tahun 2030.
Tabel 6.33. Proyeksi Kebutuhan Air untuk Penggunaan Industri di DAS Brantas
Potensi sumberdaya air yang besar secara kumulatif dalam satu tahun sebagaimana tergambar
pada tabel di atas, pada dasarnya tidak seluruhnya termanfaatkan secara efektif. Yang terpenting
adalah ketersediaan air pada suatu waktu tertentu, sesuai dengan kebutuhan. Walaupun dalam
hitungan terlihat bahwa sumberdaya air dalam kurun satu tahun itu melimpah, namun pada
kenyataannya tidak semua termanfaatkan. Buktinya, ketika musim hujan air begitu melimpah
hingga terbuang percuma dan bahkan menjadi perusak. Sementara ketika musim kemarau,
pada daerah tertentu, air begitu sulit di dapatkan. Air dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik
(rumah tangga dan perkotaan) juga digunakan untuk pertanian dan industri. Berikut ini tertera
tabel mengenai proyeksi kebutuhan air untuk domestik dan industri, hingga tahun 2030.
Tabel 6.33. Proyeksi Kebutuhan Air untuk Penggunaan Industri di DAS Brantas

Tabel 6.34. Proyeksi Kebutuhan Air untuk Penggunaan Domestik di DAS Brantas
Selain air permukaan, DAS Brantas juga menyimpan potensi air tanah yang sangat besar. DAS
Brantas merupakan cekungan yang tersusun dari litologi batuan yang berbeda antara satu
tempat dengan tempat yang lain. Batuan penyusun tersebut berpotensi menyimpan dan
melewatkan air dalam jumlah tertentu. Formasi batuan ini disebut dengan sistem akuifer.
Berdasarkan peta hidrogeologi DAS Brantas, akuifer yang terdapat di DAS Brantas memiliki
potensi yang rendah, sedang, tinggi, dan airtanah langka.
a. Potensi air tanah rendah.
Terdapat pada daerah dengan akuifer produksi kecil setempat (aliran celah) dan akuifer yang
menutupi akuifer produksi tinggi dengan penyebaran aliran setempat (aliran ruang).
Penyebaran potensi airtanah rendah terdapat di lereng atas dan puncak (puncak Gunungapi
Kawi, Gunungapi Butak, Gunungapi Kelud, Gunungapi Wilis, Gunungapi Arjuno, Gunungapi
Anjasmoro, Gunungapi Wilerang, Gunungapi Penanggungan, Gunungapi Bromo, dan
Gunungapi Semeru).
b. Potensi airtanah sedang.
Terdapat pada akuifer produksi sedang (aliran rekah, celah, saluran, ruang antar butir).
Penyebaran akuifer ini terdapat pada lereng tengah gunungapi dengan kemiringan lereng yang
curam dan airtanah dalam. Muncul mataair terutama pada daerah tekuk lereng.
c. Potensi airtanah tinggi.
Akuifer produksi tinggi penyebaran luas, aliran ruang antar butir, celah, dan rekahan. Akuifer
ini berada di lereng bawah pegunungan, lereng kaki pegunungan, serta dataran kaki
pegunungan dengan kedalaman airtanah dangkal hingga sedang.
d. Daerah airtanah langka.
Terdapat pada bentuklahan dengan material penyusun berupa batugamping. Produksi akuifer
kecil, setempat, aliran celah, dan airtanah dalam. Daerah airtanah langka terdapat di lereng
perbukitan sisi selatan DAS Brantas, tepatnya di Kab. Tulungagung dan Kab. Blitar.

Untuk memperjelas keterangan tersebut, dapat dilihat pada peta hidrologi DAS Brantas (Gambar
6.57).
Gambar 6.57. Peta Hidrogeologi DAS Brantas (Sumber : BP DAS Brantas)
Secara lebih rinci, potensi air tanah perwilayah administrasi dapat dilihat sebagaimana tabel
berikut ini.
Tabel 6.35. Potensi Airtanah per Kabupaten/Kota di DAS Brantas
C. Permasalahan Lingkungan
Hasil survei lapangan, kondisi lingkungan DAS Brantas secara keseluruhan masih dikatakan
baik, hanya di beberapa lokasi tertentu sudah mengalami beberapa masalah baik masalah
kerusakan lingkungan maupun pencemaran lingkungan.
Pencemaran Lingkungan
Berkembangnya kotakota besar yang dilalui aliran sungai Brantas, mengakibatkan
meningkatnya kebutuhan akan air bersih dan air baku. Di samping itu, semakin tingginya
konsentrasi penduduk dan industri di daerah perkotaan menimbulkan masalah antara lain
timbulnya daerah kumuh di tepi sungai, menurunnya kualitas air sungai dan bencana banjir
akibat terganggunya aliran air, baik karena banyaknya sampah, pendangkalan maupun
berkurangnya lebar sungai. Sumber pencemar dominan yang mencemari sungai Brantas adalah
sebagai berikut :
a. Limbah industri
Di dalam Wilayah Sungai Brantas sedikitnya terdapat 483 industri yang berpotensi membuang
limbahnya yang berpengaruh langsung pada kualitas air sungai. Berdasarkan data dari Badan
Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur pada tahun 1999 diperoleh hasil beban BOD netto dari
sektor industri sebesar 37,48 ton BOD/tahun. Diperkirakan jumlah beban tersebut meningkat
sebesar 10% hingga tahun 2012.
Gambar 6.58. Visual kondisi air salah satu anak sungai yang mesuk ke Sungai Brantas, tercemar
oleh limbah domestik dan industri.

b. Limbah hotel dan restoran


Limbah domestik hotel, restoran, dan lainlain adalah sumber yang paling besar memberikan
kontribusi limbah padat pada WS Brantas yaitu sebesar 7,26 m3/hari dan limbah cair sebesar
10,25 ton BOD/tahun (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, 2011).
c. Limbah pertanian
Sumber pencemar dari sektor pertanian berasal dari sisa pestisida dan pupuk anorganik yang
digunakan di lahanlahan garapan dan yang mengalir ke sungai bersama dengan sisa air irigasi.
Pencemaran ini umumnya terjadi pada saat musim hujan. Dampak yang terjadi akibat limbah
pertanian tersebut adalah terjadinya eutrofikasi perairan di waduk (terutama di Waduk Sutami)
juga di sepanjang sungai Brantas, terutama pada wilayahwilayah hilir.
Gambar 6.59. Dampak eutrofikasi telah mengakibatkan tumbuhnya bermacam gulma yang
menutupi sebagian wilayah badan Sungai Porong.
Sepanjang tahun 2011, hasil pengujian sampel menunjukkan bahwa untuk parameter DO dan
COD rata rata hampir selalu memenuhi baku mutu air sungai kelas II sedangkan untuk
parameter BOD ratarata belum memenuhi baku mutu air sungai kelas II menurut PERGUB
Provinsi Jawa Timur No. 61 Tahun 2010.
Tabel 6.36 Kualitas Air Sungai Brantas (Musim Kemarau)
Tabel 6.37. Kualitas Air Sungai Brantas (Musim Penghujan)
Permasalahan yang dihadapi dalam upaya pengendalian pencemaran di WS Brantas, antara lain :
a. Sejak dilaksanakan Program Kali Bersih, pengendalian pada sumber pencemar hanya
dilaksanakan pada limbah industri. Pengendalian limbah domestik belum dilaksanakan, padahal
berdasarkan penelitian beban pencemaran limbah domestik mencapai 62% dari total beban yang
masuk sungai.
b. Penegakan hukum terhadap pencemar masih lemah, karena masih mempertimbangan aspek
sosial, ekonomi, kesempatan kerja dan lain sebagainya.
c. Banyak industri yang kapasitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)nya lebih kecil dari
limbah yang diproduksi, sehingga buangan limbahnya tidak memenuhi baku mutu yang
ditetapkan.

d. Pengendalian pencemaran air merupakan masalah yang kompleks, memerlukan dana besar
dan waktu panjang serta memerlukan komitmen semua pihak yang berkepentingan.
e. Banyaknya permukiman di daerah sempadan sungai mengakibatkan banyak sampah dan
limbah domestik langsung dibuang ke sungai.
f. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam memberikan kontrol sosial
yang positif (aktifkonstruktif).
Kerusakan Lingkungan
Hutan memiliki peran penting dalam sistem DAS. Berdasarkan fungsinya, hutan di DAS Brantas
terbagi menjadi tiga yaitu hutan produksi yang dikelola Perum Perhutani, Hutan Lindung, dan
kawasan hutan yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumberdaya Hutan (BKSDH) yang berupa
Suaka Alam dan Hutan Wisata. Hutan Produksi terutama menghasilkan pohon jati dan sebagian
pohon rimba. Berdasarkan peta penggunaan lahan DAS Brantas (2011) terdapat sekitar 11.020,59
Ha lahan berhutan. Tidak seluruh lahan berhutan adalah wilayah yang ditetapkan sebagai hutan
(Hutan Negara), akan tetapi termasuk di dalamnya adalah hutan masyarakat. Beberapa
permasalahan pokok terkait dengan kelestarian sumber daya hutan di WS Brantas adalah:
1. Terus menurunnya luas dan kondisi hutan. Kerusakan hutan tersebut menimbulkan dampak
yang luas, yaitu kerusakan ekosistem dalam tatanan DAS, demikian pula dipacu oleh
pengelolaan DAS yang kurang terkoordinasi antara hulu dan hilir serta kelembagaan yang masih
lemah. Berdasarkan analisis tutupan lahan (MIHKLH, 2010), besarnya perubahan tutupan hutan
selama kurun waktu Tahun 2000 hingga Tahun 2008, perubahan luas kawasan berhutan adalah
sebagai berikut.
Tabel 6.38. Perubahan Luas Kawasan Berhutan
Di satu pihak luas areal berhutan semakin menurun, sementara di pihak lain luas kawasan
permukiman semakin meningkat dengan percepatan yang sangat signifikan. Grafik berikut
dapat dengan jelas menggambarkan kondisi tersebut.
Gambar 6.60. Grafik Perubahan Luas Kawasan Berhutan dan Permukiman
Secara spasial (hasil interpretasi citra satelit) perubahan penggunaan lahan selama Tahun 2000
hingga Tanhun 2008 DAS Brantas, dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 6.61. Perubahan Penggunaan Lahan dari tahun 20002008


2. Lemahnya penegakan hukum.
3. Rendahnya kapasitas pengelola kehutanan, sumber daya manusia, pendanaan, sarana
prasarana, kelembagaan, serta insentif bagi pengelola kehutanan sangat terbatas.
4. Belum berkembangnya pemanfaatan hasil hutan nonkayu dan jasajasa lingkungan.
5. Belum harmonisnya peraturan
perundangan sektor lainnya.

perundangan

lingkungan

hidup

dengan

peraturan

6. Masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam pemeliharaan lingkungan.


7. Kondisi daerah tangkapan hujan di bagian DAS Brantas hulu memburuk akibat penebangan
liar dan pengelolaan lahan yang tidak mengindahkan aspek konservasi tanah. Akibatnya, terjadi
peningkatan erosi lahan yang berakibat pada peningkatan sedimentasi di waduk, berkurangnya
volume efektif waduk, penurunan baseflow pada musim kemarau panjang, kekeringan pada
musim kemarau dan terjadinya banjir bandang di musim penghujan, Pengalaman kejadian 34
Pebruari 2004, Kali Brantas Hulu mengalami banjir lumpur yang sangat parah karena hujan
deras. Permasalahan lainnya adalah matinya mata air DAS Brantas, degradasi dasar sungai dan
penurunan kualitas air akibat pencemaran.
8. Rehabilitasi hutan, lahan dan air DAS Brantas Hulu secara terencana dan integratif sebagai
basis pengelolaan DAS Brantas Hulu merupakan keputusan pemerintah setiap kabupaten/kota
di wilayah pengelolaan DAS Brantas, untuk meningkatkan kemampuan dalam meningkatkan
produksi dan pendapatan. Namun kenyataan menunjukkan bahwa lahan kritis DAS Brantas
Hulu semakin luas, karena laju degradasi masih lebih besar dari laju penanganannya. Tabel
berikut menunjukkan luas lahan kritis yang terdapat di DAS Brantas.
Tabel 6.39. Luas Lahan Kritis (Ha) di DAS Brantas per Kawasan
Upaya forestasi atau penghijauan kembali juga dilaksanakan oleh Perum Perhutani Unit II Jawa
Timur dan berdasarkan tabel berikut dapat dilihat bahwa realisasi penanaman pohon yang telah
dilakukan dari total lahan seluas 7.292,60 Ha dapat direalisasikan penanaman penghijauan

sesuai dengan target tahun berjalan sebanyak 8.102.078,60 pohon. Realisasi penanaman
terbanyak dilakukan di KPH Kediri dengan total lahan seluas 2.956,80 Ha berhasil ditanami
3.285.005 batang pohon selama tahun 2011.
Tabel 6.40. Rencana dan Realisasi Kegiatan Penghijauan
9. Terjadi kerusakan hutan mangrove yang berakibat terganggunya ekosistem mangrove di DAS
Brantas. Secara rinci kerusakan mangrove dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 6.41. Tingkat Kerusakan Hutan Mangrove

Kontak Kami

BLH
TERINTEGRASI

PPE Jawa

Kerusakan
Lahan Kritis

Kementerian Lingkungan

BLH Jombang

Konversi Lahan Hutan

Hidup

BLH Batang

Jl. Ringroad Barat No. 100

Kerusakan Pesisir

BLH Kota Blitar

Nogotirto Gamping Sleman

Banjir dan Longsor

DLH Lumajang

Yogyakarta

Search Site
Search

Phone. 0274625800, 0274


620702,
publikasi@ppejawa.com

Profil Ekoregion Jawa Profil Ekoregion Pulau (ekonusa)

Infoway Theme powered by ppejawa.com