Anda di halaman 1dari 11

I.

PENDAHULUAN

A. Judul
Produktivitas Primer dan Kualitas Air
B. Latar Belakang
Perairan adalah lingkungan hidup bagi semua makhluk hidup di dalamnya.
Terdapat mikroorganisme dan aktivitasnya sebagai produsen dan konsumen
primer pada ekosistem perairan yang mempengaruhi produktivitas ekosistem
primer dan sekunder. Produktivitas ekosistem primer terdiri dari banyak aktivitas,
misalnya respirasi dan fotosintesis makhluk hidup.
Produktivitas primer merupakan laju pepnyimpanan energi radiasi matahari
oleh organisme produsen dalam bentuk bahan organik melalui proses fotosintesis
oleh fitoplankton. Dalam tropik level suatu perairan fitoplankton merupakan
produsen utama perairan (Odum, 1996). produkti
Analisa kualitas air mencakup faktor kimia, fisik, dan biologi. Sifat-sifat
kimia dapat dilihat dari pH, karbondioksida dan oksigen terlarut.sifat fisika dari
suhu, turbiditas, kedalaman air, arus dan aliran air. Sifat biologis dapat dilihat dari
mikroorganisme yang ada seperti plankton dan algae dan melalui parameter
biologi kita dapat mengetahui penghuni aquatik mikro dalam sungai pada 3
tempat berbeda (bagian kanan, tengah, kiri) dengan pengamatan biodiversitas .
Deskripsi lokasi pada praktikum/percobaan ini dilakukan di sungai Babarsari,
Yogyakarta. Tepi dari sungai tersebut ditumbuhi beberapa batu-batuan,
pepohonan yang cukup rindang, namun juga terdapat sedikit tumpukan sampah.
Pada umumnya dasar sungai tersebut banyak terdapat bebatuan yang cukup besar.
C. Tujuan
1.
II.

TINJAUAN PUSTAKA

III.

METODE

A. Alat dan Bahan


Alat:
1.
2.
3.
4.

Tali rafia
Pasak
Laptop
Luxmeter

Bahan:
1. Tumbuhan kanopi dan non kanopi
B. Cara Kerja
Langkah awal yang dilakukan adalah menetapkan lokasi pembuatan plot
apakah di tempat naungan maupun tanpa naungan. Pada lokasi yang sudah
ditentukan, dibuat plot menggunakan tali rafia dan pasak dengan ukuran 1 m x 1
m. Intensitas cahaya diukur dengan menggunakan luxmeter. Spesies tumbuhan

yang terdapat dalam plot dihitung dan diidentifikasi lalu data yang didapat di
bagikan antar kelompok.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Berdasarkan percobaan analisis vegetasi pada tempat yang bernaungan dan
tanpa naungan, diperoleh histrogam sebagai berikut:
Histogram 1. Cacah Spesies Naungan

Cacah spesies Vegetasi Naungan


140
120
100
cacah spesies

80
60
40
20
0
semak

herba

rumput

Histogram 2. Cacah Spesies Tanpa Naungan

seedling

Cacah Spesies Vegetasi Non Naungan


250
200
150

Cacah Spesies

100
50
0
Semak

Herba

Rumput

Seedling

Histogram 3. KR dan FR Naungan

Kemelimpahan Naungan
kemelimpahan seedling

Kemelimpahan rumput

FR
KR

Kemelimpahan herba

Kemelimpahan semak
0%

50%

Histogram 4. KR dan FR Tanpa Naungan

100%

150%

Kemelimpahan Non Naungan


Kemelimpahan seedling
Kemelimpahan herba

FR
KR

Kemelimpahan rumput

Kemelimpahan semak
0%

20% 40% 60% 80% 100% 120%

Histogram 5. Indeks Similaritas & Disimilaritas Naungan & Tanpa Naungan

Indeks Similaritas dan Disimilaritas


1
0.9
0.8
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0

Histogram 6. Intensitas Cahaya Naungan & Tanpa Naungan

Intensitas Cahaya
3500
3000
2500
2000
1500

Lux

1000
500
0

B. Pembahasan
Istilah vegetasi dalam ekologi merujuk pada keseluruhan komunitas
tetumbuhan yang berada di suatu kawasan tertentu. Vegetasi merupakan bagian hidup
yang tersusun dari tumbuhan-tumbuhan yang menempati suatu ekosistem, atau,
dalam area yang lebih sempit. Istilah vegetasi berbeda, dan lebih luas maknanya dari
flora. Pengertian flora hanya merujuk kepada kekayaan jenis tetumbuhan yang ada di
suatu wilayah atau kurun waktu tertentu; sedangkan vegetasi dicirikan pula oleh
kekayaan bentuk hidup (life form), struktur, periodisitas; selain juga oleh ciri-ciri
floristik yang khas.
Metode analisis vegetasi yang digunakan dalam percobaan ini adalah Metode
plot yang merupakan prosedur yang umum digunakan untuk sampling berbagai tipe
organisme. Plot biasanya berbentuk segiempat atau persegi (kwadrat) ataupun
lingkaran. Metode ini digunakan untuk sampling tumbuh- tumbuhan, hewan-hewan
sessil (menetap) atau bergerak lambat seperti hewan-hewan yang meliang.

Dalam praktikum ini plot dibuat dengan cara menancapkan pasak pada 4 sisi
lalu diikat dengan tali rafia. Plot dibuat berbentuk bujur sangkar dengan panjang tiap
sisi kurang lebih 0,5 cm. Intensitas cahaya pada lokasi pengambilan sampel diukur
untuk dapat melihat pengaruh faktor cahaya terhadap keanekaragaman spesies
vegetasi. Selanjutnya, tanaman dihitung dan diidentifikasi secara manual.
Praktikum analisis vegetasi ini dilakukan pada 2 lokasi untuk mengamati dan
membandingkan jenis-jenis vegetasi growthform semak, growthform rumput,
growthform herba, growthform seedling yang ada di tempat terbuka (tanpa naungan)
dan di bawah naungan pohon yang bertempat di area kosong belakang kampus 2
universitas atmajaya yogyakarta. Secara garis besar, kondisi tempat yang dibawah
naungan dipenuhi semak-semak, rumput, serta pohon, baik lalu terdapat juga banyak
nyamuk, dan hewan-hewan kecil yang hidup di tanah maupun ditumbuhan. Udara di
lokasi bawah naungan tergolong sangat lembab namun teduh. Pada daerah tanpa
naungan merupakan daerah lapangan terbuka yang tidak terdapat pohon besar, udara
nya cukup panas dan matahari bersinar terik. Analisis vegetasi yang dilakukan dalam
praktikum ini akan diperoleh daftar jenis tumbuhan dan akan didapatkan informasi
tentang dominansi dan sebaran suatu jenis tumbuhan.
Spesies yang ditemukan pada lokasi tanpa naungan adalah Zoysia japonica,
Digitaria sanguinalis, Ocimum sp., Sida sp., Ageratum conyzoides, Mimosa pudica,
Pimpinella pivatsen, Erichloa sp., dan Hedyotis diffusa. Sedangkan pada lokasi
dibawah naungan kami mendapati spesies Panicum bulbasum, Maschosma
plytochium, Commelium benghalensis,Mimosa pudica, Digitaria sanguinalis,
Paspalum dilatatum, Kylinga monocephala, Cyperus rotundus, Ageratum conyzoides,
Erichba sp., Sida sp., Zoysia japonica, Cleoma ruhdosperma, dan Maschosma
plystochium. Berdasarkan dari banyaknya data spesimen yang diperoleh dapat
diketahui bahwa tumbuhan yang berada di tempat bernaungan spesiesnya jauh lebih
banyak dibandingkan dengan spesies tumbuhan di tempat yang tanpa naungan.
Seharusnnya di tempat tanpa naungan (non kanopi) spesies nya lebih beragam dan
jumlah nya lebih banyak, karena pada tempat dibawah naungan sulit mendapat

kecukupan sinar matahari sehingga hanya tanaman yang menyukai tempat teduh yang
bisa tumbuh dengan baik dan juga adanya persaingan perebutan hara dengan pohon
besar.
Growthform di lokasi naungan ditemukan sebanyak 195 spesies. Growthform
ini memiliki total nilai densitas relatif sebesar 100% dan frekuensi relatif sebesar
100%. Growthform di lokasi tanpa naungan ditemukan sebanyak 338 spesies.
Growthform ini memiliki total nilai densitas relatif sebesar 100% dan frekuensi
relative sebesar 100%.
Pada daerah di bawah naungan, growthform yang mendominasi adalah rumput
karena jumlahnya paling banyak. Hal ini dapat disebabkan karena rumput cepat sekali
tumbuh, berkembang biak dan mempunyai tingkat toleransi lingkungan yang tinggi
serta jika jumlahnya banyak maka akan menjadi gulma bagi tumbuhan lain karena
terjadi perebutan unsur hara. Sedangkan spesies yang mendominasi juga merupakan
growthform rumput yaitu Panicium bulbasum yang merupakan rumput terbanyak
dengan jumlah cacah individu 25 yang ditemukan pada lokasi naungan.
Lain halnya dengan daerah tanpa naungan, justru tanaman herba yang
mendominasi. Hal ini mungkin disebabkan karenakan tanaman ini mampu
menyimpan cadangan air nya di batang (tanaman batang basah) sehingga mampu
beradaptasi di tempat terbuka yang penguapan nya tinggi tanpa menjadi layu akibat
kering. Spesies yang mendominasi adalah Hedyotis diffusa yang merupakan
tumbuhan herba dengan jumlah cacah individu terbanyak yaitu 10.
Intensitas cahaya sangat mempengaruhi jenis dan keanekaragaman dari
tumbuhan. Pada tempat yang memiliki intensitas cahaya sedikit, maka hanya terdapat
sedikit keanekaragaman tumbuhan, karena kebanyakan tumbuhan memerlukan
cahaya untuk mempertahankan hidupnya. Selain itu pada tempat yang jumlah
intensitas cahayanya sedikit, biasanya terdapat persaingan untuk dapat bertahan hidup
sehingga jumlah tumbuhan menjadi sedikit.

V.

KESIMPULAN

Berdasarkan dari hasil percobaan kemelimpahan suatu jenis satwa, dapat


ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Komunitas spesies ada 2 jenis, yaitu komunitas yang persebarannya ada di
tempat yang bernaungan dan tanpa naungan. Spesies yang hidupnya ada di
tempat yang bernaungan cenderung lebih suka hidup di tempat yang lembab
dan tidak terlalu tergantung pada cahaya matahari, sedangkan spesies yang
hidupnya ditempat tanpa naungan cenderung beragam dan mempunyai sifat
yang butuh cahaya matarahari dalam jumlah banyak.
2. kemelimpahan spesies-spesies yang ada di lokasi dibawah naungan lebih
besar, dan pada lokasi tanpa naungan lebih sedikit.

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, N.A., Reece, J.B., dan Nitchel, L.G. 2004. Biologi. Edisi Kelima Jilid 3.
Erlangga, Jakarta.
Carlson, T. N., & Ripley, D. A. 1997. On the relation between NDVI, fractional
vegetation cover, and leaf area index. Elsevier. 62(3) : 241-252.
Greig, 1983. Ecological system. Sydney Publishing. Australia.
Krebs, C. J. 1989. Ecological Methodology. Harper and Row Publishing. New York.
Marsono, 1977. Analisis Ekologi. UI press. Jakarta
Michael, P., 1995. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium.
Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Myers, W. L. dan Shelton, L. R. 1980. Survey methods for Geosystem Management.
Jhon wiley and Sors Inc. New York
Odum, E. P. 1993. Dasar dasar Ekologi. Edisi ke-3. UGM Press. Yogyakarta.
Rohman, F. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. JICA, Malang.

Sumardi, S. 2004. Metodologi Penelitian. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.


Syafei, E.S. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. ITB, Bandung.
Widiastuti, L., Tohari., Endang,S. 2004. Pengaruh intensitas cahaya dan kadar
daminosida terhadap iklim mikro dan pertumbuhan tanaman krisan dalam pot.
Jurnal Ilmu Pertanian 11(2): 35-42.