Anda di halaman 1dari 2

KESIMPULAN

Infeksi Varisela merupakan infeksi primer disebabkan oleh virus Varicella-Zoster (VVZ).

Reaktivasi dari periode laten menyebabkan herpes zoster.


Di Indonesia morbiditas varisela masih tinggi. Mayoritas penderita adalah anak-anak
dibawah 10 tahun dengan manifestasi klinis ringan. Pada keadaan tertentu penyakit ini

memerlukan penanganan khusus (penderita dewasa, ibu hamil, bayi, imunokompromais).


Penegakan diagnosa varisela berdasarkan atas anamnesa, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang (Tzank smear, histopatologi, kultur virus, Imunofluoresensi,

Serologis dan PCR)


Varisela harus dibedakan terutama dengan variola (smallpox), penyakit ini lebih berat,

memberi gambaran monomorfik dan penyebarannya dimulai dari bagian akral tubuh.
Komplikasi lebih sering terjadi pada penderita dewasa (pneumonia varisela primer dan

ensefalitis). Komplikasi yang sering terjadi pada anak adalah infeksi bakterial sekunder.
Tujuan penatalaksanaan adalah menurunkan risiko komplikasi, durasi lesi serta jumlah lesi

dan mortalitas.
Pentalaksanaan umum mencakup terapi simtomatik (antipiretik, antipruritus) dan
penatalaksanaan khusus yang terdiri dari terapi agen antiviral (penatalaksanaan utama) dan

vaksinasi (aktif dan pasif).


Pada remaja sehat dan dewasa, asiklovir oral kurang dari 24 jam sejak awal lesi kulit
terbukti paling efektif menurunkan keparahan (memperpendek masa sakit dan mengurangi

lesi kulit) serta menurunkan risiko infeksi sekunder. Asiklovir topikal tidak efektif.
Efektifitas valasiklovir dan famsiklovir lebih baik dibandingkan asiklovir, bioavaibilitas

oral lebih tinggi sehingga frekuensi dosis pemberian lebih jarang daripada asiklovir).
Infeksi VVZ yang resisten terhadap asiklovir disebabkan karena mutasi VVZ pada viral
thymidine kinase gene, dapat terjadi resistensi silang terhadap valasiklovir, famsiklovir,
gansiklovir dan pensiklovir. VVZ yang resisten terhadap asiklovir memberikan respon

terapi baik bila diterapi dengan foskarnet.


Setelah era vaksinasi varisela terjadi penurunan signifikan pada insidensi varisela 90% dan

mortalitas menurun 66%.


Vaksinasi aktif (VARIVAX & Proquad) dapat mencegah varisela hampir 100% kasus.
Vaksininasi aktif dalam 36 jam pasca paparan masih memberikan perlindungan. Antibodi

bertahan selama 15-20 tahun.


Advisory Committee on Immunization Pratice (ACIP) dan American Academy of
Pediatrics merekomendasikan vaksin varisela pada : 1) vaksinasi rutin anak, 1 dosis pada
12-18 bulan; 2) usia lebih dari 12 tahun dan dewasa imunokompeten yang rentan, 2 dosis

dengan interval 4-8 minggu; 3) individu risiko tinggi tertular; 4) pencegahan pasca

paparan dan kontrol wabah; 5) tempat penitipan anak dan sekolah.


Varicella-Zoster Immunoglobulin (VZIG) dapat mencegah atau meringankan varisela.
Dosis 1 vial/10kg (im), maksimum 5 vial, diberikan dalam 96 jam setelah paparan sebagai
profilaksis. Pengobatan VZIG tidak mengurangi frekuensi infeksi, tetapi mengurangi

keparahan dan komplikasi.


Kriteria VZIG sebagai profilaksis varisela: 1) Pasien imunokompromais; 2) Neonatus dari
ibu yang memiliki tanda dan gejala varisela disekitar waktu persalinan (5 hari sebelum
sampai 2 hari sesudah persalinan); 3) Bayi lahir prematur dengan usia gestasi lebih dari
atau sama dengan 28 minggu yang terpapar selama periode neonatal dan bila ibu tidak
terbukti memiliki imunitas terhadap varisela; 4) Bayi lahir prematur dengan usia gestasi
kurang dari 28 minggu atau memiliki berat lahir <1000 gram dan terpapar selama periode
neonatal, tanpa memperhatikan riwayat ibu sebelumnya (penyakit varisela ataupun

vaksinasi); 5) Wanita hamil.(6)


Centers for Disease control and Prevention (CDC) merekomendasikan vaksin herpes
zoster Live attenuated Zoster Vaccine (Zostavax) untuk semua orang dewasa usia 60

tahun atau lebih yang imunokompeten.


Kontraindikasi vaksin varisela: Riwayat hipersensitifitas (anafilaksis) terhadap komponen
vaksin (neomisin dan gelatin), TBC aktif, demam >38,5C, imunodefisiensi, kehamilan,
terapi aspirin/ salisilat jangka panjang, terapi steroid dosis tinggi, dalam rentang waktu 4
minggu terakhir mendapat vaksinasi aktif lainnya, dan sebagai resipien produk

imunoglobulin atau darah 3-9 bln sblm vaksinasi atau dalam 3 bulan setelah vaksinasi.
Vaksin varisela seperti obat, dapat menyebabkan reaksi alergi parah dan mengancam jiwa

terhadap dosis vaksin dan kandungan vaksin varisela sebelumnya (gelatin atau neomisin).
Efek samping vaksinasi yang umum adalah demam dan erupsi kulit dapat terjadi, baik di

tempat suntikan atau diseluruh bagian tubuh, terjadi pada 3-5% kasus.
Dengan perawatan yang teliti dan memperhatikan hygiene memberi prognosis yang baik
dan jaringan parut yang timbul sangat sedikit.