Anda di halaman 1dari 32

WALK THROUGH SURVEY DI PERUSAHAAN

PT. MARTINA BERTO TBK


28 APRIL 2016
KESELAMATAN KERJA

Hani Aqmarina, S.Ked


Seruni Mentari Putri, S.Ked
Angga Haditya, S.Ked
Ahmad Fatahillah, S.Ked
Muhammad Zaky, S.Ked
Diana Nur Julyani, S.Ked
Muhammad Wahyu S, S.Ked
Meutia Mafirah Rindra, S.Ked

PELATIHAN HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA


KEMENTRIAN KETENAGAKERJAAN INDONESIA
PERIODE 25 APRIL 2 MEI 2016
JAKARTA

BAB I
PENDAHULUAN
I.

Latar Belakang
Selalu

ada

resiko

kegagalan

(risk

of

failures)

pada

setiap

aktifitas pekerjaan. Saat kecelakaan kerja (work accident) terjadi, seberapapun


kecilnya, akan mengakibatkan efek kerugian (loss). Oleh sebab itu sebisa
mungkin dan sedini mungkin, potensi kecelakaan kerja harus dicegah atau
setidak-tidaknya dikurangi dampaknya. Kecelakaan di tempat kerja merupakan
penyebab utama penderita perorangan dan penurunan produktivitas. Menurut
ILO (2003), setiap hari rata-rata 6000 orang meninggal akibat sakit dan
kecelakaan kerja atau 2,2 juta orang pertahun meninggal akibat sakit atau
kecelakaan kerja.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya
untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran
lingkungan, sehingga dapat melindungi dan bebas dari kecelakaan kerja pada
akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Perlindungan
tersebut merupakan hak asasi yang wajib dipenuhi oleh perusahaan. K3
bertujuan mencegah, mengurangi, bahkan menihilkan risiko kecelakaan kerja
(zero accident).
Ruang

lingkup

dari

keselamatan

dan

kesehatan

kerja

meliputi

pencegahan kecelakaan, pencegahan kebakaran, pencegahan peledakan,


pemasangan jalur evakuasi, pelaksanaan P3K, manajemen APD, pemantauan
lingkungan kerja, pencegahan penyakit akibat kerja, pemantauan penerangan
tempat kerja, pemantauan iklim kerja, pemasanan ventilasi, pelaksanaan
sanitasi industri dan pemeriksaan kesehatan, pelaksanaan ergonomi, K3 angkat
angkut, K3 konstruksi, K3 bongkar muat dan penempatan barang, K3 listrik dan
K3 di tempat kerja beresiko tinggi. Semua lingkup tersebut dibagi menjadi 4
sektor, yaitu keselamatan kerja, higien industri, ergonomi, dan kesehatan kerja.
Penerapan konsep ini tidak boleh dianggap sebagai upaya pencegahan
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang menghabiskan banyak biaya
(cost) perusahaan, melainkan harus dianggap sebagai bentuk investasi jangka
panjang yang memberi keuntungan yang berlimpah pada masa yang akan
datang. Berbagai macam permasalahan di bidang K3 masih banyak ditemukan
terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Masalah yang masih
1

ditemukan antara lain kurangnya perhatian dari semua pihak akan pentingnya
keselamatan kerja, masih tingginya angka kecelakaan kerja dan rendahnya
komitmen dari pemilik dan pengelola usaha. Hal ini juga berpengaruh terhadap
kemampuan perusahaan untuk dapat bersaing secara global.
II. Dasar Hukum
1. UU No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja.
2. UU RI No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.
3. UU Uap tahun 1930.
4. Peraturan Uap tahun 1930.
5. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. Per 01/MEN/1980
tentang keselamatan dan kesehatan tenaga kerja pada konstruksi bangunan.
6. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. Per 04/MEN/1980
tentang syarat-syarat pemasangan dan pemeliharaan alat pemadam api
ringan.
7. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. Per 01/MEN/1982
tentang bejana tekanan.
8. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per 04/MEN/1985 tentang pesawat
tenaga dan produksi.
9. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per 05/MEN/1985 tentang pesawat
angkat-angkut.
10. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per 02/MEN/1989 tentang
pengawasan instalasi penyalur petir.
11. Keputusan menteri tenaga kerja RI No. Kep 186/MEN/1999 tentang
penanggulangan kebakaran di tempat kerja.
12. Keputusan menteri tenaga kerja RI No. Kep 187/MEN/1999 tentang
pengendalian bahan kimia berbahaya.
13. Keputusan menteri tenaga kerja RI No. Kep 75/MEN/2002 tentang
pemberlakuan SNI No SNI 04-0225-2000 mengenai persyaratan umum
instalasi listrik 2000 (PUIL 2000) di tempat kerja.
14. Surat keputusan direktur jenderal pembinaan

dan

pengawasan

ketenagakerjaan nomor 113 ahun 2006 tentang pedoman dan pembinaan


teknis petugas K3 ruang terbatas
15. Surat keputusan direktur jenderal

pembinaan

dan

pengawasan

ketenagakerjaan nomor 45/DJPPK/IX/2008 tentang pedoman keselamatan


dan kesehatan kerja bekerja pada ketinggian dengan menggunakan akses
tali (rope access).
III. Profil Perusahaan
a. Sejarah perusahaan
2

PT. Martina Berto Tbk merupakan perusahaan yang didirikan pada tahun 1977
oleh Dr HC. Martha Tilaar, (alm) Pranata Bernard, dan Theresa Bu Harsini Setiady.
Perusahaan ini berlokasi di Jalan Pulokambing II no.1, kawasan Industri
Pulogadung. Perusahaan ini bergerak di bidang barang kosmetik, obat tradisional
(jamu) dan pemasaran serta perdagangan kosmetik, perawatan kecantikan dan
barang-barang obat tradisional. Selain itu, perusahaan memiliki dukungan dari
kegiatan bisnis yang dilakukan oleh anak perusahaannya, PT Cedefindo, yang
merupakan kosmetik manufaktur kontrak atau makloon dengan kering, semi-padat,
cairan, dan aerosol.
Pada tahun 1981 perusahaan ini mendirikan pabrik di kawasan industri
Pulogadung dengan partnership Grup Kalbe. Setelah dua tahun kemudian,
mendirikan pabrik keduanya PT. Sari Ayu Indonesia untuk mendukung distribusin
kosmetik. Dari tahun 1988 - 1995 mereka melakukan konsolidasi dari beberapa
bisnis yang diperoleh oleh Martha Tilaar Group menjadi PT. Martina Berto.

Pada tahun 1999 PT. Martino Berto resmi menjadi perusahaan keluarga

Martha Tilaar.
Tahun 2006 - 2008 meluncurkan produk dalam keindahan dan segmen
perawatan pribadi. Jaringan ekspornya semakin meluas ke pasar Eropa

(Yunani dan Ukraina) dan Asia (Jepang, Hongkong, dan Taiwan).


Tahun 2010, meluncurkan toko ritel baru. Martha Tilaar Shop (MTS), di luar
Indonesia untuk meraih pangsa pasar Internasional.

b. Visi dan misi perusahaan


Visi
Untuk menjadi salah satu perusahaan terkemuka dunia dalam perawatan
kecantikan dan industri spa dengan nuansa alam dan nilai timur, melalui
teknologi modern, penelitian dan pengembangan untuk mengoptimalkan nilai
tambah kepada konsumen dan stakeholder lainnya.
Misi

Untuk mengembangkan, memproduksi, dan memasarkan produk-produk


perawatan kecantikan dan spa dengan nuansa alam & timur dan standar
kualitas internasional untuk memenuhi kebutuhan konsumen di berbagai
segmen pasar dengan portofolio yang sehat mampu mencapai peringkat tiga
besar di setiap segmen di Indonesia.
3

Untuk menyediakan layanan pelanggan yang sangat baik untuk semua


pelanggan dalam proporsi seimbang, termasuk pelanggan konsumen dan

perdagangan;
Untuk menjaga kondisi keuangan yang sehat dan pertumbuhan yang

berkelanjutan;
Untuk merekrut, melatih, dan mempertahankan tenaga kerja yang kompeten

dan produktif sebagai bagian dari aktiva Perusahaan;


Untuk mempertahankan metode yang efisien dan efektif operasi, sistem, dan

teknologi di seluruh organisasi dan unit bisnis;


Untuk menerapkan Good Corporate Governance secara konsisten untuk

kepentingan semua stakeholder;


Untuk memberikan return atas investasi yang adil untuk dia pemegang

saham;
Untuk memperluas pasar internasional pada kosmetik dan produk herbal
dengan fokus jangka menengah pada kawasan Asia Pasifik dan fokus jangka
panjang di pasar global dengan produk yang dipilih dan merek.

c. Jumlah pegawai perusahaan


Jumlah pekerja sebanyak 1200 orang pekerja. Jam kerja pegawai dibagi
menjadi 2 shift utama.
d. Sektor usaha
Perusahaan ini bergerak di bidang barang kosmetik, obat tradisional
(jamu) dan pemasaran serta perdagangan kosmetik, perawatan kecantikan dan
barang-barang obat tradisional.
1. Segment A Plus
Dewi Sri Spa Martha Tilaar, PAC Martha Tilaar, Martha Tilaar Solutions, Jamu
Garden Martha Tilaar
2. Segment A
Biokos Martha Tilaar, Rudi Hadisuwarno Martha Tilaar
3. Segment B
Sariayu Tilaar Martha, Martha Tilaar Caring Colours, Belia Martha Tilaar
4. Segment C
Mirabella, Cempaka,Pesona, Martina. Currently, Pesona and Martina
products have been sold in Malaysia through direct selling.
e. Jam kerja
Factory : Jam Kerja : 07.30 14.30 Shfit I dan Shift II 15.30 22.00
Office : Jam Kerja : 08.00 - 16.30
f. Asuransi
4

Karyawan Tetap Provider Asuransi AVIVA sesuai plafon Karyawan


BPJS Kesehatan : Karyawan Kontrak
Dalam menangani kasus emergensi perusahaan bekerjasama dengan RS
Antam, RS Jayakarta dan RS Persahabatan.
g. Sertifikasi perusahaan
Pada tahun 1996 menjadi pabrik kosmetik pertama di Indonesia yang
mendapatkan sertifikat ISO 9001. Tahun 2000 menjadi satusatunya pendiri UN
Global Compact dari Asia, mendapatkan sertifikat ISO 14001 dan sertifikat GMP:
CPKB (Cara Produksi Kosmetika yang Baik) dan CPOTB (Cara Produksi Obat
Tradisional yang Baik).
h. Kelembagaan P2K3
1. P2K3 di PT. Martina Berto Tbk:
Implementasi P2K3:
1) No accidents/ tidak ada kecelakaan
2) No harm to people/ tidak ada yang membahayakan orang
3) No damage to the environment/ tidak ada kerusakan lingkungan

Struktur Organisasi:

Total personnel P2K3 ialah sebanyak 56 orang. Total petugas K3 ialah


sebanyak 20 orang.
IV.

Alur Produksi
Rencana produksi bulanan dihitung oleh bagian PPIC. Dari rencana produksi

ini bagian produksi akan menghitung jumlah jam orang yang diperlukan berdasarkan
standar jam orang yang telah ditetapkan oleh bagian IE (Industrial Engineering). Jam
orang adalah jumlah jam produksi dikali dengan jumlah orang yang diperlukan
melaksanakan produksi tersebut. Hal ini berkaitan dengan efisiensi dan produktifitas
perusahaan.
Dalam pelaksanaanya, produksi akan meminta bahan baku ke gudang bahan
baku menggunakan dokumen PWO (Proccess Work Order). Gudang akan
6

menyiapkan kebutuhan sesuai dengan PWO dan hasil penimbangan akan diperiksa
ulang oleh produksi. Jika semua bahan telah siap, produksi akan mengolah bahan
tersebut sesuai dengan LPP (Lembar Petunjuk Proses). Tiap langkah LPP yang
telah

dilaksanakan

kemudian

diparaf

oleh

operator

dan

pengawas

yang

bersangkutan dan setiap penyimpangan, adjusting, atau segala perbaikan yang tidak
tertera di LPP akan dicatat sebagai pedoman pemeriksaan dan penelusuran jika
terjadi kesalahan. Proses pencucian dan sanitasi mesin produksi dilakukan setiap
pergantian batch ataupun pergantian produk dengan prosedur yang telah ditetapkan.
Selama proses hingga dihasilkan produk ruahan, dibagian produksi terdapat
tim dari QC untuk melakukan pengawasan mutu pada tiap akhir proses sebelum
pengemasan. QC akan memeriksa kesesuain spesifikasi produk tersebut dengan
standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Jika telah memenuhi spesifikasi tersebut
dapat diteruskan untuk pengemasan dan jika kurang memenuhi, bagian produksi
akan melakukan adjusting. Segala perbaikan yang dilakukan terhadap produk harus
dicatat LPP dan didokumentasikan. Produk ruahan yang telah dinyatakan lulus oleh
QC kemudian akan dikemas. Permintaan bahan kemas ke gudang menggunakan
dokumen PCO (Packing Order) dan pengemasan dilakukan berdasarkan prosedur
pengemasan dari R&D yang disebut LPK (Lembar Petunjuk Kemas).
Secara umum produksi kosmetik yang dilakukan di PT Martina Berto Tbk. ada
4 macam yaitu produksi liquid, lipstik, make-up base, dan dekoratif. Masing- masing
produksi tersebut memiliki supervisor yang bertanggung jawab secara langsung
pada manager produksi.

Gambar. Alur produksi PT Martina Berto Tbk


V.

Landasan Teori
Keselamatan berasal dari bahasa Inggris yaitu kata safety dan biasanya selalu

dikaitkan dengan keadaan terbebasnya seseorang dari peristiwa celaka (accident)


atau nyaris celaka (near-miss). Jadi pada hakekatnya keselamatan sebagai suatu
pendekatan keilmuan maupun sebagai suatu pendekatan praktis mempelajari faktorfaktor

yang

dapat

menyebabkan

terjadinya

kecelakaan

dan

berupaya

mengembangkan berbagai cara dan pendekatan untuk memperkecil resiko


terjadinya kecelakaan.
Menurut Bennett N.B. Silalahi dan Rumondang (1991:22 dan 139) menyatakan
keselamatan merupakan suatu usaha untuk mencegah setiap perbuatan atau
kondisi tidak selamat yang dapat mengakibatkan kecelakaan sedangkan kesehatan
kerja yaitu terhindarnya dari penyakit yang mungkin akan timbul setelah memulai
pekerjaannya. Sedangkan pendapat Leon C Meggison yang dikutip oleh Prabu
Mangkunegara (2000:161) bahwa istilah keselamatan mencakup kedua istilah yaitu
resiko keseamatan dan resiko kesehatan. Dalam kepegawaian, kedua istilah
tersebut dibedakan, yaitu keselamatan kerja menunjukan kondisi yang aman atau
selamat dari penderitaan, kerusakan atau kerugian ditempat kerja. Resiko
keselamatan

merupakan

aspek-aspek

dari

lingkungan

kerja

yang

dapat

menyebabkan kebakaran, ketakutan aliran listrik, terpotong, luka memar, keseleo,


patah tulang, kerugian alat tubuh, penglihatan, dan pendengaran. Semua itu sering
8

di hubungan dengan perlengkapan perusahaan atau lingkungan fisik dan mencakup


tugas-tugas kerja yang membutuhkan pemeliharaan dan latihan.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa keselamatan adalah suatu usaha
untuk mencegah terjadinya kecelakaan sehingga manusia dapat merasakan kondisi
yang aman atau selamat dari penderitaan, kerusakan atau kerugian terutama untuk
para pekerja konstruksi. Agar kondisi ini tercapai di tempat kerja maka diperlukan
adanya keselamatan kerja. Keselamatan kerja secara filosofi diartikan sebagai suatu
pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah
maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya serta
hasil budaya dan karyanya. Dari segi keilmuan diartikan sebagai suatu pengetahuan
dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan
penyakit akibat kerja.
Keselamatan kerja adalah faktor yang sangat penting agar suatu proyek dapat
berjalan dengan lancar. Dengan situasi yang aman dan selamat, para pekerja akan
bekerja secara maksimal dan semangat.Keselamatan kerja adalah kondisi
keselamatan yang bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan di tempat kerja yang
mencakup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin, peralatan keselamatan, dan
kondisi pekerja. Menurut Sumamur pada tahun 1993 keselamatan kerja adalah
keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan, dan proses
pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara
melakukan pekerjaan. Kemudian pada tahun 2001 Sumamur memperbaharui
pengertian dari keselamatan kerja yaitu rangkaian usaha untuk menciptakan
suasana kerja yang aman dan tentram bagi para karyawan yang bekerja di
perusahaan yang bersangkutan.
Pengertian di atas hampir sama dengan pengertian yang dikemukakan oleh
Mangkunegara (2002), bahwa secara umum keselamatan kerja dapat dikatakan
sebagai ilmu dan penerapannya yang berkaitan dengan mesin, pesawat, alat kerja,
bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungan kerja serta
cara melakukan pekerjaan guna menjamin keselamatan tenaga kerja dan aset
perusahaan agar terhindar dari kecelakaan dan kerugian lainnya. Keselamatan kerja
juga meliputi penyediaan Alat Pelindung Diri (APD), perawatan mesin dan
pengaturan jam kerja yang manusiawi. Slamet (2012) juga mendefinisikan tentang
keselamatan kerja. Keselamatan kerja dapat diartikan sebagai keadaan terhindar
dari bahaya selama melakukan pekerjaan. Dengan kata lain keselamatan kerja
merupakan salah satu faktor yang harus dilakukan selama bekerja, karena tidak
9

yang menginginkan terjadinya kecelakaan di dunia ini. Keselamatan kerja sangat


bergantung .pada jenis, bentuk, dan lingkungan dimana pekerjaan itu dilaksanakan.
Unsur-unsur penunjang keselamatan kerja adalah sebagai berikut:
a) Adanya unsur-unsur keamanan dan kesehatan kerja
b) Adanya kesadaran dalam menjaga keamanan dan kesehatan kerja.
c) Teliti dalam bekerja
d) Melaksanakan prosedur kerja dengan memperhatikan keamanan dan
kesehatan kerja.
Faktor keselamatan kerja menjadi penting karena sangat terkait dengan kinerja
karyawan dan pada gilirannya pada kinerja perusahaan. Semakin tersedianya
fasilitas keselamatan kerja semakin sedikit kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja
seperti pernyataan Jackson (1999) bahwa keselamatan adalah merujuk pada
perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang terhadap cedera yang terkait
dengan pekerjaan.
Dalam melaksanakan K3, terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu:
1. Identifikasi potensi bahaya
Merupakan tahapan yang dapat memberikan informasi secara menyeluruh
dan

mendetail

mengenai

risiko

yang

ditemukan

dengan

menjelaskan

konsekuensi dari yang paling ringan sampai dengan yang paling berat. Pada
tahap ini harus dapat mengidentifikasi hazard yang dapat diramalkan
(foreseeable) yang timbul dari semua kegiatan yang berpotensi membahayakan
kesehatan dan keselamatan terhadap:
1. Karyawan
2. Orang lain yg berada ditempat kerja
3. Tamu dan bahkan masyarakat sekitarnya
Pertimbangan yang perlu diambil dalam identifikasi risiko antara lain :
1. Kerugian harta benda (Property Loss)
2. Kerugian masyarakat
3. Kerugian lingkungan
Identifikasi risiko dapat dilakukan dengan melalui tahapan-tahapan sebagai
berikut:
1) Apa Yang Terjadi Hal ini dilakukan untuk mendapatkan daftar yang
komprehensif tentang kejadian yang mungkin mempengaruhi tiap-tiap
elemen.
10

2) Bagaimana dan mengapa hal itu bisa terjadi Setelah mengidentifikasi daftar
kejadian sangatlah penting untuk mempertimbangkan penyebab-penyebab
yang mungkin ada/terjadi.
3) Alat dan Tehnik Metode yang dapat digunakan untuk identifikasi risiko antara
lain adalah: a. Inspeksi b. Check list c. Hazops (Hazard and Operability
Studies) d. What if e. FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) f. Audits g.
Critical Incident Analysis h. Fault Tree Analysis i. Event Tree Analysis j. Dll
Dalam memilih metode yang digunakan tergantung pada type dan ukuran
risiko.
2. Penilaian Risiko
Terdapat 3 ( tiga) sasaran yang akan dicapai dalam pelaksanaan penilaian risiko
di tempat kerja yaitu untuk :
a. Mengetahui, memahami dan mengukur risiko yang terdapat di tempat
kerja;
b. Menilai dan menganalisa pengendalian yang telah dilakukan di tempat
kerja;
c. Melakukan penilaian finansial dan bahaya terhadap risiko yang ada.
d. Mengendalikan

risiko

dengan

memperhitungkan

semua

tindakan

penanggulangan yang telah diambil;


3. Pengendalian Risiko
Pengendalian dapat dilakukan dengan hirarki pengendalian risiko sebagai berikut:
1) Eliminasi Menghilangkan suatu bahan/tahapan proses berbahaya
2) Substitusi
a. Mengganti bahan bentuk serbuk dengan bentuk pasta
b. Proses menyapu diganti dengan vakum
c. Bahan solvent diganti dengan bahan deterjen
d. Proses pengecatan spray diganti dengan pencelupan
3) Rekayasa Teknik
a. Pemasangan alat pelindung mesin (mechin guarding)
b. Pemasangan general dan local ventilation
c. Pemasangan alat sensor otomatis
4) Pengendalian Administratif
a. Pemisahan lokasi
b. Pergantian shift kerja
11

c. Pembentukan sistem kerja


d. Pelatihan karyawan
5) Alat Pelindung Diri

BAB II
PELAKSANAAN
I.

Tanggal dan Waktu Pengamatan


Kunjungan perusahaan ke PT Martina Berto Tbk ini dilakukan pada
hari Kamis tanggal 28 April 2016 pukul 14.00-16.30.

II.

Lokasi Pengamatan
PT Martina Berto Plant I, Jalan Pulokambing II no.1, kawasan Industri
Pulogadung.

III.

Dokumen Pengamatan
12

BAB III
HASIL PENGAMATAN
A. MESIN, PESAWAT, DAN ALAT KERJA YANG DIGUNAKAN
Mesin mesin

: Conveyor, videojet, Driling,

Kontruksi

: Bangunan sesuai kontruksi Factory

Perseonnel

: K 3 Kontruksi

Maintenance

: Sesuai prosedur pemeliharaan dan Perwatan

Data
Data umum
Nama dan alamat
Perusahaan
Jenis pesawat Angkat dan
Transport
Daerah
pemasangan/penggunaan

Pesawat Angkat / Lift


Barang dan Alat yang
digunakan

Lift Barang / Chain Hoist

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur
Lift barang / traksi

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur
Chain Hoist

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
13

Ijin/pengesahan pemakaian
Jenis pemeriksaan
Pelaksanaan pemeriksaan
dan pengujian
Data teknis
Merk/buatan
No.Serir
Kapasitas angkut
Tahun pembuatan
Kecepatan angkat
Tiggi angkat
Tanggal Pemeriksaan
Data
Data umum
Nama dan alamat
Perusahaan

Jakarta Timur
SI.362/W.26-06/II/K/M/1995
Berkala / Ulang
Setiap 3 bulan sekali

Jakarta Timur
SI.418/W.2606/VIII/K/M/1994
Berkala / Ulang
Setiap 3 bulan sekali

Bonfiglioli / Elektris Italy


ASP.8003962
2.000 kg
1993
11m/dtk
24 Agustus 2015

PT.Karya Meta Taruna


233673007 2 FH
1.000 kg
1993
4m/dtk
6m
24 Agustus 2015

Pesawat Angkat Jenis

Pesawat Angkut / Lift

Traksi / Lift Barang

Barang

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur
Lift barang / traksi

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur
Lift barang / traksi

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur

Ijin/pengesahan pemakaian

SI.361/W.2606/VIII/K/M/1996

SI.421/W.2606/VIII/K/M/1994

Jenis pemeriksaan
Pelaksaan pemeriksaan
dan pengujian
Data teknis
Merk/buatan
No.Seri
Kapasitas angkut
Tahun pembuatan
Kecepatan angkat
Tiggi angkat
Tanggal Pemeriksaan

Berkala / Ulang
Setiap 3 bulan sekali

Berkala / Ulang
Setiap 3 bulan sekali

Bonfiglioli / Elektris Italy

PT.Karya Meta Taruna

ASP.8003961

C.123 No.512374

2.000 kg
1993
11m/dtk
24 Agustus 2015

1.000 kg
1999
12m/dtk
24 Agustus 2015

Jenis pesawat Angkat dan


Transport
Daerah
pemasangan/penggunaan

Data

Pesawat Angkat Jenis

Pesawat Angkut Jenis

Chain Hoist
Data umum
Nama dan alamat
Perusahaan
Jenis pesawat Angkat dan
Transport
Daerah
pemasangan/penggunaan

Forklift

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur

Chain Hoist

Forklift

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
14

Jakarta Timur

Jakarta Timur

Ijin/pengesahan pemakaian

SI.260/W.2606/VIII/K/M/1994

SI.03/DTKT/II/K/PL/2002

Jenis pemeriksaan
Pelaksaan pemeriksaan
dan pengujian
Data teknis
Merk/buatan
No.Serir
Kapasitas angkut
Tahun pembuatan
Kecepatan angkat
Tiggi angkat
Tanggal Pemeriksaan

Berkala / Ulang
Setiap 3 bulan sekali

Berkala / Ulang
Setiap 3 bulan sekali

Hitachi, Jepang
A.233673007

TCM Jepang
N-27 F6 2986

2.000 kg
1999
4m/dtk
6m
24 Agustus 2015

2.500 kg
1996
24 Agustus 2015

Data

Pesawat Angkat Jenis

Ketel UAP

Forklift
Data umum
Nama dan alamat
Perusahaan

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur

Jenis pesawat Angkat dan


Transport
Daerah
pemasangan/penggunaan

Forklift

Ketel Uap

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur

PT Martina Berto
Jl. Pulo kambing II/I KIP
Jakarta Timur

Ijin/pengesahan pemakaian

SI.417/W.2606/VIII/K/M/1994

4598/2012

Jenis pemeriksaan
Pelaksaan pemeriksaan
dan pengujian
Data teknis
Merk/buatan
No.Serir
Kapasitas angkut
Tahun pembuatan
Kecepatan angkat
Tiggi angkat
Luas pemanasan
Tekanan kerja
Tanggal Pemeriksaan

Berkala / Ulang
Setiap 3 bulan sekali

Berkala / Ulang
Setiap 3 bulan sekali

TCM Jepang
N-24L.47558

Miura Co, Ltd Jepang


IDK 6000-4403

2.500 kg
1985
6m
24 Agustus 2015

2.500 kg
2011
7,6 m2
10kg/cm2
24 Agustus 2015

Pengadaan mesin telah sesuai dengan standar perusahaan.


B. BAHAN DAN PROSES KERJA TERKAIT K3
Bahan baku terkait K3 terdapat terdapat 1000 jenis bahan baku yg telah
tersertifikasi oleh dinas kesehatan. Namun rincian bahan baku tersebut tidak
dapat diuraikan oleh pihak perusahaan dikarenakan membutuhkan waktu satu
minggu untuk mendapatkan data-data tersebut.
15

Proses kerja

Dari hasil pengamatan sudah sesuai dengan yang dijelaskan dari system kerja
perusahaan tersebut.
C. LANDASAN KERJA, SOP KERJA
Perusahaan dalam mencapai komitmen dan tekat dimaksud, Manajemen
terus menerus meningkatkan kinerja Perusahaan dengan menerapkan sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) berbasis SMK3 sesuai
dengan Kepmenaker 05 tahun 1996 dan Peraturan Pemerintah No 50 Tahun 2012
serta OHSAS 18001 secara konsisten dan berkesinambungan
Komitmen Perusahaan
Menjamin keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) seluruh
Landasan
karyawan termasuk orang lain
kerja, SOP
(Kontraktor, Supplier,
kerja
Pengunjung dan Tamu) di
tempat kerja.
Menjamin pengendalian
dampak lingkungan
operasional.
Memenuhi semua
perundangan dan peraturan

Komitmen Pusat K3
Menyusun dan memelihara
Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (SMK3) berkelanjutan.
Membentuk Organisasi / Unit
K3 dalam lingkungan
Manajemen Perusahaan.
Mengidentifikasi dan
mengendalikan semua sumber
bahaya dan aspek lingkungan
operasi Perusahaan.
16

yang berlaku yang berkaitan


dengan K3.
Melakukan perbaikan
berkelanjutan guna
meningkatkan K3 Perusahaan.

Memberikan pelatihanpelatihan K3 bagi karyawan


untuk meningkatkan Budaya
K3 Perusahaan.
Mengajak seluruh Karyawan
untuk berperan serta
meningkatkan K3 Perusahaan.
Kebijakan K3 ini akan ditinjau
ulang minimal 1 tahun sekali
mengikuti tinjauan SMK3.

D. INSTALASI LISTRIK
Data Teknis :
1. Jenis/Type

: Electrostatic

2. Luas bangunan

: 15.000 M2

3. Tinggi bangunan

: 16 m

4. Luas Penampang Hantaran

: Coaxcial Cable 50 mm2

5. Tinggi Penerima

: kurang lebih 7 m

6. Jumlah penerima

: 1 buah

7. Jumlah Hantaran Penyalur

: 1 buah

8. Sambungan Ukur/Joint Test

: 1 buah

9. Jumlah Elektroda Tanah

: 1 buah

10. Tahanan sebaran tanah

: < 5 ohm

11. Pelaksana pemasang

:-

12. Pelaksanaan Pemeriksaan dan Pengujian : 24 Agustus 2015


Pada saat kunjungan terlihat semua mesin dapat menyala dan mempunyai
penerangan yang baik. Tidak terdapat permasalahan dalam hal listrik. Walaupun
begitu, PT. Martina Berto tetap menyediakan Generator Set (Genset)/motor diesel
17

yang berjumlah dua buah berkapasitas 500 kva. Sehingga dalam segi listrik, PT.
Martina Berto tidak ada permasalahan.
Selain itu, PT. Martina Berto mempunyai prasarana lift pengangkut barang
berjumlah 8 buah yang mampu mengangkut lebih dari 8000 kg barang. Data
tersebut diambil dari sumber informasi terpercaya disana, karena kami tidak sempat
untuk melihat lift tersebut. Selama ini, lift tersebut tidak ada masalah dan dirawat
secara berkala.
Dalam rangka mengantisipasi terjadinya sambaran petir pada musim hujan,
PT. Martina Berto sudah membuat instalasi penyalur petir, sehingga tidak ada
kejadian tersambar petir di PT tersebut. Kami tidak sempat melihat instalasi penyalur
petir tersebut, tetapi kami mendapatkan informasi terpercaya dari perwakilan PT.
Martina Berto tersebut.
Dari peninjauan kami ke PT. Martina Berto, kami dapat menyimpulkan bahwa
tidak terdapat permasalahan mengenai Instalasi listrik, instalasi penyalur petir dan lift
barang pada perusahaan tersebut.

E. SARANA PENANGGULANGAN KEBAKARAN


PENGAMATAN

STANDAR

Pekerja hamper seluruhnya telah mengetahui letak dari alat Memiliki tim
pemadam api ringan (APAR) dan Hydrant oleh karena telah penanggulangan
diletakkan pada posisi yang mudah dilihat dan dicapai juga kebakaran yang
berwarna merah dan kuning.

terlatih

(APAR) alat pemadam api ringan telah ditempatkan pada

Memiliki system

posisi yang mudah dilihat serta dijangkau menggantung pada

proteksi kebakaran.

tembok dan diatas lantai, hampir terdapat pada seluruh

Dan terdapat APAR

koridor. Tabung alat berwarna merah, bentuk dari tabung

yang pemasanganya

tersebut tidak berlubang atau pun cacat. Namun adapun

sesuai dengan

yang belum sesuai dengan Permenakertrans No. Per-

Permenakertrans no.

04/MEN/1980 , salah satunya adalah tidak terdapat adanya

Per-04/MEN/1980

lemari atau peti untuk penyimpanan tabung tersebut.


18

Tanggal

pemeriksaan

berkala

pada

APAR

tercatat Melaksanakan

dilaksanakan dalam tahun 2016 ini sudah 1 kali (10/01/2016)

pemeriksaan dan
pengujian komponen
yang berkaitan
dengan
penaggulangan
kebakaran minimal 6
bulan1 kali.

19

F. KONSTRUKSI TEMPAT KERJA


Konstruksi
tempat kerja

PENGAMATAN

STANDART

Akses keluar
masuk

Akses keluar-masuk ruangan terdiri Akses keluar masuk


dari satu lobi utama dan satu pintu ruangan aman
keluar.

Kebersihan dan
kerapian tata
ruang

Kebersihan dan kerapian tata ruang


sangat bersih dan rapi pada lantai 2
namun pada lantai 1 terdapat banyak
jirigen yang berisi bahan kosmetik jadi
yang diletakkan menghalangi jalan.

Kebersihan dan kerapian


tata ruang tidak berantakan
dan merintangi akses jalan

Jaminan
keselamatan
peralatan,
bahan dan
benda benda
di dalam
ruangan

Tidak didapatkan informasi akan


adanya
jaminan
keselamatan
peralatan, bahan, dan benda-benda
dalam ruangan.

Terdapat jaminan
keselamatan peralatan,
bahan, dan benda benda
dalam ruangan

Tanda
peringatan

Tampak tanda-tanda peringatan pada


Sudah Sesuai
tempat-tempat tertentu yang merupakan
tempat dengan resiko tinggi

G. ALAT PELINDUNG DIRI


APD
Topi/ Penutup APD berupa topi dan
Kepala
berbahan kain ini
bemanfaat untuk
(di
mengemas rambut secara
Laboratorium, keseluruhan agar tidak
Quality
terjadi kontaminasi
Control, ruang terhadap bahan produksi,
produksi)
selain itu terhadap
pekerja topi ini berfungsi
sebagai pelindung dari

PENGAMATAN

STANDARD

Seluruh pekerja telah


menggunakan topi
sesuai tempat
kerjanya.

Sudah seharusnya
semua pekerja
menggunakan alat
pelindung diri ini
sehubungan
dengan tempat
kerjanya.

20

potensi bahaya seperti


panas, api, mesin,
sehingga kejadian tidak
sengaja seperti rambut
yang tersangkut dimesin
dan menyebabkan
kecelakaan kerja dapat
dihindari.
Helm
( di tempat
penyimpanan
bahan kimia
yang sudah
jadi)

Jas
Laboratorium
(Quality
Control,
Prosessing
Area)

Pelindung kepala dengan


bahan keras ini berfungsi
melindungi kepala para
pekerja dari benturan,
baik itu berupa kejatuhan
benda maupun kepala
yang tidak sengaja
terantuk ke benda dengan
bahan keras.

Terlihat rata-rata
pekerja di beberapa
tempat yang
seharusnya
menggunakan helm,
seperti di bagian
limbah dan dibagian
penyimpanan bahan
kimia sudah
menggunakan APD
berupa helm ini.

Penggunaan APD
berupa helm ini
sudah seharusnya
digunakan oleh
pekerja - pekerja
dengan potensi
bahaya yang
sesuai seperti
penyimpanan
bahan kimia.

Alat pelindung diri berupa


baju panjang berwarna
putih ini berfungsi
melindungi tubuh pekerja
dari potensi bahaya
seperti panas, percikan
bahan kimia dan cairan
berbahaya, selain itu
dapat juga melindungi
dari goresan-goresan
benda tajam. Selain
bahannya yang panjang
dengan lengan panjang,
sehingga bias melindungi
lengan, jas lab ini juga
dilengkapi oleh kancing
baju dibagian depannya
sehingga diharapkan jas
ini dapat juga melindungi
tubuh bagian depan dari
potensi bahaya tersebut.

Tampak sebagian
besar pekerja yang
ada sudah
menggunakan jas
laboratorium ini.

Untuk standar
penggunaan jas
ini, sudah
seharusnya
dikenakan pekerja
dengan cara yang
benar, yaitu
mengancingkan
jas nya, hal ini
selain berguna
untuk melindungi
tubuhnya secara
keseluruhan, juga
dapat mencegah
kecelakaan kerja
seperti jas yang
tersangkut di
mesin.

21

Masker
(Quality
Control,
laboratorium,
Prosessing
Area)

Sarung
Tangan
(Quality
Control,
laboratorium,
Prosessing
Area)

APD berbahan kain ini


dilengkapi dengan tali
untuk menempelkan
masker dengan benar di
mulut dan hidung. APD ini
berfungsi untuk
melindungi saluran nafas
pekerja dari terhirupnya
partikel-partikel kecil yang
membahayakan bagi
pekerja dan dapat
menyaring atau
melindungi pekerja dari
cemaran bahan kimia.

Tidak semua pekerja


menggunakan
masker, sebagian
sudah menggunakan
masker.

Seharusnya di
sosialisasikan
kepada para
pekerja agar
semuanya
menggunakan
masker dan
diberitahukan
penggunaan
masker yang
benar, yaitu
masker yang
dipakai menutupi
mulut dan hidung
tidak hanya
menutupi salah
satunya.

APD berupa sarung


tangan ini tampak
berwarna putih dengan
bahan yang bermacammacam, dapat dari kain,
karet, asbes, dll. APD
sarung tangan berfungsi
melindungi tangan dari
potensi bahaya seperti
suhu panas, dingin,
terpercik bahan kimia,
goresan benda keras, dll.
Dengan panjang yang
juga bermacam-macam,
dapat hanya sebatas
pergelangan tangan
namun ada juga yang
panjang hingga ke siku.

Semua pekerja telah


menggunakan
sarung tangan,
namun bahan yang
digunakan tampak
kurang sesuai
ditempat tertentu,
seperti pada pekerja
dengan pajanan api,
hanya menggunakan
sarung tangan dari
bahan karet biasa.

Seharusnya
penggunakan APD
sarung tangan ini
digunakan oleh
semua pekerja
yang memiliki
bahan kontak
dengan bahan
kimia, suhu (panas
maupun dingin),
ataupun kontak
dengan mesin.
Dan penggunaan
sarung tangan ini
harus sesuai
dengan standar
pekerjaan masingmasing, tidak
disamaratakan
semuanya, seperti
semua
menggunakan
sarung tangan
pendek sebatas
pergelangan
tangan dengan
bahan karet,
padahal pajanan
yang dihadapi oleh
masing-masing
pekerja tidaklah
22

sama.

Sepatu
(Quality
Control,
laboratorium,
Prosessing
Area)

Alat pelindung diri berupa


sepatu digunakan untuk
melindungi kaki dari
bahan kimia, potensi
bahaya seperti panas,
benturan, benda tajam
yang ada dilantai dan lain
sebagainya. Selain itu
sepatu ini dibuat dengan
alas berbahan karet
sehingga dapat
melindungi dari potensi
bahaya listrik.

Dari pengamatan
semua pekerja
menggunakan APD
berupa sepatu ini.

Untuk standar
penggunaan,
sudah seharusnya
semua pekerja
menggunakan alat
pelindung diri
(kaki) ini.

H. TANGGAP DARURAT DAN EVAKUASI

Gambar. Peta jalur evakuasi

23

Gambar : Petunjuk arah evakuasi

Gambar : Fire alarm


Tanggap
Darurat &
Evakuasi
Fire Alarm

Gambar :DAMKAR

PENGAMATAN

STANDART

Terdapat di semua ruangan, dan juga terdapat Terdapat di semua


di luar ruangan, di setiap lorong
ruangan, dan juga
terdapat di luar
ruangan, di setiap
lorong
24

Emergency
Lamp

Terdapat di semua ruangan

Terdapat Emergency
Lamp di semua
ruangan

Jalur Evakuasi

Tangga darurat dan tangga umum, pintu pintu Tangga darurat dan
jalur evakuasi mudah terlihat dan semuanya tangga umum, Pintu
tidak ada yang ditemui dalam keadaan terkunci. pintu jalur evakuasi
mudah terlihat dan
Jalur cukup terawat dengan baik, terbuka, tidak semuanya tidak ada
terdapat benda yang membahayakan disekitar yang ditemui dalam
area evakuasi, cukup lebar, dan untuk menuju keadaan terkunci.
titik area evakuasi dapat menggunakan jalur
yang sudah ditandai dengan garis- garis kuning. Jalur cukup terawat
dengan baik, terbuka,
tidak terdapat benda
yang membahayakan
disekitar area
evakuasi, cukup
lebar, dan untuk
menuju titik area
evakuasi dapat
menggunakan jalur
yang sudah ditandai
dengan garis- garis
kuning.

Rambu
Rambu Jalur
Evakuasi

Rambu rambu yang menunjukan lokasi jalur Rambu rambu yang


evakuasi cukup jelas, berwarna hijau dengan menunjukan lokasi
kondisi yang cukup baik.
jalur evakuasi cukup
jelas, berwarna hijau
Hanya saja rambu rambu ini kurang besar, dengan kondisi yang
letaknya terlalu tinggi sehingga dapat tertutup cukup baik.
asap saat terjadi kebakaran.
Peta jalur evakuasi
Peta jalur evakuasi juga jelas terdapat di setiap juga jelas terdapat di
ruangan.
setiap ruangan.
Tempat berkumpul Titik Point terdapat 3 tempat Tempat berkumpul
didekat parkiran.
Titik Point berada
pada lahan yang
kosong.

APAR ( Alat
Pemadam Api
Ringan)

Terdapat di setiap lorong, dalam keadaan baik,


mudah
terjangkau
dan
terdapat
cara
penggunaan. APAR diganti setiap 1 tahun
sekali, pada awal tahun, dan dilakukan
maintenance setiap 3 bulan, dan telah
dilakukan pengecekan pertama pada bulan
Maret 2016.

Terdapat di setiap
lorong, dalam
keadaan baik,mudah
dijangkau, terdapat
cara penggunaan,
maintenancenya
dilaksanakan sesuai
aturan, setidaknya
pengecekan
25

dilakukan setiap 6
bulan.

Setiap bagian / divisi di PT. Martina Berto memiliki tim yang bertanggung jawab
dalam keadaan darurat. Tim ini dilengkapi dengan HT, peralatan P3K, absensi
pekerja, dan bertugas untuk menyisir bagian / divisi masing masing untuk keluar
dari gedung serta mengevakuasi dokumen dokumen penting saat terjadi keadaan
darurat dan memastikan tidak adanya pekerja yang tertinggal. Tim ini juga yang
bertugas untuk segera melakukan absen di titik area evakuasi yang terdapat di luar
gedung. Seluruh Tim tanggap darurat rutin diberi pelatihan K3 dan pelatihan
keadaan darurat dua kali dalam setahun, sedangkan pekerja lainnya, dilakukan
pelatihan keadaan darurat secara bergiliran dua kali dalam setahun.

I. KEJADIAN KECELAKAAN KERJA

Angka kejadian
kecelakaan kerja
(saat ditanyakan ke
pihak PT. Martina
Berto)

PENGAMATAN

STANDART

Menurut PT. Martina


Berto Tbk angka kejadian
kecelakaan kerja sangat
rendah, mulai bulan
Januari 2016 tercatat
terdapat 1 kecelakaan
kerja. Menurut mereka,
pegawai perusahaan taat
terhadap peraturan yang
berkaitan dengan
keselamatan kerja
sebagai salah satu
contohnya yaitu
penggunaan alat
pelindung diri.

Seharusnya pihak
pimpinan PT Martina
Berto melakukan
tahapan-tahapan untuk
mencegah terjadinya
kecelakaan kerja, yaitu
melakukan promosi
kesehatan, tidak lupa
dengan dilakukan juga
evaluasi untuk melihat
apakah promosi
kesehatan sudah
berhasil. Dan apabila
memang sedang
dilakukan audit yang
sebenarnya sebaiknya di
utarakan angka
kejadiannya.

Kami tidak mendapat


data yang
menggambarkan tingkat
angka kejadian
kecelakaan di
perusahaan tersebut.
Angka kejadian
kecelakaan kerja

Sudah dipasang spanduk


dan poster tentang
keselamatan kerja dan
peraturan tentang

Pihak pimpinan PT
Martina Berto sebaiknya
melakukan kerja, yaitu
melakukan promosi
26

(setelah dilakukan
kunjungan
perusahaan)

penggunaan alat
pelindung diri.
Dalam penggunaan alat
pelindung diri, masih
terdapat pegawai yang
belum tepat
menggunakannya
maupun tidak
menggunakannya,
sehingga meningkatkan
risiko terjadinya
kecelakaan kerja di
perusahaan tersebut

kesehatan, seperti
misalnya apa itu APD,
dan untuk apa
menggunakannya dan
bagaimana caranya, dan
saat sampai ke tahapan
evaluasi, benar-benar
dievaluasi apakah ada
perubahan perilaku dari
pegawainya untuk
mencegah kecelakaan
kerja, seperti misalnya
penggunaan APD yg baik
dan benar.

J. PERSONIL KESELAMATAN KERJA


Pada perusahaan PT. Martina Berto personil keselamatan kerja dibuat dalam
bentuk kepanitiaan yang disebut dengan P2K3, yaitu Panitia Pembina Keselamatan
dan Kesehatan Kerja yang memiliki Ketua, Wakil Ketua, dan Sekretaris serta teamteam yang terbagi lagi dibawahnya. Panitia ini memiliki spesifikasi seperti berikut ini:

Total anggota P2K3


Petugas P2K3
Pelatihan

: 22 orang
: Sudah dibagi menurut divisi masing-masing
: Tanggap Darurat untuk DAMKAR (Pemadam

Kebakaran), Emergency Respond Kecelakaan Kerja, Simulasi gempa dan

banjir.
Sertifikasi

Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia


Proses Kerjanya
: Standby di masing masing bagian di setiap lantai
Bekerja sesuai kejadian darurat
PJK3
: Sesuai kualifikasinya masing :

: Bendera SMK3 Emas dari Kementrian Tenaga

AK3 Umum

- AK 3 Kimia, DAMKAR

BAB IV
PEMECAHAN MASALAH
No
Unit Kerja
1 Konstruksi
tempat kerja

Permasalahan
Dari segi
keselamatan
konstruksi
semuanya sudah

Dasar hukum
Undang-undang
dasar no 1 tahun
1970, Undangundang no 18 tahun

Saran
Ditambahkan
adanya informasi
keselamatan
peralatan, bahan,
27

baik, namun
masih belum
terdapat adanya
informasi
mengenai
keselamatan
peralatan, bahan,
dan bendabenda dalam
ruangan.
Sarana
- Tidak semua
penanggulangan pekerja dari PT.
kebakaran
Martina Berto
tbk. tersebut
mengetahui cara
penggunaan alatalat
penanggulangan
kebakaran.
Alat pelindung
- Belum
diri
ditemukan
dokumen tertulis
(tertulis dalam
SOP) standar
APD yang
digunakan untuk
masing-masing
pekerjaan
- Belum ada
penjelasan
(briefing)
mengenai APD

Tanggap darurat
dan jalur
evakuasi

1999 tentang jasa


konstruksi.

dan bendabenda dalam


ruangan.

Permenakertrans No
4/MEN/tahun 1980

- Dilakukannya
sosialisasi dari
perusahaan
terhadap para
perkerja tentang
penanggulangan
kebakaran dan
cara penggunaan
APAR.
Peraturan menteri
- Penentuan
tenaga kerja dan
standar APD
transmigrasi RI nomor masing-masing
PER.08/MEN/VII/2010 pekerjaan yang
tentang Alat
sesuai dengan
Pelindung Diri
hazard di
lingkungan kerja
masing-masing
dan ditulis jelas
dalam SOP.
Tersedianya APD
yang sesuai
tersebut dari
perusahaan
untuk seluruh
pekerja.
- Diberikan suatu
briefing singkat
mengenai
pentingnya APD
dan cara
penggunaan
APD yang baik
dan benar
sebelum
memulai
pekerjaan.
- Akan lebih baik Undang-undang no
- Posisi rambujika rambu yang 18 tahun 1999
rambu selain
tersedia tidak
tentang jasa
diletakan di atas
hanya diletakkan konstruksi
pintu atau langit28

Personil
keselamatan
kerja

diatas pintu atau


tempat yang
tinggi karena
kemungkinan
akan tertutup
asap jika terjadi
kebakaran.
- Titik berkumpul
juga cukup
sempit (sekitar
3x3 meter) dan
sekitarnya masih
banyak
kendaraan.

Undang-undang
dasar no 1 tahun
1970
Undang-undang No
28 tahun 2002
tentang bangunan
gedung.

Belum ada data


mengenai latihan
yang diadakan
oleh personil
keselamatan
kerja.

Peraturan
perundangan UU No.
1 tahun 1970 (Pasal
10 ayat 1, 2) yang
mewajibkan
perusahaan untuk
membentuk P2K

langit, dapat juga


diletakkan di
dinding yang
tidak terlalu tinggi
sehingga dapat
terlihat jika terjadi
kebakaran.
- Jika
memungkinkan
titik berkumpul
diperluas agar
bisa menampung
seluruh pekerja
jika terjadi
keadaan darurat,
dan dipastikan
tidak ada
kendaraan yang
ada di titik
kumpul tersebut.
Diadakan lebih
sering evaluasi
yang terkait
dengan masalah
atau program
keselamatan
kerja dan juga
lebih
meningkatkan
upaya promosi
tentang
keselamatan
kerja pada
tenaga-tenaga
kerja di
perusahaan
tersebut.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Secara umum penatalaksanaan sistem K3 di PT. Martina Berto Tbk dari
penilaian keselamatan kerja sudah berjalan cukup baik, namun masih ada beberapa
hal yang masih harus diperbaiki lagi. Antara lain:
1. Belum tersedia SOP yang memadai untuk mencegah kecelakaan kerja dari
masing-masing kegiatan kerja.
29

2. Tidak dilakukan briefing rutin sebelum melakukan kerja yang mengingatkan


tentang pentingnya perhatian dan kehati-hatian setiap pekerja agar terhindar dari
kecelakaan kerja (safety induction).
3. Dari segi keselamatan konstruksi semuanya sudah cukup baik, namun akan lebih
baiknya apabila ditambahkan adanya informasi keselamatan peralatan, bahan,
dan benda-benda dalam ruangan.
4. Tidak semua pekerja dari PT. Martina Berto tbk. tersebut mengetahui cara
penggunaan alat-alat penanggulangan kebakaran.
5. Dari segi APD yang digunakan terutama sarung tangan pada pekerja lipstick,
ketentuan bahan dan penggantian sarung tangan belum jelas, mengingat sarung
tangan dari bahan latex yang tidak kebal api.
B. SARAN
1. Menyediakan SOP yang memadai untuk mencegah kecelakaan kerja dari
masing-masing kegiatan kerja.
2. Melakukan briefing rutin sebelum melakukan kerja yang mengingatkan tentang
pentingnya perhatian dan kehati-hatian setiap pekerja agar terhindar dari
kecelakaan kerja (safety induction).
3. Ditambahkan adanya informasi keselamatan peralatan, bahan, dan benda-benda
dalama ruangan.
4. Jadwal rutin pelatihan penggunaan APAR, pengecekan APAR, dan evakuasi.

BAB VI
PENUTUP
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya
untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran
lingkungan, sehingga dapat melindungi dan bebas dari kecelakaan kerja pada
akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Perlindungan tersebut
merupakan hak asasi yang wajib dipenuhi oleh perusahaan. K3 bertujuan
mencegah, mengurangi, bahkan menihilkan risiko kecelakaan kerja (zero accident).
Sejauh ini, sangat banyak peraturan perundang-undangan yang dibuat untuk
mengatur masalah kesehatan dan keselamatan kerja. Meskipun banyak ketentuan
yang mengatur mengenai kesehatan dan keselamatan kerja, tetapi masih banyak
pula faktor di lapangan yang mempengaruhi kesehatan dan keselamatan kerja yang
disebut sebagai bahaya kerja dan bahaya nyata. Banyak perusahaan yang tidak
30

memenuhi standar keselamatan dan kesehatan kerja sehingga banyak terjadi


kecelakaan kerja.
Untuk mengantisipasi hal ini maka perlu ditingkatkan sistem manajemen
kesehatan dan keselamatan kerja yang melibatkan peran bagi semua pihak. Tidak
hanya bagi para pekerja, tetapi juga pengusaha itu sendiri, masyarakat dan
lingkungan sehingga dapat tercapai peningkatan mutu kehidupan dan produktivitas
nasional.

31