Anda di halaman 1dari 4

Nurul Qamaril Ramadhani / 115020300111039

TEORI POLITIK EKONOMI Dirangkum dari Financial Accounting Theory (Deegan dan Unerman, 2008)

Teori ini merupakan system-oriented theories yang berarti menunjukkan peran

informasi dan memberikan hubungan antara pengungkapan pada organisasi, wilayah,

individu dan kelompok (Gray, Owen, Adams, ). Sehingga dalam teori ini dijelaskan tentang

munculnya laporan pertanggungjawaban sosial. Laporan tersebut, menurut Guthrie dan

Parker (1990), adalah alat untuk mengkonstruksi, menopang dan melegitimasi perjanjian

ekonomi, politik dan ideologi yang berkontribusi pada kepentingan korporasi dengan

menyajikan pandangan yang lebih luas tentang dampak operasi perusahaan dan informasi

yang dipilih untuk diungkapkan. Oleh karena itu, laporan ini pun tidak bisa dikatakan netral

dan tidak bias, namun hanya merupakan mediasi dan akomodasi dari berbagi kepentingan.

Dalam teori ini, dikenal dua pandangan yaitu klasik dan burgeois. Pandangan klasik

dikenalkan oleh Karl Max dan lebih terpusat pada konflik karena adanya ketidakseimbangan

akibat adanya kelas-kelas. Dalam pandangan ini laporan keuangan dan pengungkapan

digunakan untuk menjaga posisi yang menguntungkan bagi pengontrol sumber daya dan

merusak pihak-pihak yang tidak mengontrol sumber daya. Sedangkan pada pandangan

burgeois, yang diusung oleh Gray, Houchy dan Flavers, lebih terpusat pada interaksi

kelompok dalam kemajemukan. Dalam pluralistik ini, menurut Lowe dan Tinker (1977),

terdapat kekuatan yang menyebar karena banyaknya individu yang ingin menonjol dan tidak

ada individu yang secara konsisten dapat mempengaruhi masyarakat. Namun, definisi ini

diungkapkan berbeda oleh Cooper dan Sherer. Mereka berpendapat masyarakat dikendalikan

oleh well-defined elite (kelompok yang ingin menjaga dominasinya)

Teori Legitimasi

Seeperti yang diketahui, perusahaan beroperasi dalam batasan dan norma tertentu di

masyarakat. Batasan ini memunculkan suatu kontrak sosial yang akan selalu berubah

sehingga perusahaan harus selalu bermoral dalam operasinya untuk diakui legitimasinya.

Kontrak sosial ini mengacu pada ekspektasi masyarakat tentang bagaimana perusahaan

beroperasi. Adanya sanksi apabila perusahaan tidak mematuhi, membuat perusahaan

menyusun strategi, menurut Dowling dan Pfeffer (1975) yang disempurnakan oleh Lindbolm

(1994), sebagai berikut :

- Menginformasikan tentang ‘relevansi publik’, perubahan aktual pada kinerja dan aktivitas perusahaan yang dapat menunjukkan dimana kinerja dan aktivitas itu sejalan dengan nilai dan ekspektasi masyarakat

- Berusaha merubah persepsi ‘relevansi publik’ kinerja dan aktivitas agar sesuai dengan nilai dan ekspektasi namun tidak merubah perilaku perusahaan

- Berusaha untuk memanipulasi persepsi dengan mengalihkan perhatian dari masalah yang menjadi perhatian terhadap isu-isu terkait lainnya

- Berusahalah untuk mengubah ekspektasi eksternal terhadap kinerja perusahaan. Teori ini menyatakan bahwa pengungkapan adalah suatu strategi untuk mengatur hubungan perusahaan dan lingkungan operasinya. Namun, dalam hal ini, perusahaan akan menghadapi perubahan yang dinamis. Perusahaan pun merespon perubahan dengan melakukan pengungkapan dengan karakteristik berikut (Deegan dan Gordon, 1996) :

- Peningkatan pengungkapan lingkungan perusahaan sepanjang waktu sejalan positif dengan peningkatan level kelompok lingkungan

- Pengungkapan meliputi pujian terhadap diri sendiri

- Adanya korelasi positif antara sensitivitas lingkungan industri yang dimiliki perusahaan dan tingkat pengungkapan lingkungannya Akuntansi ada untuk implementasi strategi dan melegitimasi keberadaan perusahaan yang ditunjukkan dengan adanya variasi pengungkapan pertanggungjawaban sosial sepanjang waktu karena adanya perubahan kebijakan demi mengurangi pandangan negatif terhadap perusahaan. Perusahaan juga sering mengungkapkan manajemen risiko yang dilaksanakan. Pengungkapan ini ada karena adanya ancaman yang dapat merusak nilai perusahaan sehingga perusahaan harus dapat mengatasi melalui manajemen yang aktif. Tren pengungkapan juga terlihat pada perusahaan yang ‘tertangkap basah’ melakukan perusakan lingkungan. Perusahaan ini cenderung memberi pengungkapan lebih pada pertanggungjawaban terhadap lingkungan. Pengungkapan ini diharapkan mengembalikan legitimasi perusahaan. Ekspektasi masyarakat diketahui oleh manajemen melalui media. Media memberikan penekanan pada berbagai topik yang kemudian membuat topik tersebut terlihat menonjol dan menghasilkan opini publik (media agenda setting theory). Perusahaan pun akan semakin mengungkapkan pada aspek yang ditonjolkan oleh media tersebut. Adanya senioritas manajer, respon kompetitor dan kekuatan prediksi konsumen menghasilkan batasan pada teori ini. Teori ini pun memiliki persamaa dengan teori positif

dimana sama-sama menggantungkan perilaku pada masyrakat. Perbedaannya adalah tidak adanya economic-based assumption dan efisiensi pasar.

Teori Stakeholder Teori ini memandang bahwa setiap kelompok stakeholder memiliki pandangan yang berbeda terhadap organisasi. Perusahaan pun harus mengoordinasikan semua kepentingan stakeholder termasuk jika suatu ketika harus dilakukan pengorbanan terhadap kepentingan investor. Stakeholder yang dimaksud disini adalah kelompok atau individu teridentifikasi yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi dengan pencapaian tujuan organisasi (Freeman dan Reed, 1983, p. 91). Clarkson (1995) membagi stakeholder menjadi dua bagian, yaitu :

- Primer : merupakan stakeholder yang harus dipertimbangkan. Hal ini disebabkan karena tanpa partisipasi stakeholder ini perusahaan tidak bisa going concern

- Sekunder : terpengaruh / mempengaruhi perusahaan namun tidak terlibat transaksi dan tidak esensial dalam survival perusahaan. Namun, pandangan Clarkson ini ditentang karena seharusnya perusahaan mementingkan semua stakeholder. Seharusnya perusahaan memberikan informasi tentang bagaimana perusahan mempengaruhi mereka pada semua stakeholder walaupun stakeholder tidak menggunakan informasi tersebut. Perusahaan pun harus mementingkan akuntabilitas. Akuntabilitas ini tertuang dalam accountability model (Gray, Owen, Adams, 1996) dimana perusahaan bertanggung jawab untuk melakukan tindakan tertentu dan menyediakan informasi entang tindakan tersebut. Dalam model ini terlihat adanya penekana pada aspek tanggung jawab yang berarti mengabaikan aspek kebutuhan stakeholder. Hurst (1970) menambahkan pentingnya akuntabilitas terkait dengan ukuran, kekuatan pasar dan dampak pada masyarakat. Namun, perspektif ini hanya memandang apa yang seharusnya, bukan yang sebenarnya sehingga sangat dibutuhkan pengujian. Teori ini dikatakan sebagai cabang managerial. Pertimbangan kelompok yang berbeda di masyarakat dan bagaimana cara terbaik mengatur mereka supaya perusahaan bisa survive. Sehingga bisa dikatakan, manajemen yang baik adalah manajemen yang dapat memenuhi berbagai macam permintaan dan menghadapi konflik dengan stakeholder (Evan dan Freeman, 1988). Stakeholder disini memiliki tingkatan, dimana semakin tinggi kekuatan stakeholder semakin penting perusahaan untuk sejalan dengan kepentingannya (Roberts, 1992, p.598)

Kekuatan tersebut ada dari penguasaan atas sumber daya yang terbatas, akses pada media yang berpengaruh, kemampuan mempengaruhi konsumsi perusahaan dan kemampuan legislasi atas perusahaan. Karena Semakin tinggi kekuatan semakin besar kemungkinan terjadi konflik (Ullman, 1985; Friedman dan Miles, 2002), muncullah insentif untuk mengungkapkan informasi untuk membuktikan jika perusahaan sejalan dengan stakeholder. Ekspektasi dan kekuatan stakeholder pun akan selalu berubah. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk bisa beradaptasi pada operasinya (Unerman dan Bennet, 2004; Friedman dan Miles 2002) untuk mencegah penolakan dan menjaga posisi serta hubungan baik dengan stakeholder (Gray, dkk, 1996; Roberts 1992)

Teori Institusional Teori ini merupakan teori pelengkap atas kedua teori diatas, teori ini memberikan pemahaman tentang bagaimana oerusahaan mengerti dan merespon perubahan sosial dan tekanan serta ekspektasi pada institusi dengan menghubungkan pada nilai masyarakat untuk menjaga legitimasi perusahaan. Teori ini terbagi menjadi dua, yaitu isomorfik dan decoupling. Isomorfik terpusat

pada bagaimana perusahaan beradptasi pada berbagai tekanan institusional. Teori ini terbagi lagi dalam :

a. Corcive : perusahaan berubah karena tekanan oleh stakeholder yang berpengaruh

b. Mimetic : perusahaan berubah untuk mendapat keuntungan kompetitif yang terjadi karena organisasi gagal mengikuti praktik inovatif pada sektor yang sama sehingga perusahaan kehilangan legitimasi. Mimetic ada karena ada coercive

c. Normatic : tekanan muncul dari norma kelompok, baik formal maupun informal

Sedangkan decoupling theory mengimplikasikan saat manajer mungkin merasa kebutuhan atas organisasi mereka terlihat dengan mengadopsi praktek institusional tertentu dan mungkin proses institusi formal tersebut bertujuan mengimplematasikan praktik ini. Praktek aktual

organisasi pun dapat sangat berbeda karena adanya sanksi formal yang diumumkan pada publik atas praktik dan proses tersebut.