Anda di halaman 1dari 6

Nurul Qamaril Ramadhani / 115020300111039

PELAPORAN SOSIAL DAN LINGKUNGAN


Dirangkum dari Financial Accounting Theory (Deegan dan Unerman, 2008)
Milton Friedman (1962) pernah mengungkapkan bahwa manajemen tidak memiliki
kewajiban moral selain memaksimalkan profit. Ia beranggapan apabila setiap orang ingin
memaksimalkan kekayaan maka perekonomian pasti akan maju. Hal ini pun didukung
dengan banyaknya pihak yang hanya memperhatikan laba tanpa melihat aspek sosial
lingkungan perusahaan. Namun, teori ini tidaklah seperti realitanya. Pada realitanya tetap
terjadi gap dan perekonomian tidak maju.
Isu sosial dan lingkungan pun mulai diperdebatkan. Perlunya laporan tentang sosial
dan lingkungan dari suatu perusahaan diawali dengan diterbitkannya Our Common
Future (1987) oleh General Assembly dari United Nations yang kemudian dikenal
dengan The Brundtland Report. Dalam bahasan ini dikenalkan istilah bahwa perusahaan
haruslah sustainable. Sustainable berarti perkembangan perusahaan haruslah memenuhi
kebutuhan saat ini tanpa mengkompromikan kemampuan generasi di masa depan untuk
memenuhi kebutuhan mereka.

Dengan kata lain, sustainable berarti memperhatikan

keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial dan lingkungan. Perusahaan yang sustainable
berarti perusahaan yang mampu menghasilkan laba dengan mengurangi dampak negatif
pada sosial dan lingkungan.

Keterbatasan akuntansi keuangan tradisional dalam menangkap dan melaporkan


kinerja sosial dan lingkungan
-

Fokusnya adalah pada pihak yang terlibat pada keputusan alokasi sumber daya atau
bisa dikatakan financial interest sehingga tidak ada laporan bagi pihak yang terkena
dampak

Adanya diskonto yang membuat biaya sosial lingkungan diakui sangat kecil atau
bahkan tidak diakui karena tidak bisa diselesaikan dalam beberapa waktu mendatang

Entity assumption mengakibatkan hal-hal yang tidak berdampak langsung, yaitu sosial
dan lingkungan, terhadap entitas akan diabaikan

Perdagangan izin mengeluarkan polutan yang diakui sebagai aset. Pengakuan ini
dipertanyakan karena izin ini hanya rasional menurut perspektif ekonomi dan tidak
rasional menurut perspektif masyarakat

Definisi aset menyebutkan bahwa aset adalah sesuatu yang dikontrol dan beban adalah
outflow, padahal lingkungan dan sosial tidak dikontrol sehingga perusahaan bebas
merusak dan tidak mengakui apapun selama tidak ada denda

Aspek sosial lingkungan tidak dapat terukur

Mengapa harus melaporkan (Why Stage)


-

Terkadang tindakan perusahaan hanya berorientasi ekonomi dan tidak mempedulikan


aspek lingkungan dan sosial. Hal tersebut terbukti dari pola konsumsi saat ini
memberikan dampak negatif pada masa depan. Aktivitas perusahaan saat ini telah
melebihi kapasitas bumi, dan suatu ketika biosfer akan mencapai titik degradasi
tertinggi sehingga tidak bisa menyokong kehidupan manusia lagi. Oleh karena itu
perusahaan haruslah sustainable dengan turut serta mengurangi kemiskinan dan
kelaparan. Kemiskinan dan kelaparan akan menyebabkan manusia memandang
sebagai penyedia uang gratis dan membawa ke kerusakan lebih parah. Perusahaan juga
diharapkan tidak mengkonsumsi secara maksimal (tindakan ekonomi rasional) karena
hal tersebut tidak berdampak rasional pada global dan intergenerasi.

Ekonomi dan semua sistem sosial beroperasi di lingkungan. Kerusakan lingkungan


pun berarti kemusnahan manusia

Anthony Giddens dan Ulrich : Pengungkapan CSR dapat menjadi alat manajemen
risiko yang digunakan sebagai usaha mengatasi prediksi negatif dari aktivis

Bank dan asuransi mengkriteriakan perusahaan untuk bertanggung jawab terhadap


lingkungan dan sosial karena memiliki risiko lebih rendah dan aset yang lebih bersih

Adanya tren yang berkembang bahwa perusahaan melaporkan CSR mereka, karena
perusahaan beranggapan apa yang menguntungkan masyarakat dan lingkungan pasti
menguntungkan pemegang saham

Dengan asumsi EMH, penelitian menunjukkan bahwa :


o Pasar bereaksi terhadap pengungkapan sosial lingkungan (Ingran, 1978; Anderson
dan Frankle, 1980)

o Investor bereaksi positif terhadap pengungkapan perusahaan atas pengelolaan


limbah atau disebut ethical investor (Belkaoki, 1976; Jaggi dan Freedman, 1982)
o Adanya negative return pada perusahaan yang memiliki kontrol polusi lemah
(Shane dan Spicer, 1983)
o Perusahaan yang memiliki level polusi yang sama tinggi namun diungkapkan
akan memiliki reaksi kecil daripada yang tidak diungkapkan (Freedman dan
Pattern)
o Reaksi pasar saat terjadi bencana akan lebih kecil pada perusahaan yang
melakukan penungkapan (Blacconiare dan Pattern, 1994)
-

Sustainable development telah menjadi ekspektasi masyarakat dimana masyarakat


memiliki ekspektasi bahwa perusahaan bertanggung jawab seutuhnya atas operasional
dan produk yang tidak membahayakan lingkungan (70% dari polling tahun 1999 oleh
Environics).

Rintangan yang dihadapi adalah :


o Akuntan harus meluaskan pekerjaan ke pelaporan kinerja sosial lingkungan
o Manusia selalu ingin mendominasi dan mengeksploitasi lingkungan (Dillard,
Brown, Marshall, 2005, p.81)
o Adanya pengorbanan profit jangka pendek untuk memastikan laba yang
sustainable dalam jangka panjang

Siapa yang harus diberi laporan? (Who Stage)


-

Beck (1992, 1999) beranggapan bahwa stakeholder yang dimaksud adalah stakeholder
yang terkena dampak operasional perusahaan.

Menurut perspektif etis, perusahaan perlu memprioritaskan dengan mengidentifikasi


stakeholder yang terkena dampak terbesar (Gray, et al, 1997) dengan maksud untuk
meminimalkan dampak sosial dan lingkungan

Berdasar penelitian, perusahaan menganggap pemegang saham yang harus diberi


laporan karena merupakan pihak yang paling potensial terhadap profit dan
keberlanjutan perusahaan

Berdasarkan perspektif etis, perusahaan berusaha memahami apa saja dampak aktual
dan potensinya untuk memberikan fokus pada CSR sehingga perusahaa harus

melibatkan masyarakat, yang hidupnya terpengaruh, dalam decision making.


Perusahaan harus mengadakan dialog intensif karena :
o Stakeholder banyak dan tidak dapat mengekspresikan karena takut dengan
konsekuensi yang mungkin ia dapat (ODwyer, 2005)
o Adanya stakeholder yang apatis (Adams, 2004, p.76)
o Sulitnya menentukan apakah nerpengaruh ke masa depan.
-

Pada dasarnya, semua menyesuaikan dengan alasan perusahaan melaporkan

Untuk isu sosial dan lingkungan apa perusahaan harus bertanggung jawab dan
akuntabel? (What Stage)
-

sesuai dengan kebutuhan yang merupakan permintaan atau reaksi eksternal atas
informasi tertentu yang diungkapkan

terdapat beberapa persyaratan agar laporan tersebut digunakan sehingga dapat


membentuk persepsi (Deegan dan Rankin, 1997), yaitu :
o

materialitas dari isu lingkungan untuk kelompok tertentu dalam masyarakat yang
menggunakan laporan tahunan untuk mendapat informasi

apakah informasi lingkungan dipandang dari laporan tahunan

seberapa

penting

informasi

lingkungan

pada

proses

decision-making

dibandingkan pada informasi pertanggungjawaban sosial lainnya dan informasi


posisi dan kinerja keuangan perusahaan
-

perusahaan haruslah akuntabel untuk semua stakeholder atas tindakan perusahaan


yang telah (atau mungkin) berdampak pada stakeholder.

Bagaimana bentuk pelaporannya? (How stage)


Triple Bottom Line
Cara ini mengukur keseimbangan antara aspek ekonomi (financial secure), sosial
(sejalan

dengan

ekspektasi

stakeholder

untuk

sustainable)

dan

lingkungan

(meminimalkan/mengeliminasi dampak negatif lingkungan). Dalam praktiknya, cara ini :


-

berhasil membuat manajer menangkap masalah sosial dan lingkungan, namun tetap
tidak bisa melaporkannya dengan angka

kesulitan dalam memahami aspek memaksimalkan alam dan sosial seperti halnya
memaksimalkan laba

adanya anggapan bahwa ketika tidak bisa memperlakukan ketiga aspek tersebut secara
seimbang, maka aspek tersebut tidak terinterkoneksi. Hal ini merupakan pemahaman
konsep yang salah dan berdampak pada manajemen yang berfokus pada laba dan lebih
merusak lingkungan

Global Reporting Initiative (GRI)


Awalnya, metode pelaporan CSR sangatlah beragam karena bergantung dari
persepsi manajemen atas informasi yang dibutuhkan stakeholder (Solomon dan Lewis,
2002). Pada tahun 1987 diterbitkanlah tulisan yang berjudul Our Common Future oleh
General Assembly dari United Nations. Tulisan ini kemudian lebih dikenal dengan The
Brundtland Report. Penerbitan ini diikuti dengan diadakannya Earth Summit

yang

diadakan di Rio de Jenairo dan dihadiri perwakilan pemerintah seluruh negara dan ahli
sosial lingkungan. Di EU, tahun 1992, dirilis Towards Sustainability dengan salah satu
isi pentingnya adalah perintah pada akuntan untuk memperbaiki sistem costing untuk
menekan biaya lingkungan. Kemudian, sebagai tindak lanjut dari Earth Summit, tahun
2000 diterbitkan kumpulan pedoman pelaporan CSR yang kemudian dikenal dengan
Sustainability Reporting Guidelines. Hal ini merupakan jawaban untuk pelaporan yang
lebih terstruktur
GRI merupakan praktik pelaporan terbaik yang diterima umum. Dalam GRI
terdapat 50 indikator inti dan 47 tambahan pedoman yang digunakan tergantung jenis
perusahaan. Namun, perusahaan akan bertindak oportunistik dengan selektif memilh
indikator dan menggunakannya sebagai legitimasi dengan label mematuhi pedoman GRI.
Misi GRI adalah
..... harmonisasi dalam pelaporan internasional yang relevan dan kredibel tentang
informasi lingkungan, sosial dan kinerja korporasi untuk meningkatkan pembuatan
keputusan yang bertanggung jawab. GRI mengejar misi ini melalui proses dialog dan
kolaborasi multi-stakeholder dalam mendesain dan mengimplementasikan pedoman
pelaporan sustainability yang diterima secara luas
Kategori pengungkapan dalam GRI berhubungan dengan
-

dampak signifikan transportasi

energi dan air yang dikonsumsi

terhadap lingkungan

emisi dan pembuangan

isu tentang hubungan pemasok

isu biodiversity

dan lingkungan

kepatuhan hukum

total pengeluaran lingkungan

tipe dan informasi material yang digunakan bersama dengan informasi


tentang pembuangannya

Laporan CSR yang dikeluarkan perusahaan haruslah berisi :


-

visi dan strategi

Profil perusahaan

struktur dan sistem

Index GRI

manajemen

Indikator kinerja

GRI pun diakui sebagai pedoman pelaporan CSR berterima umum. Atribut
komparabilitas adalah sesuatu yang diusung GRI. GRI juga mengusung karakteristik
kualitatif, seperti halnya laporan keuangan, meliputi transparansi, auditabilitas,
relevansi, kelengkapan, konteks sustainability, ketepatan, netralitas, reliabilitas,
kejelasan, ketepatan waktu, dan verifiabilitas. Area lain yang diperhitungkan GRI
adalah assurance proses untuk meningkatkan kredibilitas dan kualitas laporan.
Audit Sosial
Menurut Elkington (1997, p.88) tujuan dari audit sosial adalah menilai
kinerja dalam hubungannya dengan kebutuhan dan ekspektasi. Audit sosial
diharapkan menghasilkan statement of assurance yang merupakan dasar dari laporan
sosial yang diterbitkan untuk publik dan dasar untuk berdialog dengan stakeholder.
Kriteria audit sosial adalah berdasar materialitas, kelengkapan dan kemampuan
reaksi. Namun, tidak semua mampu menyediakan organisasi karena bergantung pada
tipe perusahaannya (Owen dan ODwyer, 2005). Terdapat dua tipe dalam lingkup
audit sosial, yaitu :
-

Audit Sosial
Audit sosial seringkali digunakan oleh MNC dan dilaksanakan bersamaan
dengan audit laporan keuangan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan
legitimasi, aspek sustainable dan transparansi. Hal ini dilakukan dengan cara
mengadopsi pendekatan hati-hati dengan sebagian besar berfokus pada masalah
konsistensi informasi yang muncul dalam laporan organisasi dengan kumpulan
data yang mendasari

Konsultasi sosial dan lingkungan


Dalam lingkup ini penekanan laporan CSR lebih ke aspek kelengkapan, fairness,
keseimbangan menyeluruh dan pengungkapan kelemahan dari pelaporan.