Anda di halaman 1dari 9

EFEK SAMPING OBAT ANTI-PSIKOTIK

1. Ekstra Piramidal Syndrome


Akut
Efek samping muncul setelah pemakaian antipsikotik dalam hitungan hari
sampai minggu
Reaksi Distonia Akut (ADR)
Distonia adalah kontraksi otot yang singkat atau lama, biasanya
menyebabkan gerakan atau postur yang abnormal, termasuk krisis
okulorigik, protrusi lidah, trismus, tortikolis, distonia laring-faring, dan
postur distonik pada anggota gerak dan batang tubuh.
Distonia lebih banyak diakibatkan oleh APG I terutama yang
mempunyai potensi tinggi, dan umumnya terjadi di awal pengobatan
(beberapa jam sampai beberapa hari pengobatan) atau pada
peningkatan dosis secara bermakna.
Gejala distonia berupa gerakan distonik yang disebabkan oleh
kontraksi atau spasme otot, onset yang tiba-tiba dan terus menerus,
hingga terjadi kontraksi otot yang tidak terkontrol. Otot yang paling
sering mengalami spasme adalah otot leher (torticolis dan retrocolis),
otot rahang (trismus, gaping, grimacing), lidah (protrusion, memuntir)
atau spasme pada seluruh otot tubuh (opistotonus). Pada mata terjadi
krisis okulogirik. Distonia glosofaringeal yang menyebabkan disartria,
disfagia, kesulitan bernapas, hingga sianosis. Spasme otot dan postur
yang abnormal, umumnya yang dipengaruhi adalah otot-otot di daerah
kepala dan leher, tetapi terkadang juga daerah batang tubuh dan
ekstremitas bawah. Distonisa laring dapat menyebabkan asfiksia dan
kematian. Sering terjadi pada penderita usia muda (usia belasan atau
dua puluhan) dan kebanyakan pada laki-laki.
- Mata
Krisis okulorigik terjadi apabila kedua bola mata melirik ke salah
satu sisi, biasanya selama beberapa menit, tetapi adakalanya
dapat berlangsung sampai beberapa jam.

Lidah
Protrusion, memuntir (menjulurkan lidah keluar)
Otot Leher
Torticollis dan retrocolis (Tortikolis menggambarkan adanya
posisi abnormal leher. Tortikolis adalah kejang otot leher yang
menyebabkan sakit leher dan kekakuan, kepala miring, dan
banyak lagi.)

Otot Rahang
Trismus (gangguan pembukaan mulut yang disebabkan adanya
konstraksi otot-otot pengunyahan dan bersifat sementara),

gaping (mulut ternganga) dan grimacing (seringai muka).


Seluruh otot tubuh
Opistotonus
Gangguan menelan (disfagia), bicara, atau bernafas (spasme
laring-faring, disfonia)

Penebalan atau bicara cadel karena lidah hipertonik atau

membesar (disartria, makroglosia)


Akatisia (restless leg syndrome)
Akathisia adalah perasaan subyektif akan ketegangan otot-otot yang
mengakibatkan penderita menjadi bergerak-gerak gelisah, biasanya
karena efek samping obat anti-psikotik. Akathisia merupakan gejala
EPS yang paling sering terjadi. Kemungkinan terjadi pada sebagian
besar pasien yang diobati dengan medikasi neuroleptik, terutama pada
populasi pasien lebih muda. Manifestasi klinis berupa perasaan
subjektif kegelisahan (restlessness) yang panjang, dengan gerakan
yang gelisah, umumnya laki-laki yang tidak bisa tenang. Penderita
dengan akathisia berat tidak mampu untuk duduk tenang, perasaannya
menjadi cemas atau iritable. Akathisia sering sulit dinilai dan sering
salah diagnosis dengan anxietas atau agitasia dari pasien psikotik,
yang disebabkan dosis antipsikotik yang kurang. Pasien dapat
mengeluh karena anxietas atau kesukaran tidur yang dapat disalah
tafsirkan sebagai gejala psikotik yang memburuk. Sebaliknya akatisia
dapat menyebabkan eksaserbasi gejala psikotik akibat perasaan tidak
nyaman yang ekstrim. Agitasi, pemacuan yang nyata, atau manifestasi

fisik lain dari akatisia hanya dapat ditemukan pada kasus yang berat.
Parkinonism
Faktor risiko antipsikotik menginduksi parkinsonism adalah
peningkatan usia, dosis obat, riwayat parkinson sebelumnya, dan
kerusakan

ganglia

basalis.

Terdiri

dari

akinesia,

tremor,

dan

bradikinesia. Akinesia meliputi wajah topeng, jedaan dari gerakan


spontan, penurunan ayunan lengan saat berjalan, penurunan kedipan,
dan penurunan mengunyah yang dapat menimbulkan pengeluaran air
liur. Pada suatu

bentuk yang lebih ringan, akinesia hanya terbukti

sebagai suatu status perilaku dengan jeda bicara, penurunan


spontanitas, apati dan kesukaran untuk memulai aktifitas normal,
kesemuanya dapat dikelirukan dengan gejala skizofrenia negatif.
Tremor dapat ditemukan pada saat istirahat dan dapat pula mengenai
rahang. Gaya berjalan dengan langkah kecil dan menyeret kaki
diakibatkan karena kekakuan otot.
Kronik
3

Tardive Dyskinesia
Terjadi setelah menggunakan antipsikotik minimal selama 3
bulan atau setelah pemakaian antipsikotik dihentikan selama 4 minggu
untuk oral dan 8 minggu untuk injeksi depot, maupun setelah
pemakaian dalam jangka waktu yang lama (umumnya setelah 6 bulan
atau lebih). Penderita yang menggunakan APG I dalam jangka waktu
yang lama sekitar 20-30% akan berkembang menjadi tardive
dyskinesia. Seluruh APG I dihubungkan dengan risiko tardive
dyskinesia.
Umumnya berupa gerakan involunter dari mulut, lidah, batang
tubuh, dan ekstremitas yang abnormal dan konsisten. Gerakan oralfacial meliputi mengecap-ngecap bibir (lip smacking), menghisap
(sucking), dan mengerutkan bibir (puckering) atau seperti facial
grimacing. Gerakan lain meliputi gerakan irregular dari limbs, terutama
gerakan lambat seperti koreoatetoid dari jari tangan dan kaki, gerakan

menggeliat dari batang tubuh.


2. Hipotensi Orthostatik
Bila terjadi penurunan tensi saat adanya perubahan posisi. Biasanya
karena pemakaian Antipsikotik Tipikal, chlorpromazine. Disebabkan blokade
reseptor alfa1 adrenergik. Kriteria diagnosa : bila perubahan tensi sistolik 20
mmHg, atau tekanan diastolik 10 mmHg, atau penurunan tekanan darah
sistolik sampai di bawah 90 mmHg.
3. SNM (Sindroma Neuroleptik Maligna)
Merupakan kondisi yang mengancam kehidupan akibat reaksi
idiosinkrasi terhadap obat anti psikosis (Resiko lebih besar pada long action).
Kondisi seperti dehidrasi, kelelahan, dan malnutrisi membuat resiko SNM
menjadi lebih tinggi.

Diagnosis sindrom neuroleptik maligna :

Suhu badan >38C (hiperpireksia).

Sindrom ekstrapiramidal berat (rigiditas).

Gejala disfungsi otonom (inkontinensia urin).

Perubahan status mental.

Perbubahan tingkat kesadaran.


4

Gejala timbul dan berkembang dengan cepat.

4. Efek Samping Kardiovaskular


Thioridazin dengan dosis

harian

300mg

dapat

menyebabkan

abnormalitas gelombang T yang reversibel. Overdosis thioridazin dapat


menyebabkan ventrikular aritmia, blok konduksi listrik jantung, dan kematian
langsung.

Antipsikosis

atipikal

ziprasidon

merupakan

obat

dengan

kemungkinan terbesar menyebabkan pemanjangan QT interval oleh karena


itu jangan dikombinasikan dengan obat lain seperti thioridazin, pimozid, dan
quinidin yang mempunyai efek serupa.
5. Efek Samping Gastrointestinal dan Saluran Kemih
Efek antikolinergik perifer:
- Mulut kering
- Konstipasi
- Occasional diarrhea
- Retensi Urin
Lebih sering terjadi pada penggunaan APG1 potensi rendah.
6. Efek Hematologi
Gangguan hematologis yang membahayakan yang dapat terjadi akibat
pemakaian antipsikotik tipikal seperti chlorpromazine, thioridazine dan pada
hampir semua antipsikotik adalah agranulositosis. Agranulositosis adalah
suatu kumpulan gejala yang ditandai dengan penurunan bermakna jumlah
granulosit yang beredar, neutropeni berat yang menimbulkan lesi-lesi di
tenggorokan, selaput lendir lain, saluran cerna dan kulit. Pada kebanyakan
kasus, gejala ini disebabkan oleh sensitasi terhadap obat-obatan, zat kimia,
radiasi yang mempengaruhi sumsum tulang dan menekan granulopoiesis.
Agranulositosis paling sering terjadi selama tiga bulan pertama terapi dengan
insidensi sekitar 5 dari 10.000 pasien yang diobati dengan antipsikotik. Jika
pasien melaporkan adanya suatu nyeri tenggorokan atau demam, hitung
darah lengkap harus segera dilakukan untuk memeriksa kemungkinan
terjadinya agranulositosis. Jika indeks darah rendah, antipsikotik harus
segera dihentikan. Angka mortalitas dari komplikasi setinggi 30%.
7. Efek Samping pada Kulit dan Mata
Dermatitis alergik dan fotosensitivitas dapat terjadi pada sejumlah kecil
pasien, paling sering terjadi pada mereka yang menggunakan antipsikotik
tipikal potensi rendah, khususnya chlorpromazine. Berbagai erupsi kulit
seperti urtikaria, makulopapular, peteki, dan erupsi edematous telah
dilaporkan. Erupsi terjadi pada awal terapi, biasanya dalam minggu pertama
5

dan menghilang dengan spontan. Pasien harus diperingatkan tentang efek


tersebut, yaitu agar tidak berada dibawah sinar matahari lebih dari 30-60
menit, dan harus menggunakan tabir surya. Penggunaan chlorpromazine juga
disertai beberapa kasus diskolorasi biru-kelabu pada kulit pada daerah yang
terpapar dengan sinar matahari.
Thioridazine disertai dengan pigmentasi ireversibel pada retina bila
diberikan dalam dosis lebih besar dari 800 mg sehari. Gejala awal dari efek
tersebut kadang-kadang berupa kebingungan nocturnal yang berhubungan
dengan kesulitan penglihatan malam. Pigmentasi dapat berkembang menjadi
kebutaan walaupun thioridazine dihentikan karena tidak bersifat reversible.
Chlorpromazine berhubungan dengan pigmentasi mata yang relatif
ringan, ditandai oleh deposit granular coklat keputihan yang terpusat di lensa
anterior dan kornea posterior yang dapat timbul bila pasien mengingesti 1-3
kg chlorpromazine selama hidupnya. Deposit dapat berkembang menjadi
granula putih opak dan coklat kekuningan. Keadaan ini hampir tidak
mempengaruhi penglihatan pasien.
8. Efek Samping Endokrin
Penghambatan reseptor dopamine pada saluran tuberinfundibular
menyebabkan peningkatan sekresi prolaktin, yang dapat menyebabkan
pembesaran payudara, galaktorea, impotensi pada laki-laki, dan amenore
serta penghambatan orgasme pada wanita. Untuk mengatasi efek samping
tersebut dapat dilakukan penggantian obat antipsikotik yang diberikan.
Peningkatan berat badan juga merupakan efek endokrin yang paling sering
terjadi akibat penggunaan antipsikotik tipikal. Peningkatan berat badan
nantinya akan menjadi resiko terjadinya DM tipe 2, hipertensi dan
dislipidemia.
9. Efek Samping Berkaitan dengan Kehamilan dan Laktasi
APG1 melewati sawar plasenta. Tetapi hanya ada sedikit bukti yang
menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan anti psikotik dengan
peningkatan insidens malformasi kongenital. Anti psikotik disekresikan pada
ASI dalam konsentrasi rendah.
10. Efek Samping Berkaitan dengan Ambang Kejang
Pemberian antipsikotik ternyata menyebabkan perlambatan dan
peningkatan sinkronisasi EEG. Efek tersebut merupakan mekanisme dimana
antipsikotik menurunkan ambang kejang. Chlorpromazine dan antipsikotik

potensi rendah lain diperkirakan lebih epileptogenik dibandingkan obat


potensi tinggi.
11. Efek Terhadap Perilaku
Sebagian besar obat antipsikosis tipikal dapat menyebabkan efek
samping

yang

tidak

diinginkan.

Kebanyakan

pasien

menghentikan

penggunaan karena efek merugikan dimana dapat dikurangin dengan


pemberian dosis yang tidak terlalu besar. Pseudodepresi karena disebabkan
oleh drug induced akinesia biasanya berespon dengan pemberian obat
antiparkinson. Sebab lain yaitu karena dosis yang terlalu besar melebihi dari
yang dibutuhkan pada pasien remisi dimana pengurangan dosis akan diikuti
pengurangan

gejala.

Toxic-confusional

states

dapat

terjadi

dengan

pemberian dosis besar dari obat tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Adikusumo A. Buku Ajar Psikiatri. Edisi Kedua ed. Jakarta: Badan Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2013.
Aytseira, 2011, Sindroma Ekstrapiramidal, diakses pada 14 Agustus 2016,
<https://aytseira.wordpress.com/2011/06/04/sindroma-ekstrapiramidal/>
Dr. Rusdi Maslim., SpKj.:Penggunaan Klinis Obat Psikotropik Edisi 2014. PT
Nuh Jaya. 2014:pp.16.
Kaplan H, Sadock B. Medication Induced Movement Disorders.

Kaplan &

Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th


Edition. Lippincott Williams & Wilkins. 2007:pp. 995
Lucas, Denny Christian, 2016, Referat Efek Samping Obat Antipsikotik,
diakses

pada

14 Agustus

2016,

<http://psikiatri.forumid.net/t260-referat-efek-

samping-obat-antipsikotik>
7