Anda di halaman 1dari 15

TUGAS MATA KULIAH

ETIKA DAN AKUNTABILITAS PUBLIK

PERANAN OMBUDSMAN DALAM PENGAWASAN


PENYELENGGARAAN PELAYANAN PUBLIK

Oleh:
DINA TRISIANA ISKANDAR

(156030111111002)

PUTRI INDAHSARI

(156030111111003)

AHMAD NURCHOLISH

(156030111111009)

MONIK AJENG PUSPITOARUM D.W

(156030111111010)

FIA LAKSONO

(156030111111018)

MAGISTER ILMU ADMINISTRASI PUBLIK


FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2015
A. PENGERTIAN OMBUDSMAN

Ombudsman adalah suatu lembaga yang dibentuk untuk menghadapi


penyalahgunaan kekuasaan oleh aparatur pemerintah dan membantu aparatur agar
melaksanakan pemerintahan secara efisien dan adil, juga untuk mendorong pemegang
kekuasaan melaksanakan pertanggungjawaban serta pelayanan secara baik. Umumnya
ombudsman dikenal sebagai lembaga independen yang menerima dan meyelidiki
keluhan-keluhan masyarakat yang menjadi korban kesalahan administrasi (maladministration) publik.
Tetapi sesungguhnya ombudsman tidak sekedar sebuah sistem untuk
menyelesaikan keluhan masyarakat kasus demi kasus, yang utama mengambil inisiatif
untuk mengkhususkan perbaikan administratif atau sitemik dalam upayanya
meningkatkan mutu pelayanan masyarakat. Mal-administrasi adalah perbuatan
koruptif yang meskipun tidak menimbulkan kerugian negara, namun mengakibatkan
kerugian bagi masyarakat (warga negara dan penduduk) karena tidak mendapatkan
pelayanan publik yang baik (mudah, murah, cepat, tepat dan berkualitas).
B. SEJARAH TERBENTUKNYA OMBUDSMAN
Ombudsman adalah lembaga yang sejak lama ada dalam sejarah peradaban
manusia. Pada masa kekaisaran Romawi Kuno sudah dikenal adanya lembaga
Tribunal Plebis yang menjalankan fungsi ombudsman yakni melindungi hak-hak
masyarakat dari penyalahgunaan kekuasaan oleh para bangsawan (penguasa). Model
pengawasan ombudsman juga telah ditemui di Cina sejak 225 M pada masa
pemerintahan Dinasti Tsin, di mana Kaisar Cina membentuk lembaga pengawas yang
dikenal secara internasional dengan sebutan Control Yuan atau biasa disebut juga
sebagai Cencorate yang bertugas mengawasi perilaku para pejabat kekaisaran dan
menjalankan juga fungsi sebagai perantara bagi masyarakat yang ingin menyampaikan
aspirasi dan keluhan kepada Kaisar Tsin.
Hingga saat ini Dean M Gottehrer, mantan Presiden Ombudsman Amerika
Serikat menemukan bahwa pada dasarnya kelembagaan ombudsman berakar dari
prinsip-prinsip keadilan yang menjadi bagian dari mekanisme pengawasan dalam
sistem ketatanegaraan Islam, yang dikembangkan pada masa pemerintahan Khalifah
Umar bin Khattab (634-644 M) yang memposisikan dirinya sebagai Muhtasib yakni
orang yang menerima keluhan dari warga masyarakat dan menjadi mediator dalam
menyelesaikan perselisihan antara warga dengan pejabat pemerintahan.
Khalifah Umar bin Khatab kemudian membentuk lembaga Qadhi al Qudhaat
dengan tugas khusus melindungi warga dari tindakan sewenang-wenang dan
penyalahgunaan kekuasaan oleh penyelenggara pemerintahan. Lembaga Qodhi al
Qudhaat tersebut kemudian dikembangkan oleh Dinasti Osmaniah di Turki. Pada
1709 Raja Swedia Charle XII mengungsi ke Turki (karena kalah dalam perang melawan
1

Rusia) dan berkesempatan mempelajari dan mendalami tentang lembaga Qadi al


Qudhaat tersebut.
Sekembalinya Raja Charles XII ke Swedia, ia menggagas pembentukan lembaga
dengan fungsi dan peran yang sama dengan Qadhi al Qudhaat dan diberi nama
Ombudsman (menurut bahasa Skandinavia) yang artinya pengawas penyelenggaraan
negara. Itu pulalah sebabnya Swedia tercatat sebagai negara pertama di dunia yang
membentuk ombudsman modern (parliamentary ombudsman) pada 1809.
Ombudsman di Indonesia sudah ada sejak 2000, pada masa pemerintahan
Presiden Abdurrahman Wahid yang membentuk Komisi Ombudsman Nasional (KON)
melalui Keppres Nomor 44/2000, pada tanggal 10 Maret 2000 Lembaga Ombudsman
resmi dibentuk di Indonesia, sebagai bagian dari program pembangunan demokrasi di
Tanah Air dengan jalan menghidupkan mekanisme Checks and Balances, di mana setiap
warga negara (civil society) diberi kesempatan berperan dalam melakukan kontrol
terhadap penyelenggaraan negara dan pemerintahan. Lembaga baru ini secara lengkap
bernama Komisi Ombudsman Nasional yang berfungsi sebagai lembaga pengawas
eksternal yang secara independen akan melakukan kerja-kerja pengawasan terhadap
penyelenggara Negara dalam memberikan pelayanan umum yang menjadi tanggung
jawab mereka.
Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dikenal sebagai tokoh yang sangat
pro demokrasi, dan di masa pemerintahannya (yang singkat) itu telah dilahirkan
berbagai gagasan, program dan lembaga untuk membangun dan memperkuat
demokrasi di Indonesia.
Pada 2001 dikeluarkan Ketetapan MPR Nomor VIII/MPR/2001 tentang
Rekomendasi Arah Kebijakan Pemberantasan KKN yang menyebutkan bahwa sebagai
upaya pemberantasan KKN direkomendasikan antara lain membentuk Komisi
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK) dan Ombudsman melalui undangundang.
Berdasarkan fakta tersebut, jika ditinjau dari perspektif politik hukum, maka
eksistensi KPK dan Ombudsman adalah amanat rakyat untuk memberantas korupsi.
Penguatan kelembagaan terhadap Ombudsman yang semula berstatus sebagai Komisi
Ombudsman Nasional (KON) berubah status menjadi lembaga negara dengan nama
Ombudsman RI. Sebagai tindak lanjut dari Tap MPR tersebut dibentuklah UU Nomor
30/2002 tentang KPK dan UU Nomor 37/2008 tentang Ombudsman Republik
Indonesia dan disetujui dalam pembuatan Undang-undang dalam Rapat Paripurna
DPR RI pada tanggal 9 September 2008, dengan nama Ombudsman Republik
Indonesia.

C. LANDASAN FILOSOFIS OMBUDSMAN


Landasan Filosofis Ombudsman adalah sebagai berikut :
1. Upaya menciptakan pemerintahan yang baik, bersih dan efisien
2. Meningkatkan kesejahteraan, menciptakan keadilan dan kepastian hukum
3. Pelayanan dan penegakan hokum merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dalam penyelenggaraan negara
4. Pengawasan pelayanan oleh penyelenggara negara/pemerintahan merupakan
unsure penting dalam upaya menciptakan pemerintahan yang baik, bersih dan
efisien
5. Mewujudkan aparatur penyelenggara Negara dan pemerintahan yang efektif,
efisien, jujur, bersih, terbuka dan bebas KKN
D. LANDASAN HUKUM OMBUDSMAN
Landasan hukum Ombudsman adalah Undang-Undang No. 37 Tahun 2008
Tentang Ombudsman Republik Indonesia. Undang-Undang No. 37 Tahun 2008 tentang
Ombudsman Republik Indonesia terdiri dari 12 bab yang terdiri atas 47 pasal yang
sebagian besar mengatur tentang kelembagaan dan tata cara pemeriksaan laporan.
Sistematika UU No. 37 Tahun 2008 sebagai berikut :
1. Bab I Ketentuan Umum (Pasal 1)
2. Bab II Sifat, Asas, dan Tujuan ( Pasal 2- Pasal 4)
3. Bab III Tempat Kedudukan (Pasal 5)
4. Bab IV Fungsi, tugas dan wewenang ombudsman (pasal 6-pasal 10)
5. Bab V Susunan dan Keanggotaan Ombudsman (Pasal 11-pasal 22)
6. Bab VI Laporan (pasal 23- pasal 24)
7. Bab VII Tata Cara Pemeriksaan dan Penyelesaian Laporan (pasal 25-pasal 41)
8. Bab VIII Laporan Berkala dan Laporan Tahunan (pasal 42)
9. Bab IX Perwakilan Ombudsman di daerah (pasal 43)
10. Bab X Ketentuan Pidana (pasal 44)
11. Bab XI Ketentuan Peralihan (pasal 45-pasal 46)
12. Bab XII Ketentuan Penutup (pasal 47)
E. FUNGSI OMBUDSMAN
Ombudsman RI adalah Lembaga Negara yang mempunyai berfungsi
mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik, baik yang diselenggarakan oleh
Penyelenggara Negara dan pemerintahan termasuk yang diselenggarakan oleh BUMN,
BUMD, dan BHMN serta badan swasta atau perseorangan yang diberi tugas
3

menyelenggarakan pelayanan public tertentu yang sebagian atau seluruh dananya


bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja Negara dan/ anggaran pendapatan
dan belanja daerah, melalui peran serta masyarakat, sehingga dapat mengembangkan
kondisi yang kondusif dalam meningkatkan perlindungan hak-hak masyarakat agar
memperoleh pelayanan publik, keadilan dan kesejahteraan yang lebih baik.
Ombudsman Republik Indonesia bersifat mandiri dan tidak memiliki
hubungan organic dengan lembaga negara dan instansi pemerintahan lainnya, serta
dalam menjalankan tugas dan wewenangnya bebas dari campur tangan kekuasaan
lainnya. Dalam rangka memperlancar tugas pengawasan penyelenggaraan tugas negara
di daerah, jika dipandang perlu Ketua Ombudsman Nasional dapat membentuk
Perwakilan Ombudsman di daerah provinsi, Kabupaten/Kota yang merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari Ombudsman Nasional. Seluruh peraturan Perundangundangan dan ketentuan lain yang berlaku bagi Ombudsman Nasional berlaku pula bagi
Perwakilan Ombudsman di daerah.
Gambar 1. Alur Penyelesaian Laporan/Pengaduan

Sumber : www.ombudsman.go.id

F. TUGAS OMBUDSMAN
Adapun tugas Ombudsman sebagai berikut:
1. Menerima laporan dari masyarakat mengenai pelayanan publik yang tidak sesuai.
Dengan syarat pelapor adalah Orang yang mempunyai kepentingan terhadap
kasus yang dilaporkan.
2. Melakukan (investigasi) pemeriksaan atas laporan dari masyarakat.
Investigasi dalam konteks Ombudsman merupakan proses penyelidikan terhadap
apakah laporan/ keluhan atau informasi yang memang menjadi kewenangannya
dapat menemukan bukti-bukti, bahwa pihak terlapor terbukti telah melakukan
atau tidak melakukan tindakan sebagaimana dilaporkan/ dikeluhkan.
3. Menindaklanjuti laporan masyarakat dengan dasar wewenang yang dimiliki.
4. Memberi alternatif penyelesaian atau memberi rekomendasi kebijakan atau
penyelesaian atas pengaduan tersebut.
5. Melakukan usaha pencegahan dalam ketidaksesuaian pelayanan publik.
G. WEWENANG OMBUDSMAN
Sedangkan wewenang Ombudsman dikelompokan dalam dua hal, yaitu:
Terkait dengan laporan
a. Meminta keterangan pihak-pihak yang terkait dengan laporan
b. Memeriksa dokumen terkait
c. Meminta klarifikasi, salinan, copy atau dokumen lain pada instansi
penyelenggara negara
d. Melakukan pemanggilan
e. Melakukan mediasi, konsiliasi atas permintaan para pihak
f.

Membuat rekomendasi mengenai penyelesaian laporan, ganti rugi dan


rehabilitasi

g. Mengumumkan hasil temuan, kesimpulan dan rekomendasi


h. Menyampaikan saran kepada lembaga negara dengan tujuan perbaikan demi
pelayanan publik yang lebih baik.
Terkait dengan tugas lain
a. Memberi saran kepada Presiden, Pimpinan Penyelenggara Negara, Kepala
Daerah guna perbaikan dan penyempurnaan organisasi dan/pelayanan public
b. Memberi saran kepada DPR, Presiden, DPRD, Kepala Daerah agar terhadap
undang-undang dan peraturan perundangan dilakukan perubahan untuk
mencegah mal-administrasi
5

Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya Ombudsman memiliki hak


Imunitas, yaitu tidak dapat ditangkap, ditahan, diinterogasi, dituntut atau
digugat di muka Pengadilan (Pasal 10 UU No. 37 Tahun 2008). Ombudsman
juga memiliki Larangan berupa mencampuri kebebasan Hakim dalam
memberikan putusan (Pasal 9 UU No. 37 Tahun 2008), serta memiliki
Eklusifitas, yakni berupa pemeriksaan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu
(Pasal 34 UU No. 37 Tahun 2008)dan Pemanggilan paksa (Pasal 31 UU No. 37
Tahun 2008).
H. KETERKAITAN DENGAN UU NO 25 TAHUN 2009 TENTANG PELAYANAN
PUBLIK
Pembentukan Ombudsman Republik Indonesia pada dasarnya ditujukan
untuk mewujudkan Good Governance. Salah satu upaya untuk mewujudkan Good
Governance adalah dengan reformasi birokrasi. Sebelum mengaitkan dengan reformasi
birokrasi, tujuan dari adanya Ombudsman Republik Indonesia adalah melakukan
pengawasan terhadap pelayanan publik agar terhindar dari adanya maladministrasi.
Meninjau dari konsep pelayanan publik mengacu pada Undang-Undang Nomor 25
Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik perlu dilihat apakah kinerja Ombudsman
Republik Indonesia telah sinkron dengan pelayanan publik yang mengacu dalam
undang-undang

tersebut.

Dalam

Undang-Undang

Pelayanan

Publik

tersebut,

pengertian pelayanan publik yaitu kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka
pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi
setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif
yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik mengamanahkan
kepada Ombudsman Republik Indonesia untuk:
a. wajib menerima dan berwenang memproses pengaduan dari masyarakat
mengenai penyelenggaraan pelayanan publik sesuai dengan Undang-Undang
ini;
b. wajib menyelesaikan pengaduan masyarakat apabila pengadu menghendaki
penyelesaian pengaduan tidak dilakukan oleh Penyelenggara;
c. wajib membentuk perwakilan di daerah yang bersifat hierarkis untuk
mendukung tugas dan fungsi ombudsman dalam kegiatan pelayanan publik
paling lambat 3 (tiga) tahun sejak diundangkannya Undang-Undang Nomor 25
tahun 2009 tentang Pelayanan Publik; dan
d. wajib melakukan mediasi dan konsiliasi dalam menyelesaikan pengaduan atas
permintaan para pihak.
6

Untuk mensinkronkan antara kinerja Ombudsman Republik Indonesia dengan


Pelayanan Publik adalah mengacu pada amanah yang diberikan oleh Undang-Undang
Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Penilaian kinerja merupakan suatu
kegiatan yang sangat penting karena dapat digunakan sebagai ukuran keberhasilan
suatu organisasi dalam mencapai misinya. Agus Dwiyanto mengukur kinerja birokrasi
publik

dengan

menggunakan

aspek-aspek

produktivitas,

kualitas

layanan,

responsivitas, responsibilitas dan akuntabilitas.


Aspek yang pertama yaitu produktivitas, konsep produktivitas tidak hanya
mengukur tingkat efisiensi tetapi juga kualitas pelayanan. Kinerja Ombudsman
Republik Indonesia dinilai dari input dan outputnya. Aspek yang kedua ditinjau dari
kualitas pelayanan dimana kualitas pelayanan dalam lembaga ini diukur dari tingkat
kepuasan masyarakat yang dilayaninya yaitu masyarakat yang dirugikan atau tidak
puas dengan pelayanan yang diberikan penyelenggara pelayanan Publik. Aspek yang
ketiga adalah responsivitas yaitu kemampuan organisasi untuk mengenali kebutuhan
masyarakat, menyusun agenda dan prioritas pelayanan dan mengembangkan
program-program

pelayanan

publik

sesuai

dengan

kebutuhan

dan

aspirasi

masyarakat. Keempat adalah aspek responsibilitas yaitu apakah pelaksanaan kegiatan


sudah dilakukan dengan prinsip-prinsip administrasi yang benar. Ombudsman
Republik Indonesia dalam melaksanakan tugasnya sudah sesuai dengan segala
peraturan yang mengaturnya. Aspek yang terakhir yaitu akuntabilitas yang menunjuk
pada seberapa besar kebijakan dan kegiatan organisasi publik sesuai dengan nilai dan
norma

yang

berkembang

dalam

masyarakat.

Dalam

hal

ini,

menyangkut

pertanggungjawaban Ombudsman Republik Indonesia lepada masyarakat.


Di Indonesia sendiri, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 25
Tahun

2009

tentang

Pelayanan

Publik,

bahwa

kontrol

terhadap

kewenangan/kekuasaan lembaga penyelenggara pelayanan publik salah satunya


dilakukan oleh Ombudsman RI, yaitu dengan melakukan langkah-langkah untuk
menindaklanjuti laporan atau informasi mengenai terjadinya penyimpangan oleh
penyelenggara negara dalam melaksanakan tugasnya maupun dalam memberikan
pelayanan umum. Sebelumnya, melalui kewenangan Ombudsman RI sebagai
lembaga yang berfungsi mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik juga sudah
secara tegas disebutkan dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008
tentang Ombudsman RI. Yang mana salah satu kewenangannya adalah
menyampaikan saran dan rekomendasi kepada Presiden, kepala daerah atau
pimpinan

penyelenggara

lainnya

guna

perbaikan

dan

penyempurnaan

penyelenggraan pelayanan publik dalam rangka mencegah maladministrasi.


7

Dengan demikian maka Ombudsman RI merupakan katalisator dalam pelaksanaan


prinsip citizen influence sebagaimana yang dipegang oleh pendekatan Pelayanan
Publik Baru.
Undang-Undang 25 Tahun 2009 sudah lebih kurang 4 (empat) tahun
diundangkan, namun beberapa survey yang dilakukan oleh beberapa lembaga
menunjukkan rapor yang buruk pelayanan publik Indonesia. Tim Penilai Kinerja
Pelayanan Publik menyatakan hasil survei yang dilakukan oleh World Bank tahun
2011 terhadap 183 negara, Indonesia menempati urutan ke 129. Indonesia masih
kalah dengan India, Vietnam bahkan Malaysia sudah menempati urutan 61 dan
Thailand berada di urutan ke 70. Sementara itu, Publikasi World Bank Doing Business
2013 yang dilansir oleh International Finance Corporation (IFC), sebuah unit
investasi World Bank menempatkan Indonesia pada peringkat ke-128, atau
membaik 2 peringkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya, diapit oleh Ethiopia
dan Bangladesh. Kemudian Tranparency International Indonesia (TII) meluncurkan
Corruption Perception Index (CPI) atau indeks persepsi korupsi 2012 dengan hasil
Indonesia memiliki skor CPI 32 dengan peringkat 118 negara korup terhadap 174
negara di dunia. Indonesia.
Kondisi tersebut di atas menunjukkan bahwa pelayanan publik di Indonesia
masih jauh dari harapan masyarakat dengan ditandai oleh pelayanan publik yang
tidak transparan, diskriminatif, berbelit-belit, korup dan sebagainya. Kondisi ini
semua tidak terlepas dari rendahnya kualitas penyelenggara pelayanan publik yang
belum mampu mengubah pandangannya tentang pelayanan publik, belum
dipenuhinya standarisasi pelayanan dan rendahnya partisipasi masyarakat
Oleh karena itulah maka Ombudsman RI memiliki kepentingan untuk
memastikan penyelenggara pelayanan publik mematuhi kewajibannya untuk
menyusun dan menyediakan standar pelayanan, maklumat pelayanan, sistem
informasi pelayanan publik, sarana, prasarana dan/atau fasilitas pelayanan publik,
pelayanan khusus, pengelolaan pengaduan dan sistem pelayanan terpadu,
sebagaimana telah di atur dalam Pasal 15 dan Bab V Undang-Undang Pelayanan
Publik. Dengan terpenuhinya seluruh kewajiban oleh penyelenggara pelayanan
publik, maka hak-hak masyarakat untuk memperoleh kejelasan pelayanan,
kepastian waktu dan biaya pelayanan, akurasi pelayanan, keamanan pelayanan,
8

pertanggungjawaban pelayanan, kemudahan akses layanan, profesionalitas dan


kenyamanan pelayanan sebagaimana prinsip-prinsip pelayanan publik dapat
terpenuhi.

I.

KETERKAITAN OMBUDSMAN DAN GOOD GOVERNANCE


Good Governance pada dasarnya berkaitan dengan upaya perbaikan kinerja
sektor publik yang dilakukan melalui pengembangan dan penguatan hubngan yang
harmonis (adanya sinergi) antara kekuatan negara (state), swata (private or market) dan
masyarakat sipil (civil society) yang didukung oleh adanya penataan kembali
keseimbangan kekuasaan dan peran ketiga sentral dalam pendayagunaan aneka
sumber daya ekonomi dan social bagi pembangunan.
Makna good dalamGood Governaceberorientasiideal negara yang diarahkan pada
pencapaian

tujuan

negara,

danmaknakeduatentang

aspek-aspek

fungsional

pemerintahan yang efektif dan efisien dalam pelaksanaan tugasnya untuk mencapai
tujuan tersebut. Konsep Good Governancedi Indonesia dalam menyelenggarakan
negara yang baik telah diatur oleh UU Nomor 28/1999 tentangPenyelenggara Negara
yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusidan Nepotisme, dengan Asas Umum
sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Asas Kepastian Hukum


Asas Tertib Penyelenggaraan Negara
Asas Kepentingan Umum
Asas Keterbukaan
Asas Proporsionalitas
Asas Profesionalitas
Asas Akuntabilitas
Syarat pertama dan utama untuk menuju kepada Good Governance adalah
bahwa pemegang/penyelenggara kekuasaan negara (eksekutif, legislative dan
yudikatif) secara ketat dan teguh berpegang pada asas-asas penyelenggara
negara/asas-asas umum Pemerintahan yang baik. Apabila dalam penyelenggaraan
negara dan pemerintahan dan dalam memberikan pelayanan public terjadi
penyimpangan /pelanggaran terhadap asas-asas penyelenggara negara/asas-asas
umum pemerintahan yang baik, maka disebut sebagai mal-administrasi. Maladministrasi mencakup perilaku aparat sebagai berikut:
1. Penundaan berlarut dalam pelayanan (undue delay)

2. Penyimpangan/kesalahan
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

dalam

mengambil

suatu

tindakan

(tidak

Proporsional)
Penyimpangan/kesalahan dalam prosedur
Kesalahan menyajikan informasi/penjelasan
Tata kelola pencatatan/pengarsipan yang tidak memadai
Kesalahan dalam melakukan investigasi
Kesalahan dalam menanggapi persoalan
Komunikasi yang tidak memadai
Gagal/tidak memenuhi janji/komitmen
Mal-administrasi berdasarkan UU No. 37 Tahun 2008 adalah perilaku /

perbuatan penyelenggara Negara dan Pemerintahan, sperti: melawan hukum,


melampaui wewenang, menggunakan wewenang untuk tujuan lain dari tujuan
tersebut, Kelalaian dan Pengabaian kewajiban hum. Sehingga dapat menimbulkan
kerugian materiil / immaterial bagi masyarakat dan/atau perorangan.
J.

KEDUDUKAN OMBUDSMAN TERHADAP PELAYANAN PUBLIK, KORUPSI


DAN MAL-ADMINISTRASI
Pelayanan

public

merupakan

salah

satu

bentuk

pertanggungjawaban

penyelenggara negara kepada masyarakat. Untuk memberikan penilaian tentang baik


buruknya pelayanan public melalui beberapa instrument yang dikembangkan oleh
Zeithaml, Parasuraman& Berry (1990), yakni Tangible (ketampakanfisik); Reliability
(Reabilitas);
(Kesopanan),

Ombudsman RI

Responsiveness
Credibility

(Responsivitas);
(Kredibilitas);

Competence

Security

(Kompetensi),

(Keamanan);

Access

Courtessy
(Akses),

Communication (Komunikasi), dan Understanding (Pengertian).


Pelayanan public merupakan entry Point untuk terjadinya korupsi. Maladministrasi adalah perilaku koruptif yang meskipun tidak merugikan Negara tetapi
merugikan masyarakat/perseorangan. Sehingga diperlukan usaha dalam mengawasi

mencegah

pelayanan public, yang bertujuan untuk mencegah mal-administrasi dan mencegah

korupsi. Penindakan
mengawasi
memberantas/menindak

/ penegakan hokum terhadap korupsi tidak akan efektif tanpa

(law enforcement)
upaya pencegahan terhadap korupsi melalui pengawasan terhadap pelayanan public
mencegah

Sementara itu TAP MPR No.VIII/MPR/2001 tentang Rekomendasi Arah


Kebijakan Pemberantasan KKN, berupa rekomendasi:
Pembentukan
KPK melalui
Korupsi
Pelayanan Publik
Mal-administrasi

Undang-undang, dan Pembentukan Ombudsman melalui Undang-undang.

Kedudukan Ombudsman lebih jelasnya dapat digambarkan dalam skema berikut:


Polri/Kejaksaan/KPK

10

K. KETERKAITAN OMBUDSMAN DENGAN AKUNTABILITAS


Accountability adalah kejelasan tugas pokok dan fungsinya berdasarkan peraturan
yang berlaku; Ombudsman mempunyai tugas pokok mengawasi pelayanan publik dan
menyelesaikan maladministrasi yang telah diatur oleh peraturan perundang-undangan
baik dalam bentuk hukum acaranya maupun hukum materiilnya. Dengan demikian,
akuntabilitas Ombudsman dapat dilihat melalui kesesuaian antara pelaksanaan tugas
pokok dan fungsinya dengan peraturan perundang-undagan yang berlaku. Di
samping itu akuntabilitas Ombudsman juga dapat diukur dari keadilan putusan,
saran dan rekomendasinya. Jadi akuntabilitas Ombudsman dapat diketahui
sejauhmana efektifitas produk penyelesaian maladministrasi yang dihasilkannya.
L. KETERKAITAN OMBUDSMAN DENGAN WHISTLEBLOWER
Bagaimana jika dalam melakukan layanan publik, administrator melakukan
maladministrasi (penyimpaangan)? Penyimpangan tersebut diketahui oleh internal
administrator publik.
Whistleblower biasanya ditujukan kepada seseorang yang pertama kali mengungkap
atau melaporkan suatu tindak pidana atau tindakan yang dianggap ilegal di
tempatnya bekerja atau orang lain berada, kepada otoritas internal organisasi atau
kepada publik seperti media massaatau lembaga pemantau publik.
Whistleblower diartikan sebagai pihak yang mengetahui dan melaporkan tindak pidana
tertentu dan bukan merupakan bagian dari pelaku kejahatan yang dilaporkannya
(SEMA Nomor 4 Tahun 2011).
Ketika internal organisasi administrator publik mengetahui terjadinya maladministrasi
dia dapat menjadi whistleblower dengan melaporkannya kepada lembaga pengawas.
Feedback
Membangun
mebangun
Layanan
Administrator
Publik

Publik/Citizen
11

LAYANAN PUBLIK

MalWhistleblowe
r

Complain

Lembaga Pengawas :
Ombudsman, dsb
M. KRITIK DAN SARAN TERHADAP OMBUDSMAN
Kritik terhadap ombudsman :
1. Kurang dikenalnya ombudsman oleh masyarakat. Berhubungan dengan lokasi
kedudukan kantor ombudsman kebanyakan di tingkat pusat dan propinsi. Sementara
pelayanan publik bersentuhan dengan masyarakat langsung. Dalam hal ini
pemerintahan daerah sebagai perpanjangan tangan dari kebijakan pemerintahan
pusat.
2. Kedudukan ombudsman itu sendiri hanya menangani pelaporan, tanpa ada
rekomendasi lebih lanjut terhadap suatu masalah yang telah diadukan oleh
masyarakat.
3. Ombudsman sendiri tidak akuntabel dalam akuntabilitas keuangan, karena anggaran
untuk mensosialisasikan ombudsman itu jumlahnya material.
4. Terlapor dan atasan Terlapor wajib melaksanakan Rekomendasi Ombudsman.
Walaupun demikian, sebenarnya rekomendasi dari Ombudsman Republik Indonesia
tidak mempunyai kekuatan hukum (non legally binding), tetapi bersifat morally binding.
Rekomendasi yang bersifat morally binding pada dasarnya mecoba menempatkan
manusia pada martabat mulia sehingga untuk melakukan sesuatu atau tidak
melakukan sesuatu seorang pejabat publik tidak harus diancam dengan sanksi hukum,
melainkan melalui kesadaran moral yang tumbuh dari lubuk hati.
Saran :
Pemerintah

Republik

Indonesia harus

lebih serius

terhadap

keberadaan

Ombudsman, karena selama ini agaknya Ombudsman hanya dijadikan lembaga


pelengkap agar NKRI dianggap sebagai negara hukum yang demokratis oleh dunia
internasional saja. Sementara anggaran dan pengembangan SDM Ombudsman kurang
diperhatikan. Diperlukan sosialisasi tentang eksistensi lembaga Ombudsman kepada
masyarakat Indonesia seluas-luasnya, agar mereka mengenal lebih jauh tentang lembaga
tersebut. Selain itu, diperlukan koordinasi dan kesepahaman antara lembaga Ombudsman
dengan lembaga yang terkait atas laporan yang telah ditindak lanjutinya. Sebaiknya
12

adanya suatu sanksi yang lebih mengikat lagi bagi rekomendasi Ombudsman kepada
suatu lembaga pelayanan publik yang pelayanan publiknya kurang efefktif. Diperlukan
adanya penerapan sanksi administrasi yang nyata bagi aparatur negara yang melanggar
kewenangan ataupun tugasnya agar penyalahgunaan wewenang oleh aparatur negara
dapat sedikit mungkin diminimalisir.

N. EFEKTIFITAS KINERJA OMBUDSMAN DI LUAR NEGERI


Keberadaan Ombudsman di beberapa Negara mampu menjawab kebutuhan
perlindungan hak masyarakat terhadap pelayanan yang baik. Di Afrika Selatan,
Ombudsman menjadi Public Protector. Kekuatan Ombudsman bukan karena
merupakan lembaga yang superbody dan melakukan investigasi dan sekaligus proses
peradulan

sendiri,

tetapi

kewenangan

Ombudsman

tidaktakterbatas,

berupa

rekomendasi. Investigasi yang dilakukan Ombudsman mampumendoronglembaga


yang melakukan kesalahan untuk memberikan sejumlah ganti rugi kepada
masyarakat.
Faktor utama keberhasilan Ombudsman adalah kuatnya supremasi hukum di
Negara tersebut, sebagai contoh di Hungary terhadap kasus pengurangan bantuan
social oleh pemerintah daerah, rekomendasi Ombudsman tidak diindahkan di level
kepala daerah, kemudian bertingkat sampai level kementrian negara, rekomendasi
Ombudsman mendapatkan perhatian dan mampu melakukan perubahan dalam
sistem (Puspitosari, 2012).
Faktor kedua adalah tingginya kesadaran masyarakat terhadap hak mereka
sebagai publik. Faktor ketiga adalah baiknya koordinasi antar lembaga negara. Faktor
keempat yaitu rekomendasi Ombudsman yang lahir dari kuatnya relasi check and
balance. Dan terakhir, factor kelima adalah media massa sebagai sebuah sistem yang
melakukan kontrol social dilibatkan dalam proses investigasi dan rekomendasi
Ombudsman.
Sebagai kesimpulan, efektivitas Ombudsman tidak bias dilihat hanya dari
kewenangan dan wilayah yang dimiliki Ombudsman. Kondisi masyarakat, system
politik dan kuatnya supremasi hukum merupakan sebuah system bersama. Jika proses
tersebut tidak dilihat, maka kehadiran Ombudsman hanya menjadi lembaga pemberi
rekomendasi yang selalu diabaikan oleh pemerintah dan penyelenggara layanan.

13

DAFTAR PUSTAKA
Buku
Mindarti, Lely Indah. 2007. Revolusi Administrasi Publik : Aneka Pendekatan dan Teori Dasar.
Malang: Bayu Media Publishing.
Puspitosari, Hesti; Khalikussabir dan Kurniawan, J. Luthfi. 2012. Filosof Pelayanan Publik.
Buramnya Wajah Pelayanan Menuju Perubahan Paradigma Pelayanan Publik. Malang:
Setara Press.
Syafri, Wirman. 2012. Studi tentang Administrasi Publik. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Semendawai, Abdul Haris; Wagiman, Wahyu; Santoso, Ferry; Omas, Betty Itha;
Susilaningtyas; Wiryawan, Syahrial Martanto. 2011. Memahami Whistleblower.
Jakarta : Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban

Undang-Undang
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman Republik Indonesia.
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.
Website
www.ombudsman.go.id. diakses pada tanggal 15 Oktober 2010.

14