Anda di halaman 1dari 21

TINJAUAN PUSTAKA

Organ kelamin betina pada dasarnya dibagi menjadi dua bagian


yaitu organ kelamin dalam dan organ kelamin luar. Organ kelamin dalam
terdiri dari ovarium,oviduct, cornu uteri, corpus uteri, cervix, dan vagina,
sedang organ kelamin luar terdiri dari vulva, clitoris, vestibulum vaginae,
dan kelenjar vestibulae. Organ kelamin dalam, kebagian dorsal digantung
oleh beberapa penggantung. Ovarium digantung oleh alat penggantung
mesovarium

dan

olehmesosalpinc,

ligamentum utero

sedangkan

ovarika. Oviduct digantung

uterus, cervix,

dan

sebagian

vagina

digantung olehmesometrium atau sering disebut ligamentum lata (Blakely


and Bade, 1998).
Ovarium
Ovarium

adalah

tempat

sintesis

hormon

steroid

seksual,

gametogenesis, dan perkembangan serta pemasakan kuning telur (folikel)


(Yuwanta, 2004). Ovarium juga memiliki fungsi sebagai kelenjar endokrin
yang

menghasilkan

hormon

kelamin

betina, yakni

estrogen dan

progesteron. Estrogen terutama dihasilkan oleh sel-sel teka interna


menjadi estrogen. Progesteron terutama dihasilkan oleh sel-sel lutein
besar selama metestrus, diestrus dam kebuntingan, di samping dihasilkan
pula oleh plasenta (Dellman and Brown, 1992).
Oviduct (Tuba fallopi)
Tuba fallopi juga dikenal dengan istilah oviduct (saluran telur) dan
kadang-kadang disebut tuba uterina. Saluran ini terdapat pada setiap sisi
uterus

dan

membentang

daricornu

uteri ke

arah

dinding lateral

pelvis (Farrer, 1996). Oviduct bersifat bilateral, strukturnya berliku-liku

yang menjulur dari daerah ovarium ke cornu uteri dan menyalurkan ovum,
spermatozoa dan zigot. Tiga segmen tuba uterina dapat dibedakan,
yakni infundibulum (berbentuk corong besar), ampulla (bagian berdinding
tipis yang mengarah ke belakang dari infundibulum, dan isthmus (segmen
berotot yang berhubungan langsung dengan uterus (Dellman and Brown,
1992).
Uterus
Uterus adalah organ yang tebal, berotot, berbentuk buah pir,
terletak di dalam pelvis, antara rektum di belakang dan kandung kencing
di depan (Pearce, 1995). Uterus merupakan tempat implantasi konseptus
(zigot yang telah berkembang menjadi embrio). Uterus mengalami
serangkaian perubahan selama berahi (estrus) dan daur reproduksi. Pada
kebanyakan spesies, uterus terdiri dari kornua bilateral yang dihubungkan
dengan tuba uterina, corpus dan cervix yang berhubungan dengan vagina
(Dellman and Brown, 1992).
Cervix
Cervix atau leher uterus berdinding tebal karena berotot dan
banyak mengandung serabut elastik. Mukosa-submukosa membentuk
lipatan primer tinggi dan berlanjut dengan lipatan sekunder dan
tersier. Cervix sapi betina terdapat empat lipatan melingkar dan 15 sampai
25 lipatan memanjang, masing-masing mengandung lipatan sekunder dan
tersier. Lipatan tersebut sering memberikan kesan salah pada struktur
kelenjar. Kelenjar uterus tidak menjulur dalam cervix pada kebanyakan
spesies, dan elemen kelenjar yang terdapat pada cervix kebanyakan
bersifat musigen (Dellmann and Brown, 1992).
Vagina

Vagina merupakan buluh berotot yang menjulur dari cervix sampai


vestibulum.

Lipatan

memanjang

rendah

dari

mukosa-submukosa

terentang sepanjang vagina. Vagina sapi betina, lipatan melingkar yang


penting juga terdapat di bagian kranial vagina. Variasi daur tampak pada
tinggi serta struktur epitel. Peningkatan jumlah lendir vagina selama berahi
terutama berasal dari cervix. Epitel yang mengalami kornifikasi yang
meluas merupakan gejala berahi. Proses ekstensifikasi sangat jelas pada
karnivora dan rodensia, tidak terjadi secara nyata pada ruminansia,
mungkin karena pengeluaran estrogen yang rendah pada jenis ruminansia
pada umumnya (Dellmann and Brown, 1992).
Vulva
Vulva merupakan organ genitalia eksterna, yang terdiri dari
vestibulum dan labia. Vestibulum merupakan bagian dari saluran kelamin
betina

yang

berfungsi

urinaria. Vestibulum bergabung

sebagai

saluran

reproduksi

dengan vagina pada external

dan
urethal

orifice. Vulva dapat menjadi tegang karena bertambahnya volume darah


yang mengalir ke dalamnya. Labia terdiri atas labia mayora (lipatan
luar vulva) dan labiaminora (lipatan dalam vulva). Labia minora homolog
dengan praeputium pada hewan jantan dan tidak menyolok pada hewan
ternak. Labia

mayora homolog

denganskrotum

pada

hewan

jantan

(Widayati et.al., 2008).


Clitoris
Clitoris mengandung erectile tissue sehingga berereksi dan banyak
mengandung ujung syaraf perasa. Syaraf ini memegang peranan penting
pada waktu kopulasi. Clitorisbereaksi pada hewan yang sedang estrus,
tetapi hal ini tidak cukup untuk dijadikan sebagai pendeteksi estrus pada
spesies (Widayati et al.,2008).

MATERI DAN METODE

Materi
Alat. Alat yang digunakan pada praktikum anatomi organ reproduksi
hewan betina antara lain pisau, pita ukur, dan kertas kerja.
Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum anatomi organ reproduksi
hewan betina antara lain berupa organ reproduksi sapi jawa betina
dengan
Metode
Organ reproduksi domba betina diamati untuk kemudian diketahui fungsi
dari masing-masing organ reproduksi domba betina tersebut. Masingmasing bagian organ reproduksi dibedakan, lalu dilakukan pengukuran
dengan seksama menggunakan pita ukur atau mistar ukur pada masingmasing bagiannya. Semua hasil pengukuran dicatat pada kertas kerja.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hewan betina tidak saja menghasilkan sel-sel kelamin betina yang penting
untuk membentuk suatu

individu

baru, tetapi

juga

menyediakan

lingkungan dimana individu tersebut terbentuk, diberi makan dan


berkembang selama masa-masa permulaan hidupnya. Fungsi-fungsi ini
dijalankan oleh organ-organ reproduksi primer dan sekunder. Organ
reproduksi primer, ovarium, menghasilkan ova (sel telur) dan hormonhormon kelamin betina. Organ-organ reproduksi sekunder atau saluran

reproduksi terdiri dari tuba fallopii (oviduct), uterus, cervix, vagina, dan
vulva. Fungsi organ-organ reproduksi sekunder adalah menerima dan
menyalurkan sel-sel kelamin jantan dan betina, memberi makan dan
melahirkan individu baru. Kelenjar air susu dapat dianggap sebagai suatu
organ kelamin pelengkap, karena sangat erat berhubungan dengan
proses-proses reproduksi dan esensial untuk pemberian makanan bagi
individu yang baru lahir (Feradis, 2010).
Ovarium
Ovarium yaitu organ betina yang homolog dengan testes pada
hewan jantan. Berbeda dengan testes, ovarium tertinggal di dalam cavum
abdominalis. Ovarium mempunyai dwifungsi, sebagai organ eksokrin yang
menghasilkan

sel

telur

atau

ovum

dan

sebagai

endokrin

yang

mensekresikan hormon-hormon kelamin betina, estrogen dan progesteron


(Feradis, 2010). Fungsi ovarium adalah menghasilkan sel telur (ovum) dan
sebagai

kelenjar

endokrin

dan

menghasilkan

hormon

estrogen,

progesteron, dan inhibin (Widayati et al., 2008). Ovarium adalah organ


primer (atau esensial) reproduksi pada betina seperti halnya testis pada
hewan jantan. Ovarium dapat dianggap bersifat endokrin atau sitogenik
(menghasilkan sel), karena mampu menghasilkan hormon yang akan
diserap langsung ke dalam peradaran darah, dan juga ovum (jamaknya
ova), yang dapat dilepaskan dari kelenjar (Frandson, 1992). Ovarium
digantung atau disokong oleh suatu ligamentum yang luas (broad
ligamentum) yang banyak terdapat syaraf-syaraf dan pembuluh darah
(berfungsi memberi suplai zat-zat makanan yang diperlukan oleh ovarium
dan saluran reproduksi). Ligamentum yang menggantung ovarium
disebut mesovarium (Widayati et

al., 2008).

Antara

ovarium

dan oviductterdapat suatu hubungan anatomik yang intim, walaupun tidak


bersambung dalam arti kata yang sebenarnya. Ternak mamalia, ovarium
terletak di dalam bursa ovari yang terbuka, berbeda dengan pada tikus
dimana ia berada dalam kantong tertutup. Sapi dan domba bursa ovari

cukup lebar dan terbuka. Pada babi ia agak menutupi ovarium. Ovarium
kuda ia sempit dan hanya menyelubungi fossa ovulatoris (Feradis, 2010).
Berdasarkan data hasil praktikum diperoleh bahwa pada bursa
ovari memiliki panjang 0,6 cm dan lebar 2,5 cm, dan ovarium memiliki
panjang 1 cm, lebar 0,8 cm, dan tinggi 0,4 cm. Menurut Hardjoprandjoto
(1995), ovarium pada hewan pemamahbiak kecil seperti kambing dan
domba, bentuknya bulat telur, sedikit gepeng, panjang antara 12 sampai
15 mm, dan beratnya antara 1 sampai 2 gram. Letaknya ada di dalam
rongga pelvis. Berdasarkan literatur tersebut dikatehaui bahwa ovarium
dalam keadaan normal. Faktor yang mempengaruhi perbedaan ukuran
ovarium adalah umur, berat badan, dan bangsa. Menurut Feradis (2010),
bentuk dan ukuran ovarium berbeda-beda menurut spesies dan fase
estrus. Pada sapi dan domba ovarium berbentuk oval menyerupai buah
almond, sedangkan pada kuda berbentuk seperti ginjal karena ada fossa
ovulatoris, suatu legokan pada pinggir ovarium. Pada babi, ovarium
berupa gumpalan anggur, folikel-folikel dan corpora lutea menutupi
jaringan-jaringan ovarial di bawahnya.
Ovarium mamalia terdiri dari dua buah. Waktu pertumbuhan
embrional, ovarium akan mengalami sedikit penurunan (descensus
ovarica) ke arah kaudal menjelang saat dilahirkan. Ovarium mempunyai
permukaan licin pada waktu sebelum terjadinya ovulasi secara teratur,
warnanya abu-abu sampai merah muda. Masa remaja, permukaan
ovarium menjadi tidak rata karena terbentuk banyak folikel yang baru
maupun

folikel

yang

telah

dewasa,

disamping

adanya corpus

luteum dan corpus albikans. Bentuknya bervariasi tergantung kepada


spesies hewan, dari bentuk bulat telur sampai dengan bentuk menyerupai
kacang kara. Besarnya bertambah sesuai dengan bertambahnya umur
maupun banyaknya anak yang dilahirkan. Golongan mamalia, ovarium
terletak di dalam ronggga pelvis, sehingga organ ini sangat terlindungi dari
kemungkinan kerusakan yang disebabkan oleh faktor luar. Letaknya bisa

berubah-ubah

karena

adanya

kebuntingan

maupun

umur

yang

bertambah, atau bisa juga karena terdesak oleh organ tubuh di sekitarnya
(Hardjopranjoto, 1995). Ovarium memiliki beberapa bentuk tergantung dari
golongan hewannya. Pada golongan hewan yang melahirkan beberapa
anak dalam satu kebuntingan (polytocous), ovariumnya berbentuk seperti
buah murbei, contohnya pada babi, anjing, dan kucing. Golongan hewan
yang melahirkan satu anak dalam satu kebuntingan (monotocous),
ovariumnya berbentuk bulat panjang oval, contohnya pada sapi dan
kerbau, sedangkan pada kuda bentuknya seperti ginjal (Widayati et
al., 2008).
Oviduct
Nama

lain

dari oviduct adalah tuba

fallopii,

tuba

uterina,

salpinx, atau saluran telur.Oviduct adalah saluran yang sempit dengan


dinding berotot licin, berfungsi menerima atau menangkap sel telur (ovum)
yang diovulasikan. Sel telur yang telah dibuahi akan diteruskan ke uterus
sebagai akibat dari kontraksi dinding oviduct (Hardjopranjoto, 1995). Tuba
fallopii atau oviduct merupakan saluran paling anterior, kecil, berliku-liku
dan

terasa

keras

seperti

kawat

terutama

pada

pangkalnya. Oviduct tergantung di dalammesosalpinx (Feradis, 2010).


Menurut Widayati et al. (2008), fungsi oviduct adalah menerima sel telur
yang diovulasikan oleh ovarium, transport spermatozoa dari uterus
menuju ke tempat pembuahan, tempat terjadinya pertemuan antara ovum
dan spermatozoa (fertilisasi), tempat terjadinya kapasitasi spermatozoa,
memproduksi

cairan sebagai

medium

terjadinya

pembuahan

dan

kapasitasi spermatozoa, dan transport ovum yang telah dibuahi (zigot)


menuju ke uterus.
Berdasarkan data hasil praktikum, diperoleh data bahwa
panjang oviduct dari domba ekor tipis adalah 3,8 cm. Menurut Feradis
(2010), domba memiliki oviductsepanjang 15 sampai 19 cm. Menurut

Widayati et al. (2008), kambing dan domba memiliki oviduct sepanjang 15


sampai

30

cm.

Berdasarkan

panjang oviduct berada

di

literatur

bawah

tersebut

kisaran

diketahui

normal.

bahwa

Faktor

yang

mempengaruhi perbedaan ukuran dari oviduct adalah umur, berat badan,


dan

bangsa.

Menurut

Lewis

and

Berardinelli

(2001),

luas

permukaan ampulla dapat meningkatkan distribusi produk yang keluar dari


sel-sel sekresi dari ampula yang mungkin terlibat dengan pemupukan dan
perkembangan embrio awal. Fungsi dari oviduct antara lain kapasitasi
spermatozoa, fertilisasi, dan tempat pembelahan embrio.
Oviduct terbagi menjadi tiga bagian, yaitu infundibulum, ampula,
dan isthmus(Widayati et

al., 2008). Oviduct dapati

dibagi

atas

infundibulum dan fimbriae, ampulla, dan isthmus. Ujung oviduct dekat


ovarium membentang ternganga membentuk suatu struktur berupa
corong, infundibulum. Luas permukaan infundibulum mencapai 6 sampai
10 cm2 pada domba, dan 20 sampai 30 cm 2 pada sapi. Muara
infundibulum,ostium abdominale, dikelilingi oleh penonjolan-penonjolan
ireguler pada tepi ujungoviduct, fimbriae. Fimbriae tidak bertaut dengan
ovarium kecuali pada kutub atas organ tersebut terakhir. Hal ini menjamin
pendeatan fimbriae ke permukaan ovarium. Ampulla oviduct merupakan
setengah

dari

daerahoviduct yang

panjang oviduct dan

bersambung

sempit, isthmus. Isthmus dihubungkan

dengan
secara

langsung ke cornua uteri (pada kuda ia memasuki cornu dalam bentuk


suatu papila kecil). Tidak ada ototsphincter dalamm arti kata yang
sebenarnya pada daerah pertemuan utero-tubal. Namun pada babi,
pertemuan ini dilengkapi dengan penonjolan-penonjolan mucosa panjang
berbentuk jari yang berasal dari oviduct memasuki lumen uterus sebagai
lipatan-lipatan yang cukup baik pemberian darahnya. Sapi dan domba,
terdapat suatu pembengkakan yang nyata pada pertemuan utero-tubal,
terutama selama estrus (Feradis, 2010).
Uterus

Uterus merupakan bagian saluran organ kelamin yang berbentuk


buluh, berurat daging licin, untuk menerima ovum yang telah dibuahi atau
embrio dari oviduct, dan pemberian makanan dan perlindungan bagi fetus,
selanjutnya untuk mendorong fetus ke arah luar pada saat kelahiran.
Bentuk morfologi uterus pada berbagai spesies hewan berbeda-beda
menurut derajat ersenyawaan dari saluran muller pada periode embrional
(Hardjopranjoto, 1995). Uterus adalah salah satu saluran reproduksi
betina selain tuba fallopi, serviks dan vagina. Perubahan struktur dan
fungsi uterus ditentu-kan oleh siklus hormonal betina. Pada setiap siklus,
awalnya

fungsi

uterus

menyiapkan

penerimaan

dan

transportasi

spermatozoa dari cervix ke tuba fallopi. Bila terjadi pembuahan, pada


masa kehamilan, uterus menjadi tempat tumbuhnya zygot, hingga
kelahiran tiba (Johnson, 1980 dalam Agustini et.al., 2007).
Fungsi uterus itu banyak, sebagai contoh, sebagai jalannya sperma pada
saat kopulasi dan motilitas (pergerakan) sperma ke oviduct dibantu
dengan kerja yang sifatnya kontraktil. Pada minggu-minggu awal masa
kebuntingan, uteruslah yang mendukung perkembangan embrio melalui
sekresi dari kelenjar uterus dan plasma darah (susu uterin). Uterus yang
dapat mengalami perubahan-perubahan besar dalam ukuran serta
bentuknya, berperan sebagai temoat perlekatan melalui plasetom bagi
embrio yang sedang berkembang selama kebuntingan. Uterus juga
berperan besar dala mendorong fetus serta membrannya pada saat
kelahiran. Uterus kemudian dapat kembali dengan cepat ke bentuk
semula setelah kelahiran, melalui proses involusi Blakely and Bade,
1998).
Berdasarkan data hasil praktikum, diperoleh data bahwa panjang uterus
domba ekor tipis pada bagian corpus uteri adalah 4,5 cm dan cornu
uteri adalah 2 cm. Menurut Feradis (2010), panjang corpus uteri pada
domba adalah 1 sampai 2 cm dan pada cornu uteri adalah 10 sampai 12
cm. Berdasarkan literatur tersebut diketahui bahwa panjang uterus baik

bagian cornu uteri maupun corpus uteri dalam keadaan tidak normal.
Faktor yang mempengaruhi perbedaan ukuran uterus adalah umur, berat
badan, dan bangsa.
Uterus digantung oleh ligamentum (mesometrium) yang bertaut pada
dinding ruang abdomen dan ruang pelvis. Uterus merupakan suatu
struktur saluran muskuler yang diperlukan untuk menerima ovum yang
telah dibuahi dan perkembangan zigot. Uterus terdiri atas cornu,
corpus, dan cervix. Proporsi relatif masing-masing bagian ini, bentuk dan
susunan cornu

uteri berbeda-beda

al., 2008). Utero

tubal

konstriksi sphincter akibat

dari

tiap

spesies

junction sebenarnya
tingginya

konsentrasi

(Widayati et
merupakan
sel

otot

sirkuler myometrium tuba falopii yang memisahkan bagian ujung cornue


uteridengan awal tuba falopii. Hubungan ini muncul sebagai papila dalam
endometrium,memisahkan

bagian

akhir

dari cornue

uteri dengan

awal tuba falopii. Ovum yang telah difertilisasi akan melewati utero tubal
junction untuk selanjutnya berimplantasi (Moret dalam Jamalia, 2006).
Uterus babi tergolong uterus bicornus dengan cornu yang sangat panjang
tetapi corpusyang sangat pendek. Hal ini merupakan suatu penyesuaian
anatomik untuk keberhasilan produksi anak dalam jumlah banyak. Sapi,
domba, dan kuda, dengan uterus yang tergolong uterus bipartitus,
terdapat

suatu

dinding

penyekat

(septum)

yang

memisahkan

kedua cornu dan corpus uteri yang cukup panjang (Paling besar pada
kuda). Pada sapi dara setiap cornu membentuk satu putaran spiral
lengkap, sedangkan pada sapi-sapi pluripara (sudah sering beranak)
spiral tersebut sering hanya mencapai setengah putaran (Feradis, 2010).
Menurut Widayati et al. (2008), uterus bicornus adalahcornu uterus sangat
panjang

tetapi corpus sangat

bipartitus terdapat

satu

kedua cornu dan corpusuteri

pendek,

dinding
cukup

contoh

penyekat
panjang.

pada
yang
Pada

babi. Uterus
memisahkan
sapi

dara

setiap cornu uteri membentuk satu putaran spiral lengkap, sedangkan

pada

sapi-sapi pluripara spiral

tersebut

hanya

mencapai

setengah

putaran. Uterus duplex terdapat dinding penyekat pada cervixnya. Pada


tikus, kelinci, marmot dan binatang kecil lainnya. Uterus simplex berbentuk
seperti buah pir, contohnya pada manusia dan primata.
Plasenta adalah suatu alat yang berfungsi untuk menyelenggarakan
pertukaran bahan-bahan secara timbal balik antara induk dan fetus,
disamping bekerja sebagai kelenjar endokrin. Menurut anatomi atau
bentuknya,

plasenta

plasenta diffusa terdapat

dibagi
pada

menjadi
kuda

dan

macam

babi,

hampir

yaitu
seluruh

permukaan chorion dan endometrium uterus bersama-sama membentuk


plasenta,

kecuali

bagian-bagian

apekchorion yang

berbatasan

dengan chorion dari fetus babi di sebelahnya


Cervix
Cervix adalah suatu struktur berupa sphincter yang menonjol ke
caudal ke dalam vagina. Ia dikenal dari dindingnya yang tebal dan lumen
yang merapat. Walaupun struktur cervix berbeda-beda antara ternakternak ruminansia, dindingnya ditandai oleh berbagai penonjolanpenonjolan. Pada ruminansia, penonjolan ini terdapat dalam bentuk
lereng-lereng transversal dan saling menyilang, disebut cincin-cincin
anuler yang berkembang sampai derajat yang berbeda pada berbagai
spesies. Cincin ini sangat nyata pada sapi (biasanya 4 buat) dan pada
domba, yang dapat menutup rapat cervix secara sempurna. Cincin pada
babi tersebut tersusun dalam bentuk sekrup pembuka botol yang
disesuaikan dengan perputaran spiralis jung penis babi jantan.Cervix kuda
terdapat lipatan-lipatan mucosa yang nyata dengan penonjolannya yang
memanjang ke dalam vagina (Feradis, 2010).
Berdasarkan

data

hasil

pengamatan

diketahui

bahwa cervix domba ekor tipis yang diamati memiliki panjang 4,8 cm dan

lebar 1,2 cm. Kondisi dari portio uteri adalah menutup yang menunjukkan
bahwa domba tersebut sedang dalam keadaan tidak estrus. Menurut
Feradis (2010), domba memiliki cervix dengan panjang 4 sampai 10 cm
dan diameter luar atau lebar adalah 2 sampai 3 cm. Berdasarkan literatur
tersebut diketahui bahwa cervix dari domba ekor tipis tersebut dalam
keadaan normal.
Cervix berfungsi sebagai otot penutup uterus pada hewan betina
yang sedang bunting. Pada permukaan dalam cervix terdapat saluran
yang disebut canalis cervicalis. Pada bagian depan terdapat mulut
sebelah

dalam

(orificium

uteri

internum),

sedang

pada

bagian

belakangnya terdapat mulut sebelah luar (orificium uteri externum) atau


sering juga disebut sebagai mulut vagina (orificium vaginae) karena
bekerja sebagai pintu ke vagina. Ke arah vagina ada bagian cervix yang
menjulur keluar, kecuali pada babi, disebut portio vaginalis uteri. Bentuk
mukosanya bervariasi tergantung kepada spesies hewannya. Cairan
lendir yang bening dikeluarkan pada waktu birahi, atau waktu melahirkan
dan setelahnya, menyebabkan saluran cervix menjadi lebih licin dan
terbuka. Sebaliknya, pada waktu di luar masa birahi atau pada waktu
bunting, cervixmenghasilkan lendir yang kental, menutup salurannya
sehingga

membuat cervixtertutup

saluran cervixs diwaktu

birahi

dan

rapat.

melahirkan

Pelebaran

merupakan

proses

kompleks yang terjadi karena dirangsang secara neuro hormonal,


sebagian berlangsung pasif dan sebagian yang lain aktif (Hardjopranjoto,
1995). Cervix berfungsi

untuk

mencegah

benda-benda

asing

atau

mikroorganisme memasuki lumen uterus.Cervix tertutup rapat kecuali


selama estrus, pada waktu dimana terjadi relaksasi dan sperma
dimungkinkan memasuki utrerus. Mucus dilepaskan dari cervix dan
dikeluarkan melalui vulva. Selama kebuntingan sejumlah besar mucus
tebal

disekresikan

oleh

sel-sel goblet

cervixyang

menutup

atau

menyumbat mati canalis cervicalis sehingga menghambat pemasukan

materi infectious.
sebelum

partus.

Waktu

lain

Pada

dimana cervix terbuka


waktu

ini

adalah

sesaat

penyumbat cervix mencair

dan cervixmengembang (dilatasi) untuk memungkinkan pengeluaran fetus


dan selaput-selaputnya (Feradis, 2010).
Vagina
Vagina adalah bagian saluran peranakan yang terletak di dalam
pelvis di antara uterus (arah cranial) dan vulva (caudal). Vagina juga
berperan sebagai selaput yang menerima penis dari hewan jantan pada
saat kopulasi (Frandson, 1992). Vagina adalah organ kelamin betina
dengan struktur selubung muskuler yang terletak di dalam rongga pelvis
dorsal dari vesica urinaria dan berfungsi sebagai alat kopulatoris dan
sebagai tempat berlalu bagi fetus sewaktu partus (Feradis, 2010). Vagina
memiliki fungsi sebagai alat kopulasi dan tempat semen dideposisikan
(pada ruminansia), saluran keluar dari cervix, uterus, dan oviduct, dan
jalan peranakan selama proses beranak (Widayati et al., 2008).
Vagina terletak di bagian belakang dari rongga pelvis sebelah atas
dari kantong kencing. Pada waktu melahirkan rongga vagina dapat
meluas dan membesar sesuai dengan besar fetus yang akan dilahirkan
(Hardjopranjoto, 1995). Vagina berbentuk pipa, berdinding tipis dan
elastis. Lapisan luar berupa tunika serosa yang diikuti oleh lapisan otot
polos yang mengandung serabut otot longitudinal dan sirkular. Lapisan
mukosa umumnya terbentuk dari stratified squamous epithelial cells. Sel
epitel ini berubah menjadi sel yang tanpa nukleus karena pengaruh
estrogen. Membran mukosa vagina terdiri dari sel kelenjar dan sel bersilia.
Sel kelenjarnya sangat sedikit yaitu hanya pada bagian depan. Sel
kelenjar ini menghasilkan lendir yang berfungsi sebagai lubrikasi dan
melindungi terjadinya aberasi pada saat kopulasi (Widayati et al., 2008).
Menurut Widayati et al. (2008), ukuran vagina bervariasi tergantung pada
jenis hewan, umur, dan frekuensi melahirkan (semakin sering melahirkan,

maka vagina semakin lebar). Veagina terdiri dari dua bagian, yaitu portio
vaginalis cervices (bagian yang dekatcervix) dan vestibulum.
Bagian depan dari vagina mencakup portio vaginalis uteri dan
permuaraan luar uterus dinamakan fornix vaginae. Dindingnya tipis terdiri
dari otot licin, lumennya diseliputi oleh selaput mukosa yang berlipat-lipat,
tanpa kelenjar, di mana lapisan mukosanya memperlihatkan berbagai
keadaan yang secara fungsional tergantung kepada fase dari siklus
birahinya

(Hardjopranjoto,

1995).

Legokan

yang

dibentuk

oleh

penonjolan cervix ke dalam vagina disebut fornix. Ia dapat membentuk


suatu lingkaran penuh sekeliling cervix seperti pada kuda atau atau tidak
ada sama sekali seperti pada babi. Suatu fornix dorsal dapat ditemukan
pada sapi dan domba (Feradis, 2010). Fornix vaginae adalah suatu sudut
atau

refleksi,

yang

dibentuk

oleh

proyeksi

pelvis

ke

dalam

vagina. Fornix dapat berbentuk lingkaran lengkap di sekitar cervix seperti


pada kuda betina atau dapat juga tidak ada sama sekali, seperti pada
babi, dimana ujung caudalcervix bersambung dengan vagina. Pada sapi,
domba

dan

kambing,

hanya fornix dorsalsaja

yang

nampak

jelas

eksterna,

yang

terdiri

(Frandson, 1992).
Vulva
Vulva

merupakan

organ

genitalia

dari vestibulum dan labia.Vestibulum merupakan bagian dari saluran


kelamin

betina

yang

berfungsi

urinaria. Vestibulum bergabung

dengan

sebagai
vagina

saluran

reproduksi

pada orifice

urethra

externa. Vulva dapat menjadi tegang karena bertambahnya volume darah


yang mengalir ke dalamnya (Widayati et al., 2008). Vulva (pedundum
femininum) adalah bagian eksternal dari genitalia betina yang terentang
dari vagina sampai ke bagian yang paling luar. Pertautan antara vagina
dan vulva ditandai oleh orifice urethra externadan sering juga oleh suatu
pematang,

pada

posisi cranial terhadap orifice

urethra

externa, yaitu hymen vestigial. Seringkali hymen tersebut demikian rapat


hingga mempengaruhi kopulasi. Vestibulum vagna adalah bagian tubular
dari

saluran

reproduksi

antara

vagina

dan

labia

vulva.

Umumnya vestibulum dianggap sebagai bagian vulva, tetapi N.A.V.


(Nomina Anatomika Veterinaria) mencatatnya sebagai bagian terpisah
baik dari vagina maupun vulva (Frandson, 1992).

Berdasarkan data

hasil praktikum diperoleh data bahwa panjang vulva dari domba ekor tipis
tersebut sepanjang 0,7 cm, vestibulum sepanjang 2 cm, dan portio
vaginales cervices sepanjang 5 cm. menurut Hardjopranjoto (1995),
panjang vulva domba adalah 3 sampai 4 cm, dan menurut Feradis (2010),
panjang vestibulum domba adalah 2,5 sampai 3 cm. Berdasarkan literatur
tersebut diketahui bahwa vulva dan vestibulum dari domba tersebut
berada di bawah kisaran normal.
Labia terdiri atas labia mayora (lipatan luar vulva) dan labia minora
(lipatan dalam vulva). Labia minora homolog dengan preputium pada
hewan jantan dan tidak menyolok pada hewan ternak. Labia mayora
homolog dengan skrotum pada hewan jantan (Widayati et al., 2008). Dari
luar terlihat kedua bibir vulva (labia vulva) yang bersatu membentuk celah
atas (commissura dorsalis) dan celah bawah (commissura ventralis). Bibir
vulva yang berambut halus sebenarnya adalah penebalan kulit, dapat
berpigmen atau dapat juga tidak, tergantung spesiesnya. Di bawah kulit
terdapat lapisan lemak di samping beberapa urat daging melingkar
(circulair) yang bekerja sebagai sphincter, yang dapat menutup saluran
vulva dari dunia luar. Lapisan dalam bibir vulva berubah menjadi selaput
lendir kutan dengan anus terdapat perineum, yaitu kulit yang terdiri dari
jaringan ikat dan urat daging yang dapat sobek atau rusak pada waktu
kelahiran yang berat (Hardjopranjoto, 1995).
Clitoris

Clitoris homolog dengan glans penis pada hewan jantan, berlokasi


pada sisi ventral, sekitar 1 cm di dalam labia. Clitoris mengandung erectile
tissue sehingga dapat berereksi. Juga banyak mengandung ujung syaraf
perasa,

syaraf

ini

memegang

peranan

penting

pada

waktu

kopulasi. Clitoris bereaksi pada hewan yang sedang estrus, tetapi hal ini
tidak cukup untuk dijadikan sebagai pendeteksi estrus pada kebanyakan
spesies (Widayati et al. 2008). Komisura ventral (bagian paling bawah)
dari

vulva

terdapatclitoris yang

merupakan

organ

yang

asal-usul

embrionalnya sama dengan penis pada hewan jantan. Clitoris terdiri atas
dua krura atau akar, badan dan kepala (glans). Clitoristerdiri dari jaringan
erektil yang tertutup oleh epitel skuamus berstrata dan dengan sempurna
memperoleh inervasi dari ujung-ujung saraf sensoris (Frandson, 1992).
Clitoris terletak pada bagian belakang dari celah bawah vulva.
Bentk dan sifatnya menunjukkan persamaan dengan penis. Kebanyakan
hewan, clitoris panjangnya 5 sampai 10 cm, tetapi semuanya tersembunyi
dalam rongga antara kedua bibir vulva. Bibir vulva biasanya tertutup rapat
karena otot spinchter, sehingga tidak menguak (Hardjopranjoto, 1995).
Kebanyakan ternak memiliki clitoris berukuran panjang kira-kira 5 sampai
10 cm, tetapi seluruhnya praktis tersembunyi di dalam jaringan antara
vulva dan arcus ischiadieus. Clitoris terdiri dari jaringan erektil yang
diselubungi oleh epitel skuamus bersusun dan mengandung cukup
banyak ujung-ujung syaraf sensoris. Sebagian terbesar clitoris pada sapi
terkubur di dalam mukosa vestibulum. Clitoris pada kuda berkembang
baik, sedangkan pada babi berbentuk panjang dan berkelok berakhir pada
suatu titik atau puncak kecil (Feradis, 2010).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum yang kemudian dibandingkan dengan


literatur

diperoleh

kesimpulan

bahwa

ovarium,

cervix,

vagina

dan clitoris pada keadaan normal sedangkan oviduct, uterus dan vulva
dalam keadaan tidak normal. Ketidaknormalan ini dapat dikarenakan
faktor jenis, umur, siklus reproduksi, aktivitas, dan jenis pakan.
Fungsi-fungsi dari masing-masing alat reproduksi betina tersebut
antara

lain

ovarium

berfungsi

sebagai

penghasil

hormon

estrogen, progesteron, inhibin, dan memproduksi ovum. Oviduct berfungsi


sebagai transpor spermatozoa dari uterus menuju ampulla, tempat
pertemuan ovum dengan spermatozoon (fertilisasi), tempat terjadinya
proses kapasitasi spermatozoa, memproduksi cairan, dan transpor ovum
yang telah dibuahi. Uterus berfungsi sebagai saluran yang dilewati
spermatozoa

menuju oviduct, tempat

implantasi

embrio,

tempat

pertumbuhan dan perkembangan embrio, berperan dalam proses


kelahiran, dan pada hewan betina yang tidak bunting berfungsi mengatur
siklus estrus. Cervix berfungsi sebagai penutup lumen sehingga tidak
memberi kemungkinan untuk masuknya jasad remik kedalam uterus, dan
tempat reservoir spermatozoa. Vagina berfungsi sebagai alat kopulasi dan
tempat sperma dideposisikan pada saat perkawinan alami, merupakan
saluran keluar sekresi cervix, uterus, oviduct, dan jalan peranakan selama
proses beranak. Clitoris berperan penting pada waktu kopulasi.

DAFTAR PUSTAKA

Agustini, K., Sumali W., dan Dadang K. 2007. Pengaruh Pemberian


Ekstrak

Biji

Klabet

(Trigonella

foenum-graecum L.)

terhadap

Perkembangan Uterus Tikus Putih Betina Galur Wistar Prepubertal.


Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 9 No. 1. Hlm. 8-16.
Blakely, J., and D.H. Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
Dellmann, H. Dieter and Etsher M. Brown. 1992. Buku Teks Histologi
Veteriner II. Universitas Indonesia press. Jakarta.
Farrer, H. 1996. Perawatan Maternitas. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta.
Feradis. 2010. Reproduksi Ternak. Alfabeta. Bandung.
Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Edisi Keempat.
Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Hardjopranjoto, S. 1995. Ilmu Kemajiran Ternak. Airlangga University
Press. Surabaya.
Jamalia, R. 2006. Kajian Karakteristik Anatomi dan Morfometri Reproduksi
Betina Kuda Lokal Indonesia. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Lewis, A.

W.,

J.

G.

Berardinelli.

2001.

Gross Anatomical

and

Histomorphometric Characteristics of The Oviduct and Uterus During

The Pubertal Transition in Sheep. Department of Animal and Range


Sciences, Montana State University, Bozeman 59717-2900.
Pearce, E.C. 1995. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis. Penerbit
Buku Kesehatan EGC. Jakarta.
Widayati, D.T, Kustono., Ismaya., S. Bintara. 2008. Ilmu Reproduksi
Ternak. Fakultas Peternakan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Yusuf, M. 2012. Buku Ajar Ilmu Reproduksi Ternak. Fakultas Peternakan
Universitas Hasanuddin. Makassar.
Yuwanta, T. 2004. Dasar-dasar Ternak Unggas. Penerbit Kanisius.
Yogyakarta.

LAPORAN PRAKTIKUM
ILMU REPRODUKSI TERNAK
ACARA I
ANATOMI ORGAN REPRODUKSI BETINA

Disusun oleh :
Ananda Restu Prasetya
15/378383/PT/06874
Kelompok XXIII

Asisten : Tio Ramadhan Prabowo

LABORATORIUM FISIOLOGI DAN REPRODUKSI TERNAK


DEPARTEMEN PEMULIAAN DAN REPRODUKSI TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA