Anda di halaman 1dari 5

Sufisme: Merambah Kota Mengikat Umat

Majalah Gatra, Nomor 46/VI, 30 September 2000.

Minat masyarakat perkotaan untuk mengkaji dan mengamalkan ajaran sufi makin marak. Ada
yang memasuki tarekat tertentu. Ada yang menyukai wirid-wirid pendek. Silakan pilih.

DALAM dasawarsa terakhir ini, komunitas sufi mewarnai kehidupan perkotaan. Tak sedikit dari
kalangan eksekutif dan selebriti menjadi peserta kursus atau terlibat dalam suatu komunitas
tarekat tertentu. Alasan mereka mencebur ke sana memang beraneka ragam. Misalnya, mengejar
ketenangan batin atau demi menyelaraskan kehidupan yang gamang.

Gerakan bersufi-ria itu terekam dari kegiatan diskusi serta seminar yang bertemakan tasawuf.
Jumat malam dua pekan lalu, misalnya, kala “membedah” pemikiran Jalaluddin Rumi di Hotel
Regent Jakarta, pesertanya membludak. Anand Krishna, Dr. Mulyadhi Kartanegara, dan Prof.
Nurcholish Madjid hadir sebagai pembicara. Panitia yang menyediakan tempat duduk 250-an tak
mampu menampung pengunjung yang sekitar 400 orang. Mereka pun rela duduk di lantai atau
berdiri berimpitan.

Situasi serupa terjadi pada 25 Februari lalu, kala Annemarie Schimmel berbicara tentang sufisme
di Perpustakaan Nasional, Jalan Salemba, Jakarta Pusat. Guru besar kultur indo-Islam dari
Universitas Harvard, Amerika Serikat, itu seolah menyihir ratusan peserta diskusi untuk tak
beranjak dari tempat duduknya hingga acara usai.

Bukan hanya kursus, diskusi, atau seminar yang diminati banyak peserta. Buku-buku terbitan
Mizan (Bandung), Pustaka Progressife (Surabaya), serta Paramadina dan Gramedia -keduanya di
Jakarta- yang berkaitan dengan tasawuf selalu laris manis. Pembaca seakan tetap diburu
kehausan, kendati sudah dijejali berbagai bacaan tasawuf.

Tak mengherankan jika Sufi -majalah bulanan yang terbit sejak Mei lalu- dalam waktu singkat
bisa bertiras 20.000 eksemplar. “Dari nomor ke nomor, tirasnya terus bertambah,” kata
Mohammad Luqman Hakiem, Kepala Editor Sufi, kepada Gatra. “Para pelanggannya justru
banyak dari mereka yang berkantor di Jalan Sudirman, Thamrin, dan Rasuna Said,” Amal
Alghozali, Pemimpin Perusahaan Sufi, menimpali.

Itu pula sebabnya, gejala “sufisme kota” di Indonesia menarik diteliti. Dua perguruan tinggi
Indonesia dan Australia pun bekerja sama untuk mengadakan penelitian. Selama dua hari, 8-9
September lalu, berlangsung research workshop antara IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, dan
Universitas Griffith Brisbane, Australia.

Acara yang berlangsung di lantai III Gedung Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat, IAIN
Jakarta, ini menghadirkan sejumlah pakar tasawuf (Jalaluddin Rakhmat, Azyumardi Azra,
Komaruddin Hidayat, Kautsar Azhari Noor, Moeslim Abdurrahman, dan Julia D. Howell).
Mereka berdiskusi dan merancang desain penelitian tentang peta model-model sufisme perkotaan
di Indonesia.
Secara antropologis, sufisme kota dikenal sebagai trend baru di Indonesia sepanjang dua dekade
ini. Sebelumnya, sufisme lebih dikenal sebagai gejala beragama di pedesaan. Sufisme kota, kata
Moeslim Abdurrahman, bisa terjadi minimal karena dua hal.

Pertama, hijrahnya para pengamal tasawuf dari desa ke kota, lalu membentuk jamaah atau kursus
tasawuf. Kedua, sejumlah orang kota “bermasalah” tengah mencari ketenangan ke pusat-pusat
tasawuf di desa. Adapun sufisme secara sederhana didefinisikan sebagai gejala minat masyarakat
pada tasawuf. Sufisme adalah istilah yang populer dalam literatur Barat (sufism), sedangkan
dalam literatur Arab dan Indonesia hingga 1980-an adalah “tasawuf”.

Direktur Tazkiya Sejati, Jalaluddin Rakhmat, berpendapat bahwa sufisme diminati masyarakat
kota sebagai alternatif terhadap bentuk-bentuk keagamaan yang kaku. “Sufisme juga menjadi
jalan untuk pembebasan,” katanya.

Adalah Azyumardi Azra, Rektor IAIN Jakarta, yang memetakan dua model utama sufisme
masyarakat kota dewasa ini. Pertama, sufisme kontemporer -biasanya berciri longgar dan terbuka
(siapa pun bisa masuk)- yang aktivitasnya tidak menjiplak model sufi sebelumnya. Model ini
dapat dilihat dalam kelompok-kelompok pengajian “eksekutif”, seperti Paramadina, Tazkiya
Sejati, Grand Wijaya, dan IIMaN. Model ini pula yang berkembang di kampus-kampus
perguruan tinggi umum.

Kedua, sufisme konvensional. Yaitu gaya sufisme yang pernah ada sebelumnya dan kini diminati
kembali. Model ini ada yang berbentuk tarekat (Qadiriyah wa-Naqsabandiyah, Syatariyah,
Syadziliyah, dan lain-lain), ada juga yang nontarekat (banyak dianut kalangan Muhammadiyah
yang merujuk pada tasawuf Buya Hamka dan Syekh Khatib al-Minangkabawi).

Di kalangan elite di Jakarta, selain Paramadina, Tazkiya Sejati, dan IIMaN, juga ada kelompok
pengajian Grand Wijaya yang berlokasi di daerah Melawai, Jakarta Selatan. Diasuh oleh Asep
Usman Ismail, MA, dengan jumlah peserta mencapai 30 orang, dari kalangan menengah-atas.
Pendidikan mereka minimal sarjana, bahkan ada beberapa yang lulusan S-2 atau S-3. Mereka
bekerja di sektor pemerintah atau badan usaha milik negara. Banyak juga pensiunan. Ada mantan
Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai, mantan pejabat eselon II di Departemen Keuangan, dan
mantan pengacara. Ibu rumah tangga juga tak sedikit.

Sementara itu, di Jalan Gaharu I Nomor 9, Cipete, Jakarta Selatan, tak kurang dari 100 jamaah
berpakaian putih (dilarang berpakaian merah) setiap malam memadati rumah berlantai dua milik
Haji Bambang Widiarsono, 53 tahun. Mereka adalah jamaah Majlis Tasbih, kelompok tasawuf
yang tiap malam melakukan zikir dan doa sehabis salat magrib dan isya. Khusus untuk malam
Jumat, jamaahnya mencapai 300 orang. Selain berzikir, mereka juga melakukan salat tasbih dua
rakaat.

Jamaah yang menjadi anggota majlis ini adalah mereka yang pernah berkonsultasi untuk
penyembuhan penyakit yang dideritanya. Mereka mendapat terapi penyembuhan melalui zikir
sehabis salat isya. “Lamanya zikir tergantung tingkat masalah dihadapi pasien,” ujar Bambang.
“Kalau yang ringan, cukup mengikuti zikir selama seminggu, sedangkan yang berat bisa sampai
40 hari,” ujarnya. Selagi berdoa dan berzikir, mereka dibimbing seorang imam.
Di kalangan mahasiswa, antara lain, ada Forum Kajian Tazkiyatun Nafs Universitas Indonesia
(FKTN-UI). Ini forum pengajian terstruktur Islam dengan pendekatan tasawuf. Tujuannya,
memberi pemahaman pengetahuan bertobat, pengetahuan membersihkan hati dan jiwa, serta
pengetahuan tentang jalan menuju Allah. Setelah mengikuti kajian, peserta diharapkan menjadi
lebih sadar tentang dirinya dan tugasnya di dunia.

“Forum ini tidak mengikat dan tidak mengarahkan peserta ke dalam jamaah apa pun serta ordo
tarekat mana pun,” kata Herry Mardianto, 26 tahun, salah seorang pendiri FKTN-UI. Setelah
materi pengajian selesai, peserta dibebaskan berpencar mencari jalan masing-masing, dengan
harapan menjadi lebih tergugah untuk memperbaiki diri dan memulai hidupnya dengan lebih
Islami secara menyeluruh.

Di Bandung, ada Paramartha International Centre for Tashawwuf Studies (PICTS), yang
bermarkas di Jalan Dago Pojok 37E/161B. PICTS adalah satu divisi di bawah Yayasan Islam
Paramartha, yang khusus bergerak dalam kajian tasawuf. Khazanah tasawuf bertebaran di
berbagai pelosok dunia Islam bak mutiara terpendam. Kekayaan ini menunggu diangkat,
ditelaah, dan diintegrasikan satu sama lain agar membentuk kalung mutiara, yang bisa dinikmati
dan didudukkan dalam konteks Islam yang semestinya. Itulah obsesi PICTS.

Maka, PICTS mencoba mengangkat khazanah tasawuf Indonesia ke tataran internasional.


Khazanah Bhagdadi (Timur Tengah), yang selama ini mendominasi kajian tasawuf, dirasa makin
lengkap bila ditautkan padanya berbagai mutiara lain yang selama ini “terpinggirkan”, seperti
halnya khazanah tasawuf di Tanah Air.

Di Makassar, Sulawesi Selatan, ada Forum Kajian Tasawuf Makassar dengan nama kajian
“Serambi Suluk”. Menurut Imam Suhadi, mentor forum kajian itu, umumnya peserta yang
memasuki forum kajian ini merasakan bahwa ajaran agama yang mereka peroleh terasa kering.
“Mereka merasa kering dengan ritualitas-ritualitas keagamaan yang mereka tak mengerti visi dan
tahapannya,” kata Imam kepada Zaenal Dalle dari Gatra. Jumlah anggotanya sekitar 30 orang.

Karena itu, kajian Serambi Suluk mempunyai beberapa tujuan, antara lain membuka wawasan
dalam memandang ad-dien Islam dalam perspektif tasawuf, dan menuntun para pencari jalan
menuju Allah Ta’ala. Sesuai dengan namanya, Serambi Suluk, menurut Imam, bermakna
persiapan untuk berjalan menuju Allah Ta’ala.

Ada beberapa aktivitas yang dilakukan Forum Kajian Tasawuf Makassar, antara lain melakukan
kajian darat Serambi Suluk setiap Sabtu dan Minggu, diskusi virtual melalui mailing list
suluk@egroups.com, memublikasikan kajian-kajian melalui internet dengan alamat
http://suluk.paramartha.org. Forum kajian ini, pekan lalu, meluncurkan jurnal dwimingguan,
Risalah Taubat.

Bila ditilik dari jumlah pengikutnya, tarekat terbesar di Indonesia adalah Qadiriyah wa-
Naqsabandiyah (TQN). Tarekat inilah yang akhir-akhir ini kian menarik perhatian masyarakat
Jakarta. Saat ini, lokasi pembacaan manakib (biografi Abdul Qadir Jailani) dan khataman TQN
tak kurang dari 110 tempat di Jakarta.
Dalam semalam, minimal ada tiga tempat untuk manakiban dan khataman. Mereka dibimbing
sekitar 30 mubalig. Sesepuh TQN se-Jakarta dan sekitarnya adalah KH Abdul Rosyid Effendy,
61 tahun. Jumlah jamaah TQN se-Jakarta sekitar satu juta orang. Se-Indonesia sekitar tiga juta
orang. Dalam tiap malam, manakiban di Jakarta, kata Rosyid, kini diikuti 20-30 orang baru.

Pengikut TQN tidak hanya kelas atas, melainkan dari semua lapisan, termasuk kelas bawah.
Menurut Ketua Wilayah TQN Jakarta Utara, Maksum Saputra, ikhwan-ikhwan (anggota) TQN
di wilayahnya banyak dari kalangan nelayan dan penjual ikan. Di Ciputat, Jakarta Selatan, antara
lain diikuti pengusaha kerupuk dan kondektur bus. Di samping itu, banyak juga mantan menteri,
artis, pengusaha, dan pejabat tinggi negara yang bersedia dibaiat menjadi jamaah TQN.

Menurut Rosyid, yang sejak 1994 diangkat sebagai Wakil Talqin (Khalifatul Mursyid) Abah
Anom -yang bermukim di Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat- di Jakarta ini, masuk TQN tidak
sulit. Cukup mengikuti acara manakiban, lalu diberi pengarahan sekitar setengah jam, ditalkin
zikir sekitar lima menit, dan dibaiat. Baiat berisi janji setia pada Tuhan untuk menjalani amalan
dalam TQN. Amalan itu intinya berisi zikir dzahir (bersuara) dan khafi (tak bersuara).

Di Jawa Timur, juga banyak aliran tarekat yang diserbu pengikut. Termasuk tarekat langka yang
lama tenggelam. Di Dukuh Selamet, Desa Wringin Anom, Kecamatan Tumpang, Malang, ada
tarekat Akmaliyah. Tarekat ini melanjutkan ajaran Syekh Siti Jenar, yang dipopulerkan Sultan
Hadiwijoyo (Joko Tingkir, Raja Pajang).

Tarekat Akmaliyah menganut paham teologi pembebasan. Bahwa setiap manusia berhak
bertemu Tuhannya. Tarekat ini tak mengangkat mursyid sebagaimana aliran lainnya. Hanya ada
semacam koordinator, dalam hal ini Kiai Ahmad, seorang petani biasa di Desa Wringin Anom
itu. Lelakunya ringan, jumlah zikirnya tak dibatasi bilangan, disesuaikan dengan kemampuan,
dan waktunya bebas.

Alumninya berjumlah ratusan. Antara lain Drs. Agus Sunyoto, MPd, 41 tahun. Dosen Sekolah
Tinggi Agama Islam Negeri Malang ini bergabung dengan tarekat Akmaliyah setahun lalu.
Tarikat ini tak mengenal pemondokan dan pembaiatan. Setelah berdiskusi dengan Kiai Amad
untuk meluruskan persepsi, jamaah bisa wiridan sendiri di rumahnya. “Tarekat ini cocok untuk
orang sibuk,” ujar Agus. Menurut dia, tarekat Akmaliyah mampu menghubungkan manusia
kepada roh Allah. “Akibatnya, hidup jadi lebih ringan,” katanya.

Asep Usman Ismail, kandidat doktor bidang tasawuf dari IAIN Jakarta, menilai bahwa tasawuf
model tarekat lebih diterima kalangan menengah ke bawah. “Sementara kalangan menengah ke
atas cenderung memilih tasawuf nontarekat,” tuturnya.

“Tasawuf yang diminati masyarakat kota jelas bukan model tarekat,” kata Asep. Mereka tidak
berorientasi pada tasawuf klasik, seperti model tarekat dengan segala riyadhah-nya (pelatihan).
“Itu tidak diminati, kecuali tarekat yang bisa menyesuaikan dengan suasana perkotaan,” ia
menambahkan.

Bentuknya tentu yang singkat, esensial, dan instan. Dunia tasawuf bagi masyarakat kota, masih
kata Asep, semacam obat gigi. “Saya resah, saya menemukan problem, saya stres, maka saya
belajar tasawuf agar memperoleh ketenangan,” ujar Asep, menirukan keluhan para pengikut
tarekat di kalangan perkotaan itu.

Asep juga menilai, dari lima komponen tarekat: mursyid, murid, wirid, tata tertib, dan tempat,
yang paling berat bagi masyarakat kota adalah wirid dan tata tertib. Adapun tata tertib yang
paling tidak masuk dalam logika orang modern adalah baiat kesetiaannya kepada guru. “Mereka
ingin bebas tanpa baiat, dan tak mau terjebak kultus,” kata Asep. Orang-orang kota juga tidak
berminat pada zikir yang panjang-panjang, apalagi harus berpuasa.

Nah, banyak jalan menuju sufisme, silakan Anda pilih yang sesuai dengan selera.***[]

(Herry Mohammad, Asrori S. Karni, Kholis Bahtiar Bakri, dan Mujib Rahman)

http://suluk.blogsome.com/2000/09/30/sufisme-merambah-kota-mengikat-
umat/