Anda di halaman 1dari 27

Pekan Ilmiah Tahunan Ikatan Dokter Indonesia Cabang Kota Bandung

Upcoming Challenges of Medical Profession in Asena Economic Community Era


2016

Informed Consent
Chevi Sayusman, dr., SpF
Sebagai dokter kita harus menilai apakah pasien/keluarga memiliki kapasitas dalam
memberikan keputusan yang relevan dan logis, jika pasien/keluarga tidak bisa maka kita
harus melakukan pengambilan keputusan dengan baik.

Kenapa diperlukan consent/persetujuan (the Philosphy)


Autonomy
Dalam bioetik kita mengenal autonomy pasien. Autonomy berasal dari bahasa Yunani
yang berarti mengatur sendiri. Salah satu konsep dasar autonomy adalah menentukan
sendiri (libertarian). Konsep ini pada prakteknya diartikan sebagai kemampuan seseorang
untuk berfikir, menentukan dan bertindak. Berkaitan dengan hal tersebut autonomous act
(kebebasan bertindak) yang merupakan salah satu turunan dari autonomy merupakan konsep
pengertian yang menghubungkan autonomy dengan consent.
Kebebasan menentukan sendiri dalam arti sempit adalah kebebasan termasuk dalam
melakukan tindakan yang tidak bermoral (liberal version). Kebebasan seperti ini tidak
membutuhkan nilai moral yang berkembang di masyarakat. Kebebasan seperti ini menyalahi
salah satu nilai autonomy berupa penghargaan terhadap seseorang, termasuk di dalamnya
dalam menentukan sendiri dan menjaga keselamatannya. Hal ini mencegah seseorang dari
keputusan yang membahayakan dirinya.
Konsep autonomy dengan pengertian yang lebih luas adalah autonomy sebagai
keputusan sendiri yang rasional. Keputusan rasional didasarkan kepada hasil/akhir yang baik
(good end). Dalam kaitannya dengan tubuh biologis manusia, good life berdasar kepada
fungsi biologis tubuh. Dalam kaitannya dengan constructivism (Ilmu sosial), good end
berkaitan dengan pemenuhan harapan/keinginan. Hasil akhir yang diharapkan tidak selalu
rasional/masuk akal.

Perbedaan konsep dasar dan pengertian tentang kebebasan dan moral akan terus
berlangsung dan saling mempengaruhi dalam kehidupan sehari-hari. Dari kedua pengertian
ini dikenal konsep universalisability. Apakah pendapat/keputusan seseorang (subjektif)
sejalan dengan pendapat orang lain (objektif)?, apakah keputusan seseorang dapat diterima
oleh lingkungan?. Universalisability berada diantara keputusan sendiri dan penerimaan dari
lingkungan.
Universaisability melahirkan autonomy as moral rational self-determination.
Pengertian ini merupakan kritik kepada pendapat kaum fatalis yang beranggapan bahwa
segala sesuatu tergantung kepada diri sendiri dan pengaruh lingkungan dalam bentuk
relationship hanya menghambat pembentukan identitas diri.
Dalam konteks kehidupan nyata, dalam membuat keputusan, seseorang harus
mempertimbangkan akibat dari keputusan yang diambil (paling tidak) dari orang lain yang
mempunyai hubungan dekat dengannya. Dalam kaitannya dengan pelayanan kesehatan,
aturan universal, tidak ada alasan untuk menolak nilai universal ini sebagai bagian dari
persetujuan yang diberikan oleh pasien.

Pengobatan bukan hanya soal membedah


Pengobatan pasien merupakan serangkaian cara/tindakan yang memerlukan kerjasama
antara dokter dengan pasien. Pengobatan hanya akan berjalan dengan baik apabila dokter
bekerja dengan sungguh-sungguh dan pasien memberikan persetujuan atas tindakan yang
dilakukan dokter.

Consent/persetujuan dari pasien diperlukan pada saat melakukan:


-

Pemeriksaan fisik

Pengambilan darah

Menyuntik

Melakukan pemeriksaan dengan radiasi

Mengobati pasien

Pasien adalah individu yang berkuasa atas dirinya. Intervensi terhadap kekuasaan tersebut
hanya dapat dilakukan atas ijin pasien yang bersangkutan. Tugas seorang dokter adalah
memberikan saran yang baik dan pasien memiliki hak untuk menerima atau menolak saran
dari dokter. Saran yang baik belum tentu merupakan pilihan terbaik menurut pasien. Saran
yang baik hanya akan dapat diterima pasien apabila saran tersebut sesuai dengan apa yang

diyakini pasien merupakan pilihan terbaik atas dirinya. Pilihan terbaik ini didasarkan atas
latar belakang, pengalaman dan pemahaman pasien sebelumnya. Saran dari dokter hanya
sebagian usaha dalam memberikan pemahaman pasien. Saran ini dapat memperkuat
pemahaman pasien sebelumnya atau mungkin juga bertolak belakang dengan pemahaman
pasien. Karena hal tersebut, maka tidak pada tempatnya apabila dokter menganggap pasien
harus selalu menerima saran dari dokter. Pasien berkuasa penuh dalam menentukan pilihan
dan memutuskan pengobatan.

Prinsip Legal
Tuntutan pasien kepada dokter biasanya terkait dengan pembiaran dan berkaitan dengan
diskusi/komunikasi consent yang kurang baik/tidak cukup/tidak memadai. Masalahanya
adalah apa yang dimaksud dengan penjelasan yang cukup/memadai. Kadang dokter merasa
sudah cukup memberikan penjelasan sementara pasien belum sepenuhnya mengerti
penjelasan yang diberikan dokter.
Untuk memberikan suatu penjelasan yang dianggap cukup/memadai dibutuhkan proses
atau tahapan yang baik. cukup/memadai tidaknya penjelasan ditandai dengan istilah
reasonable patient. Reasonable patient hanya bisa dicapai apabila pasien dalam keadaan
siap mendengarkan penjelasan sebelum memberikan persetujuan. Keadaan ini hanya dapat
difahami dengan keterampilan komunikasi yang baik.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan


Pasal 8
Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data kesehatan dirinya termasuk tindakan
dan pengobatan yang telah maupun yang akan diterimanya dari tenaga kesehatan.

Pasal 56
(1) Setiap orang berhak menerima atau menolak sebagian atau seluruh tindakan pertolongan
yang akan diberikan kepadanya setelah menerima dan memahami informasi mengenai
tindakan tersebut secara lengkap.
(2) Hak menerima atau menolak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku pada:
a. penderita penyakit yang penyakitnya dapat secara cepat menular ke dalam masyarakat
yang lebih luas;
b. keadaan seseorang yang tidak sadarkan diri; atau
c. gangguan mental berat.

(3) Ketentuan mengenai hak menerima atau menolak sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Undang-Undang Republik Indonesia nomor 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran


Pasal 52
Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai hak:
a. mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 45 ayat (3);
b. meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain;
c. mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis;
d. menolak tindakan medis; dan
e. mendapatkan isi rekam medis.

Persetujuan yg dinyatakan dan persetujuan tersirat


Dalam praktek kedokteran pemeriksaan pasien lebih banyak dilakukan dengan
persetujuan tersirat. Persetujuan tersirat tampak dari kesediaan pasien menceritakan
keluhannya, menjawab

pertanyaan, atau kerelaan/tidak menolak

untuk

dilakukan

pemeriksaan. Dalam praktek kedokteran persetujuan tidak selalu harus berupa persetujuan
lisan ataupun tertulis.
Persetujuan yang dinyatakan dapat berupa lisan atau tertulis. Biasanya persetujuan ini
diperlukan pada tindakan invasif dan berisiko tinggi.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 290/Menkes/PER/III/2008


Tentang persetujuan tindakan kedokteran
Pasal 1 angka 4
Tindakan Invasif adalah suatu tindakan medis yang langsung dapat mempengaruhi keutuhan
jaringan tubuh pasien.

Pasal 1 angka 5
Tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi adalah tindakan medis yang
berdasarkan tingkat probabilitas tertentu, dapat mengakibatkan kematian atau kecacatan.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan

Pasal 5
(3) Setiap orang berhak secara mandiri dan bertanggung jawab menentukan sendiri pelayanan
kesehatan yang diperlukan bagi dirinya.

Undang-Undang Republik Indonesia nomor 44 tahun 2009 tentang rumah sakit


Pasal 32
j. mendapat

informasi yang meliputi

diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan

tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan
prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan;
k. memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan oleh tenaga
kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya;
Pasal 37
(1) Setiap tindakan kedokteran yang dilakukan di Rumah Sakit harus mendapat persetujuan
pasien atau keluarganya.
(2) Ketentuan mengenai persetujuan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Undang-Undang Republik Indonesia nomor 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran


Pasal 45
(1) Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau
dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan.
(2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien mendapat
penjelasan secara lengkap.
(3) Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya mencakup :
a. diagnosis dan tata cara tindakan medis;
b. tujuan tindakan medis yang dilakukan;
c. alternatif tindakan lain dan risikonya;
d. risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan
e. prognosis terhadap tindakan yang dilakukan.
(4) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan baik secara tertulis
maupun lisan.
(5) Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang mengandung risiko tinggi harus
diberikan dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan
persetujuan.

(6) Ketentuan mengenai tata cara persetujuan tindakan kedokteran atau kedokteran gigi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) diatur
dengan Peraturan Menteri.

Pernyataan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tentang Informed Consent dalam lampiran
SKB IDI No. 319 /P/BA/88
butir 33
Setiap tindakan medis yang mengandung resiko cukup besar mengharuskan adanya
persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh pasien, setelah sebelumnya pasien itu
memperoleh informasi yang cukup kuat tentang perlunya tindakan medis yang bersangkutan
serta resiko yang bersangkutan dengannya.

Tiga hal penting dalam memberikan persetujuan


Suatu persetujuan dikatakan sah apabila:
1. Sukarela
2. Pasien memiliki kapasitas mental untuk memberikan persetujuan
3. Pasien mendapat penjelasan yang cukup

1. Sukarela
-

Pasien harus mempunyai kebebasan dalam memberikan persetujuan atau menolak


pengobatan.

Persetujuan tidak boleh dengan paksaan atau kekerasan

2. Kapasitas/kemampuan untuk memberikan persetujuan


Pasien dianggap mampu untuk memberikan persetujuan apabila pasien mengerti
-

sifat dari pemeriksaan atau pengobatan

efek dari pengobatan dan alternatif pengobatan yang diusulkan

konsekuensi penolakan pengobatan


seorang dokter seharusnya membuat pasien merasa puas dengan segala informasi

yang diberikan terkait dengan penyakitnya, termasuk dalam situasi adanya kendala
bahasa, adanya gangguan emosi pasien ataupun memberikan pertanyaan yang berkaitan
dengan fungsi menal.

Salah satu cara memastikan bahwa pasien mengerti terhadap penjelasan dokter adalah
dengan teach-back technique: meminta pasien menjelaskan kembali penjelasan yang
sudah diberikan dokter dan mendorong/memotivasi pasien untuk bertanya tentang hal-hal
yang belum dimengerti.

Dewasa
Salah satu kriteria dari mampu memberikan persetujuan adalah kedewasaan bukan
usia. Seorang anak/remaja dikatakan mampu memberikan persetujuan apabila secara
fisik, mental dan perkembangan emosi mampu memberikan penilaian atas keputusan dan
konsekuensi yang diambilnya. Pada per Undang Undangan di negara kita batasan usia
anak dan dewasa terdapat perbedaan.
Walaupun seorang anak/remaja mampu memberikan persetujuan, dalam memutuskan
pengobatan pada dasarnya perlu melibatkan orang tua dan meminta persetujuan orang tua
pasien.

Penjelasan atas Undang-Undang Republik Indonesia nomor 29 tahun 2004 tentang


praktik kedokteran

Pasal 45

Ayat (1)
Pada prinsipnya yang berhak memberikan persetujuan atau penolakan tindakan medis adalah
pasien yang bersangkutan. Namun, apabila pasien yang bersangkutan berada di bawah
pengampuan (under curatele) persetujuan atau penolakan tindakan medis dapat diberikan
oleh keluarga terdekat antara lain suami/istri, ayah/ibu kandung, anak-anak kandung atau
saudarasaudara kandung.
Dalam keadaan

gawat darurat, untuk menyelamatkan jiwa pasien tidak diperlukan

persetujuan. Namun, setelah pasien sadar atau dalam kondisi yang sudah memungkinkan,
segera diberikan penjelasan dan dibuat persetujuan.
Dalam hal pasien adalah anak-anak atau orang yang tidak sadar, maka penjelasan diberikan
kepada keluarganya atau yang mengantar. Apabila tidak ada yang mengantar dan tidak ada
keluarganya sedangkan tindakan medis harus dilakukan maka penjelasan diberikan kepada
anak yang bersangkutan atau pada kesempatan pertama pasien sudah sadar.

Ayat (3)
Penjelasan hendaknya diberikan dalam bahasa yang mudah dimengerti karena penjelasan
merupakan landasan untuk memberikan persetujuan. Aspek lain yang juga sebaiknya
diberikan penjelasan yaitu yang berkaitan dengan pembiayaan.

Ayat (4)
Persetujuan lisan dalam ayat ini adalah persetujuan yang diberikan dalam bentuk ucapan
setuju atau bentuk gerakan menganggukkan kepala yang diartikan sebagai ucapan setuju.

Ayat (5)
Yang dimaksud dengan tindakan medis berisiko tinggi adalah seperti tindakan bedah atau
tindakan invasif lainnya.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 290/Menkes/PER/III/2008


Tentang persetujuan tindakan kedokteran

Pasal 1 ayat 1
Persetujuan tindakan kedokteran adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarga
terdekat setelah mendapat penjelasan secara lengkap mengenai tindakan kedokteran atau
kedokteran gigi yang akan dilakukan terhadap pasien.

Pasal 1 ayat 2
Keluarga terdekat adalah suami atau istri, ayah atau ibu kandung, anak-anak kandung
atau saudara-saudara kandung.

Pasal 2
(1) Semua tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat
persetujuan.
(2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan secara tertulis
maupun lisan.
(3) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien mendapat
penjelasan yang diperlukan tentang perlunya tindakan kedokteran dilakukan.

Pasal 3
(1) Setiap tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi harus memperoleh
persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan.
(2) Tindakan kedokteran yang tidak termasuk dalam ketentuan sebagaimanadimaksud pada
ayat (1) dapat diberikan dengan persetujuan lisan.
(3) Persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat dalam bentuk
pernyataan yang tertuang dalam formulir khusus yang dibuat untuk itu.
(4) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan dalam bentuk ucapan
setuju atau bentuk gerakan menganggukkan kepala yang dapat diartikan sebagai ucapan
setuju.
(5) Dalam hal persetujuan lisan yang diberikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dianggap meragukan, maka dapat dimintakan persetujuan tertulis.

Pasal 4
(1) Dalam keadaan gawat darurat, untuk menyelamatkan jiwa pasien danjatau mencegah
kecacatantidak diperlukan persetujuan tindakan kedokteran.
(2) Keputusan untuk melakukan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diputuskan oleh dokter atau dokter gigi dan dicatat di dalam rekam medik.
(3) Dalam hal dilakukannya tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
dokter atau dokter gigi wajib memberikan penjelasan sesegera mungkin kepada pasien
setelah pasien sadar atau kepada keluarga terdekat.

Pasal 5
(1) Persetujuan tindakan kedokteran dapat dibatalkan atau ditarik kembali oleh yang
memberi persetujuan sebelum dimulainya tindakan.
(2) Pembatalan persetujuan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus dilakukan secaratertulis oleh yang memberi persetujuan.
(3) Segala akibat yang timbul dari pembatalan persetujuan tindakan kedokteran
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) menjadi tanggung jawab yang
membatalkan persetujuan.

Pasal 6
Pemberian persetujuan tindakan kedokteran tidak menghapuskan tanggung gugat hukum

dalam hal terbukti adanya kelalaian dalam melakukan tindakan kedokteran yang
mengakibatkan kerugian pada pasien

YANG BERHAK MEMBERIKAN PERSETUJUAN


Pasal 12
(1) Persetujuan diberikan oleh pasien yang kompeten, atau oleh wali, atau keluarga terdekat
atau pengampunya.
(2) Persetujuan yang diberikan oleh pasien yang tidak kompeten atau diragukan
kompetensinya tetap dianggap sah atau dapat dibatalkan oleh wali, keluarga terdekat
atau pengampunya.

Pasal 13
(1) Pasiendianggap kompeten berdasarkan usianya apabila:
a. Pasien dewasa, yaitu telah berusia 21 (duapuluh satu) tahun atau telah/pernah
menikah.
b. Pasien telah berusia 18 tahun, tidak termasuk anak berdasarkan peraturan
perundang-undangan.
(2) Berdasarkankesadarannya :
a. Pasien dianggap kompeten apabila pasien tersebut tidak terganggu kesadaran
fisiknya, sehingga mampu berkomunikasi secara wajar dan mampu membuat
keputusan secara bebas.
b. Pasien dapat kehilangan kompetensinya untuk sementara waktu apabila ia
mengalami syok, nyeri yang sangat atau kelemahan lain akibat keadaan sakitnya.
(3) Berdasarkankesehatan mentalnya:
a. Pasien dianggap kompeten apabila pasien tersebut tidak mengalami kemunduran
perkembangan (retardasi mental) dan tidak mengalami penyakit mental yang
membuatnya tidak mampu membuat keputusan secara bebas.
b. Pasien dengan gangguan jiwa (mental) dapat dianggap kompeten, apabila dia masih
mampu memahami informasi, mempercayainya, mempertahankannya, untuk
kemudian menggunakannya dalam membuat keputusan yang bebas.
(4) Kompetensi pasien harus dinilai oleh dokter pada saat diperlukan persetujuannya dan
apabila meragukan maka harus ditentukan oleh tim dokter yang kompeten.

KETENTUAN PADA SITUASI KHUSUS

Pasal 14
(1) Salah satu dari orang tua atau wali pasien anak dapat memberikan persetujuan atas
tindakan kedokteran yang akan dilakukan pada pasien anak tersebut demi kepentingan
terbaiknya.
(2) Penolakan tindakan kedokteran yang diberikan oleh orang tua atau wali pasien anak
yang dapat mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang permanen (irreversibel)
pada pasien anak tersebut dapat dibatalkan oleh pengadilan.

Pasal 15
(1) Seseorang dengan gangguan jiwa/mental yang mengakibatkannya tidak kompeten
dapat dimasukkan ke rumah sakit untuk dirawat inap tanpa persetujuan yang
bersangkutan dalam rangka pengobatan gangguan jiwanya.
(2) Tindakan kedokteran yang akan diberikan kepada pasien yang dimaksud pada ayat (1)
dapat diberikan dengan persetujuan keluarga terdekatnya

Pasal 16
(1) Tindakan penghentian/penundaan bantuan hidup (withdrawing/withholding life support)
pada seorang pasien harus mendapat persetujuan keluarga terdekat pasien.
(2) Persetujuan penghentian/penundaan bantuan hidup oleh keluarga terdekat pasien
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah keluarga mendapat penjelasan
dari tim dokter yang bersangkutan.
(3) Persetujuan sebagaimanadimaksud pada ayat (1) harus diberikan secaratertulis.

Pasal 17
Dalam hal tindakan kedokteran harus dilaksanakan sesuai dengan program pemerintah
dimana tindakan medik tersebut untuk kepentingan masyarakat banyak, maka persetujuan
tindakan kedokteran tidak diperlukan.

PENOLAKAN TINDAKAN KEDOKTERAN


Pasal 18
(1) Penolakan tindakan kedokteran dapat dilakukan oleh pasien dan/atau keluarga
terdekatnya setelah menerima penjelasan tentang tindakan kedokteran yang akan
dilakukan.
(2) Penolakan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan

secaratertulis.
(3) Akibat penolakan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjadi
tanggung jawab pasien.
(4) Penolakantindakan kedokteran sebagaimanadimaksud pada ayat (1) tidak memutuskan
hubungan dokter-pasien.

TANGGUNG JAWAB
Pasal 19
(1) Pelaksanaantindakan kedokteran yang telah mendapat persetujuan menjadi tanggung
jawab dokter atau dokter gigi yang melakukan tindakan kedokteran.
(2) Sarana pelayanan kesehatan bertanggung jawab atas pelaksanaan persetujuan tindakan
kedokteran.

Batasan Usia dalam Peraturan Perundang-undangan


Dalam sistem hukum nasional, terdapat perbedaan dalam penentuan umur dewasanya
seseorang. Seseorang yang telah dianggap dewasa, cakap untuk melakukan segala perbuatan
hukum yang mengatasnamakan dirinya sendiri maupun mewakilkan pihak lain.

Anak/Belum dewasa
No

Dasar Hukum

Kitab

Pasal

Undang-Undang Pasal 45

Hukum Pidana
Dalam hal penuntutan pidana terhadap orang yang
belum dewasa karena melakukan suatu perbuatan
sebelum umur enam belas tahun, hakim dapat
menentukan: memerintahkan supaya yang bersalah
dikembalikan kepada orang tuanya, walinya atau
pemeliharanya, tanpa pidana apa pun..dst

Undang-Undang
Tahun

1974

No.

1 Pasal 6 ayat 2

tentang

Perkawinan

izin orang tua bagi orang yang akan melangsungkan


perkawinan apabila belum mencapai umur 21 tahun

Pasal 7 ayat 2

umur

minimal

untuk

diizinkan

melangsungkan

perkawinan, yaitu pria 19 tahun dan wanita 16 tahun

Pasal 47 ayat 1

Anak yang belum mencapai umur 18 (delapan belas)


tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan
ada di bawah kekuasaan orang tuanya selama mereka
tidak dicabut dari kekuasaannya

Pasal 50 ayat (1)

Anak yang belum mencapai umur 18 (delapan belas)


tahun

atau

belum

pernah

melangsungkan

perkawinan, yang tidak berada di bawah kekuasaan


orang tua, berada di bawah kekuasaan wali

Undang-Undang
Tahun

2003

No.

13 Pasal 1 angka 26

tentang

Ketenagakerjaan

Anak adalah setiap orang yang berumur di bawah 18


(delapan belas) tahun

Undang-Undang
Tahun

1995

Pemasyarakatan

No.

12 Pasal 1 angka 8

tentang
Anak didik pemasyarakatan adalah:
a.

Anak pidana, yaitu anak yang berdasarkan putusan

pengadilan menjalani pidana di LAPAS anak paling


lama sampai berumur 18 (delapan belas) tahun;
b.

Anak negara, yaitu anak yang berdasarkan putusan

pengadilan diserahkan pada negara untuk dididik dan


ditempatkan di LAPAS anak paling lama sampai
berumur 18 (delapan belas) tahun;
c.

Anak sipil, yaitu anak yang atas permintaan orang

tua atau walinya memperoleh penetapan pengadilan


untuk dididik di LAPAS anak paling lama sampai
berumur 18 (delapan belas) tahun.
5

Undang-Undang

No.

11 Pasal 1 angka 3, angka 4, dan angka 5

Tahun 2012 tentang Sistem


-

Peradilan Pidana Anak

Anak yang Berkonflik dengan Hukum adalah


anak yang telah berumur 12 (dua belas)
tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan
belas) tahun yang diduga melakukan tindak
pidana.

Anak yang Menjadi Korban Tindak Pidana


adalah anak yang belum berumur 18 (delapan
belas) tahun yang mengalami penderitaan fisik,
mental,

dan/atau

kerugian

ekonomi

yang

disebabkan oleh tindak pidana.

Anak yang Menjadi Saksi Tindak Pidana adalah anak


yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang
dapat

memberikan

keterangan

guna

kepentingan

penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang


pengadilan tentang suatu perkara pidana yang didengar,
dilihat, dan/atau dialaminya sendiri.
6

Undang-Undang

No.

39 Pasal 1 angka 5

Tahun 1999 tentang Hak


Asasi Manusia

Anak adalah setiap manusia yang berumur di bawah 18


(delapan belas) tahun dan belum menikah, termasuk
anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut
adalah demi kepentingannya.

Undang-Undang
Tahun

2002

No.

23 Pasal 1 ayat (1)

tentang

Perlindungan

Anak Anak adalah seseorang yang belum berusia 18

sebagaimana terakhir diubah (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih
dengan Undang-Undang No. dalam kandungan.
35 Tahun 2014
8

Undang-Undang
Tahun

2008

No.

44 Pasal 1 angka 4

tentang

Pornografi

Anak adalah seseorang yang belum berumur 18


(delapan belas) tahun.

Undang-Undang
Tahun

2006

No.

12 Pasal 4 huruf h

tentang

Kewarganegaraan Republik Warga Negara Indonesia adalah anak yang lahir di luar
Indonesia

perkawinan yang sah dari seorang ibu warga negara


asing yang diakui oleh seorang ayah Warga Negara
Indonesia sebagai anaknya dan pengakuan itu dilakukan
sebelum anak tersebut berumur 18 (delapan belas)
tahun atau belum kawin.

10

Undang-Undang
Tahun

2007

Pemberantasan

No.

21 Pasal 1 angka 5

tentang
Tindak Anak adalah seseorang yang belum berumur 18

Pidana Perdagangan Orang

(delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih


dalam kandungan.

11

Undang-Undang

Republik Pasal 131 angka 2

Indonesia No. 36 Tahun


2009 Tentang Kesehatan

Upaya pemeliharaan kesehatan anak dilakukan sejak


anak masih dalam kandungan, dilahirkan, setelah
dilahirkan, dan sampai berusia 18 (delapan belas)
tahun.

Dewasa/Belum Dewasa
Dasar Hukum

Pasal

No
1

Kitab

Undang-Undang Pasal 330

Hukum Perdata (Burgerlijk


Wetboek)

Yang belum dewasa adalah mereka yang belum


mencapai umur genap dua puluh satu tahun dan
tidak kawin sebelumnya.

Kompilasi Hukum Islam

Pasal 98 ayat (1)

Batas umur anak yang mampu berdiri sendiri atau


dewasa adalah 21 tahun, sepanjang anak tersebut tidak
bercacat fisik maupun mental atau belum pernah
melangsungkan perkawinan.

Hukum Islam

seseorang dikatakan dewasa apabila telah menunjukkan


ciri-ciri kedewasaan (baliqh). Tidak ada penetapan
dewasanya seseorang melalui umur, hanya berdasarkan
ciri-ciri fisik dan tingkah laku.

SK Mendagri Dirjen Agraria Mengenai soal dewasa dapat diadakan pembedaan


Direktorat
Tanah

Pendaftaran dalam:
(Kadaster)

Dpt.7/539/7-77,

No. a.

tertanggal tahun untuk dapat ikut Pemilu;

13-7-1977 (SK Mendagri b.


1977)

dewasa politik, misalnya adalah batas umur 17

dewasa seksuil, misalnya adalah batas umur 18

tahun untuk dapat melangsungkan pernikahan menurut


Undang-Undang Perkawinan yang baru;
c.

dewasa hukum. Dewasa hukum dimaksudkan

adalah batas umur tertentu menurut hukum yang dapat


dianggap cakap bertindak dalam hukum.

SK Mendagri 1977 ini dipergunakan sebagai rujukan

pertimbangan hakim dalam Penetapan Pengadilan


Negeri Kepanjen Nomor : 891/Pdt.P/2013/PN Kpj.

Lainnya
No

Dasar Hukum

Undang-undang no. 23 tahun pasal 7


2003

Pasal

tentang

Pemilihan

Umum Presiden dan Wakil Warga negara Republik Indonesia yang pada hari
Presiden

pemungutan suara sudah berumur 17 (tujuh belas) tahun


atau sudah/pernah kawin mempunyai hak memilih

undang-undang no 10 tahun pasal 19 ayat (1)


2008
Umum

tentang

Pemilihan

Anggota

Dewan Warga Negara Indonesia yang pada hari pemungutan

Perwakilan Rakyat, Dewan suara telah genap berumur 17 (tujuh belas) tahun atau
Perwakilan

Daerah,

dan lebih

atau

sudah/pernah

kawin

mempunyai

Dewan Perwakilan Rakyat hak memilih.


Daerah
3

undang-undang no 32 tahun pasal 68


2004 tentang Pemerintahan
Daerah

Warga negara Republik Indonesia yang pada hari


pemungutan suara pemilihan kepala daerah dan wakil
kepala daerah sudah berumur 17 (tujuh belas) tahun
atau sudah/pernah kawin mempunyai hak memilih.

Undang-Undang
Tahun

2006

No.23 setiap penduduk warga negara Indonesia yang telah


Tentang berumur 17 (tujuh belas) tahun wajib memiliki KTP

Administrasi Kependudukan

(Kartu Tanda Penduduk).

UU Jabatan Notaris

Pasal 39 dan 40

18 th untuk penghadap dan 18 th untuk saksi

Menurut konsep Hukum Adat sebagai norma-norma hukum yang hidup di masyarakat
(living law)
Hukum adat tidak mengenal batas umur belum dewasa dan dewasa. Dalam hukum
adat tidak dikenal fiksi seperti dalam hukum perdata. Hukum adat mengenal secara isidental
saja apakah seseorang itu, berhubung umur dan perkembangan jiwanya patut dianggap cakap
atau tidak cakap, mampu atau tidak mampu melakukan perbuatan hukum tertentu dalam
hubungan hukum tertentu pula. Artinya apakah ia dapat memperhitungkan dan memelihara
kepentingannya sendiri dalam perbuatan hukum yang dihadapinya itu. Belum cakap artinya,
belum mampu memperhitungkan dan memelihara kepentingannya sendiri. cakap artinya,
mampu memperhitungkan dan memelihara kepentingannya sendiri.

Hukum Adat Jawa (Djojodigoeno): kuat gawe, telah kawin & mulai hidup mandiri
Joeni Arianto Kurniawan: mandiri, Dewasa dalam arti sosial, bukan dlm arti biologis-fisik,
mandiri
Von Vollenhoven:
Jawa Pusat, Jawa Timur, & Madura: tanggungan orang tua (kerakyat) atau tidak
Aceh: menurut kepatutan
Gayo, Alas, Batak, Maluku-Ambon: tanggungan ortu (kerakyat)
Ter Haar (=Djojodigoeno): sudah kawin dan hidup terpisah dari orang tuanya
Soepomo: kuat gawe, cakap mengurus harta benda & keperluannya sendiri
Dr. Wayan P. Windia, S.H, M.Hum (Bali): negen (nyuun) sesuai beban yang diujikan,
Masyarakat Padang Lawas: syarat untuk kawin: mampu mengurus diri sendiri, sudah kuat
dalam melakukan pekerjaan yang oleh umum menganggap sebagai pekerjaan orang yang
sudah dewasa.

Lex specialist derogat legi generalis, hukum yang khusus menyampingkan hukum yang
umum

PSIKOLOGI
Adapun tahap-tahap perkembangan menurut Hurlock selengkapnya adalah sebagai berikut:
1. : prenatal
2. 0-2 minggu : orok (infancy)
3. 2 minggu 2 tahun : bayi (babyhood)
4. 2-6 tahun : anak-anak awal (early childhood)

5. 6-12 tahun : anak-anak akhir (late childhood)


6. 12-14 tahun : pubertas (puberty)
7. 14-17 tahun :remaja awal (early adolescene)
8. 17-21 tahun : remaja akhir (late adolescene)
9. 21-40 tahun : dewasa awal (early adulthood)
10. 40-60 tahun : setengah baya (middle age)
11. 60 tahun ke atas : tua (senescene)

Menurut Depkes RI (2009):


Kategori Umur
1.

Masa balita

= 0 - 5 tahun,

2.

Masa kanak-kanak

= 5 - 11 tahun.

3.

Masa remaja Awal

=12 - 1 6 tahun.

4.

Masa remaja Akhir

=17 - 25 tahun.

5.

Masa dewasa Awal

=26- 35 tahun.

6.

Masa dewasa Akhir

=36- 45 tahun.

7.

Masa Lansia Awal

= 46- 55 tahun.

8.

Masa Lansia Akhir

= 56 - 65 tahun.

9.

Masa Manula

= 65 - sampai atas

Berdasarkan pengalaman, peran dokter dalam menentukan usia sering dilupakan.


Dokter sering lupa untuk memperkirakan usia berdasarkan ciri-ciri fisik yang dapat diperiksa.
Hal ini dapat membuat kesulitan dikemudian hari, berkaitan dengan perkiraan usia
pasien/korban.

life threatening
dalam kondisi pasien tidak mampu memberikan persetujuan dan tidak ada penanggung jawab
dari pasien (untukmengambil keputusan) dokter harus melakukan tindakan yang diperlukan,
menghormati keinginan pasien yang disampaikan sebelumnya (apabila ada), meminta
persetujuan segera setelah memungkinkan.

3. Memberikan penjelasan/informasi yang cukup


Apa yang harus dijelaskan kepada pasien:

- Diagnosis (apabila memungkinkan), apabila diagnosis belum pasti harus disampaika


alasannya dan disampaikan juga kemungkinan lain diagnosisnya.
- Jelaskan rencana pemeriksaan dan pengobatan.
- Jelaskan kemungkinan keberhasilan pengobatan.
- Jelaskan alternatif pengobatan lain dan risikonya. Jelaskan juga alasan dokter
menganjurkan jenis terapi yang dianjurkan oleh dokter yang bersangkutan.
- Jelaskan konsekuensi/akibat apabila tidak dilakukan pengobatan.

Menyentuh atau mengobati pasien tanpa persetujuan pasien adalah suatu tindakan
penyerangan/kekerasan, termasuk pengobatan yang tidak termasuk dalam persetujuan
ataupun perubahan/penyimpangan signifikan yang tidak termasuk dalam persetujuan.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan


Pasal 8
Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data kesehatan dirinya termasuk tindakan
dan pengobatan yang telah maupun yang akan diterimanya dari tenaga kesehatan.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 290/Menkes/PER/III/2008


Tentang persetujuan tindakan kedokteran
Pasal 7
(1)

Penjelasan tentang tindakan kedokteran harus diberikan langsung kepada pasien


Dan atau keluarga terdekat, baik diminta maupun tidak diminta.

(2)

Dalam hal pasien adalah anak-anak atau orang yang tidak sadar, penjelasan diberikan
kepada keluarganya atau yang mengantar.

(3)

Penjelasantentang tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


sekurang-kurangnya mencakup:
a. Diagnosisdan tata cara tindakan kedokteran;
b. Tujuan tindakan kedokteran yang dilakukan;
c. Altematif tindakan lain, dan risikonya;
d. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan
e. Prognosisterhadap tindakan yang dilakukan.
f. Perkiraan pembiayaan.

Pasal 8
(1) Penjelasan tentang diagnosis dan keadaan kesehatan pasien dapat meliputi :
a. Temuan klinis dari hasil pemeriksaan medis hingga saat tersebut;
b. Diagnosis penyakit, atau dalam hal belum dapat ditegakkan, maka ekurang-kurangnya
diagnosis kerja dan diagnosis banding;
c. Indikasi atau keadaan klinis pasien yang membutuhkan dilakukannya tindakan
kedokteran;
d. Prognosisapabila dilakukan tindakan dan apabila tidak dilakukan tindakan.
(2) Penjelasantentang tindakan kedokteran yang dilakukan meliputi :
a. Tujuan tindakan kedokteran yang dapat berupa tujuan preventif, diagnostik,
terapeutik, ataupun rehabilitatif.
b. Tata cara pelaksanaan tindakan apa yang akan dialami pasien selama dan sesudah
tindakan, serta efek samping atau ketidaknyamanan yang mungkin terjadi.
c. Alternatif tindakan lain berikut kelebihan dan kekurangannya dibandingkan dengan
tindakan yang direncanakan.
d. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi pada masing-masing alternatif tindakan.
e. Perluasantindakan yang mungkin dilakukan untuk mengatasi keadaan darurat akibat
risiko dan komplikasi tersebut atau keadaantak terduga lainnya.
(3) Penjelasan tentang risiko dan komplikasi tindakan kedokteran adalah semua risiko dan
komplikasi yang dapat terjadi mengikuti tindakan kedokteran yang dilakukan, kecuali:
a. risiko dan komplikasi yang sudah menjadi pengetahuan umum
b. risiko dan komplikasi yang sangat jarang terjadi atau yang dampaknya sangat ringan
c. risiko dan komplikasi yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya (unforeseeable)
(4) Penjelasantentang prognosis meliputi:
a. Prognosistentang hidup-matinya (ad vitam);
b. Prognosistentang fungsinya (ad functionam);
c. Prognosistentang kesembuhan (ad sanationam).

Pasal 9
(1)

Penjelasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 harus diberikan secara lengkap


dengan bahasayang mudah dimengerti atau cara lain.

(2)

Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicatat dan didokumentasikan dalam

berkas rekam medis oleh dokter atau dokter gigi yang memberikan penjelasan dengan
mencantumkan tanggal, waktu, nama, dan tanda tangan pemberi penjelasan dan
penerima penjelasan.
(3)

Dalam hal dokter atau dokter gigi menilai bahwa penjelasan tersebut dapat merugikan
kepentingan kesehatan pasien atau pasien menolak diberikan penjelasan, maka dokter
atau dokter gigi dapat memberikan penjelasan tersebut kepada keluarga terdekat
dengan didampingi oleh seorang tenaga kesehatan lain sebagai saksi.

Pasal 10
(1)

Penjelasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 diberikan oleh dokter atau dokter
gigi yang merawat pasien atau salah satu dokter atau dokter gigi dari tim dokter yang
merawatnya.

(2)

Dalam hal dokter atau dokter gigi yang merawatnya berhalangan untuk memberikan
penjelasan secara langsung, maka pemberian penjelasan harus didelegasikan kepada
dokter atau dokter gigi lain yang kompeten.

(3)

Tenaga kesehatan tertentu dapat membantu memberikan penjelasan sesuai dengan


kewenangannya.

(4)

Tenaga kesehatan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah tenaga
kesehatan yang ikut memberikan pelayanan kesehatan secara langsung kepada pasien.

Pasal 11
(1)

Dalam hal terdapat indikasi kemungkinan perluasan tindakan kedokteran juga harus
diberikan penjelasan.

(2)

Perluasan tindakan kedokteran yang tidak terdapat indikasi sebelumnya, hanya dapat
dilakukan untuk menyelamatkan jiwa pasien.

(3)

Setelah perluasan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (2)


dilakukan, dokter atau dokter gigi harus memberikan penjelasan kepada pasien atau
keluarga terdekat.

Pasien dengan penyakit/gangguan mental


Seorang dengan penyakit/gangguan mental mempunyai kemampuan dalam menentukan
pengobatan apabila mereka mengerti:

Apa rencana pengobatan yang diberikan dan alasan rencana pengobatan tersebut
dilakukan

Resiko dan alternatif pengobatannya

Akibat/konsekuensi keputusan yang diambil

Pada pasien yang tidak mampu memberikan persetujuan, pemberian persetujuan


dilakukan oleh pengganti sesuai dengan aturan yang berlaku. Seorang pengganti hanya dapat
memberikan persetujuan setelah menerima semua informasi berkaitan dengan kondisi pasien
dan semua rencana pengobatan/tindakan.
Di Indonesia dikenal istilah wali/pengampu dalam kaitannya dengan pengganti.
Wali/pengampu biasanya seseorang yang dianggap oleh keluarga sebagai perwakilan untuk
membuat keputusan.
Dokter sering melibatkan keluarga dalam mengambil keputusan untuk pasien yang tidak
mampu memberikan persetujuan.
Akan sangat bijak untuk melakukan konsultasi medikolegal apabila:
-

Tidak ada kesepakatan diantara keluarga pasien

Rencana pengobatan memiliki resiko tinggi

Ada keraguan berkaitan dengan keinginan pasien sebelumnya

Ada perbedaan pendapat tentang apakah rencana pengobatan termasuk kedalam


pengobatan atau bukan pengobatan

Circle of care, pelayan kesehatan yang memerlukan informasi untuk dapat melakukan
pelayanan. Yang termasuk circle of care adalah dokter, perawat, keluarga, konsultan.
Persetujuan terhadap circle of care biasanya tidak dinyatakan ataupun tertulis (tersirat).
Pernyataan lisan atau tertulis diperlukan untuk pemberian informasi diluar circle of care

Tata Cara Pengisian Persetujuan Tindakan Medis (Informed Consent)


Setiap tindakan medik yang dilakukan terhadap pasien harus mendapat persetujuan dari
pasien atau keluarga baik secara tertulis maupun lisan. Untuk tindakan yang beresiko harus
mendapatkan persetujuan secara tertulis yang ditandatangani oleh pasien untuk mendapatkan
persetujuannya. Persetujuan diberikan pada pasien setelah mendapatkan informasi yang jelas
tentang perlunya tindakan medis serta resiko yang akan ditimbulkannya.
Menurut SK Dirjen Pelayanan Medik No.HK.00.06.6.5.1866 Kebijakan dan Prosedur tentang
Informed Consent adalah sebagai berikut:

1. Pengaturan persetujuan atau penolakan tindakan medis harus dalam bentuk kebijakan
dan prosedur yang ditetapkan oleh pimpinan Rumah Sakit.
2. Memperoleh informasi dan penjelasan merupakan hak pasien dan sebaliknya
memberikan informasi dan penjelasan adalah hak dokter.
3. Formulir Informed Consent dianggap benar jika memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a. Persetujuan atau penolakan tindakan medis diberikan untuk tindakan medis
yang dinyatakan secara spesifik.
b. Persetujuan atau penolakan tindakan medis diberikan tanpa paksaan
(voluntary).
c. Persetujuan atau penolakan tindakan medis diberikan oleh seorang (pasien)
yang sehat mental dan yang memang berhak memberikannya.
d. Persetujuan atau penolakan tindakan medis diberikan setelah diberikan cukup
informasi dan penjelasan yang diberikan.
4. Isi informasi dan penjelasan yang diberikan Informasi dan penjelasan dianggap cukup
jika paling sedikit enam hal pokok dibawah ini disampaikan dalam memberikan
informasi dan penjelasan.
a. Informasi dan penjelasan tentang tujuan dan prospek keberhasilan tindakan medis
yang akan dilakukan.
b. Informasi dan penjelasan tentang tata cara tindakan medis yang akan dilakukan.
c. Informasi dan penjelasan tentang resiko dan komplikasi yang mungkin akan terjadi.
d. Informasi dan penjelasan tentang alternatif tindakan lain yang tersedia dan serta
resikonya dari masing-masing tindakan tersebut.
e. Informasi dan penjelasan tentang prognosis penyakit apabila tindakan tersebut
dilakukan.
f. Diagnosis.
5. Kewajiban memberikan informasi dan penjelasan.
Dokter yang akan melakukan tindakan medis mempunyai tanggung jawab utama
memberikan informasi dan penjelasan yang diperlukan. Apabila berhalangan,
informasi dan penjelasan yang diberikan dapat diwakili pada dokter lain dengan
sepengetahuan dokter yang bersangkutan.
6. Cara menyampaikan informasi.
Informasi dan penjelasan disampaikan secara lisan. Informasi secara tertulis hanya
dilakukan sebagai pelengkap penjelasan yang telah disampaikan secara lisan.

7. Pihak yang menyatakan persetujuan.


a. Pasien sendiri, yaitu apabila pasien telah berumur 21 tahun atau sudah menikah.
b. Bagi pasien dibawah umur 21 tahun, persetujuan (Informed Consent) atau
penolakan tindakan medis diberikan oleh mereka, menurut urutan hak sebagai berikut:
1) Ayah/Ibu adopsi
2) Saudara-saudara kandung
c. Bagi pasien dibawah umur 21 tahun atau tidak mempunyai orang tua atau orang
tuanya berhalangan hadir. Persetujuan (Informed Consent) atau penolakan tindakan
medis diberikan oleh mereka, menurut hak sebagai berikut:
1) Ayah/Ibu adopsi
2) Saudara-saudara kandung
d. Bagi pasien dewasa dengan gangguan mental, persetujuan (Informed Consent) atau
penolakan tindakan medis diberikan oleh mereka menurut urutan hak sebagai berikut :
1) Ayah/Ibu kandung
2) Wali yang sah
3) Saudara-saudara kandung
e. Bagi pasien dewasa yang berada dibawah pengampunan (curatelle) persetujuan atau
penolakan tindakan medis diberikan menurut urutan hak tersebut :
1) Wali
2) Curator
f. Bagi pasien dewasa yang telah menikah /orang tua, persetujuan atau penolakan
tindakan medis diberikan oleh mereka menurut urutan hak tersebut:
1) Suami/isteri
2) Ayah/ibu kandung
3) Anak-anak kandung
4) Saudara-saudara kandung.
8. Cara menyatakan persetujuan.
Cara pasien menyatakan persetujuan dapat secara tertulis (expressed) maupun lisan.
Persetujuan secara tertulis mutlak diperlakukan pada tindakan medis yang engandung
resiko tinggi, sedangkan persetujuan secara lisan diperlukan pada tindakan medis
yang tidak mengandung resiko tinggi.
9. Semua jenis tindakan medis yang mengandung resiko harus disertai Informed
Consent. Jenis tindakan medis memerlukan Informed Consent disusun oleh komite
medik dan kemudian ditetapkan oleh pimpinan Rumah Sakit. Bagi rumah sakit yang

belum mempunyai komite medik atau keberadaan komite medik belum lengkap, maka
dapat mengacu pada jenis tindakan medis yang sudah ditetapkan oleh rumah sakit lain
yang fungsi dan kelasnya sama.
10. Perluasan tindakan medis yang telah disetujui tidak dibenarkan dilakukan dengan
alasan apapun juga, kecuali apabila perluasan tindakan medis tersebut terpaksa
dilakukan untuk menyelamatkan jiwa pasien.
11. Pelaksanaan Informed Consent untuk tindakan medis tertentu, misalnya
Tubektomi/Vasectomi dan Caesarean Section yang berkaitan dengan program
keluarga berencana, harus merujuk pada ketentuan lain melalui konsultasi dengan
perhimpunan profesi yang terkait.
12. Demi kepentingan pasien, Informed Consent tidak diperlukan bagi pasien gawat
darurat dalam keadaan tidak sadar dan tidak didampingi oleh keluarga pasien yang
berhak memberikan persetujuan/penolakan tindakan medis.
13. Format isian persetujuan tindakan medis (Informed Consent) atau penolakan tindakan
medis, digunakan seperti pada contoh formulir terlampir, dengan ketentuan sebagai
berikut :
a. Diketahui dan ditandatangani oleh dua orang saksi. Perawat bertindak sebagai salah
satu saksi.
b. Formulir asli dalam berkas rekam medis pasien.
c. Formulir harus sudah diisi dan ditandatangani 24 jam sebelum tindakan medis
dilakukan.
d. Dokter harus ikut membubuhkan tandatangan sebagai bukti bahwa telah diberikan
informasi dan penjelasan secukupnya.
e. Sebagai ganti tanda tangan, pasien atau keluarganya yang buta huruf harus
membubuhkan cap jempol ibu jari tangan kanan.

Referensi:
1. Autonomy, Informed Consent and Medical Law, A relatioal Challenge, Alasdair
Maclean, 2009
2. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek, Staatsblad 1847 No. 23);
3. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan

6. Lampiran SKB IDI No. 319 /P/BA/88


7. SK Dirjen Pelayanan Medik No.HK.00.06.6.5.1866 Kebijakan dan Prosedur tentang
Informed Consent
8. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 290/Menkes/PER/III/2008
Tentang persetujuan tindakan kedokteran
9. Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan;
10. Undang-Undang No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan;
11. Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia;
12. Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana terakhir
diubah dengan Undang-Undang No. 35 Tahun 2014;
13. Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;
14. Undang-Undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia;
15. Undang-Undang No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan
Orang;
16. Undang-Undang No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi;
17. Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak;
18. Kompilasi Hukum Islam (Instruksi Presiden No.1 Tahun 1991);
19. SK Mendagri Dirjen Agraria Direktorat Pendaftaran Tanah (Kadaster) No. Dpt.7/539/777, tertanggal 13-7-1977.
20. Kompilasi Hukum Islam
21. Undang-Undang no. 23 tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil
Presiden.
22. Undang-Undang no 10 tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan
Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
23. Undang-Undang no 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
24. Undang-Undang No.23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan
25. UU Jabatan Notaris