Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS INSTRUMENT

NUCLEAR MAGNETIC RESONANSE


(NMR)

OLEH :
FATRI CIA MAIHERDILLA
1301823
KIMIA
DOSEN

: ALIZAR ULIANAS Ph,D

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2016

NUCLEAR MAGNETIC RESONANSE (NMR)


1. Sejarah NMR
Sebelum era 1950 para ilmuwan khususnya yang berkecimpung dalam bidang kimia
organik mersakan kurang puas terhadap apa yang telah dicapai dalam analisis instrumental.
Kekurangpuasan mereka terutama dari segi analisis kuantitatif, penentuan struktur dan gugus
hidrokarbon yang dirasa banyak memberikan informasi.Pada waktu itu dirasa perlu
menambah anggota teknik spektroskopi untuk tujuan lebih banyak memberikan informasi
gugus hidrokarbon dalam molekul. Dua orang ilmuwan dari USA pada tahun 1951 yaitu Felix
Bloch dan Edwardo M. Purcell (dari Harvard university) menemukan bahwa inti atom
terorientasi terhadap medan magnet.
Blonch dan Purcell menemukan bahwa inti atom berorientasi terhadap medan magnet.
Setiap proton di dalam molekul yang sifat kimianya berbeda akan memberikan garis-garis
resonansi orientasi magnet yang berbeda. Ini adalah awal lahirnya Nuclear Magnetic
Resonance (NMR). Fenomena ini diberi nama NMR yang merupakan singkatan dari:
a. "Nuclear" karena hanya inti atom (nukleus) dari jenis atom tertentu saja yang dapat
mengalami gejala seperti ini;
b. "Magnetic" karena diperlukan medan magnet;
c. "Resonance" karena ada ketergantungan antara medan magnet dan frekuensi radio.
Bertolak dari penemuan ini lahirlah metode baru sebagai anggota baru teknik
spektroskopi yang diberi nama Nuclear Magnetic Resonance (NMR).Para ilmuwan di
Indonesia mempopulerkan metode ini dengan nama spektrofotometer Resonansi Magnet Inti
(RMI). Spektrofotometri RMI sangat penting artinya dalam analisis kualitatif, khususnya
dalam penentuan struktur molekul zat organik. Spektrum RMI akan mampu menjawab
beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan inti atom yang spesifik seperti:
Gugus apa yang dihadapi?
Di mana lokasinya gugus tersebut dalam molekul?

Beberapa jumlah gugus tersebut dalam molekul?


Siapa dan dimana gugus tetangganya?
Bagaimana hubungan gugus tersebut dengan tetangganya?
Hasil spektoskopi RMI seringkali merupakan penegasan urutan gugus atau susunan atom
dalam satu molekul yang menyeluruh. Inti yang memiliki jumlah proton yang ganjil atau
jumlah netron yang ganjil, tetapi tidak keduanya ganjil, mempunyai bilangan kuantum spin
, 3/2, 5/2 dan seterusnya, seperti H 1, B11, F19, P31. Inti tersebut berkelakuan seperti bola

berspin muatan yang bersirkulasi menghasilkan suatu medan magnit seperti arus listrik dalam
kumparan kawat. Sepanjang sumbu putarnya terdapat suatu momen magnetik inti yang
sesuai. Untuk inti di mana jumlah proton dan neutron keduanya ganjil, maka muatan
terdistribusi secara nonsimetris. Inti yang memiliki jumlah proton dan neutron keduanya
genap, tidak mempunyai momentum sudut putar yaitu I=0 dan tidak menunjukkan sifat
magnetik, misalnya C12 bersifat inert secara magnetik dan tidak terdeteksi dalam NMR. Inti
yang bersifat magnetik (I>0) pada umumnya berinteraksi dengan medan magnit luar dan
menyelaraskan dengan medan magnit luar dan menyelaraskan orientasinya dengan tingkattingkat energi yang sesuai. Tingkat-tingkat energinya adalah I, I 1, I 2, - I. Untuk suatu
inti tertentu, orientasinya yang mungkin adalah (2I + 1) untuk suatu proton bila I = 1/2 ; dua
orientasi akan terjadi.
Berdasarkan jumlah proton dan neutronnya, inti dapat dibedakan dalam :
1. Inti dengan spin nol; yaitu baik jumlah neutron maupun jumlah protonnya merupakan
bilangan bulat. Inti tersebut tidak memberikan signal NMR.
2. Inti dengan spin , 3/2, 5/2, dan seterusnya dengan jumlah proton atau neutronnya
ganjil.
3. Inti dengan spin bilangan bulat di mana jumlah neutron atau jumlah protonnya ganjil.
2. Pengertian pengertian dasar
a. Kedudukan spin inti
Tidak semua inti mempunyai momen sudut spin, yaitu hanya :
a. Inti yang mempunyai nomer massa ganjil : bilangan kuantum spin I = (n +
). n = bilangan bulat atau nol (bilangan tengahan)
b. Inti yang mempunyai nomer atom ganjil, no massa genap : I = bilangan bulat
(1,2,3, dan seterusnya).
c. Inti atom yang mempunyai no massa dan no atom ganjil.
Inti atom yang tidak mempunyai momen sudut spin bila nomor massa dan nomor
atom genap (I = O). Hanya inti yang mempunyai harga I lebih besar dari nol saja
yang mempunyai momen sudut spin. Inti yang mempunyai momen sudut bila
diletakkan di daerah medan magnet dapat mempunyai orientasi sebanyak 2I +1
relatif terhadap medan magnet. Setiap orientasi sesuai dengan suatu tingkat energi
tertentu.

Inti atom yang tidak mempunyai momen sudut spin bila nomor massa dan nomor
atom genap (I = O). Hanya inti yang mempunyai harga I lebih besar dari nol saja
yang mempunyai momen sudut spin. Inti yang mempunyai momen sudut bila
diletakkan di daerah medan magnet dapat mempunyai orientasi sebanyak 2I +1
relatif terhadap medan magnet. Setiap orientasi sesuai dengan suatu tingkat energi
tertentu. Sebagai contoh proton (1H1) mempunyai bilangan kuantum spin I =
maka ia mempunyai kedudukan spin (2 (1/2) + 1) = , sehingga kedudukan spin dari
intinya adalah : - dan + .
Bilangan kuantum spin dari beberapa inti dapat dilihat dalam Tabel.

b. Momen Magnet Inti


Inti atom merupakan partikel yang bermuatan sehingga setiap inti yang berputar
akan menghasilkan medan magnet. Inti atom mempunyai medan magnet () yang
dihasilkan oleh medan dan spinnya.
Contoh :
H11 (proton) mempunyai I =
Jumlah orientasi dalam medan magnet = 2 I + 1
= 2. + 1 = 2
Yaitu : 1. yang searah dengan medan magnet luar (+ )
2. yang berlawanan arah (-1/2)
Fenomena resonansi magnet inti terjadi bila : inti yang spinnya searah dengan medan
akan menyerap energi sehingga orientasi spinnya berubah.
E yang diserap = ( - ) = h 1/2 -spin E1/2 spin E+
( - ) = E 1/2 -spin E1/2 spin E+
- E merupakan fungsi dari kekuatan medan magnet yang digunakan (Ho)

E = f (Ho) = h
Makin besar medan magnet yang digunakan, makin besar E antara kedudukankedudukan spin yang ada. Besarnya E tergantung pada inti atom yang terlibat.
Setiap inti atom (H, Cl, dan sebagainya) mempunyai (perbandingan giro magnet =
magnetik ratio) yang harganya tetap untuk setiap inti.
E = f ( Ho) = h
= perbedaan antara momen magnet inti dengan momentum angular inti
karena setiap inti punya perbuatan muatan dan massa.
Satuan dari momen angular inti = h/ 2H
Sehingga

E= (

=(

h
) . Ho=h
2H

) . Ho
2H

3. Prinsip Dasar NMR


Metode spektroskopi jenis ini didasarkan pada penyerapan energi oleh partikel yang
sedang berputar di dalam medan magnet yang kuat. Energi yang dipakai dalam pengukuran
dengan metode ini berada pada daerah gelombang radio 75-0,5 m atau pada frekuensi 4-600
MHz, yang bergantung pada jenis inti yang diukur. Inti yang dapat diukur dengan NMR yaitu
a. Bentuk bulat
b. Berputar
c. Bilangan kuantum spin =
d. Jumlah proton dan netron ganjil, contoh : 1H, 19F, 31P, 11B, 13C
Di dalam medan magnet, inti aktif NMR (misalnya 1H atau 13C) menyerap pada
frekuensi karakteristik suatu isotop. Frekuensi resonansi, energi absorpsi dan intensitas sinyal
berbanding lurus dengan kekuatan medan magnet. Sebagai contoh, pada medan magnet 21
tesla, proton beresonansi pada 900 MHz. Nilai magnet 21 T dianggap setara dengan magnet
900 MHZ, meskipun inti yang berbeda beresonansi pada frekuensi yang berbeda. Di medan
magnet bumi, inti yang sama beresonansi pada frekuensi audio. Fenomena ini dimanfaatkan

oleh spektrometer NMR medan bumi, yang lebih murah dan mudah dibawa. Instrumen ini
biasa digunakan untuk keperluan kerja lapangan dan pengajaran.
4. Kegunaan NMR
Banyak informasi yang dapat diperoleh dari spektra NMR. Pada umumnya metode ini
berguna sekali untuk mengidentifikasi struktur senyawa atau rumus bangun molekul senyawa
organik. Meskipun Spektroskopi Infra Merah juga dapat digunakan untuk tujuan tersebut,
analisis spektra NMR mampu memberikan informasi yang lebih lengkap.
Dampak spektroskopi NMR pada senyawa bahan alam sangat penting. Ini dapat
digunakan untuk mempelajari campuran analisis, untuk memahami efek dinamis seperti
perubahan pada suhu dan mekanisme reaksi, dan merupakan instrumen tak ternilai untuk
memahami struktur dan fungsi asam nukleat dan protein. Teknik ini dapat digunakan untuk
berbagai variasi sampel, dalam bentuk padat atau pun larutan.
Beberapa aplikasi dari spektroskopi NMR :

1. Bidang Kedokteran.
Spektroskopi NMR merupakan alat yang dikembangkan dalam biologi struktural.
NMR manjadi sebuah teknik alternatif selain kristalografi X-Ray, untuk memperoleh
informasi struktur dan resolusi dinamik atomik dan studi interaksi molekuler dari
makromolekul biologi pada kondisi larutan secara fisiologi. Usaha sangat penting
untuk memperluas aplikasi NMR untuk sistem molekul yang lebih besar, karena
jumlah yang lebih besar secara biologi dibutuhkan kompleks makromolekul dan
makromolekuler yang memiliki massa molekuler melebihi range yang sacara prakis
digunakan untuk spektroskopi NMR konvensional dalam larutan. Peningkatan ukuran
ini memberikan batasan, contohnya, penentuan struktur protein yang tidak dapat
dikristalkan, termasuk membran protein integral, penelitian interaksi molekuler
melibatkan molekul besar dan penghimpunan makromolekuler, dan penentuan
struktur dari oligonukleotida yang lebih besar dan kompleks dengan protein.

2. Bidang Biologi Molekuler

Untuk protein dan protein komplek dengan massa molekuler sekitar 25-30 kDa
kualitas spektra menurun dengan cepat membatasi mayor A ketika bekerja dengan
makromolekul besar yang berasal dari kecepatan relaksasi tinggi signal NMR,
menyebabkan garis tajam yang melebar, yang berpindah menuju resolusi spektra yang
lebih sedikit dan perbandingan signal-to-noise yang rendah. Banyak peningkatan
kualitas spektra NMR dari biologi makromolekuler dengan massa molekuler sekitar
diatas 25 kDa dapat diperoleh dengan deuterasi, teknik yang telah dipakai dalam
biologi NMR selama lebih dari 30 tahun. Dikombinasikan dengan label 15N dan 13C,
label 2H mengalami pemulihan yang sangat mengesankan sekitar 10 tahun yang lalu
dan telah menjadi alat yang paling penting untuk menentukan struktur yang lebih
besar dalam larutan.

3. Studi Larutan NMR pada Protein Membran


Protein membran berperan pada beberapa fungsi fisiologi yang penting, dan dalam
membentuk kunci target obat-obatan. Studi struktural protein membran oleh X-ray
crystallography atau oleh NMR spektrokopi lebih sulit dari pada untuk protein yang
dapat dilarutkan. Karena sistem membran yang nyata terlalu besar untuk diteliti
dengan ekperimen larutan NMR, protein membran sering diencerkan dalam detergen
micelles. Dari system micellar, spektra dapat diperoleh menggunakan TROSY
(Transverse

Relaxation-Optimized

Spectroscopy).

Membran

protein

dalam

detergen/lemak micelles menghasilkan sedikit resonansi NMR dan signal overlap


berkurang daripada protein globular dari massa molekuler yang sama. Walaupun
molekul detergen dapat menunjukkan fraksi yang besar dari keseluruhan massa yang
besar dari pencampuran micelles, pelabelan isotop yang sesuai seperti tanda 13C, 15N
dari protein dan atau menggunakan detergen deuterasi, memastikan bahwa signal
NMR protein dapat dideteksi dengan besar atau tanpa interferensi dari signal molekul
detergen.NMR pada biologi melekuler dilakukan pada sample dalam bentuk larutan
yang terlebih dahulu dilakukan pemurnian atau ekstraksi. Dengan NMR dapat
diketahui struktur molekulernya dan perubahan yang terjadi ketika mendapat ganguan
dari luar (rangsangan, penyakit atau penambahan zat lain) .

5. Komponen dari NMR serta cara kerjanya


Instrumen NMR terdiri atas komponen-komponen utama berikut:
a. Magnet
Akurasi dan kualitas suatu alat NMR tergantung pada kekuatan magnetnya. Resolusi
akan bertambah dengan kenaikkan kekuatan medannnya, bila medan magnetnya
homogen elektromagnet dan kumparan superkonduktor (selenoids). Magnet
permanen mempunyai kuat medan 7046-14002 G, ini sesuai dengan frekuensi
oskilator antara 30-60 MHz. Termostat yang baik diperlukan karena magnet bersifat
peka

terhadap

temperatur.

Elektromagnet

memerlukan

sistem

pendingin,

elektromagnet yang banyak di pasaran mempunyai frekuensi 60, 90 dan 100 MHz
untuk proton. NMR beresolusi tinggi dan bermagnet superkonduktor dengan
frekuensi proton 470 MHz. Pengaruh fluktuasi medan dapat diatasi dengan sistem
pengunci frekuensi, dapat berupa tipe pengunci eksternal atau internal. Pada tipe
eksternal wadah senyawa pembanding dengan senyawa sampel berada pada tempat
terpisah, sedang pada tipe internal senyawa pembanding larut bersama-sama sampel.
Senyawa pembanding biasanya tetrametilsilan (TMS).
b. Generator medan magnet penyapu
Suatu pasangan kumparan terletak sejajar terhadap permukaan magnet, digunakan
untuk mengubah medan magnet pada suatu range yang sempit. Dengan
memvariasikan arus searah melalui kumparan ini, medan efektif dapat diubah-ubah
dengan perbedaan sekitar 10 -3 gauss. Perubahan medan ini disinkronisasikan secara
linier dengan perubahan waktu. Untuk alat 60 MHz (proton), range sapuannya adalah
235 x 10 -3 gauss. Untuk F 19 , C 13 , diperlukan sapuan frekuensi sebesar 10 KHz.
c. Sumber frekuensi radio
Sinyal frekuensi oskilasi radio (transmiter) disalurkan pada sepasang kumparan yang
possinya 90 terhadap jalar dan magnet. Suatu oskilator yang tetap sebesar 60, 90
atau 100 MHz digunakan dalam NMR beresolusi tinggi.
d. Detektor sinyal
Sinyal frekuensi radio yang dihasilkan oleh inti yang beresolusi dideteksi dengan
kumparan yang mengitari sampel dan tegak lurus terhadap sumber. Sinyal listrik
yang dihasilkan lemah dan biasanya dikuatkan dulu sebelum dicatat.
e. Perekaman (Rekorder)
Pencatat sinyal NMR disinkronisasikan dengan sapuan medan,

rekorder

mengendalikan laju sapuan spektrum. Luas puncak dapat digunakan untuk


menentukan jumlah relatif inti yang mengabsorpsi.
f. Tempat sampel dan kelengkapannya (Tempat sampel dan probe)

Tempat sampel merupakan tabung gelas berdiameter 5mm dan dapat diisi cairan
sampai 0,4 ml. Probe sampel terdiri atas tempat kedudukan sampel, sumber frekuensi
penyapu dan kumparan detektor dengan sel pembanding. Detektor dan kumparan
penerima diorientasikan pada 90. Probe sampel menggelilingi tabung sampel pada
ratusan rpm dengan sumbu longitudinal

NMR bekerja secara spesifik sesuai dengan inti atom yang dipakai. Jenis radiasi yang
dipakai pada pengukuran NMR adalah radiasi frekuensi radio. Adapun cara kerjanya adalah :

a. Larutan cuplikan dimasukkan ke dalam tabung berputar dalam medan magnet,


b. Lalu sejumlah radiasi pada frekuensi radio dipancarkan ke sel yang berputar
dalammedan magnet,
c. Proton dalam senyawa akan beresonansi sambil memancarkan sejumlah energi
frekuensi radio,
d. Energi yang dipancarkan tersebut diterima oleh penerima frekuensi radio
Selanjutnya energi frekuensi radio diterima oleh detektor, yang kemudian
mengamplifikasi dan mengubahnya menjadi besaran terukur.
e. Hasil pengukuran NMR proton berupa spektra NMR proton dimana garis vertikal
menunjukkan serapan sedangkan garis horizontal menunjukkan pergeseran kimia
(, ppm),