Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

Fraktur klavikula adalah kerusakan dari tulang klavikula (biasanya disebut dengan
tulang selangka). Tulang tersebut menghubungkan sternum ke bahu. Fraktur adalah hilangnya
kontuinitas tulang, tulang rawan sendi dan tulang rawan epifise yang bersifat total maupun
parsial. Fraktur klavikula sangat sering terjadi, biasanya terjadi pada tiga tempat yaitu
pertengahan klavikula ( tempat paling sering terjadi), sepertiga distal ( ujung dari klavikula
yang menghubungkan klavikula dengan bahu), dan sepertiga medial (ujung klavikula yang
menghubungkan klavikula dengan sternum).
Pada prinsipnya penangan patah tulang klavikula adalah untuk mencapai
penyembuhan

tulang dengan meminimum tingkat morbiditas, hilangnya fungsi dan sisa

kelainan bentuk. Kebanyakan patah klavikula telah berhasil ditangani dengan metode tanpa
operasi, namun dapat dilakukan pembedahan apabila terjadi hal-hal berikut yaitu fraktur
terbuka, terdapat cedera neurovaskuler, fraktur komunitif, tulang memendek karena fragmen
fraktur tumpang tindih, rasa sakit karena gagal penyambungan (nonunion) dan masalah
kosmetik , karena posisi penyatuan tulang tidak semestinya (malunion).

BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 IDENTITAS PASIEN


Nama

: Tn. Mochamad Ramdhan

Usia

: 18 tahun

Tanggal Lahir

: 06 November 1996

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Status Pernikahan

: Belum Menikah

Alamat

: Perum Pemda, Rt 02 Rw 08, kel. Sukaharja, Kecamatan Teluk Jambe


timur,Kab Karawang

Agama

: Islam

Pekerjaan

: TNI/POLRI

Nomor Rekam Medis : 609113

2.2 ANAMNESIS
Diperoleh dengan cara autoanamnesis pada hari kamis tanggal 30 Oktober 2015 pukul 7.30
Keluhan Utama : Pasien datang dengan keluhan nyeri pada bahu kiri
Keluhan Tambahan:
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke Poli Orthopedi RSUD Karawang pada tanggal 27 Oktober 2015,
dengan keluhan nyeri pada bahu kiri sejak 5 hari SMRS. Pasien juga mengeluh bahunya
makin dirasakan nyeri jika bila dilakukan gerakan bahu. 5 hari SMRS pasien terjatuh /
terpleset dari tangga didalam rumah, posisi jatuhnya kedepan dan tidak ada bagian kepala

yang terkena hanya bagian bahu . Besoknya pasien pergi ke tukang urut tetapi rasa nyerinya
tidak hilang malah pasien semakin mengeluh nyeri. Dokter Orthopedi meminta pasien untuk
melakukaan foto thorax, dengan hasil foto tersebut dokter Ortopedi mengusulkan untuk
dilakukan pemasangan pen. Setelah pasien setuju, lalu pasien di konsulkan ke dokter spesialis
anastesi untuk di jadwalkan operasi. Operasi dilakukan tanggal 30 oktober 2015.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengaku tidak memiliki penyakit hipertensi, DM, alergi obat maupun asma
Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien mengaku di keluarga pasien tidak ada yang menderita hal serupa.
Riwayat Operasi
Pasien mengaku belum pernah dioperasi sebelumnya
Riwayat Pengobatan
Pasien mengaku sempat pergi ke ahli urut (pijat bahu) dan pasien mengaku tidak
mengkonsumsi obat-obatan apapun
Riwayat Kebiasaan
Tidak terdapat riwayat merokok, namun didapat riwayat sering minum kopi rutin setiap hari 2
cangkir.
2.3 PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan tanggal 30 September 2015 di bangsal Klari RSUD Karawang.
I.

II.

Keadaan Umum
a. Kesan Sakit : Tampak sakit sedang
b. Kesadaran
: Compos mentis
c. Status Gizi : Gizi baik
d. Tidak ada sesak
Tanda Vital dan Antropometri

PEMERIKSAAN
Suhu
Nadi

NILAI NORMAL
36,50 37,20 C
60-100 x/mnt

HASIL PASIEN
36,0
76 x/mnt, reguler, isi
cukup, equivalen

Tekanan darah
Nafas

120/80 mmHg
14-18x/menit

127/74 mmHg
13x/menit

Tabel 1. Tanda vital dan antropometri


A. Status Generalis
Kepala: Ukuran normosefali, bentuk bulat oval, tidak tampak deformitas, rambut

berwarna hitam, tipis


Wajah: tidak tampak sesak, tidak kesakitan, tidak pucat, tidak sianosis, ekspresi wajah

simetris, dan tidak tampak gambaran khas seperti moon face ataupun fasies hipocrates
Mata: Bentuk normal, konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil bulat isokor,

reflek cahaya (+/+), kornea jernih.


Telinga: Normotia, nyeri tekan tragus (-), meatus akustikus eksterna lapang, sekret

(-/-), serumen (+/+) sedikit, membran timpani intak, refleks cahaya (+/+)
Hidung: Bentuk normal, deviasi septum (-), sekret (-/-), nafas cuping hidung (-/-)
Mulut:Palatoschiziz (-),labioschiziz (-), bibir sinosis (-), bibir kering (-), trismus (-),

tidak tampak gigi akan copot.


Leher: Trakea teraba ditengah, KGB serta kelenjar tiroid tidak teraba membesar, leher

tidak pendek.
Paru-paru:
Inspeksi : bentuk simetris pada saat statis & dinamis, tidak terdapat retraksi
Palpasi : vocal fremitus simetris (+)
Perkusi : Sonor di kedua lapang paru
Auskultasi: Suara nafas vesikuler (+/+), ronki (-/-), wheezing
(-/-)
- Jantung:
Inspeksi : Tidak tampak adanya pulsasi Ictus cordis
Palpasi : Tidak teraba adanya pulsasi Ictus cordis
Perkusi : Batas jantung tidak dinilai
Auskultasi: S1 S2 regular, murmur (-), gallop (-)
Abdomen:
Inspeksi : tidak tampak cembung, abdomen teraba supel
Auskultasi: Bising usus (+)
Palpasi : defens muskuler (-)
Perkusi : timpani
Genitalia/Anorektal : tidak dinilai
Ekstremitas:

Ekstremitas
Oedem
Deformitas
Akral dingin
Akral sianosis
Ikterik
CRT

Superior
-/-/-/-/-/<2 detik

Inferior
-/-/-/-/-/< 2 detik

Tonus

Baik

Baik

Tabel 2. Pemeriksaaan fisik ekstremitas

Kulit : tidak didapati adanya sianosis maupun ikterik

Pemeriksaan Lokalis :

Regio Klavikula Sinistra


Look

: tampak jejas luka, terdapat penonjolan abnormal, oedem (-), tampak


pemendekan dibanding klavikula sinistra, angulasi (+).

Feel

nyeri tekan setempat (+), krepitasi (+), cekungan pada 1/3 mid
klavikula (+), sensibilitas (+), suhu rabaan hangat (+).

Move

: gerakan aktif dan pasif terhambat, gerakkan abduksi lengan kanan


terhambat, gerakkan adduksi lengan kanan tidak terhambat, nyeri bila
digerakan (+), tampak gerakan terbatas (+).

II.4

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Laboratorium tanggal 28 Oktober 2015


Parameter

Hasil

Nilai Rujukan

Satuan

Hemoglobin

14

12,0-16,0

g/dL

Leukosit

13,03*

3,8-10,60

Ribu/L

Hematokrit

305*

35-47

Trombosit

39,6

150-440

Ribu/L

Masa perdarahan/BT

1-3

Menit

Masa pembekuan/CT

10

5-11

Menit

Golongan Darah ABO

Hematologi

Golongan

Darah (+)

Rhesus
Tabel 3. Hasil pemeriksaan laboratorium
Hasil Pemeriksaan Foto Thorax tanggal 28 Oktober 2015 jam 14:26

Jantung kesan normal, Aorta baik.


Corakan paru-paru baik, tidak tampak infiltrat/fibrosis/kalsifikasi
--------------------------------------------------------------------------------------Sinus Kostofrenikus kanan kiri tajam.
Tampak frakur os. Clavicula kiri 1/3 tengah.
Kesan : Fraktur os. Clavikula kiri 1/3 tengah.

2.5 DIAGNOSIS KERJA


Diagnosis : Neglected Close Fraktur Clavicula sinistra
2.6 KESIMPULAN
Status fisik pasien

: ASA I

Perencanaan anestesi : Pada pasien ini akan dilakukan tindakan Orif (Open Reduction
with Internal Fixation) dan soft tissue relase dengan teknik anestesi umum.

BAB III
LAPORAN ANASTESI

Status anestesi
Diagnosa pre operasi

: Neglected Close Fraktur Clavicula sinistra

Jenis operasi

: ORIF (Open Reduction with Internal Fixation)

Rencana teknik anestesi


Status fisik
Pre Operasi :

: Anastesi umum / General Anesthesia


: ASA I

Infromed Consent
Pasien puasa 6 jam pre-operatif (mulai jam 3 pagi)
Cek dan persiapan obat dan alat anestesi
Persiapan Alat
- Mesin anestesi
- Monitor anestesi
- Sfigmomanometer digital
- Pulse oksimeter/saturasi
- Stetoskop
- Sungkup muka
- Guedel
- Laringoscope no 3
- Tube non-kinking no 30
- Stylet
- Klem Kasa
- Peg
- Plester
- Spuit 10cc
Persiapan Obat
-

Pre medikasi

Induksi
Maintenance
Post op

: Midazolam (Sedacum) 3 mg
Fentanyl 100 + 5 mcg
: Propofol 150 mg
: O2 : N2O : Isoflurane
: tramadol 100 mg, ketorolac 30 mg,ondansetron 4

mg.
Infus RL 500 ml dan Asering 500 ml ( 20 tpm )
Tanda vital : TD : 128/78 mmHg, Nadi : 78 x/menit, Nafas: 18 x/menit, Suhu: 36,81oC
Intra Operasi

Lama operasi
Lama anestesi
Jenis anestesi
Posisi
Infus
Premedikasi

: 50 menit (Jam 08.55 - 09.45 WIB)


: 75 menit (Jam 08.45 - 10.00 WIB)
: Anestesi umum / General anesthesia
: Supine
: Ringer laktat pada tangan kanan
: Midazolam (Sedacum) 3 mg

Medikasi : Fentanyl 100 mcg, Propofol 150 mg, Notrixum 25 mg, O 2 2L3L/menit, N2O 2L/menit, Isofluran 1 vol%, Injeksi Ondansentron 4 mg i.v, Injeksi

Tramadol 100 mg i.v, injeksi Ketorolac 30 mg i.v.


Cairan Masuk
: 500 cc Ringer Laktat, 250cc Asering

Monitoring saat operasi


Jam

Tindakan

(waktu)
08.45

Pasien

masuk

Tekanan

Nadi

SPO2

darah

(x/menit)

( %)

78

92

60

98

60

98

(mmHg)
ke 128/78

kamar operasi dan di


pindahkan

ke

meja

operasi

Pemasangan
monitoring

tekanan

darah, nadi, saturasi


oksigen.

Infus Ringer Laktat


terpasang pada tangan

08.50

kanan
Premedikasi

dengan 120/60

sedacum2 mg

Medikasi : Fentanyl
100

mcg,

Propofol

150 mg , Notrixum 25
mg

Pemasangan sungkup
muka

Pemberian
2L/menit,

O2
N2O

2L/menit, Isofluran 1
vol%

08:55

Bagging

dengan

frekuensi 12 x/m
Pasien napas spontan

128/55

09:00
09.15

09.30
09.45

Operasi dimulai
Operasi
masih 128/68

78

98

berjalan
Operasi

92

99

berjalan
Pemberian fentanyl 5

mcg
Operasi

masih 120/70

86

99

berjalan
Operasi selesai
Pemberian

120/60

96

100

120/60

60

100

masih 122/74

obat

Injeksi Ondansentron
4

mg

i.v,

Injeksi

Tramadol 100 mg i.v,


injeksi ketorolac 30

10.00

mg i.v
Pemasangan Guedel
Pemasangan sungkup

muka
Pemberian O2 3 L

Melepaskan
monitoring

tekanan

darah, nadi, saturasi

oksigen
Pemberian

dihentikan
Pasien dipindahkan ke

O2

recovery room
Tabel 5. Monitoring intraoperatif
Post Operasi
Operasi berakhir pada pukul 09.45 WIB tanggal 30 Oktober 2015. Selesai Operasi
pasien masih dalam kondisi tidak sadar dengan napas spontan lalu dipindahkan ke ruang
pemulihan, melanjutkan pemberian cairan dan di observasi pernafasan, tekanan darah serta
nadi. Lalu pasien dimasukan ke ruang bangsal kelari.
Ruangan Klari (02/11/2015)

S:

tidak ada keluhan

O:

Keadaan Umum : Compos mentis, tampak sakit sedang, kesan gizi cukup

Tanda vital

:
TD
Nadi
RR
Suhu

07.00
125/69
86
18
36

Tabel 6. Tanda vital pasien hari ke 3 post operasi

Status Generalis :
Mata

: Konjungtiva anemis (), Sklera ikterik ()

Paru

: Vesikular rhonki -/- , wheezing -/-

Jantung

: BJ I dan II N , Murmur (), Gallop ()

Abdomen : BU (+), Nyeri Tekan (+)


Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2 detik , oedem (-)
A :Post Orif ( Open Reduction with Internal Fixation)
P:
Infus : RL 500ml 20 tpm
IV :

BAB IV
ANALISIS KASUS
Tn. M, 18 tahun datang ke Poli Orthopedi RSUD Karawang pada tanggal 27 Oktober
2015, dengan keluhan nyeri pada bahu kiri sejak 5 hari SMRS. Pasien juga mengeluh bahunya
makin dirasakan nyeri jika bila dilakukan gerakan bahu. 5 hari SMRS pasien terjatuh /
terpleset dari tangga didalam rumah, posisi jatuhnya kedepan dan tidak ada bagian kepala
yang terkena hanya bagian bahu . Besoknya pasien pergi ke tukang urut tetapi rasa nyerinya
tidak hilang malah pasien semakin mengeluh nyeri..
Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan Kesadaran pasien compos mentis, Tekanan
darah 120/80 mmHg, Nadi 76x/menit, Suhu 360C, Nafas 13x/menit. Pemeriksaan lokalis regio
klavikula dextra tampak jejas luka, terdapat penonjolan abnormal, oedem (-), tampak
pemendekan dibanding klavikula sinistra, angulasi (+), nyeri tekan setempat (+), krepitasi (+),
cekungan pada 1/3 mid klavikula (+), sensibilitas (+), suhu rabaan hangat (+), gerakan aktif
dan pasif terhambat, gerakkan abduksi lengan kanan terhambat, gerakkan adduksi lengan
kanan tidak terhambat, nyeri bila digerakan (+), tampak gerakan terbatas (+).

Dari pemeriksaan penunjang didapatkan kesan foto rontgen tampak fraktur os.
Clavicula kiri 1/3 tengah. Dari hasil lab darah dalam didapatkan leusitosis dan peningkatan
hematokrit. Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang didapatkan
diagnosis pasien adalah neglected close fractur clavivula sinistra. Didapatkan juga status
anasetesi pasien adalah ASA I. Rencana anestesi yang akan dilakukan adalah Anestesi umum.
Sebelum di induksi pasien diberikan Fentanyl sebanyak 100 mcg. Fentanyl adalah
obat golongan Opioid, diberikan untuk memberikan efek analgetik saat dilakukan
pembedahan. Kemudian pasien diberikan midazolam (sedacum) 3 mg. Midazolam
memberikan efek sedasi, termasuk golongan Benzodiazepin. Atracurium termasuk muscle

relaxan non Depolirazing drugs berfungsi untuk relaksasi otot polos terutama saat melakukan
intubasi agar mempermudah pemasukan ke dalam saluran pernafasan. Kemudian pasien di
induksi dengan Propofol sebanyak 150 mg. Propofol termasuk obat anestesi intravenous, yang
bertujuan untuk mengubah keadaan pasien dari sadar menjadi tidak sadar. Sifat utama
propofol adalah hipnotik. Efek kerja propofol cukup cepat, yaitu dalam 30 detik obat mulai
bekerja. Efek samping yang akan dirasakan pasien adalah tekanan darah menurun karena
propofol dapat menyebabkan relaksasi otot polos pada pembuluh darah.
Setelah di induksi pasien diberikan sungkup muka dengan O2 + N2O agar mendapatkan
oksigenasi awal. Setelah cukup (sekitar 3-4 menit) dilanjutkan pemasangan ETT dengan
bantuan Laringoskop. Untuk mempertahankan pasien agar terus dalam keadaan teranestesi,
pasien diberikan maintenance dengan inhalasi melalui ETT. Penggunaan ETT cocok untuk
operasi besar dan lama. Kelebihan dari penggunaan ETT adalah menjaga patensi jalan nafas
oleh sebab apapun, mempermudah ventilasi positif dan oksigenasi, dan pencegahan terhadap
aspirasi dan regurgitasi. Setelah itu di atur pemberian anestesi secara inhalasi nya dimana
pada pasien ini diberikan O2 3 L/ menit, N2O 2 L/menit, dan Isoflurane sebanyak 1 vol%.
Selama operasi, kondisi pasien cukup stabil. Pada Pukul 9.45 Operasi selesai.
Diberikan ondansentron agar pasien tidak mual, tramadol dan ketorolak untuk mengurangi
rasa sakit setelah dilakukan pembedahan. Kemudian ETT di ekstubasi, dan monitor di lepas
dari pasien, pasien dengan segera di bawa ke Recovery room.
Pemberian Cairan

Kebutuhan cairan basal (M)


10 kgBB x 4 cc = 40
10 kgBB x 2 cc = 20
45 kgBB x 1 cc = 45
Total 40 + 20 + 40 = 100 cc/jam
Kebutuhan cairan intraoperasi (O)
ORIF adalah operasi besar
8 x 60 kgBB = 480 cc/jam
Kebutuhan cairan saat puasa (P)
6 x 83 ml/jam = 498 cc
Sehingga pemberian cairan selama operasi
Jam pertama = M + O + P = 100 + 480 + 249 = 829 cc
Sehingga kebutuhan cairan selama operasi untuk 60 menit adalah 829 cc
Cairan yang masuk selama operasi
Pertama cairan Ringer Laktat sebanyak 500 cc masuk, kemudian setelah habis diganti
dengan Asering +- 250 cc.
Batas Volume Darah yang boleh keluar (Allowed Blood Loss)

20% x (EBV) = 20% x (75 x 60) = 900 cc


Jumlah darah yang keluar
Darah di lapangan operasi = 50 cc
Suction = 180 cc
Kasa sedang = 4 kasa x 10 cc = 40 cc
Total 50 + 180 + 40 = 270 cc

Karena jumlah darah keluar < Allowed Blodd Loss maka pasien tidak diperlukan Transfusi
darah

BAB V
TINJAUAN PUSTAKA
5.1 ANESTESI UMUM
A. Definisi
Anastesi umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya
kesadaran dan bersifat pulih kembali (reversible).1
B. Keuntungan Anestesi Umum

Membuat pasien lebih tenang

Untuk operasi yang lama

Dilakukan pada kasus-kasus yang memiliki alergi terhadap agen anestesia lokal

Dapat dilakukan tanpa memindahkan pasien dari posisi supine (terlentang)

Dapat dilakukan prosedur penanganan (pertolongan) dengan cepat dan mudah pada
waktu-waktu yang tidak terprediksi

C. Kerugian Anestesi Umum

Membutuhkan pemantauan ekstra selama anestesi berlangsung

Membutuhkan mesin-mesin yang lengkap

Dapat menimbulkan komplikasi yang berat, seperti : kematian, infark


myokard, dan stroke

Dapat

menimbulkan

komplikasi

ringan

seperti:

mual,

muntah, sakit

tenggorokkan, sakit kepala. Resiko terjadinya komplikasi pada pasien dengan anestesi
umum adalah kecil, bergantung beratnya kormobit penyakit pasiennya.
D. Komponen Anestesia
Komponen anestesia yang ideal (trias anestesi) terdiri dari:
(1) Hipnotik, Hipnotik didapat dari sedatif, anestesi inhalasi (halotan, enfluran, isofluran,
sevofluran).
(2) Analgesia,

Analgesia

didapat

dari

N2O,

analgetika

narkotik,

NSAID

tertentu.Sedangkan relaksasi otot didapatkan dari obat pelemas otot (muscle relaxant).
(3) Relaksasi otot, Relaksasi otot diperlukan untuk mengurangi tegangnya tonus otot
sehingga akan mempermudah tindakan pembedahan.

E. Stadium Anestesia
Guedel (1920) membagi anestesi umum dengan eter kedalam 4 stadium yaitu:
a) Stadium I (analgesi) dimuai dari saat pemberian zat anestetik sampai hilangnya
kesadaran pada stadium ini pasien masih dapat mengikuti perintah dan terdapat
analgesi (hilangnya rasa sakit). Tindakan pembedahan ringan seperti pencabutan gigi
dan biopsi kelenjar dapat dilakukan pada stadium ini.
b) Stadium II (delirium/eksitasi, hiperrefleksi) dimulai dari hilangnya kesadaran dan
refleksi bulu mata sampai pernapasan kembali teratur pada stadium ini terlihat adanya
eksitasi dan gerakan yang tidak menurut kehendak, pasien tertawa, berteriak,
menangis, pernapasan tidak teratur, kadang-kadang apne dan hiperpnu, tonus otot
rangka meningkat, inkontinensia urin dan alvi dan muntah. Stadium ini harus cepat
dilewati karena dapat menyebabkan kematian.
c) Stadium III (pembedahan) dimulai dengan teraturnya pernapasan sampai pernapasan
spontan hilang. Stadium III dibagi menjadi 4 plana yaitu:
Plana 1: pernapasan teratur dan spontan, dada dan perut seimbang, terjadi gerakan
bola mata yang tidak menurut kehendak, pupil miosis, refleks cahaya ada, lakrimasi
meningkat, refleks faring dan muntah tidak ada dan belum tercapai relaksasi otot lurik
yang sempurna.
Plana 2: pernapasan teratur dan spontan, perut dan volume dada tidak menurun,
frekuensi meningkat, bola mata tidak bergerak terfiksasi ditengah, pupil midriasis,
refleks cahaya mulai menurun, relaksasi otot sedang dan refleks laring hilang sehingga
dapat dikerjakan intubasi.
Plana 3: pernapasan teratur oleh perut karena otot interkostal mulai paralisis, lakrimasi
tidak ada, pupil midriassis dan sentral, refleks laring dan peritoneum tidak ada,
relaksaai otot lurik hampir sempurna (tonus otot semakin menurun).
Plana 4: pernapasan tidak teratur oleh perut karena otot interkostal paralisis total, pupil
sangat midriasis, refleks cahaya hilang, refleks sfingterani dan kelenjar air mata tidak
ada, relaksasi otot lurik sempurna (tonus otot sangat menurun).
d) Stadium IV (paralisis medulla oblongata) dimulai dengan melemahnya pernapasan
perut dibanding stadium III plana 4. Pada stadium ini tekanan darah tidak dapat
diukur, denyut jantung berhenti dan akhirnya terjadi kematian. Kelumpuhan
pernapasan pada stadium ini tidak dapat diatasi dengan pernapasan buatan.

F. Persiapan Pre-anestesia :

I. Persiapan mental dan fisik pasien


1. Anamnesis

Identitas pasien, misalnya : nama, umur, alamat dan pekerjaan


Riwayat penyakit yang sedang atau pernah diderita yang mungkin dapat
menjadi penyulit dalam anestesia seperti penyakit alergi, diabetes mellitus,
penyakit paru kronik, penyakit jantung dan hipertensi, penyakit hati dan

penyakit ginjal.
Riwayat obat-obat yang sedang atau telah digunakan dan mungkin dapat

menimbulkan interaksi dengan obat-obat anestesi.


Riwayat operasi dan anestesia yang pernah dialami, berapa kali dan selang

waktunya, serta apakah pasien mengalami komplikasi saat itu.


Kebiasaan buruk sehari-hari yang dapat mempengaruhi jalannya anestesi
misalnya merokok, alkohool, obat-obat penenang atau narkotik.

2. Pemeriksaan fisik

Tinggi dan berat badan untuk mmemperkirakan dosis obat, terapi cairan yang

diperlukan dan jumlah urin selama dan pasca bedah.


Kesadaran umum, kesadaran, tanda-tanda anemia, tekanan darah, frekuensi

nadi, pola dan frekuensi pernafasan.


Pemeriksaan saluran pernafasan; batuk-batuk, sputum, sesak nafas, tanda-tanda
sumbatan jalan nafas, pemakaian gigi palsu, trismus, persendian temporo

mandibula.
Tanda-tanda penyakit jantung dan kardiovaskuler; dispnu atau ortopnu,

sianosis, hipertensi
Abdomen untuk melihat adanya distensi, massa, asites yang dapat membuat
tekanan intra abdominal meningkat sehingga dapat menyebabkan regurgitasi.

3. Pemeriksaan laboratorium

Darah : Hb, leukosit, golongan darah, hematokrit, masa pembekuan, masa

perdarahan, hitung jenis leukosit


Urine : protein, reduksi, sedimen
Foto thoraks
EKG : terutama pada pasien diatas 40 tahun karena ditakutkan adanya iskemia

miokard
Spirometri dan bronkospirometri pada pasien tumor paru
Fungsi hati pada pasien ikterus
Fungsi ginjal pada pasien hipertensi
Analisa gas darah, elektrolit pada ileus obstruktif

II. Klasifikasi status fisik


Klasifikasi yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran fisik seseorang adalah
yang berasal dari The American Society of Anesthesiologists (ASA). Klasifikasi fisik ini
bukan alat prakiraan resiko anestesia, karena dampaksamping anestesia tidak dapat
dipisahkan dari dampak samping pembedahan.
Kelas I

: Pasien sehat organik, fisiologik, psikiatrik, biokimia.

Kelas II

: Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang.Contohnya: pasien batu

ureter dengan hipertensi sedang terkontrol, atau pasien appendisitis akut dengan lekositosis
dan febris.
Kelas III :

Pasien

dengan

penyakit

sistemik

berat,

sehingga

aktivitas

rutin

terbatas.Contohnya: pasien appendisitis perforasi dengan septisemia, atau pasien ileus


obstrukstif dengan iskemia miokardium.
Kelas IV : Pasien dengan penyakit sistemik berat tak dapat melakukan aktivitas rutin dan
penyakitnya merupakan ancaman kehidupannya setiap saat.Contohnya: Pasien dengan
syok atau dekompensasi kordis.
Kelas V

: Pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa pembedahan hidupnya

tidak akan lebih dari 24 jam.Contohnya: pasien tua dengan perdarahan basis kranii dan
syok hemoragik karena ruptur hepatik.
Klasifikasi ASA juga dipakai pada pembedahan darurat dengan mencantumkan tanda
darurat (E = EMERGENCY), misalnya ASA IE atau IIE
IV. Persiapan pada hari operasi
Secara umum, persiapan pembedahan antara lain :
1. Pengosongan lambung : dengan cara puasa, memasang NGT. Lama puasa pada orang
dewasa kira-kira 6-8 jam, anak-anak 4-6 jam, bayi 2 jam (stop ASI). Pada operasi
darurat, pasien tidak puasa, maka dilakukan pemasangan NGT untuk dekompresi
lambung.
2. Pengosongan kandung kemih
3. Informed consent (Surat izin operasi dan anestesi).
4. Pemeriksaan fisik ulang
5. Pelepasan kosmetik, gigi palsu, lensa kontak dan asesori lainnya.

6. Premedikasi secara intramuskular - 1 jam menjelang operasi atau secara intravena jika
diberikan beberapa menit sebelum operasi
G. Premedikasi
Premedikasi adalah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi anesthesia dengan tujuan untuk
melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari anestesi diantaranya:

Meredakan kecemasan dan ketakutan, misalnya diazepam


Memperlancar induksi anestesia, misalnya pethidin
Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus, misalnya sulfas atropindan hiosin
Meminimalkan jumlah obat anestetik, misalnya pethidin
Mengurangi mual-muntah pasca bedah, misalnya ondansetron
Menciptakan amnesia, misalnya diazepam,midazolam
Mengurangi isi lambung
Mengurangi reflex yang membahayakan, misalnya tracurium, sulfas atropine

Obat-obat premedikasi dapat digolongkan seperti di bawah ini:


1.
2.

Narkotik analgesic, misalnya morfin pethidin


Transqualizer yaitu dari golongan benzodiazepine, misalnya diazepam dan
midazolam. Diazepam dapat dberikan peroral 10-15 mg beberapa jam sebelum

3.
4.
5.
6.
7.

induksi anesthesia
Barbiturat, misal pentobarbital, penobarbital, sekobarbital
Antikolinergik, misal atropine dan hiosin
Antihistamin, misal prometazine
Antasida, misal gelusil
H2 reseptor antagonis misalnya cimetidine dan ranitidine. Ranitidine diberikan 150
mg 1-2 jam sebelum operasi

Waktu dan cara pemberian premedikasi:


Pemberian obat secara subkutan tidak akan efektif dalam1 jam, secara intramuscular
minimum harus ditunggu 40 menit. Pada kasus yang sangat darurat dengan waktu tindakan
pembedahan yang tidak pasti obat-obat dapat diberikan secara intravena. Obat akan sangat
efektif sebelum induksi. Bila pembedahan belum dimulai dalam waktu 1 jam dianjurkan
pemberian premedikasi intramuscular, subkutan tidak dianjurkan. Semua obat premedikasi
bila diberikan secara intravena dapat menyebabkan sedikit hipotensi kecuali atropine dan
hiosin. Hal ini dapat dikurangi dengan pemberian secara perlahan-lahan dan diencerkan.
Obat-obat yang sering digunakan:
1. Analgesik narkotik
a. Petidin ( amp 2cc = 100 mg), dosis 1-2 mg/kgBB

2.

3.
4.

5.

b. Morfin ( amp 2cc = 10 mg), dosis 0,1 mg/kgBB


c. Fentanyl ( fl 10cc = 500 mg), dosis 1-3gr/kgBB
Analgesik non narkotik
a. Ponstan
b. Tramol
c. Toradon
Hipnotik
a. Ketamin ( fl 10cc = 100 mg), dosis 1-2 mg/kgBB
b. Pentotal (amp 1cc = 1000 mg), dosis 4-6 mg/kgBB
Sedatif
a. Diazepam/valium/stesolid ( amp 2cc = 10mg), dosis 0,1 mg/kgBB
b. Midazolam/dormicum (amp 5cc/3cc = 15 mg),dosis 0,1mg/kgBB
c. Propofol/recofol/diprivan (amp 20cc = 200 mg), dosis 2,5 mg/kgBB
d. Dehydrobenzperidon/DBP (amp 2cc = 5 mg), dosis 0,1 mg/kgBB
Anti-emetic
a. Sulfas atropine (anti kolinergik) (amp 1cc = 0,25 mg),dosis 0,001
mg/kgBB
b. DBP
c. Narfoz, rantin, primperan.

H. Persiapan Induksi Anestesi


Merupakan tindakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi tidak sadar, sehingga
memungkinkan dimulainya anestesi dan pembedahan. Induksi dapat dikerjakan secara
intravena, inhalasi, intramuscular atau rectal. Setelah pasien tidur akibat induksi anestesia
langsung dilanjutkan dengan pemeliharaan anestesia sampai tindakan pembedahan selesai.
Untuk persiapan induksi anestesi diperlukan STATICS:
S : Scope Stetoskop untuk mendengarkan suara paru dan jantung.

Laringo-

Scope, pilih bilah atau daun (blade) yang sesuai dengan usia pasien.
Lampu harus cukup terang.
T : Tube

Pipa trakea.pilih sesuai usia. Usia < 5 tahun tanpa balon (cuffed) dan
> 5 tahun dengan balon (cuffed).

A : Airway Pipa mulut faring (Guedel, orotracheal airway) atau pipa hidungfaring (naso-tracheal airway). Pipa ini untuk menahan lidah saat pasien
tidak sadar untuk menjaga supaya lidah tidak menyumbat jalan napas.
T : Tape Plester untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong atau tercabut.
I : Introducer Mandrin atau stilet dari kawat dibungkus plastic (kabel) yang
mudah dibengkokan untuk pemandu supaya pipa trakea mudah
dimasukkan.
C : Connector Penyambung antara pipa dan peralatan anestesia

S : Suction

penyedot lender, ludah dan lain-lainnya.

I. Intubasi
Intubasi Endotrakeal dengan napas spontan2
Intubasi endotrakea adalah memasukkan pipa (tube) endotrakea (ET= endotrakeal
tube) kedalam trakea via oral atau nasal. Indikasi; operasi lama, sulit mempertahankan
airway (operasi di bagian leher dan kepala)
Prosedur :
1. Sama dengan diatas, hanya ada tambahan obat (pelumpuh otot/suksinil dgn durasi
singkat)
2. Intubasi setelah induksi dan suksinil
3. Pemeliharaan
Teknik Intubasi :
1. Pastikan semua persiapan dan alat sudah lengkap
2. Induksi sampai tidur, berikan suksinil kolin fasikulasi (+)
3. Bila fasikulasi (-) ventilasi dengan O2 100% selama kira - kira 1 mnt
4. Batang laringoskopi pegang dengan tangan kiri, tangan kanan mendorong kepala
sedikit ekstensi mulut membuka
5. Masukan laringoskop (bilah) mulai dari mulut sebelah kanan, sedikit demi sedikit,
menyelusuri kanan lidah, menggeser lidah kekiri
6. Cari epiglotis tempatkan bilah didepan epiglotis (pada bilah bengkok) atau
angkat epiglotis (pada bilah lurus)
7. Cari rima glotis ( dapat dengan bantuan asisten menekan trakea darI luar )
8. Temukan pita suara warnanya putih dan sekitarnya merah
9.

Masukan ET melalui rima glottis

10. Hubungkan pangkal ET dengan mesin anestesi dan atau alat bantu napas (alat
resusitasi)

Berikut adalah klasifikasi Mallampati:

Gambar

1. Gradasi
Mallampati

Gradasi
1
2
3
4

Pilar faring
+
-

Uvula
+
+
-

Tabel 1. Gradasi Mallampati

Kesulitan saat melakukan intubasi


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Leher pendek berotot


Mandibula menonjol
Maksila/gigi depan menonjol
Uvula tak terlihat
Gerak sendi temporo-mandibular terbatas
Gerak vertebra servikal terbatas

Komplikasi dari intubasi


1. Selama intubasi
a. Trauma gigi geligi
b. Laserasi bibir, gusi, laring
c. Merangsang saraf simpatis
d. Intubasi bronkus
e. Intubasi esophagus
f. Aspirasi
g. Spasme bronkus
2. Setelah ekstubasi
a. Spasme laring
b. Aspirasi
c. Gangguan fonasi
d. Edema glottis-subglotis
e. Infeksi laring, faring, trakea

Palatum Molle
+
+
+
-

Keuntungan menggunakan ETT adalah1:


1. Menjaga Patensi jalan napas
Kelainan anatomi, bedah posisi khusus, pembersihan jalan nafas, dan lainlainnya
2. Mempermudah ventilasi positif dan oksigenasi
Misalnya saat resusitasi, memungkinkan penggunaan relaksan dengan efisien,
ventilasi jangka panjang
3. Pencegahan terhadap aspirasi dan regurgitasi

j. Cara memberikan anestesi


Pemberian anestesi dimulai dengan induksi yaitu memberikan obat sehingga
penderita tidur. Tergantung lama operasinya, untuk operasi yang waktunya pendek
mungkin cukup dengan induksi saja. Tetapi untuk operasi yang lama, kedalaman
anestesi perlu dipertahankan dengan memberikan obat terus menerus dengan dosis
tertentu, hal ini disebut maintenance atau pemeliharaan.
Kedaaan ini dapat diatasi dengan cara mendalamkan anestesi. Pada operasioperasi yang memerlukan relaksasi otot, bila relaksasinya kurang maka ahli bedah
akan mengeluh karena tidak bisa bekerja dengan baik, untuk operasi yang membuka
abdomen maka usus akan bergerak dan menyembul keluar, operasi yang memerlukan
penarikan otot juga sukar dilakukan. Keadaan relaksasi bisa terjadi pada anestesi yang
dalam, sehingga bila kurang relaksasi salah satu usaha untuk membuat lebih relaksasi
adalah dengan mendalamkan anestesi, yaitu dengan cara menambah dosis obat.
Pada umumnya keadaan relaksasi dapat tercapai setelah dosis obat anestesi
yang diberikan sedemikian tinggi, sehingga menimbulkan gangguan pada organ vital.
Dengan demikian keadaan ini akan mengancam jiwa penderita, lebih-lebih pada
penderita yang sensitif atau memang sudah ada gangguan pada organ vital
sebelumnya. Untuk mengatasi hal ini maka ada tehnik tertentu agar tercapai trias
anestesi pada kedalaman yang ringan, yaitu penderita dibuat tidur dengan obat
hipnotik, analgesinya menggunakan analgetik kuat, relaksasinya menggunakan
pelemas otot (muscle relaxant) tehnik ini disebut balance anestesi.
Pada balance anestesi karena menggunakan muscle relaxant, maka otot
mengalami relaksasi, jadi tidak bisa berkontraksi atau mengalami kelumpuhan,
termasuk otot respirasi, jadi penderita tidak dapat bernafas. Karena itu harus dilakukan

nafas buatan (dipompa), tanpa dilakukan nafas buatan, penderita akan mengalami
kematian, karena hipoksia. Jadi nafas penderita sepenuhnya tergantung dari
pengendalian pelaksana anestesi, karena itu balance anestesi juga disebut dengan
tehnik respirasi kendali atau control respiration.
Untuk mempermudah respirasi kendali penderita harus dalam keadaan terintubasi.
Dengan menggunakan balance anestesi maka ada beberapa keuntungan antara lain:

Dosis obatnya minimal, sehingga gangguan pada organ vital dapat dikurangi.
Polusi kamar operasi yang ditimbulkan obat anestesi inhalasi dapat dikurangi.
Selesai operasi penderita cepat bangun sehingga mengurangi resiko yang

ditimbulkan oleh penderita yang tidak sadar.


Dengan dapat diaturnya pernafasan maka dengan mudah kita bisa melakukan
hiperventilasi, untuk menurunkan kadar CO 2 dalam darah sampai pada titik
tertentu misalnya pada operasi otak. Dengan hiperventilasi kita juga dapat
menurunkan tekanan darah untuk operasi yang memerlukan tehnik hipotensi

kendali.
Karena pernafasan bisa dilumpuhkan secara total maka mempermudah
tindakan operasi pada rongga dada (thoracotomy) tanpa terganggu oleh
gerakan pernafasan. Kita juga dapat mengembangkan dan mengempiskan paru
dengan sekehendak kita tergantung keperluan. Dengan demikian berdasar
respirasinya, anestesi umum dibedakan dalam 3 macam yaitu
Respirasi spontan: penderita bernafas sendiri secara spontan.
o
Respirasi kendali: pernafasan penderita sepenuhnya tergantung bantuan
o
o

kita.
Assisted Respirasi: penderita bernafas spontan tetapi masih kita berikan

sedikit bantuan.
k. Induksi intravena
o Paling banyak dikerjakan dan digemari. Induksi intravena dikerjakan dengan
hati-hati, perlahan-lahan, lembut dan terkendali. Selama induksi anestesi,
pernapasan pasien, nadi dan tekanan darah harus diawasi dan selalu
diberikan oksigen. Dikerjakan pada pasien yang kooperatif.
o Obat-obat induksi intravena:
Tiopental (pentotal, tiopenton) amp 500 mg atau 1000 mg
- Dosis: 3-7 mg/kgBB (IV); pada anak dan manula digunakan dosis
rendah dan dewasa muda sehat dosis tinggi. Disuntikkan perlahan
(dihabiskan dalam 30-60 detik), karena larutan ini sangat alkalis

(pH 10-11) sehingga suntikan keluar vena menyebabkan nyeri


hebat.3
- Sediaan: ampul 500 mg atau 1000 mg. Dikemas dalam bentuk bubuk
berwarna kuning, berbau belerang. Sebelum digunakan dilarutkan
dalam akuades sampai kepekatan 2,5% (1 ml = 25 mg).3
- Farmakokinetik
Tiopental dalam darah 70% diikat albumin, sisanya 30% dalam
bentuk bebas, sehingga pada pasien dengan albumin rendah dosis
harus dikurangi.
- Efek
bergantung dosis dan kecepatan suntikan, pasien akan berada dalam
keadaan sedasi, hipnosis, anestesia atau depresi napas.
Menurunkan aliran darah otak, tekanan likuor, tekanan intrakranial
dan diduga dapat melindungi otak akibat kekurangan O2.
Dosis rendah bersifat anti-analgesia
Propofol (diprivan, recofol)
- Dosis
Induksi: 2-3 mg/kgBB (IV dengan kepekatan 1%). Suntikan IV
sering menyebabkan nyeri sehingga 1 menit sebelumnya sering
diberikan lidocaine 1-2 mg/kgBB IV.3
Maintenance anestesia intravena total: 4-12 mg/kgBB/ jam.3
Sedasi pada perawatan intensif: 0,2 mg/kgBB
Pada manula dosis harus dikurangi
- Sediaan: dikemas dalam cairan emulsi lemak berwarna putih susu
bersifat isotonik dengan kepekatan 1% (1 ml = 10 mg).
Pengenceran propofol hanya boleh dengan dekstrosa 5%.
- Kontraindikasi: tidak dianjurkan pada wanita hamil dan anak <3
tahun.
Ketamin (ketalar)
- Dosis: 1-2 mg/kgBB (IV)
- Sediaan: dikemas dalam cairan bening kepekatan 1% (1 ml=10 mg),
5% (1 ml=50 mg) dan 10% (1 ml=100 mg)
- Efek
Sering menimbulkan takikardi, hipertensi, hipersalivasi, nyeri
kepala, pasca anestesia sering menimbulkan mual muntah,
pandangan kabur, mimpi buruk, atau halusinasi (oleh karena itu
dianjurkan memakai sedativa, contohnya Midazolam/dormikum
atau diazepam/valium dengan dosis 0,1 mg/kg IV dan untuk
mengurangi hipersalivasi diberikan sulfas atropin 0,01 mg/kg)
pasien tidak sadar, tetapi dengan mata terbuka
- Kontraindikasi

Tidak dianjurkan pada pasien TD tinggi (>160 mmHg)

Opioid (morfin, petidin, fentanil, sufentanil)


- Dosis
dosis induksi: 20-50 mg/kg
dosis rumatan: 0,3-1 mg/kg/menit
- Efek
Tidak mengganggu kardiovaskular, sehingga banyak digunakan
untuk induksi pasien dengan kelainan jantung

Induksi intramuscular
Sampai

sekarang

hanya

ketamin

(ketalar)

yang

dapat

diberikan

secara

intramuskulardengan dosis 5-7 mg/kgBB dan setelah 3-5 menit pasien tidur.
Induksi inhalasi
o N2O (gas gelak, laughing gas, nitrous oxide, dinitrogen monoksida)
berbentuk gas, tak berwarna, bau manis, tak iritasi, tak terbakar dan beratnya
1,5 kali berat udara. Pemberian harus disertai O2 minimal 25%. Bersifat
anastetik lemah, analgesinya kuat, sehingga sering digunakan untuk
mengurangi nyeri menjelang persalinan. Pada anestesi inhalasi jarang
digunakan sendirian, tapi dikombinasi dengan salah satu cairan anastetik lain
seperti halotan.
o Halotan (fluotan)
Sebagai induksi juga untuk laringoskop intubasi, asalkan anestesinya
cukup dalam, stabil dan sebelum tindakan diberikan analgesi semprot lidokain
4% atau 10% sekitar faring laring.
Kelebihan dosis menyebabkan depresi napas, menurunnya tonus simpatis,
terjadi hipotensi, bradikardi, vasodilatasi perifer, depresi vasomotor, depresi
miokard, dan inhibisi refleks baroreseptor. Merupakan analgesi lemah, anestesi
kuat. Halotan menghambat pelepasan insulin sehingga mininggikan kadar gula
darah.
o Enfluran (etran, aliran)
Efek depresi napas lebih kuat dibanding halotan dan enfluran lebih
iritatif disbanding halotan. Depresi terhadap sirkulasi lebih kuat dibanding
halotan, tetapi lebih jarang menimbulkan aritmia. Efek relaksasi terhadap otot
lurik lebih baik disbanding halotan.

o Isofluran (foran, aeran)


Meninggikan aliran darah otak dan tekanan intracranial. Peninggian
aliran darah otak dan tekanan intracranial dapat dikurangi dengan teknik
anestesi hiperventilasi, sehingga isofluran banyak digunakan untuk bedah otak.
Efek terhadap depresi jantung dan curah jantung minimal, sehingga digemari
untuk anestesi teknik hipotensi dan banyak digunakan pada pasien dengan
gangguan koroner.
o Desfluran (suprane)
Sangat mudah menguap. Potensinya rendah (MAC 6.0%), bersifat
simpatomimetik menyebabkan takikardi dan hipertensi. Efek depresi napasnya
seperti isofluran dan etran. Merangsang jalan napas atas sehingga tidak
digunakan untuk induksi anestesi.
o Sevofluran (ultane)
Induksi dan pulih dari anestesi lebih cepat dibandingkan isofluran.
Baunya tidak menyengat dan tidak merangsang jalan napas, sehingga digemari
untuk induksi anestesi inhalasi disamping halotan.
Induksi per rectal
Cara ini hanya untuk anak atau bayi menggunakan thiopental atau midazolam.
Pelumpuh otot nondepolarisasi Tracurium 20 mg (Antracurium)
o Berikatan dengan reseptor nikotinik-kolinergik, tetapi tidak menyebabkan
depolarisasi, hanya menghalangi asetilkolin menempatinya, sehingga
asetilkolin tidak dapat bekerja.
o Dosis awal 0,5-0,6 mg/kgBB, dosis rumatan 0,1 mg/kgBB, durasi selama 2045 menit, kecepatan efek kerjanya -2 menit.
o Tanda-tanda kekurangan pelumpuh otot:
Cegukan (hiccup)
Dinding perut kaku
Ada tahanan pada inflasi paru
N. Tatalaksana nyeri
Metode untuk menghilangkan nyeri biasanya digunakan analgetik golongan opioid
untuk nyeri hebat dan golongan anti inflamasi non steroid (NSAID) untu nyeri sedang atau
ringan.
1. Morfin

Dosis anjuran untuk menghilangkan nyeri sedang ialah 0,1-0,2 mg/kgBB dan dapat
diulang tiap 4 jam. Untuk nyeri hebat dapat diberi 1-2 mg intravena dan diulang sesuai
keperluan.
2. Petidin
Dosis petidin intramuskular 1-2 mg/kgBB dapat diulang tiap 3-4 jam. Dosis intravena
0,2-0,5 mg/kgBB. petidin menyebabkan kekeringan mulut, kekaburan pandangan dan
takikardi.
3. Fentanil
Pada fentanil efek depresi napasnya lebih lama dibanding efek analgesianya. Dosis 1-3
g/kgBB efek analgesianya hanya berlangsung 30 menit.
4. Nalokson
Nalokson ialah antagonis murni opioid. Nalokson biasanya digunakan untuk melawan
depresi nafas pada akhir pembedahan dengan dosisi 1-2 g/kgBB intravena dan dapat
diulang tiap 3-5 menit.
O. Rumatan Anestesia (Maintainance)
Rumatan anestesi adalah menjaga tingkat kedalaman anestesi dengan cara mengatur
konsentrasi obat anestesi di dalam tubuh pasien. Jika konsentrasi obat tinggi maka akan
dihasilkan anestesi yang dalam, sebaliknya jika konsentrasi obat rendah, maka akan didapat
anestesi yang dangkal. Anestesi yang ideal adalah anestesi yang adekuat. Untuk itu diperlukan
pemantauan secara ketat terhadap indikator-indikator kedalaman anestesi.
Rumatan intravena dengan menggunakan opioid dosis tinggi fentanil 10- 50 g/ kgBB.
Dosis tinggi opioid menyebabkan pasien tidur dengan analgesia cukup, sehingga tinggal
memberikan relaksasi pelumpuh otot. Rumatan intravena dapat juga menggunakan opioid
dosis biasa, tetapi pasien ditidurkan dengan infuse propofol 4-12 mg/kgBB/jam. Bedah lama
dengan anestesi total intravena, pelumpuh otot dan ventilator. Untuk mengembangkan paru
digunakan inhalasi dengan udara + O2 atau N2O + O2.
Rumatan inhalasi bisanya menggunakan campuran N2O dan O2 3:1 ditambah halotan
0,5- 2 vol % atau enfluran 2-4 vol% atau isofluran 2-4% atau sevofluran 2-4% tergantung
pernapasan pasien spontan, dibantu atau dikendalikan.
P. Teknik Anestesi

Teknik Anestesi spontan dengan sungkup muka


Indikasi :
o Untuk tindakan yang singkat (0,5-1 jam)
o Keadaan umum pasien cukup baik
o Lambung harus kosong

Urutan tindakan :
1.
2.
3.
4.
5.

Periksa peralatan yang digunakan


Pasang infus
Persiapkan obat-obat
Induksi dapat dilakukan dengan propofol 2-2.5 mg/kgBB
Selesai induksi, sampai pasien tertidur dan reflek bulu mata hilang, sungkup muka

ditempatkan pada muka


6. N2O mulai diberikan 4 L dengan O2 2 L/menit untuk memperdalam anestesi,
bersamaan dengan halotan dibuka sampai 1 % dan sedikit demi sedikit dinaikkan
sampai 3-4 % tergantung reaksi tubuh penderita
7. Kalau stadium anestesi sudah cukup dalam, masukkan pipa orofaring
8. Halotan kemudian dikurangi menjadi 1-1.5 % dan dihentikan beberapa menit
sebelum operasi selesai
9. Selesai operasi N2O dihentikan dan penderita diberi O2 beberapa menit
2. Teknik Anestesi spontan dengan pipa endotrakea
Indikasi :

Operasi lama
Kesulitan mempertahankan jalan nafas bebas pada anestesi dengan sungkup muka.

Urutan tindakan :
a. Induksi dengan propofol
b. Sungkup muka ditempatkan pada muka dan oksigen 4-6 L/menit, kalau perlu
nafasi dibantu dengan menekan balon nafas secara periodic
c. Sesudah reflex mata menghilang diberikan suksinil kolin intravena 1-1.5
mg/kgBB, nafas dikendalikan dengan menekan balon nafas yang diisi dengan
aliran O2 2L.
d. Sesudah fasikulasi menghilang pasien diintubasi.
e. Pipa guedel dimasukan dimulut agar pipa endotrakeal tidak tergigit. Kemudian
difiksasi dengan plester
f. Mata diplester agar tidak terbuka dan kornea tidak kering
g. Pipa endotrakeal dihubungkan dengan konektor pada sirkuit nafas alat anestesi.
N2O dibuka 3-4 L/menit dan O2 2 L/menit kemudian halotan dibuka 1 vol %dan
cepat dinaikkan sampai 2 vol %. Nafas pasien dikendalikan dengan menekan
balon nafas.
h. Halotan dikurangi sampai 0,5-1.5 % untuk pemeliharaan anestesi
i. Nafas dapat dibiarkan spontan kalau usaha nafas cukup kuat
j.
Kedalaman anestesi dipertahankan dengan kombinasi N2O dan O2 masingmasing 2 l/menit, serta halotan 1.5-2 vol %
3. Teknik anestesi pipa endotrakeal dan nafas kendali
a. Teknik anestesi dan intubasi sama seperti diatas

b. Setelah pengaruh suksinil kolin mulai habis, diberi obat pelumpuh otot jangka
panjang misalnya alkuronium dosis 0.1-0.2 mg/kgBB
c. Nafas dikendalikan dengan ventilator atau secara manual. Konsentrasi halotan
sedikit demi sedikit dikurangi dan dipertahankan dengan 0.5-1 %.
d. Obat pelumpuh otot dapat diulang lagi dengan 1/3 dosis apabila pasien tampak
ada usaha mulai bernafas sendiri
e. Halotan dapat dihentikan sesudah lapisan fasi kulit terjahit. N2O dihentikan kalau
lapisan kulit mulai dijahit.
f. Ekstubasi dapat dilakukan setelah nafas spontan normal kembali. O2 diberi terus
selama 2-3 menit untuk mencegah hipoksia difusi.
Q. Skor pemulihan pasca anestesi
Sebelum pasien dipindahkan ke ruangan setelah dilakukan operasi terutama yang
menggunakan general anestesi, maka perlu melakukan penilaian terlebih dahulu untuk
menentukan apakah pasien sudah dapat dipindahkan ke ruangan atau masih perlu di observasi
di ruang Recovery room (RR).

Gambar 2. Aldrette Score


R. Monitoring Perianestesia
Dalam tindakan anestesi harus dilakukan monitoring terus menerus tentang keadaan
pasien.
1. Kardiovaskuler
a. Nadi
Monitoring terhadap nadi merupakan keharusan karena gangguan sirkulasi sering
terjadi selama anestesi.
b. Tekanan darah

c. Banyaknya perdarahan
2. Respirasi
Respirasi dinilai dari jenis nafasnya, apakah ada retraksi interkostal atau
supraklavikula.
3. Suhu tubuh
Tubuh tidak mampu mempertahankan suhu tubuh. Obat anestesi mendepresi pusat
pengatur suhu, sehingga mudah turun naik dengan suhu lingkungan.
4. Monitoring ginjal
Untuk mengetahui keadaan sirkulasi ginjal
5. Monitoring blockade neuromuscular
Untuk mengetahui apakah relaksasi sudah cukup baik atau setelah selesai anestei
apakah tonus otot sudah kembali normal
6. Monitoring sistem saraf
Monitoring dengan memeriksa respon pupil terhadap cahaya, respon terhadap
trauma pembedahan, respon terhadap otot apakah relaksasi cukup atau tidak.
5.2 FRAKTUR KLAVIKULA
A.DEFINISI FRAKTUR
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, tulang rawan
sendi, tulang rawan epifisis baik bersifat total ataupun parsial yang umumnya disebabkan oleh
tekanan yang berlebihan. Kekuatan dan sudut pandang dari tenaga tersebut, keadaan tulang
dan jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap
atau tidak lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan pada
fraktur tidak lengkap melibatkan seluruh ketebalan tulang.4
B. ANATOMI CLAVICULA
Dalam anatomi manusia, tulang selangka atau clavicula adalah tulang yang
membentuk bahu dan menghubungkan lengan atas pada batang tubuh. Clavicula berbentuk
kurva-ganda dan memanjang. Ini adalah satu-satunya tulang yang memanjang horizontal
dalam tubuh. Terletak di atas tulang rusuk pertama. Pada ujung medial, clavicula bersendi
pada manubrium dari sternum (tulang dada) pada sendi sternoclavicularis. Pada bagian ujung
lateral

bersendi

dengan

acromion

dari

scapula

(tulang

belikat)

dengan

sendi

acromioclavicularis. Pada wanita, clavicula lebih pendek, tipis, kurang melengkung, dan
permukaannya lebih halus.5
Fungsi clavicula berguna untuk:5

Sebagai pengganjal untuk menjauhkan anggota gerak atas dari bagian dada supaya
lengan dapat bergerak leluasa.

Meneruskan goncangan dari anggota gerak atas ke kerangka tubuh (aksial).

Walaupun dikelompokkan dalam tulang panjang, clavicula adalah tulang satu-satunya yang
tidak memiliki rongga sumsum tulang seperti pada tulang panjang lainnya. Clavicula tersusun
dari tulang spons.
Otot-otot dan ligamentum yang berlekatan pada clavicula:
Permukaan superior:

Otot deltoideus pada bagian tuberculum deltoideus

Otot trapezius

Permukaan inferior

Ligamentum conoideum (bagian medial dari ligamentum coracoclaviculare) pada


tuberculum conoideum

Ligamentum trapzoideum (bagian lateral dari ligamentum coracoclaviculare pada


linea trapezoidea

Batas anterior:

Otot pectoralis mayor

Otot deltoideus

Otot sternocleidomastoid

Otot sternohyoideus

Otot trapezius

D. FRAKTUR KLAVIKULA

Fraktur clavicula dapat terjadi sebagai akibat trauma langsung atau gaya tak langsung
yang dihantarkan melalui bahu. Kebanyakan fraktur klavikula dijumpai pada separuh bagian
distal, biasanya pada pertemuan 1/3 tengah dan 1/3 distal. Kira-kira 2/3 fraktur klavikula
terjadi pada anak-anak. Fraktur klavikula pada waktu lahir berkisar di antara greenstick
sampai perpindahan komplet dan harus dibedakan dengan dari pseudoartrosis kongenital.
Karena fiksasi relatif dari fragmen medial dan beratnya ekstremitas superior, frakmen
distal pindah ke bawah, kedepan dan ke arah garis tengah. Foto rentgen anteroposterior harus
selalu dibuat, tetapi proyeksi oblik kadang-kadang lebih berguna. Meskipun cedera pada
pleksus brakhialis atau arteri subklavia tidak sering terjadi, komplikasi seperti itu biasanya
dapat diperlihatkan pada pemeriksaan fisik.
E.

KLASIFIKASI FRAKTUR KLAVIKULA


Patah tulang dapat dibagi menurut ada tidaknya hubungan antara patahan
tulang dengan dunia luar, yaitu:6
1. Fraktur tertutup yaitu fraktur tanpa adanya komplikasi, kulit masih utuh, tulang
tidak menonjol melalui kulit.
2. Fraktur terbuka yaitu fraktur yang merusak jaringan kulit, karena adanya
hubungan dengan lingkungan luar, maka fraktur terbuka potensial terjadi
infeksi.
Lokasi patah tulang pada klavikula diklasifikasikan menurut Dr. FL Allman tahun
1967 dan dimodifikasi oleh Neer pada tahun 1968, yang membagi patah tulang
klavikula menjadi 3 kelompok :6
1. Kelompok 1: patah tulang pada sepertiga tengah tulang klavikula (insidensi
kejadian 75-80%).
Pada daerah ini tulang lemah dan tipis.
Umumnya terjadi pada pasien yang muda.
2. Kelompok 2: patah tulang klavikula pada sepertiga distal (15-25%)
Terbagi menjadi 3 tipe berdasarkan lokasi ligament coracoclavicular yakni (yakni,
conoid dan trapezoid).
a. Tipe 1. Patah tulang secara umum pada daerah distal tanpa adanya
perpindahan tulang maupun ganguan ligament coracoclevicular.
b. Tipe 2 A. Fraktur tidak stabil dan terjadi perpindahan tulang, dan ligament
coracoclavicular masih melekat pada fragmen.
c. Tipe 2 B. Terjadi ganguan ligament. Salah satunya terkoyak ataupun keduaduanya.

d. Tipe 3. Patah tulang yang pada bagian distal clavikula yang melibatkan AC
joint.
e. Tipe 4. Ligament tetap utuk melekat pata perioteum, sedangkan fragmen
proksimal berpindah keatas.
f. Tipe 5. Patah tulang kalvikula terpecah menjadi beberapa fragmen.
3. Kelompok 3: patah tulang klavikula pada sepertiga proksimal (5%). Pada kejadian
ini biasanya berhubungan dengan cidera neurovaskuler.

F.

PATOFISIOLOGI
Frakturclaviculapalingseringdisebabkanolehkarenamekanismekompressi
ataupenekanan,palingseringkarenasuatukekuatanyangmelebihikekuatantulang
tersebut dimana arahnya dari lateral bahu apakah itu karena jatuh, keeelakaan
olahraga,ataupunkecelakaankendaraanbermotor.7
Pada daerah tengah tulang clavicula tidak di perkuat oleh otot ataupun
ligamentligamentsepertipadadaerahdistaldanproksimalclavicula.Claviculabagian
tengahjugamerupakantransitionpointantarabagianlateraldanbagianmedial.Hal
ini yang menjelaskan kenapa pada daerah ini paling sering terjadi fraktur
dibandingkandaerahdistalataupunproksimal.7

G.

DIAGNOSIS
Gambaranklinispadapatahtulangklavikulabiasanyapenderitadatangdengan
keluhanjatuhatautrauma.Pasienmerasakanrasasakitbahudandiperparahdengan
setiapgerakanlengan.Padapemeriksaanfisikpasienakanterasanyeritekanpada
daerahfrakturdankadangkadangterdengarkrepitasipadasetiapgerakan.Dapatjuga
terlihatkulityangmenonjolakibatdesakandarifragmenpatahtulang.Pembengkakan
lokalakanterlihatdisertaiperubahanwarnalokalpadakulitsebagaiakibattraumadan
gangguan sirkulasi yang mengikuti fraktur. Untuk memperjelas dan menegakkan
diagnosisdapatdilakukanpemeriksaanpenunjang.8
Evaluasipadafrakturclaviculayangstandarberupaproyeksianteroposterior
(AP)yangdipusatkanpadabagiantengahclavicula.Pencitraanyangdilakukanharus
cukupluasuntukbisamenilaijugakeduaACjointdanSCjoint.Bisajugadigunakan
posisiobliquedenganarahdanpenempatanyangbaik.ProyeksiAP2060dengan

cephalic terbukti cukup baik karena bisa meminimalisir struktur toraks yang bisa
mengganggupembacaan.KarenabentukdariclaviculayangberbentukS,makafraktur
menunjukkan deformitas multiplanar, yang menyebabkan susahnya menilai dengan
menggunakanradiographbiasa.CTscan,khususnyadengan3dimensimeningkatkan
akurasipembacaan.8
H.

INDIKASI OPERASI
Meskipun hasil perawatan nonoperative sangat efektif untuk fraktur klavikula, namun

operasi dapat diindikasikan dalam keadaan tertentu. Dalam situasi tertentu, operasi
diperkirakan menghasilkan hasil klinis terbaik dalam hal keselarasan, penyembuhan, dan
mobilisasi dini. Indikasi utama untuk fiksasi internal fraktur clavicular adalah perpindahan
dan / atau perpendekan lebih dari 15 sampai 20 mm, umur muda, sehat, individu yang aktif.
Meskipun klavikula memiliki penyembuhan yang baik dan kemampuan renovasi, patah tulang
secara signifikan telah terbukti dapat menyebabkan rasa sakit dan penurunan kepuasan pasien
karena deformitas, kosmetik dan keterbatasan fungsional. Indikasi relatif untuk fiksasi
internal fraktur clavicular meliputi:

I.

fraktur terbuka;
terkait cedera vaskular;
defisit neurologis progresif;
kontaminasi kotoran dengan jaringan kulit yang kemungkinan akan menyebabkan

kerusakan kulit;
medialization signifikan dari sendi bahu;
robeknya ligamen coracoclavicular dengan fraktur distal;
fraktur ipsilateral dari klavikula dan skapula (bahu mengambang);
pasien cedera;
fraktur clavicular bilateral, dan kompleks, ipsilateral, ekstremitas atas fraktur.
TEKNIK PENANGANAN TERAPI KONSERVATIF DAN OPERASI

Penatalaksanaan Fraktur Klavikula:9


1. Fraktur 1/3 tengah
Undisplaced fraktur dan minimal displaced fraktur diterapi dengan menggunakan sling, yang
dapat mengurangi nyeri.

Displaced fraktur fraktur dengan gangguan kosmetik diterapi dengan menggunakan


commersial strap yang berbentuk angka 8 (Verband figure of eight) sekitar sendi bahu,
untuk menarik bahu sehingga dapat mempertahankan alignment dan fraktur. Strap harus
dijaga supaya tidak terlalu ketat karena dapat mengganggu sirkulasi dan persyarafan. Suatu
bantal dapat diletakkan di antara scapula untuk menjaga tarikan dan kenyamanan. Jika
commersial strap tidak dapat digunakan balutan dapat dibuat dari tubular stockinet, ini
biasanya digunakan untuk anak yang berusia <10 tahun.
Pemakaian strap yang baik:
1. menarik kedua bahu, melawan tekanan dipusat, dan daerah interscapula selama
penarikan fraktur.
2. tidak menutupi aksila, untuk kenyamanan dan hygiene.
3. menggunakan bantalan yang bagus.
4. tidak mengganggu sirkulasi dan persyarafan kedua lengan.
Plating Clavikula
Gunakan insisi sesuai garis Langer untuk mengekspos permukaan superior clavikula. Hindari
flap kulit undermining dan kerusakan saraf supraklavikula. Hindari juga diseksi subperiosteal
pada fracture site.
Lakukan reduksi fragmen fraktur jika memungkinkan pasang lag screw melintasi fraktur.
Plate diletakkan di sisi superior clavikula dengan 3 screw pada masing-masing sisi fraktur
untuk mencapai fiksasi yang solid.
Jika diperlukan diletakan subkutaneus drain, luka operasi ditutup dengan jahitan subcuticular.
2. Fraktur lateral
Undisplaced fraktur dapat diterapi dengan sling. Displaced fraktur dapat diterapi dengan
sling atau dengan open reduction dan internal fiksasi.
Jika pergeseran lebih dari setengah diameter klavikula harus direduksi dan internal fiksasi.
Bila dibiarkan tanpa terapi akan terjadi deformitas dan dalam beberapa kasus rasa tidak enak

dan kelemahan pada bahu karena itu terapi diindikasikan melalui insisi supraklavikular,
fragmen diaposisi dan dipertahankan dengan pen yang halus, yang menembus kearah lateral
melalui fragmen sebelah luar dan akromion dan kemudian kembali ke batang klavikula.
Lengan ditahan dengan kain gendongan selama 6 minggu dan sesudah itu dianjurkan
melakukan pergerakan penuh.
3. Fraktur Medial
Fraktur medial klavikula merupakan fraktur yang paling stabil karena adanya ligamen
sekitar dan bisa diobati dengan sling untuk kenyamanan dan mengembalikan ke fungsi
normal. Tindakan Bedah pada fraktur medial klavikula jarang diindikasikan dan terbatas pada
kasus-kasus di mana ada dislokasi berbagai macam fragmen fraktur atau terjadi kerusakan
pada struktur neurovaskular penting. Ketika dilakukan tindakan bedah, fraktur dapat
diperbaiki dengan menggunakan jahitan berat melewati lubang bor di tulang atau sebaliknya,
dengan small low-profile plate. Pin fiksasi harus dihindari karena ada kemungkinan perangkat
keras ini migrasi ke dalam organ vital yg terletak di bawah.
J.

KOMPLIKASI OPERASI9
1. Komplikasi dini
kerusakan pada pembuluh darah atau saraf ( jarang terjadi)
2. Komplikasi lanjut

non-union : jarang terjadi dapat diterapi dengan fiksasi interna dan pencangkokan
tulang yang aman.

mal-union :
1. meninggalkan suatu benjolan, yang biasanya hilang pada waktunya.
2. untuk memperoleh basil kosmetik yang baik dan cepat dapat menjalani terapi
yang lebih drastis yaitu fraktur direduksi dibawah anastesi dan dipertahankan
reduksinya dengan menggunakan gips yang mengelilingi dada ( wirass)

kekakuan bahu sering ditemukan, hanya sementara, akibat rasa takut untuk
menggerakkan fraktur. Jari juga akan kaku dan membutuhkan waktu berbulan-bulan
untuk memperoleh kembali gerakan, kecuali kalau dilatih.

DAFTAR PUSTAKA
1. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR, Petunjuk Praktis Anestesiologi: Edisi
Kedua. 2009. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI
2. Soenarjo, Jatmiko HD, edt. Anestesiologi. 2010. Semarang : Bagian anestiologi
dan terapi intensif FKUNDIP/RSUP Dr.Kariadi.
3. Aitkenhead, Alan R.; Rowbotham, David J.; Smith, Graham. Textbook of
Anesthesia 4th edition. London : Churchill Livingstone. 2001. p.152-63.
4. Schrock, theodore. Ilmu Bedah ( handbook of surgery ) edisi 7. Penerbit buku
kedokteran EGC : jakarta.1995.
5. Netter FH. Atlas of Human Anatomy. 4th ed. US: Saunders; 2006
6. SjmsuhidajatR,JongWD.Sistemmuskuloskeletal.In:Bukuajarilmubedah.2 nd
ed.Jakarta:PenerbitBukuKedokteranEGC,2004,p.841.
7. Rasjad C. Trauma. In: Pengantar ilmu bedah ortopedi. 6th ed. Jakarta: Yarsif
Watampone,2009,p.355356.
8. Wright M. Clavicle Fracture. [Cited] April, 20th 2010. Available from: URL:
http://www.patient.co.uk/doctor/FracturedClavicle.htm

9. Koval, kenneth.J. Handbook of Fracture, 3rd Edition. Lippincoot williams and


wilkins : California.2010.